Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH BIOKIMIA FARMASI

“ VITAMIN B “

DISUSUN OLEH :

Eunike Filia Tandidatu (1813015219)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2019
KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam saya sampaikan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa karena dengan
rahmat-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “ VITAMIN B DAN PROSES
METABOLISME DI DALAM TUBUH ”. Makalah ini berisi tentang apa itu vitamin B, macam-
macam vitamin B,fungsi vitamin B , mekanisme biokimia , toksisitas , faktor akibat kekurangan
vitamin tersebut serta proses metabolismenya di dalam tubuh.

 Dalam kesempatan ini, saya juga ingin mengucapkan terima kasih dengan hati yang tulus
kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini semoga Allah
senantiasa membalas dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Saya menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak guna
perbaikan di masa yang akan datang. Harapan saya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak.

Samarinda, 14 Desember 2019

Eunike Filia Tandidatu

2
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI …...………………………………………………………………….. 3

KATA PENGANTAR …...……..………………………………………………….. 2

BAB I PENDAHULUAN………..………………………………………………….. 4

A. LATAR BELAKANG ………….…………………………………………… 4


B. RUMUSAN MASALAH ……………………………………………………. 4
C. TUJUAN …………………………………………………………………….. 4-5

BAB II PEMBAHASAN …………………………………………..……………….. 6

A. PENGERTIAN VITAMIN B………..……………………………………… 6-7


B. MEKANISME BIOKIMIA VITAMIN B ..……………………………….. 8-12
C. METABOLISME VITAMIN B ……….…………………………………... 13-
15
D. FAKTOR RESIKO KEKURANGAN VITAMIN ………………………….. 16-
20
E. TOKSISITAS ………………………………………………………………. 21-
27

BAB III PENUTUP ………………………………………………………………… 28

A. KESIMPULAN ………………………………………………………….…. 28
B. SARAN ………………………………………………………………….…. 28

DAFTAR PUSTAKA …………….………………………………………………. 29

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pada tahun 1912, Funk adalah sarjana Biokimia bangsa Polandia yang bekerja di
London untuk pertama kali memperkenalkam istilah vitamin ( amine yang vital) yang
kemudian terkenal dengan nama vitamin (dari bahasa latin, vital yang artinya hidup),
untuk menandakan kelompok dari senyawa-senyawa organic tersebut.
Vitamin merupakan komponen organik yang dibutuhkan oleh tubuh dalam
jumlah yang sedikit (mikronutrien). Walaupun hanya dibutuhkan dalam jumlah yang
sedikit, vitamin berperan penting dalam fungsi-fungsi tubuh seperti pertumbuhan,
pertahanan tubuh, dan metabolisme. Sebuah vitamin dapat mempunyai beberapa fungsi.
Vitamin didapatkan dari suplemen dan diet sehari-hari. Vitamin diklasifikasikan menjadi
vitamin yang larut dalam air (vitamin B dan C) dan larut dalam lemak (vitamin A, D, E,
dan K). Vitamin-vitamin tersebut kemudian disimpan di dalam tubuh, oleh karena itu,
defisiensi vitamin membutuhkan waktu sampai menimbulkan gejala klinis kecuali jika
cadangan pada tubuh tidak adekuat seperti pada bayi prematur . Vitamin B merupakan
nutrisi yang esensial, termasuk di dalamnya ialah tiamin, riboflavin, niasin, vitamin B6,
asam folat, vitamin B12, biotin, dan asam pantotenat. Vitamin B kompleks berfungsi
sebagai koenzim dalam banyak jalur metabolik yang berhubungan satu sama lain.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian vitamin B ?
2. Bagaimana mekanisme biokomia dari fungsi vitamin B ?
3. Bagaimana metabolisme vitamin B ?

4
4. Apa saja faktor resiko yang ditimbulkan apabila kekurangan vitamin B?
5. Bagaimana toksisitas dari vitamin B ?

C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian dari vitamin B
2. Mengetahui mekanisme biokimia dari fungsi vitamin B
3. Mengetahui metabolisme vitamin B
4. Mengetahui faktor resiko yang ditimbulkan apabila kekurangan vitamin B
5. Mengetahui toksisitas dari vitamin B

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN VITAMIN B

Pada tahun 1912, Funk adalah sarjana Biokimia bangsa Polandia yang bekerja
di London untuk pertama kali memperkenalkam istilah vitamin ( amine yang vital) yang
kemudian terkenal dengan nama vitamin (dari bahasa latin, vital yang artinya hidup),
untuk menandakan kelompok dari senyawa-senyawa organic tersebut (Kamiensky,
2006).

Dipandang dari sisi enzimologi (ilmu tentang enzim), vitamin adalah kofaktor
dalam reaksi kimia yang dikatalisasi oleh enzim. Pada dasarnya, senyawa vitamin ini
digunakan tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara normal. Terdapat 13
jenis vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang
dengan baik. Vitamin tersebut antara lain vitamin A, C, D, E, K, dan B (tiamin,
riboflavin, niasin, asam pantotenat, biotin, vitamin B6, vitamin B12, dan folat).Walau
memiliki peranan yang sangat penting, tubuh hanya dapat memproduksi vitamin D dan
vitamin K dalam bentuk provitamin yang tidak aktif. Oleh karena itu, tubuh memerlukan
asupan vitamin yang berasal dari makanan yang kita konsumsi. Buah-buahan dan
sayuran terkenal memiliki kandungan vitamin yang tinggi dan hal tersebut sangatlah
baik untuk tubuh, asupan vitamin lain dapat diperoleh melalui suplemen makanan (Lie,
2004).

Vitamin merupakan komponen organik yang dibutuhkan oleh tubuh dalam


jumlah yang sedikit (mikronutrien). Walaupun hanya dibutuhkan dalam jumlah yang
sedikit, vitamin berperan penting dalam fungsi-fungsi tubuh seperti pertumbuhan,
pertahanan tubuh, dan metabolisme. Sebuah vitamin dapat mempunyai beberapa fungsi.

6
Vitamin didapatkan dari suplemen dan diet sehari-hari. Vitamin diklasifikasikan menjadi
vitamin yang larut dalam air (vitamin B dan C) dan larut dalam lemak (vitamin A, D, E,
dan K). Vitamin-vitamin tersebut kemudian disimpan di dalam tubuh, oleh karena itu,
defisiensi vitamin membutuhkan waktu sampai menimbulkan gejala klinis kecuali jika
cadangan pada tubuh tidak adekuat seperti pada bayi prematur (Zile, 2003).

Vitamin B merupakan nutrisi yang esensial, termasuk di dalamnya ialah tiamin,


riboflavin, niasin, vitamin B6, asam folat, vitamin B12, biotin, dan asam pantotenat.
Vitamin B kompleks berfungsi sebagai koenzim dalam banyak jalur metabolik yang
berhubungan satu sama lain. Vitamin B1 (tiamin) berperan dalam proses dekarboksilasi
piruvat dan alfa-ketoglutarat sehingga penting dalam pelepasan energi dari karbohidrat.
Tiamin terdiri atas cincin pirimidina dan cincin tiazola (mengandung sulfur dan
nitrogen) yang dihubungkan oleh jembatan metilen. Turunan fosfatnya ikut serta dalam
banyak proses sel (Friel et al., 2001). Vitamin B2 (riboflavin) membentuk dinukleotida
flavin adenin dan berpartisipasi dalam jalur metabolisme esensial, termasuk reaksi rantai
pernapasan. Bayi prematur berisiko mengalami defisiensi vitamin B pada umur 1
minggu pertama (Schwarz et al., 1997).

Status vitamin B6 yang rendah dapat ditemukan 5x lebih sering pada bayi yang
lahir dari ibu yang tidak mendapatkan suplementasi B6 selama masa kehamilan (Friel, et
al., 2001). Pada bayi prematur, kebutuhan vitamin B6 meningkat postnatal disebabkan
akumulasi minimal vitamin tersebut di dalam uterus dan peningkatan kebutuhan untuk
organ-organ tubuh yang belum matang. Vitamin B6 yang terutama banyak ditemukan di
dalam air susu ibu bayi yang tidak prematur terbukti mempercepat perkembangan bayi,
terlihat dari peningkatan signifikan panjang bayi, keliling kepala dan berat badan.
Sayangnya, air susu ibu bayi prematur tidak mencukupi kebutuhan vitamin B6 bagi bayi
prematur dan lebih sedikit konsentrasi vitamin B6 jika dibandingkan dengan ASI pada
ibu bayi matur (Kang-Yoon et al., 1995).

7
B. MEKANISME BIOKIMIA VITAMIN B
1. Thiamin (Vitamin B1)

Struktur thiamin merupakan gabungan antara pirimidin dan thiazole yang


dihubungkan dengan jembatan metilene Di dalam otak dan hati diubah menjadi TP =
thiamin pyrohosphat oleh enzim thiamin difosfotransferase, reaksi membutuhkan ATP
Berperan penting sebagai koensim dekarboksilasi senyawa asam-keto Beberapa enzim
yang menggunakan TPP sbg koensim pyruvate decarboxylase, pyruvate
dehydrogenase, transketolase.

8
Penting sebagai koensim pyruvate and a-ketoglutarate dehydrogenase

sehingga jika defisiensi kapasitas sel dalam menghasilkan energi mejadi sangat

berkurang, Juga diperlukan untuk reaksi fermentasi glukosa menjadi etanol, di

dalam yeast.

2. Riboflavin (vitamin B2)

Komponen dari koenzim flavin adalah FMN dan FAD. Enzim yang
bekerja pada reaksi reduksi – oksidasi (redoks), memiliki fungsi sentral dalam
produksi energi dan pernapasan seluler yang merupakan prekursor kofaktor flavin
mononukleotida (FMN) flavin adenine dinukleotida (FAD) Enzim yang memerlukan
kofaktor tersebut adalah flavoprotein
 Riboflavin + ATP = FMN
 FMN + ATP = FAD

9
FAD dan FMN berfungsi sebagai akseptor electron, penambahan 2 elektron
pada FAD menghasilkan FADH2 dan Penambahan 2 elektron pada FMN
menghasilkan FMNH2, perubahan riboflavin ke FMN dihambat oleh hipothyroidsm
elektron yang diterima langsung disumbangkan sehingga kembali pada bentuk yang
teroksidasi penuh, riboflavin terdapat di berbagai sumber makanan seperti susu,
keju, daging, telur dan sereal .

3. Niasin (vitamin B3)

Niasin dapat merupakan nikotinamid atau asam nikotinat. Nikotinamid dan

asam nikotinat sebagai sumber vitamin B3. Niasin dibutuhkan untuk sintesis

vitamin B3, NAD (nicotinamida adenin dinucleotida), dan NADP + (nicotinamide

adenine dinucleotide phosphate) NAD dan NADP adalah kofaktor pada enzim

dehidrogenase, yang berfungsi dalam reaksi redoks yaitu donor dan akseptor

electron, NAD banyak digunakan pada glycolisis, oksidasi asam lemak,

metabolisme badan keton dan cenderung berperan sebagai akseptor elektron pada

reaksi katabolisme. NADP adalah sintesa asam lemak dan PPP, Contoh laktat atau

malat dehydrogenase

10
4. Asam pantotenat (vitamin B5)

Asam pantotenat ( vitamin B5) berasal dari β-alanin dan asam pantoat
diperlukan untuk sintesis coenzim A, komponen asil carier protein (ACP) pada
sintesis asam lemak kofaktor ensim fatty acid synthase. Sekitar 70 enzim
membutuhkan CoA atau derivat ACP untuk melakukan fungsinya. Vitamin B5
banyak ditemukan di kacang-kacangan, daging dan biji-bijian. CoA diperlukan pada
siklus kreb, sintesis dan oksidasi asam lemak, metabolisme asam amino, sintesis
kolesterol .

5. Vitamin B6

11
Di dalam tubuh diubah menjadi bentuk aktif vitamin B6 menjadi PLP

(piridoksal fosfat )

Pengubahan dari vitamin B6, Piridoksal fosfat ini membutuhkan ATP

dengan ensim piridoksal kinase, PLP adalah koenzim pada reaksi transaminasi,

sintesis dan katabolisme asam amino, glikogenolisis (gikogen fosforilase).

12
C. METABOLISME VITAMIN B
1) Vitamin B1 (Tiamin)
Vitamin B1 merupakan anggota pertama dari suatu kelompok vitamin-vitamin yang
disebut B-kompleks. Vitamin B1 larut dalam air, tidak larut dalam minyak dan
dalam zat-zat pelarut lemak, stabil terhadap pemanasan pH asam, tetapi terurai pada
suasana biasa atau netral. Tiamin mudah larut dalam air, sehingga di dalam usus
halus mudah diserap kedalam  mukosa. Di dalam sel epitel mukosa usus, thiamin
difosforilasikan dengan  pertolongan ATP  dan sebagai TPP  dialirkan oleh vena
portae ke hati. Thiamin dieskresikan di dalam urine pada keadaan normal, eskresi ini
parallel terhadap tingkat konsumsi, tetapi pada kondisi defisien hubungan parallel
ini tidak lagi berlaku (Lehninger, 1993).

2) Vitamin B2 (Riboflavin)

Vitamin B2 ini tidak larut dalam minyak atau zat-zat pelarut lemak, stabil dalam
pemanasan dalam larutan asam mineral dan tahan terhadap pengaruh oksidasi, tetapi
sensitive terhadap larutan alkali, dimana terurai irreversible oleh sinar ultraviolet
maupun oleh cahaya biasa. Vitamin ini diketemukan
sebagai pigmen kuning kehijauanyang bersifat fluoresen (mengeluarkan cahaya) dala
m susu. Dalam bentuk murni adalah kristal kuning, larut air, tahan
panas, oksidasi dan asam tetapi tidak tahan dengan alkali dan cahaya
terutama sinar ultraviolet (Lehninger, 1993).

13
Riboflavin bebas terdapat di dalam bahan makanan dan larut di dalam air sehinggam
udah diserap dari rongga usus ke dalam mukosa. Didalam sel epithel mukosa usus,
riboflavin bebas mengalami fosforilasi dengan pertolongan ATP dan sebagai FMN
(Flavin Mononukleotida) dialirkan melalui vena portale ke hati (Lehninger, 1993).

3) Vitamin B3 (Niasin)

Vitamin ini berperan penting dalam metabolisme karbohidrat untuk menghasilkan e
nergi,metabolisme lemak, dan protein. Di dalam tubuh, vitamin B3 memiliki perana
n besar dalam menjaga kadar gula darah, tekanan darah tinggi, penyembuhan
migrain, dan vertigo. Berbagai jenis senyawa
racun dapat dinetralisir dengan bantuan vitamin ini. Vitamin B3 termasuk salah
satu jenis vitamin yang banyak ditemukan pada makanan hewani,
seperti ragi, hati, ginjal, daging unggas, dan ikan. Akan tetapi, terdapat beberapa
sumber pangan lainnya yang juga mengandung vitamin ini dalam kadar tinggi,
antara lain gandum dan kentang manis. Kekurangan vitamin ini
dapat menyebabkan tubuh mengalami kekejangan, keram otot,
gangguan sistem pencernaan, muntah-muntah, dan mual (Lehninger, 1993).

4) Vitamin B5 (asam pantotenat)
Vitamin B5 (asam pantotenat) banyak terlibat dalam reaksi enzimatik di
dalam tubuh. Hal ini menyebabkan vitamin B5 berperan besar dalam berbagai jenis
metabolisme seperti dalam reaksi pemecahan nutrisi  makanan, terutama lemak.
Peranan lain vitamin ini adalah menjaga  komunikasi yang baik antara sistem saraf
pusat dan otak dan memproduksi senyawa asam lemak, sterol, neurotransmiter, dan
hormon tubuh. Vitamin B5 dapat
ditemukan dalam berbagai jenis variasi makanan hewani, mulai dari
daging, susu, ginjal, dan hati hingga makanan nabati, seperti sayuran hijau dan kacan
ghijau. Seperti halnya vitamin B1 dan B2, defisiensi vitamin B5 dapat menyebabkan 
kulitpecah-pecah dan bersisik. Selain itu, gangguan lain yang akan diderita
adalah keram otot serta kesulitan untuk tidur (Lehninger, 1993).

5) Vitamin B6 (Piridoksin, Piridoksal, dan Piridoksamin)

14
Vitamin B6 merupakan vitamin yang esensial bagi pertumbuhan tubuh. Vitamin ini
berperan sebagai salah satu senyawa koenzim A yang digunakan tubuh untuk
menghasilkan energy melalui jalur sintesis asam lemak, seperti spingolipid dan
fosfolipid. Selain itu, vitamin ini juga berperan dalam metabolisme nutrisi dan
memproduksi antibodi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap 
atau senyawa asing yang berbahaya bagi tubuh. Vitamin ini merupakan
salah satu jenis vitamin yang
mudah didapatkan karena vitamin ini banyak terdapat di beras, jagung, kacang-
kacangan, hati, ikan, daging  dan sayuran. Vitamin ini merupakan bagian dari
gugusan prostetikdari enxim dekarboksilase dan transaminase tertentu.
Piridoksin hidroklorida adalah bentuk sintetik yang digunakan sebagai obat. Fungsi 
vitamin B6: Sebagai koenzim terutama dalam transaminase Dekarboksilasi Reaksi
lain yang berkaitan dengan metabolisme protein PLP mengatur sintesis
pengantar syaraf asam gama-amino butirat (gamma-amino-butiric-acid/ GABA).
Kekurangan vitamin B6 menimbulkan gejala-gejala yang berkaitan
dengan gangguan metabolisme protein, seperti lemah dan sukar tidur. Jika lebih
lanjut mengakibatkan kejang, anemia, penurunan pembentukan
antibodi, peradangan lidah, serta luka pada bibir, sudut-sudut mulut dan
kulit dan dapat mengakibatkan kerusakan sistem syaraf. Sedangkan jika
kelebihan akan mengakibatkan kram (Lehninger, 1993).

15
D. FAKTOR RESIKO KEKURANGAN VITAMIN
I. Vitamin B1 (Tiamin)

Fungsi dan manfaat Thiamin (Vitamin B1) antara lain:


• Mencegah penyakit Polyneuritis
• Mencegah penyakit beri-beri
• Menjaga dan melindungi kesiagaan mental
• Membantu kerja sistem pencernaan tubuh
• Menjaga dan melindungi pertumbuhan janin
• Mengurangi resiko gigitan serangga.
Sumber-sumber thiamin (vitamin B1) ragi, hati, biji bunga matahari,
sejumlah padi, biji-bijian, kacang polong, semangka, tiram, oatmeal dan tepung
terigu. Gejala kekurangan Thiamin diantaranya, Beri-beri, irama jantung yang tidak
normal, gagal jantung, kelelahan, susah berjalan, kebingungan dan kelumpuhan.
Thiamin sangat mempengaruhi sistem syaraf. Hal ini karena reaksi hipersensitif
yang dapat berpengaruh pada kelelahan, sakit kepala, sifat lekas marah dan susah
tidur (Sediaoetama,2006). 
Asupan yang tidak cukup menyebabkan penyakit beri-beri, yang
mempengaruhi sistem saraf tepi dan sistem kardiovaskular, namun penyakit beri-beri
ini belum pernah dilaporkan pada bayi prematur. Kekurangan vitamin B1 juga dapat
menyebabkan sindrom Wernicke-Korsakoff. Tiamin berperan sangat vital agar otak
dapat bekerja dengan normal. Asupan harian yang direkomendasikan untuk bayi
prematur sampai usia 7 hari 25-50 µg/kg/hari, asupan dapat mencapai 350

16
µg/kg/hari, dan beberapa juga merekomendasikan dosis 300 µg/kg/hari (Friel et al.,
2001).

Dalam sebuah studi yang melibatkan 16 bayi prematur didapatkan kadar serum
vitamin B1 pada waktu bayi mendapatkan suplementasi vitamin B1 atau nutrisi
parenteral (usia 16 ± 10 hari) adalah 3.3 ± 6.6%. Sedangkan pada saat bayi
mendapatkan asupan oral (usia 32 ± 15 hari) kadar serumnya adalah 4.1 ± 9%.
Dalam studi ini, rata-rata bayi mengkonsumsi 510 ± 280 µg/kg/hari, dan dengan
dosis ini, tidak ada bayi yang mengalami defisiensi tiamin, menunjukkan bahwa
asupan dalam rentang ini mencukupi kebutuhan bayi (Friel et al., 2001).

II. Vitamin B2 (Riboflavin)

Riboflavin berfungsi sebagai koenzim berperan dalam metabolisme energi,


pernafasan, dan penting untuk kesehatan kulit. Vitamin ini juga berperan dalam
pembentukan molekul steroid, sel darah merah, dan glikogen, serta menyokong
pertumbuhan berbagai organ tubuh, seperti kulit, rambut, dan kuku. Riboflavin
membantu enzim untuk menghasilkan energi dari nutrisi penting untuk tubuh
manusia. Riboflavin berperan pada tahap akhir dari metabolisme energi nutrisi
tersebut. Susu dan produk-produk susu, seperti keju, merupakan sumber yang baik
untuk riboflavin. Hampir semua sayuran hijau dan biji-bijian mengandung
riboflavin, seperti brokoli, jamur dan bayam. Kekurangan riboflavin dapat
menyebabkan gejala seperti iritasi, kulit merah dan keretakan kulit dekat dengan
sudut mata dan bibir seperti halnya sensitivitas yang berlebihan terhadap sinar
(photophobia) . Hal ini dapat juga menyebabkan keretakan pada sudut mulut
(cheilosis) (Sediaoetama,2006). 
Lucas dan Bates menemukan bahwa bayi LBW yang mengkonsumsi formula
prematur 180 µg/100kkal mempunyai status riboflavin yang lebih baik pada umur 1
minggu pertama daripada bayi yang hanya mendapatkan ASI. ASI saja tidak
mencukupi untuk kebutuhan riboflavin pada bayi prematur, oleh karena itu,
suplementasi riboflavin sampai 160-620 µg/100kkal dapat diterima (Schwarz et al.,
1997). Dalam sebuah studi yang melibatkan 16 bayi prematur asupan riboflavin 173

17
µg/100kkal ditambah dengan asupan makanan adekuat untuk mempertahankan status
fungsional riboflavin (Friel et al., 2001).

III. Vitamin B3 (Niasin)

Fungsi Niacin (Vitamin B3) :


• Berperan Penting Dalam Metabolisme Karbohidrat
• Kesehatan Kulit, Rambut, dan Kuku
• Mengurangi Risiko Aterosklerosis (Jantung Koroner)
• Mengurangi Kolesterol
• Mengobati Penyakit Pellagra
• Mengobati Radang Sendi, Diabetes, dan Jerawat.
Sumber makanan yang mengandung Niacin berasal dari jamur, ikan Tuna, Ikan
salmon, dada ayam, asparagus, daging rusa, hati domba, daging sapi, telur, buah
mangga, kacang-kacangan dan biji-bijian, susu. Pellagra (penyakit kekurangan
niacin), menunjukkan gejala seperti dermatitis, diare dan dementia . Gejala
kekurangan niacin lainnya adalah kehilangan nafsu makan, lemah, pusing dan
kebingungan mental. Kulit dapat menunjukkan gejala dermatitis simetrik bilateral,
khususnya pada daerah yang terkena sinar matahari langsung. Niasin dalam jumlah
yang berlebih dapat menjadi racun pada sistem syaraf, lemak darah dan gula darah.
Gejala-gejala yang terjadi yaitu seperti muntah, lidah membengkak dan pingsan
dapat terjadi. Bahkan dapat berpengaruh pada fungsi hati dan dapat mengakibatkan
tekanan darah rendah (Sediaoetama,2006). 

IV. Vitamin B5 (asam pantotenat)
Fungsi Asam Pantotenat (Vitamin B5), diantaranya :
 Membantu enzim dalam proses transformasi hidrat arang dan lemak menjadi
energi .
 Membantu sintesa acetylcholine, kimia otak yang berperan dalam proses
transmisi sinyal listrik antara   sel-sel otak .

18
 Penting bagi aktifitas kelenjar adrenal, terutama dalam proses pembentukan
hormon.
 Pengendali stress akibat migran, sindrom lesu kronis dan gangguan emosi
lainya, sehingga dikenal sebagai vitamin anti stress.
 Diperlukan dalam proses pembentukan sistem kekebalan tubuh, terutama
menjaga kesehatan saraf otak.
 Penanganan alergi, sakit kepala, artritis , psosiaris, insomnia, asma dan sejumlah
penyakit infeksi.
 Membantu berbagai gangguan yang berkaitan dengan saraf otak seperti neuritis,
epilepsi serta penyempitan  pembuluh darah otak.
Bahan makanan yang banyak mengandung asam pantotenat yaitu : daging,
ikan, unggas, kuning telur, hati, yogurt, keju, kacang-kacangan, ubi, kembang kol,
pisang, jeruk dan alpukat. Secara alami di dalam tubuh manusia, vitamin ini juga
diproduksi oleh bakteri menguntungkan “Lactobacillin” yang hidup dalam saluran
usus. Kekurangan asam pantotenat dapat menyebabkan muntah, sulit tidur dan
kelelahan. Sementara, ketika kelebihan kadang-kadang menyebabkan diare dan
perut kembung (Sediaoetama,2006). 

V. Vitamin B6 (Piridoksin, Piridoksal, dan Piridoksamin)

Tubuh membentuk protein dengan mengubah asam amino yang terdapat


dalam makanan. Proses perubahan ini dibantu oleh vitamin B6. Disamping itu,
vitamin B6 membantu tubuh membentuk energi dengan membakar cadangan gula
yang terselip diantara organ tubuh. Pembentukan hemoglobin dari protein juga
dibantu oleh vitamin B6. Sebagaimana kita tahu, hemoglobin merupakan zat yang
sangat penting untuk mengedarkan oksigen, enzim dan zat zat makanan ke seluruh
organ tubuh. Vitamin B6 dapat diperoleh dari daging, ikan, kentang, bayam, sawi,
lobak, kembang kol, brokoli, paprika, pisang, alpukat, tomat, melon, semangka,
dll. Orang yang mempunyai kadar vitamin B6 rendah, menunjukkan gejala seperti
lemah, sifat lekas marah dan susah tidur. Selanjutnya gejala kegagalan
pertumbuhan, kerusakan fungsi motorik dan sawan. Dosis tinggi vitamin B6 dalam

19
waktu yang lama menyebabkan kerusakan syaraf, yang kadang-kadang tidak dapat
diperbaiki. Hal ini dimulai dengan mati rasa pada kaki; selanjutnya, perasaan
hilang pada tangan dan mulut yang mungkin menjadi mati rasa
(Sediaoetama,2006). 

Vitamin B6 (piridoksin) berperan dalam fungsi neurologis. Kekurangan


vitamin B6 pada bayi yang baru lahir menyebabkan kejang. Faktor utama yang
mempengaruhi perkembangan neurobehavorial pada bayi adalah status vitamin B6
maternal (Kang-Yoon et al., 1995).

Selain itu, Vitamin B6 berfungsi untuk reaksi metabolik. Dosis oral


vitamin B6 ialah 35-250 µg/100kkal. Penelitian yang dilakukan oleh James Friel
et al mengatakan bahwa pemberian formula vitamin B6 pada bayi prematur
sebanyak 150-250 µg/100kkal adekuat (Friel et al., 2001).

20
E. TOKSISITAS VITAMIN B
i. Vitamin B1 (Tiamin)

A. Akibat Kelebihan Vitamin B1

Kelebihan vitamin B1 bisa berakibat penyakit seperti ruam kulit, hipertensi (tekanan
darah tinggi), palpitasi jantung, agitasi. Akan dibahas satu persatu tentang akibat
kelebihan vitamin B1 ini. Pertama akan dibahas tentang ruam kulit.

B. Ruam Kulit

Ruam kulit ini biasanya terjadi sementara akibat pembuluh darah atau kapilari yang
sesak. Dengan begitu sebab dari ruam kulit ini banyak sekali. Bisa karena kulit
terkena zat kimia, kotoran hewan yang tidak dibersihkan, atau karena virus dan
bakteri. Tapi karena kelebihan vitamin B1 pun bisa mengakibatkan ruam pada kulit.
Ruam ini bermacam-macam bentuknya. Yang pasti pada saat kulit teriritasi dengan
menjadi merah, bengkak, atau berbintik dan berbintil seperti bisul lalu ada gejala
gatal-gatal yang mengikutinya. Bahkan biasanya ruam ini meluas tidak pada satu
daerah kulit saja. Pengobatannya tentu menggunakan salep kulit dari dokter untuk
jenis ruam kulitnya dan juga mengurangi penggunaan vitamin B1.

21
C. Hipertensi

Hipertensi ini adalah adanya tekanan darah tinggi pada arteri di tubuh yang
menyebabkan jantung bekerja lebih keras. Hipertensi inilah yang memicu adanya
penyakit stroke, gagal jantung, dan ginjal kronis. Akibat dari seseorang
mengkonsumsi vitamin B1 berlebihan menyebabkan ginjal bermasalah. Untuk itu
ada pentingnya untuk mengkonsultasikan hipertensi anda ke dokter. Dengan cara
pemeriksaan gula darah, kolesterol darah, fungsi ginjal, karena ginjal yang
mengalami fungsi yang tidak semestinya bisa terjadi akibat kelebihan vitamin B1
yang mengendap di dalam tubuh. Setelah diketahui ada tidaknya hipertensi dalam
tubuh, perlu adanya keseimbangan kembali mengkonsumsi sayuran dan buah serta
berolah raga rutin.

D. Palpitasi Jantung

Palpitasi jantung adalah jantung berdebar keras. Biasanya akibat dari hyperkalemia.
Yaitu adanya kadar kalium yang tinggi pada darah. Biasanya ginjal akan
mengeluarkan kalium ini dalam urin sehingga kalium tidak berlebihan di tubuh.
Karena dampak konsumsi vitamin B1 berlebihan yang menyebabkan pengendapan
di ginjal, maka dari itu, kalium pun menjadi lebih banyak di darah. sehingga
menyebabkan ginjal yang seharusnya bisa mengeluarkan kalium dalam jumlah
tertentu pun jadi terbebani sehingga ikut memperparah ginjal yang sudah terbebani
vitamin B1. Secara berkelanjutan, palpitasi jantung bisa menyebabkan gagal jantung
dan serangan jantung. Pemeriksaan adanya kelebihan kadar kalium bisanya
menggunakan pemeriksaan EKG.

E. Agitasi

Agitasi atau kegelisahan, masalah pada diri yang mudah emosi bisa terjadi akibat
kelebihan vitamin B1 ini. Atau gangguan psikomotor dimana memiliki karakteristik
peningkatan aktivitas motorik. Seperti seseorang sering mengalami gelisah, mondar-
mandir tidak jelas, meremas tangan karena panik, dan hal-hal kegiatan yang
dianggap aneh dari kebiasaan umumnya. Jika agitasi ini akut, kegiatan seseorang itu

22
bisa melukai orang lain. Bisa mencakar, menggigit lidah atau bibir sendiri. Agitasi
terjadi akibat kelebihan vitamin B1 dan biasanya kekurangan vitamin B6. Sehingga
vitamin B kompleks yang seharusnya dipenuhi dengan artian adanya keseimbangan
antara vitamin B yang satu dengan yang lain tidak terpenuhi. Ada baiknya butuh
penanganan dokter lebih lanjut. Karena berbeda dari akibat lain dari kelebihan
vitamin B1 diatas, agitasi lebih sulit didiagnosa dengan eratnya penyakit ini dengan
psikologi seseorang.

F. Dosis Vitamin B1
Dosis vitamin B1 harian untuk bayi yang baru lahir sampai 6 bulan pertama adalah
0,2 miligram. Dari usia 7 bulan sampai 12 bulan dosisnya vitamin B1 adalah 0,3
miligram. Untuk usia 1 tahun sampai 3 tahun, dosisnya adalah 0,5 miligram. Untuk
usia 4 tahun sampai 8 tahun sebanyak 0,6 miligram. Untuk usia 9 tahun sampai  13
tahun dosisnya adalah 0.9 miligram. Sedangkan untuk usia 14 tahun keatas 1
miligram sampai 1,2 miligram perhari.

ii. Vitamin B2 (Riboflavin)

G. Akibat Kelebihan Vitamin B2


Akibat kelebihan vitamin B2 atau penggunaan secara overdosis dapat menimbulkan
efek samping. Tentu vitamin apapun tidaklah boleh dikonsumsi berlebihan. Tubuh
bisa mengalami keracunan. Tapi secara pasti gejala dan akibat kelebihan vitamin B2
adalah tekanan darah menjadi rendah, mengalami kelelahan, anemia atau kurang
darah, mengalami mual dan muntah. Karena vitamin B2 juga sama seperti vitamin
B1 yang larut dalam air, maka jika tubuh mengalami kelebihan vitamin B1 maka
akan segera di dikeluarkan tubuh melalui keringat atau urin. Sehingga mengobati
kelebihan vitamin B2 pada tahap awal tentu dengan mengkonsumsi air putih secara
banyak untuk memicu penyerapan air dalam tubuh, melarutkan vitamin B2 dalam
tubuh dan mengeluarkannya melalui ginjal yang berupa urin. Biasanya kelebihan
vitamin B2 akibat konsumsi dari suplemen vitamin B itu sendiri.
H. Mual dan Muntah
Mual dan muntah terjadi akibat kelebihan vitamin B2 bisa terjadi. Mual dan muntah
terjadi akibat organ perut seperti lambung dan usus tidak mampu untuk menyerap

23
vitamin B2 lebih banyak lagi. Karena vitamin B2 belum dikeluarkan dari tubuh.
Untuk itu mual dan muntah terjadi. Belum lagi kelebihan vitamin B2 pada tubuh
mengakibatkan tubuh menyimpan banyak vitamin B2 ini pada organ seperti hati dan
ginjal. Sehingga malah menimbulkan keracunan dan berakibat mual dan muntah.
Untuk itulah saat konsumsi vitamin B2 mulai berlebih ditandai mual dan muntah,
segerakan menghentikan konsumsi vitamin B2. Baik dalam bentuk alami maupun
suplemen.
I. Kelelahan
Lelah bisa ditimbulkan akibat kelebihan vitamin B2. Terjadi akibat konsumsi
berlebih vitamin B2 namun tidak disertai banyaknya aktifitas. Karena vitamin B2 ini
juga mampu untuk regernari energi pada tubuh. Sehingga saat tubuh menjadi
kelebihan energi namun tidak digunakan, maka tubuh akan mengalami kelelahan.
Vitamin B2 inilah yang membentuk molekul steroid. Yaitu molekul dimana
digunakan untuk menambah tenaga pada atlit agar dapat mencapai pada batas-batas
kemampuan tubuh untuk dapat melakukan kegiatan olahraga. Jika anda ingin
mengkonsumsi vitamin B2 berlebih ada baiknya tidak disaat tubuh ingin beraktivitas
rendah seperti tidur. Karena setelah bangun tidur nantinya, tubuh akan mengalami
kelelahan yang cukup banyak karena metabolisme melalui respirasi pun terjadi
cukup banyak.
J. Tekanan Darah Rendah
Gejala tekanan darah rendah yaitu pusing, mudah mengantuk, serta kelelahan. Gejala
ini sangat erat dengan akibat kelebihan vitamin B2 sebelumnya diatas. Sehingga jika
anda mengalami gejala diatas saat mengkonsumsi vitamin B2 maka dipastikan anda
juga mengalami tekanan darah rendah. Sebabnya banyak sekali. Terutama adanya
melemahnya otot pada jantung dan akibatnya darah yang mengalir pada tubuh
menjadi sedikit karena jantung memompa lebih sedikit darah. Adanya pembekuan
darah di pembuluh vena. Jika konsumsi vitamin B2 berlebih dapat mengakibatkan
penggumpalan cairan (beri-beri), maka pembekuan darah pun bisa terjadi. Tekanan
darah rendah juga dapat diakibatkan tubuh kurang mengkonsumsi garam dan
kurangnya konsumsi air putih. Perlu juga sesekali meminum kopi untuk
meningkatkan kinerja jantung. Kurangi konsumsi vitamin B2 jika tekanan darah
rendah ini terus menerus dan menambah konsumsi makanan bergizi lainnya.

24
K. Dosis dan Kebutuhan Harian Vitamin B2
Kebutuhan vitamin B2 untuk dosis harian berbeda-beda tergantung dari usia
penggunanya. Untuk bayi berusia 0 sampai 6 bulan adalah 0,3 mg vitamin B2. Untuk
bayi usia 7 sampai 12 bulan adalah 0,4 mg vitamin B2. Untuk anak usia 1 sampai 3
tahun adalah 0,5 mg vitamin B2. Untuk anak  usia 4-8 tahun adalah 0,6 mg vitamin
B2. Untuk anak-anak usia 9-13 tahun 0,9 mg vitamin B2. Untuk laki-laki diatas 14
tahun adalah 1,3 mg vitamin B2. Untuk wanita 14-18 tahun adalah 1 mg vitamin B2,
untuk wanita diatas 18 tahun 1,1 mg vitamin B2 sedangkan untuk ibu hamil 1,4 mg
vitamin B2 dan ibu menyusui 1,6 mg vitamin B2.
Lalu untuk pengobatan dengan vitamin B2 akibat defisiensi biasanya diberikan 5-30
mg vitamin B2. Untuk mengobati sakit kepala sebelah adalah 400 mg vitamin B2.
Untuk mencegah katarak pada mata yaitu 2,6 mg vitamin B2 perharinya.
Akibat kelebihan vitamin B2 tetap ada dan bisa terjadi. Biasanya menggunakan
suplemen vitamin B kompleks. Perlu diperhatikan untuk penanganan dini
menggunakan air putih yang banyak agar vitamin B2 segera dikeluarkan tubuh
melalui urin. Sehingga kelelahan, tekanan darah rendah, mual dan muntah bisa
segera diatasi. Penuhi gizi lainnya untuk membantu mendapatkan manfaat vitamin
B2 tidak malah menjadi masalah kesehatan yang baru yang tentu tidak diinginkan.

iii. Vitamin B3 (Niasin)

AKIBAT KELEBIHAN B3
Niasin (bukan niasin-amida) dalam dosis lebih dari 200 kali dosis harian yang
dianjurkan, diberikan untuk mengendalikan kadar lemak yang tinggi dalam darah.

Niasin sebanyak 200 kali dosis harian yang dianjurkan bisa menyebabkan:
- kemerahan yang hebat
- gatal-gatal
- kerusakan hati
- kelainan kulit
- gout

25
- ulkus dan
- gangguan toleransi glukosa.

iv. Vitamin B6 (Piridoksin, Piridoksal, dan Piridoksamin)

Akibat Kelebihan Vitamin B6


Kekurangan vitamin B6 dapat menimbulkan berbagai penyakit. Namun kelebihan
vitamin B6 pun juga dapat menimbulkan berbagai masalah pada tubuh. Masalah
seperti kesemutan dan mati rasa, rendahnya koordinasi otot hingga kelumpuhan,
sulit bernafas, alergi pada kulit, sakit kepala, kelelahan berat, iritasi saraf, kerusakan
saraf dan perubahan psikis adalah akibat kelebihan vitamin B6. Pada artikel ini akan
dibahas masalah pada tubuh tersebut satu persatu.
Perubahan Psikis
Karena overdosis vitamin B6 mengakibatkan seseorang mengalami kelelahan berat.
Sehingga asupan darah ke otak yang tidak stabil diikuti dengan gangguan zat kimia
pada otak. Sehingga orang yang mengalami overdosis akan mudah tersinggung dan
depresi. Dengan begitu kelebihan vitamin B6 dapat mengalami perubahan psikis
seseorang. Banyak yang mengira bahwa dirinya akan mengalami gangguan mental
atau jiwa. Padahal belum tentu demikian. Karena kelebihan vitamin B6 membuat
seseorang kesulitan mengontrol emosinya akibat tubuh tidak mampu digerakkan
sesuai yang diinginkannya.

Alergi Pada Kulit


Walaupun kasus ini jarang terjadi. Namun dengan kelebihan vitamin B6 bisa
terjadi. Saat alergi kulit terjadi, kulit akan memerah dan saat digaruk menimbulkan
iritasi dimana timbul bengkak berwarna merah. Kulit alergi ini juga mengalami
kering dan bersisik. Jika terjadi lebih dari 3 hari lebih baik segerakan ke dokter.
Karena selain dokter akan menyarankan Anda mengurangi vitamin B6, Anda juga
akan mendapatkan obat untuk kulit yang luka dan diberikannya vitamin lainnya
sebagai penyeimbang akibat kelebihan vitamin B6 namun kekurangan vitamin
lainnya.

Rendahnya Koordinasi Otot Hingga Kelumpuhan


26
Memang dengan kelebihan vitamin B6 dapat mempengaruhi kinerja saraf pada
tubuh. Namun sebenarnya iritasi pada saraf tidak mempengaruhi indra peraba dan
sentuhan pada tubuh. Lalu rendahnya koordinasi otot terjadi karena saraf yang
menghubungkan otot yang bekerja semestinya menjadi tegang, kaku hingga
menimbulkan kejang otot. Saat otot tidak dapat lagi dikoordinasikan maka tubuh
akan mengalami kelumpuhan sementara. Tidak perlu pengobatan khusus karena
mengurangi konsumsi vitamin B6 saja dapat membantu koordinasi otot kembali
seperti dulu dan kelumpuhan bisa diatasi.
Sulit Bernafas
Selain saraf tepi yang menyebabkan kesemutan dan mati rasa, serta menyebabkan
kejang otot hingga kelumpuhan, kelebihan vitamin B6 juga mengakibatkan
seseorang mengalami sulit bernafas. Karena kelebihan vitamin B6 mengakibatkan
saraf pada pernafasan terganggu. Sehingga nafas tidak dapat dikendalikan seperti
normalnya. Penanganan terbaik tentu dengan bantuan medis. Karena tidak cukup
hanya dengan mengurangi kelebihan vitamin B6 saja. Bisa jadi sebelum
mengurangi kelebihan vitamin B6, pernafasaan semakin parah. Lebih banyak
membuang oksigen daripada menghirupnya. Jika terlambat mendapatkan
penanganan oleh medis, bisa jadi nafas terhenti.
Sakit Kepala
Sakit kepala yang terasa ngilu dapat diakibatkan im casino spielen karena seseorang
kelebihan vitamin B6. Keracunan vitamin B6 ini mengakibatkan sakit kepala
dimana terjadi iritasi saraf disekitar kepala. Kemudian sakit kepala ini bisa sebagian
(migrain) bisa seluruhnya. Bisa juga iritasi pada saraf yang mengontrol aliran darah
ke kepala. Gejala ringannya tentu darah mengalami tekanan yang tinggi. Hingga
tekanan darah tinggi ini mengakibatkan sakit kepala.
Kelelahan Berat
Saat tubuh mengalami kelelahan yang berkepanjangan atau benar-benar kelelahan
dengan berat, maka Anda sedang mengalami kelebihan vitamin B6. Ditimbulkan
dengan gejala kaki tidak tenang, diikuti sakit kepala sampai kram pada bagian-
bagian tubuh. Akibat lainnya tidur pun menjadi tidak nyenyak karena kelelahan

27
mengganggu untuk tubuh lebih rileks. Keracunan vitamin B6 akibat overdosis ini
menimbulkan fungsi otot tidak teratur dan menyebabkan kelelahan berat.
Kerusakan Saraf
Kerusakan saraf pun terjadi akibat kelebihan vitamin B6. Hal ini lebih berbahaya
dibandingkan iritasi saraf. Saat saraf mengalami iritasi, maka tubuh akan
mengalami kesemutan, kejang otot, badan linu, sulit tidur. Berbeda dengan iritasi
saraf, kerusakan saraf tentu sarafnya telah rusak. Bahkan dapat mengalami
kelumpuhan total. Dimana saraf yang seharusnya bekerja dengan baik benar-benar
rusak. Dengan mengurangi konsumsi vitamin B6 pun belum tentu dapat
menyembuhkan kerusakan saraf yang sudah terjadi. Karena butuh waktu berbulan-
bulan untuk dapat mengetahui apakah saraf yang rusak dapat difungsikan kembali.
Walaupun tetap kasusnya banyak yang tidak bisa pulih sepenuhnya.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Vitamin merupakan komponen organik yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah
yang sedikit (mikronutrien). Walaupun hanya dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit, vitamin
berperan penting dalam fungsi-fungsi tubuh seperti pertumbuhan, pertahanan tubuh, dan
metabolisme. Sebuah vitamin dapat mempunyai beberapa fungsi. Vitamin didapatkan dari
suplemen dan diet sehari-hari. Vitamin diklasifikasikan menjadi vitamin yang larut dalam air
(vitamin B dan C) dan larut dalam lemak (vitamin A, D, E, dan K). Vitamin B merupakan
nutrisi yang esensial, termasuk di dalamnya ialah tiamin, riboflavin, niasin, vitamin B6, asam
folat, vitamin B12, biotin, dan asam pantotenat.

B. Saran
     Sebagai manusia yang sadar akan gizi hendaknya menjaga keseimbangan vitamin di
dalam tubuh agar tidak terjadi berbagai penyakit  Hal ini dapat dilakukan dengan cara
menjaga pola makan dan menkomsumsi makanan yang seimbang.

28
DAFTAR PUSTAKA

Friel, J.K., Bessie, J.C., Belkhode, S.L., Edgecombe, C., Steele-Rodway, M., Downton, G.,
et al., 2001, Thiamine, riboflavin, pyridoxine, and vitamin C status in premature
infants receiving parenteral and enteral nutrition, J Pediatr Gastroenterol Nutr.,33:64-
69.

Kamiensky M, Keogh J 2006. Vitamins and Minerals.In: Pharmacology


Demystified.Mc.GrawHill Companies Inc.,USA.p.137-54.

Kang-Yoon, S.A., Kirksey, A., Giacoia, G.P., West, K.D., 1995, Vitamin B-6
adequacy in neonatal nutrition: associations with preterm delivery, type of
feeding, and vitamin B-6 supplementation, Am J Clin Nutr., 62:932-942.

Lehninger A, Nelson D , Cox M M .Principles of Biochemistry 2nd 1993 .

Lie, Stephen., 2004. Terapi Vegetaria Manfaat Buah dan Sayuran : Jakarta. Prestasi
Pustakaraya.
Sediaoetama, AD. (2006). Ilmu Gizi I. Jakarta: Dan Rakyat.

Schwarz, K.B., Cox, J.M., Sharma, S., Clement, L., Humphrey, J., Gleason, C., et al., 1997,
Possible antioxidant effect of vitamin A supplementation in premature infants,

29
Pediatr Gastroenterol Nutr., 25:408-414.

Zile, M., 2003, Vitamin A deficiencies and excess, Dalam: Behrman, R.E.,
Kliegman, R.M., Jenson, H.B., Stanton, B.F. (eds.), Nelson textbook of
Pediatrics Edisi 18, W.B. Saunders Inc., Philadelphia:177-180.

30