Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH BIOKIMIA

PERANAN VITAMIN LARUT DALAM AIR


( NIASIN, ASAM FOLAT DAN ASAM ASKORBAT) DALAM SEL DAN
METABOLISMENYA

OLEH:
KELOMPOK III

ANDI NURUL ANNISA AMIR H031181011


DEWI FATIMAH K.M H031181013
WILDAWATI H031181017

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2020

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai salah satu unsur gizi, keberadaan vitamin sangat penting bagi

tubuh, terutama sebagai pengatur sekaligus pemicu dalam proses metabolisme

tubuh. Namun kebutuhan tubuh terhadap vitamin hanya dalam jumlah yang kecil,

terutama untuk mengawali reaksi kimia dalam sel-sel dan jaringan tubuh.

Vitamin merupakan nutrien organik yang dibutuhkan dalam jumlah kecil

untuk berbagai fungsi biokimiawi dan yang umumnya tidak disintesis oleh tubuh

sehingga harus dipasok dari makanan.Vitamin yang pertama kali ditemukan

adalah vitamin A dan B , dan ternyata masing-masing larut dalam lemak dan larut

dalam air.Kemudian ditemukan lagi vitamin-vitamin yang lain yang juga bersifat

larut dalam lemak atau larut dalam air. Sifat larut dalam lemak atau larut dalam air

dipakai sebagai dasar klasifikasi vitamin.

Vitamin yang larut dalam air,seluruhnya diberi simbol anggota B

kompleks ( kecuali vitamin C ) dan vitamin larut dalam lemak yang baru

ditemukan diberi simbol menurut abjad (vitamin A,D,E,K ).Vitamin yang larut

dalam air tidak pernah dalam keadaan toksisitas di didalam tubuh karena

kelebihan vitamin ini akan dikeluarkan melalui urin. Berangkat dari informasi

tersebut, penulis memutuskan untuk mengkaji lebih lanjut mengenai vitamin larut

air.

2
B. Tujuan Penulisan

Penulisan ini bertujuan sebagai berikut:

1. Mengetahui pengertian vitamin larut air.

2. Mengetahui peranan dari vitamin larut air.

3. Mengetahui proses pencernaan vitamin larut air (niasin (vitamin B3), asam

folat (vitamin B9) dan asam askorbat (vitamin C).

4. Mengetahui proses penyerapan vitamin larut air (niasin (vitamin B3), asam

folat (vitamin B9) dan asam askorbat (vitamin C).

5. Mengetahui proses metabolisme vitamin larut air (niasin (vitamin B3),

asam folat (vitamin B9) dan asam askorbat (vitamin C).

6. Mengetahui dampak kelebihan dan kekurangan vitamin larut air.

7. Mengetahui jenis makanan yang mengandung vitamin larut air.

C. Manfaat Penulisan

1. Diharapkan dapat dijadikan pertimbangan untuk mengkonsumsi vitamin

larut air secukupnya untuk kesehatan tubuh.

2. Diharapkan dapat dijadikan sebagai pemenuhan tugas kelompok

biokimia.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Vitamin Larut Air

Sebaian besar vitamin larut air merupakan komponen sistem yang banyak

terlibat dalam membantu metabolisme energi. Vitamin larut air biasanya tidak

disimpan dalam tubuh dan dikeluarkan melalui urine dalam jumlah kecil. Oleh

sebab itu vitamin larut air perlu dikonsumsi setiap hari untuk mencegah

kekurangan yang dapat mengganggu fungsi tubuh normal.

Vitamin larut air dikelompokkan menjadi vitamin C dan vitamin B

kompleks. Vitamin B kompleks terdiri dari delapan faktor yang saling berkaitan

fungsinya didalam tubuh dan terdapat didalam bahan makanan yang hampir sama.

Fungsinya terkait dalam proses metabolisme sel hidup, baik pada tumbuh-

tumbuhan maupun hewan sebagai koenzim dan kofaktor.

B. Peranan Vitamin Larut Air

1. Asam Askorbat (Vitamin C)

Asam Askorbat (vitamin C) adalah vitamin yang bermanfaat untuk tulang

dan jaringan penghubung, otot dan pembuluh darah. Vitamin ini juga membantu

tubuh untuk menyerap zat besi yang diperlukan untuk produksi sel darah merah.

Pada asupan di atas sekitar 100mg/hari, kapasitas tubuh untuk metabolisme

vitamin C mengalami kejenuhan, dan asupan yang lebih tinggi akan diekskresi

dalam urine. Oleh karena itu peningkatan asupan vitamin C mungkin memberikan

manfaat. Terdapat sangat sedikit buku baik yang menyatakan bahwa vitamin C

4
dosis tinggi dapat mencegah common cold meskipun vitamin ini dapat

mengurangi durasi dan beratnya gejala.

2. Niacin (Vitamin B3)

Niasin merupakan nama generik untuk asam nikotinat dan nikotinamida

yang berfungsi sebagai sumber vitamin tersebut dalam makanan .Asam nikotinat

merupakan derivat asam monokarboksilat dari piridin.

Bentuk aktif sari niasin adalah Nikotinamida Adenin Dinukleotida

(NAD+) dan Nikotinamida Adenin Dinukleotida Fosfat ( NADP+).

Nikotinat merupakan bentuk niasin yang diperlukan untuk sintesis NAD+

dan NADP+ oleh enzim-enzim yangterdapat pada sitosol sebagian besar

sel.Karena itu,setiap nikotinamida dalam makanan, mula-mula mengalami

deamidasi menjadi nikotinat. Dalam sitosol nikotinat diubah menjadidesamido

NAD+ melalui reaksi yang mula-mula dengan 5 -fosforibosil –1pirofosfat (PRPP)

dan kemudian melalui adenilasi dengan ATP.Gugus amido pada glutamin akan

turut membentuk koenzim NAD+. Koenzim ini bisa mengalami fosforilasi lebih

lanjut sehingga terbentuk NADP+.

Nukleotida nikotinmida mempunyai peranan yang luas sebagai koenzim

pada banyak enzim dehidrogenase yang terdapat di dalam sitosol ataupun

mitokondria .Dengan demikian vitamin niasin merupakan komponen kunci pada

banyak lintasan metabolic yang mengenai metabolisme karbohidrat ,liid serta

asam amino.NAD+ dan NADP+ merupakan koenzim pada banyak enzim

oksidorduktase. Enzim-enzim dehidrogenase yang terikat dengan NAD

mengkatalisis reaksi oksidoreduksi dalam lintasan oksidatif misalnya siklus asam

5
sitrat,sedangkan enzim-enzim dehidrogenase yang terikat dengan NADP

ditemukan dalam lintasan yang berhubungan dengan sintesis reduktif misalnya

lintasan pentosa fosfat.

Niasin ditemukan secara luas dalam sebagian besar makanan hewani dan

nabati. Asam amino essensial triptofan dapat diubah menjadi niasin (NAD+)

dimana setiap 60 mg triptofan dapat dihasilkan 1 mg niasin. Terjadinya defisiensi

niasin apabila kandungan makanan kurang mengandung niasin dan triptofan .

Tetapi makanan dengan kandungan leusin yang tinggi dapat menimbulkan

defisiensi niasin karena kadar leusin yang tinggi dalam diet dapat menghambat

kuinolinat fosforibosi transferase yaitu suatu enzim kunci dalam proses konversi

triptofa menjadi NAD+. Piridoksal fosfat yang merupakan bentuk aktif dari

vitamin B6 juga terlibat sebagai kofaktor dalam sintesis NAD+ dari triptofan

.Sehingga defisiensi vitamin B6 dapat mendorong timbulnya defisiensi niasin.

3. Asam Folat (Vitamin B9)

Nama generiknya adalah folasin . Asam folat ini terdiri dari basa pteridin

yang terikat dengan satu molekul masing-masing asam P- aminobenzoat acid

(PABA ) dan asam glutamat. Tetrahidrofolat merupakan bentuk asam folat yang

aktif.

Makanan yang mengandung asam folat akan dipecah oleh enzim-enzim

usus spesifik menjadi monoglutamil folat agar bisa diabsorbsi . kemudian oleh

adanya enzim folat reduktase sebagian besar derivat folat akan direduksi menjadi

tetrahidrofolat dala sel intestinal yang menggunakan NADPH sebagai donor

ekuivalen pereduksi.

6
Tetrahidrofolat ini merupakan pembawa unit-unit satu karbon yang aktif

dalam berbagai reaksi oksidasi yaitu metil, metilen, metenil, formil dan

formimino.Semuanya bisa dikonversikan.

Serin merupakan sumber utama unit satu karbon dalam bentuk gugus

metilen yang secara reversible beralih kepada tetrahidrofolat hingga terbentuk

glisin dan N5, N10 – metilen – H4folat yang mempunyai peranan sentral dalam

metabolisme unit satu karbon. Senyawa di atas dapat direduksi menjadi N5 –

metil – H4folat yang memiliki peranan penting dalam metilasi homosistein

menjadi metionin dengan melibatkan metilkobalamin sebagai kofaktor.

C. Pencernaan Vitamin Larut Air

Vitamin yang larut lemak atau minyak, jika berlebihan tidak dikeluarkan

oleh tubuh, melainkan akan disimpan. Sebaliknya, vitamin yang larut dalam air

yaitu vitamin B kompleks dan C tidak disimpan, melainkan akan dikeluarkan oleh

sistem pembuangan tubuh. Akibatnya selalu dibutuhkan asupan vitamin tersebut

setiap hari. Vitamin yang alami bisa didapat dari produk sayur, buah dan produk

hewani. Seringkali makanan yang terkandung dalam makanan atau minuman tidak

berada dalam keadaan bebas, melainkan terikat, baik secara fisik maupun kimia.

Proses pencernaan makanan, baik didalam lambung dan usus halus akan

membantu melepaskan vitamin dari makanan agar bisa diserap oleh usus.

D. Proses Penyerapan Vitamin Larut Air

Vitamin yang larut dalam air, yaitu vitamin B kompleks dan C, tidak

disimpan, melainkan akan dikeluarkan oleh sistem pembuangan tubuh. Akibatnya,

selalu dibutuhkan asupan vitamin tersebut setiap hari.

7
Proses pencernaan makanan, baik di dalam lambung maupun usus halus

akan membantu melepaskan vitamin dari makanan agar bisa diserap oleh usus.

Vitamin larut air langsung diserap melalui saluran darah dan ditransportasikan ke

hati. Proses dan mekanisme penyerapan vitamin dalam usus halus diperlihatkan

pada Tabel berikut ini.

Jenis vitamin Mekanisme Penyerapan


Asam Askorbat Difusi pasif (lambat) atau menggunakan Na- (cepat)
Niasin Dufusi pasif (mengghunakan Na+)
Asam Folat Menggunakan Na+

E. Proses Metabolisme Vitamin Larut Air

1. Asam Askorbat (Vitamin C)

Asam Askorbat (vitamin C) mudah diabsorsi secara aktif dan mungkin

pula secara difusi pada bagian atas usus halus lalu masuk pada peredaran darah

melalui vena porta. Rata-rata absorsi adalah 90% untuk konsumsi diantara 20 dan

120 Mg sehari. Konsumsi tinggi sampai 12 gram (sebagai pil) hanya diabsorsi

sebanyak 16%. Vitamin C kemudian dibawa kesemua jaringan. Konsentrasi

tertinggi adalah di dalam jaringan adrenal, pituitari, dan retina.

Tanda-tanda definisi vitamin C adalah perubahan kulit, kerapuhan kapiler

darah, perlunakan gusi , gigi tanggal, dan fraktur tulang. Banyaknya gejala

tersebut dapat disebabkan oleh kurangnya sintesis kolagen.

Tubuh dapat menyimpan hingga 1200 Mg Vitamin C bila konsumsi

mencapai 100 Mg sehari. Jumlah ini dapat mencegah terjadinya skorbut selama 3

bulan. Tanda-tanda skorbut akan terjadi bila persendian tinggal 300 Mg.

Konsumsi melebihi taraf kejenuhan berbagai jaringan dikeluarkan melalui urin

8
dalam bentuk asam oksalat. Pada konsumsi melebihi 100 Mg sehari kelebihan

akan dikeluarkan sebagai asam askorbat atau sebagai karbondioksida melalui

pernafasan. Walaupun tubuh mengandung sedikit Vitamin C, sebagian akan tetap

dikeluarkan. Makanan yang tinggi dalam seng atau pektin dapat mengurangi

absorsi sedangkan zat-zat di dalam ekstrat jerut dapat meningkatkan absorsi.

Status Vitamin C ditetapkan melaui tanda-tanda klinik dan pengukuran

Vitamin C di dalam darah. Tanda-tanda klinik antara lain, pendarahan gusi dan

pendarahan kapiler dibawah kulit. Tanda dini kekurangan Vitamin C dapat

diketahui bila kadar Vitamin C darah dibawah 0,20 Mg/dl.

2. Niacin (Vitamin B3)

Didalam usus halus Niasin dihidrolisis dan diabsorsi sebagai asam

nikotinat, Nokotinamida dan Nikotinamida mononukleotida (MNN). Kelebihan

Niasin dibuang melalui urin.

3. Asam Folat (Vitamin B9)

Folat dalam makanan terdapat sebagai poliglutamat yang terlebih dahulu

harus dihidrolisis menjadi bentuk monoglutamat di dalam mukosa usus halus,

sebelum ditrasportasi secara aktif ke dalam sel usus halus. Pencernaan ini

dilakukan oleh enzim hidrolase, terutama conjugase pada mukosa bagian atas usus

halus. Hidrolisis poliglutamat folat dibantu oleh seng.

Definisi vitamin B12 yang menyebabkan definisi fungsional asam folat,

memengaruhi sel yang cepat membelah karena sel ini sangat membutuhkan

timidin untuk membentuk DNA. Secara klinis definisi ini memengaruhi sumsum

tulang, menyebabkan animea megaloblastik.

9
Setelah hidrolisis, monoglutamat folat diikat oleh reseptor folat khusus

pada mikrovili dinding usus halus yang kemungkinan juga merupakan alat angkut

vitamin tersebut. Folat di dalam sel kemudian diubah menjadi 5-metil-

tetrahidrofolat (5-metil-H4 folat) dan dibawah ke hati melalui sirkulasi darah

portal untuk disimpan. Jumlah simpanan folat di dalam tubuh orang dewasa sehat

ditaksir sebanyak 7,5 mg. Hati merupakan tempat simpanan utama folat. Di dalam

hati, asam metil tetrahidrofolat diubah menjadi asam tetrahidrofolat (THFA) dan

gugus metil disumbangkan ke metionin, tetrahidrofolat kemudian bereaksi dengan

enzim poliglutamat sintetase untuk membentuk kembali poliglutamil folat yang

kemudian berikatan dengan bermacam enzim dan melakukan sebagian besar

fungsi metabolik vitamin tersebut. Folat yang dihidrolisis meninggalkan hati dan

bersirkulasi didalam plasma dan empedu sebagai 5-metil-H 4 folat. Setelah diambil

dan digunakan oleh sum-sum tulang belakang, folat bersirkulasi sebagai

poliglutamat didalam poollsimpanan sel darah merah. Folat dikeluarkan melalui

fases dan urin sebagai 5-metil-H4 folat. Jumlah folat yang dikeluarkan tiap hari

melalui fases dan urin hampir sama dengan jumlah yang terdapat dalam simpanan

tubuh, yang umurnya adalah 100 hari.

F. Dampak Kelebihan dan Kekurangan Vitamin Larut Air

1. Asam Askorbat (Vitamin C)

Kekurangan vitamin C dapat menyebabkan pendarahan disekitar gigi dan

merusak pembuluh darah di bawah kulit, menghasilkan pinpoint haemorrhages .

Kekurangan banyak vitamin C berakibat pada sistem syaraf dan ketegangan otot.

Hal ini dapat menyebabkan kerusakan otot seperti juga rasa nyeri, gangguan

10
syaraf dan depresi. Gejala selanjutnya adalah anemia, sering terkena infeksi, kulit

kasar dan kegagalan dalam menyembuhkan luka. Ketika seseorang mengkonsumsi

sejumlah besar vitamin C dalam bentuk suplemen dalam jangka panjang, tubuh

menyesuaikannya dengan menghancurkan dan mengeluarkan kelebihan vitamin C

dari pada biasanya. Jika konsumsi kemudian secara tiba-tiba dikurangi, tubuh

tidak akan menghentikan proses ini, sehingga menyebabkan penyakit kudisan.

Berikut ini gambar perdarahan pada gusi karena kekurangan vitamin C.

Adapun gejala kelebihan vitamin C adalah mual, kejang perut, diare, sakit

kepala, kelelahan dan susah tidur. Hal ini juga dapat mengganggu tes medis, atau

menyebabkan buang air kecil yang berlebihan dan membentuk batu ginjal.

2. Niacin (Vitamin B3)

Kekurangan niacin dapat menyebabkan penyakit pellagra. Penyakit

tersebut menunjukkan gejala seperti dermatitis, diare dan dementia . Hal ini

meluas di bagian selatan US pada awal 1900. Gejala kekurangan niacin lainnya

adalah kehilangan nafsu makan, lemah, pusing dan kebingungan mental. Kulit

dapat menunjukkan gejala dermatitis simetrik bilateral, khususnya pada daerah

11
yang terkena sinar matahari langsung. Dibawah ini adalah penderita penyakit

pellagra.

Niasin ditemukan sebagai nutrient sewaktu penelitian tentang pellagra

dilakukan. Niasin bukan suatu vitamin sejati karena zat ini dapat disintesis dalam

tubuh dari asam amino esensial triptofan. Dua senyawa, asam nikotinat dan

nikotinamida, memiliki aktivitas biologis niasin; fungsi metaboliknya adalah

sebagai cincin nikotinamida pada koenzim NAD dan NADP dalam reaksi

oksidasi/reduksi. Sekitar 60 mg triptofan setara dengan 1 mg niasin dalam

makanan. Kandungan niasin dalam makanan dinyatakan sebagai Mg niasin

ekuivalen = mg niasin yang sudah ada + 1/60 x mg triptofan. Karena sebagai

besar niasin dalam sereal tidak dapat digunakan secara biologis, jumlah ini tidak

diperhitungkan.

Niasin dalam jumlah yang besar dapat menjadi racun pada sistem syaraf,

lemak darah dan gula darah. Gejala – gejala seperti muntah, lidah membengkak

12
dan pingsan dapat terjadi. Lebih lanjut, hal ini dapat berpengaruh pada fungsi hati

dan dapat mengakibatkan tekanan darah rendah.

3. Asam Folat (Vitamin B9)

Kekurangan folat dapat menyebabkan kekurangan darah. Gejalanya bisa

meluas, seperti sel-sel darah merah tidak matang, yang menunjukkan sintesa DNA

yang lambat. Hal ini disebabkan tidak hanya oleh kekurangan folat tetapi juga

oleh kekurangan vitamin B12. Gejala lain dari kekurangan folat adalah rasa panas

pada jantung (heartburn), diare dan sring terkena infeksi karena penekanan pada

sistem kekebalan. Hal ini mempengaruhi sistem syaraf, menyebabkan depresi,

kebingungan mental, kelelahan dan pingsan.

Definisi vitamin B12 yang menyebabkan definisi fungsional asam folat,

memengaruhi sel yang cepat membelah karena sel ini sangat membutuhkan

timidin untuk membentuk DNA. Secara klinis definisi ini memengaruhi sumsum

tulang, menyebabkan animea megaloblastik.

Gejala kekelebihan asam folat adalah diare, susah tidur dan sifat mudah

marah. Folat dengan dosis tinggi dapat menutupi kekurangan vitamn B12, karena

kedua vitamin ini berhubungan.

G. Sumber Vitamin Larut Air

1. Asam Askorbat (Vitamin C)

Sumber vitamin C sebagian besar berasal dari sayuran dan buah-buahan,

terutama buah-buahan segar. Karena itu vitamin C sering disebut fresh food

vitamin. Buah yang masih mentah lebih banyak kandungan vitamin C-nya;

semakin tua buah semakin berkurang kandungan vitamin C-nya. Buah jeruk, baik

13
yang dibekukan maupun yang dikalengkan merupakan sumber vitamin C yang

tinggi. Demikian juga halnya nenas dan jambu. Beberapa buah tergolong buah

yang tidak asam seperti pisang , apel rendah kandungan vitamin C-nya, apalagi

bila produk tersebut dikalengkan. Bayam, brokoli, dan cabe hijau juga merupakan

sumber yang baik, bahkan juga setelah dimasak.

2. Niacin (Vitamin B3)

Sumber utama niasin adalah daging, unggas (ayam, itik, dll) dan ikan

merupakan sumber utama niasin, sama halnya roti dan sereal (biji-bijian) yng

telah diperkaya. Jamur, asparagus, dan sayuran hijau merupakan sumber yang

paling baik.

3. Asam Folat (Vitamin B9)

14
Sumber terbaik untuk folat adalah sayur-sayuran, khususnya sayuran

berdaun hijau. Hati juga mengandung banyak folat. Daging, susu dan produk-

produk susu mengandung sedikit folat.

BAB III

15
PENUTUP

1. Vitamin larut adalah vitamin yang tidak disimpan dalam tubuh dan dikeluarkan

melalui urine dalam jumlah kecil. Oleh sebab itu vitamin larut air perlu

dikonsumsi setiap hari untuk mencegah kekurangan yang dapat mengganggu

fungsi tubuh normal.

DAFTAR PUSTAKA

16
http://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&ved=0CDIQFjAC&url=http
%3A%2F%2Frepository.usu.ac.id%2Fbitstream
%2F123456789%2F3543%2F1%2Fbiokimia-
rusdiana2.pdf&ei=0Z6YT7bYCYHQrQeX96S9AQ&usg=AFQjCNFj2Gyq2
A7B0opRsz7tTpVQ0CA_kw&sig2=u8WGni3sgm39Fg1Qm4xi8w(29
Maret 2020)
http://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&sqi=2&ved=0CHAQFjAC&u
rl=http%3A%2F%2Fimbang.staff.umm.ac.id%2Ffiles
%2F2010%2F02%2FKlasifikasi_dan_Metabilisme_vitamin_imbang.doc&ei
=jvtT5yvA4TJrAfalcGUBA&usg=AFQjCNHYZRWfUgj2JA1S6lJsacNoaH
S3gg&sig2=70iFJN3g4BHJBy992aWJ1Q(29 Maret 2020)
http://www.scribd.com/doc/93310426/Vitamin(29 Maret 2020)
http://asdharpharechu.blogspot.com/(29 Maret 2020)
http://taharuddin.com/pencernaan-penyerapan-vitassmin-dan-mineral.html 2(29
Maret 2020)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3543/3/biokimia-rusdiana2.pdf.txt
(29 Maret 2020)
Almatsier, Sunita. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Pt. Gramedia Pustaka
Utama.(09 Mei 2012)

17