Anda di halaman 1dari 2

Pemeriksaan yang disarankan pada pasien dengan perubahan tingkat kesadaran :

1. Pemeriksaan glukosa di tempat (bedside) harus dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan


hipoglikemia, penyebab perubahan status mental yang mudah ditangani.
2. Analisa gas darah arteri akan memberikan informasi lebih lanjut mengenai status ventilatorik
pasien (Pco2) dan status asam-basa (pH, HCO 3, dan deficit basa). Selain itu, pO 2 yang rendah
dengan nilai saturasi oksigen yang normal, serta peningkatan kadar karboksihemoglobin,
mengindikasikan adanya keracunan karbon monoksida.
3. Pemeriksaan kadar elektrolit (termasuk kalsium), urea nitrogen darah dan kreatinin rutin
dilakukan. Pemeriksaaan osmolaritas serum, kadar obat, ammonia dan TSH dalam serum dapat
dilakukan berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik.
4. Pemeriksaan kadar etanol dan alcohol toksik lain dalam serum, serta uji penyaring toksikologi
yang dilakukan secara selektif dapat memastikan atau menyingkirkan kemungkinan intoksikasi.
Koma murni jarang disebabkan oleh kadar etanol di bawah 250 mg/dL; pasien dengan
kecurigaan intoksikasi akut tetapi dengan kadar yang rendah memerlukan pemeriksaan lebih
lanjut (mislnya, CT kepala, pungsi lumbal) untuk mencari penjelasan lain dari gejala yang dialami
pasien.
5. Urinalisis dan uji kehamilan harus dilakukan secara rutin.
6. Pertimbangkan pemeriksaan kultur darah, urin dan apus tenggorok pada setiap kasus dengan
kecurigaan sepsis.
7. Pungsi lumbal untuk analisis LCS diindikasikan pada setiap pasien dengan kecurigaan infeksi SSP
atau SAH (setelah memperoleh hasil CT kepala yang negatif). Prosedur tersebut ditunda bila
terdapat bukti klinis adanya peningkatan tekanan intracranial.
8. Elektrokardiogram dapat mengungkapkan adanya penyakit penyebab pada jantung (terutama
pada lansia) atau bukti adanya patologi lain: gelombang T ‘serebral’ pada SAH, gelombang
Osborne atau ‘J’ pada hipotermia, atau pemanjangan interval Q-T pada hipokalsemia.
9. Elektroensefalografi disamping tempat tidur dapat bermanfaat untuk mendeteksi status
epileptikus nonkonvulsif.
10. Pencitraan
 CT kepala tanpa kontras merupakan pemeriksaan pencitraan neurologis primer dan
akan mengidentifikasi perdarahan intracranial dan beberapa abses, tumor, dan
gangguan peradangan tanpa infeksi. Pemindaian CT dengan kontras lebih sensitive
untuk abses, tumor dan proses peradangan; pemeriksaan tersebut juga akan
mengidentifikasi penyakit selaput otak akibat keganasan atau infeksi.
 Foto rontgen dada berguna pada kecurigaan akan infeksi dan keganasan paru dan
pemeriksaan ini juga dilakukan setelah pelaksanaan intubasi endoktrakea untuk
memastikan bahwa penempatan pipa sudah adekuat.
 Pemeriksaan MRI dan CT tidak sensitive dalam beberapa jam pertama setelah serangan
stroke iskemik. Namun, diffusion-weighted MRI akan mendeteksi infark akut.

Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lain pada pasien hipertensi:

1. Pemeriksaan mendasar harus mencakup pemeriksaan hitung darah lengkap untuk mengetahui
anemia hemolitik mikroangiopatik yang timbul akibat hipertensi maligna, evaluasi kadar
elektrolit dan fungsi ginjal, evaluasi kadar enzim spesifik jantung, dan urinalisis untuk
mengevaluasi proteinuria dan/atau hematuria.
2. Pemeriksaan EKG dan rontgen dada harus dilakukan untuk mengevaluasi kedaruratan
kardiovaskuler.
3. Pemeriksaan lain mencakup CT scan, USG abdomen, atau aortografi dilakukan sesuai kebutuhan.

REFERENSI :

1. Henderson. O. S., 2008, Kedokteran Emergensi (Emergency Medicine: Vademecum),


Department of Emergency Medicine, Keck School of Medicine, University of Southern California,
Los Angeles, California, U.S.A, Penerbit buku kedokteran : EGC, halaman 21, 109-110