Anda di halaman 1dari 75

AKUSTIK DAN NOISE DALAM BANGUNAN DAN

LINGKUNGAN LUAR

MATA KULIAH : SAIN DAN UTILITAS BANGUNAN 1


DOSEN KOORDINATOR : I Nyoman Susanta, ST., M.Erg.
DOSEN PENGAJAR : Made Wina Satria, ST., MT.

Disusun oleh :

I Putu Dimas Adijayantara 1805521014


Ni Luh Putu Dean Novithayanti 1805521015
A.A. Ngr Bagus Tresna Wibawa 1805521087
I Gede Didik Abimayu 1805521091
I Komang Ari Satya Wiguna 1805521095

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
BALI
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
limpahan berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun dan
menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang
Sistem Akustik dan Noise dalam Bangunan dan Lingkungan Luar
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapatkan tantangan
dan hambatan, akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu dapat
teratasi sehingga tugas ini dapat terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu,
penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga mendapat balasan
yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik
dari bentuk penyusunan, kelengkapan materi maupun kejelasan dalam penyadian
materi. Penulis meminta maaf apabila terdapat kekurangan tersebut pada makalah
ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Denpasar, 12 Februari 2020

Tim Penulis.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................i

DAFTAR ISI .......................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ....................................................................................1

1.2. Rumusan Masalah...............................................................................2

1.3. Tujuan .................................................................................................2

1.4. Manfaat ...............................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Akustik pada Bangunan .....................................................................4

2.2. Fungsi Akustik pada Bangunan ..........................................................10

2.3. Pengertian Noise dan Akustik ............................................................12

2.4. Noise dan Akustik Dalam Ruangan ....................................................13

2.4.1. Sistem Noise dan Akustik Dalam Ruangan ..............................15

2.4.2. Komponen Noise dan Akustik Dalam Ruangan .......................19

2.4.3. Layout Noise dan Akustik Dalam Ruangan .............................31

2.4.4. Kapasitas Noise dan Akustik Dalam Ruangan .........................42

2.5. Nosie dan Akustik Luar Ruangan .......................................................46

2.5.1. Sistem Noise dan Akustik Luar Ruangan .................................55

2.5.2. Komponen Noise dan Akustik Luar Ruangan ..........................60

2.5.3. Layout Noise dan Akustik Luar Ruangan ................................62

2.5.4. Kapasitas Noise dan Akustik Luar Ruangan ............................65

ii
BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan ...........................................................................................70

3.2. Saran .....................................................................................................70

DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................71

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kenyamanan suatu ruang dapat dilihat dari beberapa tolak ukur salah satunya
adalah dari tingkat kebisingan dalam ruangan tersebut. Noise atau kebisingan
merupakan suara-suara yang dapat menganggu atau menginterupsi sebuah kegiatan
yang berlangsung di dalam ruangan tersebut yang berasal dari berbagai sumber.
Seiring bertambahnya populasi manusia, semakin banyak faktor kebisingan yang
tidak dapat dihindari contohnya suara kendaraan, suara pekerjaan konstruksi, suara
manusia berbicara, dan lain-lain. Masalah ini dapat secara langsung dan tidak
langsung mempengaruhi manusia dari segi produktivitas, kenyamanan dan
kesehatan. Untuk mengurangi noise yang berasal baik dari luar ruangan maupun luar
bangunan, diperlukan bahan atau material yang tepat untuk mengurangi suara-suara
tersebut.

Sistem utilitas bangunan adalah suatu kelengkapan fasilitas bangunan yang


digunakan untuk menunjang tercapainya unsur – unsur kenyamanan, kesehatan,
keselamatan, kemudian komunikasi dan mobilitas dalam bangunan. Maka sebagai
arsitek merupakan suatu kewajiban untuk memahami dan mengerti sistem utilitas
yang tepat untuk diaplikasikan pada suatu bangunan sehingga tidak hanya memenuhi
fungsi serta memperhatikan nilai estetika, namun juga dapat mewujudkan unsur-
unsur tersebut dalam kaitannya dengan fungsi bangunan yang dirancang.

Sistem utilitas bangunan terdiri dari berbagai macam fasilitas utilitas, salah
satunya adalah sistem akustik dan noise. Sistem akustik adalah ilmu yang
mempelajari tentang mutu suara dan bunyi yang dihasilkan. Akustik sendiri
berhubungan dengan organ pendengar, suara, atau ilmu bunyi.

Akustik merupakan salah satu aspek yang penting bagi ruangan maupun
bangunan. Dengan adanya penggunaan material akustik pada interior dan eksterior
bangunan pengguna dapat berfokus pada suara-suara yang penting dan
meminimalisir suara-suara yang menganggu. Lingkungan akustik yang berada di
dalam dan sekitar bangunan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berhubungan dan

1
saling bergantung dengan proses desain, perencanaan dan konstruksi bangunan
tersebut. Sejak awal dari semua pengembangan sebuah bangunan, pemilihan site,
penempatan bangunan dalam site, dan pengaturan ruang antara bangunan di dalam
site bisa, dan seringkali mempengaruhi seberapa banyaknya masalah akustik yang
terlibat. Dengan pengertian dasar prinsip akustik, masalah kebisingan dapat
dihindari secara keseluruhan atau dapat ditindaklanjuti dari awal proses perancangan
sehingga dapat mengurangi pengeluaran tambahan daripada setelah bangunan sudah
selesai dan sudah ditempati. Sehingga penggunaan akustik lebih diperhatikan karena
sangat diperlukan bukan hanya di bangunan komersil namun merambah pada
bangunan-bangunan secara umum.

Sistem akustik pada dasarnya dibutuhkan di semua bangunan namun dengan


kebutuhan yang berbeda-beda tergantung dengan kebutuhan akan ketenangan dari
bangunan itu sendiri. Untuk lebih jelasnya mengenai pengertian, penerapan dan
penanggulangan kebisingan dari sitem akustik, penulis akan memaparkan materi
tersebut dalam makalah berjudul “Sistem Akustik dan Noise”.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan pemaparan dalam latar belakang, rumusan masalah yang
berkaitan dengan materi tersebut adalah sebagai berikut.
 Apa pengertian dari akustik dan kebisingan itu sendiri ?
 Bagaimana sistem akustika pada dalam ruangan ?
 Bagaimana sistem akustika pada luar ruangan ?
 Bagaimana contoh penerapan sistem akustik pada bangunan?

1.3 TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini antara lain adalah sebagai berikut.
 Untuk mengetahui sistem akustik pada bangunan dan asas penanggulangan
kebisingan
 Untuk mengetahui bagaimana sistem akustika pada luardan dalam ruangan
 Untuk mengetahui bagaimana contoh penerapan sistem akustik pada
bangunan

2
1.4 MANFAAT

 Bagi mahasiswa
Agar mahasiswa lebih memahami cara kerja, jenis darisistem akustik dan
bagaimana cara penanggulangan kebisingan yang masuk ke dalam bangunan
sehingga nantinya hasil pemaparan dapat diaplikasikan dengan baik saat
proses mendesain.

 Bagi masyarakat
Agar masyarakat tidak hanya sekedar mengetahui jenisnya, tetapi juga
memahami hal-hal terkait sistem akustik dan noise.

3
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. AKUSTIK PADA BANGUNAN

Akustik pada bangunan pada umumnya dikaitkan dengan bunyi atau suara.
Hal itu sejalan dengan pendapat Shadily (1987:8) yang mengatakan bahwa akustik
berasal dari kata dalam bahasa Inggris :acoustics, yang berarti ilmu suara atau ilmu
bunyi, hal itu juga diutarakan Halme (1990:12) yang menyebutkan Acoustics is a
science and the first consideration to get a comfortable sound environment, bahwa
akustik merupakan suatu ilmu dan merupakan pertimbangan pertama untuk
mendapatkan lingkungan suara yang nyaman.

Pendapat-pendapat tersebut menyebutkan bahwa penataan keakustikan


sangatlah penting dalam mendesain bangunan khususnya ruang, karena pengaturan
keakustikan tersebut sangat berpengaruh terhadap kenyamanan dan emosional
seseorang yang berinteraksi langsung. Jika kita dapat membuat akustik berinteraksi
baik dengan civitas, hal itu bisa menjadi modal unsur penunjang terhadap
keberhasilan desain yang baik karena pengaruhnya sangat luas dan dapat
menimbulkan efek-efek fisik dan emosional dalam ruang sehingga seseorang akan
mampu merasakan kesan-kesan tertentu.

Perilaku bunyi terhadap ruangan berperan penting didalam sistem akustik


karena perilaku bunyi ini mempunyai interaksi dengan civitas yang beraktifitas
didalamnya. Berdasarkan sumber yang didapat dari http://Acoustics.com bunyi di
dalam ruang tertutup (enclosed space) memiliki perilaku (behaviour) tertentu jika
menumbuk dinding-dinding dari ruang tertutup tersebut yakni energinya akan
dipantulkan (reflected), diserap (absorbed), disebarkan (diffused), atau dibelokkan
(diffracted) tergantung pada sifat akustik dindingnya.

Pengendalian kualitas bunyi di dalam ruang dengan mempertimbangkan detil


perancangan ruang dan penggunaan material khusus seyogyanya di awali dengan
pemahaman akan perilkau perambatan bunyi di dalam ruang. Pada ruang terbuka,
bunyi yang di hasilkan suatu sumber bunyi yang bergetar akan merambat ke segala
arah. Perambatan bunyi ke segala arah ini dapat di umpamakan sebagai sebuah bola.

4
Posisi sumber bunyi di umpamakan sebagai pusat bola dan arah perambatan dengan
jarak tertentu dari pusat bola adalah jari-jari bola. Semakin kuat bunyi yang di
hasilkan oleh sumber bunyi, semakin besar volume bola yang terjadi. Semakin
mendekati kulit bola, kekuatan bunyi semakin lemah. Sebaliknya, semakin
mendekati pusat bola, bunyi semakin kuat. Singkatnya, pada ruang terbuka, semakin
jauh jarak seseorang dari sumber bunyi, semakin lemah tingkat keras bunyi ynag
dapat di dengarkan. Sementara itu keadaan di dalam ruangan tidak selalu demikian.
Ada kalanya pendengar pada jarak yang lebih jauh dari sumber bunyi justru
mendengar bunyi lebih keras dari pendengar yang jaraknya lebih dekat. Hal ini
karena terjadinya perkuatan bunyi oleh elemen-elemen yang membatasi ruangan.

Proses perambatan gelombang bunyi pada ruang tertutup tidak sama dengan
yang terjadi pada ruang terbuka. Bidang-bidang yang membatasi ruangan, seperti
dinding, lantai dan plafon menyebabkan proses perambatan gelombang bunyi ke
segala arah mengalami pembatasan. Bergantung pada karakteristik bidang pembatas
dan jenis frekuensi bunyi yang terjadi, maka bunyi yang merambat di dalam runag
akan mengalami berbagai peristiwa, seperti pemantulan (refleksi), pemantulan
menyebar (difusi), penyerapan (absorpsi), pembelokan (difraksi), dan pembiasan
(refraksi) seperti di paparkan berikut ini.

Sebelum mempelajari lebih mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika


gelombang bunyi merambat di dalam ruangan, terlebih dahulu harus memahami cara
perambatan gelombang bunyi itu sendiri. Kita mengenal tiga wujud benda, yaitu gas
gas, cair dan padat. Ketiga wujud inilah yang menjadi perantara merambatnya
gelombang bunyi dari sumber ke penerima. Namun demikian karena secara umum
kehidupan manusia tidak dilingkupi oleh dzat cair maka perambatan gelombang
bunyi melalui dzat cair tidak akan dibahas lebih lanjut. Udara adalah medium
perambatan gelombang bunyi yang paling banyak kita jumpai dalam kehidupan
sehari-hari. Perambatan gelombang bunyi melalui udara disebut perambatan secara
airborne, yaitu ketika getaran yang dialami sumber bunyi menyentuh molekul –
molekul udara yang ada disekitarnya. Saat getaran molekul udara terus berjalan dan
mengenai bidang pembatas yang terbuat dari dzat padat, maka bergantung pada
karakteristik bidang pembatas dan kekuatan bunyi yang merambat, dimungkinkan
molekul udara menyentuh dan menggetarkan molekul yang menyusun dzat padat

5
pembatas. Bila molekul bidang pembatas juga ikut bergetar maka akan terjadi
perambatan yang disebut perambatan secara struktureborne.

Istilah strukture pada ulasan ini tidak selalu sebagai sruktur bangunan namun
dapat di anggap perambatan bunyi melalui zat padat

Gambar 2.1 Perambatan secara struktureborne


Sumber: Buku Material Akustik

Dapat contoh-contoh yang dikemukakan sebelumnya sumber bunyi berada


jarak tertentu dari benda (dapat di anggap berada di udara / tidak menempel pada
benda padat) sangat di mungkinkan kita juga menjumpai keadaan ketika sumber
bunyi berada pada / mengenai benda padat tersebut. Sebagai contoh petukan palu
pada dinding atau langkah kaki yang menghentak hentak lantai. Sumber bunyi
semacam ini di sebut impact sound (gambar empat titik dua). bergantung pada
tingkat kekuatan sumber bunyi dan krakteristik bidang pembataas, penambatan
gelombang bunyi dapat mengalami perubahan, dari perambatan secara airborne
menjadi stuctureborne (Gambar 4.1). istilah structure pada ulasan ini tidak selalu
diartikan sebagai struktur bangunan, namun dapat dianggap sebagai perambatan
bunyi melalui zat padat.

6
Pada contoh – contoh yang dikemukakan sebelumnya sumber bunyi berada
pada jarak tertentu dari benda padat (dapat dianggap berada diudara/ tidak menempel
pada benda padat). Sangat dimungkinkan kita juga menjumpai keadaan ketika
sumber bunyi berada pada/ mengenai benda padat tersebut. Sumber bunyi malam ini
disebut impact sound (Gambar 4.2). bergantung pada tingkat kekuatan sumber bunyi
dan karakteristik bidang pembatas, perambatan gelombang bunyi dapat mengalami
perubahan, dan perambatan secara airborne menjadi structureborne, kemudian
menjadi airborne lagi, atau sebaliknya (Gambar 4.1). Secara umum perambatan
secara airborne dapat diredam oleh material dengan kemampuan redam lebih redah
dibandingkan tingkat redaman yang dibutuhkan untuk menahan bunyi yang
merambat secara structureborne (McMullan, 1992).

Pada perambatan secara structureborne, sangat dimungkinkan bunyi


merambat secara merayap disepanjang pembatasan untuk berubah menjadi
perambatan secara airborne. Perambatan semacam ini sangat dipengaruhi oleh
keberadaan celah atau homogenitas kerapatan material yang rendah (ada bagian
material yang lebih rapat dan ada yang lebih renggang) dan disebut sebagai flanking
transmission (Gambar 4.3). perambatan secara flanking dapat dikurangi dengan
penggunaan material bangunan yang berbeda – beda.

Gambar 2.2 Flanking transmission


Sumber: Buku Material Akustik

7
a. Refleksi Bunyi (Pemantulan Bunyi)

Bunyi akan memantul apabila menabrak beberapa permukaan sebelum


sampai ke pendengar sebagaimana pendapat Mills(1986: 27): Reflected sound strikes
a surface or several surfaces before reaching the receiver. Pemantulan dapat
diakibatkan oleh bentuk ruang maupun bahan pelapis permukaannya. Permukaan
pemantul yang cembung akan menyebarkan gelombang bunyi sebaliknya
permukaan yang cekung seperti bentuk dome (kubah) dan permukaan yang lengkung
menyebabkan pemantulan bunyi yang mengumpul dan tidak menyebar sehingga
terjadi pemusatan bunyi.

Permukaan cembung Permukaan cekung

Sumber
bunyi

Pemantulan suara ke langit-langit


Gambar 1. 1 (Sumber :1990,Doelle)

Gambar 2.3 Flanking transmission


Sumber: Buku Material Akustik

Permukaan penyerap bunyi dapat membantu menghilangkan permasalahan


gema maupun pemantulan yang berlebihan.

b. Absorbsi Bunyi (Penyerapan Bunyi)

Saat bunyi menabrak permukaan yang lembut dan berpori maka bunyi akan
terserap olehnya (Doelle, 1990:26) sehingga permukaan tersebut disebut penyerap
bunyi. Bahan-bahan tersebut menyerap bunyi sampai batas tertentu, tapi
pengendalian akustik yang baik membutuhkan penyerapan bunyi yang tinggi.
Adapun yang menunjang penyerapan bunyi adalah lapisan permukaan dinding,

8
lantai, langit-langit, isi ruang seperti penonton dan bahan tirai, tempat duduk dengan
lapisan lunak, karpet serta udara dalam ruang.

Gambar 2.4 Penerapan Bunyi terhadap Bidang


Sumber: archmaxter.blogspot.com

c. Diffusi Bunyi (Penyebaran Bunyi)

Bunyi dapat menyebar ke atas, ke bawah maupun ke sekeliling ruangan.


Suara juga dapat berjalan menembus saluran, pipa atau koridor.ke semua arah di
dalam ruang tertutup. Seperti yang dikutip dalam Acoustic.com: Sound can flank
over, under, or around a wall. Sound can also travel through common ductwork,
plumbing or corridors.

Gambar 2.5 Difusi Bunyi


Sumber: archmaxter.blogspot.com

9
d. Difraksi Bunyi (Pembelokan Bunyi)

Difraksi bunyi merupakan gejala akustik yang menyebabkan gelombang


bunyi dibelokkan atau dihamburkan di sekitar penghalang seperti sudut (corner),
kolom, tembok dan balok.

2.2. FUNGSI AKUSTIK PADA BANGUNAN

Arsitektur sekarang berfungsi lebih dari sekedar menyediakan ruang dan


perlindungan bagi penghuninya terhadap penyimpangan termal, atmosfir, cahaya,
dan bunyi yang berasal dari lingkungan luar. Pengendalian bising saat ini dapat
menciptakan lingkungan buatan yang rumit dalam bangunan-bangunan yang telah
memenuhi semua persyaratan fisik, fisiologis dan psikologis penghuni-
penghuninya. Lingkungan buatan yang dapat dikondisikan dan dikendalikan dalam
banyak hal lebih unggul dibanding suasana luar. Dengan begitu, lingkungan dengan
bunyi/akustik yang terkendali pastinya juga lebih unggul.

Akustik lingkungan, atau pengendalian bunyi secara arsitektural, merupakan


suatu cabang pengendalian lingkungan dalam ruang-ruang arsitektural. Ia bisa
menciptakan lingkungan dimana kondisi mendengar secara ideal disediakan.
mempunyai dua sasaran: (1) Menyediakan keadaan yang paling disukai untuk
produksi, perambatan, dan penerimaan bunyi yang diinginkan (pembicaraan atau
musik) di dalam ruang yang digunakan untuk macam-macam tujuan mendengar,
atau di udara terbuka. Bidang pengendalian bising ini, disebut akustik ruang. (2)
Peniadaan atau pengurangan bising bunyi yang tidak diinginkan) dan getaran dalam
jumlah yang cukup. Ini disebut pengendalian bising.

Prinsip utama desain akustik ruang dalam adalah memperkuat atau


mengarahkan bunyi yang berguna serta menghilangkan atau memperlemah bunyi
yang tidak berguna untuk pendengaran manusia. Dengan demikian, dalam
mendesain interior tempat-tempat berkumpul yang berfungsi untuk menampung
orang banyak seperti gedung pertunjukan, gedung bioskop, gedung parlemen,
gedung sidang, perlu memperhatikan karakter masing-masing akustiknya.

10
Akustik yang baik dalam gedung auditorium dipengaruhi oleh faktor-faktor
objektif dan subjektif. Desain yang mempengaruhi kualitas karakter akustik adalah
dimensi, dimana dipengaruhi oleh kapasitas maksimum penonton dan bentuk yang
diciptakan oleh lantai, dinding dan plafon, serta sifat bidang penutup interior yang
absorbtif atau reflektif. Bentuk dan dimensi ruang dalam ternyata merupakan unsur-
unsur yang paling penting untuk dapat memperkaya karakter akustik suatu ruang,
yaitu dalam menghasilkan pantulan bunyi yang berguna bagi karakter akustik suatu
auditorium.

Pada problema akustik yang kompleks, solusinya tidak mudah serta


membutuhkan kerjasama dengan para pakar akustik. Namun, dengan mengetahui
prinsip - prinsip akustik auditorium yang sederhana, maka hal ini dapat memberi
keyakinan bagi para perancang untuk tidak melakukan kesalahan yang fatal dalam
mendesain interior sebuah gedung auditorium.

Dalam merancang ruang untuk bermacam-macam tujuan, sang arsitek akan


paling sering menemui masalah-masalah akustik yang berhubungan dengan ruang
tertutup. Perambatan dan sifat gelombang bunyi dalam ruang tertutup lebih sulit
daripada di udara terbuka. Untuk mengikuti jejak yang agak rumit dari gelombang
bunyi yang hanya satu saja di dalam suatu ruang, dibutuhkan pengalaman dan daya
untuk membayangkannya.

Mempelajari kelakuan gelombang bunyi dalam suatu ruang dapat disederhanakan


bila lapisan-lapisan perapatan dan peregangan yang memancar ke luar diganti oleh
sinar bunyi khayal, yang tegak lurus pada muka gelombang yang bergerak maju.
Sinar ini merambat dalam garis-garis lurus pada tiap arah di dalam ruang, seperti
halnya berkas cahaya dalam optika. Pendekatan semacam ini dalam akustik
arsitektur, yang menyamakan kelakuan gelombang bunyi dengan kelakuan sinar
cahaya, disebut akustik geometrik. Gambar dibawah menunjukkan apa yang terjadi
bila gelombang bunyi menumbuk dinding-dinding suatu ruang. Sebagian energinya

11
akan dipantulkan, diserap, disebarkan, dibelokkan atau ditransmisikan ke ruang yang
berdampingan, tergantung pada sifat akustik dindingnya.

Gambar 2.6 : Kelakuan bunyi


dalam ruang tertutup, (1) bunyi
datang atau langsung; (2) bunyi
pantul; (3) bunyi yang diserap
oleh lapisan permukaan; (4)
bunyi difus atau yang disebar;
(5) bunyi difraksi atau yang
dibelokkan; (6) bunyi yang
ditransmisi; (7) bunyi yang
hilang dalam struktur
bangunan; (8) bunyi yang
dirambatkan oleh struktur
bangunan

2.3. PENGERTIAN AKUSTIK DAN NOISE

Akustik ( dari bahasa Yunani akouein = mendengar) adalah ilmu terapan yang
dimaksudkan untuk memanjakan indra pendengaran Anda di suatu ruang tertutup
terutama yang relatif besar.Arsitek Romawi dari abad ke 1 Marcus Pollio sudah
mulai melakukan pengamatan cermat tentang gema dan interferensi (getaran-getaran
suara asli dan getaran pantulan yang saling menghilangkan) dari suatu ruangan.
Namun baru pada tahun 1856 akustik ini mulai dibangun sebagai suatu ilmu oleh
Joseph Henry dan akhirnya dikembangkan penuh oleh Wallace Sabine di tahun
1900. Keduanya adalah fisikawan Amerika. Namun sayangnya kecenderungan
sampai saat ini dinegara kita nampaknya menunjukan bahwa kecuali pada ruangan
ruangan khusus seperti untuk ruang konsert, studio rekaman atau panggung teater,
rancangan akustik umumnya diabaikan. Padahal di ruang manapun , bagi orang-
orang yang indra pendengarannya sensitif, berada diruang yang berakustik buruk
merupakan siksaan

Derau atau yang biasa disebut noise adalah suatu sinyal gangguan yang
bersifat akustik (suara), elektris, maupun elektronis yang hadir dalam suatu sistem

12
(rangkaian listrik/ elektronika) dalam bentuk gangguan yang bukan merupakan
sinyal yang diinginkan. Sumber derau dapat dikelompokkan dalam tiga kategori
yaitu sumber derau intrinsic yang muncul dari fluktuasi acak di dalam suatu
sistemfisik seperti thermal dan shot noise, sumber derau buatan manusia seperti
motor, switch, elektronika digital, derau karena gangguan alamiah seperti petir dan
bintik matahari..

2.4. AKUSTIK DAN NOISE DALAM BANGUNAN

Bangunan merupakan tempat beraktivitasnya banyak manusia. Di tempat ini,


kita melakukan berbagai aktivitas, baik itu belajar, bekerja, maupun sekedar
bersantai. Dengan banyaknya jenis serta variasi durasi berkegiatan, maka sangat
dibutuhkan kenyamanan, agar kegiatan yang kita lakukan menghasilkan output yang
sesuai dengan harapan. Dapat dibayangkan output belajar atau bekerja kita saat
lingkungan sekitar kita tidak nyaman, maka hasil belajar pun menjadi tidak
maksimal.

Salah satu faktor penentu kenyamanan adalah kenyamanan pendengaran.


Kenyamanan pendengaran merupakan salah satu faktor yang krusial agar suatu
informasi dapat diterima dengan baik, juga agar otak dapat bekerja secara maksimal.
Jika diabaikan, maka gangguan dari kebisingan dalam memberi efek buruk pada
kesehatan, kesejahteraan, dan kualitas hidup secara umum. Dalam pemenuhan hal
ini, maka pemahaman terkait akustik suatu bangunan sangat diperlukan agar
rancangan desain sebuah bangunan dapat mengakomodasi kebutuhan kita akan
kenyamanan pendengaran.

Akustik bangunan merupakan sebuah ilmu pengendalian suara atau kebisingan


pada bangunan, termasuk juga minimalisasi bising yang ditransmisi dari satu ruang
ke ruangan lainnya serta pengendalian karakteristik suara dalam ruangan.
Pemahaman akan hal ini sangat penting, terutama pada bangunan-bangunan tertentu
seperti misal concert hall, studio rekaman, ruang kelas, dan sebagainya, yang
memiliki kebutuhan akan kualitas serta kejelasan suara yang baik.

13
Akustik sebuah bangunan dapat dipengaruhi oleh:

 Geometri dan volume ruang


 Karakteristik absorpsi, transmisi, dan pantulan suara dari permukaan yang
menyelubungi atau berada di dalam ruangan
 Karakteristik absorpsi, transmisi, dan pantulan suara dari material antar
ruang
 Suara yang ada di dalam atau di luar ruangan
 Transmisi suara melalui udara (airborne sound)
 Kebisingan akibat tumbukan (impact noise)

Noise adalah suatu sinyal gangguan yang bersifat akustik (suara), elektris,
maupun elektronis yang hadir dalam suatu sistem (rangkaian listrik/ elektronika)
dalam bentuk gangguan yang bukan merupakan sinyal yang diinginkan. Sistem
pendengaran manusia memiliki sensitifitas yang berbeda-beda pada tingkatan
frekuensi yang berbeda-beda pula. Hal ini mengindikasikan noise tidak sama pada
setiap frekuensi. Noise pada tingkatan tertentu (dB) pada frekuensi rendah maupun
tinggi tidak akan sama dengan noise yang memiliki pemusatan suara pada frekuensi
tengah. Dengan kata lain noise pada tingkatan tertentu (dalam dB) tidak akan dapat
terditeksi oleh pendengaran manusia.

Khusus pada bagian lantai, semakin tinggi rata-rata Impact Isolation Class (IIC
: satuan yang digunakan untuk mengidentifikasikan pengisolasian suatu pembatas)
maka semakin efisien pula konstruksi ruang tersebut dalam mengatasi noise.
Dan Sound TransmissionClass (STC) adalah ketentuan yang digunakan untuk
mengidentifikasikan pengisolasian suatu pembatas.

Ruang manapun akan meresonansikan macam-macam frekuensi. Hal tersebut


dipengaruhi oleh bentuk, besaran dan bahan pembentuk ruangannya, sedangkan
ketajaman dan ketinggian dari resonansi yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh
penyerapan bunyi yang dimiliki oleh ruangan. Sebuah modal awal untuk mendesain
sebuah ruangan yang memiliki kualitas akustik yang baik adalah dengan membentuk
sebanyak mungkin resonansi yang berbeda, dan kemudian menyebarkan frekuensi

14
tersebut. Ruangan yang lebih besar juga akan mengurangi sela waktu antar
resonansi.

2.4.1. Sistem Akustik Dan Noise Dalam Bangunan


A. Sistem Akustik Dalam Bangunan

Dalam sebuah ruangan tertutup,jalur perlambatan energi akustik adalah


ruangan itu sendiri. oleh karna itu, pengetahuan tentang fenomena suara yang terjadi
dalam ruangan sangat menentukan pada saat di perlukan pengendalian kondisi
mendengar pada ruangan tersebut sesuai dengan fungsinya. Fenomena suara dalam
ruangan dapat di gambarkan pada sketsa berikut

Gambar 2.7 Pantulan Bunyi


Sumber: archmaxter.blogspot.com

Dari sketsa tersebut, dapat di lihat bahwa pada setiap titik pengamatan atau
titik di mana orang menikmati suara (pendengar)akan di pengaruhi oleh dua
komponen suara,yaitu komponen suara langsung dan komponen suara pantul.
Komponen suara langsung adalah komponen suara yang sampai ke telinga
pendengar langsung dari suara sumber. Besarnya energi suara yang sampai ke

15
telinga dari komponen suara ini di pengaruhi oleh jarak pendengar ke sumber suara
dan pengaruh penyerapan energi oleh udara. Komponen suara pantul merupakan
komponen suara yang sampai ke telinga pendengar setelah suara berinteraksi dengan
permukaan ruangan di sekitar pendengar (dinding,lantai dan langit langit).Total
energi yang sampai ke telinga pendengar dalam persepsi pendengar terhadap suara
yang di dengrnya tentu saja akan di pengaruhi kedua komponen itu. Itu sebabnya
kedua komponen suara pantul akan sangat berperan dalam pembentukan persepsi
mendengar atau bias juga di sebuutkan karakteristik akustik permukaan dalam
ruangan akan sangat mempengaruhi kondisi dan persepsi mendengar yang di alami
oleh pendengar. Ada dua ekstrim yang berkaitan dengan karakteristikk dan
permukaan dalam ruangan yaitu apabila seluruh permukaan dalam ruangan bersifat
sangat menyerap dan seluruh permukaan dalam ruangan yang bersift sangat
memantulkan energi suara yang sampai kepadanya.Bila permukaan dalam ruangan
seluruhnya sangat menyerap,maka komponen suara yang sampai ke pendengar
hanyalah komponen langsung saja dan ruangan yang seperti itu di sebut anechoic
(anechoic chamber) sedangkan dalam ruangan yang seluruh permukaannya bersifat
sangat memantulkan energi maka komponen suara pantul akan jauh lebih dominan
di bandingkan komponen langsungnya dan biasa di sebut ruang dengung
(reverberation chamber). Ruangan yang kits gunakan pada umumnya berada di
antara dua ruang ekstrim ini. sesuai dengan fungsinya. Ruang studio rekaman
misalnya lebih mendekati ruang anechoic chamber,sedangkan ruangan yang
berdinding luas lebih menuju ke ruang dengung atau reverberation chamber.

Desain akustik ruangan tertutup pada intinya adalah pengendalian suara


langsung dan pantul ini,dengan cara menentukan karakteristik akustik permukaan
dalam ruangan (lantai,dinding dan langit langit) sesui dengan fugsi ruangannya. Ada
ruangan yang karna fungsinya memerlukan lebih banyak karakteristik
gerak(studio,home teatre dll)dan ada yang memerlukan gabungan antara serap dan
pantul yang berimbang (auditorium,ruang kelas dan lain sebagainya).dengan
mengkombinasikan beberapa karakter permukaan rungan seorang desainer akustik
dapat menciptakan berbagai macam kondisi mendengar sesuai dengan fungsi
ruangannya yang di wujudkan dalam bentuk barometer akustik ruangan.

16
Karakteristik akustik ruangan pada umumnya di bedakan atas:

 Bahan penyerap suara (absorber) yaitu permukaan yang terbuat dari matrial
yang menyerap sebagian besar energi suara yang datang padanya. misalnya
glasswool,mineralwool,foam. Bisa berwujud sebagai matrial yang berdiri
sendiri atau di gabungkan menjadi sistem absorber (fabric covered
absorber,panel absorber,grid absorber,resonator absorber,perforated
absorber,acoustic tiles dsbg).
 Bahan pemantul suara (reflektor) yaitu permukaan yang terbuat dari matrial
yang bersifat memantulkan sebagian besar energi suara yang datang padanya.
Pantulan yang di hasilkan bersifat spekular (mengikuti kaidah snelius:sudut
datang=sudut pantul). Contoh bahan misalnya keramik,marmer
logam,almunium,gypsum board,beton,dsbg.
 Bahan pendifuse/penyebar suara(difusor) yaitu permukaan yang di buat tidak
merata secara akustik yang menyebarkan energi suara yang datang padanya

Dengan menggunakan kombinasi ketiga jenis matrial tersebut dapat di


wujudkan kondisi mendengar yang di inginkan sesuai dengan fungsinya. Bila ingin
membangun sebuah ruangan yang akan di pergunakan untuk kegiatan yang berkaitan
dengan suara maka yang perlu di perhatikan tidak hnya peredam suara namun juga
tatanan akustik dalam ruangan tersebut.

Sound system tidak akan berfungsi secara maksimal apabila tatanan suara
dalam ruangan tersebut tidak di bangun secara baik. Harus di bedakan antara
peredam suara dan akustik ruangan. Instalasi peredam suara di ciptakan agar suara
dalam ruangan tidak terdengar keluar ruangan atau sebaliknya suara dari luar
ruangan tidak terdengar sampai ke dalam ruangan. Sedangkan akustik ruangan
adalah tatanan suara dalam ruangan agar suara yang sampai ke pendengar tidak
berlebihan dan dapat diterrima secara proporsional.

Bahan matrial yang di pergunakan untuk instalasi peredam ruangan/suara


sangat bervariasi dan dapat di peroleh di pasaran dengan mudah. Namun yang perlu
di perhatikan adalah dikopling mekanik.

17
B. Sistem Noise Dalam Bangunan

Noise dalam bahasa Indonesia adalah kebisingan atau derau. Menurut


McGraw-Hill Dictionary of Scientific and Technical Terms , noise adalah sound
which is unwanted (bunyi yang tidak dikehendaki). Contoh noise adalah berupa
suara gemuruh atau bunyi kendaraan yang berasal dari jalan raya. Namun, noise
tidak selalu diidentikkan dengan suara-suara yang keras. Bagi orang yang sedang
sakit, suara sepeti tetesan air pun juga dapat mengganggu kenyamanan. Dengan
demikian, noise juga bersifat subjektif sehingga mempengaruhi tingkat kenyamanan
yang berbeda-beda terhadap orang yang satu dengan orang yang lainnya.

Toleransi manusia terhadap kebisingan tergantung pada faktor akustikal dan


non-akustikal (Sanders dan McCornickdalam Christina, 2005). Faktor akustikal
meliputi: tingkat kekerasan bunyi, frekuensi bunyi, durasi munculnya bunyi,
fluktuasi kekerasan bunyi, fliktuasi frekuensi bunyi, dan waktu munculnya bunyi.

Kebisingan dapat dikategorikan menjadi dua,yaitu: kebisingan tunggal dan


kebisingan majemuk. Kebisingan tunggal dihasilkan oleh sumber bunyi berbentuk
titik dan kebisingan majemuk dihasilkan oleh sumber berbentuk garis. Tingkat
gangguan kebisingan dapat diukur menggunakan skala berdasarkan apa yang
dirasakan manusia, seperti: merasakan adanya kebisingan,merasa terusik, merasa
terganggu, sampai merasa sangat terganggu atau tidak tahan.

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, tiap individu memiliki subjektifitas


terhadap kebisingan. Toleransi manusia terhadap kebisingan tergantung pada faktor
akustikal dan non-akustikal (Sanders dan McCornick dalam Christina, 2005). Faktor
akustikal meliputi: tingkat kekerasan bunyi, frekuensi bunyi, durasi munculnya
bunyi, fluktuasi kekerasan bunyi, fliktuasi frekuensi bunyi, dan waktu munculnya
bunyi. Sedangkan faktor non-akustikal meliputi: prngalaman terhadap kebisingan,
kegiatan, perkiraan terhadap kemungkinan munculnya kebisingan, manfaat objek
yang menghasilkan kebisingan, kepribadian, lingkungan dan keadaan. Semua factor
tersebut harus diperhitungkan setiap kali mengukur tingkat kebisingan pada suatu
tempat, sehingga data yang dihasilkan menjadi sahih dan solusi yang diterapkan
lebih tepat.

18
Kebisingan dapat dikategorikan menjadi dua,yaitu: kebisingan tunggal dan
kebisingan majemuk. Kebisingan tunggal dihasilkan oleh sumber bunyi berbentuk
titik dan kebisingan majemuk dihasilkan oleh sumber berbentuk garis. Tingkat
gangguan kebisingan dapat diukur menggunakan skala berdasarkan apa yang
dirasakan manusia, seperti: merasakan adanya kebisingan,merasa terusik, merasa
terganggu, sampai merasa sangat terganggu atau tidak tahan.

2.4.2. Komponen Akustik Dan Noise Dalam Bangunan

Material akustik adalah material yang digunakan untuk mengendalikan


kualitas akustik sesuai dengan prinsip kerja rambatan dan pantulan bunyi (reflector,
absorber, diffuser, dan insulator). Semua material bangunan dan perlakuan terhadap
permukaan suatu bahan memiliki tingkat penyerapan tertentu (Doelle, 1980). Setiap
material memiliki kemampuan menyerap bunyi yang berbeda-beda tergantung
koefisien penyerapan bunyi pada material itu sendiri. Material akustik dapat
diterapkan di dalam maupun di luar bangunan.

A. Material Penyerap (Absorber)

Material absorber bersifat lunak atau berpori. Material akustik penyerap bunyi
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

 Daya serap bunyi lebih tinggi dari pada daya pantulnya.


 Koefisien penyerap bunyi tinggi (>0,30).
 Umumnya lunak dan berpori.
 Terdiri atas material lunak dan/atau berpori, panel, dan resonator
rongga.

Contoh soft board, selimut akustik (glasswool, rockwool), acoustic tile,


mineral tile, dan karpet empuk.

19
No. Koefisien Kelas Kualitas
penyerapan Absorber
bunyi
1 0,90 – 1.00 A Sangat bagus
2 0,80 – 0,85 B Sangat bagus
3 0,60 – 0,75 C Tinggi
4 0,30 – 0,55 D Signifikan
5 0,15 – 0,25 E Rendah
6 0,05 – 0,10 Tidak Reflektor
diklasifikasikan

Koefisien penyerapan bunyi atau disebut Noise Reduction Coefficient (NRC)


memiliki nilai antara 0 – 1. Makin tinggi nilai koefisien material maka kemampuan
serap bunyinya makin tinggi dibandingkan kemampuan pantulnya.

Material penyerap digunakan jika di dalam ruang didinginkan adanya


pengurangan waktu dengung. Material penyerap ini juga memiliki beberapa jenis :

a) Penyerap Berporos Lunak (Porous Absorber)

Material jenis ini merupakan material akustik yang dapat menyerap bunyi
dengan baik dalam frekuensi tinggi (>1000Hz). Contoh material akustik berporos
lunak adalah panel akustik fibrikasi seperti amrstrong acoustic panel / jayabell,
mineral wool seperti rockwool dan glasswool, dan karper/fabric

Gambar 2.8. : Penyerapan Bunyi pada Mineral Wool


Sumber : http://www.mystudio.co.id/detail-blog-macam-dan-jenis-
material-dan-panel-akustik-ruang-44.html

20
Pada gambar tersebut merupakan gambar potongan bagian mineral wool.
Gambar pertama (kiri) merupakan mineral wool yang ditempel langsung pada
tembok. Pada gambar kedua (tengah) merupakan mineral wool yang ditambahkan
rongga udara yang berpengaruh dalam peningkatan penyerapan di frekuensi rendah.
Sedangkan pada gambar ketiga (kanan) adalah dengan menggunakan penutup
berupa panel perforasi yang berpengaruh dalam peningkatan penyerapan di
frekuensi tengah namun di frekuensi tinggi, bunyi tidak diserap seluruhnya. Pada
gambar di bawah merupakan contoh penerapan mineral wool pada interior ruangan.

Gambar 2.9 : Mineral Wool tanpa Gambar 2.10: Mineral Wool dengan
Penutup Penutup Perforasi
Sumber : Sumber :
http://www.mystudio.co.id/detail-blog- http://www.mystudio.co.id/detail-blog-
macam-dan-jenis-material-dan-panel- macam-dan-jenis-material-dan-panel-
akustik-ruang-44.html akustik-ruang-44.html

Material absorber lunak yang umum digunakan adalah mineralwool (rockwool


dan glasswool), mineral tile, dan karpet empuk. Mineral wool adalah absorber
berbahan serat mineral alami atau mineral buatan dengan bentuk dan tekstur
menyerupai wool. Rockwool terbuat dari serat keramik, sedangkan glasswool terbuat
dari serat kaca.

Gambar 2.11 : Glasswool Gambar 2.12 : Rockwool Gambar 2.13: Mineral Tile
Sumber : Tokopedia Sumber : Tokopedia Sumber : indiaMART

21
Gambar 2.14 : Rockwool Slab Gambar 2.15 : Rockwool Gambar 2.16 : Glasswool
Sumber : indiaMART Blanket Blanket
Sumber : indiaMART Sumber : indiaMART

Material mineral wool ini memiliki nilai estetika kurang baik jika diekspos
dalam ruang auditorium. Untuk itu dalam aplikasinya diletakkan di balik papan
berlubang (perforated board). Agar efektif, di balik mineral wool sebaiknya terdapat
rongga udara.

Contoh aplikasi papan berlubang dengan atau tanpa mineral wool, yaitu :

1. Calcium silicate board + rockwool.

Panel setebal 6 mm dengan lubang diameter 6 mm berjarak 20 mm dipasang


di depan rockwool 50 mm.

2. Calcium silicate board + rongga udara.

Panel setebal 6 mm dengan lubang diameter 6 mm berjarak 20 mm dipasang


di depan rongga udara 30 mm atau 50.

3. Calcium silicate board + rockwool + rongga udara

Panel setebal 6 mm dengan lubang diameter 9 mm berjarak 15 mm dipasang


di depan rockwool 50 mm dengan rongga udara 150 mm atau 300 mm.

22
Gambar 2.17: Perforated board
Sumber : Global Market

Mineral tile adalah ubin material absorber dengan permukaan berpori yang
digunakan sebagai plafon atau pelapis dinding. Acoustic tile umumnya diaplikasikan
sebagai plafon yang disebut juga acoustic ceiling tile.

NO. TIPE SPESIFIKASI


1 Ukuran
15 mm x 600 mm x 600 mm
15 mm x 600 mm x 1.200 mm
 = 0,55
Aplikasi = perkantoran, area komersial

Adagio
2 Ukuran
50 mm x 600 mm x 600 mm
55 mm x 1.200 mm x 1.200 mm
 = 0,70

Fibralith
3 Ukuran
12,5 mm x 600 mm x 600 mm
 = 0,70
Aplikasi = auditorium, area komersial

Acoustic Micro

23
4 Ukuran
12,5 mm x 600 mm x 600 mm
 = 0,65
Aplikasi = auditorium, area komersial

Acoustic Quadril
5 Ukuran
15 mm x 600 mm x 1.200 mm
15 mm x 300 mm x 1.800 mm
 = 0,65
Aplikasi = perkantoran, area komersial
Star
6 Ukuran
15 mm x 600 mm x 600 mm
15 mm x 600 mm x 1.200 mm
 = tergantung tipe
Aplikasi = rumah sakit, pengepakan
makanan, lab. obat-obatan

Thermaclean
7 Ukuran
19 mm x 600 mm x 600 mm
 = 0,65
Aplikasi = perkantoran, area komersial

Thermacoustic
8 Ukuran
20 mm x 600 m x 600 mm
 = 0,95
Aplikasi = auditorium, home theatre,
studio
Thermophon

Tabel 2.18 : Acoustic Ceiling Tile


Sumber : PT Knauf Gypsum Indonesia, 2006

B. Penyerap Membran (Membrane Absorber)

Material akustik ini biasanya digunakan untuk menyerap energi bunyi di


frekuensi rendah. Penyerap membran memanfaatkan ruang hampa udara di belakang
membran untuk menyerap energi bunyi di frekuensi rendah. Membran berfungsi

24
sebagai penerima energi bunyi yang kemudian bergetar dan diubah menjadi energi
panas. Membran biasanya terbuat dari panel tipis seperti multipleks 6mm atau bisa
juga lembaran kayu solid 9mm. Panel ini bergantung pada massa panel dan jarak
rongga udara. Semakin besar massa panel dan rongga udara, maka energi bunyi di
frekuensi bawah akan semakin terserap.

Gambar 2.19 : Kecenderungan Gambar 2.20 : Membran Absorber


Penyerapan Membran Absorber dengan dan tanpa Mineral Wool
Sumber : Sumber :
http://www.mystudio.co.id/detail-blog- http://www.mystudio.co.id/detail-blog-
macam-dan-jenis-material-dan-panel- macam-dan-jenis-material-dan-panel-
akustik-ruang-44.html akustik-ruang-44.html

Panel absorber ini diaplikasikan sebagai pelapis dinding ruangan kecil yang
membutuhkan penyerapan bunyi cukup tinggi, seperti home theatre, dan studio.
Contoh material adalah panel (fiberglass board) yang dibungkus panel fabrics dan
foam.
Gambar 2.22
Absorber tipe bad
panel
Sumber : RPG
Europe

Gambar 2.21 : Absorber tipe


Fiberglass board
Sumber : Kinetics Noise Control

25
b) Absorber (resonator berongga)

Resonator berongga adalah absorber berupa balok yang memiliki rongga


resonansi di mana gelombang bunyi yang terjebak di dalamnya akan dipantulkan
berulang kali dan energinya diserap hingga habis. Material ini efektif diaplikasikan
sebagai pelapis dinding sejajar berhadapan. Karena permukaannya tak beraturan,
resonator rongga dapat juga berfungsi sebagai diffuser.

Gambar 2.23 Resonator rongga tipe diffuser blox


Sumber : RPG Acoustical Systems

C. Material Pemantul (Reflektor)

Material akustik yang dapat memantulkan suara memiliki ciri-ciri sebagai


berikut :

 Daya pantul bunyi lebih tinggi dari daya serapnya.


 Koefisien penyerapan bunyi rendah (<0,30)
 Keras, licin (makin tebal makin baik)

Contoh material pemantul (reflector) yang umum digunakan adalah. adalah


keramik, marmer, logam, aluminium, beton, gypsum board (calcium sulphate
dehydrate board),, plywood, plexiglass (polymethyl methaclyrate),, dan papan
plastik kaku.

26
Keramik Gypsum Board Plexiglass

Marmer Plywood

Gambar 2.24 : Contoh Material Reflektor


Sumber : Wikipedia

Material pemantul digunakan jika menginginkan adanya bunyi pantul yang


mendukung kualitas akustik di posisi tertentu. Material reflektor menghasilkan
pantulan bunyi yang bersifat spekular (mengikuti kaidah hukum Snellius). Hukum
pemantulan bunyi terjadi sesuai dengan kaidah Snellius dimana sudut datang sama
dengan sudut pantul. Dimensi material setidaknya sepanjang 4 kali panjang
gelombang yang akan dipantulkan sehingga jika panjang gelombang 0,3m (1000Hz)
maka dimensi material setidaknya 1,2m.

Gambar 2.25 : Panjang Minimum Panel


Reflektor terhadap Frekuensi
Sumber : http://www.mystudio.co.id/detail-blog-
macam-dan-jenis-material-dan-panel-akustik-
ruang-44.html

27
Yang perlu diperhatikan dalam pemantulan bunyi yang baik adalah adanya
waktu tunda (time delay) bunyi pantulan yang sesuai. Untuk fungsi musik, jarak
waktu antara bunyi langsung dengan bunyi pantulan setidaknya 12-25 mili detik,
sedangkan untuk fungsi speech atau suara manusia setidaknya berjarak kurang dari
15 mili detik.

Gambar 2.26 : Time Delay dalam Menentukan Posisi Panel


Reflektor
Sumber : http://www.mystudio.co.id/detail-blog-macam-dan-
jenis-material-dan-panel-akustik-ruang-44.html

D. Material Penyebar (Diffuser)

Material diffuser berfungsi untuk menyebarkan suara. Material ini kerap


diaplikasikan sebagai pelapis dinding atau plafon yang datar (tidak reflective shell).
Ciri-ciri material akustik yang menyebarkan bunyi adalah :

 Merupakan reflector atau absorber dengan bentuk penyusunan irregular.


 Koefisien penyerapan bunyi tergantung material.
 Umumnya keras dan licin.
 Dengan bentuk penyusunan irregular maka bunyi pantul dapat dibuat difus
(disebar) dan mencegah flutter echo.
 Material dapat terbuat dari kayu, fiber reinforced gypsum (FRG), dan glass
reinforced gypsum (GRG), dan foam yang tidak beraturan.

28
Gambar 2.27 : Diffuser tipe skyline Gambar 2.28 : Diffuser tipe Omniffusor kayu
Sumber : Pinterest Sumber : eBay

Gambar 2.29 : Diffuser tipe Gambar 2.30 : Diffuser tipe Gambar 2.31 : Diffuser tipe
Omniffusor FRG (Fiber Reinforced Diffractial Modffusor
Gypsum) Sumber : alibaba.com Sumber : ATS Acoustic
Sumber : cmistudioshop

Gambar 2.32 : Diffuser tipe Gambar 2.33 : Diffuser tipe Gambar 2.34 : Diffuser tipe
Golden Pyramid Flutter Free non slatted Waveform Spline
Sumber : Global Sources Sumber : Global Sources Sumber : RPG Europe

Material penyebar bunyi / diffuser dibutuhkan jika menginginkan adanya


distribusi bunyi yang merata dengan mempertahankan waktu dengung ruang.
Dengan adanya diffuser, respon ruang terhadap bunyi menjadi lebih “diffuse”
sehingga tidak terdapat adanya “focusing effect” atau “flutter echo” atau bahkan
“echo” / gema itu sendiri yang dapat mengurangi kejelasan bunyi. Selain itu, diffuser
juga membuat kesan ruang menjadi lebih “live” karena peluruhan waktu dengung
menjadi lebih “smooth”. Dalam penentuan nilai sebar material dikenal dengan istilah
koefisien sebar (scattering coefficient), nilai 0 berarti pantulan spekular sempurna,
sedangkan nilai 1 berarti pantulan sebar sempurna.

29
Gambar 2.35 Fenomena Penyebaran Bunyi
Sumber : http://www.mystudio.co.id/detail-blog-macam-dan-jenis-material-
dan-panel-akustik-ruang-44.html

Gambar 2.36 : Contoh Penerapan Material Akustik Penyebar Bunyi


Sumber : http://www.eqacoustics.com/products-page/acoustic-
treatment/spectrum/quadratic-diffuser

Pada gambar tersebut merupakan contoh penerapan material akustik pada


sebuah ruang studio musik. Speaker diarahkan ke permukaan material diffuser agar
bunyi yang dihasilkan dapat disebarkan ke seluruh ruangan, sehingga pendengar
dapat mendengar bunyi secara optimal.

E. Penginsulasi (insulator)

Insulator merupakan sebuah isolasi (pembuat kedap) pada suatu ruangan.


Insulasi pada bangunan dapat digunakan untuk membuat ruangan menjadi kedap
suara. Seringkali suatu bahan insulasi dipilih karena kemampuannya untuk

30
melakukan beberapa fungsi sekaligus, karena insulasi juga dapat digunakan untuk
aspek termal, api, dan dampak (misalnya getaran yang disebabkan kegiatan industri).

2.4.3. Layout Akustik Dan Noise Dalam Bangunan


A. Layout Akustika Dalam Bangunan
 Akustik dalam Bangunan Auditorium

Keberadaan ruang-ruang yang dibutuhkan di dalam bangunan auditorium.


Secara garis besar ruang-ruang di dalam auditorium dapat dibedakan menjadi :

 Ruang-ruang utama, yang meliputi : ruang panggung dan ruang penonton,


baik ruang penonton lantai satu maupun lantai balkon.
 Ruang-ruang balkon, yang meliputi : ruang persiapan pementasan, toilet,
kafetaria, hall, ruang tiket, dan lain-lain.
 Ruang-ruang servis, yang meliputi : ruang generator, ruang pengendali
udara, gudang peralatan, dan lain-lain.

Keberadaan ketiga kelompok ruang tersebut saling mendukung untuk


menampung aktivitas yang terjadi dalam auditorium, namun hanya ruang utamalah
yang membutuhkan penyelesaian akustik secara mendalam. Mesiki demikian, sangat
disarankan agar ruang-ruang servis yang menghasilkan kebisingan tambahan
diletakkan terpisah atau cukup jauh dari ruang utama. Sedangkan untuk ruang
pendukung, perletakannya secara umum selalu berdekatan dengan ruang auditorium.

Gambar 2.37 Contoh Penerapan Material Akustik Penyebar Bunyi


Sumber : http://www.eqacoustics.com/products-page/acoustic-
treatment/spectrum/quadratic-diffuser

31
 Area Panggung

Panggung adalah ruang yang umumnya menjadi orientasi utama dalam sebuah
auditorium. Ruangan ini diperuntukkan bagi penyaji untuk mengekspresikan materi
yang disajikan. Bentuk dan dimensi panggung sangat bermacam-macam. Saat ini
dikenal pula panggung permanen dan semi permanen, yaitu panggung dengan
bentuk, peletakan, dan dimensi yang dapat diubah-ubah sesuai kebutuhan. Panggung
semacam ini umumnya ditempatkan pada auditorium multifungsi. Menurut bentuk
dan tingkat komunikasinya dengan penonton, panggung dapat dibedakan menjadi
empat jenis.

1. Panggung Proscenium
Bentuk dan peletakan panggung yang disebut proscenium adalah
peletakan konvensional, yaitu penonton hanya melihat tampilan penyaji dari
arah depan saja. Komunikasi antara penyaji dan penonton pada panggung
semacam ini sangat minim. Komunikasi yang dimaksud adalah tatapan mata,
perasaan kedekatan antara penyaji dengan penonton, dan keinginan penonton
untuk secara fisik terlibat dengan materi yang disajikan.

2. Panggung Terbuka
Masyarakat awam seringkali salah paham menganggap bahwa semua
auditorium yang tidak beratap adalah panggung terbuka. Pada auditorium
tanpa atap, seringkali panggungnya juga tidak beratap (meskipun ada juga
yang beratap, seperti misalnya panggung buatan yang diletakkan di sebuah
lapangan terbuka untuk pertunjukkan tertentu dan diberi atap, tetapi area
penontonnya tidak beratap). Panggung terbuka adalah istilah yang digunakan
untuk merujuk pengembangan dari panggung proscenium yang memiliki
sebagian area panggung menjorok kea rah penonton, sehingga
memungkinkan penonton bagian depan untuk menyaksikan penyaji dari arah
samping contohnya adalah catwalk tempat peragaan busana.

3. Panggung Arena
Panggung arena adalah panggung yang terletak di tengah-tengah
penonton, sehingga penonton dapat berada pada posisi di depan, di samping,

32
atau bahkan dibelakang penyaji. Panggung semacam ini biasanya dibuat
semipermanen dalam sebuah auditorium multifungsi. Pada panggung
semacam ini, komunikasi antara penyaji dan penonton dapat berlangsung
dengan amat baik.

4. Panggung Extended
Bentuk panggung extended adalah pengembangan dari bentuk
proscenium yang melebar ke arah samping kiri dan kanan. Bagian pelebaran
atau perluasan ini tidak dibatasi dengan dinding samping, sehingga penonton
dapat menyaksikan penyaji dari dari arah samping.

Gambar 2.38 Contoh Penerapan Material Akustik Penyebar Bunyi


Sumber : http://www.eqacoustics.com/products-page/acoustic-
treatment/spectrum/quadratic-diffuser

5. Penyelesaian Akustik Lantai Panggung


Agar semua penonton dapat menyaksikan penyaji dengan baik, lantai
panggung biasanya dibuat lebih tinggi daripada lantai penonton yang paling
bawah. Perbedaan ketinggian ini sebaiknya hanya berkisar setengah
ketinggian badan manusia pada umumnya, yaitu sekitar 80 cm sampai 90 cm.
perbedaan ketinggian yang lebih dari ini akan menimbulkan

33
ketidaknyamanan visual bagi penonton yang duduk di depan atau yang
berada pada jarak cukup dekat.

Pada panggung yang terletak di dalam ruang tertutup (berada dalam


ruang) dan digunakan untuk menyajikan acara yang menghasilkan bunyi
berisik seperti pada sajian yang sifatnya kolosal, lantai panggung tersebut
sebaiknya dilapis dengan bahan tebal lunak yang mampu meredam bunyi
mengganggu tersebut, seperti menggunakan karpet tebal.

Gambar 2.39 : Contoh Penerapan Material Akustik Penyebar Bunyi


Sumber : http://www.eqacoustics.com/products-page/acoustic-
treatment/spectrum/quadratic-diffuser

6. Penyelesaian Akustik Plafon Panggung


Ketinggian plafon panggung sangat bermacam-macam dan biasanya
bergantung pada dimensi ruang auditorium secara keseluruhan. Peletakan
plafon yang terlalu rendah kurang baik bagi lantai penonton yang dibuat
bertrap, demikian pula bagi lantai penonton yang menggunakan balkon,
sebab sudut pandang penonton pada trap tertinggi atau pada lantai balkon
kearah panggung menjadi kurang leluasa.

Plafon ruang panggung sebaiknya diselesaikan dengan bahan yang


memantulkan, agar pada keadaan tanpa bantuan peralatan elektronik (sound
system) suara dari penyaji dapat disebarkan kea rah penonton. Pemantulan
yang terjadi akan memperkuat suara asli, selama munculnya suara pantulan
tidak lebih dari 1/20 detik suara asli. Posisi plafon panggung yang memantul

34
harus diatur sedemikian rupa agar tidak ada suara yang justru memantul
kembali kepada penyaji. Bila hal ini terjadi pada penyaji yang kebetulan
menggunakan bantuan mikrofon, maka justru yang terjadi adalah bias,
karena suara pantul masuk ke dalam mikrofon sepersekian detik setelah suara
asli.

7. Penyelesaian Akustik Dinding Panggung


Pada bentuk panggung proscenium, terbuka, dan extended, panggung
memiliki dinding pembatas, yaitu di bagian belakang serta samping kiri dan
kanan. Dinding bagian belakang panggung sebaiknya diselesaikan dengan
bahan yang menyerap suara, agar tidak memantulkan suara kembali kepada
penyaji, yang dapat menimbulkan suara bias.

 Arena Penonton

Selain panggung, ruangan penonton adalah ruangan yang sangat


penting. Ruangan ini harus didesain sedemikian rupa agar penonton merasa
nyaman saat menyaksikan sajian. Kenyaman ini idealnya dinilai dari dua
aspek, yaitu audio dan visual. Bentuk area penontonnya idealnya juga
mengikuti aspek kenyamanan secara audio-visual tersebut. Akibat
terbatasnya kemampuan mata manusia untuk objek secara langsung, desain
area penonton yang terlalu panjang kea rah belakang tidak dilanjutkan.

1. Penyelesaian Akustik Lantai Area Penonton

Lantai penonton dapat didesain sebagai lantai mendatar. Keuntungan


dari penyelesaian lantai mendatar adalah kemungkinan digunakannya
auditorium untuk berbagai aktivitas (kemultifungsian). Namun pada lantai
semacam ini, terutama ketika jumlah penonton cukup banyak, sebagian besar
penonton akan mendapatkan kualitas visual yang amat rendah. Oleh karena
itu, idealnya lantai didesain sedemikian rupa agar penonton yang berada
semakin ke belakang masih dapat melihat kea rah panggung dengan baik.
System penataan lantai miring (slooped) atau bertrap (inclined) dapat
membantu menunjukkan hal ini.

35
Gambar 2. 40 : Contoh Penerapan Material Akustik Penyebar Bunyi
Sumber : http://www.eqacoustics.com/products-page/acoustic-
treatment/spectrum/quadratic-diffuser

2. Penyelesaian Akustik Plafon Area Penonton

Auditorium yang banyak menyajikan acara tanpa bantuan peralatan


listrik, atau auditorium yang tidak dibuat untuk menampung penonton dalam
jumlah banyak, sebaiknya dirancang dengan plafon yang mampu
memantulkan suara penyaji kea rah penonton secara merata. Agar hal ini
dapat tercapai, bentuk dan peletakan plafon harus diatur sedemikian rupa
agar pemantulan yang terjadi merata dan berlangsung seketika atau dengung
(reverberation), dan bukan pemantulan tunda atau gema (echo). Pemantulan
tunda terjadi ketika pantulan muncul kurang dari 1/20 detik, atau ketika
selisih jarak tempuh langsung dengan jarak tempuh pantul lebih dari 20,7 m.
Agar kualitas pemantulan diterima oleh penonton, hal ini bisa diselesaikan
dengan merancang letak plafon sedemikian rupa, seperti model plafon yang
membentuk gerigi, kemudian berlanjut pada plafon di atas penonton untuk
memantulkan bunyi ke arah penonton yang duduk di bagian belakang. Agar
tidak terjadi pemantulan kembali kea rah panggung yang akan membiaskan
suara penyaji, pada plafon yang dirancang dengan system gerigi, bagian
plafon yang menghadap ke panggung sebaiknya diselesaikan dengan bahan
yang menyerap.

36
Selisih jarak tempuh bunyi Kualitas pemantulan
< 8.5m Baik untuk percakapan dan music
8.5 s.d 12.2 m Baik untuk percakapan tetapi kurang baik
untuk music
12.2 s.d 15.2 m Kurang baik untuk keduanya
15.2 s.d 20.7 m Tidak baik
>20.7 Muncul echo yang membaur dengan bunyi
asli dengan bunyi pantul

Gambar 3.41: Contoh Penerapan Material Akustik Penyebar Bunyi


Sumber : http://www.eqacoustics.com/products-page/acoustic-
treatment/spectrum/quadratic-diffuser

3. Penyelesaian Akustik Dinding Area Penonton

Selain untuk kepentingan insulasi, bagian dalam dinding perlu


dirancang khusus untuk meningkatkan kualitas bunyi di dalam ruang.

Gambar 3.42 : Contoh Penerapan Material Akustik Penyebar Bunyi


Sumber : http://www.eqacoustics.com/products-page/acoustic-
treatment/spectrum/quadratic-diffuser

Pada auditorium yang banyak menyajikan acara tanpa bantuan


peralatan listrik atau auditorium dengan kapasitas penonton kecil, dinding
area penonton seyogyanya juga dirancang untuk memantulkan suara dari

37
penyaji kepada penonton. Agar pemantulan berada pada batas-batas bunyi
dengung, tidak semua bagian dinding dirancang untuk memantulkan bunyi.
Adapun bagian yang umumnya tidak memantulkan bunyi adalah dinding
yang berada dekat area penonton bagian belakang dan dinding bangian
belakang penonton.

Salah satu bagian lain dari dinding yang rawan kebisingan adalah
pintu. Oleh karena itu, idealnya pintu dirancang sedemikian rupa agar
kebisingan yang merambat dapat diperkecil. Misalnya dengan merancang
pintu rangkap yang memiliki ruang antara di dalamnya. Ruang antara ini
tidak perlu dibuat terlalu luas, agar tidak menjadi tempat berkumpulnya
orang, sehingga justru menjadi sumber kebisingan. Ruang antara yang
cukup, dengan lebar sekitar 80 bm sampai dengan 1.5 m pada sebuah
auditorium.

4. Lantai Balkon

Kehadiran lantai balkon atau lantai yang berada di atas lantai pertama
seringkali diperlukan pada auditorium dengan kapasitas penonton yang
cukup besar, ketika penempatan yang terlalu jauh atau terlalu ke samping
dari panggung tidak lagi memungkinkan. Lantai balkon harus didesain dari
kontruksi dengan kekuatan yang cukup, tidak hanya untuk menahan beban
mati (beban struktur dan perabot) dan beban hidup (manusia) namun juga
beban hidup yang sangat aktif, misalnya ketika penonton yang menempati
lantai balkon ikut bergoyang atau melompat-lompat sesuai materi yang
disajikan di panggung.

38
Gambar 3.44 : Contoh Penerapan Material Akustik Penyebar Bunyi
Sumber : http://www.eqacoustics.com/products-page/acoustic-
treatment/spectrum/quadratic-diffuser

Lantai balkon didesain bertrap agar penonton yang duduk paling


belakang memperoleh sudut pandang kea rah panggung. Idealnya, penonton
yang duduk di balkon memperoleh sudut pandang maksimal 300 ke arah
panggung (kea rah bawah). Mengikuti persyaratan ini maka balkon dapat
dibuat lebih dari satu tingkat, asalkan sudut pandang penonton tidak lebih
dari 300.

 Akustika pada Bangunan Studio

Pengendalian kebisingan adalah kunci utama dari keberhasilan ruang studio.


Pengendalian ditinjau dari dua hal , yaitu menahan masuknya kebisingan dari luar
dan menahan keluarnya kebisingan dari dalam, terutama pada studio studio yang
menghasilkan kebisingan tinggi seperti studio untuk musik. Pengendalian dapat
dilakukan dengan :

 Usaha usaha untuk menjauhkan bangunan studi dari sumber kebisingan(pada


bangunan yang memiliki lahan cukup luas)
 Bila kebisingan dari jalan telah sedemikian tinggi , disarankan untuk
membangun barrier atau penghalang yang tidak mengganggu fasad
bangunan secara keseluruhan.Agar penghalang yang dibangun tidak
terlampau tinggi, kita buat studio lebih rendah dari jalan. Untuk bangunan

39
studio yang berdiri di lahan yang terbatas dan berbatasan dengan dinding
tetangga , penempatan layout tertentu dan pembangunan penghalang
seringkali tidak memungkinkan. Oleh karena elemen bangunan yang
berfungsi sebagai penghalang adalah elemen vertikal bangunan, baik yang
berhadapan ke jalan maupun yang berbatasan dengan dinding tetangga.
Dengan demikian elemen ini perlu didesain secara khusus.
 Selanjutnya,khusus untuk ruang studio perlu dipilih material dengan tingkat
insulasi tinggi. Ruang studio biasanya dirancang masif dengan tidak ada
ventilasi (menggunakan penghawaan buatan karena dibutuhkan
ketenanganyang tinggi.
 Lantai studio sebaiknya dirancang dengan model lantai ganda (raised floor).
Sistem lantai ini idealnya dibuat dari bahan yang berbeda agar getaran tidak
mudah diteruskan. Sebagai contoh lantai utama dibuat dari bahan beton cor
kemudian lantai kedua disusun dari rangka besi atau kayu, dan ditutup
dengan papan kayu atau papan multipleks tebal. Faktor lainnya peletakan
kedua lantai tersebut juga disusun tidak menempel satu dengan yang lain(ada
ruang diantara keduanya yang berisi udara)sehingga peredaman udara lebih
maksimal. Didalam proses rongga antara ini dapat diletakkan selimut
akustik. Selimut akustik yang banyak terjual dipasaran terbuat dari bahan
glass-wool. Lantai studio juga hendaknya dilapisi karpet tebal untuk
meredam getaran dan juga meredam bunyi diatas permukaan yang tidak
dikehendaki misalnya langkah kaki.
 Untuk mengurangi getaran, konstruksi plafon studio diusahakan untuk
dipasang tidak menempel dengan rangka atap, namun dipasang
menggantung. Rangka plafon dapat dibangun dengan bahan yang umum
dipergunakan seperti baja, aluminium atau kayu.Selanjutnya ditutup dengan
papan kayu atau multipleks , dan dilapisi acoustic tile. Selain dilapisi acoustic
tile yang secara umum baik untuk menyerap bunyi dengan frekuensi
tinggi,untuk menyerap bunyi dengan frekuensi rendah dapat pula dipasang
papan penyerap dengan posisi sejajar dinding.
 Sama halnya dengan lantai, untuk mengurangi , idealnya dinding studio
dirancang dengan sisten dinding ganda dari bahan yang berbeda dengan

40
rongga antara berisi udara. Untuk meningkatkan kemampuan peredaman,
maka dalam rongga udara juga dapat diletakkan glass-wool. Selanjutnya
finishing dinding dilakukan dengan bahan lunak yang menyerap bunyi,
seperti acoustic tile, softboard, atau karpet yang ditempelkan pada dinding.

Gambar 3.45 : Contoh Penerapan Material Akustik Penyebar Bunyi


Sumber : http://www.eqacoustics.com/products-page/acoustic-
treatment/spectrum/quadratic-diffuser

 Akustika pada bangunan hotel dan sejenisnya

Pada bangunan hotel dan sejenisnya ruang ruang yang menghasilkan


kebisingan seperti hall, café, restoran dan sebagainya diusahakan diletakkan dekat
dengan sumber kebisingan di luar bangunan. Sementara itu kamar hunian diletakkan
jauh dari kebisingan. Namun demikian bagian yang lebih dalam biasanya juga
diletakkan ruang ruang dengan fungsi servis. Oleh karena itu perlu diusahakan agar
meskipun menempati area yang sama, kebisingan yang timbul dari ruang servis tidak
masuk ke area hunian.

 Akustika pada ruang perpustakaan


Ruang ini dikenal sebagai ruang yang membutuhkan ketenangansangat
tinggi. Ketika kebisingan dari luar ruangan dapat diatasi dengan baik, sumber
kebisingan lain kemungkinan justru muncul daridalam ruangan seperti langkah
kakiataupun percakapan antar pengunjung. Untuk meredam kebisingan semacam
ini , bagian dalam dinding , lantai dan plafon ruang perlu dilapis denga bahan lunak
yang mampu menyerap bunyi. Keberadaan kebisingan latar belakang juga tidak
dituhkan dalam perpustakaan.

41
2.4.4. Kapasitas Akustik Dan Noise Dalam Bangunan

Kriteria yang biasa dipakai untuk mengukur kualitas akustik ruang


auditorium adalah parameter subjektif dan objektif. Parameter subjektif lebih banyak
ditentukan oleh persepsi individu, berupa penilaian terhadap seorang pembicara oleh
pendengar dengan nilai indeks antara 0 sampai 10. Parameter subjektif meliputi
intimacy, spaciousness atau envelopment, fullness, dan overal impressions yang
biasanya dipakai untuk akustik teater dan concert hall (Legoh, 1993). Paramater ini
memiliki banyak kelemahan karena persepsi masing-masing individu dapat
memberikan penilaian yang berbedabeda sesuai dengan latar belakang individu,
sehingga diperlukan metoda pengukuran yang lebih objektif dan bersifat analitis
seperti bising latar belakang (background noise), distribusi Tingkat Tekanan Bunyi
(TTB), RT (Reverberation Time), EDT (Early Decay Time), D50 (Deutlichkeit),
C50, C80 (Clarity), dan TS (Centre Time).

 Tingkat Bising Latar Belakang (Background Noise Level)

Dalam setiap ruangan, dirasakan atau tidak, akan selalu ada suara. Hal ini
menjadi dasar pengertian tentang adanya bising latar belakang (background noise).
Bising latar belakang dapat didefinisikan sebagai suara yang berasal bukan dari
sumber suarautama atau suara yang tidak diinginkan. Dalam suatu ruangan tertutup
seperti auditorium maka bising latar belakang dihasilkan oleh peralatan mekanikal
atauelektrikal di dalam ruang seperti pendingin udara (air conditioning), kipas angin,
dan seterusnya. Demikian pula, kebisingan yang datang dari luar ruangan, seperti
bising lalu lintas di jalan raya, bising di area parkir kendaraan, dan seterusnya. Bising
latar belakang tidak dapat sepenuhnya dihilangkan, akan tetapi dapat dikurangi atau
diturunkan melalui serangkaian perlakuan akustik terhadap ruangan. Besaran bising
latar belakang ruang dapat diketahui melalui pengukuran Tingkat Tekanan Bunyi
(TTB) di dalam ruangan pada rentang frekuensi tengah pita oktaf antara 63 Hz
sampai dengan 8 kHz, dimana hasil pengukuran digunakan untuk menentukan
kriteria kebisingan ruang dengan cara memetakannya pada kurva kriteria kebisingan
(Noise Criteria – NC).

42
 Distribusi Tingkat Tekanan Bunyi (TTB)

Salah satu tujuan dalam mendesain ruang auditorium adalah mencapai suatu
tingkat kejelasan yang tinggi sehingga diharapkan agar setiap pendengar pada semua
posisi menerima tingkat tekanan bunyi yang sama. Suara yang dipancarkan oleh
pembicara atau pemusik diupayakan dapat menyebar merata dalam auditorium, agar
para pendengar dengan posisi yang berbeda-beda dalam auditorium tersebut
memiliki penangkapan dan pemahaman yang sama akan informasi yang
disampaikan oleh pembicara maupun pemusik. Syarat agar pendengar dapat
menangkap informasi yang disampaikan meskipun dalam posisi berbeda adalah
selisih antara tingkat tekanan bunyi terjauh dan terdekat tidak lebih dari 6 dB. Jika
dalam suatu ruangan yang relatif kecil di mana sumber bunyi dengan tingkat suara
yang normal telah mampu menjangkau pendengar terjauh, maka hampir dapat
dipastikan bahwa distribusi tingkat tekanan bunyi dalam ruangan tersebut telah
merata.

 Respon Impuls Ruang


 Waktu Dengung (Reverberation Time)

Parameter yang sangat berpengaruh dalam desain akustik auditorium adalah


waktu dengung (Reverberation Time). Hingga saat ini, waktu dengung tetap
dianggap sebagai kriteria paling penting dalam menentukan kualitas akustik suatu
auditorium. Dalam geometri akustik disebutkan bahwa bunyi juga mengalami
pantulan jika mengenai permukaan yang keras, tegar, dan rata, seperti plesteran, batu
bata, beton, atau kaca. Selain bunyi langsung, akan muncul pula bunyi yang berasal
dari pantulan tersebut. Bunyi yang berkepanjangan akibat pemantulan permukaan
yang berulang-ulang ini disebut dengung. Waktu dengung adalah waktu yang
dibutuhkan suatu energi suara untuk meluruh hingga sebesar sepersatujuta dari
energi awalnya, yaitu sebesar 60 dB. Sabine (1993) mendefinisikan waktu dengung
yaitu waktu lamanya terjadi dengung di dalam ruangan yang masih dapat didengar.
Dalam perkembangannya, waktu dengung tidak hanya didasarkan pada peluruhan
60 dB saja, tetapi juga pada pengaruh suara langsung dan pantulan awal (EDT) atau
peluruhan-peluruhan yang terjadi kurang dari 60 dB, seperti 15 dB (RT15), 20 dB
(RT20), dan 30 dB (RT30). Waktu dengung (Reverberation Time) sangat

43
menentukan dalam mengukur tingkat kejelasan speech. Auditorium yang memiliki
waktu dengung

terlalu panjang akan menyebabkan penurunan speech inteligibility, karena


suara langsung masih sangat dipengaruhi oleh suara pantulnya. Sedangkan
auditorium dengan waktu dengung terlalu pendek akan mengesankan ruangan
tersebut “mati”.

 EDT (Early Decay Time)

EDT atau Early Decay Time yang diperkenalkan oleh V. Jordan yaitu
perhitungan waktu dengung (RT) yang didasarkan pada pengaruh bunyi awal yaitu
bunyi langsung dan pantulan-pantulan awal yaitu waktu yang diperlukan Tingkat
Tekanan Bunyi (TTB) untuk meluruh sebesar 10 dB. Pengukuran EDT disarankan
untuk menghitung parameter subjektif seperti reverberance, clarity, dan impression.

 Definition atau Deutlichkeit ( a time window of 50 ms), D50

Definition merupakan kemampuan pendengar membedakan suara dari


masing-masing instrumen dalam sebuah pertunjukan musik dalam kondisi transien,
nada dasar dan harmoniknya mulai membentuk sehingga kemungkinan terjadi
variasi spektrum. Definition juga merupakan kriteria dalam penentuan kejelasan
pembicaraan dalam suatu ruangan dengan cara memanfaatkan konsep perbandingan
energi yang termanfaatkan dengan energi suara total dalam ruangan. D50 merupakan
rasio antara energi yang diterima pada 50 ms pertama dengan total energi yang
diterima. Durasi 50 ms disebut juga batas kejelasan speech yang dapat diterima.
Semakin besar nilai D50 maka semakin baik pula tingkat kejelasan pembicaraan,
karena semakin banyak energi suara yang termanfaatkan dalam waktu 50 ms.
Inteligibilitas atau kejelasan yang baik didapatkan untuk harga D50 >0%. Adapun
kategori penilaian bagi speech intelligibility berdasarkan D50 dapat diukur.

 Clarity atau Klarheitsmass (C50 ; C80)

Clarity diukur dengan membandingkan antara energi suara yang


termanfaatkan (yang datang sekitar 0.05 – 0.08 detik pertama setelah suara langsung)

44
dengan suara pantulan yang datang setelahnya, dengan mengacu pada asumsi bahwa
suara yang ditangkap pendengar dalam percakapan adalah antara 50-80 ms dan suara
yang datang sesudahnya dianggap suara yang merusak. Semakin tinggi nilai C50,
maka semakin pendek waktu dengung, demikian pula sebaliknya. Tingkat kejelasan
pembicaraan akan bernilai baik jika C50 lebih kecil atau sama dengan -2 dB. C80
merupakan rasio dalam dB antara energi yang diterima pada 80 ms pertama dari
signal yang diterima dan energi yang diterima sesudahnya. Batas ini ditujukan untuk
kejelasan pada musik. Nilai C80 adalah nilai parameter yang terukur lebih dari 80
ms, semakin tinggi nilai C80 maka suara akan semakin tidak bagus.

 TS (Centre Time)

TS merupakan waktu tengah antara suara datang (direct) dan suara pantul
(early to late), semakin tinggi nilai TS maka kejernihan suara akan semakin
buruk.TS merupakan sebuah titik dimana energi diterima sebelum titik ini seimbang
dengan energi yang diterima sesudah titik tersebut. TS sebagai pengukur sejauh
mana kejelasan sebuah suara diterima oleh pendengar, di mana semakin rendah nilai
TS semakin jelas suara yang diterima. Menurut Ribeiro (2002), parameter objektif
berupa respon impuls ruang yang meliputi waktu dengung (Reverberation Time),
waktu peluruhan (Early Decay Time), D50 (Definition), C50, C80 (Clarity) dan TS
(Centre Time) memiliki standar besaran optimum tertentu yang perlu diperhatikan.

 Parameter Subjektif

Parameter subjektif (berupa intimacy) merupakan impresi dalam kualitas


bunyi yang seolah-olah sumber bunyi berada di dekat pendengar, atau disebut pula
“presence”.Spaciousness atau envelopment merupakan kriteria bunyi yang seolah-
olah meliputi seluruh ruang dengan merata. Sedangkan fullness of tone merupakan
karakter yang mudah dikenali dalam musik, berkaitan dengan kualitas bunyi yang
dihasilkan oleh instrumen musik secara memuaskan, kualitasnya sangat ditentukan
oleh waktu dengung.Overal impression merupakan penilaian rata-rata dari semua
parameter yang penting.

45
Kondisi akustik suatu pertunjukan perlu disesuaikan dengan karakter
kebutuhan akustik bagi suatu pertunjukan. Untuk ruang yang tidakterlalu besar,
sampai dengan 2.800 m2, perlakuan akustiknya tidak begitu berbeda.Namun, untuk
ruang yang lebih besar, pilihan waktu dengung yang tepat perlu dikompromikan.
Apabila auditorium tidak dilengkapi oleh sistem pengeras suaraelektronik (elektro-
akustik ), sebaiknya jumlah penonton dibatasi sampai 1.000 orang. Bila ruang
dilengkapi dengan sistem pengeras suara elektronik, maka karakter akustikyang
diinginkan dapat diatur dengan mudah, disesuaikan dengan waktu dengung yang
tepat untuk kebutuhan tertentu. Sistem tersebut dapat dipakai untuk mengubah dan
menyesuaikan kondisi akustik yang dibutuhkan.

2.5. AKUSTIK DAN NOISE LUAR RUANGAN

Akustik ruang merupakan salah satu ilmu rekayasa bunyi yang mempelajari
perilaku suara didalam suatu ruang. Akustik ruang berhubungan dengan kualitas
suara pada bangunan, yang dipengaruhi oleh penilaian secara obyektif maupun
subyektif. Penilaian obyektif yaitu besaran-besaran yang bersifat umum, misalnya
besaran tingkat tekanan bunyi dari sumber suara dan besaran waktu dengung.
Penilaian subyektif berdasarkan dari orang yang menilainya. Tingkat penilaian
tersebut akan sangat berpengaruh pada tingkat kenyamanan pengguna yang berada
pada ruangan tersebut.

Menurut Satwiko (2004:124) akustik dibagi dalam akustik ruang (room


acoustics-bunyi yang dikehendaki) dan kebisingan (noise-bunyi yang tidak
dikehendaki). Kriteria kebisingan adalah tingkat kebisingan terendah yang
dipersyaratkan untuk ruang tertentu menurut fungsi utamanya. Sedangkan tingkat
kebisingan yang diperbolehkan (acceptable noise level) adalah tingkat kebisingan
yang diperkenankan terjadi di suatu ruangan agar aktivitas (fungsi) tidak terganggu
(Satwiko, 2004:127).

Noise senantiasa dihubungkan oleh ketidaknyamanan yang ditimbulkan


olehnya. Belum banyak orang yang menyadari bahwa munculnya noise juga dapat
menyebabkan penurunan kesehatan. Uraian berikut diharapkan dapat menjelaskan
kaitan keduanya secara lebih jelas. Sebagai contoh, orang yang sulit beristirahat

46
karena di sekitar rumahnya selalu ramai dengan bunyi yang tidak dikehendaki,
lambat laun dapat menurun kesehatannya. Selanjutnya masalah psikologi pun dapat
muncul akibat dari istirahat yang tidak mencukupi, seperti cepat lelah dan mudah
marah (Nilsson, 1991).

Noise bersifat subjektif, sehingga batasan noise bagi orang yang satu bisa
saja berbeda dengan batasan noise bagi yang lain. Sebjektivitas noise bergantung
pada:
1. Lingkungan dan keadaan
Keadaan fisik dari individu menjadi salah satu faktor penentu dari noise.
Jangankan bunyi yang keras, bunyi yang bersifat cukup pelan pun dapat menjadi
bunyi yang tidak dikehendaki bagi orang yang sedang sakit ataupun memerlukan
konsentrasi tinggi dalam menjalankan aktivitasnya pada saat tertentu. Sementara itu,
bagi orang yang sehat, tingkat kekerasan yang sama mungkin tidak menimbulkan
gangguan yang berarti. Begitu pula dengan lingkungan. Sebagai contoh, meski
sama-sama sedang membaca seseorang yang sedang berada di bengkel masih bisa
memusatkan pikirannya walaupun ia berada di tempat yang bising. Namun tidak
demikian ketika ia berpindah ke ruang baca perpustakaan.

2. Sosial budaya
Setiap orang memiliki gaya hidup yang berbeda-beda. Hal tersebut
menyebabkan masing-masing orang memiliki toleransi berbeda terhadap nois.

3. Kegemaran atau hobi


Kegemaran sekelompok orang akan jenis musik tertentu dapat menjadi nois
bagi kelompok lainnya yang kebetulan tidak menyukai jenis musik tertentu.
Dalam nois dikenal istilah background noise (nois latar belakang), noise, dan
ambient noise (nois ambien).
 Noise latar belakang adalah bunyi di sekitar kita yang muncul secara tetap
dan stabil pada tingkat tertentu. Nois latar belakang yang nyaman berada
pada tingkat kekerasan tidak melebihi 40 dB.
 Noise adalah bunyi yang muncul secara tidak tetap atau seketika dengan
tingkat kekerasan yang melebihi noise latar belakang pada daerah tersebut.

47
 Noise ambien adalah tingkat kebisingan di sekitar kita, yang merupakan
gabungan antara noise latar belakang dan noise.
Selain ditentukan oleh tingkat kebisingan (dB), tingkat gangguan noise latar
belakang juga ditentukan oleh frekuensi bunyi yang muncul. Oleh karenanya, kedua
faktor itu kemudian dipertimbangan bersama dalam sebuah pengukuran yang disebut
Noise Criteria (NC), sebagaimana disajikan pada gambar :

NIlai NC yang Identik dengan


Fungsi Bangunan/Ruang
disarankan kebisingan (dBA)
Ruang konser, opera, studio rekam, dan
NC 15-NC 20 25 s.d. 30
ruang dengan tingkat akustik yang detik
Rumah sakit, dan ruang tidur/istirahat
pada rumah tiggal, apartemen, motel, NC 20-NC 30 30 s.d. 40
hotel, dan ruang lain untuk istirahat/tidur.
Auditorium multifungsi, studio
radio/televisi, ruang konferensi, dan ruang
NC 20-NC 30 30 s.d. 40
lain dengan tingkat akustik yang sangat
baik
Kantor, kelas, ruang baca, perpustakaan,
dan ruang lain dengan tingkat akustik NC 30-NC 35 40 s.d. 45
yang baik
Kantor dengan penggunaan ruang
bersama, kafetaria, tempat olah raga, dan
NC 35-NC 40 45 s.d. 50
ruang lain degan tingkat akustik yang
cukup
Lobi, koridor, ruang bengkel kerja, dan
ruang lain yang tidak membutuhkan NC 40-NC 45 50 s.d. 55
tingkat akustik yang cermat
Dapur, ruang cuci, garasi, pabrik, NC 45-NC 55 55 s.d. 65
pertokoan
Tabel: Rekomendasi nilai Noise Criteria (NC) untuk fungsi tertentu
Sumber: Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 24

Toleransi manusia terhadap kebisingan bergantung pada faktor akustikal dan


non-akustikal (Sanders dan McCormick, 1987).

48
 Faktor akustikal meliputi: tingkat kekerasan bunyi, frekuensi bunyi, durasi
munculnya bunyi, fluktuasi kekerasan bunyi, fluktuasi frekuensi bunyi, dan
waktu munculnya bunyi.
 Faktor non akustikal meliputi: pengalaman terhadap kebisingan, kegiatan,
perkiraan terhadap kemungkinan munculnya kebisingan, manfaat objek yang
menghasilkan kebisingan, kepribadian, lingkungan dan keadaan.
Pemerintah Indonesia memiliki aturan kebisingan dalam Undang Undang No
16/2002 mengenai Bangunan Gedung (UUBG). Dalam UUBG, peraturan
kebisingan hanya dimasukkan dalam pasal mengenai kenyamanan, belum sampai
pada pasal mengenai kesehatan. Kebisingan juga diatur dalam Peraturan MenKes
No 718/MenKes/Per/XI/87 dan Keputusan Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular
(PPM) No. 70-I/PP.03.04.LP. Dari peraturan tersebut, diperbolehlah bakuan tingkat
kebisingan menurut pintakat peruntukan (zone) sebagaimana tercantum pada tabel

Pintakat Peruntukan Tingkat Kebisingan (dBA)


Maksimum di dalam Bangunan
Dianjurkan Diperbolehkan
A Laboratorium, rumah sakit, 35 45
panti perawatan
B Rumah, sekolah, tempat 45 55
rekreasi
C Kantor, pertokoan 50 60
D Industri, terminal, stasiun 60 70
KA
Tabel: Pintakan Peruntukan (Peraturan Menkes No 718/MenKes/Per/XI/87, dalam Lutfi,1995)
Sumber: Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 28

Untuk mengetahui tingkat kekerasan bunyi, digunakan alat bernama


pengukur tingkat bunyi (Sound Level Meter (SLM)), maka untuk mengukur
tingkat kebisingan pada suatu area juga digunakan alat yang sama.

Kebisingan yang terjadi di sekitar kita dapat berasal dari berbagai sumber.
Sumber ini dapat dibedakan menjadi seumber yang diam dan sumber yang bergerak.
Contoh dari sumber yang diam adalah industri pabrik dan mesin mesin konstruksi.

49
Sedangkan contoh dari sumber yang bergerak misalnya kendaraan bermotor, kereta
api, dan pesawat terbang.
 Kebisingan industri pabrik
Industri modern yang telah menggunakan peralatan-peralatan bermesin
merupakan sumber kebisingan diam yang sangat potensial. Kebisingan yang
dihasilkan oleh mesin-mesin di dalam pabrik juga dapat merambat ke luar
bangunan pabrik, sehingga selain dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di
sekitar pabrik. Mesin-mesin pabrik umumnya menghasilkan bunyi berfrekuensi
rendah, sehingga selain menghasilkan bunyi bising, mesin tersebut juga
menghasilkan getaran. Oleh karena itu, idealnya sebuah bangunan pabrik
dirancang sebagai bangunan yang mampu meredam getaran agar tidak merambat
keluar, sehingga bangunan diluar cukup dirancang untuk menahan
kebisingannya saja.
 Kebisingan kereta api
Kebisingan dari kereta api juga memiliki wujud ganda berupa bunyi dan getaran
akibat adanya gesekan roda kereta api dari bahan keras dengan rel kereta api
yang juga terbuat dari bahan keras. Kebisingan yang muncul datang dari mesin
kereta, klakson, dan gesekan antara roda dan rel yang seringkali menghasilkan
bunyi berdecit. Kebisingan oleh kereta api dirasakan oleh civitas yang berada
dalam stasiun kereta api dan bangunan yang dibangun di luar jalur kereta api.
 Kebisingan pesawat terbang
Bunyi bunyi yang muncul pada pesawat terbang memiliki bobot yang berbeda
dengan bunyi mesin mesin lain. Kebisingan yang terjadi dari pesawat terbang
umumnya diderita oleh bangunan yang berlokasi dekat dengan pelabuhan udara
dan beberapa ratus meter dari pelabuhan udara tersebut (ketika pesawat tinggal
landas dan mendarat, serta pesawat berada pada ketinggian rendah). Ketika
pesawat telah mencapai posisinya pada ketinggian tertentu, maka kebisingan
yang dihasilkan sepanjang jalur perjalanannya tidak akan mengganggu
kenyamanan banguunan dibawahnya karena jaraknya yang sangat jauh.
Redaman kebisingan melalui dinding dan atap bangunan yang dibuat sedemikian
rupa dapat mengurangi kebisingan pesawat saat tinggal landas, mendarat, dan
terbang rendah.

50
 Kebisingan Jalan Raya
Kebisingan jalan raya disebabkan oleh pemakaian kendaraan bermotor, baik
yang beroda dua, beroda empat, maupun beroda lebih dari empat. Dengan begitu
banyaknya sumber kebisingan diatas permukaan jalan, maka jalan raya pun
ditetapkan sebagai sebagai sumber kebisingan utama dewasa ini
(Mediastika,2005).
Secara umum kendaraan yang beroperasi di jalan raya dapat dikelompokkan
ke dalam beberapa kategori. Menurut sistem pengoperasiannya, kendaraan
dibedakan menjadi kendaraan bermotor dan tidak bermotor. Klasifikasi ini
sebenarnya menunjukkan bahwa masing-masing kategori kendaraan menghasilkan
spectrum bunyi yang berbeda (White and Walker, 1982).
Kendaraan tidak bermotor dapat dipastikan tidak menghasilkan kebisingan
secara langsung, namun sangat mungkin bahwa penggunaan kendaraan tidak
bermotor yang cenderung berjalan lebih lambat dapat meningkatkan kebisingan
secara tidak langsung. Sebagai contoh, lambatnya laju kendaraan tidak bermotor
pada ruas jalan dengan lebar terbatas akan menahan laju kendaraan bermotor
dibelakangnya yang menyebabkan kendaraan bermotor berkumpul di satu titik,
sehingga kebisingan dapat meningkat.
Kebisingan yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor berasal dari beberapa
sumber, yaitumesin, transmisi, rem, klakson, knalpot, dan gesekan roda dengan
jalan. (White dan Walker, 1982).

Gambar3.46: Macam dan Letak Kebisingan yang ditimbulkan kendaraan bermotor roda empat atau
lebih (White and Walker, 1982)
Sumber: Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 36

51
Pada sisi lain kemiringan jalan juga mepengaruhi kebisingan. Pada jalan
menanjak, dibutuhkan torsi (momen punter) yang lebih besar dibandingkan jalan
rata, agar kendaraan dapat bergerak. Untuk menghasilkan torsi yang lebih besar
dibutuhkan posisi mesin kendaraan pada gigi atau persneling yang lebih rendah
dengan putaran mesin (rotation per minute/rpm) yang tinggi, sehingga dihasilkan
kebisingan yang lebih tinggi. Demikian pula saat kendaraan menuruni jalan, gigi
rendah digunakan untuk membantu pengereman (engine brake), agar kerja rem
menjadi lebih efektif. Dari uraian diatas, cukup jelas bahwa bangunan yang berada
di tepi jalan menurun/menanjak dan bangunan di tepi jalan yang tidak halus atau
tidak rata akan menderita kebisingan lebih tinggi disbanding bangunan yang sama
berada di tepi jalan mendatar dengan permukaan halus.
Tingkat kebisingan kendaraan bermotor yang berasal dari mesin kendaraan
diukur pada ketinggian mesin dari permukaan jalan. Meski menurut jenis
kendaraannya ketingian mesin dari permukaan jalan dapat berbeda-beda,
sebagaimana yang ditunjukkan gambar …, namun umumnya ketinggian rata ratanya
adalah 50-80cm. Untuk jenis jalan yang banyak dilalui kendaraan berat, sumber
kebisingan dari kendaraan dapat dipakai rata rata 80 cm. Sedangkan untuk jalan yang
lebih banyak dilalui kendaraan biasa selain kendaraan berat, sumber kebisingannya
dapat ditentukan secara rata-rata pada ketinggian 50 cm (Mediastika,2005).
Secara terinci faktor-faktor penentu kebisingan di jalan dapat diuraikan
sebagai berikut:
1. Jumlah atau volume kendaraan yang semakin banyak dalam satu ruas jalan
akan mengakibatkan tingkat kebisingan yang lebih tinggi dan sebaliknya.
2. Semakin tinggi rasio kendaraan berkapasitas besar dibandingkan kendaraan
berkapasitas kecil pada satu ruas jalan, semakin tinggilah tingkat kebisingan
yang dihasilkannya, terutama apabila kendaraan berkapasitas besar tersebut
digunakan sebagai kendaraan umum/niaga.
3. Semakin tinggi rasio kendaraan beroda dua bermesin dua langkah
dibandingkan dengan kendaraan roda dua bermesin empat langkah pada satu
ruas jalan, semakin tinggilah tingkat kebisingan yang dihasilkan.
4. Semakin cepat laju kendaraan, semakin tinggilah tingkat kebisingan pada
kendaraan tersebut (berbeda dengan efek polusi udara, semakin lambat

52
kendaraan, semakin tinggilah emisi gas buang yang dihasilkannya karena
terakumulasi pada satu titik).
5. Selain ditentukan oleh karakteristik kendaraan, laju kendaraan juga sangat
tergantung pada karakteristik jalan. Kendaraan yang melaju cepat akan
menghasilkan kebisingan yang lebih tinggi, namun perbedaan ini tidak
signifikan bila dibandingkan saat kendaraan berjalan lambat. Keaadan
dilematis terjadi karena dengan semakin lebar dan semakin panjangnya suatu
jalan, serta semakin baiknya pengaturan jalur jalan dan kualitas jalan,
kendaraan akan cenderung melaju semakin cepat. Sementara pada kondisi
lain, jalan yang pendek dan sempit dengan penataan jalur yang kurang baik
serta kondisi permukaan jalan yang buruk, kendaraan akan berjalan lambat.
Pada keadaan kendaraan yang berjalan lambat, apabila jumlah kendaraannya
cukup banyak, tingkat kebisingan yang dihasilkannya juga cukup tinggi.
Keadaan ini juga menghasilkan polusi udara yang lebih besar. Dari uraian
singkat diatas dapat disimpulkan bahwa jalan, baik yang berkualitas baik
maupun buruk, akan menghasilkan tingkat kebisingan yang hampir sama
ketika dilalui kendaraan dalam jumlah banyak. Namun apabila jalan itu sepi,
akan berpengaruh pada durasikebisingan. Bagi suatu titik di tepi jalan pada
suatujalan yang sepi, kualitas jalan yang baik akan menghasilkan kebisingan
yang sama tingginya, namun dalam durasi yang lebih pendek, sebab
kendaraan berlalu dengan cepat dari titik tersebut, dibandingkan bila
kendaraan terpaksa berjalan lambat akibat kualitas jalan yang buruk.

No Kelas Jalan Spesifikasi


1 Jalan Arteri Melayani angkutan umum denganciri perjalanan jarak jauh,
kecepatan tinggi, dan jalan masuk dibatasi secara efisien
2 Jalan Kolektor Melayani angkutan umum dengan ciri perjalanan jarak sedang,
kecepatan rendah, dengan jumlah jalan masuk dibatasi
3 Jalan Lokal Melayani angkutan umum dengan ciri perjalanan dekat, kecepatan
rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi
Tabel: Kelas jalan menurut fungsi
Sumber: Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 39

53
No Kelas Spesifikasi Jalan dan Kendaraan
Jalan
1 I Jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor
termasuk muatannya dengan lebar maksimum 2,5 m,
panjang maksimum 18m dan muatannya dengan
sumbu terberat > 10 ton
2 II Jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor
termasuk muatannya dengan lebar maksimum 2,5 m,
panjang maksimum 18m dan muatannya dengan
sumbu terberat maksimum 10 ton
3 III Jalan arteri atau kolektor yang dapat dilalui
kendaraan bermotor termasuk muatannya dengan
lebar maksimum 2,5 m, panjang maksimum 18m dan
muatannya dengan sumbu terberat maksimum 8 ton
4 IV Jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor
termasuk muatannya dengan lebar maksimum 2,5 m,
panjang maksimum 12m dan muatannya dengan
sumbu terberat maksimum 8 ton
5 V Jalan lokal yang dapat dilalui kendaraan bermotor
termasuk muatannya dengan lebar maksimum 2,1 m,
panjang maksimum 9m dan muatannya dengan
sumbu terberat maksimum 8 ton
Tabel: Kelas jalan menurut PP no 43/1993
Sumber: Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 39

6. Kemiringan jalan berpengaruh terhadap tingkat kebisingan yang dihasilkan.


Sebuah titik yang berada ditepi jalan miring (menanjak atau menurun) akan
menerima kebisingan yang lebih besar dibandingkan dengan jalan datar.
7. Sebuah titik di tepi jalan, yang berdekatan dengan pengaturan lalu lintas,
seperti traffic light, zebra-cross, atau perputaran, juga akan menerima
kebisingan yang lebih tinggi, karena kendaraan berhentiatau berjalan lambat
pada lokasi tersebut.
8. Keadaan di sisi jalan yang berpengaruh terhadap kebisingan adalah muka
bangunan yang berhadap hadapan dan saling membentuk koridor. Keadaan
ini akan memantulkan bunyi yang dihasilkan di jalan, dan mengakibatkan
kebisingan menjadi lebih tinggi.

54
9. Pemanfaatan trotoar untuk area parkir dan perdagangan informal juga dapat
menimbulkan kebisingan yang lebih tinggi pada suatu titik di tepi jalan,
karena kendaraan berjalan lambat dan sangat mungkin terjadi kemacetan
pada ruas jalan tersebut.

2.5.1. Sistem Akustik Dan Noise Luar Bangunan


Tiap individu memiliki subjektifitas terhadap kebisingan. Toleransi manusia
terhadap kebisingan tergantung pada faktor akustikal dan non-akustikal (Sanders dan
McCornick dalam Christina, 2005). Faktor akustikal meliputi: tingkat kekerasan
bunyi, frekuensi bunyi, durasi munculnya bunyi, fluktuasi kekerasan bunyi, fliktuasi
frekuensi bunyi, dan waktu munculnya bunyi. Sedangkan faktor non-akustikal
meliputi: pengalaman terhadap kebisingan, kegiatan, perkiraan terhadap
kemungkinan munculnya kebisingan, manfaat objek yang menghasilkan kebisingan,
kepribadian, lingkungan dan keadaan. Semua faktor tersebut harus diperhitungkan
setiap kali mengukur tingkat kebisingan pada suatu tempat, sehingga data yang
dihasilkan menjadi sahih dan solusi yang diterapkan lebih tepat.
Kebisingan dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu: kebisingan tunggal dan
kebisingan majemuk. Kebisingan tunggal dihasilkan oleh sumber bunyi berbentuk
titik dan kebisingan majemuk dihasilkan oleh sumber berbentuk garis. Tingkat
gangguan kebisingan dapat diukur menggunakan skala berdasarkan apa yang
dirasakan manusia, seperti: merasakan adanya kebisingan, merasa terusik, merasa
terganggu, sampai merasa sangat terganggu atau tidak tahan.
Secara konseptual teknik pengendalian kebisingan yang sesuai dengan hirarki
pengendalian risiko (Tarwaka, 2008) adalah:
1. Eliminasi
Eliminasi merupakan suatu pengendalian risiko yan bersifat permanen dan
harus dicoba untuk diterapkan sebagai pilihan prioritas utama. Eliminasi dapat
dicapai dengan memindahkan objek kerja atau sistem kerja yang berhubungan
dengan tempat kerja yang kehadirannya pada batas yang tidak dapat diterima oleh
ketentuan, peraturan dan standart baku K3 atau kadarnya melebihi Nilai Ambang
Batas (NAB).
2. Subtitusi

55
Pengendalian ini dimaksudkan untuk menggantikan bahan-bahan dan
peralatan yang berbahaya dengan bahan-bahan dan peralatan yang kurang berbahaya
atau yang lebih aman, sehingga pemaparannya selalu dalam batas yang masih bias
ditoleransi atau dapat diterima.
3. Engenering Control
Pengendalian dan rekayasa tehnik termasuk merubah struktur objek kerja
untuk menceganh seseorang terpapar kepada potensi bahaya, seperti pemberian
pengaman pada mesin.
4. Isolasi
Isolasi merupakan pengendalian risiko dengan cara memisahkan seseorang
dari objek kerja. Pengendalian kebisingan pada media propagasi dengan tujuan
menghalangi paparan kebisingan suatu sumber agar tidak mencapai penerima,
contohnya: pemasangan barier, enclosure sumber kebisingan dan tehnik
pengendalian aktif (active noise control) menggunakan prinsip dasar dimana
gelombang kebisingan yang menjalar dalam media penghantar dikonselasi dengan
gelombang suara identik tetapi mempunyai perbedaan fase 1800 pada gelombang
kebisingan tersebut dengan menggunakan peralatan control.
5. Pengendalian Administratif
Pengendalian administratif dilakukan dengan menyediakan suatu sistem
kerja yang dapat mengurangi kemungkinan seseorang terpapar potensi bahaya.
Metode pengendalian ini sangat tergantung dari perilaku pekerja dan memerlukan
pengawasan yang teratur untuk dipatuhinya pengendalian secara administratif ini.
Metode ini meliputi pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat, rotasi kerja untuk
mengurangi kelelahan dan kejenuhan.
6. Alat Pelindung Diri
Alat pelindung diri secara umum merupakan sarana pengendalian yang
digunakan untuk jangka pendek dan bersifat sementara, ketika suatu sistem
pengendalian yang permanen belum dapat diimplementasikan. APD (Alat Pelindung
Diri) merupakan pilihan terakhir dari suatu sistem pengendalian risiko tempat kerja.
Antara lain dapat dengan menggunakan alat proteksi pendengaran berupa: ear plug
dan ear muff. Ear plug dapat terbuat dari kapas, spon, dan malam (wax) hanya dapat
digunakan untuk satu kali pakai. Sedangkan yang terbuat dari bahan karet dan plastik
yang dicetak (molded rubber/ plastic) dapat digunakan berulang kali. Alat ini dapat

56
mengurangi suara sampai 20 dB(A). Sedangkan untuk ear muff terdiri dari dua buah
tutup telinga dan sebuah headband. Alat ini dapat mengurangi intensitas suara
hingga 30 dB(A) dan juga dapat melindungi bagian luar telinga dari benturan benda
keras atau percikan bahan kimia.
Medium perambat bising pada lingkungan, yaitu berupa jalan dan tanah
(termasuk getaran dalam perambatan bising frekuensi rendah) serta udara (semua
frekuensi bising). Teknik control bising pada lingkungan, antara lain sebagai berikut.
1) Merencanakan zoning, alokasi sumber bising dan zona peka bising pada
master plan kawasan.
2) Memanfaatkan penahan bising berupa bentukan alam (bukit dan lembah
termasuk bentukan buatan)
3) Mereduksi bising melalui vegetasi.
Kontrol bising pada lingkungan seharusnya telah direncanakan sejak desain
awal suatu kawasan agar potensi alam dapat dimanfaatkan dan kendala yang
diperkirakan akan muncul dapat diantisipasi. Pembahasan kontrol bising pada
lingkungan mencakup zoning dan alokasi, penahan serta vegetasi. Zoning dan
alokasi adalah teknik control bising melalui penataan kawasan, misalnya tata ruang,
tata guna lahan dan sempadan jalan agar zona sumber bising terpisah dengan zona
peka bising. Teknik zoning dan alokasi, antara lain sebagai berikut:
1. Pembuatan kantung parkir, misalnya wilayah parker pada kawasan perumahan
dibuat tersebar tetapi alokasinya tetap jauh dari bangunan perumahan tersebut.
2. Alokasi kawasan peka bising jauh dari sumber bising, misalnya bangunan
perumahan dibuat menjauhi jalan raya atau sumebr bising lainnya.
Pemanfaatan atau pengadaan bukit, tanggul dan lembah dapat diperdayakan
sebagai penahan atau teknik control bising dengan membuat bayangan bunyi
menggunakan bentukan alam. Selain pengadaan bukit, membentuk bayangan bunyi
tergantung proporsi jarak antara sumber bising, pagar, dan penerima. Makin dekat
jarak pagar terhadap pendengar dibandingkan jarak pagar terhadap maka makin
banyak bunyi yang berbelok ke sona penerima.
Selain itu, vegetasi juga dapat dijadikan teknik kontrol bising dengan cara menyebar
bising oleh permukaan tak beraturan dahan, ranting, dan daun. Cara ini memerlukan
waktu dan kurang efektif karena vegetasi mengalami pertumbuhan, sehingga

57
berubah bentuk dan dimensi. Efektivitas dalam reduksi bising oleh tanaman berdaun
cukup rapat adalah sekitar 5dB.
Tanpa harus melakukan perlakuan khusus, misalnya dengan menempatkan
elemen-elemen buatan, sebenarnya fenomena alam yang terjadi disekitar kita
mampu mengurangi tingkat kebisingan. Meskipun nilai reduksi kebisingan akibat
kondisi di sekitar bangunan tidak terlampau signifikan, ada baiknya kita mempelajari
hal tersebut untuk selanjutnya berusaha mencapai nilai maksimal. Adapun faktor-
faktor alami yang memungkinkan mereduksi kebisingan adalah:
a. Kita memahami bahwa dengan semakin jauhnya jarak telinga terhadap sumber
kebisingan maka semakin lemahlah bunyi yang diterima. Reduksi kebisingan
akibat jarak akan berbeda besarnya antara sumber kebisingan tunggal atau
majemuk. Penelitian menunjukkan bahwa pada sumber bunyi tunggal, setiap kali
jarak telinga dari sumber bertambah dua kali lipat dari jarak semula, kekuatan
bunyi akan turun sebesar 6 dB. Sedangkan pada sumber bunyi majemuk, setiap
kali jarak telinga dari sumber bertambah dua kali lipat dari jarak semula,
kekuatannya akan turun sebesar 3 dB (BRE/CIRIA, 1983).
b. Udara di sekitar kita, yang menjadi medium perambatan gelombang bunyi,
sesungguhnya mampu menyerap sebagian kecil kekuatan gelombang bunyi yang
melewatinya. Kemampuan serapan udara tersebut bergantung pada suhu dan
kelembabannya. Serapan yang lebih besar akan terjadi pada udara bersuhu
rendah dibandingkan dengan udara bersuhu tinggi. Serapan juga terjadi lebih
baik pada udara dengan kelembaban relatif rendah, dibandingkan pada udara
dengan kelembaban relatif tinggi.

Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: pada udara yang bersuhu rendah,
molekulnya lebih stabil dan rapat sehingga gesekan yang terjadi ketika ada

58
gelombang bunyi yang merambat menjadi lebih besar (dengan demikian
kekuatannya akan menurun). Bunyi merambat lebih cepat pada udara yang
bersuhu tinggi karena molekulnya lebih renggang (sehingga bunyi bisa
merambat dengan halangan minimal). Sementara itu pada udara yang memiliki
kelembaban relatif tinggi, titik-titik air yang terkandung di udara akan
mengurangi terjadinya gesekan saat ada gelombang bunyi yang merambat,
sehingga penurunan kekuatan gelombang bunyi juga tidak besar.
c. Pengaruh angin dalam mengurangi kekuatan bunyi adalah fenomena yang belum
dapat dipahami sepenuhnya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kecepatan dan arah
angin. Pada kondisi angin bertiup dari sumber bunyi menuju satu titik, maka titik
tersebut akan menerima bunyi dengan lebih cepat, dan dalam kekuatan yang
cukup besar. Namun sebaliknya, bila angin bertiup menuju arah yang
berlawanan menjauhi titik maka titik tersebut akan merima bunyi dengan
kekuatan yang lemah.
Perkiraan reduksi bunyi setiap 30,5 m pada
Frekuensi
kecepatan angin 16 km/jam (4,4m /det)
125 Hz 0.3 dB
250 Hz 0.5 dB
500 Hz 1.3 dB
1000 Hz 2,8 dB
2000 Hz 2,3 dB
4000 Hz 2,5 dB
Tabel : Pengaruh angin terhadap reduksi bunyi
Sumber: Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 61

d. Permukaan bumi yang masih dibiarkan sebagaimana adanya seperti tertutup


tanah atau rerumputan, adalah permukaan yang lunak. Apabila bunyi merambat
dari sumber ke suatu titik melalui permukaan lunak semacam ini, permukaan
tersebut akan cukup signifikan menyerap bunyi yang merambat, sehingga bunyi
yang diteriam titik tersebut akan melemah kekuatannya. Adapun permukaan
bumi yang keras seperti jalan yang dilapisi aspal atau taman yang dilapisi
pavingblock akan memberikan efek sebaliknya. Hal ini terjadi karena permukaan
keras tersebut tidak menyerap gelombang bunyi merambat tetapi justru

59
memantulkannya, sehingga bunyi yang sampai ke suatu titik pada jarak tertentu
dari sumber bunyi dapat menjadi lebih kuat.

Gambar 3.47 : Kondisi permukaan bumi yang rata atau berbukit yang memungkinkan terjadinya
reduksi oleh penghalang secara alamiah.
Sumber: Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 61

e. Reduksi bunyi akibat adanya objek penghalang dapat dibedakan menjadi dua
yaitu halangan yang terjadi secara alamiah dan halangan buatan. Halangan
alamiah terjadi ketika di antara sumber bunyi dan suatu titik berdiri penghalang
yang tidak sengaja dibangun oleh manusia, seperti kontur alam yang membentuk
bukit dan lembah. Adapun penghalang yang sengaja dibangun oleh manusia bisa
berupa pagar, tembok, dan lain sebagainya. Sebuah penghalang sesungguhnya
baru akan efektif ketika difungsikan untuk menahan bunyi berfrekuensi tinggi.

2.5.2. Komponen Akustik Dan Noise Luar Bangunan


Bagi bangunan yang berdiri di camping jalan dengan tingkat kebisingan yang
tinggi, upaya meredam masuknya kebisingan ke dalam bangunan seringkali tidak
cukup dilakukan hanya dengan penataan layout bangunan dan membangun barrier.
Pada kondisi ini, pemakaian prinsip insulasi kombinasi pada dinding bangunan yang
menghadap ke kebisingan juga perlu dipertimbangkan.

60
Pemakaian material yang berbeda umtuk meredam kebisingan akan
menghasilkan nilai insulasi kombinasi pada material tersebut. Bila yang
dikombinasikan adalah material tabal-berat-masif dengan material ringan-tipis-
transparan, maka nilai insulasi material tebal akan turun dan nilai insulasi material
tipis akan naik. Itu sebabnya kita perlu mencari kombinasi material yang tidak terlalu
menurunkan nilai insulasi.
Bangunan yang berdiri pada iklim tropis-lembab seperti halnya Indonesia
sangat membutuhkan pemakaian elemen tipis-ringan-transparan untuk proses
pertukaran udara yang baik. Oleh karena itu, seringkali kita tidak mungkin hanya
menggunakan material tebal-berat-masif pada dinding yang menghadap ke jalan,
sebab angin justru datang dari arah tersebut. Namur demikian, bagi bangunan yang
masih menderita kebisingan hebat setelah dipasangi barrier, seyogyanya dinding
yang menghadap kebisingan itu didisain secara keseluruhan menggunakan material
tebal tersebut. Sedangkan kebutuhan pertukaran udara dapat diusahakan secara
buatan denga kipas angin atai Air Conditioner (AC).
Pada bangunan yang hanya membutuhkan sedikit tambahan peredaman
kebisingan estela dibangunnya barrier, metode pengkombinasian material tebal dan
tipis untuk kepentingan pencahayaan dan penghawaan dapat digunakan, sepanjang
kita memperhatikan berapa tingkat insulasi yang dibutuhkan. Sebagai contoh, bila
jalan di depan lahan yang hendak dipergunakan untuk perumahanmneghasilkan
kebisingan 80 dBA, sedangkan persyaratan ideal tingkat kebisingan di dalam rumah
tingla adalah 45 dBA. maka disain bangunan dimaksud harus mampu mengurangi
kebisingan sebesar 35 dBA. Jika akibat keterbatasan lahan, penataan layout
bangunan tidak memberikan reduksi kebisingan yang significan, langka selanjutnya
adalah membangun barrier. Jika barrier yang dibangun hanya mampu mereduksi
kebisingan hingga 10 dBA, maka dinding depan bangunan harus terbuat dari
material tebal-berat-masi saja atau kombinasi material tebal dan tipis yang memiliki
nilai insulasi minimal 25 dBA.

61
2.5.3. Layout Akustik Dan Noise Luar Bangunan
Ketika kebutuhan akan luasan bangunan masih dapat menyisakan lahan
terbuka yang luas, maka pemilihan layout bangunan tidak memberikan pengaruh
yang berarti. Sebab pada lahan yang luas, bangunan dapat dengan leluasa diletakkan
jauh di bagian belakang menjauhi sumber kebisingan. Penataan layout sangat
penting dilakukan pada bangunan dengan luas lahan terbatas. Pada pemilihan layout
bangunan untuk mengurangi kebisingan, langkah pertama adalah mengelompokkan
ruang-ruang yang membutuhkan ketenangan, terpisah dari ruang-ruang yang tidak
terlalu membutuhkan ketenangan atau ruang-ruang yang justru menghasilkan
kebisingan.
Berdasarkan prinsip yang menyatakan bahwa kekuatan bunyi akan
berkurang seiring bertambahnya jarak, seyogyayalah kita memilih layout bangunan
yang memungkinkan penempatan ruang tenang pada jarak paling jauh dan ruang
yang tidak atau kurang tenang pada jarak yang lebih dekat dengan kebisingan.
Layout bangunan tunggal berbentuk ”L” atau ”U” akan memungkinkan
pengelompokan ruang semacam ini. Layout ”L” lebih cocok pada bangunan
domestik dengan luasan kecil seperti rumah tinggal biasa atau sederhana, sedangkan
layout ”U” cocok untuk bangunan publik yang luas seperti kantor atau rumah sakit.
Bangunan dengan layout ”U” perlu memperhatikan detil tata massa, agar area di
antara dua lengan ”U” tidak menjadi sumber kebisingan, misalnya untuk tempat
parkir. Bila hal ini terjadi, maka pada area tersebut justru terjadi tingkat kebisingan
yang tinggi akibat terpantulnya bunyi oleh permukaan dinding yang saling
berhadapan dari kedua lengan tersebut. Untuk mengatasinya dapat dipilih layout
menyerupai huruf ”V” agar pantulan dibuang ke arah luar.
 Penghalang buatan
Penghalang buatan (sound barrier atau barrier) dapat pula menjadi pilihan
ketika pengurangan kebisingan melalui pemilihan layout bangunan tidak
memberikan reduksi maksimal. Agar dapat membangun barrier secara tepat,
beberapa faktor harus kiata perhatikan di antaranya peletaka atau posisi, dimensi
atau ukuran barrier, pemilihan material, dan estetika.
 Posisi atau peletakan
Pada permukaan bumi yang berkontur tajam, dalam kasus di mana
keberadaan bangunan lebih rendah dari jalan dan berada di balik bukit, di manapun

62
barrier diletakkan, akan tercapai hasil yang maksimal. Sedangkan pada keadaan di
mana lahan bangunan lebih tinggi dari jalan (setidaknya ada selisih 1 m), ketinggian
barrier menjadi faktor yang lebih penting dibandingkan faktor posisi. Sayangnya
kondisi tanah berkontur semacam ini tidak banyak djumpai di kota besar, sehingga
posisi barrier menjadi amat penting.
Pada situasi di mana ketinggian permukaan jalan dan lahan bangunan
hampir sama, peletakan barrier sejauh mungkin dari bangunan akan memberikan
hasil yang maksimal.

Gambar 3.48
Layout bangunan yang memungkinkan terbentuknya ruang-ruang (ruang B) yang
jauh dari kebisingan untuk ruang privat, sementara ruang A yang lebih dekat dengan
kebisingan dapat difungsikan sebagai ruang publik.

63
Gambar 3.49
Posisi barrier yang sedekat mungkin pada sumber atau pendengar akan memberikan
efek reduksi kebisingan maksimal, sebaliknya posisi barrier yang berada ditengah-
tengah tidak akan berfungsi efektif.
Bila kondisi ini tidak dapat diterapkan akibat keterbatasan lahan, maka
diusahakan agar barrier dibangun sedekat mungkin ke dinding muka bangunan.
Untuk kondisi yang kedua kita memerlukan ketinggian barrier yang melebihi
ketinggian dinding bangunan agar kebisingan yang terdefraksi dari ujung atas barrier
tidak masuk ke dalam bangunan. Bila sekiranya diperlukan taman atau ruang
terbuka, peletakan elemen ini pada bagian belakang bangunan akan lebih ideal.
Penempatan taman pada bagian depan lahan sangat mungkin justru menciptakan
jarak yang sama antara barrier dengan sumber bising dan barrier dengan bangunan.
Pada penempatan semacam ini, meski ketinggiannya cukup baik dan bahan yang
dipakai bagus, kebisingan tetap akan masuk ke dalam bangunan melalui defraki yang
terjadi pada ujung atas barrier. Jarak sumber kebisingan terhadap barrier diambil dari
garis tengah lebar jalan di muka bangunan.

64
2.5.4. Kapasitas Akustik Dan Noise Luar Bangunan
Ketika menggunakan barrier yang lebih dekat ke arah bangunan daripada ke
arah jalan, dapat dipastikan dibutuhkan ketinggian barrier yang melebihi dinding
depan bangunan. Sementara itu, pada keadaan yang memungkinkan ketinggian
barrier lebih rendah dari dinding, perlu kiranya dihitung ketinggian yang tepat,
sehingga diperoleh reduksi yang dikehendaki. Penghitungan ketinggian barrier yang
tepat diharapkan dapat menjadi solusi bagi masalah kebisingan sekaligus
memungkinkan aliran udara yang sangat diperlukan oleh bangunan. Dimensi barrier
terdiri dari panjang (atau lebar) dan tinggi. Untuk memperoleh hasil yang maksimal,
usahakan agar barrier dibangun sepanjang lebar lahan bagian depan, usahakan agar
barrier dibangun sepanjang lebar lahan bagian depan yang berhubungan langsung
dengan jalan. Pintu atau gerbang untuk akses dapat diletakkan berhadapan dengan
ruang yang tidak membutuhkan ketenangan secara signifikan, misalnya di antara dua
lengan pada layout ”U” atau berhadapan dengan lengan sejajar jalan pada layout
”L”.
Selanjutnya untuk menghitung ketinggian efektif barrier ada beberapa
formula yang dapat digunakan, di antaranya yang dikemukakan oleh Lawrence
(1967) dan Egan (1976). Kedua formula ini membutuhkan detil frekuensi bunyi yang
muncul sebagai salah satu faktor untuk mengerjakan perhitungan. Hal inilah yang
membuat kedua formula ini tidak dengan mudah dapat dipergunakan oleh mereka
yang kurang ahli dalam bidang ilmu fisika. Selain itu, andaikata frekuensi bunyi
yang muncul dapat ditentukan, karena umumnya bunyi-bunyi yang kita dengar
adalah multi frekuensi maka reduksi yang diperoleh untuk masing-masing frekuensi
tersebut perlu difitung satu per satu. Dalam praktek sehari-hari hal ini cukup
menyulitkan, terlebih bila ternyata muncul frekuensi lain yang tidak terduga
sebelumnya.
a) Formula Lawrence
Secara tegas Lawrence mengungkapkan bahwa untuk memperoleh reduksi
yang maksimal ketika membangun barrier, ukurannya harus cukup besar untuk
mengimbangi panjang gelombang bunyi berfrekuensi rendah sehingga dapat
mereduksi kekuatan bunyi tersebut.

65
Dengan:
N = reduksi dalam dB ( 2 x 10 N/m2)
X pada persamaan di atas diperoleh dari:

Dengan (lihat gambar 3 di bawah):


H = ketinggian sumber terhadap ujung atas barrier (m)
R = jarak sumber terhadap barrier (m)
D = jarak barrier terhadap pendengar (m)
λ = panjang gelombang bunyi (m)
Bila D R H, maka persamaan di atas dapat disederhanakan menjadi:

Gambar 3.50 Skematik penghitungan kemampuan reduksi barrier menurut formula Lawrence

b) Formula Egan
Formula ini merupakan pengembangan dari formula Lawrence. Egan juga
menyarankan pemakaian barrier yang berdimensi besar, dengan jarak antara barrier
dan bangunan sejauh mungkin. Bahkan secara tegas dikemukakan bahwa idealnya
jarak antara barrier dan bangunan minimal empat kali jarak sumber kebisingan ke

66
barrier. Adapun langkah-langkah perhitungan dimensi barrier dengan menggunakan
formula Egan adalah:
1) Hitung rasio antara tinggi barrier (H) dengan jarak sumber terhadap barrier
(R). Adapun H dan R masing-masing dihitung dalam satuan feet, di mana 1
m = 3,281 feet.
2) Dengan menggunakan rasio tersebut, tentukan besarnya reduksi yang
diberikan oleh barrier dengan memakai persamaan:

Dengan:
A = adalah reduksi yang diperoleh (dB)
f = adalah frekuensi bunyi yang muncul (Hz)
Ketika kebisingan yang muncul berkarakter multifrekuensi, kita harus
melakukan penghitungan sart per satu sesuai frekuensi yang muncul.
3) Selain menggunakan rumus di atas, ketika rasio telah ditemukan dan
frekuensi telah ditentukan, maka besarnya reduksi yang diberikan barrier
bisa dihitung dengan menggunakan diagram pada Gambar 4. Selanjutnya
untuk tiap frekuensi yang berbeda, kita perlu menghitungnya tersendiri

Gambar 3.51. Bagan reduksi barrier menurut formula Egan

67
c) Material
Mengingat gelombang bunyi yang mampu menembus celah atau retakan
yang sangat kecil serta mampu menggetarkan objek-objek, maka pemakaian bahan
yang berat, tebal dan masif (tanpa cacat serta homogen) yang dipasang secara rigid,
kokoh dan permanen sangatlah diharapkan. Setelah posisi dan dimensi barrier
ditentukan, maka perlu kiranya dipertimbangkan pemakaian berat material sebagai
berikut (Tunner dalam Christina, 2005):
• Untuk mendukung reduksi 0 - 10 dBA diperlukan bahan dengan berat minimal
5 kg/m2
• Untuk mendukung reduksi 11-15 dBA diperlukan bahan dengan berat minimal
10 kg/m2
• Untuk mendukung reduksi 16-20 dBA diperlukan bahan dengan berat minimal
15 kg/m2
Jika ketentuan mengenai berat material barrier tidak dipenuhi, maka meski
posisi dan dimensi barrier telah ditentukan dengan tepat, reduksi yang diharapkan
sangat dimungkinkan tidak terjadi sebagaimana mestinya. Tabel 2 memuat beberapa
jenis material bangunan dengan beratnya masingmasing yang dapat dijadikan
sebagai acuan dasar. Beberapa material bangunan mungkin kurang umum
dipergunakan sebagai material untuk barrier atau pagar, tetapi dalam beberapa hal
mungkin material bangunan tersebut justru dapat menimbulkan nilai estetika yang
tinggi bila digunakan sebagai barrier.
Material Kg/m2
Asbes lembaran tebal 4,8 mm 8,4
Beton ringan untuk paving block 7-11
Beton untuk cor lantai tebal 25 mm 55-65
Plaster board gypsum 9,5 mm 6,5-10
Genteng keramik 34-40
Genteng beton 34-45

Tabel : Beberapa jenis material dan beratnya (Elridge, 1974)


Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 73

68
Bagaimanapun juga, peletakan yang benar, dimensi yang tepat, dan
pemilihan material adalah tiga hal yang erat kaitannya untuk menghasilkan reduksi
yang kita inginkan. Jika salah satu dari ketiga faktor ini tidak terpenuhi,
kemungkinan besar barrier yang dibangun tidak akan terlalu efektif.
Untuk mengukur kebisingan di lingkungan kerja dapat dilakukan dengan
menggunakan alat Sound Level Meter. Sebelumnya, intensitas bunyi adalah jumlah
energi bunyi yang menembus tegak lurus bidang per detik. Metode pengukuran
akibat kebisingan di lokasi kerja, yaitu:
1) Pengukuran dengan titik sampling
Pengukuran ini dilakukan bila kebisingan diduga melebihi ambang batas
hanya pada satu atau beberapa lokasi saja. Pengukuran ini juga dapat dilakukan
untuk mengevalusai kebisingan yang disebabkan oleh suatu peralatan sederhana,
misalnya kompresor/generator. Jarak pengukuran dari sumber harus dicantumkan,
misal 3 meter dari ketinggian 1 meter. Selain itu juga harus diperhatikan arah
mikrofon alat pengukur yang digunakan.
2) Pengukuran dengan peta kontur
Pengukuran dengan membuat peta kontur sangat bermanfaat dalam
mengukur kebisingan, karena peta tersebut dapat menentukan gambar tentang
kondisi kebisingan dalam cakupan area. Pengukuran ini dilakukan dengan membuat
gambar isoplet pada kertas berskala yang sesuai dengan pengukuran yang dibuat.
Biasanya dibuat kode pewarnaan untuk menggambarkan keadaan kebisingan, warna
hijau untuk kebisingan dengan intensitas di bawah 85 dBA, warna oranye untuk
tingkat kebisingan yang tinggi di atas 90 dBA, warna kuning untuk kebisingan
dengan intensitas antara 85–90 dBA.

69
BAB III

PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Bangunan merupakan tempat beraktivitasnya banyak manusia. Tempat ini,


merupakan tempat untuk melakukan berbagai aktivitas, baik itu belajar, bekerja,
maupun sekedar bersantai. Dengan banyaknya jenis serta variasi durasi berkegiatan,
maka sangat dibutuhkan kenyamanan, agar kegiatan yang kita lakukan
menghasilkan output yang sesuai dengan harapan. Akustik pada bangunan pada
umumnya dikaitkan dengan bunyi atau suara. Akustik merupakan suatu ilmu dan
merupakan pertimbangan pertama untuk mendapatkan lingkungan suara yang
nyaman. Keakustikan sangatlah penting dalam mendesain bangunan khususnya
ruang, karena pengaturan keakustikan tersebut sangat berpengaruh terhadap
kenyamanan dan emosional seseorang yang berinteraksi langsung.

Akustik dibagi dalam akustik ruang (room acoustics-bunyi yang


dikehendaki) dan kebisingan (noise-bunyi yang tidak dikehendaki). Kriteria
kebisingan adalah tingkat kebisingan terendah yang dipersyaratkan untuk ruang
tertentu menurut fungsi utamanya. Sedangkan tingkat kebisingan yang
diperbolehkan (acceptable noise level) adalah tingkat kebisingan yang
diperkenankan terjadi di suatu ruangan agar aktivitas (fungsi) tidak terganggu. Noise
senantiasa dihubungkan oleh ketidaknyamanan yang ditimbulkan olehnya. Noise
bersifat subjektif, sehingga batasan noise bagi orang yang satu bisa saja berbeda
dengan batasan noise bagi yang lain.

3.2. SARAN

Noise atau kebisingan selain menimbulkan ketidaknyaman terhadap orang


yang menderita/ terkena polusi noise juga dapat menurunkan tingkat kesehatan.
Maka dari itu diperlukan pemahaman yang baik mengenai sumber sumber potensial
dari noise, jenis noise dan asas penanggulangannya sehingga dapat menentukan
sistem akustik yang akan diterapkan untuk mereduksi kebisingan yang masuk ke
dalam bangunan.

70
DAFTAR PUSTAKA

Mediastika, E. Christina, (2005). Akustika Bangunan: Prinsip-prinsip dan


Penerapannya di Indonesia, Penerbir Erlangga, Jakarta.
Mangunwijaya, Y.B, (1994) Pengantar Fisika Bangunan, Cetakan IV, Djambatan,
Jakarta.
Mashuri. 2007. “Penggunaan Akustika Luar-Ruangan Dalam Menanggulangi
Kebisingan Pada Bangunan” dalam Jurnal SMARTek, Vol. 5, No. 3(196 –
206). Palu.
Zuyyinati, Ika. 2015. “Penerapan Elemen-Elemen Akustika Ruang Dalam Pada
Perancangan Auditorium Mono-Fungsi, Sidoarjo - Jawa Timur”. Dilihat 11
Februari 2020.
http://arsitektur.studentjournal.ub.ac.id/index.php/jma/article/view/107

Mediastika, Christina E. 2009. material akustik pengendalian kualitas bunyi pada


bangunan. Yogyakarta: Andi Offset

Bahana, 2017, Macam dan Jenis Material dan Panel Akustik Ruang, My Studio
AcousticArtwork, dilihat pada 12 Februari 2019,
http://www.mystudio.co.id/detail-blog-macam-dan-jenis-material-dan-
panel-akustik-ruang-44.html

Latifah, Nur Laela, 2015, Fisika Bangunan 2, Jakarta, Griya Kreasi (Penebar
Swadaya Grup).

71