Anda di halaman 1dari 12

Yang mau disampaikan apa aja?

Pengertian korupsi
Korupsi melanggar sila ke berapa?
Faktor terjadinya pancasila ?
Peran pancasila dalam memberantas korupsi
Indeks kasus korupsi di beberapa Negara, Indonesia
menjadi Negara kelima yang sering melakukan aksi korupsi
Gambar korupsi sama gambar KPK
Kata ketua KPK tentang pengalamannya ketika
memberantas korupsi
Kasus penyiraman air keras pada penyidik senior KPK
Pengertian Korupsi

Korupsi atau rasuah (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk,
rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) adalah tindakan pejabat publik, baik politisi
maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar
dan tidak legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk
mendapatkan keuntungan sepihak

Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk
keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintah|pemerintahan rentan korupsi dalam praktiknya.
Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan
dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang
diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya
pemerintahan oleh para pencuri, di mana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali.

Menurut Undang-Undang No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana


Korupsi, yang termasuk dalam tindak pidana korupsi adalah: 
“Setiap orang yang dikategorikan melawan hukum, melakukan perbuatan memperkaya
diri sendiri, menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi, menyalahgunakan kewenangan maupun kesempatan atau sarana yang ada
padanya karena jabatan atau kedudukan  yang dapat merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara.”
UU No. 24 tahun 1960
“Perbuatan  seseorang,   yang   dengan  atau  karena  melakukan  suatu kehajatan atau
dilakukan dengan menyalah gunakan jabatan atau kedudukan.”

Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar memenuhi unsur-unsur
sebagai berikut:

1. perbuatan melawan hukum,


2. penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana,
3. memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi, dan
4. merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Jenis tindak pidana korupsi di antaranya, tetapi bukan semuanya, adalah

1. memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan),


2. penggelapan dalam jabatan,
3. pemerasan dalam jabatan,
4. ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara), dan
5. menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara)
Korupsi Dinilai Mengancam Eksistensi
Ideologi Negara
Korupsi sudah menjadi fenomena yang banyak ditemui dalam permasalahan negeri ini. Hal ini
bertentangan dengan nilai-nilai pancasila. Masalah korupsi ini sangat berbahaya karena dapat
mengikis moral bangsa yang telah terbentuk sejak lama dapat dilihat dari segi kehidupan sosial
yaitu terkikisnya budaya malu. 

Contohnya dalam kasus Muhammad Nazaruddin. Ia merupakan seorang pengusaha dan politisi
Indonesia yang menjadi anggota DPR periode 2009-2014. 

Pada tahun 2011, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menjadikannya tersangka kasus suap
proyek pembangunan wisma atlet (Hambalang) untuk SEA GAMES ke 26.

Indonesia merupakan negara besar yang memiliki musuh besar yaitu korupsi. Korupsi di
Indonesia sudah yang mengancam semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.

Perjuangan membebaskan bangsa Indonesia dari cengkeraman para koruptor, seakan mencapai
titik nadir, bersamaan dengan memenangkannya dua orang wakil ketua KPK, yaitu Chandra M.
Hamam dan Bibit Samad Rianto. 

Dengan penahanan dua wakil ketua KPK itu, hanya mencerminkan kekuatan kaum koruptor, dan
jaringannya telah meningkatkan kekuatan yang ingin membangun kehidupan yang bersih, dan
bebas dari bentuk-bentuk korupsi.

JIka bangsa Indonesia berhasil membebaskan dari penjajahan yang dilakukan Belanda dan
Jepang, dan resmi menjadi bangsa merdeka dan berdaulat, tetapi memperjuangkan dan
membebaskan Indonesia menjadi negeri yang bebas dari segala bentuk korupsi, seperti tak
pernah berhasil. 

Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan
dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang
diresmikan. 
Dampak korupsi terhadap ideologi bangsa (Pancasila)
Pancasila adalah ideologi bangsa Indonesia oleh karena itu setiap perbuatan bangsa selayaknya
didasari dengan nilai-nilai yang terkandung didalam pancasila, akan tetapi pada zaman sekarang
ini nilai pancasila dirusak oleh suatu tindakan yang tidak bermoral yaitu korupsi. Korupsi jelas
bertentangan dengan sila pancasila. 

Contohnya dengan maraknya perilaku korupsi bertentangan dengan sila ketuhanan yang maha
esa karena orang yang korupsi telah melanggar aturan agama atau Tuhan dan berakibat dosa
yang besar dan hasil dari perbuatan korupsi dalam agama hukumnya haram. 

Yang kedua sila kemanusiaan yang adil dan beradab, orang melakukan korupsi akan berakibat
menyengsarakan orang lain karena hak-hak yang harusnya didapat seseorang diambil secara
sengaja untuk kebutuhan pribadi oleh karena itu orang yang melakukan korupsi tidak memiliki
rasa keadilan dan adab yang baik. 

Yang ketiga sila persatuan Indonesia karena korupsi biasanya dilakukan secara terorganisir atau
kelompok namun apabila salah satu dari mereka tertangkap bisa berakibat memecah belah antar
individu atau kelompok dengan saling menyalahkan dan korupsi itu dilakukan untuk kepentingan
dirinya sendiri atau suatu golongan saja. 

Keempat nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan, pejabat yang korupsi jelas telah mengkhianati amanat rakyat dengan mencuri harta
kekayaan negara untuk keperluan pribadi dengan memanfaatkan jabatan yang dimilikinya
sehingga membuat kesejahteraan rakyat dan pembangunan nasional mengalami kemunduran dan
hambatan . 

Lalu yang terakhir adalah sila keliama yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,
korupsi mengakibatkan rasa keadilan dan kesejahteraan yang harusnya milik rakyat, dengan cara
yang licik diambil oleh para pejabat yang tidak bermoral melalui tindakan korupsi sehingga rasa
keadilan social tidak dapat tersalurkan kepada masyarakat luas. 

Jadi tindakan korupsi yang masih merajalela di Indonesia mengakibatkan perwujudan sila dan
nilai-nilai pancasila didalam berbagai kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia akan
terhambat bahkan gagal.
FAKTOR TERJADINYA KORUPSI

FAKTOR INTERNAL

Aspek Perilaku Individu


· Sifat tamak/rakus manusia
Korupsi, bukan kejahatan kecil-kecilan karena mereka membuuhkan makan. Korupsi
adalah kehjahatan orang profesional yang rakus. Sedah berkecukupan, tapi serakah.
Mempunyai hasrat besar untuk memperkaya diri.
· Moral yang kurang kuat
Seorang yang moralnya tidak kuat cenderung tergoda untuk melakukan korupsi. Godaan
itu bisa berasal dari atasan, teman setingkat, bawahannya, atau pihak yang  lain yang memberi
kesempatan untuk itu.
· Gaya hidup konsumtif
Kehidupan di kota-kota besar sering mendorong gaya hidup seorang konsumtif. Perilaku
konsumtif bila tidak diimbangi dengan pendapatan yang memadai akan membuka peluang
seseorang untuk melakukan berbagai tindakan untuk memenuhi  hajatnya. Salah satu
kemungkinan tindakan itu adalah dengan korupsi.

FAKTOR EKSTERNAL, PEMICU PERILAKU KORUPSI YANG DISEBABKAN OLEH


FAKTOR DI LUAR DIRI PELAKU.

Aspek sikap masyarakat terhadap korupsi


·         Nilai-nilai di masyakat kondusif untuk terjadinya korupsi. Korupsi bisa ditimbulkan
oleh budaya masyarakat. Misalnya, masyarakat menghargai seseorang karena kekayaan yang
dimilikinya.
·         Masyarakat kurang menyadari bahwa korban utama korupsi adalah masyarakat
sendiri. Anggapan umum terhadap peristiwa korupsi, sosok yang paling dirgikan adalah
negara. Padahal bila negara merugi, esensinya yang paling rugi adalah masyarakat juga.
·         Masyarakat kurang menyadari dirinya terlibat korupsi. Setiap perbuatan korupsi
pasti melibatkan anggota masyarakat. Hal ini kuurang disadari oleh masyarakat.
·         Masyarakat kurang menyadari bahwa korupsi akan bisa dicegah dan diberantas bila
masyarakat ikut aktif dalam agenda pencegahan dan pemberantasan. Pada umumnya
masyarakat berpandangan bahwa masalah korupsi adalah tanggungjawab pemerintah semata.
Aspek Sosial
Perilaku korupsi dapat terjadi karena dorongan keluarga. Kaum behavioris mengatakan
bahwa lingkungan keluargalah yang secara kuat memberikan dorongan bagi orang untuk
korupsi dan mengalahkan sikap baik seseorang. Lingkungan dalam hal ini malah memberikan
dorongan dan bukan memberikan hukuman pada orang ketika ia menyalahgunakan
kekuasaannya.
Aspek ekonomi
Pendapatan tidak menutupi kebutuhan. Dalam tentang kehidupan ada kemungkinan
seseorang mengalami situasi terdesak dalam hal ekonomi. Keterdesakan itu membuka peluang
bagi seseorang untuk mengambil jalan pintas diantaranya dengan melakukan korupsi.
Aspek Politis
Menurut Rahardjo (1983) bahwa kontrol sosial adalah suatu proses yang dulakukan untuk
mempengaruhi orang-orang agar bertingkah laku untuk mempengaruhi orang-orang agar
bertingkah laku sesuai harapan masyarakat. Dengan demikian instabilitas politik, kepentingan
politis, meraih dan mempertahankan kekuasaan sangat potensi menyebabkan perilaku korupsi.
Aspek Organisasi
·         Kurang adanya sikap keteladanan pimpinan
·         Tidak adanya kultur organisasi yang benar
·         Kurang memadainya sistem akuntabilitas
·         Kelemahan sistem pengendalian manajemen 
·         Lemahnya pengawasan

Peran Pancasila Dalam Menghadapi Korupsi di Indonesia


Pancasila sebagai sumber nilai anti korupsi dibenarkan dengan pernyataanKomisi
Pemberantasan Korupsi, yang menegaskan bahwa Pancasila merupakan sumbernilai anti korupsi.
Persoalannya, arah ideologi sekarang seperti di persimpangan jalan. Nilai-nilai lain yang kita
anut menjadikan tindak korupsi merebak kemana-mana.
Korupsi terjadi ketika ada pertemuan dan kesempatan. Nilai-nilai kearifan lokal semakin
ditinggalkan, yang ada nilai-nilai kapitalis, sehingga terdoronglah seseorang untuk bertindak
korupsi. Saatnya Pancasila kembali direvitalisasi sebagai dasar filsafat Negara bersama-
sama dengan norma agama. 
Benar adanya bahwa korupsi terjadi karena pemahaman kita mengenai Pancasila masih
kurang. Kebanyakan dari kita hanya mengetahui sila-sila dari Pancasila namun dalam
memaknainya masih kurang sehingga masih banyak pelanggaran-pelanggaran dan
penyimpangan- penyimpangan yang terjadi di negeri ini. Hal-hal tersebut yang menjadikan
Pancasila itu diperlukan sebagai pendidikan anti korupsi.
Nilai dan prinsip anti korupsi

Nilai-nilai anti korupsi yang akan dibahas meliputi kejujuran, kepedulian, kemandirian,
kedisiplinan, pertanggungjawaban, kerja keras, kesederhanaan, keberanian, dan keadilan.
Nilai-nilai inilah yang akan mendukung prinsip-prinsip anti korupsi untuk dapat dijalankan
dengan baik.
Upaya pencegahan korupsi dapat dimulai dengan menanamkan nilai-nilai anti korupsi pada
masyarakat lewat pendidikan anti korupsi untuk menumbuhkan karakter kejujuran, dan sikap anti
korupsi.

Korupsi masih merajalela di seluruh lapisan masyarakat, terutama para elite di negeri ini. Hal
tersebut sangat mengancam eksistensi Pancasila karena semakin menjalar pada kalangan
generasi muda. Di sisi lain, tantangan terberat dari bangsa ini adalah merawat dan
mempertahankan Pancasila sebagai warisan nilai-nilai luhur budaya.

Demikian salah satu benang merah dari seminar Unika Widya Mandala, Madiun, Jawa Timur
yang disampaikan Ketua Umum Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) PMKRI (Perhimpunan
Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Hermawi Taslim, Rabu (22/6). Seminar juga
menghadirkan Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Saifullah Yusuf, Rektor IKIP PGRI Madiun
Dr Parji, dan Rektor Unika Widya Mandala Madiun Fransiska Mudjianti.

Taslim nenegaskan, korupsi tersebut berpotensi menghantar Indonesia menjadi negara gagal.
"Inilah yang menjadi ancaman yang mengancam eksistensi Pancasila. Kita harus lebih serius
mencegah dan membasmi korupsi di negeri ini,” ujar Hermawi Taslim yang juga salah satu
Ketua DPN Peradi ini.

Dikatakan, perguruan tinggi memiliki posisi yang strategis untuk memberi pendidikan nilai guna
menghindari korupsi. Sejalan dengan itu, semua pranata peradilan harus dioptimalkan sehingga
pemberantasan korupsi bisa optimal.

Rektor Universitas Katolik Widya Mandala Francsisca Mudjijanti dalam sambutannya


menegaskan pentingnya dunia pendidikan untuk terus menanamkan pemahaman dan pengertian
agar jiwa dan semangat Pancasila tidak mati dalam masa mendatang.

Menurut Saifullah Yusuf tantangan utama Indonesia adalah merawat, memelihara dan
mempertahankan Pancasila sebagai warisan nilai-nilai luhur budaya. Tantangan utama itu harus
disikapi serius oleh generasi muda saat ini yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa.

Gus Ipul, panggilan akrabnya, menjelaskan bahwa kemajuan teknologi informasi dan
komunikasi mempengaruhi cara pandang masyarakat terutama generasi muda terhadap nilai
luhur budaya warisan pendiri bangsa.
“Nilai luhur itu adalah gotong royong dengan asas kekeluargaan yang merupakan perwujudan
nyata dari pelaksanaan sila-sila Pancasila,” katanya.

Dia menjelaskan, gotong royong dalam bidang ekonomi diwujudkan dalam bentuk koperasi,
sedangkan gotong royong bidang politik diwujudkan dalam bentuk musyawarah. Untuk itu,
Pancasila harus mejadi yang terdepan untuk menghadapi tantangan globalisasi. Pancasila sudah
diakui mampu menjadi penengah berbagai kekuatan ataupun kepentingan yang bertentangan.
“Bisa dilihat Irak atau Suriah yang sekarang hancur lebur karena tidak memiliki nilai perekat

sebagai suatu bangsa," ujarnya.


Sumber: BeritaSatu.com

Indeks persepsi korupsi di 2009. Semakin hijau menunjukkan tingkat korupsi semakin rendah;
sedangkan semakin merah menunjukkan semakin tinggi tingkat korupsi sebuah Negara

GAMBAR GAMBAR
KATA KETUA KPK

Ketua KPK Agus Rahardjo bercerita tentang tekanan besar yang didapatnya ketika KPK mulai
mengusut kasus dugaan korupsi yang melibatkan 'orang penting' di Indonesia. Tekanan besar itu,
kata Agus, bukan hanya kepada dirinya, tapi juga kepada keluarga.

"Kasus yang ditangani itu kalau kasusnya besar, melibatkan orang penting dan orang besar, itu
biasanya memang, satu, penanganannya susah sekali dan biasanya lama dan itu juga mohon maaf
pressure-nya juga cukup kuat, baik pada saya sendiri maupun lingkungan saya, termasuk
keluarga," ujar Agus di Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (26/10/2019)

Namun Agus enggan membeberkan kasus dan 'orang penting' yang dimaksudnya. Dia
mengatakan kasus itu rumit sehingga butuh waktu lama untuk menuntaskannya.

"Jadi itu mau tidak mau harus diakui, ada. Kasusnya saya nggak perlu sebut satu per satu ya.
Tetapi kasus yang besar, melibatkan tokoh besar itu biasanya memang complicated, waktunya
panjang dan memberikan tekanan yang cukup besar," jelasnya.

Agus memang pernah mendapat teror di kediamannya. Saat itu, ada benda mirip bom yang
ditemukan di rumah Agus. Wakil Ketua KPK Laode M Syarif juga pernah mendapat teror saat
rumahnya dilempari molotov.

Selain bercerita tentang tekanan yang didapatnya, Agus punya pesan bagi para menteri Kabinet
Indonesia Maju. Dia berharap para menteri yang baru bisa benar-benar melanjutkan reformasi
birokrasi sehingga kerja pemerintah bisa lebih cepat.

"Saya sangat menginginkan teman-teman yang mengurusi reformasi birokrasi, yang ini menjadi
urat nadinya suatu pemerintah dapat berjalan lebih cepat dan reformasi birokrasi yang sudah
dimulai agak lama, semoga segera terwujud dengan baik," ucapnya.
PENYIDIK SENIOR KPK NOVEL BASWEDAN DISIRAM AIR KERAS 

Akun Twitter Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), @KPK_RI, mengunggah gambar poster
yang berkaitan dengan Novel Baswedan. Unggahan tersebut memperlihatkan wajah Novel
Baswedan dengan sebelah mata. Mata kiri Novel Baswedan di gambar tersebut tampak terbalut
kolase foto aksi demonstrasi menuntut penuntasan kasusnya.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyampaikan, sampai sejauh ini pihaknya belum
mendapatkan perkembangan terkait kasus yang penimpa penyidik senior itu. Padahal, kasus itu
sudah berjalan selama 611 hari sejak kejadian. Febri meminta kasus ini tidak dilupakan
meskipun Polri belum mendapati pelaku penyiraman itu. "Kalau kasus penyerangan terhadap
Novel sampai saat ini, ini kan sudah 611 hari ya, belum ada perkembangan yang kami terima,
dalam artian pelaku penyerangannya belum ditemukan sampai dengan saat ini," katanya dalam
Bedah Novel 'Teror Mata Abdi Astina' di Dialectic Cafe, Kota Malang, Jumat (14/12/2018).
"Tapi tentu kita tidak boleh lupa. Karena itu KPK terus meminta dan mengharapkan pada Polri
agar tetap melihat pengungkapan kasus penyerangan ini sebagai prioritas. Kenapa, karena
sebelumnya pimpinan Polri dan pimpinan KPK sudah bertemu dan pada saat pertemuan itu
beberapa kali dibahas keinginan untuk menemukan pelaku penyerangannya," katanya. Febri
mengatakan, kasus penyiraman air keras terhadal Novel Baswedan menyita banyak perhatian.
Sehingga, jika kasus ini tidak terungkap, dampak terhadap persepsi penegakan hukum di
Indonesia akan buruk. "Presiden kan sebenarnya juga sejak awal memperhatikan kasus ini.
Sehingga tentu saja kalau kasus ini tidak diungkap, penyerangnya tidak ditemukan, ini juga akan
berakibat kurang baik bagi publik untuk melihat pengungkapan-pengungkapan, teror-teror
terhadap penegak hukum khususnya di KPK," jelasnya.

Febri lalu membandingkan kasus kekerasan yang dialami Novel dan kasus kekerasan lainnya.
Polri begitu cepat mengungkap kasus kekerasan, namun tidak untuk kasus kekerasan yang
menimpa penyidik seneor itu. "Karena kita tahu banyak kasus kekerasan sebenarnya bisa
ditemukan pelakunya dengan relatif lebih cepat," katanya. Febri enggan menyampaikan kenapa
kasus itu berjalan sangat lamban. Menurutnya, teknis penanganan perkara kekerasan itu ada di
Polri sehingga Polri yang mengetahui kesulitan dalam mengungkap kasus tersebut. "Saya tidak
tahu kalau teknisnya bagaimana. Tentu polisi yang tahu ya. Karena kasusnya kan ditangani oleh
Polri. Kalau dari sumber daya manusia seperti yang disampaikan Polri cukup banyak yang
dikerahkan di sana. Tapi apa hambatannya secara teknis mungkin lebih tepat Polri yang
menjawab itu," katanya.

Kendati begitu, kasus yang menimpa Novel Baswedan akan menjadi preseden buruk jika tidak
berhasil diungkap. Sebab, sebagai penyidik senior di KPK, Novel Baswedan menjadi lambang
perlawanan terhadap korupsi. Jika kasus itu tidak diungkap, pihak-pihak yang merasa dirugikan
akibat kasus korupsi akan mudah melakukan kejahatan yang sama. "Kalau pelaku teror seperti
itu tidak ditemukan. Maka pelaku - pelaku akan berpikir bahwa mereka akan lebih leluasa untuk
melakukan kejahatan itu," katanya. Diketahui, tepatnya pada Selasa (11/4/2017) subuh, penyidik
senior KPK Novel Baswedan disiram air keras oleh dua pria yang mengendarai sepeda motor
hingga harus menjalani operasi untuk kedua matanya.