Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Ucapan syukur selalu penulis munajatkan kepada Allah SWT yang dengan ridho
serta hidayah-Nya senantiasa melimpahkan rahmat kepada penulis sehingga penulis
dapat menyelesaika makalah tugas Teknologi Pengelasan Kapal 2 yang berjudul
“Pengelasan MMAW/SMAW pada saluran pipa baja”
Dengan selesainya penulisan makalah Praktek Bengkel Perkakas ini dalam
rangka menyelesaikan tugas dari Bapak Eko Julianto Sasono, SH, AT, MT.

Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan
masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini
nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat
banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Wasalamualaikum Wr. Wb.

Semarang, 20 April 2019

Prasetio Prakoso

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................................1
BAB I...........................................................................................................................................3
PENDAHULUAN.......................................................................................................................3
I. LATAR BELAKANG....................................................................................................3
BAB II.........................................................................................................................................4
PEMBAHASAN.........................................................................................................................4
2.1 Saluran Pipa.................................................................................................................4
(1) Posisi pengelasan............................................................................................................4
(2) Proses pengelasan...........................................................................................................5
(3) Bentuk alur.....................................................................................................................9
2.2 Persiapan Pengelasan.................................................................................................9
(1) Persyaratan sudut alur....................................................................................................9
(2) Penyetelan dan perakitan...............................................................................................9
(3) Las ikar..........................................................................................................................11
2.3 Pengelasan Pipa..............................................................................................................11
(1) Pengelasan Akar............................................................................................................11
(2) Las isi dan las akhir......................................................................................................12
(3) Pemanasan sebelum dan sesudah pengelasan.............................................................14
(4) Hal-hal lain....................................................................................................................14
BAB III......................................................................................................................................15
PENUTUP.................................................................................................................................15
3.1 Kesimpulan.....................................................................................................................15
3.2 Saran...............................................................................................................................15
3.3 Daftar Pustaka................................................................................................................15

2
BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Pengelasan (welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan logam
dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa
tekanan dan dengan atau tanpa logam penambah dan menghasilkan sambungan
yang kontinyu. Pengelasan (welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan
logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau
tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam penambah dan menghasilkan sambungan
yang continue. Pengelasan bukan tujuan utama dari kontruksi, tetapi hanya merupakan
sarana untuk mencapai ekonomi pembuatan yang lebih baik. Karena itu rancangan las
dan cara pengelasan harus betul-betul memperhatikan dan memperlihatkan
kesesuaian antara sifat-sifat lasdengan kegunaan kontruksi serta kegunaan
disekitarnya. Dewasa ini terdapat beberapa jenis pengelasan yang telah
ditemukan dan diaplikasikan oleh orang – orang. Salah satunya adalah jenis las SAW
(Submerged Arc Welding). Las jenis ini merupakan las yang digunakan untuk proses
penyambungan material yang berada di bawah laut. Submerged Arc Welding memiliki
sifat dan prosedur yang harus dimengerti oleh tukang las agar hasil dari pekerjaannya
dapat dikatakan baik. Prosedur las ini juga berkaitan dengan masalah keselamatan, serta
pemilihan jenis electrode yang tepat untuk mengelas material yang berbeda di bawah
air. Dikarenakan pentingnya pemahaman mengenai dunia pengelasan,
khususnya pengelasan bawah air, maka penulis berinisiatif untuk menyusun makalah
yang berisikan informasi mengenai Submerged Arc Welding.

Shielded Metal Arc Welding (SMAW) dikenal juga dengan istilah Manual Metal
ArcWelding (MMAW) atau Las elektroda terbungkus adalah suatu proses
penyambungan duakeping logam atau lebih, menjadi suatu sambungan yang tetap,
dengan menggunakan sumber panas listrik dan bahan tambah/pengisi berupa elektroda
terbungkus.

Pada proses las elektroda terbungkus, busur api listrik yang terjadi antara ujung
elektrodadan logam induk/benda kerja (base metal) akan menghasilkan panas. Panas
inilah yangmencairkan ujung elektroda (kawat las) dan benda kerja secara setempat.

3
Busur listrikyang ada dibangkitkan oleh mesin las.Elektroda yang dipakai berupa kawat
yangdibungkus oleh pelindung berupa fluks.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1Saluran Pipa

Saluran pipa adalah suatu alat transportasi untuk memindahkan cairan atau gas seperti
minyak mentah, air, gas alam dan lain-lainnya. Saluran pipa dibagi dalam dua macam
yaitu saluran hantar dan saluran pembagi. Sistem saluran pipa di dalam pabrik, karena
syarat instalasi yang berbeda biasanya tidak dimasukkan dalam kelompok saluran pipa.

Pengelasan saluran pipa adalah pengelasan penyambungan yang dilakukan di lapangan.


Karena itu pengelasan selama proses pembuatan pipanya sendiri tidak termasuk dalam
klasifikasi ini. Karena kekhususannya tersebut maka dalam pen saluran pipa ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti dijelaskan berikut ini. Pertama, karena
pengelasan hanya dilakukan dari satu pihak saja, yaitu pihak luar, maka mutu dari las
akar harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Kedua, karena bila ada kerusakan
akan mengganggu seluruh sistem maka kekuatan dan mutunya harus terjamin

(1) Posisi pengelasan

(sumber: https://www.pengelasan.net/posisi-pengelasan/)
Posisi pengelasan tergantung dari pada penempatan pipanya yaitu penempatan mendatar
dan penempatan tegak seperti ditunjukkan dalam Gbr. 8.75. Inipun masih dibedakan

4
pipanya dapat diputar atau tidak. Biasanya yang paling banyak adalah pengelasan pipa
datar diam, baru kemudian pipa tegak diam dan kadang-kadang dapat diputar

(a)Pipe datar diam. (b) Pipa tegak diam

(2) Proses pengelasan

Proses pengelasan yang dapat digunakan untuk saluran pipa adalah las busur listrik
dengan pelindung fluks yang dalam bahasa Inggrisnya adalah flux shielded metal are
yang disingkat dengan SMA, las busur logam dengan pelindung gas yang bahasa
Inggrisnya adalah Gas shielded Metal Arc dan disingkat GMA dan las busur wolfram
dengan pelindung gas dengan bahasa Inggris Gas Tungsten Arc dan disingkat GTA.
Dari proses pengelasan tersebut di atas yang terbanyak digunakan adalah las SMA

gelasan turun dengan menggunakan elektroda jenis selulosa. Untuk pipa dari baja kuat
biasanya digunakan elektroda jenis hidrogen rendah.

Pada umumnya pengelasan naik jarang dilaksanakan karena kecepatan pengelasannya


menjadi rendah. Tetapi untuk keperluan tertentu seperti pengelasan pipa tebal dan
pengelasan di stasiun pipa ini sering digunakan. Proses pengelasan ini ditunjukkan
dalam Gbr. 8.76, 8.77 dan Gbr. 8.78.

5
Gbr. 8.76 Pengelasan vertikal naik (SMA).

(sumber: https://alumnimuhngawengk.blogspot.com/2014/09/pengertian-las-asetilin-las-
karbit.html)

Gbr. 8.77 Pengelasan vertikal naik pada lubang peluapan (SMA).

6
Gbr. 8.78 Pengelasan GMA semi-otomatik pada lubang peluapan

Gbr. 8.79 Bentuk alur pada pengelasan pipa

7
Gbr. 8.80 Bentuk alur untuk las TIG

Gbr. 8.81 Bentuk alur untuk Las GMA otomatik.

Tabel 8.31 Spesifikasi baja untuk pipa saluran.

Las GMA baik yang otomatik maupun yang semi otomatik banyak sekali digunakan,
sedang las GTA dengan tangan atau otomatik digunakan pada pengelasan akar guna
menjamin mutu lapisan las akar.

8
Bahan pipa yang utama adalah baja karbon atau baja paduan rendah dengan spesifikasi
menurut standar tertentu. Sifat-sifat bahan pipa dapat dilihat dalam Tabel 8.31.

9
(3) Bentuk alur
Bentuk alur yang sering dilaksanakan dalam pengelasan pipa ditunjukkan dalam Gbr.
8.79. Pada umumnya digunakan alur bentuk V dengan sudut miring 30 dan dalam akar
(1,6 +0,8) mm. Dalam las TIG atau las GTA dan las GMA otomatik dilaksanakan juga
bentuk alur khusus seperti ditunjukkan dalam Gbr. 8.80 dan Gbr. 8.81.

2.2 Persiapan Pengelasan


Persiapan sebelum pengelasan merupakan bagian yang penting dalam pengelasan pipa
terutama karena pengelasannya hanya dilakukan dari satu pihak saja. Beberapa
persiapan penting dijelaskan di bawah ini.

(1) Persyaratan sudut alur

Pipa-pipa saluran biasanya diterima dengan ujung-ujungnya sudah dipotong sesuai


dengan sudut alur. Sebelum pengelasan dilaksanakan bentuk dan keadaan permukaan
sudut ini harus diperiksa, dibersihkan dan bila perlu direparasi. Dalam mengelas pipa
dengan bagian lain yang berbeda tebalnya yang harus disesuaikan adalah lubang
dalamnya. Penyesuaian dan hal-hal lain yang penting harus mengikuti spesifikasi yang
telah ditentukan.

(2) Penyetelan dan perakitan

Dalam pengelasan lingkar pipa yang penting adalah penyetelan dan perakitan pipa
sehingga celah akar alur sesuai dengan persyaratan dan tidak berubah selama penge
lasan. Dengan cara ini akan didapat mutu las akar yang baik.

Untuk keperluan pengelasan pipa digunakan alat perakit atau alat bantu luar seperti
yang ditunjukkan dalam Gbr. 8.82 dan alat bantu dalam seperti terlihat dalam Gbr. 8.83.
Alat perakit dalam lebih sering digunakan karena dalam pemakaiannya memungkinkan
untuk menghindari las ikat. Dalam hal ini biasanya alat perakit baru dilepaskan setelah
pengelasan akar selesai.

10
(sumber: http://secarikilmu.blogspot.com/2009/03/menjelaskan-mesin-las-gas-metal-
berikut.html)

(sumber: http://secarikilmu.blogspot.com/2009/03/menjelaskan-mesin-las-gas-metal-
berikut.html)

11
Gbr 8.82 Alat perakit luar.

Gbr. 8.83 Alat perakit dalam

(3) Las ikar

Dalam pengelasan pipa satu pihak, las ikat akan merupakan bagian las akar. Karena itu
mutu las ikat paling tidak harus sama atau lebih baik dari pada las utamanya.
Banyaknya las ikat harus sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan terjadinya
perubahan penyetelan pada waktu pengelasan utamanya. Untuk menghindari retak,
panjang lasikat harus antara 2 sampai 5 cm tergantung dari besarnya garis tengah pipa

dan harus sama jaraknya di seluruh keliling pipa.

2.3 Pengelasan Pipa

(1) Pengelasan Akar

(a) Pemakaian las SMA: Pada pengelasan akar turun untuk mendapatkan penembusan
yang baik biasanya digunakan las SMA dengan elektroda jenis hidrogen rendah.
Sedangkan untuk pengelasan naik biasanya digunakan las SMA dengan elektroda
tembus jenis hidrogen rendah. Beberapa contoh sambungan dasar dapat dilihat dalam
Gbr. 8.79 dan syarat pengelasannya dicantumkan dalam Tabel 8.32.

Tabel 8.32 Kondisi pengelasan tembus


12
Untuk mendapatkan laju pengelasan yang tinggi, antara 50 sapai 70 cm/menit dapat
digunakan las SMA dengan elektroda jenis selulosa yang sesuai dengan spesifikasi dari
standar AWS no. E-6010. Dalam pengelasan ini lapisan las yang kedua harus segera
dilaksanakan, karena itu las ini disebut las panas. Selisih waktu antara las akar dan las
panas harus ditentukan dalam prosedur pengelasan. Beberapa syarat pengelasan SMA
dengan elektroda jenis selulosa dicantumkan dalam Tabel 8.33.

Tabel 8.33 Kondisi pengelasan turun dengan elektroda jenis selulosa

(b) Pemakaian las GMA: Las GMA semi otomatik dengan gas pelindung cam puran
antara 00, dan Ar digunakan juga dalam pengelasan akar. Proses las ini memberikan
laju pengelasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan las SMA, tetapi memerlukan
juru las yang lebih trampil. Untuk pengelasan akar biasanya digunakan arus hubungan
singkat. Dalam tahun-tahun akhir ini untuk pengelasan pipa digunakan juga las GMA
otomatik. Untuk mendapatkan efisiensi pengelasan yang tinggi pada pipa biasanya
dibuat alur khusus yang memberikan luas penampang alur yang kecil

(c) Pemakaian las TIG: Las TIG biasanya digunakan untuk pengelasan pipa yang
terbuat dari baja paduan, baja tahan karat atau logam bukan baja. Tetapi kadang. kadang
digunakan juga untuk pengelasan pipa baja karbon rendah. Las TIG untuk pipa dapat
dilakukan dengan logam pengisi, tanpa logam pengisi atau dengan cincin pengisi
Sambungan dengan cincin pengisi dapat dilihat dalam Gbr. 8.84.

(d) Penggunaan cincin penahan: Dalam pengelasan pipa kadang-kadang digu. nakan
cincin penahan yang tidak turut mencair seperti yang ditunjukkan dalam Gbr. 8.85. Bila
menggunakan tembaga sebagai pembantu, harus diusahakan agar tembaga tidak mencair
dan tidak bercampur dengan logam pengisi, karena hal ini akan mempermudah
terjadinya retak.

13
(2) Las isi dan las akhir
Setelah selesai las akar, maka selanjutnya alur las harus diisi dengan las isi dan
kemudian diselesaikan dengan las akhir. Pelaksanaan las isi dan las akhir tidak sesukar
seperti pelaksanaan las akar. Dalam hal ini bahan las harus sesuai dengan bahan pipa
dan jumlah lapisan las dapat diatur oleh tebalnya las isi. Sedangkan tebal lapisannya
tergantung dari posisi pengelasan. Las akhir, yang membentuk kepala manik harus
mempunyai ketinggian tertentu dari kaki manik sehingga dapat memberikan penguatan
yang diperlukan. Dalam hal pengelasan SMA, walaupun las isinya dilaksanakan dengan
las lurus, las akhirnya atau kepala maniknya sebaiknya dilakukan dengan las anyam dan
harus diusahakan jangan terjadi takikan yang terlalu dalam.

14
Gbr. 8.84 Penggunaan cincin pengisi

Gbr. 8.85 Geometri sambungan dengan cincin penahan

15
(3) Pemanasan sebelum dan sesudah pengelasan

Pemanasan mula yang dilaksanakan sebelum pengelasan perlu untuk pipa yang dibuat
dari baja kuat atau bila pengelasan dilakukan dengan elektroda jenis selulosa Lamanya
dan suhu pemanasannya tergantung dari bahan, tebal dinding, proses las dan bahan las
yang digunakan. Dalam hal pipa yang dibuat dari baja lunak biasanya tidak diperlukan
pemanasan mula.

Pemanasan sesudah pengelasan biasanya tidak diperlukan dalam pengelasan pipa


saluran, kecuali bila dipersyaratkan untuk menurunkan kekerasan yang harus dilaksa
nakan segera setelah pengelasan selesai.

(4) Hal-hal lain

Bila cuaca sedang berangin keras atau hujan sedang turun, sebaiknya pengelasan tidak
dilakukan kecuali bila sudah diadakan persiapan seperlunya. Dalam hal meng. gunakan
pengelasan dengan pelindung gas seperti las GMA dan las TIG sebaiknya selalu
menggunakan pelindung angin.

Dalam mengelas pipa di atas tanah, harus ada jarak antara pipa dan permukaan tanah
yang lebih dari 40 cm.

16
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari tulisan-tulisan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Pengelasan
(welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan
sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau
tanpa logam penambah dan menghasilkan sambungan yang kontinu. Pengelasan
(welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan
sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau
tanpa logam penambah dan menghasilkan sambungan yang continue.
Dan dari pembahasan diatas kta jadi mengetahui Proses pegelasan , posisi
pengelasan serta jika ada cacat-cacat pada pengelasan bagaimana cara memperbaiki nya
dan mencegahnya.

3.2 Saran
masih banyak kekurangan, diharapkan kepada pembaca untuk mampu
mengambil dan memahami proses pengelasan, posisi pengelasan, dan mencegah
kecacatan/kegagalan dalam mengelas pipa baja.

3.3 Daftar Pustaka


Teknologipengelasanlogamkaryaharsono-1.pdf

17