Anda di halaman 1dari 10

Modul STATISTIK-1 PROGRAM STUDI MANAJEMEN

PERTEMUAN KE- 10
POKOK BAHASAN UKURAN KEMENCENGAN DATA
Team Teaching: Drs. Gatot Kusjono,MM ; Suprianto,SPd,MM,
Drs. Fikron Al Khoir, MM, MPd; Ajimat, S.Si,MM

A. TUJUAN PEMBELAJARAN :
Setelah mengikuti perkuliahan ini, Anda diharapkan mampu:
1.1. Menghitung ukuran kemencengan (Skewness) data.

B. URAIAN MATERI

UKURAN KEMENCENGAN (SKEWNESS)

Kemencengan atau kecondongan (skewness) adalah derajat ketidaksimetrisan


atau penyimpangan dari kesimetrian dari sebuah distribusi. Sebuah distribusi yang
tidak simetris akan memiliki rata-rata, median, dan modus yang tidak sama besarnya
(𝑋̅ ≠ 𝑀𝑒𝑑 ≠ 𝑀𝑜𝑑 ), sehingga distribusi akan terkonsentrasi pada salah satu sisi dan
kurvanya akan menceng. Jika distribusi memiliki ekor yang lebih panjang ke kanan
daripada yang ke kiri maka distribusi disebut menceng ke kanan atau memiliki
kemencengan positif. Sebaliknya, jika distribusi memiliki ekor yang lebih panjang ke
kiri daripada yang ke kanan maka distribusi disebut distribusi menceng ke kiri atau
memiliki kemencengan negatif.

Untuk distribusi miring, mean akan cenderung berada pada posisi yang sama
dengan modus di ekor kurva yang lebih panjang. Kurva yang tidak simetris
dapat menceng ke kiri atau ke kanan. Di dalam kurva yang simetris, letak modus,
median dan rata-rata (𝑋) sama.

Ukuran tingkat kemencengan (sk) menurut Pearson adalah sebagai berikut:

S-1 MANAJEMEN [1]


Modul STATISTIK-1 PROGRAM STUDI MANAJEMEN

Jadi ukuran ketidaksimetrisan dapat diperoleh dari selisih atau perbedaan nilai
mean dan modus. Apabila kurva menceng ke kiri maka 𝑋̅ < 𝑀𝑒𝑑 < 𝑀𝑜𝑑, apabila
kurva menceng ke kanan maka 𝑀𝑜𝑑 > 𝑀𝑒𝑑 > 𝑋̅. Ukuran ini dapat dibuat menjadi
ukuran tanpa dimensi atau satuan jika kita membaginya dengan suatu ukuran
dispersi misalnya deviasi standar.

Untuk mengetahui bahwa konsentrasi distribusi menceng ke kanan atau menceng


ke kiri, dapat digunakan metode-metode berikut :

1. Koefisien Kemencengan (Sk) Pearson


Ukuran tingkat Kemencengan (Sk) adalah :
𝑋̅ − 𝑀𝑜𝑑
𝑆𝑘 =
𝑆
Dimana:
Sk = koefisien kemencengan pearson
̅
X = Rata-rata
Mod = Modus
S = Simpangan Baku

Apabila secara empiris didapatkan hubungan antar nilai pusat sebagai:

̅ – Mod = 3 (X
X ̅ -Med)

Maka rumus kemencengan diatas dapat dirubah menjadi:

̅ −𝑀𝑒)
3(X
Sk = 𝑆

Jika nilai sk dihubungkan dengan keadaan kurva maka:


sk = 0 maka distribusi dikatakan simetris sekitar mean nya, makin jauh hasil sk
dari nol, maka makin besar tingkat kemencengannya.
sk>0 maka distribisi menceng ke kanan, nilai-nilai terkonsentrasi pada sisi
kanan (Mean terletak di sebelah kanan modus). Sehingga kurva memiliki
ekor memanjang ke kanan/menceng ke kanan atau menceng positif.

S-1 MANAJEMEN [2]


Modul STATISTIK-1 PROGRAM STUDI MANAJEMEN

sk < 0 maka distribusi menceng kekiri, nilai-nilai terkonsentrasi pada sisi kanan
(Mean terletak di sebelah kiri modus). Sehingga kurva memiliki ekor
memanjang ke kiri/menceng ke kiri atau menceng negatif.

Contoh:
Berikut ini adalah data nilai ujian statistik dari 40 mahasiswa program studi
Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang pada tahun 2016.

Nilai Ujian Frekuensi (fi)

31-40 4
41-50 3
51-60 5
61-70 8
71-80 11
81-90 7
91-100 2
Jumlah 40

Tentukanlah :
a. Nilai sk (skewness) dan ujilah arah kemencengannya (gunakan kedua
rumus tersebut) !
b. Gambarlah kurvanya !

Penyelesaian Soal:
Tabel Penolong Perhitungan
Nilai Frekuensi Nilai Tengah fi . X i (Xi-𝑋̅) 𝑓𝑖 . (𝑋𝑖 − 𝑋̅)2
Ujian (fi) (Xi)
31-40 4 35.5 142 -32 4096
41-50 3 45.5 136.5 -22 1452
51-60 5 55.5 277.5 -12 720
61-70 8 65.5 524 -2 32
71-80 11 75.5 830.5 8 704
81-90 7 85.5 598.5 18 2268
91-100 2 95.5 191 28 1568
Jumlah 40 2700 10840

 ̅)
Rata-rata/Mean (X

̅ = ∑ 𝑓𝑖.𝑋𝑖 = 2700 = 67,5


X
𝑁 40

S-1 MANAJEMEN [3]


Modul STATISTIK-1 PROGRAM STUDI MANAJEMEN

 Median (Med)
1 1
Letak median (Me) = = 2 𝑁 = = 2 . 40 = 20  terletak pada kelas 61-70

TBK = 60,5
fm =8
fk = 4 + 3 + 5 = 12
Ci = 10
1
( .𝑁−𝑓𝑘 )
2
Nilai median (Med) = TBK + 𝑓𝑚
. 𝐶𝑖
1
( .40−12)
2
= 60,5 + 8
. 10
8
= 60,5 + 8 . 10

= 60,5 + 10
= 70,5

 Modus (Mod)
Frekuensi terbesar adalah 12, berarti Mode terletak pada kelas ke-5 (71-80)
TKBmo = 70,5
fmo = 11
d1 = 11 – 8 = 3
d2 = 11 – 7 = 4
Ci = 10
𝑑1
Nilai Modus (Mod) = TBKmo + . Ci
𝑑1 +𝑑2
3
= 70,5 + 3+4 . 10 = 70,5 + 4,3 = 74,7

 Simpangan Baku (S)


1
S =√𝑛−1 . ∑𝑛𝑖=1(𝑋𝑖 − 𝑋̅)2 . 𝑓𝑖

1 1
= √40−1 . 10.840 = = √39 . 10.840 = √277,9487 = 16,67

Jadi ukuran tingkat Kemencengan (Sk):

𝑋̅−𝑀𝑜𝑑 67,5 −74,7 −8,2


𝑆𝑘 = 𝑆
= 16,67
= 16,67 = - 0,4919

Oleh karena nilai sk-nya negatif (-0,4919) maka kurvanya menceng ke kiri atau
menceng negatif.

S-1 MANAJEMEN [4]


Modul STATISTIK-1 PROGRAM STUDI MANAJEMEN

Gambar kurvanya :

2. Koefisien Kemencengan Bowley


Koefisien kemencengan Bowley berdasarkan pada hubungan kuartil-kuartil (Q1, Q2
dan Q3) dari sebuah distribusi. Koefisien kemencengan Bowley dirumuskan :
(𝑄 −𝑄 )−(𝑄 −𝑄 ) 𝑄3 −2𝑄2 +𝑄1
SkB = (𝑄3 −𝑄2 )+(𝑄2 −𝑄1 ) atau SkB = 𝑄3 −𝑄1
3 2 2 1

Dimana:
SkB = Koefisien kemencengan Bowley
Q = Kuartil
Koefisien kemencengan Bowley sering juga disebut Kuartil Koefisien
Kemencengan.Apabila nilai skB dihubungkan dengan keadaan kurva, didapatkan :
1) Jika Q3 – Q2 > Q2 – Q1 maka distribusi akan menceng ke kanan atau menceng
secara positif.
2) Jika Q3 – Q2 < Q2 – Q1 maka distribusi akan menceng ke kiri atau menceng secara
negatif.
3) SkB positif, berarti distribusi menceng ke kanan.
4) SkB negatif, berarti distribusi menceng ke kiri.
5) SkB = ± 0,10 menggambarkan distribusi yang menceng tidak berarti dan skB > 0,30
menggambarkan kurva yang menceng berarti.

S-1 MANAJEMEN [5]


Modul STATISTIK-1 PROGRAM STUDI MANAJEMEN

Contoh soal :
Tentukan kemencengan kurva dari distribusi frekuensi Nilai Ujian Matematika Ekonomi
dari 100 mahasiswa pada tahun 2015 menggunakan Koefisien Kemencengan Bowley.

Nilai Ujian Frekuensi (fi)

20 – 29 4
30 – 39 9
40 – 49 25
50 – 59 30
60 – 69 27
70 – 79 5
Jumlah 100

Penyelesaian :
1 1
 Letak Q1 = N = . 100 = 25
4 4

Jadi Q1 terletak pada data ke 25 yaitu pada kelas 40-49.


Diperoleh nilai : TBK = 39,5 ; Ci = 10 ; fkq = 13 dan fq = 25
Sehingga nilai Q1:
1
𝑛−𝑓𝑘𝑞
Nilai Q1 = TBK + (4 ) . Ci
𝑓𝑞

1
.100−13
= 39,5 + (4 25
) . 10

25−13
= 49,9 + ( 25
) . 10

= 49,5 + 3,13 = 52,63

2 2
 Letak Q2 = N = . 100 = 50
4 4

Jadi Q2 terletak pada data ke 50 yaitu pada kelas 50-59.


Diperoleh nilai : TBK = 49,5 ; Ci = 10 ; fkq = 38 dan fq = 30
Sehingga nilai Q2:
1
𝑛−𝑓𝑘𝑞
Nilai Q2 = TBK + (4 ) . Ci
𝑓𝑞

1
.100−38
= 49,5 + (4 30
) . 10

50−38
= 49,5 + ( 30
) . 10

= 49,5 + 4,0 = 53, 5

S-1 MANAJEMEN [6]


Modul STATISTIK-1 PROGRAM STUDI MANAJEMEN

3 3
 Letak Q3 = 4 N = 4 . 100 = 75
Jadi Q3 terletak pada data ke 75 yaitu pada kelas 60-69.
Diperoleh nilai : TBK = 59,5 ; Ci = 10 ; fkq = 68 dan fq = 27
Sehingga nilai Q3:
1
𝑛−𝑓𝑘𝑞
4
Nilai Q3 = TBK + ( 𝑓𝑞
) . Ci

1
.100−68
4
= 59,5 + ( ) . 10
27

75−68
= 59,5 + ( 27
) . 10

= 59,5 + 2,59 = 62,09

Jadi koefisien kemencengan Bowley (SkB)


𝑄3 −2𝑄2 +𝑄1 62,09 − 2.(53,5) +52,63 7,72
SKB = = = = 0,816
𝑄3 −𝑄1 62,09 −52,63 9,46

Karena SkB positif (= 0,816) maka kurva menceng ke kanan.

3. Koefisien Kemencengan Persentil

Koefisien Kemencengan Persentil didasarkan atas hubungan antar persentil (P90,


P50 dan P10) dari sebuah distribusi. Koefisien Kemencengan Persentil dirumuskan :

(𝑃90 −𝑃50 )−(𝑃50 −𝑃10 )


SkP = 𝑃50 −𝑃10

Keterangan :
SkP = koefisien kemecengan persentil ,
P = persentil

4. Koefisien Kemencengan Momen


Koefisien Kemencengan Momen didasarkan pada perbandingan momen ke-3 dengan
pangkat tiga simpang baku. Koefisien menencengan momen dilambangkan dengan α3.
Koefisien kemencengan momen disebut juga kemencengan relatif.
Apabila nilai α3 dihubungkan dengan keadaan kurva, didapatkan :
1) Untuk distribusi simetris (normal), nilai α3= 0,
2) Untuk distribusi menceng ke kanan, nilai α3 = positif,

S-1 MANAJEMEN [7]


Modul STATISTIK-1 PROGRAM STUDI MANAJEMEN

3) Untuk distribusi menceng ke kiri, nilai α3= negatif,


4) Menurut Karl Pearson, distribusi yang memiliki nilai α3 ±0,50 adalah distribusi
yang sangat menceng
5) Menurut Kenney dan Keeping, nilai α3 bervariasi antara ± 2, bagi distribusi yang
menceng.
Kriteria : Jika -2,0 < ∝3 < +2,0 maka dapat diinterpretasikan berdistribusi normal
atau hamper normal.

Untuk mencari nilai α3, dibedakan antara data tunggal dan data berkelompok.
a. Untuk data tunggal
Koefisien Kemencengan Momen untuk data tunggal dirumuskan :
1
𝑀3 𝑛 ∑(𝑋 − 𝑋̅)
3
∝3 = 3 =
𝑆 𝑆3
α3 = koefisien kemencengan momen

b. Untuk data berkelompok


Koefisien kemencengan momen untuk data berkelompok dirumuskan :
1
𝑀3 𝑛 ∑(𝑋 − 𝑋̅) . 𝑓𝑖
3
∝3 = 3 =
𝑆 𝑆3
Contoh:
Tentukanlah koefisien kemencengan data nilai ujian statistik dari 40 mahasiswa
program studi Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang pada tahun 2016 dengan
menggunakan koefisien kemencengan momen (∝3 ).

Nilai Ujian Frekuensi (fi)

31-40 4
41-50 3
51-60 5
61-70 8
71-80 11
81-90 7
91-100 2
Jumlah 40

S-1 MANAJEMEN [8]


Modul STATISTIK-1 PROGRAM STUDI MANAJEMEN

Penyelesaian Soal:
Tabel Penolong Perhitungan
Nilai Frekuensi Nilai 𝑓𝑖 . (𝑋𝑖
fi . Xi (Xi-𝑋̅) 𝑓𝑖 . (𝑋𝑖 − 𝑋̅)3
Ujian (fi) Tengah (Xi) − 𝑋̅)2
31-40 4 35.5 142 -32 4096 -131072
41-50 3 45.5 136.5 -22 1452 -31944
51-60 5 55.5 277.5 -12 720 -8640
61-70 8 65.5 524 -2 32 -64
71-80 11 75.5 830.5 8 704 5632
81-90 7 85.5 598.5 18 2268 40824
91-100 2 95.5 191 28 1568 43904
Jumlah 40 2700 10840 -81360

 ̅)
Rata-rata/Mean (X

∑ 𝑓 .𝑋 2700
̅
X= 𝑖 𝑖= = 67,5
𝑁 40

 Simpangan Baku (S)


1
S =√ . ∑𝑛𝑖=1(𝑋𝑖 − 𝑋̅)2 . 𝑓𝑖
𝑛−1

1 1
= √40−1 . (10840) = = √39 . (10840) = √277,949 = 16,67

 Koefisien Kemencengan Momen (∝3 )


1 1
𝑀3 ∑(𝑋−𝑋̅)3 .𝑓𝑖 .(−81360) −2.304
∝3 = 𝑆3
=𝑛 𝑆3
= 40 16,673 =4632,41= - 0,4391

Karena ∝3 = - 0,4391 < 0, maka bentuk kurva negatif (menceng ke kiri).

*****

S-1 MANAJEMEN [9]


Modul STATISTIK-1 PROGRAM STUDI MANAJEMEN

C. LATIHAN SOAL/TUGAS
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
1. Berikut ini adalah daftar penggajian setiap minggunya dari karyawan 100 orang
PT.Maju Sejahtera.
Gaji Jumlah
Tentukanlah Ukuran kemen-
Karyawan
cengan data di samping dengan
50 – 59 4
menggunakan metode:
60 – 69 6
a. Koefisien kemencengan
70 – 79 20 Pearson (Sk), dan
80 – 89 30 b. Koefisien kemencengan
90 – 99 21 Momen (∝3 ).
100 – 109 14
110 – 109 5

D. DAFTAR PUSTAKA

Bambang Kustianto, Statistika 1, Seri diktat kuliah, Penerbit Gunadarma, Jakarta,1994

Haryono Subiyakto, Statistika 2, Seri diktat kuliah, Penerbit Gunadarma, Jakarta,1994

Kazmier, L.J & N. F Pohl, Basic Statistics for Business and Economics, Mc Graw Hill
Int. Ed. Singapore, 1987.

Shim, J.K , J.G Siegel & C.J Liew. Strategic Business Forecasting. Mubaruk &
Brothers, Singapore , 1994

Spiegel, M.R. Statistics. Schaum’s Outline Series, Asian student ed, Mc Graw Hill,
Singapore, 1985.

Walpole, R.E. Pengantar Statistik. Edisi terjemahan, PT Gramedia, Jakarta, 1992

Supranto,J., Statistik Teori dan Aplikasi Jilid 2, Edisi Ketujuh, Erlangga, Jakarta, 2009

Supardi, U.S., Aplikasi Statistika dalam Penelitian, Ufuk Press, Jakarta Selatan, 2012

S-1 MANAJEMEN [ 10 ]