Anda di halaman 1dari 14

Nama : Vena Nur.

Kelas : 1A

1. Ganguan Eliminasi Urine


a. Retensi Urine
Retensi adalah masalah cairan tubuh
Retensi adalah kondisi kelebihan cairan atau zat-zat tertentu yang seharusnya
dikeluarkan oleh tubuh. Retensi cairan dan retensi urin adalah dua kondisi yang paling
sering dialami oleh banyak orang.
Retensi urin
Retensi urin adalah gangguan pada kandung kemih yang menyebabkan Anda
kesulitan untuk buang air kecil. Retensi urin dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
Retensi urin akut, terjadi secara tiba-tiba dalam waktu singkat. Gejala yang paling
sering dikeluhkan adalah kesulitan mengeluarkan urin meski Anda sudah sangat ingin
buang air kecil. Akibatnya rasa nyeri dan tidak nyaman di bagian bawah perut.
Retensi urin kronis. Retensi urin kronis terjadi dalam jangka waktu yang lama. Kondisi
ini terjadi ketika Anda ingin buang air kecil, namun kandung kemih Anda tidak dapat
dikosongkan secara maksimal. Alhasil, orang dengan kondisi ini sering mengalami
buang air kecil yang tidak tuntas. Orang awam sering mengartikannya sebagai anyang-
anyangan. Anda mungkin akan merasa ingin selalu buang air kecil meski baru saja
melakukannya.
Retensi urin bisa disebabkan oleh banyak hal. Salah satu yang paling sering
terjadi karena adanya penyumbatan uretra, alias saluran kemih.
Penyumbatan ini bisa terjadi akibat kelenjar prostat yang membesar, striktur uretra,
adanya benda asing di saluran kemih, atau peradangan uretra yang parah. Gangguan
sistem saraf yang ada di saluran kemih dan penggunaan obat-obatan tertentu juga bisa
jadi penyebab retensi urin.

Bagaimana cara mengatasi kondisi ini?


Dalam banyak kasus, pengobatan retensi cairan lebih mudah ketimbang retensi urin.
Pasalnya, kondisi ini bisa diatasi dengan perawatan rumahan yang sederhana. Beberapa
perawatan rumahan yang bisa dilakukan untuk mengatasi retensi cairan adalah:
 Menghindari makanan dengan kandungan garam tinggi karena garam dapat
mengikat air yang ada di dalam tubuh.
 Mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin B6 seperti beras merah dan
daging merah.
 Mengonsumsi makanan tinggi kalium seperti pisang dan tomat.
 Minum obat diuretik (pil air). Namun, pastikan Anda berkonsultasi terlebih
dahulu ke dokter sebelum minum obat ini. Tidak semua orang dengan retensi
cairan membutuhkan obat diuretik.
Sementara dalam kasus retensi urin, beberapa pilihan pengobatan yang biasa dilakukan
oleh dokter untuk retensi adalah:
 Obat-obatan tertentu. Dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan tertentu
tergantung penyebab dari retensi urin itu sendiri. Konsultasi ke dokter sebelum
Anda mengonsumsi obat-obatan tersebut.
 Kateterisasi kandung kemih. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan alat
berupa selang kecil tipis ke dalam saluran kencing. Maka, urin Anda dapat
keluar dengan mudah. Kateterisasi adalah prosedur tercepat dan termudah untuk
menobati retensi urin.
 Pemasangan stent. Stent, atau tabung kecil bisa dimasukkan ke dalam saluran
kemih untuk mempermudah urin keluar dari tubuh. Stenda dapat dipasang secara
sementara atau permanen supaya uretra Anda tetap dalam keadaan terbuka.
 Operasi. Jika berbagai cara yang sudah disebutkan di atas tidak juga bisa
meredakan gejala, operasi bisa jadi pilihan terbaik. Dokter spesialis urologi bisa
melakukan prosedur transurenthal, urethrotomy, ataupun laparoskopi.
 Komplikasi yang perlu diwaspadai
 Entah itu retensi cairan maupun retensi urin, keduanya sama-sama bisa
menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

b. Inkontinensia Urine
Inkontinensia urine adalah kondisi ketika seseorang sulit menahan buang air kecil,
sehingga jadi mengompol. Inkontinensia urine umumnya dialami oleh lansia, dan lebih
sering dialami oleh wanita dibandingkan pria.
Meskipun biasanya bukan merupakan kondisi yang berbahaya, inkontinensia urine
dapat berdampak buruk pada kondisi psikologis dan kehidupan sosial penderita. Segera
konsultasikan dengan dokter jika inkontinensia urine mengganggu aktivitas sehari-hari.
 Gejala dan Penyebab Inkontinensia Urine
Inkontinensia urine disebabkan oleh banyak hal, mulai dari gaya hidup hingga
kondisi medis tertentu. Berikut ini adalah beberapa penyebab dari inkontinensia urine
berdasarkan gejala yang ditimbulkan:
1. Mengompol ketika ada tekanan (stress incontinence)
Penderita inkontinensia jenis ini akan mengompol ketika kandung kemih tertekan,
seperti saat batuk, bersin, tertawa keras, atau mengangkat beban. Kondisi ini disebabkan
oleh otot saluran kemih yang terlalu lemah untuk menahan urine ketika ada tekanan.
Otot kandung kemih dapat melemah karena berbagai faktor, misalnya karena proses
persalinan, berat badan berlebih, atau komplikasi pascaoperasi, seperti rusaknya saluran
kemih.
2. Tidak dapat menunda buang air kecil (urge incontinence)
Penderita inkontinensia jenis ini tidak dapat menahan buang air kecil ketika dorongan
untuk itu muncul. Sering kali perubahan posisi tubuh atau mendengar suara aliran air
membuat penderita mengompol.
Kondisi ini disebabkan oleh otot kandung kemih yang berkontraksi secara berlebihan.
Kontraksi dipicu oleh konsumsi kafein, soda, alkohol, dan pemanis buatan secara
berlebihan, infeksi saluran kemih, sembelit, serta gangguan saraf, seperti stroke atau
cedera saraf tulang belakang.
3. Mengompol secara tiba-tiba (overflow incontinence)
Penderita inkontinensia jenis ini dapat ngompol sedikit-sedikit. Kondisi ini terjadi
akibat kandung kemih tidak dapat dikosongkan sampai benar-benar kosong (retensi
urine kronis), sehingga sisa urine di dalam kandung kemih akan keluar sedikit-sedikit.
Retensi urine kronis dapat terjadi ketika kandung kemih atau saluran kemih mengalami
penyumbatan, sehingga mengganggu keluarnya urine. Penyumbatan ini umumnya
disebabkan oleh pembesaran kelenjar prostat, tumor atau batu pada kandung kemih,
atau karena sembelit.
4. Sama sekali tidak bisa menahan urine (inkontinensia total)
Inkontinensia total terjadi ketika kandung kemih sama sekali tidak mampu menampung
urine, sehingga penderitanya akan terus mengompol.
Kondisi ini bisa disebabkan oleh kelainan struktur kandung kemih atau panggul sejak
lahir, cedera saraf tulang belakang, atau munculnya lubang di antara kandung kemih dan
organ sekitarnya, misalnya vagina.

Ada beberapa faktor yang membuat seseorang berisiko mengalami inkontinensia urine,
antara lain:
 Usia lanjut
 Seiring pertambahan usia, otot kandung kemih dan saluran lubang kencing
(uretra) akan semakin melemah.
 Jenis kelamin wanita
 Inkontinensia urine lebih banyak menyerang wanita dibandingkan pria. Hal ini
dapat dipengaruhi oleh proses kehamilan, melahirkan, dan menopause.
 Keturunan
 Risiko seseorang terkena inkontinensia urine akan lebih besar, jika salah satu
anggota keluarganya pernah menderita kondisi yang sama.
 Merokok
 Tembakau dapat meningkatkan risiko inkontinensia urine. Oleh karena itu,
perokok lebih berisiko mengalami kondisi ini.
 Operasi pengangkatan rahim
 Pada wanita, kandung kemih dan rahim didukung oleh beberapa otot yang sama.
Ketika rahim diangkat, otot-otot dasar panggul tersebut dapat mengalami
kerusakan, sehingga memicu inkontinensia.
 Pengobatan kanker prostat
 Efek samping obat yang digunakan dalam proses pengobatan kanker prostat
dapat berisko menyebabkan inkontinensia urine.
c. Enuresis
Enuresis adalah istilah medis untuk kebiasaan mengompol, yakni kondisi di mana
seseorang tidak dapat menahan keluarnya air kencing ketika tidur. Tak hanya terjadi
pada anak-anak, enuresis juga bisa terjadi pada orang dewasa. Yuk, ketahui penyebab
dan cara mengatasinya.
Enuresis bisa bersifat nokturnal dan diurnal. Enuresis nokturnal merupakan istilah
untuk kebiasaan mengompol pada malam hari, sedangkan enuresis diurnal adalah istilah
untuk kebiasaan mengompol pada siang hari. Kondisi ini kerap dialami oleh anak usia
di bawah lima tahun. Seiring bertambahnya usia, kebiasaan ini akan hilang dengan
sendirinya lantaran meningkatnya kemampuan anak untuk mengontrol kandung
kemihnya. Namun terkadang, kebiasaan mengompol ini juga bisa terjadi pada orang
dewasa.
Jenis dan Penyebab Enuresis yang Perlu Kamu Ketahui
Ada dua jenis enuresis, antara lain:
1. Enuresis primer: Enuresis yang kerap terjadi mulai dari bayi, enuresis nokturnal
adalah bentuk enuresis primer yang paling umum terjadi.
2. Enuresis sekunder: Enuresis yang masih kerap terjadi pada seseorang yang
sebelumnya sudah mampu mengendalikan kandung kemihnya.

Enuresis pada anak


Penyebab enuresis pada anak-anak tidak diketahui dengan pasti, namun umumnya
disebabkan karena Si Kecil tidak terbangun saat kandung kemihnya penuh, atau Si
Kecil memproduksi urine berlebih dari biasanya. Beberapa faktor juga disebut bisa
memicu terjadinya enuresis, yakni ukuran kandung kemih yang kecil, infeksi saluran
kemih menetap, stres berat, dan tumbuh kembang anak yang terlambat. Enuresis baik
yang sengaja atau tidak disengaja juga bisa berkaitan dengan gangguan mental, kelainan
perilaku, serta gangguan emosional seperti kecemasan. Enuresis juga bisa dipicu oleh
faktor keturunan.

Enuresis pada orang dewasa


Tak jauh berbeda pada orang dewasa, penyebab enuresis meliputi ginjal yang
memproduksi lebih banyak urine dari biasanya. Hal ini terjadi lantaran dua hal, yakni
tubuh kurang memproduksi hormon ADH (Antidiuretic Hormone) yaitu hormon yang
mengontrol produksi urine dengan mengirim sinyal pada ginjal. Atau sebalinya, ginjal
tidak merespons dengan baik sinyal yang dikirimkan hormon ADH untuk memproduksi
urine lebih sedikit saat tidur. Kadar hormon ADH ini juga bisa dipengaruhi oleh
penyakit diabetes insipidus yang membuat Anda sering buang air kecil. Penyebab
lainnya adalah kondisi di mana kandung kemih Anda tidak cukup menampung urine,
atau otot kandung kemih yang terlalu aktif dan meremas kandung kemih di saat yang
tidak tepat. Obat-obatan tertentu yang Anda konsumsi bisa mengiritasi kandung kemih
serta dapat memicu terjadinya enuresis, salah satu contohnya adalah obat tidur atau obat
antipsikotik.
Kondisi Medis yang Dapat Memicu Enuresis
 Enuresis juga bisa terjadi lantaran kondisi medis yang memengaruhi
kemampuan tubuh untuk menyimpan dan menahan urine. Kondisi medis
tersebut meliputi:
 Kanker kandung kemih.
 Penyakit pada prostat, seperti kanker prostat atau pembesaran kelenjar prostat.
 Penyakit yang menyerang otak dan tulang belakang, seperti epilepsi, multiple
sclerosis, atau penyakit Parkinson.
 Uretra Uretra adalah saluran kemih yang membawa urine dari kandung kemih.
 Sembelit.
 Diabetes.
 Gangguan saraf kemih (neurogenic bladder).
 Sleep apnea atau pun kebiasaan mendengkur.
 Penurunan organ panggul.
 Gangguan pada pada struktur kandung kemih atau organ kencing lainnya.
 Infeksi atau batu pada saluran kemih.
d. Poliuri
Poliuria adalah kelainan produksi air seni (urine) pada tubuh, di mana urine yang
diproduksi lebih banyak dari jumlah normal, yakni di atas 3 liter per hari.
Poliuria menyebabkan penderitanya jadi lebih sering berkemih. Idealnya, buang air
kecil dilakukan 4-8 kali (1-2 liter) dalam sehari, sedangkan pengidap poliuria bisa
berkemih lebih dari itu.
Alih-alih penyakit, poliuria adalah gejala dari suatu penyakit, dan diabetes adalah
penyakit yang lazim ditandai dengan gejala poliuria ini salah satunya. Selain diabetes,
penyakit lainnya yang memiliki gejala poliuria adalah disfungsi ginjal, gangguan hati
(liver), dan diare. Wanita hamil juga dimungkinkan untuk mengalami poliuria selama
masa kehamilan.

Penyebab Poliuria
Seperti yang telah disebutkan di atas, poliuria disebabkan oleh sejumlah penyakit,
pun kondisi hamil pada wanita. Untuk lebih jelasnya, berikut penyebab poliuria yang
perlu Anda ketahui.
1. Psikogenik Polidipsia
Polidipsia adalah kondisi di mana tubuh menjadi mudah haus dan ingin minum
terus-menerus. Selain rasa haus berlebih, polidipsia juga ditandai dengan mulut
kering, baik kering mulut sementara hingga kering mulut berkepanjangan.
2. Diabetes
Penyakit gula darah atau diabetes (terutama diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2)
adalah penyebab poliuria yang paling umum.
3. Penggunaan Obat-Obatan Diuretik
Diuretik adalah jenis obat yang memiliki fungsi untuk mengatasi kondisi tekanan
darah tinggi pada penderita hipertensi, pun penumpukan cairan yang terjadi di
dalam tubuh. Pengunaan obat diuretic lantas menyebabkan meningkatnya
produksi cairan di dalam tubuh yang berujung pada produksi urine berlebihan
(poliuria).
4. Pembesaran Prostat
Prostat yang mengalami pembesaran berdampak pada tertekannya saluran urin
(uretra) sehingga menghambat laju urin yang hendak keluar.
5. Interstisial Cystisis
Interstisial Cystisis adalah penyakit nyeri kandung kemih, yang terkadang juga
disertai nyeri panggul. Interstisial cystisis disebabkan oleh terganggunya saraf
pada panggul yang bertugas untuk mengirimkan sinyal ke otak ketika kandung
kemih penuh. Selain nyeri, penderita interstisial cystisis juga akan mengalami
poliuria.
6. Hamil
Pada wanita hamil, Rahim (uterus) akan mengalami pembesaran yang mana hal
ini lantas berdampak pada tertekannya kandung kemih. Sehingga, tubuh serasa
ingin buang air kecil (BAK) lebih sering daripada biasanya.
Selain enam penyebab di atas, penyebab poliuria bisa karena kanker kandung kemih,
atau akibat terapi radiasi.

Ciri dan Gejala Poliuria


Sering buang air kecil adalah gejala utama poliuria yang mudah dikenali. Namun,
ada sejumlah gejala lainnya yang turut menyertai gangguan kesehatan satu ini. Beberapa
gejala poliuria lainnya tersebut di antaranya:
 Hesitansi, yakni keadaan di mana proses pengeluaran urine atau berkemih
terhenti tiba-tiba. Ini dikarenakan adanya spasme pada kandung kemih
 Inkontinensia urine, atau urin yang kerap keluar tanpa disadari
 Urgensi, kandung kemih terasa tertekan setiap waktu
 Hematuria, urin yang keluar berwarna merah akibat darah yang ikut terbawa
 Disuria, nyeri atau ada sensasi terbakar pasca buang air kecil
 Dribbling, urin masih menetes setelah selesai berkemih
 Nokturia, buang air kecil di sela-sela waktu tidur malam

Jika Anda mengalami satu atau beberapa gejala tersebut, hendaknya segera memeriksakan diri ke
dokter guna memastikan lebih lanjut apakah ini terkait dengan poliuria yang berbahaya atau
masih dalam skala ringan.
e. Dysuria
Sakit kencing atau disuria adalah rasa nyeri, tidak nyaman, atau panas saat Anda
buang air kecil. Rasa nyeri ini dapat berasal dari kandung kemih, uretra atau perineum.
Uretra adalah saluran yang membawa urin keluar tubuh. Pada pria, area di antara
skrotum dan anus dikenal sebagai perineum. Pada wanita, perineum adalah area di
antara anus dan lubang vagina.

Seberapa umumkah kondisi ini?


Disuria adalah kondisi yang sangat umum ditemui. Namun, disuria adalah kondisi
yang lebih umum terjadi pada wanita daripada pria. Pada pria, kondisi ini lebih sering
terjadi pada pria yang lebih dewasa dibandingkan dengan pria muda.
Namun, kondisi ini dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Diskusikan
dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala


Apa saja tanda-tanda dan gejala disuria?
Berdasarkan penyebabnya, gejala lain disuria selain rasa nyeri saat buang air kecil
adalah:
 Infeksi saluran kemih bawah (sistitis) – sering buang air kecil, keinginan intens
untuk buang air kecil, kehilangan kendali kemih, nyeri pada bagian bawah depan
perut (dekat kemih), urin keruh yang memiliki bau yang kuat, urin berdarah.
 Infeksi saluran kemih atas (pyelonefritis) – nyeri pada punggung atas, demam
tinggi dengan menggigil, mual dan muntah, urin keruh, sering buang air kecil,
keinginan intens untuk buang air kecil.
 Uretritis – Cairan dari urea, kemerahan pada sekitar lubang uretra, sering buang
air kecil, cairan vagina. Pasangan dengan uretritis yang berasal dari penyakit
menular seksual seringkali tidak memiliki gejala apapun.
 Vaginitis – Nyeri atau gatal pada vagina, cairan vagina yang tidak normal atau
berbau, nyeri atau rasa tidak nyaman saat berhubungan seksual.
f. Urgensi
Urgensi adalah perasaan seseorang untuk berkemih, takut mengalami
inkontinensia jika tidak berkemih. Pada umumnya, anak kecil memiliki kemampuan
yang buruk dalam mengontrol sfingter eksternal dan perasaan segera ingin berkemih
biasanya terjadi pada mereka.
g. Urinaria supresi
Urinaria supresi adalah berhentinya produksi urin secara mendadak. Secara
normal, urin diproduksi oleh ginjal secara terus menerus pada kecepatan 60-120 ml/jam.

2. Gangguan Eliminasi Alvi


a. Konstipasi
Konstipasi atau sembelit adalah frekuensi buang air besar yang lebih sedikit dari
biasanya. Jarak waktu buang air besar pada setiap orang berbeda-beda. Namun
umumnya dalam satu minggu, manusia buang air besar setidaknya lebih dari 3 kali. Jika
frekuensi buang air besar kurang dari 3 kali dalam seminggu, maka seseorang disebut
mengalami konstipasi. Akibatnya, tinja menjadi kering dan keras sehingga lebih sulit
dikeluarkan dari anus.

Stomach illness
Buang air besar merupakan tahap terakhir proses pencernaan. Dalam sistem
pencernaan manusia, makanan yang dikonsumsi menuju lambung, usus kecil, kemudian
usus besar. Setelah air dan nutrisi yang diperlukan tubuh diserap dalam usus, sisa
makanan tersebut lalu dikeluarkan melalui anus sebagai tinja.
Penyabab konstipasi bisa lebih dari satu faktor, dari pola makan dan hidup yang
buruk, atau kondisi medis tertentu. Sementara pada anak-anak, selain beberapa
penyebab yang telah disebutkan, kebiasaan menahan keinginan untuk buang air besar
atau stres juga dapat membuat mereka mengalami sembelit. Untuk mengatasi
konstipasi, langkah penanganan yang bisa dilakukan adalah dengan mengubah pola
makan dan gaya hidup, pemberian obat, atau prosedur operasi.
b. Diare
Diare adalah penyakit yang membuat penderitanya menjadi sering buang air besar,
dengan kondisi tinja yang encer. Pada umumnya, diare terjadi akibat makanan dan
minuman yang terpapar virus, bakteri, atau parasit.
Biasanya diare hanya berlangsung beberapa hari (akut), namun pada sebagian kasus
dapat memanjang hingga berminggu-minggu (kronis). Pada umumnya, diare tidak
berbahaya jika tidak terjadi dehidrasi. Namun, jika disertai dehidrasi, penyakit ini bisa
menjadi fatal, dan penderitanya perlu segera mendapat pertolongan medis.

Gejala dan Penyebab Diare


Gejala diare bervariasi. Penderita bisa merasakan satu atau lebih gejala. Namun,
gejala yang paling sering dirasakan penderita diare antara lain:
 Perut terasa mulas.
 Tinja encer atau bahkan berdarah.
 Mengalami dehidrasi.
 Pusing, lemas, dan kulit kering.
 Sebagian besar diare disebabkan oleh infeksi kuman di usus besar. Namun, diare
yang berlangsung lama dapat terjadi akibat radang di saluran pencernaan.

Pengobatan dan Pencegahan Diare


Penderita diare dapat meminum cairan elektrolit, guna mengganti cairan tubuh
yang hilang akibat diare. Selama terjadi diare, konsumsi makanan yang lunak dan
antibiotik atau obat anti diare. Untuk kondisi yang lebih serius, dokter mungkin akan
memberikan obat-obatan, seperti:
 Obat antibiotik
 Obat pereda nyeri
 Obat yang dapat memperlambat gerakan usus.
 Untuk mencegah diare, Anda dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan diri
dan makanan, serta hindari konsumsi makanan dan meminum air yang tidak
dimasak hingga matang.

c. Inkontinensia Usus
Inkontinensia usus adalah ketidakmampuan untuk mengontrol buang air besar
(BAB). Ini masalah umum, terutama di kalangan orang lanjut usia.

Inkontinensia-Usus-doktersehat
Kebocoran usus yang tidak disengaja biasanya bukan masalah medis serius yang
mengancam jiwa. Tapi secara serius dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Orang
dengan inkontinensia usus dapat menghindari kegiatan sosial karena takut malu.
Banyak pengobatan yang efektif dapat membantu orang dengan inkontinensia usus. Ini
termasuk:
 Obat
 Operasi
 Prosedur invasif minimal
 Diskusikan dengan dokter Anda adalah langkah pertama menuju kebebasan dari
inkontinensia usus.
Penyebab Inkontinensia Usus
Penyebab paling umum dari inkontinensia usus adalah kerusakan pada otot-otot di
sekitar anus (sfingter anal). Melahirkan pervagina (melahirkan normal) bisa merusak
sfingter anal atau saraf tersebut, dalam beberapa kasus. Itulah mengapa wanita terkena
inkontinensia usus sekitar dua kali lebih sering dari pria.
Operasi dubur juga dapat merusak sfingter anal atau saraf, yang mengarah ke
inkontinensia usus.
Ada banyak penyebab potensial lain dari inkontinensia usus, termasuk:
o Diare, sering disebabkan oleh infeksi atau sindrom iritasi usus besar
o Impaksi tinja, karena sembelit parah, sering pada orang dewasa yang lebih tua
o Penyakit radang usus, penyakit Crohn atau kolitis ulserativa
o Kerusakan saraf, karena diabetes, cedera tulang belakang, multiple sclerosis, atau
kondisi lainnya
o Kerusakan karena radiasi ke rektum, seperti setelah pengobatan untuk kanker
prostat
o Penurunan Kognitif, seperti setelah stroke atau penyakit Alzheimer lanjut
o Lebih dari satu penyebab inkontinensia usus seringkali terjadi. Tidak biasa juga
untuk inkontinensia usus terjadi tanpa penyebab yang jelas.

d. Haemoroid
Wasir atau hemoroid adalah pembengkakan atau pembesaran dari pembuluh
darah di usus besar bagian akhir (rektum), serta dubur atau anus. Wasir merupakan
penyakit yang dapat menyerang segala usia, namun umumnya lebih sering
menimbulkan keluhan pada usia 50 tahun atau lebih. Wasir tidak selalu menimbulkan
keluhan, tetapi bila keluhan muncul, penderita dapat merasa tidak nyaman dan gatal
pada anus, serta muncul perdarahan lewat anus
Ada dua jenis ambeien, yaitu hemoroid internal dan eksternal. Pembuluh darah
yang membengkak di dalam anus dan tidak terlihat dari luar disebut sebagai hemoroid
internal. Sedangkan pembengkakan yang terjadi di luar anus dekat lubang anus, terasa
lebih nyeri, serta tampak dari luar disebut hemoroid eksternal.

Klasifikasi Wasir
Wasir diklasifikasikan menurut derajat keparahannya, yaitu:
 Derajat satu - pembengkakan kecil yang muncul di dalam dinding anus dan tidak
terlihat di luar anus.
 Derajat dua - pembengkakan lebih besar yang keluar dari anus saat buang air
besar (BAB) dan masuk kembali dengan sendirinya seusai BAB.
 Derajat tiga - adanya satu atau beberapa benjolan kecil yang menggantung dari
anus, namun bisa didorong untuk masuk kembali.
 Derajat empat - benjolan besar yang menggantung dari anus dan tidak bisa
didorong kembali.

Gejala dan Pemicu Wasir


Wasir seringkali ditandai dengan benjolan di luar anus. Selain itu, wasir kerap ditandai
dengan sejumlah gejala lain wasir, seperti:
 Rasa gatal atau sakit di sekitar anus.
 Perdarahan dari anus setelah buang air besar.
 Keluarnya lendir setelah BAB.
 Beberapa pemicu wasir adalah sembelit atau diare yang berlangsung lama,
sering mengangkat beban berat, kehamilan, baru melahirkan, dan kebiasaan
duduk terlalu lama.

Cara Mengobati dan Mencegah Wasir


o Wasir harus segera ditangani agar tidak membengkak dan pecah, atau terpuntir.
Pengobatan bisa dengan cara:
o Menerapkan pola makan yang sehat.
o Mengonsumsi obat-obatan atau menggunakan salep wasir.
o Menjalani operasi pengangkatan wasir.
o Untuk mencegah wasir, konsumsi makanan kaya serat dan banyak minum air
putih. Hindari duduk terlalu lama, menunda BAB dan mengejan berlebihan. Jika
ingin mencobanya, obat alami ambeien juga bisa menjadi pilihan.

e. Kembung
Kembung merupakan keadaan penuh udara dalam perut karena pengumpulan gas
berlebihan dalam lambung atau usus

f. Fecal Infection
Fecal impaction merupakann massa feses karena dilipatan rektum yang
diakibatkan oleh retensi dan akumulasi materi feses yang berkepanjangan. Penyebab
fecal impaction adalah asupan kurang, aktivitas kurang, diet rendah serat, dan
kelemahan tonus otot.