Anda di halaman 1dari 29

PEDOMAN DAN PANDUAN KERJA PENYELENGGARAAN

UNTUK MASING MASING UPAYA DAN KEGIATAN

PUSKESMAS PURUK CAHU

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Terwujudnya keadaan sehat adalah kehendak semua pihak. Tidak hanya oleh orang per
orang, tetapi juga oleh keluarga, kelompok dan bahkan masyarakat. Dalam rangka
mewujudkan status kesehatan masyarakat yang optimal, maka berbagai upaya harus
dilaksanakan, salah satu di antaranya ialah menyelenggarakan pelayanan kesehatan.
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan untuk masyarakat di tingkat dasar di Indonesia adalah
melalui Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang merupakan unit organisasi fungsional
Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kotamadya dan diberi tanggung jawab sebagai pengelola
kesehatan bagi masyarakat tiap wilayah kecamatan dari kabupaten/ kotamadya bersangkutan.
Pelayanan kesehatan merupakan salah satu hak mendasar masyarakat yang penyediaannya
wajib diselenggarakan oleh pemerintah sebagaimana telah diamanatkan dalam Undang-
undang Dasar 1945 pasal 28 H ayat (1) “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin,
bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak
memperoleh pelayanan kesehatan” dan Pasal 34 ayat (3) “Negara bertanggung jawab atas
penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak”. Salah
satu bentuk fasilitas pelayanan kesehatan untuk masyarakat yang diselenggarakan oleh
pemerintah adalah puskesmas. Fasilitas pelayanan kesehatan ini merupakan pusat
pengembangan kesehatan masyarakat dalam membina peran serta masyarakat juga
memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat. Dengan kata lain
puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung awab atas pemeliharaan kesehatan
masyarakat dalam wilayah kerjanya. Pelayanan kesehatan yang diberikan puskesmas adalah
pelayanan kesehatan menyeluruh yang meliputi pelayanan: kuratif (pengobatan), preventif
(upaya pencegahan), promotif (peningkatan kesehatan), dan rehabilitatif (pemulihan
kesehatan). Pelayanan tersebut ditujukan kepada semua penduduk, tidak membedaan jenis
kelamin dan golongan umur, sejak pembuahan dalam kandungan sampai tutup usia. Dalam
hal ini Puskesmas dituntut untuk selalu meningkatkan keprofesionalan dari para pegawainya
serta meningkatkan fasilitas atau sarana kesehatannya untuk memberikan kepuasan kepada
masyarakat pengguna jasa layanan kesehatan. Semakin ketatnya persaingan serta pelanggan
yang semakin selektif dan berpengetahuan mengharuskan Puskesmas selaku salah satu
penyedia jasa pelayanan kesehatan untuk selalu meningkatkan kualitas pelayanannya

1
B. RUMUSAN MASALAH

1. Apakah Pengertian Dari Pelayanan Kesehatan ?


2. Apakah Pengertian Puskesmas?
3. Apa Sajakah Fungsi Pelayanan Di Puskesmas ?
4. Bagaimana Struktur Organisasi Puskesmas ?
5. Bagaimana Manajemen Pelayanan Puskesmas?
6. Bagaimanakah Penerapan Fungsi Manajemen Di Puskesmas ?
7. Apa Sajakah Instrumen Manajemen Puskesmas ? 

C.       TUJUAN

1. Mengetahui Pengertian Dari Pelayanan Kesehatan


2. Mengetahui Pengertian Puskesmas
3. Mengetahui Fungsi Pelayanan Di Puskesmas
4. Mengetahui Bagaimana Struktur Organisasi Puskesmas
5. Mengetahui Bagaimana Manajemen Pelayanan Puskesmas
6. Mengetahui Bagaimanakah Penerapan Fungsi Manajemen Di Puskesmas
7. Mengetahui Instrumen Manajemen Puskesmas

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pelayanan Kesehatan

Pengertian pelayanan kesehatan banyak macamnya. Menurut pendapat Levey dan


Loomba (1973), Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau
secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan,
mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga,
kelompok dan ataupun masyarakat.

B. Pengertian Puskesmas

Menurut DepKes RI (2004), Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas


Kesehatan Kabupaten atau Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan
kesehatan di suatu wilayah kesehatan.
1. Unit Pelaksana Teknis Sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan kabupaten /
kota (UPTD), Puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis
operasional dinas kesehatan kabupaten/kota dan merupakan unit pelaksana tingkat
pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia.
2. Pembangunan Kesehatan Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya
kesehatan oleh Bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang, agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang optimal. 
3. Pertanggung jawaban Penyelenggaraan Penanggung jawab utama penyelenggaraan
seluruh upaya pembangunan kesehatan di wilayah kabupaten / kota adalah dinas
kesehatan kabupaten / kota, sedangkan puskesmas bertanggung jawab hanya untuk
sebagian upaya pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh dinas kesehatan
kabupaten / kota sesuai dengan kemampuannya.
4. Wilayah Kerja Secara Nasional standar wilayah kerja puskesmas adalah satu
Kecamatan, tetapi apabila di satu Kecamatan terdapat lebih dari satu puskesmas,
maka tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar puskesmas, dengan memperhatikan
keutuhan konsep wilayah (desa/kelurahan atau RW). Masing-masing puskesmas
tersebut secara operasional bertanggung jawab langsung kepada Dinas K esehatan
kabupaten/kota.    

3
C. Program pokok puskesmas          

   Untuk dapat memberi pelayanan kesehatan secara menyeluruh (comprehensive


health care services) kepada seluruh masyarakat di seluruh wilayahnya, puskesmas
menjalankan beberapa usaha pokkok ( basic health care services, atau publick health
essential) yang meliputi program kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, pemberantasan
penyakit menular, peningkatan gizi, kesehatan lingkungan, pengobatan, penyuluhan
kesehatan masyarakat, laboratorium kesehatan sekolah, perawatan kesehatan masyarakat,
kesehatan jiwa kesehatan gigi (Muninjaya Gde, : 143).

D. Fungsi Pelayanan Di Puskesmas

Puskemas sebagai penyedia pelayanan kesehatan ditingkat Kecamatan mempunyai


3 ( tiga ) fungsi yaitu :

a. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan Puskesmas selalu berupaya


menggerakkan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk
oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta
mendukung pembangunan kesehatan. Di samping itu aktif memantau dan melaporkan
dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap pembangunan di wilayah kerjanya.
Khusus untuk pembangunan kesehatan, upaya yang dilakukan puskesmas adalah
mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
b. Pusat pemberdayaan masyarakat Puskesmas selalu berupaya agar perorangan
terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha
memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat
untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan
termasuk sumber pembiayaannya, serta ikut menetap, menyelenggarakan dan
memantau pelaksanaan program kesehatan. Pemberdayaan perorangan, keluarga dan
masyarakat ini diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi dan situasi,
khususnya social budaya masyarakat setempat.
c. Pusat strata pelayanan kesehatan s trata pertama Puskesmas bertanggung jawab
menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu
dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi tanggung
jawab puskesmas meliputi:
1) Pelayan kesehatan perorangan Pelayanan kesehatan perorangan adalah
pelayanan yang bersifat pribadi  dengan tujuan utama menyembuhkan
penyakit dan pemulihan kesehatan perorangan, tanpa mengabaikan
pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan perorangan
tersebut adalah rawat jalan dan untuk puskesmas tertentu di tambahkan dengan
rawat inap.
2) Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat adalah
pelayanan yang bersifat publik dengan tujuan utama memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan

4
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan
masyarakat tersebut antara lain promosi kesehatan, pemberantasan penyakit,
penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga,
keluarga berencana, kesehatan jiwa masyarakat serta berbagai program
kesehatan masyarakat lainnya.

E. Struktur Organisasi Puskesmas


Menurut keputusan menteri kesehatan Republik Indonesia nomor
128/MenKes/RI/SK/II/2004, struktur organisasi puskesmas tergantung dari kegiatan
dan beban tugas masing-masing puskesmas. Penyusunan struktur organisasi
puskesmas di satu kabupaten / kota dilakukan oleh Dinas Kesehatan kabupaten/kota,
sedangkan penetapannya dilakukan dengan peraturan daerah. Sebagai acuan dapat
dipergunakan pola struktur organisasi puskesmas sebagai berikut :
1. Kepala puskesmas
2. Unit tata usaha yang bertanggung jawab membantu kepala puskesmas dalam
pengelolaan:
a) Data dan informasi
b) Perencanaan dan penilaian
c) Keuangan
d) Umum dan kepegawaian
e) Unit pelaksana teknis fungsional puskesmas  Upaya kesehatan
masyarakat, termasuk pembinaan terhadap UKBM, dan Upaya
kesehatan perorangan. Jaringan pelayanan puskesmas Unit puskesmas
pembantu, Unit puskesmas keliling, dan Unit bidan di desa/komunitas

F. Manajemen pelayanan Puskesmas           

  Untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya


kesehatan masyarakat yang sesuai dengan azas penyelenggaraan Puskesmas perlu
ditunjang oleh manajeman Pelayanan Puskesmas yang baik. Manajemen Pelayanan
Puskesmas adalah rangkaian kegiatan yang bekerja secara sistematik untuk
menghasilkan luaran Puskesmas yang efektif dan efisien. Rangkaian kegiatan sistematis
yang dilaksanakan oleh Puskesmas akan membentuk fungsi-fungsi manajeman. Berikut
beberapa model manajemen dan fungsi penjabarannya :

1) Model PIE (planning, implementation, evaluation)


2) Model POAC (planning, organizing, actuating, controling)
3) Model P1 – P2 – P3 (perencanaan, pergerakan-pelaksanaan, pengawasan-
pengendalian-penilaian)
4) Model ARRIF (analisis, rumusan, rencana, implementasi dan forum komunikasi)
5) Model ARRIME (analisis, rumusan, rencana, implementasi, monitoring, evaluasi)

5
Dari berbagai model manajemen tersebut sebenarnya mempunyai fungsi
manajemen yang sama. Setiap puskesmas bebas menentukan model manajemen yang
ingin diterapkan, namun yang terpenting mempunyai hasil sebagai berikut :
a) Makin banyaknya fungsi penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, yang
ditandai dengan tingginya nilai IPTS (indeks potensi tatanan sehat)
b) Makin baiknya fungsi pemberdayaan masyarakat dengan ditandai berkembangnya
UKBM (upaya kesehatan berbasis masyarakat). Serta makin aktifnya BPP (badan
penyantun puskesmas) dan BPKM (badan peduli kesehatan masyarakat) dapat
dijakdikan indikator meningkatnya partisipasi masyarakat setempat.
c) Makin bagusnya pemberdayaan keluarga dengan ditandainya IPKS (indeks potensi
keluarga sehat)
d) Makin bagusnya pelayanan kesehatan yang ditandai dengan tingginya cakupan
program (baik program kesehatan dasar maupun program kesehatan
pengembangan). Serta kualitan pelayanan kesehatan yang ditandai dengan
tingginya kepatuhan petugas kesehatan dan makin baiknya kepuasan pasien.

G. Penerapan Fungsi Manajemen Di Puskesmas

Fungsi Manajemen Kegiatan

1. Perencanaan  Micro planning (perencanaan tingkat Puskesmas


yang dilakukan setahun sekali, unsur yang
direncanakan meliputi; kebutuhan tenaga, alat dan
sarana, serta penunjang lainnya).
 Sedangkan perencanaan obat dan alat kesehatan
dilakukan setiap bulan, dengan cara mengajukan
usulan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

2. Pengorganisasian  Struktur organisasi Puskesmas, dengan jabatan


struktural Kepala Puskesmas, sedangkan lainnya
bersifat fungsional
 Pembagian tugas, yang berdasarkan program pokok
Puskesmas, terdiri dari 12 s/d 18 program pokok,
yang melibatkan tenaga perawat dan bidan.
 Pembagian wilayah kerja, setiap petugas Puskesmas
melakukan pembinaan ke desa-desa

3. Penggerakan Pelaksanaan  Lokakarya mini Puskesmas, dilakukan tiap bulan


dalam rangka koordinasi lintas program dan sektor
 Adanya proses kepemimpinan
 Dilakukan koordinasi secara lintas program &
sektor

6
 Pelaksanaan program pokok puskesmas yang
melibatkan seluruhstaf

4. Pengawasan dan Evaluasi  Melalui pemantauan laporan kegiatan


 Pemantauan wilayah setempat (PWS)
 Supervisi
 Rapat rutin (staff meeting)

H. Instrumen Manajemen Puskesmas          

   Untuk menunjang pelaksanaan fungsi dan penyelenggaraan upayanya, Puskesmas


dilengkapi dengan instrumen manajemen yang terdiri dari :

1. PTP (Perencanaan Tingkat Puskesmas) Perencanaan tingkat Puskesmas akan


memberikan pandangan menyeluruh terhadap semua tugas, fungsi dan peranan yang
akan dijalankan dan menjadi tuntunan dalam proses pencapaian tujuan Puskesmas
secara efisien dan efektif. Perencanaan Puskesmas merupakan inti kegiatan manajemen
Puskesmas, karena semua kegiatan manajemen diatur dan diarahkan oleh perencanaan.
Dengan perencanaan Puskesmas, memungkinkan para pengambil keputusan dan
pimpinan Puskesmas untuk menggunakan sumber daya Puskesmas secara berdaya guna
dan berhasil guna. Untuk menjadikan organisasi dan manajemen Puskesmas efektif dan
berkinerja tinggi diawali dari perencanaan efektif.
2. Lokakarya mini Lokakarya Mini Puskesmas merupakan suatu pertemuan antar petugas
Puskesmas dan petugas Puskesmas dengan sektor terkait (lintas sektoral) untuk
meningkatkan kerjasama tim, memantau cakupan pelayanan Puskesmas serta membina
peran serta masyarakat secara terpadu agar dapat meningkatkan fungsi Puskesmas.
3. PKP (Penilaian Kinerja Puskesmas) Dalam rangka pemerataan pelayanan kesehatan
dan pembinaan kesehatan masyarakat telah di bangun Puskesmas. Puskesmas adalah
unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten / kota yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja tertentu.

BAB III

7
PENYELENGGARAAN PELAYANAN

A. Upaya Kesehatan Masyarakat


1. Perencanaan Upaya Kesehatan Masyarakat, akses, dan pengukuran
kinerja
Perencanaan upaya kesehatan masyarakat dimaksudkan untuk memastikan
bahwa Puskesmas Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya melakukan proses
pelayanan kesehatan masyarakat yang memenuhi persyaratan pelayanan dan
pelanggan. Untuk itu Puskesmas Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya
melakukan:

 Menetapkan rencana mutu (quality plan) untuk memastikan bahwa


pelaksanaannya konsisten dan semua persyaratan pelanggan dan peraturan
yang berlaku dipenuhi.
 Melaksanakan dan mengendalikan proses realisasi pelayanan dengan:

1) Memastikan tersedianya informasi dan dokumen yang diperlukan


2) Memastikan proses tersebut dilakukan oleh personil yang sesuai
3) Memastikan pemakaian peralatan yang sesuai
4) Menyediakan sarana yang dibutuhkan untuk kegiatan pemantauan dan
pengukuran
5) Melakukan kegiatan pemantauan dan pengukuran pada tahapan yang
diperlukan.

Puskesmas Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya memberikan jasa


pelayanan kesehatan masyarakat meliputi:

Program Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) yang esensial meliputi :

1) Promosi Kesehatan.
2) Penyehatan Lingkungan.
3) Perbaikan Gizi.
4) Kesehatan Ibu dan Anak dan Keluarga Berencana.
5) Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit Menular

8
Sedangkan Program kesehatan masyarakat pengembangan dan inovatif
diantaranya:

1) Usaha Kesehatan Sekolah dan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah


2) Kesehatan Lansia
3) Kesehatan Penyakit Tidak Menular
4) Perawatan Kesehatan Masyarakat
5) Kesehatan Matra/Pengembangan ( Jiwa, Haji, Kesker, Kesehatan
Olahraga)
6) Posyandu Balita
7) Surveylans KLB

Selama aktivitas memberikan jasa pelayanan kesehatan masyarakat,


dipastikan bahwa :

 Aktivitas pelayanan kesehatan tercatat dan didokumentasikan.

 Tenaga kesehatan harus mematuhi peraturan standar keselamatan


dan kesehatan yang berlaku.

 Tenaga kesehatan harus membuat rekaman medis atas hasil


diagnosa dan tindakan yang diambil

 Tenaga kesehatan harus merespon segala feedback (umpan balik)


yang disampaikan oleh pelanggan (pasien/masyarakat).

 Tenaga kesehatan harus mengendepankan kode etik profesi dalam


menjalankan tugas dan fungsinya, termasuk dalam hal menjaga
kerahasian pasien.

Dalam pelaksanaannya, Upaya Kesehatan Masyarakat sebagaimana


direncanakan di atas dapat diakses sesuai dengan jadwal yang telah
ditetapkan oleh Puskesmas melalui Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat
(UKBM) seperti posyandu, posbindu, pos Usaha Kesehatan Kerja.
Dalam menjalankan fungsi pelayanannya, maka Puskesmas
memonitor, mengukur dan memvalidasi hasil pelaksanaan pelayanan
kesehatan masyarakat apakah sesuai dengan persyaratan sistem manajemen
mutu yang telah ditetapkan yakni dengan melakukan audit yang terencana.
Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian maka bagian terkait harus melakukan

9
tindakan perbaikan atas ketidaksesuaian yang terjadi. Target kinerja
pelayanan kesehatan masyarakat berpedoman pada Standar Pelayanan
Minimal Bidang Kesehatan dan indikator kinerja program UKM.

2. Proses yang berhubungan dengan sasaran:


Penetapan persyaratan sasaran

Persyaratan layanan jasa kesehatan masyarakat yang diberikan, meliputi :

1. Persyaratan-persyaratan yang secara spesifik ditetapkan


berdasarkan profesionalisme.

2. Persyaratan yang tidak ditetapkan tetapi diperlukan untuk


kesehatan masyarakat.

3. Persyaratan-persyaratan regulasi yang berkaitan dengan layanan


jasa.

4. Persyaratan-persyaratan lain yang ditetapkan oleh Puskesmas.

a) Tinjauan terhadap persyaratan sasaran

Kajian atas persyaratan layanan kesehatan masyarakat merupakan


pertimbangan untuk memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat.
Berdasarkan tinjauan persyaratan tersebut, tenaga kesehatan dapat
menentukan apakah pelayanan kesehatan dapat diberikan atau tidak

b) Komunikasi dengan sasaran

Kepala Puskesmas mengatur dan mengelola kegiatan komunikasi dengan


masyarakat, terutama yang berkaitan dengan :
- Informasi mengenai layanan kesehatan masyarakat.
- Penanganan keluhan masyarakat.
- Umpan balik masyarakat termasuk keluhan-keluhan masyarakat.

3. Penyelenggaraan UKM

10
a. Pengendalian proses penyelenggaraan upaya Puskesmas menentukan
pengendalian pelayanan dan proses pelayanan ruang lingkup puskesmas
melalui:
1) Ketersediaan informasi dari pelayanan.
2) Menetapkan Standar Operasional Prosedur yang dibutuhkan.
3) Penggunaan dan pemeliharaan peralatan yang sesuai dengan proses
pelayanan.
4) Menetapakan aktivitas pengukuran dan pemantauan.

b. Validasi proses penyelenggaraan upaya Puskesmas


Menetapkan peraturan untuk validasi proses apabila diterapkan meliputi
1) Prosedur peninjauan-ulang dan adanya kriteria persetujuan dari proses-
proses.
2) Persetujuan peralatan dan kualifiksi karyawan.
3) Penggunaan prosedur dan metode yang dispesifikan
4) Kebutuhan untuk catatan-catatan
5) Validasi ulang

c. Identifikasi dan mampu ditelusuri kepada :


1) Seluruh pelayanan puskesmas yang telah dilaksanakan harus
diidentifikasi sehingga mampu ditelusuri
2) Secara garis besar, proses identifikasi melalui proses rekam medik, buku
registrasi, laporan kegiatan, laporan program, dan sebagainya

d. Hak dan kewajiban sasaran


1) Menetapkan parameter hak dan kewajiban sasaran.
2) Hak sasaran selalu dihubungkan dengan pemeliharaan kesehatan yang
bertujuan agar Sasaran mendapat upaya kesehatan, sarana kesehatan, dan
bantuan dari tenaga kesehatan.
3) Kewajiban sasaran tertuang dalam persetujuan umum atau general
consent adalah persetujuan yang bersifat umum yang diberikan sasaran
berupa informasi dan persetujuan mengikuti kegiatan.

e. Manajemen risiko dan keselamatan

11
Menetapkan parameter dasar dimana suatu resiko harus dikekola dan
menyiapkan pedoman untuk membuat keputusan yang rinci dalam proses
manajemen resiko. Pelaksanaan kegiatan UKM menimbulkan resiko
terhadap lingkungan.
1) Identifikasi kemungkinan terjadinya resiko terhadap lingkungan dan
masyarakat dalam pelaksannaan kegiatan.
2) Melakukan analisa resiko.
3) Merencanakan upaya pencegahan dan meminimalisasi resiko.
4) Melakukan upaya pencegahan dan meminimalisasi resiko.
5) Evaluasi upaya pencegahan dan meminimalisasi resiko.

3 Pengukuran, analisis, dan penyempurnaan sasaran kinerja UKM:


Semua unit melakukan pengukuran dan pemantauan terhadap kegiatannya.
a. Pemantauan dan pengukuran direncanakan sebelum dilaksanakan.
b. Data kegiatan dikumpulkan untuk dianalisa.
c. Hasil pengukuran/pemantauan/analisa dipakai untuk :
- Membuktikan kesesuaian pelayanan rawat jalan
- Memastikan kesesuaian sistem manajemen mutu
- Melakukan perbaikan secara terus-menerus
d. Metode pemantauan/ pengukuran /analisa /perbaikan dipastikan sesuai dengan
tujuan.
e. Bila teknik statistik dipergunakan maka dipastikan mengikuti kaidah-kaidah yang
benar dan termuat dalam prosedur.
1) Kepuasan pelanggan
- Persepsi pelanggan dan kepuasan terhadap pelayanan rawat jalan
yang diberikan puskesmas harus dipantau secara berkala (1 minggu )
- Pemantauan dimaksudkan untuk untuk menilai dan mengukur kinerja
sistem manajemen mutu serta mengetahui apakah kebutuhan
pelanggan telah dipenuhi.
- Metode untuk memperoleh informasi dan pemanfaatan informasi
yang diperoleh dipastikan tertuang dalam prosedur.

2) Audit internal

12
- Tujuan audit adalah untuk memastikan sistem manajemen mutu
diimplementasikan secara efektif dan hasilnya sesuai dengan yang telah
direncanakan.
- Tim audit dibentuk oleh Penaggungjawab Mutu yang dibekali pelatihan
yang cukup sebelum melaksanakan audit yang disahkan oleh Kepala
Puskesmas
- Program audit direncanakan oleh ketua tim audit dengan
mempertimbangkan tingkat kepentingan dan kekritisan unit yang akan
diaudit
- Audit harus dilakukan secara sistematis, objektif, terencana dan
terdokumentasi serta mengedepankan integritas dan independensi.
- Audit harus dilakukan sesuai dengan prosedur audit yang telah
ditetapkan.
- Dalam setiap pelaksanaan audit , auditor harus memperhatikan hasil
audit yang terdahulu untuk mengevaluasi efektivitasnya.
- Kriteria audit, lingkup, frekuensi dan metode-metode yang akan
digunakan dipastikan ditentukan dalam prosedur audit internal.
- Pelaksanaan audit dilakukan secara objektif dan mengikuti ketentuan
persyaratan audit.
- Koordinator unit yang diperiksa bertanggung jawab untuk menindak-
lanjuti temuan audit pada unit-nya.
- Tindakan koreksi diambil segera mungkin untuk mengeliminasi ketidak-
sesuaian yang telah ditemukan.
- Tindak lanjut audit harus mencakup verifikasi terhadap tindakan
tindakan yang telah diambil.
- Ketua tim audit bertanggung jawab dan melapor kepada Penanggung
Jawab Mutu :
a. Pemantauan dan pengukuran proses
a) Metode pemantauan dan pengukuran yang digunakan untuk
mengevaluasi efektivitas sistem manajemen mutu dan
pelayanan/program harus dipastikan keabsahannya.
b) Metode yang digunakan harus dapat dibuktikan kemampuannya
untuk mencapai hasil yang telah direncanakan.

13
c) Bila hasil yang direncanakan tidak tercapai maka tindakan
koreksi dan pencegahannya harus dilakukan untuk memastikan
kesesuaian terhadap produk.
b. Pemantauan dan pengukuran hasil layanan
a) Pemantauan dan pengukuran pelayanan/program Puskesmas
dilakukan sesuai prosedur
b) Tujuan pemantauan dan pengukuran pelayanan/program
Puskesmas untuk memastikan semua persyaratan pelayanan
/program terpenuhi.
c) Pengukuran dan pemantauan dilaksanakan pada tahapan yang
telah ditentukan.
d) Pemantauan dan pengukuran pelayanan/program Puskesmas
dilaksanakan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan yang
tertuang dalam rencana monitoring pelayanan/program yang
dibuat oleh Penanggung Jawab Mutu.
e) Catatan hasil pemantauan dan pengukuran pelayanan/program
Puskesmas harus dicatat termasuk personil yang
melaksanakan :
o Hasil seluruh pelayanan/program yang tidak sesuai adalah
yang kondisinya berada di luar batas persyaratan yang
telah ditetapkan pada rencana monitoring
pelayanan/program.
o Hasil pelayanan/program yang tidak sesuai dikendalikan
serta dicegah agar tidak digunakan dan tidak dikirim ke
proses selanjutnya.
o Pengendalian dan tanggung jawab serta wewenang untuk
menangani yang tidak sesuai harus ditetapkan dalam
prosedur.
o Konsesi adalah kesepakatan untuk memberi persetujuan
terhadap Pelayanan/program Puskesmas tidak sesuai. Di
Puskesmas dinamakan Persetujuan Hasil Pelayanan.

14
o Konsesi hanya boleh dilakukan dalam kondisi sangat
khusus dan setelah mendapat persetujuan, minimal dari
yang mewakili.
o Bila Pelayanan Puskesmas tidak sesuai tidak di-konsesi
maka harus ditangani secara tuntas dan efektif dengan
salah satu atau beberapa cara berikut ini:
 Diperbaiki untuk menghilangkan ketidak-sesuaian
 Mengubah kegunaan
 Mengizinkan penggunaan/pengiriman atas
persetujuan
 Diproses ulang
o Ketidak-sesuaian dan tindakan yang diambil harus dicatat.
o Bilamana pelayanan/program Puskesmas tidak sesuai
diperbaiki maka harus dilakukan verifikasi ulang.
o Bilamana Pelayanan/program Puskesmas tidak sesuai
telah terlanjur diterima pelanggan, maka puskesmas harus
mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk
menangani akibat /potensi akibatnya.
o Data-data proses atau implementasi sistem manajemen
mutu harus dikelola dengan baik.
o Data dianalisa dengan menggunakan teknik-teknik yang
sesuai, misalkan menggunakan teknik statistik.
o Analisa data dilakukan oleh setiap Koordinator
Unit/Program, kegiatannya untuk mengetahui tingkat
kinerja masing-masing proses/melihat kesenjangan-
kesenjangan yang ada sehingga dapat dilakukan tindakan
perbaikan.
o Prosedur analisa data dibuat oleh MR dan menjadi acuan
bagi semua fungsi lainnya.
o Hasil analisa data harus mengarah pada pengidentifikasian
ketidak-sesuaian ketidak-efektifan dan tindakan-tindakan
perbaikan yang diperlukan.
o Data dianalisa antara lain untuk memantau :

15
 Kepuasan pelanggan
 Kesesuaian terhadap persyaratan Pelayanan
Puskesmas
 Karakteristik dan kecenderungan proses,Pelayanan
Puskesmas
 Kinerja Pemasok
 Sebagai dasar untuk mengambil langkah-langkah
yang diperlukan.

f. Tindakan Koreksi/Prevensi dan Perbaikan Terus Menerus


a) Seluruh karyawan dan koordinator wajib melakukan perbaikan secara
terus menerus terhadap efektivitas sistem manajemen mutu sesuai dengan
tugas, tanggung jawab dan wewenangnya.
b) Semua perbaikan mengacu pada komitmen yang tertuang dalam kebijakan
mutu,sasaran mutu, hasil audit, analisa data tindakan koreksi dan prevensi
serta tinjauan manajemen.
g. Tindakan Koreksi dan prevensif
a) Penyebab-penyebab terjadinya ketidak-sesuaian dipastikan dieliminasi/
dihilangkan dan dicegah dari terjadi lagi.
b) Tujuan dari tindakan koreksi dan tindakan prevensi adalah mencegah
terulangnya masalah yang sama dan untuk meningkatkan kinerja
puskesmas secara keseluruhan.
c) Upaya tindakan koreksi /prevensi dipastikan sesuai dengan skala
dampak yangdapat ditimbulkan dari masalah tersebut.
d) Agar proses tindakan koreksi berjalan lancar dan hasilnya efektif,
dipastikan prosedur tindakan koreksi disediakan yang mencakup:
1) Meninjau ketidak-sesuaian termasuk keluhan pelanggan.
2) Menentukan penyebab-penyebab masalah
3) Merencanakan dan melaksanakan tindakan koreksi
4) Menyimpan Rekaman Mutu tindakan koreksi
5) Meninjau efektivitas tindakan koreksi
e) Koordinator Unit bertanggung-jawab memastikan tindakan koreksi/
prevensi yang telah dilaksanakan efektif.
f) Tindakan koreksi/ prevensi harus sesuai dengan dampak dari masalah.

16
Prosedur tindakan koreksi/ prevensi dipastikan dibuat

B. Upaya Kesehatan Perorangan


1. Perencanaan Pelayanan Klinis
Perencanaan pelayanan Klinis dimaksudkan untuk memastikan bahwa
Puskesmas melakukan proses pelayanan klinis yang memenuhi persyaratan
pelayanan dan pelanggan. Untuk itu Puskesmas melakukan:

a. Menetapkan rencana mutu (quality plan) untuk memastikan bahwa


pelaksanaannya konsisten dan semua persyaratan pelanggan dan
peraturan yang berlaku adalah dipenuhi.
b. Melaksanakan dan mengendalikan proses realisasi pelayanan yaitu
dengan:

- memastikan tersedianya informasi dan dokumen yang diperlukan


- memastikan proses tersebut dilakukan oleh personil yang sesuai
- memastikan pemakaian peralatan yang sesuai
- menyediakan sarana yang dibutuhkan untuk kegiatan pemantauan
dan pengukuran
- melakukan kegiatan pemantauan dan pengukuran pada tahapan
yang diperlukan.

c. Puskesmas Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya memberikan jasa


pelayanan kesehatan meliputi:

1) Unit pelayanan Pengobatan Umum (Poli Umum, Poli Anak


(MTBS) )
2) Unit pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
3) Unit pelayanan Keluarga Berencana (KB)
4) Unit pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
5) Unit pelayanan rawat inap (Poli Rawat Inap)

d. Selama aktivitas memberikan jasa pelayanan kesehatan, dipastikan


bahwa :

17
1) Aktivitas pelayanan kesehatan tercatat dan didokumentasikan.

2) Dokter / perawat harus mematuhi peraturan standar keselamatan dan


kesehatan yang berlaku.

3) Dokter / perawat harus membuat rekaman medis atas hasil diagnosa


dan tindakan yang diambil

4) Dokter / perawat harus merespon segala feedback (masukan) yang


disampaikan oleh pelanggan (pasien/masyarakat).

5) Dokter / perawat harus mengendepankan kode etik profesi dalam


menjalankan fungsinya, termasuk dalam hal menjaga kerahasiaan
yang terkait langsung dengan pasien.

6) Jika sebelum atau dalam tahapan melakukan tindakan medis


diprediksi akan adanya ketidak mampuan untuk melakukan
tindakan lebih lanjut, maka Puskesmas harus membuat rujukan ke
fungsi lainnya yang terkait yang lebih memiliki kemampuan dalam
penyedian sumber daya dan infrastruktur.

Dalam menjalankan fungsi pelayanannya, maka Puskesmas memonitor,


mengukur dan memverifikasi hasil pelaksanaan jasa pelayanan
kesehatan apakah sesuai dengan persyaratan sistem manajemen mutu
yang telah ditetapkan yakni dengan melakukan audit yang terencana.
Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian maka bagian terkait harus
melakukan tindakan perbaikan atas ketidaksesuaian yang terjadi.

2. Proses yang berhubungan dengan pelanggan

a. Ketentuan persyaratan layanan Puskesmas

Ketentuan persyaratan layanan jasa kesehatan yang diberikan, meliputi :

1) Persyaratan-persyaratan yang secara spesifik ditetapkan berdasarkan


profesionalisme dan etika kedokteran.

2) Persyaratan yang tidak ditetapkan tetapi diperlukan untuk kesehatan


pasien.

3) Persyaratan-persyaratan regulasi yang berkaitan dengan layanan jasa.

4) Persyaratan-persyaratan lain yang ditetapkan oleh Perusahaan.

18
b. Tinjauan persyaratan terkait dengan layanan Puskesmas

Kajian atas persyaratan layanan jasa merupakan pertimbangan untuk


memberikan layanan kesehatan kepada pasien. Berdasarkan tinjauan
persyaratan tersebut, dokter/ petugas medis dapat menentukan apakah
pelayanan kesehatan dapat diberikan atau tidak.

c. Komunikasi dengan Pelanggan / Pasien

Kepala Puskesmas mengatur dan mengelola kegiatan komunikasi dengan


pelanggan, terutama yang berkaitan dengan :

1. Informasi mengenai layanan jasa.

2. Penanganan pasien.

3. Umpan balik Pelanggan termasuk keluhan-keluhan Pelanggan.

C. Penyelenggaraan Pelayanan Klinis


a. Pengendalian proses penyelenggaraan upaya
Puskesmas Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya, memastikan semua alat
ukur yang digunakan layak pakai melalui kegiatan kalibrasi serta
mencegah alat ukur tersebut dari kerusakan melalui penanganan,
pemeliharaan dan penempatan yang sesuai.
b. Validasi proses penyelenggaraan upaya
Puskesmas Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya menerapkan
pemantauan dan pengukuran proses melalui pengecekan hasil proses dan
pemantauan proses. Bila hasil yang direncanakan tidak tercapai maka
dilakukan evaluasi dan tindakan perbaikan untuk memastikan
kesesuaiannya.
c. Identifikasi dan mampu telusur
Puskesmas menetapkan mekanisme identifikasi dan mampu telusur yang
sesuai dari masing-masing layanan jasa. Puskesmas mengidentifikasi
status layanan jasa berhubungan dengan persyaratan, pemantauan dan
pengukuran. Puskesmas mengendalikan dan mencatat identifikasi khas
dari masing-masing dokumen hasil layanan jasa di masing- masing buku
rekam medik pasien.

19
d. Identifikasi khas masing-masing buku rekam medik pasien dapat berupa
nomor registrasi pendaftaran, nama dan tanggal lahir pasien.
e. Hak dan kewajiban sasaran
1. Hak Pasien
Adapun Hak Pasien sebagai berikut :
 Mendapatkan pelayanan kesehatan optimal /sebaik-baiknya
sesuai dengan standar profesi kedokteran.
 Hak atas informasi yang jelas dan benar tentang penyakit dan
tindakan medis yang akan dilakukan dokter/ suster
 Hak memilih dokter dan rumah sakit yang akan merawat sang
pasien
 Hak atas rahasia kedokteran / data penyakit, status, diagnosis
dll
 Hak untuk memberi persetujuan / menolak atas tindakan medis
yang akan dilakukan pada pasien.
 Hak untuk menghentikan pengobatan.
 Hak untuk mencari pendapat kedua / pendapat dari dokter lain /
Rumah Sakit lain
 Hak atas isi rekaman medis / data medis.
 Hak untuk didampingi anggota keluarga dalam keadaan kritis.
 Hak untuk memeriksa dan menerima penjelasan tentang biaya
yang dikenakan / dokumen pembayaran / bon /bill.
 Hak untuk mendapatkan ganti rugi kalau terjadi kelalaian dan
tindakan yang tidak mengikuti standar operasi profesi
kesehatan.
2. Kewajiban Pasien
Adapun kewajiban pasien sebagai berikut :
 Memberi keterangan yang jujur tentang penyakit dan perjalanan
penyakit kepada petugas kesehatan.
 Mematuhi nasihat dokter dan perawat
 Harus ikut menjaga kesehatan dirinya.
 Memenuhi imbalan jasa pelayanan
Sedangkan menurut Surat edaran DirJen Yan Medik No:
YM.02.04.3.5.2504 Tentang Pedoman Hak dan Kewajiban Pasien,

20
Dokter dan Rumah Sakit, th.1997; UU.Republik Indonesia No. 29
Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran dan Pernyataan/SK PB. IDI,
sebagai berikut :
1) Hak pasien adalah hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai
pasien, yaitu :
 Hak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan
yang berlaku di rumah sakit. Hak atas pelayanan yang
manusiawi, adil dan jujur
 Hak untuk mendapatkan pelayanan medis yang bermutu sesuai
dengan standar profesi kedokteran/kedokteran gigi dan tanpa
diskriminasi
 Hak memperoleh asuhan keperawatan sesuai dengan standar
profesi keperawatan
 Hak untuk memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan
keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di
rumah sakit
 Hak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan
pendapat klinik dan pendapat etisnya tanpa campur tangan dari
pihak luar
 Hak atas ”privacy” dan kerahasiaan penyakit yang diderita
termasuk data-data medisnya kecuali apabila ditentukan
berbeda menurut peraturan yang berlaku
 Hak untuk memperoleh informasi /penjelasan secara lengkap
tentang tindakan medik yg akan dilakukan thd dirinya.
 Hak untuk memberikan persetujuan atas tindakan yang akan
dilakukan oleh dokter sehubungan dengan penyakit yang
dideritanya
 Hak untuk menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap
dirinya dan mengakhiri pengobatan serta perawatan atas
tanggung jawab sendiri sesudah memperoleh informasi yang
jelas tentang penyakitnya.
 Hak didampingi keluarga dan atau penasehatnya dalam beribad
dan atau masalah lainya (dalam keadaan kritis atau menjelang
kematian).

21
 Hak beribadat menurut agama dan kepercayaannya selama tidak
mengganggu ketertiban & ketenangan umum/pasien lainya.
 Hak atas keamanan dan keselamatan selama dalam perawatan
di rumah sakit
 Hak untuk mengajukan usul, saran, perbaikan atas pelayanan
rumah sakit terhadap dirinya
 Hak transparansi biaya pengobatan/tindakan medis yang akan
dilakukan terhadap dirinya (memeriksa dan mendapatkan
penjelasan pembayaran)
 Hak akses kepada rekam medis/ hak atas kandungan ISI rekam
medis miliknya
2. Kewajiban Pasien
 Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang
masalah kesehatannya kepada dokter yang merawat
 Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi dan
perawat dalam pengobatanya.
 Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.
Berkewajiban memenuhi hal-hal yang telah
disepakati/perjanjian yang telah dibuatnya
f. Manajemen risiko dan keselamatan
Untuk setiap penyebab ketidaksesuaian potensial yang dapat terjadi dan
belum terjadi yang berkaitan dengan sistem manajemen mutu di
Puskesmas Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya maka ditetapkan
tindakan pencegahan agar tidak terjadinya ketidaksesuaian.
Tindakan pencegahan mencakup:
1. Penetapan ketidaksesuaian dan penyebabnya.
2. Penetapan dan penerapan tindakan yang sesuai.
3. Peninjauan tindakan pencegahan.

A. Peningkatan Mutu Pelayanan Klinis dan Keselamatan Pasien:


a. Penilaian indikator kinerja klinis

Selama aktivitas memberikan jasa pelayanan kesehatan, dipastikan bahwa:

1) Aktivitas pelayanan kesehatan tercatat dan didokumentasikan.

22
2) Dokter, bidan, analis dan perawat harus mematuhi peraturan standar
keselamatan dan kesehatan yang berlaku.

3) Dokter, bidan, analis dan perawat harus membuat rekaman medis atas
hasil diagnosa dan tindakan yang diambil

4) Dokter, bidan, analis dan perawat harus merespon segala feedback


(masukan) yang disampaikan oleh pelanggan (pasien/masyarakat).

5) Dokter, bidan, analis dan perawat harus mengedepankan kode etik


profesi dalam menjalankan fungsinya, termasuk dalam hal menjaga
kerahasian yang terkait langsung dengan pasien.

6) Jika sebelum atau dalam tahapan melakukan tindakan medis


diprediksi akan adanya ketidak mampuan untuk melakukan tindakan
lebih lanjut, maka Puskesmas harus membuat rujukan ke fungsi
lainnya yang terkait yang lebih memiliki kemampuan dalam
penyedian sumber daya dan infrastruktur.

Dalam menjalankan fungsi pelayanannya, maka Puskesmas memonitor,


mengukur dan memverifikasi hasil pelaksanaan jasa pelayanan kesehatan
apakah sesuai dengan persyaratan sistem manajemen mutu yang telah
ditetapkan yakni dengan melakukan audit yang terencana. Jika ditemukan
adanya ketidaksesuaian maka bagian terkait harus melakukan tindakan
perbaikan atas ketidaksesuaian yang terjadi.

b. Pengukuran pencapaian sasaran keselamatan pasien

Ketentuan persyaratan layanan jasa kesehatan yang diberikan, meliputi :

1) Persyaratan-persyaratan yang secara spesifik ditetapkan berdasarkan


profesionalisme dan etika kedokteran.

2) Persyaratan yang tidak ditetapkan tetapi diperlukan untuk kesehatan


pasien.

3) Persyaratan-persyaratan regulasi yang berkaitan dengan layanan jasa.

4) Persyaratan-persyaratan lain yang ditetapkan oleh Perusahaan.

c. Pelaporan insiden keselamatan pasien

23
Kajian atas persyaratan layanan jasa merupakan pertimbangan untuk
memberikan layanan kesehatan kepada pasien. Berdasarkan tinjauan
persyaratan tersebut, dokter/ petugas medis dapat menentukan apakah
pelayanan kesehatan dapat diberikan atau tidak.

d. Analisis dan tindak lanjut


Puskesmas menetapkan mekanisme identifikasi dan mampu telusur yang
sesuai dari masing-masing layanan jasa. Puskesmas mengidentifikasi status
layanan jasa berhubungan dengan persyaratan, pemantauan dan pengukuran.
Puskesmas mengendalikan dan mencatat identifikasi khas dari masing-
masing dokumen hasil layanan jasa di masing- masing buku rekam medik
pasien. Identifikasi khas masing-masing buku rekam medik pasien dapat
berupa nomor registrasi pendaftaran, nama dan tanggal lahir pasien.
e. Penerapan manajemen risiko
Pelayanan dalam bidang kesehatan termasuk Puskesmas dikategorikan
sebagai pelayanan yang berisiko, pasien dapat mengalami kerugian fisik,
mental maupun finansial akibat kesalahan tindakan dalam proses pelayanan
di Puskemas.
Manajemen Risiko diartikan sebagai suatu rencana dan proses sistimatis
dalam rangka mengurangi atau mengeliminasi kemungkinan suatu
kehilangan (kerugian) yang dapat terjadi di sebuah pelayanan (jasa/produk).
Manajemen Risiko meliputi Tiga Komponen :
1) Risk identification and loss prevention
Identifikasi risiki dan mencegah suatu kerugian dengan melakukan
identifikasi risiko yang dapat menimbulkan kerugian , memperbaiki atau
membenahi situasi atau masalah yang dapat meningkatkan kerugian
2) Loss Reduction
Melakukan tindakan setelah terjadi insiden dengan tujuan untuk
meminimalkan kerugian (mitigasi)
3) Risk Financing
Menjamin bahwa organisiasi seperti puskesmas memiliki sumber
finansial yang mencukupi untuk menanggulangi ancaman kerugian yang
mungkin dapat terjadi

24
f. Pengukuran, analisis, dan penyempurnaan:
1) Umum
Sebagai salah satu wujud komitmen Puskesmas Puruk Cahu Kabupaten
Murung Raya, dalam melakukan peningkatan berkelanjutan (Continual
Improvement) adalah dengan melakukan pengukuran, analisis data dan
perbaikan.
2) Pemantauan dan pengukuran
a) Kepuasan pelanggan
Tingkat kepuasan pelanggan adalah salah satu bentuk nilai kinerja
sistem manajemen mutu Puskesmas Puruk Cahu Kabupaten Puruk
Cahu, karena itu harus dilakukan pengukuran terhadap kepuasan
pelanggan, selain itu juga untuk mengetahui persepsi Puskesmas
Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya, di mata pelanggan.
Metode untuk mendapatkan informasi tentang tingkat kepuasan
pelanggan ditetapkan melalui kuesioner yang disebarkan atau pun
melalui wawancara dengan pasien secara langsung.
Kebijakan ini ditetapkan sebagai wujud komitmen Puskesmas Puruk
Cahu Kabupaten Murung Raya , dalam usaha meningkatkan
kepuasan pasien.
b) Audit internal
Untuk mengevaluasi penerapan dan efektivitas sistem manajemen
mutu di Puskesmas Puruk Cahu Kabupaten Muurung Raya maka
dilakukan Audit Internal secara berkala, minimal sekali dalam
setahun.
Dalam melaksanakan audit internal ini Puskesmas Puruk Cahu
Kabupaten Murung Raya, mempertimbangkan:
 Status dan pentingnya proses dan bidang yang diaudit
 Kriteria, lingkup, dan metode audit
 Auditor yang independen (tidak meng-audit unit kerja yang
menjadi tanggung jawabnya).
c) Pemantauan dan pengukuran proses

25
Puskesmas Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya menerapkan
pemantauan dan pengukuran proses melalui pengecekan hasil proses
dan pemantauan proses. Bila hasil yang direncanakan tidak tercapai
maka dilakukan evaluasi dan tindakan perbaikan untuk memastikan
kesesuaiannya.
d) Pemantauan dan pengukuran hasil layanan
Tingkat kepuasan pelanggan adalah salah satu bentuk nilai kinerja
sistem manajemen mutu Puskesmas Puruk Cahu Kabupaten Murung
Raya karena itu harus dilakukan pengukuran terhadap kepuasan
pelanggan, selain itu juga untuk mengetahui persepsi Puskesmas
Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya di mata pelanggan.
Metode untuk mendapatkan informasi tentang tingkat kepuasan
pelanggan ditetapkan melalui kuesioner yang disebarkan atau pun
melalui wawancara dengan pasien secara langsung.
Kebijakan ini ditetapkan sebagai wujud komitmen Puskesmas Puruk
Cahu Kabupaten Murung Raya dalam usaha meningkatkan kepuasan
pasien.
3) Pengendalian jika ada hasil yang tidak sesuai
Puskesmas Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya , mengidentifikasikan
dan menentukan prioritas yang sesuai bila terjadi ketidaksesuaian selama
pelaksanaan proses realisasi pelayanan serta menempatkan pelayanan akhir
pada tempat penyimpanan yang berbeda dengan pelayanan yang sesuai.
4) Analisis data
Berdasarkan data yang didapat dari hasil pemantauan dan pengukuran,
maka Puskesmas Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya melakukan analisis
terhadap:
a) Pencapaian sasaran mutu
b) Tingkat kepuasan pelanggan
c) Tingkat kesesuaian mutu pelayanan

Hasil Audit Internal.


Hasil analisis dipergunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan
berkelanjutan terhadap efektivitas sistem manajemen mutu Puskesmas
Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya.

26
5) Peningkatan berkelanjutan
Dalam menjalankan fungsi pelayanannya, maka Puskesmas memonitor,
mengukur dan memverifikasi hasil pelaksanaan jasa pelayanan kesehatan
apakah sesuai dengan persyaratan sistem manajemen mutu yang telah
ditetapkan yakni dengan melakukan audit yang terencana. Jika ditemukan
adanya ketidaksesuaian maka bagian terkait harus melakukan tindakan
perbaikan atas ketidaksesuaian yang terjadi.
6) Tindakan korektif
Dalam hal terjadi ketidaksesuaian yang berkaitan dengan sistem manajemen
mutu Puskesmas Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya, maka dilakukan
tindakan perbaikan yang sesuai untuk menghilangkan penyebab
ketidaksesuaian dan mencegah terulangnya hal tersebut.
Tindakan Perbaikan mencakup:
a) Peninjauan ketidaksesuaian.
b) Identifikasi penyebab ketidaksesuaian.
c) Menetapkan dan menerapkan tindakan yang sesuai.
d) Peninjauan tindakan koreksi.
7) Tindakan preventif
Untuk setiap penyebab ketidaksesuaian potensial yang dapat terjadi dan
belum terjadi yang berkaitan dengan sistem manajemen mutu di Puskesmas
Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya , maka ditetapkan tindakan
pencegahan agar tidak terjadinya ketidaksesuaian.
Tindakan pencegahan mencakup:
a) Penetapan ketidaksesuaian dan penyebabnya.
b) Penetapan dan penerapan tindakan yang sesuai.
c) Peninjauan tindakan pencegahan.

27
BAB IV

KESIMPULAN

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis (UPT) dinas kesehatan kabupaten/kota yang
bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Untuk
terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang
sesuai dengan azas penyelenggaraan Puskesmas perlu ditunjang oleh manajeman Pelayanan
Puskesmas yang baik. Manajemen Pelayanan Puskesmas adalah rangkaian kegiatan yang
bekerja secara sistematik untuk menghasilkan luaran Puskesmas yang efektif dan efisien.
Selain itu untuk menunjang pelaksanaan fungsi dan penyelenggaraan upayanya, puskesmas
dilengkapidengan instrumen manajemen yang terdiri dari :

1. Perencanaan tingkat Puskesmas


2. Lokakarya Mini Puskesmas
3. Penilaian Kinerja Puskesmas.

Perubahan yang mendasar perlu dilakukan dalam manajemen pelayanan kesehatan, baik di
Rumah Sakit maupun di Puskesmas.  Perubahan tersebut mencakup,   perubahan visi, misi
dan strategi, mengembangkan struktur organisasi sesuai kebutuhan, melakukan manajemen
strategis, pengembangan SDM (manajemen SDM), melakukan upaya-upaya yang mendorong
kemandirian

28
DAFTAR  PUSTAKA

Abdurahman, Arifin. 1973. Kerangka Pokok-pokok Manajemen Umum. Jakarta: CV Haji


Masagung.

Adisasmito Wiku. 2007. Sistem Kesehatan . Jakarta: PT  Raja Grafindo Persada.

Azwar, Azrul. 1988. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta:  Bina Rupa Aksara.
Departemen Kesehatan RI. 2004.

Pedoman Penyelenggaraan Puskesmas di Era Desentralisasi (DRAFT).  Jakarta: Balai


Pustaka Gde , A Manunjaya. 1999.

Manajemen Kesehatan.  Jakarta: Penerbit buku Kedokteran EGC.

29