Anda di halaman 1dari 104

BAB 1

LANDASAN KONSELING DAN PSIKOTERAPI

A. Pendahuluan
Bimbingan dan konseling Islami merupakan salah satu disiplin ilmu yang semakin hari
semakin dibutuhkan di dalam masyarakat. Sebagai sebuah layanan profesional, kegiatan
layanan bimbingan dan konseling islam tidak bisa dilakukan sembarangan, tetapi harus
dibangun dan berpijak pada suatu landasan yang kokoh, yang didasarkan pada hasil-hasil
pemikiran dan penelitian yang mendalam. Dengan adanya pijakan yang jelas, dan kokoh
diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling, baik dalam tataran teoritik
maupun praktik, semakin lebih baik dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu
memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan manusia.
Kehidupan modern yang materialistis dan hedonistik hanya menekankan aspek lahiriyah
semata, yang mengakibatkan kehidupan manusia mengalami kegersangan spritual dan
dekadensi moral serta stress menjadi fenomena yang lumrah. Pada titik jenuhnya, manusia
akan kembali mencari kesegaran rohaniah untuk memenuhi dahaga spritualnya dan yang
menarik bagi mereka adalah kehidupan yang memberikan ketentraman hati dan kebahagiaan
rohani.
Psikoterapi merupakan pengobatan alam pikiran atau lebih tepatnya pengobatan dan
perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Proses pengobatan ini dilakukan
dalam dalam proses layanan bimbingan dan konseling yang bertujuan untuk membantu klien
menyelesaikan masalah-masalahnya.

B. Pengertian Konseling dan Psikoterapi


Secara etimologi konseling bertasal dari bahasa latin yaitu “consilium” yang artinya
yaitu “dengan“ atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”
sedangkan dalam bahasa anglo saxon konseling berasal dari kata “sellan” yang artinya
1
“menyerahkan “atau “menyampaikan”. Ada beberapa ahli yang mengartikan tentang
definisi dari konseling di antara lain :

1
Prayitno. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. ( Jakarta: PT Rineka Cipta, 2016) hal. 99

1
a. Menurut robert L.Gibson & Marianne H. Mitchell (2010)
Konseling adalah hubungan yang berupa bantuan satu-saty yang berfokus kepada
pertumbuhan dan penyesuain pribadi, dan memenuhi kebutuhan akan penyelesaian
problem dan kebutuhan pengambilan keputusan.

b. Menurut Edwin C.Lewis (1970)


Konseling adalah suatu proses dimana orang yang bermasalah (klien) dibantu secara
pribadi untuk merasa dan berperilaku yang lebih memuaskan melalui interaksi dengan
seseorang yang tidak terlibat (konselor) yang mediakan informasi dan reaksi-reaksi yang
merangsang klien untuk mrngembangkan perilaku-perilaku yang memungkinkan
berhubungan secara lebih efektif dengan dirinya dan lingkungannya.2

c. Menurut winkel (2005)


Konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok danri bimbingan dalam usaha
membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil
tanggung jawab sendiri terhadapberbagai persoalanatau m,asalah khusus.

d. Menurut Prayitno dan Erman Amti (2004:105)


Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara
konseling oleh seseorang ahli (konselor ) kepada individu yang sedang mengalami
sesuatu masalah (klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang di hadapi oleh
klien.

C. Tahap-tahap Konseling
Konseling baru akan di laksanakan setelah melakukan proses pengumpulan data atau
informasi mengenai permasalahan yang akan di bahas, yang di ambil dari berbagai sumber
wawancara, interviw yang di lakukan oleh konselor atau orang lain yang terlatih dan
ditugaskan oleh lembaga konseling. Lalu proses konseling akan di lakukan dengan
menggunakan beberapa tahap agar supaya konseling menjadi efektif dan efisien. Tahapan
yang dilakukan dalam melakukan proses konseling yang pertama adalah :
1. Tahap Analisis

2
Az-Dzaky, Hamdani Bakran. Psikoterapi dan Konseling Islam. (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2001). Hal. 128

2
Tahap analisis yaitu pengumpulan data mengenai klien. Dimana konselor dan klien
memiliki informasi yang mampu menyesuaikan diri. Tahap analisis dapat dilakukan
menggunakan alat, seperti: catatan kumulatif, wawancara, tes psikologi, dan studi kasus.
Selain mengumpulkan data obyektif, konselor juga harus memperhatikan keinginan dan
sikap klien dengan cara memandang/ memperhatikan masalahnya.

2. Tahap Diagnosi
Tahap diagnosis ini merupakan sebuah upaya untuk menemukan faktor-faktor
penyebab atau yang menjadi seluk beluk timbulnya permasahan klien. Dalam proses
kegiatan yang di alaminya, bisa dilihat dari segi input, proses ataupun outputnya.

3. Tahap Prognosis
Tahap prognosis merupakan langkah untuk memperkirakan apakah masalah-masalah
yang di alami individu (klien ) masih bisa diatasi serta mampu untuk ditelusuri jalan
keluar dari permasalahan tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengintegrasi
atau menginterpretasikan hasil dari langkah-langkah sebelumnya ( diagnosis & prognosis
). Proses pengambilan keputusan sebaiknya dilaksanakan konferensi kasus terlebih
dahulu dengan melibatkan pihak-pihak yang terdekat untuk diminta informasi mengenai
kasus-kasus atau masalah yang dihadapi oleh klien.

4. Tahap konseling
Tahap konseling merupakan proses pemberian bantuan kepada individu (klien ) yang
dimiliki tujuan untuk menyelesaikan masalah secara pribadi untuk menyesuaikan dan
mengoptimalkan diri sesuai dengan kemampuannya.

5. Tindak lanjut
Tindak lanjut merupakan sebuah cara yang ditempuh untuk mengavaluasi hasil
pemecahan masalah dimana klien akan mengambil saran yang baik nagi dirinya dan akan
memilih untuk mengambil kwputusan.

D. Tujuan konseling

3
Proses konseling memiliki berbagai macam tujuan yang menimbulkan banyak manfaat
positif bagi individu yang melakukannya, selain bertujuan untuk menyelesaikan masalah,
proses konseling juga memiliki banyak tujuan lain yaitu :
1) Untuk memperbaiki sikap
2) Untuk merorganisasi kepribadian
3) Menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan masyarakat
4) Untuk menghapus perilaku maladaptif
5) Untuk meredakan kecemasan
6) Untuk mencegah masalah

E. Definisi Psikoterapi
Secara etimologis psikoterapi berasal dari bahasa yunani dan berasal dari kata “pshyche“
yang artinya “jiwa“ dan “therapy“ berarti “ merawat dan mengasuh “. 3Psikoterapi
didefinisikan sebagai perawatan yang secara umum mempergunakan intervensi psikis
dengan pendekatan psikologis terhadap pasien yang mengalami gangguan psikis atau
hambatan kepribadian. Pengertian psikoterapi secara meluas yang disampaikan oleh beberapa
pendapat para ahli diantaranya adalah :
1. Lewis R. Worbeg M.D
Psikoterapi adalah perasaan dengan menggunakan alat-alat psikologi terhadap
permasalahan yang berasal dari kehidupan emosional dimana seorang ahli secara sengaja
menciptakan hubungan profesional dengan pasien yang bertujuan untuk menghilangkan,
mengubah ataua menurunkan gejala-gejala yang ada.

2. C.P Chaplin
Psikoterapi adalah proses penyembuhan lewat keyakinan agama dan diskusi
personal dengan para guru ataupun kerabat.

3. Warson dan Morse


Psikoterapi adalah bentuk khusus dari interaksi antara dua orang yaitu pasien dan
terapis dimana ia memiliki kelebihan khusus.

4. Whitaker dan Malone (1953)

3
Az-Dzaky, Hamdani Bakran. Psikoterapi dan Konseling Islam. (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2001). Hal. 219

4
Psikoterapi adalah semua upaya untuk mempercepat pertumbuhan manusia sebagai
pribadi yang bersih.

F. Tahap-Tahap Psikoterapi
Dalam melakukan proses psikoterapi, ada beberapa tahap yang harus di lalui diantaranya
adalah :
1. Wawancara
Terapis akan mengetahui keluhan atau prmasalahan klien. Dalam tahap ini perlu
dikemukakan aturan-aturan apa saja yang perlu diketahui oleh klien.

2. Proses terapi
Tahap kedua dari psikoterapi adalah proses terapi. Supaya terjadi komunikasi yang
mengalir dengan baik perlu dilakukan hal-hal sbb :
 Mengkaji pengalaman klien
 Menggali pengalaman masa lalu
 Menkaji hubungan antara terapis dan klien saat inisan di sini
 Melakukan penenalan, penjelasan, pengertian perasaan dan arti-arti pribadi
pengalaman klien

3. Tindakan psikoterapi
Tahap ini dilakukan pada saat menjelang terapi berakhir. Hal-hal yang perlu
dilakukan terapis dan klien, yaitu terapis mengkaji bersama klien tentang apa yang telah
dipelajari klien selama terapi berlangsung.

4. Mengakhiri terapi
Terapi dapat diakhiri kalau tujuan telah tercapai. Atau apabila klien tidak
melanjutkan terapi. Demikian juga terapis dapat mengakhiri terapi kalau ia tidak dapat
lagi menolong kliennya, ia mungkin dirujuk. Klien harusb diberitahu waktu sebelum
pengakihiran terapi, hal ini penting karena klien akan menghadapi lingkungannya nanti
sendiri tanpa bantuan terapis. Ketergantungannya kepada terapis selama ini sedikit-
sedikit harus dihilangkan dengan menumbuhkan kemandirian klien.

5
G. Tujuan Psikoterapi
Adapun tujuan daripada psikoterapi diantaranya:
1) Memperkuat motivasi untuk melakukan hal-hal yang benar. Tujuannya biasanya
dilakukan melului terapi yang sifatnya direktif (memimpin ) dan suportif
( memberikan dukungan dan semangat ). Persuasi (ajakan ) dengan cara diberi
nasehat sederhana sampai pada hypnosis ( keadaan seperti tidur karena sugesti )
digunakan untuk menolong orang bertindak dengan cara yang tepat.
2) Mengurangi tekanan emosi melalui kesempatan untuk mengekspresikan persaan
yang mendalam
3) Membantu klien dalam mengembangkan potensinya
4) Klien diharapkan dapat mngembangkan potensinya. Ia akan mampu malepskan diri
dari fiksasi ( perasaan terikat atau terpusat pada sesuatu secara berlebihan ) yang
dialaminya. Klien akan menemukan bahwa dirinya mampu untuk berkembang ke
arah yang lebih positif.
5) Mengubah kebiasaan
6) Mengubah struktur kognitif individu. Menggambarkan tentang dirinya sendiri
maupan dunia sekitarnya. Masalah muncul biasanya terjadi kesenjangan antara
struktur kognitif individu dengan kenyataan yang dihadapinya. Jadi, struktur kognisi
( kegiatan atau proses untuk memperoleh pengetahuan ) perlu di ubah untuk
menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

H. Persamaan Dan Perbedaan Antara Konseling Dan Psikoterapi


Konseling mempunyai banyak persamaan dan perbedaan yang sangan akurat.
Diantaranya adalah sebagai berikut :4
1. Persamaan psikoterapi dan konseling
Persamaan antara konseling dan psikoterapi adalah membantu dan memberikan
perubahan, perbaikan kepada klien ( yaitu, eksplorasi-diri, pemahaman diri, dan
perubahan tindakan/perilaku) agar klien dapat sehat dan normal dalam menjauhi hidup
dan kehidupannya. Keduanya juga merupakan bantuan yang diberikan dengan mencoba
menghilangkan tingkah laku merusak diri pada klien.

2. Perbedaan

4
Az-Dzaky, Hamdani Bakran. Psikoterapi dan Konseling Islam. (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2001). Hal. 168

6
Perbedaan antara konseling dan psikoterapi adalah :5
 Konseling
 Berpusat pandang masa kini dan masa yang akan datang melihat dunia klien
 Klien tidak di anngap sakit mental dan hubungan antara konselor dan klien
itu sebagai teman yaitu meraka bersama-sama melakukan usaha untuk
tujuan-tujuan tertentu, terutama bagi orang yang ditangani tersebut.
 Konselor mempunyai nilai-nilai dan sebagainya, tetapi tidak akan
memaksakannya kepada individu yang dibantunya konseling berpusat pada
pengubahan tingkah laku, teknik-teknik yang dipakai lebih bersifat
manusiawi.
 Konselor bekerja dengan individu yang normal yang sedang mengalami
masalah.

 Psikoterapi
 Berpusat pandang pada masa yang lalu-melihat masa kini individu
 Klien dianggap sakit mental
 Klien dianggap sebagai orang sakit dan ahli psikoterapi (terapis ) tidak akan
pernah meminta orang yang ditolongnya itu untuk membantu merumusklan
tujuan-tujuan
 Terapis berusaha memaksakan nilai-nilai san sebagainya itu kepada orang
ditolongnya
 Psikoterapis berpusat pada usaha pengobatan teknik-teknik yang dipakai
adalah yang telah diresepkan
 Terapi berkeja dengan “ dunia dalam “ dari kehidupan individu yang sedang
mengalami masalah berat, psikologi dalam memegang peranannya.

I. Hubungan Konseling dan Psikoterapi


Secara teoritis, bimbingan dan konseling islam memiliki sejumlah tujuan. Menurut Tang
Chee Yee, tujuannya adalah menolong konseli/klien mempelajari, memahami pengalaman,
nilai, sikap dan perilaku, melayani keperluan klien untuk mengembangkan potensi dan
kemampuan mereka, menolong klien memahami diri mereka dan orang lain dengan
mendalam, menolong klien memilih dan merancang hidup mereka dengan baik, melayani

7
keperluan klien supaya ia dapat berkembang ke tahap yang sepatutnya, menolong klien
menyadari kekuatan dan kelemanan mereka, menjadikan klien lebih tegas, dan dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan, mewujudkan keseimbangan fisik dan mental klien,
dan menolong klien supaya berkemampuan membuat penyesuaian dan perubahan tingkah
laku yang perlu.6
Sebagaimana tujuannya, bahwa bimbingan dan konseling islam ingin membantu
berbagai permasalahan hidup seorang klien. Salah satu tema sentral dalam bidang studi ini
adalah psikoterapi. Dalam hal ini, psikoterapi (psychotherapy) adalah suatu proses
penyembuhan ataua perawatan (treatment) yang dilakukan oleh konselor (terapis) yang
profesional kepada klien melalui pendekatan psikologi, Al-Qur’an dan hadis, dengan tujuan
agar klien dapat keluar dari masalah yang dihadapainya, baik secara kejiawaan, spritual
(keagamaan), akhlak maupun masalah fisik. Psikoterapi dapat dilakukan melalui beberapa
cara seperti meningkatkan keimanan dan ibadah klien, mendalami dan mengamalkan al-
Qur’an, terapi kejiwaan melalui shalat, melalui zakat, melalui puasa, melalui haji, melalui
kesabaran, melalui istigfar dan taubat serta terapi melalui zikir dan doa.
Dalam perspektif bimbingan konseling islam, psikoterapi bisa dilakukan secara
individual maupun secara kelompok. Menurut gerald Corey,7 psikoterapi tersebut dapat
berorientasi kepada beberapa aspek, baik kognitif, tingkah laku, dan tindakan. Sedangkan
proses terapi dan penyembuhan melalui pendekatan islami sering disebut dengan istilah
istisyfa’. Salah satu metodenya adalah doa. Menurut Isep Zainal Arifin, psikoterapi islam
dapat diistilahkan sebagai al-istsyfa’ bi al-qur’an wa al-du’a, yaitu penyembuhan terhadap
penyakit-penyakit dan gangguan psikis yang didasarkan kepada tuntunan nilai-nilai al-qur’an
dan doa.
Para konselor dapat memilih jenis terapi yang diberikan kepada klien sesuai dengan jenis
masalah ataup penyakit yang diderita klien, dengan diketahuinya jenis serta model konseling
dan psikoterapi ini. Sehingga klien yang mempunyai masalah dapat tertolong dan keluar dari
masalah yang dihadapinya. Berikut merupakan sebuah hubungan antara konseling dan
psikoterapi :
1. Konseling dan psikoterapi merupakan suatu usaha profesional untuk
membantu/memberikan layanan pada individu-individu mengenai permasahan yang
bersifat psikologis.
6
Lahmudin. “Psikoterapi Dalam Perspektif Bimbingan Konseling Islam”. MIQOT vol. XXXVI No. 2 Juli-
Desember 2012. Hal. 289
7
Gerald Corey. Teori dan Praktek Konselin dan Psikoterapi, terj. Koeswara (Bandung: Refika Aditama, 2005).
Hal. 6-8.

8
2. Konseling dan psikoterapi bertujuan memberikan bantuan kepada klien untuk suatu
perubahan tingkah, kesehatan mental positif , pemecahan masalah, keefektifan
pribadi, dan pembuatan keoutusan..
3. Konseling dan psikoterapi membantu dan memberikan perubahan, perbaikan kepada
klien ( yaitu, eksplorasi-diri, pemahaman-diri, dan perubahan tindakan/ perilaku)
agar klien dapat sehat dan normal dalam menjalani hidup dan kehidupannya.
4. Konseling dan psikoterapi merupakan bantuan yang diberikan dengan mencoba
menghilangkan tingkah laku merusak diri pada klien.
5. Psikoterapi maupun konseling memberikan penekanan pentingnya perkembangan
dalam pembuatan keputusan dan keterampilan dalam pembuatan rencana oleh klien.
6. Pentingnya saling-hubungan antara kliaen dan psikoterapis ataupun konselor
disepakati sebagai suatu bagian integral dalam proses psikoterapi maupun konseling.
Jadi, inti dari konseling dan psikoterapi adalah bantuan kepada klien melalui
hubungan yang bersifat positif dan membangun.
Dengan demikian, terapi atau psikoterapi tidak bisa dilepaskan dari bimbingan konseling,
karena pada dasarnya manusia tidak luput dari permasalahan, baik permasalahan itu kecil dan
sederhana di mana seorang bisa mengatasinya dengan kekuatan mental dan agama yang ia
yakini, maupun masalah besar, sulit dan rumit, di mansa seseorang tidak bisa keluar dari
tanpa bantuan, arahan dan bimbingan orang lain, dalam hal ini termasuk peran konselor yang
profesional.

9
BAB 2
TEORI PSIKOANALISIS

A. Pendahuluan
Psikoanalisa merupakan suatu metode penyembuhan yang bersifat psikologis dengan
cara-cara fisik. Psikoanalisa jelas terkait dengan tradisi jerman yang menyatakan bahwa
pikiran adalah entitas yang aktif, dinamis dan bergerak dengan sendirinya. Selain itu,
psikoanalisa tidak lahir dari penelitian akademis, sebagaimana system-sistem lain, namun
merupakan produk konsekuensi terapan praktik klinis.

B. Pendekatan psikoanalisis

Aliran psikoanalisi dipelopori oleh seorang dokter yaitu Sigmund Freud pada tahun
1896. Ia mengemukakan pandangannya bahwa struktur kejiwaan manusia sebagian besar
terdiri dari alam ketaksadaran. Sedangkan alam kesadarannya dapat diumpamakan puncak
gunung es yang muncul ditengah laut. Sebagian besar gungung es yang terbenam itu
diibaratkan alam ketaksadaran manusia.
Psikoanalisa merupakan suatu metode penyembuhan yang bersifat psikologis dengan
cara-cara fisik. Psikoanalisa jelas terkait dengan tradisi jerman yang menyatakan bahwa
pikiran adalah entitas yang aktif, dinamis dan bergerak dengan sendirinya. Selain itu,
psikoanalisa tidak lahir dari penelitian akademis, sebagaimana system-sistem lain, namun
merupakan produk konsekuensi terapan praktik klinis. Penyusunan observasi yang dilakukan
Freud bertujuan untuk menyusun berbagai pendekatan-pendekatan terapi yang sangat
dibutuhkan. Formulasi-formulasi inilah yang diperluas ke teori psikodinamika perkembangan
kepribadian yang bergantung pada pengurangan ketegangan.
Psikoanalisa merupakan psikologi ketidaksadaran. Kesadarannya tertuju kearah bidang
motivasi,emosi,konflik,simptom-simptom neurotic,mimpi-mimpi dan sifat-sifat karakter.
Psikoanalisa dahulu lahir bukan dari psikologi melainkan dari kedokteran ,yakni kedokteran
bidang sakit jiwa. Tokoh utama psikoanalisa ialah Sigmund Freud. Pada mulanya Freud
mengembangkan teorinya tentang struktur kepribadian dan sebab-sebab gangguan jiwa .
Pengertian psikoanalisis mencakup tiga aspek :
a. Sebagai penelitian proses-proses psikis
b. Sebagai suatu teknik untuk mengobati gangguan-gangguan psikis

10
c. Sebagai Teori kepribadian.8

C. Struktur kepribadian

Menurut pandangan psikoanalitik, struktur kepribadian terdiri dari tiga sistem : id, ego,
dan superego.ketiganya adalah nama bagi proses-proses psikologis dan jangan dipikirkan
sebagai agen-agen yang secara terpisah mengoperasikan kepribadian; merupakan fungsi-
fungsi kepribadian sebagai keseluruhan daripadasebagai tiga bagian yang terasing satu sama
lain. Id adalah komponen biologis, ego adalah komponen psikologis, sedangkan superego
merupakan komponen sosial.

1. Id
Id adalah sistem kepribadian yang orisinil; kepribadian setiap orang hanya terdiri dari
id ketika dilahirkan. Id merupakan tempat bersemayam naluri-naluri. Id kurang
terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Seperti kawah yang terus mendidih dan
bergejolak, id tidak bisa menoleransi tegangan, dan bekerja untuk melepaskan tegangan
itu sesegera mungkin serta untuk mencapai keadaan homeostatik. Dengan diatur oleh
asas kesenangan yang diarahkan pada pengurangan tegangan, penghindari kesakitan, dan
perolehan kesenangan, id bersifat tidak logis, amoral, dan didorong oleh satu
kepentingan : memuaskan kebutuhan-kebutuhan naluriah sesuai dengan asas kesenangan.
Id tidak pernah matang dan selalu menjadi anak manja dari kepribadian, tidak berpikir,
dan hanya menginginkan atau bertindak id bersifat tak sadar.

2. Ego

Ego memiliki kontak dengan dunia eskternal dari kenyataan.ego adalah eksekutif dari
kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Sebagai “ polisi lalu
lintas” bagi id, superego, dan dunia eksternal, tugas utama ego adalah mengantarai
naluri-naluri dengan lingkungan sekitar. Ego mengendalikan kesadaran dan
melaksanakan sensor. Dengan diatur oleh asas kenyataan, ego berlaku realistisbdan
berpikir logis serta merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan kebutuhan-
kebutuhan.

3. Superego

8
Sofyan S. Wilis, Konseling Individual, Teori dan Praktek, Alfabeta, Bandung, 2014, hlm 55

11
Superego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian. Superego adalah kode
moral individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk,
benar atau salah. Superego merepresentasikan hal yang ideal alih-alih hal yang riel, dan
mendorong bukan kepada kesenangan, melainkan kepada kesempurnaan. Superego
merepresentasikan nilai-nilai tradisional dan ideal-ideal masyarakat yang diajarkan oleh
orang tua kepada anak’ superego berfungsi menghambat impuls-impuls id. Kemudian,
sebagai internalisasi standar-standar orang tua dan masyarakat, superego berkaitan
dengan imbalan-imbalan dan hukuman-hukuman. Imbalan-imbalannya adalah perasaan-
perasaan bangga dan mencintai diri, sedangkan hukuman-hukumannya adalah perasaan-
perasaan berdosa dan rendah diri.

D. Situasi hubungan
Dalam konseling psikoanalisis terdapat 3 bagian hubungan konselor dengan klien, yaitu
aliansi, transferensi, dan kontratransferensi.
a. Aliansi yaitu sikap klien kepada konselor yang relatif rasional, realistik, dan tidak
neorosis (merupakan prakondisinuntuk terwujudnya keberhasilan konseling).
b. Transferensi, pengalihan segenap pengalaman klien di masa lalunya terhadap orang-
orang yang menguasainya, yang ditunjukan kepada konselor, merupakan bagian dari
hubungan yang sangat penting untuk dianalisis, membantu klien untuk mencapai
pemahaman tentang bagaimana dirinya telah salah dalam menerima,
menginterpretasikan, dan merespon pengalaman pada saat ini dalam kaitannya dengan
masa lalunya.
c. Kontratransferensi, yaitu kondisi dimana konselor mengembangkan pandangan-
pandangan yang tidak selaras dan berasal dari konflik-konfliknya sendiri.
Kontratransferensi bisa terdiri dari perasaan tidak suka, atau justru keterikatan atau
keterlibatan yang berlebihan, kondisi ini dapat menghambat kemajuan proses
konseling karena konselor akan lebih terfokus pada masalahnya sendiri. Konselor
harus menyadari perasaannya terhadap klien dan mencegah pengaruhnya yang bisa
merusak. Konselor diharapkan untuk bersikap relatif obyektif dalam menerima
kemarahan, cinta, bujukan, kritik, emosi-emosi kuat lainnya dari konseling.9

9
Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterap, Refika Aditama, Bandung, 2013, hlm 14-15

12
E. Hubungan konseling dan keterlibatan klien
Ada beberapa hal yang perlu dipelihara dalam hubungan konseling yakni ;
1. Kehangatan, artinya konselor membuat situasi hubungan konseling itu demikian
hangat bergairah, bersemangat. Kehangatan disebabkan adanya rasa bersahabat, tidak
formal, serta membangkitkan semangat dan rasa humor.
2. Hubungan yang empati, yaitu konselor merasakan apa yang dirasakan klien, dan
memahami akan keadaan diri serta masalah yang dihadapinya.
3. Keterlibatan klien, yaitu terlihat klien bersungguh-sungguh mengikuti proses
konseling dengan jujur mengemukakan persoalannya, perasaannya. Selanjutnya dia
bersemangat mengemukakan ide, alternatif dan upaya-upaya.

Keterlibatan klien dalam proses konseling ditentukan oleh faktor keterbukaan dirinya
dihadapan konselor. Jika klien diliputi keengganan dan resentensi, maka dia tidak akan
jujur mengeluarkan perasaannya.

F. Teknik Konseling Psikoanalisis


1. Asosiasi bebas,
yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari
alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang, sehingga klien mudah
mengungkapkan pengalaman masa lalunya. Klien diminta mengutarakan apa saja yang
terlintas dalam pikirannya. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan
pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan
pengalaman traumatik masa lalu. Hal ini disebut juga katarsis.

2. Analisis mimpi
klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan
konselor berusaha untuk menganalisisnya. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-
masalah yang belum terpecahkan. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu
tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke
permukaan. Menurut Freud, mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan
keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari.

13
3. Interpretasi
yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien, baik dalam
asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi klien. Konselor menetapkan,
menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan
dalam mimpi, asosiasi bebas, resitensi dan transferensi.

4. Analisis resistensi, 
resistensi berati penolakan, analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien
terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). Konselor meminta perhatian
klien untuk menafsirkan resistensi

5. Analisis transferensi.
Transferensi adalah mengalihkan, bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. Dalam
hal ini, klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa
lalu terkait dengan cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan yang oleh klien dibawa ke
masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. Biasanya klien bisa membenci atau
mencintai konselor. Konselor menggunakan sifat-sifat netral, objektif, anonim, dan pasif
agar bisa terungkap tranferensi tersebut.10

G. Karakteristik konseling
a. Anti rasionalisme
b. Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar, konflik dan simbolis
c. Manusia secara esensial bersifat biologis, terlagir dengan dorongan-dorongan
instingif, sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan tadi,
libido atau eros mendorong manusia kea rah pencarian kesenanggan, sebagai lawan
dari thanatos
d. Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psiskis sebelumnya
e. Kesadarn merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental
yang berciri biasa

10
Sofyan S. Wilis, Konseling Individual, Teori dan Praktek, Alfabeta, Bandung, 2014, hlm62

14
H. Peran dan Fungsi Konselor pada Psikoanalisa
1. Peran Konselor
a. Konselor membangun hubungan kerja sama dengan klien dan kemudian
melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan.
b. Konselor membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, ketulusan hati, dan
hubungan pribadi yang lebih efektif dalam menghadapi kecemasan melalui cara-
cara yang realistis.
c. Konselor memberikan perhatian kepada resistensi klien

2. Fungsi Konselor
Fungsi utama konselor adalah mengajarkan proses arti proses kepada konseli agar
mendapatkan pemahaman terhadap masalahnya sendiri. mengalami peningkatan
kesadaran atas cara-cara berubah, sehingga konseli mampu mendaptakan kendali yang
lebih rasional atas hidupnya sendiri. Mempercepat proses penyadaran hal-hal yang
tersimpan dalam ketidak sadaran.

I. Kelemahan dan Kelebihan Pebdekatan Psikoanalisa


1. Kelemahan Teori Psikoanalisis
i. Pandangan yang terlalu determistik dinilai terlalu merendahkan martabat
kemanusiaan.
ii. Terlalu banyak menekankan kepada masa kanak-kanak dan menganggap
kehidupan seolah-olah ditentukan oleh  masa lalu. Hal ini memberikan
gambaran seolah-olah  tanggung jawab individu berkurang.
iii. Cenderung meminimalkan rasionalit
iv. Kurang efisien dari segi waktu dan biaya

2. Kelebihan Teori Psikoanalisis


a. Penggunaan terapi wicara
b. Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan dapat memahami sifat
manusia untuk meredakan penderitaan manusia.
c. Pendekatan ini dapat mengatasi kecemasan melalui analisis atas mimpi-minpi,
resistensi-resistensi dan transferensi-trasnferensi.

15
d. Pendekatan ini memberikan kepada konselor suatu kerangka konseptual untuk
melihat tingkah laku serta untuk memahami sumber-sumber dan fungsi
simptomatologi.11

11
Gerald Corey, Theori and Practice of counseling and Psychoterapy, Eresco,Bandung, 1988

16
BAB 3
TEHNIK TEORI BEHAVIORAL

A. Pendahuluan
Konseling berkembang pertama kali di Amerika yang dipelopori oleh Jesse B. Davis
tahun 1898 yang bekerja sebagai konselor sekolah di Detroit (Surya,1988:39). Banyak factor
yang mempengaruhi perkembangan konseling, salah satunya adalah perkembangan yang
terjadi pada kajian psikologis, Surya (1988:42) mengungkapkan bahwa kekuatan-kekuatan
tertentu dalam lapangan psikologis telah mempengaruhi perkembangan konseling baik dalam
konsep maupun teknik.
Aliran-aliran yang muncul dalam lapangan psikologi memberikan pengaruh yang cukup
besar terhadap perkembangan konseling, diantara aliran-aliran psikologi yang cukup
memberikan pengaruh terhadap perkembangan konseling adalah sebagai berikut ; aliran
strukturalisme (Wundt), Fungsionalisme (James), dan Behaviorisme (Watson).
Perkembangan koseling behavioral bertolak dari perkembanngan aliran behavioristik
dalam perkembangan psikologi yang menolak pendapat aliran strukturalisme yang
berpendapat bahwa mental, pikiran dan perasaan hendaknya ditemukan terlebih dahulu bila
perilaku manusia ingin difahami, maka munculah teori introspeksi.
Aliran Behaviorisme menolak metode introspeksi dari aliran strukturalisme dengan
sebuah keyakinan bahwa menurut para behaviorist metode introspeksi tidak dapat
menghasilkan data yang objektif, karena kesadaran menurut para behaviourist adalah sesuatu
yang Dubios, yaitu sesuatu yang tidak dapat diobservasi secara langsung, secara nyata
(Walgito,2002:53).

B. Konsep Dasar Aliran Behavioral


Konseling Behavioral adalah salah satu dari teori-teori konseling yang ada pada saat ini.
Konseling behavioral merupakan bentuk adaptasi dari aliran psikologi behavioristik, yang
menekankan perhatiannya pada perilaku yang tampak.
Pada hakikatnya konseling merupakan sebuah upaya pemberian bantuan dari seorang
konselor kepada klien, bantuan di sini dalam pengertian sebagai upaya membantu orang lain
agar ia mampu tumbuh ke arah yang dipilihnya sendiri, mampu memecahkan masalah yang
dihadapinya dan mampu menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam kehidupannya

17
(Yusuf&Juntika,2005:9).konsep dasar dari behaviorisme adalah prediksi&control atas
perilaku manusia yang tampak. Dan dapat dibagi dua bagian:12
a. Hakikat Tingkah Laku
Konseling behavioral berpandangan, bahwa tingkah laku manusia pada dasarnya:
i. Tingkah laku manusia diperoleh melalui belajar dan kepribadian adalah hasil
proses belajar. Belajar merupakan suatu perubahan perilaku yang relatif
permanen sebagai hasil dari latihan atau pengalaman.
ii. Tingkah laku manusia tersusun dari respons-respons kognitif, motorik dan
emosional terhadap stimulus yang datang baik dari internal maupun eksternal.
iii. Tingkah laku manusia dipengaruhi oleh variabel-variabel kompetensi, setrategi
dan susunan pribadi, harapan-harapan, nilai stimulus, sistem dan rencana
pengaturan diri.

b. Prinsip Belajar
Tingkah laku manusia dapat dilihat dari aspek kondisi yang menyertai atau akibat
yang menyertai tingkah laku setelah terbentuk dengan anticedent yang disebut dengan
consequence. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan
melalui hukum-hukum belajar :
i. Pembiasaan klasik, yang ditandai dengan satu stimulus yang menghasilkan
satu respon. Misalnya bayi merespon suara keras dengan takut.
ii. Pembiasaan operan, ditandai dengan adanya satu stimulus yang menghasilkan
banyak respon. Pengondisian operan memberikan penguatan positif yang bisa
memperkuat tingkah laku. Sebaliknya penguatan negatif bisa memperlemah
tingkah laku. Munculnya perilaku akan semakin kuat apabila diberikan
penguatan positif dan akan menghilang apabila dikenai hukuman.
iii. Peniruan, yaitu orang tidak memerlukan reinforcement agar bisa memiliki
tingkah laku melainkan ia meniru. Syarat dalam meniru tingkah laku yaitu:
a. Tingkah laku yang ditiru memang mampu untuk ditiru oleh individu yang
bersangkutan.
b. Tingkah laku yang ditiru adalah perbuatan yang dinilai publik positif.

C. Tujuan Utama Aliran Behavioral13

12
Drs. Alex Sobur,M.Si. psikologi Umum dalam Lintas Budaya,Bandung:2013 hlm126
13
Prof.Dr.H.Sufyan Wills. Teori individual, Teori dan Praktek. Alfabeta 2014 hlm 70

18
Tujuan konseling behavior adalah untuk membantu konseli membuang respon-respon
yang lama yang merusak diri, dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat.
Jadi tujuan konseling behaviour adalah untuk memperoleh perilaku baru, mengeliminasi
perilaku yang maladaptif dan memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan
dalam jangka waktu lama. Adapun tujuan umumnya yaitu menciptakan kondisi baru untuk
belajar. Dengan asumsi bahwa pembelajaran dapat memperbaiki masalah perilaku.
Tujuan umum dari suatu terapi perilaku ialah membentuk kondisi baru untuk belajar,
karena melalui proses belajar dapat mengatasi masalah yang ada. Teknik-teknik behavioristik
tidak mengancam untuk menghapuskan atau mengurangi kebebasan memilih. Tujuan-tujuan
dari konseling behavioristik adalah :
a. Upaya menolong diri sendiri (self-help).
b. Meningkatkan ketrampilan-ketrampilan sosial klien.
c. Memperbaiki tingkah laku yang menyimpang dari klien.
d. Membantu setiap klien dalam mengembangkan suatu sistem pengaturan diri (self-
management).
e. Klien dapat mengontrol nasibnya sendiri (self-control) baik didalam konseling
maupun diluar situasi konseling.

Tujuan menurut krumboltz hendaknya memperhatikan kriteria berikut :


a. Tujuan harus diinginkan klien.
b. Konselor harus beringinan untuk membantu klien mencapai tujuan.
c. Tujuan harus mempunyai kemungkinan untuk dinilai pencapainya oleh klien.

D. Stuktur Kepribadian aliran behavioral


a. Kepribadian dan Belajar
Kepedulian utama dari Skinner adalah mengenai perubahan tingkah laku. Jadi
hakikat teori Skinner adalah teori belajar, bagaimana individu menjadi memiliki tingkah
laku baru, menjadi lebih terampil, menjadi lebih tahu. Kehidupan terus-menerus
dihadapkan dengan situasi eksternal yang baru, dan organisme harus belajar merespon
situasi baru itu memakai respon lama atau memakai respon yang baru dipelajari. Dia
yakin bahwa kepribadian dapat difahami dengan mempertimbangkan pertimbangan
tingkah laku dalam hubungannya yang terus menerus dengan lingkungannya. Cara
efektif untuk mengubah dan mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan

19
penguatan, suatu strategi kegiatan yang membuat tingkah laku tertentu berpeluang untuk
terjadi atau sebaliknya pada masa yang akan datang. Konsep dasarnya sangat sederhana
yakni bahwa semua tingkah laku dapat dikontrol oleh konsekuensi tingkah laku itu.
(Alwisol,2005:403)

b. Generalisasi dan Deskriminasi Stimulus


Generalisasi stimulus adalah proses timbulnya respon dari stimulus yang mirip
dengan stimulus yang mestinya menimbulkan respon itu. Sedangkan diskriminasi
stimulus adalah kemampuan untuk membedakan stimulus, sehingga stimulus itu tidak
diberi respon, walaupun mirip dengan stimulus yang diberi penguat. Generalalisasi dan
diskriminasi sangat penting sebagai sarana belajar, karena kalau keduanya tidak ada,
orang tidak belajar sama sekali. Kita selalu belajar dari permulaan, dan kita terus
menerus akan belajar tingkah laku baru kalau tidak ada generalisasi, karena tidak ada
orang yang dapat berada dalam situasi yang sama persis dan melakukan respon yang
sama persis pula.
Menurut Skinner, generalisasi stimulus itu memiliki arti penting bagi integritas
tingkah laku individu. Tanpa adanya generalisasi stimulus, tingkah laku individu akan
terbatas dan tidak terintegritas, yang menyebabkan individu tersebut harus selalu
mengulang-ulang pembelajarannya, bagaiman bertingkah laku secar layak. Disamping
generalisasi stimulus, menurut Skinner individu mengembangkan tingkah laku adaptif
atau penyesuaian diri melalui kemampuan membedakan atau diskriminasi stimulus.
Deskriminasi stimulus merupakan kebalikan dari generalisasi stimulus, yakni suatu
proses belajar bagaimana merespons secara tepat terhadap berbagai stimulus yang
berbeda. Menurut Skinner, kemampuan mendiskriminasikan stimulus itu pada setiap
orang tidaklah sama.

c. Tingkah Laku Kontrol Diri


Prinsip dasar pendekatan Skinner adalah: Tingkah laku disebabkan dan dipengaruhi
oleh variable eksternal. Tidak ada sesuatu dalam diri manusia, tidak ada bentuk kegiatan
internal, yang mempengaruhi tingkah laku. Namun betapapun kuatnya stimulus dan
penguat eksternal, manusia masih dapat mengubahnya memakai proses kontrol diri.
Pengertian kontrol diri ini bukan mengontrol kekuatan dalam diri, tetapi bagaimana diri
mengontrol variable-variabel luar yang menentukan tingkah laku. Tingkah laku tetap

20
ditentukan oleh variable luar, namun dengan cara kontrol diri berikut, pengaruh variable
itu dapat diperbaiki-diatur atau dikontrol.

E. Hubungan konselor dan klien


Yang menjadi perhatian utama konselor behavioral adalah perilaku yang tampak, dengan
alasan ini banyak asumsi yang berkembang tentang pola hubungan konselor klien lebih
manupulatif- mekanistik dan sangat tidak Pribadi, namun seperti dituturkan Rosjidan
(1988:243) salah satu aspek yang essensial dalam terapi behavioral adalah proses penciptaan
hubungan Pribadi yang baik.14
Untuk melihat hubungan konselor-klien dalam seting konseling behavioral dapat kita
perhatikan dari proses konseling behavioral. Proses konseling behavioral yaitu sebuah proses
membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal,emosional, dan keputusan
tertentu. Jika kita perhatikan lebih lanjut, pendekatan dalam konseling behavioral lebih
cenderung direktif, karena dalam pelaksanaannya konselor-lah yang lebih banyak
berperan.
i. Peran Konselor :
a. Menyebutkan tingkah laku maladaptip
b. Memilih tujuan-tujuan yang masuk akal
c. Mengarahkan dan membimbing keluarga untuk merubah tingkah laku yang tak
sesuai.

F. Pengalaman konseli
Kontribusi unik dari terapi behavior adalah behavior terapi menyediakan terapis dengan
sistem yang bagus dari prosedur yang dipakai. Baik terapis maupun klien memiliki peran
yang jelas, dan ditekankan akan pentingnya kesadaran serta partisipasi klien dalam proses
terapeutik. Terapi behavior dicirikan dengan peran aktif terapis dan klien. Peran terapis
adalah mengajari skil-skil konkrit melalui pemberian instruksi, modeling, dan melalui
feedback performance. Klien campur tangan dalam pengulangan behavioral dengan feedback
sampai skil-skil telah dipelajari dengan baik dan umumnya menerima aktif tugas-tugas rumah
(seperti pemantauan diri dari masalah behavioral). Klien harus dimotivasi untuk mengubah
dan bekerja sama dalam aktivitas terapeutik, baik dalam sesi terapi maupun dalam kehidupan
sehari-hari.

14
Gerald Corey,1988. Theori and Practice of counseling and Psychoterapy, (Eresco,Bandung,) hlm71

21
Klien diberi semangat untuk bereksperimen terhadap tujuan untuk meningkatkan
repertoir tingkah laku adaptif mereka. Mereka dibantu untuk menggeneralisasikan dan
mentransfer pembelajaran yang didapat dalam situasi terapi menuju situasi di luar terapi.
Verbalisasi dalam konseling digunakan ketika transfer perubahan dibuat dari sesi terapi
menuju kehidupan sehari-hari dan ketika efek dari terapi diperluas di luar pengakhiran
dimana treatmen dapat dianggap berhasil.
Klien memiliki frame of reference untuk menilai kemajuan mereka dalam menyelesaikan
tujuan mereka. Ketika tujuan telah diselesaikan, maka klien dan terapis mengakhiri treatmen.
Setelah terapi behavior yang sukses, klien mengamalkan pilihan-pilihan yang lebih baik
dalam berperilaku.

G. Peranan konselor
Hakikatnya fungsi dan peranan konselor terhadap konseli dalam teori behavioral ini
adalah:
a. Mengaplikasikan prinsip dari mempelajari manusia untuk memberi fasilitas
pada penggantian perilaku maladaptif dengan perilaku yang lebih adaptif.
b. Menyediakan sarana untuk mencapai sasaran konseli, dengan membebaskan
seseorang dari perilaku yang mengganggu kehidupan yang efektif sesuai dengan
nilai demokrasi tentang hak individu untuk bebas mengejar sasaran yang
dikehendaki sepanjang sasaran itu sesuai dengan kebaikan masyarakat secara
umum.

H. Tehnik-tehnik behavioral15
a. Desentisasi sistematik (Systematic desensitization)
teknik ini dikembangkan oleh Wolpe yang mengatakan bahwa semua perilaku
neurotic adalah ekspresi dari kecemasan dan respon terhadap kecemasan dapat
dieliminasi dengan menemukan respon yang antagonistik (keadaan relaksasi).
b. Latihan Asertif (Assertive training)
yaitu konseling yang menitik beratkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam
perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakannya (misalnya: ingin marah tetapi tetap
berespon manis). Pelaksanaan teknik ini ialah dengan role playing (bermain peran).

15
Ibid,. Hlm 78

22
c. Terapi Aversi (Aversion therapy )
Teknik ini bertujuan untuk menghukum perilaku yang negatif dan memperkuat
perilaku yang positif. Dalam hal ini konselor dapat menerapkan punishment (sangsi) dan
reward (pujian/hadiah) secara tepat dan proposional terhadap perubahan perilaku klien.
d. Terapi implosif dan pembanjiran
Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa
pemberian penguatan. Teknik pembanjiran ini tidak menggunakan agen pengkondisian
balik maupun tingkatan kecemasan. Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil
kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis berusaha mempertahankan
kecemasan klien.
e. Pekerjaan Rumah (Home work)
Teknik ini berbentuk suatu latihan/ tugas rumah bagi klien yang kurang mampu
menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu, caranya dengan memberikan tugas rumah
(untuk satu minggu), misalnya: tidak menjawab apabila klien dimarahi ibunya atau
bapaknya.

I. Kerekteristik behavioral
a. Karakteristik konseling
Karakteristik konseling behavioral adalah sebagai berikut :
i. Kebanyakan perilaku manusia dapat dipelajari dan karena itu dapat pula
dirubah.
ii. Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkungan individual dapat membantu
dalam merubah perilaku-perilaku yang releven, prosedur-prosedur konseling
berusaha membawa perubahan-perubahan yang releven dalam perilaku klien
dengan merubah lingkungan.
iii. Prinsip-prinsip belajar sosial, seperti misalnya “reinforcement” dan “social
Modeling” dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur
konseling.
iv. Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan-perubahan
dalam perilaku-perilaku khusus diluar dari layanan konseling yang diberikan.

23
v. Prosedur-prosedur konseling tidak statik, tetap atau ditentukan sebelumnya,
tetapi dapat secara khusus di desain untuk membantu klien dalam memecahkan
masalah khusus.

b. Karakteristik konselor
Didalam konseling behavioral ada beberapa karakteristik yang harus dimiliki konselor
untuk mencapai tujuan dalam proses konseling yaitu :
i. Konselor harus mengutamakan keseluruhan individual yang bertanggung jawab,
yang dapa memenuhi kebutuhannya.
ii. Konselor harus kuat, yakin, dia harus dapat menahan tekanan dari permintaan
klien untuk simpati atau membenarkan perilakunya tidak pernah menerima
alasan-alasan dari perilaku irasional konseli.
iii. Konselor harus sensitif terhadap kemampuan untuk memahami perilak orang lain.
iv. Konselor harus dapat bertukar pikiran dengan konseli tentang perjuangannya
dapat melihat bahwa seluruh individu dapat melakukan secara bertanggung jawab
termasuk ada saat yang sulit.

c. Karekteristik Konseli
Didalam konseling behavioral terdapat adanya peran konseli yang ditentukan dengan
baik dan menekankan pentingnya kesadaran dan partisipasi konseli dalam proses
konseling. Keterlibatan konseli dalam proses konseling dalam kenyataannya menjadi
lebih aktif dan tidak hanya sebagai penerima teknik-teknik yang pasif. Konseli didorong
untuk berekspresimen dengan tingkah laku yang baru sebagai pengganti tingkah laku
yang salah suai.

J. Syarat-syarat konselor
a. Tiga sikap pokok, yaitu menerima (acceptance), memahami (understanding), dan
sikap bertindak dan berkata jujur. Sikap menerima berarti pihak konselor menerima
siswa sebagaimana adanya dan tidak segera mengadili siswa karena kebenaran dan
pendapatnya / perasaannya / perbuatannya. Sikap memahami berkaitan dengan
tuntutan seorang konselor agar berusaha dengan sekuat tenaga menangkap dengan
jelas dan lengkap hal-hal yang sedang diungkapkan oleh siswa, baik dalam bentuk
kata-kata maupun tindakan. Sedangkan sikap bertindak dan berkata secara jujur

24
berarti bahwa seorang konselor tidak berpura-pura sehingga siswa semakin percaya
dan mantap ketika sedang berhadapan dengan konselor.
b. Kepekaan terhadap apa yang ada di balik kata-kata yang diungkapkan konseli.
Kepekaan yang dibangun oleh konselor sekolah akan membantu dalam proses
konseling karena konselor akan mendapatkan banyak data yang mungkin secara
verbal maupun nonverbal diungkapkan oleh konseli.
c. Kemampuan dalam hal komunikasi yang tepat (rapport). Hal ini berarti konselor
mampu menyatakan pemahamannya terhadap hal-hal yang diungkapkan konseli.
d. Memiliki kesehatan jasmani dan mental yang sehat.
e. Wajib menaati kode etik jabatan sesuai dengan yang telah disusun dalam Konvensi
Nasional Bimbingan I.

K. Kelebihan dan kekurangan aliran behavioral


Setiap teori yang ada pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan, kelebihan dan
kekurangan teori behavioristik dintaranya :
a. Kelebihan :
i. Telah mengembangkan konseling sebagai ilmu karena mengundang penelitian
dan menerapkan IPTEK kepada proses konseling
ii. Pengembangan prilaku yang spesifik sebagai hasil konseling yang dapat diukur
iii. Memberikan ilustrasi bagaimana keterbatasan lingkungan
iv. bukan prilaku yang ada dimasa lalu.

b. Kelemahan :
i. Bersifat dingin, kurang menyentuh aspek pribadi sifat manipulatif dan
mengabaikan hubungan pribadi
ii. Lebih konsentrasi pada teknik
iii. Pemilihan tujuan sering ditentukan oleh konselor
iv. Meskipun konselor behaviour menegaskan klien unik dan menuntut perlakuan
yang spesifik tapi masalah klien sering sama dengan klien yang lain dan karena
itu tidak menuntut strategi konseling.
v. Konstruk belajar dikembangkan dan digunakan konselor behavioral tidak cukup
komprehensif untuk menjelaskan belajar dan harus dipandang hanya sebagai
hipotesis harus dites.

25
26
BAB 4
TEORI EKSISTENSIAL HUMANISTIK

A. Pendahuluan
Usaha yang di lakukan manusia dalam membantu masalah manusia tidak mungkin tanpa
mengenal dengan baik tentang manusia itu sendiri. Unik dan rumitnya perihal manusia
sebagai makhluk individu, telah melahirkan bermacam-macam konsep dan pandangan. Teori
humanistik di kembangkan oleh Maslow tahun 1908-1970 di Amerika Serikat.
Dasar falsafahnya Phenomenology yang menganggap bahwa manusia pada dasarnya
baik dan layak di hormati dan mereka akan bergerak ke arah realisasi potensi-potensi mereka,
manakala kondisi lingkungannya memberikan kemungkinan. Psikoterapai Humanistik
membicarakan kepribadian manusia di tinjau dari segi self dasi akunya.Konnsep utama yang
anut adalah usaha untuk mengerti manusia sebagai mana adanya, mengetahui mereka dari
realitasnya, melihat dunia sebagai mana mereka melihatnya, memahami mereka bergerak dan
mempunyai keberadaan yang unik, kongkrit dan berbeda dari teori yang abstrak. Teori
humanistik di katakan demikian, karena menekankan kemampuan-kemampuan yang khas
manusiawi.Manusia mempunyai kemampuan untuk refleksi diri, kemampuan aktualisasi
potensi-potensi kreatif dan juga ke khususan manusia, yaitu menentukan bagi dirinya sendiri
secara aktif.

B. Konsep Dasar
Psikologi humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada
tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada
abad pertengahan. Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi seperti : Abraham Maslow,
Carl Rogers dan Clark Moustakas mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya
mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang : self (diri),
aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.
Abraham Maslow Yang terkenal dengan teori aktualisasi diri di lahirkan di  New York pada
tahun 1908. Ia meninggal di Calivornia pada tahun 1907.
Maslow seorang anak yang pandai mejalani hubungan yang baik dengan ibunya yang
otoriter yang sering kali melakukan tindakan aneh. Ia menggambarkan dirinya pada masa
kecil sebagai seorang yang pemalu, kutu buku dan neurotic. Tetapi  ,maslow tidak selamanya
menjadi neurotic dan benci pada dirinya sendiri. Ia sepenuhnya menyadari potensinya ,dan

27
menjadi psikilog humanisme terkenal yang mengispirasi banyak perubahan masyarakat
kearah yang positif.
Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang
dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan
menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan
pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan.
Dari pemikiran Abraham Maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan psikologis
tentang potensi-potensi yang dimiliki manusia. Hasil pemikirannya telah membantu guna
memahami tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang, yang merupakan salah satu tujuan
dalam pendidikan humanistik. Menurut Maslow, yang terpenting dalam melihat manusia
adalah potensi yang dimilikinya. Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan
kepribadian manusia daripada berfokus pada “ketidaknormalan” atau “sakit”. Pendekatan ini
melihat kejadian bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang
positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan para
pendidik yang beraliran humanistik biasanya memfokuskan penganjarannya pada
pembangunan kemampuan positif ini.16
Psikologi Eksistensial Humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini
terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih – alih
suatu system teknik – teknik  yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Pendekatan terapi
eksistensial bukan suatu pendekatan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang
mencakup terapi – terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep – konsep dan
asumsi – asumsi tentang manusia.
Teori dan pendekatan Konseling Eksistensial Humanistik berfokus pada diri manusia.
Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia.
Terapi Eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa lari kebebasan dan bahwa
kebebasan dan tanggungjawab berkaitan. Pendekatan Eksistensial Humanistik dalam
konseling menggunakan sistem teknik – teknik yang bertujuan untuk mempengaruhi klien.
Pendekatan Terapi Eksistensial Humanistik bukan merupakan terapi tunggal, melainkan suatu
pendekatan yang mencakup terapi tearpi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan
konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia.
Pendekatan ini berfokus pada sifat dari kondisi manusia yang mencakup kesanggupan
untuk menyadari diri, bebas memilih untuk menentukan nasib sendiri, kebebasan dan
tanggung jawab, kecemasan sebagai suatu unsur dasar, pencarian makna yang unik di dalam
16
Ibid,. hlm 53

28
dunia yang tak bermakna, berada sendiri dan berada dalam hubungan dengan orang lain
keterhinggaan dan kematian, dan kecenderungan mengaktualkan diri. Pendekatan ini
memberikan kontribusi yang besar dalam bidang psikologi, yakni tentang penekanannya
terhadap kualitas manusia terhadap manusia yang lain dalam proses teurapeutik.
Terapi eksistensial-humanistik menekankan kondisi-kondisi inti manusia dan
menekankan kesadaran diri sebelum bertindak.Kesadaran diri berkembang sejak bayi.
Perkembangan kepribadian yang normal berlandaskan keunikan masing-masing individu.
Berfokus pada saat sekarang dan akan menjadi apa seseorang itu, yang berarti memiliki
orientasi ke masa depan. Maka dari itu, akan lebih meningkatkan kebebasan konseling dalam
mengambil keputusan serta bertanggung jawab dalam setiap tindakan yang di ambilnya.
Menurut Gerald Corey, (1988:54-55) ada beberapa konsep utama dari pendekatan
eksistensial yaitu :
1. Kesadaran diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan
yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan.
Semakin kuat kesadaran diri itu pada seseorang, maka akan semakin besar pula
kebebasan yang ada pada orang itu. Kesanggupan untuk memilih alternatif – alternatif
yakni memutuskan secara bebas di dalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek
yang esensial pada manusia.17

2. Kebebasan, Tanggungjawab, dan Kecemasan


Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab dapat menimbulkan kecemasan yang
menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan eksistensial juga bisa diakibatkan oleh
kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati.
Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab
kesadaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu
yang terbatas untuk mengaktualkan potensi – potensinya.

3. Penciptaan Makna
Manusia itu unik, dalam artian bahwa dia berusaha untuk menemukan tujuan hidup
dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Pada
hakikatnya manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam
suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah makhluk rasional. Kegagalan dalam
17
Ibid,. hlm 54

29
menciptakan hubungan yang bermakna dapat menimbulkan kondisi-kondisi keterasingan
dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan
potensi – potensi manusiawinya sampai taraf tertentu.18

C. Tujuan-Tujuan Terapeutik
Menurut Gerald Corey, (1988:56) ada beberapa tujuan terapeutik yaitu :
Agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan
dan potensi – potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan
kemampuannya. Keotentikan sebagai “urusan utama psikoterapi” dan “nilai eksistensial
pokok”. Terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik :
1. Menyadari sepenuhnya keadaan sekarang,
2. Memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, dan
3. Memikul tanggung jawab untuk memilih.
a. Meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan
pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
b. Membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan
tindakan memilih diri, dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari
sekadar korban kekuatan – kekuatan deterministic di luar dirinya.19

Tujuan Konseling menurut Akhmad Sudrajat yaitu :


1. Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya
menurut apa adanya. Saya adalah saya.
2. Memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi cara berfikir, keyakinan serta
pandangan-pandangan individu, yang unik, yang tidak atau kurang sesuai dengan
dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self
actualization seoptimal mungkin.
3. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu
dalam proses aktualisasi dirinya.
4. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat
dijangkau menurut kondisi dirinya.

18
Ibid,. hlm 55
19
Ibid,. hlm 57

30
D. Struktur kepribadian.
Teori psikologi humanistik yang dikembangkan oleh Maslow adalah sebagai berikut
(Koeswara, 19991 :.112-118 dan Alwisol 2005 : 252-270).
1. Prinsip holistik Menurut Maslow, holisme menegaskan bahwa organisme selalu
bertingkah laku sebagai kesatuan yang utuh, bukan sebagai rangkaian bagian atau
komponen yang berbeda. Jiwa dan tubuh bukandua unsur yang terpisah tetapi bagian
dari suatu kesatuan, dan apa yang terjadi pada bagian yangsatu akan mempengaruhi
bagian yang lain.
2. Individu adalah penentu bagi tingkah laku dan pengalamannya sendiri. Manusia adalah agen
yang sada, bebas memilih atau menentukan setiap tindakannya. Dengan kata lain manusia
adalah makhluk yang bebas dan bertanggungjawab.
3. Manusia tidak pernah diam, tetapi selalu dalam proses untuk menjadi sesuatu yang
lain dari sebelumnya (becoming). Namun demikian perubahan tersebut membutuhkan
persyaratan, yaitu adanya lingkungan yang bersifat mendukung.
4. Individu sebagai keseluruhan yang integral, khas, dan terorganisasi.
5. Manusia pada dasarnya memiliki pembawaan yang baik atau tepatnya netral.
Kekuatan jahat atau merusak pada diri manusia merupakan hasil atau pengaruh dari
lingkungan yang buruk, dan bukan merupakan bawaan.
6. Manusia memiliki potensi kreatif yang mengarahkan manusia kepada pengekpresikan
dirinya menjadi orang yang memiliki kemampuan atau keistimewaan dalam bidang
tertentu.
7. Self-fulfillment merupakan tema utama dalam hidup manusia.
8. Manusia memiliki bermacam macam kebutuhan yang secara hirarki dibedakan
menjadi sebagai berikut (Boeree, 2004).
a. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the physiological needs) 
b. Kebutuhan akan rasa aman (the safety and security needs)
c. Kebutuhan akan cinta dan memiliki (the love and belonging needs)
d. Kebutuhan akan harga diri (the esteem needs)
e. Kebutuhan akan aktualisasi diri (the self-actualization needs)

31
E. Pola Hubungan Konselor dan Klien
Hubungan terapeutik sangat erat bagi terapis eksistensial. Penekanan diletakkan pada
pertemuan antarmanusia dan perjalanan bersama alih-alih pada teknik-teknik yang
mempengaruhi klien, isi pertemuan terapi adalah pada teknik-teknik yang mempengaruhi
klien. Isi pertemuan terapi adalah pengalaman klien sekarang bukan masalag klien.
Hubungan dengan orang lain dalam kehadiran yang otentik difokuskan kepada “ di sini dan
sekarang”. Masa lampau atau masa depan hanya penting bila waktunya berhubungan
langsung.20

Dalam menulis tentang hubungan terapeutik, Sidney Jourard (1971) mengimbau agar
terapis, melalui tingkah lakunya yang otentik dan terbuka, mengajak kepada keotentikan,
Jourard meminta agar terapis membangun hubungan Aku-Kamu, di mana pembukaan diri
terapis yang spontan menunjang pertumbuhan dan keotentikan klien. Sebagaimana yang
dinyatakan oleh Jourard (1971, hlm. 142-150), Manipulasi melahirkan kontramanipulasi .
Pembukaan diri melahirkan pembukaan diri pula. Ia juga menekankan bahwa hubungan
terapeutik bisa mengubah terapis sebagaimana ia mengubah klien. Hal itu berarti bahwa siapa
yang menginginkan apa dan pertumbuhannya tidak berubah, tidak perlu menjadi terapis.21

Jourard adalah salah satu contoh yang baik tentang seorang terapis yang
mengembangkan gaya diri yang berorientasi humanistik. Ia menunjukkan bahwa menjadi
unik, otentik, dan menggunakan teknik-teknik yang beragam dalam kerangka humanistik
adalah suatu hal yang mungkin.

Jourard tetap berpendapat bahwa jika terapis menyembunyikan diri dalam pertemuan
terapi, maka dia terlibat dalam tingkah laku tidak otentik yang sama dengan yang
menimbulkan gejala-gejala pada diri klien. Menurut Jourard, cara untuk membantu klien agar
menemukan dirinya yang sejati, serta agar tidak menjadi asing dengan dirinya sendiri adalah,
terapis secara spontan membukakan pengalaman otentiknya kepada klien pada saat yang
tepat dalam pertemuan terapi.

1. Terapi eksistensial mengutamakan hubungan dengan klien


2. Hubungan ini penting bagi terapis karena kualitas dari setiap orang diperlihatkan
dalam situasi terapi yang akan mengubah stimulus menjadi positif

20
Ibid,. hlm 61
21
Ibid,. hlm 61

32
3. Dengan hubungan yang efektif ini terapis dapat menggali sifat dasar klien dan
karakteristik pribadi mereka
4. Vontras, dkk, menyatakan bahwa terapi eksistensial ini adalah perjalanan menuju
kea rah dalam diri individu yang di dapat dari hubungan terapis dengan klien
5. Tujuan akhirnya adalah untuk menghadapi jalan hidup mereka
6. Terapis perlu mengadopsi gaya yang lebih fleksibel dan teori yang berbeda untuk
klien yang berbeda
7. Empati merupakan hal yang penting dalam proses terapi.

F. Pengalaman Klien dalam Konseling


Dalam terapi eksistensial, klien mampu mengalami secara subjektif persepsi-persepsi
tentang dunianya. Di harus aktif dalam proses terapeutik, sebab dia harus memutuskan
ketakutan-ketakutan, perasaan-perasaan berdosa, dan kecemasan-kecemasan apa yang akan
dieksplorasinya. Memutuskan untuk menjalani terapi saja sering merupakan tindakan yang
menakutkan, seperti ditunjukkan oleh catatan salah seorang klien yang tidak diungkapkannya
selama periode terapi. Rasakan kecemasan yang dialami oleh klien ketika dia memutuskan
untuk meninggalkan keamanan dan memulai mencari dirinya sendiri22 :
“Saya memulai terapi hari ini. Saya merasa takut, tetapi tidak tahu kerena apa. Sekarang
saya tahu. Pertama, saya takut karena Jerry. Dia memiliki kekuatan untuk mengubah
saya. Saya memberinya kekuatan itu, dan saya tidak bisa kembali. Itulah yang benar-
benar membingungkan saya. Tidak ada yang sama…saya masih belum mengenal diri
saya sendiri, hanya tahu bahwa tidak ada yang sama. Saya sedih dan takut akan hal itu.
Saya cemas, keamanan akan hilang dari diri saya, dan saya takut, siapa saya nantinya.
Saya sedih tidak bisa kembali. Saya telah membuka pintu ke dalam diri sendiri dan
negeri menemukan apa yang terdapat di dalamnya, menghindari diri yang baru, menemui
dan berhubungan dengan orang-orang dengan cara yang berbeda. Saya menduga, saya
memiliki kecemasan yang mengambang tentang segala hal, tetapi saya terutama takut
terhadap diri sendiri.”23
Pendek kata, klien dalam terapi eksistensial terlibat dalam permbukaan pintu menuju diri
sendiri. Pengalaman sering menakutkan, atau menyenangkan, mendepresikan, atau gabungan
dari semua perasaan tersebut. Dngan membuka pintu yang tertutup, klien mulai
melonggarkan belenggu deterministic yang telah menyebabkan dia terpenjara secara
22
Ibid,. hlm 60
23
Ibid,. hlm 60-61

33
psikoogi. Lambat laun klien menjadi sadar, apa dia tadinya dan siapa dia sekrang, serta klien
lebih mampu menetapkan masa depan macam apa yang diinginkannya. Melalui proses terapi,
klien bisa mengeklorasikan alternative-alternatif guna membuat pandangan-pandangannya
menjadi riel.24

G. Peranan tugas Konselor


Tugas utama terapis adalah berusaha memahami klien sebagai ada dalam dunia. Teknik
yang digunakan mengikuti alih-alih pemahaman. Karena menekankan pada pengalaman klien
sekarang, para terapis eksistensial menunjukkan keleluasaan dalam menggunakan metode-
metode, dan prosedur yang digunakan oleh mereka bisa bervariasi tidak hanya dari klien yang
satu kepada klien yang lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase yang dijalani oleh klien yang
sama.25

Tetapi eksistensial memusatkan pada pengertian subjektif, terhadap dunia klien dan
membuatnya mendapatkan pengertian yang baru. Fokusnya adalah pada kehidupan yang
sekarang. Terapis membentuk hubungan yang efektif dengan klien dan membantu klien
mengerti dan merasa tertantang serta menyadarkan klien akan tanggung jawabnya, terapis
membuat/membenarkan pola pikir klien yang salah terhadap hidupnya. Menurut Buhler dan
dan Allen, para ahli psikilogi humanistik memiliki artis bersama yang mencakup hal-hal
berikut.

1. Mengakui pentingnya pendekatan diri pribadi ke pribadi


2. Menyadari peran dari tanggung jawab terapis
3. Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik
4. Berorientasi pada pertumbuhan
5. Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang
menyeluruh
6. Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tangan klien
7. Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan
pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit menunjukkan kepada
klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif
8. Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk
mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri
24
Ibid,. hlm 58
25
Ibid,. hlm 58

34
9. Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebesan
klien.
May (1961, hlm 81) memandang tugas terapis di antaranya adalah membantu klien
agar menyadari keberadaan dalam dunia : Ini adalah saat ketika pasien melihat dirinya
sebagai orang yang terancam, yang hadir di dunia yang mengancam dan sebagai subjek yang
memiliki dunia”.
Frankl (1959, hlm. 174) menjabarkan peran terapis sebagai “spesialis mata daripada
sebagai pelukis”, yang bertugas”memperluas dan memperlebar lapangan visual pasien
sehingga spektrun keseluruhan dari makna dan nilai-nilai menjadi disadari dan dapat diamati
oleh pasien”.26 Untuk contoh mengenal bagaimana seorang terapis yang berorintasi
eksistensial bekerja dalam pertemuan terapi, maka terapis akan bertindak sebagai berikut.
1. Memberikan reaksi-reaksi pribadi dalam kaitan dengan apa yang dikatakan oleh
klien
2. Terlibat dalam sejumlah pernyataan pribadi yang relevan dan pantas tentang
pengalaman-pengalaman yang mirip dengan yang dialami oleh klien
3. Meminta kepada klien untuk mengungkapkan ketakutannya terhadap keharusan
memilih dalam dunia yang tak pasti
4. Menantang klien untuk melihat selurug cara dia menghindari pembuatan putusan-
putusan dan memberikan penilaian terhadap penghindaraan itu
5. Mendorong klien untuk memeriksa jalan hidupnya pada periode sejak memulai
terapi dengan bertanya “ Jika anda bisa secara ajaib kembali kepada cara anda ingat
kepada diri anda sendiri sebelum terapi, maukah anda melakukannya sekarang ?”
6. Beritahukan kepada klien bahwa ia sedang mempelajari apa yang dialaminya
sesungguhnya adalah suatu sifat yang khas sebagai manusia bahwa dia pada
akhirnya sendirian, bahwa dia harus memutuskan untuk dirinya sendiri, bahwa dia
akan mengalami kecemasan atau ketidakpastian putusan-putusan yang dibuat, dan
bahwa dia akan berjuang untuk menetapkan makna kehidupannya di dunia yang
sering tampak tak bermakna.

H. Teknik-Teknik Konseling
Pada model konseling eksistensial humanistik ini, teknik-teknik tidak ditentukan
secara ketat. Rosjidan (1988:33) menyatakan bahwa pada pendekatan eksistensial ini tidak

26
Ibid,. hlm 58

35
ada seperangkat teknik yang khusus atau esensial. Para konselor eksistensial dapat
menggunakan teknik- teknik dengan mengadopsi dari teori lain, teknik-tekniknya antara lain :
a) Teknik Asosiasi Bebas
adalah Teknik pokok dalam terapi psikoanalisa adalah asosiasi bebas. Yang pokok,
adalah klien mengemukakan segala sesuatu melalui perasaan atau pikiran dengan
melaporkan secepatnya tanpa konselor. Asosiasi bebas adalah satu metoda
pengungkapkan pengalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan
dengan situasi traumatik di masa lalu. Selama asosiasi bebas tugas konselor adalah untuk
mengidentifikasi hal-hal yang tertekan dan terkunci dalam ketidaksadaran. Urutan
asosiasi membimbing konselor dalam pemahaman kaitan klien membuat perisiwa-
peristiwa. Konselor menafsirkan materi kepada klien, membimbing ke arah peningkatan
tilikan ke dalam dirinya yang tidak disadari.

b) Teknik Rekonstruktif Kognitif


adalah proses belajar untuk menyangkal distorsi kognitif atau fundamental
"kesalahan berpikir," dengan tujuan menggantikan pikiran seseorang yang tidak rasional,
keyakinan kontra-faktual yang akurat dan dominan. Dasar pemikiran yang digunakan
dalam restrukturisasi kognitif adalah upaya untuk memperkuat keyakinan bahwa klien
a. Dapat mempengaruhi kinerja, dan Komunikasi interpersonal
b. Khususnya pikiran yang merugikan diri sendiri atau pernyataan diri yang
negatif dapat menyebabkan gangguan emosi dan mengganggu kinerja, sebuah
proses yang kemudian mengulangi lagi dalam siklus. restrukturisasi kognitif
menyatakan bahwa kepercayaan yang tidak realistis Anda sendiri secara
langsung bertanggung jawab untuk menghasilkan disfungsional emosi dan
perilaku resultan mereka, seperti stress, depresi, kecemasan, dan penarikan
sosial, dan bahwa kita manusia dapat menghilangkan emosi tersebut dan
pengaruhnya dengan membongkar keyakinan yang memberi mereka
kehidupan. Karena salah satu tujuan unachievable set - "Setiap orang harus
mencintai saya, saya harus benar-benar kompeten, saya harus menjadi yang
terbaik dalam segala sesuatu" - yang takut kegagalan hasil. Restrukturisasi
kognitif kemudian menyarankan untuk mengubah keyakinan irasional
semacam itu dan pengganti yang lebih rasional: "Saya bisa gagal. Walaupun
hal itu akan menyenangkan, saya tidak perlu menjadi yang terbaik dalam
segala hal."

36
c) Teknik Desensitisasi Sistematik (systematic desensitization
Teknik ini dikembangkan oleh Wolpe yang mengatakan bahwa semua perilaku
neurotic adalah ekspresi dari kecemasan. Respon terhadap kecemasan itu dapat
dieliminasi dengan menemukan respon yang antagonistic. Perangsangan yang
menimbulkan kecemasan secara berulang-ulang disndingkan dengan keadaan
relaksasi sehingga hubungan antara rangsangan dengan respon terhadap kecemasan
dapat dieliminasi. Teknik ini bermaksud mengajar konseli untuk memberikan respon
yang tidak konsisten dengan kecemasan yang dialami konseli. Teknik ini tak dapat
berjalan tanpa teknik relaksasi. Dalam proses konseling, konselor diakjar untuk santai
dan menghubungkan keadaan santai itu dengan membayangkan pengalaman-
pengalaman yang mencemaskan, menggusarkan atau mengecewakan.
Pelaksanaan teknik ini dapat mengikuti prosedur berikut :
a) Analisis perilaku yang menimbulkan kecemasan
b) Menyusun hierarki atau jejaring – jejaring situasi yang menimbulakan kecemasan
dari yang kurang hingga yang paling mencemaskan konseli
c) Memberi latihan relaksasi otot-otot yang dimulai dari lengan hingga oto kaki.
Kaki konseli diletakan diatas bantal atau kain wol. Secara terinci relaksasi otot
dimulai dari lengan , kepala kemudian leher dan bahu, bagian belakang,perut dan
dada , dan kemudian anggota bagian bawah
d)  Konseli diminta membayangkan situasi yang menyenangkan seperti dipantai,
ditengah taman yang hijau dan lain-lain.
e) Konseli disuruh memejamkan mata , kemudian disuruh membayangkan situasi
yang kurang mencemaskan. Bila konseli sanggup tanpa cemas atau gelisah,berarti
situasi tersebut dapat diatasi konseli.
f)  Bila pada suatu situasi konseli cemas dan gelisah, maka konselor memerintahkan
konseli agar membayangkan situasi yang menyenangkan tadi untuk
menghilangkan kecemasan yang baru terjadi.
g) Menyusun hierarki atau jenjang kecemasan harus bersama konseli dan konselor
menuliskanya di kertas
Pada dasarnya teknik-teknik dianggap sebagai alat untuk menolong konseli menjadi
sadar atas pilihan-pilihan mereka dan untuk menantang pilihan-pilihan itu dan menerima
tanggung jawab yang menyertai penggunaan kebebasan pribadi. Selain itu, teknik-teknik

37
dianggap dapat menciptakan suatu hubungan yang akan memungkinkan konselor menantang
dan memahami konseli secara aktif.
Oleh karena itu, untuk dapat membantu Klien meningkatkan perilaku tanggung jawab
belajarnya model konseling eksistensial humanistik ini dipadukan dengan teknik
pemodelan. Teknik pemodelan ini diadopsi melalui model konseling kognitif dan
model konseling behavioral. Teknik pemodelan yang digunakan adalah teknik pemodelan
jenis symbolic models (model simbol) dan jenis live models (model langsung). Teknik
pemodelan symbolic models ini memanfaatkan penokohan dengan simbol dan film atau
audio visual lain dan live models memanfaatkan objek nyata (individu) sehingga
perilakunya dapat ditiru dan dipelajari oleh objek lain yang ingin menirunya
Pada teknik pemodelan ini individu mengamati seorang model dan kemudian diperkuat
untuk mencontohkan tingkah laku sang model. Bandura (1969) menyatakan bahwa,
“segenap belajar yang bisa diperoleh melalui pengalaman langsung bisa pula diperoleh
secara tidak langsung dengan mengamati tingkah laku orang lain.” Disamping itu, melalui
proses belajar dengan mengamati, konseli dapat belajar untuk melaksanakan perbuatan-
perbuatan yang di inginkan tanpa belajar trial-and eror.”
Pembelajaran melalui pemodelan ini meliputi beberapa proses yaitu (1) Memperhatikan
model/Atensi pengamat diperlukan agar tindakan yang dicontohkan dipersepsikan bemakna.
(2) Mengingat/Retensi meliputi mengodekan atau mentransformasikan informasi yang
dicontohkan untuk penyimpanan dalam ingatan, dan secara mental berlatih atau mengulang
kembali informasi tersebut. (3) Produksi menyangkut menerjemahkan konsevsi visual dan
simbolis dari pristiwa yang dicontohkan menjadi perilaku. (4) Motivasi untuk bertindak
dihasilkan dari pengalaman langsung, pengalaman mengamati, dan pengalaman melakukan
sendiri.
Pada teknik pemodelan ini, tidak sembarang model dapat digunakan, melainkan
model yang dipilih harus memiliki karakteristik yang mampu mempengaruhi pengamatnya.
Adapun karakteristik model yang efektif adalah memiliki kompetensi atau kemampuan
intelektual yang lebih, memiliki persepsi yang sama, kredibilitas, dan antusiasme.
Teknik yang digunakan mendahului pemahaman. Karena menekankan pada pengalaman
klien sekarang, para terapis eksistensial menunjukkan keleluasaan dalam menggunakan
metode – metode, dan prosedur yang digunakan oleh mereka bisa bervariasi tidak hanya dari
klien yang satu kepada klien yang lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase terapi yang
dijalani oleh klien yang sama Meskipun terapi eksistensial bukan merupakan metode tunggal,
di kalangan terapis eksistensial dan humanistik ada kesepakatan menyangkut tugas – tugas

38
dan tanggung jawab terapis. Psikoterapi difokuskan pada pendekatan terhadap hubungan
manusia alih – alih system teknik. Para ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama
yang mencakup hal – hal berikut (Gerald Corey.1988:58) :
1. Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
2. Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
3. Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
4. Berorientasi pada pertumbuhan.
5. Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang
menyeluruh.
6. Mengakui bahwa putusan – putusan dan pilihan – pilihan akhir terletak di tangan
klien.
7. Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan
pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implicit menunjukkan kepada
klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
8. Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk
mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
9. Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan
klien.
Dalam konseling humanistik terdapat  teknik-teknik konseling , yang mana sebelum
mengetahui teknik-teknik konseling tersebut terdapat beberapa prinsip kerja teknik
humanistik antara lain :
1. Membina hubungan baik (good rapport)
2. Membuat klien bisa menerima dirinya dengan segala potensi dan keterbatasannya
3. Merangsang kepekaan emosi klien
4. Membuat klien bisa mencari solusi permasalahannya sendiri.
5. Mengembangkan potensi dan emosi positif klien
6. Membuat klien menjadi adequate
Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:
1. Penerimaan
2. Rasa hormat
3. Memahami
4. Menentramkan
5. Memberi dorongan
6. Pertayaan terbatas

39
7. Memantulkan pernyataan dan perasaan klien
8. Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien
9. Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna.
Menurut Akhmad Sudrajat teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam
pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling, sebagaimana dikembangkan oleh Carl
R. Rogers. meliputi:
1. Acceptance (penerimaan)
2. Respect (rasa hormat)
3. Understanding (pemahaman)
4. Reassurance (menentramkan hati)
5. Encouragementlimited questioning (pertanyaan terbatas)
6. Reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan)
7. Memberi dorongan
Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat memahami dan
menerima diri dan lingkungannya dengan baik, mengambil keputusan yang tepat,
mengarahkan diri mewujudkan dirinya.
Yang paling dipedulikan oleh konselor eksistensial adalah memahami dunia subyektif si
klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan-pilihan baru.
Fokusnya adalah pada situasi hidup klien pada saat itu, dan bukan pada menolong klien agar
bisa sembuh dari situasi masa lalu (May &Yalom, 1989). Biasaya terpis eksistensial
menggunakan metode yang mencakup ruang yang cukup luas, bervariasi bukan saja dari
klien ke klien, tetapi juga dengan klien yang sama dalam tahap yang berbeda dari proses
terapeutik.

I. Karakteristik Konseling
Adapun karakteristik dari terapi eksistensial humanistik adalah sebagai berikut:
1. Eksistensialisme bukanlah suatu aliran melainkan suatu gerakan yang memusatkan
penyelidikannya manusia sebagai pribadi individual dan sebagai ada dalam dunia
(tanda sambung menunjukkan ketakterpisahan antara manusia dan dunia).
2. Adanya bukti-bukti yang melandasi yaitu:
a. Setiap manusia unik dalam kehidupan batinnya, dalam mempersepsi dan
mengevaluasi dunia, dan dalam bereaksi terhadap dunia

40
b. Manusia sebagai pribadi tidak bisa dimengerti ddalam kerangka fungsi-fungsi
atau unsur-unsur yang membentuknya.
c. Bekerja semata-mata dalam kerangka kerja stimulus respons dan memusatkan
perhatian pada fungsi-fungsi seperti penginderaan, persepsi, belajar, dorongan-
dorongan, kebiasaan-kebiasaan, dan tingkah laku emosional tidak akan mampu
memberikan sumbangan yang berarti kepada pemahaman manusia
3. Berusaha melengkapi, bukan menyingkirkan dan menggantikan orientasi-orientasi
yang ada dalam psikologi
4. Sasaran eksistensial adalah mengembangkan konsep yang komperehensif tentang
manusia dan memahami manusia dalam keseluruhan realitas eksistensialnya,
misalnya pada kesadaran, perasaan-perasaan, suasana-suasana perasaan, dan
pengalaman-pengalaman pribadi individual yang berkaitan dengan keberadaan
individualnya dalam dunia dan diantara sesamanya.
5. Tujuan utamanya adalah menemukan kekuatan dasar, tema, atau tendensi dari
kehidupan manusia, yangdapat dijadikan kunci kearah memahami manusia.
6. Tema-temanya adalah hubungan antar manusia, kebebasan, dan tanggung jawab,
skala nilai-nilai individual, makna hidup, penderitaan, keputusasaan, kecemasan dan
kematian.

J. Syarat Konselor
Menurut Bimo Wagito, syarat-syarat seseorang menjadi pembimbing adalah sebagai
berikut:
1. Seorang pembimbing harus mempunyai pengetahuan yang cukup luas baik segi teori
maupun praktik. Teori merupakan hal yang sangat penting karena segi inilah yang
menjadi landasan di dalam praktik. Praktik tanpa teori tidak dapat mencapai tujuan
dan sasaran secara tepat. Demikian pula sebaliknya, praktik juga diperlukan dan
menjadi hal penting, karena bimbingan dan penyuluhan merupakan "applied
science", ilmu yang harus diterapkan dalam praktik sehari-hari sehingga seseorang
pembimbing sangat canggungung apabila memiliki teori tanpa memiliki kecakapan
di dalam praktik.
2. Di dalam segi psikologis, seorang pembimbing akan dapat mengambil tindakan yang
bijaksana, jika pembimbing telah cukup dewasa dalm dalam segi psikologisnya,

41
yaitu adanya kemantapan atau kestabilan di dalam psikologisnya, terutama dalam
segi emosi.
3. Seorang pembimbing harus jasmani maupun psikisnya. Apabila jasmani dan psikis
tidak sehat, hal ini akan mengganggu tuganya.
4. Seorang pembimbing harus mempunyai sikap kecintaan terhadap pekerjaannya dan
juga terhadap klien atau individu yang dihadapinya. Sikap ini akan membawa
kepercayaan terhadap kliennya.
5. Mempunyai inisiatif yang cukup baik, sehingga dapat diharapkan adanya kemajuan
di dalam usaha bimbingan dan penyuluhan ke arah yang lebih baik.
6. Harus bersikap ramah dan sopan santun agar klien merasa nyaman.
7. Harus mempunyai sifat-sifat yang dapat menjalankan prinsip-prinsip serta kode etik
bimbingan dan penyuluhan yang sebaik-baiknya.
Dikutip dari Arifin dan Eti Kartikawati (1994/1995) menyatakan bahwa konselordipilih
berdasarkan kualifikasi:
1. Kepribadian
2. Pendidikan
3. Pengalaman
4. Kemampuan

Berdasarkan kualifikasi tersebut dalam memilih dan mengangkat seorang konselor di


sekolah harus memenuhi syarat syarat yang berkaitan dengan kepribadiannya, pendidikannya,
pengalamannya, dan kemampuannya.

K. Kelebihan dan Kekurangan


1. Kelebihan Eksistensial Humanistik
a. Teknik ini dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam
perkembangan dan kepercayaan diri.
b. Adanya kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri.
c. Memanusiakan manusia.
d. Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis
terhadap fenomena sosial.
e. Pendekatan terapi eksistensial lebih cocok digunakan pada perkembangan
klien seperti masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam

42
pergaulan ataupun masa transisi dalam perkembangan dari remaja menjadi
dewasa.

Hasil pemikiran dari psikologi humanistik banyak dimanfaatkan untuk kepentingan


konseling dan terapi, salah satunya yang sangat populer adalah dari Carl Rogers dengan
client-centered therapy, yang memfokuskan pada kapasitas klien untuk dapat
mengarahkan diri dan memahami perkembangan dirinya, serta menekankan pentingnya
sikap tulus, saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi
masalah-masalah kehidupannya.

Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan


yang dihadapinya dan tugas konselor hanya membimbing klien menemukan jawaban
yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik asesmen dan pendapat para konselor
bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment atau pemberian bantuan kepada
klien. Selain memberikan sumbangannya terhadap konseling dan terapi, psikologi
humanistik juga memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal
dengan sebutan pendidikan humanistik (humanistic education). Pendidikan humanistik
berusaha mengembangkan individu secara keseluruhan melalui pembelajaran nyata.
Pengembangan aspek emosional, sosial, mental, dan keterampilan dalam berkarier
menjadi fokus dalam model pendidikan humanist.

2. Kelemahan Eksistensial Humanistik


a. Dalam metodologi, bahasa dan konsepnya yang mistikal
b. Dalam pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas
c. Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan
ditentukan oleh klien sendiri)
d. Proses terapi membutuhkan waktu yang panjang dan ketakpastian kapan
berakhir, berapa jam dan berapa kali pertemuan
e. Memiliki keterbatasan penerapan pada kasus level keberfungsian klien yang
rendah (klien yang ekstrem yang membutuhkan penangan secara langsung)

43
BAB 5
TEORI TERAPI GESTALT

A. Pendahuluan

Terapi gestal yang di kembangkan oleh Frederik Perl adalah terapi eksistensi yang
berpijak pada premis bahwa individu harus menemukan jalan hidupnya sendiri dan menerima
tanggung jawab pribadi jika mereka berharap mencapai kematangan. Karena terutama di atas
prinsip utama kesadaran, tetapi gestal berfokus pada apa dan bagaimana tingakah laku dan
pengalaman disini dan sekarang dengan memadukan bagian-bagian kepribadiaan yang
terpecah dan tidak di ketetahui. Prinsip penutupan dan prinsip kedekatan. Penyataan utama
pada psikologi Gestalt itu adalah ego,kelaparan dan agresi pada tahun 1947. Selama periode 1964-
1969 Perls mengembang kan pendekatan Gestalt untuk koseling dan terapi dari teori persepsi psikis
yang kenal dengan psikologi Gestalt dan psikologi ini didirikan oleh Max Wertheimer, Wolfgang
Konhler dan Kurt koffka di jerman. Psikologi Gestalt mengatakan bahwa perilaku manusia jauh lebih
dari produk rangsangan yang tidak terkait bahwa individu selalu bertindak untuk mengatur
rangsangan kedalam keseluruhan,prinsip yang di kembangkan oleh gestalt.

B. Konsep Dasar
Psikoterapi Gestalt menitikberatkan pada semua yang timbul pada saat ini. Pendekatan
ini tidak memperhatikan masa lampau dan juga tidak memperhatikan yang akan datang. Jadi
pendekatan Gestalt lebih menekankan pada proses yang ada selama terapi berlangsung. Teori
gestalt menekankan konsep-konsep seperti perluasan kesadaran, penerimaan tanggung jawab
pribadi, urusan yang tak terselesaikan, penghindaran,dan menyadari saat sekarang.
Bagi Perls, tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. Karena masa lalu telah pergi dan
masa depan belum terjadi, maka saat sekaranglah yang terpenting. Salah satu sumbangan
utama terapi gestalt adalah penekanannya pada disini dan di sekarang serta pada belajar
menghargai dan mengalami sepenuhnya saat sekarang. Guna membantu klien untuk
membuat kontak dengan saat sekarang, terapis lebih suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan
”apa” dan “bagaimana” ketimbang “mengapa”, karena pertanyaan “mengapa” dapat
mengarah pada pemikiran yang tak berkesudahan tentang masa lampau yang hanya akan
membangkitkan penolakan terhadap saat sekarang.
Dalam terapi Gestalt terdapat juga konsep tentang urusan yang tak terselesaikan, yaitu
mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam, kemarahan, sakit hati,

44
kecemasan, rasa diabaikan dan sebagainya. Meskipun tidak bisa diungkapkan, perasaan-
perasaan itu diasosiasikan dengan ingatan dan fantasi tertentu. Karena tidak terungkap dalam
kesadaran, perasaan itu tetap tinggal dan dibawa kepada kehidupan sekarang yang
menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain.
Dengan ini, di harapkan klien akan dibawa kesadarannya dimasa sekarang dengan
mencoba menyuruhnya kembali kemasa lalu dan kemudian klien disuruh untuk
mengungkapkan apa yang diinginkannya saat lalu sehingga perasaan yang tak terselesaikan
dulu bisa dihadapi saat ini.27 Konsep dasar pendekatan Gestalt adalah Kesadaran, dan sasaran
utama Gestalt adalah pencapaian kesadaran. Kesadaran meliputi:

1. Kesadaran akan efektif apabila didasarkan dan disemangati oleh kebutuhan yang ada
saat ini yang dirasakan oleh individu.
2. Kesadaran tidak komplit tanpa pengertian langsung tentang kenyataan suatu situasi
dan bagaimana seseorang berada di dalam situasi tersebut.
3. Kesadaran itu selalu ada di sini-dan-saat ini. Kesadaran adalah hasil penginderaan,
bukan sesuatu yang mustahil terjadi.

C. Tujuan-tujuan Terapeutik
Terapi Gestalt memiliki beberapa sasaran penting yang berbeda. Sasaran dasarnya adalah
menantang klien agar berpindah dari “didukung oleh lingkungan” kepada “didukung oleh diri
sendiri". Menurut Perls, sasaran terapi adalah menjadikan klien menemukan sejak awal
bahwa dia bisa melakukan banyak hal, lebih banyak daripada yang dikiranya.28
Menurut Sofyan S. Willis, mengatakan bahwa tujuan konseling adalah membantu klien
menjadi individu yang merdeka dan berdiri sendiri. Untuk mencapai tujuan tersebut
diperlukan:
1. Usaha membantu penyadaran klien tentang apa yang dilakukannya.
2. Membantu penyadaran tentang siapa dan hambatan dirinya.
3. Membantu klien menghilangkan hambatan dalam pengembangan penyadaran dri. 29

D. Struktur Kepribadian
27
Gerald Corey, (2013), teori dan praktek “konseling dan psikoterapi”, PT Refika Aditama: Bandung, 117-118.
28
ibid
29
Sofyan S. Willis, Konseling individual teori dan praktek, hal 66-67.

45
Asumsi dasar pendekatan gestalt tentang manusia adalah bahwa individu dapat
mengatasi sendiri permasalahan dalam hidup, terutama bila mereka menggunakan kesadaran
akan pengalaman yang sedang dialami dan dunia sekitarnya. Gestalt berpendapat bahwa
individu memiliki masalah karena menghindari masalah. Hal yang harus diperhatikan dalam
pendekatan ini adalah pemikiran dan perasaan yang individu alami pada saat sekarang.
Perilaku yang normal dan sehat terjadi bila individu bertindak dan bereaksi sebagai
organisme yang total, yaitu memiliki kesadaran pada pemikiran, perasaan dan tindakan pada
masa sekarang.
Manusia dapat melakukan banyak cara untuk mencapai kesadaran, salah satunya adalah
dengan melakukan kontak dengan lingkungan. Konseling gestalt juga menekankan pada
pentingnya manusia untuk mengambil tanggung jawab pribadi bagi kehidupannya sendiri,
tidak menyerahkan nasibnya pada orang lain atau lingkungan dan tidak menyalahkan orang
lain bagi kekecewaan atau kegagalannya.

E. Pola Hubungan Konselor dan Klien


Hubungan antara konselor dan klien adalah sejajar yaitu hubungan antara klien dan
konselor itu adanya atau melibatkan dialog dan hubungan antara keduanya. Pengalaman-
pengalaman kesadaran dan persepsi konselor merupakan inti dari proses konseling.Menurut
Gerald Corey, hubungan terapis dan klien dalam praktek terapi Gestalt yang efektif yaitu
dengan melibatkan hubungan pribadi-ke-pribadi antara terapis dan klien.

Pengalaman-pengalaman, kesadaran, dan persepsi-persepsi terapis menjadi latar


belakang, sementara kesadaran dan reaksi-reaksi klien membentuk bagian muka proses
terapi. Yang penting adalah terapis secara aktif berbagi persepsi-persepsi dan pengalaman-
pengalaman saat sekarang ketika dia menghadapi klien disini dan sekarang.

F. Pengalaman Klien dalam Konseling

Perls mengungkapkan sikap skeptisnya tentang orang-orang yang mendatangi terapi dan
menunjukkan bahwa tidak begitu banyak orang sungguh-sungguh bersedia bekerja keras
guna mencapai perubahan. Para klien dalam pengalaman terapi gestalt memutuskan sendiri
apa yang mereka inginkan dan berapa banyak yang mereka inginkan.

46
Peringatan Perls dapat digunakan dalam mengonprotasikan para klien guna membantu
mereka menguji beberapa besar perubahan yang di inginkan oleh mereka. Jadi, salah satu
tanggung jawab yang paling pertama harus ditunaikan oleh klien adalah menetapkan apa
yang di inginkan oleh mereka dari terapi. Jika klien mengatakan bahwa mereka bingung dan
tidak tahu, atau jika klien mengharapkan terapislah yang akan menetapkan tujuan-tujuan,
maka inilah tempat terapis untuk mulai bekerja. Terapis bersama klien bisa mengesplorasi
penghindaran klien dalam tanggung jawab ini.

Para klien dalam terapi Gestalt adalah partisipan-partisipan aktif yang membuat
penafsiran-penafsiran dan makna-makna nya sendiri. Mereka lah yang mencapai peningkatan
kesadaran dan yang menentukan apa yang akan dan tidak akan dilakukan dalam proses
belajarnya.30

G. Peranan Tugas Konselor

1. Memfokuskan pada perasaan klien, kesadaran pada saat yang sedang berjalan, serta
hambatan terhadap kesadaran.
2. Tugas terapis adalah menantang klien sehingga mereka mau memanfaatkan indera
mereka sepenuhnya dan berhubungan dengan pesan-pesan tubuh mereka.
3. Menaruh perhatian pada bahasa tubuh klien, sebagai petunjuk non verbal.
4. Secara halus berkonfrontasi dengan klien guna untuk menolong mereka menjadi sadar
akan akibat dari bahasa mereka.

H. Teknik-teknik Konseling
a) Permainan Dialog
Terapis gestalt menaruh perhatian yang besar pada pemisahan dalam fungsi
kepribadian. Yang paling utama adalah pemisahan antara “top dog” dan “underdog”.
Terapi sering difokuskan pada pertentangan antara top dog dan underdog itu. Top dog itu
adil, otoriter, moralistic, menuntut, berlaku sebagai majikan, dan manupilatif. Ia adalah
orangtua yang kritis yang mengusik dengan kata-kata “harus” dan “sewajibnya” serta
memanipulasi dengan ancaman-ancaman bencana.
Sedengkan underdog memanipulasi dengan memainkan peran sebagai korban,
defensif, membela diri, tak berdaya, dan ingin dimaklumi. Top dog dan underdog terlibat
dalam pertarungan yang tak berkesudahan untuk memperoleh kendali. Top dog yang

30
Gerald Corey, (2013), teori dan praktek “konseling dan psikoterapi”, PT Refika Aditama: Bandung, 129-130.

47
tiran menuntut seseorang untyk begini dan begitu, sementara underdog dengan sikap
menentang memainkan peran sebagai anak yang bandel. Sebagai akibat dari pertarungan
untuk memperoleh kendali itu, individu terpecah ke dalam situasi sebagai pengendali
sekaligus sebagai yang dikendalikan.
Teknik kursi kosong adalah salah satu cara untyk mengajak agar mengeksternalisasi
introyeksinya. Dalam teknik ini, dua kursi diletakkan ditengah ruangan. Terapis
memintan klien untuk duduk dikursi yang satu dan memainkan peran sebagai top dog,
kemudia pindah ke kursi lain dan menjadi underdog. Dialog bisa dilangsungkan di antara
kedua sisi klien. Teknik kursi kosong ini suatu teknik permainan peran yang semua
perannya dimainkan oleh klien. Konflik bisa diselesaikan melalui penerimaan dan
integrasi kedua sisi kepribadian oleh klien.

b) Berkeliling

Berkeliling adalah suatu latihan terapi gestalt dimana klien diminta untuk berkeliling
ke anggota-anggota kelompoknya dan berbicara atau melakukan sesuatu dengan setiap
anggota kelompoknya. Maksud teknik ini adalah untuk menghadapi, memberanikan dan
menyingkapkan diri, bereksperimen dengan tingkah laku yang baru, serta tumbuh dan
berubah.

c) Latihan “saya bertanggung jawab atas…”


Dalam latihan ini, terapis meminta untuk membuat sesuatu pernyataan dan
kemudian menambahkan pada pernyataan itu kalimat “dan saya bertanggung jawab
untuk itu”. Teknik merupakan perluasan kontinum kesadaran dan dirancang untuk
membantu orang-orang agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya alih-alih
memproyeksikan perasaan-perasaanya itu kepada orang lain. Meskipun tampaknya
mekanis, teknik ini terbukti bisa sangat berguna.

d) “saya memiliki suatu rahasia”


Teknik ini dimaksud untuk mengeksplorasi perasaan-perasaan berdosa dan malu.
Terapis meminta kepada para klien untuk berkhayal tentang suatu rahasia pribadi yang
terjaga dengan baik, membayangkan bagaimana perasaan mereka dan bagaimana
oranglain bereaksi jika mereka membuka rahasia itu. Teknik ini juga bisa digunakan
sebagai metode pembentukan kepercayaan dalam rangka mengeksplorasi mengapa para

48
klien tidak mau membuka rahasianya dan mengeksplorasi ketakutan-ketakutan
menyampaikan hal-hal yang mereka anggap memalukan atau menimbulkan rasa berdosa.

e) Bermain proyeksi
Dalam permainan “bermain proyeksi”, terapis meminta kepada klien yang
mengatakan “’saya tidak mempercayaimu” untuk memainkan peran sebagai orang yang
tidak bisa menaruh kepercayaan guna menyingkapkan sejauh mana ketidakpercayaan itu
menjadi konflik dalam dirinya. Dengan perkataan lain, terapis meminta klien untuk
“mencobakan” pernyataan-pernyataan tertentu yang ditujukan kepada orang lain dalam
kelompok. 31

I. Karakteristik Konseling
1. Mempunyai Hukum keterdekatan, hukum ketertutupan dan hukum kesamaan.
Hukum menurut Wertheimer tahun 1923 :
a. Hukum keterdekatan (Law of Proximity)
b. Hal-hal yang saling berdekatan dalam waktu atau tempat cenderung dianggap
sebagai suatu totalitas.
c. Hukum ketertutupan (Law of Closure)
d. Hal-hal yang cenderung menutup akan membentuk kesan totalitas tersendiri.
e. Hukum kesamaan (Law of Equivalence)
f. Hal-hal yang mirip satu sama lain, cenderung kita persepsikan sebagai suatu
kelompok atau suatu totalitas.
Proses pembelajaran secara terus – menerus dapat memperkuat jejak ingatan peserta
didik
Menurut Kurt Koffka:
i. Jejak ingatan (memory traces)
Suatu pengalaman yang membekas di otak. Jejak-jejak ingatan ini
diorganisasikan secara sistematis mengikuti prinsip-prinsip Gestalt dan akan muncul
kembali jika kita mempersepsikan sesuatu yang serupa dengan jejak-jejak ingatan
tadi.
ii. Perjalanan waktu berpengaruh terhadap jejak ingatan.

31
Gerald Corey , (2013), teori dan praktek “konseling dan psikoterapi”, PT Refika Aditama: Bandung, 133-1338.

49
Perjalanan waktu itu tidak dapat melemahkan, melainkan menyebabkan
terjadinya perubahan jejak, karena jejak tersebut cenderung diperhalus dan
disempurnakan untuk mendapat Gestalt yang lebih baik dalam ingatan.
iii. Latihan yang terus menerus akan memperkuat jejak ingatan
1. Adanya pemahaman belajar Insight.
Menurut Wolfgang Kohler, Insight adalah pemahaman terhadap hubungan
antar bagian di dalam situasi permasalahan. Insight yang merupakan inti dari
belajar menurut teori gestalt, memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
 Kemampuan Insight seseorang tergantung kepada kemampuan dasar orang,
sedangkan kemampuan dasar itu tergantung kepada usia dan posisi yang
bersangkutan dalam kelompok (spesiesnya).
 Insight dipengaruhi atau tergantung kepada pengalaman masa lalunya yang
relevan.
 Insight tergantung kepada pengaturan dan penyediaan lingkungannya.
 Pengertian merupakan inti dari insight. Melalui pengertian individu akan
dapat memecahkan persoalan. Pengertian itulah yang dapat menjadi
kendaraan dalam memecahkan persoalan lain pada situasi yang berlainan.
 Apabila insight telah di peroleh,maka dapat digunakan untuk menghadapi
persoalan dalam situasi lain.

J. Syarat-syarat Konselor
1. Seorang pembimbing harus mempunyai pengetahuan yang cukup luas baik segi teori
maupun praktik.
2. Di dalam segi psikologis, seorang pembimbing akan dapat mengambil tindakan yang
bijaksana, jika pembimbing telah cukup dewasa dalam segi psikologisnya, yaitu
adanya kemantapan atau kestabilan di dalam psikologinya, terutama dalam segi
emosi.
3. Seorang pembimbing harus sehat jasmani maupun psikisnya. Apabila jasmani dan
psikis tidak sehat, hal ini akan mengganggu tugasnya.
4. Seorang pembimbing harus mempunyai sikap kecintaan terhadap pekerjannya dan
juga terhadap klien atau individu yang dihadapinya. Sikap ini akan membawa
kepercayaan terhadap kliennya.

50
5. Mempunyai inisiatif yang cukup baik, sehingga dapat diharapkan adanya kemajuan
di dalam usaha di bimbingan dan penyuluhan ke arah yang lebih baik.
6. Harus bersikap ramah dan sopan santun agar klien merasa nyaman.
7. Harus mempunyai sifat-sifat yang dapat menjalankan prinsip-prinsip serta kode etik
bimbingan dan penyuluhan yang sebaik-baiknya.

K. Kelebihan dan Kekurangan


1. Kelebihan
 Terapi Gestalt menangani masa lampau dengan membawa aspek-aspek masa
lampau yang relevan ke saat sekarang.
 Terapi Gestalt memberikan perhatian terhadap pesan-pesan nonverbal dan
pesan-pesan tubuh.
 Terapi Gestalt menolakk mengakui ketidak berdayaan sebagai alasan untuk
tidak berubah.
 Terapi Gestalt meletakkan penekanan pada klien untuk menemukan makna dan
penafsiran-penafsiran sendiri.
 Terapi Gestalt menggairahkan hubungan dan mengungkapkan perasaan
langsung menghindari intelektualisasi abstrak tentang masalah klien.

2. Kelemahan
 Terapi Gestalt tidak berlandaskan pada suatu teori yang kukuh
 Terapi Gestalt cenderung antiintelektual dalam arti kurang memperhitungkan
faktor-faktor kognitif.
 Terapi Gestalt menekankan tanggung jawab atas diri kita sendiri, tetapi
mengabaikan tanggung jawab kita kepada orang lain.
 Teradapat bahaya yang nyata bahwa terapis yang menguasai teknik-teknik
Gestalt akan menggunakannya secara mekanis sehingga terapis sebagai pribadi
tetap tersembunyi.32
 Para klien sering bereaksi negative terhadap sejumlah teknik Gestalt karena
merasa dianggap tolol. Sudah sepantasnya terapis berpijak pada kerangaka yang
layak agar tidak tampak hanya sebagai muslihat-muslihat.

32
Sofyan S. Willis, (2009), Konseling individual teori dan praktek , Alfabeta, Bandung.

51
52
BAB 6
TEORI CLIENT CENTER

A. Konsep – Konsep Dasar


konsep dasar dari client centered adalah bahwa individu memiliki kecenderungan untuk
mengaktualisasi diri yang berfungsi satu sama lain dalam sebuah organisme. Pendekatan
client centered menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu yang penting bagi
dirinya dan pemecahan masalah dirinya. Konsep pokok yang mendasari adalah hal yang
menyangkut konsep konsep mengenai diri (self), aktualisasi diri, teori kepribadian, dan hake-
kat kecemasan.Dasar pendekatan client centered therapy adalah bahwa kekuatan-kekuatan
atau kemampuan-kemampuan tertentu dalam diri individu untuk tumbuh dan berkembang
untuk menyesuiakan diri, dan memiliki dorongan kuat ke arah kedewasaan dan harus
dihargai.
Rogers  mengembangkan terapi client centered sebagai reaksi terhadap apa yang
disebutkannya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Padahakikatnya,
pendekatan client centered adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggaris
bawahi tindakan mengalami klien berikutnya dunia subjektif dan fenomelnya. Terapis
berfungsi terutama sebagai penunjang pertumbuhan pribadi kliennya dengan jalan membantu
kliennya itu dalam menemukan kesanggupan untuk memecahkan masalah masalanya. Pen-
dekatan client centered menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggu pan klien untuk
mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri. 33
1. Pandangan Tentang Sifat Manusia

Pandangan client-centered tentang sifat manusia menolak konsep tentang


kecenderungan-kecenderungan negative dasar. Sementara beberapa pendekatan
beranggapan bahwa manusia menurut kodratnya adalah irasional dan kecenderungan
merusak terhadap dirinya sendiri bahkan orang lain kecuali telah menjalani sosialisasi.

Pandangan tentang manusia yang positif ini memiliki implikasi-implikasi yang


berarti bagi praktik terapi client-centered. Model terapi client-centered menolak konsep
yang memandang terapis sebagai otoritas yang mengetahui yang terbaik dan yang
memandang klien sebagai manusia pasif yang hanya mengikuti perintah-perintah terapis.

33
Gerald Corey,1988. Theori and Practice of counseling and Psychoterapy, (Eresco,Bandung,) hlm91

53
Oleh karena itu, terapi client-centered berakar pada kesanggupan klien untuk sadar dan
membuat putusan-putusan.

2. Ciri-ciri Pendekatan Client-Centered

Rogers (1974) menguraikan ciri-ciri yang membedakan pendekatan client-centered


dari pendekatan-pendekatan lain, diantaranya :

a. Pendekatan client-centered difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan


klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh.
b. Pendekatan client-centered menekankan dunia fenomenal klien. Dengan empati
yang cermat dan dengan usaha untuk memahami klien.
c. Prinsip-prinsip psikoterapi yang sama diterapkan pada semua orang, baik yang
“normal”, yang “neurotic” maupun yang “psikotik”
d. Teori client-centered bukanlah suatu teori yang tertutup, melainkan suatu teori
yang tumbuh melalui observasi-observasi konseling bertahun-tahun.

B. Struktur Kepribadian

Dalam teorinya Rogers lebih mementingkan dinamika dibandingkan dengan struktur


kepribadian. Dari awal, Rogers lebih memfokuskan diri pada cara bagaimana kepribadian
dapat mengubah dan berkembang. Beliau tidak menekankan pada aspek struktur keribadian.
34

1. Organisme adalah makhluk lengkap dengan fungsi fisik dan psikologisnya, tempat
semua pengalaman dan segala sesuatu yang secarapotensial terdapat dalam
kesadaran setiap saat.
2. Phenomenal field (medan fenomenal) adalah keseluruhan pengalaman, baik yang
internal maupun eksternal, disadari atau tidak disadari.
3. Self terbagi menjadi dua, yaitu real self dan ideal self. Real self adalah kondisi
individu saat ini sedangkan ideal self adalah kondisi individu yang mana ingin
dilihat dan dicapai oleh individu itu sendiri.

34
Ibid., hllm 91

54
C. Hubungan Antara Terapis Dengan Klien

Rogers merangkum hipotesis dasar terapi clien-centered dalam satu kalimat, yaitu: “ jika
saya bias menyajikan suatu tipe hubungan,maka orang lain akan menemukan dalam dirinya
sendiri kesanggupan menggunakan hubungan itu untuk pertumbuhan dan perubahan,
sehingga perkembangan pribadipun akan terjadi” .35

Menurut Carl Rogers (1967) keenam kondisi berikut diperlukan dan memadai bagi
perubahan kepribadian :

1. Dua orang berbeda dalam hubungan psikologis


2. Orang pertama, yang akan kita sebut klien, ada dalam keadaan tidak selaras, peka,
dan cemas.
3. Orang yang kedua, yang akan disebut terapis, ada dalam keadaan selaras atau
terintegrasi dalam berhubungan
4. Terapis merasakan perhatian positif tak bersyarat terhadap klien.
5. Terapis merasakan pengertian yang empatik.
6. Komunikasi pengertian empatik dan rasa hormat yang positif tak besyarat dari
terapis kepada klien setidaknya dapat dicapai

D. Pengalaman Klien Dalam Terapi

Dalam model clien-centered, perubahan terapeutik bergantung pada persepsi klien, baik
tentang pengalamannya sendiri dalam terapi maupun tentang sikap-sikap dasar konselor. Jika
seorang konselor menciptakan suatu iklim yang kondusif bagi eksplorasi diri, maka klien
memiliki peluang untuk mengalami dan mengeksplorasi perasaan-perasaannya yang banyak
diantaranya diingkarinya pada permulaan terapi. Berikut ini garis besar pengalaman klien
dalam terapi.

Clien-centered,klien dengan segera belajar bahwa dia bertanggung jawab atas dirinya
sendiri dan bahwa dia bias belajar lebih bebas untuk memperoleh pemahaman diri yang lebih
besar melalui hubungan dengan terapis. Pengalaman klien dalam terapis adalah melepas
belenggu-belenggu deterministic yang telah membuat dirinya berada dalam penjara

35
Ibid., hllm 132

55
psikologis. Dengan meningkatkan kebebasan, klien cenderung menjadi lebih matang secara
psikologis dan lebih beraktualisasi.

E. Teknik-Teknik Dalam Pendekatan Client-Centered36

Teknik-teknik dalam pendekatan client-centered adalah dengan mengungkapkan dan


mengkomunikasikan penerimaan, respek, dan pengertian serta berbagai upaya dengan klien
dalam mengembangkan kerangka acuan internal dengan memikirkan, merasakan, dan
mengeksplorsi. Menurut pandangan pendekatan client-centered, penggunaan teknik-teknik
sebagai muslihat terapis akan mendepersonalisasi hubungan terapis klien. Teknik-teknik
harus menjadi suatu pengungkapan yang jujur dari terapis, dan tidak bisa digunakan secara
sadar diri sebab terapis tidak akan bisa menjadi sejati. Client Centered menempatkan
tanggung jawab tidak pada konselor, tetapi pada klien. Ada beberapa teknik dasar yang harus
dimiliki client centered adalah sebagai berikut :

1. Mendengarkan klien secara aktif


2. Merefleksikan perasaan klien
3. Menjelaskannya.

Teknik-teknik konselingnya adalah sebagai berikut :


1. Acceptance (penerimaan)
2. Respect (rasa hormat)
3. Understanding (mengerti/memahami)
4. Reassurance (menentramkan hati/meyakinkan)
5. Encouragement (dorongan)
6. Limited quetioning (pertanyaan terbatas)
7. Reflection (memantulkan pertanyaan dan perasaan)

F. Kekurangan Dan Kelebihan Terapi Client Centered


36
Ibid., hllm 132

56
1. Kelebihan dari terapi client centered:
a. Memberikan landasan humanistik untuk memahami dunia klien, memberikan
peluang yang jarang kepada klien untuk sungguh-sungguh di dengar dan
mendengarkan.
b. Mereka bisa menjadi diri sendiri,sebab mereke tahu bahwa mereka tidak akan di
evaluasi dan di hakim.
c. Meraka akan merasa bebas untuk bereksperimen dengan tingkah laku baru.
d. Mereka dapat di harapkan memikul tanggung jawab atas diri mereka sendiri dan
merekalah yang masang dalam konseling.
e. Mereka yang menetapkan bidang bidang apa yang mereka ingin mengelksporasi
-kan di atas landasan-landsan dan tujuan bagi perubahan.
f.  Pendekatan clien centered menyajikan kepadaklain umpan balik langsung dan
khas dari apa yang baru di komunisikan.
g. Terapis tertindak sebagai cermin,mereflesikan perasaan-perasaan klinnya yang
lebih dalam.

2. Keterbatasan
a. Cara sejumlah pempraktek yang menyalah tafsirkan atau menyederhanakan
sikap-sikap sentral dari posisi clien center
b. Tidak semua konselor bisa mempratekkan terapi clien center sebab banyak
konselor tidak mempercayai filsafat yang melandasinnya.
c. Membatasi lingkup tanggapan dan gaya konseling mereka sendiri pada refleksi-
refleksi dan mendengar secara empatik.
d. Adanya jalan yang menyebabkan sejumlah pempraktek menjadi terlalu terpusat
pada klien sehingga mereka sendiri kehilangan rasa sebagai pribadi yang unik.

G. Peran Konselor Dalam Pendekatan Client Centered

Kemampuan konselor membangun hubungan interpersonal dalam proses konseling


merupakan elemen kunci keberhasilan konseling, disini konselor mempertahankan 3 kondisi
inti yang menghadirkan iklim kondusif untuk mendorong terjadinya perubahan terapeutik dan
perkembangan konseling, meliputi :

57
1. Sikap yang selaras dan keaslian (congruence or genuineness). Konselor
menampilkan diri yang sebenarnya, asli, terintegrasi dan otentik. Konselor juga
selaras menampilkan antara perasaan dan pikirang yang ada didalam dirinya dengan
perasaan, pandangan dan tingkah laku yang diekspresikan.
2. Penerimaan tanpa syarat adalah konselor dapat berkomunikasi dengan konseling
secara mendalam dan jujur sebagai pribadi,konselor tidak melakukan penilaian dan
penghakiman terhadap perasaan,pikiran dan tingkah laku berdasarkan setandar
norma tertentu.
3. Pemahaman yang empatik dan akurat kemampuan konselor untuk memahami perma
salah konseling, melihat sudut konseling, peka terhadap perasaan-perasaan
konseling, sehingga konselor mengetahui bagaimana konseling merasakan
perasaannya

H. Tujuan Terapi Client Centered

Seperti halnya pendekatan-pendekatan konseling lain, client centerd therapy juga


memiliki tujan konseling. Beberapa tujuan konseling dengan pendekatan client centered
adalah sebagai berikut:

1. Menciptakan suasana yang kondusif bagi klien untuk mengeksplorasi diri sehingga
dapat mengenal hambatan pertumbuhannya
2. Membantu klien agar dapat bergerak ke arah keterbukaan, kepercayan yang lebih
besar kepada dirinya, keinginan untuk menjadi pribadi yang mandiri dan
meningkatkan spontanitas hidupnya
3. Menyediakan iklim yang aman dan percaya dalam pengaturan konseling, dnegan
menggunakan hubungan konsleing untuk self-exploration, menjadi sadar akan
hambatan ke pertumbuhan
4. Konseli cenderung untuk bergerak ke arah lebih terbuka, kepercayaan diri lebih
besar, dan lebih sedia untuk meningkatkan diri.

58
BAB 7
TEORI RASIONAL EMOTIV THERAPY (RET)

A. Pendahuluan
Sebagai suatu kegiatan profesional dan ilmiah, pelaksanaan konseling bertitik tolak dari
teori-teori yang di jadikan sebagai acuannya. Pada umumnya teori diartikan sebagai suatu
pernyataan prinsip-prinsip umum yang di dukung oleh data untuk menjelaskan suatu
fenomena. Teori adalah untyk menggambarkan dan menjelaskan fenomena.
Suatu teori yang baik mempunyai kriteria sebagai berikut : 1. Jelas, yaitu dapat dipahami
dan tidak dapat pertentangan di dalamnya, 2. Komprehensif, yaitu dapat menjelaskan
fenomena secara keseluruhan, 3. Eksplisit, artinya setiap penjelasan didukung oleh bukti-
bukti yang dapat di uji, 4. Dapat merumuskan penelitian yang bermanfaat.Salah satu teori
yang ada dalam kegiatan konseling adalah Rasional Emotiv Therapy (RET) yang berasumsi
bahwa berpikir dan emosi itu bukan merupakan dua proses yang terpisah, tetapi justru saling
berkaitan dan dalam prakteknya

B. Konsep Dasar Terapi Rasional Emotiv37


Terapi Rasional Emotiv adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa
manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk
berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk
memelihara diri, berbahagia, serta tumbuh dan mengaktualkan diri. Akan tetapi, manusia juga
memiliki kecenderungan-kecenderungan kearah yang menghancurkan diri, menyesali
kesalahan-kesalahan secara tak berkesudahan serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi
diri.

Unsur pokok terapi rasional emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan beremosi bukan
dua proses yang terpisah, pikiran dan emosi merupakan dua hal yang saling bertumbumpang
tindah dalam prakteknya kedua hal itu saling berkaitan. Emosi disebabkan dan dikendalikan
oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu proses
sikap dan kognitif yang instrikstik. Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi orang
tersebut, dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang.

37
Gerald Corey,1988. Theori and Practice of counseling and Psychoterapy, (Eresco,Bandung,) hlmm237

59
Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengaruhi
pikiran.

C. Tujuan Utama Rasional Emotiv Therapy38


Tujuan utama terapi rasional emotiv adalah menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi
diri mereka merupakan sumber gangguan emosionalnya. Kemudian membantu klien agar
memperbaiki cara berpikir, merasa dan berprilaku, sehingga ia tidak lagi mengalami
gangguan emosional di masa yang akan datang. Tujuan utama konseling rasional-emotif
adalah sebagai berikut :
1. Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta
pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis
agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan self-actualization-nya
seoptimal mungkin melaui prilaku kognitif dan efektif yang positif.
2. Mengghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti :
rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, rasa marah dan merasa was-was.
Sebagai konseling dari cara berpikir keyakinan yang keliru berusaha menghilangkan
dengan jalan melatih dan mengajar klien untuk menghadapi kenyataan-kenyataan
hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan nilai-nilai kemampuan diri
sendiri.

D. Struktur Kepribadian
1. TRE dan Teori Keperibadian
Pandangan teoritis tentang ciri-ciritertentu keperibadian dan tingkah laku berikut
gangguan-gangguannyan memisahkan terapi rasional-emotif dari teori yang melandasi
sebagai besar pendekatan terapi yang lainnya. Neurosis, yang di definisikan seebagai
“Berfikir dan bertingkah laku irasional”, ia lah suatu kreadaan yang di alami yang pada
taraf tertentu menimpa kita semua. Keadaan ini berakar dalam pada kenyataan bahwa
kita adalah manusiandan hidup dengan manusia-manusia lain dalam masyarakat.
Psikopatologi pada mulanya di pelajari dari di perdebat oleg timbuhan keyakunan-
keyakinan irasional yang berasal dari orang-orang yang selama masa kanak-kanak. Bagai
mana pun secara aktif membentuk keyakinan-keyakinan keliru dengan peroses-proses

38
Ibid., hllm 238

60
otousugensi dan repetensi diri. Oleh karena itu, sikap-sikap yang di fungsional hidup dan
berkerja di dalam diri kita di sebabkan oleh pengulangan pemikiran-pemikiran irasional
yang di terimakan pada masa dini yang di lakukan oleh kita sendiri dari pada oleh
pengulanggan yang dilakukan oleh orang tua.
Elis berpendapat sebagai berikut:
1. Gagasan bahwa sangat perlu bagi orang dewasa untuk di cintai atau di setujui
oleh setiap orang yang berarti di msyarakat.
2. Gagasan bahwa orang-orang harus benar-benar kompoten, layak, dan
perprestasi dalam segala hal jika seseorang itu mengiginkan dirinya di hormati.
3. Gagasan bahwa orang-orang tertentu buruk, keji, jahat, dan harus di kutuk dan
di hukum atas kejahatan nya.
4. Gagasan bahwa lebih mudah menghindari dari pada menghadapi kesulitan-
kesukitan hidup dan tangung jawab pribadi.
5. Gagsan bahwa adalah merupakan rencana yang mengerikan apabila hal-hal
menjadi tidak seperti yang di harapkan.
6. Gagsan bahwa ketidak bahgiaan manusia terjadi oleh penyebab-penyebab dari
luar dan bahwa orang orang hanya memiliki sedikit atau tidak memiliki
kemampuan untuk mengendalikan kesusahan-kesusahan dan ganguan-ganguan.
7. Gagsan bahwa masa lampau adalah determinan yang terpenting yang terpenting
dari tingkah laku seseorang sekarang dan bahwa karena dulu sesuatu pernah
mempengaruhi kehidupan seseorang, maka sesuatu itu sekarang memiliki efek
yang sama.

2. Teori A-B-C tentang Keperibadian


Teori A-B-C tentang keperibadian sangatlah penting bagi teori dan peraktek TRE. A
adalah suatu fakta, suatu peristiwa, tingkah laku atau sikap seseorang. C adalah
konsekuensi atau reaksi emosional seseorang, reaksi ini bisa layak dan busa pula tidak
layak.
A “peristiwa yang mengaktifkan” bukan penyebab timbulnya C “koensi emosional”.
Alih-alih, B , yaitu keyakinan individu tenteang A, yang menjadi penyebab C, yakni
reaksi emosional. Misalnya, jika seseorang mengalami depresi sesudah perceraian, bukan
perceraian itu sendiri yang menjadi penyebab timbulnya reaksi defresif, melainkan
keyakinan orang itu tentang perceraian sebagai kegagalan, penolakan, atau kehilangan
teman hidup. Elis berkeyakinan akan penolakan dan kegagalan pada B adalah yang

61
menyebabkan depresi pada C, jadi bukan peristiwa perceraian yang sebenarnya pada A.
Jadi, manusia bertanggung jawab atas pencintaan reaksi-reaksi emosional dan tangguan-
gangguannya sendiiri.

E. Hubungan Konselor dengan Klien39


Menurut Ellis, kehangatan pribadi, afeksi, dan hubungan pribadi antara terapis dan klien
yang intens memiliki arti yang sekunder. Ellis tidak percaya bahwa hubungan pribadi yang
mendalam atau hangat merupakan sesuatu yang sangat diharapkan. Menurut Ellis para
pempraktek rasional-emotif cenderung tampil informal dan menjadi sendiri diri nya sendiri.
Mereka sangat aktif dan direktif serta sering memberikan pandangan-pandangannya sendiri
tanpa ragu.
Mereka bisa menjadi objek, dingin, dan hampir menunjukkan kehangatan kepada
sebagian besar kliennya. Mereka bisa bekerja dengan baik dalam menangani para klien yang
secara pribadi tidak mereka sukai, sebab minat utama mereka bukan berhubungan secara
pribadi, melainkan membantu klien dalam mengatasi gangguan-gangguan emosionalnya.
Patut di catat, meskipun hubungan pribadi atau kehangatan dan afeksi antara terapis dan
klien tidak dipandang sangat penting dalam TRE, tidak berarti bahwa transferensi tidak
dianggap signifikan. Ellis percaya bahwa hubungan antara terapis dan klien merupakan
bagian yang berarti dari proses terapeutik, tetapi arti itu berbeda dengan arti yang tetrdapat
dalam sebagian besar psikoterapi yang lainnya. Ellis mengatakan bahwa TRE menekankan
pentingnya peran terapis sebagai model bagi para klien.
Selama pertemuan terapi, terapis memainkan peran sebagai model yang tidak terganggu
secara emosional dan yang hidup secara rasional. Terapis juga menjadi model orang yang
berani bagi klien dalam arti dia secara langsung mengungkapkan sistem-sistem keyakinan
klien yang irasional tanpa takut kehilangan rasa suka dan persetujuan dari klien.
TRE karenya menekankan bahwa bantuan bagi klien bisa diperoleh dari terapis yang
sangat terlatih dan rasional. Lebih dari itu, TRE menekankan toleransi penuh dan
penghormatan positif tanpa syarat dari terapis menghindari sikap menyalahkan klien. Terapis
secara sinambung menerima klien sebagai manusia yang pantas di hormati, karena
keberadaanya, dan karena bukan apa yang di capainya.

39
Ibid., hllm 269

62
F. Pengalaman Klien Dalam Konseling
Pengalaman utama klien dalam TRE adalah mencapai pemahaman. TRE berasumsi
bahwa pencapaian pemahaman emosional (emotional insight) oleh klien atas sumber-sumber
gangguan yang dialaminya adalah bagian yang sangat penting dari proses terapeutik. Ellis
mendefenisikan pemahaman emosional sebagai “mengetahui atau melihat penyebab-
penyebab masalah dan bekerja, dengan keyakinan dan bersemangat, untuk menerapkan
pengetahuan itu pada penyelesaian masalah-masalah tersebut”. Jadi, TRE menitik beratkan
penafsiran sebagai suatu alat terapeutik.

G. Peranan atau Tugas Konselor


Tugas utama seorang seorang terapis adalah mengajari klien cara memahami dan
mengubah diri sehingga konselor harus bertindak aktif dan direktif. Konselor perlu
memahami keadaan klien sehingga memungkinkan untuk mengubah cara berpikir klien yang
tidak irasional.
Terapi rasional emotif adalah sebuah sebuah proses edukatif karena salah satu tugas
konselor adalah mengajarkan dan membenarkan perilaku klien melalui pengubahan cara
berpikir nya. Dalam menjalankan fungsinya tersebut Ellis memberikan gambaran tentang
tugas konselor adalah :
1) Mengajak klien berpikir tentang bentuk-bentuk keyakinan irasionalnya yang
mempengaruhi tingkah lakunya.
2) Menantang klien untuk menguji gagasan-gagasan irasionalnya.
3) Memunculkan ketidak logisan cara berpikir klien.
4) Menggunakan analisis logika untuk meminimalkan keyakinan irasional klien
5) Menunjukkan pada klien bahwa keyakinan irasionalnya adalah penyebab gangguan
emosional dan tingkah laku.

H. Krakteristik Proses Konseling Rasional Emotif


1. Aktif- direktif, artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif
membantu mengarahkan klien dalam mengahadapi dan memecahkan masalahnya.
2. Kognitif–ekspreriensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada
aspek kognitif dari klien dan berintikan pemcahan masalah yang rasional.
3. Emotif-ekspreriensial, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga
memfokus pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan

63
emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari
gangguan tersebut.
4. Behavioristik, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya
menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien.

I. Teknik Konseling Rasional Emotif40


Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat
kognitif, efektif, dan behvioral yang di sesuaikan dengan kondisi klien. Beberapa teknik yang
dimaksud antara lain adalah sebagi berikut :
1. Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
a. Assertive adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien
untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang di
inginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.

b. Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan
(perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian
rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui
peran tertentu.

c. Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku
tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri
yang negatif.

2. Teknik-Teknik Behavioristik
a. Reinforcement
Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan
logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman
(punishment). Teknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan

40
Ibid., hllm 251

64
keyakinan yang irasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang
positif.

b. Social modeling
Teknik untuk membantu tingkah laku baru pada klien. Teknik ini dilakukan
agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara
imitasi (meniru), mengobservasi, dan menyesusaikan dirinya dan
menginternalisasikan norma-norma dalam sisitem model sosial dengan masalah
tertentu yang telah di siap kan oleh konselor.
c. Teknik life Models (model dari kehidupan nyata )
Teknik yang digunakan untuk menggambarkan perilaku-perilaku tertentu
khususnya situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial,
interaksi dengan memecahkan masalah.

3. Teknik-Teknik Kognitif
a. Home Work assigments.
Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih,
membiasakan diri, dan mengintegralisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut
pola tingkah laku yang diharapkan.
Dengan tugas rumah yang diberikan klien di harapkan dpar mengurangi atau
menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis,
mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek
kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang
diberikan.
Pelaksanaan Home Wrok Assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh
klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Teknik ini dimaksud
untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan
pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien dan
mengurangi ketergantungannya kepada konselor.

b. Latihan assertive
Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-
tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau meniru
model-model sosial.

65
Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien
mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya, (b)
membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri
tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain, (c) mendorong klien untuk
meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri dan (d) meningkatkan kemampuan
untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri.
J. Syarat-Syarat Konselor
Lesmana menyebutkan ciri-ciri khusus yang seharusnya menjadi syarat seseorang
konselor terapi rasional emotif adalah : pintar, berwawasan luas, empati, peduli, kongkrit
ilmiah, berminat membantu orang lain, dan menggunakan teori rasional emotif dalam
kehidupannya.

K. Kelebihan dan Kekurangan


Pendektan rasional emotif therapy yang dikembangkan oleh Albert Ellis mempunyai
kebihan yaitu :
1. Rasional Emotif menawarkan dimensi kognitif dan menantang klien untuk meneliti
rasionalitas dari keputusan yang telah diambil serta nilai yang klien anut.
2. Rasional Emotif memberikan penekanan untuk mengaktifkan pemahaman yang
didapat oleh klien sehingga klien akan langsung mampu mempraktekkan perilaku
baru mereka
3. Rasional Emotif menekankan pada praktek teraupetik yang komperensif dan elektik
4. Rasional emotif mengajarkan klien cara-cara mereka bisa melakukan terapi sendiri
tanpa intervensi langsung dari terapis

Pendektan rasional emotif therapy yang dikembang oleh Albert Ellis mempunyai
kekurangan yaitu :

1. Rasional Emotif tidak menekankan kepada masa lalu sehingga dalam proses
teraupetik ada hal-hal yang tidak diperhatikan
2. Rasional Emotif kurang melkukan pembangunan hubungan antara klien dan terapis
sehingga klien mudah diintimidasi oleh konformitasi cepat terapis
3. Kurang memperhatikan faktor ketidak sadaran dan pertahanan ego.

66
BAB 8
TEORI ANALISIS TRANSASIONAL

A. Pendahuluan
Eric Berne (1910-1970) kelahiran Montreal, Canada, adalah pelopor Analisis
Transaksional (AT). Ia mulai mengembangkan AT ini sebagai terapi ketika ia bertugas dalam
Dinas Militer Amerika Serikat dan diminta untuk membuka program terapi kelompok bagi
para serdadu yang mendapat gangguan emosional sebagai akibat Perang Dunia ke-2.
Berne, pada mulanya adalah seorang pengikut Freud dan melakukan praktik
Psikoanalisis dalam terapi. Sebab, saat itu psikoanalisis tengah mendapat perhatian yang luar
biasa. Bahkan Berne sendiri pernah mendapat kuliah psikoanalisis di Yale Psychiatric Clinic
(1936-1938) dan New York Psichoanalitical institute (1941-1943).
Analisis transaksional berevolusi dari ketidakpuasan Berne dengan lambatnya
psikoanalisis dalam menyembuhkan orang-orang dari masalah mereka. Setelah Berne
berhenti bekerja pada Dinas Militer, Berne mulai melakukan eksperimen yang sungguh-
sungguh. Akhirnya pada pertengahan tahun 50-an barulah ia memperkenalkan teorinya,
Analisis Transaksional. Diluar dugaan, teori ini mendapat sambutan baik dari kalangan ahli
terapi kelompok, dalam pertemuan Regional Perhimpunan Terapi Kelompok Amerika di Los
Angeles tahun 1957 teori ini diangkat sebagai salah satu tema yang dibahas. Tentu saja AT
mulai mengundang ingin tahu banyak orang dengan prinsip-prinsip yang dikembangkannya.
Prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh Eric Berne dalam analisis transaksional adalah
upaya untuk merangsang rasa tanggung jawab pribadi atas tingkah lakunya sendiri, pemikiran
logis, rasioanal, tujuan-tujuan yang realistic, berkomunikasi dengan terbuka, wajar, dan
pemahaman dalam berhubungan dengan orang lain.

B. Pengertian Analisis Transaksional41


Eric Berne (1910-1970) seorang psikiatris dan psikoanalisis, mendapatkan gelar M. D
dari MCGill University di Montreal pada tahun 1953, dan menyelesaikan pendidikan
spesialis psikiater di Yale university. Pada tahun 1964 buku pertamanya Games People Play
(permainan yang dimainakn orang) menjadi buku terlaris seacara internasional. Pada saat
yang sama pendekatan terapeutiknya yang baru, yang mencerminkan ditinggalkannya

41
Gerald Corey,1988. Theori and Practice of counseling and Psychoterapy, (Eresco,Bandung,) hlm157

67
psikoanalisis secara radikal, menjadi popler secara luas di tahun) 1960an (corey, 1995: 373).
Berne mengembangkan dasar teori ananalisis transaksional pada tahun 1950an. Penemuannya
tentang status ego disadari sebagai fase pertama dari sejarah perkembangan analisis
transaksional. Penemuan teori tersebut berdasarkan eksperimen-eksperimen neorulogi yang
menyatakan bahwa status ego yang dialaimnya individu berbeda lewat stimulus.
Secara singkat Berne mendefinisikan pengertian dari analisis transaksi sebagai: “Ein
Transaktions-Stimulus plus eine Transaktions-Reaktion” (Joines dalam Eschenmoser,
2008:23). Pernyataan ini berarti bahwa sebuah transaksi terdiri dari sebuah stimulus dan
sebuah reaksi. Dengan kata lain, syarat terbentuknya sebuah transaksi adalah adanya
hubungan timbal balik antara stimulus yang diungkapkan penutur dan respon yang
diungkapkan oleh lawan bicaranya.
Analisis Transaksional adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan
pada hubungan interaksional. Transaksional maksudnya ialah hubungan komunikasi antara
seseorang dengan orang lain. Adapun hal yang dianalisis yaitu meliputi bagaimana bentuk
cara dan isi dari komunikasi mereka. Dari hasil analisis dapat ditarik kesimpulan apakah
transaksi yang terjadi berlangsung secara tepat, benar dan wajar. Bentuk, cara dan isi
komunikasi dapat menggambarkan apakah seseorang tersebut sedang mengalami masalah
atau tidak. Analisis Transaksional dapat dipergunakan untuk terapi individual, tetapi terutama
untuk pendekatan kelompok. Analisis transaksional berfokus pada keputusan – keputusan
awal yang dibuat oleh klien dan menekankan kemampuan klien untuk membuat keputusan
baru.
Analisis Transaksional (AT) merupakan psikoterapi transaksional yang dapat digunakan
dalam konseling individual, tetapi lebih cocok digunakan dalam konseling kelompok.
Analisis Transaksional melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh klien, yang dengan jelas
menyatakan tujuan-tujuan dan arah proses konseling. Analisis Transaksional berfokus pada
keputusan-keputusan awal yang dibuat oleh klien dan menekankan kemampuan klien untuk
membuat keputusankeputusan baru. Analisis Transactional menekankan aspek-aspek kognitif
rasional-behavioral dan berorientasi kepada peningkatan kesadar sehingga klien akan mampu
membuat keputusan-keputusan baru dan mengubah cara hidupnya. Berne menemukan bahwa
dengan menggunakan AT kliennya membuat perubahan signifikan dalam kehidupan mereka.

C. Hakikat Manusia

68
Analisis trasaksional berakar dari filosofi antideterministik. Iman ditempatkan dalam
kapasitas seseorang untuk di atas pola kebiasaan dan untuk memilih sasaran dan perilaku
baru. Ini tidak berarti bahwa mereka sama sekali tanpa ada hal yang mempengaruhinya bisa
sampai pada penentuan hidup yang kritis. Analisis ini juga mengakui bahwa mereka
dipengaruhi oleh harapan serta tuntutan oleh orang lain yang signifikan baginya, terutama
oleh karena keputusan yang terlebih dahulu telah dibuat pada masa hidup mereka pada saat
mereka sangat bergantung pada orang lain. tetapi keputusan dapat ditinjau kembali dan
ditantang dan apabila keputusan yang telah diambil terdahulu tidak lagi cocok, bisa dibuat
keputusan.

D. Asumsi Dasar42
Pendekatan analisis transaksional berlandaskan suatu teori kepribadian yang berkenaan
dengan analisis struktural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi
analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu: orang tua, dewasa, anak. Sifat
kontraktual proses terapeutik analisis transaksional cenderung mempersamakan kedudukan
konselor dan klien. Adalah menjadi tanggung jawab klie untuk menentukan apa yang akan
diubahnya. Pada dasarnya, analisis transaksional berasumsi bahwa manusia itu:
1. Manusia memiliki pilihan-pilihan dan tidak dibelenggu oleh masa lampaunya
(Manusia selalu berubah dan bebas untuk menentukan pilihanya). Ada tiga hal yang
membuat manusia selalu berubah, yaitu :
a. Manusia (klien) adalah orang yang telah cukup lama menderita” karena itu
mereka ingin bahagia dan mereka berusaha melakukan perubahan.
b. Ada kebosanan, kejenuhan atau putus asa. Manusia tidak puas dengan
kehidupan yang monoton, kendatipun tidak menderita bahkan berkecukupan.
Keadaan yang monoton akan melahirkan perasaan jenuh atau bosan, karena itu
individu terdorong dan berupaya untuk melakukan perubahan.
c. Manusia bisa berubah karena adanya penemuan tiba-tiba. Hal ini merupakan
hasil AT yang dapat diamati. Banyak orang ya g pada mulanya tidak mau atau
tidak tahu dengan perubahan, tetapi dengan adanya informasi, cerita, atau
pengetahuan baru yang membuka cakrawala barunya, maka ia menjadi
bersemangat untuk menyelidiki terus dan berupaya melakukan perubahan.

42
Ibid., hllm 264

69
2. Manusia sanggup melampaui pengondisian dan pemprograman awal (manusia dapat
berubah asalkan ia mau). Perubahan manusia itu adalah persoalan di sini dan
sekarang (here and now ). Berbeda dengan psikoanalisis, yang cenderung
deterministik, di mana sesuatu yang terjadi pada manusia sekarang ditilik dari masa
lalunya. Bagi T, manusia sekarang memiliki kehendak, karena itu perilaku manusia
sekarang adalah persoalan sekarang dan di sini. Kendatipun ada hubunganya dengan
masa lalu, tapi bukan seluruhnya perilaku hari di ditentukan oleh pengalaman masa
lalunya.
3. Manusia bisa belajar mempercayai dirinya sendiri , berpikir dan memutuskan untuk
dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan-persaannya.
4. Manusia sanggup untuk tampil di luar pola-pola kebisaaan dan menyeleksi tujuan-
tujuan dan tingkah laku baru.
5. Manusia bertingkah laku dipengaruhi oleh pengharapan dan tuntutan dari orang-
orang lain.
6. Manusia dilahirkan bebas, tetapi salah satu yang pertama dipelajari adalah berbuat
sebagaimana yang diperintahkan.

E. Teori Kepribadian
Analisis trasaksional dipandang sebagai sesuatu yang positif, karena manusia secar
filosofis dapat ditingkatkan, dikembangnkan dan diubah secara langsung melalui proses yang
aman, menggairahkan dan bahan menyenangkan. Secara keseluruhan dasar filosofinya
bermula dari asumsi bahwa semuanya OK, artinya bahwa setiap individu perilakunya
mempunyai dasar menyenangkan dan mempunyai potensi serta keinginan untuk berkembang,
dan mengaktualisasikan diri.
Sumber-sumber dari tingkah laku sebagaimana seseorang itu melihat suatu realitas serta
bagaimana mereka mengolah berbagai informasi serta bereaksi dengan dunia pada umumnya
disebut oleh Eric Berne sebagai Ego State (Status Ego). Istilah status ego digunakan untuk
menyatakan suatu sistem perasaan dan kondisi pikiran serta berkaitan dengan pola-pola dan
tingkah lakunya. Status ego pada diri seseorang itu terbentuk berdasarkan pengalaman-
pengalaman yang diperoleh seseorang yang masih membekas pada dirinya sejak kecil.
Menurut Eric Berne behwa status ego seseorang terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut:
1. Orang tua (Parent)

70
Bila seseorang merasa dan bertingkah laku seperti orang tua atau tokohtokoh
terdahulu, maka ia dapatlah berada dalam status o orang tua. Setiap orang mendapatkan
berbagai bentuk pengalaman, sikap, serta pendapat dari orang tuanya, maka dari itu
berdasarkan pengalaman, sikap serta pendapatnya yang diperoleh dari orang tuanya
masing-masing, setiap orang akan memiliki atau berada pada status ego orang tua.
Status ego orang tua itu lebih sering kita lihat dengan nyata, misalnya: membimbing,
membantu, mengarahkan, menyayangi, menasihati, mengecam, mengomando, mendikte,
dsb. Dapat pula diliha secara verbal, yaitu: harus, awas, jangan, lebih baik, pokoknya,
cepat, dsb. Selain itu dapat pula secara non-verbal, yaitu: merangkul, membelai,
menuing, mencium, melotot, dsb. Dapat dikatakan bahwa status ego orang tua dapat
berbentuk langsung yaitu dengan menggunakan prot type, model, tipe, dari orang tua
yang baik melalui verbal maupun non-verbal. Sedangkan dengan bentuk tidak langsung
adalah merupaka petunjuk, aturan, norma, dan nilai-nilai yang pernah didenngar dari
orang tua atau tokoh terdahulu pada masa kecil.

2. Dewasa (Adult)
Status ego dewasa adalah bentuk tindakan seseorang yang berdasarkan dasar pikiran
yang logis, rasional, objektif, dan bertanggung jawab. Dewasa berfungsi untuk
mengumpulkan berbagai informasi, memasukkan berbagai macam data ke dalam bank
data, kem ian mempertimbangkan berbagai bentuk kemungkinan yang ada.

3. Anak (Child)
Status ego anak adalah suatu tindakan dari sesorang yang didasarkan pada rekasi
emosional yang spontan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif. Bentuk status ego anak
dapat berbentuk waja apabila terlhat bahwa tingkah lakunya pada masa anak-anak, yaitu
adanya ketergantungan pada orang lain, spontan, bebas, agresi , tidak mau kompromi,
impulsive, kreatif, ingin tahu, merasakan berbagai bentuk penemuan baru yang
berbentuk status ego yang lain adalah pengaruh tertentu dari orang tuanya.
Dengan adanya pengaruh yang begitu melekat, maka menye abkan anak bertindak dan
bertingkah laku sesuai harapan, keinginan, dan cita-cita dari orang tuanya. Di sini akan
tampak pola anak yang , patuh, sopan, penurut, tetapi ada pula yang menyebabkan anak
mengalami penderitaan, yaitu: overprotection, manja, konflik, st ess, frustasi. Jadi status
ego anak merupakan kejadian internal pada masa kanak-kanaknya.

71
STROKE
Dalam teorinya, Eric Berne mengemukakan suatu istilah ang disebut stroke, yang
dapat diterjemahkan dengan “tanda perhatian”. Menurutnya stroke dapat dibedakan
menjadi :
1. Stroke Positif ( positive stroke)
Stroke positif adalah merupakan segala bentuk perhatian yan secara langsung
dapat memperkuat motivasi dan kegairahan dala kehidupannya yang diperoleh
seseorang dalam awal kehidupannya. Misalnya : belaian, ciuman, senyuman,
tepukan, dll. Be tuk stroke yang lain yaitu seperti piagam atas suatu prestasi, ijazah,
dll. Stroke ini dapat menyebabkan seseorang merasa dihargai dan diperhatikan.

2. Stroke Negatif ( Negative Stroke)


Stroke negative adalah suatu bentuk stroke yang menunjukkan pandangan yang
mengecewakan atau menyesali, pukulan, tamparan yang menyakitkan, kata-kata
yang keras,mengkritik, sikap acuh, memelas, dan lain-lain. Sedangkan stroke yang
lebih formal adalah, tanda peringatan, surat teguran, nilai merah, dll. Stroke ini
menyebabkan seseorang merasa tidak dihargai dan tiak berarti, dan secara langsung
memungkinkan ses orang memiliki dan tumbuh sikap yang defensive untuk
mempertahankan diri.

3. Stroke Bersyarat (Conditional stroke)


Stroke bersyarat dapat diartikan sebagai suatu tanda p rhatian yang diperoleh
seseorang disebabkan ia telah melakukan sesuatu.Misalnya, “saya mau menemanimu
berbelanja, asalkan kau mau membantu me bersihkan rumah.”

4. Stroke tidak bersayarat ( unconditional stroke)


Stroke tak bersyarat atau perhatian tak bersyarat, ada tanda perhatian yang
diperoleh seseorang tanpa dikenakan persyaratan apapun. isalnya, “ Saya akan
membantu anda dengan sebaik-baiknya.”

F. Tujuan Konseling
Tujuan dasar dari Analisis Transaksional adalah membantu klien dalam membuat
keputusan-keputusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya.

72
Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih
telah dibatasi oleh keputusan-keputusan dini mengenai posisi hidupnya dan oleh pilihan
terhadap cara-cara hidup yang mandul dan determistik. Inti dari konseling adalah
menggantikan gaya hidup yang ditandai oleh permainan yang manipulatif dan oleh skenario-
skenario hidup yang mengalahkan diri, dengan gaya hidup otonom yang ditandai oleh
kesadaran, spontanitas, dan keakraban.
Individu memperoleh kesadaran tentang bagaimana kebebasannya terkekang karena
keputusan awal tentang posisi hidup, dan belajar untuk menetukan arah hidup yang lebih
baik. Inti terapi ini adalah mengganti kearah gaya hidup yang otonom yang memiliki cirri-
ciri: kesadaran, spontan, intim, dengan menggunakan game dan naskah hidup. Individu juga
belajar menulis kembali naskah hidup mereka sehingga mereka memiliki control atas hidup
mereka (Corey, 1986,p 158, dalam Komalasari G, DKK. 2011). Adapun tujuan-tujuan khusus
pendekatan ini adalah:
1. Konselor membantu konseli untuk memprogram pribadinya agar membuat ego state
berfungsi pada saat yang tepat.
2. Konseli dibantu untuk menganalisis transaksi dirinya sendiri.
3. Konseli dibantu untuk menjadi bebas dalam berbuat, bermain menjadi orang yang
mandiri dalam memiliki apa yang diinginkan.
4. Konseli dibantu untuk mengkaji keputusan salah yang telah dibuat dan membuat
keputusan baru atas dasar kesadaran.

G. Peranan dan Fungsi Terapi


Terapis berperan sebagai guru adalah menerangkan tehnik seperti analisis struktural,
analisis transaksioanl, analisis naskah, dan analisi permainan. Terapis membantu klien dalam
rangka menemukan kondisi-kondisi yang tidak menguntungkan, mengadaptasi rencana hidup
dan mengembangakan strategi dalam berhubungan dengan orang lain. terapis membantu
klien dalam menentukan alternatif-alternatif menyatakan tugas terapi adalah menolong klien
mendapatkan perangkat yang diperlukan untuk mendapat perubahan, menolong klien untuk
menemukan kekuatan internal mereka untuk mendapatkan perubahan denagn jalan
mengambil keputusan yang lebih cocok.
Konseling analisis transaksional didesain untuk mendapatkan insight emosional dan
intelektual, tetapi focus pada bagian rasional. Hal ini berimplikasi pada peran konselor dalam
proses konseling yang lebih banyak didaktik dan focus pada pemikiran konseli. Menurut

73
Harris, 1967 dalam Komalasari G, DKK. 2011) peran konselor adalah sebagai guru, pelatih
dan penyelamat dengan terlibat secara penuh dengan konseli. Sebagai guru, konselor
menjelaskan teknik-teknik seperti analisis struktur ( structural analysis), analisis transaksi,
analisis game.

H. Hubungan Konselor-Klien
Analisis Transaksional adalah suatu bentuk terapi yang berdasarkan kontrak. Suatu
kontrak dalam Analisis Transaksional menyiratkan bahwa seseorang akan berubah. Kontrak
haruslah spesifik, ditetapkan secara jelas, dan dinyatakan secara ringkas. Kontrak berisi
tentang apa yang akan dilakukan oleh klien, bagaimana klien akan melangkah ke arah tujuan
yang telah ditetapkan, dan klien tahu kapan kontraknya akan habis. Sebagai sesuatu yang
dapat diubah-ubah, kontrak dapat dibuat secara bertahap. Konselor akan mendukung dan
bekerja sesuai dengan kontrak.
Banyak klien yang memandang konselor sebagai sumber obat yang manjur untuk segala
macam penyakit, sehingga mereka mengawali konseling dengan sikap pasif dan dependen.
Salah satu kesulitan mereka adalah penghindaran dari kewajiban memikul tanggung jawab,
dan mereka berusaha meneruskan gaya hidupnya dengan mengalihkan tanggung jawab
kepada konselor. Pendekatan kontraktual Analisis Transaksional berlandaskan pengharapan
bahwa para klien berfokus pada tujuan-tujuan mereka dan membuat suatu komitmen.
Konselor menekankan pembagian tanggung jawab dan menyajikan suatu titik pemberangkat
dan untuk bekerja.
Pendekatan kontrak dengan jelas menyiratkan suatu tanggung jawab bersama. Dengan
berbagi tanggung jawab bersama konselo , klien menjadi rekan treatment . Konselor tidak
melakukan sesuatu kepada klien sementara klien itu pasif. Akan tetapi, baik konselor maupun
klien harus aktif dalam kegiatan konseling tersebut. Ada beberapa implikasi yang
menyangkut hubungan konselor dan klien, yaitu:
1. Tidak ada jurang pengertian yang tidak bisa dijembatani di antara konselor dan
klien. Konselor dan klien berbagi kata-kata dan konsepkonsep yang sama, dan
keduanya memiliki pemahaman yang sama tentang situasi yang dihadapi.
2. Klien memiliki hak-hak yang sama dan penuh dalam konseling. Hal ini berarti klien
tidak bisa dipaksa untuk menyingkapkan hal-hal yang tidak ingin diungkapkannya.

74
Selain itu pasti klien merasa bahwa dia tidak akan diamati atau direkam di luar
pengetahuannya atau tanpa persetujuan darinya.
3. Kontrak memperkecil perbedaan status dan menekankan persamaan diantara
konselor dan klien. Pada diri konselor, seorang klien harus menemukan “seorang
manusia yang berminat memajukan pengetahuan pasien tentang dirinya sendiri
dalam seketika sehingga secepat mungkin, pasien itu bisa menjadi analis bagi
dirinya sendiri.
Inti pokok dari AT terletak pada usaha konselor menganalisis transaksi klien dengan
teknik-teknik yang telah disebutkan diatas. Dengan demikian sikap dan peranan konselor
adalah :
1. Berusaha meletakkan tanggung jawab pada klien. Karena pada hakekatnya setiap
individu hendaknya bertanggung jawab atas kehidupannya, maka AT juga
mengarahkan agar pada diri klien tumbuh rasa tanggung jawab dan kemampuan
untuk mengambil tang ung jawab atas kehidupannya.
2. Menyediakan lingkungan yang menunjang. Untuk mencapai perubahan klien atau
keseimbangan klien, konselor berusaha sebagai penyedia fasilitas yang mendorong
terjadinya perubahan klien.
3. Memisahkan mitologi dengan realitas. Karena pengaruh , banyak klien dipengaruhi
oleh mitologi yang telah diadapsinya sejak lama. Dalam rangka memperbaiki
kembali (memahami kembali) skript kehidupan klien itu, konselor AT mempunyai
peranan untuk memisahkan mitologi yang berpengaruh dalam klien dengan realitas
kehidupan yang sebenarnya.
4. Melakukan Konfrontasi atas keanehan yang tampak. Keanehan atau keadaan ego
state klien yang tidak seimbang dapat diperbaiki konselor dengan melakukan
konfrontasi.Konselor hendaknya bisa m mbentuk dan merekonstruksi menjadi
seimbang.
Jadi, dengan melihat peranan dan sikap konselor di atas memperlihatkan bahwa
konselor dalam AT bersifat aktif dan lebih banyak menentukan jalannya konseling.

I. Proses Konseling
Proses Konseling/Terapi Analisis Transaksional ini dilakukan tiap transaksi yang
dianalisis. Klien yang nampaknya mengelakkan tanggung jawab diarahkan untuk mau
menerima tanggung jawab pada dirinya sehingga klien dapat menyeimbangkan Egogramnya,

75
mendefinisikan kembali skriptnya, serta melakukan instrospeksi terhadap game yang
dijalaninya. Tahapan Proses Konseling Analis Transaksional.
1. Bagian pendahuluan digunakan untuk menentukan kontrak d ngan klien, baik
mengenai masalah maupun tanggung jawab kedua pihak.
2. Pada bagian kedua baru mengajarkan Klien tentang egois tenya dengan diskusi
bersama Klien.
3. Membuat kontrak yang dilakukan oleh klien sendiri, yang berisikan tentang apa
yang akan dilakukan oleh klien, bagaimana klien akan melangkah ke arah tujuan
yang telah ditetapkan, dan klien tahu kapan kontraknya akan habis. Kontrak
berbentuk pernyataan kl en – konselor untuk bekerja sama mencapai tujuan dan
masing-masing terikat untuk saling bertanggung jawab. Beberapa persyaratan yang
harus dipenuhi dalam kontrak, yaitu :
a. Dalam kontrak, konselor dan klien harus melalui transa dewasadewasa, serta
ada kesepakatan dalam menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapai.
b. Kontrak harus mempertimbangkan beberapa hal, yaitu : pertimbangan pertama
yaitu konselor memberikan layanan kepada klien secara profesional (baik
berupa kesempata maupun keahlian) pertimbangan kedua yaitu, klien
memberikan imbalan jas kepada konselor, dan menandatangani serta
melaksanakan isi kontrak sesuai dengan waktu atau jadwal yang telah
ditetapkan.
c. Kontrak memiliki pengertian sebagai suatu bentuk kompetensi anatara dua
pihak, yaitu, konselor yang harus memiliki kecakapan untuk membantu klien
dalam mengatasi masalahnya, dan klien harus cukup umur dan matang untuk
memasuki suatu kontrak.
d. Tujuan dari kontrak haruslah sesuai dengan kode etik konseling.
4. Setelah kontrak ini selesai, baru kemudian konselor bersama klien menggali ego
state dan memperbaikinya sehingga terjadi dan tercapainya tujuan konseling.

J. Teknik-Teknik Konseling43
Teknik-teknik konseling analisis transaksional banyak menggunakan teknik-teknik
pendekatan gestalt. James jongeward (1971) mengkombinasikan konsep dan proses analisis
transaksioanal dengan ekperimentasi Gestalt dan kombinasi ini memberikan hasil yang

43
Ibid., hllm 277

76
menjanjikan pada self-awareness dan autonomy. Metode Didaktik (Didaktic Methods)
Prosedur belajar dan mengajar adalah dasar dari pendekatan ini.
a. Kursi Kosong (Empty Chair)
Teknik ini merupakan adopsi dari pendekatan Gestalt. Teknik ini biasanya
digunakan untuk structural analysis. McNeel (1976, dalam Komalasari G, DKK. 2011)
mendeskripsikan bahwa teknik yang menggunakan dua kursi ini merupakan cara yang
efektif untuk membantu konseli mengatasi konflik masa lalu dengan orangtua atau orang
lain pada masa kecil. Tujuan teknik ini adalah untuk menyelesaikan unfinished business
masa lalu.

b. Bermain Peran
Bermain peran (Role Play) biasanya digunakan dalam konseling kelompok dimana
melibatkan orang lain. Anggota kelompok lain dapat berperan sebagai ego state yang
bermasalah dengan konseli. Dalam kegiatan ini konseli berlatih dengan anggota
kelompok yang bertingkah laku sesuai dengan apa yang akan diuji coba di dunia nyata.
Variasi lain dapat dilakukan dengan melebihkan karakteristik ego state tertentu untuk
melihat reaksi tingkah laku saat ini terhadap ego state tertentu .

c. Penokohan Keluarga ( Family Modeling)


Family Modeling adalah pendekatan untuk melakukan structural analysis, yang pada
umumnya berguna untuk menghadapi constant parents, constant adult, constant child.
Konseli diminta untuk membayangkan episode yang berisi orang-orang yang penting
baginya di masa lalu. Konseli bertindak sebagai sutradara, produser, dan actor. Konseli
mendefenisikan situasi dan menggunakan anggota kelompok sebagai pengganti anggota
keluarganya. Konseli menempatkan mereka sehingga mengingat situasinya. Berdasarkan
hasil drama ini konseli dan konselor mendiskusikan, bertindak, dan mengevaluasi
sehingga dapat meningkatkan kesadaran tentang situasi yang spesifik dan makna
personal yang masih dipegang teguh oleh konseli.

d. Analysis Ritual dan Waktu Luang (Analysis of Rituals and Pastime)


Analisis transaksional termasuk di dalamnya adalah identifikasi ritual dan mengisi
waktu luang (pastimes) yang digunakan dalam structuring of time. Structuring of time
adalah materi penting untuk diskusi dan penilaian karena merefleksikan keputusan
tentang naskah hidup tentang bagaimana bertransaksi dengan orang laindan bagaimana

77
mendapatkan stroke. Individu yang memenuhi sebagian besar waktunya dengan ritual
dan pastimes kemungkinan mengalami kekurangan stroke dan kurang instimasi dalam
bertransaksi dengan orang lain.

K. Syarat Menjadi Konselor


Menurut Bimo Wagito, syarat-syarat seseorang menjadi pembimbing adalah sebagai
berikut:
1. Seorang pembimbing harus mempunyai pengetahuan yang cukup luas baik segi teori
maupun praktik. Teori merupakan hal yang sangat penting karena segi inilah yang
menjadi landasan di dalam praktik. Praktik tanpa teori tidak dapat mencapai tujuan
dan sasaran secara tepat. Demikian pula sebaliknya, praktik juga diperlukan dan
menjadi hal penting, karena bimbingan dan penyuluhan merupakan "applied
science", ilmu yang harus diterapkan dalam praktik sehari-hari sehingga seseorang
pembimbing sangat canggungung apabila memiliki teori tanpa memiliki kecakapan
di dalam praktik.
2. Di dalam segi psikologis, seorang pembimbing akan dapat mengambil tindakan yang
bijaksana, jika pembimbing telah cukup dewasa dalam dalam segi psikologisnya,
yaitu adanya kemantapan atau kestabilan di dalam psikologisnya, terutama dalam
segi emosi.
3. Seorang pembimbing harus jasmani maupun psikisnya. Apabila jasmani dan psikis
tidak sehat, hal ini akan mengganggu tuganya.
4. Seorang pembimbing harus mempunyai sikap kecintaan terhadap pekerjaannya dan
juga terhadap klien atau individu yang dihadapinya. Sikap ini akan membawa
kepercayaan terhadap kliennya.
5. Mempunyai inisiatif yang cukup baik, sehingga dapat diharapkan adanya kemajuan
di dalam usaha bimbingan dan penyuluhan ke arah yang lebih baik.
6. Harus bersikap ramah dan sopan santun agar klien merasa nyaman.
7. Harus mempunyai sifat-sifat yang dapat menjalankan prinsip-prinsip serta kode etik
bimbingan dan penyuluhan yang sebaik-baiknya.

L. Kelebihan dan Kekurangan

78
1. Kelebihan pendekatan konseling analisis transaksional :
a. Punya pandangan optimis dan realistis tentang manusia, AT memandang
manusia dapat berubah bila dia mau. Manusia punya kehendak dan kemauan,
kemauan inilah yang membuat manusia bisa berubah, sehingga manusia yang
buruk sekalipun dapat berubah menjadi lebih baik jika ia mau merubahnya.
b. Penekanan waktu sekarang dan disini. Tujuan pokok terapi AT adalah
mengatasi masalah klien agar dia punya kemampuan dan memiliki rasa bebas
untuk menentukan pilihannya. Hal ini dimulai dengan menganalisis interaksinya
dengan konselor atau orang lain. dan itu adalah persoalan interaksi sekarang.
Kini dan disini.
c. Mudah diobservasi. Pada umumnya teori yang muncul dari laboratorium itu
sulit diamati karena itu terlihat abstrak, akan tetapi ajaran Berne tentang status
ego (O, D, dan A) adalah konsep yang dapat diamati secara nyata dalam setiap
interaksi atau komunikasi manusia.
d. Meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Fokus AT adalah berpusat pada
bagaimana cara klien berinteraksi, maka treatment juga mengacu pada interaksi,
cara berbicara, kata-kata yang dipergunakannya dalam berkomunikasi. Oleh
karena itu, AT tidak hanya berusaha memperbaiki sikap, persepsi, atau
pemahamannya tentang dirinya tetapi sekaligus mempunyai sumbangan positif
terhadap keterampilan berkomunikasi dengan orang lain.

2. Kekurangan pendekatan konseling analisis transaksional :


a. Kurang efisien terhadap kontrak treatment. Banyak klien yang memiliki
anggapan yang jelek terhadap dirinya atau tidak realistis sehingga memerlukan
beberapa kali pertemuan dan hal ini dianggap tidak efisien dalam
pelaksanaannya.
b. Subyektif dalam menafisirkan status ego. Dalam hal ini berkaitan dengan
ungkapan klien apakah termasuk kedalam status ego orang tua, dewasa, arau
anak-anak merupakan penilaian yang subjektif. Mungkin terlihat tidak ada
perbedaan akan tetapi bila prnyataan itu mendekati dua macam status ego akan
sulit ditafsirkan dan mungkin akan berbeda antara orang yang satu dengan yang
lainnya. Perbedaan ini yang menyebabkan sulitnya mengukur egogram klien.

79
80
BAB 9
TEORI TRAIT AND FACTOR

A. Pendahuluan
Teori trait and factor dikembangkan oleh Frank Persons berawal pada akhir abad ke-19.
Frank Person mulai mencari suatu cara untuk membantu anak-anak remaja yang memiliki
permasalahan dalam memilih suatu bidang pekerjaan yang sesuai dengan potensi, bakat,
minat yang dimiliki mereka. Sehingga awal abad ke-20 konseling karir yang bersumber pada
gerakan bimbingan jabatan, berdasarkan ini Frank Persons disebut Bapaknya Konseling Karir
pada masanya.

B. Pengertian Konseling Trait And Factor

Teori Trait and Factor adalah pandangan yang mengatakan bahwa kepribadian seseorang


dapat dilukiskan dengan mengidentifikasikan jumlah ciri, sejauh tampak dari hasil
testing  psikologis yang mengukur masing-masing dimensi kepribadian
tertentu.Konseling Trait and Factor berpegang pada pandangan yang sama dan menggunakan
tes-tes psikologis untuk menanalisis atau mendiagnosis seseorang mengenai ciri-ciri
dimensi/aspek kepribadian tertentu, yang diketahui mempunyai relevansi terhadap
keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam jabatan dan mengikuti suatu program studi.
Istilah konseling Trait and Factor dapat dideskripsikan sebagai corak konseling yang
menekankan pemahaman diri melalui testing psikologis dan penerapan pemahaman itu dalam
memecahkan beraneka problem/masalah yang dihadapi, terutama yang menyangkut pilihan
program studi/bidang pekerjaan44

C. Konsep Dasar Konseling Trait And Factor


Dalam segi teoritis dan dalam segi pendekatannya, corak konseling ini bersumber pada
gerakan bimbingan jabatan. Teori Trait and Factor senantiasa dihubungkan dengan
Universitas Minnesota yang termasuk di dalamnya Walter Bingham, John Darley, Patterson,
dan W.G Williamson. Dalam bekerjanya, tokoh-tokoh pendekatan ini banyak menggunakan
alat pengukur terhadap atribut klien seperti bakat, kemampuan, minat, tingkah laku dan

44
Winkel (2010:407)
81
kepribadiannya. Dari hasil pengukuran tersebut konseli dapat diarahkan pendidikan dan
jabatan apa yang cocok bagi klien, sehingga dapat membahagiakan hidupnya.45
Melalui pengolahan hasil tes atau angket dan alat pengukur lainnya dapat diramalkan
pula apa yang akan diperbuat oleh klien dalam situasi tertentu. Dalam bukunya Choosing a
Vocation (1909), Frank Person menunjukkan tiga langkah yang harus diikuti dalam memilih
suatu pekerjaan yang sesuai:46
1. Sebuah pemahaman yang jelas dan objektif tentang diri seseorang seperti
kemampuannya, minatnya, sikapnya, dan lain-lain.
2. Sebuah pengetahuan tetang persyaratan dan karakteristik karir-karir yang spesifik.
3. Sebuah pengakuan dan pengaplikasian hubungan antara poin 1 dan 2 di atas bagi
sebuah perencanaan karir yang sukses.
Ada tiga langkah besar untuk pengembangan pengambilan keputusan karir individu: jadi
langkah yang pertama menggunakan analisis diri; langkah yang kedua memanfaatkan
informasi jabatan (vocational information); langkah yang ketiga menerapkan kemampuan
untuk  berpikir rasional guna menemukan kecocokan antara ciri-ciri kepribadian, yang
mempunyai relevansi terhadap kesuksessan atau kegagalan dalam suatu pekerjaan atau
jabatan, dengan tuntutan kualifikasi dan kesempatan yang terkandung dalam suatu pekerjaan
atau jabatan. Dengan demikian, dalam keputusan karir klien bukan hanya mencari pekerjaan
demi asal punya pekerjaan (the hunt of a job), melainkan memilih secara sadar suatu
pekerjaan (the choice of a vacation).

D. Strukur Kepribadian Teori Trait And Factor


Traith atau sifat adalah suatu struktur mental, suatu kesimpulan yang diambil dari
tingkah laku yang dapat diamati, untuk menunjukkan ketetapan dalam tingkah laku.
Penjelasan mengenai trait adalah sebagai berikut :
1. Common Trait dan Unique Trait
a) Common trait, yaitu sifat umum atau sifat yang dimiliki oleh semua individu
atau setidaknya oleh sekelompok individu yang hidup dalam lingkungan sosial
yang sama
b) Unique trait, atau sifat khusus yaitu sifat yang hanya dimiliki oleh individu-
individu masing-masing, dan tidak dapat ditemukan pada individu lain dalam

45
Winkel (2010:407)
46
(Gibson & Mitchell, 2011:454)
82
bentuknya yang demikian. Selanjutnya sifat khusus ini dapat dibedakan lagi
menjadi :
 relatively unique,  yaitu yang kekhususannya timbul dari
pengaturannya   unsur-unsur sifat itu sendiri.
 intrinsically unique, yaitu yang benar-benar hanya ada pada individu khusus
tertentu.
 Surface Trait, yaitu sifat tampak adalah kelompok dari variabel-variabel
yang tampak. dan Source Trait atau sifat asal adalah variabel-variabel yang
mendasari berbagai manifestasi yang tampak.

Pandangan tentang  kepribadian dalam teori Trait and Factor adalah sebagai berikut:


a) Kepribadian adalah suatu sistem yang saling tergantung dengan sifat dan faktor,
seperti kecakapan, minat, sikap, dan temperamen.
b) Perkembangan kepribadian manusia ditentutan oleh faktor pembawaan dan
lingkungan.
c) Setiap individu ada sifat-sifat yang umum dan ada sifat-sifat yang khusus, yang
merupakan sifat yang unik.
d) Unsur dasar dari struktur kepribadian disebut sifat dan merupakan kecenderungan
luas untuk memberi reaksi dan membentuk tingkah laku yang relatif tetap.
e) Sifat (trait) adalah struktur mental yang dapat diamati untuk menunjukkan keajegan
dan ketepatan dalam tingkah laku.
Dengan demikian, manusia merupakan sistem sifat atau faktor yang saling berkaitan
antara satu dengan yang lainnya, seperti: kecakapan, minat, sikap, dan temperamen. Konsep
dasar dari konseling Trait and Factor adalah sifat dan faktor kepribadian seseorang.Oleh
karenanya, sifat dan faktor kepribadian yang tampak dari individu (klien) sangatlah dominan
dalam pelaksanaan konseling Trait and Factor.

E. Tujuan Konseling Trait And Factor

Tujuan konseling Trait and Factor adalah sebagai berikut:47


1. Membantu individu mencapai perkembangan kesempurnaan berbagai aspek
kehidupan manusia.

47
Slamet Riyadi (2010 :106)
83
2. Membantu individu dalam memperoleh kemajuan memahami dan mengelola diri
dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelamahan diri dalam kegiatan
dengan perubahan kemajuan tujuan-tujuan hidup dan karir.
3. Membantu individu untuk memperbaiki kekurangan, tidakmampuan, dan
keterbatasan diri serta membantu pertumbuhan dan integrasi kepribadian.
4. Mengubah sifat-sifat subyektif dan kesalahan dalam penilaian diri dengan
mengggunakan metode ilmiah.
5. Konseling juga bertujuan untuk mengajak klien berfikir mengenai dirinya dan
menemukan masalah dirinya serta mengembangkan cara-cara untuk keluar dari
masalah tersebut. Untuk itu secara umum konseling Trait and Factor dimaksudkan
untuk membantu klien mengalami:
a. Klarifikasi diri (self clarification)
b. Pemahaman diri (self understanding)
c. Pengarahan diri (self acceptance)
d. Pengarahan diri (self direction)
e. Aktualisasi diri (self actualization)
Dengan demikian, tujuan dari konseling Trait and Factor adalah membantu individu
merasa lebih baik dengan menerima pandangan dirinya sendiri dan membantu individu
berfikir lebih jernih dalam memcahkan masalah dan mengontrol perkembangannya secara
rasional, memperkuat keseimbangan antara pengaktifan dan pemahaman sifat-sifat sehingga
dapat bereaksi secara wajar dan stabil, mengubah sifat-sifat subjektif, dan kesalahan dalam
penilaian diri (konsep diri) dengan menggunakan metode atau cara ilmiah.

F. Pola Hubungan Antara Konselor Dan Klien


Peranan konselor dalam hubungan antara klien dan konselor adalah:48
1. Memberi tahu klien tentang berbagai kemampuannya yang diperoleh konselor dari
hasil testing, angket dan alat pengkukur yang lain. Berdasarkan hasil testing dan
lain-lain tersebut konselor mengetahui kelemahan dan kekuatan klien, sehingga
dapat meramalkan jurusan, pendidikan atau jabatan apa yang cocok bagi klien.
Konselor membantu klien menentukan tujuan yang akan dicapainya disesuaikan
dengan hasil testing. Dengan memberitakukan sifat serta bakat klien, maka klien
dapat mengelola hidupnya sendiri dapat hidup bahagia.

48
Sayekti (2002:51)
84
2. Konselor secara aktif mempengaruhi perkembangan klien.
3. Konselor membantu mencari sebab individu tidak memiliki sumber personal untuk
menentukan individualitasnya, karena ia tak dapat memahami dirinya secara penuh,
diagnosis ekternal yang dilakukan konselor melengkapi persepsinya. Berdasarkan
data yang ada, konselor merumuskan hipotesis untuk memahami individu.
4. Konselor aktif dalam situasi belajar, melakukan diagnosis, menyajikan informasi,
mengumpulkan dan menilai data, untuk membantu individu. Konselor berperan
sebagai guru, yang bertugas mengajar klien belajar tentang dirinya sendiri dan
lingkungannya.
5. Sesuai dengan penjabaran peran konselor di atas, dapat kesimpulan sebagai peranan
konselor disini adalah memberitahukan, memberikan informasi, mengarahkan,
karena itu pendekatan ini disebut pendekatan yang kognitif rasional.

G. Teknik-Teknik Konseling Trait And Factor


Dalam proses pelaksanaannya teori Trait and Factor, terdapat teknik-teknik yang dapat
digunakan oleh Konselor untuk melakukan proses konseling. Tenik-tenik tersebut adalah
sebagai berikut: Ada dua teknik konseling yang diaplikasikan dalam teori Trait and Factor :49
a) Teknik tes, untuk mengungkapkan kepribadian, bakat, minat, dan data yang lain
yang hanya dapat diungkap dengan tes.
b) Teknik non tes, meliputi wawancara, angket, observasi, otobiografi, dokumentasi,
dan yang lain.

Konseling Trait and Factor memiliki enam tahap dalam prosesnya, yaitu: analisis,


sistesis, diagnosis, prognosis, konseling (treatment) dan tindak lanjut ( follow-up ).50
1. Analisis
Analisis merupakan langkah mengumpulkan informasi yang diperoleh tentang diri
klien beserta latar belakangnya. Data yang dikumpulkan mencakup segala aspek
kepribadian yang dimiliki klien, seperti kemampuan, minat, motif, kesehatan fisik, dan
karakteristik lain yang dapat mempermudah atau mempersulit penyesuaian diri klien
pada umumnya.

2. Sintesis
49
Sayekti (1998:52)
50
Lutfi Fauzan  (2004:92)
85
Sintesis adalah usaha merangkum, mengolong-golongkan dan menghubungkan data
yang telah terkumpul pada tahap analisis, yang disusun sedemikian sehingga dapat
menunjukkan keseluruhan gambaran tentang diri klien.Dari hasil analisis dapat
menunjukkan bakat klien, kelemahan serta kekuatan, penyesuaian diri maupun
ketaksanggupan menyesuaikan diri.Rumusan diri klien dalam sistesis ini bersifat ringkas
dan padat. Ada tiga cara yang dapat dilakukan dalam merangkum data pada tahap sistesis
tersebut: cara pertama dibuat oleh konselor, kedua dilakukan klien, ketiga adalah cara
kolaborasi antara konselor dan klien.

3. Diagnosis
Diagnosis merupakan tahap menginterpretasikan data dalam bentuk (dari sudut)
problema yang ditunjukkan. Rumusan diagnosis dilakukan melalui proses pengambilan
atau penarikan simpulan yang logis.

4. Prognosis 
Prognosis atau perkiraan tentang perkembangan klien serta berbagai implikasi dari
hasil diagnosis. Menurut Williamson prognosis ini bersangkutan dengan upaya
memprediksikan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan data yang
ada sekarang. Misalnya: bila seorang klien (siswa di sekolah) berdasarkan data sekarang
dia malas, maka kemungkinan nilainya akan rendah, kemungkinan nanti tidak dapat
diterima dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru.51

5. Konseling (Treatment)
Dalam konseling, konselor membantu klien untuk menemukan sumber-sumber pada
dirinya sendiri, sumber-sumber lembaga dalam masyarakat guna membantu klien dalam
penyesuaian yang optimum sejauh dia bisa. Bantuan dalam konseling ini mencakup lima
jenis bantuan yaitu:
 Hubungan konseling yang mengacu pada belajar yang terbimbing kearah
pemahaman diri.
 Konseling jenis edukasi atau belajar kembali yang individu butuhkan sebagai
alat untuk mencapai penyesuaian hidup dan tujuan personalnya.

51
Winkel (2010:412)
86
 Konseling dalam bentuk bantuan yang dipersonalisasikan untuk klien dalam
memahami dan trampil untuk mngaplikasikan pinsip dan teknik-teknik dalam
kehidupan sehari-hari.
 Konseling yang mencakup bimbingan dan teknik yang mempunyai pengaruh
teraputik atau kuratif.
 Konseling bentuk redukasi bagi diperolehnya kataris secara terapiutik.

H. Aplikasi Teori Trait And Factor (Contoh Kasus)


Contoh kasus yang diambil sebagai aplikasi antara masalah yang dihadapi oleh klien
dengan penggunaan teori Trait and Factor : Seorang siswa kelas XII SMA belum dapat
menentukan pilihan programstudi di perguruan tinggi. Disepakati akan dikumpulkan data
tentang siswa yang relevan, yaitu taraf intelegensi, bakat khusus, dan minat melalui testing
psikologis (Analisis).
Data hasil testing yang masuk menyatakan bahwa siswa bertaraf intelegensi tinggi,
berbakat khusus dalam bidang studi matematika, cukup mampu dalam pengamatan ruang,
dan mempunyai minat yang mengarah kepada pekerjaan sosial.Maka tampak suatu minat dan
kemampuan tertentu (Sintesis).
Siswa dahulu pernah mengatakan bahwa diapernah memikirkan program studi teknik
sipil, arsitektur, dan keguruan di bidang matematika.Sebenarnya ada kecocokan antara
milik/bekal kemampuan kognitif dengan kualitas yang dituntut dalam ketiga bidang studi itu,
tetapi hanya terdapat kecocokan dalam ranah minat dengan bidang keguruan. Dengan
demikian inti dari kasusnya adalah menentukan/memilih suatu bidang studi yang menuntut
pola kualifikasi yang sesuai, baik dengan kemampuan di bidang kognitif maupun dengan arah
minat (Diagnosis).
Implikasi dan hasil diagnosis itu adalah supaya siswa meninjau kecocokan antara pola
kualifikasi yang dituntut dalam ketiga bidang studi tersebut, dengan pola kemampuan dan
minat yang telah diidentifikasikan pada dirinya sendiri (Prognosis).Peninjauan itu
dilaksanakan dalam wawancara dengan konselor, sampai akhirnya siswa memilih program
studi matematika di FIP, S1 (konseling). Siswa menghadap kembali kalau ternyata timbul
kesulitan dalam pelaksanaan keputusannya (Follow-Up).

87
I. Kelemahan dan Kelebihan Teori Traith and Factor
1. Kelemahan
 Konseling terpusat pada pribadi dan dianggap sederhana.
 Terlalu menekankan aspek afektif emosional, perasaan sebagai penentu perilaku
tetapi melupakan faktor inteektual, kognitif dan rasional.
 Penggunaan informasi untuk membantu klien tidak sesuai dengan teori.
 Sulit bagi konselor untuk bersikap netral dalam situasi hubungan interpersonal.

2. Kelebihan
 Pemusatan ada pada klien bukan pada konselor.
 Identifikasi dan hubungan konseli sebagai wahana utama dalam mengubah
kepribadian.
 Lebih menekankan pada sikap konselor daripada tekhnik.
 Penekanan emosi, perasaan dan afektif dalam konseling

88
BAB 10
TEORI KONSELING REALITAS

A. Pendahuluan
Pendekatan Realitas adalah suatu sistem yang difokuskan kepada tingkah laku sekarang.
Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengkonfrontasikan klien dengan cara-cara
yang bisa membantu menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa
merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Inti terapi realitas adalah penerimaan tanggung
jawab pribadi, yang dipersamakan dengan kesehatan mental. Terapi realitas yang
menguraikan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur yang dirancang untuk membantu orang-
orang dalam mencapai suatu “identitas keberhasilan” dapat diterapkan pada psikoterapi,
konseling, pengajaran, kerja kelompok, konseling perkawinan, pengelolaan lembaga dan
perkembangan masyarakat. Terapi realitas meraih popularitas di kalangan konselor sekolah,
para guru dan pimpinan sekolah dasar dan menengah, dan para pekerja rehabilitasi.
Sedangkan menurut Paul D. Meier, dkk., terapi realitas yang diperkenalkan oleh William
Glasser memusatkan perhatiannya terhadap kelakuan yang bertanggung jawab, dengan
memperhatikan tiga hal (3-R): realitas (reality), melakukan hal yang baik (do right), dan
tanggungjawab (responsiblility).

1. Right : adalah kebenaran dari tingkah laku seseorang dengan standar norma yang
berlaku baik itu norma agama, hukum, dan lain-lain.
2. Reality : adalah kenyataan, yaitu individu bertingkah laku sesuai dengan kenyataan
yang ada.
3. Responbility : adalah bertanggung jawab, yaitu tingkah laku dalam memenuhi
kebutuhan dengan menggunakan cara yang tidak merugikan orang lain.
 
Konseling realita (reality counseling atau reality therapy) dikembangkan oleh William
Glasser pada tahun 1960-an sebagai reaksi penolakan terhadap konsep-konsep dalam
konseling psikoanalisa. Glasser memandang Psikoanalisa sebagai suatu model perlakuan
yang kurang memuaskan, kurang efektif, dan oleh karena itu ia termotivasi untuk
memodifikasi konsep-konsep psikoanalisa dan mengembangkan pemikirannya sendiri
berdasarkan pengalaman hidup dan pengalaman klinisnya.52

52
Gerald Corey,1988. Theori and Practice of counseling and Psychoterapy, (Eresco,Bandung,) hlm263

89
Glasser lahir pada tahun 1925 di Ohio, USA. Pada awal karirnya Glasser adalah seorang
insyinyur kimia yang kemudian beralih ke bidang medis dan meraih gelar dokter pada tahun
1953 dari Case Westem Reserve University. Setelah itu Glasser berlatih dibidang psikiarti di
Veterans Administrasion Center dan  di University of California. Konseling realita
dikembangkan oleh Glasser atas dasar pengalamanya selama praktek klinisnya antara 1956-
1967. Pengalaman kehidupannya pada masa kanak-kanak yang keras dan cenderung tidak
menyenagkan juga mempengaruhi pandangan teoritiknya,khususnya tentang penekanan pada
pentingnya tanggung jawab pribadi, tidak merugikan orang lain, dan hubungan perkawinan.
Seperti dikemukakan oleh Glasser sendiri (1998), ayah dan ibunya menerapkan pendidikan
yang keras dan otoriter terhadap dirinya dan oleh karenanya ia tidak rukun dengan mereka.
Buku pertama yang yang ditulis oleh Glasser, Mental Healt or Mental
Illnes? Menjadi grandwork bagi perkembangan teori konseling realita. Buku
keduanya, Really Therapy (1965) menegaskan prinsip-prinsip dasar dalam Konseling realita,
yakni tentang pentingnya hubungan dan tanggung jawab guna mencapai tujuan dan
kebahagiaan hidup. Ia memiliki keyakinan bahwa konselor yang hangat dan penuh
penerimaan  merupakan aspek esensial bagi keberhasilan perlakuan, dan hubungan yang
akrab dan positif adalah esensial bagi perkembangan pribadi yang sehat.  Tulisan-tulisan
dalam materi kuliahnya tidak hanya menekankan pada konseling realita sebagai metode
perlakuan, tetapi menerapkan pada lingkungan sekolah dan lingkungan bisnis. Robert E.
Wubbolding adalah salah satu pengikut Glesser yang memberikan kontribusi sangat penting
bagi perkembangnan konseling realita.
 
B. Konsep Dasar53
Teori pilihan berpendapat bahwa kita tidak dilahirkan sebagai papan tulis kosong yang
menunggu untuk dimotivasi dari luar kekuatan dunia sekitar kita. Sebaliknya, kita dilahirkan
dengan lima genetika yang dikodekan  kebutuhan kelangsungan hidup, cinta dan rasa
memiliki, kekuatan atau prestasi, kebebasan atau kemerdekaan, dan kesenangan  hal itu yang
mengendalikan semua kehidupan kita. Setiap dari kita memiliki  lima kebutuhan, tapi mereka
bervariasi dalam kekuatan. Sebagai contoh, kita semua memiliki kebutuhan untuk cinta dan
rasa memiliki, tapi sebagian dari kita membutuhkan lebih banyak cinta daripada yang lain.
Teori pilihan didasarkan pada premis bahwa karena kita merupakan makhluk sosial
memerlukan keduanya menerima dan memberikan cinta. Glasser  percaya bahwa kebutuhan

53
Ibid., hllm 264

90
love and belong merupakan kebutuhan primer karena kita  membutuhkan orang  untuk 
memenuhi kebutuhan lainnya. Hal ini kebutuhan sulit  karena untuk memuaskan  kita harus
memiliki seseorang yang kooperatif untuk membantu kita memenuhi kebutuhan itu.
Manusia digerakkan oleh kebutuhan-kebutuhan dasar yang asalnya bersifat genetik.
Semua prilaku manusia mempresentasikan upaya untuk mengontrol dunia agar memenuhi
kebutuhan-kebutuhan itu dengan sebaik-baiknya. Orang tidak pernah terbebas dari
kebutuhan-kebutuhannya dan, begitu terpenuhi, muncul kebutuhan lain. Kehidupan manusia
adalah perjuangan konstan untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan ini dan mengatasi
konflik yang selalu muncul di antara mereka. Secara rinci Glasser menjelaskan kebutuhan-
kebutuhan dasar  manusia, yaitu:

1. Kelangsungan hidup (Survival)


Kehidupan fisik ini bertempat di otak tua yang berlokasi di sebuah kelompok kecil
struktur yang terklaster di puncak tulang belakang. Gen orang mengistruksikan otak
tuanya untuk melaksanakan semua kegiatan yang menjaga kelangsungan hidup yang
mendukung kesehatan dan reproduksi.(kebutuhan memperoleh kesehatan, makanan,
udara, perlindungan, rasa aman, dan kenyamanan fisik).

2. Cinta dan rasa memiliki (Love and belonging)


Salah satu kebutuhan psikologis manusia adalah kebutuhannya untuk merasa
memiliki dan terlibat atau melibatkan diri dengan orang lain. Beberapa aktivitas yang
menunjukkan kebutuhan ini antara lain: persahabatan, acara perkumpulan tertentu, dan
keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan.

3. Kekuatan atau prestasi (Power or achievemen )


Kebutuhan akan kekuasaan meliputi kebutuhan untuk berprestasi, merasa berharga,
dan mendapatkan pengakuan. Kebutuhan ini biasanya diekspresikan melalui kompetisi
dengan orang-orang di sekitar kita, memimpin, mengorganisir, meyelesaikan pekerjaan
sebaik mungkin, menjadi tempat bertanya atau meminta pendapat bagi orang lain,
melontarkan ide atau gagasan dan sebagainya.

4. Kebebasan atau kemerdekaan (Freedom or independence)


Kebebasan merupakan kebutuhan untuk merasakan kebebasan atau kemerdekaan
dan tidak tergantung pada orang lain, misalnya membuat pilihan (aktif pada organisasi

91
kemahasiswaan), memutuskan akan melanjutkan studi pada jurusan apa, bergerak, dan
berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

5. Kesenangan (Fun)
Merupakan kebutuhan untuk merasa senang, dan bahagia. Pada anak-anak, terlihat
dalam aktivitas bermain. Kebutuhan ini muncul sejak dini, kemudian terus berkembang
hingga dewasa. Misalnya, berlibur untuk menghilangkan kepenatan, bersantai, melucu,
humor, dan sebagainya.
 
C. Asumsi Perilaku Bermasalah
Reality therapy pada dasarnya tidak mengatakan bahwa perilaku individu itu sebagai
perilaku yang abnormal. Konsep perilaku menurut konseling realitas lebih dihubungkan
dengan berperilaku yang tepat atau berperilaku yang tidak tepat. Menurut Glasser, bentuk
dari perilaku yang tidak tepat tersebut disebabkan karena ketidak mampuannya dalam
memuaskan kebutuhannya, akibatnya kehilangan ”sentuhan” dengan realitas objektif, dia
tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya, tidak dapat melihat sesuatu sesuai
dengan realitasnya, tidak dapat melakukan atas dasar kebenaran, tangguang jawab dan
realitas.
Meskipun konseling realitas tidak menghubungkan perilaku manusia dengan gejala
abnormalitas, perilaku bermasalah dapat disepadankan dengan istilah ”identitas kegagalan”.
Identitas kegagalan ditandai dengan keterasingan, penolakan diri dan irrasionalitas,
perilakunya kaku, tidak objektif, lemah, tidak bertanggung jawab, kurang percaya diri dan
menolak kenyataan.
Menurut Glasser (1965, hlm.9), basis dari terapi realitas adalah membantu para klien
dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar psikologisnya, yang mencangkup “kebutuhan
untuk mencintai dan dicintai serta kebutuhan untuk merasakan bahwa kita berguna baik bagi
diri kita sendiri maupun bagi oaring lain”. Pandangan tentang sifat manusia mencakup
pernyataan bahwa suatu “kekuatan pertumbuhan” mendorong kita untuk berusaha mencapai
suatu identitas keberhasilan. Penderitaan pribadi bisa diubah hanya dengan perubahan
identitas. Pandangan terapi realitas menyatakan bahwa, karena individu-individu bisa
mengubaha cara hidup, perasaan, dan tingkah lakunya, maka merekapun bisa mengubah
identitasnya. Perubahan identitas tergantung pada perubahan tingkah laku.
Maka jelaslah bahwa terapi realitas tidak berpijak pada filsafat deterministik tentang
manusia, tetapi dibangun diatas asumsi bahwa manusia adalah agen yang menentukan dirinya

92
sendiri. Prinsip ini menyiratkan bahwa masing-masing orang memiliki tanggung jawab untuk
menerima konsekuensi-konsekuensi dari tingkah lakunya sendiri. Tampaknya, orang menjadi
apa yang ditetapkannya.
D. Tujuan Konseling54
Tujuan utama pendekatan konseling ini untuk membantu menghubungkan (connect) atau
menghubungkan ulang (reconnected) klien dengan orang lain yang mereka pilih untuk
mendasari kualitas hidupnya. Di samping itu, konseling realitas juga bertujuan untuk
membantu klien belajar memenuhi kebutuhannya dengan cara yang lebih baik, yang meliputi
kebutuhan mencintai dan dicintai, kekuasaan atau berprestasi, kebebasan atau independensi,
serta kebutuhan untuk senang. Sehingga mereka mampu mengembangkan identitas berhasil.
Tujuan konseling realitas adalah sebagai berikut :

1. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri, supaya dapat menentukan dan
melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata.
2. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang
ada, sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan
pertumbuhannya.
3. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
4. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses,
yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk
mengubahnya sendiri.
5. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri.
 
E. Peran Konselor
Tugas dasar konselor adalah melibatkan diri dengan konseli dan kemudian membuatnya
untuk menghadapi kenyataan. Yang antara lain sebagai berikut :

1. Konselor terlibat dengan klien dan membawa klien menghadapi realita. Tugas utama
konselor adalah menjadi terlibat dengan konselinya dan kemudian menghadapi
konseli dengan mengusahakan agar konseli mengambil keputusan.
2. Konselor sebagai pembimbing. Konselor bertugas melayani sebagai pembimbing
untuk membantu konseli menaksir tingkahlaku mereka secara realistis.

54
Ibid., hllm 269

93
3. Memberi hadiah. Konselor diharapkan memberi hadiah bila konseli berbuat dalam
cara yang bertanggungjawab dan tidak menerima setiap penghindaran atas
kenyataan atau tidak mengarahkan konseli menyalahkan setiap hal atau setiap orang.
4. Mengajar konseli Beberapa kualitas pribadi yang harus dimiliki konselor adalah
kemampuan untuk mengajar konseli, untuk mencapai kebutuhan mereka secara
terbuka, tidak untuk menerima ampunan, menunjukkan dukungan yang terus menerus
dalam membantu konseli, untuk memahami dan mengempati konseli, dan untuk
terlibat dengan tulus hati.
5. Motivator, yang mendorong konseli untuk: a) menerima dan memperoleh keadaan
nyata, baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya. b) merangsang
klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri, sehingga klien tidak menjadi
individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkan dirinya
sendiri.
6. Penyalur tanggung jawab, sehingga : a) keputusan terakhir berada di tangan konseli.
b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai
perilakunya sendiri.
7. Moralis Konselor memegang peranan untuk menentukan kedudukan nilai dari tingkah
laku yang dinyatakan kliennya. Konselor akan memberi pujian apabila konseli
bertanggung jawab atas perilakunya, sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat
bertanggung jawab terhadap perilakunya.
8. Pengikat janji (contractor) Artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan,
baik berupa limit waktu, ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun
akibat yang ditimbulkannya.
 
F. Deskripsi Proses Konseling
Konseling realita menekankan pentingnya hubungan antara konselor dan konseli dan
macam hubungan ini dipandang esensial dalam proses perlakuan. Dengan demikian
kemampuan konselor untuk terlibat dengan konseli merupakan ketrampilan esensial dalam
konseling realita. Glasser Wubbolding mengemukakan beberapa cara untuk mencapai
keterlibatan sebagai berikut:
 Bertindak sebagai guru dan mendegarkan konseli dengan penuh perhatian, hangat,
bersahabat, merawat, respek, optimis, jujur, dan tulus.
 Bersedia untuk membuka diri pada konseli.

94
 Menggunakan kata ganti saya dan kita untuk menekankan sifat kolaboratrif.
 Tidak menggunakan tekanan, penilaian dan pemaksaan pada konseli, tetapi
memotivasi konseli melalui dorongan dan penguatan.
 Memusatkan perhatian pada perilaku sekarang.
 Menggunakan pertanyaan “apa” dan bukan “mengapa”
 Tidak menerima permintaan maaf.
 Jika perlu mengunakan konsultasi, pendidikan, dan tindak lanjut guna memfasilitasi
perlakuan.
 Tegas dalam membantu konseli dan tak pernah menyerah.

Langkah-langkah yang ditempuh :

 Menciptakan hubungan kerja dengan klien


 Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan
melakukan transferensi.
 Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya
 Pengembangan resistensi untuk pemahaman diri
 Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor.
 Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi.
 
G. Teknik Konseling55
Konseling Realita menggunakan banyak teknik untuk mencapai tujuan-tujuan konseling,
khususnya teknik-teknik dari perspektif konseling perilaku seperti yang telah dikemukakan.
Teori konseling realita memiliki beberapa teknik tersendiri yaitu:

1. Memperkuat tingkah laku


Shaping adalah metode mengajarkan tingkahlaku dengan terus-menerus melakukan
aproksimasi dan membuat rantai hubungan. Behavioral contract, syarat mutlak untuk
memantapkan kontrak behavioral  adalah batasan yang cermat mengenai masalah
konseli, situasi dimana hal itu diekspresikan dan kesediaan konseli untuk mencoba
prosedur itu. Assertive training, dapat diterapkan pada situasi-situasi interpersonal

55
Ibid., hllm 277

95
dimana  individu yang mempunyai kesulitan perasaan sesuai atau tepat untuk
menyatakannya.

2. Modeling
Modeling digunakan untuk tujuan: mempelajari tingkahlaku baru, memperlemah
atau memperkuat tingkahlaku yang siap dipelajari, dan memperlancar respon.
a. Proses mediasi, proses mediasi melibatkan atensi, retensi, reproduksi motorik dan
insentif.
b. Live model dan symbolic model, Live model artinya model hidup, dansymbolic
model artinya tingkah laku model ditunjukkan melalui film, video dan media rekaman
lain.
c. Behavior rehearsal, dilakukan dalam suasana yang mirip dengan lingkungan nyata
konseli.
d. Cognitive restructuring. Proses menemukan dan menilai kognisi seseorang,
memahami dampak negative pemikiran tertentu terhadap tingkah laku dan belajar
mengganti kognisi tersebut dengan pemikiran yang lebih realistic dan cocok.
e. Covert reinforcement, yaitu memakai imaji untuk menghadiahi diri sendiri.

3. Metapor
Konselor menggunakan taknik ini seperti senyuman, imej, analogi, dan anekdot
untuk memberi konseli suatu pesan penting dalam ccara yang efekitif. Konselor juga
mendengarkan dan menggunakan metapor yang ditampilkan diri konseli

4. Hubungan
Menggunakan hubungan sebagai bagian yang asensial dalam proses terapoutik.
Hubungan ini harus memperlihatkan upaya menuju perubahan, menyenagkan, positif,
tidak menilai, dan mendorong kesadaran konseli.

5. Pertanyaan
Konselor menekankan evaluasi dalam perilaku total, asesmen harus berasal dari
konseli sendiri. Konselor tidak mengatakan apa yang harus dilakukan koseli, tetapi
menggunakan pertanyaan yang terstruktur dengan baik untuk membantu konseli menilai
hidupnya dan kemudian merumuskan perilaku-perilaku yang perlu dan tidak perlu di
ubah
.

96
6. Intervebsi paradoks
Terinspirasi oleh Frankl (pendiri konselng Gestalt), Glasser menggunakan paradoks
untuk mendorong konseli menerima tanggung jawab bagi perilakunya sendiri. Intetrvensi
paradoksikal ini memiliki dua bentuk rerabel atau reframe dan paradoxical pressciption.

7. Pengembangan ketrampilan
Konselor perlu membantu konseli mengembangkan ketrampilan untuk memnuhi
kebutuhan dan keinginan-keinginannya dalam cara yang bertanggung jawab. Koselor
dapat mengajar konseli tentang berbagai ketrampilan seperti perilaku asertif, berfikir
rasional, dan membuat rencana.

8. Adiksi positif
Menurut Glasser, merupakan teknik yang digunakan untuk menurunkan barbagai
bentuk perilaku negatif dengancara memberikan kesiapan atau kekuatan mental,
kreatifitas, energi dan keyakinan. Contoh : mendorong olahraga yang teratur, menulis
jurnal, bermain musik, yoga, dan meditasi.

9. Penggunakan kata kerja


Dimaksudkan untuk membantu jonseli agar mampu mengendalikan hidup mereka
sendiri dan membuat pilihan perilaku total yang positif. Daripada mendeskripsikan koseli
dengan kata-kata: marah, depresi, fobia, atau cemas konselor perlu menggunakan kata
memarahi, mendepresikan, memfobiakan, atau mencemaskan. Ini mengimplikasikan
bahwa emosi-emosi tersebut bukan merupakan keadaan yang mati tetapi bentuk tindakan
yang dapat diubah.

10. Konsekuensi natural


Konselor harus memiliki keyakinan bvahwa konseli dapat bertanggung jawab dan
karena itu dapat menerima konsekuensi dari perilakunya. Koselor tidak perlu menerima
permintaan maaf ketika konseli membuat kesalahan, tetapi juga tidak memberikan
sangsi. Alih-alih koselor lebih memusatkan pada perilaku salah atau perilaku lain yang
bisa membuat perbedaan sehingga konseli tidak perlu mengalami kosekuensi negatif dari
perilakunya yang tidak bertanggung jawab.
              

97
H. Kelebihan dan Keterbatasan

1. Kelebihan
Karakteristik pendekatan konseling realitas secara khusus menekankan pada
akuntabilitas. Aspek lain dari pendekatan konseling realitas yang disokong Corey (1985)
termasuk ide-idenya yang tidak menerima alasan dari gagalnya pelaksanaan kontrak dan
menghindari hukuman atau menyalahkan. Kelebihan dari teori ini diantaranya yaitu:

1. Terapi realitas ini fleksibel dapat diterapkan dalam konseling individu dan kelompok.
2. Terapi realitas tepat diterapkan dalam perawatan penyimpangan perilaku,
penyalahgunaan obat, dan penyimpangan kepribadian.
3. Terapi realitas meningkatkan tanggung jawab dan kebebasan dalam diri individu,
tanpa menyalahkan atau mengkritik seluruh kepribadiannya.

2. Kelemahan
Di anggap terlalu sederhana dan dangkal. Di akui bahwa kritik pendekatan konseling
realitas pada daerah ini. Glasser juga menyetujui bahwa delapan tahap dari pendekatan
konseling realitas adalah sederhana dan jelas lebih menekankan pada praktek dan tidak
pada materi yang sederhana. Kelemahan yang lain tentang teori ini diantaranya:

1. Terapi realitas terlalu menekankan pada tingkah laku masa kini sehingga terkadang
mengabaikan konsep lain, seperti alam bawah sadar dan riwayat pribadi.
2. Terapi realitas bergantung pada terciptanya suatu hubungan yang baik antara konselor
dan konseli.
3. Terapi realitas bergantung pada interaksi verbal dan komunikasi dua arah. Pendekatan
ini mempunyai keterbatasan dalam membantu konseli yang dengan alasan apapun,
tidak dapat mgekspresikan kebutuhan, pilihan, dan rencana mereka dengan cukup
baik.
 
I. Contoh Penerapan
Amir siswa kelas 7 SMP, dia sangat tidak disiplin sehingga dia mengalami hambatan
dalam menjalankan kewajibannya sebagai siswa disekolah. Hal ini tentu akan  berakibat pada
proses belajar mengajar dan prestasi belajar Amir disekolah. Bimbingan bagi Amir ini sangat
diperlukan untuk membantu menyelesaikan permasalahan dan agar membuat Amir dapat
mengikuti proses belajar mengajar secara baik.
98
Dalam hal ini, Amir diberikan bantuan dengan konseling realita dengan menggunakan
prosedur WDEP. Amir diingatkan kembali pada keinginan-keinginannya, tujuannya,
kemudian memberikan arahan-arahan merumuskan rencana baru dan konselor memberikan
pengawasan terhadap perillakunya.
BAB 11
PENUTUP

Konseling adalah suatu proses dimana orang yang bermasalah (klien) dibantu secara
pribadi untuk merasa dan berperilaku yang lebih memuaskan melalui interaksi dengan
seseorang yang tidak terlibat (konselor) yang mediakan informasi dan reaksi-reaksi yang
merangsang klien untuk mrngembangkan perilaku-perilaku yang memungkinkan
berhubungan secara lebih efektif dengan dirinya dan lingkungannya
Psikoterapi adalah perasaan dengan menggunakan alat-alat psikologi terhadap
permasalahan yang berasal dari kehidupan emosional dimana seorang ahli secara sengaja
menciptakan hubungan profesional dengan pasien yang bertujuan untuk menghilangkan,
mengubah ataua menurunkan gejala-gejala yang ada.
Psikoanalisa merupakan suatu metode penyembuhan yang bersifat psikologis dengan cara-cara
fisik. Psikoanalisa jelas terkait dengan tradisi jerman yang menyatakan bahwa pikiran adalah entitas
yang aktif, dinamis dan bergerak dengan sendirinya. Selain itu, psikoanalisa tidak lahir dari penelitian
akademis, sebagaimana system-sistem lain, namun merupakan produk konsekuensi terapan praktik
klinis Perkembangan koseling behavioral bertolak dari perkembanngan aliran behavioristik
dalam perkembangan psikologi yang menolak pendapat aliran strukturalisme yang
berpendapat bahwa mental, pikiran dan perasaan hendaknya ditemukan terlebih dahulu bila
perilaku manusia ingin difahami, maka munculah teori introspeksi.
Aliran Behaviorisme menolak metode introspeksi dari aliran strukturalisme dengan
sebuah keyakinan bahwa menurut para behaviorist metode introspeksi tidak dapat
menghasilkan data yang objektif, karena kesadaran menurut para behaviourist adalah sesuatu
yang Dubios, yaitu sesuatu yang tidak dapat diobservasi secara langsung, secara nyata
Psikologi humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada
tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada
abad pertengahan. Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi seperti : Abraham Maslow,
Carl Rogers dan Clark Moustakas mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya
mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang : self (diri),

99
aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan
sejenisnya.Abraham Maslow Yang terkenal dengan teori aktualisasi diri di lahirkan di  New
York pada tahun 1908. Ia meninggal di Calivornia pada tahun 1907.
Terapi gestal yang di kembangkan oleh Frederik Perl adalah terapi eksistensi yang
berpijak pada premis bahwa individu harus menemukan jalan hidupnya sendiri dan menerima
tanggung jawab pribadi jika mereka berharap mencapai kematangan. Karena terutama di atas
prinsip utama kesadaran, tetapi gestal berfokus pada apa dan bagaimana tingakah laku dan
pengalaman disini dan sekarang dengan memadukan bagian-bagian kepribadiaan yang
terpecah dan tidak di ketetahui. Prinsip penutupan dan prinsip kedekatan. Penyataan utama
pada psikologi Gestalt itu adalah ego,kelaparan dan agresi pada tahun 1947. Selama periode
1964-1969 Perls mengembang kan pendekatan Gestalt untuk koseling dan terapi dari teori
persepsi psikis yang kenal dengan psikologi Gestalt dan psikologi ini didirikan oleh Max
Wertheimer, Wolfgang Konhler dan Kurt koffka di jerman. Psikologi Gestalt mengatakan
bahwa perilaku manusia jauh lebih dari produk rangsangan yang tidak terkait bahwa individu
selalu bertindak untuk mengatur rangsangan kedalam keseluruhan,prinsip yang di
kembangkan oleh gestalt.
konsep dasar dari client centered adalah bahwa individu memiliki kecenderungan untuk
mengaktualisasi diri yang berfungsi satu sama lain dalam sebuah organisme. Pendekatan
client centered menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu yang penting bagi
dirinya dan pemecahan masalah dirinya. Konsep pokok yang mendasari adalah hal yang
menyangkut konsep konsep mengenai diri (self), aktualisasi diri, teori kepribadian, dan hake-
kat kecemasan.Dasar pendekatan client centered therapy adalah bahwa kekuatan-kekuatan
atau kemampuan-kemampuan tertentu dalam diri individu untuk tumbuh dan berkembang
untuk menyesuiakan diri, dan memiliki dorongan kuat ke arah kedewasaan dan harus
dihargai.
Terapi Rasional Emotiv adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa
manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk
berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk
memelihara diri, berbahagia, serta tumbuh dan mengaktualkan diri. Akan tetapi, manusia juga
memiliki kecenderungan-kecenderungan kearah yang menghancurkan diri, menyesali
kesalahan-kesalahan secara tak berkesudahan serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi
diri.
Analisis Transaksional adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan
pada hubungan interaksional. Transaksional maksudnya ialah hubungan komunikasi antara

100
seseorang dengan orang lain. Adapun hal yang dianalisis yaitu meliputi bagaimana bentuk
cara dan isi dari komunikasi mereka. Dari hasil analisis dapat ditarik kesimpulan apakah
transaksi yang terjadi berlangsung secara tepat, benar dan wajar. Bentuk, cara dan isi
komunikasi dapat menggambarkan apakah seseorang tersebut sedang mengalami masalah
atau tidak. Analisis Transaksional dapat dipergunakan untuk terapi individual, tetapi terutama
untuk pendekatan kelompok. Analisis transaksional berfokus pada keputusan – keputusan
awal yang dibuat oleh klien dan menekankan kemampuan klien untuk membuat keputusan
baru.
Teori Trait and Factor adalah pandangan yang mengatakan bahwa kepribadian seseorang
dapat dilukiskan dengan mengidentifikasikan jumlah ciri, sejauh tampak dari hasil
testing  psikologis yang mengukur masing-masing dimensi kepribadian
tertentu.Konseling Trait and Factor berpegang pada pandangan yang sama dan menggunakan
tes-tes psikologis untuk menanalisis atau mendiagnosis seseorang mengenai ciri-ciri
dimensi/aspek kepribadian tertentu, yang diketahui mempunyai relevansi terhadap
keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam jabatan dan mengikuti suatu program studi.
Pendekatan Realitas adalah suatu sistem yang difokuskan kepada tingkah laku sekarang.
Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengkonfrontasikan klien dengan cara-cara
yang bisa membantu menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa
merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Inti terapi realitas adalah penerimaan tanggung
jawab pribadi, yang dipersamakan dengan kesehatan mental. Terapi realitas yang
menguraikan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur yang dirancang untuk membantu orang-
orang dalam mencapai suatu “identitas keberhasilan” dapat diterapkan pada psikoterapi,
konseling, pengajaran, kerja kelompok, konseling perkawinan, pengelolaan lembaga dan
perkembangan masyarakat. Terapi realitas meraih popularitas di kalangan konselor sekolah,
para guru dan pimpinan sekolah dasar dan menengah, dan para pekerja rehabilitasi.

101
DAFTAR PUSTAKA

Lahmudin. “Psikoterapi Dalam Perspektif Bimbingan Konseling Islam”. MIQOT vol.


XXXVI No. 2 Juli-Desember 2012.

Gerald Corey. 2005. Teori dan Praktek Konselin dan Psikoterapi, terj. Koeswara . Bandung:
Refika Aditama.

Prayitno. 2016. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Az-Dzaky, Hamdani Bakran. 2001. Psikoterapi dan Konseling Islam. Yogyakarta: Fajar
Pustaka Baru.

Mubasyaroh. “Pendekatan Psikoterapi Islam dan Konseling Sufistik Dalam Menangani


Masalah Kejiwaan”. KONSELING RELIGI: Jurnal Bimbingan Konseling Islam vol. 8, No.
1, Juni 2017

Misiak, Henryk. 2005. Psikologi Fenomenologi, Eksistensial dan Humanistic. Bandung: PT


Rafika Aditama

Sukardi, D.K. 1985. Pengantar Teori Konseling: Suatu Uraian Ringkas. Jakarta Timur:
Ghalia Indonesia.

Rahmasari, Diana., 2012. Peran Filsafat Eksistensialisme terhadap Terapi Eksistensial-


Humanistik untuk Mengatasi Frustasi Eksistensial. Volume 2 Nomor 2.

Rosjidan. 1988. Pengantar Teori-Teori Konseling. Jakarta: Direktorat Pendidikan Jenderal


Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Latipun. 2001. Psikologi Konseling. Malang: Penerbitan Universitas Muhammadiyah


Malang.
Misiak, Henryk. 2005. Psikologi Fenomenologi, Eksistensial dan Humanistic. Bandung: PT
Rafika Aditama

102
Sukardi, D.K. 1985. Pengantar Teori Konseling: Suatu Uraian Ringkas. Jakarta Timur:
Ghalia Indonesia.

Rahmasari, Diana., 2012. Peran Filsafat Eksistensialisme terhadap Terapi Eksistensial-


Humanistik untuk Mengatasi Frustasi Eksistensial. Volume 2 Nomor 2.

Rosjidan. 1988. Pengantar Teori-Teori Konseling. Jakarta: Direktorat Pendidikan Jenderal


Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

103
TENTANG PENULIS

Ashraf Bin Mohd Azri, lahir di Alor Setar, Kedah,


Malaysia. Pada tanggal 8 januari 1998. Belajar dalam
Bimbingan Konseling Islam mulai S-1 pada tahun 2017 di
Falkutas Dakwah dan Komunikasi di Universitas Islam
Negeri Banda Aceh, indonesia.

Dalam kehidupan pernah belajar di sekolah yang berasakan agama dari TK, SD, SMP
dan SMA di negara Malaysia. Minat dalam Bidang kesukanan dan pembelajaran. Memilih
bidang konseling adalah satu minat dengan memahami berbagai keunikan ciptaan Allah yaitu
manusia. Manusia makhluk yang sangat unik yang terdiri dari berbagai kepribadian sehingga
penulis termotivasi dalam mempelajari bidang ini.

Dengan mempelajari ilmu konseling seseorang itu mampu memahami keadaan


lingkungan dengan lebih peka. Seseorang akan lebih cenderung mengerti akan tindakan
seseorang yang lain. Bagi pembaca yang ingin berdiskusi tentang ilmu konseling dan layanan
dalam konseling dapat berhubungi saya melalui email: Ashrafswagger123@gmail.com .

104