Anda di halaman 1dari 6

PENGAUDITAN I

“PERTANYAAN DAN JAWABAN BAB 7”

OLEH:

Ni Wayan Widya Wedani 1807531147 / 17

JURUSAN AKUNTANSI REGULER DENPASAR

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2020

PERTANYAAN DAN JAWABAN BAB 7


7–1 Bab 6 memperkenalkan delapan tahapan dalam perencanaan suatu audit.
Bagian manakah yang mengevaluasi materialitas dan risiko?
Jawab: Konsep materialitas diterapkan oleh auditor pada tahap perencanaan dan
pelaksanaan audit, serta saat mengevaluasi dampak kesalahan penyajian yang tidak di
koreksi, jika ada terhadap laporan keuangan dan pada saat merumuskan opini dalam
laporan auditor.
7–2 Rumuskan arti “materialitas” sebagaimana di gunakan dalam akuntansi dan
pengauditan. Apakah hubungan antara materialitas dengan frasa
“mendapatkan kenyakinan memadai” sebagaimana digunkan dalam dalam
laporan audit?
Jawab: Materialitas adalah dasar penerapan auditing, terutama standar pekerjaan
lapangan dan standar pelaporan
Hubungan antara materialitas dengan frasa “mendapatkan kenyakinan memadai”
adalah untuk memberi informasi kepada pengguna laporan audit bahwa auditor
tidak menjamin kelanyakan penyajian laporan keuangan .
7–3 Jelaskan mengapa materialitas itu penting tetapi sulit menerapkannya dalam
praktik?
Jawab: Karena materialitas merupakan bagian yang terpenting dalam perencanaan
audit dan merancang suatu strategi audit.
7–4 Apakah yang di maksud dengan menetapkan pertimbangan awal tentang
materialitas? Jelaskan faktor – faktor utama yang berpengaruh terhadap
pertimbangan awal?
Jawab: Pertimbangan awal materialitas yaitu menetapkan strategi audit secara
keseluruhan, auditor harus menentukan materialitas untuk laporan keuangan secara
keseluruhan .
Faktor – faktor utama yang berpengaruh terhadap pertimbangan awal yaitu:
a. Konsep materialitas adalah relatif bukan absolut, yaitu sejumlah kesalahan
penyajian bisa material bagai sebuah perusahaan kecil,tetapi jumlah sekian tiadak
material bagi perusahaan lain yang lebih besar
b. Diperlukan dasar tertentu untuk mengevaluasi materialiatas, mengingat bahwa
materialitas bersifat relative, maka di perlukan suatu dasar untuk menetapkan
apakah kesalahan penyajian di pandang material.
7–5 Faktor - factor kualitatif apa yang harus di pertimbangkan dalam menentukan
apakah kesalahan penyajian mungkin material!
Jawab: (a) Kesalahan penyajian yang menyangkut kecurangan (fraud) di pandang
lebih serius dari pada kekeliruan tidak di sengaja walaupun jumlah rupiahnya sama,
(b) Kesalahan jumlah rupiahnya kecil bisa menjadi material apabila terkait dengan
kewajiban kontraktual, dan (c) Kesalahan penyajian yang kelihatanya tidak material,
bisa menjadi material apabila kesalahan penyajian tersebut mempengaruh tren laba
7 – 6 Jelaskan perbedaan antara materialitas kinerja (performance materiality) dengan
pertimbangan awal tentang materialitas bagaimanakah hubungan antara
keduanya?
Jawab: Pertimbangan awal materialitas yaitu menetapkan strategi audit secara
keseluruhan, auditor harus menetukan materialitas untuk laporan keuangan secara
keseluruhan materialitas kinerja adalah suatu jumlah yang ditetapkan oleh auditor,
pada tingkat yang lebih rendah dari pada materialitas untuk laporan keuangan secara
keseluruhan.
7–7 Berikan dua contoh kapan auditor mungkin akan menetapkan materialitas pada
tingkat rendah untuk suatu kelompok transaksi, saldo akun, atau pengungkapan
tertentu?
Jawab: Contoh: (1) Untuk suatu piutang usaha bersaldo 1 juta, auditor harus
mengumpulkan bukti yang lebih banyak apabila kesalahan penyajian sebesar 50 ribu
di pandang material, dari pada apabilah kesalahan penyajian sebesar 300 ribu, di
pandang material. (2) Pengguna laporan keuangan mungkin mengharapkan adanya
pengungkapan tentang transaksi dengan pihak yang berelasi yang melibatkan CEO.
7–8 Dimisalkan materialitas untuk laporan keuangan sebagai keseluruhan adalah
Rp 100.000 dan materialitas kinerja untuk piutang usaha ditetapkan Rp40.000,
apabila auditor menemukan sebuah piutang lebih saji sebesar Rp55.000 apa
yang harus dilakukan auditor?
Jawab: Meneliti dan mengawasi apakah sistem pengawasan intern tetap memenuhi
fungsinya dengan mengadakan pemeriksaan yang kontinue di dalam perusahaan yang
didahului dengan melakukan pengecekan secara fisik suatu transaksi guna
mengumpulkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara akurat.
7–9 Sebutkan apa yang di maksud dengan model risiko audit, dan jelaskan setiap
faktor dalam model tersebut juga jelaskan, dua faktor dalam model tersebut
yang apabila di gabungkan akan mencerminkan risiko kesalahan penyajian
material!
Jawab: Model resiko audit adalah suatu model yang menggambarkan hubungan
umum berbagai kompenen risiko audit dalam istilah matematikuntuk mencapai
tingkat risiko deteksi yang dapat diterima. Dua factor yaitu:
(1) Tingkat laporan keuangan secara keseluruhan
(2) Tingkat asersi untk golongan transaksi , saldo , akun ,dan pengungkapan .
7 – 10 Jelaskan penyebab kenaikan atau penurunan risiko deteksi direncanakan?
Jawab: (1) Risiko deteksi merupakan dependen dari tiga faktor lain yang tercakup
dalam model risiko ini akan berubah hanya apabila auditor mengubah salah satu (atau
lebih) faktor lain dalam model risiko. (2) Risiko deteksi menetukan jumlah bukti
subtantif yang direncanakan akan dikumpulkan auditor yang di kembaliakn dengan
ukuran risiko deteksi.
7 – 11 Jelaskan apa yang di maksud dengan risiko inheren tunjukkan empat faktor
yang menyebabkan risiko inheren yang tinggi dalam audit?
Jawab: Risiko inheren merupakan kerentanan suatu asersi tentang suatu golongan
transaksi, saldo akun, atau pengungkapan terhadap suatu kesalahan penyajian yang
mungkin material, baik secara individual maupun secara kolektif.
Empat faktor: sifat bisnis klien, hasil audit periode sebelumnya, penugasan baru atau
penugasan ulangan, pihak – pihak yang berelasi.
7 – 12 Jelaskan mengapa risiko inheren di tetapkan untuk tujuan audit per segmen?
Jawab: Risiko inheren dan risiko pengendalian tidak ditetapkan untuk audit sebagai
keseluruhan, melainkan di tetapkan untuk setiap siklus, setiap akun dalam suatu
siklus, bahkan kadang – kadang untuk setiap tujuan audit pada suatu akun
7 – 13 Jelaskan pengaruh dari kesalahan penyajian yang besar yang ditemukan dalam
audit tahun lalu, terhadap risiko inheren , risiko deteksi yang direncanakan,
dan bukti audit yang di rencanakan ?
Jawab: Sekembalinya ke meja, penyusunan laporan meneliti kembali item-item yang
tersaji dalam laporan keuangan yang print outnya sudah dibagi-bagikan ke pihak
manajemen, lalu menemukan beberapa kesalahan. Dalam skenario yang lebih parah,
sudah banyak terjadi di luar sana, pertimbangan materialitas banyak digunakan
sebagai alasan untuk membenarkan pembiaran salah-saji, sejak di awal, bahkan untuk
kesalahan yang disengaja. Adalah kenyatakaan bahwa pertimbangan materialitas
kerap disalahgunakan tentunya oleh manajemen yang tidak disadari oleh akuntan.
7 – 14 Jelaskan apa yang dimaksud dengan risiko audit bisa diterima, apakah
relevansinya terhadap bukti yang harus di kumpulan?
Jawab: Risiko audit bisa diterima adalah ukuran ketersediaan auditor untuk
menerima bahwa laporan keuangan salah saji secara material, walaupun audit setelah
selesai dan pendapatan wajar tanpa pengecualian telah diberikan. dalam relevansi
terhadap bukti dikumpulkan auditor harus senantiasa menggunakan skeptimensme
profesional
7 – 15 Jelaskan mengapa terhadap hubungan terbalik, antara risiko deteksi
direncanakan dengan jumlah bukti yang harus dikumpulkan auditor untuk
suatu tujuan khusus audit tertentu?
Jawab: Risiko deteksi adalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat mendeteksi
salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi. Risiko deteksi ditentukan oleh
efektivitas prosedur audit dan penerapannya oleh auditor. Risiko ini timbul sebagai
karena ketidakpastian yang ada pada waktu auditor tidak memeriksa 100% saldo akun
atau golongan transaksi, dan sebagian lagi karena ketidakpastian lain yang ada,
walaupun saldo akun atau golongan transaksi tersebut diperiksa 100%.
7 – 16 Jelaskan keadaan - keadaan yang menyebabkan auditor harus merevisi
kompenen-kompenen dalam model risiko audit dan pengaruh revisi tersebut
terhadap deteksi di rencanakan serta bukti direncanakan?
Jawab: Apabila kita menggunakan model risiko audit, didalamnya terkandung
hubungan langsung antara risiko audit yang bisa diterima dengan risiko deteksi, dan
terdapat hubungan berkebalikan antara risiko audit dengan bukti yang harus
dikumpulkan. apabila auditor memutuskan untuk menurunkan risiko audit yang bisa
diterima maka risiko deteksi juga akan turun, dan bukti yang harus dikumpulkan akan
naik.
7 – 17 Jelaskan bagaimana hubungan antara risiko audit dengan materialitas dan
mengapa keduanya perlu di pertimbangkan bersama – sama dalam
perencanaan suatu audit?
Jawab: Materialitas adalah salah satu dari faktor-faktor yang mempengaruhi
pertimbangan auditor mengenai kecukupan (kuantitas yang diperlukan) bahan bukti.
Ada perbedaan antara istilah materialitas dengan saldo akun material. Contohnya,
secara umum adalah benar mengatakan bahwa semakin rendah tingkat materialitas,
semakin besar jumlah bukti yang diperlukan (hubungan terbalik). Secara umum juga
benar untuk mengatakan bahwa semakin besar atau semakin signifikan suatu saldo
akun, maka semakin besar jumlah bukti yang diperlukan (hubungan langsung).