Anda di halaman 1dari 24

Makalah Syndrome Nyeri : Plexopaties dan Sensitization

Tugas Ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas


Perawatan di Rumah
Dosen : Ns. Rika Harini M.kep.,Sp.Kep.An.,

Di susun :
Kelompok 7

1. Anisha Fitria (0432950317005)


2. Arrahma Nurfadilah (0432950317006)
3. Ida Rahma Putri M (0432950317025)
4. Lilis apriyani (0432950317032)
5. Marpuatun jamilah (0432950317035)
6. Nur fadilah (0432950317044)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANI SALEH


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
Jalan RA Kartini No. 66 Kota Bekasi
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena kami
dapat menyelesaikan makalah ini. Penyusunan makalah ini disusun untuk memenuhi
tugas mata kuliah Perawatan dirumah selain ini tujuan dari penyusunan makalah ini
juga untuk menambah wawasan secara meluas.

Dalan menyelesaikan makalah ini, kami telah banyak mendapatkan bantuan


masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kami ingin
menyampaikan banyak terima kasih kepada Ns. Rika Harini, M.Kep., Sp.Kep.An.,

Kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan


dalam penulisan dan penyusunan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan
saran yang membangun guna memperbaiki kesalahan dimasa yang akan datang.

Bekasi, 09 Maret 2020

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................i

DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii

BAB I.........................................................................................................................................1

PENDAHULUAN......................................................................................................................1

1.1 Latar Belakang.............................................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah........................................................................................................................2

1.3 Tujuan Masalah...........................................................................................................................2

BAB II...................................................................................................................................................3

PEMBAHASAN...................................................................................................................................3

2.1 Definisi Nyeri..............................................................................................................................3

2.2 Klasifikasi Nyeri..........................................................................................................................9

2.3 Syndrome Nyeri.........................................................................................................................10

2.4 Perbedaan Manajemen Nyeri.....................................................................................................12

2.5 Pengkajian Nyeri Secara Komperhensif....................................................................................14

2.6 Tindakan Farmakologis dan Non Farmakologis........................................................................16

2.7 Penanganan Nyeri Akut.............................................................................................................17

BAB III................................................................................................................................................20

PENUTUP...........................................................................................................................................20

3.1 Kesimpulan................................................................................................................................20

3.2 Saran..........................................................................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................21

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Karakteristik paling subyektif pada nyeri adalah tingkat keparahan atau
intensitas nyeri tersebut. Klien seringkali diminta untuk mendeskripsikan nyeri
sebagai yang ringan, sedang atau parah. Namun, makna istilah-istilah ini berbeda bagi
perawat dan klien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga sulit untuk dipastikan.
Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih
obyektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan
sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun
dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari “tidak
terasa nyeri” sampai “nyeri yang tidak tertahankan”. Perawat menunjukkan klien
skala tersebut dan meminta klien untuk memilih intensitas nyeri trbaru yang ia
rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan
seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. Alat VDS ini memungkinkan
klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan nyeri. Skala penilaian numerik
(Numerical rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi
kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling
efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi
terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka direkomendasikan
patokan 10 cm (AHCPR, 1992).
Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi. VAS
adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan
pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh
untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran
keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik
pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (Potter, 2005).
Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan
tidak mengkomsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien dapat
membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat. Skala
deskritif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan nyeri, tapi
juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat dapat menggunakan setelah

1
terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai apakah nyeri mengalami
penurunan atau peningkatan (Potter, 2005).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan definisi nyeri ?
2. Apa saja klasifikasi pada nyeri ?
3. Apa saja syndrome nyeri yang lazim terjadi ?
4. Apa saja perbedaan manajemen nyeri ?
5. Bagaimana Pengkajian Nyeri Secara Komperhensif ?
6. Apa saja tindakan farmakologis dan Non farmakologis ?
7. Bagaimana penanganan nyeri akut ?
1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui definisi nyeri
2. Untuk mengetahui klasifikasi nyeri
3. Untuk mngetahui sindrom nyeri yang lazim terjadi
4. Untuk mngetahui perbedaan manajemen nyeri
5. Untuk mengetahui pengkajian nyeri secara komprehensif
6. Untuk mengetahui tindakan farmakologis dan non farmakologis
7. Untuk mengetahui penanganan nyeri akut

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Nyeri
Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan
ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori
subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan
kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi
terjadinya kerusakan.
Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang
nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas
dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial
merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomis reseptor nyeri
(nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf
perifer.
Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam beberapa
bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada
daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga
memiliki sensasi yang berbeda.
Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri yang berasal dari
daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan. Reseptor jaringan kulit
(kutaneus) terbagi dalam dua komponen yaitu :
1. Reseptor A delta
Merupakan serabut komponen cepat (kecepatan tranmisi 6-30 m/det) yang
memungkinkan timbulnya nyeri tajam yang akan cepat hilang apabila penyebab
nyeri dihilangkan.
2. Serabut C
Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan tranmisi 0,5 m/det) yang
terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri biasanya bersifat tumpul dan sulit
dilokalisasi. Struktur reseptor nyeri somatik dalam meliputi reseptor nyeri yang
terdapat pada tulang, pembuluh darah, syaraf, otot, dan jaringan penyangga
lainnya. Karena struktur reseptornya komplek, nyeri yang timbul merupakan
nyeri yang tumpul dan sulit dilokalisasi.

3
Reseptor nyeri jenis ketiga adalah reseptor viseral, reseptor ini meliputi
organ-organ viseral seperti jantung, hati, usus, ginjal dan sebagainya. Nyeri yang
timbul pada reseptor ini biasanya tidak sensitif terhadap pemotongan organ, tetapi
sangat sensitif terhadap penekanan, iskemia dan inflamasi.
Pemahaman dan pemberian arti nyeri sangat dipengaruhi tingkat
pengetahuan, persepsi, pengalaman masa lalu dan juga faktor sosial budaya
Respon fisiologis terhadap nyeri.
1) Stimulasi Simpatik: (nyeri Ringan, moderat, dan superficial)
a) Dilatasi saluran bronkhial dan peningkatan respirasi rate
b) Peningkatan heart rate
c) Vasokonstriksi perifer, peningkatan BP
d) Peningkatan nilai gula darah
e) Diaphoresis
f) Peningkatan kekuatan otot
g) Dilatasi pupil
h) Penurunan motilitas GI
Respon tinglah laku terhadap nyeri
a) Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup:
b) Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur)
c) Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir)
d) Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan gerakan
jari & tangan
e) Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan,
Menghindari kontak sosial, Penurunan rentang perhatian, Fokus pd aktivitas
menghilangkan nyeri)
Individu yang mengalami nyeri dengan awitan mendadak dapat bereaksi
sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau
menjadi kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu
terlalu letih untuk merintih atau menangis. Pasien dapat tidur, bahkan dengan
nyeri hebat. Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena
menjadi mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap nyeri.

4
Meinhart & McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri:
a) Fase antisipasi (Terjadi sebelum nyeri diterima)
Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting, karena
fase ini bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan
seseorang belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri
tersebut. Peran perawat dalam fase ini sangat penting, terutama dalam
memberikan informasi pada klien.
b) Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa)
Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu
bersifat subyektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-
beda. Toleraransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang
dengan orang lain. orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi
terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil,
sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah
merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Klien dengan tingkat toleransi
tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya
orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya
mencegah nyeri, sebelum nyeri datang.
Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan
bagaimana orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus
yang sama. Kadar endorfin berbeda tiap individu, individu dengan
endorfin tinggi sedikit merasakan nyeri dan individu dengan sedikit
endorfin merasakan nyeri lebih besar.
Klien bisa mengungkapkan nyerinya dengan berbagai jalan, mulai
dari ekspresi wajah, vokalisasi dan gerakan tubuh. Ekspresi yang
ditunjukan klien itulah yang digunakan perawat untuk mengenali pola
perilaku yang menunjukkan nyeri. Perawat harus melakukan pengkajian
secara teliti apabila klien sedikit mengekspresikan nyerinya, karena belum
tentu orang yang tidak mengekspresikan nyeri itu tidak mengalami nyeri.
Kasus-kasus seperti itu tentunya membutuhkan bantuan perawat untuk
membantu klien mengkomunikasikan nyeri secara efektif.
c) Fase Akibat (terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti)
Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase
ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat

5
krisis, sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri.
Apabila klien mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat
(aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat
berperan dalam membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan
rasa takut akan kemungkinan nyeri berulang.

Faktor yang mempengaruhi respon nyeri


1) Usia
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus
mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan
nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia
cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap
nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau
mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.
2) Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara
signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya
(ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh
nyeri).
3) Kultur
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon
terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa
nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan
kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri.
4) Makna nyeri
Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri
dan dan bagaimana mengatasinya.
5) Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat
mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang
meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya
distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik
relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.

6
6) Ansietas
Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa
menyebabkan seseorang cemas.
7) Pengalaman masa lalu
Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan
saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi
nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung
pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.
8) Pola koping
Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri
dan sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang
mengatasi nyeri.
9) Support keluarga dan sosial
Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota
keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan dan perlindungan

Intensitas Nyeri

Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri


dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan
individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan
sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda.
Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah
menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun,
pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti
tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007). Menurut smeltzer, S.C bare B.G
(2002) adalah sebagai berikut:

1) Kala intensitas nyeri deskritif


2) Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis

7
Keterangan :

0 : Tidak nyeri

1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan


baik.

4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat


menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat
mengikuti perintah dengan baik.

7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti
perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan
lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi
dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi.

10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi,


memukul.

Penilaian Nyeri Berdasarkan PQRST

P : Provokatif / Paliatif

Apa kira-kira Penyebab timbulnya rasa nyeri…? Apakah karena


terkena ruda paksa / benturan..? Akibat penyayatan..? dll.

Q : Qualitas / Quantitas

Seberapa berat keluhan nyeri terasa..?. Bagaimana rasanya..?. Seberapa


sering terjadinya..? Ex : Seperti tertusuk, tertekan / tertimpa benda
berat, diris-iris, dll.

R : Region / Radiasi

Lokasi dimana keluhan nyeri tersebut dirasakan / ditemukan..? Apakah


juga menyebar ke daerah lain / area penyebarannya..?

S : Skala Seviritas

Skala kegawatan dapat dilihat menggunakan GCS ( Baca : Cara


Mengukur GCS (Glasgow’s Coma Scale) ) untuk gangguan kesadaran,
skala nyeri / ukuran lain yang berkaitan dengan keluhan

8
T : Timing

Kapan keluhan nyeri tersebut mulai ditemukan / dirasakan..? Seberapa


sering keluhan nyeri tersebut dirasakan / terjadi…? Apakah terjadi
secara mendadak atau bertahap..? Acut atau Kronis..?

2.2 Klasifikasi Nyeri


1. Klasifikasi nyeri menurut smeltzer & bare (2002) mengklasifikasikan nyeri
berdasarkan durasi yaitu :
a) Nyeri akut
Nyeri akut biasanya awitanya tiba-tiba dan umumnya berkaitan dengan
cidera spesifik. Nyeri akut mengindikasikan bahwa kerusakan atau cidera
telah terjadi. Nyeri ini umumnya terjadi kurang dari 6 bulan dan biasanya
kurang dari 1 bulan. Untuk tujuan definisi nyeri akut dapat dijelaskan sebagai
nyeri berlangsung dari beberapa detik hingga 6 bulan
b) Nyeri Kronik
Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiter yang menetap
sepanjang suatu periode waktu. Nyeri ini berlangsung diluar waktu
penyembuhan yang diperkirakan dan sering tidak dapat dikaitkan dengan
penyebab atau cidera spesifik. Nyeri kronik dapat tidak mempunyai awitan
yang ditetapkan dengan tepat dan sering sulit diobati karena biasanya nyeri
ini tidak memberikan respon terhadap pengobatan yang diarahkan pada
penyembuhan. Nyeri kronik sering di identifikasikan sebagai nyeri yang
berlangsung selama 6 bulan atau lebih, meskipun dapat berubah antara akut
dan kronik.

Sementara Price dan Wilson (2006), mengklasifikasikan nyeri berdasarkan lokasi


atau sumber antara lain :

a) Nyeri Somatik superficial (kulit)


Nyeri kulit berasal dari struktur – struktur superficial kulit dan jaringan
subkutis. Stimulus yang efektif untuk menimbulkan nyeri dikulit dapat
berupa rangsangan mekanis, suhu, kimiawi, atau listrik. Apabila hanya kulit
yang terlibat, nyeri sering dirasakan sebagai penyengat, tajam, meringis atau

9
seperti terbakar, tetapi apabila pembuluh darah ikut berperan menimbulkan
nyeri, sifat nyeri menjadi berdenyut.

b) Nyeri Somatik dalam


Nyeri somatic dalam mengacu pada nyeri yang berasal dari otot,
tendon, ligamentum, tulang,sendi dan arteri. Struktur-strukur ini memiliki
lebih sedikit reseptor nyeri sehingga lokalisasi nyeri kulit dan cenderung
menyebar ke daerah sekitar.
c) Nyeri Viseral
Nyeri Viseral mengacu kepada nyeri yang berasal dari organ-organ
tubuh. Reseptor nyeri visceral lebih jarang dibandingkan dengan reseptor
nyeri somatic dan terletak di dinding otot polos organ-organ berongga.
Mekanisme utama yang menimbulkan nyeri visceral adalah peregangan atau
distensi abdominal dinding atau kapsul organ, iskemia dan peradangan.
d) Nyeri Alih
Nyeri alih didefinisikan sebagai nyeri berasal dari salah satu daerah
ditubuh tetapi dirasakan terletak didaerah lain. Nyeri alih sering dialihkan
kedermatom (daerah kulit) yang dipersyarafi oleh segmen medulla spinalis
yang sama dengan viksus yang nyeri tersebut berasal dari masa mudigah,
tidak hams ditempat orang tersebut berada pada masa dewasa
e) Nyeri Neuropati
Sistem saraf secara normal menyalurkan rangsangan yang merugikan
demi system syaraf tepi (SST) ke system syaraf pusat (SSP) yang
menimbulkan perasaan nyeri. Dengan demikian, lesi di SST atau SSP dapat
menyebabkan gangguan atau hilangnya sensasi nyeri. Nyeri neuropatik
sering memiliki kualitas seperti terbakar, perih, atau seperti tersengat listrik.
Pasien dengan nyeri Neuropatik menderita akibat instabilitas system syaraf
otonom (SSO). Dengan demikian, nyeri sering bertambah parah oleh stress
emosi atau fisik (dingin,kelelahan) dan mereda oleh relaksasi.

2.3 Sindrom Nyeri


Syndrome nyeri yang lazim terjadi : misalnya plexopaties, sensitization
1. Plexophaties

10
Istilah “plexopati” berkenaan dengan sindrom nyeri yang berhubungan
dengan pleksus saraf perifer. Abnormalitas neurologisnya, melibatkan beberapa
syaraf pada pleksus. Pada kasus brachial plexopati, nyeri diperburuk oleh
pernapasan yang dalam atau gerakan dari leher dan bahu. Palpasi yang dalam
pada daerah bahu dapat menimbulkan nyeri atau perasaan penuh. Nyeri pada
brachial plexopati mungkin berhubungan dengan penyebaran neoplastik ke
syaraf, perlekatan dan penyebaran setelah infeksi, operasi, atau terapi radiasi.
Plexopathy adalah gangguan yang mempengaruhi jaringan saraf,
pembuluh darah, atau pembuluh getah bening. Wilayah saraf itu berada di
brakialis pleksus atau lumbosakral. Gejala yang ditimbulkan termasuk rasa sakit
atau nyeri, kehilangan kontrol motor, dan defisit sensorik.
Ada dua jenis utama plexopathy; Brachial plexopathy dan lumbosakral
plexopathy. Mereka biasanya disebabkan dari beberapa jenis trauma lokal
seperti dislokasi bahu. Kelainan juga dapat disebabkan oleh kompresi,
komorbiditas penyakit pembuluh darah, infeksi, atau mungkin idiopatik dengan
penyebab yang tidak diketahui.
Langkah pertama dalam evaluasi dan manajemen plexopathy terdiri dari
mengumpulkan riwayat medis dan pemeriksaan fisik oleh dokter kesehatan.
Pola fungsi motorik yang cacat akan terdeteksi dengan baik di ekstremitas atas
atau bawah membantu diagnosis gangguan tersebut. Xray dari tulang belakang
leher, dada, dan bahu biasanya diperintahkan jika gejala menunjukkan keadaan
akut pada brakialis plexopathy. Jika riwayat fisik mengungkapkan riwayat
diabetes, penyakit vaskular kolagen, atau gejala infeksi, dokter dapat
memerintahkan serangkaian tes darah termasuk hitung darah lengkap (CBC)
dan panel metabolik yang komprehensif (CMP).
2. Sensitisation
Sensitisasi adalah karakterteristik nosiseptor dimana respon terhadap
stimuli meningkat ditempat cedera. Sensitisasi nosiseptor menghasilkan
hiperalgesia primer di tempat cedera yang menghasilkan nyeri terasa
terusmenerus selama istirahat dan meningkat selama dan setelah pembedahan,
cedera, persalinan dan sakit akut.
Input nosisepsi selama dan setelah pembedahan, cedera, persalinan dan
sakit akut dapat meningkatkan respon saraf yang mentransmisikan nyeri di
susunan saraf pusat, hal ini akan memperbesar sensasi nyeri secara klinis.

11
Peningkatan respon saraf di susunan saraf pusat terhadap input aferen yang
normal atau dibawah ambang (subtreshold) disebut sensitisasi sentral (central
sensitization). Besarnya sensitisasi sentral tergantung pada banyak factor,
termasuk tipe jaringan dan luasnya cedera
Sensittisasi sentral memperkuat transmisi input dari jaringan perifer dan
menghasilkan hiperalgesia sekunder, peningkatan respon neyri yang
dibangkitkan oleh stimuli diluar area cedera. Sensitisasi sentral bisa terjadi baik
di tingkat spinal maupun supraspinal.

2.4 Perbedaan Manajemen Nyeri


Perbedaan Manajemen Nyeri Untuk Pasien Yang di Rumah Sakit dengan yang
di lingkungan masyarakat. Nyeri sendiri dapat didefinisikan sebagai "pengalaman
sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan
kerusakan jaringan, baik aktual maupun potensial atau dilukiskan dalam istilah
seperti kerusakan" (The International Association for the Study of Pain, 1979).
Namun dewasa ini, banyak rumah sakit yang telah melakukan upaya intensif
untuk mengelola rasa nyeri tersebut, sehingga rasa nyeri yang menyertai tindakan
medis, tindakan keperawatan, ataupun prosedur diagnostik pada pasien dapat
diminimalkan atau dilakukan tindak lanjut yang teratur, sesuai dengan kriteria yang
dikembangkan oleh rumah sakit dan kebutuhan pasien. Nyeri yang dirasakan pasien
dikelola dengan melakukan pemantauan secara kontinyu dan terencana. Bahkan
dalam akreditasi Joint Commission International (JCI) isu manajemen nyeri ini
menjadi salah satu elemen penilaian yang dipersyaratkan untuk dipenuhi oleh pihak
rumah sakit. Berbagai bentuk pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien
harus mengacu pada pedoman pengelolaan rasa nyeri. Hal ini seperti tercantum
dalam standar akreditasi JCI berikut:
1. Patient and Family Rights (PFR)
PFR 2.4 Rumah sakit mendukung hak pasien untuk mendapatkan asesmen dan
pengelolaan rasa sakit yang tepat.
2. Assessment of Patients (AOP)
AOP 1.7 Semua pasien rawat inap dan rawat jalan diperiksa apakah mengalami
rasa nyeri dan diperiksa mengenai rasa nyeri tersebut jika ada.
3. Care of Patients (COP)

12
COP 6. Pasien didukung secara efektif dalam mengelola rasa nyerinya.
Gambaran menjadi pasien di rumah sakit yang identik dengan berbagai jenis
pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pihak rumah sakit, acap kali
memberikan ketakutan tersendiri bagi pasien akan rasa nyeri yang dapat
menyertai proses pemberian pelayanan kesehatan tersebut. Sebagai contoh,
bagaimana proses transfusi darah dapat memberikan rasa nyeri bagi si pasien,
ataupun tindakan medis lainnya yang dapat memberikan rasa nyeri pada pasien.
Sumber-sumber nyeri dapat meliputi; prosedur tindakan medis, tindakan
keperawatan, dan prosedur diagnostik.
COP 7.1. Perawatan pasien dalam keadaan menjelang ajal
mengoptimalkan kenyamanan dan martabatnya. Proses penerapan manajemen
nyeri ini memerlukan peran aktif dari seluruh civitas hospitalia yang
memberikan pelayanan kesehatan pada pasien, serta peran langsung dari pasien
itu sendiri, dimana pasien didorong untuk menyampaikan rasa nyeri yang
mereka alami. Sedangkan pada proses pelaksanaannya, pihak rumah sakit dapat
mempergunakan beberapa alternatif tools yang dapat dipergunakan untuk
mengukur dan mengkaji intensitas nyeri. Skala pengukuran nyeri sendiri dapat
didasarkan pada self report, observasi (perilaku), atau data fisiologis.
Berikut adalah beberapa tools yang dapat dipergunakan berdasar pada 'self report'
pasien :
1) Verbal Rating Scale (VRS):
Verbal Rating Scale merupakan jenis pengukuran nyeri yang telah lama
dipergunakan dan merupakan pengukuran nyeri dalam bentuk sederhana.
Dapat berupa pertanyaan sederhana 'apakah anda merasa nyeri?', yang
dapat dijawab pasien dengan 'iya' atau 'tidak'. Namun, biasanya dalam
pengukuran ini mempergunakan 4 sampai dengan 5 titik intensitas skala
dengan deskripsi seperti; tidak nyeri, sedikit nyeri, nyeri sedang, sangat
nyeri.
2) Visual Analog Scale (VAS):
Visual Analog Scale (VAS) adalah instrumen untuk mengukur besarnya
nyeri pada garis sepanjang 10 cm. Biasanya berbentuk horizontal atau
vertikal, dan garis ini digerakkan oleh gambaran intensitas nyeri yang
memiliki range dari tidak nyeri sampai dengan rasa nyeri yang ekstrim.
3) Numerical Rating Scale (NRS):

13
Numerical Rating Scale (NRS) hampir sama dengan Visual Analog Scale,
tetapi memiliki angka-angka sepanjang garisnya, kisaran angka 0-10 dan
pasien diminta untuk menunjukkan rasa nyeri yang dirasakannya.
4) Faces Rating Scale dari Wong Baker:
Instrumen dengan menggunakan Faces Rating Scale terdiri dari 6 gambar
skala wajah yang bertingkat dari wajah yang tersenyum untuk "no pain"
sampai wajah yang berlinang air mata. Pasien dapat menunjukkan dengan
gambar, tingkat rasa nyeri yang dirasakannya.

Manajemen nyeri menjadi salah satu isu penting dalam proses pemberian
layanan kesehatan kepada pasien. Pada implementasinya pelayanan bermutu
diberikan dengan mempedulikan rasa nyeri yang dialami pasien, didukung
dengan tools pengkajian nyeri yang sesuai dan terdokumentasi dengan baik serta
pemberian manajemen nyeri sesuai pedoman yang ditetapkan.

2.5 Pengkajian Nyeri Secara Komperhensif


Manajemen nyeri suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak
menyenangkan, yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang nyata atau yang
berpotensi untuk menimbulkan kerusakan jaringan, pada orang lain ataupun diri
sendiri.
Dalam penanganan nyeri, perawat terlebih dahulu mengkaji tingkat nyeri yang
dirasakan pasien. Hal ini dikarenakan nyeri merupakan pengalaman interpersonal,
sehingga perawat harus menanyakannya secara langsung kepada klien karakteristik
nyeri dengan P Q R S T.
Provoking : Penyebab
Quality : Kwalitas
Region : Lokasi
Severate : Skala
Time : Waktu
a. Lokasi
Pengkajian lokasi nyeri mencakup 2 dimensi :
 Tingkat nyeri, nyeri dalam atau superfisial
 Posisi atau lokasi nyeri

14
 Nyeri superfisial biasanya dapat secara akurat ditunjukkan oleh klien;
sedangkan nyeri yang timbul dari bagian dalam (viscera) lebih dirasakan
secara umum.
Nyeri dapat pula dijelaskan menjadi empat kategori, yang berhubungan
dengan lokasi:
 Nyeri terlokalisir : nyeri dapat jelas terlihat pada area asalnya
 Nyeri Terproyeksi : nyeri sepanjang saraf atau serabut saraf spesifik
 Nyeri Radiasi : penyebaran nyeri sepanjang area asal yang tidak dapat
dilokalisir
 Reffered Pain (Nyeri alih) : nyeri dipersepsikan pada area yang jauh dari
area rangsang nyeri.
b. Intensitas
Beberapa faktor yang mempengaruhi nyeri :
 Distraksi atau konsentrasi dari klien pada suatu kejadian
 Status kesadaran klien
 Harapan klien
Nyeri dapat berupa : ringan, sedang, berat atau tak tertahankan. Perubahan
dari intensitas nyeri dapat menandakan adanya perubahan kondisi patologis
dari klien.
c. Waktu dan Lama (Time & Duration)
Perawat perlu mengetahui/mencatat kapan nyeri mulai timbul; berapa lama;
bagaimana timbulnya dan juga interval tanpa nyeri dan kapan nyeri terakhir
timbul.
d. Kualitas
Deskripsi menolong orang mengkomunikasikan kualitas dari nyeri. Anjurkan
pasien menggunakan bahasa yang dia ketahui: nyeri kepala mungkin
dikatakan “ada yang membentur kepalanya”, nyeri abdominal dikatakan
“seperti teriris pisau”.
e. Perilaku Non Verbal
Beberapa perilaku nonverbal yang dapat kita amati antara lain : ekspresi
wajah, gemeretak gigi, menggigit bibir bawah dan lain-lain.
f. Aktivitas Teraputik Dalam Penanganan Nyeri
Terapeutik dalam penanganan nyeri pada pasien Penanganan Aktivitas Nyeri

15
2.6 Tindakan Farmakologis
Umumnya nyeri direduksi dengan cara pemberian terapi farmakologi. Nyeri
ditanggulangi dengan cara memblokade transmisi stimulant nyeri agar terjadi
perubahan persepsi dan dengan mengurangi respon kortikal terhadap nyeri Adapun
obat yang digunakan untuk terapi nyeri adalah :
1. Analgesik Narkotik
2. Analgesik Lokal
3. Analgesik yang dikontrol klien
4. Obat – obat nonsteroid

2.7 Tindakan Non Farmakologis


Menurut Tamsuri (2006), selain tindakan farmakologis untuk menanggulangi nyeri
ada pula tindakan nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri terdiri dari beberapa
tindakan penaganan berdasarkan :
1. Penanganan fisik/stimulasi fisik meliputi :
 Stimulasi kulit
Massase kulit memberikan efek penurunan kecemasan dan ketegangan otot.
Rangsangan masase otot ini dipercaya akan merangsang serabut berdiameter
besar, sehingga mampu mampu memblok atau menurunkan impuls nyeri
 Stimulasi electric (TENS)
Cara kerja dari sistem ini masih belum jelas, salah satu pemikiran adalah cara
ini bisa melepaskan endorfin, sehingga bisa memblok stimulasi nyeri. Bisa
dilakukan dengan massase, mandi air hangat, kompres dengan kantong es dan
stimulasi saraf elektrik transkutan (TENS/ transcutaneus electrical nerve
stimulation). TENS merupakan stimulasi pada kulit dengan menggunakan
arus listrik ringan yang dihantarkan melalui elektroda luar.
 Akupuntur
Akupuntur merupakan pengobatan yang sudah sejak lama digunakan untuk
mengobati nyeri. Jarum – jarum kecil yang dimasukkan pada kulit, bertujuan

16
menyentuh titik-titik tertentu, tergantung pada lokasi nyeri, yang dapat
memblok transmisi nyeri ke otak.
 Plasebo
Plasebo dalam bahasa latin berarti saya ingin menyenangkan merupakan zat
tanpa kegiatan farmakologik dalam bentuk yang dikenal oleh klien sebagai
“obat” seperti kaplet, kapsul, cairan injeksi dan sebagainya.
2. Intervensi perilaku kognitif meliputi :
 Relaksasi
Relaksasi otot rangka dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan
merelaksasikan keteganggan otot yang mendukung rasa nyeri. Teknik
relaksasi mungkin perlu diajarkan bebrapa kali agar mencapai hasil optimal.
Dengan relaksasi pasien dapat mengubah persepsi terhadap nyeri.
 Umpan balik biologis
Terapi perilaku yang dilakukan dengan memberikan individu informasi
tentang respon nyeri fisiologis dan cara untuk melatih kontrol volunter
terhadap respon tersebut. Terapi ini efektif untuk mengatasi ketegangan otot
dan migren, dengan cara memasang elektroda pada pelipis.
 Hipnotis
Membantu mengubah persepsi nyeri melalui pengaruh sugesti positif.
 Distraksi
Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, efektif untuk nyeri ringan sampai
sedang. Distraksi visual (melihat TV atau pertandingan bola), distraksi audio
(mendengar musik), distraksi sentuhan (massase, memegang mainan),
distraksi intelektual (merangkai puzzle, main catur).
 Guided Imagery (Imajinasi terbimbing)
Meminta klien berimajinasi membayangkan hal-hal yang menyenangkan,
tindakan ini memerlukan suasana dan ruangan yang tenang serta konsentrasi
dari klien. Apabila klien mengalami kegelisahan, tindakan harus dihentikan.
Tindakan ini dilakukan pada saat klien merasa nyaman dan tidak sedang nyeri
akut.

2.8 Penanganan Nyeri Akut

17
Nyeri akut sering dikelola dengan tidak memadai. Ini tidak seharusnya demikian.
Kontrol nyeri sering bisa diperbaiki dengan strategi sederhana:
 Nilai nyeri
 Atasi dengan obat dan teknik yang anda sudah terbiasa
 Nilai kembali nyeri setelah terapi dan bersiap untuk memodifikasi pengobatan
jika perlu.
 Analgesia yang baik mengurangi komplikasi pasca bedah seperti infeksi paru,
mual dan muntah, DVT ,dan ileus.

Prinsip Umum

1. Pasien yang mengeluh nyeri, berarti mereka betul-betul merasa nyeri.


Mereka perlu didengarkan dan dipercaya.
2. Tidak ada pola fisiologis atau perilaku yang bisa digunakan untuk
membuktikan bahwa seseorang sedang berpura-pura nyeri.
3. Operasi yang sama mungkin akan menghasilkan kebutuhan analgesia yang
bervariasi pada berbagai pasien.
4. Derajat nyeri yang sama mungkin diekspresikan dengan cara berbeda oleh
berbagai pasien.
5. Opioid yang diberikan untuk nyeri akut tidak menyebabkan adiksi obat.
6. Nyeri hebat setelah pembedahan bisa dicegah.
7. Cari sebab-sebab nyeri yang bisa diatasi, tetapi jangan tunda analgesia
dengan alasan takut menyelubungi tanda-tanda bedah.
8. Dosis tepat dari analgesik opioid adalah ‘cukup dan sering cukup
9. Manfaat maksimum dengan efek samping paling sedikit sering diperoleh
dengan kombinasi berbagai obat dengan cara pemberian berbeda (misal
opioid dan AINS dan anestesi lokal)

Penilaian nyeri, analgesia, dan sedasi

1. Sistem skoring digunakan untuk menilai nyeri dan untuk mengukur


efektivitas pengobatan. Skor nyeri bisa ditulis di kartu suhu atau pada kartu
nyeri terpisah.
2. Skala analogi visual (VAS) adalah garis 10 cm di mana ujungujungnya
adalah 0 (tak ada nyeri) dan 10 (nyeri terburuk yang bisa dibayangkan).
Pasien membubuhi tanda pada garis untuk mengungkapkan keparahan nyeri

18
mereka. Teknik ini mungkin sukar diterapkan jika pasien sedang berada
dalam nyeri hebat.
3. Verbal rating scale (VRS) lebih sederhana. Pasien ditanya apakah mereka
tidak merasa nyeri, nyeri ringan, sedang atau berat dan diberi skor 0 untuk
tidak nyeri, 1 untuk nyeri ringan, 2 untuk nyeri sedang, dan 3 untuk nyeri
berat.
4. Pasien harus dinilai setelah dibangunkan dengan lembut. Sedasi sebaiknya
diberi skor sekaligus: 0 jika bangun, 1 jika mengantuk kadangkadang, 2 jika
kebanyakan tidur, 3 jika sukar dibangunkan.
5. Kombinasi skor sedasi dan frekuensi napas bisa digunakan untuk
mendiagnosis overdosis opioid.
6. Frekuensi < 8/menit dengan skor sedasi 3 menunjukkan overdosis.
7. Pernapasan lambat tanpa over-sedasi bisa diterima, tetapi memerlukan
kewaspadaan.
8. Naloxone intravena harus ditirasi dengan penambahan setiap 200 mg sampai
over-sedasi memulih tanpa mengurangi efek analgesia. Naloxone mungkin
bekerja lebih singkat daripada opioid, sehingga penilaian harus dilanjutkan
karena sedasi bisa berulang.

19
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk
menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri
adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus
kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor,
secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga
yang tidak bermielin dari syaraf perifer. Berdasarkan letaknya, nosireseptor
dapat dikelompokkan dalam beberapa bagaian tubuh yaitu pada kulit
(Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena
letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi
yang berbeda. Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri
yang berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan

3.2 Saran
Bagi teman sejawat, diharapkan benar-benar memahami tentang sindrom
nyeri : plexopaties dan sensitization karena berdasarkan pengetahuan dan
keterampilan itulah maka perawat akan mengetahui tentang sindrom nyeri lebih
luas.

20
DAFTAR PUSTAKA
Aziz Alimul Hidayat. 2004. Pengantar konsep dasar keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika.
http://www.rajawana.com/artikel/pendidikan-umum/453-home-care.html
http://diponegoronursesassociation.blogspot.com/2008/05/home-
careagencyprespektik-sistem.html
http://stikeskabmalang.wordpress.com/2009/12/18/home-care-seminar/
http://wwwdagul88.blogspot.com/2009/12/home-care-bab-
ipendahuluanuntuk.html
http://egithink.multiply.com/journal/item/5

21