Anda di halaman 1dari 31

11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Pengetahuan

1. Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh

manusia melalui pengamatan indra. Pengetahuan muncul ketika seseorang

menggunakan alat indra atau akalnya untuk mengenali benda atau

kejadian tertentu yang belum pernah dilihat, didengar dan dirasakan

sebelumnya (Mahmud,2010).

Pengetahuan merupakan hasil “tau” setelah seseorang melakukan

pengindraan terhadap objek tertentu. Pengindraan tersebut melalui panca

indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa

dan raba. Pengetahuan sebagian besar diperoleh melalui penglihatan dan

pendengaran (Notoatdmojo,2012).

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa

pengetahuan merupakan fakta atau informasi yang kita anggap benar dan

ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek

tertentu melalui panca indra manusia.

2. Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003) dalam Wawan dan Dewi (2011)

tingkat pengetahuan yang cukup di dalam domain kognitif mempunyai 6

tingkatan, yakni :
12

a. Tahu (Know)

Tahu adalah suatu keadaan dimana seseorang dapat mengingat

sesuatu materi yang telah di pelajari sebelumnya. Ukuran bahwa

seseorang itu tahu adalah dapat menyebutkan, menguraikan,

mendefinisikan dan menyatakan kembali (Recall) sesuatu yang

spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang

diterima. Tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling

rendah.

b. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat

menginterpretasikan dengan benar. Seseorang yang telah paham

terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, memberikan

contoh dan menyimpulkan.

c. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya.

Misalnya dapat menggunakan rumus, hukum-hukum dan metode

dalam situasi yang nyata.

d. Analisis (Analisys)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi

atau objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam

struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.


13

e. Sintesis (Synthesis)

Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menghubungkan

bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan

kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi

baru dari formulasi-formulasi yang ada.

f. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi adalah suatu kemampuan untuk melakukan justifikasi

atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian

itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau

mengggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

a. Faktor Internal

1) Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang

terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu

yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan

untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan

diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-hal yang

menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas

hidup. Menurut YB Mantra yang dikutip Notoatmodjo (2003)

pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku

seseorang. Pada umumnya makin tinggi pendidikan seseoarang


14

makin mudah menerima informasi dan pada akhirnya makin

banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya, jika

seseoarang tingkat pendidiknya rendah, akan menghambat

perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan informasi

dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan.

2) Usia

Menurut Elisabeth B. Hurlock (1998) dalam Wawan dan

Dewi (2011) semakin cukup umur, tingkat kematangan dan

kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja.

Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa

dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaanya. Hal ini

sebagai dari pengalaman dan kematangan jiwa.

b. Faktor Eksternal

1) Faktor Lingkungan

Menurut Ann. Mariner yang dikutip dari Nursalam,

lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia

dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan

perilaku orang atau kelompok.

2) Faktor Sosial Budaya

Sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat

mempengaruhi sikap dalam menerima informasi.

3) Informasi
15

Informasi akan memberi pengaruh pada pengetahuan

seseorang. Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah

tetapi jika dia mendapatkan informasi yang baik dari berbagai

media misalnya seperti tv, radio atau surat kabar maka hal ini akan

dapat meningkatkan pengetahuan seseorang.

4) Minat

Minat sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang

tinggi terhadap sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk

mencoba dan menekuni suatu hal dan pada akhirnya diperoleh

pengetahuan yang lebih mendalam.

4. Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau

angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek

penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui

atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas

(Notoatmodjo, 2012).

Adapun pertanyaan yang dapat digunakan untuk pengukuran

pengetahuan secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu:

a. Pertanyaan Subjektif; bentuk pertanyaannya berupa essay. Pertanyaan

berupa essay disebut pertanyaan subjektif karena penilaian untuk

pertanyaan ini melibatkan faktor subjektif dari penilaian, sehingga

nilainya akan berbeda dari seorang penilai satu dengan yang lain dari

satu waktu ke waktu lainnya.


16

b. Pertanyaan Objektif; jenis pertanyaan berupa pilihan ganda,

betul/salah dan pertanyaan menjodohkan, disebutkan pertanyaan

objektif karena pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dinilai secara

pasti oleh penilainya tanpa melibatkan faktor subjektifitas dari penilai

(Notoatmodjo, 2010).

5. Kriteria Tingkat Pengetahuan

Kuartil merupakan nilai-nilai yang menyekat kumpulan data

menjadi empat kelompok data yang masing masing kelpompok terdiri

25% nilai yang menyekat data menjadi empat kelpompok tersebut dikenal

dengan quartil 1 (Q1), quartil 2 (Q2) dan quartil 3 (Q3) (Budhiana,2019).

Dalam Budhiana (2019), pengetahuan seseorang dapat diketahui

dan diinterpretasikan berdasarkan nilai kuartil sebagai berikut:

a. Baik : Jika K3 < T

b. Cukup : Jika K2 < T ≤ K3

c. Kurang : Jika T ≤ K2

B. Konsep Sikap

1. Definisi Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari

seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak

dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari

perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya

kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan


17

sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus

sosial (Notoatmodjo,2010).

Walgito (2010) dalam Candra (2017), sikap merupakan suatu

proses penilaian yang dilakukan seseorang terhadap suatu objek atau

situasi yang disertai adanya perasaan tertentu dan memberikan dasar

kepada orang tersebut untuk membuat respon atau berperilaku dalam cara

yang tertentu yang dipilihnya.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa sikap adalah

suatu pandangan respon tertutup atau terbuka, dan penilaian seseorang

terhadap suatu objek atau situasi yang melibatkan pikiran, perasan dan

perhatian dari orang tersebut.

2. Komponen Sikap

Menurut Baron dan Byrne dalam Wawan dan Dewi (2011),

menyatakan bahwa ada 3 komponen yang membentuk sikap yaitu:

a. Komponen Kognitif (komponen perseptual), yaitu komponen yang

berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan yaitu hal-hal

yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap

sikap.

b. Komponen Afektif (komponen emosional), yaitu komponen yang

berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek

sikap. Rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak

senang merupakan hal yang negatif. Komponen ini menunjukkan arah

sikap yaitu positif dan negatif.


18

c. Komponen Konatif (komponen perilaku), yaitu komponen yang

berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek sikap.

Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan

besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku sesorang

terhadap objek sikap.

3. Tingkatan Sikap

a. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan

memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).

b. Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan

menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi sikap

karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau

mengerjakan tugas yang diberikan. Terlepas pekerjaan itu benar atau

salah adalah berarti orang itu menerima ide tersebut.

c. Menghargai

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan

dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap.

d. Bertanggung Jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya

dengan segala resiko adalah mempunyai sikap yang paling tinggi

(Notoatmodjo 1996, dalam Wawan dan Dewi,2011).


19

4. Sifat Sikap

Dalam Wawan dan Dewi (2011) sifat sikap ada 2 jenis yaitu:

a. Sikap positif, kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi,

mengharapkan objek tertentu.

b. Sikap negatif, kecenderungan untuk menjauhi, menghindari,

membenci, tidak menyukai objek tertentu.

5. Ciri-ciri Sikap

Ciri-ciri sikap menurut Sunaryo (2013) yaitu:

a. Sikap tidak dibawa sejak lahir, namun dipelajari (learnability) dan

dibentuk berdasarkan pengalaman dan latihan sepanjang

perkembangan individu dalam hubungan dengan objek.

b. Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap

dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan tertentu yang

mempermudah sikap pada orang itu.

c. Sikap tidak berdiri sendiri, namun selalu berhubungan dengan objek

tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.

d. Sikap dapat tertuju pada satu objek ataupun dapat tertuju pada

sekumpulan atau banyak objek.

e. Sikap dapat berlangsung lama atau sebentar.

f. Sikap mengandung faktor perasaan dan motivasi sehingga berbeda

dengan pengetahuan.
20

6. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Sikap

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap menurut

Kristina (2007) dalam Mufti (2016) antara lain:

a. Pengalaman Pribadi

Apa yang dialami seseorang akan mempengaruhi penghayatan

dalam stimulus sosial, tanggapan akan menjadi salah satu dasar dalam

pembentukan sikap, untuk dapat memiliki tanggapan dan penghayatan

seseorang harus memiliki pengamatan yang berkaitan dengan objek

psikologis. Sikap yang diperoleh lewat pengalaman akan

menimbulkan pengaruh langsung terhadap prilaku berikutnya.

Pengaruh langsung tersebut dapat berupa predisposisi perilaku yang

akan direalisasikan hanya apabila kondisi dan situasi memungkinkan.

b. Orang Lain

Seseorang cenderung akan memiliki sikap yang disesuaikan atau

sejalan dengan sikap yang dimiliki orang yang dianggap berpengaruh

antara lain adalah orang tua, teman dekat, teman sebaya.

c. Kebudayaan

Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengarah

sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai

sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayaanlah yang memberi

corak pengalaman individu-individu masyarakat asuhannya.


21

d. Media Massa

Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti

televisi, radio, surat kabar mempunyai pengaruh dalam membawa

pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarah pada opini yang

kemudian dapat mengakibatkan adanya landasan kognisi sehingga

mampu membentuk sikap.

e. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama

Lembaga pendidikan serta lembaga agama suatu sistem

mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap, dikarenakan

keduanya meletakkan dasar, pengertian dan konsep moral dalam diri

individu. Pemahaman akan baik dan buruk antara sesuatu yang boleh

dan tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan dan pusat

keagamaan serta ajaranya.

f. Faktor Emosional

Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan

dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang suatu bentuk sikap

merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi, yang berfungsi

sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk

mekanisme pertahanan ego.


22

7. Indikator Pengukuran Sikap

Azwar (2010) menyatakan pengukuran sikap dapat dilakukan

dengan menggunakan Skala Likert, dengan kategori sebagai berikut:

a. Pertanyaan Positif (+)

1) Sangat Setuju : SS (4)

2) Setuju :S (3)

3) Tidak Setuju : TS (2)

4) Sangat Tidak Setuju : STS (1)

b. Pertanyaan Negatif (-)

1) Sangat Tidak Setuju : STS (4)

2) Tidak Setuju : TS (3)

3) Setuju :S (2)

4) Sangat Setuju : SS (1)

Cara mengetahui sikap responden lebih negatif atau positif dapat

diketahui dan diinterpretasikan berdasarkan nilai median (Budhiana,

2019) yaitu:

a. Positif, jika Me < T

b. Negatif, jika T ≤ Me
23

C. Konsep Remaja

1. Definisi Remaja

Remaja (adolescence) berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi

dewasa”. Masa remaja adalah masa peralihan antara masa kanak-kanak

dan masa dewasa. Pada masa remaja terjadi beberapa perubahan, yaitu

dalam aspek jasmani, rohani, emosional, sosial dan personal (Santrock,

2007).

Menurut WHO, masa remaja adalah masa peralihan dari masa

kanak-kanak menuju masa dewasa, dimana pada masa ini terjadi

pertumbuhan yang pesat termasuk fungsi reproduksi sehingga

memengaruhi terjadinya perubahan-perubahan perkembangan baik fisik,

mental, maupun peran social (Sujadi, 2002) yang dikutip Kumalasari

2014.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa remaja

adalah suatu masa dimana seseorang mengalami masa peralihan dari

kanak-kanak ke masa remaja berlangsung usia 10 tahun sampai 25 tahun

dan juga terjadi perkembangan untuk mencapai kematangan mental,

emosional, social dan fisik.


24

2. Karakteristik Remaja Berdasarkan Umur

a. Remaja awal (early adolescence)

Remaja awal (early adolescence), yaitu remaja yang berusia 10-

14 tahun. Pada tahap ini, remaja berada pada masa pertumbuhan yang

sangat cepat dan merupakan awal dari kematangan seksual. Remaja

awal sudah mulai berpikir secara abstrak.

b. Remaja pertengahan (middle adolescence)

Remaja pertengahan (middle adolescence), yaitu remaja yang

berusia 15-17 tahun. Perubahan fisik yang penting telah sempurna,

sementara perkembangan individu berada pada tahap pencarian

identitas diri dan sangat dipengaruhi oleh teman sebaya. Selain itu,

remaja berada pada kondisi kebingungan antara peka atau tidak

peduli, optimis atau pesimis, idealis atau materialistis dan sebagainya.

Remaja pertengahan sudah mulai berpikir lebih reflektif.

c. Remaja akhir (late adolescence)

Remaja akhir (late adolescence) yaitu remaja yang berusia 18-

24 tahun. Pada tahap ini, pertumbuhan fisik telah sempurna dan

menyerupai orang dewasa, sementara remaja telah memiliki identitas

diri yang jelas dan memiliki ide dan pendapat yang mapan. Fungsi

intelektualitas semakin mantap, identitas seksual semakin mantap,


25

memperhatikan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dan

orang lain (Santrock, 2007 dalam Andriani. 2017).

3. Tumbuh Kembang Remaja

Tumbuh kembang remaja adalah pertumbuhan fisik atau tubuh dan

perkembangan kejiwaan/ psikologi/ emosi. Tumbuh kembang remaja

merupakan proses atau tahap perubahan atau transisi dari masa kanak-

kanak menjadi masa dewasa yang ditandai dengan berbagai perubahan,

diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Perubahan Fisik

1) Remaja Laki-Laki

a) Mimpi basah, biasanya terjadi pada remaja laki-laki usia 10-

15 tahun

b) Bahu melebar, pundak serta dada bertambah besar dan

membidang

c) Pertumbuhan rambut disekitar alat kelamin, ketiak, dada,

tangan dan kaki

d) Tulang wajah memanjang dan membesar tidak tampak

seperti anak kecil lagi

e) Tumbuh jakun, suara menjadi besar

f) Penis dan buah zakar membesar

g) Kulit menjadi lebih kasar dan tebal

h) Produksi keringat menjadi lebih banyak.


26

2) Remaja Putri

a) Datangnya menstruasi (menarche)

b) Pinggul lebar, bulat dan membesar

c) Tumbuh rambut halus di ketiak dan vagina

d) Pertumbuhan payudara, putting susu membesar dan menonjol

serta kelenjar susu berkembang, payudara menjadi lebih

besar dan lebih bulat

e) Kulit mejadi lebih kasar, lebih tebal, pori-pori bertabah besar,

kelenjar lemak dan kelenjar keringat menjadi lebih produktif

f) Otot semakin besar dan semakin kuat, terutama pada

pertengahan dan menjelang akhir puber, sehingga

memberikan bentuk pada bahu, lengan dan tungkai

g) Suara semakin merdu.

b. Perkembangan Emosi

Menurut Kusmiran (2014) ada beberapa aspek yang

menyangkut perkembangan emosi pada remaja diantaranya yaitu:

1) Emosi lebih mudah bergejolak dan biasanya diekspresikan secara

meledak-ledak

2) Jenis emosi sudah lebih bervariasi (emosi saying dan benci)

3) Mulai munculnya keterkaitan dengan lawan jenis melibatkan

emosi

4) Remaja umumnya sangat peka terhadap orang lain memandang

mereka. Akibatnya remaja mudah tersinggung dan merasa malu.


27

c. Perkembagan Kognitif

Berdasarkan teori perkemabngan kognitif Pieget dalam

Kusmiran (2014), kemampuan kognitif remaja berada pada tahap

formal operasional. Remaja mampu mempertimbangkan semua

kemungkinan untuk menyelesaikan masalah dan mempertanggung

jawabkannya. Berkaitan dengan perkembangan kognitif, umumnya

menampilkan tingkah laku sebagai berikut:

1) Kritis

Segala sesuatu harus rasional dan jelas sehingga remaja

cenderung mempertanyakan kembali aturan yang diterimanya.

2) Rasa Ingin Tahu yang Kuat

Perkembangan intelektual pada remaja merangsang adanya

kebutuhan/kegelisahan akan sesuatu yang harus diketahui atau

dipecahkan.

3) Jalan Pikiran Egosentris

Berkaitan dengan menentang pendapat yang berbeda. Cara

berpikir kritis dan egosentris, menyebabkan remaja cenderung

sulit menerima pola pikir yang berbeda dengan pola pikirnya.

4) Image Audience

Remaja selalu merasa diperhatikan atau menjadi pusat

perhatian orang lain menyebabkan remaja sangat terpengaruh


28

oleh penampilan fisiknya dan dapat mempengaruhi konsep

dirinya.

5) Personal Fables

Remaja merasa dirinya sangat unik dan berbeda dengan

orang lain.

d. Perkembangan Moral

Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-

tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan

sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka. Para

remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi

masalah-masalah popular yang berkenaan dengan ligkungan mereka.

Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana

dan absolut yang diberikan pada mereka selama ini tanpa bantahan.

Remaja mulai mempertanyakan keabsahan pemikiran yang ada

dan mempertimbangkan lebih banyak alternatif lainnya. Secara kritis

remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan

membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan

ditanamkan kepadanya. Sebagian besar para remaja mulai melihat

adanya kenyataan lain diluar dari yang selama ini diketahui dan

dipercayainya.

Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning)

pada remaja mulai berkembang karena mereka mulai melihat adanya

kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka yakini


29

dengan kenyataan yang ada disekitarnya. Mereka lalu merasa perlu

mempertanyakan dan merekontruksi pola pikir dengan kenyataan

yang baru. Perubahan inilah yang seringkali mendasari sikap remaja

terhadap peraturan atau otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat.

Konflik nilai dalam diri remaja ini lambat laun akan menjadi

sebuh masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan keluarnya.

Kemungkinan remaja untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai yang

ditanamkan oleh orangtua atau pendidik sejak masa kanak-kanak

akan sangat besar jika orangtua atau pendidik tidak mampu

memberikan penjelasan yang logis, apalagi jika lingkungan

disekitarnya tidak mendukung penerapan niali-nilai tersebut

( Darul,2017).

e. Perkembangan Konsep Diri

Konsep diri merupakan semua perasaan dan pemikiran

seseorang mengenai dirinya sendiri. Gambaran pribadi remaja

terhadap dirinya meliputi penilaian social. Penilaian diri berisi

pandangan dirinya, antara lain:

1) Pengendalian keinginan dan dorangan sendiri bertambah

2) Pengetahuan tentang diri sendiri bertambah

3) Harapan-harapan yang ingin dicapai di masa depan muncul

4) Terjadinya penilaian diri atas tingkah laku dan cara mengisi

kehidupan
30

5) Merasa orang lain selalu mengamati/ memperhatikan dirinya

(kaitannya dengan perkembangan kognitif).

4. Tugas-Tugas Perkembangan Remaja

Tugas yang dimaksud pada setiap tahap perkembangan adalah

setiap tahap usia, individu tersebut mempunyai tujuan untuk mecapai

suatu kepandaian, keterampilan, pengetahuan, sikap dan fungsi sesuai

dengan kebutuhan pribadi. Kebutuhan itu sendiri muncul dari dalam diri

yang dirangsang oleh kondisi di sekitar masyarakat.

Tugas perkembangan remaja difokuskan pada upaya meninggalkan

sikap dan perilaku kekanak-kanakan serta berusaha untuk mencapai

kemampuan bersikap atau berperilaku cara dewasa. Adapun tugas

perkembangan remaja menurut Hurlock (1991) yang dikutip Kumalasari

(2012) adalah sebagai berikut:

a. Mampu menerima keadaan fisiknya

b. Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa

c. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang

berlainan jenis

d. Mecari kemandirian ekonomi

e. Mencari kemandiririan emosional

f. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat

diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggoota masyarakat


31

g. Memahami dan menginternalisasi nilai-nilai orang dewasa dan orang

tua

h. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yan diperlukan

untuk memasuki dunia dewasa.

D. Deteksi Dini Kanker Payudara ( SADARI )

1. Definisi

SADARI adalah pemeriksaan yang dilakukan sebagai deteksi dini

kanker payudara yang sangat mudah dilakukan oleh setiap wanita untuk

mencari benjolan yang dicurigai atau kelainan lainnya (Nugroho,2011).

2. Indikasi Utama

Indikasi utama SADARI adalah untuk mendeteksi terjadinya

kanker payudara dengan mengamati payudara dari depan, sisi kiri, sisi

kanan, apakah ada benjolan, perubahan warna kulit, putting bersisik dan

pengeluaran cairan nanah atau darah.

3. Waktu SADARI

Menurut Bustan (2007), waktu terbaik untuk melakukan SADARI

adalah hari terakhir masa haid 7-10 hari setelah haid, karena payudara

akan terasa lunak dang longgar sehingga memudahkan perabaan. Dan

untuk lamanya pemeriksaan kurang lebih 10 menit serta dilakukan setiap

bulan.

4. Cara Pemeriksaan Payudara Sendiri ( SADARI)

a. Melihat Perubahan di Hadapan Cermin

1) Tahap 1
32

Lihat pada cermin, bentuk dan keseimbangan bentuk

payudara (simetris atau tidak). Cara melakukannya : Melihat

perubahan bentuk dan besarnya payudara, perubahan putting susu,

serta kulit payudara di depan kaca. Sambil berdiri tegak depan

cermin, posisi kedua lengan lurus ke bawah di samping badan.

Gambar 2.1

2) Tahap 2

Periksa payudara dengan tangan diangkat di atas kepala.

Dengan maksud untuk melihat retraksi kulit atau perlekatan tumor

terhadap otot atau fascia dibawahnya.

Gambar 2.2

3) Tahap 3

Berdiri tegak di depan cermin dengan tangan disamping

kanan dan kiri. Meringkan badan ke kanan dan kiri untuk melihat

perubahan pada payudara.


33

Gambar 2.3

4) Tahap 4

Menegangkan otot-otot bagian dada dengan berkacak

pinggang/tangan menekan pinggul dimaksudkan untuk

menegangkan otot di daerah axilla.

b. Melihat Perubahan Bentuk Payudara dengan Berbaring

1) Tahap 1 Persiapan

Dimulai dari payudara kanan. Baring menghadap ke kiri

dengan membengkokkan kedua lutut . Letakkan bantal atau handuk

mandi yang telah dilipat dibawah bahu sebelah kanan untuk

menaikan bagian yang akan diperiksa. Kemudian letakkan tangan

kanan anda di bawah kepala. Gunakan tangan kiri untuk

memeriksa payudara kanan. Gunakan telapak jari-jari untuk


34

memeriksa sembarang benjolan atau penebalan. Periksa payudara

dengan vertical strip dan circular.

Gambar 2.5

2) Tahap 2 Pemeriksaan Payudara dengan Vertical Strip

Memeriksa seluruh bagian payudara dengan cara vertical,

dari tulang selangka di bagian atas ke bra-line di bagian bawah, dan

garis tengah antara kedua payudara ke garis tengah bagian ketiak.

Gunakan tangan kiri untuk mengawali pijatan pada ketiak.

Kemudian putar dan tekan kuat untuk merasakan benjolan.

Gerakkan tangan perlahan-lahan ke bawah bra line dengan putaran

ringan dan tekan kuat di setiap tempat. Di bagian bawah bra line,

bergerak kurang lebih 2 cm kekiri dan terus ke arah atas menuju

tulang selangka dengan memutar dan menekan. Bergeraklah ke atas

dan ke bawah mengikuti pijatan dan meliputi seluruh bagian yang

ditunjuk.

Gambar 2.6
35

3) Tahap 3 Pemeriksaan Payudara dengan Cara Memutar

Berawal dari bagian atas payudara, buat putaran yang besar.

Bergeraklah sekeliling payudara dengan memperhatikan benjolan

yang luar biasa. Buatlah sekurang-kurangnya tiga putaran kecil

sampai ke putting payudara. Lakukan sebanyak 2 kali. Sekali

dengan tekanan ringan dan sekali dengan tekanan kuat. Jangan lupa

periksa bagian bawah areola mammae.

Gambar 2.7

4) Tahap 4 Pemeriksaan Cairan di Putting Payudara

Menggunakan kedua tangan, kemudian tekan payudara

untuk melihat adanya cairan abnormal dari putting payudara.

Gambar 2.8

5) Tahap 5 Memeriksa Ketiak


36

Letakkan tangan kanan ke samping dan rasakan ketiak

dengan teliti,apakah teraba benjolan abnormal atau tidak.

Gambar 2.9

E. Hasil Penelitian tentang Pengetahuan dengan Sikap Remaja Tentang

Deteksi Dini Kanker Payudara (SADARI)

1. Hasil penelitian Rizka Andriany (2017), mengenai “Hubungan

Pengetahuan dan Sikap tentang SADARI dalam Mendeteksi Dini Kanker

Payudara Pada Remaja Putri Di SMK N 1 Teluk Kuantan Tahun 2016,

bahwa jenis pada penelitian ini menggunakan metode analitik kuantitatif

dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah

588 orang dan sampel yang di gunakan adalah 50 orang. Teknik

pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan

menggunakan kuisioner. Hasil penelitian dari 50 siswi menunjukkan

mayoritas siswi berpengetahuan kurang sebanyak 31 (62%) responden,

berperilaku negatif sebanyak 32 (64%) responden dan yang tidak

melakukan SADARI sebanyak 41orang (82%). Berdasarkan analisa uji

chi square terdapat hubungan antara pengetahuan dengan SADARI

dengan p value 0,007 dan terdapat hubungan antara sikap dengan

SADARI dengan p value 0,001.


37

2. Hasil penelitian Ferinda Ayu Ferdian, 2016 tentang “Hubungan Tingkat

Pengetahuan Sadari Terhadap Sikap Remaja Putri Dalam Pemeriksaan

Payudara Sendiri Di SMA Negeri 1 Ngaglik Yogyakarta” bahwa

penelitian ini menggunakan survey analitik dengan pendekatan cross

sectional. Populasi penelitian adalah siswi kelas 2 di SMAN Ngaglik

Yogyakarta. Sampel sebanyak 50 siswi. Pengambilan sampel dengan

purposive sampling. Pengumpulan data dengan kuesioner tertutup yang

sebelumnya telah diuji vailiditas dan reliabilitasnya. Uji statistic yang

digunakan adalah Kendall’s Tau. Hasil dari penelitian ini responden yang

memiliki pengetahuan baik 46%, cukup 34%, kurang 10%. Responden

dengan sikap positif 64% dan negatif 36%. Responden dengan

pengetahuan baik sikap positif 38%, cukup dengan sikap positif 18%,

kurang dengan sikap positif 8%. Hasil uji Kendall’s Tau p-value 0,010

(<0,05) dan koefisien korelasi (τ) = 0,350 sehingga ada hubungan antara

pengetahuan tentang SADARI terhadap sikap remaja putri dalam

pemeriksaan payudara sendiri. Keeratan hubungan keduanya pada tingkat

cukup/sedang.

3. Hasil penelitian Cristra F Sinaga,2016 tentang “Hubungan pengetahuan

dan sikap remaja putri tentang deteksi dini kanker payudara melalui

SADARI di SMA Pasundan 8 Bandung tahun 2016” bahwa penelitian ini

merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

proportionate stratified random sampling dengan subjek penelitian


38

sejumlah 100 siswi yang berasal dari kelas X dan XI SMA Pasundan 8

Bandung. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner.

Analisis uji statistic yang digunakan adalah uji Chi Square. Hasil uji Chi

Square menunjukkan hubungan pengetahuan dan sikap memiliki p value

= 0,003. Kesimpulan: ada hubungan pengetahuan dan sikap remaja putri

tentang deteksi dini kanker payudara melalui SADARI di SMA Pasundan

8 tahun 2016.

4. Hasil penelitian Dalina Gusti,2018 mengenai “Pengaruh Promosi

Kesehatan Memakai Metode Penyuluhan Dengan Teknik Demonstrasi

Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Siswi Tentang Pemeriksaan Payudara

Sendiri Di Smkn 2 Kec. Guguak Kab.Lima Puluh Kota” bahwa jenis

penelitian ini adalah quasi eksperiment dengan desain one group pretest-

posttest design. Penelitian ini dilakukan di SMKN2 Kec.Guguak

Kab.Lima Puluh Kota pada bulan April 2018, populasi 30 orang dengan

Total sampel 30 orang. Hasil uji menggunakan kolmogorov smirnov

menunjukkan mean rank pengetahuan responden Negativ Ranks 3.00 dan

Positiv Ranks 13.42 Dari uji statisc wilcoxon didapatkan p=0,000

(p<0,05), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penyuluhan

yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan. Hasil Uji statistik untuk

sikap dengan memakai Uji t Independet didapatkan p=0,000 (p<0,05)

maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penyuluhan yang

signifikan terhadap sikap. Kesimpulannya terdapat pengaruh promosi

keseharan memakai metode penyuluhan dengan teknik demonstrasi


39

terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap remaja putri tentang

SADARI.

F. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran merupakan model konseptual yang berkaitan

dengan bagaimana seseorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan

secara logis beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah

(Hidayat,2010 dalam Agung 2016).

Faktor yang mempengaruhi banyaknya penderita yang datang ke

rumah sakit dalam keadaan stadium lanjut pada penderita kanker payudara

dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentang deteksi dini kanker

payudara. SADARI merupakan pemeriksaan payudara sendiri untuk

mengetahui kemungkinan adanya kanker payudara atau benjolan pada

payudara. Tingginya pengetahuan yang dimiliki remaja putri tentang

pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) akan membentuk sikap dalam

dirinya untuk melakukan pendeteksian dini kanker payudara sehingga dapat

menurunkan angka kematian akibat kanker payudara. Pengetahuan sangat

mempengaruhi seseorang dalam menentukan sebuah sikap, adanya

pengetahuan yang baik akan mencerminkan sikap yang positif yang pada

dasarnya pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentuknya sikap atau tindakan seseorang.

Berdasarkan penjelasan tersebut, kerangka pemikiran dalam penelitian

ini digambarkan secara skematis pada gambar berikut ini:

Bagan 2.1 Kerangka Pemikiran Hubungan Pengetahuan dengan Sikap


Remaja Putri Tentang Deteksi Dini Kanker Payudara di
40

MAN 2 Kota Sukabumi Wilayah Kerja Puskesmas Sukakarya


Kota Sukabumi

Pengetahuan Sikap Remaja Putri Tentang


Deteksi Dini Kanker
Payudara

Keterangan :

: Faktor yang diteliti

: Adanya hubungan

G. Hipotesis

Hipotesis merupakan suatu jawaban sementara penelitian, patokan

duga atau dalil sementara yang mana kebenarannya akan dibuktikan pada

penelitian tersebut. Setelah melalui pembuktian dari hasil penelitian maka

hipotesis ini dapat benar atau salah, dapat diterima atau di tolak

(Notoatmodjo,2012).

Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat Hubungan Pengetahuan

dengan Sikap Remaja Putri tentang Deteksi Dini Kanker Payudara di MAN 2

Kota Sukabumi Wilayah Kerja Puskesmas Kota Sukabumi. Adapun bentuk

Hipotesis dalam penlitian ini adalah:

H0 : Tidak ada Hubungan Antara Pengetahuan dengan Sikap Remaja Putri

tentang Deteksi Dini Kanker Payudara di MAN 2 Kota Sukabumi

Wilayah Kerja Puskesmas Sukakarya Kota Sukabumi.

H1 : Ada Hubungan Antara Pengetahuan dengan Sikap Remaja Putri tentang

Deteksi Dini Kanker Payudara di MAN 2 Kota Sukabumi Wilayah Kerja

Puskesmas Sukakarya Kota Sukabumi.


41