Anda di halaman 1dari 21

Makalah

‘’ALIRAN ENERGI DAN SIKLUS MATERI”


(Dibuat untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Ekologi II yang diampu oleh
Dr. Marini Susanti Hamidun S.Si, M.Si)

Oleh

Rinna Amelia Polihito


(431418078)

Kelas A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, karena ia senantiasa


memberikan nikmatnya sehingga penyusunan makalah yang berjudul “Aliran
Energi dan Siklus Materi“ dapat diselesaikan dengan baik. Walaupun mungkin
dalam penulisan masih ada kesalahan dan kekeliruan namun penulis yakin bahwa
manusia itu tidak ada yang sempurna, mudah-mudahan melalui kelemahan itulah
yang akan membawa kesadaran kita akan kebesaran tuhan yang maha esa. Pada
kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan dan usaha yang
telah membantu saya dalam membuat makalah ini niscaya tanpa adanya bantuan
dari berbagai pihak penyusunan makalah ini tidak akan terwujud.
Penyelesaian makalah ini hanya dapat terlaksana karena bantuan pikiran,
tenaga dan moril dari berbagai pihak. Oleh karena itu saya menyampaikan terima
kasih. Akhir kata, penulis menyadari bahwa karya makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Sehingga segala kritik dan saran yang bersifat membangun
diharapkan  demi penyempurnaan makalah ini.

Gorontalo, April 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan....................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................3
2.1 Aliran energi dan bentuknya..................................................................3
2.2 Rantai makanan......................................................................................4
2.3 Proses aliran energi dalam jaring-jaring makanan.................................6
2.4 Piramida ekologi....................................................................................6
2.5 Siklus Materi..........................................................................................9
BAB III PENUTUP.............................................................................................16
3.1 Kesimpulan............................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ekosistem merupakan hubungan timbal balik antar makhluk hidup dengan
lingkungannya maupun sesama makhluk hidupnya. Oleh karena itu, didalam
ekosistem pasti terjadi hubungan saling ketergantungan antara komponen satu
dengan yang lain. Saling ketergantungan itu mencakup berbagai kebutuhan
untuk bereproduksi, makanan, energi, air, mineral dan udara. Adanya saling
ketergantungan menyebabkan di dalam ekosistem terjadi rantai makanan,
jaring-jaring makanan, aliran energi dan siklus biogeokimia (Resosoedarmo,
1986).
Semua yang ada di bumi ini baik mahluk hidup maupun benda mati
tersusun oleh materi. Materi ini tersusun atas unsur-unsur kimia antara lain
karbon (C), Oksigen (O), Nitrogen (N), Hidrogen (H), dan Fosfor (P). Unsur-
unsur kimia tersebut atau yang umum disebut materi dimanfaatkan produsen
untuk membentuk bahan organik dengan bantuan matahari atau energi yang
berasal dari reaksi kimia. Bahan organik yang dihasilkan merupakan sumber
energi bagi organisme. Dalam suatu aliran energi ada 3 peran penting yang
harus dimiliki meliputi produsen yang berfungsi sebagai organisme yang
membuat makanan sendiri (autotrof) peran ini biasanya diambil oleh
tumbuhan yang menghasilkan makanan melalui proses fotosintesis, kemudian
konsumen sebagai organisme yang tidak mampu membuat makanan sendiri
(heterotrof) sehingga untuk memenuhi kebutuhannya, organisme ini
bergantung pada organisme lain. Terakhir yaitu dekomposer, merupakan
organisme yang menguraikan sisa-sisa organisme yang telah mati menjadi zat-
zat organik sederhana. Zat-zat sederhana ini akan digunakan kembali oleh
produsen sebagai bahan nutrisi untuk membuat makanannya (Resosoedarmo,
1986).

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan aliran energi dan bentuknya?


2. Apa yang dimaksud dengan rantai makanan?

1
3. Bagaimana proses aliran energi dalam jaring-jaring makanan?
4. Apa yang dimaksud dengan piramida ekologi?
5. Apa yang dimaksud dengan siklus materi
6. Apa fungsi dari siklus materi?
7. Apa saja siklus materi dalam ekosistem ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan aliran energi dan bentuknya.
2. Mengetahui apa yang dimaksud dengan rantai makanan.
3. Mengetahui bagaimana proses aliran energi dalam jaring-jaring makanan.
4. Mengetahui apa yang dimaksud dengan piramida energi.
5. Mengetahui apa yang dimaksud dengan sikluis materi.
6. Mengetahui fungsi dari siklus materi.
7. Mengetahui macam-macam siklus materi dalam ekosistem.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Aliran Energi
Menurut Odum (1993) energi didefinisikan sebagai kemampuan untuk
mengerjakan suatu pekerjaan. Perilaku energi dapat dinyatakan dalam
hukum-hukum termodinamika berikut:
1. Hukum termodinamika pertama : menyatakan bahwa “energi
dapat diubah dari satu tipe ke tipe yang lain, tetapi tidak dapat
diciptakan ataupun dimusnahkan”.
2. Hukum termodinamika kedua : menyatakan bahwa “setiap
terjadi perubahan bentuk energi, pasti terjadi degradasi energi
dari bentuk energi yang terpusat menjadi bentuk energi yang
terpencar, dan di dalam proses perubahan energi selalu
melepaskan panas dalam bentuk energi yang tidak dapat
digunakan”.
proses pemindahan energi yang terjadi di alam yaitu di dalam
ekosistem sering disebut dengan energitika. Tingkah laku energi di dalam
ekosistem dapat diistilahkan dengan ‘aliran energi’ sebab transformasi
energi yang kita lihat hanya satu jalur, dan berbeda dengan tingkah laku
materi yang berupa ‘siklus materi’
Energi dapat digunakan dengan efisien atau tidak, salah satunya
tergantung pada kualitas gizi yang dikonsumsi karena konsumen dapat
mengkonversi sumber makanan berkualitas tinggi ke jaringan hidup baru
yang lebih efisien daripada sumber makanan berkualitas rendah.
Rendahnya transfer energi antara tingkat trofik membuat pengurai
umumnya lebih penting daripada produsen dalam hal aliran energi.
Dekomposer memproses sejumlah besar bahan organik dan
mengembalikan nutrisi ke ekosistem dalam bentuk anorganik, yang
kemudian diambil lagi oleh produsen primer.

3
2.2 Rantai Makanan
Dalam ekosistem terjadi proses makan dan dimakan secara
berurutan yang disebut dengan rantai makanan. Proses inilah yang
menentukan bagaimana energi mengalir dari satu organisme ke organisme
yang lain dalam satu sistem. Tiap tingkatan dari rantai makanan disebut
taraf trofik/ tingkat trofik. Pada setiap pemindahan energi, rata-rata 80%-
90% energi dikeluarkan dalam bentuk panas.
Suatu rantai makanan terdapat tingkatan untuk mendapatkan sumber
makanan yang disebut dengan tingkat trofik, yaitu:
 Produsen
Merupakan organisme yang dapat mengolah makanan
sendiri melalui proses fotosintetis.
 Konsumen
Organisme yang tidak dapat mengolah sendiri makanannya
disebut organisme heterotrof konsumen. Konsumen dalam
ekosistem  dapat di golongkan beberapa tingkat : konsumen
tingkat I/primer (kelompok herbivora), konsumen tingkat
II/sekunder, konsumen tingkat III/tersier (Emanuel, 1997).
 Dekomposer
Beberapa organisme mendapatkan energinya dengan cara
memakan detritus atau materi organik dari organisme lain.

4
Detritivora yaitu organisme yang memakan detritus. Organisme
detritivora antara lain yaitu cacing tanah, kutu kayu, kepiting,
dan siput (Kimball, 1999).

Rantai makanan dimulai dari produsen yang mengubah energi cahaya


dari matahari menjadi energi kimia. Energi kimia ini akan diteruskan pada
konsumen tingkat pertama atau primer, tingkat kedua atau sekunder, dan
seterusnya sampai kelompok organisme pengurai atau dekomposer. Rantai
makanan sendiri memiliki menurut para ilmuan dibagi menjadi tiga rantai
pokok, yaitu :
1. Rantai pemangsa yaitu pemindahan energi dan materi dari
produsen ke binatang kecil, kemudian ke binatang besar, terakhir
paling besar.
2. Rantai parasit yaitu dari organisme yang besar hingga organisme
yang hidup sebagai parasit, seperti cacing tanah dan bakteri.
3. Rantai saprofit yaitu dimulai dari organisme mati ke organisme
pengurai.

Berdasarkan gambar rantai makanan di atas dapat kita simpulkan bahwa


padi berperan sebagai produsen, tikus sebagai konsumen I, ular konsumen II dan
burung elang sebagai konsumen III. Dari rantai makanan tersebut dapat kita
gambarkan bahwa produsen akan dimakan oleh konsumen I kemudian konsumen
I akan dimakan oleh konsumen II, dan konsumen II akan dimakan oleh konsumen
III, terakhir karena konsumen III merupakan konsumen terakhir, maka ketika dia
mati akan diurai oleh perombak dan nutrisi yang didapat oleh perombak akan
digunakan kembali oleh padi sebagai produsen begitupun selanjutnya. Proses

5
penguraian tidak hanya terjadi pada konsumen tingkat III, karena apabila
konsumen I atau II tidak dimakan oleh konsumen diatasnya maka mereka akan
mati dan terurai dengan bantuan perombak(Kimball, 1999).
2.3 Jaring makanan
Jaring makanan adalah gabungan dari berbagai rantai makanan (Odum,
1993). Semua rantai makanan dalam suatu ekosistem tidak berdiri sendiri,
melainkan saling berhubungan dengan rantai makanan yang lain. Bahkan di dalam
ekosistem, ketiga kelompok rantai makanan yang telah disebutkan diatas (rantai
pemangsa, rantai parasit, dan rantai saprofit) saling berkaitan. Dengan kata lain,
jika tiap-tiap rantai makanan yang ada di dalam ekosistem disambung-
sambungkan dan membentuk gabungan rantai makanan yang lebih kompleks,
maka terbentuk suatu jaring makanan (Indriyanto, 2006).

2.4 Piramida ekologi.


Setiap tahap dalam rantai makanan akan ada sejumlah energi yang hilang
karena tidak terasimilasi atau lepas sebagai panas, sehingga organisme yang
berada pada ujung tingkat trofik akan memperoleh energi lebih kecil. Apabila
energi yang tersedia dalam suatu rantai makanan itu disusun secara berurutan
berdasarkan urutan tingkat trofik, maka membentuk sebuah kerucut yang dikenal
dengan piramida ekologi. Dengan demikian piramida ekologi adalah susunan
tingkat trofik (tingkat nutrisi atau tingkat energi) secara berurutan menurut rantai
makanan atau jaring makanan dalam ekosistem (Indriyanto, 2006).

6
Piramida ekologi dapat digolongkan dalam tiga tipe yaitu:
1. Piramida jumlah, yaitu suatu piramida yang menggambarkan jumlah individu
pada setiap tingkat trofik dalam suatu ekosistem.Piramida jumlah umumnya
berbentuk menyempit ke atas. Organisme piramida jumlah mulai tingkat trofik
terendah sampai puncak adalah sama seperti piramida yang lain yaitu produsen,
konsumen primer dan konsumen sekunder, dan konsumen tertier. Artinya jumlah
tumbuhan dalam trofik pertama lebih banyak dari pada hewan (konsumen primer)
di trofik kedua, jumlah organisme kosumen sekunder lebih sedikit dari konsumen
primer, serta jumlah organisme konsumen tertier lebih sedikit dari organisme
konsumen sekunder (Soerya, 1994).

Gambar: Piramida jumlah

2. Piramida biomassa
Yaitu piramida yang menggambarkan terjadinya penurunan atau
peningkatan biomassa organisme pada tiap tahap tingkatan trofik. Piramida
biomassa pada ekosistem daratan dan ekosistem perairan terjadi perbedaan
bentuk. Pada ekosistem daratan piramida biomassanya tegak, sedangkan
ekosistem perairan piramida biomassanya terbalik hal ini karena pada ekosistem
daratan jumlah organisme produsen lebih banyak dibandingkan jumlah organisme
konsumen pada tiap tingkat trofik, maka biomassa konsumen makin kecil menuju

7
ke puncak piramida sedangkan dalam ekosistem perairan biomassa konsumennya
selalu lebih besar daripada biomassa produsen (Resosoedarmo dkk. 1986).

Gambar: Piramida biomassa (ekosistem darat)

3. Piramida energi
Merupakan piramida yang menggambarkan terjadinya penurunan energi
pada tiap tahap tingkatan trofik, setiap urutan tingkat trofik, akan terjadi
kehilangan energi. Karena setiap pengubahan energi akan menimbulkan hilangnya
energi yang dipakai, hali ini sesuai dengan Hukum Termodinamika II. Bentuk
piramida energi ini adalah piramida tegak.

Gambar: Piramida energy

Diantara ketiga tipe piramida ekologi tersebut, piramida energi merupakan


piramida yang terbaik karena dapat memberikan gambaran menyeluruh berkaitan
dengan sifat-sifat fungsional suatu ekosistem. Piramida energi juga menunjukkan

8
efisiensi ekologi atau keproduktifan ekosistem. Disamping itu, piramida energi
tidak dipengaruhi oleh ukuran organisme dan kecepatan metabolisme pada tiap
organisme, sehingga apabila semua sumber energi diperhitungkan, maka bentuk
piramida selalu tegak sesuai dengan Hukum Termodinamika II (Resosoedarmo
dkk. 1986).
2.5 Pengertian Siklus Materi
Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Materi yang
berupa unsur-unsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan materi dasar
makhluk hidup dan tak hidup (Indriyanto, 2010).
Pertukaran atau perubahan yang terus menerus, antara komponen biosfer yang
hidup dengan tak hidup dapat juga disebut dengan siklus materi. Suatu ekosistem,
materi pada setiap tingkat trofik tidak hilang, namun materi berupa unsur-unsur
penyusun bahan organik tersebut didaur-ulang. Unsur-unsur tersebut masuk ke
dalam komponen biotik melalui udara, tanah, dan air. Daur ulang materi tersebut
melibatkan makhluk hidup dan batuan sehingga disebut siklus materi (Delvian,
2006).
a) Fungsi Siklus Materi
Fungsi siklus materi adalah sebagai siklus materi yang mengembalikan semua
unsur-unsur kimia yang sudah terpakai oleh semua yang ada di bumi baik
komponen biotik maupun komponen abiotik, sehingga kelangsungan hidup di
bumi dapat terjaga (Kilham, 1996).
b) Macam-macam Siklus Materi
Terdapat banyak macam materi dalam ekosistem yang mengalami perputaran
siklus, namun ada 5 macam siklus materi yang umum dikenal, yaitu:
1) Siklus Air

9
Energi dari Matahari menghangatkan permukaan bumi dan menyebabkan
air menguap dari lautan dan danau. Air berubah menjadi uap air ketika menguap,
dan uap air memasuki atmosfer. Di atmosfer, uap air mendingin dan berubah
kembali menjadi cair air dalam bentuk awan (kondensasi). Air kemudian kembali
ke permukaan bumi sebagai hujan atau salju (curah hujan). Beberapa hujan dan
salju yang mencair tenggelam ke dalam tanah. Tanah ini merembes turun melalui
bebatuan dan tanah ke meja air dan akhirnya kembali ke laut. Beberapa hujan dan
salju mencair lari ke sungai. Air dari sungai mengalir ke danau dan lautan ,
dimana siklus dimulai lagi
Tumbuhan darat menyerap air yang ada di dalam tanah. Dalam tubuh
tumbuhan air mengalir melalui suatu pembuluh. Kemudian melalui tranpirasi uap
air dilepaskan oleh tumbuhan ke atmosfer. Transpirasi oleh tumbuhan mencakup
90% penguapan pada ekosistem darat. Air tanah dan air permukaan sebagian
mengalir ke sungai, kemudian ke danau dan ke laut. Siklus ini di sebut Siklus
Panjang. Sedangkan siklus yang dimulai dengan proses Transpirasi dan
Evapotranspirasi dari air yang terdapat di permukaan bumi, lalu diikuti oleh
Presipitasi atau turunnya air ke permukaan bumi disebut Siklus Pendek (Killham,
1996).
2) Siklus Karbon dan Oksigen

10
Karbon merupakan salah satu unsur yang mengalami daur ulang dalam
ekosistem. Di atmosfer Karbon terikat dalam bentuk senyawa karbon dioksida
(CO2). Dimulai dari karbon yang ada di atmosfer berpindah melalui tumbuhan
yang bertindak sebagai produsen, konsumen, dan organisme pengurai kemudian
kembali lagi ke atmosfer dalam bentuk karbondoksida (CO2) (Indriyanto, 2010).
Karbondioksida memiliki pengaruh radiasi panas dari bumi karena karbon
dioksida merupakan bagian esensial udara. Radiasi panas dapat membentuk
persediaan karbon anorganik. Proses fotosintesis yang terjadi pada tumbuhan
hijau (produsen) merupakan proses pengubahan karbon dioksida sebagai karbon
anorganik menjadi karbohidrat sebagai senyawa hidrokarbon yang dalam hal
pengubahan karbon disebut juga senyawa karbon organic dalam tubuh tumbuhan
disertai dengan penyimpanan energy yang bersumber dari radiasi matahari,
sehingga dalam tubuh tumbuhan tersimpan energy yang disebut energy biokimia
tersimpan bersama senyawa organic kompleks (Indriyanto, 2010).
Sebagian karbon organic akan terurai dan CO2 dibebaskan lagi ke udara
melalui respirasi, sebagian karbon organic lainnya diubah menjadi senyawa
organic kompleks dalam tubuh tumbuhan selama pertumbuhannya. Senyawa
organic tersebut akan ditransfer ke dalam tubuh konsumen melalui proses
interaksi dalam rantai makanan maupun jaringan makanan, sehimgga sebagian
dari senyawa karbon organic akan tetap berada dalam tubuh konsumen sampai
mati. Setelah produsen dan konsumen mati, maka senyawa organic akan segera
terurai lagi melalui proses penguraian (dekomposisi) oleh organism pengurai dan
karbon akan dilepas sebagai CO2 dan masuk ke udara atau ke dalam air. Bahan
karbonat yang tidak mudah terurai dalam waktu yang lama akan berubah menjadi
batu kapur, arang dan minyak yang disebut bahan bakar fosil (Indriyanto, 2010).
Jumlah karbon yang tersimpan dalam ekosistem berbeda-beda. Pada
ekosistem dengan komunitas tumbuhan sempurna dan keanekaragaman spesies
tumbuhannya tinggi, maka produksi karbon dioksida baik oleh aktivitas
organisme pengurai, proses respirasi, maupun penggunaan bahan bakar fosil akan
diimbangi oleh proses pengikatan atau fiksasi karbondoksida oleh tumbuhan.

11
Kenaikan kandungan karbondoksida akan mengakibatkan kenaikan suhu bumi
yang terjadi karena efek rumah kaca, panas yang dilepaskan dari bumi diserap
oleh karbondioksida diudara dan dipancarkan kembali ke permukaan bumi. Oleh
karena itu perlu keseimbangan dengan adanya pengikatan karbondioksida oleh
tumbuhan (Killham, 1996).
3) Siklus Nitrogen

Semua organisme membutuhkan nitrogen untuk membangun protein, yang


digunakan untuk membangun sel-sel baru. Nitrogen membentuk 78 % dari gas di
atmosfer. Namun, sebagian besar organisme tidak dapat menggunakan atmosfer
nitrogen. Ini harus diubah, atau tetap, sebelum organisme dapat menggunakannya.
Satu-satunya organisme yang dapat memperbaiki nitrogen atmosfer menjadi
senyawa kimia adalah beberapa spesies bakteri yang dikenal sebagai Semua
organisme lain tergantung pada ini bakteri untuk memasok nitrogen. Bakteri
pengikat nitrogen adalah penting bagian dari suatu proses di mana nitrogen
bersepeda antara atmosfer, bakteri, dan organisme lainnya. Di alam, Nitrogen
terdapat dalam bentuk senyawa organik sepertiurea, protein, dan asam nukleat
atau sebagai senyawa anorganik sepertiammonia, nitrit, dan nitrat.

12
 Tahap pertama
Daur nitrogen adalah transfer nitrogen dari atmosfir ke dalam tanah.Selain air
hujan yang membawa sejumlah nitrogen, penambahan nitrogen kedalam tanah
terjadi melalui proses fiksasi nitrogen. Fiksasi nitrogen secarabiologis dapat
dilakukan oleh bakteri Rhizobium yang bersimbiosis dengan polong-polongan,
bakteri Azotobacter dan Clostridium. Selain itu gangganghijau biru dalam air juga
memiliki kemampuan memfiksasi nitrogen.
 Tahap kedua
Nitrat yang di hasilkan oleh fiksasi biologis digunakan oleh
produsen(tumbuhan) diubah menjadi molekul protein. Selanjutnya jika
tumbuhanatau hewan mati, mahluk pengurai merombaknya menjadi gas amoniak
(NH3) dan garam ammonium yang larut dalam air (NH4+). Proses inidisebut
dengan amonifikasi. Bakteri Nitrosomonas mengubah amoniak dansenyawa
ammonium menjadi nitrat oleh Nitrobacter. Apabila oksigen dalamtanah terbatas,
nitrat dengan cepat ditransformasikan menjadi gas nitrogenatau oksida nitrogen
oleh proses yang disebut denitrifikasi
4) Siklus Fosfor

13
Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik
(pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah).
Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer
(pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah
atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Oleh karena itu, fosfat
banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosilterkikis dan
membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah danlaut. Fosfat anorganik ini
kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang terus menerus
5) Siklus Sulfur

Secara alami sulfur terdapat di dalam tanah dalam bentuk mineral tanah
dan atmosfer. Dan beberapa berasal dari gunung api dan sisa pembakaran minyak
bumi dan batu bara. Selain itu juga terdapat sulfur yang berasal dari makhluk
hidup. Belerang juga dapat di dapat dengan cara buatan seperti dengan pemberian
pupuk pada tanaman yang akan memberikan kandungan sulfur pada tanah.
Siklus sulfur berasal dari pembentukan sulfur pada kerak bumi dan
atmosfer. Pada kerak bumi bisanya berupa Sulfur Organik, SO4, Batubara dan
lain-lain yang tercipta di kerak bumi. Pada atmosfer sulfur biasanya berupa
Hidrogen Sulfida (H2S). Pada siklus sulfur hampir sama dengan siklus Posfor,

14
yaitu anion dari sulfat dapat diserap oleh tanah. Pada siklus sulfur terjadi Oksidasi
dan reduksi (Delvian, 2006).
Tanah sulfur akan digunakan tanaman dalam bentuk Sulfat sebagai hara.
Setelah itu tumbuhan akan dimakan oleh hewan herbivora yang selanjutnya akan
dimangsa oleh predator. Dari makhluk hidup itu akan mati dan diurai materi
organiknya termasuk sulfur di dalamnya oleh mikroorganisme. Contoh
mikroorganisme yang mengurainya adalah bakteri sulfat yang mengubah sulfat
menjadi sulfide dalam bentuk Hidrogen Sulfida. H2S akan digunakan oleh bakteri
fotoautotrof anaerob. Kemudian dilepaskan ke udara dalam bentuk yang
selanjutnya dioksidasi oleh bakteri kemolitotrof menjadi Sulfat kembali, dan
siklus pun berulang (Delvian, 2006).

15
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Aliran energi adalah jalur satu arah dari perubahan energi pada suatu
ekosistem. Proses aliran energi antarorganisme dapat terjadi karena adanya
proses makan dan di makan.
2. Aliran energi di ekosistem dpat dalam bentuk rantai makanan, jaring-
jaring makanan dan piramida ekologi yang didalamnya terjadi proses
pertukaran energi dari satu organisme ke organisme lainnya.
3. Proses makan dan dimakan secara berurutan disebut dengan rantai
makanan. Proses inilah yang menentukan bagaimana energi mengalir dari
satu organisme ke organisme yang lain dalam satu sistem.
4. Tiap-tiap rantai makanan yang ada di dalam ekosistem disambung-
sambungkan dan membentuk gabungan rantai makanan yang lebih
kompleks, maka terbentuk suatu aliran energi di dalamnya.
5. Piramida energi menggambarkan terjadinya penurunan energi pada tiap
tahap tingkatan trofik, setiap urutan tingkat trofik yang akan terjadi
kehilangan energy.
6. Siklus materi merupakan suatu siklus unsur atau senyawa kimia yang
mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen
abiotik.
7. Peranan siklus materi dalam ekosistem sebagai penjaga kestabilan
ekosistem dengan cara mengembalikan unsur kimia yang digunakan oleh
semua yang ada dibumi dalam bentuk organik maupun anorganik.
8. Terdapat 5 macam siklus materi yang sudah umum dikenal, yaitu siklus
air, oksigen, nitrogen, sulfur dan fosfor.

16
17
DAFTAR PUSTAKA
Delvian. 2006. Siklus Hara Faktor Penting Bagi Pertumbuhan Pohon Dalam
Pengembangan Hutan Tanaman Industri.Medan : Universitas
Sumatra Utara.

Emanuel, A.P.,1997. Biologi. Jakarta : PT Galaxy Puspa Mega


Ir Indriyanto. 2005. Ekologi Hutan. Bandar Lampung : Penerbit Bumi Aksara.
Kimball. 1999. Biologi Jilid 3. Jakarta: Erlangga
Kilham, K. 1996. Soil Ecology. United kingdom : Cambridge University Press.
P.Odum,Eugene.1993.Dasar-dasar Ekologi Edisi ke tiga.Yogyakarta:Gajah Mada
University Press.
Resosoedarmo, S., K. Kartaminata, dan A. Soegiarto. 1986. Pengantar Ekologi.
Bandung : Remadja Rosda Karya.