Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

Jaminan Mutu Layanan Kesehatan

“RUMAH SAKIT”

Oleh

Ajeng P278251190

Lilik Indrawati P27825119046

Listia Nur Farizah P27825119047

Tazkya P278251190

Vinna P278251190

POLITEKNIK KEMENKES SURABAYA

PRODI D IV ALIH JENJANG JURUSAN KEPERAWATAN GIGI

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat rahmat, karunia serta taufik dan hidayah-Nya Makalah ini yang berjudul ”
JaminanMutu Layanan Kesehatan Rumah Sakit” dapat diselesaikan tepat pada
waktunya.

Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Manajemen
Kesehatan Gigi dan Mulut program studi Diploma IV Alih Jenjang pada Jurusan
Keperawatan Gigi Politeknik Kesehatan Kementrian Kesesahatan Surabaya.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan
jauh dari sempurna serta masih perlu pendalaman lebih lanjut. Oleh karena itu, kami
mengharapkan kritik, saran dan usulan demi perbaikan dari pembaca. Mohon maaf
apabila terdapat kesalahan kata yang kurang berkenan serta tidak lupa kami memohon
kritik dan saran yang membagun untuk dijadikan pelajaran untuk penulis kedepannya.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat berguna dalam rangka untuk acuan
mengenai Jaminan Mutu Layanan Kesehatan Rumah Sakit.

Surabaya, Maret 2020


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………. I


DAFTAR ISI …………………………………………………………….…... II
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………… 1
1.1 Latar Belakang ……....……………………………………………………. 1

1.2 Tujuan …….………………………………………………………………..


BAB II TINJAUAN TEORI ………………………………………………….
2.1 Definisi Penjaminan Mutu ……………………………………………
2.2 Prinsip Penjaminan Mutu ……………………………………………
2.3 Bentuk-Bentuk Penjaminan Mutu …………………………………..
2.4 Penjaminan Mutu dalam Rumah Sakit ……………………………..
2.5 Proses Penjaminan Mutu …………………………………………….
2.6 Keterkaitan Fungsi Rumah Sakit dengan Penjaminan Mutu ……..
2.7 Keterkaitan Penjaminan Mutu dengan Keselamatan Pasien …….
BAB II KESIMPULAN ………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

B. Tujuan
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi Penjaminan Mutu


Penjaminan mutu atau kualitas yaitu semua kegiatan terencana dan
sistematis yang dilaksanakan dalam sistem mutu yang dapat ditunjukkan
untuk memberikan keyakinan bahwa suatu produk atau layanan akan
memenuhi persyaratan mutu.
2.2 Prinsip Penjaminan Mutu
Berikut ini adalah lima prinsip dasar penjaminan mutu :
1. Penjaminan mutu adalah ilmu manajemen proses.
Pendekatan terhadap jaminan kualitas modern yang dimulai
hampir 70 tahun yang lalu, sebagai cara untuk mengembangkan solusi
bagi organisasi untuk mengatasi tantangan yang kompleks.
Pendekatannya adalah untuk meningkatkan kualitas perawatan secara
sederhana namun menarik. Hal ini berpusat pada fakta bahwa
peningkatan kuallitas adalah tentang manajemen proses. Teknik dan
konsep peningkatan kualitas ini terus digunakan di hampir semua industri
besar. Namun, pertanggungan terakhir terutama adalah perawatan
kesehatan. Perawatan kesehatan sangat rumit karena terdiri dari ribuan
proses saling terkait yang melengkapi sistem yang kompleks. Namun,
secara fundamental tidak berbeda dengan industri lainnya. Berfokus pada
proses satu perawatan kesehatan sekaligus dapat mengubah permainan
dan bagaimana organisasi perawatan kesehatan menghadapi tantangan di
industri ini.
2. Tanpa mengukur, itu tidak bisa memperbaiki.
Untuk mengetahui dengan jelas kritisnya data, kualitas perbaikan
harus didorong oleh data. Ini benar dalam perawatan kesehatan karena
data sangat penting jika anda merencanakan untuk memiliki dampak yang
berarti dalam industri kesehatan. Perbaikan jaminan kualitas diadopsi
secara luas dalam organisasi layanan kesehatan dan diperlukan untuk
penilaian. Ini mengarah pada peningkatan kualitas perawatan pasien, yang
juga mendorong biaya sekaligus mengurangi biaya. Peningkatan kualitas
merupakan praktik penting yang melibatkan pemeriksaan struktur praktik,
perawatan klinis, dan sistem. Perbaikan harus didasarkan pada bukti yang
dihasilkan oleh data pribadi praktik tersebut. Ini bisa dikumpulkan dari
umpan balik baik dari staf maupun pasien. Di luar biaya dan faktor
kesehatan pasien, tantangan kualitas terletak antara apa yang diketahui
dianggap sebagai perawatan praktik terbaik dan penyampaian perhatian.
Pengingkatan mutu berfokus pada pengetahuan yang berkembang yang
berkaitan dengan strategi peningkatan kualitas yang memadai dalam
peraturan praktik umum.
3. Perawatan terkendali yaitu yang mengelola proses perawatan kesehatan,
bukan dokter dan perawat.
Mengelola perawatan kesehatan melibatkan pengelolaan proses
perawatan pasien. Ini sama sekali tidak berarti kita harus memimpin
dokter dan perawat. Salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan rumah
sakit pada awal tahun 90-an adalah “gerakan perawatan terkelola”. Ini
terlahir secara naif karena mengelola perawatan kesehatan yang
berkualitas adalah memberi tahu perawat dan dokter apa yang seharusnya
dan yang tidak seharusnya dilakukan. Pada kenyataannya, anda harus
melibatkan dokter dalam proses perawatan karena mereka memahami
terkait proses pemberian perawatan dan sangat siap untuk mengetahui
bagaimana mereka akan memperbaiki proses perawatan kesehatan. Untuk
alasan ini, kesempatan untuk pengelolaan manajemen akan
memberdayakan dokter agar lebih jelas dengan prosesnya.
4. Data yang tepat harus diinformasikan dengan benar.
Jika dokter mulai terlibat dalam manajemen perawatan kesehatan,
mereka akan memerlukan data. Data yang valid harus disampaikan dalam
format yang tepat pada waktu, tangan, dan tempat yang tepat. Data harus
diserahkan pada dokter, yang melibatkan operasi dan perbaikan proses
perawatan kesehatan kepada pasien.
5. Menjalankan garis depan pekerja atau pemimpin dari perawatan
kesehatan.
Untuk meningkatkan kualitas kerja dibidang perawatan kesehatan,
kita harus menyadari nilainya dan bagaimana kita harus melibatkan
dokter selama proses perawatan pasien. Dokter adalah pekerja garis depan
perawatan kesehatan, atau dapat disebut komando. Mereka adalah pekerja
yang mengerti dan memiliki beragam proses perawatan kesehatan. Kita
memiliki tenaga kerja yang didominasi oleh dokter yang cerdas,
berpendidikan dan memiliki komitmen kuat terhadap perawatan mereka.
Survei oleh McKinsey dilakukan beberapa tahun yang lalu, yang
menunjukkan mayoritas dokter sudah bersedia untuk berubah. Selama
survei, lebih dari 84% dokter mengatakan bahwa mereka siap untuk
memodernisas perawatan dan perubahan mereka untuk alasan yang
masuk akal. Menerapkan lima prinsip dasar untuk perbaikan proses
kesehatan ini akan membantu organisasi perawatan kesehatan untuk
menunjukkan kepada seluruh tenaga kerja bagaimana perubahan yang
diperlukan. Pimpinan di industri kesehatan perlu melakukan perubahan
signifikan untuk perbaikan dan melihat kesuksesan apa yang akan terjadi.
2.3 Bentuk-Bentuk Penjaminan Mutu
a. Standarisasi (Standardization)
Menurut kamus Oxford, standardization is the process of making
something conform to a standard. Standar sendiri adalah suatu spesifikasi
atau detail mengenai suatu hal yang khusus yang menunjukkan tentang
tujuan, aspirasi, keputusan, ukuran, dan pedoman. Menurut Joint
Commission Accreditation, Health Care, Certification, standar-standar
yang diperlukan dalam suatu rumah sakit yaitu:
1. The services and quality of services the hospital delivers to the patient.
Hal ini tentang apakah pelayan yang disediakan adekuat dengan
konsumen.
2. The principles of organization and administration.
Prinsip administrasi dan organisasi ini meliputi struktur hukum yang
efektif, kebijakandan prosedur tertulis, departemennya mengadakan
pertemuan dan laporan serta evaluasi secara teratur, hingga
keterlibatan pimpinan organisasidalam memberikan pengawasan yang
memadai.
3. The physical plant and the environment in the hospital.
Berkaitan tentang kondisi fisik rumah sakit yang memadai untuk para
konsumen dan pekerjanya.
b. Lisensi/ Perizinan (Licensure)
Lisensi adalah proses pemberian izin secara legal oleh lembaga
yang kompeten, biasanya pemerintah kepada individu atau organisasi untuk
menjalankan praktik atau kegiatan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat, dalam hal ini rumah sakit, bersifat permanen, diberikan
berdasarkan pemeriksaan persyaratan struktur dari suatu organisasi
pelayanan kesehatan, atau pendidikan dan kompetensi individu dan bukan
kinerja. Lembaga ini juga berhak mencabut lisensi yang diberikannya jika
dalam pengidentifikasiannya rumah sakit memiliki potensi masalah kinerja,
dan memerlukan tinjauan lebih lanjut.
c. Sertifikasi (Certification)
Sertifikasi adalah kelanjutan dari lisensi. Sertifikasi
mengindikasikan bahwa rumah sakit harus memenuhi beberapa pedoman
kepatuhan umum untuk mendirikan. Misalnya, rumah sakit bisa
menyediakan perawatan sepanjang waktu, pengawasan medis tertentu, dan
penggunaan catatan klinis yang tepat.
d. Akreditasi (Accreditation)
Akreditasi menekankan bahwa rumah sakitadalah institusi yang
bertanggung jawab yang mengutamakan kewajiban pelayanan pasien
secara layak. Rumah sakit yang telah terakreditasi menjamin konsumen dan
stafnya untuk memberikan usaha dan waktu guna memenuhi standar yang
ditetapkan. Akreditasi akan menuntut rumah sakit senantiasa menjamin
mutunya konstan atau bahkan meningkat. Akreditasi ini diperbarui dalam
periode waktu tertentu.
2.4 Penjaminan Mutu dalam Rumah Sakit
Quality Assurance (QA) dalam rumah sakit merupakan salah satu
factor penting dan fundamental khsususnya bagi manajemen rumah sakit itu
sendiri dan para stakeholder, sebab dampak dari QA menentukan hidup mati
nya sebuah rumah sakit. Bagi Rumah Sakit, adanya QA yang baik membuat
RS mampu bersaing dan tetap eksis di masyarakat. Bagi Pasien, QA dapat
dijadikan sebagai factor untuk memilih RS yang bermutu dan baik. Quality
assurance dapat didefinisikan sebagai semua kegiatan yang berkontribusi
dalam mendefinisikan, merancang, menilai, memantau, dan memperbaiki
kualitas layanan kesehatan. Kegiatan ini dapat dilakukan sebagai bagian dari
akreditasi fasilitas, pengawasan petugas kesehatan, atau upaya lain untuk
meningkatkan kinerja petugas kesehatan dan kualitas layanan kesehatan.
Empat prinsip inti inidapat dipertimbangkan untuk memandu jaminan kualitas
dalam perawatan kesehatan pada Rumah Sakit:
1. Fokus pada Klien
Pelayanan kesehatan ada untuk memenuhi kebutuhan
kesehatan klien, penyampaian layanan kesehatan harus dirancang untuk
memenuhi kebutuhan. Fokus pada klien memeriksa bagaimana dan
bagaimana setiap langkah dalam suatu proses relevan untuk memenuhi
kebutuhan klien dan menghilangkan langkah-langkah yang pada akhirnya
tidak mengarah pada kepuasan klien atau hasil klien yang diinginkan.
Fokus pada klien ini dapat dicapai dengan mengumpulkan informasi
tentang klien dan kemudian merancang layanan untuk memenuhi
kebutuhan yang ditemukan. Organisasi yang berfokus pada klien
memenuhi kebutuhan dan harapan klien, sehingga memberikan perawatan
berkualitas tinggi. Hal ini mendorong klien untuk kembali saat mereka
membutuhkan perawatan tambahan dan untuk merekomendasikan layanan
kepada orang lain.

2. Fokus pada Sistem dan Proses


Manajemen mutu memandang semua pekerjaan dalam bentuk
proses dan sistem. Sistem adalah pengaturan organisasi, orang, bahan, dan
prosedur yang bersamaan dengan fungsi atau hasil tertentu. Sistem terdiri
dari input, proses, dan output / outcome. Suatu proses didefinisikan sebagai
"urutan langkah-langkah melalui mana masukan dari pemasok diubah
menjadi keluaran bagi pelanggan." Semua proses diarahkan untuk
mencapai satu tujuan atau keluaran dari sistem yang mencakup proses.
3. Fokus pada Pengukuran
Dalam penjaminan mutu, data digunakan untuk menganalisis
proses, mengidentifikasi masalah, menguji solusi, dan mengukur kinerja.
Data penting karena memastikan objektivitas. Misalnya, pengumpulan dan
analisis data memungkinkan kita untuk mengembangkan dan menguji
hipotesis. Membandingkan data dari sebelum dan sesudah perubahan
memungkinkan kami memverifikasi bahwa perubahan tersebut benar-benar
mengarah pada perbaikan.
4. Fokus pada kerja tim
Tim adalah "kelompok tugas berperforma tinggi yang anggotanya
saling bergantung dan memiliki tujuan kinerja bersama" (Francis and
Young 1992). Tim penting untuk Quality Assurance (QA) karena beberapa
alasan. Pertama, proses terdiri dari langkah-langkah saling tergantung yang
dijalankan oleh orang yang berbeda, sehingga kelompok yang bekerja
dalam proses akan lebih mengerti daripada orang lain. Termasuk orang-
orang penting dalam proses perbaikan seringkali melibatkan klarifikasi dan
penggabungan wawasan dan kebutuhan klien ke dalam layanan kesehatan.
Partisipasi pemangku kepentingan utama memperbaiki gagasan yang
dihasilkan, membangun konsensus tentang perubahan, dan mengurangi
hambatan terhadap perubahan. Apalagi, saling mendukung dan kerjasama
timbul dari kerja sama dalam sebuah proyek, yang mengarah pada
peningkatan komitmen terhadap perbaikan. Suasana dukungan semacam itu
membuat orang lain menyalahkan masalah. Akhirnya, prestasi tim sering
meningkatkan kepercayaan diri anggota. Ini memberdayakan staf untuk
bekerja menuju tujuan kualitas dengan memotivasi mereka untuk
menyumbangkan pengetahuan dan keterampilan mereka untuk
meningkatkan kinerja organisasi dan individu.
2.5 Proses Penjaminan Mutu
Poses penjaminan mutu yang baik akan menghasilkan suatu pelayanan
berkualitas tinggi, hanya mungkin dapat dicapai jika terdapat pengendalian
kualitas dalam setiap tahapan dari proses. Dimana dalam setiap tahapan proses
dapat dijamin adanya keterpaduan, kerjasama yang baik antara kelompok
karyawan dengan manajemen, sebagai tanggung jawab bersama untuk
menghasilkan kualitas hasil penjaminan mutu yang baik, sebagai mata rantai
dari suatu proses. Didalam proses penjaminan mutu terdapat sepuluh langkah,
yaitu :
1. Merencanakan Penjaminan Mutu (Planning for quality assurance)
Langkah ini merupakan tahap mempersiapkan sebuah organisasi untuk
melaksanakan kegiatan penjaminan mutu . Perencanaan diawali dengan
meninjau lingkup organisasi untuk menentukan layanan mana yang harus
ditangani.Bagi kebanyakan organisasi, tidak mungkin memperbaiki
kualitas di semua bidang sekaligus. Kegiatan dimulai di beberapa area
kritis. Prioritas tinggi, bervolume tinggi, atau rawan masalah. Begitu
pemimpin organisasi telah memutuskan di mana upaya penjaminan mutu
akan dimulai, mereka harus memilihpendekatan peningkatan kualitas.
Mereka mungkin berfokus pada pemantauan hasil yang diinginkan
atamempelajari proses pemberian layanan dan dukungan untuk
menentukan area perbaikan.Komponen lain dari perencanaan adalah
menugaskan tanggung jawab untuk kegiatan pelayanan mutu. Dimana
diperlukan pembentukan komite penjaminan mutu atau tim ad hoc yang
bertanggung jawab untuk kegiatan penjaminan mutu awal.Dalam sebuah
organisasi yang lemah, perencanaan strategis yang mendalam mungkin
diperlukan. Perencanaan strategisdimulai dengan mendefinisikan misi
organisasi. Langkah selanjutnya adalah menilai peluangdan kendala di
lingkungan eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal organisasi.
Perencanaan strategis menghasilkan visi yang jelas tentang apa yang harus
dilakukan organisasiuntuk mencapai misinya. Organisasi kemudian bisa
menentukan prioritas penjaminan mutu berdasarkan misi dan visi program
2. Menetapkan Standar dan Spesifikasi (Developing guidelines and setting
standards)
Untuk menyediakan layanan berkualitas tinggi secara konsisten,
sebuah organisasi harus memiliki pandangan tentang tujuan dan sasaran
programnya yg disesuaikan dengan prosedur operasional yg telah
ditetapkan. Dalam arti luas, standar adalahpernyataan kualitas yang
diharapkan. Di bawah rubrik standar yang luas ada pedoman praktik atau
protokol klinis, prosedur administratif atau prosedur operasi
standar,spesifikasi produk, dan standar kinerja.
a. Pedoman praktik, kadang-kadang disebut protokol klinis atau
parameter praktik, tentukan bagaimana caranyaProses klinis seperti
perawatan antenatal dilakukan. Pedoman didefinisikan secara
sistematispernyataan yang dikembangkan untuk membantu keputusan
praktisi dan pasien tentang tepatperawatan kesehatan untuk keadaan
klinis tertentu.Prosedur administrasi terkadangdisebut prosedur operasi
standar. Spesifikasibiasanya berkaitan dengan karakteristik produk
atau masukan material seperti obat-obatan atau peralatan teknisterkait
dengan pemberian layanan kesehatan.
b. Standar kinerja adalah kriteria khusus yang digunakan untuk mengukur
hasil pemberian layanandan kegiatan yang mendukungnya. Mereka
juga digunakan untuk mengukur kepatuhan terhadap pedoman.Standar
ini berbeda dengan pedoman atau prosedur operasi standar;
merekadirancang untuk mengevaluasi praktik daripada membantu
praktisi dan pasien. Standar memiliki didefinisikan sebagai pernyataan
berwibawa (1) tingkat minimum kinerja yang dapat diterimaatau hasil,
(2) tingkat kinerja atau hasil yang sangat baik, atau (3) kisaran kinerja
yang dapat diterimaatau hasil.
3. Pedoman dan Standar Berkomunikasi (Communicating standards and
specifications)
Setelah panduan praktik, prosedur operasi standar, dan standar
kinerjatelah didefinisikan, penting bagi anggota staff untuk berkomunikasi
dan mempromosikan penggunaannya. Iniakan memastikan bahwa setiap
petugas kesehatan, supervisor, manajer, dan orang pendukung mengertiapa
yang diharapkan. Hal ini sangat penting jika pelatihan dan supervisi
berlangsungtelah lemah atau jika pedoman dan prosedur baru saja
berubah.Selain itu, upaya penjaminan mutu yang dimulai dengan
pemeriksaan mendadak cenderung menimbulkan kecurigaan daripada
dukungan.Dialogtentang pedoman dan standar dapat dilakukan dalam
konteks pengawasan, pelatihan, atausaluran lainnya. Kegiatan yang
mengkomunikasikan pedoman dan standar termasuk
pengembangandeskripsi pekerjaan, menerjemahkan pedoman kinerja ke
dalam alat bantu pekerjaan, pengembangan dan pelaksanaanprogram
pelatihan, mengadakan konferensi formal atau presentasi informal tentang
prosedur baru,memberikan pelatihan di tempat kerja melalui kegiatan
pengawasan.
4. Kualitas Pemantauan (Monitoring quality)
Pemantauan adalah kegiatan rutin dan menreview data yang ada
untuk membantu menilai apakah program yang dilaksanakan sudah
mengikuti dengan norma danapakah hasil yang ada mengalami
peningkatan. Dengan memantau indikator utama,manajer dan supervisor
dapat menentukan apakah layanan yang disampaikan sesuai dengan yang
ditentukan dan dapat mencapai hasil yang diinginkan.
Merancang (atau mendesain ulang) sistem pemantauan memerlukan
pernyataan yang diharapkankualitas menjadi indikator yang terukur. Ini
juga menuntut penetapan ambang batas kinerja, memilihsumber informasi,
merancang sistem untuk mengumpulkan data dan mengumpulkan hasil,
danmelakukan kegiatan pemantauan.Penting untuk menentukan data mana
yang akan digunakan pada berbagai tingkatan dalam sistem. Sebagai
contoh,seorang supervisor garis depan dapat mengumpulkan banyak
informasi tentang kualitas layanandan pengiriman, namun mungkin hanya
merangkum beberapa informasi ini untuk manajer tingkat tinggi.
Umumnya, semua jajaran staf harus dilibatkan dalam merancang sistem
pemantauan sehinggasetiap orang menerima semua informasi yang
diperlukan
5. Mengidentifikasi Masalah dan Memilih Peluang untuk Perbaikan
(Identifying problems and selecting opportunities for improvement )
Manajer program dapat mengidentifikasi peluang peningkatan
kualitas dengan memantau dan mengevaluasikegiatan. Dengan sistem
pemantauan yang efektif, program kesehatan dapat melakukan komunitas
khususatau survei pasien atau penilaian komprehensif seperti analisis
sistem PRICOR IImetodologi.Studi ini menyoroti masalah pemberian
layanan spesifik yang memerlukan perhatian.Cara lain termasuk meminta
saran dari petugas kesehatan, melakukan systemanalisis proses, meninjau
umpan balik atau keluhan pasien, dan menghasilkan gagasan
melaluibrainstorming atau teknik kelompok lainnya. Mempekerjakan
pendekatan partisipatif terhadap masalah. Identifikasi menawarkan
beberapa keuntungan. Pertama, kualitas penilaian dan pendahuluanAnalisis
cenderung lebih unggul karena mereka yang terlibat langsung dengan
prosesberpartisipasi. Kedua, anggota staf lebih cenderung berkontribusi
dan bekerja sama jikamereka terlibat dalam mengidentifikasi
masalah.Begitu tim fasilitas kesehatan telah mengidentifikasi beberapa
masalah, sebaiknya timbangkan peningkatan kualitas prioritas dengan
memilih satu atau dua bidang masalah yang menjadi fokus. Kriteria
seleksiakan bervariasi dari satu program ke program lainnya. Dua prinsip
penting harus memandu proses ini. ItuKriteria harus mencerminkan
prioritas tim, bukan individu, prioritas. Mereka juga harus eksplisit
sehinggaProses pengambilan keputusan itu seobjektif dan mungkin
seutuhnya. Kriteria mungkin termasukKelayakan teknis untuk mengatasi
masalah ini, dampak potensial perbaikankualitas kesehatan penduduk, atau
kecukupan sumber daya yang dibutuhkan.
6. Mendefinisikan Masalah (Defining the problem operationally)
Setelah memilih sebuah masalah, tim harus mendefinisikannya
secara operasional - sebagai celah antara actualkinerja dan kinerja seperti
yang ditentukan oleh pedoman dan standar. Pernyataan masalahharus
mengidentifikasi masalah dan bagaimana ia memanifestasikan dirinya. Ini
harus dengan jelas menyatakan di manamasalah dimulai dan berakhir, dan
bagaimana mengenali saat masalah terpecahkan. Mengembangkansebuah
pernyataan masalah adalah langkah penting dalam proses penjaminan
mutu, dan kesederhanaannya yang jelas menipu.Seringkali, rumusan awal
suatu masalah hanya akan mencakup penyebab masalah.
7. Memilih Tim (Choosing a team)
Begitu staf fasilitas kesehatan menggunakan pendekatan partisipatif
untuk memilih dan menentukan Masalahnya, harus menetapkan tim kecil
untuk mengatasi masalah spesifik. Tim akan menganalis masalahnya,
kembangkan rencana peningkatan kualitas, dan implementasikan dan
evaluasi kualitasnya.Upaya perbaikan Tim harus terdiri dari orang-orang
yang terlibat, berkontribusiatau sumber daya untuk, dan / atau
mendapatkan keuntungan dari aktivitas atau aktivitas di mana masalahnya
terjadi.
8. Menganalisis dan Mempelajari Masalah untuk Mengidentifikasi Akar
(Analyzing and studying the problem to identify its root causes)
Mencapai upaya peningkatan kualitas yang berarti dan
berkesinambungan bergantung pada pemahamanmasalah dan akar
masalahnya. Mengingat kompleksnya penyampaian layanan kesehatan,
jelasMengidentifikasi akar penyebab memerlukan analisis yang sistematis
dan mendalam. Alat analisis seperti system pemodelan, diagram alir, dan
diagram sebab-akibat dapat digunakan untuk menganalisis suatu
prosesatau masalah.Alat analisis saja tidak akan selalu memberikan
informasi yang cukup. Tim pemecahan masalahmungkin perlu melakukan
pemeriksaan mendalam. Studi semacam itu dapat didasarkan pada catatan
klinisreview, data register kesehatan, wawancara staf atau pasien,
pengamatan pemberian layanan.
9. Mengembangkan Solusi dan Tindakan untuk Peningkatan Mutu
(Developing solutions and actions for improvement)
Tim pemecahan masalah sekarang harus siap untuk
mengembangkan dan mengevaluasi solusi potensial. Kecuali prosedur
yang dimaksud adalah tanggung jawab individual, solusi yang
berkembang harus merupakan upaya tim. Mungkin perlu melibatkan
personil yang bertanggung jawab atas proses yang terkait dengan akar
permasalahan.
Solusi untuk masalah kualitas atau peningkatan kualitas dapat
dilakukan dalam beberapa bentuk. Solusi mungkin sangat mudah:
mungkin sesederhana mengingatkan staf tentang pedoman klinis melalui
pengawasan atau pelatihan in-service yang terfokus. Solusi juga bisa
berupa bantuan pekerjaan seperti grafik dinding dan daftar periksa.
Mereka menjadi bagian dari proses yang memberikan informasi dan
pemeriksaan pada titik pemberian layanan, sehingga mengurangi
kesalahan atau variasi. Seringkali, solusi dan perbaikan berakar pada
sistem manajemen yang terkait dengan pengawasan, pelatihan, dan
logistik.
Tim pemecahan masalah didorong untuk berpikir kreatif dan
menghasilkan berbagai pilihan solusi. Pilihan di antara solusi potensial
harus didasarkan pada pemeriksaan pilihan potensi biaya dan efektivitas. 20
Tim dapat menggunakan teknik seperti beberapa kriteria penilaian utilitas
atau multivoting untuk membantu mereka dalam mengevaluasi solusi dan
membuat keputusan. Tim juga harus mengukur potensi oposisi terhadap
perubahan dan mengembangkan rencana untuk meminimalkan hambatan.
10. Melaksanakan dan Mengevaluasi Upaya Peningkatan Mutu
(Implementing and evaluating quality improvement efforts)
Menerapkan peningkatan kualitas membutuhkan perencanaan
yang matang. Tim harus menentukan sumber daya dan kerangka waktu
yang diperlukan dan memutuskan siapa yang akan bertanggung jawab
untuk implementasi. Ini juga harus memutuskan apakah implementasi
harus dimulai dengan uji coba di area terbatas atau harus diluncurkan
dalam skala yang lebih besar. Sebuah proyek percontohan layak jika
solusinya membutuhkan sumber daya yang substansial atau jika ada
ketidakpastian yang cukup besar tentang keefektifan solusi tersebut.
Tim harus memilih indikator untuk mengevaluasi apakah solusi
tersebut diterapkan dengan benar dan apakah masalah tersebut
diselesaikan dengan masalah yang dirancang untuk ditangani.
Pemantauan mendalam harus dimulai saat rencana peningkatan kualitas
diterapkan. Ini harus berlanjut sampai solusi tersebut terbukti efektif dan
berkelanjutan, atau solusinya terbukti tidak efektif dan ditinggalkan atau
dimodifikasi. Bila solusi efektif, tim harus terus memantau secara
terbatas. Tim harus memodifikasi solusi sesuai kebutuhan dan harus
sepenuhnya mendokumentasikan hasil dan pelajaran yang dipetik.
Begitu solusinya terbukti efektif, manajer program harus
mengkodifikasi dan menyebarkan proses baru sehingga orang lain dapat
belajar dari pengalaman. Tim QA juga harus membuat rencana untuk
mengidentifikasi masalah baru, baik melalui proses tim atau melalui data
yang dihasilkan oleh sistem pemantauan yang ada. Tim kemudian dapat
mengulangi siklus peningkatan kualitas
2.6 Keterkaitan Fungsi Rumah Sakit dengan Penjaminan Mutu
A. Fungsi dari Rumah Sakit.
1. Patient care (Pelayanan): Merupakan fungsi utama (fungsi kuratif)
mengacu pada jenis perawatan apa pun yang diberikan kepada pasien oleh
anggota tim kesehatan, mis. Dokter, Perawat, Terapis Fisik, Ahli Diet, dll.
termasuk pengajaran kesehatan kepada pasien.
2. Health Personnel Education (Pendidikan): Merupakan fungsi sekunder
(fungsi pendidikan). Mengacu pada pendidikan tenaga profesional dan
teknis yang menyediakan layanan kesehatan, mis. Dokter, Perawat, Dokter
Gigi, Terapis, Teknisi, dll.
3. Health Related Research (Penelitian): Fungsi sekunder (Fungsi penelitian)
Penelitian yang berfokus pada peningkatan kesehatan dan / atau
pencegahan penyakit.
4. Generate essential information: Berhubungan dengan menghasilkan
Informasi penting.
B. Keterkaitan fungsi Rumah Sakit dan Quality Assurance.
Kaitan Fungsi dengan Quality
No Fungsi Rumah Sakit
Assurance

1 Patient care Mengacu pada jenis perawatan apa


pun yang diberikan kepada pasien
oleh anggota tim kesehatan. Quality
Assurance dapat menjaga kualitas
pelayanan yang diberikan kepada
pasien dengan cara selalu
memonitoring dan mengevaluasi
kualitas pelayanan. Sehingga
memberikan rasa puas kepada pasien.

2 Health Personnel Mengacu pada pendidikan tenaga


Education profesional dan teknis yang
menyediakan layanan kesehatan.
Apabila tenaga kesehatan yang
terlibat dalam pelayanan kesehatan
adalah tenaga yang ahli dan
profesional di bidangnya, maka akan
membantu kelancaran pelayanan
kesehatan. Maka tentunya tenaga
kesehatan tersebut dapat memberikan
pelayanan terbaik serta dapat
membantu peningkatan kualitas
pelayanan Rumah Sakit.

3 Health Related Research Berfokus pada peningkatan kesehatan


dan / atau pencegahan penyakit.
Quality Assurance dapat menganalisis
masalah-masalah di Rumah Sakit
yang harus diteliti dan mencari solusi
untuk mengatasinya. Serta mampu
menciptakan teknologi pengobatan
terbaru.

4 Generate Quality Assurance dapat membantu


essential memudahkan dalam hal memberikan
information informasi-informasi yang dibutuhkan
baik untuk pasien maupun petugas
pelayanan kesehatan.

2.7 Keterkaitan Penjaminan Mutu dengan Keselamatan Pasien


A. Definisi Keselamatan Pasien
Definisi paling sederhana tentang keselamatan pasien adalah
pencegahan kesalahan dan efek buruk pada pasien yang terkait dengan
perawatan kesehatan. Perawatan kesehatan menjadi lebih efektif dan menjadi
lebih kompleks, dengan penggunaan teknologi, obat-obatan dan perawatan
yang lebih baru. Peristiwa yang tidak diharapkan dan tidak diinginkan dapat
terjadi dalam situasi dimana perawatan kesehatan diberikan (perawatan
primer, sekunder dan tersier, perawatan masyarakat, perawatan sosial dan
pribadi, perawatan akut dan kronis). Keselamatan merupakan bagian dari
agenda mutu dan oleh karena itu merupakan dimensi budaya mutu, yang
membutuhkan komitmen luas baik dari organisasi maupun masyarakat.
B. Keterkaitan Penjaminan Mutu dengan Keselamatan Pasien
Powell (2004) menyatakan bahwa budaya keselamatan merupakan
faktor dominan dalam upaya keberhasilan keselamatan dan kunci bagi
terwujudnya pelayanan yang bermutu dan aman. Kedisiplinan, ketaatan
terhadap standar, prosedur dan protokol, bekerja dalam tim, kejujuran,
keterbukaan, saling menghargai adalah nilai dasar yang harus dijunjung
tinggi. Keselamatan pasien merupakan langkah kritis pertama untuk
memperbaiki kualitas pelayanan. Semakin tinggi keselamatan pasien maka
semakin baik mutu suatu rumah sakit, ketika pasien terkena insiden maka
akan beralih ke rumah sakit lain, keselamatan pasien dan mutu rumah sakit
berkorelasi positif. Semakin meningkatnya manajemen keselamatan pasien
yang terwujud dalam menurunnya tingkat insiden maka dapat dikatakan
semakin baik pula mutu pelayanan di instansi pelayanan kesehatan.
Patient safety merupakan bagian dari mutu, dan keselamatan
merupakan sasaran yang paling dapat dirasakan oleh pasien. Pelayanan yang
bermutu sudah pasti tidak akan menciderai pasien. Layanan bermutu sudah
pasti aman. Sebaliknya, layanan yang aman belum tentu bermutu dan bebas
dari kesalahan. Pelayanan kesehatan harus dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat dan juga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Semua
itu dapat terpenuhi jika pelayanan kesehatan mempunyai mutu pelayanan
yang optimal. Oleh karena itu perlu adanya peningkatan mutu pelayanan
kesehatan. Jaminan mutu pelayanan kesehatan yang baik tidak terlepas dari
profesionalisme rumah sakit dalam pengelolaannya. Layanan kesehatan yang
bermutu akan membuat organisasi layanan kesehatan menjadi terhormat,
terkenal dan selalu dicari oleh siapa yang membutuhkan layanan kesehatan
yang bermutu serta menjadi tempat kerja idaman bagi profesi layanan yang
kompeten yang berperilaku terhormat. Mutu pelayanan yang bermutu juga
akan memperhatikan outcomes layanan kesehatan benar benar bermanfaat
bagi klien. Penerapan patient safety dapat mempengaruhi mutu pelayanan
rumah sakit, hal ini dikarenakan keselamatan pasien (Patient Safety) adalah
suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Karena
pelayanan yang bermutu sudah pasti tidak akan menciderai pasien, layanan
yang bermutu sudah pasti aman.
BAB III

KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

Indrawati, Anugrah L., dkk, 2017. “Dasar Administrasi Rumah Sakit Dan Puskesmas
Penjaminan Mutu”. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Airlangga Surabaya.