Anda di halaman 1dari 24

KONSEP KELUARGA, KELUARGA SEJAHTERA DAN

KEPERAWATAN KELUARGA

Disusun Oleh :

KELOMPOK I
1. Gina Hartina 21117057
2. Hani Nur Azizah 21117058
3. Helison 21117059
4. Indah Ayu Hoca 21117068
5. Muhammad Ikhlas 21117078
6. Nila Wahyuni 21117088
7. Nursyamsi Oktariani 21117090
8. Rahmadiya Rendra 21117096

Dosen Pembimbing : Septi Ardianty, S.Kep.,Ns.,M.Kep


Matakuliah : Keperawatan Keluarga

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


MUHAMMADIYAH PALEMBANG
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan
karunia yang telah diberikan kepada kami sehingga bisa menyelesaikan Makalah
Keperawatan Keluarga tentang “KONSEP KELUARGA, KELUARGA SEJAHTERA,
DAN KEPERAWATAN KELUARGA.” Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit
hambatan yang kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa  dalam penyusunan materi ini
tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan dari beberapa orang, sehingga kendala-
kendala yang kami hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih
kepada:

1. ALLAH SWT yang telah memberikan kami rezeki, rahmat, dan karunia-Nya sehingga
kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik
2. Ibu Septi Ardianty, S.Kep.,Ns.,M.Kep selaku dosen mata kuliah Keperawatan Keluarga
yang telah memberikan instruksi kepada kami sehingga kami termotivasi dan
menyelesaikan tugas makalah ini.
3. Rekan kelompok yang telah turut membantu dan mengatasi berbagai kesulitan
sehingga tugas ini selesai.

Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada
teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk
itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini dan bila untuk makalah selanjutnya.

Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak
yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat
tercapai, Aamiiin

Palembang, 09 Maret 2020

Penulis  

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.......................................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan............................................................................................ 2
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Konsep Keluarga............................................................................................ 3
B. Konsep Keluarga Sejahtera............................................................................ 16
C. Peran Perawat dalam Asuhan Keperawatan Keluarga................................... 19
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................................... 20
B. Saran............................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 21

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keluarga merupakan bagian dari manusia yang setiap hari selalu berhubungan
dengan kita. keadaan ini perlu kita sadari sepenuhnya bahwa setiap individu merupakan
bagiannya dani keluarga juga semua dapat diekspresikan tanpa hambatan yang berarti.
Keperawatan keluarga merupakan tingkat keperawatan kesehatan masyarakat yang
ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau satu kesatuan yang dirawat,
dengan sehat sebagai tujuan dan perawatan sebagai penyalur. Sasaran keperawatan
keluarga yaitu individu, family atau keluarga dn community atau masyarakat. Prinsip
utama dalam perawatan kesehatan masyarakat mengatakan bahwa keluarga adalah unit
atau kesatuan dari pelayanan kesehatan.
Salah satu aspek penting dalam keperawatan adalah keluarga. Keluarga adalah
unit terkecil dalam masyarakat merupakan klien keperawatan atau si penerima asuhan
keperawatan. Keluarga berperan dalam menentukan cara asuhan yang diperlukan anggota
keluarga yang sakit. Secara empiris dapat dikatakan bahwa kesehatan anggota keluarga
menjadi sangat berhubungan atau signifikan.
Prioritas tertinggi dari keluarga adalah kesejahteraan anggota keluarganya. Hal ini
tercapai apabila fungsi-fungsi dari keluarga untuk memenuhi kebutuhan tiap individu
yang ada dalam keluarga dapat tercapai dan terpenuhi.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari keluarga?
2. Apa tujuan dasar dari keluarga?
3. Bagaimana struktur dari keluarga?
4. Apa saja fungsi dari keluarga?
5. Apa saja tugas dari keluarga?
6. Apa saja ciri – ciri keluarga?
7. Apa saja tipe dari keluarga?
8. Bagaimana konsep keluarga sejahtera.
9. Apa saja peran perawat dalam asuhan keperawatan keluarga.

1
C. Tujuan Penulisan
1. Mahasiswa mampu memahami pengertian keluarga.
2. Mahasiswa mampu memahami tujuan dasar keluarga
3. Mahasiswa mampu memahami struktur keluarga
4. Mahasiswa mampu memahami fungsi keluarga
5. Mahasiswa mampu memahami tugas keluarga
6. Mahasiswa mampu memahami ciri – ciri keluarga
7. Mahasiswa mampu memahami tipe keluarga
8. Mahasiswa mampu memahami Bagaimana konsep keluarga sejahtera.
9. Mahasiswa mampu memahami peran perawat dalam asuhan keperawatan keluarga.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Keluarga
1. Pengertian Keluarga
Pengertian Keluarga sangat variatif sesuai dengan orientasi teori yang menjadi
dasar pendefisiannya. Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta ( Kula dan warga)
kaluarga yang berarti anggota kelompok kerabat.
Banyak ahli menguraikan pengertian keluarga sesuai dengan perkembangan
sosial masyarakat. Berikut akan dikemukakan beberapa pengertian keluarga :
a. UU No. 10 tahun (1992) mengemukakan keluarga adalah unit terkecil dari
masyarakat yang terdiri dari suami, istri, dan anak atau suami istri, atau ayah dan
anaknya , atau ibu dan anaknya.
b. Depkes RI (1988) mendefinisikan keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat
yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal
di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
c. Sayekti (1994) mendifinisikan keluarga adalah suatu ikatan atau persekutuan hidup
atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup
bersama atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak,
baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.
d. Johnson's (1992) mendefinisikan keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih
yang mempunyai hubungan darah yang sama atau tidak, yang terlihat dalam
kehidupan terus menerus, yang tinggal dalam satu atap, mempunyai ikatan
emosional dan mempunyai kewajiban antara satu orang dengan lainnya.
e. Friedman (1998) mendifinisikan keluarga sebagai suatu system social. Keluarga
merupakan sebuah kelompok kecil yang terdiri dari individu-individu yang
memiliki hubungan erat satu sama lain, saling tergantung yang diorganisir dalam
satu unit tunggal dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan secara umum bahwa
keluarga itu terjadi jikalau ada :

3
a. Ikatan atau pesekutuan (perkawinan/kesepakatan)
b. Hubungan ( darah/ adopsi / kesepakatan)
c. Ikatan emosional
d. Tinggal bersama dalam satu atap (serumah) dan jika terpisah mereka tetap
memperhatikan satu sama lain
e. Ada peran masing-masing anggota keluarga
f. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain
g. Mempunyai tujuan :
1) Menciptakan dan mempertahankan budaya.
2) Meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, sosial anggota.

2. Tujuan dasar keluarga


Karena keluarga merupakan unit dasar dari masyarakat. Unit dasar ini
memiliki pengaruh yang begitu kuat terhadap perkembangan individu-individu yang
dapat menentukan keberhasilan kehidupan individu tersebut. Keluarga berfungsi
sebagai buffer atau sebagai perantara antara masyarakat dan individu, yakni
mewujudkan semua harapan dan kewajiban masyarakat dengan memenuhi kebutuhan
setiap anggota keluarga serta menyiapkan peran anggotanya menerima peran di
masyarakat.

3. Struktur Keluarga
Struktur keluarga menggambarkan bagaimana keluarga melaksanakan fungsi
keluarga di masyarakat. Ada beberapa struktur keluarga yang ada di Indonesia yang
terdiri dari bermacam – macam, diantaranya adalah :
a. Patrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ayah.
b. Matrilimeal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ibu.
c. Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah ibu.
4
d. Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
ayah.
e. Keluarga kawin
Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan
beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan
dengan suami atau istri.

a. Ciri-ciri struktur keluarga


1) Terorganisasi : saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota
keluarga
2) Ada keterbatasan : setiap anggota memiliki kebebasan, tetapi mereka juga
mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing –
masing.
3) Ada perbedaan dan kekhususan : setiap anggota keluarga mempunyai peranan
dan fungsinya masing – masing.
Salah satu pendekatan dalam asuhan keperawatan keluarga adalah
pendekatan structural fungsional. Struktur keluarga menyatakan bagaimana
keluarga disusun atau bagaimana unit – unit ditata dan saling terkait satu sama lain.
Beberapa ahli meletakkan struktur pada bentuk atau tipe keluarga, namun ada juga
yang memandang struktur keluarga yang menggambarkan subsistem –
subsistemnya sebagai dimensi struktural. Struktural dimaksud adalah :

5
ROLE K

P STRUKTUR KELUARGA M

U
O
N
W I

E K

A
R
S

NILAI/NORMA I

b. Struktur peran ( role )


Peran menunjukkan pada beberapa set perilaku yang bersifat homogen
dalam situasi sosial tertentu. Peran lahir dari hasil interaksi sosial, peran biasanya
menyangkut posisi dan posisi mengidentifikasi status atau tempat seseorang dalam
suatu system sosial tertentu.

Harapan masyarakat Perilaku peran


menyangkut peran (Performa peram)

Model peran Penerima peran

Kepribadian
Temperamen
Sikap
Kebutuhan

6
1) Peran –peran formal keluarga
Peran adalah sesuatu yang diharapkan secara normatife dari seorang
dalam situasi sosial tertentu agar dapat memenuhi harapan – harapan. Peran
keluarga adalah tingkah laku spesifik yang diharapkan oleh seseorang dalam
konteks keluarga. Jadi peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku
interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi
dan situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan
pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.
Peran formal berkaitan dengan posisi formal keluarga, bersifat
homogen. Peran formal yang standar dalam keluarga seperti pencari nafkah, ibu
rumah tangga, pengasuh anak, sopir, tukang perbaiki rumah, tikang masak, dan
lain – lain. Jika dalam keluarga hanya terdapat sedikit orang untuk memenuhi
peran tersebut, maka anggota keluarga berkesempatan untuk memerankan
beberapa peran pada waktu yang berbeda.
a) Peran parental dan perkawinan
Terdapat enam peran dasar yang membentuk posisi sosial sebagai
suami (ayah) dan istri (ibu), yakni peran :
 Sebagai provider (penyedia)
 Sebagai pengatur rumah tangga
 Perawatan anak
 Rekreasi
 Persaudaraan (kinship)
 Terapeutik (memenuhi kebutuhan efektif pasangan)
 Seksual
b) Peran – peran dalam keluarga
Pada saat ini peran – peran dalam keluarga banyak mengalami
perubahan seiring dengan adanya emansipasi. Wanita saat ini tidak lagi
semata – mata sebagai ibu rumah tangga atau pengasuh anak, melainkan

7
mereka juga bekerja atau mencari nafkah, hal yang sama juga terjadi pada
pria.
c) Peran seksual perkawinan
Di masa lalu priamemiliki hak untuk menentukan kegiatan seksual
dengan istrinya, tetapi tidak merasa punya kewajiban memberi kepuasan
pada istri. Tetapi sekarang, wanita juga berhak mendapat kenikmatan
hubungan seksual sehingga sifat peran seksual bagi keduanya berubah.
d) Peran ikatan keluarga atau kinkeeping
Sampai saat ini wanita berperan sebagai penerus keturunan
(kinkeeping) dan peran sebagai pengikat hubungan keluarga dengan
memelihara komunikasi dan memantau perkembangan keluarga. Jika orang
tua mereka sudah tua, maka mereka akan kembali pada anak wanita. Peran
tersebut membuat wanitamenjadi generasi terjepit dan jenis kelamin
terjepit, karean dia terperangkap antara memenuhi kebutuhan orang tua dan
anak – anaknya dalam jangka waktu yang lama.
e) Peran kakek/nenek
Belum ada kesepatan menyangkut apakah keterlibatan kakek.nenek
mempunyai efek langsung positif terhadap perilaku cucu. Namun Bengston
(1985) membagi fungsi – fungsi simbolis kakek/nenek adalah :
 Semata – mata hanya hadir dalam keluarga
 Bertindak sebagai pengawal keluarga
 Menjadi hakim/negoisator antara anak dan orang tua
 Menjadi partisipan dalam sejarah keluarga
2) Peran – peran informal kluarga
Peran – peran informal ( peran tertutup ) biasanya bersifat implisit, tidak
tampak ke permukaan dan dimainkan hanya untuk memenuhi kebutuhan
emosional atauuntuk menjaga keseimbangan keluarga. Peran – peran informal
mempunyai tuntutan yang berbeda,tidak terlalu didasarkan pada usia, jenis
kelamin, namun lebih didasarkan pada personalitas anggota keluarga. Peran –
peran informal tidak mutlak membuat stabil keluarga, ada yang bersifat adaptif

8
bahkan ada yang dapat merusak kesejahteraan keluarga. Peran tersebut
diantaranya adalah : pendorong, pengharmonis, inisiator-konstributor,
pendamai, penghalang, dominator, penyalah, pengikut, pencari pengakuan,
matrik, keras hati, sahabat, kambing hitam keluarga, penghibur, perawat
keluarga, pionor keluarga, distraktor dan tidak relevan, koordinator keluarga,
penghubung keluarga dan saksi.
c. Struktur nilai (value)
Nilai adalah sistem ide- ide, sikap dan keyakinan yang mengikat anggota
keluarga dalam budaya tertentu, sedangkan norma adalah pola perilaku yang
diterima pada lingkungan sosial tertentu. Sistem nilai keluarga dianggap sangat
mempengaruhi nilai- nilai masyarakat. Sebuah nilai dari keluarga akan membentuk
tingkah pola laku dalam menghadapi masalah yang dialami keluarga. Keyakinan
dan nilai- nilai ini akan menentukan bagaiman keluarga mengatasi masalah
kesehatan dan stresor- stresor lain.
d. Proses komunikasi
Komunikasi keluarga merupakan suatu proses simbolik, transaksional untuk
menciptakan dan mengungkapkan pengertian dalam keluarga. Komunikasi yang
jelas dan fungsional dalam keluarga merupakan sarana penting untuk
mengembangkan makna diri.
1) Komunikasi fungsional dalam keluarga
Komunikasi fungsional dipandang sebagai kunci keberhasilan keluarga.
Komunikasi dalam keluarga yang sehat merupakan proses dua arah yang
dinamis, sehingga tercipta interaksi fungsional.
a) Pengirim fungsional
 Tegas menyatakan masalahnya/ kasus
 Menjelaskan dan mengubah pernyataan
 Meminta umpan balik
 Menerima umpan balik
b) Penerima fungsional
 Pendengar secara efektif

9
 Member umpan balik
 Melakukan validasi
2) Komunikasi disfungsional dalam keluarga
Komunikasi disfungsional diartikan sebagai pengiriman dan penerimaan
isi dari pesan yang tidak jela, tidak langsung atau tidak sepadan. Faktor utama
sebagai penyebabnya adalah harga diri keluarga, khususnya orang tua rendah.
Penyebab rendah dari diri itu sendiri, perlu persetujuan total dan kurangnya
empati.
a) Pengirim disfungsional
 Menggunakan asumsi- asumsi
 Ekspresi tidak jelas
 Menghakimi
 Tidak mampu mengungkapkan kebutuhan
 Tidak konsisten
b) Penerima disfungsional
 Gagal mendengar
 Diskualifikasi
 Kurang eksplorasi
 Kurang validasi
e. Struktur kekuasaan (power)
Kekuasaan keluarga adalah kemampuan (potensial atau aktual) individu
untuk mengontrol, mempengaruhi dan mengubah tingkah laku anggota keluarga.
Komponen utama dari kekuasaan keluarga adalah pengaruh dan pengambilan
keputusan. Pngaruh sinomim dengan kekuasaan yaitu tingkat penggunaan tekanan
oleh anggota keluarga dan berhasil dalam memaksakan pandangannya, sedangkan
pengambilan keputusan menunjukan pada proses pencapaian kesepakatan dan
persetujuan anggotakeluarga untuk melakukan serangkaian tindakan atau menjaga
status quo bentuk-bentu kekuasaan yang lazim terjaadi dalam keluarga adalah:
1) Kekuasaan yang sah ( legitimate power)
2) Kekuasaan tak berdaya atau putus asa

10
3) Kekuasaan referen
4) Kekuasaan sumber/ ahli (expert power)
5) Kekuasaan penghargaan (reward power)
6) Kekuasaan memaksa (coercive power)
7) Kekuasaan efektif
8) Kekuasaan management ketegangan
Dalam perkembangannya kekuasaan dipengaruhi opeh: hirarki kekuasaan
keluarga, tipe keluarga, koalisi, jaringan komunikasi, keelas sosial, tahap
perkembangan keluarga, latar belakang budaya dan agama, variable, individu
dan ketergantungan emosi.

4. Fungsi keluarga
Berkaitan dengan peran keluarga yang bersifat ganda, yakni satu sisi keluarga
berperan sebagai matriks bagi anggotanya, disisi lain keluarga harus memenuhi
tuntutan dan harapan masyarakat, maka selanjutnya akan ibahas tentang fungsi
keluarga sebagai berikut :
Friedman (1998) mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga, yakni :
a. Fungsi afektif
Fungsi afektif berhubungan dengan fungsi internal keluarga yang
merupakan basis kekuatan dari keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan
kebutuhan psikososial. Keberhasilan fungsi afektif tampak melalui keluarga yang
bahagia. Anggota keluara mengembangkan konsep diri yang positif, rasa dimiliki
dan memiliki, rasa berarti serta merupakan sumber kasih sayang. Reinforcement
dan support dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dalam keluarga.
Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga untuk memenuhi fungsi
afektif adalah :
1) Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima dan mendukung.
Setiap anggota keluarga yang mendapat kasih sayang dan dukungan, maka
kemampuannya untuk Memberi akan meningkat sehingga tercipta hubungan
yang hangat dan saling mendukung. Hubungan yang baik dalam keluarga

11
tersebut akan menjadi dasar dalam membina hubungan dengan orang lain diluar
keluarga.
2) Saling menghargai, dengan mempertahankan iklim yang positif dimana setiap
anggota keluarga baik orang tua maupun anak diakui dan dihargai keberadaan
dan haknya.
3) Ikatan dan identifikasi, ikatan ini mulai sejak pasangan sepakat hidup baru.
Kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan berbagaiaspek kehidupan
dan keinginan yang tidak dapat dicapai sendiri, misalnya mempunyai anak.
Hubungan selanjutnya akan dikembangkan menjadi hubungan orang tua-anak
dan antar anak melalui proses identifikasi. Proses identifikasi merupakan inti
ikatan kasih sayang, oleh karena itu perlu diciptakan proses identifikasi yang
positif dimana anak meniru perilaku orangtua melalui hubungan interaksi
mereka.
Fungsi efektif merupakan sumber energi yang menetukan kebahagiaan
keluarga. Sering perceraian, kenalan anak atau masalah keluarga lainnya timbul
akibat fungsi efektif keluarga yang tidak terpenuhi.
b. Fungsi sosialisasi
Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dialami
individu yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan
sosial (Gages,1979 dan Friedman,1998), sedangkan soekanto (2000)
mengemukakan bahwa sosialisasi adalah suatu proses dimana anggota masyarakat
yang baru mempelajari norma-norma masyarakat dimana dia menjadi anggota.
Sosialisasi dimulai sejak individu dilahirkan dan berakhir setelah meningal.
Keluarga merupakan tempat dimana individu melakukan sosialisasasi. Tahap
perkembangan individu dan keluarga akan dicapai melalui interaksi atau hubungan
yang diwujudkan dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, memiliki
nilai/norma, budaya dan perilaku melalui interaksi dalam keluarga sehingga
individu mampu berperan di masyarakat.
c. Fungsi reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan
meningkatkan sumber daya manusia. Dengan adanya program keluarga berencana,
12
maka fungsi ini sedikit dapat terkontrol. Namun disisi lain banyak kelahiran yang
tidak diharapkan atau diluar ikatan perkawinan sehingga lahirnya keluarga baru
dengan satu orangtua (single prent).
d. Fungsi ekonomi
Untuk memenuhi keburutuhan anggota keluarga seperti makanan, pakaian
dan rumah, maka keluarga memerlukan sumber keuangan. Fungsi ini sulit
dipenuhi oleh keluarga dibawah garis kemiskinan (Gakin atau pra keluarga
sejahtera). Perawat berkontribusi untuk mencari sumber di masyarakt yang dapat
digunakan keluarga meningkatkan status kesehatan mereka.
e. Fungsi perawatan kesehatan
Fungsi lain keluarga adalah fungsi perawatan kesehatan. Selain keluarga
menyediakan makanan, pakaian dan rumah, keluarga juga berfungsi melakukan
asuhan kesehatan terhadap anggotanya baik untuk mencegah terjadinya gangguan
maupun merawat anggota yang sakit. Keluarga juga menentukan kapan anggota
keluarga yang mengalami gangguan kesehatan memerlukan bantuan atau
pertolongan tenaga professional. Kemampuan ini sangat mempengaruhi status
kesehatan individu dan keluarga.
Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaaan kesehatan terhadap
anggotanya dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksankan. Tugas
kesehatan keluarga tersebut adalah (Frieman, 1998) :
1) Mengenal masalah kesehatan
2) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat
3) Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit
4) Mempertahankan suasana rumah yang sehat
5) Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat.

5. Tugas keluarga
Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut :
a. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
b. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.

13
c. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-
masing.
d. Sosialisasi antar anggota keluarga.
e. Pengaturan jumlah anggota keluarga.
f. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
g. Membuktikan dorongan dan semangat para anggotanya.

6. Ciri-ciri keluarga
a. Menurut Robert Mac Iver dan Charles Horton
1) Keluarga merupakan hubungan perkawainan.
2) Keluarga berbentuk suatu kelembagaan yang berkaitan dengan hubungan
perkawinan yang sengaja dibentuk atau dipelihara.
3) Keluarga mempunyai suatu system tata nama (Nomen Ciatur) termasuk
perhitungan garis keturunan.
4) Keluarga mempunyai fungsi ekonomi yang dibentuk oleh anggota-anggotanya
berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan
anak.
5) Keluarga merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau rumah tangga.
b. Ciri keluarga indonesia
1) Mempunyai ikatan yang sangat erat dengandilandasi semangat gotong royong
2) Dijiwai oleh nilai kebudayaan ketimuran.
3) Umumnya dipimpin oleh suami meskipun proses pemutusan dilakukan secara
musyawarah.
4) Berbentuk monogram.
5) Bertanggung jawab.
6) Mempunyai semangat gotong royong.

7. Tipe Keluarga
Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai macam
pola kehidupan. Sesuai dengan perkembangan sosial maka tipe keluarga berkembang

14
mengikutinya agar dapat mengupayakan peran serta keluarga dalammeningkatkan
derajat kesehatan maka perawat perlu mengetahui berbagai tipe keluarga.
Dalam sosiologi keluarga berbagai bentuk keluarga digolongkan sebagai tipe
keluarga tradisional dan non tradisional atau bentuk normative atau non normative.
Sussman (1974), Macklin (1988) menjelaskan tipe – tipe keluarga sebagai berikut :
a. Keluarga tradisional
1) Keluarga inti, yaitu terdiri dari suami, istri dan anak. Biasanya keluarga yang
melakukan perkawinan pertama atau keluarga dengan oran tua campuran atau
orang tua istri.
2) Pasangan istri, terdiri dari suami dan istri saja tanpa anak, atau tidak ada anak
yang tinggal bersama mereka. Biasanya eluarga dengan karier tunggal atau
karier keduanya.
3) Keluarga dengan orang tua tunggal, biasanya sebagai konsekuensi dari
perceraian.
4) Bujangan dewasa sendirian.
5) Keluarga besar, terdiri keluarga inti dan orang – orang yang berhubungan.
6) Pasangan usia lanjut, keluarga inti dimana suami istri sudah tua anak – anaknya
sudah berpisah.
b. Keluarga non tradisional
1) Keluarga dengan orang tua beranak tanpa menikah, biasanya ibu dan anak.
2) Pasangan yang memiliki anak tapi tidak menikah, didasarkan pada hukum
tertentu.
3) Pasangan kumpul kebo, kumpul bersama tanpa menikah.
4) Keluarga gay atau lesbian, orang – orang berjenis kelamin yang sama hidup
bersama sebagai pasangan yang menikah.
5) Keluarga komuni, keluarga yang terdiri dari lebih dari satu pasangan
monogamy dengan anak – anak secara bersama menggunakan fasilitas, sumber
yang sama.

15
B. Konsep Keluarga Sejahtera
1. Definisi Keluarga Sejahtera
Keluarga sejahtera menurut UU No.10 tahun 1992 menyatakan bahwa keluarga
sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang syah,
mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak. bertaqwa
kepada tuhan yang maha esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras, dan
seimbangantar anggota dan antar keluarga dengan mayarakat dan lingkungan.

2. Tujuan
a. Masa lalu
Meletakkan landasan diterimanya norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.
b. Masa kini
Keluarga menjadi kekuatan pembangunan yang dinamisdan handal, sehingga
generasi yans akan dating dapat membentuk keluarga yang sejahtera pula.

3. Klasifikasi keluarga
a. Keluarga Prasejahtera
Yaitu keluarga yang belum edapat memenuhi kebutuhan dasar secara
minimal yaitu ke- butuhan pengajaran agama, pangan, sandang, papan dan
kesehatanatau keluarga yang belum dapat memenuhi salah satu atau lebih indicator
keluarga tahap 1.
b. Keluarga sejahtera
1) Keluarga sejahtera tahap 1 (KS I)
Keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan dasar minimal, tetapi
belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan sosial psikologisnya, yaitu
kebutuhan pendidikan, KB, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan
lingkungan tempat tinggal dan transportasi.
2) Keluarga sejahtera tahap Il (KS II)
Yaitu Keluarga yang telah memenuhi seluruh kebutuhan sosial
psikologisnya, tetapi belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan pengembangan
yaitu kebutuhan untuk menabung dan memperoleh informasi.

16
3) Keluarga sejahtera tahap III (KS II)
Yaitu Keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar,
kebutuhan sosial psikologisnya dan kebutuhan pengembangan, tetapi belum
dapat memberikan sumbangan masyarakat secara teratur (dalam waktu tertentu)
dalam bentuk material dan (kontribusi) yang maksimal terhadap masyarakat
secara teratur (dalam waktu tertentu) dalam bentuk material dan Keuangan
untuk sosial kemasyarakatan juga berperan serta secara aktif dengan menjadi
pengurus lembaga kemasyarakatan atau yayasan sosial, keagamaan, kesenian,
olahraga, pendidikan, dan lain sebagainya.
4) Keluarga sejahtera tahap III plus (KS III plus)
Yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhannya, baik
yang bersifat dasar, sosial psikologis, maupun pengembangan serta telah
mampu memberikan sumbangan yang nyata dan berkelanjutan bagi
masyarakat.
5) Keluarga sejahtera tahap IV (KS IV)
Yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhannya, baik
yang bersifat dasar, sosial psikologis, maupun pengembangan serta telah
mampu memberikan sumbangan yang nyata dan berkelanjutan bagi
masyarakat.
4. Indikator keluarga sejahtera
a. Indikator keluarga sejahtera tahap I:
1) Melaksanakan ibadah menurut agama masing- masing yang dianut.
2) Makan 2 hari sekali atau lebih.
3) Pakaian berbeda untuk berbagai keperluan.
4) Lantai rumah bukan dari tanah.
5) Kesehatan ( anak sakit / pasangan usia subur) Ingin ber-KB dibawah kesarana
kesehatan.
b. Indikator keluarga sejahtera tahap II:
1) melaksanakan ibadah menurut agama masing- masing yang dianut.
2) Makan daging/ ikan/ telur sebagai lauk pauk paling kurang sekali dalam
seminggu.
17
3) Memperoleh pakaian baru dalam satu tahun terakhir.
4) Luas lantai tiap penghuni rumah 8m perorang.
5) Anggota keluarga sehat dalam 3 bulan terakhir dan memenuhi fungsi masing-
masing anggota keluarga.
6) Keluarga yang berumur 15 tahun keatas mempunyai penghasilan tetap.
7) Bisa baca tulis latin bagi seluruh anggota keluarga dewasa yang berumur 10- 60
tahun.
8) Anak usia sekolah bersekolah.
9) Anak hidup dua atau lebih, keluarga masih pasangan usia subur, saat ini
memakai kontrasepsi.
c. Indikator keluarga sejahtera tahap III
1) Indikator KS II.
2) Upaya keluarga untuk meningkatkan atau menambah pengetahuan agama.
3) Keluarga mempunyai tabungan.
4) Makan bersama paling kurang sekali sehari.
5) Ikut dalam kegiatan masyarakat.
6) Reaksi bersama atau penyegaran paling kurang dalam 6 bulan.
7) Memperoleh berita dari surat kabar, radio, televisi, dan majalah.
8) Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi.
d. Indikator keluarga sejahtera tahap III plus dan tahap IV:
1) Indikator KS III.
2) Memberikan sumbangan secara teratur dan sukarela dalam bentuk material
kepada masyarakat.
3) Aktif sebagai pengurus yayasan atau panti.
e. Indikator keluarga miskin
1) Tidak bisa makan 2 hari sekali atau lebih.
2) Tidak mampu menyediakan daging/ ikan/ telur sebagai lauk pauk minimal
seminggu sekali.
3) Tidak bisa memiliki pakaian yang berbeda untuk setiap aktivitas.
4) Tidak bisa memperoleh pakaian baru minimal satu stel setahun sekali.
5) Bagian terluas lantai rumah dari tanah.
18
6) Luas lantai rumah kurang dari 8m untuk setiap penghuni rumah.
7) Tidak ada anggota keluarga berusia 15 tahun mempunyai penghasilan tetap.
8) Bila anak sakit atau pasangan usia subur ingin ber- KB tidak bisa kefasilitas
kesehatan.
9) Anak berumur 7- 15 tahun tidak bersekolah.

C. Peran Perawat dalam Asuhan Keperawatan Keluarga


Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, ada beberapa
peranan yang dapat dilakukan oleh perawat antara lain adalah :
1. Pengenal Kesehatan (Health Monitor) Perawat membantu keluarga untuk mengenal
penyimpangan dari keadaan normal tentang kesehatannya dengan menganalisa data
secara objektif serta membuat keluarga sadar akan akibat masalah tersebut dalam
perkembangan keluarga.
2. Pemberi pelayanan pada anggota keluarga yang sakit, dengan memberikan asuhan
keperawatan kepada anggota keluarga yang sakit. Seringkali kontak pertma kali
dengan kelurga dimulai dengan adanya anggota kelurga yang sakit baik melalui
penemuan langsung maupun rujukan.
3. Koordinator pelayanan kesehatan dan keperawatan kesehatan keluarga, yaitu berperan
dalam mengkoordinir pelayanan kesehatan keluarga baik secara berkelompok maupun
individu.
4. Fasilitator yaitu dengan cara menjadikan pelayanan kesehatan itu mudah di jangkau
oleh keluarga dan membantu mencarikan jalan pemecahannya.
5. Pendidikan kesehatan yaitu untuk merubah perilaku kelurga dari perilaku tidak sehat
menjadi perilaku sehat.
6. Penyuluh dan konsultan yang berperan dalam memberikan petunjuk tentang asuhan
keperawatan dasar dalam keluarga.
Dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap keluarga, perawat tidak dapat
bekerja sendiri, melainkan berkerjasama dengan profesi lain untuk mencapai asuhan
keperawatan keluarga dengan baik.

19
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Keluarga merupakan kumpulan dua orang / lebih hidup bersama dg keterikatan
aturan dan emosional, dan setiap individu punya peran masing-masing  (friedman 1998).
Dimana keluarga juga bagian atau unit terkecil dari masyarakat yang beranggotakan dua
orang ataupun lebih dan masing – masing mempunyai ikatan perkawinan dan hubungan
darah, mempunyai kepala dalam rumah tangga, mempunyai peran masing – masing serta
menganut suatu budaya yang keluarga itu yakini. Keluarga mempunyai beberapa tipe dan
memiliki fungsi. Keluarga juga mempunyai struktur yang dapat digambarkan bagaimana
keluarga menjalankan peran dan fungsinya sebagai bagian dari masyarakat sekitar. Dalam
hal ini, perawat mempunyai peran juga untuk membantu keluarga untuk menyelesaikan
masalah kesehatan yang dihadapi oleh keluarga.

B. Saran
Upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang keluarga melalui pendalaman
keluarga sesuai jenjang merupakan langkah yang tepat dilakukan guna mencapai
kebutuhan kesehatan keluarga yang optimal.Upaya ini perlu dikembangkan dan
ditingkatkan, untuk itu perlu dukungan oleh pihak-pihak yang peduli terhadap kesehatan
keluarga.

20
DAFTAR PUSTAKA

Andarmoyo, Sulistyo. 2012. Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Graha Ilmu.


Harmoko. 2012. Asuhan Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Padila. 2012. Buku Ajar : Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Nuha Medika.

21