Anda di halaman 1dari 16

BORANG HASIL DISKUSI

PROBLEM BASED LEARNING (PBL)

Kelas : Ekstensi 2018 Topik : Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan


Gangguan
Neurologi (Stroke Non Hemoragik)
Kelompok : 5 Hari/Tgl : Senin, 9 September 2019

Anggota kelompok
Nama Peran Nama Peran
1. Yayan S ( Ketua) 4. Esther Lita Yohana (Anggota)
2. Nurfitri (Sekretaris) 5. Retno Citro (Anggota)
3. Rana Jumana ( Anggota ) 6. Yenni Maryati (Anggota)
Setiap kelompok harus menentukan peran anggotanya sebagai ketua, sekretaris, atau
anggota.

Definisi Masalah
Kasus 1

Seorang perempuan berusia 59 tahun dirawat dengan keluhan kelemahan lengan


kanan. Hasil pemeriksaan menunjukkan frekuensi napas 14 kali/menit, TD
148/97 mmHg, frekuensi nadi 81 kali/menit, suhu 36,7 C, GCS E4M6V5, bibir
tampak mencong ke sisi kanan, dan facial drop yang tampak terutama saat klien
tersenyum, respons pupil positif, genggaman tangan kiri lebih lemah
dibandingkan dengan kanan. Klien juga merasakan mati rasa pada pipi kanan dan
tangan kanan. Klien menyangkal adanya sakit kepala, mual, muntah, nyeri dada,
diaphoresis dan gangguan penglihatan. Klien mampu menelan tanpa mengalami
kesulitan.

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan Hemoglobin 14 g/dL, Hematokrit


44%, Trombosit 294.000 mm3, Leukosit 8.000 sel/ mm3, prothrombin time (PT)
12,9 detik, INR 1.10, natrium 149 mEq/L, K 4,5 mEq/L, glukosa 105 mg/dL,
Kalsium 9,5 mg/dL, BUN 15 mg/dL dan kreatinin 0,8 mg/dL. Klien mendapat
terapi heparin 25.000 unit dalam 500 cc D5W 18 mL per jam.

Hal baru yang perlu Hal yang sudah diketahui


Diketahui dan dipelajari tetapi perlu dipelajari lagi
1. Anatomi Fisiologi Otak
2. Pengertian, Etiologi dan Faktor Resiko Stroke Non
Hemoragik
3. Patofisiologi Stroke Non Hemoragik
4. Manifestasi Klinis Stroke Non Hemoragik
5. Komplikasi Stroke Non Hemoragik,
6. Tatalaksana dan Pemeriksaan Penunjang Stroke Non
Hemoragik
7. Asuhan Keperawatan (Pengkajian dan Analisa Data) Pada
Klien Dengan Stroke Hemoragik
8. Asuhan Keperawatan (Diagnosa dan Intervensi) Pada Klien
Dengan Stroke Hemoragik
Materi Bahasan yang Perlu Dipelajari Oleh

1. Anatomi Fisiologi Otak Yenni Maryati (1)


2. Pengertian, Etiologi dan Faktor Resiko Stroke Non Nurfitri (2)
Hemoragik
3. Patofisiologi Stroke Non Hemoragik Retno Citro (3 dan 4)
4. Manifestasi Klinis Stroke Non Hemoragik
5. Komplikasi Stroke Non Hemoragik, Rana Jumana (5 dan 6)
6. Tatalaksana dan Pemeriksaan Penunjang Stroke Non
Hemoragik
7. Asuhan Keperawatan (Pengkajian dan Analisa Data) Pada Esther Lita Yohana (7)
Klien Dengan Stroke Hemoragik
8. Asuhan Keperawatan (Diagnosa dan Intervensi) Pada Klien Yayan S (8)
Dengan Stroke Hemoragik

Paraf Fasilitator

(.............................)
Keterangan:
1. Setelah diparaf, borang dikembalikan kepada setiap kelompok
2. Pada waktu pengumpulan tugas mandiri, borang ini dilampirkan
3. Semua materi bahasan fokus group dipelajari setiap anggota

2
LEMBAR TUGAS MANDIRI KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 3
DISUSUN OLEH YAYAN SURYAMAN
MAHASISWA EKSTENSI 2018
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA

Sesuai borang yang telah disepakati kelompok, maka saya akan membuat diagnosis,
intervensi, implementasi dan evaluasi sesuai kasus pemicu.
1. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis Keperawatan yang muncul sesuai analisa data adalah;
a. Ketidakefektifan perfusi serebral berhubungan dengan embolisme.
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot
c. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan sirkulasi serebral

2. Intervensi Keperawatan
Dx Keperawatan Tujuan intervensi Rasionalisasi
Ketidakefektifan Setelah mendapat 1. Tentukan factor- 1. Membantu dalam
perfusi serebral tindakan faktor yang memilih intervensi
berhubungan keperawatan klien berhubngan yang tepat.
dengan embolisme akan dapat dengan situasiklien
mempertahankan saat ini.
status perfusi 2. Monitor dan 2. Mengkaji adanya
jaringan serebral dokumentasikan perubahan tingkat
yang adekuat yang status nerologi kesadaran yang dapat
ditandai dengan : klien secara mengindikasikan
1. Tanda vital berkala dan keparahan dan
dalam batas bandingkan dengan perbaikan kerusakan
normal. data awal. system saraf.
2. Hasil 3. Monitor tanda- 3. Perubahan tanda vital
laboratorium tanda vital. dapat mengindikasikan
koagulasi dalam adanya keterlibatan
batas normal. dalam kerusakan otak.
Tidak ada kerusakan 4. Posisikan kepala 4. Menurunkan tekanan
neurologis lajutan. lebih tinggi pada arteri dengan
3
posisi netral. mendorong aliran balik
vena dan meningkatkan
sirkulasi dan perfusi
otak.
5. Pertahankan 5. Stimulus yang terus
bedrest, sediakan menerus dapat
lingkungan yang meningkatkan tekanan
tenang, batasi intrakanial.
pengunjung dan Menghindari adanya
aktivitas klien perdarahan otak.
sesuai indikasi.
6. Berikan terapi 6. Anticoagulant
sesuai indikasi. digunakan untuk
meningkatkan aliran
darah otak dan
mencegah meluasnya
bekuan darah pada
stroke iskemik.
7. Monitor 7. Menyediakan informasi
pemeriksaan mengenai efektifitas
laboratorium dan level terapetik
sesuai indikasi antikoagulan yang
seperti kadar PT digunakan.
dan aPTT
8. Monitor sisi insersi 8. Mencegah terjadinya
terhadap tanda- flebitis
tanda perdarahan
atau hematoma.
9. Mempertahankan aliran
9. Anjurkan
cairan intravena
ekstremitas sisi
sehingga menjaga
insersi tetap lurus.
kefektifan terapi dan

4
mencegah flebitis.
1. Hentikan segera 1. Mencegah terjadi efek
infus trombolitik samping yang fatal
jika terjadi yang akan dialami
perdarahan dan klien.
alergi.
Gangguan Setelah dilakukan 2. Ubah posisi 2. Menurunkan resiko
mobilitas fisik intervensi minimal 2 jam iskemia jaringan dan
berhubungan keperawatan klien sekali cedera. Bagian yang
dengan penurunan mampu terkena memiliki
kekuatan otot mempertahankan sirkulasi yang buruk
dan menigkatkan dan penurunan sensasi
kekuatan otot dan beresiko lebih
ekstremitas atasnya besar terjadinya
kerusakan integritas
kulit dan dekubitus.
3. Kaji kemampuan 3. Mengidentifikasi
mobilitas klien, kekuatan dan defisiensi
kaji daerah yang dan menyediakan
mengalami informasi capaian
gangguan. perbaikan. Membantu
dalam menetapkan
pilihan intervensi yang
sesuai.
4. Posisikan dalam 4. Membantu
posisi telentang mempertahankan
satu atau dua kali ekstensi pinggul,
sehari jika klien namun dapat
mampu. meningkatkan
kecemasan khususnya
kemampuan bernafas.
5. Observasi sisi yang 5. Jaringan yang edema

5
terkena mengenai lebih mudah
warna, edema atau mengalami trauma dan
tanda yang lambat dalam
berhubungan perbaikannya.
dengan sirkulasi.
6. Evaluasi 6. Membantu mencegah
kebutuhan terjadinya kontraktur
penggunaan alat pada sendi ekstremitas
bantu posisi yang lemah.
selama kelemahan.
7. Membantu dalam
7. Identifikasi
menentukan bantuan
kebiasaan aktivitas
perawatan diri kepada
perawatan diri
klien.
sesuai usia.
8. Menentukan fungsi
8. Monitor tingkat
tubuh yang tidak dapat
kemandirian
dilakukan oleh klien
sehingga perawat dapat
memberikan bantuan
yang tepat.
9. Meningkatkan
9. Sediakan
hubungan dengan klien
lingkunagn yang
dan meningkatkan rasa
terapeutik (hangat,
percaya diri serta harga
rileks,privasi)
diri klien.
10. Mendorong klien
10. Dampingi dalam
melakukan perawatan
melakukan
diri secara mandiri
perawatan diri
untuk mempertahankan
sampai mandiri.
fungsi tubuh dan
kekuatan otot.
11. Mengurangi rasa
11. Fasilitasi untuk
6
menerima keadaan frustasi dan penurunan
ketergantungan harga diri klien.
12. Fasilitasi 12. Mempertahankan
kemandirian, bantu fungsi tubuh dan
jika tidak mampu meningkatkan kendali
melaksanakan terhadap mobilitas
perawatan diri. tubuh klien.
13. Anjurkan 13. Mempertahankan
perawatan diri kemandiria klien.
secara konsisten
sesuai
kemampuan. 14. Membantu klien dalam
14. Ajarkan cara menilai kemampuan
mengidentifikiasi dirinya dalam
kemampuan mobilisasi secara
ambulasi mandiri.
(misalnya:
kekuatan otot,
rentang gerak). 15. Mencegah terjadinya
15. Ajarkan Teknik cedera.
ambulasi yang
aman 16. Menilai derajat resiko
16. Hitung resiko terjadinya jatuh.
jatuh. 17. Mencegah klien jatuh
17. Pasang handrall dari tempat tidur.
tempat tidur

Gangguan Setelah dilakukan 1. Kaji jenis dan 1. Membantu menentukan


komunikasi verbal tindakan derajat disfungsi lokasi dan derajat
berhubungan keperawatan klien komunikasi verbal keterlibatan otak dan
dengan penurunan mampu klien, apakah klien kesulitan beberapa atau

7
sirkulasi serebral 1. Mengembangkan kesulitan dalam seluruh bagian dari
metode mengerti kata-kata proses
komunikasi yang atau kesulitan komunikasi.klien dapat
sesuai dalam berbicara. bermasalah dalam
kebutuhan. mengerti kata-
2. Menggunakan kata(kerusakan area
sumberdaya bicara
yang sesuai. Wernicke)berbicara
dengan
benar(kerusakan area
broca) atau keduanya.
2. Bedakan antara 2. Membantu memilih
aphasia dan intervensi yang tepat
disartria sesuai tipe kerusakan
yang terjadi. Aphasia
adalah kelainan dalam
menggunakan dan
menginterpretasikan
symbol dan Bahasa dan
dapat mengenai sensori
dan motori. Seperti
tidak dapat berbicara,
menulis. Pada
Disartria, seseorang
dapat mengerti ucapan
dan membaca, namun
tidak dapat berbicara
dengan baik.
3. Anjurkan klien 3. Mengkaji
untuk menulis ketidakmampuan
nama atau kalimat menulis dan kelemahan
pendek, jika tidak membaca.
8
mampu minta
untuk membaca
kalimat pendek.
4. Beri catatan di 4. Menghilangkan
ruang perawat dan kecemasan yang
raungan klien berhubungan dengan
mengenai klien ketidak mampuan
yang mengalami berkomunikasi dan
ketidakmampuan ketakutan akan tidak
berbicara. terpenuhinya
Sediakan bel kebutuhan diri klien.
sesuai kebutuhan
5. Berikan alternative 5. Memberikan kebutuhan
metode komunikasi sesuai
komunikasi sesuai kondisi klien sehingga
kemampuan klien klien dapat
mengekspresikan
kebutuhan dirinya.
6. Antisipasi dan 6. Membantu
sediakan menurunkan rasa
kebutuhan klien frustasi yang
berhuungan dengan
ketidakmampuan
komunikasi.
7. Berbicara langsung 7. Mengurangi
kepada klien kebingungan dan
dengan perlahan kecemasan klien dalam
dan jelas. memproses dan
merespon informasi
yang diberikan.
8. Diskusikan topik- 8. Membantu dalam
topik yang familiar menegerti isi prcakapan
9
seperti perkerjaan, dan mendorong melatih
hobi, dll. kemempuan
komunikasi.
9. Memberikan rasa
9. Beri penghargaan penghargaan klien
terhadap karena kemampuan
kemampuan klien intelektualnya.
sebelum sakit,
hindari
merendahkan. 10. Mendukung terjadinya
10. Fasilitasi hubungan pemahaman dalam
antara klien, komunikasi dan
keluarga dan menurunkan rasa
tenaga kesehatan frustasi keluarga akibat
lainnya. gangguan komunikasi
dengan klien.
11. Memberikan rasa
11. Dengarkan dengan percaya diri klien dan
empati rasa pengakuan petugas
kesehatan kepada klien.
12. Memberikan
12. Ulangi pernyataan, kesempatan klien
ulangi kata-kata dalam memproses
kunci sesuaikan informasi
dengan nada
bicara. 13. Menciptakan
13. Gunakan sentuhan lingkungan yang
suportif. terapetik,
meningkatkan rasa
nyaman dan percaya
diri klien.
14. Meningkatkan
10
14. Libatkan keluarga pemahaman dan
untuk mendukung pengawasan keluarga
program sehingga program
pengobatan yang pengobatan dapat
dijalani. tercapai dengan baik.

15. Kolaborasi atau


rujuk ke ahli terapi
bicara

3. Implemetasi dan evaluasi


Hari selasa,10 september 2019
Dx Keperawatan Tujuan implementasi Evaluasi
Ketidakefektifan Setelah mendapat Pukul 08.30. S: Klien masih mengeluh
perfusi serebral tindakan keperawatan 1. Memonitor dan lemah pada tanagn dan
berhubungan klien akan dapat dokumentasikan mati rasa pada pipi.
dengan embolisme mempertahankan status nerologi klien O:
DS:DS : status perfusi secara berkala dan - Bibir tampak mencong
- Klien jaringan serebral bandingkan dengan ke sisi kanan
mengeluhkan yang adekuat yang data awal. - Facial drop tampak saat
kelemahan ditandai dengan : 2. mengukur tanda- klien tersenyum
lengan kanan - Genggaman tangan kiri
3. Tanda vital dalam tanda vital setiap 15
- Klien juga lebih lemah
batas normal. menit pada 2 jam
merasakan mati dibandingkan tangan
4. Hasil pertama pemberian
rasa pada pipi kanan.
laboratorium heparin, setiap 30
kanan dan tangan - TD : 140/90 mmHg
koagulasi dalam menit ada 6 jam
kanan. - PT : 16 detik
DO : batas normal. berikutnya dan
A : Masalah teratasi
- Bibir tampak Tidak ada kerusakan setiap 60 menit
sebagian
mencong ke sisi neurologis lajutan. pada 16 jam
P : Lanjutkan intervensi
kanan berikutnya.
- Facial drop 3. mempertahankan
tampak saat klien bedrest, sediakan
11
tersenyum lingkungan yang
- Genggaman tenang, batasi
tangan kiri lebih pengunjung dan
lemah aktivitas klien
dibandingkan
sesuai indikasi.
tangan kanan
4. Memonitor
- TTV: TD:
pemeriksaan
148/97
laboratorium sesuai
- Klien mendapat
indikasi seperti
terapi heparin
kadar PT dan aPTT
25.000 unit
5. Memonitor sisi
dalam 500 cc
insersi terhadap
D5W 18 mL
tanda-tanda
per jam.
perdarahan atau
- prothrombin
hematoma.
time (PT) 12,9
menganjurkan
detik
ekstremitas sisi insersi
tetap lurus.

Gangguan Setelah dilakukan Pukul 09.00 S : klien mengatakan


mobilitas fisik intervensi 1. Mengubah posisi tangannya masih terasa
berhubungan keperawatan klien minimal 2 jam lemas
dengan penurunan mampu sekali O : kekuatan otot 2 | 2
kekuatan otot mempertahankan dan 2. Mengkaji 4|4
DS:DS : menigkatkan kemampuan • dapat makan dengan
- Klien kekuatan otot mobilitas klien, kaji tangan kanan
mengeluhkan ekstremitas atasnya daerah yang sendiri.
kelemahan yang ditandai dengan mengalami • Memakai baju
lengan kanan
: gangguan. dengan bantuan.
DODO:
1. Mampu 3. mengobservasi sisi • Tidak edema pada
- Genggaman
melakukan ROM yang terkena ekstremitas.
tangan kiri lebih
aktif. mengenai warna, • Resiko jatuh tinggi.
lemah
12
dibandingkan 2. Aktifitas edema atau tanda A : Masalah teratasi
tangan kanan. perawatan diri yang berhubungan sebagian
- Klien mendapat terpenuhi. dengan sirkulasi. P : Lanjutkan intervensi
terapi heparin
25.000 unit 3. Tidak terjadi 4. mengevaluasi
dalam 500 cc cedera. kebutuhan
D5W 18 mL
per jam. penggunaan alat
- TD : 148/97 bantu posisi selama
mmHg, Nadi : kelemahan.
81x/mnt,
Pukul 12.00
Frekuensi nafas :
1. mengidentifikasi
14x/menit. Suhu
kebiasaan aktivitas
36,9oC
perawatan diri
sesuai usia.
2. Menyediakan
lingkungan yang
terapeutik (hangat,
rileks,privasi)
3. mendampingi dalam
melakukan
perawatan diri
sampai mandiri.
4. memfasilitasi
kemandirian, bantu
jika tidak mampu
melaksanakan
perawatan diri.
5. menganjurkan
perawatan diri
secara konsisten
sesuai kemampuan.
Pukul 14.00
1. menghitung resiko
13
jatuh.
2. memasang handrall
tempat tidur

Gangguan Setelah dilakukan Pukul 08.00 S; Klien mampu


komunikasi verbal tindakan keperawatan 1. mengkaji jenis dan mengelaurkan kata-kata
berhubungan klien mampu derajat disfungsi walaupun tidak jelas.
dengan penurunan 1. Mengembangkan komunikasi verbal O:
sirkulasi serebral metode klien, apakah klien • Bibir tampak mencong
DS:DS : - komunikasi yang kesulitan dalam ke sisi kanan, dan
DO: Bibir tampak sesuai kebutuhan. mengerti kata-kata facial drop yang
mencong ke sisi 2. Menggunakan atau kesulitan dalam tampak terutama saat
kanan, dan facial klien tersenyum.
sumberdaya yang berbicara.
drop yang tampak • Klien dapat mengerti
sesuai. 2. mengnjurkan klien
terutama saat klien pembicaraan orang lain.
untuk menulis nama
tersenyum. • Klien dapat
atau kalimat
mengunkapkan
pendek, jika tidak
kebutuhannya melalui
mampu minta untuk isarat dan menulis.
membaca kalimat A : Masalah teratasi
pendek.
3. memberi catatan di
ruang perawat dan
raungan klien
mengenai klien
yang mengalami
ketidakmampuan
berbicara. Sediakan
bel sesuai
kebutuhan

pukul 11.00
1. Berikan alternative

14
metode komunikasi
sesuai kemampuan
klien

2. mengantisipasi dan
menyediakan
kebutuhan klien
3. Mendiskusikan
topik-topik yang
familiar seperti
perkerjaan, hobi,
dll.
4. memberi
penghargaan
terhadap
kemampuan klien
sebelum sakit,
hindari
merendahkan.

Pukul 14.00
1. memfasilitasi
hubungan antara
klien, keluarga dan
tenaga kesehatan
lainnya.
2. mengulangi
pernyataan, ulangi
kata-kata kunci
sesuaikan dengan
nada bicara.
3. menggunakan
15
sentuhan suportif.

Referensi :
1. Doengoes, M. E. (2010). Nursing Care Plans: Guidelines for Individualizing Client
Care Across the Life Span (9th ed). Philadelphia: Davis Company.
2. PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI
3. PPNI.2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia : Definisi dan Tindakan
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta:DPP PPNI.

16