Anda di halaman 1dari 46

FARMAKOLOGI I

JENJANG SARJANA (S1)

LABORATORIUM
FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI FARMASI & MAKANAN
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2019
DATA PRIBADI

NAMA : Eunike Filia Tandi Datu

NIM : 1813015219

PRODI : Farmasi S1

JURUSAN : Farmasi

SEMESTER :3

KELAS : D2 2018

KELOMPOK : 4
PERCOBAAN IV
ANESTESI UMUM PADA TIKUS PUTIH

1. TUJUAN
 Melakukan anestesi umum pada tikus putih
 Mengamati stadium anestesi yang terjadi melalui parameter-parameter antara lain respon
nyeri, lebar pupil, jenis pernafasan, frekuensi jantung dan tonus otot
2. DASAR TEORI
Ada empat tahapan anestesi umum:
1. Tahap I: Tahap ini dimulai ketika agen diberikan dan berlangsung hingga hilang kesadaran.
Tahap ini ditandai oleh :
a. Analgesia
b. Euphoria
c. Perseptual distortions
d. Amnesia
2. Tahap II: Delirium dimulai dengan kehilangan kesadaran dan meluas ke awal anestesi
bedah. Mungkin ada kegembiraan dan aktivitas otot yang tidak disengaja. Nada otot
skeletal meningkat dan pernapasan tidak teratur. Pada tahap ini, hipertensi dan takikardia
dapat terjadi. Penting bahwa perjalanan dari Tahap I ke Tahap III dapat dicapai secepat
mungkin. Kematian mendadak dapat terjadi selama Tahap II.
3. Tahap III : Anastesi bedah berlangsung hingga respirasi spontan berhenti. Lebih lanjut
dibagi menjadi empat pesawat berdasarkan :
a. Respirasi
b. Ukuran pupil
c. Karakteristik reflek
d. Gerakan bola mata
Tahap ini ditandai dengan relaksasi otot progresif. Relaksasi otot penting selama banyak
prosedur bedah karena gerakan refleks dapat terjadi ketika irisan pisau bedah menembus
jaringan.
4. Tahap IV : Kelumpuhan meduler dimulai dengan kegagalan pernafasan dan dapat
menyebabkan kolaps sirkulasi. Melalui pemantauan yang cermat, tahap ini dihindari.
Tabel 1. Anastesi Umum Inhalasi
Nama Generik Nama Dagang Penggunaan
Gas
Nitrous oxide Penggunaan tunggal untuk dokter gigi,
kandungan, dan prosedu medis pendek.
Digunakan kombinasi dengan anastesi
inhalasi poten.
Cairan Volatile
Desflurane Induksi dan pemeliharaan anastesi umum
Enflurane Induksi dan pemeliharaan anastesi umum
Halothane Induksi dan pemeliharaan anastesi umum;
setelah ditemukan agen yang lebih aman,
penggunaanna dihentikan
Isoflurane Induksi dan pemeliharaan anastesi umum;
anastesi inhalasi yang luas digunakan
Methoxyflurane Digunakan saat kerja; tidak menekan
kontraksi uterin dibanding dengan agen
lainnya
Sevoflurane Induksi dan pemeliharaan anastesi umum

Tabel 2. Anastesi Injeksi


Nama Generik Nama Dagang Penggunaan
Barbiturat dan Agen Mirip Barbiturat
Etomidate Sebagai penginduksi anastesi dan untuk
penanganan medis singkat
Methohexilat Sodium Ultra–short-acting; sebagai
penginduksi anastsesi dan suplemen
anastesi lainnya
Propofol Sebagai anatsesi penginduksi dan
pemeliharaan anastesi umum, dan untuk
penanganan medis singkat
Thiopental sodium Ultra–short-acting; sebagai
penginduksi anastsesi dan suplemen
anastesi lainnya
Benzodiazepine
Morfin Sebagai penginduksi anastesi; prototipe
benzodiazepine
Lorazepam Sebagai penginduksi anastesi,
menghasilkan efek menenangkan sadar,
dan untuk prosedur medis singkat atau
operasi
Midazolam Sebagai penginduksi anastesi;
hydrochloride menghasilkan efek menenangkan sadar,
dan prosedur diagnostik singkat
Opioid
Alfentanil hydrochloride Onset segera dan onset aksi pendek;
untuk menginduksi anastesi; digunakan
sebagai suplemen untuk anastesi lainnya
Fentanyl citrate Aksi pendek; digunakan saat operasi dan
pre-operasi; sebagai suplemen bagi
anastesi umum dan anastesi lokal
Remifentanil Aksi pendek; sebagai penginduksi dan
hydrochloride memelihara anastesi umum
Sufentanil citrate Sebagai penginduksi dan pemelihara
anastesi; kira-kira 7 kali lebih poten dari
fentanyl lebih cepat onsetnya dan durasi
aksinya
Lainnya
Ketamin hydrochloride Untuk penenang, amnesia, analgesia
dalam diagnostik singkat, terapetik, atau
prosedur operasi; banyak digunakan
untuk anak-anak

ANESTESI LOKAL
Anastesi tipe ester, diwakili oleh prokain, mengandung keterkaitan ester dalam struktur
kimianya. Sebaliknya, obat tipe amida, diwakili oleh lidokain, mengandung keterkaitan amida.
Amida ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan ester. Hipersensitivitas terhadap
anestesi lokal amida jarang terjadi. Sebagian besar anestesi lokal yang umum digunakan saat ini
termasuk kelas amida. Anestesi lokal tipe Ester telah digunakan lebih lama daripada amida.

3. ALAT DAN BAHAN


BAHAN
 Hewan coba : Tikus putih
 Obat-obat yang digunakan : Eter, alkohol, Na Phenobarbital, ketamin
ALAT
Toples bertutup, platform, spuit injeksi, stopwatch, lampu senter

4. CARA KERJA
Untuk percobaan ini dipilihlah tikus yang besar dan sehat
Sebelum melakukan percobaan, periksa atau amati dan catatlah :
 Keadaan pernafasan : frekuensi, dalamnya pernapasan, teratur atau tidak, jenis
pernapasan (dada atau perut)
 Keadaan mata : lebar pupil (mm), reflek kornea, konjungtiva,
pergerakan mata
 Keadaan onot/pergerakan : keadaan gerakan, tonus otot bergaris
 Keadaan saliva : saliva banyak atau sedikit
 Rasa nyeri : keadaan rasa nyeri (dengan mencubit telinga atau
menjepit ekornya)
Setelah hal tersebut dicatat, percobaan dapat dimulai.
1. Tikus putih disuntik dengan natrium fenobarbital i.p atau per oral, kemudian diletakkan
diatas platform (papan datar), catat waktu mulai tidur.
2. Tikus diletakkan dalam toples, tutup toples dan catat kecepatan pernapasan dan
aktivitasnya. Buka tutup toples, masukkan kertas saring yang telah dibasahi dengan 1,5
ml eter, tutup toples sampai tikus teranestesi. Pertahankanlah keadaan ini untuk beberapa
saat (5 menit), dan perhatikan keadaan binatang coba tanpa menambahkan eter lagi.
Kemudian biarkanlah tikus bangun atau sadar kembali dan catatlah waktunya. Selama
percobaan catatlah hal-hal yang perlu dan perhatikanlah keadaan tiap-tiap stadium.
Hitunglah jumlah eter yang digunakan.
3. Lakukan percobaan yang sama dengan bahan obat-obat yang lain.
PERHATIKAN
 Perhatikan hal-hal yang menentukan dari tiap-tiap stadium (tanda-tanda)
 Amatilah keadaan binatang coba selama percobaan berjalan terutama pada perubahan-
perubahan stadium dengan sebaik-baiknya

CATATAN/HASIL PERCOBAAN
a. Tikus 1
1. Catatlah waktu
 Mulai memberikan bahan obat : 0 menit
 Tercapainya stadium I : 54 detik
 Tercapainya stadium II : 1 menit 22 detik
 Tercapainya stadium III : 2 menit 33 detik
2. Hasil pemeriksaan
Pernapasan
 Frekuensi : Cepat
 Irama : teratur / tidak
 Jenis : Torak/torakabdominal/abdominal
 Amplitudo (x) : dangkal/sedang/dalam
 Lain-lain (x) :
Mata
 Lebar pupil : miosis/normal/midriasis (… mm)
 Reflek cahaya : ada/tidak
 Reflek kornea : ada/tidak
 Pergerakan mata : Tidak

Gerakan/otot
 Tonus otot : ada tahanan/tidak ada tahanan
 Gerakan : ada/tidak
Rasa nyeri : ada / tidak
Salivasi : ada (hipersalivasi) /tidak
Auskultasi (x)
 Ronchi : ada/tidak
 Lain-lain :
3. Selama pemberian anestesi
a. Jumlah anestesi yang dibutuhkan
1 pipet tetes
GENERAL ANESTHETICS

Table. Stages and planes of anesthesia (ln = inspiration)

Stage Stage Stage 3 Stage


1 2 I II III IV 4

Consciousness √ √ x x x

Excitement √ x x
ln

Abdominal x x x
Respi-
ration

Thoracic √ √ √
ln
Eye Movement x x x

Lid or Wink x x x

Vomiting x x x
Reflection

Swallowing x x x

Laryngeal x x x

Corneal and x x x
peritoneal

Pupil dilatation x x √

Tachycardia x x √

Elevated blood
pressure

Lowered blood
pressure
b. Tikus 2
1. Catatlah waktu
 Mulai memberikan bahan obat : 0 menit
 Tercapainya stadium I : 8 menit 20 detik
 Tercapainya stadium II : 10 menit 10 detik
 Tercapainya stadium III :-

2. Hasil pemeriksaan
Pernapasan
 Frekuensi : Cepat
 Irama : teratur / tidak
 Jenis : Torak/torakabdominal/abdominal
 Amplitudo (x) : dangkal/sedang/dalam
 Lain-lain (x) :
Mata
 Lebar pupil : miosis/normal/midriasis (… mm)
 Reflek cahaya : ada/tidak
 Reflek kornea : ada/tidak
 Pergerakan mata : Tidak

Gerakan/otot
 Tonus otot : ada tahanan/tidak ada tahanan
 Gerakan : ada/tidak
Rasa nyeri : ada / tidak
Salivasi : ada (hipersalivasi) /tidak
Auskultasi (x)
 Ronchi : ada/tidak
 Lain-lain :

4. Selama pemberian anestesi


 Jumlah anestesi yang dibutuhkan
0,1 ml
GENERAL ANESTHETICS

Table. Stages and planes of anesthesia (ln = inspiration)

Stage Stage Stage 3 Stage


1 2 I II III IV 4

Consciousness √ √

Excitement √ x
ln

Abdominal √ √
Respi-
ration

Thoracic x x
ln
Eye Movement x x

Lid or Wink x x

Vomiting x x
Reflection

Swallowing x x

Laryngeal x x

Corneal and x x
peritoneal

Pupil dilatation √ √

Tachycardia x x

Elevated blood
pressure

Lowered blood
pressure
c. Tikus 3
1. Catatlah waktu
 Mulai memberikan bahan obat : 0 menit
 Tercapainya stadium I : 30 detik
 Tercapainya stadium II : 1 menit 50 detik
 Tercapainya stadium III : 3 menit 30 detik

2. Hasil pemeriksaan
Pernapasan
 Frekuensi : Cepat
 Irama : teratur / tidak
 Jenis : Torak/torakabdominal/abdominal
 Amplitudo (x) : dangkal/sedang/dalam
 Lain-lain (x) :
Mata
 Lebar pupil : miosis/normal/midriasis (… mm)
 Reflek cahaya : ada/tidak
 Reflek kornea : ada/tidak
 Pergerakan mata : Tidak

Gerakan/otot
 Tonus otot : ada tahanan/tidak ada tahanan
 Gerakan : ada/tidak
Rasa nyeri : ada / tidak
Salivasi : ada (hipersalivasi) /tidak
Auskultasi (x)
 Ronchi : ada/tidak
 Lain-lain :

5. Selama pemberian anestesi


 Jumlah anestesi yang dibutuhkan
1,5 ml
GENERAL ANESTHETICS

Table. Stages and planes of anesthesia (ln = inspiration)

Stage Stage Stage 3 Stage


1 2 I II III IV 4

Consciousness √ √ √ √ √

Excitement √ √ √ x x
ln

Abdominal x √ x x x
Respi-
ration

Thoracic √ √ √ √ √
ln
Eye Movement x √ √ √ √

Lid or Wink x x x x x

Vomiting x x x x x
Reflection

Swallowing x x x x x

Laryngeal x x x x x

Corneal and √ √ √ √ √
peritoneal

Pupil dilatation x x √ √ √

Tachycardia √ √ √ √ x

Elevated blood
pressure

Lowered blood
pressure
d. Tikus 4
1. Catatlah waktu
 Mulai memberikan bahan obat : 0 menit
 Tercapainya stadium I : 30 detik
 Tercapainya stadium II : 3 menit
 Tercapainya stadium III :-

2. Hasil pemeriksaan
Pernapasan
 Frekuensi : Lambat
 Irama : teratur / tidak
 Jenis : Torak/torakabdominal/abdominal
 Amplitudo (x) : dangkal/sedang/dalam
 Lain-lain (x) :
Mata
 Lebar pupil : miosis/normal/midriasis (… mm)
 Reflek cahaya : ada/tidak
 Reflek kornea : ada/tidak
 Pergerakan mata : Tidak

Gerakan/otot
 Tonus otot : ada tahanan/tidak ada tahanan
 Gerakan : ada/tidak
Rasa nyeri : ada / tidak
Salivasi : ada (hipersalivasi) /tidak
Auskultasi
 Ronchi : ada/tidak
 Lain-lain :

6. Selama pemberian anestesi


 Jumlah anestesi yang dibutuhkan
1,5 ml
GENERAL ANESTHETICS

Table. Stages and planes of anesthesia (ln = inspiration)

Stage Stage Stage 3 Stage


1 2 I II III IV 4

Consciousness √ √

Excitement √ √
ln

Abdominal √ √
Respi-
ration

Thoracic x x
ln
Eye Movement √ x

Lid or Wink x x

Vomiting x x
Reflection

Swallowing x x

Laryngeal x x

Corneal and √ x
peritoneal

Pupil dilatation √ x

Tachycardia x x

Elevated blood
pressure

Lowered blood
pressure
e. Tikus 6
1. Catatlah waktu
 Mulai memberikan bahan obat : 0 menit
 Tercapainya stadium I : 2 menit 41 detik
 Tercapainya stadium II : 3 menit 50 detik
 Tercapainya stadium III :-

2. Hasil pemeriksaan
Pernapasan
 Frekuensi : Cepat
 Irama : teratur / tidak
 Jenis : Torak/torakabdominal/abdominal
 Amplitudo (x) : dangkal/sedang/dalam
 Lain-lain (x) :
Mata
 Lebar pupil : miosis/normal/midriasis (… mm)
 Reflek cahaya : ada/tidak
 Reflek kornea : ada/tidak
 Pergerakan mata : Tidak

Gerakan/otot
 Tonus otot : ada tahanan/tidak ada tahanan
 Gerakan : ada/tidak
Rasa nyeri : ada / tidak
Salivasi : ada (hipersalivasi) /tidak
Auskultasi (x)
 Ronchi : ada/tidak
 Lain-lain :

7. Selama pemberian anestesi


 Jumlah anestesi yang dibutuhkan
0,1 ml
GENERAL ANESTHETICS

Table. Stages and planes of anesthesia (ln = inspiration)

Stage Stage Stage 3 Stage


1 2 I II III IV 4

Consciousness √ √

Excitement √ √
ln

Abdominal √ √
Respi-
ration

Thoracic x x
ln
Eye Movement x x

Lid or Wink x x

Vomiting x x
Reflection

Swallowing x x

Laryngeal x x

Corneal and x x
peritoneal Cepat Cepat

Pupil dilatation √ √

Tachycardia √ √

Elevated blood
pressure

Lowered blood
pressure
5. PEMBAHASAN

Praktikum kali ini melakukan percobaan tentang anestesi umum pada tikus putih.
Tujuan dari percobaan ini adalah melakukan anestesi umum ppada tikus putih dan mengamati
stadium anestesi yang terjadi melalui parameter antara lain respon nyeri, lebar pupil, jenis
pernafasan, frekuensi jantung dan tonus otot.

Anestesi berarti suatu keadaan dengan tidak ada rasa nyeri. Anestesi umum adalah
suatu keadaan yan ditandai dengan hilangnya persepsi terhadap semua sensasi akibat induksi
obat. Dalam hal ini, selain hilangnya rasa nyeri, kesadaran juga hilang. Anestesi umum dapat
diberikan secara inhalasi dan secara intravena. Obat anestesi umum yang diberikan secara
inhalasi (gas dan cairan yang mudah menguap) yang terpenting di antaranya adalah N 2O,
halotan, enfluran, metoksifluran dan isofluran. Obat anestesi umum yang digunakan secara
intravena yaitu tiobarbiturat, narkotikanalgesik, senyawa alkaloid lain dan molekul sejenis,
dan beberapa obat khusus seperti ketamine (Munaf, 2008)

Obat anestesi umum adalah obat atau agen yang dapat menyebabkan terjadinya
efek anestesia umum yang ditandai dengan penurunan kesadaran secara bertahap karena
adanya depresi susunan saraf pusat. Menurut rute pemberiannya, anestesi umum dibedakan
menjadi anestesi inhalasi dan intravena. Keduanya berbeda dalam hal farmakodinamik
maupun farmakokinetik (Ganiswara, 1995).
Fungsi anastesi umum adalah untuk mengontrol rasa sakit, untuk melakukan
prosedur pembedahan tanpa menyababkan rasa sakit pada pasien, untuk melakukan eutanasia,
merestrain pasien yang sangat sulit direstrain dan melakukan pemeriksaan yang dibutuhkan saat
pasien diam (Welsh, L., 2009).

Stadium anestesi dibagii dalam 4 yaitu; Stadium I dimulai induksi atau eksitasi
volunter), dimulai dari pemberian agen anestesi sampai menimbulkan hilangnya kesadaran.
Rasa takut dapat meningkatkan frekuensi nafas dan pulsus, dilatasi pupil, dapat terjadi urinasi
dan defeksi. Stadium II (stadium eksitasi involunter), dimulai dari hilangnya kesadaran
sampai permulaan stadium pembedahan. Pada stadium II terjadi eksitasim dan gerakan yang
tidak menurut kehendak, pernafasan tidak teratur, inkontenensia urin, muntah, midriasis,
hipertensu dan takikardia. Stadium III (pembedahan/operasi), terbagi dalam 3 bagian yaitu;
Plane I ditandai degan pernafasan yang teratur dan terhentinya anggota gerak. Tipe pernafasan
thoracoabdominal, refleks pedal masih ada, bola mata bergerak-gerak, palpebra, konjuctiva
dan kornea terdepresi. Plane II, ditandai dengan respirasi thoraco-abdominal dan bola mata
ventro medial semua otot mengalami relaksasi kecuali otot perut. Plane III, ditandai dengan
respirasi regular, abdominal, bola mata kembali ke tengah dan otot perut relaksasi. Standium
IV (paralisi medulla oblongata atau overdosis), ditandai dengan paralisis otot dada, pulsus
cepat dan pupil dilatasi. Bola mata menunjukkan gambaran sepeti mata ikan karena
terhentinya sekresi lakrimal ( Munaf, 2008).

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah eter , ketamine dan kloroform.
Eter merupakan cairan tidak berwarna, mudah meledak, titik diidhnya adalah 36,2 Celcius.
Diudara terbuka eter teroksidasi menjadi peroksida dan bereaksi dengan alkohol membentuk
asetal dehid sehingga eter yang sudah serbuk beberapa hari sebaiknya tidak digunakan lagi.
Eter digunakan untuk anestesi total/umum walaupun mempunyai kekurangan seperti mudah
terbakar, menimbulkan efek samping pusing dan mual dan reaksinya sangat lambat. Ketamine
adalah salah satu jenis anestesi umum atau obat bius total. Ketamin diberikan untuk
menghilangkan kesadaran pasien yang akan menjalani suatu prosedur medis, misalnya
pembedahan. Pemberian ketamine dapat melalui intramuskular (disuntikkan ke dalam otot)
dan intravena (disuntikkan ke dalam pembuluh darah). Mekanisme kerja ketamine sebagai
antagonis reseptor N-metil-D-aspartat (NMDA) nonkompetitif yang menghalangi glutamate
adalah dengan memiliki tindakan langsung pada korteks dan sistem limbing. Onset ketamine
yang diberikan secara intravena adalah 30 detik, sedangkan secara intramuskular 3-4 menit.
Durasi ketamine intravena 5-10 menit, sedangkan secara intramuskular 12-25 menit.
Ketamine dimetabolime di hati menjadi norketamin yang merupakan metabolit aktif.
Ketamine dieksresikan melalui urin sebagai metabolit dengan waktu paruh eliminasi 10-15
menit (fase alfa), 2.5 jam (fase beta). Obat ini bekerja dengan mengganggu sinyal di otak yang
berperan pada respon tubuh terhadap kesadaran dan rasa sakit. Kloroform merupakan bahan
yang mudah menguap, jernih, tidak mudah terbakar. Nama lain untuk kloroform adalah
trichloromethane dan triklorid metil, tidak seperti eter, bau chloroform manis tidak
menyengat, walaupun uap chloroform pekat terinhalasi dapat menyebabkan iritas permukaan
mukosa yang terkena. Kloroform adalah anestesi yang lebih efektif. Penggunaan jangka
panjang kloroform sebagai anestesik dapat menyebabkan toxaemia. Keracunan akut dapat
menyebabkan sakit kepala, kejang, perubahan kesadaran, kelumpuhan, gangguan pernapasan
(Katzung, 2009).

Langkah awal yang dilakukan dalam praktikum adalah menyiapkan 5 ekor tikus
yang sehat dan kemudian di timbang untuk mengetahui berat badan tikus, setelah itu di
tentukan dosis anastesi yang akan diberikan pada setiap tikus kemudian dilakukan tikus putih
disuntik dengan natrium fenobarbital i.p atau per oral, lalu diletakkan diatas platform (papan
datar), catat waktu mulai tidur. Setelah itu , dimasukkan kapas yang telah dibasahi dengan eter
lalu tikus diletakkan dalam toples, tutup toples sampai tikus teranestesi dan catat kecepatan
pernapasan dan aktivitasnya pada setiap stage pada tahap anestesi selama 5 menit. Kemudian
dibiarkan tikus bangun atau sadar kembali . Selama percobaan catatlah hal-hal yang perlu dan
perhatikanlah keadaan tiap-tiap stadium. Diperhatikan hal-hal yang menentukan dari tiap-tiap
stadium (tanda-tanda) dan diamatilah keadaan binatang coba selama percobaan berjalan
terutama pada perubahan-perubahan stadium dengan sebaik-baiknya.
Hasil pengamatan yang diperoleh pada percobaan anestesi umum tikus putih adalah
pada tikus 1 yang dibius menggunakan eter pada waktu 54 detik mulai memasuki tahap stadium
1, pada waktu 1 menit 22 detik mulai memasuki tahap stadium 2 dan pada waktu 2 menit 33
detik masuk ke stadium 3. Untuk tikus 2 mulai memasuki tahap stadium 1 pada waktu 8 menit
20 detik dan memasuki waktu 10 menit 10 detik. Tikus 3 mulai memasuki tahap stadium 1 pada
waktu 20 detik, tahap stadium 2 pada waktu 1 menit 30 detik, dan mencapai tahap stadium 3
pada waktu 3 menit 30 detik. Tikus 4 mulai memasuki tahap stadium 1 pada waktu 30 detik,
masuk ke tahap stadium 2 pada waktu 3 menit. Tikus 6 memasuki tahap stadium 1 pada waktu
2 menit 41 detik dan masuk tahap stadium 2 pada waktu 3 menit 50 detik.
PERTANYAAN

1. Apakah semua stadium pada anestesi umum dengan eter dapat terlihat pada percobaan?
Jawab:
Tidak, stadium yang terlihat pada anestesi umum dengan eter hanya terlihat stadium 1
sampai 3, stadium 4 tidak terlihat karena setelah mengalami stadium 3 tikus sadar kembali
seperti semula sebelum di anestesi. Tahapan-tahapan anestesi umum yang terlihat yaitu,
tahap 1 (amnesia) dimulai dengan induksi anestesi dan berakhir dengan hilangnya kesadaran
(hilangnya reflex kelopak mata). Ambang persepsi sakit selama tahap ini tidak diturunkan.
Tahap 2 (delirium) ditandai dengan eksitasi yang tidak terinhibisi. Agitasi,delirium, respirasi
yang ireguler danmenahan nafas. Pupil dilatasi dan mata yangd ivergensi. Respons terhadap
stimuli berbahaya dapat terjadi selama tahap ini mungkin termasuk muntah, spasme laring,
hipertensi, takikardia, dan gerakanyang tidak terkendali. Tahap 3(anestesi bedah) ditandai
dengan tatapan terpusat, pupil konstriksi, dan respirasi teratur. Target kedalaman anestesi
cukup ketika stimulasi yang menyakitkan tidak menimbulkan reflex somatic atau
mengganggu respon otonom (Morgan, 2006).
2. Bila dapat terlihat dengan jelas, apakah tanda-tanda stadium dapat diperoleh? Tanda apa saja
yang tidak didapatkan atau tidak terlihat dengan jelas?
Jawab:
Tanda- tanda yang terlihat dengan jelas pada stadium adalah 1 (amnesia) dimulai
dengan dengan hilangnya kesadaran (hilangnya reflex kelopak mata). Ambang persepsi sakit
selama tahap ini tidak diturunkan. Tahap 2 (delirium) ditandai dengan eksitasi yang tidak
terinhibisi. Agitasi,delirium, respirasi yang ireguler dan menahan nafas. Pupil dilatasi dan
mata yang divergensi. Respons terhadap stimuli berbahaya termasuk takikardia, dan gerakan
yang tidak terkendali. Tahap 3(anestesi bedah) ditandai dengan tatapan terpusat, pupil
konstriksi, dan respirasi teratur. Target kedalaman anestesi cukup ketika stimulasi yang
menyakitkan tidak menimbulkan reflex somatic atau mengganggu respon otonom. Yang
tidak terlihat adalah tahap 4 (kematian yang akan datang / overdosis) yang seharusnya
ditandai dengan timbulnya apnea, pupil yang berdilatasi dan tidak reaktif, dan hipotensi
(Morgan, 2006).
3. Pada auskultasi, apakah yang didapatkan? Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Jelaskan!
Jawab:
Tidak ada hasil yang didapatkan, pada percobaan ini, karena pada percobaan tersebut
kami tidak melakukan auskultasi atau pemeriksaan menggunakan stetoskop.

4. Pada stadium keberapa rasa nyeri mulai hilang?


Jawab:
Rasa nyeri mulai hilang pada stadium 4, tahap 4 (kematian yang akan datang /
overdosis) adalah ditandai dengan timbulnya apnea, pupil yang berdilatasi dantidak reaktif,
danhipotensi. Sedangkan hasil yang diperoleh tikus mulai sadar kembali setelah melewati
stadium 3 (Morgan, 2006).
KESIMPULAN:

Dari percobaan yang telah dilakukan,dapat disimpulkan:

1. Anestesi umum terbagi menjadi 4 stadium, yaitu stadium 1 analgesia, stadium 2 eksitasi
atau delirium, stdium 3 surgical dan stadium 4 paralisis medular. Pada
pembedahan/operasi biasanya dilakukan pada stadium 3. Anestesi diberikan sebagai
bentuk kenyamanan pembedah dan juga kenyamanan pasien dan untuk mengurangi rasa
sakit.
2. Hasil pengamatan yang diperoleh pada percobaan anestesi umum tikus putih adalah pada
tikus 1 yang dibius menggunakan eter pada waktu 54 detik mulai memasuki tahap stadium
1, pada waktu 1 menit 22 detik mulai memasuki tahap stadium 2 dan pada waktu 2 menit
33 detik masuk ke stadium 3. Untuk tikus 2 mulai memasuki tahap stadium 1 pada waktu
8 menit 20 detik dan memasuki waktu 10 menit 10 detik. Tikus 3 mulai memasuki tahap
stadium 1 pada waktu 20 detik, tahap stadium 2 pada waktu 1 menit 30 detik, dan mencapai
tahap stadium 3 pada waktu 3 menit 30 detik. Tikus 4 mulai memasuki tahap stadium 1
pada waktu 30 detik, masuk ke tahap stadium 2 pada waktu 3 menit. Tikus 6 memasuki
tahap stadium 1 pada waktu 2 menit 41 detik dan masuk tahap stadium 2 pada waktu 3
menit 50 detik.
DAFTAR PUSTAKA

Ganiswarna, Sulistia G. 1995. Anestesi Umum. Dalam: Farmakologi dan Terapi. Edisi IV. Jakarta:
Bagian Farmakologi FKUI. Hal : 116.
Katzung, BG., Masters, SB., Trevor, AJ., 2009., Basic & Clinical Pharmacology, Eleventh

Edition, Mc Graw Hill, China.

Morgan, G.E., Mikhail, M.S., Murray, M.J. 2006. Clinical Anesthesiology, 4th Edition. New

York: McGraw Hill

Munaf, S. 2008. Buku Ajar Ilmu Anestesi dan Reanimasi. Jakarta: PT.Indeks

Welsh, L., 2009., Anaesthesia for Veterinary Nurses Second edition. Singapore: Wileyblackwell.
PERCOBAAN VI

UJI TOKSISITAS SPESIFIK

I. Tujuan
Mahasiswa dapat mempraktekkan uji toksisitas spesifik pada hewan uji
II. Dasar Teori

Toksikologi merupakan ilmu yang mempelajari sifat dan mekanisme toksik dan evaluasi
kualitatif dan kuantitatif dari perubahan biologi yang disebabkan oleh cemaran organisme atau
populasi organisme hidup pada senobiotik, bahan asing bagi tubuh serta mempelajari cara untuk
mengatasi permasalahan perubahan biologi tersebut. Mekanisme kerja terjadinya suatu toksisitas
yaitu adanya interaksi kimia antara senyawa atau metabolitnya dengan substrat biologi menjadi
ikatan kovalen yang ireversibel.

Fase kerja senyawa toksik


a. Fase Eksposisi : zat aktif yang tersedia untuk diadsorpsi
b. Fase Toksikokinetik : sejumlah yang diabsorpsi mencapai tempat kerja
c. Fase Toksikodinamik : interaksi zat toksik dengan reseptor

Jenis-jenis pengujian toksisitas spesifik :


1. Iritasi akut pada mata
Untuk menentukan resiko zat kimia menimbulkan toksisitas berupa iritasi atau korosi bila
terpapar pada mata atau membran mukus lain.
Eye corrrosion - irreversibel
Eye irritation –reversible

2. Iritasi akut pada kulit


Untuk menilai dan mengevaluasi karakteristik toksik zat uji pada kulit
Korosi kulit (Dermalcorrosion) adalah kerusakan jaringan kulit yang bersifat ireversibel.
Iritasi kulit adalah setiap perubahan inflamasi pada kulit yang bersifat reversibel.
Prinsip pengujian
Zat uji diaplikasikan pada kulit dengan dosis tunggal. Derajat iritasi dan korosi dievaluasi
berdasarkan nilai skor yang ditunjukkan. Durasi pengujian tidak lebih dari 14 hari untuk melihat
efek reversibel atau irreversibel.
3. Teratogenik
Suatu pengujian untuk memperoleh informasi adanya abnormalitas fetus yang terjadi karena
pemberian zat selama masa perkembangan embrio. Informasi tersebut meliputi abnormalitas
bagian luar, jaringan lunak serta kerangka fetus.

4. Mutagenik
Uji yang dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kemungkinan terjadinya efek
mutagenik suatu zat apabila terpaparkan pada manusia.
Efek mutagenik: efek yang menyebabkan terjadinya perubahan pada sifat genetika sel tubuh
makhluk hidup mutasi gen, aberasi kromosom, kerusakan DNA

5. Reproduktif
Uji pada hewan percobaan untuk mengetahui efek yang merugikan dari suatu zat pada sistem
reproduksi
Toksisitas reproduksi rnencakup reproduksi pada urnurnnya, fertilitas, teratogenisitas, perinatal
dan pasca natal, yang pengujiannya dilakukan dalam beberapa fase

III. PENGUJIAN TOKSISITAS SPESIFIK (IRITASI KULIT)


Alat
Holder hewan coba
Alat cukur listrik untuk hewan
Timbangan analitik
Silet steril untuk vaksinasi

Bahan
Plester, ukuran lebar 3 mm
Kasa hidrofil segi empat
Kapas
Perban lebar 10 cm

Hewan Coba
Kelinci jantan dengan bobot kira-kira 2,5 – 3,5 kg, hewan sudah harus diaklimatisasi
minimum 8 jam sebelum percobaan

Cara kerja :
1. Persiapan kulit
a. Hewan coba dibersihkan dari bulu daerah punggung dan sisi seluas 14x14 cm dengan
menggunakan tondus listrik. Pencukuran dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah
irita
b. si karena kontak dengan alat cukur
c. Kelinci diistirahatkan selama 24 jam. Punggung sisi kiri kelinci tidak diapa-apakan
setelah dicukur dan digunakan sebagai kontrol.
d. Pada punggung sisi kanan dibuatkan dengan silet vaksinasi steril 3 goresan yang sejajar
sepanjang kurang lebih 3 cm dengan jarak antara goresan kira-kira 0,5 cm. Insisi harus
sedemikian rupa hingga mencakup hanya epidermis, tanpa mencapai dermis.
e. Tidak boleh ada perdarahan dan otot yang berdekatan tidak boleh kelihatan
2. Aplikasi bahan sediaan
a. Pada kasa dua buah ditempatkan zat/bahan/sediaan yang akan diuji dalam jumlah
tertentu:
Produk semisolid 0,5 gram
Produk yang berupa cairan 0,5 ml
Produk yang padat 0,5 gram (yang disuspensikan dengan cairan
menjadi semisolid)
b. Kedua kasa yang telah disiapkan sedemikian ditempatkan masing-masing pada sisi
kanan dan sisi kiri punggung kelinci dan diplester dengan 2 plester sepanjang kira-kira
7 cm yang ditempatkan menyilang diatas kasa
c. Kira-kira 1 gram gumpalan kapas diletakkan di atas plester pada tempat silangnya, yang
akan menjamin tekanan yang sama pada seluruh permukaan kasa
d. Hewan kemudian diperban dengan menggunakan perban selebar 10 cm agar
terbungkus punggung pada daerah kasa dan untuk menahan kasa tersebut
e. Kelinci dibiarkan selama 24 jam
f. Kasa dibuka setelah 24 jam setelah pemaparan bahan uji

3. Evaluasi iritasi
a. Indeks iritasi langsung dievaluasi setelah kasa dibuka dan dievaluasi sekali lagi 48 jam
kemudian ( 24 dan 72 jam setelah pemberian bahan uji)
b. Evaluasi dilakukan terhadap sisi kontrol dan sisi yang diberi perlakuan

4. Skor iritasi
Tidak ada eritema

Sedikit eritema (hampir tidak tampak) 1

Eritema nampak jelas 2

Eritema sedang sampai kuat 3

Eritema parah (merah ungu ada noda lecet ringan

Skor untuk pembentukan udem


Tidak ada udem 0

Udem sangat ringan (hampir tidak tampak) 1

Udem ringan (tepi jelas, pembesaran jelas 2

Udem sedang (ketebalan ± 1mm) 3

Udem parah (ketebalan >1mm, luas melebihi kasa 4

Indeks iritasi
Skor yang diperoleh kemudian dijumlah. Jumlah total dibagi 2 (biasanya kurang dari 8)
merupakan indeks primer perkutan

Penafsiran hasil
Hasil tidak mengiritasi 0

Iritasi ringan 0-2


Iritasi sedang 2-5

Iritasi kuat 5-8

Perhatikan!
 Amatilah keadaan binatang coba selama percobaan berjalan terutama geliat tubuh (jika
terjadi) pada 1 jam awal setelah pemaparan hewan uji

Tuliskan hal-hal ini di hasil


1. Berapa skor iritasi (jikaada)
2. Berapa skor udema (jikaada)
3. Bagaimana penafsiran hasil yang saudara amati?
4. Bagaimana mekanisme terjadinya eritema dan atau udem pada pemaparan suatu zat
(jelaskan gambaran patofisiologinya)
Hasil Pengamatan
1. Pada Hasil pengamatan hari ke-0

Nomor Sebelum Dioralkan


Obat BB
Tikus

Normal Normal, lebih aktif, napas normal, agresif


1 278 g
NaCMC
Normal Normal, lebih aktif, napas normal, agresif
2 259 g
NaCMC

3 Aspirin 273 g Normal, lebih aktif, napas normal, agresif,

4 Aspirin 268 g Normal, lebih aktif, napas normal, agresif

5 Etanol 96% 270 g Normal, lebih aktif, napas normal, agresif

6 Etanol 96% 239 g Normal, lebih aktif, napas normal, agresif


2. Tabel hasil pengamatan Pada Hari ke 1

Nomor Sesudah Dioralkan


Obat BB Sebelum Dioralkan
Tikus

Normal, lebih aktif, Lebih tenang,, napas


Normal cepat, detak jantung
6 300 g detak jantung cepat,
NaCMC cepat
fesesnya cair

Normal, lebih aktif, Lebih tenang,, napas


Normal detak jantung cepat, cepat, detak jantung
2 210 g
NaCMC fesesnya cair, bulu cepat
sedikit rontok

Normal, lebih aktif, Aktivasi

detak jantung cepat, berkurang,kehilangan


3 Aspirin 190 g refleks berbalik, respon
fesesnya cair, bulu
sedikit rontok kaget meningkat

Normal, lebih aktif, Aktivasi

detak jantung cepat, berkurang,kehilangan


4 Aspirin refleks berbalik, respon
210 g fesesnya cair, bulu
sedikit rontok kaget meningkat

Normal, lebih aktif, Kewaspadaan

Etanol detak jantung cepat, meningkat,ketakutan,


5 250 g pengurangan reaksi
96% fesesnya cair, bulu
sedikit rontok jepitan ekor

Normal, lebih aktif, Kewaspadaan

Etanol detak jantung cepat, meningkat,ketakutan,


1 240 g pengurangan reaksi
96% fesesnya cair, bulu
sedikit rontok jepitan ekor
3. Tabel hasil pengamatan hari ke 2

Nomor Sesudah Dioralkan


Obat BB Sebelum Dioralkan
Tikus

Normal, lebih aktif, Lebih tenang,, napas


Normal cepat, detak jantung
6 300 g detak jantung cepat,
NaCMC cepat
fesesnya cair

Normal, lebih aktif, Lebih tenang,, napas


Normal detak jantung cepat, cepat, detak jantung
2 210 g
NaCMC fesesnya cair, bulu cepat
sedikit rontok

Normal, lebih aktif, Aktivasi

detak jantung cepat, berkurang,kehilangan


3 Aspirin 180 g refleks berbalik, respon
fesesnya cair, bulu
sedikit rontok kaget meningkat

Normal, lebih aktif, Aktivasi

detak jantung cepat, berkurang,kehilangan


4 Aspirin refleks berbalik, respon
220 g fesesnya cair, bulu
sedikit rontok kaget meningkat

Etanol -
5 - -
96%

Normal, lebih aktif, Kewaspadaan

Etanol detak jantung cepat, meningkat,ketakutan,


1 190 g pengurangan reaksi
96% fesesnya cair, bulu
sedikit rontok jepitan ekor
4.Tabel hasil pengamatan hari ke 3

Nomor Sesudah Dioralkan


Obat BB Sebelum Dioralkan
Tikus

Normal, lebih aktif, Lebih tenang,, napas


Normal cepat, detak jantung
6 300 g detak jantung cepat,
NaCMC cepat
fesesnya cair

Normal, lebih aktif, Lebih tenang,, napas


Normal detak jantung cepat, cepat, detak jantung
2 210 g
NaCMC fesesnya cair, bulu cepat
sedikit rontok

Normal, lebih aktif, Aktivasi

detak jantung cepat, berkurang,kehilangan


3 Aspirin 180 g refleks berbalik, respon
fesesnya cair, bulu
sedikit rontok kaget meningkat

Normal, lebih aktif, Aktivasi

detak jantung cepat, berkurang,kehilangan


4 Aspirin refleks berbalik, respon
220 g fesesnya cair, bulu
sedikit rontok kaget meningkat

Etanol -
5 - -
96%

Normal, lebih aktif, Kewaspadaan

Etanol detak jantung cepat, meningkat,ketakutan,


1 190 g pengurangan reaksi
96% fesesnya cair, bulu
sedikit rontok jepitan ekor
5. Tabel hasil pengamatan pada hari ke 4

Nomor Sesudah Dioralkan


Obat BB Sebelum Dioralkan
Tikus

Normal, lebih aktif, Lebih tenang,, napas cepat, detak


300
6 Control napas normal, jantung cepat
g
agresif

Normal, lebih aktif, Lebih tenang,, napas cepat, detak


290
2 Control napas normal, jantung cepat
g
agresif

Aktivasi berkurang, kewaspadaan


Normal, lebih aktif, meningkat,ketakutan, kelumpuhan
180
3 Aspirin napas normal, pada kaki depan
g
agresif, /belakang/keduanya

Aktivasi berkurang, kewaspadaan


Normal, lebih aktif, meningkat,ketakutan,kecepatan
210 napas normal, pernapasan menjadi
4 Aspirin
g agresif, badan sedikit meningkat,reaksi atas jepitan pada
kaku, ekor, kehilangan reflex telinga.

Etanol -
5 - -
96%

Normal, lebih aktif, Kewaspadaan


Etanol 300 meningkat,ketakutan,
1 detak jantung cepat,
96% g pengurangan reaksi jepitan ekor
hidung berdarah
6. Tabel Hasil Pengamatan Hari Ke-5

Nomo
r Obat BB Sebelum Dioralkan Sesudah Dioralkan

Tikus

Mual, mata sayu, Lebih tenang,, napas cepat, detak


Etanol
6 300 g grooming, lemah, jantung cepat
96%
suara hilang

Normal, lebih aktif, Lebih tenang,, napas cepat, detak


2 Control 290 g napas normal, jantung cepat
agresif
Aktivasi yang berkurang, bulu
berdiri, kewaspadaan
Normal, lebih aktif, meningkat,sikap tubuh tertentu
3 Aspirin 150 g napas normal, dapat dipertahankan
agresif, selamanya,ketakutan, pengurangan
reaksi atas pejepitan ekor

Aktivasi berkurang, kewaspadaan

Normal, lebih aktif, meningkat, sikap tubuh tertentu

napas normal, dapat dipertahankan


4 Aspirin 200 g selamanya,ketakutan,kecepatan
agresif, badan
sedikit kaku, pernapasan menjadi meningkat,
respon kaget meningkat

Etanol -
5 - -
96%
Etanol Normal, lebih aktif, Bulu berdiri,kehilangan daya
1 150 g
96% detak jantung cengkram,ketakutan,tenang, diam,
cepat, hidung pengurangan reaksi atas pejepitan
berdarah ekor

7.Tabel Hasil Pengamatan Hari Ke-6

Nomor Sesudah Dioralkan


Obat BB Sebelum Dioralkan
Tikus

Mual, mata sayu, Lebih tenang,, napas cepat, detak


6 Contrl 300 g grooming, lemah, jantung cepat
suara hilang

Normal, lebih aktif, Lebih tenang,, napas cepat, detak


Contro
2 290 g napas normal, jantung cepat
l
agresif
Aktivasi berkurang, peningkatan
aliran darah pada pembuluh darah

Normal, lebih aktif, perifer pada telingan dan ekor,


Aspiri kewaspadaan
3 150 g napas normal,
n meningkat,ketakutan,mata melotot,
agresif,
kehilangan refleks berbalik ,
kehilangan reflex telinga.
Normal, lebih aktif, Aktivasi berkurang, kewaspadaan

Aspiri napas normal, meningkat,ketakutan,mata melotot,


4 130 g kehilangan refleks berbalik ,
n agresif, badan
sedikit kaku, kehilangan reflex telinga.

Etanol -
5 - -
96%
kehilangan daya cengkram,ekor
Normal, lebih aktif, berdiri,kejang,kecepatan
detak jantung pernapasan menjadi meningkat
Etanol
1 130 g cepat, hidung ,pengurangan reaksi atas jepitan
96%
berdarah pada ekor, kehilangan refles
berbalik, kehilangan refleks telinga

a. Gambar Hati dari tikus 1, 2, 3, 4, dan 6


b. Perhitungan
1. Dosis Obat Pada Hari ke 1
a) Tikus Nomor 1 (Etanol)
Jumlah pemberian pada tikusberupa oral
Berat tikus = 190 gram
190 𝑔
x 1 ml
200 𝑔

x = 0,95 ml
b) Tikus Nomor 3 (Aspirin)
Jumlah pemberian pada tikusberupa oral
Berat tikus = 180 gram
Dosis per oral
190 𝑔
x 0,5 ml
360 𝑔

x = 0,26 ml
c) Tikus Nomor 4 (Aspirin)
Jumlah pemberian pada tikus berupa oral
210 𝑔
Berat Tikus = 360 𝑔 x 0,5 ml

X = 0,3 ml
d) Tikus Nomor 5 (Etanol 96%)
Jumlah pemberian pada tikus berupa oral
250 𝑔
Berat Tikus = x 1 ml
360 𝑔

X = 1,25 ml
2. Pada Obat Pada Hari ke 2
a) Tikus Nomor 1 (Etanol)
Jumlah pemberian pada tikusberupa oral
Berat tikus = 190 gram
190 𝑔
x 1 ml
200 𝑔

x = 0,95 ml
b) Tikus Nomor 3 (Aspirin)
Jumlah pemberian pada tikusberupa oral
Berat tikus = 180 gram
Dosis per oral
180 𝑔
x 0,5 ml
360 𝑔

x = 0,25 ml
c) Tikus Nomor 4 (Aspirin)
Jumlah pemberian pada tikus berupa oral
Berat tikus = 220 mg
220 𝑔
Berat Tikus = x 0,5 ml
360 𝑔

X = 0,3 ml
3. Dosis Obat Pada Hari ke 3
a) Tikus Nomor 1 (Etanol)
Jumlah pemberian pada tikusberupa oral
Berat tikus = 190 gram
190 𝑔
x 1 ml
200 𝑔

x = 0,95 ml
b) Tikus Nomor 3 (Aspirin)
Jumlah pemberian pada tikusberupa oral
Berat tikus = 190 gram
Dosis pada oral
190 𝑔
x 0,5 ml
360 𝑔

x = 0,2 ml
c) Tikus Nomor 4 (Aspirin)
Jumlah pemberian pada tikus berupa oral
Berat tikus = 220 mg
220 𝑔
Berat Tikus = 360 𝑔 x 0,5 ml

X = 0,3 ml

4. Dosis Obat Pada Hari ke 4


a) Tikus Nomor 1 (Etanol)
Jumlah pemberian pada tikusberupa oral
Berat tikus = 190 gram
190 𝑔
x 1 ml
200 𝑔

x = 0,95 ml
b) Tikus Nomor 3 (Aspirin)
Jumlah pemberian pada tikusberupa oral
Berat tikus = 180 gram
Dosis per oral
180 𝑔
x 0,5 ml
360 𝑔

x = 0,25 ml
c) Tikus Nomor 4 (Aspirin)
Jumlah pemberian pada tikusberupa oral
Berat tikus = 210 gram
Dosis per oral
210 𝑔
x 0,5 ml
360 𝑔

x = 0,3 ml

e). Tikus Nomor 6 ( Etanol 96%)


Jumlah pemberian pada tikusberupa oral
Berat tikus = 300 gram

5. Dosis Obat Pada Hari ke 5


a). Tikus Nomor 1 (Etanol)
Jumlah pemberian pada tikusberupa oral
Berat tikus = 150 gram
150 𝑔
x 1 ml
200 𝑔

x = 0,0,75 ml

c). Tikus Nomor 3 (Aspirin)


Jumlah pemberian pada tikusberupa oral
Berat tikus = 150 gram
Dosis per oral
150 𝑔
x 0,5 ml
360 𝑔

x = 0,2 ml

d). Tikus Nomor 4 (Aspirin)


Jumlah pemberian pada tikusberupa oral
Berat tikus = 200 gram
Dosis per oral
200 𝑔
x 0,5 ml
360 𝑔

x = 0,27 ml

6. Dosis Obat Pada Hari ke 6


a) Tikus Nomor 1 (Etanol)
Jumlah pemberian pada tikusberupa oral
Berat tikus = 150 gram
150 𝑔
x 1 ml
200 𝑔

x = 0,65 ml

b) Tikus Nomor 3 (Aspirin)


Jumlah pemberian pada tikusberupa oral
Berat tikus = 150 gram
Dosis per oral
150 𝑔
x 0,5 ml
360 𝑔

x = 0,2 ml

c) Tikus Nomor 4 (Aspirin)


Jumlah pemberian pada tikusberupa oral
Berat tikus = 190 gram
Dosis per oral
190 𝑔
x 0,5 ml = 0,26 ml
360 𝑔
PEMBAHASAN
Praktikum kali ini melakukan percobaan tentang uji toksisitas spesifik. Tujuan
dilakukan percobaan ini adalah agar dapat mempraktekkan uji toksisitas spesifik pada hewan uji
Toksisitas adalah kemampuan suatu zat kimia dalam menimbulkan kerusakan pada
organisme baik saat digunakan atau saat berada dalam lingkungan. Secara umum toksisitas
dibedakan menjadi toksisitas akut, toksisitas subkronik dan toksisitas kronik. Uji toksisitas
bertujuan untuk mengetahui efek toksik dan menemukan batas keamanan suatu senyawa yang
terdapat dalam zat-zat kimia, termasuk dalam tumbuh-tumbuhan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi toksisitas terdiri dari faktor instrinsik racun dan faktor intrinsik makhluk hidup.
Faktor yang meliputi faktor intrinsik racun adalah faktor kimia dan kondisi pemejaan. Sedangkan
faktor yang meliputi faktor intrinsik makhluk hidup adalah keadaan fisiologi, keadaan patologi,
kapasitas fungsional cadangan, penyimpanan racun dalam diri makhluk hidup, toleransi dan
resistensi (Priyanto, 2009).
Jenis toksisitas yang dilakukan pada percobaan ini adalah uji toksisitas subkronik.
Uji toksisitas subkronik adalah salah satu ui praklinik untuk mengidentifikasi ciri fisik maupu
organ yang diberikan senyawa uji secara berulang dalam waktu tertentu yaitu selama 28 atau 90
hari. Prinsik uji toksisitas subkronik adalah sediaan uji dalam beberapa tingkat dosis diberikan
setiap hari pada beberapa kelompok hewan uji. Tujuan uji toksisitas subkronik adalah untuk
memperoleh informasi adalanya efek toksik zat yang tidak terdeteksi pada uji toksisitas akut
(Casarett , 2008).
Sasaran utama induksi tikus putih dengan alkohol dan aspirin adalah hati dan
lambung. Hati merupakan organ dalam tubuh yag terlibat dalam metabolisme suatu zat. Hati sering
menjadi organ sasaran karena zat makanan, sebagian besar obat-obatan serta toksikan memasuki
tubuh melalui sistem gastrointestinal dan setelah di serap toksikan dibawa oleh vena porta ke hati.
GanggUan hati ditandai dengan peningkatan aktivitas serum aminitransferase berupa ALT.
Lambung merupakan bagian dari organ pencernaan yang berfungsi sebagai reservoar untuk
menampung mkanan. Di dalam lambung, makanan semi-solid uyang ditelan mengalami
homogenisasi lebih lanjut oleh kontraksi dinding berotot lambung dan secara kimiawi diolah oleh
asam dan enzim yang disekresi oleh mukosa lambung (Fawcett, 2002). Asam lambung dan
pepsinyang disekresi mukosa lambung bersifat korosif sehingga dapat merusak mukosa lambung
itu sendiri. Disampung asam lambung dan pepsin, beberapa bahan makanan dan obat-obatan juga
dapat mengiritasi lambung yang paling sering adalah alkohol dan obat-obat anti-inflamasi non
steroid seperti aspirin(Guyton,2006).

Pada uji toksisitas spesifik kita menggunakan tikus pengamatan dilakukan selama
seminggu hewan coba dioralkan pada hewan coba nomor 1 dan 6 dijadikan sebagai control, pada
hewan coba nomor 3 dan 4 diberikan perlakukan menggunakan obat Aspirin pada hewan coba
nomor 5 dan 1 diberikan perlakukan menggunakan etanol 96%. Pada hewan coba 2 dan 6 diberi
perlakuan sebagai kontol positif pada hewan coba yang berfungsi sebagai perbandingan antara
hewan coba yang diberikan perlakuan obat. Pada hewan coba 3 dan 4 yang diberikan obat Asppirin
yang mengalami beberapa fungsi organ didalamnya dimana fungsi hati yang mulai membesar
dalam hal ini dapat dipengaruhi oleh kerja obat aspirin didalam tubuh. Mekanisme obat aspirin
adalah memutuskan pembentukan aracidonat dan menyebabkan terhambatnya terbentukan
prostandgandin dan tromoboksan dan dalam hal ini mengalami mukosa pada lambung terkikis atau
tidak terlindungi dengan mukosa yang mengakibatkan pada obat aspirin tersebut melukai dari
dinding lambung dan menyebabkan terjadinya lesi. Pada perlakukan hewan coba nomor 1 dan 5
menggunakan perlakukan etanol 96% dalam hal ini dapat mempengaruhi dari organ didalam
hewan coba jika diberikan alkohol berlebih akan lebih cepat merusak organ-organ didalam hewan
coba dan dapat memicu peningkatan asam laktat yang memicu asidosis laktat dan memicu
peningkatan konsentrasi hipoxanthin dan xanthin dalam plasma melalui aksekerasi degenerasi
adenine nukleotida dan memicu aktivitas inhibitor xanthin dehydroganase. Proses ini mengawali
peningkatan yang menyebabkan ekskresi asam urat karena alkohol dapat merangsang dehidrasi
dan ketoasidosis hingga kadar asam urat meningkat. Dalam hal pemberian alkohol pada hewan
coba mengakibatkan organ didalam hewan coba tidak mampu menahan kerasnya alkohol yang
terkandung dalam sediaan tersebut dan diakibatkan juga karena kesalahan pengoralan saat induksi
tikus dan mengakibatkan tikus mengalami mual hingga mengeluarkan darah melalui hidung dan
beberapa saat besoknya ditemukan dalam keadaan mati.
Pada pratikum yang telah dilakukan didapatkan hasil dari toksisitas umum pada
tikus nomor 1 berat badan 150 g didapatkan berat hati 8,16 g dan memiliki 3 lesi pada lambungnya.
Pada tikus nomor 2 berat badan 210 g didapatkan berat hati 9,7 g dan tidak memiliki lesi pada
lambung. Pada tikus nomor 3 berat badan tikus adalah 150 g didapatkan berat hati 8,3 g dan
memiliki 2 lesi lambung. Pada tikus nomor 4 berat badan tikus adalah 190 g dan memiliki 2 lesi
lambung. Pada tikus nomor 5 berat badan tikus 250 g memiliki berat hati 9,5 g dan untuk lambung
telah mati duluan sehingga tidak dapat diamati.

Pada tikus nomor 6 berat badan 300g memiliki berat hati 14,92 g dan tidak memiliki
lesi. Pada tikus yang diberi perlakuan seagai kontrol tidak memiliki lesi karen atidak diberi obat
apapun. Pada tikus yang diberikan obat aspirin yaitu tikus nomor 3 dan 4 memiliki lesi sebanyak
2 dikarenakan pada obat aspirin terjadi mekanisme dimana aspirin dapat memutuskan
pembentukan aracidonat dan menyebabkan terhambatnya pembentukan prostadgandin dan
tromboksan hal ini dapat mengikis mukosa lambung atau tidak terlindungi dengan mukosa yang
mengakibatkan pada obat aspirin tersebut melukai dari dinding lambung dan menyebabkan
terjadinya lesi atau luka pada area lambung. Pada hewan coba yang diberikan pada nomor 1 dan 5
dengan pemberian etanol 96 % dalam hal ini pada hari pertama oral tikus nomor 5 telah mati
duluan dan saat diamati terlihat adanya gas pada lambung sehingga menyebabkan lambung
menjadi besar. Pada tikus nomor 1 juga terlihat lesi sebanyak 3 pada lambung, diakrenakan alkohol
dapat meningkatkan asam lambung sehingga mukosa lambung mengalami penyusutan inilah yang
menyebakan lesi pada lambung dan tukak lambung. Dalam hal perubahan yang terjadi pada berat
badan hewan coba dapat dipengaruhi oleh biologis pada organ hewan coba tersebut dan dapat
dipengaruhi oleh obat atau sediaan yang diberikan selama pengamatan yang terjadi.
PERTANYAAN
1. Data apa aja saja yang anda target di uji toksisitas khusus yang anda kerjakan di praktikum
ini? Bagaimana cara mendapatkannya?
Jawab :
Target yang ingin dicapai pada uji toksisitas spesifik yang dilakukan pada praktikum ini kita
menginginkan data atau hasil dari suatu tikus atau hewan coba yang diberikan perlakukan
atau obat dan melihat bagaimana efek toksisitas yang didapat dari kandungan obat tersebut
dan menghasilkan kerusakan apa diorgan hewan coba tersebut dan didapatkan hasil pada
hewan coba yang diberikan perlakukan untuk obat aspirin pada bagian lambung mengalami
lesi atau luka pada lampung dalam hal ini dapat kita simpulkan bahwa obat aspirin tidak
dapat dikonsumsi dengan jumlah maupun dosis yang banyak karena dapat melukai area
lambung namun jika diberikan pada dosis yang sedikit efek lesi dari lambung akan sedikit-
sedikit dan berjangka sedikit lama sedangkan pada hewan coba yang diberikan perlakuan
etanol 96% mengakibatkan hewan coba cepat mengalami kematian dalam hal ini dapat
disimpulkan bahwa efek pada etanol 96% bila dikonsumsi tidak baik bagi tubuh hewan coba
maupun manusia. Dan bagaimana cara mendapatkannya adalah dengan cara pengamatan
selama seminggu dan hewan coba diberikan perlakuan suatu obat yang dapat menimbulkan
uji toksisitas spesifik.

2. Jelaskan mengenai analisis data deskriptif dan cara pengambilan kesimpulannya


Jawab :
Analisis data deskriptif adalah cara mendeskriptifkan atau menggambarkan data
yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang
berlaku untuk umum/generalisasi. Ciri-ciri analisis data deskriptif adalah yaitu penyajian
data lebih ditekankan dalam bentuk tabel,grafik, dan ukuran-ukuran statisitik. Dan dalam
pengambilan kesimpulan pada data yang diperoleh adalah dengan cara data tersebut harus
dikumpulkan, diolah, disajikan, dan dianalisis kemudian disimpulkan hasil data yang
diperoleh dan kita dapat menarik kesimpulan dari keseluruhan data bagian mana saja yang
termasuk runtun.
Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1. Uji toksisitas merupakan suatu uji untuk mendeteksi efek toksik suatu zat pada sitem
biologi dan untuk memperoleh data dosis hingga respon yang khas dari sediaan uji.
2. Uji toksisitas dibedakan menjadi tiga, yaitu uji toksisitas akut, uji toksisitas sub aku dan
uji toksisitas kronik.
3. Data yang diperoleh pada percobaan ini yaitu, didapatkan berat hati hewan coba dan
indeks organ hati. Untuk tikus 1 berat hati sebesar 8,16 gram. Tikus 2 berat hati sebesar
9,7 gram. Tikus 3 berat hati sebesar 8,3 gram. Tikus 4 berat hati 11,9 gram. Tikus 5 berat
hati 9,5 gram. Dan tikus ke 6 14, 92 g
4. Bagian lambung hewan coba diperoleh pengawatan bahwa tikus yang dioralkan dengan
aquades kondisi lambungnya memiliki bintik kemerahan dan tukak dangkal. Untuk tikus
yang dioralkan dengan aspirin kondisi lambungnya terdapat banyak lapisan putih, tukak
dangkal dan terjadi pendarahan di lambung. Dan pada tikus yang dioralkan dengan etanol
kondisi lambungnya rusak.
DAFTAR PUSTAKA

Caserett LJ, Doull J. 2008. Toxicology : The Basic Science of


Poisons. 7th ed. Unites States of America: The McGraw-Hill
Companies.
Fawcett D. W. and Bloom. 2002. Buku Ajar Histologi. ed. XII. Alih bahasa: Jan Tambayong.
Jakarta: EGC, pp. 530-550.
Guyton A.C. and Hall J.E. 2006. Textbook of Medical Physiology. 11th. Philadelphia: Elsevier
Inc., pp. 791-825.
Panjaitan RGP, dkk. 2007. Pengaruh pemberian karbon tetraklorida
terhadap fungsi hati dan ginjal tikus. Fakultas Peternakan.
Institut Pertanian Bogor
Priyanto. 2009. Farmakoteapi dan Temonologi Medis. Jakarta:
Lembaga Studi dan Konsultasi Farmakologi (Leskonfi).