Anda di halaman 1dari 26

CRITICAL BOOK REVIEW

MK. PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN

SKOR NILAI :

JUDUL BUKU
(NAMA PENGARANG, TAHUN TERBIT)

NAMA MAHASISWA : RIZA AULIYA


NIM : 4173540016
DOSEN PENGAMPU : Dra. Yusna Melianti, M.H
MATA KULIAH : PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM – UNIVERSITAS NEGERI


MEDAN
SEPTEMBER 2018

i
Excecutive Summary
pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan atau pelajaran yang mengajarkan
akan pentingnya nilai – nilai dari hak dan kewajiban suatu Negara, dengan tujuan supaya
setiap hal – hal yang dikerjakan itu bias sesuai dengan tujuan dan juga cita – cita bangsa
serta tidak melenceng dari apa yang diharapkan. Karena sangat penting sekali pendidikan
kewarganegaraan ini mka pendidikan kewarganegaraan ini sudah terapkan mulai dari usia
dini pada tiap tiap jenjang pendidikan mulai dari yang paling dini hingga pada perguruan
tinggi. Pendidikan Kewarganegaraan atau Civic Education merupakan penerapan dari
civics (ilmu kewarganegaraan) dalam proses pendidikan / pembelajaran, yang dapat
diartikan bahwa program civic education ini materi utamanya adalah demokrasi politik.
Civic education adalah pendidikan kewargaanegaraan dalam pengertian sempit yaitu
sebagai bentuk dari pendidikan formal, seperti mata pelajaran dan mata kuliah serta
kursus di lembaga sekolah / unversitas atau juga lembaga formal lain. Tujuan utama
pendidikan kewarganegaraan adalah untuk menumbuhkan pengetahuan / wawasan,
kesadaran bernegara, sikap & perilaku cinta tanah air, dengan berdasarkan kebudayaan
bangsa, wawasan nusantara, dan ketahanan nasional dalam diri dari masing-masing calon
penerus bangsa yang sedang, mengkaji, yang akan menguasai imu pengetahuaan, teknologi
dan seni. Pada saat ini mungkin banyak masyarakat yang masih kurang menyadari arti
penting dari pendidikan kewarganegaraan itu sendiri. Hal tersebut dapat dilihat dengan
kacamata yang abstrak bawasannya banyak sekali para pelajar yang menganggap
pendidikan atau mata pelajaran kewarganegaraan hanya sekedar teori yang sangat
membosankan. Hal tersebut semakin menguat dengan dampak dari kurangnya pemikiran
mengenai arti penting pendidikan kewarganegaraan dengan semakin maraknya tawuran
antar pelajar yang saat ini menyedot perhatian publik. Hakikat dari pendidikan
kewarganegaraan itu sendiri merupakan upaya sadar serta terencana untuk mencerdaskan
segala kegidupan bangsa serta menumbuhkan jati diri bangsa serta moral bangsa sebagai
suatu dasar pelaksanaan hak dan kewajiban bela negara, demi kelangsungan hidup serta
kejayaan bernegara

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
karunianya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas CBR pendidikan
kewarganegaraan dengan baik dan tepat pada waktunya.

Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang tela berkontribusi sehingga CBR ini
telah disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga
dapat memperlancar pembuatan tugas ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan baik dari segi
susuanan kalimat maupun tata bahsanya. Oleh karena itu penulis menerima kritik dan
saran dari pembaca agar dapat memperbaiki tugas ini.

Akhir kata penulis berharap semoga CBR tentang pendidikan kewarganegaraan ini
dapat memberikan sedikit ilmu terhadap pembahca.

Medan, September 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI
Executive Summary ………………………………………………………………………………………… i

Kata Pengantar ……………………………………………………………………………………………….. ii

Daftar Isi ………………………………………………………………………………………………………… iii

Bab I Pendahuluan

A. Rasionalisasi Pentingnya CBR …………………………………………………………..1


B. Tujuan Penulisan……………………………………………………………………………..1
C. Manfaat …………………………………………………………………………………………..1
D. Identitas Buku………………………………………………………………………………….1

Bab II Ringakasan Isi Buku

A. Bab I ……………………………………………………………………………………………….2
B. Bab II ………………………………………………………………………………………………3
C. Bab III …………………………………………………………………………………………….4
D. Bab IV ……………………………………………………………………………………………..4
E. Bab V ……………………………………………………………………………………………..5
F. Bab VI…………………………………………………………………………………………….6
G. Bab VII …………………………………………………………………………………………..7
H. Bab VII ………………………………………………………………………………………….8
I. Bab IX …………………………………………………………………………………………..9

Bab III Pembahasan

1. Pembahasan Isi Buku


A. Bab I …………………………………………………………………………………………. 10
B. Bab II ………………………………………………………………………………………...11
C. Bab III ………………………………………………………………………………………..12
D. Bab IV ………………………………………………………………………………………..13
E. Bab V …………………………………………………………………………………………14
F. Bab VI ………………………………………………………………………………………..14
G. Bab VII ………………………………………………………………………………………15
iii
H. Bab VIII………………………………………………………………………………………16
I. Bab IX ………………………………………………………………………………………..17
2. Kelebihan dan Kekurangan Isi Buku ………………………………………………………18

Bab IV Penutup

A. Kesimpulan ………………………………………………………………………………..19
B. Rekomendasi ……………………………………………………………………………..19

Daftar Pustaka ……………………………………………………………………………………………21

iv
BAB I PENDAHULUAN

A. RASIONALISASI PENTINGNYA CBR


Untuk memepermudah pembaca dalam pemilihan buk sebagai referensi. Dapat
membantu pembaca untuk megetahui kelebihan dan kekurangan isi buku tersebut.
Misalnya dari segi analisis penggunaan bahasa untuk lebih mudah dipahami dan
dimengerti tentang pendidikan kewarganegaraan.
B. TUJUAN PENULISAN

Mengkritisi/membandingkan tiap materi mata kuliah penddikan


kewarganegaraan dari dua buku yang berbeda. Menambah wawasan tentang
kewarganegaraan untuk tingkat peguruan tinngi, Menguatkan pemahaman
mahasiswa tentang ilmu kewarganegaraan Untuk memenuhi tugas KKni matakuliah
pendidikan kewarganegaraan.

C. MANFAAT
a. Untuk menambah wawasan tentang pendidikan kewarganegaraan
b. Mengetahui materi tentang pendidikan kewarganegaraan untuk perguruan
tinggi
D. IDENTITAS BUKU
a. Buku utama
1. Judul : Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan TInggi
2. Edisi :-
3. Pengarang : Paristiyanti Nurwardani, dkk
4. Penerbit : KEMENRISTEKDIKTI
5. Kota terbit : Jakarta
6. Tahun Terbit : 2016
7. ISBN : 978-602-6470-02-7

1
BAB II RINGKASAN ISI BUKU

2.1 Ringkasa Buku Utama

A. BAB I : Bagaimana Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan dalam


mengembangkan Kemampuan
Secara Etimologis pendidikan kewarganegaraan berasala dari kata “pendidikan” dan
“kewarganegaraan”. Pendidikan berate usaha sada dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif
mengembangkan potensi dirinya. Sedangkan kewarganegaraan adalah segala hal
ihwal yang berhubungan dengan warga Negara. Secara Yuridis, pendidikan
Kewarganegaran dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia
yang memiliki rasa kkebangsaan dan cinta tanah air. Secara Terminologis,
pendidikan kewarganegaraan adalah program pendidikan yang berintikan
demokrasi politik, diperluas dengan sumber – sumber pengetahuan lainnya. Negara
perlu menyelenggarakan pendidikan kewarganegaraan karena setuap generasi
adalah orang baru yang harus mendapat pengetahuan sikap/nilai yang emeiliki
karakter yang baik dan cerdas untuk hidup dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara sesuai dengan demokrasi konstitusional. Secara hitoris,
pendidikan kewarganegaraan di Indonesia awalnya diselenggarakan ole organisasi
pergerakan yang bertujuan untuk membangun rasa kebangsaan dan vita – cita
Indonesia merdeka. Secara sosiologis, PKn Indonesia dilakukan pada tataran sosial
kultural oleh para pemimpin di masyarakat yang mengajak untuk mencintai tanah
air dan bangsa Indonesia. Secara politis, PKn Indonesia lahir karena tuntutan
konstitusi atau UUD 1945 dan sejumlah kebijakan Pemerintah yang berkuasa sesuai
dengan masanya. Pendidikan Kewarganegaraan senantiasa menghadapi dinamika
perubahan dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan serta tantangan
kehidupan berbangsa dan bernegara. PKn Indonesia untuk masa depan sangat
ditentukan oleh pandangan bangsa Indonesia, eksistensi konstitusi negara, dan
tuntutan dinamika perkembangan bangsa.

2
B. BAB II : Bagaimana Esensi dan Urgensi Identitas Nasional sebagai Salah Satu
Determinan Pembaunan Bangsa dan Karakter
Identitas nasional dibentuk oleh dua kata dasar, ialah “identitas” dan “nasional”.
identitas berasal dari bahasa Inggris identity yang secara harfiah berarti jati diri,
ciri-ciri, atau tanda-tanda yang melekat pada seseorang atau sesuatu sehingga
mampu membedakannya dengan yang lain. Istilah “nasional” menunjuk pada
kelompok-kelompok persekutuan hidup manusia yang lebih besar dari sekedar
pengelompokan berdasar ras, agama, budaya, bahasa, dan sebagainya. Dalam
konteks pendidikan kewarganegaraan, identitas nasional lebih dekat dengan arti jati
diri yakni ciri-ciri atau karakteristik, perasaan atau keyakinan tentang kebangsaan
yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Identitas nasional sebagai
identitas bersama suatu bangsa dapat dibentuk oleh beberapa faktor yang meliputi:
primordial, sakral, tokoh, bhinneka tunggal ika, sejarah, perkembangan ekonomi
dan kelembagaan. Identitas nasional Indonesia menunjuk pada identitas-identitas
yang sifatnya nasional, bersifat buatan karena dibentuk dan disepakati dan
sekunder karena sebelumnya sudah terdapat identitas kesukubangsaan dalam diri
bangsa Indonesia. Secara historis, identitas nasional Indonesia ditandai ketika
munculnya kesadaran rakyat Indonesia sebagai bangsa yang sedang dijajah oleh
bangsa asing pada tahun 1908 yang dikenal dengan masa Kebangkitan Nasional
(Bangsa). Secara sosiologis, identitas nasional telah terbentuk dalam proses
interaksi, komunikasi, dan persinggungan budaya secara alamiah baik melalui
perjalanan panjang menuju Indonesia merdeka maupun melalui pembentukan
intensif pasca kemerdekaan. Secara politis, bentuk identitas nasional Indonesia
menjadi penciri atau pembangun jati diri bangsa Indonesia yang meliputi bendera
negara Sang Merah Putih, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional atau bahasa
negara, lambang negara Garuda Pancasila, dan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

3
C. BAB III : bagaimana urgensi Integrasi Nasional sebagai salah Satu Parameter
persatuan dan kesatuan bangsa
Integrasi nasional berasal dari kata integrasi dan nasional. Integrasi berarti
memberi tempat dalam suatu keseluruhan. Integrasi nasional merupakan proses
mempersatukan bagian – bagian unsur atau elemen yang terpisah dari masyarakat
menjadi kesatuan yang lebih bulat, sehingga menjadi satu bangsa. Jenis jenis
integrasi mencakup 1. Integrasi bangsa, 2. Integrasi wilayah, 3. Integrasi nilai, 4.
Integrasi elit- massa, 5. Integrasi tingkah laku. Dimensi integrasi mencakup integrasi
vertical dan horizontal, sedangkan aspek integrasi meliputi aspek politik, ekonomi
dan social budaya. Integrasi berkebalikan dengan didintegrasi. Jika integrasi
menyiratkan adanya keterpaduan, kesatuan dan kesepakatan atau kosensus,
disintegrasi emnyirtkan adanya keterpecahan, pertentangan dan konflik. Integrasi
bangsa diperlukan guna membangkitkan kesadaran akan identitas bersama,
menguatkan identitas nasional, dan membangun persatuan bangsa

D. BAB IV : Bagaimana nilai dan Norma konstitusional UUD RI 1945 dan


Konstitusional ketentuan perundangan – undangan dibawah UUD
Dalam arti sempit konstitusi merupakan suatu dokumen atau seperangkat dokumen
yang berisi aturan – aturan dasar untuk menyelenggarakan Negara, sedangkan
dalam arti luas konstitusi merupakan peraturan, baik tertulis maupun tidak teryulis,
yang menentukan bagaimana lembaga Negara dibentuk dan dijalankan. Konstitusi
diperlukan untuk membatasi kekuasaan pemerintah atau penguasa negara,
membagi kekuasaan negara, dan memberi jaminan HAM bagi warga negara.
Konstitusi mempunyai materi muatan tentang organisasi negara, HAM, prosedur
mengubah UUD, kadang-kadang berisi larangan untuk mengubah sifat tertentu dari
UUD, cita-cita rakyat dan asas-asas ideologi negara. Pada awal era reformasi, adanya
tuntutan perubahan UUD NRI 1945 didasarkan pada pandangan bahwa UUD NRI
1945 belum cukup memuat landasan bagi kehidupan yang demokratis,
pemberdayaan rakyat, dan penghormatan terhadap HAM. Di samping itu, dalam
tubuh UUD NRI 1945 terdapat pasal-pasal yang menimbulkan penafsiran beragam

4
(multitafsir) dan membuka peluang bagi penyelenggaraan negara yang otoriter,
sentralistik, tertutup, dan praktik KKN. Dalam perkembangannya, tuntutan
perubahan UUD NRI 1945 menjadi kebutuhan bersama bangsa Indonesia. Oleh
karena itu, MPR melakukan perubahan secara bertahap dan sistematis dalam empat
kali perubahan. Keempat kali perubahan tersebut harus dipahami sebagai satu
rangkaian dan satu kesatuan. UUD NRI 1945 menempati urutan tertinggi dalam
jenjang norma hukum di Indonesia. Berdasar ketentuan ini, secara normatif,
undang-undang isinya tidak boleh bertentangan dengan UUD. Jika suatu
undangundang isinya dianggap bertentangan dengan UUD maka dapat melahirkan
masalah konstitusionalitas undang-undang tersebut. Warga negara dapat
mengajukan pengujian konstitusionalitas suatu undangundang kepada Mahkamah
Konstitusi

E. BAB V : Bagaimana Harmoni Kewajiban dan Hak Negara dan warga Negara
dalam demokrasi yang bersumbu pada kedaulatan rakyat dan musyawarah
untuk mufakat
Hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan suatu yang semestinya diterima
atau dilakukan melulu oleh pihak tertentu dan tidak dapat oleh pihak lain mana pun
juga yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa olehnya. Wajib adalah beban
untuk memberikan sesuatu yang semestinya dibiarkan atau diberikan melulu oleh
pihak tertentu tidak dapat oleh pihak lain mana pun yang pada prinsipnya dapat
dituntut secara paksa oleh yang berkepentingan. Hak dan kewajiban warga negara
merupakan wujud dari hubungan warga negara dengan negara. Hak dan kewajiban
bersifat timbal balik, bahwa warga negara memiliki hak dan kewajiban terhadap
negara, sebaliknya pula negara memiliki hak dan kewajiban terhadap warga negara.
Sekalipun aspek kewajiban asasi manusia jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan
dengan aspek hak asasi manusia sebagaimana tertuang dalam UUD NRI 1945,
namun secara filosofis tetap mengindikasikan adanya pandangan bangsa Indonesia
bahwa hak asasi tidak dapat berjalan tanpa dibarengi kewajiban asasi. Dalam
konteks ini Indonesia menganut paham harmoni antara kewajiban dan hak ataupun
sebaliknya harmoni antara hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban warga negara

5
dan negara mengalami dinamika terbukti dari adanya perubahan-perubahan dalam
rumusan pasal-pasal UUD NRI 1945 melalui proses amandemen dan juga perubahan
undangundang yang menyertainya. Jaminan akan hak dan kewajiban warga Negara
dengan segala dinamikanya diupayakan berdampak pada terpenuhinya
keseimbangan yang harmonis antara hak dan kewajiban Negara dan warga Negara.

F. BAB VI : bagaimana Hakikat, Instrumentasi dan Praksis Semikrasi Indonesia


Berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945
Secara etimologis, demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu demos yang berarti
rakyat dan cratos atau cratein yang berarti pemerintahan atau kekuasaan. Jadi,
demos-cratein atau demos-cratos berarti pemerintahan rakyat atau kekuasaan
rakyat. Secara terminologi, banyak pandangan tentang demokrasi. Tidak ada
pandangan tunggal tentang apa itu demokrasi. Demokrasi dapat dipandang sebagai
salah satu bentuk pemerintahan, sebagai sistem politik, dan sebagai pola kehidupan
bernegara dengan prinsip-prinsip yang menyertainya. Berdasar ideologinya,
demokrasi Indonesia adalah demokrasi yang berdasar Pancasila. Demokrasi
Pancasila dalam arti luas adalah kedaulatan atau kekuasaan tertinggi ada pada
rakyat yang dalam penyelenggaraannya dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila. Demokrasi
Pancasila dalam arti sempit adalah kedaulatan rakyat yang dilaksanakan menurut
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Demokrasi Indonesia
adalah demokrasi konstitusional, selain karena dirumuskan nilai dan normanya
dalam UUD 1945, konstitusi Indonesia juga bersifat membatasi kekuasaan
pemerintahan dan menjamin hakhak dasar warga Negara. Praktik demokrasi
Pancasila berjalan sesuai dengan dinamika perkembangan kehidupan kenegaraan
Indonesia. Prinsip-prinsip demokrasi Pancasila secara ideal telah terrumuskan,
sedang dalam tataran empirik mengalami pasang surut. Sebagai pilihan akan pola
kehidupan bernegara, sistem demokrasi dianggap penting dan bisa diterima banyak
negara sebagai jalan mencapai tujuan hidup bernegara yakni kesejahteraaan dan
keadilan.

6
G. BAB VII : bagaimana Dinamika Historis Konstitusional, social-politik, kultural
serta konteks kontemporer penegakan hokum yang Berkeadilan
Negara merupakan organisasi kelompok masyarakat tertinggi karena mempunyai
wewenang untuk mengatur dan mengendalikan masyarakat bahkan memaksa
secara sah untuk kepentingan umum yang lebih tinggi demi tegaknya hukum.
Negara pun dipandang sebagai subyek hukum yang mempunyai kedaulatan
(sovereignity) yang tidak dapat dilampaui oleh negara mana pun. Ada empat fungsi
negara yang dianut oleh negara-negara di dunia ialah: melaksanakan penertiban
dan keamanan; mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya;
pertahanan; dan menegakkan keadilan. Untuk menyelesaikan perkara-perkara yang
terjadi di masyarakat secara adil, maka para aparatur hukum harus menegakkan
hukum dengan sebaik-baiknya. Penegakan hukum bertujuan untuk meningkatkan
ketertiban dan kepastian hukum dalam masyarakat sehingga masyarakat merasa
memperoleh pengayoman dan hakhaknya terlindungi. Dalam menegakkan hukum
terdapat tiga unsur yang harus selalu diperhatikan yaitu: kepastian hukum,
kemanfaatan, dan keadilan. Dalam rangka mewujudkan sistem hukum nasional yang
berlandaskan Pancasila dan UUD NRI 1945, pembangunan bidang hukum mencakup
sektor materi hukum, sektor sarana dan prasarana hukum, serta sektor aparatur
penegak hukum. Aparatur hukum yang mempunyai tugas untuk menegakkan dan
melaksanakan hukum antara lain lembaga kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman.
Fungsi utama Lembaga kepolisian adalah sebagai lembaga penyidik; sedangkan
kejaksaan berfungsi utama sebagai lembaga penuntut; serta lembaga kehakiman
sebagai lembaga pengadilan/pemutus perkara. Peradilan umum merupakan
peradilan bagi rakyat pada umumnya; sedangkan peradilan militer, peradilan
Agama, dan peradilan Tata Usaha Negara merupakan peradilan khusus karena
mengadili perkaraperkara tertentu dan mengadili golongan rakyat tertentu.
Keempat lingkungan peradilan tersebut masing-masing mempunyai lingkungan
wewenang mengadili perkara tertentu serta meliputi badan peradilan secara
bertingkat, yaitu pengadilan tingkat pertama, tingkat banding, dan tingkat kasasi.
Penegakan hukum di Indonesia masih menghadapi masalah dan tantangan untuk

7
memenuhi rasa keadilan masyarakat. Penegakan hukum sangat penting diupayakan
secara terus menerus untuk meningkatkan ketertiban dan kepastian hukum dalam
masyarakat sehingga masyarakat merasa memperoleh perlindungan akan hak – hak
dan kewajibannya.

H. BAB VIII : Bagaimana Dinamika Historis, dan Urgensi wawasan Nusantara


sebagai konsepsi dan Pandangan Kolektif kebangsan Indonesia dalam
konteks Pergaulan Dunia.
Wawasan nusantara bermula dari wawasan kewilayahan dengan dicetuskannya
Deklarasi Djuanda tanggal 13 Desember 1957. Inti dari deklarasi itu adalah segala
perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau yang termasuk
Negara Indonesia dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian-
bagian yang wajar daripada wilayah daratan Negara Indonesia. Dengan demikian,
bagian dari perairan pedalaman atau nasional yang berada di bawah kedaulatan
mutlak milik Negara Indonesia. Keluarnya Deklarasi Djuanda 1957 membuat
wilayah Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah. Laut bukan lagi pemisah pulau,
tetapi laut sebagai penghubung pulau-pulau Indonesia. Melalui perjuangan di forum
internasional, Indonesia akhirnya diterima sebagai negara kepulauan (Archipelago
state) berdasarkan hasil keputusan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang
Hukum Laut (UNCLOS) tahun 1982. Pertambahan luas wilayah Indonesia sebagai
satu kesatuan memberikan potensi keunggulan (positif) yang dapat dimanfaatkan
untuk meningkatkan kesejahteraan. Namun demikian juga mengundang potensi
negatif yang bisa mengancam keutuhan bangsa dan wilayah. Wawasan nusantara
sebagai konsepsi kewilayahan selanjutnya dikembangkan sebagai konsepsi politik
kenegaraan sebagai cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungan
tempat tinggalnya sebagai satu kesatuan wilayah dan persatuan bangsa. Esensi dari
wawasan nusantara adalah kesatuan atau keutuhan wilayah dan persatuan bangsa,
mencakup di dalamnya pandangan akan satu kesatuan politik, ekonomi, sosial
budaya, dan pertahanan keamanan. Wawasan nusantara merupakan perwujudan
dari sila III Pancasila yakni Persatuan Indonesia

8
I. BAB IX : Bagaimana Urgensi dan Tantangan Ketahaan Nasional dan bela
Negara bagi Indonesia dalam Membangun Komitmen kolektif Kebangsaan
Pengertian ketahanan nasional dapat dibedakan menjadi tiga yakni ketahanan
nasional sebagai konsepsi atau doktrin, ketahanan nasional sebagai kondisi, dan
ketahanan nasional sebagai metode atau strategi. Ketahanan nasional sebagai
konsepsi adalah konsep khas bangsa Indonesia sebagai pedoman pengaturan
penyelenggaraan bernegara dengan berlandaskan pada ajaran asta gatra. Ketahanan
nasional sebagai kondisi adalah kondisi dinamis bangsa Indonesia yang berisi
keuletan dan daya tahan. Ketahanan nasional sebagai metode atau strategi adalah
cara yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dan ancaman kebangsaan
melalui pendekatan asta gatra yang sifatnya integral komprehensif. Ketahanan
nasional memiliki dimensi seperti ketahanan nasional ideologi, politik dan budaya
serta konsep ketahanan berlapis dimulai dari ketahanan nasional diri, keluarga,
wilayah, regional, dan nasional. Inti dari ketahanan nasional Indonesia adalah
kemampuan yang dimiliki bangsa dan negara dalam menghadapi segala bentuk
ancaman yang dewasa ini spektrumnya semakin luas dan kompleks, baik dalam
bentuk ancaman militer maupun nirmiliter. Kegiatan pembelaan negara pada
dasarnya merupakan usaha dari warga negara untuk mewujudkan ketahanan
nasional. Bela negara adalah, sikap dan tindakan warga negara yang teratur,
menyeluruh, terpadu dan berlanjut yang dilandasi oleh kecintaan pada tanah air dan
kesadaran hidup berbangsa dan bernegara. Bela negara mencakup bela negara
secara fisik atau militer dan bela negara secara nonfisik atau nirmiliter dari dalam
maupun luar negeri. Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya
bela negara. Bela Negara dapat secara fisik yaitu dengan cara "memanggul senjata"
menghadapi serangan atau agresi musuh. Bela Negara secara fisik dilakukan untuk
menghadapi ancaman dari luar. Bela negara secara nonfisik adalah segala upaya
untuk mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia dengan cara
meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, menanamkan kecintaan
terhadap tanah air (salah satunya diwujudkan dengan sadar dan taat membayar

9
pajak), serta berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara, termasuk
penanggulangan ancaman dan lain sebagainya.

BAB III PEMBAHASAN

A. PEMBAHASAN ISI BUKU


1. Pembahasan bab I tentang hakikat pendidikan kewarganegaraan
Menurut buku “Pendidikan kewarganegaraan untuk perguruan tinggu
(buku utama)” hakikat pendidikan kewarganegaraan adalah upaya sadar
dan terencana untuk mencerddaskan kehidupan bangsa bagi warga
Negara dengan menumbuhkan jati diri dan moral bangsa sebagai
landasan pelaksanaan hak dan kewajiban dalam bela Negara, demi
kelangsungan kehidupan dan kejayyaan bangsa dan Negara. Sehingga
dengan mencerdasakn kehidupan bangsa, memberi ilmu tentang tata
Negara, menumbuhkan kepercayaan terhadap jati diri bangsa sera moral
bangsa, mka takkan sulit untuk menjaga kelangsungan kehidupan dan
kejayaan Indonesis. Pendidikan kewarganegaraan lah yang mengajarkan
bagaimana seseorang menjadi warga Negara yang lebih bertanggun
jawab, karena kewarganegaraan itu tidak dapat diwariskan begitu saja
melainkan harus dipelajari dan dialami ioleh masing – masing orang.
Apalagi Negara kita sedng menuju menjadi Negara yang demokratis,
maka secara tidak langsung warga negaranya harus lebih aktif dan
partisitif,
Sedangkan menurut buku “ Pendidikan Pancasila ‘(civic Education)’
(buku pembanding)” hakikat pendidikan kewarganegaraan adalah
program pendidikan berdasasrkan nilai – nilai pancasila sebagai sarana
untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang
berakar pada budaya bangsa yang diharapkan menjadi jati diri yang
diwujudkan dalam bentuk perilaku dalam kehidupan sehari – hari para
mahasiswa baik sebagai individu, sebagai saintis, anggota masyarakat
dan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Hakikat pendidikan kewarganegaraan
adalah adalah merupakan mata kuliah yang memfokuskan pada

10
pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosiokultural, bahasa,
usia dan suku bangsa untuk menjadi warga Negara yang cerdas, terampil
dan berkarakter yang berlandaskan pancasila dan UUD 1945.
Berdaarkan kedua buku diatas dapat disimpulkan bahwa hakikat
pendidikan kewarganegaraan adalah upaya sadar dan terencana untuk
mencerdasaskan kehidupan bangsa bagi warga Negara dengan
menumbuhkan jati diri dan moral bangsa sebagai landasasn pelaksanaan
hak dan kewajiban dalam bela Negara demi kelangsungan kehidupan dan
kejayaan bangsa dan Negara yang tetap berlandasakan pancasila dan UUd
1945.
2. Pembahasan bab II tentang Identitas Nasional
Menurut buku “pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan
Tinggi (buku Utama)”. Dalam konteks pendidikan kewarganegaraan,
identitas nasional lebih dekat dengan arti jati diri yakni ciri-ciri atau
karakteristik, perasaan atau keyakinan tentang kebangsaan yang
membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Identitas nasional
sebagai identitas bersama suatu bangsa dapat dibentuk oleh beberapa
faktor yang meliputi: primordial, sakral, tokoh, bhinneka tunggal ika,
sejarah, perkembangan ekonomi dan kelembagaan. Identitas nasional
Indonesia menunjuk pada identitas-identitas yang sifatnya nasional,
bersifat buatan karena dibentuk dan disepakati dan sekunder karena
sebelumnya sudah terdapat identitas kesukubangsaan dalam diri bangsa
Indonesia. Identitas nasional ialah suatu ciri yang dimiliki sebuah bangsa,
secra fisiologis yang membedakan bangsa tersebut dengan bangsa yang
lainnya. Jadi, setiap bangsa diduia ini akan mempunyai identitas sendiri –
sendiri sesuai dengan keunikan, ciri – ciri bagaimana bangsa tersebut
terbentuk secara historis.
Sedangkan menurut buku Pendidikan Kewarganegaraan ‘(civic
Education)’ (buku pembanding)” identitas nasional ialah suatu ciri yang
dimiliki sebuah bangsa didunia yang memiliki identitaas sendiri – sendiri
sesuai dengan keunikan, ciri – ciri, sifat, serta karakter dari bangsa

11
tersebut. Hakikat identitas nasional kita sebagai bangsa didalam
kehidupan berbangsa dan bernegara ialah pancasila yang aktualisasinya
tercermin dalam penataan kehidupan kita dalam arti yang luas, misalnya
aturan perundang undangan atau moral yang secra normative diterapkan
didalam bermasyarakat atau berinteraksi, baik itu dlam tataran nasional
ataupun internasional.
Dari kedua rangkuman kedua buku diatas maka dapat disimmpulkan
dengan nilai – nilai budaya yang tercermin didalam identitas nasional
merupakan suat jati diri yang khas dimiiki oleh suatu bangsa yang tidak
dimiliki bangsa lain. Identitas nasional merupakan suatu kumpulan nilai
budaya yang tumbuh serta berkembang didalam macam – macam aspek
kehidupan dari berbagai keragaman yang terhimpun dalam sau kesatuan.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pancasila merupakan
aktualisasi yang tercermunkan dalam penataan kehidupan mencakup
dalam kehidupan yang luas.
3. Pembahasan bab III tentang Integrasi Nasional
Menurut buku Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan tinggi
(buku utama) Integrasi nasional merupakan proses mempersatukan
bagian – bagian unsur atau elemen yang terpisah dari masyarakat
menjadi kesatuan yang lebih bulat, sehingga menjadi satu bangsa.
Menurut buku “pendidikan kewarganegaraan ‘(civic education)’
(buku pembanding)” integrasi nasional adalah kolaborasi seluruh
keseluruhan ddan tiap – tia bagian tersebut diberi tempat sehingga akan
dapat membentuk kesauan yang harmonis dalam kesatuan NKRI yang
bersemboyan Bhineka Tunggal Ika. Integrasi nasional mengindikasi
adanya suatu kekuatan yang menggerakkan tiap – tiap individu untuk
dapat hidup besama sebagi kesatuan atau kelompok. Dengan kekuatan
integrasi nasional akan tercermin dalam rasa cinta, banggsa, hormat serta
loyalitas kepada Negara.
Kesimpulan yang dpat diambil dari kedua buku tersebut adalah usaha
dan proses mempersatukan perbedaan yang ada pada suatu Negara

12
sehingga terciptanya keserasian dan keselarasan secara nasional.
Integrasi nasional merupakan salah satu cara untuk menyatukan
berbagai mmacam erbedaan yang ada di Indonesia. Integrasi sendiri
dapat dikataan sebagai salah satu langkah yang baik untuk menyatukan
sesuatu yang baik bagi bangsa Indonesia. Upaya mengintegrasikan
Indonesia, perbedan – perbedaan yang ada tetap harus dikui dan dihargai
sehingga Indonesia menjadi Negara yang dapat mencapai tujuannya.
Pentingnya integrasi nasional bagi Indonesia merupakan cara yang dapat
menyatukan berbagai macam perbedaan yang ada di Indonesia.
4. Pembahasan bab IV tentang Nilai dan Norma konstitusional UUD
1945 dan konstitusional
Menurut buku “pendidikan kewarganegaraan untuk perguruan tinggi
(buku utama)” konstitusi merupakan suatu dokumen atau seperangkat
dokumen yang berisi aturan – aturan dasar untuk menyelenggarakan
Negara. konstitusi merupakan peraturan, baik tertulis maupun tidak
tertulis, yang menentukan bagaimana lembaga Negara dibentuk dan
dijalankan. Konstitusi diperlukan untuk membatasi kekuasaan
pemerintah atau penguasa negara, membagi kekuasaan negara, dan
memberi jaminan HAM bagi warga negara. Konstitusi mempunyai materi
muatan tentang organisasi Negara. Konstitusi adalah seperangkat aturan
atau hokum yang berisi ketentuan tentang bagaimana pemerintah diatur
dan dijalankan. Aturan atau hokum yang terdapat dalam konstitusi itu
mengatur hal – hal yang amat mendasasr dari suatu Negara, maka
konstitusi dikatakan pula sebagai hokum dasar yang dijadikan pegangan
dalam penyelenggaraan suatu Negara.
Menurut buku “pendidikan kewarganegaraan ‘(civic education)’
(buku pembanding)” konstitusi adalah seperangkat aturan atau hokum
yang berisi ketentuan tentang bagaimana pemerintah diatur dan
dijalankan. Konstitusi adalah hokum tertinggi suatu Negara sebab tanpa
konstitusi Negara tidak mungkin terbentuk. Konstitusi menempati posisi
yang sangat vital dalam kehidupan ketatanegaraansuatu Negara. Dengan

13
kata lain, konstitusi membuat suatu peraturan pokok mengenai sendi –
sendi pertama untuk menegakkan Negara.
Dari penjeasan kedua buku tersebut dapat disimpulkan yaitu suatu
konstitusi dikatakan memiliki norma apabila konstitusi tersebut resmi
ditermia oleh suatu bangsa dan bagi mereka konsttusi itu tidak hanya
berlaku dalam arti hokum legal, tetapi juga nyata berlaku dalam
masyarkat dalam arti berlaku efektif dan dilaksanakan secara murni dan
konsekuen.
5. Pembahasasn bab V tentang kewajiban dan Hak negara dan warga
Negara
Menurut buku “pendidikan kewarganegaraan untuk perguruan tinggi
(buku utama)” Hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan suatu
yang semestinya diterima atau dilakukan melulu oleh pihak tertentu dan
tidak dapat oleh pihak lain mana pun juga yang pada prinsipnya dapat
dituntut secara paksa olehnya. Hak dan kewajiban merupkan suatu yang
tidak dapat dipisahkan, namun terjadi pertentangan karena hak dan
kewajiban tidak seimbang. Untuk mencapai keseimbangan antara hak
dan kewajiban sebagai seorang warga Negara harus tau hak dan
kewajibannya.
Menurut buku “pendidikan kewarganegaraan ‘(civic education)’
(buku pembanding)” setiap warga Negara memiliki hak dan kewajiaban
yang sama satu sama lain tanpa terkecuali. Persamaan antara manusia
selalu dijunjung tinggi untuk menghindai berbagai kecemburuan social
yang dapat memicu berbagai permasalahan dikemudian hari.
Kesimpulan dari kedua buku tersebut adalah perwujudan hokum
menjadi hak dan kewajiban terjadi dengan adanya perantaraan perisiwa
hokum. Untuk terciptanya suatu hak dan kewajiban diperlukan terjadinya
peristiwa yang oleh hokum dihubungkan sebagai akibat.

6. Pembahasan bab VI tentang hakikat instrumentasi dan praksis


semikrasi Indonesia

14
Menurut buku “pendidikan kewarganegaraan untuk perguruan tinggi
(buku utama)” Demokrasi dapat dipandang sebagai salah satu bentuk
pemerintahan, sebagai sistem politik, dan sebagai pola kehidupan
bernegara dengan prinsip-prinsip yang menyertainya. Berdasar
ideologinya, demokrasi Indonesia adalah demokrasi yang berdasar
Pancasila. Demokrasi Pancasila dalam arti luas adalah kedaulatan atau
kekuasaan tertinggi ada pada rakyat yang dalam penyelenggaraannya
dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila.
Menurut buku “pendidikan kewarganegaraan ‘(civic education)’
(buku pembanding)” hakikat demokrasi di Indonesia berlandasakan
pancasila dan UUD NRI 945 adalah peran utama rakyat dalam proses
social politik yang sesui dengan tiga pilar penegak demokrasi yaitu
pemerintahan dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat. Instrumentasi
demokrasi Indonesia berlandasakn pancasila dan UUD NRI 1945 adalah
Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan
Perwakilan daerah. Sedangkan prakterk demokrasi berjalan sesuai
dengan dinamika perkembangan kehidupan kenegaraan Indonesia.
Prinsip – prinsip demokrasi pancasila secara ideal telah terumuskan,
namun dalam penerapan empiris mengallami pasang surut.
Dari kedua buku tersebut dapat disimpulkandemokrasi Indonesia
adalah demokrasi pancasila, selain Karena dirumuskan nilai dan
normanya dalam UUD NRI 1945, konstitusi Indonesia juga bersifat
membatasi kekuasaan pemerintahan dan menjamin hak – hak dasar
warga Negara. Praktik demokrasi pancasila di Indonesia berjalan sesuai
dengan dinamika perkembangan kehidupan kenegaraan Indonesia.
Prinsip – prinsip demokrasi Pancasila secara ideal telah terumuskan,
sedang dalam tataran empiris mengalami pasang surut. Sebagai ilihan
akan pola kehidupan bernegara, sistem demokrasi dianggap penting dan
bisa diterima banyak Negara sebagai jalan mencapai tujuan hidup
bernegara yakni kesejahteraan dan keadilan.

15
7. Pembahasan bab VII tentang dinamika historis konstitusional, social
politik dan kultural
menurut buku “pendidikan kewarganegaraan untuk perguruan tinggi
(buku utama)” . Negara pun dipandang sebagai subyek hukum yang
mempunyai kedaulatan (sovereignity) yang tidak dapat dilampaui oleh
negara mana pun. Ada empat fungsi negara yang dianut oleh negara-
negara di dunia ialah: melaksanakan penertiban dan keamanan;
mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya; pertahanan;
dan menegakkan keadilan. Untuk menyelesaikan perkara-perkara yang
terjadi di masyarakat secara adil, maka para aparatur hukum harus
menegakkan hukum dengan sebaik-baiknya. Penegakan hukum bertujuan
untuk meningkatkan ketertiban dan kepastian hukum dalam masyarakat
sehingga masyarakat merasa memperoleh pengayoman dan hakhaknya
terlindungi. Dalam menegakkan hukum terdapat tiga unsur yang harus
selalu diperhatikan yaitu: kepastian hukum, kemanfaatan, dan keadilan.
Dalam rangka mewujudkan sistem hukum nasional yang berlandaskan
Pancasila dan UUD NRI 1945, pembangunan bidang hukum mencakup
sektor materi hukum, sektor sarana dan prasarana hukum, serta sektor
aparatur penegak hukum.
Menurut buku “pendidikan kewarganegaraan ‘(civic education)’
(buku pembanding)” substansi konstitusi adalah isi dari suatu konstitui
Negara mengenai jaminan dan hak Negara dan warga Negara serta
memilih mana yang penting dan mana yang harus dicantumakan dalam
dalam konstitusi agar hasilnya dapat diterima baik oleh yang
melaksanakan maupun pihak yang akan dilindungi. Tujuan demokrasi
akan memposisikan pemerintah daerah sebagai landasan utama dalam
menciptakan kesatuan dan persatuan bangsa dan Negara serta
mempercepat terwujudnya masyarakat madani.
Dari ringkasan kedua buku tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk
menjalankan hokum sebagaimana mestinya, maka perlu dibentuk
beberapa lembaga aparat penegak hokum antara lain : kepolisian yang

16
berfungsi sebagai lembaga penidik, kejaksaan yang fungsi utamanya
sebgai lembaga penuntut, kehakiman yang berfungsi sebagai lembaga
pemutus/ pengadila dan lembaga penasehat atau memberi bantuan
hokum.
8. Pembahasan bab VIII tentang dinamika historis dan wawasan
nusantara
Menurut buku “pendidikan kewarganegaraan untuk perguruan tinggi
(buku utama)” Keluarnya Deklarasi Djuanda 1957 membuat wilayah
Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah. Laut bukan lagi pemisah pulau,
tetapi laut sebagai penghubung pulau-pulau Indonesia. Melalui
perjuangan di forum internasional, Indonesia akhirnya diterima sebagai
negara kepulauan (Archipelago state) berdasarkan hasil keputusan
Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS)
tahun 1982. . Wawasan nusantara sebagai konsepsi kewilayahan
selanjutnya dikembangkan sebagai konsepsi politik kenegaraan sebagai
cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungan tempat
tinggalnya sebagai satu kesatuan wilayah dan persatuan bangsa. Esensi
dari wawasan nusantara adalah kesatuan atau keutuhan wilayah dan
persatuan bangsa, mencakup di dalamnya pandangan akan satu kesatuan
politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.
Menurut buku “pendidikan kewarganegaraan ‘(civic education)’
(buku pembanding)” wwasan nusantara adalah bagaimna cara pandang
kita melihat mengenai bangsa Indonesia dan sikap bangsa Indonesia
mengenai jati diri bangsa dan longkungannya. Indonesai yang beragam
dan bernilai strategis dengan mengutamakan suatu persatuan dan
kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam menyelenggarakan
kehidupan yang bermasyarakat, berbangsa dan bernegara guna untuk
mencapai suatu tujua nasional.
Dari kedua ringkasan buku diatas dapat disimpulkan bahwa cita – cita
bangsa Indonesia adalah menginginkan suatu bangsa yang bersatu
dengan wilayah yang uruh , karena Indonesia dulu pernah mengalami

17
kehidupan dimana sebagi bangsa yang terjajah dan terpecah belah
dengan penuh penderitaan dan kesengsaraan kemiskinan dan pernah di
adu domba dari pihak penjajah. Indonesia adaah Negara kepulauan
terbesar didunia dengan berbagai warisan sisalamnya dan banyak sekali
adat istidat dari masing – masing suku di tiap – tiap daerah.
9. Pembahasan bab IX tentang tantangan keahanan nasional dan bela
Negara
Ketahanan nasional sebagai konsepsi adalah konsep khas bangsa
Indonesia sebagai pedoman pengaturan penyelenggaraan bernegara
dengan berlandaskan pada ajaran asta gatra. Ketahanan nasional sebagai
kondisi adalah kondisi dinamis bangsa Indonesia yang berisi keuletan
dan daya tahan. Ketahanan nasional sebagai metode atau strategi adalah
cara yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dan ancaman
kebangsaan melalui pendekatan asta gatra yang sifatnya integral
komprehensif. Ketahanan nasional memiliki dimensi seperti ketahanan
nasional ideologi, politik dan budaya serta konsep ketahanan berlapis
dimulai dari ketahanan nasional diri, keluarga, wilayah, regional, dan
nasional. Inti dari ketahanan nasional Indonesia adalah kemampuan yang
dimiliki bangsa dan negara dalam menghadapi segala bentuk ancaman
yang dewasa ini spektrumnya semakin luas dan kompleks, baik dalam
bentuk ancaman militer maupun nirmiliter.
Menurut buku “pendidikan kewarganegaraan ‘(civic education)’
(buku pembanding)” ketahanan nasional adalah kondisi sinamis bangsa
Indonesia yang meliputi segenap aspek kesidupan nasional yang
terintegrasi. Indonesia yag meliputi segenap aspek kehidupan nasional
yang terintegrasi. Ketahanan nasional berisi keuletan dan ketangguhan
yang mengandung kemampuan untuk mengembangkan kekuatan
nasional dalam menghadapai dan mengatasi segala tantangan, ancaman,
hambatan dan gangguan baik yang dating dari luar maupun dari dlam
untuk menjamin identitas dan integritas kelangsungan hidup bangsa dan
Negara serta perjuangan mencapai tujuan nasional.

18
Dari kedua ringkasasn buku diatas dapat didimpulkan bahwa
ketahanan nasional adalah kondisi dinamis bangsa Indonesia yang
meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi. Tantangan
yang dihadapi bangsa Indonesia berupa dalam bidang politik berupa
ancaman berupa pemerintahan yang tidak aspiratif dan responsive atau
bisa dikatakan dictator. Dalam bidang ekonomi yaitu fenomena
kemiskinan yang menjadi ancaman bagi ketahan nasional bangsa. Dalam
bidang social budaya, ancamannya tidak bisanya rakyat Indonesia
mempertahankan kebhinekaan yang ada, bidang pertahanan dan
keamanan adalh ancaman terhadap kedaulatan NKRI.

B. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU


1. Dilihat dari sisi tampilan (layout) buku utama lebih menarik disbanding buku
pembanding karena tampilan lebih berwarna sehingga menarik untuk dibaca
2. Dari aspek materi, buku utama lebih sesuai dengan materi ajar perkuliahan
disbanding denga buku pembanding lebih mencakup luas keseluruhan
3. Tampilan buku utama lebih menarik, karemna banyak disertai contoh gambar
langsung

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pendidikan kewarganegaraan Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan adalah
mewujudkan warga negara sadar bela negara berlandaskan pemahaman politik
kebangsaan, dan kepekaan mengembangkan jati diri dan moral bangsa dalam
perikehidupan bangsa. Mahasiswa adalah bibit unggul bangsa yang di mana pada
masanya nanti bibit ini akan melahirkan pemimpin dunia. Karena itulah diperlukan
pendidikan moral dan akademis yang akan menunjang sosok pribadi mahasiswa.
Kepribadian mahasiswa akan tumbuh seiring dengan waktu dan mengalami proses
pembenahan, pembekalan, penentuan, dan akhirnya pemutusan prinsip diri.
Negara, masyarakat masa datang, diperlukan ilmu yang cukup untuk dapat
mendukung kokohnya pendirian suatu Negara. Negara yang akan melangkah maju

19
membutuhkan daya dukung besar dari masyarakat, membutuhkan tenaga kerja
yang lebih berkualitas, dengan semangat loyalitas yang tinggi. Negara didorong
untuk menggugah masyarakat agar dapat tercipta rasa persatuan dan kesatuan
serta rasa turut memiliki. Masyarakat harus disadarkan untuk segera mengabdikan
dirinya pada negaranya, bersatu padu dalam rasa yang sama untuk menghadapi
krisis budaya, kepercayaaan, moral dan lain-lain. Negara harus menggambarkan
image pada masyarakat agar timbul rasa bangga dan keinginan untuk melindungi
serta mempertahankan Negara kita. Pendidikan kewarganegaraan adalah sebuah
sarana tepat untuk memberikan gambaran secara langsung tentang hal-hal yang
bersangkutan tentang kewarganegaraan pada mahasiswa.
B. REKOMENDASI

Rekomendasi dari kedua buku yang telah direview menurut penulis adalah
buku utama lebih cocok dijadikan buku penuntun dan dijadikan pembanding karena
sifat buku yang mencakup semua isi, dan kelengkapan buku dan juga menarik untuk
direview.

20
Daftar Pustaka

Mandiong. Baso, dkk (2018) pendidikan kewarganegaraan (civic Education),


Bandung: Celebes Media Perkasa
Nurwardani. Paristiyanti, dkk (2016) pendidikan kewarganegaraan Untuk
perguruan Tinggi, Jakarta: KEMENRISTEKDIKTI

21