Anda di halaman 1dari 3

1.

Pengertian Korupsi

Korupsi berasal dari kata latin Corrumpere, Corruptio, atau Corruptus. Arti harfiah dari kata tersebut
adalah penyimpangan dari kesucian (Profanity), tindakan tidak bermoral, kebejatan, kebusukan,
kerusakan, ketidakjujuran atau kecurangan. 

Kumorotomo, berpendapat bahwa “Korupsi adalah penyelewengan tanggung jawab kepada


masyarakat, dan secara faktual korupsi dapat berbentuk penggelapan, kecurangan atau manipulasi”.
Lebih lanjut Kumorotomo mengemukakan bahwa korupsi mempunyai karakteristik sebagai kejahatan
yang tidak mengandung kekerasan (non-violence) dengan melibatkan unsur-unsur tipu muslihat (guile),
ketidakjujuran (deceit) dan penyembunyian suatu kenyataan (concealment).

Korupsi berdasarkan pemahaman pasal 2 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang diubah
menjadi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 merupakan tindakan melawan hukum untuk
memperkaya diri sendiri/orang lain (perseorangan atau sebuah korporasi) , yang secara langusng
maupun tidak langsung merugikan keuangan atau prekonomian negara, yang dari segi materiil
perbuatan itu dipandang sebagai perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai keadilan masyarakat.

2. Dampak dari Korupsi

Secara aksiomatik, akibat korupsi dapat dijelaskan seperti berikut:

a. Bahaya korupsi terhadap masyarakat dan individu.

Jika korupsi dalam suatu masyarakat telah merajalela dan menjadi makanan masyarakat setiap hari,
maka akibatnya akan menjadikan masyarakat tersebut sebagai masyarakat yang kacau, tidak ada sistem
sosial yang dapat berlaku dengan baik. Setiap individu dalam masyarakat hanya akan mementingkan diri
sendiri (self interest), bahkan selfishness. Tidak akan ada kerjasama dan persaudaraan yang tulus.

 b. Bahaya korupsi terhadap generasi muda.

Salah satu efek negatif yang paling berbahaya dari korupsi pada jangka panjang adalah rusaknya
generasi muda. Dalam masyarakat yang korupsi telah menjadi makanan sehari-harinya, anak tumbuh
dengan pribadi antisosial, selanjutnya generasi muda akan menganggap bahwa korupsi sebagai hal biasa
(atau bahkan budayanya), sehingga perkembangan pribadinya menjadi terbiasa dengan sifat tidak jujur
dan tidak bertanggungjawab. 

c. Bahaya korupsi terhadap politik.

Kekuasaan politik yang dicapai dengan korupsi akan menghasilkan pemerintahan dan pemimpin
masyarakat yang tidak legitimate di mata publik. Jika demikian keadaannya, maka masyarakat tidak akan
percaya terhadap pemerintah dan pemimipin tersebut, akibatnya mereka tidak akan akan patuh dan
tunduk pada otoritas mereka. 

d. Bahaya korupsi terhadap ekonomi

Korupsi merusak perkembangan ekonomi suatu bangsa. Jika suatu projek ekonomi dijalankan sarat
dengan unsur-unsur korupsi (penyuapan untuk kelulusan projek, nepotisme dalam penunjukan
pelaksana projek, penggelepan dalam pelaksanaannya dan lain-lain bentuk korupsi dalam projek), maka
pertumbuhan ekonomi yang diharapkan dari projek tersebut tidak akan tercapai.
e. Bahaya korupsi terhadap birokrasi

Korupsi juga menyebabkan tidak efisiennya birokrasi dan meningkatnya biaya administrasi dalam
birokrasi. Jika birokrasi telah dikungkungi oleh korupsi dengan berbagai bentuknya, maka prinsip dasar
birokrasi yang rasional, efisien, dan kualifikasi akan tidak pernah terlaksana.

3. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia

Ada beberapa upaya yang dapat ditempuh dalam memberantas tindak korupsi di Indonesia, antara
lain sebagai berikut :

a. Upaya Preventif (Pencegahan)

1) Menanamkan semangat nasional yang positif dengan mengutamakan pengabdian pada bangsa dan
negara melalui pendidikan formal, informal dan agama.

2) Melakukan penerimaan pegawai berdasarkan prinsip keterampilan teknis.

3) Para pejabat dihimbau untuk mematuhi pola hidup sederhana dan memiliki tanggung jawab yang
tinggi.

4) Para pegawai selalu diusahakan kesejahteraan yang memadai dan ada jaminan masa tua.

5) Menciptakan aparatur pemerintahan yang jujur dan disiplin kerja yang tinggi.

b. Upaya Kuratif (Penindakan)

Upaya penindakan, yaitu dilakukan kepada mereka yang terbukti melanggar dengan diberikan
peringatan, dilakukan pemecatan tidak terhormat dan dihukum pidana.

c. Upaya Edukasi Masyarakat/Mahasiswa

1) Memiliki tanggung jawab guna melakukan partisipasi politik dan kontrol sosial terkait dengan
kepentingan publik.

2) Tidak bersikap apatis dan acuh tak acuh.

3)  Melakukan kontrol sosial pada setiap kebijakan mulai dari pemerintahan desa hingga ke tingkat
pusat/nasional.

4) Membuka wawasan seluas-luasnya pemahaman tentang penyelenggaraan pemerintahan negara dan


aspek-aspek hukumnya.

5) Mampu memposisikan diri sebagai subjek pembangunan dan berperan aktif dalam setiap
pengambilan keputusan untuk kepentingan masyarakat luas.

4. Kasus Korupsi

Salah satu contoh kasus Korupsi di Indonesia adalah ”Korupsi Anggaran Rehab Sekolah yang dilakukan
Mantan Kepala Sekolah Mesuji”
Mantan Kepala Sekolah SMAN 1 Mesuji, Zamzari (39) dituntut selama dua tahun penjara terkait perkara
dugaan korupsi dana rehab sekolah.
"Menyatakan terdakwa Zamzari terbukti sebagaimana pada dakwaan subsider Pasal 3 dan Pasal 8 Jo
Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi," kata
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Bangkit Budi Satya saat membacakan tuntutan di Pengadilan Tipikor
Tanjung Karang, Kamis (5/3/2020).
Bangkit meminta kepada Majelis Hakim untuk menjatuhkan hukuman kepada terdakwa selama dua
tahun penjara dikurangi masa dalam tahanan dan denda sebesar Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan.
Selain itu, terdakwa juga dituntut untuk mengembalikan uang kerugian negara sebesar Rp112,550 juta.
"Apabila tidak diganti, maka digantikan dengan hukuman penjara selama 1 tahun," tandasnya.
Ia melanjutkan, berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) penghitungan kerugian negara Badan
Pemeriksa Keuangan RI terdapat kerugian negara sebesar Rp112,5 juta untuk pelaksanaan bantuan
pemerintah rehabilitasi ruang belajar di sekolah milik terdakwa.
Lanjut Bangkit, perbuatan terdakwa dilakukan sekitar bulan Januari 2017, dimana saat itu SMAN 1
Mesuji Lampung menerima bantuan rehabilitasi tiga ruang belajar.
Selanjutnya, kata Bangkit, dana yang diterima untuk bantuan rehabilitasi 3 ruang belajar belajar sebesar
Rp150 juta. "Dengan rincian pekerjaan fisik senilai Rp141,7 juta, jasa perencanaan senilai Rp4,5 juta, jasa
pengawasan senilai Rp3 juta, dan perjalanan dinas senilai Rp800 ribu," beber Bangkit
Namun faktanya berdasarkan keterangan penyedia bahan material, tukang dan didukung dengan nota
asli pembelian bahan material, dana yang digunakan untuk rehab telah di markup terdakwa.

5. Kesimpulan

Korupsi merupakan tindakan melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri/orang lain (perseorangan
atau sebuah korporasi), yang secara langsung maupun tidak langsung merugikan keuangan atau
prekonomian negara, yang dari segi materiil perbuatan itu dipandang sebagai perbuatan yang
bertentangan dengan nilai-nilai keadilan masyarakat. Korupsi berakibat sangat berbahaya bagi
kehidupan manusia, baik dalam aspek kehidupan sosial, politik, birokrasi, ekonomi, dan
individu. Beberapa upaya yang dapat ditempuh dalam memberantas tindak korupsi di Indonesia, antara
lain: upaya pencegahan (preventif), upaya penindakan (kuratif), dan upaya edukasi
masyarakat/mahasiswa.