Anda di halaman 1dari 5

c c  


 cc c c  


c 

 
   
  
    




c

 !"" !#

c $$ c

%$  $$

&   

c$

'(


) *c+
,-,+

Beton geopolimer adalah beton yang terbentuk dari material geopolimer sebagai
bahan matriks dan agregat mineral sebagai bahan inklusi. Penemuan geopolimer berawal dari
penelitian para ahli mengenai pembangunan Piramida di Mesir yang ternyata bukan dengan
cara penyusunan batu, namun menggunakan bahan yang bersifat seperti semen, yaitu
geopolimer. Geopolimer dapat dibuat dengan mencampurkan metakaolinit dan larutan alkali
seperti NaOH dan KOH. Geopolimer lebih ramah lingkungan dan hemat energi, tidak seperti
semen Portland yang proses produksinya menghasilkan gas CO2.

Davidovits memberi nama material hasil temuannya dengan nama Geopolimer karena
merupakan sintesa bahan-bahan alam non-organik melalui proses polimerisasi. Bahan dasar
utama yang diperlukan untuk pembuatan material geopolimer ini adalah bahan-bahan yang
banyak mengandung unsur silikon dan aluminium. Unsur-unsur ini banyak didapat pada
material buangan hasil sampingan industri, seperti misalnya abu terbang dari sisa pembakaran
batu bara. Selama ini, abu terbang disebut demikian karena kecilnya ukuran partikel sehingga
mudah beterbangan di udara dan lebih banyak tidak dimanfaatkan dengan semestinya
ataupun dipakai hanya sebagai bahan timbunan. Penimbunan yang sembarangan bahkan
berpotensi mengancam kelestarian lingkungan, selain mudah beterbangan dan mengotori
udara, partikel-partikel logam berat yang dikandungnya dengan mudah larut dan mencemari
sumber-sumber air. Untuk melarutkan unsur-unsur silikon dan aluminium, serta
memungkinkan terjadinya reaksi kimiawi, digunakan larutan yang bersifat alkalis. Material
geopolimer ini digabungkan dengan agregat batuan kemudian menghasilkan beton
geopolimer tanpa menggunakan semen lagi.

.)c/
,-,+

Geopolimer didefinisikan sebagai material yang dihasilkan dari geosintesis


aluminosilikat polimerik dan alkali-silikat yang menghasilkan kerangka polimer SiO4 dan
AlO4 yang terikat secara tetrahedral (Davidois, 1994). Saat SiO2 dan Al2 O3 terikat secara
tetrahedral dengan berbagai atom oksigen, harus ada ion positif (Na+, K-, Ca2-, Mg2+, dan
NH4-) dalam lubang kerangka untuk menyeimbangkan muatan negatif dari Al3- dalam bentuk
koordinasi IV. Berikut skema reaksi geopolimerisasi:
  
  
 

Polimer adalah senyawa-senyawa yang tersusun sangat besar yang terbentuk dari gabungan
monomer-monomer. Polimer dapat dibedakan menjadi polimer organik dan anorganik.
Polimer organik adalah plimer yang monomer-monomernya berasal dari tumbuhan atau
hewan. Polimer anorganik adalah polimer yang monomer-monomernya bukan berasal dari
makhluk hidup, seperti mineral dan logam.

Ö)$0
,-,+

Geopolimer dikatakan ramah lingkungan karena selain dapat menggunakan bahan-


bahan buangan industri, proses pembuatan beton geopolimer tidak terlalu memerlukan energi
seperti halnya proses pembuatan semen yang setidaknya memerlukan suhu hingga 800
derajat Celsius. Dengan pemanasan lebih kurang 60 derajat Celsius selama satu hari penuh
sudah dapat dihasilkan beton yang berkekuatan tinggi. Karenanya, pembuatan beton
geopolimer mampu menurunkan emisi gas rumah kaca yang diakibatkan oleh proses produksi
semen hingga tersisa 20%.

Hasil-hasil riset selama ini telah menunjukkan bahwa beton geopolimer memiliki
kekuatan dan keawetan yang tinggi. Sebuah perusahaan beton pracetak di Australia bahkan
sudah mulai memproduksi prototipe beton geopolimer pracetak dalam bentuk bantalan rel
kereta, pipa-pipa beton untuk saluran pembuangan air kotor, dan lain-lain. Hal yang
memberikan perbedaan cukup penting antara beton geopolimer dengan beton polimer organik
yang sudah lebih dulu diperkenalkan, terutama adalah biaya pembuatannya. Beton
geopolimer bisa diproduksi dengan biaya yang setara dengan beton biasa yang jauh lebih
murah dibanding biaya untuk menghasilkan beton polimer organik.

Teknologi geopolimer memiliki keunggulan dalam kemampuannya menghasilkan


binder kinerja tinggi dari berbagai sumber aluminosilikat. Selain itu, geopolimer memiliki
sifat mekanik dan durabilitas yang tinggi, stabilitas termal dan ketahanan terhadap asam.
Schmu´cker dan MacKenzie telah membuktikna bahwa komposisi matriks geopolimer tidak
berubah setelah dipanaskan pada 1200° C. Material geopolimer dengan kandungan Ca lebih
rendah memiliki ketahanan terhadap asam lebih baik daripada material dari semen Portland.

).c
,-,+

Adapun bahan penyusun dari geopolimer adalah :

1.Y Prekursur:
Lempung, aluminosilikat, atau dari limbah industri (V 
  
)
2.Y Aktivator:
Dibutuhkan pada reaksi polimerisasi antara alumina dengan silika. Biasanya aktivator
yang digunakan adalah sodium silikat

)$11.,
,-,+

Ikatan mekanis yang terjadi pada struktur internal beton semen dapat pula terjadi pada
beton geopolimer, mengingat material geopolimer bersifat agresiv, ikata yang dihasilkan oleh
geopolimer akan sangat berpengaruh pada kekuatan beton, oleh karena itu beberapa
parameter yang berkaitan dengan penyusunan kekuatan mekanik beton adalah sebagai
berikut :

1.Y kemampuan geopolimer mengikat agregat kasar


2.Y kemampuan geopolimer memasuki void antar agregat dan membuat selimut agregat
3.Y kemampuan geopolimer dalam menahan tekan dan tarik atau lentur.


%)%1,2/+-/$1.,
,-,+ 

Faktor yang mempengaruhi kekuatan beton geopolimer di antaranya :

1.Y suhu ikat


2.Y waktu ikat
3.Y tipe alkali aktivator
4.Y kadar air
5.Y jumlah relativ silikat aliminium natrium

Suhu ikat dan waktu ikat bebanding lurus dengan kekuatan beton. Kadar air
berbanding terbalik dengan kekuatan beton.

%  

Skripsi ´Geopolimer´ dari Angkatan 2004

http://www.kassa9.com/stores/betonpolimer/article.php?id=3293

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0210/21/iptek/beto45.htm

http://www.bibsonomy.org/bibtex/2c796ffa9463672ee92f8343d2af165d6/gitaA

http://www.scribd.com/doc/38273312/Geopolimer