Anda di halaman 1dari 5

Nama: Peni illiyas

NIM: 30101800139

SGD: 14

Modul Enterohepatik

Email: peniilliyas020@gmail.com

1. Jelaskan teori-teori terjadinya NAFLD


Proses terjadinya NAFLD berkaitan erat dengan adanya sindroma metabolik.
NAFLD memiliki 3 gambaran makros yaitu, steatosis, steatohepatitis, dan fibrosis
yang dapat terjadi secara berurutan menurut perkembangannya. Patogenesis dari
NAFLD adalah sebagai berikut :
 Terjadinya steatosis hepatik, dimana terjadi ketidakseimbangan antara
pembentukan dan perombakan dari trigliserid. Adanya resistensi insulin
diduga memiliki pengaruh besar pada awal terjadinya NAFLD, karena pada
resistensi insulin akan terjadi peningkatan sintesis dan transpor trigliserida
menuju hati, serta terjadi peningkatan lipolisis khususnya pada adiposa di
bagian sentral tubuh, dimana asam lemak (free fatty acid, FFA) hasil lipolisis
tersebut akan dibawa melalui vena porta ke hati untuk diproses dan
menyebabkan tingginya kadar FFA pada hati. Lipogenesis serta sintesis
trigliserida di hati yang berlebihan pada akhirnya menyebabkan terjadinya
steatosis hepatik pada sindroma metabolik.
 Peningkatan kadar stress oksidatif dan inflamasi yang terjadi pada sindroma
metabolik akan mendasari terjadinya steoatohepatitis dan fibrogenesis,
dimana kadar reactive oxygen species (ROS) dan lipid peroxidase yang
meningkat akan mengaktifkan sel-sel stelata, menyebabkan terjadinya
steatohepatitis dan fibrogenesis, yang akhirnya dapat terjadi perkembangan
selanjutnya dari NAFLD menuju Non Alcoholic Steato Hepatitis (NASH) dan
sirosis.
Randy Adiwinata, Andi Kristanto, Finna Christianty, Timoteus Richard, Daniel Edbert.
Tatalaksana Terkini Perlemakan Hati Non Alkoholik. 2015. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia
Vol. 2, No. 1
2. Bagaimanakah penatalaksanaan pasien NAFLD dengan BMI obese?
3. Jelaskan mekanisme kerja molecular therapy pada penanganan HCC khususnya
sorafenib dan erlotinib
 Sorafenib
Sorafenib saat ini menjadi satu-satunya terapi yang ditargetkan yang disetujui oleh
Balai Pengawasan Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat untuk digunakan pada
pasien dengan HCC yang tidak bisa dioperasi, berdasarkan pada tingkat ketahanan hidup
dibandingkan dengan perawatan dukungan terbaik yang ditunjukkan dalam dua penelitian
terkontrol acak. Sorafenib menghambat reseptor kinase tirosina berikut ini: VEGFR-
2, VEGFR-3, PDGFR-b, c-KIT, dan Flt-3. Karena Sorafenib berpotensi menurunkan
aliran darah dalam tumor, penelitian telah dilakukan untuk menyelidiki sorafenib sebagai
pengobatan adjuvan untuk potensi pengobatan kuratif seperti tindakan bedah atau ablasi
lokal di HCC yang bisa dioperasi, atau kombinasi dari sorafenib dan TACE atau SBRT
pada pasien dengan HCC yang tidak bisa dioperasi.
Meskipun sorafenib menjadi pilihan pengobatan paliatif untuk pasien penderita
HCC stadium lanjut, sorafenib juga menghasilkan toksisitas yang secara signifikan bisa
memengaruhi kualitas hidup pasien. Tingginya tingkat efek samping dermatologi
(sindrom tangan kaki), hipertensi, kelelahan, dan rasa tidak nyaman pada pencernaan
telah dilaporkan oleh pasien yang menjalani metode pengobatan ini. Komplikasi lainnya
termasuk iskemia jantung, disfungsi tiroid, perforasi usus, pendarahan, dan hepatitis.
 Erlotinib
Mutasi EGFR menentukan aktivasi dari domain tirosin kinase secara independen
terhadap pengikatan ligand, yang berakibat pada peningkatan proliferasi sel dan survival.
Erlotinib bekerja dengan cara berkompetisi dengan pengikatan dari ATP terhadap domain
katalitik intraselular dari bagian TK dari reseptor yang kemudian mengakibatkan
penurunan aktivasi dari EGFR, PI3K/AKT dan jaras RAS/RAF/MEK/ERK, inhibisi dari
proliferasi sel dan peningkatan dari apoptosis.

4. Jelaskan jenis-jenis obat nucleoside reverse transcriptase inhibitor sekaligus


mekanisme kerja obat pada penanganan hepatitis B
Jenis-jenis obat nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI) :
- 3TC (lamivudin)
- Abacavir (ABC)
- AZT (ZDV, zidovudin)
- d4T (stavudin)
- ddI (didanosin)
- Emtrisitabin (FTC)
- Tenofovir (TDF; analog nukleotida)
Penatalaksanaan Hepatitis B menggunakan Interferon
IFN bekerja melalui beberapa mekanisme utama sebagai berikut :
1). Efek Antivirus
IFN segera terikat pada reseptor spesifik pada permukaan sel; ikatan ini mengaktifkan
2 macam enzim,yaitu :
Protein kinase, yang membantu fosforilasi 2 macam protein protein Alfa 1 dan elf-2
alfa. Kedua protein ini menghambat sintesis protein virus. 2', 5' oligoadenylate (2' 5' A)
synthetase, yang membentuk oligonukleotida rantai pendek. Oligonukleotida ini
selanjutnya merangsang ensim ribonuklease, yang akan menyebabkan degradasi RNA
virus.
Beberapa enzim lain, seperti sitokrom P450, juga diaktifkan oleh IFN. Ini berarti IFN
bekerja pada beberapa tempat dalam fungsi antivirus ini.
2). Efek Imunomodulasi
IFN memperbaiki sistem imun, baik Sistem Kekebalan Alamiah maupun Sistem
Kekebalan yang didapat melalui beberapa jalan :
a) Meningkatkan fagositosis makrofag dan daya sitotoksik sel NK.
b) Meningkatkan ekspresi HLA pada permukaan sel yang terinfeksi oleh virus. HLA
tersebut bersama antigen virus pada permukaan sel akan dikenali oleh limfosit T
sitotoksik yang menyebabkan lisis sel.
c) Ikut dalam lymphokine cascade dan produksi Interleukin 1, Interleukin 2.
d) Menginduksi produksi Prostaglandin (PGE2) oleh hipotalamus dan menimbulkan
demam.
3). Efek Antiproliferatif
IFN menghambat proliferasi sel tumor dengan mekanisme, yang masih belum jelas.
Dalam pengamatan pada biakan jaringan ternyata sifat contact inhibition sel dipulihkan.
Efek ini menekan daya metastasis tumor.
Tujuan utama pengobatan hepatitis B kronik adalah menekan dan mengeliminasi virus
hepatitis B sekaligus dapat mengindusir kesembuhan penyakit hati; sedang target
pengobatan interferon pada kasus-kasus hepatitis B kronik yang didapatkan pada
beberapa percobaan klinik adalah menghilangnya beberapa petanda virus fase replikatif
yakni HBeAg, HBV-DNA dan HBV-DNA polimerase.
Serokonversi HBeAg biasanya akan diikuti dengan menghilangnya HBV-DNA dalam
serum penderita; eliminasi HBV-DNA dalam jaringan hati diikuti dengan normalisasi
aminotransferase serum dan pada akhirnya terjadi resolusi komplit jaringan hati yang
sebelumnya mengalami proses radang nekrosis.
5. Bagaimanakah alur pendekatan diagnostik pasien dengan HbsAg reaktif yang
diketahui sejak satu tahun yang lalu ?
Jika pada pemeriksaan didapatkan HbsAg positif maka dilakukan pemeriksaan
anti HBc, jika anti HBc IgG reaktif maka menunjukkan infeksii kronik. Jika anti HBc
IgM reaktif maka menunjukkan infeksi akut, sehingga harus dilakukan kembali
pemeriksaan HbsAg, jika menunjukkan hasil yang negatif maka dinyatakan sembuh.