Anda di halaman 1dari 11

ANALISA KASUS MENEJEMEN MUTU DAN MENEJEMEN RESIKO

KEPUASAN PASIEN RAWAT INAP DALAM PELAYANAN TINDAKAN


KEPERAWATAN
(PERAWATAN LUKA TIDAK SESUAI SOP)

Di Susun Oleh :

IKKE SEPTYAGUSTI

(D0019029)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

STIKes BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI


Jl. Cut Nyak Dien Kalisapu, Slawi- Kab. Tegal

2020
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator penting yang harus diperhatikan dalam
pelayanan kesehatan. Kepuasan pasien adalah hasil penilaian dari pasien terhadap
pelayanan kesehatan dengan membandingkan apa yang diharapkan sesuai dengan
kenyataan pelayanan kesehatan yang diterima disuatu tatanan kesehatan rumah sakit
(Hardiyansyah, 2011). Kepuasan pasien merupakan salah satu hal yang sangat penting
dalam meninjau mutu pelayanan khususnya pelayanan suatu rumah sakit (Suryawati,
2010).

Salah satu sumber daya manusia di rumah sakit adalah perawat, Oleh karena itu perawat
rumah sakit harus mencakup profesionalisme yang bersifat mandiri, sejajar dan menjadi
mitra profesi lain (Yani, 2011). Sebagai perwujudan sikap profesional dari asuhan
keperawatan, Departemen Kesehatan RI telah memberlakukan adanya standar
operasional prosedur (SOP), apabila pelayanan rumah sakit sudah memberikan pelayanan
sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam standar, maka pelayanan kesehatan
sudah dapat dipertanggung jawabkan (Kemenkes 2012).

Standar kepuasan pasien di pelayanan kesehatan ditetapkan secara nasional oleh


Departemen Kesehatan. Menurut Peraturan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Minimal untuk kepuasan pasien yaitu diatas 95%.
Bila ditemukan pelayanan kesehatan dengan tingkat kepuasaan pasien berada dibawah
95%, maka dianggap pelayanan kesehatan yang diberikan tidak memenuhi standar
minimal atau tidak berkualitas (Kemenkes, 2016). SOP merupakan langkah-langkah yang
dilakukan untuk menyelesaikan suatu proses kerja rutin tertentu. Saat ini masih banyak
kasus tentang kinerja perawat yang melakukan perawatan luka tidak sesuai SOP. Luka
sendiri merupakan suatu bentuk kerusakan jaringan pada kulit yang disebabkan kontak
dengan sumber panas (seperti bahan kimia, air panas, api, radiasi, dan listrik), hasil
tindakan medis, maupun perubahan kondisi fisiologis (Purnama H, Sriwidodo,
Ratnawulan S, 2017).

Masing-masing luka memiliki proses penyembuhan yang rumit karena adanya kegiatan
bioseluler dan biokimia yang terjadi secara berkesinambungan. Dalam proses
penyembuhan luka pascaoperasi akan memiliki risiko terkena infeksi pada luka, jika
perawatan luka operasi yang diterapkan tidak sesuai dengan standar operasional prosedur
(SOP). Risiko tersebut mengharuskan perawat untuk patuh dalam melakukan tindakan
perawatan luka post operasi sesuai dengan SOP (Anggraeni Z, 2016). Oleh kaena itu
Devi dan Wijayanti 2013, menyebutkan penyebab infeksi diperkirakan masih banyaknya
perawat yang mengabaikan standar operasional prosedur khususnya dalam perawatan
luka.

1.2 Tujuan Penulisan


Untuk mengetahui kepuasan pasien rawat inap tentang pelayanan dalam memberikan
tindakan perawatan luka sesuai SOP
BAB 2
PEMBAHASAN
1.1 Kasus
Saya menemukan kasus Ny. A, di Rumah Sakit T (Tegal) umur 40 tahun pada tanggal 5
April 2020, pasien di rawat di ruangan kamboja Rs. T tegal dengan diagnosa Diabetes
mellitus. Didapatkan hasil pengkajian terdapat luka pada kaki kanan dengan luas luka
panjang ±32cm, lebar ±20cm, pasien mengalami demam, luka berwarna kemerahan,luka
tampak lembab, tidak bengkak. Sesuai perintah dokter pasien diinfus dan diberikan obat
sanmol 3x500mg, ketorolac 2x1mg, omeprazole 1x4mg dan dilakukan perawatan luka.
Setelah itu perawat langsung melakukan perawatan luka tanpa menggunakan Nacl.
keesokan hari pasien mengeluh pada bagian luka nya yang terasa nyeri,panas, gatal dan
bengkak. Kemudian keluarga pasien cepat melaporkan kejadian ini sehingga tidak
menjadi tambah parah.

1.2 Cara Penyelesaian Masalah

Dalam kasus ini cara penyelesaian masalah yang dapat dilakukan oleh perawat adalah
langsung melakukan perawatan luka ulang sesuai SOP yang ada dirumah sakit, untuk
mencegah terjadinya infeksi atau kejadian serupa kembali. Semua perawat seharusnya
mengetahuin tentang SOP yang ada di rumah sakit

Berdasarkan kasus diatas seharusnya semua perawat mengikuti SOP yang sudah
ditentukan untuk mencegah terjadinya resiko infeksi. Sebagai perwujudan sikap
profesional dari asuhan keperawatan, Departemen Kesehatan RI telah memberlakukan
adanya standar operasional prosedur (SOP), apabila pelayanan rumah sakit sudah
memberikan pelayanan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam standar, maka
pelayanan kesehatan sudah dapat dipertanggung jawabkan (Kemenkes 2012).

Perawat harus mengetahui standar kepuasan pasien sesuai dengan uraian Menurut
Zeitham dan Berry 2011, sebagai berikut :
a. Keistimewaan, yaitu dimana pasien merasa diperlakukan secara istimewa oleh perawat
selama proses pelayanan.

b. Kesesuaian, yaitu sejauhmana pelayanan yang diberikan perawat sesuai dengan


keinginan pasien, selain itu ada ketepatan waktu dan harga.

c. Keajegan dalam memberikan pelayanan, artinya pelayanan yang diberikan selalu sama
pada setiap kesempatan dengan kata lain pelayanan yang diberikan selalu konsisten.

d. Estetika, estetika dalam pelayanan berhubungan dengan kesesuaian tata letak barang
maupun keindahan ruangan.

Pada kasus ini seharusnya perawat melihat menggunakan SOP yang ada di RS untuk
melakukan perawatan luka kepada pasien dan menjalankan prinsip perawatan luka.
Menurut Juwita (2016), Ada dua prinsip utama dalam perawatan luka, sebagai berikut

1. Prinsip pertama menyangkut pembersihan/ pencucian luka.


a) Luka kering (tidak mengeluarkan cairan) dibersihkan dengan teknik
swabbing, yaitu ditekan dan digosok pelan-pelan menggunakan kasa steril atau
kain bersih yang dibasahi dengan air steril atau NaCl 0,9 %.
b) Luka basah dan mudah berdarah dibersihkan dengan teknik irrigasi, yaitu
disemprot lembut dengan air steril (kalau tidak ada bisa diganti air matang) atau
NaCl 0,9 %. Cairan antiseptik sebaiknya tidak digunakan, kecuali jika terdapat
infeksi, karena dapat merusak fibriblast yang sangat penting dalam proses
penyembuhan luka, menimbulkan alergi, bahkan menimbulkan luka di kulit
sekitarnya. Jika dibutuhkan antiseptik, yang cukup aman adalah feracrylum 1%
karena tidak menimbulkan bekas warna, bau, dan tidak menimbulkan reaksi
alergi.
2. Prinsip kedua menyangkut pemilihan balutan.
a) Pembalut luka merupakan sarana vital untuk mengatur kelembaban kulit,
menyerap cairan yang berlebih, mencegah infeksi, dan membuang jaringan mati.

2.3 Pembahasan
Berdasarkan kasus diatas sebagai seorang kepala ruangan hal yang harus dilakukan
dalam pemecahan masalah ini adalah menegur perawat yang bersangkutan terhadap
kelalaian tindakan yang dilakukan. Selalu mengobservasi setiap tindakan yang sudah
perawat lakukan, agar tidak terjadi kesalahan lagi. Sebagai seorang kepala ruangan
menjelaskan kepada keluarga tindakan yang akan dilakukan yaitu perawatan luka
sesuai SOP yang ada di rumah sakit tersebut.

Dan jika perawat yang bersangkutan berulang kali lalai dalam melakukan perawatan
luka, Tidak cuman perawat yang bersangkutan saja tapi untuk semuaperawat yang
ada diruangan kamboja. maka kepala ruangan akan melakukan pemecahan masalah
dengan gaya kepemimpinan Demokratis. Dimana gaya kepemimpinan demokratis ini
dalam proses pengambilan keputusan dilakukan secara bersama-sama baik oleh
pimpinan maupun bawahan dan hasil keputusan akhir diambil dari keputusan
bersama. Kepala ruangan akan memintai saran dari masing masing perawat untuk
memberikan pendapat mengenai sanksi untuk perawat yang bersangkutan.
BAB 3

KESIMPULAN DAN SARAN


3.1 Kesimpulan

kepuasan pasien adalah hasil penilaian dalam bentuk respon emosional (perasaan
senang dan puas) pada pasien karena terpenuhinya harapan atau keinginan dalam
menggunakan dan menerima pelayanan perawat. perawat mematuhi standar pelayanan
dan SOP yang telah ditetapkan. Pengukuran kepuasan pasien merupakan elemen
penting dalam menyediakan pelayanan yang lebih baik, lebih efisien dan lebih efektif.
Apabila pasien merasa tidak puas terhadap suatu pelayanan yang disediakan, maka
pelayanan tersebut dapat dipastikan tidak efektif dan tidak efisien.

3.2 Saran
Adapun saran untuk para perawat yang mengaplikasikannya di lingkungan rumah
sakit agar selalu mematuhi Standar Operasional Prosedur yang sudah di tentukan di
rumah sakit masing-masing.
DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, Z. 2016. Gambaran Implementasi Prosedur Perawatan Luka Post Operasi Oleh
Perawat Di RSU PKU Muhammadiyah Bantul. Diakses pada tanggal 6 November
2017, dari http://repository. umy.ac.id.

Hardiyansyah, 2011.Kualitas Pelayanan Publik (Konsep, Dimensi, Indikator


Implementasinya). Gava Media . Yogyakarta

Juwita, E., (2016). Analisis Kepatuhan Petugas Filing Terhadap Standar Operasional
Prosedur (SOP) Retensi Di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang. Diakses
pada tanggal 22 Maret 2018, dari http://mahasiswa.dinus.ac.id.

Kementrian Kesehatan RI . 2012. Riset Kesehatan Dasar 2012. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan. Kementrian kesehatan Republik Indonesia : Jakarta

Purnama, H., Sriwidodo. Ratnawulan, S., 2017. Review Sistematik: Proses Penyembuhan
Dan Perawatan Luka. Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran. Diakses pada
tanggal 6 November 2017, dari http://jurnal.unpad.ac.id.

Suryawati, Chriswardani. 2010. Kepuasan Pasien Rumah Sakit (Tinjauan Teoritis dan
Penerapannya Pada Penelitian). Jurnal Mutu Pelayanan Kesehatan. Vol. 07, No.
04, 189-194. Desember

Widasari dan Arisanty. (2010). Seri Perawatan Luka Terpadu Perawatan Luka Diabetes.
Bogor: WOCARE Publishin
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PERAWATAN LUKA

1. Persiapan Alat
a. Alat-alat steril
1) Pinset anatomis 1 buah
2) Pinset sirugis 1 buah
3) Gunting bedah/jaringan 1 buah
4) Kassa kering dalam kom tertutup secukupnya
5) Kassa desinfektan dalam kom tertutup
6) sarung tangan 1 pasang
7) korentang/forcep
b. Alat-alat tidak steril
1) Gunting verban 1 buah
2) Plester
3) Pengalas
4) Kom kecil 2 buah (bila dibutuhkan)
5) Nierbeken 2 buah
6) Kapas alkohol
7) Sabun cair anti septik
8) NaCl 9 %
9) Cairan antiseptic (bila dibutuhkan)
10) Sarung tangan 1 pasang
11) Masker
12) Air hangat (bila dibutuhkan)
13) Kantong plastic/baskom untuk tempat sampah
2. Pelaksanaan
1. Jelaskan kepada pasien tentang tindakan yang akan dilakukan
2. Dekatkan alat-alat ke pasien
3. Pasang sampiran
4. Perawat cuci tangan
5. Pasang masker dan sarung tangan yang tidak steril
6. Atur posisi pasien sesuai dengan kebutuhan
7. Letakkan pengalas dibawah area luka
8. Letakkan nierbeken didekat pasien
9. Buka balutan lama (hati-hati jangan sampai menyentuh luka) dengan menggunakan
pinset anatomi, buang balutan bekas kedalam nierbeken.
Jika menggunakan plester lepaskan plester dengan cara melepaskan ujungnya dan
menahan kulit dibawahnya, setelah itu tarik secara perlahan sejajar dengan kulit dan
kearah balutan.
10. Bila balutan melekat pada jaringan dibawah, jangan dibasahi, tapi angkat balutan
dengan berlahan
11. Letakkan balutan kotor ke neirbeken lalu buang kekantong plastic, hindari
kontaminasi dengan permukaan luar wadah
12. Kaji lokasi, tipe, jumlah jahitan atau bau dari luka
13. Membuka set balutan steril dan menyiapkan larutan pencuci luka dan obat luka
dengan memperhatikan tehnik aseptic
14. Buka sarung tangan ganti dengan sarung tangan steril
15. Membersihkan luka dengan sabun anti septic atau NaCl 9 %
16. Memberikan obat atau antikbiotik pada area luka (disesuaikan dengan terapi)
17. Menutup luka dengan cara:
1) Balutan kering
a. lapisan pertama kassa kering steril untuk menutupi daerah insisi dan bagian
sekeliling kulit
b. lapisan kedua adalah kassa kering steril yang dapat menyerap
c. lapisan ketiga kassa steril yang tebal pada bagian luar
2) Balutan basah – kering
Indikasi: untuk membersihkan kotoran atau luka terinfeksi. Biarkan pembalut
mengering dan ketika balutan diangkat akan ikut menarik kotoran. Bila balutan
lengket dapat dilembabkan untuk mempermudah pengangkatan balutan. Dapat
lebih sering pada luka yang memerlukan debridemen, sedikit lebih jarang pada
luka bersih. Jika luka sudah bersih, ganti teknik balutan menjadi basah ke basah
atau salep antibiotik
a. lapisan pertama kassa steril yang telah diberi cairan steril atau untuk menutupi
area luka
b. lapisan kedua kasa steril yang lembab yang sifatnya menyerap
c. lapisan ketiga kassa steril yang tebal pada bagian luar
d. Frekuensi: 3-4 kali per hari.
3) Balutan basah – basah
Indikasi: untuk menjaga luka bersih tetap bersih dan mencegah pembentukan
eksudat
a. lapisan pertama kassa steril yang telah diberi dengan cairan fisiologik dan
peras hingga tidak terlalu basah untuk menutupi luka
b. lapisan kedua kassa kering steril yang bersifat menyerap
c. lapisan ketiga (paling luar) kassa steril yang sudah dilembabkan dengan cairan
fisiologik/larutan salin
d. Frekuensi: idealnya 2-3 kali per hari
4) Salep Antibiotik
Indikasi: Salep antibiotik digunakan untuk menjaga luka bersih tetap bersih dan
mempercepat penyembuhan.
a. Oleskan salep ke luka - tipis-tipis saja. Tutup dengan kasa kering.
b. Frekuensi: 1-2 kali per hari.
18. Plester dengan rapi
19. Buka sarung tangan dan masukan kedalam nierbeken
20. Lepaskan masker
21. Atur dan rapikan posisi pasien
22. Buka sampiran
23. Evaluasi keadaan umum pasien
24. Rapikan peralatan dan kembalikan ketempatnya dalam keadaan bersih, kering dan
rapi
25. perawat cuci tangan
26. Dokumentasikan tindakan dalam catatan keperawatan