Anda di halaman 1dari 17

FARMAKOLOGI I

JENJANG SARJANA (S1)

LABORATORIUM
FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI FARMASI & MAKANAN
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2019
DATA PRIBADI

NAMA : Eunike Filia Tandi Datu

NIM : 1813015219

PRODI : Farmasi S1

JURUSAN : Farmasi

SEMESTER :3

KELAS : D2 2018

KELOMPOK : 4
PERCOBAAN V
ANTIHIPERURISEMIA/
ANTIGOUT/PIRAI/ASAM URAT

1. TUJUAN
a. Mahasiswa memiliki ketrampilan uji preklinik untuk pengujian antihiperurisemia secara in vivo
b. Mahasiswa mengerti cara menganalisis data hasil uji preklinik antihiperurisemia
2. DASAR TEORI
Hiperurisemia atau gout, atau penyakit pirai, atau secara awam sering disebut asam urat
merupakan kondisi uric acid dalam kadar berlebihan dalam tubuh. Manusia tidak memiliki enzim
urikase yang dapat menguraikannya secara alami sehingga uric acid tersebut dapat mengkristal di
area sendi dan terasa sebagai gejala inflamasi pada sendi. Binatang pengerat memiliki enzim
urikase sehingga tidak ada penyakit hiperurisemia pada binatang tersebut. Namun, sebagai model
pengujian, kita tetap bisa menggunakan tikus atau mencit sebagai model dengan diinduksi kalium
oksonat asalkan masa pengamatannya sangat singkat, tidak lebih dari 3 jam agar tidak terganggu
oleh kerja enzim urikase. Model hiperurisemia lain adalah ayam leghorn, namun dosisnya belum
dapat dikorelasikan dengan dosis manusia.
Contoh obat antihiperurisemia yang biasa digunakan adalah allopurinol dengan kekuatan
sediaan 100 mg dan 300 mg per tablet. Kelemahannya adalah onset cukup lama, sekitar 3 minggu
menunggu proses penekanan enzim yang stabil. Belum ada kompetitor dengan efek setara yang
dapat menggantikan obat ini, sehingga penelitian obat baru untuk hiperurisemia sangat diperlukan.

3. ALAT DAN BAHAN


Alat dan bahan
Spuit injeksi volume 3,0 mL (Terumo), spuit injeksi untuk insulin 1,0 mL, spuit oral ukuran 15
gauge, flakon, timbangan mencit kapasitas 2610 gram (Lark, Cina), timbangan analitik (Presica
A-SCS), pipa kapiler (Assistent), mikrotube sentrifuge (eppendorf), sentrifuge (mini spin), vortex,
mikropipet ukuran 5-40 <L dan 200-1000 <L, blue tip, yellow tip, alat-alat gelas (Pyrex), StarDust
FC* 15 (DyaSys) dan kuvet disposibel. Ekstrak uji, Potasium oksonat p.a (Aldrich Chemical
Company), Allopurinol p.a (Sigma), NaCl 0,9 %, aquadest dan reagen kit uric acid FS*TBHBA
(DyaSys).
4. METODE
Hewan percobaan
Mencit putih jantan galur Balb-C dengan berat badan rata-rata 30-40 gram dan berumur 2-3 bulan.
Pembuatan hiperurisemia
Model studi aktivitas ekstrak tehadap metabolisme asam urat mengikuti model membuat hewan
coba mengalami hiperisemia (Hokazono, et al., 2010; Mohamed, et al., 2008; Aryanti, 2007;
Handardari, 2007). Dosis yang digunakan untuk hiperurisemia adalah kalium oksonat dengan dosis
250 mg/ kg BB mencit.
Perlakuan pada hewan uji
Hewan uji dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan, yaitu meliputi: kelompok kontrol negative
/hiperurisemia (kalium oksonat dosis 250 mg/ kgBB), kontrol positif (allopurinol dosis 10
mg/kgBB) dan ekstrak air biji jinten hitam dosis tunggal (200 mg/kgBB). Pemberian sediaan uji
dilakukan satu jam setelah induksi hiperurisemia (kalium oksonat dosis 250 mg/kgBB). Induksi
hiperurisemia dilakukan selama satu jam (Mohamed, et al., 2008).
Pengambilan darah
Pengambilan darah dilakukan satu jam setelah pemberian sediaan uji atau dua jam setelah induksi
hiperurisemia, darah diambil lewat mata mencit dengan cara menusuk cabang vena opthalmicus
yang terletak pada saccus medianus orbitales dengan pipa kapiler. Darah yang mengalir lewat pipa
kapiler ditampung dalam tabung ependorf, setelah darah menggumpal disentrifus untuk
mendapatkan serum.
Penetapan kadar asam urat
Kadar asam urat ditetapkan berdasarkan reaksi enzimatik menggunakan reagen uric acid FS*
TBHBA. Serum darah yang telah dicampur homogen dengan pereaksi uric acid FS* TBHBA
diinkubasi selama 10 menit pada suhu 37º C. Selanjutnya larutan sampel, standart dan blangko
dibaca absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer StartDust FC*15 pada panjang
gelombang 546 nm.

B. Metode pengukuran asam urat praktis menggunakan kit


Metode ini sangat mudah dilakukan namun akurasinya tidak setepat dengan metode diatas.
Berikut ini cara pengukuran menggunakan kit merek Nesco.
1. Pasang chip asam urat pengujian yang diperlukan

2. Ambil satu strip pengujian, wadah strip pengujian segera ditutup

3. Sisipkan strip pengujian pada strip slot pada alat

4. Bersihkan ekor mencit dengan etanol

5. Lukai ekor mencit dengan menggunakan surgical blade

6. Teteskan darah ke strip test (pada sisi yang telah ditentukan)

7. Tunggu 6 detik, catat hasil yang tampil di layar

8. Ambil strip test dari alat, alat tersebut akan mati secara otomatis
5. HASIL PENGAMATAN
SeSudah Perlakuan (mg/dL)
Perlakuan Sebelum Perlakuan 10 menit 20 menit 30 menit

Kontrol (-) - High 5,0 High

Allopurinol 3,9 mg/dL 9,2 19 Low

Aspilet 14,5 mg/dL 12,2 Low 10,1

PERHITUNGAN
1. Hitunglah berapa massa Na CMC 0,5% dalam 50 ml?
Diketahui : % Na CMC = 0,5%
Volume = 50 ml
Ditanya : massa= ?
Jawab :
0,5 𝑔
Na CMC = x 50 ml = 0,25 g = 250 mg
100 𝑚𝐿

Jadi, massa Na CMC 0,5% dalam 50 ml adalah 0,25 gram.

2. Diketahui : Dosis Kalium Oksonat = 250 mg/kg BB


Berat mencit = 34 g, 26,7 g, dan 32,9 g
Larutan stok = 10 ml
i.p = 0,5 ml
Ditanya : Konversi dosis = ?
Berapa ml yang diberikan tiap mencit = ?
Jawab :
a. Konversi Dosis (KD) = dosis x berat mencit
= 250 mg/ kg x 34 g
= 8,5 mg
Kemudian dilarutkan dengan API (Aqua Pro Injection) sebanyak 10 ml
b. Volume yang diinjeksikan pada mencit dengan berat 34 g adalah 0,5 ml
c. Volume untuk mencit dengan berat 26,7 g :
26.7 𝑔
x 0,5 ml
34 𝑔
= 0,4 ml
Jadi, volume yang diinjeksikan pada mencit dengan berat 26,7 g adalah 0,4 ml
d. Volume untuk mencit dengan berat 32.9 g :
32.9 𝑔
x 0,5 ml
34 𝑔

= 0,47 ml
Jadi, volume yang diinjeksikan pada mencit dengan berat 32,9 g adalah 0,47 ml

2. Diketahui : Dosis aspilet = 750 mg


Bobot aspilet = 2000 mg
Berat mencit = 26,7 g
Larutan stok = 10 ml
p.o = 0.5 ml
Ditanya : Konversi dosis = ?
Timbang setara = ?
Larutan stok =?
Berapa ml yang diberikan tiap tikus = ?
Jawab :
𝐵𝐵 𝐻𝑒𝑤𝑎𝑛
a. Konversi Dosis (KD) = dosis x faktor konversi x 𝐵𝐵 𝑈𝑛𝑖𝑣𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙
26.7 𝑔
= 750 mg x 0,0026 x 20 𝑔

= 2,6 mg
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝑥
b. Timbang Setara (TS) = =
𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝐾𝐷
2000 𝑚𝑔 𝑥
= = 2.6 𝑚𝑔
750 𝑚𝑔

x = 6,93 mg
𝑇𝑆 𝑥
c. Larutan Stok = 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑎𝑡
6,93 𝑚𝑔 𝑥
= =
0,5 𝑚𝑙 10 𝑚𝑙

x = 138,6 mg
d. Volume yang dioralkan pada mencit dengan berat 26,7 g adalah 0,5 ml

3. Diketahui : Dosis allopurinol = 100 mg


Bobot allopurinol = 300 mg
Berat mencit = 32,9 g
Larutan stok = 10 ml
p.o = 0.5 ml
Ditanya : Konversi dosis = ?
Timbang setara = ?
Larutan stok =?
Berapa ml yang diberikan tiap tikus = ?
Jawab :
𝐵𝐵 𝐻𝑒𝑤𝑎𝑛
a. Konversi Dosis (KD) = dosis x faktor konversi x 𝐵𝐵 𝑈𝑛𝑖𝑣𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙
32,9 𝑔
= 100 mg x 0,0026 x 20 𝑔

= 0,42 mg
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝑥
b. Timbang Setara (TS) = =
𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝐾𝐷
300 𝑚𝑔 𝑥
= 100 𝑚𝑔 = 0,42 𝑚𝑔

x = 1,26 mg
𝑇𝑆 𝑥
c. Larutan Stok = 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑎𝑡
1,26 𝑚𝑔 𝑥
= =
0,5 𝑚𝑙 10 𝑚𝑙

x = 25,2 mg
d. Volume yang dioralkan pada mencit dengan berat 32,9 g adalah 0,5 ml
6. PEMBAHASAN
Asam urat adalah hasil metabolisme purin dalam tubuh. Zat asam urat ini biasanya
akan dikeluarkan oleh ginjal melalui urine dalam kondisi normal. Namun dalam kondisi
tertentu, ginjal tidak mampu mengeluarkan zat asam urat secara seimbang, sehingga terjadi
kelebihan dalam darah. Kelebihan zat asam urat ini akhirnya menumpuk dan tertimbun pada
persendian-persendian dan tempat lainnya termasuk di ginjal itu sendiri dalam bentuk kristal-
kristal. Asam urat terutama disintesis dalam hati yang dikatalisis oleh enzim xantin oksidase.
Asam urat diangkut ke ginjal oleh darah untuk filtrasi, direabsorbsi sebagian, dan diekskresi
sebagian sebelum akhirnya diekskresikan melalui urine. Peningkatan kadar asam urat dalam
urine dan serum bergantung pada fungsi ginjal, kecepatan metabolisme purin, dan asupan diet
makanan yang mengandung purin. (Syamsuhidayat, 2004)
Dalam beberapa keadaan, misalnya konsumsi makanan yang mengandung purin tinggi,
atau karena ginjal kurang mampu mengeluarkannya dalam tubuh, maka kadar asam urat dalam
darah akan meningkat. Kadar asam urat dalam darah adalah laki - laki 3,4-7,7 mg/dL,
perempuan 2,5-5,5 mg/dL dan anak-anak 2,0-2,5 mg/dL.Peningkatan kadar asam urat dalam
darah disebut juga hiperurisemia. Keadaan ini dapat menyebabkan penumpukan kristal asam
urat di persendian dan menimbulkan peradangan di daerah tersebut. Kondisi menetapnya
hiperurisemia menjadi predisposisi (faktor pendukung) seseorang mengalami radang sendi
akibat asam urat (gout arthritis), batu ginjal akibat asam urat ataupun gangguan ginjal
(Misnadiarly, 2009).
Asam urat adalah senyawa turunan purina dengan rumus kimia C5H4N4O3 dan rasio
plasma antara 3,6 mg/dL (~214µmol/L) dan 8,3 mg/ dL (~494µmol/L) (1 mg/dL = 59,48
µmol/L) . Kelebihan (hiperurisemia, hyperuricemia) atau kekurangan (hipourisemia,
hyporuricemia) kadar asam urat dalam plasma darah ini sering menjadi indikasi adanya penyakit
atau gangguan pada tubuh manusia. Pada manusia, asam urat adalah produk terakhir lintasan
katabolisme nukleotida purina, sebab tiadanya enzim urikase yang mengkonversi asam urat
menjadi alantoin. Kadar asam urat yang berlebih dapat menimbulkan batu ginjal dan/atau pirai
di persendian (Edward, 2010).

Penyakit asam urat merupakan akibat dari konsumsi zat purin secara berlebihan. Purin
diolah tubuh menjadi asam urat, tapi jika kadar asam urat berlebih, ginjal tidak mampu
mengeluarkan sehingga kristal asam urat menumpuk di persendian. Akibatnya sendi terasa
nyeri, bengkak dan meradang. Asam urat adalah penyakit dari
sisa metabolisme zat purin yang berasal dari sisa makanan yang kita konsumsi. Purin
sendiri adalah zat yang terdapat dalam setiap bahan makanan yang berasal dari tubuh makhluk
hidup (Edward, 2010).
Adapun macam-macam Komplikasi Hiperurisemia, yaitu Pertama radang sendi akibat
asam urat (Arthritis pirai atau gout) adalah suatu proses inflamasi yang terjadi karena
deposisi kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi. Gout dapat bersifat primer maupun
sekunder. Gout primer merupakan akibat langsung pembentukan asam urat tubuh yang
berlebihan atau ekskresi asam urat yang berkurang akibat proses penyakit lain atau
pemakaian obat tertentu dan faktor generik. Sedangkan gout sekunder dipengaruhi dari pola
hidup mulain dari konsumsi makanan, minuman yang mengandung alcohol . Faktor resiko
arthritis pirai antara lain, yaitu riwayat keluarga atau genetik , asupan senyawa purin berlebih
dalam makanan, konsumsi alkohol berlebihan, berat badan berlebihan (obesitas), hipertensi,
penyakit jantung , obat-obatan tertentu (terutama diuretika), gangguan fungsi ginjal dan
keracunan kehamilan (preeklampsia) ((Misnadiarly, 2009)..
Kedua, Komplikasi Hiperurisemia pada Ginjal. Tiga komplikasi hiperurisemia pada
ginjal berupa batu ginjal, gangguan ginjal akut dan kronis akibat asam urat. Batu ginjal terjadi
sekitar 10-25% pasien dengan gout primer. Kelarutan kristal asam urat meningkat pada suasana
pH urine yang basa. Sebaliknya, pada suasana urine yang asam, kristal asam urat akan
mengendap dan terbentuk batu. Gout dapat merusak ginjal, sehingga pembuangan asam urat
akan bertambah buruk. Gangguan ginjal akut gout biasanya sebagai hasil dari penghancuran
yang berlebihan dari sel ganas saat kemoterapi tumor. Penghambatan aliran urin yang terjadi
akibat pengendapan asam urat pada duktus koledokus dan ureter dapat menyebabkan gagal
ginjal akut. Penumpukan jangka panjang dari kristal pada ginjal dapat menyebabkan gangguan
ginjal kronik (Misnadiarly, 2009).
Pengobatan Radang Sendi akibat asam urat (Gouty arthitis) dapat dilakukan dengan
pengaturan pola makan dan perubahan gaya hidup termasuk penurunan berat badan,
pembatasan minuman alkohol, makanan tinggi purin, dan pengawasan hiperlipidemia dan
hipertensi dapat menurunkan kadar serum asam urat walau tanpa terapi obat-obatan
(Misnadiarly, 2009).
Obat – obat terapi untuk mengobati Hiperurisemia seperti Obat anti-peradangan non-
steroid (NSAIDs) digunakan untuk mengurangi rasa sakit dan pembengkakan selama gout
akut. NSAIDs biasanya mulai berfungsi dalam waktu 24 jam dan mungkin menyebabkan efek
samping seperti rasa tidak enak pada perut, ruam pada kulit, retensi cairan, atau masalah ginjal,
dan tukak lambung. NSAIDs harus digunakan secara hati-hati pada pasien yang mengalami
penurunan fungsi ginjal atau tukak lambung. Obatobatan terbaru yang disebut sebagai
penghambat COX-2 lebih aman bagi lambung. misalnya, Naproxen, asam Mefenamic,
Indometasin, atau Diclofenac. Kortikosteroid memiliki efek yang cepat dan dapat dikonsumsi
dengan diminum atau disuntikkan secara langsung pada sendi yang meradang untuk
mengurangi rasa sakit dan pembengkakan pada gout akut. Kolkisin mampu meghilangkan rasa
sakit seketika saat tanda-tanda awal serangan akan terjadi. Efek samping yang umum terjadi
diantaranya adalah kram perut atau diare. Kolkisin dalam dosis rendah dapat diminum setiap
hari untuk mencegah serangan berikutnya. Allopurinol mengurangi tingkat asam urat dalam
darah dan harus dikonsumsi setiap hari. Obat ini juga mengecilkan tophi dan mencegah
penumpukan kristal pada persendian dan jaringan lainnya. Efek samping yang umum terjadi
adalah ruam pada kulit dan harus dihentikan jika pasien menderita ruam atau gatal. Allopurinol
biasanya diminum setiap hari selama bertahun-tahun. Konsumsinya tidak boleh dihentikan
pada waktu serangan gout akut. Obat uricosurik seperti probenecid menurunkan tingkat asam
urat pada darah dengan meningkatkan pembuangannya melalui urin, walaupun tidak semanjur
allopurinol dan tidak dapat berfungsi dengan baik pada pasien yang menderita penurunan
fungsi ginjal. Pasien harus banyak minum air karena eksresi asam urat dalam urin dapat
mengakibatkan pembentukan batu ginjal. (Tjay, 2007).
Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian antihiperurisemia secara in vivo . Hewan
yang digunakan pada praktikum kali ini adalah Mencit putih jantan galur Balb-C dengan
berat badan rata-rata 30-40 gram dan berumur 2-3 bulan. Pembuatan Hiperurisemia
dilakukan dengan cara menginjeksikan secara intraperitonial potasium oksonat 250 mg/kg
BB atau 5 mg/20 g BB pada mencit (Zhao, 2005). Hewan uji dibagi menjadi beberapa
kelompok perlakuan, yaitu meliputi kelompok kontrol negatif / hiperurisemia (potassium
oksonat dosis 250 mg/kgBB), kontrol positif (allopurinol dosis 10 mg/kgBB). Pemberian
sediaan uji dilakukan satu jam setelah induksi hiperurisemia (potassium oksonat dosis 250
mg/kgBB). Pengambilan darah dilakukan dengan waktu 5 menit , 10 menit , 20 menit dan
30 menit. Darah diambil melalui buntu atau ekor mencit.
Pengujian asam urat pada percobaan kali ini menggunakan metode pengukuran asam
urat praktis menggunakan kit dengan cara pertama, dipasang chip asam urat pengujian yang
diperlukan lalu diambil satu strip pengujian, wadah strip pengujian segera ditutup .
Selanjutnya dsisipkan strip pengujian pada strip slot pada alat . Setelah itu, dibersihkan ekor
mencit dengan etanol lalu lukai ekor mencit dengan menggunakan surgical blade .
Kemudian, diteteskan darah ke strip test (pada sisi yang telah ditentukan) dan ditunggu 6
detik, catat hasil yang tampil di layar lalu diambil strip test dari alat, alat tersebut akan mati
secara otomatis.

Obat yang digunkan pada percobaan ini adalah allopurinol dan aspilet. Obat
Allopurinol digunakan sebagai pembanding untuk mengetahui penurunan kadar asam urat
bahan uji. Pada umumnya allopurinol dikonsumsi untuk penderita hiperurisemia walaupun
waktu paruhnya pendek. Allopurinol memiliki waktu paruh dalam plasma sekitar 40 menit,
allopurinol dapat dihidroksilasi menjadi metabolit utamanya yaitu oksipurinol dengan waktu
paruh sekitar 14 jam. Cara kerja allupurinol adalah dengan menghambat kerja enzim santin
oksidasi yang mensintesa senyawa purin yang merupakan bahan dasar pembentukan asam
urat. Dosis awal allupurinol adalah 100 mg dan dapat di tingkatkan menjadi 300 mg perhari
(Sustrani, 2007).
Aspilet adalah obat yang termasuk ke dalam golongan obat antiplatelet. Obat jenis
ini berfungsi untuk mengencerkan darah dan mencegah penggumpalan di pembuluh darah.
Cara kerja aspilet menghambat sintesis platelet melalui asetilasi enzim COX dalam platelet
secara ireversibel. Karena platelet tidak mempunyai nukleus, maka selama hidupnya platelet
tidak mampu membentuk enzim COX ini. Akibatnya sintesistromboksan A2 (TXA2) yang
berperan besar dalam agregasi trombosit terhambat. Onset kerja aspilet adalh 5-30 menit,
dengan durasi kerja 4-6 jam (Barasi, 2009).
Percobaan kali ini dilakukan dengan cara pembuatan larutan stok terlebih dahulu.
Kemudian setelah larutan stok obat sudah di buat di induksi mencit agar menjadi
hiperurisemia dengan cara menyuntik mencit secara intraperitonial dengan larutan kalium
oksonat setelah itu didiamkan selama 1 menit, setelah itu diambil darah mencit,
pengambilan darah dilakukan dengan memotong ujung ekor mencit menggunakan surgical
blade kemudian di pijat ekor mencit supaya darah dapat keluar dan darah yang keluar di
letakan pada strip slot yang sudah dipasang pada alat pengukur asam urat lalu di catat hasil
yang ada pada monitor. Setelah itu mencit kemudian di oralkan kembali dengan obat
antihiperurisemia yaitu aspilet dan allopurinol di tunggu 10 menit kemudian di ukur lagi
kadar asam urat dari mencit. Pengukuran dilakukan kembali pada menit 20 dan 30.
Hasil yang didapatkan untuk kalium oksonat pada menit ke-1 yaitu - (tidak diukur);
menit ke-10 yaitu high, pada menit ke-20 adalah 5,0 mg/dL, dan menit ke-30 adalah high.
Menit ke 10 dan 30 telah sesuai denga teori dimana mencit yang tidak diberi obat
antihiperurisemia akan terjadi kenaikan kadar asam urat yang semakin tinggi, namun untuk
enit ke-20 terjadi kesalahan dimana kadar asam urat pada mencit hanya berkisar pada 5,0
mg/dL.
Hasil pengamatan obat allopurinol yang diperoleh pada menit ke-1 kadar asam
urat pada mencit yaitu 3,9 mg/dL; menit ke-10 yaitu 9,2 mg/dL; menit ke-20 yaitu 19
mg/dL; dan menit ke-30 yaitu low. Data pada menit ke-30 sesuai dengan teori yang ada
karena kadar asam urat pada mencit mengalami penurunan. Sedangkan data yang dihasilkan
pada menit ke-1, 10 dan 20 tidak sesuai denga teori yang ada. Hal ini bisa saja disebabkan
karena dosis yang kurang tepat pada saat mengoralkan mencit. Jika dosis yang diberikan
tepat seharusnya kadar asam urat pada mencit terus menurun sesuai dengan fungsi obat
allopurinol sebagai obat asam urat. Sedangkan pada menit ke-30 sesuai dengan teori yang
ada karena kadar asam urat pada mencit mengalami penurunan.

Hasil pengamatan obat aspilet yang diperoleh pada menit ke-1 kadar asam urat
pada mencit yaitu 14,5 mg/dL; menit ke-10 yaitu 12,2 mg/dL; menit ke-20 yaitu low; dan
menit ke-30 yaitu 10,1 mg/dL. Dari hasil tersebut diketahui bahwa setelah menit ke-10 dan
20 sesuai dengan teori yang ada. Sedangkan pada menit ke-30 kadar asam bernilai 10,1
mg/dL dimana nilai ini mengalami kenaikan dari data sebelumnya. Hal ini mungkin
disebabkan dosis yang diberikan tidak sesuai dan kemungkinan juga obat yang dioralkan
tumpah pada saat pengoralan
PERTANYAAN
1. Jelaskan proses induksi hiperurisemia pada hewan coba!
Jawab :
Kadar asam urat tinggi (hiperurisemia) dibuat dengan cara penginduksian kalium oxonate
secara intraperitoneal dengan dosis 250 mg/kgBB atau 5mg/20gBB pada mencit 1 jam setelah
pemberian sediaan uji. Untuk perlakuannya, hewan coba dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu
kontrol negatif, kontrol positif, dan kontrol hiperurisemia. Induksi potassium oxonate dilakukan
ketika terjadi akumulasi asam urat yaitu sekitar satu jam. (Sutrisna, 2010)

2. Data apa saja yang didapat dari uji preklinik antihiperurisemia?


Jawab :
Data yang bisa didapat dari uji preklinik antihiperurisemia adalah :
a. dosis efektif kalium oksonat dalam menaikkan kadar asam urat dari kondisi normal
b. kadar asam urat dalam hewan coba setelah perlakuan dengan berbagai kontrol
c. nilai signifikansi masing-masing kelompok perlakuan
(Muhtadi, 2004)
3. Bagaimana cara analisis data dan pengambilan kesimpulan hasil uji preklinik antihiperurisemia?
Jawab :
a. Dosis efektif kalium oksonat dalam menaikkan kadar asam urat dari kondisi normal
Dapat dilihat dari kalium oksonat dengan dosis 250 mg/kgBB telah mampu menikkan kadar
asam urat mencit. Mencit dikatakan hiperurisemia jika kadar asam urat darahnya berkisar
antara 1,7-3,0 mg/dl.
b. Kadar asam urat dalam hewan coba setelah perlakuan dengan berbagai kontrol
Dapat dilihat dari nilai kadar asam urat setelah diberikan perlakuan dalam kontrol positif,
kontrol negatif, dan kontrol hiperurisemia dengan dosis tunggal 200 mg / kgBB.
c. Nilai signifikansi
Dua nilai signifikansi dari dua kontrol dibandingkan lalu didapatkan nilai signifikansi baru.
Perbedaan yang signifikan ditunjukkan jika nilai signifikan yang baru <0,05.
(Muhtadi, 2004)

KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa :
1. Asam urat adalah hasil produksi oleh tubuh, sehingga
keberadaannya normal dalam darah dan urin
2. Hiperurisemia dapat disebabkan 2 faktor yaitu kadar purin
dalam darah yang meningkat dan pembuangan purin di ginjal
yang menurun
3. Obat yang dapat digunakan untuk antihiperurisemia adalah
allopurinol dan aspilet.
DAFTAR PUSTAKA

Barasi, Mary E. 2009. At A Glance Ilmu Gizi.Terj. Hermin Halim. Jakarta : Erlangga.

Edward, Stefanus. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II Edisi IV. Tehupetory.
Misnadiarly. 2009. Rematik, Asam Urat, dan Arthritis Gout. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Muhtadi, dkk. 2014. Uji Praklinik Antihiperurisemia Secara in Vivo Pada Mencit Putih Jantan
Galur Balb-c Dari Ekstrak Daun Salam (Syzigium Polyanthum Walp) Dan Daun Belimbing
Wuluh (Averrhoa Bilimbi L.). Biomedika. Vol. 6 No. 1

Sustrani, Lanny. 2007. Asam Urat. Jakarta : Gramedia

Sutrisna, E.M., dkk. 2010. Efek Ekstrak Etanol Daging Buah Mahkota Dewa (Phaleria Macrocarpa
(Scheff.) Boerl.) Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Pada Mencit Putih Jantan Yang
Diinduksi Potassium Oxonate. PHARMACON. Vol. 11 No. 2
Syamsu hidayat dan Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.
Tjay, Tan Hoan, Kirana Rahardja. 2007. Obat-obat Penting . Jakarta: Elex Media Komputindo.