Anda di halaman 1dari 16

Komunikasi Sosial dalam Mendorong Penetapan Kebijakan

Publik HIV/AIDS

Hadi Suprapto Arifin, Ditha Prasanti, Ikhsan Fuady


Universitas Padjadjaran
Jl. Raya Jatinangor-Sumedang Km 21 Bandung 45363
Email: hsadalong85@gmail.com

Abstract: This research studies about the use of social communication process in encouraging public
policy on HIV/AIDS prevention in Pangandaran, West Java, Indonesia. It is a qualitative research
with action research as the method. The result indicates the existence of social communication
form such as direct social communication, social communication using mass media, and functional
social communication involving elements of social communication. The social communication
process is seen through the coordination of local government with several related agencies and
foundations who care about HIV/AIDS. This encourages Local Government of Pangandaran in
determining local regulation on HIV/AIDS prevention in Pangandaran tourism area.

Keywords: HIV/AIDS, pangandaran, public policy, social communication.

Abstrak: Penelitian ini membahas proses komunikasi sosial dalam mendorong kebijakan publik
mengenai Pencegahan HIV/AIDS di Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode action research. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa bentuk komunikasi sosial yang dilakukan meliputi komunikasi sosial langsung, komunikasi
sosial menggunakan media massa, dan komunikasi sosial fungsional yang melibatkan unsur-
unsur komunikasi sosial. Proses komunikasi sosial ini terlihat pada koordinasi pemerintah daerah
dengan beberapa dinas dan yayasan peduli HIV/AIDS yang mampu mendorong Pemerintah
Daerah Kabupaten Pangandaran dalam menetapkan peraturan daerah mengenai pencegahan dan
penanggulangan HIV/AIDS di kawasan wisata Pangandaran.

Kata Kunci: HIV/AIDS, kebijakan publik, komunikasi sosial, pangandaran.

Indonesia masih menghadapi masalah AIDS terbaru pada Gambar 1 adalah puncak
kesehatan yang harus segera diselesaikan gunung es yang belum menunjukkan data
karena memberikan dampak sosial dan yang tidak terdeteksi.
menjadi kendala pembangunan. Istilah Human Gambar 1 menunjukkan bahwa Jawa
Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Barat merupakan provinsi yang berada di
Immuno Deficiency Sindrome (AIDS) urutan ketiga dengan kasus HIV/AIDS
memunculkan berbagai persepsi di benak terbanyak pada 2017 (Gunadi, 2017).
setiap orang. HIV/AIDS kini sudah masuk ke Bahkan, pemerintah pun menjadikan
salah satu kawasan wisata Pangandaran, Jawa masalah HIV/AIDS sebagai salah satu
Barat, yang menjadi destinasi wisatawan Suistanable Development’s Goals (SDGs)
lokal maupun mancanegara. Data kasus HIV/ hingga saat ini.

203
Jurnal
ILMU KOMUNIKASI VOLUME 15, NOMOR 2, Desember 2018: 203-218

Gambar 1 Data Kasus HIV yang Dilaporkan pada 2017

Masalah kesehatan yang tidak kunjung AIDS dapat menunjukkan hasil optimal jika
selesai ini merupakan fakta berkembangnya melibatkan semua pihak, baik pemerintah,
epidemi HIV/AIDS yang juga sedang dunia usaha, maupun elemen masyarakat.
dihadapi oleh beberapa daerah lain di Pengambilan kebijakan mengenai upaya
Indonesia. Hasil penelitian Purnomo, Soeaidy, penanggulangan HIV/AIDS pun hendaknya
dan Hadi (2015, h. 43) mengungkapkan berbasis hasil penelitian, sehingga aktivitas
bahwa epidemi HIV/AIDS masih dinamis, penangggulannaya tepat sasaran.
sehingga jalur penyebarannya masih belum Data yang diperoleh dari Dinas
dapat diramalkan. HIV/AIDS secara nyata Kesehatan Kabupaten Pangandaran, pada
masih tersebar hampir di seluruh Indonesia periode Januari-Juli 2017, menunjukkan
hingga sekarang. Oleh karena itu, strategi dari bahwa 43 orang dinyatakan positif HIV/
berbagai pihak dibutuhkan untuk mengurangi AIDS. Jumlah ini melonjak cukup drastis
dan menanggulangi penyebaran virus dibanding periode 2012-2016 dengan 61
mematikan ini. kasus. Data ini menguatkan fenomena
Sementara itu, hasil penelitian Warto gunung es kasus HIV/AIDS.
dan Rusmiyati (2015, h. 65) menjelaskan Pangandaran sebagai salah satu
bahwa berbagai upaya penanggulangan kawasan wisata Provinsi Jawa Barat
yang telah dilakukan belum menunjukkan selayaknya mendapatkan perhatian khusus
hasil optimal. Hal tersebut terjadi karena dalam pencegahan dan penanggulangan
kurangnya dukungan dari pihak yang HIV/AIDS masyarakat sekitarnya.
terlibat di Komisi Penanggulangan HIV/ Pencegahan dan penanggulangan HIV/
AIDS, terutama kegiatan penelitian sebagai AIDS ini bukan berarti menjauhi orang
basis pengambilan kebijakan. Dinas yang terinfeksi HIV/AIDS tersebut.
pemerintahan daerah terkait belum memberi Salah satu upaya yang dilakukan
kesempatan sosialisasi pada siswa di jenjang masyarakat dan pemerintah di Pangandaran
pendidikan tingkat dasar, menengah, adalah menggunakan komunikasi sosial.
maupun atas. Kebijakan pencegahan HIV/ Vera & Wihardi (2012, h. 61) menyatakan

204
Hadi Suprapto Arifin, dkk. Komunikasi Sosial dalam ...

bahwa komunikasi sosial merupakan suatu suatu proses interaksi antarperson atau
proses sosialisasi yang dapat menjamin antarlembaga melalui penyampaian pesan
kelangsungan hidup suatu kelompok tertentu untuk menciptakan integrasi
sosial. Stabilitas sosial, tertib sosial, atau adaptasi sosial. Komunikasi sosial
serta penerusan nilai-nilai lama dan baru merupakan sebuah proses interaksi di mana
yang diagungkan oleh suatu masyarakat seseorang atau lembaga menyampaikan
dapat tercapai melalui komunikasi sosial. pesan kepada pihak lain supaya pihak lain
Komunikasi sosial dapat memupuk, dapat menangkap maksud yang dikehendaki
membina, dan memperluas kesadaran oleh komunikator.
masyarakat. Komunikasi sosial pun dapat Definisi lain menyebutkan bahwa
mendorong pemecahan masalah-masalah komunikasi merupakan sebuah proses
sosial melalui konsensus (Vera & Wihardi, sosial dalam masyarakat. Proses sosial ini
2012, h. 61). diartikan sebagai pengaruh timbal balik
Penelitian ini berbeda dari penelitian- antara berbagai individu, masyarakat,
penelitian yang bertema sama di atas. maupun organisasi dalam kehidupan
Keunikan penelitian ini adalah lokasi bersama. Komunikasi sosial juga
penelitian yang merupakan kawasan wisata dapat diartikan menjadi suatu aktivitas
dan permasalahan HIV/AIDS di lokasi komunikasi untuk tujuan integrasi sosial
tersebut terus meningkat hingga 2017. (Vera & Wihardi, 2012, h. 61).
Peneliti melihat upaya pencarian solusi Hasil penelitian sejenis yang dilakukan
dari masyarakat setempat melalui proses Fritantus dan Rukminingsih (2015, h.
komunikasi sosial. Oleh karena itu, peneliti 175) menunjukkan rendahnya komunikasi
ingin mengungkapkan proses komunikasi antarinstansi pemerintah, tercukupinya
sosial dalam mendorong kebijakan publik sumber-sumber informasi, kurangnya
penetapan peraturan daerah (perda) disposisi dan lemahnya struktur organisasi
mengenai pencegahan dan penanggulangan yang berkaitan dengan Standard Operating
HIV/AIDS di lokasi tersebut. Procedure (SOP) yang mudah dipahami
Komunikasi sosial menjadi poin dan terjangkau semua lapisan masyarakat,
penting untuk diteliti karena setiap serta adanya partisipasi dari swasta.
aktivitas yang dilakukan oleh beberapa Sutaryo (2005, h. 25-26) menjelaskan
dinas dan lembaga pemerintahan, Yayasan bahwa unsur-unsur komunikasi dalam proses
dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), komunikasi sosial meliputi komunikator,
serta masyarakat setempat adalah proses amanat atau pesan yang disampaikan,
komunikasi sosial untuk mendorong media, komunikan, dan tanggapan (respons).
munculnya kebijakan publik mengenai Sedangkan jenis-jenis komunikasi sosial
pencegahan HIV/AIDS. meliputi komunikasi langsung, komunikasi
Vera dan Wihardi (2012, h. 60) tidak langsung, komunikasi satu arah,
mendefinisikan komunikasi sosial sebagai komunikasi timbal balik, komunikasi

205
Jurnal
ILMU KOMUNIKASI VOLUME 15, NOMOR 2, Desember 2018: 203-218

bebas, komunikasi fungsional, komunikasi adalah serangkaian keputusan pemerintah


individual, dan komunikasi massa. Sementara yang terukur, mengarah pada tujuan tertentu,
itu, fungsi komunikasi sosial adalah memberi menyangkut kepentingan publik, dan
informasi, bimbingan, dan hiburan. melibatkan para pihak yang berkepentingan
Sementara itu, kebijakan publik, dalam bidang-bidang tertentu. Sedangkan
menurut Anderson (dalam Islamy, 2007, pelaksanaan kebijakan merupakan
h. 19), adalah kebijakan-kebijakan yang tahapan aktivitas/kegiatan/program dalam
dikembangkan oleh badan-badan dan melaksanakan keputusan kebijakan yang
pejabat-pejabat pemerintah. Sedangkan dilakukan oleh individu/pejabat, kelompok
Dunn (dalam Nugroho, 2011, h. 298) pemerintah, masyarakat, dan/atau swasta
mengemukakan bahwa analisis kebijakan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah
adalah sebuah disiplin ilmu sosial terapan ditetapkan untuk memengaruhi hasil akhir
yang menggunakan metode multipel suatu kebijakan. Kebijakan publik dalam
untuk meneliti dan berargumen, serta penelitian ini merujuk pada peraturan daerah
untuk memproduksi dan mentransformasi mengenai pencegahan dan penanggulangan
informasi yang relevan dengan kebijakan HIV/AIDS.
dan dapat digunakan dalam tatanan politik HIV adalah adalah virus yang merusak
untuk mengatasi masalah kebijakan. sel-sel sistem imun yang menyebabkan
Terbitnya kebijakan publik dilandasi kekebalan tubuh hilang, sehingga tubuh
kebutuhan penyelesaian masalah yang sangat mudah terserang berbagai jenis
terjadi di masyarakat. Kebijakan publik penyakit. Virus ini hidup di dalam empat
ditetapkan oleh para pihak (stakeholders), cairan tubuh manusia, yaitu cairan darah,
terutama pemerintah, dan diorientasikan cairan sperma, cairan vagina, dan Air Susu
pada pemenuhan kebutuhan dan kepentingan Ibu (ASI).
masyarakat. Makna pelaksanaan kebijakan Sementara itu, AIDS merupakan
publik merupakan suatu hubungan yang kumpulan gejala penyakit dan fase
memungkinkan pencapaian tujuan atau akhir akibat menjangkitnya HIV yang
sasaran sebagai hasil akhir dari kegiatan mudah menular dan mematikan. AIDS
yang dilakukan pemerintah. Kekurangan merupakan penyakit serius yang telah
atau kesalahan kebijakan publik dapat menyebabkan banyak penderitanya
diketahui setelah kebijakan publik tersebut meninggal dunia. Beragam program
dilaksanakan, sedangkan keberhasilan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah
pelaksanaan kebijakan publik dapat dilihat telah mengacu pada perbaikan sarana dan
dari dampak yang ditimbulkan sebagai hasil prasarana pelayanan kesehatan, namun
evaluasi atas pelaksanaan suatu kebijakan program kesehatan guna menumbuhkan
(Rohman, 2016, h. 5). kesadaran masyarakat terhadap pentingnya
Ramdhani & Ramdhani (2017, h. penanggulangan dan pencegahan penderita
3) menunjukkan bahwa kebijakan publik HIV/AIDS masih perlu dioptimalkan lagi.

206
Hadi Suprapto Arifin, dkk. Komunikasi Sosial dalam ...

Penelitian yang bermetode action research penanggulangan HIV/AIDS di kawasan


ini dilakukan guna meminimalkan jumlah wisata Pangandaran.
penderita HIV/AIDS di kawasan wisata Teknik pengumpulan data dalam
Pangandaran. penelitian action research ini menggunakan
beberapa teknik, sebagaimana dikatakan
METODE
Koshy (2005, h. 68), yaitu pertama,
Penelitian ini didesain dengan wawancara mendalam (in-depth interview)
pendekatan action research, yaitu suatu untuk mendapatkan data primer dalam
kerangka penelitian pemecahan masalah. penelitian melalui informan dari setiap
Penelitian action research ini mendorong dinas yang terkait dengan masalah HIV/
peneliti untuk mendeskripsikan, AIDS di Pangandaran. Kedua, observasi
menginterpretasikan, dan menjelaskan partisipasi (participant observation)
suatu situasi sosial pada waktu yang untuk mengamati kegiatan keseharian
bersamaan dengan melakukan perubahan informan, yaitu dinas terkait dan penggiat
atau intervensi dengan tujuan perbaikan LSM anti HIV/AIDS di Pangandaran.
atau partisipasi. Ketiga, focus group discussion (FGD)
Sugiyono (2010, h. 295) mengatakan dengan melibatkan stakeholder dan para
bahwa  semua penelitian bersifat ilmiah. ahli, yaitu dinas kesehatan, kantor desa
Oleh karena itu semua peneliti harus Pangandaran, puskesmas setempat, Komisi
berbekal teori. Dalam penelitian kualitatif, Penanggulangan AIDS, dan penggiat
permasalahan yang dibawa masih bersifat Yayasan Matahati untuk mendiskusikan
sementara, sehingga teori yang digunakan hasil temuan penelitian.
dalam penyusunan proposal penelitian Peneliti menggunakan teknik
kualitatif juga masih bersifat sementara pengambilan informan dengan metode
dan dapat berkembang setelah peneliti purposive sampling hingga peneliti dapat
memasuki lapangan atau konteks sosial. menetapkan enam informan. Pertama,
Penelitian kuantitatif bersifat menguji YMA yang mewakili dinas kesehatan.
hipotesis atau teori, sedangkan penelitian Kedua, MHD yang mewakili kantor desa
kualitatif bersifat menemukan teori. Pangandaran. Ketiga, ARS sebagai petugas
Oleh karena itu, pendekatan ini koordinator program penanggulangan
dipandang tepat dan memadai untuk HIV/AIDS di Pangandaran yang mewakili
membantu memecahkan masalah yang Puskesmas Kabupaten Pangandaran.
dikaji di lapangan. Action research Keempat, YNI sebagai perawat di bagian
digunakan dalam penelitian ini untuk layanan umum, Puskesmas Kabupaten
mencapai tujuan akhir penelitian, yakni Pangandaran. Kelima, IMN dari Komisi
komunikasi sosial dalam mendorong Penanggulangan AIDS (KPA) Jawa Barat.
penetapan kebijakan publik Peraturan Keenam, AGS sebagai Ketua Yayasan
Daerah mengenai pencegahan dan Matahati, Kabupaten Pangandaran.

207
Jurnal
ILMU KOMUNIKASI VOLUME 15, NOMOR 2, Desember 2018: 203-218

Penelitian ini dilakukan di kawasan menjadi bagian dari komunikator dalam


wisata Kabupaten Pangandaran. Lokasi proses komunikasi sosial ini. Komunikasi
tersebut dipilih berdasarkan data statistik yang sosial yang dilakukan oleh setiap informan
menunjukkan bahwa Kabupaten Pangandaran dari perwakilan pemerintah daerah dan dinas
menjadi salah satu daerah yang memiliki terkait memperlihatkan hasil koordinasi
angka penderita HIV/AIDS tertinggi di Jawa pemerintah daerah dengan beberapa dinas
Barat. Penelitian telah dilaksanakan dalam terkait, seperti Dinas Kesehatan, Dinas
kurun waktu kurang lebih enam bulan pada Pariwisata dan Budaya, Dinas Sosial, serta
periode Januari-Juni 2017. Yayasan AHF dan Matahati yang peduli
tentang HIV/AIDS.
HASIL
Bentuk koordinasi tersebut berupa
Sutaryo (2005, h. 25-26) mengungkap­ pelibatan unsur komunikator, pesan,
kan beragam jenis komunikasi sosial, yaitu media, komunikan, dan efek/hasil yang
komunikasi langsung, komunikasi tidak diharapkan, yaitu mendorong pemerintah
langsung, komunikasi satu arah, komunikasi daerah (pemda) Kabupaten Pangandaran
timbal balik, komunikasi bebas, komunikasi dalam menetapkan kebijakan publik berupa
fungsional, komunikasi individual, dan perda yang mengatur tentang pencegahan
komunikasi massa. Fungsi komunikasi dan penanggulangan HIV/AIDS di kawasan
sosial adalah memberi informasi, memberi wisata Pangandaran.
bimbingan, dan memberi hiburan. Komunikator
Merujuk pada tinjauan tersebut, Unsur komunikasi sosial yang pertama
penelitian ini mengidentifikasi jenis adalah komunikator. Hasil penelitian ini
komunikasi sosial langsung, fungsional, menunjukkan bahwa peran komunikator
dan massa yang terjadi di lokasi penelitian. penting dalam upaya pencegahan dan
Komunikasi sosial inilah yang ditujukan penanggulangan HIV/AIDS. Peran
untuk mendorong munculnya kebijakan tersebut terlihat pada setiap komunikator
publik berupa peraturan daerah sebagai dari pemerintah, masyarakat, dan dinas
upaya pencegahan dan penanggulangan terkait untuk berkoordinasi melakukan
HIV/AIDS di kawasan wisata Pangandaran. pencegahan dan penanggulangan HIV/
Komunikasi Sosial Langsung AIDS. Para komunikator inilah yang
Bentuk komunikasi sosial langsung kemudian menjadi informan penelitian
merupakan proses komunikasi sosial penulis.
yang terjadi secara tatap muka antara MHD sebagai perwakilan kantor
komunikator dengan komunikan untuk desa Kabupaten Pangandaran selalu aktif
menyampaikan tujuan yang diharapkan. melakukan koordinasi dengan beberapa
Proses komunikasi langsung dalam dinas lainnya untuk berdiskusi mencari
penelitian ini melibatkan unsur-unsur solusi yang tepat dalam pencegahan
komunikasi sosial. Unsur-unsur tersebut dan penanggulangan HIV/AIDS di

208
Hadi Suprapto Arifin, dkk. Komunikasi Sosial dalam ...

Pangandaran. MHD juga menyampaikan


pernyataannya pada acara pertemuan
koordinasi  stakeholder dalam rangka
evaluasi dan advokasi pencegahan dan
penanggulangan HIV/AIDS.
Adanya Komisi Penanggulangan AIDS adalah
sebagai wadah koordinasi dan konsolidasi
seluruh pihak terkait untuk mengatasi
masalah ini. Dibentuknya KPA merupakan
bukti keseriusan pemerintah Kabupaten
Pangandaran dalam upaya pencegahan dan
penanggulangan AIDS. (MHD, perwakilan
kantor desa Pangandaran, wawancara, 22
Agustus 2017)

Pernyataan MHD tersebut


memperlihatkan salah satu upaya
pentingnya komunikator dalam
pelaksanaan sebuah program pencegahan
dan penanggulangan HIV/AIDS melalui Gambar 2 Bentuk Komunikasi Sosial Langsung antara
Dinas yang Terkait di Kabupaten Pangandaran
pembentukan lembaga koordinasi khusus
yang menangani langsung HIV/AIDS, yaitu langkah preventif dan pendeteksian dini
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). penyebaran HIV.
Ya selain itu, kami juga aktif mengumpulkan Kami telah membentuk beberapa Puskesmas,
warga melakukan sosialisasi. Ya ini penting khususnya Puskesmas Parigi sebagai pusat
supaya masyarakat juga peduli pada layanan dan rujukan bagi para ODHA, juga
penderita HIV/AIDS, bukan menjauhi atau pelatihan SDM yang khusus menangani
memandang sebelah mata, tetapi mendukung kasus ODHA tersebut. (YMA, Kepala
agar program pemerintah dalam mencegah Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran,
dan menanggulangi HIV/AIDS ini juga wawancara, 3 Mei 2017)
berhasil. Sosialisasi ini biasanya rutin sebulan
sekali pas ngumpulin warga ya. Kami selalu
menyelipkan pesan-pesan tentang pencegahan Gambar 2 menunjukkan bentuk
HIV/AIDS ini. (MHD, perwakilan kantor desa komunikasi sosial langsung yang terjadi.
Pangandaran, wawancara, 22 Agustus 2017)
Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan
YMA, Kepala Dinas Kesehatan Kabu­ menunjukkan adanya 20 sumber daya
paten Pangandaran, merupakan komu­ manusia (SDM) terlatih yang tersebar di
nikator yang berkoordinasi melakukan empat puskesmas sebagai pusat layanan
komunikasi sosial untuk mencegah dan HIV/AIDS dan IMS yang melayani
menanggulangi HIV/AIDS di Pangandaran. konseling dan tes HIV/AIDS dan IMS.
Dinas Kesehatan sebagai leading Nah, kami juga berupaya sebaik mungkin
supaya masalah ini bisa teratasi. Kalau dulu,
sector yang berkolaborasi bersama LSM semuanya dirujuk ke labkesda, tapi sekarang
peduli AIDS, yaitu yayasan Matahati kami melakukan inovasi, yaitu pelatihan
khusus kepada para SDM yang tersebar
Pangandaran, telah melakukan langkah- di beberapa puskesmas di Pangandaran.

209
Jurnal
ILMU KOMUNIKASI VOLUME 15, NOMOR 2, Desember 2018: 203-218

Jadi, kalau ada yang berobat ke puskesmas, Menurut pemaparan seorang informan, di
ada petugas yang menangani khusus, jadi
sengaja ditugaskan memegang program Puskesmas Pangandaran, pasien yang positif
pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS. HIV/AIDS (orang dengan HIV/AIDS atau
(YMA, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten
Pangandaran, wawancara, 3 Mei 2017) ODHA) adalah remaja yang produktif, yaitu
remaja dalam rentang usia 20-30 tahun.
IMN sebagai perwakilan KPA Provinsi
Jawa Barat menunjukan analisis situasi dan Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten
kondisi serta strategi kebijakan pemerintah. Pangandaran, pada periode Januari-Juli 2017,
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten menunjukkan bahwa 43 orang dinyatakan
(Pemkab) Pangandaran diharapkan mem­ positif HIV. Jumlah ini melonjak cukup
punyai peraturan daerah khusus untuk drastis dibanding periode 2012-2016 dengan
penanggulangan HIV/AIDS. 61 kasus.
Pangandaran sebagai tujuan wisatawan, baik Berkembangnya penyebaran HIV/AIDS di
nasional atau mancanegara, lebih dari 2,5 juta kawasan wisata yang sangat potensial ini,
wisatawan pada 2015, tentu saja mempunyai membutuhkan adanya sistem yang menjadi
dampak bagi kelangsungan masyarakatnya, dasar untuk penanggulangannya. Adanya
baik dalam bidang kesehatan, pendidikan, perda penanggulangan HIV/AIDS sangat
dan daya beli. Oleh karena itu, setelah kami diperlukan karena selain untuk mengatur cara
melakukan berbagai acara pertemuan khusus penanggulangan, perda itu untuk mengatur segi
dengan lembaga dan dinas terkait lainnya kebutuhan dalam rangka mencegah penyebaran
untuk membahas masalah serius ini, salah satu HIV/AIDS. Pangandaran memiliki satu aturan
upaya preventif yang harus segera diwujudkan yang mengatur tentang penanggulangan HIV/
adalah Pemkab Pangandaran segera memiliki AIDS sebagai langkah lebih serius melawan
perda khusus tentang penanggulangan HIV penyebarannya. (IMN, perwakilan KPA Provinsi
AIDS. (IMN, perwakilan KPA Provinsi Jawa Jawa Barat, wawancara, 22 Agustus 2017)
Barat, wawancara, 22 Agustus 2017)
AGS sebagai ketua yayasan Matahati
YNI sebagai salah satu perawat memaparkan secara detail mengenai
di puskesmas Kabupaten Pangandaran berbagai upaya yang telah dilakukannya
bercerita mengenai kondisi pasien yang untuk mencegah dan menanggulangi HIV/
berobat ke puskesmas tersebut. AIDS sebagai bentuk kepedulian kepada
Ya bu, kalau ODHA tuh ya sudah ada yang kawasan wisata Pangandaran.
jadi koordiantor khusus di puskesmas, jadi
sekarang ya pengobatannya juga bisa berjalan
di Puskesmas, kalau misalnya obatnya habis,
ya berarti tinggal dateng ke puskesmas gitu.
Tapi kalau jumlah pasien yang fix-nya sih ada
di Dinkes. Tapi saya pernah, pas Juni yang lalu
ada pasien ke sini, bukan warga Pangandaran
tapi lagi ada di sini, eh hasil pemeriksaannya
positif ODHA, Bu…Jadi langsung ditangani
sama Pak ARS, koordinator program ODHA,
selanjutnya sih saya kurang tahu. (YNI,
perawat puskesmas Kabupaten Pangandaran,
wawancara, 22 Agustus 2017)

Hal tersebut merupakan persoalan yang


Gambar 3 Proses Komunikasi Sosial Pihak Yayasan
sering ditemukan di daerah tujuan wisata. Matahati di Kawasan Wisata Pangandaran

210
Hadi Suprapto Arifin, dkk. Komunikasi Sosial dalam ...

Yayasan Matahati juga bermitra dengan mengarah pada tujuan untuk mendorong
Yayasan AHF telah merancang berbagai terbentuknya peraturan daerah sebagai
program berkelanjutan dalam menjaring upaya pencegahan dan penanggulangan
dan mengumpulkan para ODHA. Salah HIV/AIDS di Pangandaran.
satu tim dari yayasan Matahati bertugas Pesan
mengatur perkumpulan ODHA tersebut dan Berbagai upaya yang dilakukan
membentuk sebuah wadah atau komunitas. komunikator melalui komunikasi sosial
Tapi tentu upaya kami juga tidak akan bertujuan untuk menyampaikan pesan agar
berhasil maksimal kalau kami cuma pakai
teknik menjemput bola. Kami juga berupaya komunikan memahami maksud yang ingin
mendapatkan dukungan dari pemerintah, dicapai. Gambar 4 adalah dokumentasi
khususnya Pemkab Pangandaran. Kami
suka mengadakan pertemuan juga, suka penelitian yang telah dilakukan penulis di
diundang oleh berbagai dinas terkait. Ya Yayasan Matahati. Secara tidak langsung,
saling berkomunikasi dan berkoordinasi
saja hingga akhirnya kami pun menemukan terlihat pesan nonverbal berupa simbol atau
titik cerah ya. Rencana ke depan yang isyarat tangan membentuk angka 0 sebagai
kami harapkan adalah terwujudnya payung
hukum yang legal dan resmi, yaitu keluarnya ikon Yayasan Matahati untuk mewujudkan
penetapan kebijakan publik berupa perda makna Zero ODHA di Pangandaran.
tentang pencegahan dan penanggulangan
HIV/AIDS. Ini pasti akan sangat membantu Berdasarkan hasil wawancara, peneliti
dan berdampak positif untuk menanggulangi
penyebaran HIV/AIDS karena Pangandaran
dapat merumuskan pesan yang ingin
ini adalah kawasan wisata, tidak hanya lokal, disampaikan para komunikator tersebut
tetapi juga mancanegara. Maka dari itu,
perlu adanya perda. (AGS, ketua yayasan
dalam proses komunikasi sosial ini. Upaya
Matahati, wawancara, 21/8/2017) koordinasi dan kemitraan yang dilakukan
oleh Dinas Kesehatan, puskesmas, kantor
Berdasarkan hasil wawancara
desa, KPA, dan LSM (Yayasan Matahati)
tersebut, peneliti dapat melihat adanya
yang peduli terhadap HIV/AIDS telah
kesamaan makna dan tujuan komunikasi
berjalan dalam kurun waktu yang cukup
yang ingin dicapai para komunikator, yaitu
lama.
upaya mewujudkan payung hukum yang
melindungi semua lapisan masyarakat dari
penyebaran HIV/AIDS di kawasan wisata
Pangandaran.
Komunikasi Sosial Fungsional
Peneliti juga melihat adanya bentuk
komunikasi sosial fungsional yang terjadi
antara setiap lembaga atau dinas yang terlibat,
yaitu proses komunikasi yang mengarah
pada isi pesan secara fungsional agar
mampu mencapai hasil yang diharapkan.
Gambar 4 Simbol Nonverbal Berupa Isyarat Tangan
Setiap proses komunikasi sosial tersebut yang Berarti Zero ODHA

211
Jurnal
ILMU KOMUNIKASI VOLUME 15, NOMOR 2, Desember 2018: 203-218

Mereka saling terlibat dalam berbagai yaitu Puskesmas Pangandaran, Cikembulan,


macam kegiatan. Pertama, sosialisasi kepada Parigi, dan Cimerak.
warga desa Pangandaran di balai desa Komunikasi Sosial Melalui Media Massa
Pangandaran untuk menjelaskan tentang Proses komunikasi sosial yang terjadi
HIV/AIDS dan menyampaikan pesan agar dalam penelitian ini juga merupakan
tidak menghakimi dan memandang sebalah bentuk komunikasi sosial media massa,
mata ODHA, tetapi justru memberikan yaitu proses komunikasi sosial yang
motivasi agar ODHA bangkit dan menggunakan media massa dalam upaya
bersemangat menghadapi hidupnya. Kedua, mencapai tujuan yang diharapkan.
kegiatan pemeriksaan tes HIV/AIDS di Penelitian ini menunjukkan peran
puskesmas Kabupaten Pangandaran untuk penting media massa, yaitu menyampaikan
mendeteksi sejak dini gejala HIV/AIDS bagi pesan yang diusung oleh setiap pihak,
warga desa Pangandaran. Ketiga, kampanye termasuk dinas terkait, untuk mendorong
anti HIV/AIDS saat Hari AIDS Sedunia yang terwujudnya penetapan kebijakan publik
dilakukan oleh Yayasan Matahati melalui berupa perda yang mengatur tentang
kerja sama dengan dinas terkait lainnya. pencegahan dan penanggulangan HIV/
Keempat, sosialisasi kampanye AIDS di kawasan wisata Pangandaran.
penggunaan kondom yang dilakukan oleh Para informan penelitian ini meman­
Yayasan AHF melalui kerja sama dengan faatkan peran media lokal online. Peneliti
Yayasan Matahati dan Pemkab Pangandaran pun melakukan teknik penelitian studi
sebagai upaya pencegahan HIV/AIDS dokumentasi dan penelusuran dokumen
di Pangandaran. Kelima, layanan Badan online mengenai pemberitaan berbagai
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kampanye yang telah dilakukan informan
subsidi yang dilakukan yayasan Matahati untuk menyampaikan pesan kepada
melalui koordinasi dengan puskesmas masyarakat dan Pemkab Pangandaran
dan Dinas Kesehatan dalam memberikan mengenai salah satu solusi penanganan HIV/
pelayanan kepada ODHA, khususnya bagi AIDS, yaitu pewujudan perda yang mengatur
ODHA yang tidak mampu, karena layanan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS
berbasis laboratorium membutuhkan biaya di kawasan wisata Pangandaran.
mahal. Keenam, pertemuan antara ODHA Gambar 5-8 merupakan bukti bentuk
dengan Bupati Pangandaran dalam rangka komunikasi sosial media massa melalui
memberikan dukungan kepada ODHA media lokal yang digunakan oleh para
agar semakin termotivasi dalam menjalani informan. Hal ini menunjukkan kerja
hidupnya, Ketujuh, pelatihan yang dilakukan sama dengan media untuk menyampaikan
dinas kesehatan untuk para SDM yang pesan mendorong penetapan kebijakan
khusus menangani program pencegahan dan publik berupa perda yang mengatur tentang
penanggulangan HIV/AIDS dan tersebar pencegahan dan penanggulangan HIV/
di beberapa puskesmas di Pangandaran, AIDS di kawasan wisata Pangandaran.

212
Hadi Suprapto Arifin, dkk. Komunikasi Sosial dalam ...

Gambar 5 Bentuk Komunikasi Sosial Melalui Media Online Lokal Galamedianews.com (Supriyatman, 2017)

Gambar 6 Bentuk Komunikasi Sosial Melalui Media Online Lokal Harapan Rakyat.com (Madlani, 2017)

Gambar 7 Bentuk Komunikasi Sosial Melalui Media Online Lokal Radar Tasikmalaya (Oby, 2017)

213
Jurnal
ILMU KOMUNIKASI VOLUME 15, NOMOR 2, Desember 2018: 203-218

Gambar 8 Bentuk Komunikasi Sosia Melalui Media Online Lokal Pikiran Rakyat (Kusnadi, 2017)

Komunikan Ketiga, masyarakat umum, yaitu


Tiga pihak terlibat menjadi komunikan komunikan yang menjadi sasaran sekaligus
dalam proses komunikasi sosial yang stakeholder primer karena masyarakat
terjadi. Pertama, masyarakat yang rentan umum ini merupakan kelompok yang akan
HIV/AIDS, yaitu komunikan yang berinteraksi dengan ODHA dan menjadi
berisiko tertular HIV/AIDS. Orang yang pihak yang diharapkan tidak memandang
rentan adalah orang-orang yang memiliki sebelah mata para ODHA. Masyarakat
pekerjaan atau penghasilan dalam suatu justru diharapkan dapat memberikan
lingkungan, kondisi perekonomian yang semangat hidup bagi para ODHA agar tetap
percaya diri dan optimistis dalam menyikapi
rendah, serta memiliki kondisi kesehatan
kondisi penyakit yang dialaminya.
yang labil, sehingga berisiko tertular
Efek yang Diharapkan
dan menularkan HIV, misalnya pekerja
seks komersial (PSK), waria, gay, dan Pangandaran sebagai salah satu
pelanggan-pelanggan mereka yang juga kawasan wisata yang sering dikunjungi
ikut andil dalam penularan ke masyarakat wisatawan lokal dan mancanegara perlu
luas. mendapatkan perhatian khusus dalam
pencegahan tersebarnya HIV/AIDS
Kedua, orang yang terinfeksi HIV/
kepada masyarakat luas. Para informan
AIDS, yaitu penderita atau komunikan
telah berupaya melaksanakan program
yang sudah tertular HIV atau yang dikenal
kegiatan dan kampanye anti HIV/AIDS
dengan sebutan ODHA (Orang dengan HIV/
di Pangandaran. Namun, data ODHA di
AIDS). Langkah ini sudah dilakukan oleh
Pangandaran terus meningkat. Peneliti
yayasan Matahati melalui pembentukan
menemukan bahwa solusi yang diharapkan
komunitas ODHA yang dapat digunakan para informan, berbagai dinas terkait, dan
sebagai wadah saling memotivasi dalam Yayasan Matahati adalah terwujudnya
menjalankan hidupnya. payung hukum yang melegalkan aturan

214
Hadi Suprapto Arifin, dkk. Komunikasi Sosial dalam ...

dalam melindungi kalangan masyarakat Weber (dalam Ritzer & Goodman,


umum agar terhindar dari penyebaran 2005) menyatakan bahwa dunia terwujud
HIV/AIDS. Oleh karena itu, berbagai karena tindakan sosial. Manusia melakukan
pertemuan yang telah digelar bersama sesuatu karena mereka memutuskan
untuk menyelesaikan masalah serius ini untuk melakukannya dan ditujukan
diharapkan dapat mendorong penetapan untuk mencapai hal-hal yang mereka
kebijakan publik berupa perda yang inginkan atau kehendaki. Setelah memilih
mengatur tentang pencegahan dan sasaran, mereka memperhitungkan
penanggulangan HIV/AIDS di kawasan keadaan, kemudian memilih tindakan.
wisata Pangandaran. Hal ini juga terjadi pada para informan
Berdasarkan pemaparan panjang yang yang memutuskan melakukan tindakan
telah disampaikan oleh para informan dalam mendorong kebijakan publik dalam rangka
penelitian ini, penulis menghasilkan temuan pencegahan dan penanggulangan HIV/
sebagai efek/hasil/tujuan akhir dari semua AIDS di Pangandaran. Tindakan sosial
tahapan dan proses komunikasi sosial yang ditunjukkan oleh para informan melalui
telah dilakukan oleh semua pihak informan. proses komunikasi sosial yang mengarah
Baik Yayasan Matahati maupun dinas yang pada tujuan yang diharapkan, yaitu
terkait lainnya menyetujui dan sepakat terbentuknya kebijakan publik.
bahwa mereka menginginkan adanya Kajian terhadap tindakan sosial
payung hukum yang legal, yaitu penetapan digunakan pula dalam berbagai penelitian
kebijakan publik berupa peraturan daerah sosial dan multidisiplin ilmu lainnya.
(perda) yang mengatur pencegahan dan Penelitian Marston (2000), misalnya,
penanggulangan HIV/AIDS di kawasan menceritakan tentang kajian skala sosial
wisata Pangandaran. yang memahami cara-cara skala produksi
terlibat dalam produksi ruang. Marston
PEMBAHASAN
(2000) menyatakan bahwa hal yang hilang
Teori komunikasi yang digunakan untuk dari diskusi tentang konstruksi skala
menganalisis hasil penelitian ini adalah teori sosial ini adalah perhatian serius terhadap
tindakan sosial. Teori ini digunakan karena relevansi reproduksi dan konsumsi sosial
penetapan kebijakan publik tentang HIV/ yang pada intinya benrtujuan untuk
AIDS bagi kawasan Pangandaran merupakan meningkatkan dan memengaruhi perubahan
sebuah tindakan sosial yang dilakukan untuk sosial yang nyata. Berbeda pemikiran
memenuhi kebutuhan masyarakat. Kebutuhan dengan penelitian tersebut, peneliti melihat
tersebut terkait perlindungan dan legalitas bahwa tindakan sosial ini berkaitan dengan
hukum yang diberikan pemerintah daerah proses konstruksi sosial, tetapi fokus pada
dalam mengeluarkan kebiijakan publik tindakan individu yang berdampak pada
mengenai pencegahan dan penanggulangan tindakan orang lain (Marston, 2000, h.
HIV/AIDS di Pangandaran. 219).

215
Jurnal
ILMU KOMUNIKASI VOLUME 15, NOMOR 2, Desember 2018: 203-218

Tindakan sosial menurut Max Weber Hasil penelitian juga menunjukkan


adalah suatu tindakan individu sepanjang temuan baru yang dapat menjadi bekal peneliti
tindakan itu mempunyai makna atau untuk melanjutkan penelitian berikutnya.
arti subjektif bagi dirinya dan diarahkan Salah satunya adalah eskplorasi terhadap
kepada tindakan orang lain (Weber dalam pandangan Pemkab Pangandaran terkait
Ritzer & Goodman, 2005, h. 136). Hal ini prosedur pembentukan payung hukum, yakni
juga terdapat dalam penelitian ini, yaitu penetapan kebijakan publik berupa perda yang
adanya komunikasi sosial yang berulang mengatur pencegahan dan penanggulangan
dan dilakukan dengan sengaja bertujuan HIV/AIDS di Pangandaran.
untuk memperoleh kesepakatan dalam Saran
pembentukan kebijakan publik. Akhirnya,
Upaya koordinasi dan kolaborasi pemda
kesatuan dari setiap elemen komunikasi
dengan berbagai dinas terkait, LSM yang
sosial ini adalah bagian dari unsur dalam
peduli HIV/AIDS, dan partisipasi masyarakat
teori tindakan sosial yang menghasilkan
dalam rangka mencegah dan menanggulangi
tujuan yang diharapkan.
HIV/AIDS tetap dipertahankan dan
SIMPULAN ditingkatkan lagi, khususnya terkait
kesadaran dan partisipasi masyarakat luas
Hasil penelitian menunjukkan ada­
dalam mendukung para ODHA untuk tetap
nya bentuk komunikasi sosial yang
memiliki motivasi dan semangat hidup
meliputi komunikasi sosial langsung,
yang lebih baik. Koordinasi yang optimal
komunikasi sosial menggunakan media
dapat didukung dengan evaluasi terhadap
massa, dan komunikasi sosial fungsional.
setiap program kegiatan koordinasi yang
Bentuk-bentuk tersebut mengarah pada
telah diselenggarakan, mulai dari kampanye,
pelibatan unsur-unsur komunikasi sosial.
sosialisasi, pelatihan SDM, hingga akses
Proses komunikasi sosial yang dilakukan
pelayanan kesehatan bagi para ODHA,
memperlihatkan adanya hasil koordinasi
sehingga tingkat kelemahan yang menjadi
pemerintah daerah dengan beberapa dinas
hambatan terwujudnya Zero ODHA, seperti
terkait seperti Dinas Kesehatan, Dinas
Pariwisata dan Budaya, serta Yayasan AHF tagline Yayasan Matahati, dapat diketahui
dan Matahati yang peduli tentang HIV/ dan perda tersebut dapat terwujud untuk
AIDS. Hasil koordinasi ini dapat dilihat kawasan wisata Pangandaran.
dalam aktivitas yang melibatkan unsur DAFTAR RUJUKAN
komunikator, pesan, media, komunikan,
Fritantus, Y., & Rukminingsih, N. (2015).
dan efek yang diharapkan, yaitu mendorong
Implementasi kebijakan penanggulangan HIV
Pemkab Pangandaran untuk menetapkan
dan AIDS di Kota Surabaya: Kajian Peraturan
kebijakan publik berupa perda yang Daerah Kota Surabaya Nomor 4 Tahun 2013,
mengatur tentang pencegahan dan studi kasus di Puskesmas Putat Jaya, Kota
penanggulangan HIV/AIDS di kawasan Surabaya. Jurnal Penelitian Administrasi
wisata Pangandaran. Publik, 1(01), 175-183.

216
Hadi Suprapto Arifin, dkk. Komunikasi Sosial dalam ...

Gunadi, S. (2017). Peningkatan jumlah kasus hiv pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 14
di 2017, Banten waspada!! kpakabtangerang. tahun 2008 Kabupaten Malang. Jurnal
or.id. <http://www.kpakabtangerang.or.id/ Administrasi Publik, 3(1), 42–48.
2017/04/05/peningkatan-jumlah-kasus-hiv- Ramdhani, A., & Ramdhani, M. A. (2017). Konsep
di-2017-banten-waspada> umum pelaksanaan kebijakan publik. Jurnal
Islamy, M. I. (2002). Prinsip-prinsip perumusan Publik, 11(01), 1-12.
kebijakan negara. Jakarta, Indonesia: Bumi Ritzer, G., & Goodman, D. J. (2005). Teori sosiologi
Aksara. modern. Terjemahan Alimandan. Jakarta,
Kusnadi, A. (2017). Perlu ada payung hukum untuk Indonesia: Prenada Media.
program penanggulangan hiv aids. Pikiran- Rohman, A. T. (2016). Implementasi kebijakan
rakyat.com. <http://www.pikiran-rakyat.com/ melalui kualitas pelayanan penerimaan pajak
jawa-barat/2017/07/26/perlu-ada-payung- daerah dan implikasinya terhadap kepuasan
hukum-untuk-program-penanggulangan- masyarakat di Dinas Pendapatan Kabupaten
hivaids-406066> Kuningan. Disertasi. Universitas Pasundan,
Koshy, V. (2005). Action research for improving Bandung, Indonesia.
practice. London, UK: Paul Chapman Sugiyono. (2010). Metode penelitian pendidikan
Publishing. pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R & D.
Madlani. (2017). Dinkes Pangandaran harapkan Bandung, Indonesia: Alfabeta.
perda pencegahan dan penanggulangan Supriyatman, A. (2017). Pangandaran butuh perda
HIV/AIDS. Harapanrakyat.com. <http:// penanggulangan HIV/AIDS. Galamedianews.
www.harapanrakyat.com/2017/07/dinkes- com. <www.galamedianews.com/pangandaran-
pangandaran-harapkan-perda-pencegahan- butuh-perda-penanggulangan-hivaids.html>
dan-penanggulangan-hivaids/>
Sutaryo. (2005). Sosiologi komunikasi. Yogyakarta,
Marston, S. A. (2000). The social construction of scale. Indonesia: Arti Bumi Intaran.
Progress in Human Geography, 24(2), 219-242.
Vera, N., & Wihardi, D. (2012). “Jagongan” sebagai
Nugroho, A. (2011). Perancangan dan implementasi bentuk komunikasi sosial pada masyarakat
sistem basis data. Yogyakarta, Indonesia: PT. Solo dan manfaatnya bagi pembangunan
Andi. daerah. Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna,
Oby. (2017). Perda aids mendesak. Radartasikmalaya. 2(2), 40-46.
com <https://www.radartasikmalaya.com/berita/ Warto, W., & Rusmiyati, C. (2015). Study on
baca/22713/perda-aids-mendesak.html> Yogyakarta special territory government’s
Purnomo, D., Soeaidy, M. S., & Hadi, M. (2015). policy on HIV/AIDS prevention. Media
Analisis kebijakan penanggulangan HIV Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial,
dan AIDS di Kabupaten Malang: Studi 39(1), 55-66.

217
Jurnal
ILMU KOMUNIKASI VOLUME 15, NOMOR 2, Desember 2018: 203-218

218