Anda di halaman 1dari 13

A.

PENJELASAN PELAKSANAAN PEKERJAAN


BANGUNAN KONSTRUKSI BETON

SPESIFIKASI UMUM

Pasal 1
LINGKUP PEMBANGUNAN

1. Pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh Panitia Pembangunan Sekolah (P2S)


adalah “PEKERJAAN REHABILITAS LABORATORIUM,RUANG KELAS”, yaitu

Pembangunan yang terdiri dari :


- Gedung : Ruang Kelas 1I – 7
- Laboratorium IPA
- Ruang Kesenian
- Ruang Majelis Guru
- Ruang Kepala Sekolah
- Ruang Perpustakaan
- Ruang Tata Usaha

Termasuk didalamnya meliputi pekerjaan:


a Pekerjaan Persiapan.
b Pekerjaan konstruksi unit-unit gedung
c Pekerjaan Perawatan, selama jangka waktu pemeliharaan. Termasuk pembersihan
umum pada waktu penyerahan pertama, seperti bahan-bahan bangunan yang
tidak terpakai, sampah, kerusakan-kerusakan atau ahal-hal yang merupakan
akibat dari pekerjaan Panitia Pembangunan Sekolah (P2S).
d Pekerjaan lain yang tercantum ataupun yang dimaksudkan dalam gambar-gambar,
Spesifikasi Teknis .

Perincian bagian pekerjaan yang dilaksanakan didasarkan pada gambar rencana,


BQ dan RKS yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari rencana kerja dan syarat-
syarat ini.

2. Pekerjaan meliputi :
Pengelolaan pekerjaan yang dilakukan oleh pihak Komite Pembangunan Sekolah
(Panitia Pembangunan Sekolah (P2S)) antara lain mendatangkan semua bahan,
pengerahan tenaga kerja, mengadakan alat bantu dan sebagainya. Baik
pengadaannya langsung atau tidak langsung termasuk dalam usaha penyelesaian
dan penyerahan pekerjaan dalam keadaan sempurna dan lengkap.
Termasuk pekerjaan yang tidak ditentukan dengan jelas dalam persyaratan teknis
dan gambar, tetapi masih dalam lingkup pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai
dengan petunjuk Konsultan Lapangan / CM.

3. Lahan pembangunan sekolah, termasuk segala sesuatu yang berada di dalamnya


diserahkan sebagai tanggung jawab Komite Pembangunan Sekolah (Panitia
Pembangunan Sekolah (P2S)).

4. Panitia Pembangunan Sekolah (P2S) harus menyerahkan pekerjaan dalam keadaan


selesai dan sempurna, termasuk pembersihan lokasi pekerjaan dan sebagainya
5. Untuk keperluan persiapan dan perlengkapan pelaksanaan pekerjaan utama, Panitia
Pembangunan Sekolah (P2S) berkewajiban antara lain:

1
a Mempersiapkan dan membersihkan lahan/lokasi pembangunan dari hal-hal yang
dapat menganggu jalanya pekerjaan.
b Pengamanan lokasi pekerjaan sehingga para pekerja dapat melaksanakan
pekerjaan dengan nyaman dan aman, demikian pula bahan dan alat dalam
keadaan aman.
c Mengadakan segala sesuatu yang diperlukan sebagai penunjang pelaksanaan
pekerjaan.

6. Panitia Pembangunan Sekolah (P2S) di bantu oleh Konsultan Lapangan wajib


membuat gambar detail pelaksanaan (shop drawing) berdasarkan pada dokumen
kontrak yang telah disesuaikan dengan lapangan. Gambar ini sebagai penjelas
secara detail mengenai pekerjaan khusus/spesifik yang belum tercakup lengkap
dalam gambar kerja/dokumen kontrak.

7. Semua gambar shop-drawing sebelum dilaksanakan harus mendapat persetujuan


terlebih dahulu dari Konsultan Lapangan (KL).

8. Pekerjaan yang harus dikerjakan, sesuai dengan ketentuan-ketentuan di dalam


Spesifikasi Teknis, gambar-gambar yang ada, Berita Acara Penjelasan, Perintah
Pejabat Pembuat Komitmen dan atau pihak yang ditunjuk serta petunjuk-petunjuk
teknis Konsultan Lapangan selama pekerjaan berlangsung.

9. Ukuran-Ukuran :
a. Ukuran-ukuran patokan dan ukuran tinggi telah ditetapkan seperti dalam
gambar.
b. Jika terdapat perbedaan antara ukuran yang tertera didalam gambar
utama dengan ukuran yang tertera di dalam gambar detail, maka yang
mengikat adalah ukuran yang berada di dalam gambar skala besar. Namun
kejadian tersebut harus dilaporkan segera kepada Konsultan lapangan untuk
mendapat persetujuan yang akan dilaksanakan.
c. Pengambilan dan Pemakaian ukuran-ukuran yang keliru sebelum dan
selama pelaksanaan pekerjaan ini adalah menjadi tanggung jawab Panitia
Pembangunan Sekolah (P2S) sepenuhnya.
d. Sebagai Patokan/Ukuran pokok + 0.00 diambil petunjuk yang diadakan di
lapangan, yaitu pada ketinggian lantai dari muka tanah.
e. Penetapan ukuran dan sudut-sudut siku senantiasa dijaga dan
diperhatikan ketelitiannya dengan mempergunakan waterpass dan alat ukur
lainnya yang diperlukan.

Pasal 2
PERATURAN TEKNIS BANGUNAN YANG DIGUNAKAN

Kecuali ditentukan lain dalam RKS ini, berlaku dan mengikat ketentuan-ketentuan
tersebut dibawah ini termasuk segala perubahan dan tambahannya.
2.1. Peraturan-peraturan umum mengenai pelaksanaan pembangunan di Indonesia
atau Algemene voor warden voor de uitvoering bijaanneming van openbare
werken ( AV ) 1941
2.2. Keputusan Dirjen Dikdasmen Nomor 541/C.C3/Kep/MN/2004, tanggal 30
Desember 2004, tenang Pembakuan Tipe Sekolah Menengah Pertama
2.3. Pedoman Perencanaan Gedung Sekolah Menengah Umum SNI 03-1730-
2002
2.4. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI 1991) SK SNI T-15.1991.03
2.5. Tata cara pengadukan dan pengecoran beton SNI 03-3976-1995

2
2.6. Peraturan Muatan Indonesia NI.8 dan Indonesian Loading Code 1987 (SKBI-
1.2.53.1987)
2.7. Ubin lantai keramik, mutu dan cara uji SNI 03-0106-1987
2.8. Ubin semen polos SNI 03-0028-1987
2.9. Peraturan Konstruksi Kayu di Indonesia (PKKI) NI 5
2.10. Mutu Kayu Bangunan SNI 03-3527-1994
2.11. Peraturan Umum instalasi listrik (PUIL) SNI 04-0225-1987
2.12. Peraturan Umum Keselamatan Kerja dari Departemen Tenaga Kerja
2.13. Peraturan Semen Portland Indonesia NI 8 tahun1972.
2.14. Peraturan Plumbing Indonesia.
2.15. Tata Cara Pengecatan Kayu Untuk Rumah dan Gedung SNI 03-2407-1991.
2.16. Tata Cara Pengecatan Dinding Tembok dengan Cat Emulsi SNI 03-2410-
1991
2.17. Pedoman Perencanaan Penanggulangan Longsoran SNI 03-1962-1990.
2.18 Peraturan dan ketentuan yang dikeluarkan Pemerintah Daerah setempat yang
bersangkutan dengan permasalahan bangunan.

Apabila penjelasan dalam Penjelasan Pelaksanaan Pekerjaan Bangunan Konstruksi


Beton ini tidak sempurna atau belum lengkap sebagaimana ketentuan dan syarat
dalam peraturan di atas, maka Panitia Pembangunan Sekolah (P2S) wajib mengikuti
ketentuan peraturan-peraturan yang disebutkan di atas.

Pasal 3
PEKERJAAN PERSIAPAN

3.1. Lingkup Pekerjaan


3.1.1. Pembersihan lokasi sekeliling bangunan
3.1.2. Pengadaan air untuk pelaksanaan pekerjaan
3.1.3. Pembuatan papan nama kegiatan
3.1.4. Pemasangan bouwplank
3.1.5. Pengadaan alat-alat kerja yang dibutuhkan

3.2. Persyaratan bahan


3.2.1. Untuk penampungan air kerja disiapkan drum / bak penampung air
yang dapat menjamin agar kualitas air tetap terjaga.
3.2.2. Untuk papan nama kegiatan digunakan tiang dari kayu dan triplek dicat
putih.
3.2.3. Bahan bouwplank dipakai tiang kayu meranti atau sengon 5/7 dan
papan meranti atau sengon ukuran 2/20 cm.
3.2.4. Untuk lalat-alat kerja berupa kotak adukan, kotak takaran, gerobak
dorong dan lain-lain digunakan bahan kayu setempat.

3.3. Pedoman Pelaksanaan


3.3.1. Pembersihan lokasi lahan pekerjaan .
Meliputi pembersihan semua tanaman termasuk pembongkaran akar-
akar pohon yang terkena bangunan dan lahan pekerjaan, termasuk
perataan tanah/pembuatan terasering jika diperlukan. Hasil bongkaran
tersebut diatas dibuang ke luar lokasi pekerjaan.
3.3.2. Pengadaan air untuk pelaksanan pekerjaan
Pengadaan air untuk pelaksanaan pekerjaan diambil dari sumber air
terdekat, kemudian ditampung dalam drum-drum yang telah
disediakan. Kebutuhan air ini harus disediakan dalam jumlah yang

3
cukup selama pelaksanaan pekerjaan. Air harus memenuhi syarat
yang tercantum dalam PBI 71.
3.3.3. Pembuatan papan nama program
Membuat papan nama program dari papan dengan ukuran sesuai
dengan gambar kerja. Didirikan tegak diatas kayu 5/7 cm setinggi 200
cm. Diletakkan pada tempat yang mudah dilihat umum.
3.3.4. Pemasangan Bouwplank
Tiang Bouwplank harus terpasang kuat. Papan diketam halus dan
lurus pada sisi atasnya dan dipasang waterpass (timbang air) dengan
sudut-sudutnya harus siku.

B. SPESIFIKASI TEKNIS

Pasal 10
PEKERJAAN LANTAI

9.1. Lingkup Pekerjaan


Pemasangan lantai dibuat untuk semua bagian lantai ruangan, KM/WC,
Selasar depan dan keliling bangunan sesuai yang ditunjukkan dalam gambar.
Pekerjaan lantai terdiri dari :
9.1.1. Lantai beton tumbuk atau beton rabat atau rabat kerikil dipasang pada
emperan samping kiri kanan, belakang dan depan bangunan.
9.1.2. Keramik polos/bermotif pada seluruh ruang dan selasar bangunan.
9.1.3. Keramik kulit jeruk/ anti slip atau tegel wafel/galar pada WC/KM serta
teras/selasar

9.2. Bahan Yang digunakan


9.2.1. Keramik 40 X 40 Produksi Dalam Negeri dengan kualitas KW 1. Warna
ditentukan kemudian.
9.2.2. Beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr
9.2.3. Sement portland
9.2.4. Pasir dan air

9.3. Pedoman Pelaksanaan


9.3.1. Pemeriksaan
Sebelum lantai dipasang, Panitia Pembangunan Sekolah (P2S) harus
memeriksa semua pasangan pipa-pipa, saluran-saluran dan lain
sebagainya yang harus sudah terpasang dengan baik sebelum
pemasangan lantai dimulai.
9.3.2. Dasar lantai
Dilapisi pasir pasangan setebal 10 cm dan dipadatkan
9.3.3. Adukan
- Adukan untuk lantai 1 Pc : 2 Pc
- Untuk beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr
- Pasta semen (campuran semen dengan air) untuk menempelkan
keramik pada adukan lantai.
9.3.4. Pemasangan
- Lantai beton tumbuk dipasang dengan ketebalan sesuai gambar .

4
Adukan perekat lantai dipakai 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr.
- Alas dari lantai keramik adalah beton tumbuk dengan ketebalan 5
cm, dan dibawahnya adalah pasir setebal 10 cm.
- Lantai keramik yang terpasang harus datar dan waterpass. Pola
pemasangan keramik harus sesuai dengan gambar dan petunjuk
konsultan lapangan.
- Pemotongan keramik harus menggunakan alat potong khusus
sesuai dengan petunjuk konsultan lapangan.
- Adukan perekat untuk lantai harus betul-betul padat/penuh agar
tidak terdapat rongga-rongga dibawah lantai keramik yang dapat
melemahkan konstruksi. Sambungan antara keramik dengan
keramik harus sama lebarnya, lurus dan harus diisi bahan pengisi
berwarna/grout semen. Hasil pasangan akhir harus rata tidak
bergelombang dan waterpass.
- Pekerjaan yang telah selesai tidak boleh ada yang retak, noda dan
cacat-cacat lainnya. Apabila terjadi cacat pada lantai, maka bagian
cacat tersebut harus dibongkar dan di ganti dengan keramik yang
sama.
- Selama 7 hari setelah pekerjaan dilaksanakan, lantai harus
dilindungi dari lalu lintas orang dan barang.

Pasal 10
PEKERJAAN RANGKA ATAP DAN KUSEN

10.1. Lingkup Pekerjaan


- Lingkup Pekerjaan Rangka Atap meliputi pengiriman material ke lokasi
pekerjaan penyediaan tenaga kerja, bahan, alat –alat bantu yang
diperlukan, sehingga konstruksi rangka baja ringan selesai dilaksanakan.
Bagian Pekerjaannya adalah :
10.1.1 Rangka Atap
10.1.2 Gording
10.2 Persyaratan Bahan
10.2.1 Untuk semua rangka atap kuda-kuda Profil C.75.75 (tinggi profil 75 mm
dan ketebalan dasar baja 0,7 mm) dari bahan zincalum panjang
material perbatang adalah 6 m
10.2.2 Untuk reng profil 40.45 Taso adalah profil top hat (U terbalik) dan juga
digunakan untuk ikatan angin (ketebalan dasar baja 0,45 mm) dari
bahan zincalum panjang material perbatang adalah 6 m
10.2.3 Untuk penyambungan rangka menggunakan screw kuda-kuda 12-
14x20 dengan diameter kepala 12 mmd dan panjang 20 mmd
sedangkan untuk reng adalah screw 10-16x16 dengan diameter
kepala 10 mm dan panjang 16 mm
10.3 Pedoman Pelaksanaan
10.3.1 Rangka Atap
Semua rangka atap dilaksanakan sesuai dengan gambar rencana.
Konstruksi harus dibuat sesuai gambar detail, dan ukuran.
10.3.2 Lisplank dibuat dari papan ukuran 2/20 yang diserut halus.
Pemasangannya dipaku langsung pada usuk atau kaso. Pemasangan
harus rapi dan lurus. Apabila dijumpai pemasangan yang tidak lurus,
maka bagian tersebut harus dibongkar dan diperbaiki kembali atas
beban Panitia Pembangunan Sekolah (P2S).
10.3.3 Kusen pintu dan jendela
- Ukuran dan dimensi kayu untuk kusen pintu yaitu 6/13 atau

5
mengacu pada gambar.
- Konstruksi sambungan kayu harus rapi, tidak longgar ikatan
perkuatan harus menggunakan pen kayu keras yang sebelumnya
bidang sambungan ini harus dilumuri dengan lem kayu, agar
sambungannya dapat melekat dengan baik.
- Setiap kusen pintu harus dilengkapi angker minimal 3 buah untuk
kiri kanan kusen yang melekat ke tembok. Untuk kusen jendela 2
buah di kiri kanan kusen yang melekat ke tembok. Khusus untuk
kusen pintu, dibawah kusen dilengkapi dengan besi dook yang
diangkur ke dalam neut beton ( locis ).
- Semua bidang kusen yang bersinggungan dengan dinding/beton
dibuat alur-alur kapur, kemudian bidang tersebut diawetkan dengan
cat meni 2 (dua) lapis.
10.3.4 Daun pintu / jendela dan ventilasi
- Daun pintu disararankan agar Panitia Pembangunan Sekolah (P2S)
memesan langsung pada tempat khusus pembuat pintu atau pada
toko. Panitia Pembangunan Sekolah (P2S) bisa membuat sendiri
dilapangan pekerjaan apabila memungkinkan.
- Jendela dibuat model sesuai dengan gambar detail. Kaca untuk
jendela dipasang kaca polos tebal 5 mm. Pasangan kaca harus
memperhatikan muai susut baik dari kusen, maupun bahan kaca
tersebut.
- Ventilasi jalusi dibuat dari papan yang diketam halus serta dipasang
dengan rapi.

Pasal 12
PEKERJAAN LANGIT-LANGIT

11.1 Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan yang dilaksanakan untuk menutup langit-langit pada Perpustakaan.
Termasuk dalam lingkup pekerjaan ini adalah semua pekerjaan rangka langit-
langit dan list langit-langit ukuran 3 cm.

11.2 Persyaratan Bahan


12.2.1 Rangka langit-langit dipakai kayu kelas II kualitas baik ukuran 5/7.
12.2.2. Langit-langit menggunakan tripleks tebal 4 mm kualitas baik dengan
ukuran 60 X 120 cm, produksi dalam negeri.
12.2.3. Spesifikasi bahan yang digunakan seperti tercantum dalam syarat-
syarat teknis bahan tentang kayu.

11.3 Pedoman pelaksanaan


11.3.1. Sebelum dilaksanakannya pemasangan langit-langit ini, semua
pekerjaan lain yang terletak diatas langit-langit harus sudah terpasang
secara sempurna.
11.3.2 Sebelum pekerjaan pemasangan langit-langit dimulai, diwajibkan
mengadakan pengecekan/pemeriksaan kembali terhadap pekerjaan
yang erat hubungannya dengan pekerjaan langit-langit ini, untuk
diwajibkan adanya kerja sama (koordinasi) yang baik dengan semua
unsur Pelaksana Lapangan.
11.3.3 Rangka langit-langit dipasang dengan urutan pertama, yang dipakukan
pada balok tarik kuda-kuda. Rangka ini kemudian dipakai penggantung
dari kayu ke kuda-kuda dan gording.

6
11.3.4 Pemasangan rangka ini harus rapi dan datar (waterpass) Panitia
Pembangunan Sekolah (P2S) bertanggung jawab atas kerapian
pemasangan rangka ini.
11.3.5 Tripleks dipasang pada rangka plafon, dengan menggunakan paku
plafon. Hasil akhir harus waterpass. Apabila ada plat tripleks yang
retak (cacat), pecah harus diganti tripleks yang baru.
11.3.6 Pertemuan antara dinding dengan plafon dipasang list dengan ukuran
3 cm.
11.3.7 Pola pemasangan harus sesuai dengan gambar dan arahan dari
Konsultan lapangan.

Pasal 13
PEKERJAAN PENUTUP ATAP

12.1. Lingkup Pekerjaan


Bagian pekerjaan yang dilaksanakan adalah menutup semua bidang atap
bangunan dan sesuai dengan gambar.

12.2. Bahan yang digunakan


12.2.1 Penutup atap menggunakan atap jenis Zincalum/corrugated sheet atau
tile dimana ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan lapangan.
Ketebalan bahan minimal 0,3 mm termasuk pelapis terluarnya.
12.2.2. Untuk atap yang menggunakan bahan genteng keramik/gerabah,
ketebalan cukup, tidak mudah retak, pembakarannya sudah matang
dengan warna merah kehitaman dan berbunyi nyaring bila diketuk,
serta kuat menahan injakan kaki.
12.2.3. Untuk atap genteng metal berwarna atau granulasi, bahan
penyusunnya adalah pelat baja tipis, lapis alumunium. Ukuran
tergantung pada pabrik pembuatnya.
12.2.4. Penggunaan bahan atap ini dilengkapi dengan semua asesoris
(nok/bubungan, flashing, baut dll) yang disyaratkan oleh pabrik
pembuatnya.

13.3. Pedoman Pelaksanaan


13.3.1 Perletakan lembaran atap yang pertama harus dipasang berlawanan
arah angin. Maksud dari berlawanan arah angin adalah tepi
gelombang yang mempunyai kaki atap harus dipasang berlawanan
arah angin, kemudian baru ditimpa dengan atap yang bertepi
gelombang tanpa kaki atap dan seterusnya diikuti oleh lembaran –
lembaran berikutnya.
13.3.2 Apabila dalam 1 (satu) span terdapat 2 (dua) lembar atau lebih tata
peletakan /penyusunan atap selalu harus dipasang mulai dengan
pemasangan lajur bawah hingga selesai baru dilanjutkan kejalur atas.
13.3.3 Pemasangan sekrup pada atap harus selalu pada puncak gelombang
dan dikunci hingga puncak gelombang tersebut tidak dapat bergerak.
13.3.4 Pada saat pemasangan dianjurkan agar tukang yang sedang bekerja
harus mengalaskan papan yang dibuat seperti tangga yang diletakkan
diatas gording untuk menghindari atap diinjak langsung yang dapat
mengakibatkan atap tersebut rusak.
13.3.5 Bubungan ditutup dengan bahan yang sama multiroof 0,3 mm Tindisan
antar satu lembar bubungan dengan lembaran bubungan yang lainnya
harus sesuai dengan persyaratan pabrik.

7
13.3.6 Pemasangan harus rapi dan memenuhi syarat –syarat sehingga tidak
mengakibatkan kebocoran setelah pemasangannya, maka bagian
yang bocor tersebut harus dibongkar dan dipasang baru.

Pasal 14
PEKERJAAN PENGUNCI DAN PENGGANTUNG

14.1. Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan pengunci dan penggantung dipasang pada semua daun pintu dan
jendela, sedangkan pada jendela dipasang grendel, tarikan jendela (handle)
dan hak angin.

14.2. Persyaratan Bahan


14.2.1. Engsel pintu memakai engsel kupu-kupu, berkualitas baik, dipasang
sekurang-kurangnya 3 (tiga) buah untuk setiap daun pintu dengan
menggunakan sekrup kembang dengan warna yang sama, jumlah
engsel yang dipasang harus diperhitungkan menurut beban dan berat
daun pintu, setiap engsel memikul beban maximum 20 kg.
14.2.2. Kunci pintu menggunakan sloot tanam 2 slaag (dua kali putar) dengan
kualitas baik.
14.2.3 Grendel, dan hak angin berkualitas baik.
14.2.4. Expanyolet berkualitas baik.
14.2.5. Kunci, engsel dan grendel untuk lemari laboratorium

14.3. Pedoman pelaksanaan


14.3.1. Setiap daun pintu dipasang kunci tanam 2 (dua) slaag, yang
berkualitas baik.
14.3.2 Engsel pintu dipasang 3 (tiga) buah setiap lembaran daun pintu.
Engsel untuk pintu kayu dipasang 30 cm dari tepi atas dan tepi bawah,
sedang untuk engsel ke 3 (tiga) dipasang ditengah. Pemasangan
dilakukan dengan mur khusus untuk pintu yang dipasang lengkap,
tidak dibenarkan memasang engsel ke pintu dan kusen dengan
menggunakan paku. Penguncian mur harus dilakukan dengan
memutarnya dengan obeng, sehingga seluruh batang masuk dan
menempel kuat ke kayu yang dipasang
14.3.3 Semua kunci tanam harus terpasang dengan kuat pada rangka daun
pintu, dipasang setinggi 90 cm dari lantai atau sesuai gambar.
14.3.4 Untuk alat-alat tersebut diatas sebelum dipasang, Panitia
Pembangunan Sekolah (P2S) wajib memperlihatkan contoh terlebih
dahulu untuk dimintakan persetujuan Konsultan Lapangan
14.3.5 Apabila pada waktu pemasangan alat-alat tersebut tidak sesuai
dengan yang disyaratkan, maka Konsultan Lapangan berhak meminta
bongkar kembali dan diganti dengan alat-alat yang disyaratkan atas
biaya Panitia Pembangunan Sekolah (P2S).
14.3.6 Grendel dan hak angin dipasang dua buah untuk setiap daun jendela.
Pemasangan grendel dan hak angin tersebut harus rapi dan dapat
bekerja dengan baik dan pemasangannya menggunakan sekrup .
14.3.7. Expanyolet dipasang pada daun pintu buka dua (dua lembar daun
pintu pada satu pintu).
14.3.8 Untuk lemari laboratorium, dipasang handle dan kunci khusus .

8
Pasal 15
PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK

15.1. Lingkup Pekerjaan


15.1.1 Pekejaan listrik termasuk pekerjaan instalasinya, merupakan pekerjaan
seluruh sistem listrik secara lengkap, sehingga instalasi ini dapat
bekerja dengan sempurna dan aman.
15.1.2. Pekerjaan tersebut harus dapat menjamin bahwa pada saat
penyerahan pertama (serah terima pekerjaan pertama), instalasi
tersebut sudah dapat dipergunakan.
15.1.2 Komite Pembangunan Sekolah (Panitia Pembangunan Sekolah (P2S))
dengan dibantu oleh Konsultan Lapangan harus mengurus
penyambungan daya listrik ke PLN termasuk pengurusan
administrasinya.,,Generator Set (genset), penyediaan bola lampu,
kabel-kabel, pipa PVC dan tiang listrik. Bila jaringan PLN berjarak 200
m dari lokasi Sekolah maka (Panitia Pembangunan Sekolah (P2S))
wajib menambah tiang listrik, semua biaya resmi akan dibayar oleh
Komite Pembangunan Sekolah (Panitia Pembangunan Sekolah
(P2S)).

15.2. Persyaratan Bahan


15.2.1 Kabel NYA
Kabel berinti tunggal, berlapis bahan isolasi PVC, untuk instalasi
luar/kabel udara. Kode warna isolasi ada warna merah, kuning, biru
dan hitam, lapisan isolasinya hanya 1 lapis sehingga mudah cacat,
tidak tahan air (NYA adalah tipe kabel udara) dan mudah digigit tikus.
Agar aman memakai kabel tipe ini, kabel harus dipasang dalam
pipa/conduit jenis PVC atau saluran tertutup. Sehingga tidak mudah
menjadi sasaran gigitan tikus, dan apabila ada isolasi yang terkelupas
tidak tersentuh langsung oleh orang. (untuk stop kontak minimal yang
boleh digunakan 2,5 mm2 dan sambungan lampu minimal yang boleh
digunakan 1,5 mm2)
15.2.2 Kabel NYM
Kabel memiliki lapisan isolasi PVC (biasanya warna putih atau abu-
abu), ada yang berinti 2, 3 atau 4. Kabel NYM memiliki lapisan isolasi
dua lapis, sehingga tingkat keamanannya lebih baik dari kabel NYA.
(untuk stop kontak minimal yang boleh digunakan 3x2,5 mm 2 dan
sambungan lampu minimal yang boleh digunakan 2x1,5 mm2).
15.2.3 Kabel NYWGBY
kabel berinti 4 yang dilapisi PVC dengan lapisan metal yang
menyelubungi secara keseluruhan sebagai earting conductor
(biasanya warna hitam). Kabel NYWGBY dipergunakan untuk instalasi
tertanam (kabel tanah), dan memiliki lapisan isolasi yang lebih kuat
dari kabel NYM. Kabel NYWGBY memiliki isolasi yang terbuat dari
bahan yang tidak disukai tikus.

9
15.2.4 Stop Kontak in-bow (dipermukaan tembok)
Stop kontak biasa yang dipakai untuk pemasangan di dinding adalah
stop kontak satu phasa, ranting 250 volt, 13 ampere, untuk
pemasangan ketinggian 120 cm diatas lantai, harus mempunyai
terminal phasa, netral / pentanahan.
15.2.5 Stop Kontak in-low (ditanam dalam tembok).
Stop kontak biasa yang dipakai untuk pemasangan di dinding adalah
stop kontak satu phasa, ranting 250 volt, 13 ampere, untuk
pemasangan ketinggian 120 cm diatas lantai, harus mempunyai
terminal phasa, netral / pentanahan, pemasangan diberi landasan
kayu.
15.2.6 Saklar in-low (ditanam dalam tembok)
Saklar harus dari tipe ini dengan rating 250 volt, 10 ampere, single
gang, double gang, untuk pemasangan ketinggian 120 cm diatas
lantai.
15.2.7 Saklar in-bow (dipermukaan tembok)
Saklar harus dari tipe ini dengan rating 250 volt, 10 ampere, single
gang, double gang, untuk pemasangan ketinggian 120 cm diatas
lantai, pemasangan diberi landasan kayu.
15.2.8 Bola lampu pijar, TL (Tube Lamp) dan armaturnya adalah produksi
dalam negeri yang baik, dengan syarat-syarat berikut :
Lampu TL
 Body dari plat besi, tebal minium 0.9 mm, dicat putih didepan,
abu-abu dibelakang.
 Balast produksi dalam negeri atau sejenisnya
 Stater produksi dalam negeri atau sejenisnya
Fitting
 Bagi TL 20 W/220 V besarnya 2,5 micro F + 10 %
 Pengkabelan didalam harus disolder
 Kap produksi lokal atau sekualitas
15.2.9 Sekering BOX yang dilengkapi fuse, switch untuk pembagian group
pemasangan instalasi listrik, Produksi dalam negeri (nasional) atau
sekualitas, dengan arde (pentanahan) dari kabel B.C.
Macam-macam switch/oulet yang digunakan untuk tegangan 220
volt adalah :
 Plug dan socket 1 phase untuk power
Pole : 1 Phase + Neutral + Earth
Tegangan : 220 volt, 1 phase, 50 hz
Rating arus : minimum 25 ampere
Proteksi : soket dengan tutup dan plug locking
Type : Pemasangan di luar diberi landasan kayu
 Sekering BOX
Main Panel terdapat pada panel pertama menerima daya dari
gardu induk PLN ataupun Genset.
Bahan : Rangka profil 30 mm
Cover : Besi plat 2 mm
Module : Minimum (30 x 40) tinggi maksimum 175 cm
Potongan : Puc Standing kuat tdak bergetar
Warna : Abu-abu
15.2.10 Pipa instalasi pelindung kabel.
 Pipa instalasi pelindung kabek feeder yang dipakai adalah
pipa PVC klas AW atau GIP.

10
 Pipa, elbow, socket, junction box, klem dan accessories
lainnya harus sesuai antara satu dengan yang lainnya, yaitu
dengan diameter minimal ¾“.
 Pipa fleksible harus dipasang untuk melindungi kabel antara
kontak sambung (junction box) dan armature lampu.
15.2.11 Pengujian (Testing).
Pengujian (testing) dilakukan dengan disaksikan olek Konsultan
Lapangan yang disyahkan oleh lembaga yang berwenang,
pengujian tersebut meliputi :
 Test ketahanan isolasi.
 Test kekuatan tegangan impuls.
 Test kenaikan temperature.
 Test kontinuitas.

15.3. Pedoman Penggunaan


15.3.1. Kabel NFGBY dipergunakan sebagai penghubung antara main panel
di gardu induk ke distribution panel ditiap-tiap bangunan. Di luar
bangunan dipasang sebagai kabel tanah dengan memperhatikan
peraturan-peratuan yang berlaku.
15.3.2 Kabel NYM dipergunakan sebagai kabel instalasi penerangan di dalam
dinding.
15.3.3.. Kabel NYA dipergunakan sebagai kabel instalasi penerangan.

15.4. Pedoman Pelaksanaan


15.4.1. Pemasangan instalasi listrik dan tata letak titik lampu/stop kontak serta
jenis armatur lampu yang dipakai harus dikerjakan sesuai dengan
gambar instalasi listrik. Sedangkan sistim pemasangan pipa-pipa listrik
pada dinding maupun beton harus ditanam (sistem inbouw) dan
penarikan kabel (jaringan kabel) diatas plafond diikat (klem) khusus
dengan jarak 1,00m atau 1,20 m, atau jaringan kabel diatas plafond
tersebut dimasukkan dalam pipa PVC. Khusus untuk instalasi stop
kontak harus dilengkapi kabel arde (pentanahan) sesuai dengan
peraturan yang berlaku (mencapai dan terendam air tanah).
15.4.2. Pemasangan instalasi listrik berikut penggunaan bahan/
komponen-komponennya harus disesuaikan dengan sistem tegangan
lokal 220 Volt. Daya yang digunakan sebagai berikut:
 Ruang Kantor 6 Ampere
 Ruang Perpustakaan 6 Ampere
 (tiga) RKB 8 Ampere
 KM/WC murid 2 Ampere
15.4.3. Untuk pekerjaan instalasi listrik, atas persetujuan Direktorat PSMP,
Panitia Pembangunan Sekolah (P2S) boleh menunjuk pihak ketiga
(instalatur) yang telah memiliki izin usaha instalasi listrik atau izin
sebagai instalatur yang masih berlaku dari Perum Listrik Negara (PLN).
Panitia Pembangunan Sekolah (P2S) tetap bertanggung jawab penuh
atas pekerjaan ini sampai listrik tersebut menyala (siap digunakan),
termasuk biaya pengujian dengan pihak PLN.
15.4.4 Penyambungan kabel.
 Semua penyambungan kabel harus dilakukan dalam kotak-kotak
penyambungan yang sudah ditentukan (misalnya junction box).
 Komite Pembangunan Panitia Pembangunan Sekolah (P2S)
 harus memberikan brosur-brosur mengenai cara penyambungan
yang dinyatakan oleh pabrik kepada Konsultan Lapangan.
 Kabel-kabel disambung sesuai dengan warna atau nama masing-

11
masing, serta sebelum dan sesudah penyambungan harus
dilakukan pengetesan tahanan isolasi
 Penyambungan kabel tembaga harus mempergunakan dan
dilapisi dengan timah putih dan kuat.
 Penyambungan kabel yang berisolasi PVC harus diisolasi dengan
pipa PVC/protolen yang khusus untuk listrik.
15.4.5 Kode warna insulasi kabel harus mengikuti ketentuan PUIL
sebagaiberikut :
 Fasa 1 : Merah
 Fasa 2 : Kuning
 Fasa 3 : Hitam
 Netral : Biru
 Tanah (ground) : hijau – kuning
15.4.6. Pengujian instalasi listrik harus dilakukan Panitia Pembangunan
Sekolah (P2S) pada beban penuh selama 1 x 24 jam secara terus
menerus. Semua biaya yang timbul akibat pengujian ini menjadi
tanggung jawab Panitia Pembangunan Sekolah (P2S).

Pasal 16
PEKERJAAN PENGECATAN

16.1. Lingkup Pekerjaan


16.1.1 Meni kayu untuk bidang kusen yang melekat ke tembok,
sambungan-sambungan konstruksi kayu pada kuda-kuda dan lain-
lain.
16.1.2 Meni besi untuk baut-baut dan besi strip.
16.1.3 Cat kayu untuk bidang-bidang kayu kusen yang nampak, daun
pintu panel dan ventilasi kayu, listplank, dan list plafon, serta
dinding papan yang dapat dibuka.
16.1.4 Cat tembok untuk dinding yang diplester, bidang-bidang beton dan
plafond.
16.1.5 Residu/Teer untuk kayu kuda-kuda, gording dan rangka atap.

16.2. Bahan-bahan yang digunakan harus berkualitas baik, seperti :


16.2.1 Meni kayu dan besi yang berkualitas baik.
16.2.2 Cat kayu yang berkualitas baik.
16.2.3 Cat tembok yang berkualitas baik.
16.2.4 Residu kualitas baik tidak luntur.
16.2.5 Politur berkualitas baik
16.2.6 Plamur kayu dan dinding berkualitas baik

16.3 Pedoman Pelaksanaan


16.3.1 Pekerjaan pengecatan dilaksanakan setelah pemasangan plafond.
16.3.2 Pekerjaan meni, residu harus betul-betul rata, berwarna sama,
pengecatan minimal 2 (dua) kali.
16.3.3 Pekejaan cat kayu harus dilakukan lapis demi lapis dengan
memperhatikan waktu pengeringan jenis bahan yang digunakan.
- 1 (satu) kali pengerjaan meni kayu/cat dasar.
- 1 (satu) kali lapis pengisi dengan plamur kayu.
- Penghalusan dengan amplas
- Finishing dengan cat kayu sampai rata minimal 2 (dua) kali.
16.3.4 Pengecatan dinding harus dilakukan menurut proses sebagai

12
berikut:
- Penggosokan dinding dengan batu gosok sampai rata dan halus,
setelah itu dilap dengan kain basah hingga bersih.
- Melapis dinding dengan plamur tembok, dipoles sampai rata.
Setelah betul-betul kering digosok dengan amplas halus dan
dilap dengan kain kering yang bersih.
- Pengecatan dengan cat tembok emulsi sampai rata, minimal 2
(dua) kali.
- Pekerjaan cat tembok harus menghasilkan warna merata sama
dan tidak terdapat belang-belang atau noda-noda mengelupas.
16.3.5 Pengecatan plafond harus dilakukan menurut proses berikut :
- Membersihkan bidang plafond yang akan dicat.
- Mengecat plafond 2 (dua) kali, sehingga menghasilkan bidang
pengecatan yang merata sama dan tidak terdapat belang-belang
atau noda-noda mengelupas.
16.3.6 Warna yang digunakan ditentukan oleh Panitia Pembangunan
Sekolah (P2S) dikordinasikan dengan konsultan lapangan

13