Anda di halaman 1dari 11

Latar Belakang

Penyakit Mers-Cov dan Ebola adalah penyakit yang belum terdeteksi di Indonesia.
Namun diberbagai penjuru dunia penyakit ini sudah merambah luas. Ada 11 negara yang telah
melaporkan akan adanya 2 penyakit mematikan (Perancis, Italia, Jordania, Qatar, Tunisia, Arab
Saudi, Jerman, Inggris, Sudan, Kongo dan Uni Emirat Arab).
Istilah Zoonosis telah dikenal untuk menggambarkan suatu kejadian penyakit infeksi
pada manusia yang ditularkan pada hewan vertebrata. Hal inilah yang menjadi sorotan publik
dunia saat ini. Kemunculan dari penyakit zoonosis tidak dapat diprediksi dan dapat membawa
dampat yang menakutkan bagi dunia, terutama bagi komunitas yang bergerak di bidang
kesehatan masyarakat.
Pada negara berkembang seperti Indonesia, zoonosis belum mendapatkan perhatian
cukup dari pemerintah maupun rakyatnya. Banyak kasus zoonosis lainnya yang mewabah di
Indonesia serta antraks dan rabies. Kesuksesan penanggulangan penyakit zoonosis di negara lain
menjadi tantangan bagi Indonesia untuk keluar dari lingkungan penyakit zoonosis.

Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui tinjauan umum penyakit Mers-CoV dan Ebola
2. Untuk mengetahui etiologi penyakit Mers-CoV dn Ebola
3. Untuk mengetahui patogenesis penyakit Mers-CoV dan Ebola
4. Untuk mengetahui patofisiologi penyakit Mers-CoV dan Ebola
5. Untuk memahami gabaran makroskopis penyakit Mers-CoV dan Ebola

1
MERS-CoV

A. PENGERTIAN
MERS-CoV adalah singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome Corona
Virus. Virus ini merupakan jenis baru dari kelompok Corona virus. Virus ini pertama kali
dilaporkan pada bulan Maret 2012 di Arab Saudi. (Depkes RI, 2013) MERS-CoV.

B. ETIOLOGI
Middle East Respiratory Syndrome atau disingkat MERS adalah penyakit virus
pada pernapasan yang disebabkan oleh corona virus yang disebut MERS-Cov. Virus ini
pertama kali dilaporkan mewabah di Arab Saudi pada tahun 2012. MERSCoV (Middle
East Respiratory Syndrome-Coronavirus) adalah virus yang termasuk dalam spesies
corona virus dan terletak dalam sub-family yang sama dengan SARS corona virus.
Corona virus adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan
hewan. Secara genetic kerabat paling dekat dari MERS-CoV yang telah ditemukan
sampai saat ini merupakan corona virus yang berasal dari kelelawar, sehingga
menimbulkan kecurigaan bahwa MERS-CoV juga berasal dari kelelawar. Ada juga bukti-
bukti yang mengarahkan bahwa virus MERS-CoV ditransmisikan melalui kontak dengan
unta atau kambing, namun sampai sekarang belum ada data pasti yang mendukung teori
tersebut. Pada manusia, corona virus dapat menyebabkan penyakit mulai dalam tingkat
keparahan seperti flu biasa hingga Sindroma Pernapasan Akut atau SARS (Severe Acute
Respiratory Syndrome). MERS Corona viruses pertama kali terdeteksi pada bulan April
2012, ini merupakan virus baru (novel corona viruses) yang belum pernah terlihat pada
manusia sebelumnya. Pada kebanyakan kasus,virus ini telah menyebabkan penyakit yang
parah, bahkan setengah dari kasus yang tercatat mengalami kematian. Hingga kemudian,
corona virus ini dikenal sebagai Middle East Respiratory Syndrome Corona viruses
(MERS-Cov) ). Nama itu diberikan Corona virus Study Group of the International
Committee di Taxonomy of Viruses pada May 2013. Karena penyebarannya yang
semakin meluas sejak April 2012 hingga awal tahun 2013, Badan Kesehatan Dunia
(WHO) telah mengeluarkan 2 peringatan sejak Mei lalu untuk mewaspadai ancaman
penyebarannya. Arab Saudi adalah sumber penularan pertama, dengan jumlah kasus
mencapai 378 dan 107 kematian. Tetapi sedikitnya ada 14 negara yang juga melaporkan

2
kasus penyakit ini, antara lain Mesir, Jordania, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Tunisia,
Malaysia, Oman, Perancis, Yunani, Italia, Inggris, Filipina, dan kini Amerika Serikat.
Sampai saat ini, masih terus dilakukan investigasi mengenai pola penularan MERSCov,
karena telah ditemukan adanya penularan dari manusia ke manusia yang saling kontak
dekat dengan penderita. Unta hampir dipastikan menjadi sumber virus korona MERS di
Timur Tengah. Hasil penelitian di Negara tersebut menunjukkan kebanyakan unta, meski
tidak semua, terinfeksi jenis virus yang secara genetic hamper identik dengan virus yang
menginfeksi manusia. Mekanisme penyebaran virus Corona dari hewan ke manusia
masih diteliti sampai saat ini, meskipun ada dugaan bahwa manusia pertama yang
terinfeksi mungkin pernah secara tidak sengaja menghirup debu kotoran kering
Kelelawar yang terinfeksi. Saat ini, para peneliti masih menyelidiki kemungkinan hewan
lain yang menjadi mediator penularan virus Corona guna menangani meluasnya
penyebaran penyakit ini, mengingat bahwa jenis virus ini dikatakan lebih mudah
menular antar-manusia dengan dampak yang lebih mematikan dibandingkan SARS.

C. PATOGENESIS MERS-CoV

3
D. GAMBARAN MAKROSKOPIS MERS-CoV

Beberapa gejala yang diakibatkan oleh koronavirus MERS adalah demam, batuk, napas
yang pendek-pendek, serta munculnya pneumonia dalam beberapa kasus. MERS
merupakan salah satu bentuk koronavirus yang masih misterius. Hingga saat ini peneliti
masih mencari tahu bagaimana koronavirus baru ini bisa menginfeksi manusia.
Sebagian besar orang yang terinfeksi MERS-Cov berkembang menjadi penyakit saluran
pernapasan berat dengan gejala gejala demam, batuk, dan napas pendek. Sekitar separuh
dari jumlah penderita meninggal. Sebagian dari penderita dilaporkan menderita penyakit
saluran pernapasan tingkat sedang.
Mula-mula gejalanya mirip seperti flu dan bisa mencakup: demam, myalgia, lethargy,
gejala gastrointestinal, batuk, radang tenggorokan dan gejala non-spesifik lainnya. Satu-
satunya gejala yang sering dialami seluruh pasien adalah demam di atas 38 °C (100.4 °F).
Sesak napas bisa terjadi kemudian.Gejala tersebut biasanya muncul 2–10 hari setelah
terekspos, tetapi sampai 13 hari juga pernah dilaporkan terjadi. Pada kebanyakan kasus
gejala biasanya muncul antara 2–3 hari. Sekitar 10–20% kasus membutuhkan ventilasi
mekanis.
Awalnya tanda fisik tidak begitu kelihatan dan mungkin tidak ada. Beberapa pasien akan
mengalami tachypnea dan crackle pada auscultation. Kemudian, tachypnea dan lethargy
kelihatan jelas.
E. PATOFISIOLOGI MERS-CoV
Corona virus (CoVs) virus RNA yang menginfeksi burung dan berbagai mamalia,
termasuk manusia.Virus ini terdiri dari protein struktural beberapa yang memegang relatif
panjang (sekitar 30 kb) positif-terdampar genom. Mereka terjadi di seluruh dunia dan
dapat menyebabkan penyakit signifikan simedis dan kedokteran hewan.Umumnya,
infeksi terlokalisasi pada pernapasan, dan atau sistem saraf. Saat ini, terdapat jenis CoVs
yang dapat menginfeksi manusia antara lain:
a. Human CoVs HKU1
b. NL63
c. 229E
d. OC43
Virus ini dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan ringan, ditandai dengan penyakit
saluran pernapasan yang mencakup: coryza, batuk dan sakit tenggorokan. Virus ini hanya
sesekali menginduksi penyakit saluran pernapasan bawah, seperti: bronkitis, bronkiolitis
dan pneumonia.
Selain sebagai penyebab penyakit MERS, virus ini juga dapat menyebabkan penyakit
SARS di Negara China tahun 2002. Sejauh ini, laporan yang menjelaskan otopsi fatal

4
Mers-CoV kasus belum banyak dipublikasikan. Oleh karena itu, pada tahap satu ini hanya
biasa berspekulasi tentang patologi dari Mers-CoV pada manusia.
Semua CoV manusia diperkirakan berasal dari waduk hewan, baik itu SARS-CoVdan
Mers-CoV. Antara lain seperti muncul dari kelelawar, musang kelapa di Negara Cina.
Ada juga unta di Timur Tengah. Penyakit MERS ini diduga besar penyebabnya adalah
unta dromedaris di Timur Tengah dan beberapa bagian Afrika. Penyakit ini juga dapat
disebarkan dari manusia ke manusia. Seperti hal nya yang terjadi di rumah sakit, yang
mana penularan dari orang ke orang ini banyak terjadi di unit hemodialisis, unit
perawatan intensif atau di-pasien unit, di mana pasien terinfeksi Mers-CoVdari clade
mono filetik tunggal menularkan ke tenaga kesehatan disana karena kepadatan penduduk
dan langkah-langkah pengendalian infeksi yang tidak memadai. Hal ini masih belum jelas
apakah transmisi melalui orang ke orang ini terjadi melalui pernapasan besar, tetesan,
karena batuk dan bersin, seperti dalam SARS, atau melalui fomites. Juga, episode
penularan tidak jelas tetapi dilaporkan berlangsung selama kedua gejala dan fase
inkubasi.
Dikarenakan etiologi dari penyakit MERS dan SARS adalah sama memungkinkan
bahwah istologi dari penyakitnya juga sama, yaitu fase eksudatif, fase proliferatif dan
fase fibrosis.
 Fase eksudatif adalah terlihat pada pasien di awal 10 hari dari penyakit, dan ditandai
dengan nekrosis alveolar, bronchiolar dan sel epitel bronkus, edema intraluminal, fibrin
eksudasi, pembentukan membran hialin, perdarahan dan infiltrasi sel-sel inflamasi,
seperti monosit atau makrofag, limfosit dan neutrofil, ke dinding alveolar dan lumina.
 Fase proliferasi, setelah 10-14 hari, menunjukkan interstitial dan fibrosis alveolar,
obliterans bronchiolitis mengorganisir pneumonia (Boop), regenerasi dengan tipe II
Pneumosit hyperplasia dan sel raksasa berinti.
 Tahap fibrosis, setelah 14 hari, menunjukkan penebalan interstitial, dengan fibrosis dan
Boop, seperti sel inflamasi pola dan beberapa (terutama histiosit dan limfosit).

5
EBOLA
A. PENGERTIAN
Ebola adalah sejenis Virus dari Genus Ebola Virus, Famili Filoviridae, dan nama
penyakitnya adalah Ebola .Virus Ebola sangat mematikan. Virus ini berasal dari
daerahnya yaitu Sungai Ebola yang berada di Kongo. Penyebaran penyakit ini dapat
melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau dengan bersentuhan kulit. Saat ini
telah dikembangkan vaksin anti Ebola yang efektif pada monyet, namun belum
ditemukan vaksin anti Ebola yang efektif pada manusia.

B. ETIOLOGI
Ebola adalah sejenis virus dari genus Ebolavirus, familia Filoviridae, dan juga nama dari
penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut. Asal katanya adalah dari sungai Ebola di
Kongo. Penyakit ini menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau jaringan
orang yang tertular. Baru dugaan, hewan yang dianggap sebagai inang alaminya adalah
kelelawar buah dari famili Pteropodidae. Hingga sekarang, belum ada vaksin penyembuh
bagi mereka yang terpapar. Diyakini, virus bermula dari hewan liar yang menularkannya
ke manusia hingga akhirnya mematikan bagi populasi manusia.A Hewan yang berpotensi
menyebarkan virus ebola kepada manusia antara lain simpanse, gorila, antelop hutan, dan
monyet Cynomolgus. Setelah seseorang terinfeksi dari hewan, maka orang tersebut
berpotensi menyebarkan virus kepada orang lainnya melalui cairan darah, air liur, atau
lendir.

C. PATOGENESIS
Virus Ebola mampu bereplikasi dengan cepat di sel-sel tubuh manusia antara lain di sel
endotelial, sel monosit, makrofak dan sel hepar. Setelah virus masuk ke dalam sel hospes,
didalam sekretori glikoprotein (sGP) , glikoprotein viral (GP) disintesis. Replikasi virus
ebola dalam sel mengacaukan sintesis protein hospes dan system imun hospes.
Glikoprotein viral membentuk klompleks trimerik yang merupakan komponen untuk
virus mengikatkan dirinya pada lapisan sel endotelial yang melapisi dinding bagian
dalam, pembuluh darah. Komponen dimerik dari sGP protein, yangmerupakan komponen

6
kompleks trimeric glikoprotein viral telah mengalabui kerja neutrophil sehingga virus
dapat berlindug dari system imundengan menghambat langka awal aktivitas neutrophil.
Keberadaan partikel virus dan kerusakan sel akibat proses budding pada saat virion keluar
dari dalam sel yang terinfeksi, mengakibatkan pelepasan sitokin terutama TNF-a, IL-6,
IL-8 dan lainnya, yang merupakan molekul signal untuk aktivitas proses demam dan
inflamasi. Disamping itu efek sitopatogenik virus pada sel indotelial yang melapisi bagian
dalam pembulu darah, dapat menyebabkan kebocoran pada dinding sel pembuluh darah.
Kebocoran pada dinding sel pembuluh darah ini diperparah oleh efek sintesis glikoprotein
viralyang mengambil glikoprotein sel yang terinfeksi, sehingga mempengaruhi fungsi
protein integrin yang bertanggung jawab pada intergritas struktur ikatan intraseluler. Hal
ini dapat menimbulkan permeabilitas dinding pembuluh darah. Disamping itu infeksi
virus ebola pada sel hepatosis menyebabkan kerusakan pada sel hati, sehingga
mengakibatkan koagulopati atau kelainan pada system pembuluh darah. Dengan
demikian dapat dipahami bahwa ketika dinding pembuluh darah mengalami kebocoran
dan mekanisme koagulasi tidak bekerja secara efektif, maka darah akan keluar dari
pembuluh darah sehingga menyebabkan hipovolemik dan syok.

D. GAMBARAN MAKROSKOPIS
Beberapa gejala infeksi Ebola menyerupai gejala penyakit lain seperti flu, Demam
Berdarah Dengue dan alaria. Gejala yang sering muncul adalah demam, sakit kepala,
diare, muntah, sakit perut, memar atau perdarahan yang tidak diketahui penyebabnya,
nyeri otot dan tubuh lemah. Gejala ebola awal muncul dalam kurun waktu 2 hingga 22
hari setelah terpapar, namun umumnya dalam 5 hingga 10 hari. Pada beberapa kasus,
kemunculan gejala dapat muncul lebih cepat atau lebih lambat daripada periode ini.
Gejala infeksi Ebola berkembang secara beberapa hari. Jika gejala tersebut muncul
disertai dengan gejala lanjutan muntah muntah, ruam-ruam, gangguan fungsi hati dan
ginjal. Pendarahan dalam tubuh yang keluar melalui mulut, telinga, hidung, mata atau
telinga, maka harus segara mendapatkan perawatan khusus agar virus tidak menyebar.
Penyakit ebola tidak bisa di deteksi dari keadaan awal dengan cepat karena gejala yang di
derita oleh penderita sangat mirip dengan penyakit miningitis dan malaria. Deteksi virus
ebola akan terlihat ketika di deteksi oleh hasil laboratorium.

7
E. PATOFISIOLOGI
Setelah infeksi virus Ebola, glikoprotein sekretorik nonstruktural (sGP) akan diproduksi
dalam jumlah yang tinggi. Molekul sGP akan berikatan dengan neutrofil CD16b sehingga
menghambat aktivasi dini neutrofil. Molekul ini juga menyebabkan limfopenia sebagai
ciri khas infeksi Evola. Molekul sGP inilah yang berperan penting dalam kegagalan host
untuk membentuk respon imun yang adekuat dan efektif. Glikoprotein transmembran
lainnya juga tertanam dalam virion Ebola, serta mampu terikat pada sel endothel. Ikatan
glikoprotein tersebut memudahkan invasi, replikasi, dan penghancuran sel endothel oleh
virus Ebola. Kerusakan permukaan endothel berkaitan dengan disseminated
intravascular coagulation (DIC), sehingga bermanifestasi pada demam hemoragik.
Gangguan endotel dan monosit yang terjadi pada infeksi Ebola dapat dilihat pada skema
berikut ini (Sullivan et al., 2003).

F.
Gambar 2.1. Respon imun dan gangguannya pada infeksi Ebola
(Sullivan et al., 2003)

Selama 4-6 hari setelah infeksi, terjadi produksi interleukin (IL)–1β, IL-6, dan tumor necrosis
factor (TNF) yang membantu imunitas melalui bantuan sel imun dan humoral. Beberapa pasien
dapat bersifat asimptomatis yang tidak memunculkan manifestasi klinis, akibat hasil kerja sitokin
proinflamasi dalam melawan infeksi di tubuhnya. Sedangkan pada pasien yang meninggal, tidak
dapat ditemukan adanya sitokin proinflamasi walaupun sudah melewati 2-3 hari infeksi dengan

8
gejala yang muncul khas (simptomatis). Viremia yang terjadi dapat memicu respon demam dan
gejala sistemik lainnya. Replikasi virus yang berjaan cepat menyebabkan nekrosis fokal berat,
terutama di hepar. Hal ini disebabkan pembentukan Councilman-like bodies. Semakin berat
infeksi Ebola, maka jaringan dan darah pasien akan mengandung virus yang lebih banyak
sehingga menyebabkan pasien sangat infeksius (King et al., 2013).

Infeksi Ebola

Molekul sGP Glikoprotein Respon imun adekuat


transmembran
Berikatan dengan lainnya Produksi IL–1β, IL-
neutrofil CD16b Berikatan dengan 6, TNF
endothel
Menghambat aktivasi Pasien asimptomatis
dini neutrofil Kerusakan
permukaan endothel
Viremia sistemik
Disseminated
Pasien simptomatis Intravascular
(gejala sistemik) Coagulation

9
Gambar 2.2. Patofisiologi Ebola (Sullivan et al., 2003; King et al., 2013).

Kesimpulan

Virus Mers Cov dan Ebola adalah jenis virus yang berbahaya. Dikarenakan virus
ini sangat mematikan. Selain itu vaksin dari kedua penyakit ini masih belum dapat di
temukan. Sehingga orang yang terpapar kedua virus ini belum bisa di sembuhkan.

Saran

Ketika seseorang ingin berkunjung keluar negeri atau negara endemik dari
patogen tersebut, harus melalui proses yaitu vaksinasi, dikarenakan agar penyakit
endemik dari negara tertentu tidak dapat menular kenegara yang lain.

10
Tinjauan Pustaka

11