Anda di halaman 1dari 3

Trocadero

Jika ditanya spot terbaik untuk menikmati Eiffel, Trocadero selalu masuk daftar teratas. Kami
menaiki metro line 4 dari stasiun St. Michael menuju Mairie de Montrouge lalu berhenti di
stasiun Gare Montparnasse. Dari sini kami berpindah ke kereta line 6 menuju Charles de Gaulee
Etoille, lalu berhenti di stasiun Trocadero. Dari segi kenyamanan, stasiun metro di Paris masih
kalah di banding Negara tetangga, Singapura. Belum lagi sebagian besar stasiun metronya tidak
dilengkapi dengan elevator. Bagi yang single sih tidak apa apa, sekalian olahraga. Tapi bagi
pasutri dengan balita yang masih menggunakan stroller, ini cobaan yang cukup membuat otot
emak bapak gempor. Sekitar pukul 7 lewat, kami mendapati diri kami telah berada di Trocadero
yang berhadapan langsung dengan si nyonya besar, Menara Eiffel.
Dari sini, kami berjalan menuju jardin de trocadero, taman kecil di yang dikelilingi cherry
blossom yang bermekaran. Disini juga banyak kursi kayu untuk beristirahat atau menyusui (bagi
para busui). Tapi jangan lupa kenakan nursing apron/cover ya. Nausheen akhirnya tertidur dan
kami melanjutkan perjalanan melewati carrousel, menyebrangi jalan raya, lalu melintasi
jembatan untuk melihat menara paling mahsyur di dunia ini dari dekat.

Champ de Mars
Jika ingin gegoleran di rumput sambal bersantai menatap megahnya Eiffel, Champ de Mars
adalah pilihan terbaik. Apalagi kalau sampai di sekitar Eiffel sudah agak siang (sekitar waktu
dhuha) dimana matahari mulai naik, Champ de Mars memberi pencahayaan yang bagus di
banding trocadero (yang mulai silau karena posisinya menghadap ke timur/tenggara). Bagi
keluarga yang membawa anak, Champ de Mars bias menjadi pilihan untuk berpiknik. Tapi saat
kami berkunjung, beberapa lapangan berumput hijau diberi line agar tidak dilintasi, but no
worries ada banyak kursi atau lahan (?) lain yang masih bisa digunakan.
Saat memutari Eiffel, kami menemukan antrian mengular untuk membeli tiket naik ke menara
Eiffel. Kami skip saja, memang tidak berencana untuk naik. Selain penghematan budget, juga
penghematan waktu. Kami beristirahat di kursi taman sambal memakan bekal roti tawar yang
kami bawa karena kami tidak punya waktu untuk mencari makanan halal di sekitar sini.
Lumayan mengenyangkan dan bertahan hingga magrib.

Bir Hakeim
Ingat film inception? Adegan Ariadne, sang arsitek merombak susunan kota dan menghasilkan
koridor dengan palang berjajar? Yep, settingnya di jembatan dekat stasiun Bir Hakeim. Dari sini,
kita bisa melihat Eiffel dari sudut pandang yang berbeda. Jika ingin hasil yang berbeda,
sebrangilah jalan raya, anda akan mendapat view Eiffel dengan frame jembatan dan palang,
plus lampu klasik yang menawan. Recommended place lah. Tapi jangan terlalu keasyikan
berfoto ya, karena banyak sepeda, electric scuter dan pejalan kaki lain yang juga punya hak
melewati koridor ini. So, jangan malu-maluin dan norak banget sampai menggangu yang lain.

Arc de Triomphe
Dari jembatan bir hakeim, kami menaiki metro menuju stasiun Charles de Gaulle l’Etoile untuk
melihat salah satu monumen paling ternama dalam sejarah. Arc de Triomphe atau busur
kemenangan yang berada di kawasan Place de l’Etoile dibangun setelah kemenangan pasukan
Napoleon Bonaparte di Perang Austerlizt. Sebenarnya, bukan hanya Arc de Triomphe yang
menarik di kawasan ini, kawasan Champ Elysees menjadi surga belanja dan bangunan yang
cantik menjadi daya tarik tersendiri. Kami hanya berjalan sebentar lalu kembali ke stasiun
metro untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.

Museum Louvre
Karena kemarin sore mengunjungi Louvre mendekati waktu magrib, kami merasa kurang puas.
Hari ini kami kembali mengunjungi museum legendaris ini. Kami menaiki metro line 1 dari
stasiun Charles de Gaulle l’Etoile menuju stasiun Louvre rivoli. Dari sini, hanya jalan sebentar,
kami sudah memasuki pelataran museum louvre dengan piramida khas nya.
Museum louvre berada di 1st arr , Rive Droite Seine. Oiya, di kota Paris, area di bagi berupa
arrondissements atau semacam divisi yang membagi distrik di kota Paris. Biasanya, semakin
kecil arrondissements, maka area tersebut berada di pusat kota atau keramaian. Jadi untuk
memilih hotel, sebaiknya pilihlah yang berada di antara 1st -5th arr agar anda tetap berada di
tengah pusaran kejadian di kota tersebut.
Museum louvre menjadi salah satu list landmark kami bukan karena kami penikmat seni tapi
lebih pada ingin mencocokan apa yang telah dibaca dan melihatnya secara langsung.
Ketertarikan saya pada museum ini cenderung hanya ingin melihat beberapa part di novel Dan
Brown, Da Vinci Code, secara langsung. Seperti Pyramide de louvre, cakram arago (rose line/
meridian line), Louvre Pyramide Inversee (yang hanya bisa diintip dari atas). Itu sudah cukup
membuat saya bahagia dengan berfantasi bahwa saya adalah Robert Langdon versi wanita di
cerita saya sendiri.
Jardin de Tuilleries
Dari museum louvre, kami melanjutkan perjalanan menuju Jardin de Tuileries, salah satu taman
kota di Paris. Letaknya bersebelahan dengan museum louvre, dekat sekali. Jardin de Tuileries
juga memiliki gerbang yang mirip dengan arc de triomphe namun berukuran lebih kecil.
Jalan-jalan sore disini sangat cocok untuk melepas penat setelah seharian menyambangi
landmark kota ini. Cahaya matahari yang mulai redup, bangunan gaya renaisaince, pohon
kering yang berbaris rapi, pasir keabuan, cantik sekali. Kami duduk sejenak di sekitar air mancur
dengan kolam yang diramaikan oleh segerombolan bebek.
Sepertinya dari semua spot yang kami kunjungi selama di paris, Jardin de Tuileries adalah
favorit saya, walaupun hanya sebuah taman dan kalah pamor sama menara Eiffel, tapi bagi saya
inilah yang paling memorable bagi saya. Sayangnya, foto-foto dan video kami (di kamera DSLR)
lenyap, sehingga kami cukup berpuas hati dengan (hanya) sebuah video di hp sebagai kenangan
dan pengingat bagi kami. Harapan saya, semoga bisa balik kesini lagi di tahun yang lain and I
wish on autumn. It must be awesome.
Pond de Alexander III
Dari jardin de Tuileries, kami meneruskan perjalanan berjalan kaki menuju salah satu jembatan
tercantik di kota paris. Kami menghabiskan waktu sebentar saja, karena harus mengejar sholat
di hotel. Tapi bagi yang mencari spot instagramable di Paris, Pond de Alexander III wajib masuk
dalam list lho. Dari sini, kami naik bus menuju hotel.