Anda di halaman 1dari 111

UJI AKTIVITAS PENYEMBUHAN LUKA SAYATAN SEDIAAN SALEP

DARI EKSTRAK ETANOL DAUN PATIWALA (Lantana camara L.)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat


Memperoleh Derajat Sarjana (S-1)

Oleh:
Indah Amalia Lestari
O1A115097

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
SEPTEMBER 2019
HALAMAN PERSETUJUAN

SKRIPSI

UJI AKTIVITAS PENYEMBUHAN LUKA SAYATAN SEDIAAN SALEP


DARI EKSTRAK ETANOL DAUN PATIWALA (Lantana camara L.)

Diajukan oleh:

INDAH AMALIA LESTARI


O1A115097

Telah disetujui oleh:

Pembimbing I Pembimbing II

Nur Illiyyin Akib, S.Si., M.Si., Apt. Nuralifah, S.Farm., M.Kes., Apt.
NIP. 19810319 200801 2 006 NIP. 19840508 201001 2 031

Mengetahui,

Ketua Jurusan Farmasi,

Wahyuni, S.Si., M.Si., Apt.


NIP. 19790629 200812 2 004

ii
PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini tidak terdapat karya yang

pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu Perguruan Tinggi,

dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang

pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu

dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Kendari, 30 September 2019

Indah Amalia Lestari

iii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT

yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulisan skripsi yang

berjudul “Uji Aktivitas Penyembuhan Luka Sayatan Sediaan Salep dari

Ekstrak Etanol Daun Patiwala (Lantana camara L.)” dapat terselesaikan.

Melalui kesempatan ini dengan segala bakti penulis haturkan terima kasih

yang tak terhingga kepada kepada orang tua penulis ayahanda Mulyadi, S.Pd. dan

ibunda Sriati, S.Pd. atas segala doa, restu, semangat, bimbingan, arahan, nasehat

yang memberikan kedamaian hati serta ketabahan dalam mendidik, membesarkan

dan menitipkan harapan besar penulis. Semoga Allah SWT selalu melindungi dan

melimpahkan rahmat-Nya kepada orang-orang yang penulis sayangi ini.

Terima kasih penulis haturkan kepada Ibu Nur Illiyyin Akib, S.Si., M.Si.,

Apt. selaku pembimbing pertama dan Ibu Nuralifah, S.Farm., M.Kes., Apt.

selaku pembimbing kedua yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran

dalam mengarahkan dan membimbing penulis selama mengikuti perkuliahan

maupun dalam proses penyelesaian hasil penelitian ini.

Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada :

1. Rektor Universitas Halu Oleo.

2. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo.

3. Wakil Dekan I Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo.

iv
4. Wakil Dekan II Fakultas Farmasi UHO Ibu Henny Kasmawati, S.Farm.,

M.Si., Apt., sekaligus penasihat akademik yang telah banyak memberikan

bimbingan, keceriaan dan arahan kepada penulis.

5. Wakil Dekan III Fakultas Farmasi UHO.

6. Ketua Jurusan Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo.

7. Kepala Laboratorium Farmasi yang telah memberikan izin penggunaan

laboratorium.

8. Ibu Henny Kasmawati, S.Farm., M.Si., Apt., Ibu Wa Ode Sitti Zubaydah, S.Si.,

M.Sc., dan Ibu Andi Nafisah Tendri Ajeng M., S.Farm., M.Sc., selaku Dewan

Penguji yang telah banyak memberikan ide dan saran bagi penulis dalam

menyelesaikan tugas akhir.

9. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Farmasi, serta seluruh staf di lingkungan

Fakultas Farmasi UHO atas segala fasilitas dan pelayanan yang diberikan

selama penulis dalam menuntut ilmu.

10. Kakak penulis Yayan Zulfauzi Irshadi, S.Hut., Kak Putri, dan dr. Aulia

Rizqi Wahyuni serta Adik penulis Manda Erica Purnamasari yang selalu

memberi dukungan di setiap hari-hari penulis, terima kasih untuk segalanya.

11. Rekan-rekan sebimbingan “ABABIL” Karlinda, Ijah Aniza, Nisa Aryanti,

Green Gloria, Iin Fauziah, Mega, Dewa, Hair, dan Mba Feb terimakasih untuk

semangat, dukungan dan kerja samanya.

12. Sahabat-sahabat penulis Muhammad Takdir B., S.Farm. serta “BEWIS”

Fredy Talebong, S.Farm., Lenny Febryani, S.Farm., Irma Oktaviani Tekaka,

S. Farm., Karlinda, S.Farm., Ijah Aniza, Nisa Aryanti, Mela Amalia, Green

v
Gloria, Nabila Hijaz, Lathifah Syarifah, Iin Fauziah, dan terima kasih selalu

menemani penulis dalam suka maupun duka serta semangat, doa, dan

dukungannya.

13. Sahabat-sahabat “CAPTOPRIL AREA” Syarifah Assegaff, Cindy Illiyyin,

Sri Muharani, dan Wd. Nur Imaniar terima kasih untuk semangat, doa, dan

dukungannya.

14. Sahabat-sahabat penulis Suci Amalia, Artian Martanti, Ridha Aprilyanti,

Shinta Eka, Anita Permatasari serta teman-teman AKSELERASI 2015 SMAN

1 Kendari Apridey, Paci, Mega, Dayen, Imang, Nyoman, Risda, Meildy, Egsa,

Bella, Adnin, Andreas, dan Sayyed terimakasih atas segala doa dan

dukungannya.

15. Kak Agung, Kak Gayuh, Kak Sarip, Panji, Tonge, Alvin, Juan, Ending,

Ais, dan Adit terimakasih telah membantu penulis selama di laboratorium.

16. Kakak-kakak senior 2012-2014 khususnya kak Yuli Anggreani Lena, Kak

Dissa Aryasanindya, kak Desma, kak Nabila dan kakak-kakak senior lainnya

yang telah berbaik hati membantu penulis.

17. Teman-teman PULV15 2015, kelas C 2015 dan kelas Farmasi Industri dan

Teknologi Formulasi yang kompak, kerja sama yang baik dan selalu

memberikan dukungan serta semangat kepada penulis.

18. Adik-adik junior tetapi teman leting angkatan 2016 khusunya Dhana, Rati, Ira,

Dita, Nanda, Sulis, Rita, Riska yang selalu memberikan motivasi, dukungan,

dan bantuan kepada penulis.

vi
19. Teman-teman penulis yang telah memberikan semangat dan dukungan yang

tidak sempat penulis sebutkan namanya satu persatu, penulis mengucapkan

terimakasih banyak.

Akhir kata, penulis menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya

kepada semua pihak dan apabila masih terdapat kesalahan dalam hasil ini, sudilah

kiranya memberikan koreksi untuk lebih baiknya tulisan ini. Semoga Allah SWT

memberi taufik kepada kita semua untuk mencintai ilmu yang bermanfaat dan

amalan yang shalih serta memberikan ridho balasan yang sebaik-baiknya.

Kendari, 30 September 2019

Indah Amalia Lestari

vii
DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN.......................................................................... ii
PERNYATAAN................................................................................................. iii
KATA PENGANTAR....................................................................................... iv
DAFTAR ISI......................................................................................................viii
DAFTAR TABEL.............................................................................................. x
DAFTAR GAMBAR......................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... xii
ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN .........................................................xiii
ABSTRAK.........................................................................................................xiv
ABSTRACT....................................................................................................... xv
BAB I. PENDAHULUAN................................................................................. 1
A.1Latar Belakang........................................................................................ 1
A.2Rumusan Masalah................................................................................... 3
A.3Tujuan Penelitian.................................................................................... 3
A.4Manfaat Penelitian.................................................................................. 3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 4
2.1 Kulit......................................................................................................... 4
2.2 Luka......................................................................................................... 7
2.3 Metode Ekstraksi.....................................................................................10
2.4 Skrining Fitokimia..................................................................................12
2.5 Salep........................................................................................................14
2.6 Tanaman Patiwala..................................................................................16
2.7 Uji Aktivitas Penyembuhan Luka Sayatan.............................................18
2.8 Uji Iritasi.................................................................................................18
2.9 Kelinci (Oryctolagus cuniculus).............................................................19
2.10 Uraian Bahan Tambahan........................................................................22
2.11 Kerangka Konsep...................................................................................27
BAB III. METODE PENELITIAN.................................................................28

viii
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian.................................................................28
3.2 Jenis Penelitian........................................................................................28
3.3 Alat Penelitian.........................................................................................28
3.4 Bahan Penelitian......................................................................................28
3.5 Variabel...................................................................................................28
3.6 Definisi Operasional................................................................................29
3.7 Prosedur Penelitian..................................................................................29
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.........................................................35
4.1 Determinasi Sampel................................................................................35
4.2 Pengambilan Sampel...............................................................................36
4.3 Preparasi Sampel.....................................................................................36
4.4 Pembuatan Ekstrak..................................................................................37
4.5 Skrining Fitokimia..................................................................................38
4.6 Formulasi Sediaan Salep.........................................................................39
4.7 Uji Aktivitas Penyembuhan Luka Sayatan.............................................40
4.8 Uji Iritasi.................................................................................................45
BAB V. PENUTUP............................................................................................47
5.1 Kesimpulan.............................................................................................47
5.2 Saran........................................................................................................47
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................48
LAMPIRAN.......................................................................................................54

ix
DAFTAR TABEL

No. Teks Halaman


3.1 Master formula salep penyembuh luka 31
dengan variasi konsentrasi ekstrak
3.2 Master formula salep penyembuh luka 32
dengan variasi basis
3.3 Daerah uji kelinci 33
4.1 Hasil skrining fitokimia 38
4.2 Nilai Asymp. sig. uji Mann Whitney antar 42
Kelompok
4.3 Hasil uji iritasi 46

x
DAFTAR GAMBAR

No. Teks Halaman


2.1 Struktur kulit 4
2.2 Lapisan subkomponen dari epidermis 5
2.3 Tanaman patiwala (Lantana camara L.) 16
2.4 Kelinci putih jantan 20
2.5 Penampang struktur kulit kelinci 21
2.6 Struktur molekul polietilen glikol 23
2.7 Struktur molekul polietilen glikol 24
2.8 Struktur molekul alfa tokoferol 25
2.9 Struktur molekul propil paraben 25
2.10 Struktur molekul metil paraben 26
2.11 Kerangka konsep 27
4.1 Diagram rata-rata lama penyembuhan luka 40
4.2 Grafik persen kesembuhan luka 41

xi
DAFTAR LAMPIRAN

No. Teks Halaman


1. Determinasi Sampel 54
2. Pembuatan Ekstrak Kental 55
3. Perhitungan Bahan 57
4. Dokumentasi Penelitian 59
5. Skrining Fitokimia 60
6. Pembuatan Pereaksi 62
7. Hasil Skrining Fitokimia 63
8. Hasil Etik 64
9. Uji Aktivitas Penyembuhan Luka Sayatan 65
10. Uji Iritasi Sediaan Salep 66
11. Dokumentasi Berat Kelinci 66
12. Perhitungan Dosis Konversi 67
13. Gambar Luka Sayat pada Kelinci 69
14. Hasil Uji Iritasi 71
15. Nilai Konversi Penurunan Panjang Luka 74
dari cm ke Persen
16. Hasil Pengamatan Rata-Rata Lama 75
Penyembuhan Luka Kelinci
17. Analisis Data 77
18. Form Responden Uji Iritasi 89

xii
ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN

% persen
≥ lebih besar dari atau sama dengan
± kurang lebih
= sama dengan
® registered merk
o
C derajat celcius
dkk dan kawan-kawan
cm senti meter
kg kilo gram
g gram
L liter
m meter
mm mili meter
mL mili liter
PEG polietilen glikol
HCl hidrogen klorida
FeCl3 ferri klorida
pH potential of Hydrogen
rpm rotation per minute
ad dicukupkan
P% persentase penyembuhan luka
d0 panjang luka awal
dx panjang luka pada hari tertentu
TBC tuberculosis
DM diabetes mellitus
dll dan lain-lain

xiii
UJI AKTIVITAS PENYEMBUHAN LUKA SAYATAN SEDIAAN SALEP
DARI EKSTRAK ETANOL DAUN PATIWALA (Lantana camara L.)

Indah Amalia Lestari


O1A1 15 097

ABSTRAK

Patiwala (Lantana camara L.) mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan


saponin yang berkhasiat sebagai penyembuh luka sayatan. Telah dilakukan
penelitian tentang uji aktivitas penyembuhan luka sayatan sediaan salep dari
ekstrak etanol daun patiwala (Lantana camara L.) yang bertujuan untuk
mengetahui aktivitas penyembuhan luka sayatan sediaan salep ekstrak etanol daun
patiwala pada kelinci putih jantan, serta mengetahui potensi iritasi sediaan salep
dari ekstrak etanol daun patiwala pada manusia. Skrining fitokimia dilakukan
dengan metode reaksi pengujian warna. Formulasi sediaan salep dilakukan dengan
metode peleburan menggunakan basis vaselin album dan cera alba dengan
konsentrasi ekstrak 4%. Uji aktivitas penyembuhan luka sayatan dilakukan
dengan metode Morton menggunakan hewan uji kelinci. Uji iritasi dilakukan
dengan metode tempel terbuka (patch test) pada 12 panelis. Hasil skrining
fitokimia membuktikan bahwa daun patiwala mengandung senyawa flavonoid,
tanin, dan saponin yang berkhasiat sebagai penyembuh luka. Hasil uji aktivitas
paling baik terhadap penyembuhan luka sayatan pada kelinci yaitu salep ekstrak
etanol daun patiwala konsentrasi 4% dengan lama penyembuhan 100% selama
10,3 hari. Hasil uji iritasi menunjukkan bahwa sediaan salep ekstrak etanol daun
patiwala terbukti tidak mengiritasi sehingga aman untuk digunakan. Disimpulkan
bahwa salep ekstrak etanol daun patiwala 4% memiliki aktivitas sebagai
penyembuhan luka sayatan.

Kata kunci: patiwala, salep, skrining fitokimia, luka sayat, iritasi, kelinci jantan

xiv
ACTIVITIES TEST OF INCISION WOUND HEALING OINTMENT
PREPARATIONS FROM PATIWALA LEAF ETHANOL EXTRACT
(Lantana camara L.)

Indah Amalia Lestari


O1A1 15 097

ABSTRACT

Patiwala (Lantana camara L.) contains flavonoid compounds, tannins,


and saponins which are efficacious as a wound healer. Research on activities test
of incision wound healing ointment preparations from patiwala leaf ethanol
extract (Lantana camara L.) aims to know the wound healing activity of ointment
slices of ethanol extract of patiwala leaves in male white rabbits, as well as
knowing the potential irritation of ointment preparations from ethanol extract of
patiwala leaves in humans. Phytochemical screening is done by the color testing
reaction method. The ointment formulation was carried out by the smelting
method using vaseline album and cera alba base with a concentration of 4%
extract. The incision wound healing activity test was performed with the Morton
method using a rabbit test animal. The irritation test was carried out using the
patch test method on 12 panelists. Phytochemical screening results prove that the
patiwala leaves contain flavonoid compounds, tannins, and saponins which are
efficacious as wound healers. The best activity test results on wound healing in
rabbits are incision ointment of patiwala ethanol extract 4% concentration with
100% healing time for 10,3 days. The results of the irritation test showed that the
ointment extract of patiwala leaves proved to be non-irritating so it was safe to
use. It was concluded that the ethanol extract of 4% patiwala leaves had activity
as a wound healing wound.

Keywords: patiwala, ointment, phytochemical screening, incisions, irritation,


white rabbits

xv
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kulit adalah lapisan atau jaringan yang menutup seluruh tubuh dan
melindungi tubuh dari bahaya yang datang dari luar. Kulit adalah massa jaringan
terbesar di tubuh. Selama hidup, kulit dapat teriris, tergigit, mengalami iritasi,
terbakar atau terinfeksi (Halim, 2014). Hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan
jaringan pada kulit. Rusaknya struktur dan fungsi anatomis kulit normal disebut
luka (Sinaga dan Rosina, 2012).
Luka dapat diklasifikasikan menjadi luka akut dan kronik berdasarkan
waktu dan proses penyembuhannya. Salah satu jenis luka akut ialah luka sayat
disebut juga luka insisi. Luka sayat adalah luka yang terjadi karena teriris oleh
instrumen yang tajam dimana terdapat robekan linier pada kulit dan jaringan di
bawahnya (Handayany dkk., 2015). Menurut Nazir dkk. (2015), prevalensi luka
terbuka akibat benda tajam atau benda tumpul adalah sebesar 25,4 %. Sebelum
terjadi infeksi dan perdarahan pada luka, maka luka harus disembuhkan dengan
cepat.
Penanganan standar yang dilakukan dalam dunia medis untuk menangani
luka adalah dengan pemberian antiseptik, antibiotik dan antiradang. Luka juga
dapat ditangani dengan pemberian obat tradisional. Indonesia memiliki banyak
jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan obat. Tanaman liar
yang tumbuh bebas disekitar pekarangan atau di kebun bahkan mampu
dimanfaatkan sebagai obat. Lantana camara L. atau biasa dikenal dengan nama
patiwala merupakan tanaman liar yang tumbuh tanpa perawatan khusus.
Masyarakat biasanya menggunakan daun patiwala sebagai obat jika terkena luka
seperti luka sayatan pisau atau benda tajam lainnya dengan cara menghaluskan
daun dan ditempelkan pada bagian yang luka. Efek penyembuhan luka terbaik
dari tanaman patiwala adalah konsentrasi 4% (Ningsi dkk., 2015). Kemampuan
dalam mengobati penyakit infeksi luka kulit atau mempercepat penyembuhan luka
kulit ini melibatkan senyawa-senyawa kimia yang terkandung atau yang
dimetabolisme oleh tumbuhan L. camara (Dini dkk., 2011).

1
Lantana camara L. sendiri sebagai tanaman liar ternyata memiliki banyak
kandungan kimia diantaranya minyak esensial, senyawa fenolik, flavonoid,
karbohidrat, protein, alkaloid, glikosida, glikosida iridoid, fenil etanoid,
oligosakarida, kina, saponin, steroid, triterpens, sesquiterpenoides dan tanin
sebagai kelompok fitokimia utama (Kalita dkk., 2012). Senyawa yang berperan
penting dalam proses penyembuhan luka adalah senyawa flavonoid, tanin,
saponin dan polifenol. Flavonoid meningkatkan aktivitas antioksidan dalam
jaringan granuloma, sedangkan polifenol mengurangi peroksidasi lipid, sehingga
mengurangi nekrosis sel dan vaskularisasi. Senyawa tannin mendukung
penyembuhan luka dengan sifatnya sebagai astringen dan antimikroba. Saponin
bertanggung jawab dalam proses kontraksi luka dan meningkatkan proses
epitelisasi serta memiliki aktivitas antimikroba (Soni dan Singhai, 2012).
Penggunaan ekstrak kental secara langsung pada kulit kurang praktis dan
tidak optimal, oleh karena itu perlu dibuat sediaan yang dapat menempel pada
permukaan kulit dalam waktu lama, dan bersifat oklusif sehingga efektif
menyembuhkan luka, yaitu sediaan semisolid dalam bentuk salep (Hernani dkk.,
2012).
Salep merupakan sediaan farmasi berbentuk setengah padat atau semi solid
dan digunakan pada permukaan tubuh atau kulit. Komposisi salep terdiri dari
bahan obat atau zat aktif dan basis salep (Parwanto dkk., 2013). Pada umumnya,
makin lama sediaan menempel pada kulit, makin banyak kemungkinan zat yang
diabsorpsi (Yanhendri dan Yenny, 2012).
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti akan melakukan uji
aktivitas untuk membuktikan secara ilmiah mengenai aktivitas dari bahan alam
yang memiliki efek sebagai penyembuhan luka dari salep ekstrak etanol daun
patiwala (Lantana camara L.) serta melakukan pengujian potensi iritasi untuk
melihat adanya kemungkinan produk yang diaplikasikan menimbulkan iritasi
terhadap kulit.

2
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang akan diteliti dalam
penelitian ini yaitu:
1. Bagaimana aktivitas penyembuhan luka sayatan dari sediaan salep ekstrak
etanol daun patiwala pada kelinci putih jantan?
2. Bagaimana potensi iritasi dari sediaan salep ekstrak etanol daun patiwala pada
manusia?

.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu :
1. Mengetahui aktivitas penyembuhan luka sayatan dari sediaan salep ekstrak
etanol daun patiwala pada kelinci putih jantan.
2. Mengetahui potensi iritasi dari sediaan salep ekstrak etanol daun patiwala pada
manusia.

.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dilakukan penelitan ini yaitu :
1. Bagi peneliti, dapat meningkatkan pemahaman, pengalaman dan keterampilan
dalam bidang formulasi sediaan farmasi.
2. Bagi institusi, dapat menambah referensi dalam mengembangkan formulasi
sediaan salep dan menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya.
3. Bagi perkembangan ilmu pengetahuan, dapat dijadikan terobosan baru dalam
formulasi pembuatan salep penyembuh luka yang berasal dari bahan alam.
4. Bagi masyarakat, diharapkan dapat membantu dalam memenuhi kebutuhan
obat penyembuh luka yang berasal dari bahan alam.

3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kulit
Kulit merupakan “selimut” yang menutupi permukaan tubuh dan memiliki
fungsi utama sebagai pelindung dari berbagai macam gangguan dan rangsangan
dari luar (Tenripadang, 2012). Fungsi perlindungan ini terjadi melalui sejumlah
mekanisme biologis, seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus-menerus
(keratinisasi dan pelepasan sel-sel yang sudah mati), respirasi dan pengaturan
suhu tubuh, produksi sebum dan keringat dan pembentukan pigmen melanin
untuk melindungi kulit dari bahaya sinar ultraviolet matahari, sebagai peraba,
serta pertahanan terhadap tekanan dan infeksi dari luar. Nilai pH kulit pada
umumnya berkisar antara 4,5-6,5 (Lena, 2016).

Epidermis

Dermis

Folikel Rambut
Hipodermis

Kelenjar Keringat
Lemak
Pembuluh Darah
Jaringan Ikat

Gambar 2.1 Struktur kulit (Sataloff, 2016)


Gambar 2.1 menunjukkan lapisan-lapisan penyusun kulit. Kulit terdiri
dari tiga lapisan utama yaitu lapisan epidermis, dermis dan jaringan subkutan.
Epidermis dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu epidermis yang tidak mengalami
pembelahan (stratum korneum) dan epidermis yang terus-menerus mengalami
pembelahan. Epidermis yang terus membelah dibagi menjadi empat lapisan yaitu,
stratum lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum dan stratum
germinativum (Gennaro, 2000).

4
Stratum Korneum

Stratum Lusidium
Stratum Granulosum

Stratum Spinosum

Stratum Basal

Gambar 2.2 Lapisan subkomponen dari epidermis (Sataloff, 2016)

Gambar 2.2 menunjukkan lapisan subkomponen dari epidermis. Para ahli


histologi membagi epidermis dari bagian terluar hingga ke dalam menjadi 5
lapisan, yakni (Tenripadang, 2012):
1. Lapisan tanduk (stratum corneum), sebagai lapisan paling atas
2. Lapisan jernih (stratum lucidum), disebut juga “lapisan barrier”
3. Lapisan berbutir-butir (stratum granulosum)
4. Lapisan Malphigi (stratum spinosum) yang selnya seperti berduri
5. Lapisan basal (stratum germinativum) yang hanya tersusun oleh satu lapisan
sel-sel basal

A. Epidermis
Ketebalan epidermis berbeda-beda pada berbagai bagian tubuh, yang
paling tebal berukuran 1 mm, misalnya pada telapak tangan dan telapak kaki, dan
lapisan yang tertipis berukuran 0,1 mm terdapat pada kelopak mata, pipi, dahi,
dan perut. Sel-sel epidermis ini disebut keratinosit.
Lapisan epidermis ini terdiri atas sratum korneum, stratum lusidum,
stratum granulosum, stratum spinosum, dan stratum basalis. Lapisan tanduk
(stratum korneum) terdiri atas beberapa sel yang pipih, mati, tidak memiliki inti,

5
tidak mengalami proses metabolisme, tidak berwarna, dan sangat sedikit
mengandung air. Lapisan ini sebagian besar terdiri atas keratin, jenis protein yang
tidak larut dalam air, dan sangat resisten terhadap bahan-bahan kimia. Hal ini
berkaitan dengan fungsi kulit untuk memproteksi tubuh dari pengaruh luar. Secara
alami, sel-sel yang sudah mati di permukaan kulit akan melepaskan diri untuk
beregenerasi. Permukaan stratum korneum dilapisi oleh suatu lapisan pelindung
lembap tipis yang bersifat asam, disebut mantel asam kulit.
Stratum lucidum (lapisan jernih) terletak tepat di bawah stratum korneum,
merupakan lapisan yang tipis, jernih, mengandung eleiden, sangat tampak jelas
pada telapak tangan dan telapak kaki.
Stratum granulosum (lapisan berbutir-butir) tersusun oleh sel keratinosit
yang berbentuk poligonal, berbutir kasar, berinti mengkerut. Stoughton
menemukan bahwa di dalam butir keratohialin itu terdapat bahan logam,
khususnya tembaga yang menjadi katalisator proses pertandukan kulit.
Stratum spinosum (lapisan malphigi) memiliki sel yang berbentuk kubus
dan seperti berduri. Intinya besar dan oval. Setiap sel berisi filamen-filamen kecil
yang terdiri atas serabut protein. Cairan limfe masih ditemukan mengitari sel-sel
dalam lapisan malphigi ini.
Stratum germinativum (lapisan basal) adalah lapisan terbawah epidermis.
Di dalam stratum germinativum juga terdapat di sel-sel melanosit, yaitu sel-sel
yang tidak mengalami keratinisasi dan fungsi yang hanya membentuk pigmen
melanin dan memberikannya kepada sel-sel keratinosit melalui dendrit-
dendritnya.

B. Dermis
Dermis terdiri atas jaringan ikat yang terletak di bawah epidermis dan
berfungsi sebagai penopang dan nutrisi. Dermis lebih tebal daripada lapisan
epidermis. Lapisan ini disusun oleh pembuluh darah, ujung syaraf, kelenjar
keringat, kelenjar rambut, dan otot penegak rambut (Sharma dkk., 2011). Lapisan
dermis sudah terdapat pembuluh darah dan juga pembuluh limfatik, sehingga
absorpsi suatu obat akan lebih mudah/cepat (Ehrhardt dkk., 2008).

6
C. Subkutis
Lapisan ini merupakan kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar
berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel lemak merupakan sel bulat, besar, dengan
inti terdesak ke pinggir karena sitoplasma lemak yang bertambah. Lapisan ini
berfungsi sebagai cadangan makan.
Lapisan lemak ini disebut penikulus adiposus yang tebalnya tidak sama
pada tiap–tiap tempat dan juga pembagian antara laki-laki dan perempuan tidak
sama (berlainan). Guna penikulus adiposus adalah sebagai shock beaker atau
pegas bila tekanan trauma mekanis yang menimpa pada kulit, isolator panas atau
untuk mempertahankan suhu, penimbunan kalori, dan tambahan untuk kecantikan
tubuh. Di bawah subkutis terdapat selaput otot kemudian baru terdapat otot
(Tenripadang, 2012).

2.2 Luka
A. Definisi
Luka merupakan suatu bentuk kerusakan jaringan pada kulit yang
disebabkan kontak dengan sumber panas (seperti bahan kimia, air panas, api,
radiasi, dan listrik), hasil tindakan medis, maupun perubahan kondisi fisiologis.
Luka menyebabkan gangguan pada fungsi dan struktur anatomi tubuh (Purnama
dkk., 2017).
Luka memerlukan penanganan yang tepat dan segera agar penyembuhan
dapat sesuai waktu penyembuhan dan tidak menimbulkan komplikasi seperti
adanya hematom, infeksi, keloid, atau jaringan hipertrofik (Rairisti, 2014). Luka
dapat disebabkan oleh trauma, benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat
kimia, atau gigitan hewan. Luka tidak dapat dibiarkan sembuh sendiri karena jika
luka tidak dirawat dapat menyebabkan tejadinya infeksi dan perdarahan. Tujuan
merawat luka yaitu untuk mencegah trauma (injury) pada kulit, membran mukosa
atau jaringan lain yang disebabkan oleh adanya trauma, fraktur, luka operasi yang
dapat merusak permukaan kulit (Latuheru dkk., 2013).

7
B. Klasifikasi
Menurut Purnama dkk. (2017), berdasarkan waktu dan proses
penyembuhannya, luka dapat diklasifikasikan menjadi luka akut dan kronik. Luka
akut merupakan cedera jaringan yang dapat pulih kembali seperti keadaan normal
dengan bekas luka yang minimal dalam rentang waktu 8-12 minggu. Penyebab
utama dari luka akut adalah cedera mekanikal karena faktor eksternal, dimana
terjadi kontak antara kulit dengan permukaan yang keras atau tajam, luka tembak,
dan luka pasca operasi. Penyebab lain luka akut adalah luka bakar dan cedera
kimiawi, seperti terpapar sinar radiasi, tersengat listrik, terkena cairan kimia yang
besifat korosif, serta terkena sumber panas. Selain jenis luka di atas, masih
terdapat jenis luka lainnya menurut Abdurrahmat (2014), yaitu:
1. Luka iris/sayat, yaitu jenis luka yang diakibatkan oleh irisan benda tajam
misalnya pisau. Jenis luka ini sering menimbulkan rusaknya pembuluh-
pembuluh yang cukup besar bila irisannya cukup dalam. Menurut Ningsi dkk.
(2015) luka sayat disebut juga luka insisi yang merupakan jenis luka akut.
Luka sayat dapat menimbulkan pendarahan yang melibatkan peran hemostatis
dan akhirnya terjadi peradangan.
2. Luka memar, yaitu jenis luka yang diakibatkan oleh benturan tubuh dengan
benda tumpul yang mungkin akan diikuti oleh kerusakan bagian dalam tubuh
yang lunak, kerusakan tulang, pendarahan atau pembengkakan.
3. Luka terkoyak yaitu jenis luka yang memiliki kontur tidak menentu, bergerigi
serta cukup dalam sehingga banyak jaringan tubuh yang rusak. Luka jenis ini
bisa disebabkan oleh pecahan kaca atau mata kail.
4. Luka bocor, yaitu jenis luka yang menimbulkan lubang kecil di permukaan
kulit tetapi menembus tubuh cukup dalam, contohnya luka yang ditimbulkan
oleh tusukan pisau atau peluru.
5. Luka gores, yaitu jenis luka yang tidak terlalu dalam tetapi memiliki
permukaan luka yang sangat lebar, biasanya terjadi akibat tergoresnya kulit
pada permukaan yang kasar. pada luka jenis ini pembuluh-pembuluh yang
rusak hanya yang berada di bagian perifer.
6. Luka bakar, yaitu jenis luka yang ditimbulkan akibat terbakarnya bagian tubuh.

8
Jenis luka ini dibedakan menjadi luka bakar ketebalan parsial yaitu bila yang
terbakar hanya sampai pada jaringan epidermis sedangkan jaringan dermis
tetap utuh dan tingkatan di atasnya ialah luka bakar total dimana sebagian
dermis ikut terbakar sehingga lebih banyak cairan dan protein tubuh yang
hilang.
Sementara luka kronik merupakan luka dengan proses pemulihan yang
lambat, dengan waktu penyembuhan lebih dari 12 minggu dan terkadang dapat
menyebabkan kecacatan. Ketika terjadi luka yang bersifat kronik, neutrofil
dilepaskan dan secara signifikan meningkatkan ezim kolagenase yang
bertanggung jawab terhadap destruksi dari matriks penghubung jaringan. Salah
satu penyebab terjadinya luka kronik adalah kegagalan pemulihan karena kondisi
fisiologis (seperti diabetes melitus (DM) dan kanker), infeksi terus-menerus, dan
rendahnya tindakan pengobatan yang diberikan (Purnama dkk., 2017).

C. Proses Penyembuhan Luka


Penyembuhan luka adalah proses perbaikan alami terhadap cedera jaringan
dengan melibatkan mediator-mediator inflamasi, sel darah, matriks ekstraseluler,
dan parenkim sel. Prosesnya terdiri dari tiga fase; hemostasis dan inflamasi,
proliferasi, serta remodeling (Nazir dkk., 2015).
Hemostatis terjadi pada fase inflamasi. Pembuluh darah yang rusak akan
mengalami vasokontriksi sementara. Trombosit akan berakumulasi pada tempat
kerusakan dan melekat satu sama lain, sehingga membentuk sumbatan trombosit
dan diperkuat oleh serabut fibrin yang akan menghentikan pendarahan. Jaringan
yang mengalami kerusakan akan melepaskan histamin serta mediator lain yang
menyebabkan vasodilatasi dari pembuluh darah di daerah sekitar jaringan luka
yang masih utuh serta meningkatnya penyediaan darah ke daerah tersebut dan
membuat bagian luka menjadi terlihat merah dan terasa hangat. Leukosit
polimorfnuklear (polimorf) dan makrofag mengadakan migrasi keluar dari kapiler
dan masuk ke dalam daerah yang rusak sebagai reaksi terhadap agen kemotaktik
lalu terjadi proses fagositosis. Polimorf menelan dan menghancurkan bakteri,
serta merangsang pembentukan fibroblast yang melakukan sintesis protein

9
kolagen untuk proses angiogenesis.
Fase selanjutnya adalah proliferasi, fibrolas akan menginfiltrasi jaringan
yang mengalami luka. Saat terbentuk kolagen, kekuatan regangan luka akan
meningkat dengan cepat. Angiogenesis akan terjadi pada fase ini. Fase proliferasi
juga disebut fase granulasi karena adanya pembentukan jaringan granulasi yang
akan menutup permukaan luka dan keratosit bermigrasi untuk membantu
penutupan luka dengan jaringan epitel baru.
Fase terakhir dalam penyembuhan luka adalah fase remodeling. Fase ini
terjadi epitelialisasi, kontraksi dan reorganisasi jaringan ikat (Lena, 2016).

2.3 Metode Ekstraksi


Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan
menggunakan pelarut yang sesuai. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai
kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi
dalam sel tanaman. Setelah proses ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel
dengan penyaringan (Mukhriani, 2014).
Hasil dari proses ekstraksi adalah ekstrak. Ekstrak adalah sediaan kental
yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau
simplisia hewani dengan menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau
hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan
sedemikian rupa hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Ditjen POM,
1995).
Ekstrak dibagi dalam dua kategori, yaitu ekstrak kasar dan ekstrak yang
dimurnikan. Ekstrak kasar artinya ekstrak yang mengandung semua bahan yang
tersari dengan menggunakan pelarut organik, sedangkan ekstrak yang dimurnikan
adalah ekstrak kasar yang telah dimurnikan melalui proses penghilangan lemak,
penyaringan menggunakan resin atau adsorben (Hernani, 2007).
Ekstraksi menggunakan pelarut dibagi menjadi dua, yaitu dengan cara
dingin dan cara panas. Ekstraksi dengan cara dingin, antara lain (Depkes RI,
2000):

10
a. Maserasi, yaitu proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut
dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan
(kamar). Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut
setelah dilakukan penyaringan maserat pertama dan seterusnya.
b. Perkolasi, yaitu ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna
(exhausitive extraction) yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan.

Jenis-jenis ekstraksi dengan cara panas, yaitu:

a. Refluks, yaitu ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama
waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya
pendingin balik.

b. Soxhlet, yaitu ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru, umumnya


dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan
jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

c. Digesti, yaitu maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada temperatur


yang lebih tinggi dari temperatur ruang (kamar), secara umum pada
temperatur 40-50°C.

d. Infus, yaitu ekstraksi dengan menggunakan pelarut air pada temperatur


penangas bejana (bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih,
temperatur terukur 96-98°C) selama waktu tertentu (15-20 menit).
e. Dekok, yaitu infus pada waktu yang lebih lama (≥30 menit) dan temperatur
sampai titik didih air.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode maserasi.
Maserasi merupakan metode sederhana yang paling banyak digunakan. Cara ini
sesuai, baik untuk skala kecil maupun skala industri. Metode ini dilakukan
dengan memasukkan serbuk tanaman dan pelarut yang sesuai ke dalam wadah
inert yang tertutup rapat pada suhu kamar. Proses ekstraksi dihentikan ketika
tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan
konsentrasi dalam sel tanaman. Setelah proses ekstraksi, pelarut dipisahkan dari
sampel dengan penyaringan. Kerugian utama dari metode maserasi ini adalah
memakan banyak waktu, pelarut yang digunakan cukup banyak, dan besar

11
kemungkinan beberapa senyawa hilang. Selain itu, beberapa senyawa mungkin
saja sulit diekstraksi pada suhu kamar. Namun di sisi lain, metode maserasi dapat
menghindari rusaknya senyawa-senyawa yang bersifat termolabil (Mukhriani,
2014).
Maserasi menggunakan pelarut yang akan berdifusi masuk kedalam sel
bahan yang selanjutnya senyawa aktif akan keluar akibat dari tekanan osmosis.
Pelarut yang sering digunakan yaitu aseton dan etanol (Maleta dkk., 2018).

2.4 Skrining Fitokimia


Skirining fitokimia merupakan tahap pendahuluan dalam suatu penelitian
fitokimia yang bertujuan memberi gambaran tentang golongan senyawa yang
terkandung dalam tanaman yang diteliti. Metode skrining fitokimia yang
dilakukan dengan melihat reaksi pengujian warna dengan menggunakan suatu
pereaksi warna (Simaremare, 2014).
Skrining fitokimia merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan
untuk mengetahui fitokimia atau bahan aktif yang merupakan metabolit sekunder
pada tumbuhan. Bahan aktif ini dapat berfungsi sebagai pertahanan diri tumbuhan
terhadap lingkungan, penyakit dan serangan pemangsa (Purwati dkk., 2017).
Senyawa metabolit sekunder yang umum terdapat pada tanaman adalah alkaloid,
flavanoid, terpenoid, saponin dan tanin (Minarno, 2015).
A. Alkaloid
Alkaloid adalah suatu golongan senyawa yang tersebar luas hampir pada
semua jenis tumbuhan. Semua alkaloid mengandung paling sedikit satu atom
nitrogen yang biasanya bersifat basa dan membentuk cincin heterosiklik. Alkaloid
dapat ditemukan pada biji, daun, ranting dan kulit kayu dari tumbuh-tumbuhan.
Kadar alkaloid dari tumbuhan dapat mencapai 10-15%. Alkaloid kebanyakan
bersifat racun, tetapi ada pula yang sangat berguna dalam pengobatan (Minarno,
2015). Identifikasi alkaloid menggunakan pereaksi Mayer/Dragendorff. Apabila
terbentuk endapan menunjukkan bahwa sampel tersebut mengandung alkaloid,
dengan pereaksi Mayer memberikan endapan berwarna putih dan pereaksi
Dragendorff memberikan endapan berwarna kuning-merah (Wijaya dkk., 2014).

12
B. Flavonoid
Flavonoid adalah kelompok senyawa yang mengandung inti aromatik
khusus dan secara luas tersebar pada tanaman (Sartika dkk., 2013). Identifikasi
flavonoid menggunakan serbuk magnesium dan asam klorida yang kemudian
dididihkan. Uji positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna merah, kuning
atau jingga (Wijaya dkk., 2014).
C. Terpenoid
Terpenoid merupakan komponen-komponen tumbuhan yang mempunyai
bau dan dapat diisolasi dari bahan nabati dengan penyulingan yang disebut
minyak atsiri. Minyak atsiri yang berasal dari bunga pada awalnya dikenal dari
penentuan struktur secara sederhana, yaitu dengan perbandingan atom hidrogen
dan atom karbon dari senyawa terpenoid yaitu 8:5 dan dengan perbandingan
tersebut dapat dikatakan bahwa senyawa tersebut adalah golongan terpenoid
(Minarno, 2015). Identifikasi terpenoid menggunakan uji Lieberman-Buchard
(asetat anhidrida-H2SO4 pekat) menunjukkan hasil positif ketika terbentuknya
cincin berwarna coklat pada batas larutan saat ditambahkan dengan H2SO4
(Nirwana dkk., 2015).
D. Saponin
Saponin merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun,
serta dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa yang stabil
dalam air dan menghomolisis sel darah merah (Minarno, 2015).
E. Tanin
Tanin merupakan senyawa aktif metabolit sekunder yang diketahui
mempunyai beberapa khasiat yaitu sebagai astringen, antidiare, antibakteri dan
antioksidan. Tanin merupakan komponen zat organik yang sangat kompleks,
terdiri dari senyawa fenolik yang sukar dipisahkan dan sukar mengkristal,
mengendapkan protein dari larutannya dan bersenyawa dengan protein tersebut
(Malangngi dkk., 2012). Identifikasi tanin menggunakan pereaksi besi (III)
klorida jika terbentuk warna biru tua, biru kehitaman atau hitam kehijauan
menunjukkan adanya senyawa polifenol dan tanin (Simaremare, 2014).

13
2.5 Salep
A. Definisi
Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal
pada kulit atau selaput lendir (Ditjen POM, 1995).
Menurut Anief (2007) kualitas dasar salep adalah:
1. Stabil, selama masih dipakai mengobati. Salep harus bebas dari
inkompatibilitas, stabil pada suhu kamar dan kelembaban yang ada dalam
kamar.
2. Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi
lunak dan homogen sebab salep digunakan untuk kulit yang teriritasi dan
inflamasi.
3. Mudah dipakai, umumnya salep tipe emulsi adalah yang paling mudah
dipakai dan dihilangkan dari kulit.
4. Dasar salep yang cocok yaitu dasar salep harus kompatibel secara fisika dan
kimia dengan obat yang dikandungnya. Dasar salep tidak boleh merusak atau
menghambat aksi terapi dari obat yang mampu melepas obatnya pada daerah
yang diobati.
5. Terdistribusi merata, obat harus terdistribusi merata melalui dasar salep padat
atau cair pada pengobatan.

B. Kelebihan dan Kekurangan Sediaan Salep


Sediaan salep memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungan sediaan
salep, antara lain (Jones, 2008; Usha dan Mahajan, 2015):
1. Memberikan efek lokal pada daerah yang diolesi salep, dengan demikian
menghindari paparan pada bagian yang bukan menjadi target obat sehingga
dapat mengurangi efek samping.
2. Tidak melewati metabolisme lintas pertama
3. Cocok diberikan pada pasien yang kehilangan kesadaran dan memiliki
kesulitan untuk menggunakan obat secara oral.
4. Sediaan salep dapat dengan mudah menyebar pada kulit

14
5. Dapat bertahan di daerah penerapan sebagai lapisan oklusif sehingga
mencegah hilangnya kelembaban pada kulit. Sangat berguna bagi pemulihan
fisik pada kulit.
Sedangkan kekurangan sediaan salep antara lain :
1. Sediaan salep umumnya berminyak dan sulit untuk dihapus (seringkali tidak
diterima sebagai kosmetik)
2. Pengaplikasian dengan menggunakan ujung jari dapat mengkontaminasi
formula
3. Secara fisikokimia kurang stabil dibandingkan dengan sediaan padat.

C. Komposisi Sediaan Salep


Selain basis dan bahan obat, salep boleh mengandung satu atau lebih zat
tambahan, seperti pengawet, antioksidan, pengkhelat dan pengaroma (Usha dan
Mahajan, 2015). Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam
empat kelompok yaitu (Ditjen POM, 1995):
1. Dasar salep hidrokarbon, dikenal sebagai dasar salep berlemak antara lain
vaselin putih dan salep putih. Hanya sejumlah kecil air dapat dicampurkan ke
dalamnya. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat
dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. Dasar salep
hidrokarbon digunakan terutama sebagai emolien dan sukar dicuci. Tidak
mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu lama.
2. Dasar salep serap, dapat terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama
terdiri dari dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi
air dalam minyak dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak
yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan.
3. Dasar salep yang dapat dicuci dengan air merupakan emulsi minyak dalam
air, sesuai dengan namanya dasar salep ini mudah dicuci dari kulit atau dilap
basah. Contoh basis ini yaitu salep hidrofilik.
4. Dasar salep yang larut dalam air, disebut juga dasar salep tak berlemak dan
terdiri dari konstituen yang larut air. Contoh basis ini yaitu PEG 4000 dan
PEG 400.

15
2.6 Tanaman Patiwala
A. Klasifikasi Tanaman
Patiwala (Lantana camara L.) merupakan jenis tumbuhan herba menahun,
batang semak, berkayu, tegak, bercabang, batang berduri, dan tumbuh di daerah
beriklim tropis. Tumbuhan ini berbunga sepanjang tahun, memiliki warna bunga
beragam, seperti putih, kuning, merah, merah muda, dan jingga. Bagian buah
bergerombol di ujung tangkai, kecil, bulat, warna hijau ketika mentah, hitam
kebiruan dan mengkilap ketika matang (Sosang dkk., 2016).
Klasifikasi tanaman patiwala:
Regnum : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Lamiales
Family : Verbenaceae
Genus : Lantana
Spesies : Lantana camara L.

Gambar 2.3 Tanaman patiwala (Lantana camara L.) (Kalita dkk., 2012)

B. Nama Lain
Tumbuhan patiwala dikenal dengan nama Kembang Satek, Saliyara,
Saliyere, Tahi Ayam, Tahi Kotok, Tembelekan, dan Teterapan di daerah Jawa. Di
Madura, tumbuhan ini disebut dengan Tamanjho dan di daerah Sumatera dikenal
dengan nama Bunga Pagar, Kayu Singapur, dan Lai Ayam. Sedangkan di Cina
sendiri dikenal dengan nama Wu se mei (Setiawan, 2010).

16
C. Morfologi
Morfologi dari Lantana camara adalah semak tegak rendah atau
subscandent kuat dengan batang tetrangular. Tanaman tumbuh hingga 1 sampai 3
meter dan dapat terbentang hingga 2,5 meter. Daun bulat telur atau bulat telur
lonjong. Daunnya memiliki panjang 3-8 cm dan lebar 3-6 cm dan warna daunnya
hijau. Daun dan batang ditutupi dengan rambut kasar. Bunga kecil berada dalam
kelopak (disebut umbels). Biasanya bewarna orens, kadang-kadang bervariasi dari
putih menjadi merah dalam berbagai nuansa dan bunga biasanya berubah warna
saat mereka tua. Kelopak kecil, tabung mahkota ramping, anggota tubuh
menyebar dengan lebar 6 sampai 7 mm dan terbagi dalam lobus yang tidak sama.
Perbungaannya kompak, berbentuk kubah 2-3 cm dan mengandung 20-40 bunga
sessile. Sistem akar yang sangat kuat dan memberikan tunas baru yang segar
bahkan setelah distek berulang-ulang (Kalita dkk., 2012).

D. Kandungan Kimia
Komposisi fitokimia dari Lantana camara telah dipelajari secara ekstensif
dalam beberapa dekade terakhir. Bagian yang berbeda dari Lantana camara
dilaporkan memiliki minyak esensial, senyawa fenolik, flavonoid, karbohidrat,
protein, alkaloid, glikosida, glikosida iridoid, fenil ethanoid, oligosakarida, kina,
saponin, steroid, triterpens, sesquiterpenoides dan tannin sebagai kelompok
fitokimia utama (Kalita dkk., 2012). Daun patiwala mengandung flavonoid,
terpenoid, alkaloid, minyak atsiri, dan senyawa seperti pitosterol, saponin dan
tannin. Senyawa metabolit sekunder dalam tumbuhan merupakan hasil sintesis
yang terjadi dalam tumbuhan itu sendiri. Di dalam tubuh tumbuhan terjadi sintesis
senyawa organik yang kompleks dan menghasilkan sederet golongan senyawa
dengan berbagai macam struktur. Senyawa metabolit sekunder sangat bervariasi
jumlah dan jenisnya dari setiap tumbuh-tumbuhan (Wijaya dkk., 2016).

17
E. Manfaat
Daun patiwala merupakan tanaman yang berkhasiat obat diantaranya
pereda demam, penyakit kulit, penghilang nyeri, keputihan, menghilangkan
bengkak, obat batuk, TBC, dan asma (Wijaya, dkk., 2016). Daun tumbuhan
patiwala, oleh masyarakat Sulawesi Selatan digunakan sebagai obat yang dapat
mempercepat penyembuhan luka. Selain itu, juga berkhasiat mengatasi sakit kulit,
gatal-gatal, bisul, luka, rematik, memar, dan bengkak (Dini dkk., 2011).

2.7 Uji Aktivitas Penyembuhan Luka Sayatan


Prinsip dasar penyembuhan luka yang optimal untuk meminimalkan
kerusakan jaringan yaitu dengan menyediakan perfusi jaringan dan oksigenasi
yang cukup, pemberian nutrisi yang tepat dengan kondisi lingkungan
penyembuhan luka yang lembab untuk mengembalikan kontinuitas anatomi dan
fungsi jaringan yang rusak dalam waktu singkat (Hernani dkk., 2012).
Uji aktivitas penyembuhan luka sayat ini menggunakan hewan uji kelinci
putih jantan sebanyak 3 ekor dengan berat 1,5 sampai 2 kg (Tenripadang, 2012).
Pengujian terhadap penyembuhan luka dilakukan menurut metode Morton yaitu
hewan uji dicukur bulunya di daerah punggung sampai licin kemudian
dibersihkan dengan alkohol 70%. Selanjutnya dibuat luka sayatan menggunakan
pisau bedah dengan ukuran panjang luka 2 cm dengan kedalaman 2 mm. Luka
pada hewan uji dinyatakan sembuh dengan ditandai adanya pembentukan
keropeng, penutupan luka, dan tumbuhnya kulit baru serta bulu di sekitar luka
(Hernani dkk., 2012).

2.8 Uji Iritasi


Iritasi adalah gejala inflamasi yang terjadi pada kulit atau membran
mukosa segera setelah perlakuan berkepanjangan atau berulang dengan
menggunakan bahan kimia atau bahan lain. Produk yang memungkinkan untuk
memberikan efek merugikan (iritasi dan alergi) harus melewati uji keamanan dan
penilaian resiko sebelum dimasukkan ke pasaran. Pengujian iritasi dapat
dilakukan pada hewan atau pun manusia (Paye dkk., 2001).

18
Uji iritasi terhadap kulit Manusia dilakukan dengan cara uji tempel terbuka
(patch test). Uji tempel terbuka dilakukan dengan mengoleskan sediaan pada
lengan bawah bagian dalam yang dibuat pada lokasi lekatan dengan luas tertentu
(2,5 x 2,5 cm), dibiarkan terbuka dan diamati apa yang terjadi. Manusia yang
dijadikan panel pada uji iritasi berjumlah 12 orang, dengan kriteria sebagai berikut
(Panjaitan dkk., 2012):
a. Wanita berbadan sehat
b. Usia antara 20-35 tahun
c. Tidak ada riwayat penyakit yang berhubungan dengan alergi
d. Bersedia menjadi Sukarelawan untuk uji iritasi
e. Sukarelawan adalah orang terdekat dan sering berada di sekitar pengujian
sehingga lebih mudah diawasi dan diamati bila ada reaksi yang terjadi pada
kulit yang sedang diuji

2.9 Kelinci (Oryctolagus cuniculus)


Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelinci. Hal ini
karena kelinci memiliki luas punggung yang cukup besar yang dapat
memudahkan pengamatan hasil uji. Selain itu kelinci juga termasuk hewan yang
mudah dalam hal perawatan dan makanan yang dibutuhkannya. Kelinci jantan
dipilih karena kelinci jantan mempunyai kondisi biologis yang lebih stabil
daripada kelinci betina yang kondisi biologisnya dipengaruhi oleh masa siklus,
masa kehamilan dan masa menyusui. Sebelum digunakan untuk uji terlebih
dahulu hewan uji dikondisikan terlebih dahulu selama 1 minggu, hal ini dilakukan
agar hewan uji dalam tingkatan kesehatan yang baik (Peresia, 2009).
Kelinci putih jantan memiliki beberapa keunggulan dibandingkan hewan
uji yang lain yaitu ukuran tubuh (termasuk punggung tersebut) yang cukup luas
sebagai area uji sehingga memudahkan pencukuran rambut, kemudahan dalam
menanganinya (tidak mudah stres). Tidak menggunakan mencit atau tikus karena
permukaan tubuh mencit lebih sempit sedangkan tikus mudah sekali stres, padahal
pencukuran memerlukan waktu yang relatif lama dan juga harus dilakukan hati-
hati agar tidak melukai kulit hewan uji (Handayani, 2009).

19
A. Taksonomi
Menurut Damron (2003), klasifikasi hewan coba kelinci secara lengkap
adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animal
Phylum : Chordata
Classis : Mammalia
Ordo : Logomorpha
Family : Leporidae
Genus : Oryctolagus
Spesies : Oryctolagus cuniculus

Gambar 2.4 Kelinci putih jantan


(Damron, 2003)

B. Morfologi
Tubuh kelinci berbulu halus dan daerah kulit yang tidak berbulu ada pada
daerah ujung hidung. Dari atas, kepala tampak besar dan daun telinga terlihat
banyak vaskularisasinya. Bibir atas tampak terbelah, sedangkan bibir bawah tidak
terlihat terbelah, secara relatif mulut hanya terbuka sedikit. Sensor bulu (kumis)
sangat menyolok atau sensitif. Badan dibagi ke dalam thorax, abdomen dan dorsal
(punggung) (Lena, 2016).
Berdasarkan strukturnya, kulit kelinci terdiri dari tiga lapisan, yaitu
dermis, epidermis dan vel. Dermis adalah bagian utama kulit, merupakan jaringan
serat yang sangat kuat dan kompak, terbuat dari bahan sejenis protein yang disebut
kolagen. Dermis tersebut bertaut pada bagian lain, yaitu vel, sedangkan bagian

20
luarnya dilapisi oleh semacam selaput berstruktur keras, elastis dan kuat yang
disebut epidermis. Selaput ini terbuat dari bahan sejenis protein yang disebut
keratin, berfungsi sebagai pelindung dermis serta tempat tumbuh bulu-bulu yang
bertaut pada folikel (Kartadisastra, 1997).

Gambar 2.5 Penampang struktur kulit kelinci (Kartadisastra, 1997)


Keterangan :
a : Bulu penjaga; b : Epidermis; c : Bulu regulator; d : Dermis; e : Folikel; f : Vel
Menurut Kartadisastra (1997) syarat kelinci (Oryctolagus cuniculus)
sebagai hewan uji yang digunakan dalam penelitian yaitu:
1. Berbadan sehat (tidak cacat)
2. Umur 2-6 bulan
3. Berat badan 2-4 kg

C. Karakteristik
Menurut Kartadisastra (1997) karasteristik (Oryctolagus cuniculus) yaitu:
Masa hidup : 5 - 10 tahun
Masa produksi : 1 - 3 tahun 
Masa bunting : 28-35 hari (rata-rata 29-31 hari)
Masa penyapihan : 6-8 minggu
Umur dewasa  : 4-10 bulan
Umur dikawinkan : 6-12 bulan
Siklus kelamin : Poliestrus dalam setahun 5 kali hamil
Siklus berahi  : Sekitar 2 minggu 
Ovulasi  : Terjadi kawin (9-13 jam kemudian) 

21
Fertilitas : 1-2 jam sesudah kawin
Jumlah kelahiran   : 4-10 ekor (rata-rata 6-8)
Volume darah : 40 mL/kg berat badan 
Bobot dewasa : Tergantung pada ras, jenis kelamin

2.10 Uraian Bahan Tambahan


A. Vaselin Album
Vaselinum album dengan nama lain vaselin album atau vaselin putih
adalah campuran hidrokarbon setengah padat yang telah diputihkan, diperoleh
dari minyak mineral. Pemeriannya berupa massa lunak lengket bening atau putih.
Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P, larut dalam klorofom P,
dalam eter P, dan dalam eter minyak tanah P. Vaselin album merupakan bahan
inert dengan sangat sedikit inkompatibilitas. Vaselin album harus disimpan dalam
wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, pada tempat yang sejuk dan kering.
Digunakan dalam formulasi farmasetik topikal sebagai basis salep hingga
konsentrasi 100% (Ditjen POM, 1979; Rowe dkk., 2009).

B. Cera Alba
Cera alba dengan nama lain lilin lebah atau malam putih adalah malam
yang dieproleh dari sarang lebah Apis mellifera L. atau spesies Apis lain.
Pemeriannya berupa zat padat, lapisan tipis bening, berwarna putih kekuningan
dengan bau khas lemah. Praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam
etanol (95%) P dingin, larut dalam kloroform P, dalam eter P hangat, dalam
minyak lemak, dan dalam minyak atsiri. Cera alba inkompatibel dengan bahan
pengoksidasi. Harus disimpan dalam wadah tertutup rapat dan terlindung dari
cahaya. Cera alba digunakan sebagai peningkat konsistensi salep (Ditjen POM,
1979; Rowe dkk., 2009).

C. Lanolin Anhidrat
Adeps Lanae dengan nama lain lanolin atau lanolin anhidrat adalah zat
berupa lemak yang dimurnikan, diperoleh dari bulu domba Ovis aries Linne.

22
Lanolin anhidrat memiliki rumus kimia C48H69O46. Pemeriannya zat berupa lemak,
liat, lekat, kuning muda atau kuning pucat, agak tembus cahaya dengan bau lemah
dan khas. Lanolin praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol
(95%) P, mudah larut dalam kloroform P, dan dalam eter P. Lanolin bisa saja
mengandung prooxidan, yang mana mempengaruhi stabilitas dari berbagai zat
aktif obat tertentu. Lanolin harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, terlindung
dari cahaya, di tempat yang sejuk dan kering. Lanolin secara luas digunakan
dalam formulasi farmasetikal dan kosmetik topikal sebagai basis (Ditjen POM,
1979; Rowe dkk., 2009).

D. Polietilen Glikol 400

Polyaethylenglycolum-400 dengan nama lain polietilen glikol 400 atau


PEG 400 adalah polietilen glikol dengan rumus kimia H(O-CH2-CH2)nOH,
dimana harga n antara 8,2 dan 9,1 dengan rumus struktur sebagai berikut:

Gambar 2.6 Struktur molekul polietilen glikol (Rowe, 2009)

Pemeriannya berupa cairan kental jernih, tidak berwarna atau praktis tidak
berwarna, agak higroskopik dengan bau khas lemah. Larut dalam air, etanol
(95%) P, aseton P, glikol lain, dan dalam hidrokarbon aromatik, parktis tidak larut
dalam eter P, dan dalam hidrokarbon alifatik. PEG bentuk cair dan padat mungkin
inkompatibel dengan zat pewarna. Aktivitas antibakteri dari antibiotik tertentu
berkurang dalam basis PEG. Polietilen glikol adalah zat hidrofilik stabil yang
pada dasarnya tidak menyebabkan iritasi kulit. Polietilen glikol tidak mudah
menembus kulit, meskipun polietilen glikol larut-air dan dengan mudah
dihilangkan dari kulit dengan pencucian, menjadikannya berguna sebagai basis
salep. PEG harus disimpan dalam wadah tertutup rapat di tempat yang sejuk dan
kering. Wadah stainless steel, aluminium, atau kaca lebih diutamakan untuk

23
penyimpanan polietilen glikol cair (Ditjen POM, 1979; Rowe dkk., 2009).

E. Polietilen Glikol 4000


Polyaethylenglycolum-4000 dengan nama lain polietilen glikol 4000 atau
PEG 4000 adalah polietilen glikol dengan rumus kimia H(O-CH2-CH2)nOH,
dimana harga n antara 68 dan 84 dengan rumus struktur sebagai berikut:

Gambar 2.7 Struktur molekul polietilen glikol (Rowe, 2009)

Pemeriannya berupa serbuk licin putih atau potongan putih kuning gading, praktis
tidak berbau, dan tidak berasa. Mudah larut dalam air, etanol (95%) P, kloroform
P, dan praktis tidak larut dalam eter P. PEG bentuk cair dan padat mungkin
inkompatibel dengan zat pewarna. Aktivitas antibakteri dari antibiotik tertentu
berkurang dalam basis PEG. Polietilen glikol adalah zat hidrofilik stabil yang
pada dasarnya tidak menyebabkan iritasi kulit. Polietilen glikol tidak mudah
menembus kulit, meskipun polietilen glikol larut-air dan dengan mudah
dihilangkan dari kulit dengan pencucian, menjadikannya berguna sebagai basis
salep. PEG harus disimpan dalam wadah tertutup rapat di tempat yang sejuk dan
kering. Bentuk padat secara umum digunakan dalam salep topikal, dengan
konsistensi basis yang disesuaikan dengan penambahan bentuk cair (Ditjen POM,
1979; Rowe dkk., 2009).

F. Alfa Tokoferol
Tocopherolum dengan nama lain Vitamin E atau alfa tokoferol berupa
cairan seperti minyak, kuning jernih, tidak berbau atau sedikit berbau, tidak berasa
atau sedikit berasa. Alfa tokoferol memiliki rumus kimia C 29H50O2 dengan rumus
struktur sebagai berikut:

24
Gambar 2.8 Struktur molekul alfa tokoferol (Rowe, 2009)

Pemeriannya praktis tidak berbau dan tidak berasa, bentuk alfa tokoferol dan alfa
tokoferol asetat berupa minyak kental jernih, warna kuning atau kuning kehijauan.
Praktis tidak larut dalam air, bebas larut dalam aseton, etanol, eter dan minyak
sayur. Tokoferol inkompatibel dengan peroksida dan ion logam, khusunya besi,
tembaga, dan silver. Tokoferol dapat terabsorbsi oleh plastik. Tokoferol harus
disimpan di bawah gas inert, dalam wadah kedap udara, ditempat sejuk dan
kering, dan terlindung dari cahaya. Alfa tokoferol dalam produk farmasi biasanya
digunakan sebagai antioksidan dalam konsentrasi berkisar 0,001-0,05% (Ditjen
POM, 1979; Rowe dkk., 2009).

G. Propil Paraben
Propylis Parabenum dengan nama lain propil paraben atau nipasol. Propil
paraben memiliki rumus kimia C10H12O3 dengan rumus struktur sebagai berikut:

Gambar 2.9 Struktur molekul propil paraben (Rowe, 2009)

Pemeriannya berupa serbuk putih atau hablur kecil, tidak berbau, dan tidak berasa.
Sangat sukar larut dalam air, larut dalam etanol (95%) P, aseton P, gliserol P, dan
minyak lemak. Aktivitas antimikroba propil paraben berkurang dengan adanya
surfaktan nonionik. Propil paraben harus disimpan dalam wadah tertutup rapat di
tempat sejuk dan kering. Propil paraben secara luas digunakan sebagai pengawet
antimikroba dalam kosmetik, produk makanan dan formulasi farmasi. Pada
sediaan topikal digunakan dalam rentang konsentrasi 0,01-0,6% (Ditjen POM,
1979; Rowe dkk., 2009).

25
H. Metil Paraben
Methylis Parabenum dengan nama lain metil paraben atau nipagin. Metil
paraben memiliki rumus kimia C8H8O3 dengan rumus struktur sebagai berikut:

Gambar 2.10 Struktur molekul metil paraben (Rowe, 2009)

Pemeriannya berupa serbuk hablur putih, hampir tidak berbau, dan tidak berasa.
Larut dalam air, air mendidih, etanol (95%) P, aseton P, mudah larut dalam eter P,
dan dalam alkali hidroksida. Aktivitas antimikroba metil paraben berkurang
dengan adanya surfaktan nonionik. Metil paraben harus disimpan dalam wadah
tertutup rapat di tempat sejuk dan kering. Metil paraben secara luas digunakan
sebagai pengawet antimikroba dalam kosmetik, produk makanan dan formulasi
farmasi. Pada sediaan topikal digunakan dalam rentang konsentrasi 0,02-0,3%
(Ditjen POM, 1979; Rowe dkk., 2009).

26
2.11 Kerangka Konsep

Daun patiwala
(Lantana camara L.)
Diekstraksi dengan metode maserasi
menggunakan etanol 96 % dan dievaporasi
dengan Rotary Evaporator

Ekstrak kental etanol


daun patiwala
Didelipidasi menggunakan n-heksan: etanol
96% (1:1). Fraksi etanol dan dievaporasi
kembali dengan Rotary Evaporator

Ekstrak daun
Skrining patiwala
Fitokimia terdelipidasi

Salep ekstrak etanol


daun patiwala

:Uji Aktivitas Uji Iritasi

Formula yang memiliki aktivitas baik dan tidak mengiritasi

Gambar 2.11 Kerangka konsep


Keterangan :
Variabel terikat :
Variabel bebas :

27
BAB III. METODE PENELITIAN

C.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Juni tahun 2019 bertempat
di Laboratorium Fakultas Farmasi dan Laboratorium Fakultas Kedokteran,
Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara.

C.2 Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, yaitu penelitian
yang dilakukan untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dari suatu perlakuan
yang diberikan secara sengaja oleh peneliti.

C.3 Alat Penelitian


Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini meliputi timbangan analitik
(Precisa XB 220A®), pisau bedah, corong pisah, kertas saring, water bath, hot
plate (Stuart®), rotary vacuum evaporator (Rotavapor® R-300), alat cukur,
gunting, mistar, serta alat-alat gelas (Pyrex®).

C.4 Bahan Penelitian


Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah ekstrak etanol daun
patiwala (Lantana camara L.), etanol 96%, PEG 400, PEG 4000, vaselin album,
cera alba, lanolin anhidrat, propil paraben, metil paraben, alfa tokoferol, n-heksan,
alkohol 70%, Betadine®, larutan injeksi lidokain HCl 2%, pereaksi Meyer, larutan
FeCl3 1%, H2SO4 pekat, asam asetat anhidrat, serbuk magnesium, HCl pekat,
spuit, akuades, alumunium foil, kapas, kasa steril, plester, dan 3 ekor kelinci.

C.5 Variabel
Variabel dalam penelitian ini terdiri atas variabel bebas (independen) dan
variabel terikat (dependen).
1. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah sediaan salep ekstrak etanol daun
patiwala (Lantana camara L.).

28
2. Variabel terikat adalah aktivitas penyembuhan luka sayatan dan potensi iritasi
sediaan salep ekstrak etanol daun patiwala (Lantana camara L.).

C.6 Definisi Operasional


1. Ekstrak etanol daun daun patiwala (Lantana camara L.) yang dimaksud
dalam penelitian ini yaitu maserat etanol daun patiwala terdelipidasi yang
diuapkan pelarutnya dengan menggunakan rotary evaporator.
2. Skrining fitokimia yang dimaksud dalam penelitian ini adalah identifikasi
kandungan metabolit sekunder dari ekstrak etanol daun patiwala (Lantana
camara L.).
3. Formula optimum dalam penelitian ini adalah formula yang memiliki respon
berupa karakteristik fisik yang paling baik sebagai sediaan salep ekstrak
etanol daun patiwala (Lantana camara L.).
4. Aktivitas penyembuhan luka yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
kemampuan salep dari ekstrak etanol daun patiwala untuk membantu proses
penyembuhan luka sayatan, dinilai dari lama waktu tertutup dan ukuran luka
selama 14 hari pengamatan.
5. Potensi iritasi dalam penelitian ini adalah sediaan salep tidak menimbulkan
reaksi iritasi ketika diaplikasikan pada kulit.

C.7 Prosedur Penelitian


A. Preparasi Ekstrak
1. Determinasi Sampel
Determinasi sampel dilakukan di Laboratorium Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Halu Oleo Kendari.

2. Pengambilan Sampel
Sampel daun patiwala diambil pada pagi hari di Kelurahan Abeli Dalam,
Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari. Daun yang diambil yaitu mulai bagian kelima
dari pucuk dan dipetik secara langsung dengan tangan.

29
3. Preparasi Sampel
Preparasi sampel dimulai dari proses sortasi basah, pencucian dengan air
mengalir, kemudian pengeringan secara langsung di bawah matahari hingga
diperoleh sampel daun yang kering (simplisia). Proses selanjutnya adalah sortasi
kering, yaitu pemilihan bahan yang telah melalui proses pengeringan. Pemilihan
dilakukan terhadap bahan-bahan yang terlalu gosong atau bahan yang rusak.
Selanjutnya simplisia akan diserbukkan dengan cara diremukkan dengan tangan
lalu ditimbang dan ditempatkan pada suatu wadah agar tidak saling bercampur
dengan simplisia lainnya.

4. Pembuatan Ekstrak
Serbuk kering daun patiwala, kemudian ditimbang sebanyak 1000 gram,
dimasukkan ke dalam 5 wadah kaca (masing-masing berisi 200 gram) dan
dimaserasi menggunakan pelarut etanol 96% sebanyak 15 L (masing-masing
wadah berisi 3 L) selama 3x24 jam dengan penggantian pelarut setiap 1x24 jam.
Hasil maserasi kemudian dipisahkan dari ampas simplisia menggunakan kertas
saring Whatman lalu diuapkan menggunakan rotary vacuum evaporator pada
suhu 40-45°C dengan kecepatan 65-90 rpm sehingga diperoleh ekstrak kental.

B. Skrining Fitokimia
1. Uji Alkaloid
Sebanyak 1 g ekstrak dimasukkan dalam tabung reaksi lalu dilarutkan
dengan 2 mL etanol 96%. Kemudian diuji dengan pereaksi Meyer sebanyak 2
tetes. Hasil uji positif diperoleh bila terbentuk endapan bewarna putih dengan
pereaksi Meyer (Djamal, 2012).

2. Uji Flavonoid
Sebanyak 1 g ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian
dilarutkan dengan 2 mL etanol 96%. Kemudian ditambahkan 0,5 mL HCl pekat
dan serbuk magnesium. Terbentuk warna merah atau merah jingga menunjukkan
adanya flavonoid (Djamal, 2012).

30
3. Uji Saponin
Sebanyak 1 g ekstrak dimasukkan dalam tabung reaksi, kemudian
ditambahkan 1 mL air lalu dikocok vertikal selama 10 detik. Kemudian dibiarkan
selama 10 detik. Pembentukan busa setinggi 1-10 cm yang stabil selama tidak
kurang dari 10 menit, menunjukkan adanya saponin (Djamal, 2012).

4. Uji Tanin
Sebanyak 1 g ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu dilarutkan
dengan 2 mL etanol 96%. Kemudian ditambahkan larutan FeCl 3 1%. Golongan
tanin positif bila terbentuk warna hijau ungu atau kehitaman (Djamal, 2012).

5. Uji Terpenoid
Sebanyak 1 g ekstrak dilarutkan dengan 2 mL etanol 96%, kemudian
ditambahkan 0,5 mL asam asetat anhidrat, selanjutnya ditambahkan 2 mL asam
sulfat pekat melalui dinding tabung. Terbentuknya warna merah menunjukkan
adanya terpenoid (Djamal, 2012).

C. Formulasi Sediaan Salep Ekstrak Etanol Daun Patiwala


Master formula salep ekstrak etanol daun patiwala dapat dilihat pada
Tabel 3.1 dan Tabel 3.2.
Tabel 3.1 Master formula salep penyembuh luka dengan variasi konsentrasi ekstrak
(Zulfa dkk., 2015)
% Bahan dalam tiap 10 g formula
Formula
Bahan Kegunaan
A B C
Ekstrak daun patiwala 1 2 4 Zat aktif
Propil paraben 0,01 0,01 0,01 Pengawet
Alfa tokoferol 0,001 0,001 0,001 Antioksidan
Cera alba 2 2 2 Basis
Vaselin album Ad 100 Ad 100 Ad 100 Basis

31
Tabel 3.2 Master formula salep penyembuh luka dengan variasi basis (Zulfa dkk., 2015)
% Bahan dalam tiap 10 g formula
Formula
Bahan Kegunaan
A B C
Ekstrak daun patiwala 4 4 4 Zat aktif
Alfa tokoferol 0,001 0,001 0,001 Pengawet
Metil paraben - - 0,02 Pengawet
Propil paraben 0,01 0,01 - Antioksidan
Cera alba 2 3 - Basis
PEG 400 - - 76,78 Basis
PEG 4000 - - 19,19 Basis
Lanolin anhidrat - 3 - Basis
Vaselin album 93,98 89,98 - Basis
Keterangan :
FA : salep ekstrak daun patiwala basis hidrokarbon
FB : salep ekstrak daun patiwala basis absorpsi
FC : salep ekstrak daun patiwala basis larut air

D. Uji Aktivitas Penyembuhan Luka Sayatan


1. Penanganan Hewan Coba sebelum Perlakuan
Sebelum percobaan dimulai, semua hewan coba diadaptasikan pada
lingkungan percobaan selama 7 hari. Hewan coba yang digunakan adalah kelinci
(Oryctolagus cuniculus) yang jantan dan sehat dengan bobot badan berkisar
antara 1,5 sampai 2 kg. Selama masa adaptasi, hewan coba diberi makan dengan
pakan standar/makanan standar (wortel, kangkung, pellet) dan air minum
diberikan sesuai keinginan (Handayany dkk., 2015).
Efek penyembuhan luka dilakukan terhadap kelinci yang sehat dengan
menggunakan metode Morton, yakni dicukur bulunya di daerah punggung
sampai licin kemudian dibersihkan dengan alkohol 70% dan diberi anastesi lokal
dengan larutan injeksi lidokain HCl 2%, kemudian dilukai dengan pisau bedah
dengan kedalaman luka 2 mm serta panjang luka 2 cm (Tenripadang, 2012).
Punggung kelinci kemudian dibagi menjadi 6 daerah dengan masing-masing sisi
yang lebih kurang 2 cm, dan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain
diberi jarak lebih kurang 1 cm. Setiap bagian diberi perlakuan sebagai berikut
(Aini, 2017):

32
Tabel 3.3 Daerah uji kelinci
Daerah Uji Perlakuan
Daerah A Formula optimum (salep ekstrak etanol daun patiwala 4%)
Daerah B Ekstrak terdelipidasi
Daerah C Ekstrak tidak terdelipidasi
Daerah D Kontrol positif (Betadine®)
Daerah E Kontrol negatif (basis)
Daerah F Kontrol normal (tanpa perlakuan)

2. Uji Aktivitas Sediaan Salep


Luka yang terjadi diolesi dengan sediaan uji ± 1 gram setiap 24 jam,
kemudian ditutup dengan kain kasa, dibuka, panjang luka diukur kemudian
ditutup kembali dengan kain kasa dilakukan sampai luka sembuh, dicatat hari
mulai menurunnya panjang luka, pembentukan karopeng dan hari luka tertutup
100% (Handayany dkk., 2015). Pengukuran efek penyembuhan luka dilakukan
berdasarkan profil penyembuhan luka antara lain: waktu penutupan luka dan
penurunan panjang luka (Tenripadang, 2012).
Menurut Calsum dkk. (2018) kesembuhan luka diamati dengan cara
mengukur rata-rata panjang luka setiap hari, dimulai dari hari pertama pembuatan
luka sampai pada hari ke 14, dengan menghitung persentase penyembuhan luka
menggunakan rumus:
d 0−dx
P% = ×100% ...........................................(1)
d0
Keterangan:
P% : persentase penyembuhan luka
d0 : panjang luka awal
dx : panjang luka pada hari tertentu

E. Uji Potensi Iritasi Sediaan Salep


Uji iritasi dilakukan dengan mengoleskan salep ke kulit tangan Manusia.
Uji ini dilakukan sebanyak 3 kali (pagi, siang, sore) selama 3 hari berturut-turut.
Uji iritasi sediaan salep yang dibuat dilakukan terhadap 12 orang dengan uji
tempel terbuka (patch test), yakni: 1 gram sediaan salep dioleskan pada lengan
bawah kanan bagian dalam. Selanjutnya perubahan warna yang terjadi pada

33
lengan bawah kanan bagian dalam masing-masing Manusia diamati. Jika tidak
terjadi reaksi (tidak merah dan tidak bengkak) diberi tanda (-), jika terjadi reaksi
(kulit memerah) diberi tanda (+), selanjutnya jika terjadi pembengkakan diberi
tanda (++). Pada lengan bawah kanan bagian dalam dilihat apakah tampak adanya
iritasi (kemerahan) pada kulit yang dioleskan salep tersebut lalu dibandingkan
dengan kontrol yaitu lengan bawah kiri bagian dalam (Panjaitan dkk., 2012;
Nareswari dan Anang, 2016).

F. Setelah Perlakuan
Hewan uji yang telah diuji aktivitas, dikubur pada halaman Laboratorium
sedalam 1 m. Hal ini sesuai dengan pedoman yang terdapat pada Guidelines for
the Euthanasia of Animals (AVMA, 2013).

34
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan formulasi sediaan salep


dengan bahan aktif ekstrak etanol daun patiwala yang berguna untuk membantu
proses penyembuhan luka. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu
determinasi sampel, pengambilan dan preparasi sampel, pembuatan ekstrak, uji
skrining fitokimia, formulasi salep, uji aktivitas sediaan salep, dan uji iritasi.
1. Determinasi Sampel
Determinasi tanaman bertujuan untuk memastikan kebenaran daun
patiwala yang akan digunakan dalam penelitian. Proses determinasi dilakukan di
Laboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Halu Oleo Kendari. Hasil determinasi menyatakan bahwa sampel
merupakan daun yang berasal dari tanaman Lantana camara L. (Lampiran 1).
Kunci determinasi: 1b – 1b – 3b – 4b – 6b – 7b – 9b – 10b – 11b – 12b –
13b – 14b – 16a. (Gol.10. Daun tunggal, terletak berhadapan).
239b – 243b – 244b – 248b – 249b – 250a – 251b – 253a – 273b – 276b – 278b –
279b – 282b – 283a …… 109. Verbenaceae.
1a – 2b – 3a – 4b – 5b….. 5.Lantana.
1a…..Lantana camara Linn. (Steenis, 2005).
Lantana camara Linn. merupakan tumbuhan dengan habitus perdu yang
bercabang banyak, tinggi 0,5-5 m. Batang (caulis) segi empat (quadrangularis),
yang muda penuh dengan rambut, kelenjar kecil dan selalu dengan duri tempel
(kadang-kadang kecil). Daun bertangkai sangat panjang, bulat telur (ovatus)
dengan pangkal yang tumpul (obtusus) dan ujung yang runcing (acumitus),
bergigi bergerigi, dari sisi atas berbulu kasar, dari sisi bawah berbulu jarang
(pilosus) 5-8 kali 3-5,5. Bulir pendek, diketiak, tunggal, bertangkai. Daun
pelindung bulat telur jorong, panjang 0,5 cm. Kelopak berbentuk tabung lonceng,
berlekuk tak dalam, tinggi 2 mm. Tabung mahkota membengkok, panjang 1 cm;
tepian bertaju 4-5, taju tidak sama besarnya, oranye, merah muda, merah, atau
putih, sering bergantian warna. Benang sari 4, panjang 2 mm. Buah batu saling
berdekatan, bentuk bulat telur berinti 1.

35
2. Pengambilan Sampel
Sampel daun patiwala diambil di Kelurahan Abeli Dalam, Kecamatan
Puuwatu, Kendari, Sulawesi Tenggara. Pengambilan sampel yang dilakukan pada
pagi hari bertujuan agar kandungan metabolit sekunder pada daun patiwala lebih
optimum karena dalam keadaan berfotosintesis. Sampel diambil secara manual
yaitu dipetik langsung menggunakan tangan. Hal ini dilakukan untuk mencegah
kontaminasi logam jika sampel diambil menggunakan alat bantu seperti pisau atau
gunting.

3. Preparasi Sampel
Secara umum preparasi sampel meliputi pengumpulan bahan baku, sortasi
basah, pencucian, pengeringan, sortasi kering, penyimpanan dan pengepakan.
Sampel daun patiwala yang dipetik, dikumpulkan dan diperoleh sebanyak 3,5 kg.
Selanjutnya dilakukan sortasi basah untuk memisahkan kotoran atau sampel daun
yang telah rusak. Sampel yang telah dipisahkan dari pengotor kemudian dicuci
dengan menggunakan air mengalir agar pengotor langsung mengalir dan tidak
melekat kembali pada sampel.
Sampel daun yang telah dicuci kemudian dikeringkan untuk mengurangi
kadar air yang dapat menjadi media pertumbuhan kapang dan jasad renik lainnya
sehingga simplisia tidak mudah rusak dan dapat disimpan lebih lama (Prasetyo
dan Inoriah, 2013). Pengeringan dilakukan dengan menututup sampel dengan kain
berwarna hitam agar panas dari sinar matahari dapat terserap dengan baik dan
mempercepat proses pengeringan. Sampel kemudian disortasi kering terhadap
pengotor yang tertinggal dari proses sebelumnya.
Sortasi kering dilakukan untuk memisahkan pengotor yang masih ada saat
pengeringan sampel. Jika sampel sudah bersih dari pengotor, sampel kemudian
diserbukkan dengan tangan untuk memperkecil ukuran simplisia sehingga dapat
meningkatkan luas permukaan dan memfasilitasi penetrasi pelarut ke dalam sel.
Sampel yang telah diserbukkan kemudian disimpan di dalam wadah kaca.

36
4. Pembuatan Ekstrak
Maserasi merupakan metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian
ini. Metode ini dilakukan dengan memasukkan serbuk tanaman dan pelarut yang
sesuai ke dalam wadah inert yang tertutup rapat pada suhu kamar. Proses ekstraksi
dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam
pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman (Mukhriani, 2014). Serbuk daun
patiwala dimaserasi selama 3x24 jam dalam wadah kaca dengan menggunakan
pelarut yang sesuai. Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini adalah etanol
96%. Pemilihan etanol sebagai pelarut adalah karena etanol relatif kurang toksik
dibandingkan metanol, murah, mudah didapat dan ekstrak yang diperoleh tidak
mudah ditumbuhi jamur dan bakteri serta umum digunakan dalam pembuatan
ekstrak. Selain itu, etanol bersifat semipolar sehingga memungkinkan senyawa
polar maupun non polar yang terdapat dalam simplisia dapat tertarik.
Setelah maserasi dilakukan proses penyaringan yang bertujuan untuk
memisahkan maserat dengan residu. Selanjutnya maserat dipekatkan
menggunakan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental (Aini, 2017).
Proses delipidasi dilakukan setelah diperoleh ekstrak kental. Delipidasi
ekstrak adalah suatu proses penghilangan senyawa-senyawa yang tidak
mempunyai efek farmakologi atau terapi misalnya karbohidrat, lemak, protein,
klorofil, resin yang biasa disebut sebagai zat ballast. Keberadaan senyawa atau zat
tersebut lebih banyak merugikan pada kestabilan dan mengurangi kadar senyawa
aktif di dalam ekstrak sehingga harus dihilangkan (Armadany dkk., 2018).
Delipidasi dilakukan dengan metode partisi cair-cair yang menggunakan
dua pelarut yang tidak saling bercampur. Pelarut yang digunakan adalah n-heksan
dan etanol, dimana n-heksan bersifat non polar dan akan menarik senyawa-
senyawa non polar seperti klorofil, karbohidrat, protein, lemak, dan resin
sedangkan etanol bersifat semi polar dan akan menarik senyawa-senyawa yang
bersifat semi polar seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan terpenoid.
Kedua pelarut tersebut dikocok hingga tercampurkan di dalam corong pisah.
Didiamkan hingga terbentuk dua lapisan, lapisan atas merupakan fraksi n-heksan
dan lapisan bawah merupakan fraksi etanol. Lapisan bawah yang diperoleh

37
didelipidasi kembali dengan n-heksan hingga lapisan atas menjadi jernih. Fraksi
etanol yang didapatkan kemudian diuapkan kembali pelarutnya menggunakan alat
Rotary Evaporator hingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 50,8 gram.

5. Skrining Fitokimia
Skirining fitokimia merupakan tahap pendahuluan dalam suatu penelitian
fitokimia yang bertujuan memberi gambaran tentang golongan senyawa yang
terkandung dalam tanaman yang diteliti. Metode skrining fitokimia yang
dilakukan dengan melihat reaksi pengujian warna dengan menggunakan suatu
pereaksi warna (Simaremare, 2014). Skrining fitokimia yang dilakukan dalam
penelitian ini meliputi identifikasi senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan
terpenoid. Hasil identifikasi fitokimia dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Hasil skrining fitokimia
Jenis
Perlakuan Parameter Positif Hasil
Senyawa

Penambahan pereaksi Terbentuk endapan


Alkaloid berwarna putih Positif
Meyer
Terjadi perubahan
Penambahan HCl warna merah/ Positif
Flavonoid
pekat dan Serbuk Mg kuning/jingga
Akuades, pengocokkan Terbentuk busa stabil
Saponin Positif
kuat selama 10 detik selama 10 menit

Penambahan larutan Terbentuk warna hijau


Tanin Positif
FeCl3 1% ungu/kehitaman
Terbentuk cincin
Penambahan asam asetat
Terpenoid anhidrat dan H2SO4 pekat bewarna coklat pada Positif
batas larutan

Tabel 4.1 menunjukkan hasil skrining fitokimia dari daun patiwala


terbukti memiliki kandungan alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid.
Penggunaan pelarut semi polar sering digunakan untuk ekstraksi simplisia. Pelarut
semi polar seperti etanol yang digunakan pada uji ekstraksi mampu menarik
senyawa-senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, saponin, komponen
fenolik, karotenoid, dan tanin (Mirnawati dkk., 2017). Senyawa metabolit
sekunder banyak terkandung pada tumbuhan, maka dari itu senyawa metabolit

38
sekunder ini digunakan dalam bidang industri dan pengobatan (Faskalia dan
Muhammad, 2014). Menurut Soni dan Singhai (2012), senyawa-senyawa yang
memiliki peran penting dalam proses penyembuhan luka yaitu flavonoid, saponin,
dan tanin.

6. Formulasi Sediaan Salep


Ekastrak etanol daun patiwala digunakan sebagai zat aktif dalam
formulasi sediaan salep. Formulasi salep dibuat dalam 2 variasi, yaitu variasi
ekstrak dan variasi basis. Formula variasi ekstrak diformulasikan dengan
konsentrasi ekstrak yang berbeda tetapi menggunakan basis yang sama yaitu basis
hidrokarbon, dimana formula A menggunakan konsentrasi ekstrak 1%, Formula B
menggunakan konsentrasi ekstrak 2%, dan formula C menggunakan konsentrasi
ekstrak 4%. Sedangkan formula variasi basis diformulasi menggunakan
konsentrasi ekstrak yang sama yaitu 4% tetapi menggunakan basis yang berbeda,
dimana formula A menggunakan basis hidrokarbon, formula B menggunakan
basis serap, dan formula C menggunakan basis bercampur air.
Salep dibuat dengan metode peleburan. Bahan tambahan lain yang
digunakan yaitu metil paraben dan propil paraben sebagai pengawet sehingga
sediaan dapat terhindar dari kontaminasi mikroba dan juga alfa tokoferol sebagai
antioksidan untuk mencegah oksidasi dari sediaan.
Uji aktivitas sediaan salep ekstrak etanol daun patiwala sebagai
penyembuhan luka sayat dilakukan setelah mendapatkan formula yang optimum
dari formula variasi ekstrak dan formula variasi basis. Berdasarkan hasil
penelitian, diperoleh bahwa formula yang paling optimum dari variasi ekstrak
maupun variasi basis adalah sediaan salep ekstrak etanol daun patiwala
konsentrasi 4% dengan menggunakan basis salep hidrokarbon. Formula optimum
inilah yang akan digunakan untuk membandingkan aktivitasnya sebagai
penyembuhan luka sayat pada kelinci dengan sediaan uji lainnya.

39
7. Uji Aktivitas Penyembuhan Luka Sayatan
Luka sayat didefinisikan sebagai luka yang disebabkan oleh benda tajam
seperti pisau, silet, pecahan kaca, dll. Luka sayat yang terjadi akibat trauma tajam
dapat menyebabkan pendarahan, infeksi karena kulit terbuka yang kemungkinan
mudah ditumbuhi mikroorganisme. Kondisi seperti ini menyebabkan terjadinya
reaksi inflamasi dengan gejala timbulnya kalor (panas), rubor (kemerahan), tumor
(bengkak), dolor (rasa sakit), dan kehilangan fungsi pada jaringan tersebut. Reaksi
inflamasi ditandai dengan terjadinya perdarahan dan membesarnya diameter luka
di hari berikutnya.
Hasil pengamatan kondisi luka yang dilakukan selama 14 hari pada 3 ekor
kelinci dapat dilihat pada gambar 4.1 dan gambar 4.2.
Gambar 4.1 Diagram rata-rata lama penyembuhan luka

Rata-rata Lama Penyembuhan Luka (Hari) Terhadap Perlakuan pada


kelinci

13 13.7
penyembuhan luka (hari)

12.7 12.3
11 12
10.3 10.7
9
Rata-rata lama

7
5
3
1
Daerah A Daerah B Daerah C Daerah D Daerah E Daerah F

Perlakuan pada kelinci

Keterangan:
Daerah A : formula optimum (salep ekstrak etanol daun patiwala 4%)
Daerah B : ekstrak terdelipidasi
Daerah C : ekstrak tidak terdelipidasi
Daerah D : kontrol positif (Betadine®)
Daerah E : kontrol negatif (basis salep)
Daerah F : kontrol normal (tanpa perlakuan)

40
Gambar 4.2 Grafik persen kesembuhan luka

Persen Kesembuhan Luka


100
Formula optimum
80
Ekstrak terdelipidasi
60 Ekstrak tidak terdelipidasi
Persen

40 Kontrol positif
Kontrol negatif
20
Kontrol normal
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
Hari ke-

Hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan gambar 4.1 dan gambar
4.2, diperoleh rata-rata lama penyembuhan luka yang paling cepat adalah salep
ekstrak etanol daun patiwala 4%, ini ditandai dengan terjadinya penyembuhan
luka 100% (keropeng terbuka dengan sendirinya) pada luka sepanjang 2 cm dan
kedalaman 2 mm dalam 10,3 hari, untuk kontrol positif (Betadine ®) penyembuhan
terjadi dalam 10,7 hari, sedangkan untuk ekstrak terdelipidasi penyembuhan
terjadi dalam 12 hari. Untuk kontrol negatif (basis) penyembuhan terjadi dalam
12,3 hari, untuk ekstrak tidak terdelipidasi penyembuhan terjadi dalam 12,7 hari,
sedangkan untuk kontrol normal (tanpa perlakuan) penyembuhan terjadi dalam
13,7 hari. Hal Ini menunjukkan bahwa proses penyembuhan dengan
menggunakan salep ekstrak etanol daun patiwala 4% berlangsung lebih cepat dari
penyembuhan luka secara normal (Ningsi dkk., 2015).
Berdasarkan uji Kruskal Wallis pada lampiran 17, diperoleh nilai Asymp.
sig. sebesar 0,010 dimana kurang dari α = 0,05 yang berarti ekstrak etanol daun
patiwala (Lantana camara L.) memberikan perbedaan yang bermakna terhadap
penyembuhan luka sayat.
Analisis data dilanjutkan dengan analisis Mann Whitney untuk setiap
pasang kelompok. Uji Mann Whitney dilakukan dalam penelitian ini untuk
mengetahui konsentrasi efektif ekstrak etanol daun patiwala (Lantana camara L.)
yang mampu mempercepat penyembuhan luka sayat. Nilai Asymp. sig. uji Mann
Whitney antar kelompok dapat dilihat pada tabel 4.2.
41
Tabel 4.2. Nilai Asymp. sig. uji Mann Whitney antar Kelompok
KN K(-) K(+) FI F II F III
KN 0,068 0,043 0,099 0,034 0,043
K(-) 0,068 0,043 0,456 0,317 0,043
K(+) 0,043 0,043 0,043 0,034 0,456
FI 0,099 0,456 0,043 0,114 0,043
F II 0,034 0,317 0,034 0,114 0,034
F III 0,043 0,043 0,456 0,043 0,034
Keterangan:
KN : kontrol normal
K(-) : kontrol negatif
K(+) : kontrol positif
FI : ekstrak tidak terdelipidasi
F II : ekstrak tedelipidasi
F III : salep ekstrak etanol daun patiwala 4%

Berdasarkan tabel 4.2, untuk nilai Asymp. Sig. > 0,05 berarti tidak
signifikan atau tidak terdapat perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka
sayat pada kelinci dan jika nilai Asymp. Sig. < 0,05 berarti signifikan atau
terdapat perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.
Secara keseluruhan hasil uji Mann-whitney, kelompok salep ekstrak etanol daun
patiwala 4% memberikan pengaruh yang lebih efektif karena terdapat perbedaan
yang signifikan terhadap kelompok kontrol negatif, kontrol normal, ekstrak tidak
terdelipidasi, dan ekstrak terdelipidasi. Ketika di bandingkan dengan kelompok
kontrol positif, tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan.
Salep ekstrak etanol daun patiwala 4% mengandung zat aktif yang
mendukung penyembuhan luka serta mengandung basis salep hidrokarbon yang
bersifat oklusif sehingga meningkatkan hidratasi kulit dengan menghambat
penguapan air pada lapisan kulit. Basis salep hidrokarbon membantu
meningkatkan aktivitas zat aktif dalam ekstrak sehingga penyembuhan terjadi
lebih cepat dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Untuk kontrol positif
(Betadine®) penyembuhan terjadi sedikit lebih lama dibandingkan dengan salep
ekstrak etanol daun patiwala 4%, ini dikarenakan (Betadine®) mengandung
povidone iodine yang berkhasiat sebagai antiseptik saja, tidak seperti salep ekstrak
etanol daun patiwala 4% yang mengandung senyawa aktif sebagai astringent,
42
antiinflamasi, antimikroba dan antioksidatif. Untuk ekstrak terdelipidasi
penyembuhan terjadi lebih lama dibandingkan dengan salep ekstrak etanol daun
patiwala 4% dan kontrol positif (Betadine®), ini dikarenakan ekstrak terdelipidasi
tidak menggunakan basis salep yang dapat membantu meningkat aktivitas zat
aktif dalam proses penyembuhan luka.
Proses penyembuhan untuk kontrol negatif (basis) terjadi lebih lama
dibandingkan dengan salep ekstrak etanol daun patiwala 4%, kontrol positif
(Betadine®), dan ekstrak terdelipidasi. Hal ini dikarenakan basis salep tidak
mengandung bahan atau zat yang berkhasiat untuk penyembuhan luka. Untuk
ekstrak tidak terdelipidasi penyembuhan terjadi lebih lama dibandingkan dengan
salep ekstrak etanol daun patiwala 4%, kontrol positif (Betadine®), ekstrak
terdelipidasi, dan kontrol negatif (basis). Hal ini dikarenakan ekstrak tidak
terdelipidasi masih terdapat senyawa-senyawa yang tidak memiliki efek
farmakologi, seperti karbohidrat, lemak, klorofil, protein, dan resin yang lebih
banyak merugikan pada kestabilan ekstrak dan mengurangi kadar senyawa aktif di
dalam ekstrak sehingga dapat menghambat proses penyembuhan luka. Sedangkan
untuk kontrol normal (tanpa perlakuan) proses penyembuhannya paling lama
dibandingkan dengan semua perlakuan. Penyembuhan luka dapat terjadi pada luka
yang tidak diberikan formula (tanpa perlakuan) dikarenakan luka yang terjadi
dapat sembuh dengan sendirinya karena tubuh memiliki kemampuan untuk
menyembuhkan luka secara alamiah tetapi membutuhkan waktu yang lebih lama.
Salep ekstrak etanol daun patiwala 4% memiliki aktivitas penyembuhan
luka sayat pada kelinci, hal ini disebabkan oleh kandungan senyawa yang terdapat
pada ekstrak etanol daun patiwala. Senyawa flavonoid berperan dalam
penyembuhan luka dengan menghentikan perdarahan yaitu melalui mekanisme
vasokontriksi pada pembuluh darah, penangkal radikal bebas, penghambat
hidrolisis dan oksidasi enzim, serta antiinflamasi. Senyawa tanin dapat berperan
sebagai astringent pada luka sedangkan saponin bekerja meningkatkan kecepatan
epitelisasi dan membantu dalam pembentukan kolagen yang berperan dalam
proses penyembuhan luka (Calsum dkk., 2018).

43
Luka kelinci yang diberikan perlakuan dapat dilihat pada (lampiran 13).
Luka pada kelinci I, kelinci II, dan kelinci III pada daerah A (salep ekstrak etanol
daun patiwala 4%) dan daerah D (kontrol positif Betadine ®) mulai kering pada
hari ke-3. Sedangkan pada daerah B (ektrak terdelipidasi) dan daerah E (kontrol
negatif basis salep) mulai kering pada hari ke-4. Sedangkan pada daerah C
(ekstrak tidak terdelipidasi) dan daerah F (kontrol normal) mulai kering pada hari
ke-5. Proses penyembuhan luka melalui beberapa fase, yaitu fase inflamasi, fase
proliferasi, fase remodeling. Keringnya luka menandakan bahwa pendarahan telah
berhenti dan fase inflamasi telah terjadi. Inflamasi merupakan proses peradangan
yang disertai dengan pelebaran pembuluh darah dengan tujuan membersihkan
luka dari kuman, benda asing, dan sel kulit mati. Komponen kekebalan tubuh
dalam tahap ini, yaitu makrofag akan membunuh kuman di sekitar area luka.
Setelah terjadi luka, fibrin akan membentuk ikatan jaringan di atas kulit
untuk meminimalisir pendarahan serta mencegah mikroorganisme masuk ke
dalam tubuh, yakni fase proliferasi. Proliferasi merupakan proses pembentukan
sel baru dengan cara membentuk kolagen dan zat lainnya untuk membentuk
jaringan baru. Fase proliferasi pada kelinci I, II, dan III pada daerah A (salep
ekstrak etanol daun patiwala 4%) dan daerah D (kontrol positif Betadine ®) terjadi
pada hari ke-5, sedangkan pada daerah B (ektrak terdelipidasi) dan daerah E
(kontrol negatif basis salep) terjadi pada hari ke-6. Sedangkan pada daerah C
(ekstrak tidak terdelipidasi) dan daerah F (kontrol normal) terjadi pada hari ke-7,
yang ditandai dengan terbentuknya jaringan granulasi atau keropeng pada bagian
luka. Kecepatan terbentuknya keropeng menandakan kecepatan penyembuhan
luka.
Ketika keropeng terbuka maka fase remodeling yang merupakan fase akhir
penyembuhan terjadi. Remodeling merupakan proses penyempurnaan jaringan
baru menjadi jaringan yang kuat. Fase ini akan membentuk sel-sel baru dan luka
akan mengalami pengerutan. Jaringan karopeng kelinci I, II, dan III pada daerah A
(salep ekstrak etanol daun patiwala 4%) mulai terbuka pada hari ke-10, pada
daerah D (kontrol positif Betadine®) mulai terbuka pada hari ke-11, pada daerah B
(ektrak terdelipidasi) dan daerah E (kontrol negatif basis salep) mulai terbuka

44
pada hari ke-12, pada daerah C (ekstrak tidak terdelipidasi) mulai terbuka pada
hari ke-13 dan pada daerah F (kontrol normal) mulai terbuka pada hari ke-14.
Hal di atas sesuai dengan teori yang menyatakan, bahwa fase inflamasi
pada luka akan terjadi pada hari ke-0 hingga hari ke-5. Fase proliferasi terjadi
pada hari ke-3 hingga hari ke-14 dan fase remodeling yang merupakan fase
terlama dalam penyembuhan luka terjadi hingga 1 tahun bahkan lebih setelah
terjadinya kerusakan jaringan (luka). Secara khusus untuk luka sayatan yang
tergolong luka akut, penyembuhan diperkirakan akan terjadi dalam waktu 2-3
minggu (Kartika, 2015). Jika dibandingkan dengan penelitian ini, luka sayatan
dapat sembuh lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Oleh sebab itu,
penanganan terhadap luka harus diberikan dengan tepat dan segera agar proses
penyembuhan dapat tercapai tanpa menimbulkan komplikasi.
Berdasarkan uraian di atas, formula yang memiliki aktivitas penyembuhan
luka paling baik adalah salep ekstrak etanol daun patiwala 4% yang ditandai
dengan luka yang telah tertutup sempurna dalam 10,3 hari.

8. Uji Iritasi Sediaan Salep


Iritasi adalah gejala inflamasi yang terjadi pada kulit atau membran
mukosa segera setelah perlakuan berkepanjangan atau berulang dengan
menggunakan bahan kimia atau bahan lain. Uji iritasi kulit dilakukan untuk
mencegah terjadinya efek samping terhadap kulit.
Uji potensi iritasi dalam penelitian ini dilakukan pada manusia. Manusia
yang dijadikan panel pada uji iritasi berjumlah 12 orang, dilakukan dengan cara
uji tempel terbuka (patch test), yakni: sejumlah sediaan uji dioleskan pada lengan
kanan bawah bagian dalam. Sebelum perlakuan, semua panelis ditanya atas
kesediaannya menjadi panel pada uji iritasi dalam penelitian ini, jika bersedia
maka akan diberikan perlakuan.
Penempelan bahan uji dilakukan pada lengan kanan bawah bagian dalam
panelis, panelis dalam penelitian ini adalah wanita. Alasan menggunakan wanita
dibanding pria yaitu karena adanya perbedaan hormon antara pria dan wanita yang
menyebabkan timbulnya perbedaan ketebalan kulit. Rata-rata kulit pria lebih tebal

45
20-25% dari kulit wanita. Oleh karena itu, lapisan tanduk pada lengan bawah
wanita cenderung lebih tipis sehingga penyerapan bahan cukup besar. Uji tempel
terbuka dilakukan dengan mengoleskan sediaan uji pada lengan kanan bawah
bagian dalam yang dibuat pada lokasi lekatan dengan luas tertentu (2,5 x 2,5 cm),
dibiarkan terbuka dan diamati apa yang terjadi. Uji ini dilakukan sebanyak 3 kali
sehari (pagi, siang, dan sore hari) selama 3 hari berturut-turut. Reaksi iritasi
positif ditandai oleh adanya kemerahan, gatal-gatal, atau bengkak pada kulit
lengan bawah bagian dalam yang diberi perlakuan. Hasil uji iritasi sediaan salep
pada panelis dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.3. Hasil uji iritasi
  Waktu Panelis
  Perlakuan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Pagi - - - - - - - - - - - -
Hari
ke-1 Siang - - - - - - - - - - - -
Sore - - - - - - - - - - - -
                           
Pagi - - - - - - - - - - - -
Hari
ke-2 Siang - - - - - - - - - - - -
Sore - - - - - - - - - - - -
                           
Pagi - - - - - - - - - - - -
Hari
ke-3 Siang - - - - - - - - - - - -
Sore - - - - - - - - - - - -
Keterangan:
(-) : Tidak terjadi reaksi (tidak merah tidak bengkak)
(+) : Terjadi reaksi (kulit memerah)
(++) : Terjadi pembengkakan

Tabel 4.3 menunjukkan hasil uji iritasi pada panelis selama 3 hari berturut-
turut. Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa, baik pada pengamatan hari
pertama sampai pengamatan hari ketiga hasilnya tidak terjadi reaksi (tidak merah
dan tidak bengkak) pada lengan kanan bawah yang dioleskan dibandingkan
dengan lengan kiri bawah sebagai kontrol pada kulit panelis sehingga dapat
disimpulkan bahwa sediaan salep ekstrak etanol daun patiwala aman untuk
digunakan karena tidak memberikan efek iritasi.

46
BAB V. PENUTUP

.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan penelitian ini, yaitu:
1. Sediaan salep dari ekstrak etanol daun patiwala 4% memiliki aktivitas
penyembuhan terhadap luka sayatan yang paling baik ditandai dengan luka
telah tertutup sempurna dalam 10,3 hari.
2. Sediaan salep dari ekstrak etanol daun patiwala 4% terbukti tidak mengalami
iritasi kepada 12 panelis, sehingga aman untuk digunakan.

.2 Saran
Saran pada penelitian ini yaitu, diperlukan penelitian untuk
membandingkan efektivitas tanaman obat dalam bentuk sediaan salep dan sediaan
gel sebagai penyembuh luka.

47
DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahmat AS, 2014, Luka, Peradangan dan Pemulihan, Jurnal Entropi, 9(1).

Aini Q, 2017, Uji Aktivitas Pertumbuhan Rambut Kelinci Jantan dari Sediaan
Hair Tonic yang Mengandung Ekstrak Etanol, Jurnal Farmasi Lampung,
6(2).

Anief M, 2007, Farmasetika, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Armadany FI, Andi NTAM, Ayu S, dan Novi, 2018, Uji Aktivitas Ekstrak Etanol
Daun Komba-Komba (Eupatorium odoratum) Berbunga Putih dan
Berbunga Kuning Sebagai Antinyamuk, Jurnal Farmasi, Sains, dan
Kesehatan, 3(2).

AVMA, 2013, Guidelines for the Euthanasia of Animals: 2013 Edition, American
Veterinary Medical Association, Schaumburg.

Calsum U, Akhmad K, Khildah K, 2018, Aktivitas Ekstrak Etanol Kulit Batang


Kayu Jawa (Lannea coromandelica) terhadap Penyembuhan Luka Sayat
pada Tikus Putih (Rattus norvegicus L.), Jurnal Farmasi Galenika
(Galenika Journal of Pharmacy), 4(2), 113-118.

Damron M, 2003, Klasifikasi Makhluk Hidup: Mamali, Gramedia Pustaka Utama,


Jakarta.

Depkes RI, 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Depkes,
Jakarta.

Dini I, Muharram, dan Sitti F, 2011, Potensi Ekstrak Tumbuhan Tembelekang


(Lantana camara Linn.) dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, Bionature, 12(1).

Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan


Republik Indonesia, Jakarta.

Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan


Republik Indonesia, Jakarta.

48
Djamal R, 2012, Prinsip-Prinsip Dasar Isolasi dan Identifikasi, Universitas
Baiturrahman, Padang.

Ehrhardt P, Johanna MB, dan Jens MJ, 2008, The Skin: An Indispensable Barrier,
Journal Compilation Experimental Dermatology, 17.

Faskalia, dan Muhammad AW, 2014, Skrining Fitokimia, Uji Aktivitas,


Antioksidan dan Uji Sitotoksik Ekstrak Metanol pada Akar dan Kulit
Batang Soma (Ploiarium alternifolium), JKK, 3(3).

Gennaro AR, 2000, Remington: The Science and Practice of Pharmacy, 20th
Edition, Lippincot Williams and Wilkins, Philadelphia.

Halim RM, 2014, Uji Efek Penyembuhan Luka Sayat Ekstrak Etanol Daun
Kecombrang (Etlingera elatior) dalam Bentuk Sediaan Gel Terhadap
Kelinci (Oryctolagus cuniculus), Skripsi, UIN Alauddin Makassar,
Makassar.

Handayani SC, Indri H, dan Susanti, 2009, Uji Fototoksisitas Krim Muka “X”
Terhadap Kelinci Putih Jantan, Pharmacy, 6(1).

Handayany GN, Mukhriani, dan Rexkiyana MH, 2015, Uji Efek Penyembuhan
Luka Sayat Ekstrak Etanol Daun Kecombrang (Etlingera elatior) dalam
Bentuk Sediaan Gel Terhadap Kelinci (Oryctolagus cuniculus), JF FIK
UINAM, 3(2).

Harmita dan Radji M, 2008, Buku Ajar Analisis Hayati, Penerbit EGC, Jakarta.

Hernani MY, Mufrod, Sugiono, 2012, Formulasi Salep Ekstrak Air Tokek
(Gekko gecko L.) Untuk Penyembuhan Luka, Majalah Farmaseutik, 8(1).

Hernani, Tri M, dan Christina W, 2007, Pemilihan Pelarut pada Pemurnian


Ekstrak Lengkuas, J. Pascapanen, 4(1).

Jones D, 2008, Pharmaceutical Dosage Form and Design, Pharmaceutical Press,


London.

Kalita S, Gaurav K, Loganathan K, dan Kokati VBR, 2012, A Review on


Medicinal Properties of Lantana camara Linn., Research J. Pharm. and
Tech., 5(6).

49
Kartadisastra HR, 1997, Ternak Kelinci, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Kartika R W, 2015, Perawatan Luka Kronis dengan Modern Dressing, CDK-230,


(42)7, 546-550.

Latuheru J, Jane T, dan Jimmy P, 2013, Efek Daun Sirih (Piper betle L.)
Terhadap Penyembuhan Luka Insisi Kulit Kelinci (Oryctolagus cuniculus),
Jurnal eBM, 1(2), 802-805.

Lena YA, 2016, Formulasi Sediaan Salep Dari Ekstrak Etanol Daun Jambu Biji
(Psidium guajava folium) dan Uji Aktivitasnya Terhadap Penyembuhan
Luka Sayatan, Skripsi, Universitas Halu Oleo, Kendari.

Malangngi LP, Meiske SS, Jessy JE, dan Paendonga, 2012, Penentuan Kandungan
Tanin dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Biji Buah Alpukat (Persea
americana Mill.), Jurnal Mipa Unsrat, 1(1).

Maleta HS, Renny I, Leenawaty L, dan Tatas HPB, 2018, Ragam Metode
Ekstraksi Karotenoid dari Sumber Tumbuhan dalam Dekade Terakhir
(Telaah Literatur), Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan, 13(1).

Minarno EB, 2015, Skrining Fitokimia dan Kandungan Total Flavanoid pada
Buah Carica pubescens Lenne & K. Koch di Kawasan Bromo, Cangar, dan
Dataran Tinggi Dieng, El-Hayah, 5(2).

Mirnawati, Ramadhanil P, dan I Nengah S, 2017, Uji Efektivitas Ekstrak Daun


Tahi Ayam (Lantana camara L.) Sebagai Herbisida Alami Terhadap
Perkecambahan Biji Akasia Berduri (Acacia nilotica (L.) Willd. Ex Delile),
Journal of Science and Technology, 6(2).

Mukhriani, 2014, Ekstraksi, Pemisahan Senyawa dan Identifikasi Senyawa Aktif,


Jurnal Kesehatan, 7(2), 361-367.

Nareswari N dan Anang K, 2016, Pembuatan Salep Minyak Atsiri Daun Jeruk
Limau (Citrus amblycarpa) dan Uji Stabilitas Terhadap Tipe Basis yang
digunakan, Biofarmasi, 14(2).

Nazir F, Zahari A, dan Anas E, 2015, Pengaruh Pemberian Gel Lidah Buaya
(Aloe vera) terhadap Jarak Pinggir Luka pada Tikus Wistar, Jurnal
Kesehatan Andalas, 4(3), 827-834.

50
Ningsi S, Khairunisa, dan Nur I, 2015, Uji Efek Gel Ekstrak Etanol Daun
Tembelekan (Lantana camara Linn.) Terhadap Penyembuhan Luka Sayat
pada Kelinci (Oryctolagus cuniculus), JF FIK UINAM, 3(2).

Nirwana AP, Astirin OP, dan Widiyani T, 2015, Skrining Fitokimia Ekstrak
Etanol Daun Benalu Kersen (Dendrophtoe pentandra L. Miq.), El-Vivo,
3(2).

Panjaitan EN, Awaluddin S, Djendakita P, 2012, Formulasi Gel dari Ekstrak


Rimpang Jahe Merah (Zingiber officinale Roscoe), Journal of
Pharmaceutics and Pharmacology, 1(1).

Parwanto ME, Hardy S, dan Hosea JE, 2013, Formulasi Salep Antibakteri Ekstrak
Etanol Daun Tembelekan (Lantana Camara L), Jurnal Ilmiah Farmasi,
2(3).

Paye M, Barel AO, dan Maibach HI, 2001, Handbook of Cosmetic Science and
Technology, Marcell Dekker Inc, New York.

Peresia S, Indri H, dan Susanti, 2009, Uji Fototoksisitas Sediaan Krim Muka “X”
Terhadap Kelinci Putih Jantan, Pharmacy, 6(1).

Prasetyo dan Inoriah E, 2013, Pengelolaan Budidaya Tanaman Obat-Obatan


(Bahan Simplisia), Badan Penerbitan Fakultas Pertanian, UNIB.

Purnama H, Sriwidodo, dan Soraya R, 2017, Review Sistematik: Proses


Penyembuhan dan Perawatan Luka, Farmaka, 15(2).

Purwati S, Sonja VTL, dan Samsurianto, 2017, Skrining Fitokimia Daun Saliara
(Lantana camara L) Sebagai Pestisida Nabati Penekan Hama dan Insidensi
Penyakit pada Tanaman Holtikultura di Kalimantan Timur, Prosiding
Seminar Nasional Kimia, Samarinda.

Rairisti A, 2014, Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Biji Pinang (Areca cathecu L.)
terhadap Penyembuhan Luka Sayat pada Tikus Putih (Rattus novergicus)
Jantan Galur Wistar, Naskah Publikasi, Universitas Tanjungpura, Pontianak.

Rowe RC, Sheskey PJ, dan Owen SC, 2009, Handbook of Pharmaceutic
Excipients Edisi 6, Pharmaceutical Press and American Pharmacists
Association, London.

51
Sartika R, Melki, dan Anna ISP, 2013, Aktivitas Antibakteri Ekstrak Rumput
Laut Eucheuma cottoni Terhadap Bakteri Escherichia coli, Staphylococcus
aureus, Vibrio cholera dan Salmonella typhosa, Maspari Journal, 5(2).

Sataloff RT, 2016, Otolaryngology Head & Neck Surgery Facial Plastic and
Reconstructive Surgery, Jaypee Brothers Medical Publishers Inc., London.

Setiawan YF, 2010, Efek Granul Eksrak Daun Tembelekan (Lantana camara
Linn) terhadap Mortalitas Larva Aedes aegypti L., Naskah Publikasi,
Surakarta.

Sharma N, Geta A, Rana AC, Zulfikar AB, dan Dinesh K, 2011, A Review:
Transdermal Drug Delivery System: A Tool For Novel Drug Delivery
System, International Journal of Drug Development & Research, 3(3).

Simaremare ES, 2014, Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Daun Gatal (Laportea
decumana (Roxb.) Wedd) , Pharmacy, 1(1).

Sinaga M dan Rosina T, 2012, Penggunaan Bahan Pada Perawatan Luka, JKK,
2(1).

Soni H dan Singhai AK, 2012, A Recent Update of Botanical for Wound Healing
Activity, IRJP, 3(7).

Sosang AR, Mappiratu, dan Ruslan, 2016, Karakterisasi Ekstrak Etanol Bunga
Tanaman Tembelekan (Lantana camara L.), Kovalen, 2(2).

Steenis CGGJ Van, 2005, Flora untuk Pelajar (diterjemahkan oleh Suryo
Winoto), Pradya Paramita, Jakarta.

Tenripadang AD, 2012, Uji Efek Penyembuhan Luka Sayat pada Kelinci
(Oryctolagus cuniculus) Menggunakan Getah Jarak Pagar (Jathropha
curcas L.) dalam Bentuk Sediaan Gel, Skripsi, UIN Alauddin Makassar,
Makassar.

Usha SY dan Mahajan AA, 2015, Review on: an Ointment, Internasional Journal
of Pharmacyv& Pharmaceutical Research, 4(2), 172-173.

Wijaya AY, Masruhim MA, dan Kuncoro H, 2016, Aktivitas Antiinflamasi


Ekstrak Daun Tembelekan (Lantana camara Linn) pada Tikus Putih (Rattus
norvegicus), Jurnal Sains dan Kesehatan, 1(6).
52
Wijaya DP, Jessy E, Paendonga, dan Jemmy A, 2014, Skrining Fitokimia dan Uji
Aktivitas Antioksidan dari Daun Nasi (Phrynium capitatum) dengan Metode
DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil), Jurnal Mipa Unsrat Online, 3(1).

Yanhendri dan Yenny SW, 2012, Berbagai Bentuk Sediaan Topikal dalam
Dermatologi, CDK, 39(6).

Zulfa E, Prasetyo TB, dan Murukmihadi M, 2015, Formulasi Salep Ekstrak


Etanolik Daun Binahong (Anrederacordifolia (Ten.) Steenis) dengan
Variasi Basis Salep, Jurnal Ilmu Farmasi & Farmasi Klinik, 12(2).

53
LAMPIRAN

Lampiran 1. Determinasi Sampel

54
Lampiran 2. Pembuatan Ekstrak Kental

1. Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Patiwala

Daun patiwala

- disortasi basah
- dicuci dibawah air mengalir
- dikeringkan
- dilakukan sortasi kering
- dihaluskan dengan cara
diremukkan

Serbuk simplisia daun


patiwala

- dimaserasi dengan pelarut etanol


selama 3 x 24 jam
- dievaporasi

Ekstrak kental

55
2. Pembuatan Ekstrak Terdelipidasi

Ekstrak Etanol Daun


patiwala

- dilarutkan dalam 250 mL etanol


96%
- dimasukkan dalam corong pisah
- ditambahkan n-heksan 250 mL
- dikocok
- didiamkan hingga terbentuk 2
fraksi
- dipisahkan masing-masing fraksi

Fraksi etanol Fraksi n-heksan

- diulangi prosedur diatas


hingga didapatkan fraksi
n-heksan bening
- dievaporasi dengan Rotatory
Vacuum Evaporator

Ekstrak terdelipidasi Residu senyawa larut


daun patiwala n-heksan

56
Lampiran 3. Perhitungan Bahan
a. Formula Variasi Konsentrasi Ekstrak
1. Formula A (Salep Konsentrasi Ekstrak 1%)
1
Ekstrak etanol daun patiwala 1% = X 10 g = 0,1 g
100
0 , 001
Alfa tokoferol 0,001% = X 10 g = 0,0001 g
100
0 , 01
Propil paraben 0,01% = X 10 g = 0,001 g
100
2
Cera alba 2% = X 10 g = 0,2 g
100
96 , 98
Vaselin album 96,98% = X 10 g = 9,698 g
100
2. Formula B (Salep Konsentrasi Ekstrak 2%)
2
Ekstrak etanol daun patiwala 2% = X 10 g = 0,2 g
100
0 , 001
Alfa tokoferol 0,001% = X 10 g = 0,0001 g
100
0 , 01
Propil paraben 0,01% = X 10 g = 0,001 g
100
2
Cera alba 2% = X 10 g = 0,2 g
100
95 , 98
Vaselin album 95,98% = X 10 g = 9,598 g
100
3. Formula C (Salep Konsentrasi Ekstrak 4%)
4
Ekstrak etanol daun patiwala 4% = X 10 g = 0,4 g
100
0 , 001
Alfa tokoferol 0,001% = X 10 g = 0,0001 g
100
0 , 01
Propil paraben 0,01% = X 10 g = 0,001 g
100
2
Cera alba 2% = X 10 g = 0,2 g
100

57
93 , 98
Vaselin album 93,98% = X 10 g = 9,398 g
100

58
b. Formula Variasi Basis
1. Formula A (Salep basis hidrokarbon)
4
Ekstrak etanol daun patiwala 4% = X 10 g = 0,4 g
100
0,001
Alfa tokoferol 0,001% = X 10 g = 0,0001 g
100
0,01
Propil paraben 0,01% = X 10 g = 0,001 g
100
2
Cera alba 2% = X 10 g = 0,2 g
100
93,98
Vaselin album 93,98% = X 10 g = 9,398 g
100
2. Formula B (Salep basis absorpsi)
4
Ekstrak etanol daun patiwala 4% = X 10 g = 0,4 g
100
0,001
Alfa tokoferol 0,001% = X 10 g = 0,0001 g
100
0,01
Propil paraben 0,01% = X 10 g = 0,001 g
100
3
Cera alba 3% = X 10 g = 0,3 g
100
3
Adeps lanae 3% = X 10 g = 0,3 g
100
89,98
Vaselin album 89,98% = X 10 g = 8,998 g
100
3. Formula C (Salep basis larut air)

59
4
Ekstrak etanol daun patiwala 4% = X 10 g = 0,4 g
100
0,001
Alfa tokoferol 0,001% = X 10 g = 0,0001 g
100
0,02
Metil paraben 0,02% = X 10 g = 0,002 g
100
76,78
PEG 400 76,78% = X 10 g = 7,678 g
100
19,19
PEG 4000 19,19% = X 10 g = 1,919 g
100

60
Lampiran 4. Dokumentasi Penelitian

1. Pengambilan dan Preparasi Sampel

(Pengambilan sampel) (Sortasi basah) (Pencucian)

(Pengeringan) (Sortasi kering) (Penimbangan)

2. Pembuatan Ekstrak

(Maserasi) (Penyaringan)

61
(Evaporasi) (Delipidasi) (Ekstrak etanol daun patiwala)

Lampiran 5. Skrining Fitokimia

1. Alkaloid

Ekstrak kental
- diambil 1 gram
- dimasukkan dalam tabung reaksi
- dilarutkan dengan 2 mL etanol 96%
- ditambahkan pereaksi Meyer sebanyak 2 tetes

Terbentuk endapan putih

2. Flavonoid

Ekstrak kental
- diambil 1 gram
- dimasukkan dalam tabung reaksi
- dilarutkan dengan 2 mL etanol 96%
- ditambahkan 0,5 HCl pekat dan serbuk magnesium

Terbentuk larutan berwarna merah

62
3. Saponin

Ekstrak kental
- diambil 1 gram
- dimasukkan dalam tabung reaksi
- ditambahkan 1 mL air lalu dikocok selama 10 detik

Terbentuk busa setinggi 1-10 cm

4. Tanin

Ekstrak kental
- diambil 1 gram
- dimasukkan dalam tabung reaksi
- dilarutkan dengan 2 mL etanol 96%
- ditambahkan 1 mL larutan FeCl3 1%

Terbentuk larutan berwarna hijau kehitaman

5. Terpenoid

Ekstrak kental
- diambil 1 gram
- dilarutkan dengan 2 mL etanol 96%
- ditambahkan 0,5 mL asam asetat anhidrat dan 2 mL
asam sulfat pekat

Terbentuk cincin berwarna coklat pada batas larutan

63
Lampiran 6. Pembuatan Pereaksi

1. Pereaksi Meyer

Merkuri (II) Klorida Kalium Iodida


- diambil 5 g
- diambil 1,36 g
- ditambahkan 10 mL H2O
- ditambahkan 60 mL H2O

Larutan A Larutan B

Larutan A + Larutan B

- dicukupkan dengan H2O


hingga 100 mL

Pereaksi Meyer

2. Pereaksi FeCl3
Pembuatan FeCl3 1%
gram
1% = × 100 %
mL
gram
1% = × 100 %
100
Gram = 1
Jadi untuk membuat larutan FeCl3 1% diambil sebanyak 1 gram serbuk FeCl3
dan dilarutkan dalam labu ukur 100 mL.

FeCl3

- ditimbang 1 g
- dimasukkan dalam labu ukur 100 mL
- ditambahkan akuades sampai tanda tera

Pereaksi FeCl3

64
Lampiran 7. Hasil Skrining Fitokimia

Alkaloid

Pereaksi Meyer Terbentuk endapan


berwarna putih
(Positif)

Sebelum perlakuan Setelah perlakuan

Flavonoid

HCl pekat dan


serbuk Mg Perubahan warna
jingga (Positif)

Sebelum perlakuan Setelah perlakuan

Saponin

Akuades,
kocok kuat Terbentuk busa
stabil (Positif)

Sebelum perlakuan Setelah perlakuan

Tanin
larutan FeCl3 1%
Larutan Perubahan warna
FeCl3 1% kehitaman (positif)

Sebelum perlakuan Setelah perlakuan

Terpenoid

Terbentuk cincin
Asam asestat
anhidrat dan
bewarna coklat
H2SO4 pekat pada batas
larutan (positif)

Sebelum perlakuan Setelah perlakuan

65
Lampiran 8. Hasil Etik

66
Lampiran 9. Uji Aktivitas Penyembuhan Luka Sayatan

1. Penanganan Hewan Coba sebelum Perlakuan

Kelinci

- diadaptasikan selama 7 hari


- diberi pakan/makanan standar (wortel,
kangkung, pellet) dan air minum secukupnya
- dicukur bulu pada daerah uji (punggung
kelinci) dan dianastesi lokal larutan injeksi
lidokain HCl 2%
- dilukai punggung kelinci dengan pisau bedah
dengan kedalaman 2 mm dan panjang luka 2
cm
- dibagi menjadi 6 daerah uji pada punggung
kelinci

Luka diolesi salep

2. Uji Aktivitas Sediaan Salep

Luka

- dioleskan dengan sediaan salep ± 1 gram


setiap 24 jam
- ditutup dengan kain kasa
- dibuka, diukur panjang luka
- ditutup kembali dengan kain kasa, dilakukan
sampai sembuh
- dicatat hari menurunnya panjang luka,
pembentukan karopeng, dan hari luka tertutup
100%

Hasil pengamatan

67
Lampiran 10. Uji Iritasi Sediaan Salep

Salep ekstrak etanol


daun patiwala

- dioleskan pada lengan bawah bagian


dalam 12 orang
- dioleskan sebanyak 3 kali (pagi, siang,
sore) selama 3 hari berturut-turut
- diamati perubahan yang terjadi pada kulit

Hasil pengamatan

Lampiran 11. Dokumentasi Berat Kelinci

A B C
Keterangan: A: berat kelinci I, B: berat kelinci II, C: berat kelinci III

68
Lampiran 12. Perhitungan Dosis Konversi

Tabel konversi perhitungan dosis untuk berbagai jenis hewan dan organisme

(Harmita dan Radji M., 2008).

Diketahui Mencit Tikus Marmut Kelinci Kucing Kera Anjing Manusia


20 g 200 g 400 g 1,5 kg 1,5 kg 4 kg 12 kg 70 kg
Dicari
Mencit 1,0 7,0 12,23 27,8 29,7 64,1 124,2 387,9
20 g
Tikus 0,14 1,0 1,74 3,9 4,2 9,2 17,8 56,0
200 g
Marmut 0,08 0,57 1,0 2,25 2,4 5,2 10,2 31,5
400 g
Kelinci 0,04 0,25 0,44 1,0 1,08 2,4 4,5 14,2
1,5 kg
Kucing 0,03 0,23 0,41 0,92 1,0 2,2 4,1 13,0
1,5 kg
Kera 0,016 0,11 0,19 0,42 0,43 1,0 1,9 6,1
4 kg
Anjing 0,008 0,06 0,10 0,22 1,24 0,52 1,0 3,1
12 kg
Manusia 0,0026 0,018 0,031 0,07 0,076 0,16 0,32 1,0
70 kg

Tabel volume maksimum larutan/padatan yang dapat diberikan pada hewan


(Harmita dan Radji M., 2008).
Volume maksimum (mL) sesuai jalur pemberian
Jenis Hewan Uji
i.v. i.m. i.p. s.c. p.o.
Mencit (20-30 g) 0,5 0,05 1,0 0,5-1,0 1,0
Tikus (200 g) 1,0 0,1 2-5 2-5 5,0
Hamster (50 g) - 0,1 1-2 2,5 2,5
Marmut ( 250 g) - 0,25 2-5 5,0 10,0
Kelinci (2,5 kg) 5-10 0,5 10-20 5-10 20,0
Kucing (3 kg) 5-10 1,0 10-20 5-10 50,0
Anjing (5 kg) 10-20 5,0 20-50 10,0 100,0
Keterangan :
i. v = Intra Vena
i.m = Intra Muscular
i.p = Intra Peritoneal
s.c = Subcutan
p.o = Pemerian Oral

69
Nilai konversi manusia ke kelinci (1,5 kg) = 0,07
Dosis etiket lidokain HCl 2% = 40 mg/2 mL
Maka, dosis untuk kelinci:
dosis manusia x faktor konversi
40 mg
x 0,07= 1,4 mg/mL
2mL

Untuk kelinci 1,5 kg maka dosis yang dibutuhkan:


1,5 k g
x 1,4 mg/mL = 1,4 mg/mL
1,5 kg
Volume pemberian untuk rute intra muskular (0,5 mL):
Berat kelinci
Volume pemberian = x volume pemberian
Berat kelinciterbesar
maksimal
1,5 kg
Volume pemberian = x 0,5 mL
1,5 kg
Volume pemberian = 0,5 mL

Pengenceran lidokain HCl 2%:

V1.M1 = V2. M2

V1. 40 mg/2 mL = 0,5 mL. 1,4 mg/mL

0,7 mg 0,7 mg
V1 = = = 0,035 mL
40 mg/2 mL 20 mg/mL

Setelah didapatkan volume obat yang harus diambil dari sediaan, maka
dicukupkan dengan Aqua Pro Injeksi hingga 0,5 mL lalu disuntikkan pada
punggung kelinci secara intra muskular.

70
Lampiran 13. Gambar Luka Sayat pada Kelinci

A B C D E F
Keterangan: Kondisi luka hari ke-1. A: Formula optimum (salep ekstrak etanol daun patiwala
4%), B: Ekstrak terdelipidasi, C: Ekstrak tidak terdelipidasi, D: Kontrol positif
(Betadine®), E: Kontrol negatif (Basis), F: Kontrol normal (tanpa perlakuan).

A B C D E F
Keterangan: Kondisi luka hari ke-2. A: Formula optimum (salep ekstrak etanol daun patiwala
4%), B: Ekstrak terdelipidasi, C: Ekstrak tidak terdelipidasi, D: Kontrol positif
(Betadine®), E: Kontrol negatif (Basis), F: Kontrol normal (tanpa perlakuan).

A B C D E F
Keterangan: Kondisi luka hari ke-3. A: Formula optimum (salep ekstrak etanol daun patiwala
4%), B: Ekstrak terdelipidasi, C: Ekstrak tidak terdelipidasi, D: Kontrol positif
(Betadine®), E: Kontrol negatif (Basis), F: Kontrol normal (tanpa perlakuan).

A B C D E F
Keterangan: Kondisi luka hari ke-4. A: Formula optimum (salep ekstrak etanol daun patiwala
4%), B: Ekstrak terdelipidasi, C: Ekstrak tidak terdelipidasi, D: Kontrol positif
(Betadine®), E: Kontrol negatif (Basis), F: Kontrol normal (tanpa perlakuan).

A B C D E F
Keterangan: Kondisi luka hari ke-5. A: Formula optimum (salep ekstrak etanol daun patiwala
4%), B: Ekstrak terdelipidasi, C: Ekstrak tidak terdelipidasi, D: Kontrol positif
(Betadine®), E: Kontrol negatif (Basis), F: Kontrol normal (tanpa perlakuan).

71
A B C D E F
Keterangan: Kondisi luka hari ke-6. A: Formula optimum (salep ekstrak etanol daun patiwala
4%), B: Ekstrak terdelipidasi, C: Ekstrak tidak terdelipidasi, D: Kontrol positif
(Betadine®), E: Kontrol negatif (Basis), F: Kontrol normal (tanpa perlakuan).

A B C D E F
Keterangan: Kondisi luka hari ke-7. A: Formula optimum (salep ekstrak etanol daun patiwala
4%), B: Ekstrak terdelipidasi, C: Ekstrak tidak terdelipidasi, D: Kontrol positif
(Betadine®), E: Kontrol negatif (Basis), F: Kontrol normal (tanpa perlakuan).

A B C D E F
Keterangan: Kondisi luka hari ke-8. A: Formula optimum (salep ekstrak etanol daun patiwala
4%), B: Ekstrak terdelipidasi, C: Ekstrak tidak terdelipidasi, D: Kontrol positif
(Betadine®), E: Kontrol negatif (Basis), F: Kontrol normal (tanpa perlakuan).

A B C D E F
Keterangan: Kondisi luka hari ke-9. A: Formula optimum (salep ekstrak etanol daun patiwala
4%), B: Ekstrak terdelipidasi, C: Ekstrak tidak terdelipidasi, D: Kontrol positif
(Betadine®), E: Kontrol negatif (Basis), F: Kontrol normal (tanpa perlakuan).

A B C D E F
Keterangan: Luka tertutup 100% hari ke-n. A: Formula optimum (salep ekstrak etanol daun
patiwala 4%) hari ke-10, B: Ekstrak terdelipidasi hari ke-12, C: Ekstrak tidak
terdelipidasi hari ke-13, D: Kontrol positif (Betadine ®) hari ke-11, E: Kontrol
negatif (Basis) hari ke-12, F: Kontrol normal (tanpa perlakuan) hari ke-14.

72
Lampiran 14. Hasil Uji Iritasi

A B C

A B C

A B C

A B C

Keterangan: Uji iritasi sediaan salep pada manusia, A: sebelum uji, B: uji iritasi dengan tempel terbuka (patch test), C: setelah uji

73
A B C

A B C

A B C

A B C

Keterangan: Uji iritasi sediaan salep pada manusia, A: sebelum uji, B: uji iritasi dengan tempel terbuka (patch test), C: setelah uji

74
A B C

A B C

A B C

75
A B C
Lampiran 15. Nilai Konversi

Keterangan: Uji iritasi sediaan salep pada manusia, A: sebelum uji, B: uji iritasi dengan tempel terbuka (patch test), C: setelah uji

Penurunan Panjang Luka dari cm ke Persen

Penurunan panjang luka dalam cm:


  Hari ke- (cm)
Perlakuan
  1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
1.
2 1.3 1 0.9 0.7 0.6 0.5 0.2 0 0 0 0 0
A (Formula terpilih) 4
1.
2 1.4 0.8 0.7 0.65 0.6 0.5 0.48 0.35 0.1 0 0 0
B (Ekstrak terdelipidasi) 5
1.
2 1.2 1.1 1 0.9 0.8 0.7 0.6 0.4 0.2 0.1 0 0
Kelinci C (Ekstrak tidak terdelipidasi) 5
I 1.
2 1 0.9 0.6 0.5 0.4 0.35 0.3 0.05 0 0 0 0
D (Kontrol positif Betadine) 3
1.
2 1.5 1.1 0.9 0.7 0.65 0.6 0.55 0.37 0.1 0 0 0
E (Kontrol negatif Basis) 6
1. 0.
2 1.4 1.1 1 0.9 0.8 0.7 0.55 0.5 0.3 0.15 0
F (Tanpa perlakuan) 5 1
                               
1.
2 1.5 1.4 1.3 0.75 0.6 0.3 0.1 0 0 0 0 0
A (Formula terpilih) 6
1.
2 1.6 1.58 1.35 1.1 0.6 0.5 0.4 0.3 0.1 0 0 0
B (Ekstrak terdelipidasi) 7
1.
2 1.75 1.7 1.6 1.4 0.8 0.6 0.5 0.4 0.2 0.1 0 0
Kelinci C (Ekstrak tidak terdelipidasi) 8
II 1.
2 1.3 1.1 1 0.8 0.55 0.5 0.3 0.1 0 0 0 0
D (Kontrol positif Betadine) 5
1.
2 1.65 1.55 1.5 1.25 1 0.65 0.5 0.35 0.15 0 0 0
E (Kontrol negatif Basis) 7
1. 0.
2 1.6 1.5 1.4 1 0.9 0.7 0.55 0.45 0.4 0.15 0
F (Tanpa perlakuan) 7 1
                               
1.
2 1.3 1.2 1.1 1 0.8 0.65 0.5 0.17 0 0 0 0
A (Formula terpilih) 4
1.
2 1.3 1.25 1.2 1 0.9 0.8 0.64 0.22 0.1 0 0 0
B (Ekstrak terdelipidasi) 5
1.
2 1.3 1.23 1.2 1.1 0.9 0.74 0.55 0.3 0.05 0 0 0
Kelinci C (Ekstrak tidak terdelipidasi) 5
III 1.
2 1.2 1.1 0.9 0.7 0.55 0.47 0.22 0 0 0 0 0
D (Kontrol positif Betadine) 5
1.
2 1.5 1.4 1.2 1 0.95 0.8 0.6 0.4 0.35 0.2 0 0
E (Kontrol negatif Basis) 6
1.
2 1.65 1.5 1.25 1.1 0.9 0.8 0.65 0.46 0.25 0.05 0 0
F (Tanpa perlakuan) 7

76
Nilai persentase penyembuhan luka menggunakan rumus:
d 0−dx
P% = ×100%
d0
2−0
P% = ×100% = 1 x 100% = 100%
2
Keterangan:
P% : persentase penyembuhan luka
d0 : panjang luka awal
dx : panjang luka pada hari tertentu

77
Penurunan panjang luka dalam persen (%):
  Hari ke- (%)
Perlakuan
  1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
A (Formula optimum) 0 30 35 50 55 65 70 75 90 100 100 100 100 100
67. 82.
0 25 30 60 65 70 75 76 95 100 100 100
B (Ekstrak terdelipidasi) 5 5
C (Ekstrak tidak terdelipidasi) 0 25 40 45 50 55 60 65 70 80 90 95 100 100
Kelinci
I 82. 97.
0 35 50 55 70 75 80 85 100 100 100 100
D (Kontrol positif Betadine) 5 5
67. 72. 81.
0 20 25 45 55 65 70 95 100 100 100
E (Kontrol negatif Basis) 5 5 5
72. 92.
0 25 30 45 50 55 60 65 75 85 95 100
F (Tanpa perlakuan) 5 5
                               
62.
0 20 25 30 35 70 85 95 100 100 100 100 100
A (Formula optimum) 5
32.
0 15 20 21 45 70 75 80 85 95 100 100 100
B (Ekstrak terdelipidasi) 5
12.
0 10 15 20 30 60 70 75 80 90 95 100 100
Kelinci C (Ekstrak tidak terdelipidasi) 5
II 72.
0 25 35 45 50 60 75 85 95 100 100 100 100
D (Kontrol positif Betadine) 5
17. 22. 37. 67. 82. 92.
0 15 25 50 75 100 100 100
E (Kontrol negatif Basis) 5 5 5 5 5 5
72. 77. 92.
0 15 20 25 30 50 55 65 80 95 100
F (Tanpa perlakuan) 5 5 5
                               
67. 91.
0 30 35 40 45 50 60 75 100 100 100 100
A (Formula optimum) 5 5
37.
0 25 35 40 50 55 60 68 89 95 100 100 100
B (Ekstrak terdelipidasi) 5
38. 72. 97.
0 25 35 40 45 55 63 85 100 100 100
Kelinci C (Ekstrak tidak terdelipidasi) 5 5 5
III 72. 76.
0 25 40 45 55 65 89 100 100 100 100 100
D (Kontrol positif Betadine) 5 5
52. 82.
0 20 25 30 40 50 60 70 80 90 100 100
E (Kontrol negatif Basis) 5 5
17. 37. 67. 87. 97.
0 15 25 45 55 60 77 100 100
F (Tanpa perlakuan) 5 5 5 5 5
                               
26. 31. 59. 66. 75. 86. 97.
0 40 45 100 100 100 100
A (Formula optimum) 7 7 2 7 8 7 2
21. 28. 39. 45. 54. 74. 85.
0 65 70 95 100 100 100
B (Ekstrak terdelipidasi) 7 3 5 8 2 7 5
Rata- 29. 32. 36. 43. 58. 72. 81. 92. 96.
0 20 66 100 100
rata C (Ekstrak tidak terdelipidasi) 2 8 7 3 3 5 7 5 7
panjan 28. 41. 48. 58. 66. 86. 97.
0 75 78 100 100 100 100
g luka D (Kontrol positif Betadine) 3 7 3 3 7 3 5
18. 22. 32. 50. 56. 65. 72. 81. 96.
0 40 90 100 100
E (Kontrol negatif Basis) 3 5 5 8 7 8 5 3 7
18. 22. 31. 39. 56. 63. 70. 76. 84. 94. 96.
0 50 100
F (Tanpa perlakuan) 3 5 7 2 7 3 8 5 2 2 7

Lampiran 16. Hasil Pengamatan Rata-rata Lama Penyembuhan Luka Kelinci


1. Hasil pengamatan luka yang diolesi formula optimum (salep ekstrak etanol daun
patiwala 4%)
Persentase luka pada hari ke- (%) Lama
Kelinc penyembuhan
i ke- (hari)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

78
I 0 30 35 50 55 65 70 75 90 100 - - - - 10
II 0 20 25 30 35 62,5 70 85 95 100 - - - - 10
III 0 30 35 40 45 50 60 67,5 75 91,5 100 - - - 11
Jumlah 31
Rata-rata 10,3

79
2. Hasil pengamatan luka yang diolesi ekstrak terdelipidasi
Persentase luka pada hari ke- (%) Lama
Kelinc penyembuhan
i ke- (hari)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
I 0 25 30 60 65 67,5 70 75 76 82,5 95 100 - - 12
II 0 15 20 21 32,5 45 70 75 80 85 95 100 - - 12
III 0 25 35 37,5 40 50 55 60 68 89 95 100 - - 12
Jumlah 36
Rata-rata 12

3. Hasil pengamatan luka yang diolesi ekstrak tidak terdelipidasi


Persentase luka pada hari ke- (%) Lama
Kelinc penyembuhan
i ke- (hari)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
I 0 25 40 45 50 55 60 65 70 80 90 95 100 - 13
II 12, 13
0 10 15 20 30 60 70 75 80 90 95 100 -
5
III 72, 97, 12
0 25 35 38,5 40 45 55 63 85 100 - -
5 5
Jumlah 38
Rata-rata 12,7

4. Hasil pengamatan luka yang diolesi kontrol positif (Betadine ®)


Persentase luka pada hari ke- (%) Lama
Kelinc penyembuhan
i ke- (hari)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
I 0 35 50 55 70 75 80 82,5 85 97,5 100 - - - 11
II 72, 11
0 25 35 45 50 60 75 85 95 100 - - -
5
III 72, 10
0 25 40 45 55 65 76,5 89 100 - - - -
5
Jumlah 32
Rata-rata 10,7

5. Hasil pengamatan luka yang diolesi kontrol negatif (basis)


Persentase luka pada hari ke- (%) Lama
Kelinci penyembuhan
ke- (hari)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
I 67, 81, 12
0 20 25 45 55 65 70 72,5 95 100 - -
5 5
II 17, 82, 12
0 15 22,5 25 37,5 50 67,5 75 92,5 100 - -
5 5
III 52, 13
0 20 25 30 40 50 60 70 80 82,5 90 100 -
5
Jumlah 37
Rata-rata 12,3

6. Hasil pengamatan luka yang diolesi kontrol normal (tanpa perlakuan)


Kelinci Persentase luka pada hari ke- (%) Lama
ke- penyembuhan
(hari)

80
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
I 0 25 30 45 50 55 60 65 72,5 75 85 92,5 95 100 14
II 0 15 20 25 30 50 55 65 72,5 77,5 80 92,5 95 100 14
III 17, 37, 13
0 15 25 45 55 60 67,5 77 87,5 97,5 100 -
5 5
Jumlah 41
Rata-rata 13,7

81
Lampiran 17. Analisis Data

Uji statistik penyembuhan luka sayat dengan menggunakan SPSS.

1. Uji Normalitas Shapiro-Wilk

Tujuan: Untuk mengetahui apakah data penyembuhan luka sayat hewan uji pada
tiap kelompok terdistribusi normal atau tidak.

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
B Statistic Df Sig. Statistic df Sig.
A NORMAL .385 3 . .750 3 .000
NEGATIF .385 3 . .750 3 .000
POSITIF .385 3 . .750 3 .000
1_FORMULA .385 3 . .750 3 .000
2_FORMULA . 3 . . 3 .
3_FORMULA .385 3 . .750 3 .000
a. Lilliefors Significance Correction

Test of Homogeneity of Variances


Levene Statistic df1 df2 Sig.
A Based on Mean 3.200 5 12 .046
Based on Median .200 5 12 .956
Based on Median and with .200 5 10.000 .955
adjusted df
Based on trimmed mean 2.521 5 12 .088
Kesimpulan: dengan melihat nilai sig. maka perlakuan kontrol negatif tidak
memenuhi asumsi normalitas, karena nilai sig<0,05. Sehingga uji one way anova
tidak dapat digunakan. Uji Kruskal Wallis menjadi alternatif yang dapat
digunakan untuk menggantikan uji one way anova.

2. Uji Kruskal Wallis


Tujuan: untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh ekstrak etanol daun patiwala
(Lantana camara L.) terhadap penyembuhan luka sayat.

Hipotesis :
H0: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada keseluruhan kelompok data
penyembuhan luka sayat
H1: Terdapat perbedaan signifikan penyembuhan luka sayat pada keseluruhan
kelompok

82
Syarat :
H0 diterima bila nilai Asymp. Sig. > 0,05
H1 diterima bila nilai Asymp. Sig. < 0,05

Kruskal-Wallis Test
Ranks
B N Mean Rank
A NORMAL 3 16.50
NEGATIF 3 11.17
POSITIF 3 4.00
1_FORMULA 3 12.83
2_FORMULA 3 9.50
3_FORMULA 3 3.00
Total 18
a,b
Test Statistics
A
Kruskal-Wallis H 15.093
df 5
Asymp. Sig. .010
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable: B

Kesimpulan : Nilai Asymp. Sig. < 0,05 sehingga H 0 ditolak yang artinya terdapat
perbedaan signifikan penyembuhan luka sayat pada keseluruhan data pada tiap
kelompok.

3. Uji Post Hoc Mann Whitney pada Data Penyembuhan Luka Sayat antar
Kelompok

Tujuan: untuk mengetahui formula efektif yang mampu mempercepat


penyembuhan luka sayat.

a. Uji Mann-Whitney antara Kelompok Kontrol Normal dengan Kelompok


Kontrol Negatif

Mann-Whitney Test
Ranks
B N Mean Rank Sum of Ranks
A NORMAL 3 4.83 14.50
NEGATIF 3 2.17 6.50
Total 6

83
Test Statisticsa
A
Mann-Whitney U .500
Wilcoxon W 6.500
Z -1.826
Asymp. Sig. (2-tailed) .068
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100b
a. Grouping Variable: B
b. Not corrected for ties.

Kesimpulan: Nilai Asymp. Sig. > 0,05 berarti tidak signifikan atau tidak terdapat
perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.

b. Uji Mann-Whitney antara Kelompok Kontrol Normal dengan Kelompok


Kontrol Positif
Mann-Whitney Test
Ranks
B N Mean Rank Sum of Ranks
A NORMAL 3 5.00 15.00
POSITIF 3 2.00 6.00
Total 6

Test Statisticsa
A
Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -2.023
Asymp. Sig. (2-tailed) .043
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100b
a. Grouping Variable: B
b. Not corrected for ties.

Kesimpulan : Nilai Asymp. Sig. < 0,05 berarti signifikan atau terdapat
perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.

84
c. Uji Mann-Whitney antara Kelompok Kontrol Normal dengan Kelompok
Ekstrak Tidak Terdelipidasi
Mann-Whitney Test
Ranks
B N Mean Rank Sum of Ranks
A NORMAL 3 4.67 14.00
1_FORMULA 3 2.33 7.00
Total 6

Test Statisticsa
A
Mann-Whitney U 1.000
Wilcoxon W 7.000
Z -1.650
Asymp. Sig. (2-tailed) .099
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .200b
a. Grouping Variable: B
b. Not corrected for ties.

Kesimpulan: Nilai Asymp. Sig. > 0,05 berarti tidak signifikan atau tidak terdapat
perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.

d. Uji Mann-Whitney antara Kelompok Kontrol Normal dengan Kelompok


Ekstrak Terdelipidasi
Mann-Whitney Test
Ranks
B N Mean Rank Sum of Ranks
A NORMAL 3 5.00 15.00
2_FORMULA 3 2.00 6.00
Total 6

85
Test Statisticsa
A
Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -2.121
Asymp. Sig. (2-tailed) .034
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100b
a. Grouping Variable: B
b. Not corrected for ties.

Kesimpulan : Nilai Asymp. Sig. < 0,05 berarti signifikan atau terdapat
perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.

e. Uji Mann-Whitney antara Kelompok Kontrol Normal dengan Kelompok


Salep Ekstrak Etanol Daun Patiwala 4%
Mann-Whitney Test
Ranks
B N Mean Rank Sum of Ranks
A NORMAL 3 5.00 15.00
3_FORMULA 3 2.00 6.00
Total 6

Test Statisticsa
A
Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -2.023
Asymp. Sig. (2-tailed) .043
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100b
a. Grouping Variable: B
b. Not corrected for ties.

Kesimpulan : Nilai Asymp. Sig. < 0,05 berarti signifikan atau terdapat
perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.

86
f. Uji Mann-Whitney antara Kelompok Kontrol Negatif dengan Kelompok
Kontrol Positif
Mann-Whitney Test
Ranks
B N Mean Rank Sum of Ranks
A NEGATIF 3 5.00 15.00
POSITIF 3 2.00 6.00
Total 6

Test Statisticsa
A
Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -2.023
Asymp. Sig. (2-tailed) .043
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100b
a. Grouping Variable: B
b. Not corrected for ties.

Kesimpulan : Nilai Asymp. Sig. < 0,05 berarti signifikan atau terdapat
perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.

g. Uji Mann-Whitney antara Kelompok Kontrol Negatif dengan Kelompok


Ekstrak Tidak Terdelipidasi
Mann-Whitney Test
Ranks
B N Mean Rank Sum of Ranks
A NEGATIF 3 3.00 9.00
1_FORMULA 3 4.00 12.00
Total 6

87
Test Statisticsa
A
Mann-Whitney U 3.000
Wilcoxon W 9.000
Z -.745
Asymp. Sig. (2-tailed) .456
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .700b
a. Grouping Variable: B
b. Not corrected for ties.

Kesimpulan: Nilai Asymp. Sig. > 0,05 berarti tidak signifikan atau tidak terdapat
perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.

h. Uji Mann-Whitney antara Kelompok Kontrol Negatif dengan Kelompok


Ekstrak Terdelipidasi
Mann-Whitney Test
Ranks
B N Mean Rank Sum of Ranks
A NEGATIF 3 4.00 12.00
2_FORMULA 3 3.00 9.00
Total 6

Test Statisticsa
A
Mann-Whitney U 3.000
Wilcoxon W 9.000
Z -1.000
Asymp. Sig. (2-tailed) .317
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .700b
a. Grouping Variable: B
b. Not corrected for ties.

Kesimpulan: Nilai Asymp. Sig. > 0,05 berarti tidak signifikan atau tidak terdapat
perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.

88
i. Uji Mann-Whitney antara Kelompok Kontrol Negatif dengan Kelompok
Salep Ekstrak Etanol Daun Patiwala 4%
Mann-Whitney Test
Ranks
B N Mean Rank Sum of Ranks
A NEGATIF 3 5.00 15.00
3_FORMULA 3 2.00 6.00
Total 6

Test Statisticsa
A
Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -2.023
Asymp. Sig. (2-tailed) .043
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100b
a. Grouping Variable: B
b. Not corrected for ties.

Kesimpulan : Nilai Asymp. Sig. < 0,05 berarti signifikan atau terdapat
perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.

j. Uji Mann-Whitney antara Kelompok Kontrol Positif dengan Kelompok


Ekstrak Tidak Terdelipidasi
Mann-Whitney Test
Ranks
B N Mean Rank Sum of Ranks
A POSITIF 3 2.00 6.00
1_FORMULA 3 5.00 15.00
Total 6

89
Test Statisticsa
A
Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -2.023
Asymp. Sig. (2-tailed) .043
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100b
a. Grouping Variable: B
b. Not corrected for ties.

Kesimpulan : Nilai Asymp. Sig. < 0,05 berarti signifikan atau terdapat
perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.

k. Uji Mann-Whitney antara Kelompok Kontrol Positif dengan Kelompok


Ekstrak Terdelipidasi
Mann-Whitney Test
Ranks
B N Mean Rank Sum of Ranks
A POSITIF 3 2.00 6.00
2_FORMULA 3 5.00 15.00
Total 6

Test Statisticsa
A
Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -2.121
Asymp. Sig. (2-tailed) .034
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100b
a. Grouping Variable: B
b. Not corrected for ties.

Kesimpulan : Nilai Asymp. Sig. < 0,05 berarti signifikan atau terdapat
perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.

90
l. Uji Mann-Whitney antara Kelompok Kontrol Positif dengan Kelompok Salep
Ekstrak Etanol Daun Patiwala 4%
Mann-Whitney Test
Ranks
B N Mean Rank Sum of Ranks
A POSITIF 3 4.00 12.00
3_FORMULA 3 3.00 9.00
Total 6

Test Statisticsa
A
Mann-Whitney U 3.000
Wilcoxon W 9.000
Z -.745
Asymp. Sig. (2-tailed) .456
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .700b
a. Grouping Variable: B
b. Not corrected for ties.

Kesimpulan: Nilai Asymp. Sig. > 0,05 berarti tidak signifikan atau tidak terdapat
perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.

m. Uji Mann-Whitney antara Kelompok Ekstrak Tidak Terdelipidasi dengan


Kelompok Ekstrak Terdelipidasi
Mann-Whitney Test
Ranks
B N Mean Rank Sum of Ranks
A 1_FORMULA 3 4.50 13.50
2_FORMULA 3 2.50 7.50
Total 6

91
Test Statisticsa
A
Mann-Whitney U 1.500
Wilcoxon W 7.500
Z -1.581
Asymp. Sig. (2-tailed) .114
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .200b
a. Grouping Variable: B
b. Not corrected for ties.

Kesimpulan: Nilai Asymp. Sig. > 0,05 berarti tidak signifikan atau tidak terdapat
perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.

n. Uji Mann-Whitney antara Kelompok Ekstrak Tidak Terdelipidasi dengan


Kelompok Salep Ekstrak Etanol Daun Patiwala 4%
Mann-Whitney Test
Ranks
B N Mean Rank Sum of Ranks
A 1_FORMULA 3 5.00 15.00
3_FORMULA 3 2.00 6.00
Total 6

Test Statisticsa
A
Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -2.023
Asymp. Sig. (2-tailed) .043
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100b
a. Grouping Variable: B
b. Not corrected for ties.

Kesimpulan : Nilai Asymp. Sig. < 0,05 berarti signifikan atau terdapat
perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.

92
o. Uji Mann-Whitney antara Kelompok Ekstrak Terdelipidasi dengan Kelompok
Salep Ekstrak Etanol Daun Patiwala 4%
Mann-Whitney Test
Ranks
B N Mean Rank Sum of Ranks
A 2_FORMULA 3 5.00 15.00
3_FORMULA 3 2.00 6.00
Total 6

Test Statisticsa
A
Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -2.121
Asymp. Sig. (2-tailed) .034
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100b
a. Grouping Variable: B
b. Not corrected for ties.
Kesimpulan : Nilai Asymp. Sig. < 0,05 berarti signifikan atau terdapat
perbedaan pengaruh terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.

93
Lampiran 18. Form Responden Uji Iritasi

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


THE MINISTRY OF RESEACH, TECHNOLOGY AND HIGHER
EDUCATION
KOMISI ETIK PENELITIAN LPPM UHO
THE ETHICAL COMMITTEE RESEARCH LPPM UHO
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu kendari 93232,
Telp. (0401) 390105, Fax. (0401) 390006
e-mail : kep_lppmuho@yahoo.co.id

INFORMED CONSENTS

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama (inisial) :......................................................
Alamat :......................................................
No. Tlp/HP :......................................................
Bersedia menjadi responden dalam penelitian yang berjudul “Uji Aktivitas
Penyembuhan Luka Sayatan Sediaan Salep dari Ekstrak Etanol Daun Patiwala
(Lantana camara L.)”. Prosedur penelitian ini tidak akan menimbulkan risiko dan
dampak apapun terhadap responden. Saya telah diberi penjelasan mengenai hal tersebut.
Dengan ini saya menyatakan dengan sukarela bersedia menjadi responden dalam
penelitian ini.

Kendari, Juli 2019

Saksi 1 Saksi 2 Responden

( ………………….. ........) (........................................) (........................................)

94
PENJELASAN:

Penjelasan tertulis dan lisan yang diberikan peneliti harus disampaikan dalam
bahasa yang mudah dimengerti oleh subyek penelitian, serta meliputi hal-hal berikut:

1. Penjelasan secara singkat tentang tujuan penelitian.


Saya, Indah Amalia Lestari, mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo, akan
melakukan penelitian tentang Uji Aktivitas Penyembuhan Luka Sayatan Sediaan Salep
dari Ekstrak Etanol Daun Patiwala (Lantana camara L.). Saya harap Responden
bersedia untuk ikut serta dalam penelitian saya.

2. Penjelasan tentang prosedur pengambilan data.


Pengambilan sampel.
Uji iritasi dilakukan dengan mengoleskan salep ke kulit tangan Manusia. Uji ini
dilakukan sebanyak 3 kali (pagi, siang, sore) selama 3 hari berturut-turut. Pengujian
keamanan sediaan salep yang dibuat dilakukan terhadap 12 orang dengan uji tempel
terbuka (patch test), yakni: Sejumlah sediaan uji dioleskan pada lengan bawah kanan
bagian dalam. Lengan bawah kanan bagian dalam diolesi sediaan salep. Selanjutnya
perubahan warna yang terjadi pada lengan bawah kanan bagian dalam masing-masing
Manusia diamati. Jika tidak terjadi reaksi (tidak merah dan tidak bengkak) diberi tanda
(-), jika terjadi reaksi (kulit memerah) diberi tanda (+), selanjutnya jika terjadi
pembengkakan diberi tanda (++). Pada lengan bawah kanan bagian dalam dilihat
apakah tampak adanya iritasi (kemerahan) pada kulit yang dioleskan salep tersebut
lalu dibandingkan dengan kontrol yaitu lengan bawah kiri bagian dalam.
3. Penjelasan tentang resiko dan usaha penjagaan.
Resiko dan usaha penjagaan.
Resiko dalam penelitian ini yaitu Responden dapat mengalami gatal-gatal, kulit
kemerahan, dan bengkak pada kulit yang dioleskan sediaan uji. Usaha penjagaan yang
dapat dilakukan yaitu dengan memilih Responden yang tidak memiliki riwayat alergi
dan kulit sensitif.

4. Penjelasan tentang manfaat penelitian.


Manfaat penelitian ini yaitu dapat menambah pengetahuan dan wawasan
ilmu/informasi ilmiah mengenai efek pemberian salep ekstrak etanol daun patiwala
terhadap penyembuhan luka sayatan.

Partisipasi Responden dalam penelitian ini tidak akan menyebabkan beban keuangan
bagi Responden atau keluarga Responden.

5. Penjelasan tentang kerahasiaan.


Kerahasiaan
Catatan tentang hasil pemeriksaan Responden akan saya rahasiakan. Responden hanya
akan dikenal dengan kode nomor saja, dan tidak akan diketahui siapa yang ikut
mengambil bagian dari penelitian ini.

95
6. Penjelasan tentang kontak yang bisa dihubungi jika ada pertanyaan tentang
penelitian.
Pertanyaan-pertanyaan
Jika ada pertanyaan tentang penelitian ini, misalnya mengenai hak-hak responden, atau
responden hendak melaporkan efek dari penelitian ini, maka responden bisa
menghubungi saya, Indah Amalia Lestari, melalui telepon 085656566097, atau Komisi
Etik Penelitian LPPM Universitas Halu Oleo, Jl. H.E.A. Mokodompit, Kendari-Sultra,
Telepon: (0401) 390105,

7. Penjelasan bahwa keikutsertaan dalam penelitian bersifat sukarela.


Partisipasi sukarela.
Responden tidak dapat dan tidak akan dipaksa ikut dalam penelitian ini bila
Responden tidak menghendaki. Responden hanya bisa ikut mengambil bagian atas
kehendak Responden sendiri. Responden berhak untuk sewaktu-waktu menolak
melanjutkan partisipasi tanpa perlu memberikan suatu alasan, dan tidak seorangpun
boleh memaksa Responden untuk berubah pikiran.

8. Penjelasan permintaan persetujuan dari subyek penelitian.


Tanda tangan.
Responden telah membaca atau dibacakan kepada Responden apa yang tertera dalam
penjelasan penelitian ini, dan Responden telah diberi hak untuk mengajukan
pertanyaan dan membicarakan penelitian ini dengan peneliti. Responden memahami
maksud, resiko, lama penelitian, dan prosedur penelitian ini. Responden telah
menerima tembusan dari surat persetujuan ini.

Kendari, Juli 2019

Saksi 1 Responden Peneliti

( …………………..........) (........................................) (Indah Amalia Lestari)

96