Anda di halaman 1dari 21

TOKSIKOLOGI DAN PORNOGRAFI

(TERMASUK PENYIMPANGAN SEKS)

Disusun oleh:

CIK RAFA N. (1813024016)

IRMA TIA INTENTI (1813024044)

NAKLAH FADHILA (181302404)

RATNA KOMALA SARI (1813024008)

Dosen Pengampu:

BERTI YOLIDA, S.Pd., M.Pd


RINI RITA T. MARPAUNG, S,Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


UNIVERSITAS LAMPUNG
2019
PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR TOKSIKOLOGI SEKS DAN PORNOGRAFI

Toksikologi (berasal dari kata Yunani, toxicos dan logos) merupakan studi
mengenai perilaku dan efek yang merugikan dari suatu zat terhadap
organisme/mahluk hidup. Dalam toksikologi, dipelajari mengenai gejala,
mekanisme, cara detoksifikasi serta deteksi keracunan pada sistim biologis
makhluk hidup. Toksikologi sangat bermanfaat untuk memprediksi atau mengkaji
akibat yang berkaitan dengan bahaya toksik dari suatu zat terhadap manusia dan
lingkungannya (Budiawan. 2008).

Toksikologi mempelajari bahan kimia atau pun semua hal yang


menimbulkan efek tidak diinginkan dalam tubuh. Prinsip utama toksikologi ialah
bahwa semua seluruh bahan dapat membunuh bila diberikan melalui rute yang
tidak sesuai dan dalam jumlah yang tidak semestinya (Harington.2005).

Pornograpi menurut Sarwono dalam Yatimin (2003) ialah pemuasan nafsu


seksual yang dilakukan dengan melihat gambar-gambar telanjang, membaca
bacaan porno, menonton film romantis yang menjurus pornografi, film adegan
adegan seksual erotik, dan sejenisnya.

B. PENYIMPANGAN SEKSUAL

Kebutuhan seksual pada manusia dan binatang, dalam ilmu biologi


terungkap lewat asumsi mengenai “insting seksual”. Insting ini disamakan dengan
insting mencari makan, juga dengan rasa lapar (Freud, 2003). Dari pemaparan
Freud tersebut bisa diketahui bahwa kebutuhan seksual merupakan suatu
kebutuhan yang penting untuk dipenuhi. Namun, untuk memenuhi kebutuhan
seksual perlu memperhatikan norma dan aturan yang ada, seperti aturan kesehatan
maupun aturan sosial agar nantinya tidak berdampak buruk bagi diri sendiri
maupun orang lain (Freud, 2003).
Seiring perubahnya jaman yang semakin maju dan perubahan sosial pada
masyarakat, terdapat penyimpangan atau kelainan yang terjadi pada perilaku
manusia termasuk dalam aktivitas seksual. Penyimpangan atau kelainan seksual
adalah “cara yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual
dengan jalan yang tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang digunakan oleh orang
tersebut adalah dengan menggunakan objek seks yang tidak wajar”
(Dianawati,2003).

Ketidak wajaran seksual itu mencakup perilaku perilaku seksual atau


fantasi-fantasi seksual yanng diarahkan pada pencapaian orgasme lewat relasi di
luar hubungan kelamin heteroseksual, dengan jenis kelamin yang sama, atau
degan partner yang belum dewasa, dan bertentangan dengan norma-norma tingkah
laku seksual dalam masyarakat yang bisa diterima secara umum. Penyimpangan
perilaku seksual adalah merupakan suatu ketidak wajaran seksual yang dilakukan
oleh seseorang di luar batas aturan norma yang ada sehingga tidak diterima oleh
lingkungan (Kartono,2009).

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa


yang dimaksud penyimpangan seksual yaitu perilaku seksual yang tidak sesuai
dengan norma. Biasanya, cara yang digunakan oleh orang tersebut adalah dengan
menggunakan objek seks yang tidak wajar (Kartono,2009).

Menurut Kartono (2009), penyimpangan seksual dibagi menjadi beberapa


kelompok berdasarkan sebabnya. Contoh-contohnya adalah sebagai berikut:

1) Abnormalitas seks disebabkan oleh dorongan seksual yang abnormal.

Contohnya yaitu seduksi dan perkosaan. Seduksi merupakan bujukan dan


godaan untuk mengajak partnernya bersetubuh, yang sebenarnya melanggar
norma susila atau melanggar hukum.

2) Abnormalitas seks disebabkan adanya partner seks yang abnormal.

Contohnya adalah pornografi dan obscenity. Pornografi adalah bacaan


yang immoril; berisikan gambar-gambar dan tulisan yang asusila, yang khusus
dibuat untuk merangsang nafsu seks. Sedangkan obsenity merupakan pola tingkah
laku, gerak-gerik, perkataan-perkataan, dan ekspansi lainnya yang bersifat erotis,
tidak sopan, berlangsung ditempat umum, jorok dan menjijikkan.

Sedangkan penyimpangan lainnya ialah deviasi seksual. Deviasi seksual


ialah gangguan arah tujuan seksual. Arah dan tujuan seksual dalam hal ini bukan
dari partner, namun untuk mendapatkan kepuasan seksual ialah dengan objek lain
atau dengan cara lain yang tidak biasa (Andarmoyo,S.2016).

Deviasi memiliki 2 macam yakni (Andarmoyo,S.2016) :


1. Deviasi seksual primer yakni sebabnya belum diketahui.
2. Deviasi seksual sekunder yakni gejala gangguan yang sudah diketahui
seperti aterosklerosa otak, skinozofrenia, nerosa obsesif-kompulasif.
3. Deviasi seksual temporer yakni terjadi hanya sementara.

C. FAKTOR PENYEBAB PENYIMPANGAN SEKSUAL

Banyak faktor yang dijadikan predisposisi (bercenderungan khusus ke arah


suatu keadaan atau perkembangaan tertentu) terhadap penyimpangan seksual
diantaranya ialah (Andarmoyo,S.2016) :

A. Faktor Biologis

Penyimpangan hasrat seksual proaktif telah dihubungan dengan kadar


kadar testoteron serum yang rendah pada seorang pria, dan untuk wanita akan
terjadi peningkatan kadar serum prolaktin. Obat-obatan seperti antihipertensi,
antipsioktik, dan antidepresa juga mempunyai impilikasi pada penyimpangan
hasrat seksual. Kondisi medis yang mungkin mengganggu orgasme pada pria
mencakup pembedahan genitourinarius macam pengobatan juga terlihat,
termasuk antihipertensi, antikolinerpik, dan antipsikotik. Penyimpangan nyeri
seksual pada wanita dapat disebabkan oleh penyimpangan jalan masuk pada
vagina, iritasi, kerusakan pada klitoris.

Hormon, yang keberadaannya menentukan kelancaran kinerja tubuh,


justru berpeluang memainkan peran sebaliknya, saat pornografi mengambil alih
kendalinya. Selain hormone testoreron dan prolaktin, ada juga beberapa hormon
yang berpengaruh terhadap penyimpangan seksual yang terjadi diantaranya ialah:
1. Dopamine

Dopamine merupakan neurotransmitter, yakni senyawa yang


menghantarkan sinyal atau rangsangan antar sel saraf atau antara sel pada sistem
saraf dengan sel lainnya. Dalam tubuh, dopamine berperan mengatur aliran dalam
pembuluh darah, memicu kontraksi pembuluh darah untuk meningkatkan tekanan
darah dan denyut jantung. Jadi saat tampilan pornografi tertentu menimbulkan
sensasi “wow” pada seseorang, segera akan dirasakan kebutuhan untuk
mengalaminya kembali. Dan karena tampilan yang sama tidak akan bisa
memunculkan sensasi “wow” serupa, ia akan mencari tampilan dengan level lebih
tinggi, lalu ia akan perlu yang lebih tinggi lagi, lebih tinggi lagi, dan seterusnya.

Dari gambar setengah terbuka, menjadi lebih terbuka, menjadi sepenuhnya


terbuka, lalu gambar meningkat jadi tayangan gerakan, dan suara, dengan durasi
lebih lama, dan seterusnya. Tak heran pada suatu saat, ini akan berujung pada
kebutuhan melakukan aksi nyata, dengan sosok manusia sebenarnya, yang tidak
hanya bisa ia lihat sosoknya dan dengar suaranya, tetapi juga bisa ia sentuh dan
bisa memberi respon padanya. Bahkan meskipun mereka ketahui bahwa tindakan
tersebut salah, mereka kesulitan melawannya. Itulah hebatnya hormone dopamine
yang dibuat bekerja terus menerus oleh pornografi.

2. Norepinefrin

Norepinefrin adalah suatu neurotransmitter dalam sistem limbik di otak


yang mengontrol emosi-emosi seperti depresi atau euforia. Norepinefrin
membantu mengalihkan aliran darah pada tempat yang tak terlalu membutuhkan
untuk bagian tubuh lain yang lebih penting, seperti otot atau otak, yang membuat
seseorang bisa menghadapi bahaya dengan baik. Fungsi hormon Norepinefrin
adalah untuk membuat seseorang tetap fokus dan terjaga selama mengalami stress,
menjadi lebih waspada, dan fokus pada masalah.

Namun pada situasi di mana kontak dengan pornografi terjadi, kendalinya


terhadap hormon norepinefrin berdampak merusak. Daftar gambar dan kosa kata
seputar pornografi yang telah memenuhi otaknya, berpeluang memenjarakannya.
Kondisi apapun mengarahkannya ke tempat yang sama. Berpikir jernih, apalagi
memberdayakan pikirannya untuk hal-hal besar dan kreatif, menjadi sangat sulit
baginya.

3. Serotonin

Serotonin adalah neurotransmitter yang bertanggung jawab untuk berbagai


fungsi dalam tubuh. Fungsi serotonin di dalam otak rumit terhubung ke suasana
hati, kinerja mental, dan kemampuan kita untuk menangani stres. Sebagai hormon
dalam tubuh, serotonin juga berfungsi membantu proses pencernaan dalam usus.
Hal lain tentang serotonin adalah, terproduksinya hormon ini dalam tubuh
seseorang, berkaitan dengan rasa nyaman yang dialaminya. Kontak kembali pada
pornografi, serotonin yang terproduksi, dan rasa nyaman yang dialami.
Berulangnya koneksi ini pada serangkaian pengalaman, membangun keyakinan
bahwa pornografi-lah sumber kenyamanan saat itu dibutuhkan, bukan evaluasi
dan refleksi diri, bukan kesempatan konsultasi, bukan pula doa atau meditasi.

4. Oksitosin

Secara ringkas, fungsi oksitosin dirumuskan sebagai hormon yang


membantu kontraksi otot uterus, merangsang sekresi susu dari kelenjar susu,
meredam stress dan perasaan cemas, serta menimbulkan perasaan senang,
bahagia, empati. Oksitosin muncul pada moment yang melibatkan relasi, seperti
saat seorang ibu melahirkan bayinya, atau saat pasangan suami istri melakukan
hubungan intim. Hal khusus lain dari oksitoksin adalah dampak keterikatan yang
ditimbulkan, sebagaimana terjadi pada ikatan batin ibu dan anak ataupun suami
danistri.
Fakta bahwa oksitosin berperan meningkatkan libido seksual, dapat
menjelaskan bagaimana hormon ini muncul saat para pecandu mengakses
pornografi, kemudian mengalami keterikatan terhadapnya. Pornografi menjadi
kebutuhan yang terus dirasakan bahkan mengikatnya.

B. Faktor Psikososial
Penyimpangan hasrat seksual dapat berhubungan dengan sejumlah konflik
perkembangan awal yang telah membiarkan individu dengan hubungan bawah
sadar antara impuls seksual dan perasaan malu atau bersalah dengan berlebihan.
Perkosaan atau penganiayaan pada anak-anak juga pengalaman yang menyakitkan
dengan coitus berulang, depresi mental, masalah yang berhubungan dengan proses
penuaan, dan kesulitan menjalin hubungan mungkin juga adalah hal yang
berhubungan dengan masalah ini. Penyimpanagan hasrat seksual pada wanita
barangkali dihubungkan dengan keragu-raguan dan ketakutan. Rasa bersalah,
malu, ansietas, konflik, pelecehan, tegang, kejijikan, kebencian, kesedihan, marah
terhadap pasangan, dan didikan keagamaan atau moral yang terlalu kuat.

Faktor-faktor perkembangan awal yang mendukung perasaan-perasaan


tidak adekuat dan perasaan tidak dicintai atau tidak mampu mencintai barangkali
juga mengakibatkan seseorang menjadi impoten. Kesulitan dalam berhubungan
dengan orang lain juga menjadi suatu faktor tambahan. Sejumlah faktor yang
yang telah diimplikasikan dalam etiologi ini mencakup gangguan orgasme
wanita. Etiologi ini mencakup ketakutan menjadı hamil, permusuhan terhadap
pria, kondisi kebudayaan yang negatif, pemanjaan masa kanak-kanak terhadap
religius-religius ortodoks dan kaku dan pengalaman seksual pada masa kanak-
kanak atau remaja. Gangguan orgasme pada wanita dihubungkan dengan
ketakutan yang kuat: seks diterima sebagai suatu yang penuh dosa dan genetalia
sebagai suatu yang kotor, atau kesukaran dalam menjalin hubungan antara pribadi
seperti ambivalen tentang komitmen, takut terhadap kehamilan, atau permusuhan
yang tidak diperhatika. Faktor-faktor biologis setelah kontraksi dan ketakutan
nyeri yang berulang.

Secara psikologis jelas kejahatan adalah prilaku manusia yang


berhubungan dengan kegiatan kejiwaan individu atau beberapa individu yang
bersangkutan, yang mana prilaku tersebut tidak selaras dengan kehendak
pergaulan hidupnya dan dituangkan dalam pergaulan hidupyang bersangkutan.
Kejiwaan seseorang berkenaan langsung dengan perbuatan kejahatan yang di
perbuatnya, meski tidak semua kejahatan dilakukan oleh seseorang yang
sakitjiwa, tetapi secara umum perbuatan kejahatan dilakukan oleh seseorang yang
mengalami tekanan kejiwaan atau faktor psikologisnya.

1. Faktor Psikoanalitis
Seorang ahli mengusulkan bahwa perkembangan seksualitas secara
spesifik berhubungan dengan perkembangan hubungan objek selama
perkembangan fase psikoseksual. Fase tersebut adalah fase-fase yang harus dilalui
oleh tiap-tiap individu. Fase psikoseksual tersebut memengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan seseorang. Tiap individu akan mengalami fase/tahap psikoseksual
dalam tiap tahap perkembangannya (0-18 tahun). Bila individu tersebut gagal
melewati suatu masa yang harus dilaluinya sesuai tahap perkembangannya, akan
terjadi gangguan pada diri orang tersebut.

2. Faktor Perilaku
Perspektif ini memandang perilaku seksual sebagai suatu respons yang
dapat diukur dengan komponen fisiologis maupun psikologis terhadap stimulus
yang dipelajari atau kejadian yang mendukung. Bantuan yang diberikan untuk
mengatasi masalah seksual melibatkan proses mengubah perilaku melalui
intervensi langsung tanpa perlu mengidentifikasi penyebab dan
psikodinamikanya.

3. Faktor Lingkungan
Lingkungan memiliki peran yang cukup signifikan dalam menentukan
faktor-faktor kriminogen yang timbul, karena dari lingkungan di sekitarnya
seorang individu dapat meniru, terpengaruh, dan terlibat dalam tindakan kriminal.
Dikaitkan dengan kasus diatas maka penulis berpendapat faktor lingkungan adalah
faktor ketiga yang sangat berpengaruh setelah faktor teknologi dan faktor
kejiwaan. Anak berada dalam tahapan perkembangan yang merupakan transisi
dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, dengan tugas perkembangan untuk
pencarian jati diri, tentang seperti apa dan akan menjadi apa mereka nantinya.
Sedangkan faktor presipitasi penyimpangan seksual adalah sebagai
berikut:
Identitas seksual tidak dapat dipisahkan dari konsep diri seseorang. Oleh
karena itu, apabila terjadi suatu perubahan pada tubuh atau emosi pada individu,
akan menyebabkan suatu perubahan dalam respons seksual pada individu pula.
Faktor presipitasi secara spesifik meliputi:
a) Penyakit fisik dan emosional;
b) Efek samping dari pengobatan;
c) Kecelakaan atau pembedahan;
d) Perubahan karena proses penuaan.

4. Faktor Kejiwaan
Lingkungan memiliki peran yang cukup signifikan dalam menentukan
faktor-faktor kriminogen yang timbul, karena dari lingkungan di sekitarnya
seorang individu dapat meniru, terpengaruh, dan terlibat dalam tindakan
kriminal.3Dikaitkan dengan kasus diatas maka penulis berpendapat faktor
lingkungan adalah faktor ketiga yang sangat berpengaruh setelah faktor teknologi
dan faktor kejiwaan. Anak berada dalam tahapan perkembangan yang merupakan
transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, dengan tugas perkembangan
untuk pencarian jati diri, tentang seperti apa dan akan menjadi apa mereka
nantinya.

5. Faktor Ekonomi
Tingkat kejahatan adalah konsekuensi dari masyarakat kapitalis atau sisi
ekonomi yang diwarnai oleh penindasan sehingga menciptakan faktor-faktor yang
dapat mendukung terjadinya berbagai macam bentuk kejahatan.

6. Faktor Teknologi
Kemajuan teknologi informasi ternyata juga menuai suatu masalah besar.
Kecanggihannya masih belum bisa membawanya lari jauh dari penyakit sosial,
justru penyakit tersebut secara pasti telah menjadi bagian dari sisi
kecanggihannya. Perkembangan teknologi dan informasi memberikan berbagai
kemudahan dalam kehidupaan sehari-hari,namun dampak positif dan negatif
dalam perkembangan teknologi tidak dapat kita hindari.

Pengaruh dari teknologi inilah yang kemudian orangtua atau orang dewasa
tidak memikirkan dampaknya menyimpan video-video itu, dimana ini
dikarenakan pemahaman masyarakat tentang teknologi itu cukup penting. Sudah
banyak anak-anak yang melakukan hal-hal yang tidak pantas untuk dilakukan, itu
hanya karena anakanak sering menonton, dan sering membaca hal-hal yang
berbau porno. Ketidakmampuan dari keluarga untuk memberikan perlindungan,
rasa nyaman, memberikan pendidikan, komunikasi minim atau bisa disebutkan
tidak berkualitas. Itulah yang menyebabkan anak mencari rasa nyaman itu diluar,
sedangkan diluar tidak ada tempat yang nyaman buat anak.

Lingkungan sosial atau lingkungan dia bergaul itu bisa saja ketika dia
merasa nyaman walaupun itu berdampak terhadap dirinya tetap saja dia lakukan
ini karena ketidakstabilan jiwa anak atau masih rentan dan mudah sekali
dipengaruhi hingga itu anak mempengaruhi perilakunya.5 Faktor bisa berasal dari
psikologis yaitu kurangnya afeksi dari orangtua dan keluarga. Sedangkan dari
sosiologisnya adalah pengaruh lingkungan pergaulan, media juga dirasa sangat
kuat mempengaruhi anak-anak untuk meniru.

D. DAMPAK DARI ADANYA PENYIMPANGAN SEKSUAL

Pornografi menimbulkan beberapa dampak terhadap individu itu sendiri,


diantaranya ialah (S.Ridwan,dkk.2010: 103-107):

1. Kerusakan otak
Ketika seorang anak terpapar pornografi, maka ia akan mengalami
kerusakan pada beberapa bagian otaknya. Hal ini serupa dengan yang terjadi bila
anak mengalami benturan fisik seperti tabrakan hebat, atau kecanduan narkotika
dan zat adiktif. Kerusakan otak yang pertama kali terjadi adalah kerusakan di
bagian Pre Frontal Cortex, otak yang berada di bagian depan (tepat di dahi) yang
merupakan pusat dari kegiatan pengambilan keputusan. Pada anak dan remaja,
kerusakan ini memiliki dampak yang  jauh lebih hebat dari orang dewasa, karena
pornografi menyebabkan otak anak yang semestinya berkembang dengan baik,
mengalami penciutan atau bahkan rusak sama sekali.
Padahal otak bagian depan  ini  yang membuat manusia berbeda dengan
hewan. Karena memiliki fungsi mengembangkan etika dan bertugas sebagai
pemimpin yang mengatur :

1. Daya konsentrasi
2. Kemampuan membedakan benar dan salah
3. Kemampuan merencanakan masa depan
4. Kemampuan menunda rasa senang dan kepuasan
5. Pusat berpikir kritis.

Rusaknya jaringan otak ini disebabkan oleh serbuan hormon yang


mengalami peningkatan sepanjang waktu dan tidak pernah menurun intensitasnya.
Kecanduan akibat pornografi jauh lebih berbahaya dibandingkan kecanduan lain.
Tidak seperti adiksi lainnya, kecanduang pornografi tidak hanya mempengaruhi
fungsi luhur otak, tetapi juga merangsang tubuh, fisik, dan emosi seta diikuti oleh
perubahan perilaku seksual. Jika gangguan itu meluas, maka akan memperburuk
kemampuan, kesehatan fisik, mental, dan sosial. Sungguh luar biasa, efek buruk
dari pornografi.

2. Perubahan fisik atau kesehatan


Dampak fisik adiksi pornografi adalah mata kering, sakit kepala, sakit
punggung, kurang perawatan diri dan gangguan pola tidur (Baxter et al, 2014).
Dampak psikologis yang ditimbulkan karena adiksi pornografi seperti euforia,
cemas, adiksi pornografi, menarik diri dari lingkungan sosial, depresi dan mudah
marah. Menurut Ross et all (2007) terpapar pornografi dapat menimbulkan
perasaaan malu, cemas, rasa bersalah, dan bingung. Saat seseorang sudah
meningkat ke adiksi pornografi akan berperilaku kompulsif, merarik diri dan
isolasi sosial. Ansietas dan adiksi (kecanduan) sering berjalan beriringan. Dalam
jangka pendek pornografi mengurangi tingkat ansietas karena kebutuhan seksual
terpenuhi. Pada awalnya pornografi sebagai pengalihan dari ansietas, namun
ketika sudah kecanduan akan berdampak pada kesehatan mental dan muncul
gejala fisik ansietas. Ansietas adalah keadaan emosi dan pengalaman subyektif
individu, tanpa objek yang spesifik karena ketidaktahuan dan mendahului semua
pengalaman yang baru.

3. Menimbulkan tindak kriminal


Materi pornografi dapat meningkatkan tindak kriminal baik untuk diri
sendiri atau pun orang lain. Efek ketergantungan yang ditimbulkan dan tidak
adanya bahan pelampiasan terkadang mendorong seseorang untuk berbut
kejahatan seksual.

4. Mengganggu psikis
Akan banyak sekali efek psikis yang dialami oleh pecandu pornografi. Hal
umum yang akan ditemui ialah rasa bersalah yang akan selalu tertumpuk sehingga
dapat mengerogoti kesehatan jiwa. Memang kecanduan pornografi adalah
gangguan yang paling sulit diubah karena hal-hal yang terkait dengan seksual
memang sangat manusiawi untuk segala usia.
Bagi remaja yang suka dengan pornografi maka ia akan mengalami
kesulitan konsentrasi dalam belajar. Dapat diprediksi hasilnya bahwa mereka akan
gagal dan tidak berprestasi dalam karir dan akademisnya. Hal ini karena, di dalam
pikiran terbayang hal-hal porno yang pernah mereka tonton.

5. Perubahan perilaku
Film porno dapat mempengaruhi sikap dan perilaku dimana sikap dan
perilaku tersebut dapat terjadi apabila terdapat dorongan dalam diri remaja untuk
menyaksikan tayangan dan mengimitasi hal-hal yang terdapat dalam film
porno. Sebenarnya film merupakan hiburan yang murah dan praktis.Akantetapi
dengan semakin banyaknya film porno, seperti kecenderungan remaja menonton
film porno akan mengakibatkan remaja sulit berkonsetrasi dalam belajar,
sehingga hasil belajarnya rendah. Kemajuan teknologi dewasa ini memudahkan
remaja untuk memperoleh informasi. Informasi seperti ini cenderung
menjerumuskan remaja pada permasalahan seksual dan tingkah laku seksual
yang tidak bertanggung jawab. Remaja yang terpapar pornografi
mengalami perubahan pada perilaku seksualnya dan ekpektasi terhadap
seksualnya. Akibat mengakses materi pornografi di media saat ini telah
meningkatkan perilaku menyimpang dikalangan remaja yang terus berkembang
(Yati & Aini, 2018:66).
Pornografi dapat mengakibatkan perilaku negatif seperti berikut ini:
1. Mendorong remaja untuk meniru melakukan tindakan seksual
Kemampuan remaja menyaring informasi masih rendah. Para ahli di
bidang kejahatan seksual terhadap remaja juga menyatakan bahwa aktivitas
seksual pada remajayang belum dewasa selalu dipicu oleh 2 (dua) kemungkinan
yaitu pengalaman atau melihat. Pornografi atau aktivitas porno baik dari internet,
HP, VCD, komik atau media lainnya. Maka mereka akan terdorong untuk meniru
melakukan tindakan seksual terhadap anak lain atau pun siapa pun obyek yang
bisa mereka jangkau (Mulya,Mudjiran,&Yarmis,2012:5)

2. Membentuk sikap ,nilai dan perilaku yang negatif.


Remaja yang terbiasa mengkonsumsi materi pornografi yang
menggambarkan beragam adegan seksual, dapat terganggu proses pendidikan
seksnya. Hal itu dapat diketahui dari cara mereka memandang wanita, kejahatan
seksual, hubungan seksual, dan seks pada umumnya. Remaja tersebut akan
berkembang menjadi pribadi yang merendahkan wanita secara seksual,
memandang seks bebas sebagai perilaku normal dan alami, permisif terhadap
perkosaan, bahkan cenderung mengidap berbagai penyimpangan seksual
(Masroah, Gamelia,Hariyadi, 2015).
Penyimpangan perilaku seperti perilaku kompulsif, masturbasi,
penyimpangan seksual seperti berciuman, berpelukan, hubungan intim dan
perilaku agresif seperti pelecehan seksual. Studi yang dilakukan oleh Griffiths
(2012) perilaku kompulsif sebagai dampak negatif dari tanyangan pornografi.
Perilaku ini datangtanpa disadari, menyuruh remaja untuk mengakses media
porno secara berulang- ulang. Studi sebelumnya menyatakan bahwa intensitas
menonton media pornografi berhubungan dengan penyimpangan perilaku seksual
remaja. Dampak penyimpangan perilaku antara lain mendorong remaja menirukan
tindakan seksual, peningkatan aktivitas berpacaran seperti berpegangan tangan,
berciuman dan memegang bagian sensitif (Masroah, Gamelia,Hariyadi,
2015).
Sebuah studi menyatakan bahwa penggunaan internet secara kompulsif
dapat menyebabkan perubahan morfologis dari dari struktur otak. Sebuah studi
terhadap mahasiswa-mahasiswa Cina yang mengalami kecanduan pornografi dari
internet menemukan penyusutan ukuran dorsolateral prefrontal cortex, rostral
anterior cingulated cortex, daerah motor suplementer, dan bagian-bagian dari
cerebellum. Perubahan morfologis tersebut mengakibatkan rusaknya ingatan
jangka pendek, kemampuan pengambilan keputusan, kecemasan dan depresi
(Masroah, Gamelia,Hariyadi, 2015).

3. Menyebabkan sulit konsentrasi belajar hingga terganggu jati dirinya


Seseorang yang kecanduan pornografi pada situs internet menunjukkan
perubahan kognitif seperti kurang konsentrasi, tidak ada keinginan belajar dan
kegelisahan. Studi lain menyatakan bahwa pengguna pornografi merasa kesulitan
dalam berkonsentrasi dan belajar. Remaja yang memiliki IQ tinggi, pornografi
bisa mengakibatkan kesulitan membangkitkan konsentrasinya untuk belajar dan
beraktivitas sehingga menurunkan produktivitasnya, sedangkan remaja yang
memiliki IQ rendah menjadi tidak berdaya lagi untuk berkonsentrasi dan
menimbulkan kegelisahan (Mulya,Mudjiran,&Yarmis,2012).
Pornografi yang ditonton remaja merupakan sensasi seksual yang diterima
sebelum waktunya, sehingga yang terjadi adalah mengendapnya kesan
mendalam di bawah otak sadar yang bisa membuat mereka sulit konsentrasi, tidak
fokus, malas belajar, tidak bergairah melakukan aktivitas yang semestinya, hingga
mengalami shock dan disorientasi (kehilangan pandangan) terhadap jati diri
mereka sendiri bahwa sebenarnya mereka masih remaja
(Mulya,Mudjiran,&Yarmis,2012).

4. Tertutup, minder dan tidak percaya diri


Perubahan pada aspek sosial ditunjukkan remaja cenderung berdiam diri di
kamar dan kurang bersosialisasi dengan keluarga, tetangga dan teman sebaya.
Penelitian tentang dampak adiksi pornografi pada remaja menunjukkan adanya
isolasisosial dan kerusakan hubungan dengan orang lain (Yati & Aini, 2018).
Remaja pecandu pornografi yang mendapat dukungan dari temanny akan
terdorong menjadi pribadi yang permisif (memandang maklum) terhadap seks
bebas dan praktek seks bebas di luar pantauan orang tua, sedangkan remaja
pengguna pornografi yang di sekitarnya tidak menggunakan media porno
makaakan cenderung merasa minder dan tidak percayadiri (Yati & Aini,
2018:70).
Remaja pengguna pornografi akan tertutup dan menjauhi teman-
temannya karena perasaan malu dan merasa sebagai pribadi yang aneh, sehingga
mereka lebih sering menyendiri. Seiring bertambahnya pengetahuan
keagamaannya remaja pengguna pornografi juga merasa paling berdosa(Yati &
Aini, 2018:70).

5. Perilaku seksual menyimpang pada orang lain


Dampak pornografi terhadap orang lain sebagai berikut :
a) Tindakan kriminal atau kejahatan, tindakan ini umumnya dilihat bertentangan
dengan norma hukum, norma sosial, dan norma agama yang berlaku di
masyarkat.
b) Penyimpangan seksual adalah perilaku yang tidak lazim di lakukan. Beberapa
jenis penyimpangan seksual antara lain, lesbianisme, dan homoseksual,
sodomi, sadisme, dan pedophilia (Mulya, Mudjiran, & Yarmis, 2012:7).

E. UPAYA PENCEGAHAN
Pepatah mengatakan mencegah lebih baik daripada mengobati (One once
of prevent is equal to one pound of medicine). Dalam upaya pencegahan agar
anak tidak terjebak dalam pornografi, peran orang tua adalah yang utama. Dan
peran orangtua dalam hal ini tidak dapat digantikan oleh siapa pun
(S.Ridwan,dkk.2010:107).
Pertama, mendidik anak di mulai dari rumah. Orangtua mendidik anak
bukan sejak anak-anak, tetapi sejak berada di dalam kandungan. Maka dari itu,
kehamilan akan menjadi proyek besar yang harus direncanakan matang-matang.
Tekanan batin yang dialami sang anak dapat membuatnya saat dewasa nanti akan
mudah tergoda pada hal-hal yang menyimpang, termasuk kecanduan pornografi
(S.Ridwan,dkk.2010:107).
Berkaitan dengan perilaku, anak adalah peniru yang handal. Maka
hendaknya orangtua mulai berhati-hati dalam berbicara, berperilaku, bahkan
berpikir dan merasakan. Karena semua akan diserap oleh anak. Maka, jangan
pernah menyimpan film-film porno, gambar, atau pun berbicara tentang
pornografi (S.Ridwan,dkk.2010:108).
Dihubungkan dengan pembahasan mengenai perilaku penyimpangan
seksual, faktor protektif diartikan sebagai penghambat dimana faktor tersebut
dilihat sebagai karakteristik atau kondisi yang mengurangi efek negatif dari
perilaku jelek seseorang, faktor ini dapat muncul dari dalam individu atau kondisi
di keluarga, sekolah atau masyarakat faktor protektif merupakan faktor yang dapat
menjadikan perilaku tersebut berkurang atau hilang (Magdalena,2010).
Dalam penanggulangan kejahatan pornografi, ada dua pendekatan
yang bisa dilakukan agar tidak terus terjadi bahkan meningkat kasusnya, yaitu
(Magdalena,2010) :

a) Pendekatan Sosiologis
Ditinjau dari segi sosiologis, tindakan kejahatan/ kriminalitas disebabkan
tidak ada integrasi yang harmonis antara lembaga- lembaga kemasyarakatan
sehingga masing-masing individu mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri
dengan macam- macam hubungan sosial. Gejala problema sosial mengakibatkan
hubungan-hubungan sosial terganggu dan menimbulkan kegoyahan dalam
kehidupan kelompok.
Dalam penanganan kejahatan pornografi dari segi sosial dalam
bahasan ini dibatasi pada keluarga, sekolah dan masyarakatyang mengalami
perubahan-perubahan dan kegoyahan yang ditimbulkannya.
1. Keluarga
Kedudukan keluarga sangat fundamental dan mempunyai peranan yang
vital bagi pendidikan seorang anak.Ia merupakan wadah pembentukan pribadi
anggota keluarga terutama untuk anak-anak yang sedang mengalami
pertumbuhan fisik dan rohani. Lingkungan keluarga secara potensial dapat
membentuk pribadi anak atau seseorang untuk hidup secara lebih bertanggung
jawab. Namun,jika usaha pendidikan dalam keluarga itu gagal, akan terbentuk
seorang anak yang cenderung melakukan tindakan kenakalan dalam
masyarakat dan sering menjurus kepada tindakan kejahatan atau kriminal.
Sebab-sebab terjadinya tindakan kejahatan/ kriminal tersebut diantaranya
disebabkan oleh:
a) Disharmoni keluarga (broken home), karena keluarga adalah tempat yang
primer dalam pembentukan pribadi seorang anak, maka kehilangan
keharmonisan itu akan mempunyai pengaruh yang destruktif bagi
perkembangan seorang anak. Terutama anak yang berada dalam proses
mencari identitas diri, sebab ketidakharmonisan tersebut bagi anak dirasa
sebagai hal yang membingungkan sehingga mereka kehilangan tempat
berpijak dan pegangan hidup.
b) Pendidikan yang salah. Dalam hal ini disebabkan karena dua hal,pertama:
over proteksi dari orang tua, maksudnya karena merasa bersalah tidak bisa
mengurus anak sebab kesibukanya maka selalu memenuhi apa yang
diinginkan oleh anaknya sehingga anaknya bersikap semaunya, egois dan
melakukan tindakan- tindakan yang tidak wajar yang kadang-kadang sering
bertentangan dengan norma kesusilaan dan hukum. Kedua: persoalan
senseofvalue kurang ditanamkan oleh orangtua, seperti nilai-nilai norma
kehidupan/ masyarakat, norma religius dan sebagainya.
c) Terjepitnya generasi muda antara norma-norma lama dengan norma-norma
baru, menyebabkan anak-anak tidak mempunyai pegangan untuk menilai
semua sikap dan tingkah laku sebab semuanya serta relatif dan kabur.
Sementara bimbingan orang tua sangat kurang atau bahkan tidak ada sama
sekali. Akibatnya banyak timbulkelompok-kelompokpemuda/di(geng)yang
bersifatinformaluntukmembuat“acara”sendiri.
d) Anak yang tidak dikehendaki, hal ini disebabkan karena kurang kedewasaan
orangtua secara psikis sehingga tidak mau bertanggung jawab terhadap
anaknya. Misalnya menginginkan anak laki-laki ternyata perempuan,
memiliki anak cacat fisik sehingga orangtua malu, dan memperlakukan tidak
adil, serta tidak memberi dukungan moral dan kasih sayang. Akibatnya anak
memiliki tingkah laku yang menyimpang, agresif, sadistis, berbuat kriminal,
dan lain-lain.

2. Sekolah
Sekolah merupakan tempat pendidikan formal yang mempunyai peranan
untuk mengembangkan kepribadian anak sesuai dengan kemampuan dan
pengetahuanya untuk melaksanakan tugas di masyarakat. Tujuan ini dapat
berhasil jika guru dapat mendorong dan mengarahkan murid untuk belajar
mengembangkan kreativitas pengetahuan keterampilannya. Artinya antara guru
dan murid ada hubungan yang baik dan saling mempercayai untuk belajar
bersama. Namun jika yang terjadi sebaliknya, murid-murid tidak memiliki
semangat belajar maka timbullah mode membolos, santai-santai, mengganggu
orang lain (biasanya tergabung dalam geng) dan dengan kenakalanya tidak jarang
melakukan tindakan kriminal.

3. Masyarakat.
Karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat
pesat, sehingga membawa perubahan yang sangat berarti dalam masyarakat,
namun juga membawa permasalahan yang mengejutkan. Akibatnya norma-norma
sosio-kultural yang ada direlatifkan, mengarah oada cara berfikir yang
desakralisasi, profanisasi, sehingga meninbulkan disorganisasi, cultural-lag,
patologi sosial dan mental disorder.

b) Pendekatan Psikologis
Pendekatan psikologis merupakan peninjauan untuk menemukan sebab-
sebab intern dalam totalitas kepribadian seseorang. Pendekatan ini terdiri dari
beberapa hal, yaitu:
1. Teori kepribadian bio-fisis
Suatu konsep pemikiran yang sistematis mengenai manusia sebagai
individu. Yang dipelajari adalah semua aspek individual manusia yang meliputi,
yaitu:
 pertama, aspek individualitas biologisdan individualitas psikologis.
 Kedua, temperamen yaitu merupakan aku-psikis dalam hubunganya dengan
konstitusi jasmaniah, bersifat herediter, sehingga ada elemen-elemen yang
tidak dapat diubah.
 Ketiga, karakter: yaitu aku-psikis yang mengekspresikan diri dalam bentuk
tingkah laku dan totalitas diri.
 Keempat, bakat: yaitu mencakup`faktor yang sudah ada sejak lahir, yang
mempunyai kecenderungan untuk mengembangkan diri dalam suatu keahlian
atau kecakapan-kecakapan tertentu.
 Kelima, Inteligensi.Sehingga dapat dikatakan bahwa struktur organisasi
kepribadian mempunyai sifat yang dinamis sehingga akan turut menentukan
cara atau tindakanya yang unik dala menyesuaikan dengan lingkungan yang
ada.

2. Psiko-analisa Freud
Menurut Sigmund Freud dari Austria (1856-1939) menyatakan bahwa
kegiatan dan tingkah laku manusia sehari-hari dipengaruhi oleh pergolakan
aktivitas alam bawah sadar. Jadi sebab-sebab kejahatan dan keabnormalan adalah
karena pertempuran batin yang serius antara ketiga proses jiwa (Id, Ego,
Superego) sehingga menimbulkan kegoncangan/hilangnya keseimbangan dalam
pribadi tersebut. Ketidakseimbangan itu menjurus kepada perbuatan kriminal
sebab fungsi ego untuk mengatur dan memecahkan persoalan secara logis
menjadi lemah.

3. Individual-Psikolog Adler
Menurut Adler, ada dua rasa yang fundamental dalam diri manusia yaitu
rasa minder dan rasa sosial.

Sedangkn faktor protektif dari penyimpangan seksual yaitu (Magdalena,2010):

a) Faktor protektif dari internal individu


Secara umum faktor untuk melakukan suatu hal dibagi menjadi dua. Yaitu,
faktor yang timbul dari dalam diri sendiri yang disebut faktor internal. Dan faktor
yang timbul dari lingkungan sekitar yang disebut faktor eksternal. Beberapa
contoh faktor yang timbul dari dalam diri sendiri yang dapat dikategorikan dalam
faktor protektif penyimpangan seksual yaitu: nilai-nilai yang diyakini, persepsi,
motivasi untuk menghindari perilaku seks berisiko, niat, serta ketrampilan yang
memadai untuk menolak hubungan seks pranikah.
b) Pemberian pendidikan seks
Saat remaja merupakan fase dimana seseorang berada dalam periode
dimana seorang manusia memiliki rasa ingin tahu sangat tinggi, penasaran,
merasa tertantang jika dilarang atau dibatasi. Mereka bukan orang dewasa yang
sudah paham risiko dan konsekuensi atas tindakannya. Begitu pula mengenai
seks, orangtua atau pihak yang terkait cenderung tabu untuk menjelaskan hal-hal
yang berkaitan dengan seksualitas kepada remaja sehingga remaja justru mencari
cari penjelasan lain yang belum tentu benar. Kendall (1986) dalam Magdalena
memiliki pendapat bahwa sesungguhnya pendidikan seks yang mantap tidakakan
menimbulkan goncangan apapun, dan tidak akan membawa pikiran yang
berhubungan dengan segi-segi seks.
c) Adanya bimbingan atau pengawasan dari lingkungan sekitar
Lingkungan sekitar yang dimaksud adalah lingkungan tempat dimana
remaja banyak berinteraksi seperti lingkungan keluarga, sekolah, tetangga,
ataupun lingkungan bermain. Lingkungan ini berpenngaruh penting pada
tindakan-tindakan yang akan dilakukan seseorang apabila bimbingan dan
pengawasan dilingkungan berjalan dengan semestinya.
d) Melakukan perlindungan dari pengaruh buruk internet
Internet merupakan salah satu sumber informasi yang paling banyak
diakses saat ini, di dalam internet bisa ditemukan apapun dari hal yang bermanfaat
hingga hal yang dapat mendatangkan kerugian seperti gambar, audio, atau video
porno. Sehingga remaja pengguna internet perlu mendapatkan perlindungan
dalam mengakses internet. Perlindungan-perlindungan yang dapat diberikan
menurut Magdalena (2010: 57) antara lain: Jangan melarang atau membatasi
dengan cara otoriter dan arahkan ke hal positif.
e) Pelaksanaan bina diri dan sosial untuk tunalaras
Bina diri dan Sosial yaitu usaha-usaha untuk menangani masalah pribadi
dan sosial anak tunalaras, dengan teknik-teknik yang bertujuan untuk membentuk
perilaku adaptif yang dapat mengurangi dan menghilangkan masalah pribadi.
Contoh beberapa macam terapi yang bisa diberikan yaitu : terapi insight, terapi
bermain, psikoterapi grup,terapi tingkah laku, terapi keluarga,dan terapi medis-
biologis.

DAFTAR PUSTAKA

Andarmoyo,S.2016. Psikoseksual: Dalam Pendekatan dan Proses Keperawatan.


Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Budiawan. 2008. Peran Toksikologi Forensik dalam Mengungkap Kasus


Keracunan dan Pencemaran Lingkungan. Indonesian Journal of Legal and
Forensic Sciences,Vol 1(1): 35-39.

Dianawati.2003. Pendidikan Seks untuk Remaja. Tangerang: Kawan Pustaka.

Freud. 2003. Teori Seks. Jogjakarta: Jendela Press.

Harington.2005.Kesehatan Kerja. Jakarta: EGC.

Kartono.2009. Psikologi Upnormal dan Upnormalitas Seksual. Bandung: CV


Mandarin Maju.

Masroah I, Gamelia E, Hariyadi, B. 2015. Adolescents Sexual Behaviorsas


The Effects of Pornography Media Exposure. Jurnal
Kesmasindo,vol 7(3).

Mulya,Mudjiran,&Yarmis.2012. Dampak Pornografi Terhadap Perilaku Siswa


Dan Upaya Guru Pembimbing untuk Mengatasinya. Jurnal Ilmiah
Konseling, vol 1(1):67-88.

S.Ridwan,dkk.2010. Parenting untuk Pornografi Internet. Jakarta: Gramedia.

Yati, M., & Aini, K. (2018). Studi Kasus: Dampak Tayangan Pornografi Terhadap
Perubahan Psikososial Remaja. Jurnal Ilmu dan Teknologi
Kesehatan, 9(2).

Yatimin.2003. Etika Seksual dan Penyimpangan dalam Seksual. Pekan Baru:


AMZAH.

Anda mungkin juga menyukai