Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kita
berbagai macam nikmat, sehingga aktifitas hidup yang kita jalani ini akan selalu
membawa keberkahan, baik kehidupan di alam dunia ini, lebih-lebih lagi pada
kehidupan akhirat kelak, sehingga semua cita-cita serta harapan yang ingin kita
capai menjadi lebih mudah dan penuh manfaat.

Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada Dosen serta
teman-teman sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moriil maupun
materil, sehingga makalah ini terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.
Kami menyadari sekali, didalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan serta banyak kekurangan-kekurangnya, baik dari segi tata bahasa
maupun dalam hal kelengkapan serta pengkonsolidasian kepada dosen serta
teman-teman sekalian, yang kadangkala hanya menturuti egoisme pribadi, untuk
itu besar harapan kami jika ada kritik dan saran yang membangun untuk lebih
menyempurnakan makalah-makah kami dilain waktu.

Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah, mudah-
mudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-
teman, serta orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau
mengambil hikmah dari judul ini sebagai tambahan dalam menambah referensi
yang telah ada.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................... 1

DAFTAR ISI…............................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.......................................................................... 3
B. Rumusan Masalah..................................................................... 3
C. Tujuan....................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN
A. Asal usul suku Nias.................................................................. 5
B. Marga Suku Nias...................................................................... 6
C. Bahasa Nias.............................................................................. 7
D. Rumah adat Nias....................................................................... 8
E. Baju adat Nias........................................................................... 8
F. Makanan dan minuman khas Nias............................................ 9
G. Alat musik daerah Nias............................................................. 9
H. Upacara adat suku Nias............................................................ 10
I. Kesenian daerah suku Nias....................................................... 11

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan................................................................................14
B. Saran.......................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 15

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara dengan beragam suku, budaya, ras,
agama.Dengan berbagai keragamannya membuat banyak pihak tertarik untuk
mengenal lebih dalam tentang setiap keragaman tersebut. Dalam hal ini saya
mengambil satu topik pembahasan dari sekian banyak keragaman suku di
Indonesia yaitu “SUKU NIAS”. Saya membahas topik ini karena saya juga
merupakan suku asli Nias, sehingga sebagai penduduk asli saya pun merasa
sangat tertarik untuk mengupas lebih dalam tentang suku saya sendiri dan
berbagai aspek-aspek yang berkaitan di dalamnya.
Pulau Nias yang terletak di sebelah barat pulau Sumatra lebih tepatnya
terletak kurang lebih 85 mil laut dari Sibolga, daerah Provinsi Sumatera Utara ini
dihuni oleh suku Nias atau mereka menyebut diri mereka “Ono Niha” yang masih
memiliki budaya megalitik. Pulau yang memiliki penduduk mayoritas Kristen
protestan telah dimekarkan menjadi empat kabupaten dan 1 kota, yaitu Kabupaten
Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan
Kota Gunungsitoli.
Pulau yang memiliki luas wilayah 5.625 kilometer persegi ini memiliki
keindahan alam dan pantai yang begitu mempesona. Selain itu beragam aspek lain
baik dalam sisi kesenian, budaya atau kebiasaan, makanan, kepercayaan dan lain
lain terdapat di Pulau Nias. Sehingga dengan berbagai keragamannya ini banyak
warga negara asing sering mengunjungi pulau ini untuk tujuan wisata dan juga
penelitian. Yang tentunya hal ini dpaat menambah eksistensi Suku Nias di negara
luar.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah asal usul suku nias ?
2. Apakah marga suku nias ?
3. BagaimanakahBahasa suku nias ?
4. Bagaimana rumah adat nias ?

3
5. Bagaimana baju adat nias ?
6. Apakah makanan dan minuman suku nias ?
7. Apakah alat music daerah nias ?
8. Bagaimanakah upacara adat daerah nias?
9. Bagaimana kesenian daerah nias?

C. Tujuan
1. Mengetahui asal usul suku nias
2. Mengetahui marga suku nias
3. Mengetahui Bahasa suku nias
4. Mengetahui rumah adat nias
5. Mengetahui baju adat nias
6. Mengetahui makanan dan minuman suku nias
7. Mengetahui alat music daerah nias
8. Mengetahui upacara adat daerah nias
9. Mengetahui kesenian daerah nias

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. ASAL USUL SUKU NIAS


Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Dalam
bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono =
anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö =
tanah).
1. Menurut Mitologi
Asal-usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut
"Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli
Ana'a". Menurut mitologi tersebut mengatakan kedatangan manusia pertama
ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra
yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Takhta Sirao.
Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang
menginjakkan kaki di Pulau Nias.
2. Menurut Penelitian Ilmiah
Penelitian ilmiah terakhir yang dilakukan untuk mengetahui asal-usul
masyarakat suku Nias adalah penelitian Deoksiribo Nukleat Acid (DNA).
Penelitian ini dilakukan oleh dua peneliti asal Belanda, yakni ahli genetika
Professor Ingo Kennerknecht dari University of Münster, Jerman, dan Mannis
van Oven, mahasiswa S-3 bidang Biologi Molekuler Forensik, Erasmus MC-
University Medical Center Rotterdam, Belanda. Professor Ingo Kennerknecht
mengumpulkan 407 sampel darah atau air liur orang Nias dari 11 klan atau
marga yang tersebar di Nias bagian Utara, Tengah hingga Selatan.
Pengambilan sampel dilakukan dalam kurun waktu tahun 2002 dan 2003.
Sampel kemudian dikirim ke laboratorium di Jerman untuk ekstraksi DNA,
lalu ekstraksi DNA tersebut dibawa ke Rotterdam untuk selanjutnya
dianalisis.oleh Professor Ingo dan Mannis Van Oven. Dari hasil penelitian
ini, Mannis Van Oven menduga orang Nias mewarisi gen mereka dari orang
Taiwan yang bermigrasi ke Indonesia melalui Filipina menuju Kalimantan
dan Sulawesi. Rute ini didukung bukti kemiripan DNA suku Nias dengan

5
penduduk Filipina. Orang Nias kemungkinan besar berasal dari Taiwan
sekitar 4000-5000 tahun yang lalu.

B. MARGA SUKU NIAS


Suku Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal).
Berdasarkan asal usul suku Nias secara mitologi, dikatakan bahwa Sirao memiliki
9 anak yang dianggap orang pertama yang menginjakkan kaki di pulau Nias. 4
dari anak Sirao dan seorang cucu dari anaknya tersebut berhasil menginjakkan
kaki di pulau Nias dengan selamat, sehingga menjadi leluhur mado (marga) orang
Nias zaman sekarang.
1. Hiawalangi Sinada atau disebut juga Hia Walangi Adu atau Hia
Walangi Luodan sering disingkat “Hia” diturunkan ke bumi yang luas
dan jatuh di daerah Gomo tepatnya di Börönadu.Hia adalah leluhur
marga Hia, Laia, Waruwu, Harefa, Telaumbanua, Gulö, Mendröfa, dan
lain-lain.
2. Gözö Hela-hela Danö, atau disingkat “Gözö” diturunkan ke bumi dan
jatuh di daerah bagian Utara Pulau Nias tepatnya di barat laut
Hilimaziaya Kecamatan Lahewa. Gözö merupakan leluhur marga Baeha,
Dawölö, dan lain-lain.
3. Daeli Bagambolangi atau disebut juga Daeli Sanau Talinga atau
Daeli Sanau Tumbo sering disingkat menjadi “Daeli” diturunkan ke
bumi yang luas dan jatuh di Tölamaera di Talu Nidanoi. Daeli
merupakan leluhur marga Daeli, Gea, Larosa, dan lain-lain.
4. Hulu Borodano atau Hulu , yang diturunkan di suatu tempat di
Laehuwa, (di tepi sungai Oyo), kecamatan Alasa. Hulu merupakan
leluhur marga Hulu, Nazara, Zaluchu, dan lain-lain.
5. Silögubanua atau disingkat Silögu diturunkan di bumi di sebelah Barat
Pulau Nias dan mendirikan perkampungan pertamanya di Hiambua (di
sebelah Timur Sungai Oyo). Silögubanua merupakan leluhur marga
Zebua, Zai, Zega, dan Iain-lain.

6
C. BAHASA NIAS
Bahasa Nias, atau Li Niha dalam bahasa aslinya, adalah bahasa yang
dipergunakan oleh penduduk di Pulau Nias. Bahasa ini dapat dikategorikan
sebagai bahasa yang unik karena merupakan salah satu bahasa di dunia yang
setiap akhiran katanya berakhiran huruf vokal. Bahasa Nias mengenal enam huruf
vokal, yaitu a, e, i, u, o dan ditambah dengan ö (dibaca dengan "e" seperti dalam
penyebutan "enam" dan "pepaya"). Abjad Bahasa Nias huruf besar dan huruf kecil
sebagai berikut :
Aa, Bb, Dd, Ee, Ff, Gg, Hh, Ii, Kk, Ll, Mm, Nn, Oo, Őő, Pp, Rr, Ss, Tt, Uu,
Ww, Ŵŵ, Yy, Zz,
huruf vokal (a, e, i, o, ő, u)
Huruf Konsonan (b, d, f, g, h, k, l, m, n, p, r, s, t, w, ŵ, y, z)
Huruf yang tidak ada dalam abjad bahasa Indonesia ( ő, ŵ)
Huruf yang tidak dipakai dari bahasa indonesia (c, j, q, v, x,)
Untuk menulis sebuah kalimat dalam bahasa nias, harus memperhatikan
beberapa aturan
1. Dalam penulisan kata yang terdapat huruf double harus menggunakan
tanda pemisah (‘) contoh kata : Ga’a ( abang.)
2. Semua kata dalam bahasa nias asli selalu ditutup oleh huruf vokal.
Contohnya “omasido khömö soroi ba dödö gu” yang artinya “Aku
menyukaimu dengan sunguh-sunguh
3. Beberapa kosakata :Ya'ahowu = Selamat (salam), ini digunakan baik di
pagi, siang maupun sore hari. Bahasa Nias tidak memiliki kebiasaan
membedakan salam berdasarkan waktu seperti halnya Selamat Pagi, Siang,
Sore, Malam ;Saohagölö = Terima kasih ; Hadia Duria? = Apa
Kabar? ;Manörö-nörö = Jalan-jalan ; Ya'o = Saya ; ya`ugö = Kamu ;
Ya'ami = Kalian ; Ya'ita = Kita ; Ya'ira = Mereka ; Ahono = Tenang,
Diam ; Aukhu =Panas

7
D. RUMAH ADAT NIAS
Rumah adat Nias (bahasa Nias: Omo Hada) adalah suatu bentuk rumah
panggung tradisional orang Nias, untuk masyarakat pada umumnya. Selain itu
terdapat pula rumah adat Nias jenis lain, yaitu Omo Sebua, yang merupakan
rumah tempat kediaman para kepala negeri (Tuhenori), kepala desa (Salawa), atau
kaum bangsawan.
Rumah panggung ini dibangun di atas tiang-tiang kayu nibung yang tinggi
dan besar, yang beralaskan rumbia. Bentuk denahnya ada yang bulat telur (di Nias
utara dan barat), ada pula yang persegi panjang (di Nias tengah dan
selatan).Bangunan rumah panggung ini tidak berpondasi yang tertanam ke dalam
tanah, serta sambungan antara kerangkanya tidak memakai paku, hingga
membuatnya tahan goyangan gempa.
Ruangan dalam rumah adat ini terbagi dua, pada bagian depan untuk
menerima tamu menginap, serta bagian belakang untuk keluarga pemilik rumah.
Di halaman muka rumah biasanya terdapat patung batu, tempat duduk batu untuk
berpesta adat,serta di lapangan desa ada batu-batu besar yang sering dipakai
dalam upacara lompat batu.Saat ini peninggalan batu dari masa Megalitik seperti
itu yang keadaannya masih baik dapat dilihat di desa-desa Bawomataluwo di
Hilisimaetano.

E. BAJU ADAT NIAS1


Pakaian adat suku Nias dinamakan Baru Oholu untuk pakaian laki-laki dan
Õröba Si’öli untuk pakaian perempuan. Pakaian adat tersebut biasanya berwarna
emas atau kuning yang dipadukan dengan warna lain seperti hitam, merah, dan
putih. Adapun filosofi dari warna itu sendiri antara lain:
1. Warna kuning yang dipadukan dengan corak persegi empat
(Ni’obakola) dan pola bunga kapas (Ni’obowo gafasi) sering dipakai oleh
para bangsawan untuk menggambarkan kejayaan kekuasaan, kekayaan,
kemakmuran dan kebesaran.

1
Daeli,Eunike.2003.baju adat nias. Diambil dari: https://sisteminformasipulaunias.
wordpress.com/category/baju-adat-nias/ (4 april 2018)

8
2. Warna merah yang dipadukan dengan corak segi-tiga (Ni’ohulayo/
ni’ogöna) sering dikenakan oleh prajurit untuk menggambarkan darah,
keberanian dan kapabilitas para prajurit.
3. Warna hitam yang sering dikenakan oleh rakyat tani menggambarkan
situasi kesedihan, ketabahan dan kewaspadaan.
4. Warna putih yang sering dikenakan oleh para pemuka agama kuno
(Ere) menggambarkan kesucian, kemurnian dan kedamaian

F. MAKANAN DAN MINUMAN KHAS NIAS


Makanan :1) Gowi Nihandro (Gowi Nitutu ; Ubi tumbuk) 2) Harinake
(daging babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil) 3) Godo-godo
(ubi / singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah
matang di taburi dengan kelapa yang sudah di parut) 4) Köfö-köfö(daging ikan
yang dihancurkan, diawaskan durinya lalu disajikan dengan santan kelapa atau
digoreng) 5) Ni'owuru (daging babi yang sengaja diasinkan agar bisa bertahan
lama) 6)Rakigae (pisang goreng) 7)Tamböyö (ketupat) 8) Gae nibogö (pisang
bakar)
Minuman :Tuo nifarö (tuak) adalah minuman yang berasal dari air sadapan
pohon nira (dalam bahasa Nias "Pohon Nira" = "töla nakhe" dan pohon kelapa
(dalam bahasa Nias "Pohon Kelapa" = "töla nohi") yang telah diolah dengan cara
penyulingan.

G. ALAT MUSIK DAERAH NIAS2


1. Göndra atau gendang dalam bahasa Indonesia adalah salah satu alat
musik tradisional khas suku nias, tidak jauh berbeda dengan gendang pada
umumnya göndra juga terbuat dari kulit sapi atau kerbau, suaranya juga
sama.
2. Aramba (gong) adalah jenis alat musik tradisional khas suku nias yang
terbuat dari logam besi, atau Kuningan, sama seperti gong pada umumnya
aramba juga di mainkan dengan cara dipukul dan mengeluarkan suara
yang sangat keras. Alat musik aramba biasa di gunakan pada saat upacara
2
Christy, Agnes. 2018.alat music tradisional suku nias. Diambil dari:
http://www.silontong.com/2018/02/07/alat-musik-tradisional-nias/ (4 april 2018)

9
adat, seperti upacara kematian siulu (raja), upacara owasa dan upacara adat
lainnya
3. Faritia adalah jenis alat musik yang mirip dengan talempong atau
gamelan. Faritia bisa juga di sebut gong mini atau kecil bahan dan cara
memainkannya sama seperti aramba.
4. Lagia adalah alat music yang hampir sama dengan rebab atau biola
bedanya lagia di mainkan dengan cara meletakkan nya diatas permukaan
tanah atau apasaja lalu di mainkan dengan cara di gesek.
5. Doli-doli adalah alat musik tradisional yang mirip dengan alat musik
kolintang yang berasal dari Sulawesi, hanya saja ukuran Doli-doli lebih
kecil daripada ukuran kolintang.

H. UPACARA ADAT SUKU NIAS


1. Upacara Kelahiran
Tradisi yang biasa di lakukan apabila anak pertama lahir adalah ayah dari
anak tersebut berkunjung kerumah mertua untuk menyampaikan bahwa
cucunya telah lahir. Pada upacara ini mertua diwajibkan membuat pesta
dengan memotong babi. Setelah si anak berumur maksimal 1 bulan, maka si
anak akan di beri nama (lafatoro doi). Upacara ini juga memotong seekor babi
untuk pesta keluarga dan masyarakat sekitar. Selanjutnya penyampaian ke
Ere atau Pendeta supaya sianak didoakan agar tetap sehat.

2. PERKAHWINAN3
i. Menjalin cinta (cari jodoh)
ii. Melamar Gadis Idaman, setelah setuju kedua belah pihak dengan
nilai besaran Mas Kawin atau Kejujuran (BOWO) maka proses
selanjutnya yaitu: penyerahan mas kawin kepada pihak wanita.
iii. Tunangan
iv. Pemberkatan nikah dan resepsi

3
Raharjo, Budi. 2000.adat pernikahan di nias. Diambil dari: www.kaskus.co.id (4 april 2018).

10
v. Acara adat dan penyerahan mempelai wanita kepada keluarga
mempelai laki-laki dengan mengangkat atau mengendong sang
mempelai wanita saat acara selesai.

3. Upacara Kematian
i. Famalikhisi/Fatomesa(Perjamuan Terakhir)
Famalakhisi adalah perjamuan terakhir bagi orangtua yang sudah
mau meninggal. Contohnya pada seorang ayah yang sudah hampir tiba
ajalnya,pada kesempatan ini si ayah dihidangkan daging babi. Upacara
ini harus dihadiri oleh putra-putranya terutama yang sulung,karna anak
sulung dipandang sebagai pengganti ayah dan pemimpin bagi saudara-
saudaranya nanti.Di saat terakhir seperti ini semua anak dan cucunya
juga datang untuk memberi penghormatan terakhir pada orangtua yang
hendak meninggal tersebut.Momen fatomesa ini merupakan peristiwa
berharga, karna ketaatan mereka pada orangtua tersebut mereka akan
mendapat berkat darinya dan hidupnya akan lebih baik.

ii. Fangas
Fangasi bisa juga disebut fangasiwai artinya penyelesaian. Maka
fangasi ini bisa dikatakan lebih menekankan pada penyelesaian upacara
bagi orang yang telah meninggal. Fangasi ini adalah semacam pesta bagi
orang yang masih hidup sebagai tanda bahwa mereka sudah merelakan
kepergian almarhum. Pesta ini biasanya diadakan empat hari setelah yang
meninggal dikuburkan

I. KESENIAN DAERAH NIAS


1. Tarian Tradisional Nias
i. Fanari Moyo(Tari elang)
ii. Maena
iii. Fatele(Tari Baluse)

11
iv. Tari Ya’ahowu
v. Tari Mogaele(Fame afo)
vi. Tari Tuwu

2. Hombo Batu
Lompat batu (hombo batu) merupakan tradisi yang sangat populer pada
masyarakat Nias di Kabupaten Nias Selatan. Tradisi ini telah dilakukan sejak
lama dan diwariskan turun temurun oleh masyarakat di Desa Bawo Mataluo
(Bukit Matahari).Tradisi lompat batu sudah dilakukan sejak jaman para
leluhur , di mana pada jaman dahulu mereka sering berperang antar suku
sehingga mereka melatih diri mereka agar kuat dan mampu menembus
benteng lawan yang konon cukup tinggi untuk dilompati.
Seiring berkembangnya jaman, tradisi ini turut berubah fungsinya.Karena
jaman sekarang mereka sudah tidak berperang lagi maka tradisi lompat batu
digunakan bukan untuk perang lagi melainkan untuk ritual dan juga sebagai
simbol budaya orang Nias.Tradisi lompat batu adalah ritus budaya untuk
menentukan apakah seorang pemuda di Desa Bawo Mataluo dapat diakui
sebagai pemuda yang telah dewasa atau belum.
Para pemuda itu akan diakui sebagai lelaki pemberani apabila dapat
melompati sebuah tumpukan batu yang dibuat sedemikian rupa yang
tingginya lebih dari dua meter.Ada upacara ritual khusus sebelum para
pemuda melompatinya. Sambil mengenakan pakaian adat, mereka berlari
dengan menginjak batu penopang kecil terlebih dahulu untuk dapat melewati
bangunan batu yang tinggi tersebut

12
13
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Suku nias masih memiliki beragam budaya yang masih sangat kental dengan
kedaerahan mulai dari asal usul, marga, bahas, rumah adat, baju adat, makanan
khas, alat music, upacara adat, kesenian baik seni tari maupun hombo batu
peninggalan budaya berupa artefak sejak zaman megalithikum, dan destinasi
wisata pulau nias yang sangat indah dan memukau hingga ke mancanegara, dan
merupakan salah satu asset yang perlu dijaga kelestariannya.

B. SARAN
Dengan berbagai penjelasan dalam makalah ini tentang suku Nias, kami
sebagai pembuat makalah sangat berharap semoga makalah ini bisa menjadi
sumber penambah wawasan kita tentang suku Nias dan berbagai kebudayaan
didalamnya. Dan juga kami berharap dengan salah satu suku yang kami bahas
dapat menjadi motivasi bagi kita untuk semakin menjaga kelestarian keberagaman
suku-suku dan kebudayaan lain yang ada di Indonesia.

14
DAFTAR PUSTAKA

Raharjo, Budi. 2000.adat pernikahan di nias. Diambil dari: www.kaskus.co.id (4


april 2018)

Waruwu, Yohanes. 2014.rumah adat Nias. Diambil dari: www.arsitag.com (4


april 2018)

Christy, Agnes. 2018.alat music tradisional suku nias. Diambil dari:


http://www.silontong.com/2018/02/07/alat-musik-tradisional-nias/ (4 april 2018)

Zendrato, Aldo.2001.artefak megalit di nias. Diambil dari: http://www.museum-


nias.org/pameran/ (4 april 2018)

Daeli,Eunike.2003.baju adat nias. Diambil dari: https://sisteminformasipulaunias.


wordpress.com/category/baju-adat-nias/ (4 april 2018)

15