Anda di halaman 1dari 22

“TRANSPOSABLE ELEMENTS”

(untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Genetika II yang diampuh


oleh Ibu Dr. Elya Nusantari, M.Pd. )

OLEH :
KELOMPOK II
BAHTIAR DONDO
DEVITASARI W.S MATAIYA
FRANSISKA RADJAK
CITRA NINGRUM YASIN
RIMLAWATY PODUNGGE
MOHAMAD RENDI PAYUHI

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN BIOLOGI

PENDIDIKAN BIOLOGI
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Kami pajatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas
selesainya makalah yang berjudul “ Transposable Elements”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen yang telah memberikan


tugas makalah ini, sehingga dari makalah ini Kami belajar banyak hal dan ilmu
pengetahuan baru.

Semoga dengan makalah ini dapat menambah pengetahuan lebih


mendalam mengenai proses Transposable Elements. Penulis menyadari bahwa
makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun
sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah ini.

Gorontalo, 24 Januari 2020

Kelompok II

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………..ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang…………………………………...……………………1


1.2 Rumusan Masalah………………………………………………...…...2
1.3 Tujuan……………………………………………………...………….2
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Transposable Elements………………………............…....3


2.2 Mekanisme Perpindahan….……….……………….........…...…….….4
2.3 Elements Transposable pada mahluk Hidup Prokariotik…………….. 5
2.4 Elements Transposable pada mahluk Hidup Eukariotik……………..10
2.5 Elements Transposable Jagung ………………....……...……………12
2.6 Element Transposable Drosophilia…………………………………..15

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan…………...….…………………….……..………….......18
3.2 Saran…………...……………………………………………..…...…18
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Genetika diartikan sebagai ilmu cabang Biologi yang mengkaji materi
Genetikkombinasinya , keberdaannya dalam populasi serta perekayasaanya.
tentang strukturnya, Reproduksinya, Kerjanya, perubahan dalam re Elemen
transposable merupakan sekuens DNA yang dapat berpindah posisi. Salah
satu kajian yang tak lepas dari cakupan pembahasan mengenai ilmu genetika
yakni adanya Transposable Elemen
Elemen transposable adalah DNA jadi merupakan materi genetik yang
ada di dalam kromosom utama yang dapat berpindah-pindah tempat yang
ditemukan pada sel prokariot dan eukariot. Ukurannya cukup kecil, sekitar
500-10000 pasang nukleotida.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar belakang diatas rumusan masalah dalam makalah diuraikan
dibawah ini.
1. Apakah yang dimaksud dengan Transposable Elements?
2. Bagaimanakah Mekanisme Perpindahannya?
3. Bagimanakah Elements Transposable pada mahluk Hidup Prokariotik?
4. Bagimanakah Elements Transposable pada mahluk Hidup Eukariotik?
5. Bagimanakah Elements Transposable pada Jagung?
6. Bagaimanakah Element Transposable Drosophilia?
1.3. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini diuraikan sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui Apakah yang dimaksud dengan Transposable Elements
2. Untuk mengetahui Bagaimanakah proses terjadinya Spermatogenesis
3. Untuk mengetahui Bagaimanakah Elements Transposable pada mahluk
Hidup Prokariotik
4. Untuk mengetahui Bagaimanakah Elements Transposable pada mahluk
Hidup Eukariotik

1
5. Untuk mengetahui Bagaimanakah Elements Transposable pada Jagung
6. Untuk mengetahui Bagaimanakah Elements Transposable Drosophilia

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Transposable Elements

Transposisi adalah suatu proses perpindahan elemen genetik dari satu


lokus dalam suatu kromosom, plasmid, atau genom virus, ke bagian lain
kromosom yang sama, atau bahkan ke suatu lokus dalam kromosom lain.
Elemen genetik yang berpindah tersebut dapat berupa satu gen atau beberapa
gen bertautan (linkage) dan dikenal sebagai elemen genetik yang dapat
bertransposisi (transposable genetic element), atau sering juga disebut
transposon (Yuwono, 2005).
Transposon merupakan unsur genetik yang mengandung beberapa kpb
DNA, termasuk informasi yang diperlukan untuk migrasi dari satu lokus
genetik ke lokus genetik lain, terutama untuk fungsi khusus misalnya
resistensi terhadap antibiotik. Lingkaran DNA (kromosom dan plasmid) ,
berisi infomasi genetik yang diperlukan untuk replikasi dirinya sendiri yang
disebut replikon. Replikon pada prokariota diyakini berhubungan dengan
selaput sel dan pemisahan kromosom anak, serta plasmid diduga berkaitan
dengan perpanjangan dan pembuatan sekat pada selaput sel.
Transposon tidak berisi informasi genetik yang diperlukan untuk
replikasi dirinya sendiri. Seleksi transposon bergantung pada replikasinya
sebagai bagian dari suatu replikon. Untuk mendeteksi transposon atau
mengutak-atiknya secara genetik dilakukan seleksi terhadap informasi genetik
khusus (biasanya resistensi terhadap suatu antibiotika) yang dibawanya.
Materi genetik yang berpindah inilah yang disebut dengan elemen
transposable atau transposon. Adalah B.McClintock yang membuktikan
tentang trasnposom ini. Yang menjadi bahan uji cobanya adalah maizena.
Dalam percobaan ini ditemukan beberapa kerusakan berupa hilangnya
penanda genetik tertentu. Hilangnya penanda genetik inilah yang dianggap
sebagai keberadaan elemen transposabel atau transposon.

3
2.2 Mekanisme Perpindahan
Berdasarkan mekanisme perpindahan, digolongkan menjadi tiga, yaitu:
1. Transposon potong-tempel
Transposisinya dilakukan dengan memotong dan menempel dari
suatu lokus dalam kromosom ke lokus kromosom yang lain. Transposon
potong-tempel (cut-and-paste transposon) dapat berpindah dari satu lokus
ke lokus lain dengan cara dipotong dari satu lokus pada kromosom dan
ditempelkan pada lokus lain yang dapat terletak pada kromosom yang
berbeda (Yuwono, 2005).
2. Transposon Replikatif
Transposisinya melalui proses replikasi elemen DNA yang
melibatkan enzim transposase untuk proses interaksi dengan sisi tempat
penyisipan tranposon. Transposon replikatif (replicative transposon)
mengalami transposisi dengan melibatkan proses replikasi elemen DNA
transposon. Enzim transposase yang dikode oleh elemen genetik tersebut
berperan di dalam proses interaksi dengan sisi tempat penyisipan
transposon. Dalam interaksi tersebut, elemen DNA transposon direplikasi
dan salah satu turunan (copy) disisipkan pada sisi baru, sedangkan elemen
DNA aslinya tetap berada di sisi semula (Yuwono, 2005).
3. Retrotransposon
Transposisinya dengan cara pengubahan berupa RNA menjadi
DNA. Pengubahan ini dikatalisis oleh enzim transkiptase balik.
Transposisi ini berkaitan dengan retrovirus. Retrotransposon dibagi
menjadi 3 kelas :
a. Viral, mengkode reverse transkriptase dan memiliki LTR.
b. LINEs (long interspersed nuclear elements), mengkode reverse
transkriptase, dengan sedikit LTRs dan ditranskrip oleh RNA
polymerase II
c. Superfamily nonviral, tidak mengkode reverse transkiptase dan
ditranskrip oleh RNA polymerase III.

4
Percobaan McClintock juga menunjukkan adanya elemen DS dan AC.
Dimana DS merupakan alel yang mengalami kerusakan pada suatu kromosom.
DS ini tidak dapat aktif dengan sendirinya (nonautonom) sehingga perlu
adanya pemicu yakni AC yang dapat aktif dengan sendirinya (autonom).
Sehingga dalam proses ini ada hubungan atau kerja sama antara DS dan AC.
McClintok yang berpendapat jika AC dan DS berada didekat sebuah gen,
maka gen itu akan kehilangan fungsinya. Oleh McClintock kedua elemen
genetik ini disebut sebagai elemen pengontrol.
Transposisi dapat menyebabkan terjadinya penyusunan kembali
(rearrangement) genom suatu jasad. Hal ini dapat terjadi, misalnya karena ada
dua duplikat (copy) transposon yang sama pada lokasi kromosom yang
berbeda sehingga dapat menyebabkan terjadinya rekombinasi antarduplikat
transposon tersebut. Rekombinasi semacam itu dapat membawa implikasi
terjadinya delesi, penyisipan, inversi, atau translokasi. Transposisi mempunyai
peranan dalam proses evolusi beberapa plasmid bakteri. Sebagai contoh,
integrasi plasmid F yang berasal dari E. coli ke dalam kromosom bakteri
seringkali terjadi melalui proses rekombinasi antara suatu transposon yang ada
di dalam plasmid dengan transposon yang homolog di dalam kromosom
bakteri (Yuwono, 2005).
2.3 Elements Transposable pada Prokariotik
Elemen genetik ini dikelompokkan berdasarkan kemampuannya untuk
menyisip sebagai segmen DNA baru pada lokasi genom secara acak.
Kemampuan elemen ini untuk mengubah urutan , ditemukan sebagai sebagai
sifat alami pada kromosom prokariot, plasmid dan genom bakteriofaga. Tiga
kelompok besar elemen yang berkemampuan mengubah urutan DNA yaitu:
1. Insertion sequences (IS)
Elemen IS merupakan sekuens tunggal dengan urutan basa
yang sama atau hampir sama pada masing-masing ujungnya. Saat
elemen IS menyisip pada kromosom atau plasmid, elemen ini
membuat duplikasi sekuens DNA pada tapak yang diinsersi. Duplikasi
ini ditempatkan pada masing-masing sisi elemen IS. Sekuens DNA

5
yang diduplikasi ini dikenal dengan target site duplication(Nusantari,
2014).

Gambar 1. Elemen IS yang menyisip pada Kromosom dan membuat duplikasi


pada Target Site Duplication

Urutan Penyisipan adalah elemen urutan sisipan yang merupakan


unsur genetik yang mampu menyisip ke tempat baru pada replikon yang
sama maupun berbeda. IS tidak dapat mereplikasi dirinya sendiri. Urutan
dari kelompok IS sederhana biasanya hanya mengandung gen tunggal
yang mengkode satu enzim, transposase, yang penting untuk transposisi
elemen IS. Urutan IS yang besar mempunyai persamaan struktur dan berisi
kira-kira 1000 pasangan basa duplex DNA. Berbagai perbedaan IS
ditemukan pada genom bakteri dan plasmid, beberapa mungkin ditemukan
sebagai cetakan multipel dalam replikon tunggal.
Elemen transposabel pada bakteri yang paling sederhana adalah
rangkaian insersi atau elemen IS. Elemen IS yang homolog terkadang
berkombinasi dengan gen lain untuk membentuk tansposon gabungan,
yang ditandai dengan simbol Tn. Simbol ini juga digunakan untuk
menandai transposon yang tidak mengandung elemen IS, seperti elemen
yang disebut sebagai Tn3. Seperti halnya transposon gabungan, elemen ini
juga mengandung gen yang yang tidak penting untuk transposisi.

6
Elemen IS merupakan elemen yang terorganisasi secara kompak,
biasanya merupakan urutan sandi tunggal dengan urutan yang sama atau
hampir sama dan pendek pada kedua ujungnya. Ujung urutan ini disebut
inverted terminal repeat yang panjangnya berkisar antara 9 sampai 40
pasang nukleotida. Ketika elemen IS masuk ke dalam kromosom atau
plasmid, elemen ini membuat duplikat dari urutan DNA pada lokasi
insersi. Hasil pengkopian dari duplikasi terletak pada masing-masing sisi
dari elemen tersebut dan disebut sebagai duplikasi lokasi target. Elemen IS
kemudian memediasi integrasi episome ke dalam kromosom bakteri.

Gambar 2. Mekanisme Is
2. Transposon Komposit (Tn)
Tipe ini merupakan jenis transposon yang membawa penanda
genetic tertentu, misalnya ketahanan terhadap antibiotic. Transposon jenis
potong-tempel ini tersusun atas dua dupliakat elemen IS yng identik/
hampir identik yang mengapit bagian sentral. Bagian sentral ini
merupakan segmen DNA penanda genetic tertentu. Nukleotida pada
elemen pada Tn bisa nukleotida berulang (contohnya pada Tn99 yang IS
pengapitnya identik) atau nukleotida berulang balik (contohnya pada Tn5
dan Tn10 yang orientasi elemen ISnya berkebalikan).
Perpindahan transposon komposit diatur dalam system tertentu.
William Reznikof menunjukkan bahwa tranposon yang ada pada
kromosom sel bakteri mensisntesis suatu reseptor yang menghambat
proses transposisi transposon dari luar.

7
Tansposon gabungan terbentuk ketika dua elemen IS saling
menginsersi. Urutan ini dapat diubah oleh kerja sama dari elemen yang
mengapitnya. Sebagai contoh, pada Tn9, elemen IS yang mengapit
langsung berorientasi dengan yang lainnya sedangkan Tn5 dan Tn10
berorientasi terbalik. Masing-masing transposon gabungan ini membawa
gen yang resistan terhadap antibiotik. Tn9 resistan terhadap
chloraphenicol, Tn5 resistan terhadap kanamycin dan Tn10 resistan
terhadap tetracycline. Hal ini menunjukkan bahwa kadang elemen IS
pengapit pada transposon gabungan tidak identik. Pada Tn5, elemen yang
terletak di bagian kiri yaitu IS50L, tidak mampu untuk menstimulasi
transposisi. Namun elemen yang berada di bagian kanan yaitu IS50R
mampu melakukannya. Perbedaan ini akibat adanya perubahan pasangan
nukleotida tunggal yang menghalangi IS50L untuk mensintesis faktor
transposisi yang penting. Faktor tersebut adalah protein bernama
transposase yang disintesis oleh IS50R.

Gambar 3. Mekanisme Composit Transposon


3. Elemen Tn3
Elemen ini berbeda dengan Transposon Komposit, karena kedua
elemen yang mengapit bagian sentralnya bukan elemen IS tapi berupa
urutan berulang-balik sederhana yang terdiri atas 38-40 nukleotida.
Elemen ini memiliki tiga gen yakni tnpA, tnpR dan bla. Proses transposisi
pada Tn3 berlangsung dua tahap. Tahap pertama adalah penggabungan
dua molekul. Dari penggabungan ini dibentuk struktur yang disebut
dengan cointegrate. Saat itu terjadi proses replikasi pada trasnposon dan

8
membentuk sambungan pada cointegrate. Setelah itu memasuki tahap
kedua yaitu pemutusan mediasi rekombinasi pada lokasi Tn3 oleh
pengkode tnpR. Dari proses ini menyebabkan terbentuknya dua molekul
yang merupakan hasil kopian dari trasnposons. Pada tahapan ini muncul
urutan Tn3 yang disebut dengan res. Adanya pengikatan represor pada
daerah res menyebabkan transkripsi gen tnpA dan tnpR ditekan sehingga
elemen Tn3 cenderung bersifat tidak mobil.

Gambar 4. Mekanisme Tn3-Type transposon


Tn3 merupakan elemen dari kelompok transposons yang memiliki
ulangan ujung terbalik sepanjang 38 hingga 40 pasang nukleotid, lebih
besar daripada elemen IS dan biasanya mengandung gen yang dibutuhkan
untuk transposisi. Transposisi pada Tn3 berlangsung dalam dua tahap.
Tahap pertama adalah transposase memediasi penggabungan antara dua
molekul sehingga membentuk struktur yang disebut cointegrate. Selama
proses ini, transposon mengalami replikasi dan masing-masing
membentuk sambungan pada cointegrate. Pada tahap kedua, pengkode
tnpR memutuskan mediasi rekombinasi pada lokasi yang spesifik antara
dua elemen Tn3. Tahapan ini muncul pada urutan di Tn3 yang merupakan
lokasi resolusi bernama res, dan menyebabkan timbulnya dua molekul.
Kedua molekul tersebut mengandung kopian dari transposon.
Mekanisme Transposisi pada Prokaryotik
Mekanisme transposisi secara detail sampai saat ini belum
diketahui dengan jelas. Namun, pada prokaryot, misalnya E. coli,

9
transposisi terjadi melalui dua cara, yaitu replikatif dan konservatif
(nonreplikatif) (Yuwono, 2005).
Transposisi secara replikatif akan dibentuk duplikat elemen
transposon pada tempat yang baru dan satu duplikat transposon pada
tempat yang lama. Sedangkan, transposisi secara konservatif tidak terjadi
replikasi sehingga disebut nonreplikatif, transposisi terjadi dengan cara
pemotongan elemen transposon dari kromosom atau plasmid dan
transposon tersebut kemudian diintegrasikan ke tempat yang baru
(Yuwono, 2005).
Transposisi secara replikatif ada dua model antara dua plasmid,
yaitu model simetris (model Shapiro) dan model asimetris. Model
tranpososisi secara simetris, yaitu tranpososisi terjadi melalui
pembentukan elemen genetik lingkar yang merupakan gabungan antara
kedua plasmid (cointegrate) dan mengandung dua duplikat tranpososon
dengan orientasi yang sama. Cointegrate tersebut kemudian akan diuraikan
lebih lanjut sehingga akan dihasilkan dua elemen plasmid baru yang
masing-masing akan mengandung satu tranpososon. Dalam model ini,
pembentukan cointegrate merupakan suatu keharusan. Sebaliknya,
menurut asimetris, pembentukan cointegrate tidak merupakan keharusan
namun hanya merupakan salah satu kemungkinan hasil antara yang dapat
terjadi. Tranpososisi secara replikatif tersebut dapat terjadi misalnya pada
bakteriofag Mu dan Tn3 (Yuwono, 2005).
2.4 Elements Transposable pada Eukariotik
Sel eukariot yang sudah terbukti memiliki elemen transposabel adalah
yeast, jagung dan Drosophila.

10
Gambar 5. Perbandingan element Ty dan Retrovirus

Elemen TY pada Yeast

Elemen transposable pada Yeast (Saccharomyces cerevisiae)


disebut Ty. Transposon tersebut memiliki panjang sekitar 5900 pasang
nukleotida dan di tiap-tiap ujungnya diikat oleh sekuens δ yang
memiliki panjang 340 pasang nukleotida. Sekuens δ ini membentuk
Long terminal repeats atau LTR. Elemen Ty diapit oleh 5 pasang
nukleotida yang dihasilkan dari duplikasi DNA pada tempat Ty
menginsersi genom Yeast. Target site duplication ini tidak memiliki
sekuens tertentu, tetapi memiliki banyak pasangan basa A-T.
Organisasi genetik elemen Ty menyerupai retrovirus. Pada retrovirus,
mereka akan mensintesis DNA dari RNA rantai tunggal setelah
memasuki sel inang, dan kemudian menginsersikan DNA tersebut
pada genom sel inang. Elemen Ty mengandung 2 gen, yaitu A dan B yang
masing-masing analog dengan gen gag dan pol pada retrovirus yang
berfungsi mengkode protein struktural dan katalitik.

11
Gambar 6. Mekanisme Elemen TY pada Yeast

2.5 Transposon pada Jagung

Gambar 7. Mekanisme Transposon

Gambar 8. Mekanisme Transposon

12
Elemen Ac dan Ds

Elemen Ac terdiri atas 4563 pasang nukleotida yang diikat oleh 8


pasang nukleotida berulang yang terbentuk saat elemen tersebut
menyisip pada kromosom. Hal unik yang terlihat dari elemen ini
adalah adanya 11 pasang nukleotida yang sama di kedua ujung
dengan arah yang berbeda. Keberadaan inverted terminal repeat ini
berperan penting dalam proses transposisi/berpindah. Salah satu kelas dari
elemen Ds terbentuk dari turunan elemen Ac, akibat delesi sekuens
internal Ac. Elemen Ac memiliki gen yang mengkode transposase
sehingga transposisi bisa terjadi. Delesi atau mutasi dari gen yang
mengkode protein tersebut akan menghilangkan kemampuan
transposisi, itulah sebabnya elemen Ds tidak dapat mengaktifkan dirinya
sendiri. Namun demikian, transposase yang dihasilkan oleh elemen Ac
dapat digunakan untuk mengaktifkan kedua elemen tersebut, baik Ac
maupun Ds sehingga transposase pada Ac/Ds disebut dengan transacting.

Gambar 9. Mekanisme Ac dan Ds

Elemen Spm dan dSpm

Selain elemen Ac dan Ds, pada jagung juga ditemukan family


transposon lainnya yaitu Spm dan dSpm. Spm merupakan elemen

13
autonom sedangkan dSpm adalah elemen nonautonom. Elemen Spm
memiliki 8287 pasang nukleotida, termasuk 13 pasang nukleotida
inverted terminal repeats. Ketika elemen ini menyisip pada
kromosom, akan dibentuk 3 pasang nukleotida target site dupli-
cation. Elemen dSpm berukuran lebih kecil dari Spm karena sebagian
sekuens DNA mengalami delesi. Delesi ini akan mengganggu fungsi
gen karena gen yang terdelesi pada dSpm adalah gen pengkode
transposase sehingga elemen dSpm ini tidak dapat mengatur
pergerakannya sendiri. Elemen Spm memiliki fungsi sebagai
suppressor fungsi gen apabila berinteraksi dengan dSpm pada salah
satu posisi dalam genom. Sebagai contoh, ketika dSpm menyisip pada
salah satu gen yang mengontrol pigmentasi pada biji jagung, berakibat
mengganggu ekspresi gen pembentukan pigmen tetapi tidak
sepenuhnya terhambat. Ketika elemen Spm masuk ke dalam genom
tersebut, maka ekspresi pigmentasi benar-benar terhambat. Hal ini
karena penyisipan Spm dapat menginduksi pelepasan elemen dSpm.

Gambar 10. Elemen Spm dan dSpm

14
Gambar 11. Spm dan dSpm

2.6 Transposon pada Drosophila


Retrotransposon
Transposon ini dinamakan demikian karena mirip dengan
retrovirus. Ukurannya sekitar 5000 hingga 15000 pasang nukleotida yang
pada masing-masing ujungnya terdapat long terminal repeats (LTR)
dengan panjang sekitar ratusan pasang nukleotida.
Ketikaretrotransposon menginsersi kromosom, elemen ini akan
membuatduplikasi pada tapak yang diinsersi. Ukuran target site
duplicationbervariasi tergantung jenis retrotransposonnya.
Retrotransposon berperan dalam mutasi pada Drosophila.Misalnya
mutasi yang terjadi pada lokus white pengkode warnamata
Drosophila. Adanya insersi retrotransposon menyebabkanmutasi pada
gen tersebut dan mengubah fenotip warna mata yangdimunculkan.

Sebagian besar insersi retrotransposon adalah stabil, hanya


sedikit yang mengalami pembalikan. Misalnya insersi elemen gypsipada
lokus sayap cut dapat mengubah fenotip sayap menjadi wildtype.
Pembalikan fenotip dari sayap wild type ke sayap cut ini jugadapat
terjadi ketika elemen gypsi terlepas dari lokus tersebut.

15
Gambar 12. Retrotransposon

Elemen P dan Hybrid Disgenesis

Ukuran elemen P sangat bervariasi, yang terkecil


memilikipanjang inverted terminal repeats 31 pasang nukleotida
dengan 8 pasang nukleotida target site duplication. Sedangkan yang
terbesarmemiliki 2907 pasang nukleotida. Elemen yang lengkap
bersifatautonom karena memiliki gen yang mengkode protein
transposase.Bile protein transposase mengikat pada elemen tersebut
makaelemen dapat berpindah pada posisi yang lain dalam genom
tersebut.Sedangkan elemen P yang secara structural tidak lengkap
makaelemen tersebut tidak memiliki kemampuan untuk mempro
duksitransposase. Namun demikian, elemen tersebut masih
dapatbergerak/berpindah ketika transposase diproduksi pada tempat
lain dalam genom tersebut.

Drosophila yang memiliki elemen P mempunyai mekanisme


untuk mengatur pergerakannya. Akibatnya, elemen P pada turunan ini
bergerak bebas dan menimbulkan abnormalitas genetik yang disebut
dengan P-M hybrid disgenesis. Hal ini mengakibatkan mutasi dalam
frekuensi yang tinggi, sekaligus terjadinya pemutusan kromosom,

16
segregasi kromosom, dan dampak yang lebih fatal adalah kesalahan
perkembangan gonad. Kondisi ini dapat menyebabkan sterilitas.
Seluruh turunan yang dihasilkan dari persilangan jantan cytotype P
dengan betina cytotype M memiliki kelainan tersebut, akan tetapi
kondisi semua keturunan tersebut tampak sehat. Hal ini terjadi karena
pergerakan elemen P hanya pada sel-sel kelamin sedangkan pada sel-
sel tubuh elemen P tidak melakukan transposisi, karena gen
transposase yang mengatur pergerakan elemen P tidak dapat terekspresi
pada sel-sel tubuh.

Gambar 13. Elemen P dan Hybrid Disgenesis

Gambar 14. Elemen P dan Hybrid Disgenesis

17
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Elemen transposable adalah DNA jadi merupakan materi genetik yang


ada di dalam kromosom utama yang dapat berpindah-pindah tempat yang
ditemukan pada sel prokariot dan eukariot. Ukurannya cukup kecil, sekitar
500-10000 pasang nukleotida.

3.2 Saran

Makalah yang membahas tentang Transposable Elements dari


Kelompok II ini, diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca, serta menjadi
acuan dan pedoman bagi pembaca yang ingin membuat makala-makala
selanjutnya dan dapat menambah wawasan pembaca dengan apa yang
disajikan dalam makalah ini.

18
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, dkk.2002. Biologi edisi kelima-jilid 1.Jakarta: Erlangga


Elrod, Susan. 2006. Schaum’s outlines GENETIKA edisi keempat. Jakarta:
Erlangga
Nusantari, Elya. 2014. Belajar Genetika dengan Mudah dan komprehensif.
Yogyakarta: deepublish.
Gardner, E.J., dkk. 1991. Principle of Genetic. New York: Chichester-Brisbane
Toronto-Singapore: John Wiley and Sons Inc.
Yuwono, Triwibowo. 2005. Biologi Molekular. Jakarta: Erlangga.

19