Anda di halaman 1dari 113

ROCK MASS CLASSIFICATION

A PRACTICAL APPROACH IN CIVIL ENGINEERING


B. SINGH
R. K. GOEL

Pendahuluan
Rock Mass Classification cukup dapat diandalkan?
Rock Mass Classification melalui pendekatan ilmiah?
Laborious field research = penelitian lapangan yg melelahkan..
By God's grace = dengan Rahmat Allah
Reliable data field = data lapangan yg andal
Less tortuous = tidak berbelit-belit
Consequently = akibatnya
Thereby = dengan demikian
Practical doubt = keraguan praktis
Nevertheless = Namun demikian
Should be kept alive = harus tetap hidup
Hence = oleh karena itu
Have been presented = yang telah disajikan
Particular rock structure = struktur batuan tertentu
Notasi UCS material batuan = qc & σ c
Rigorous analysis = analisis yang ketat
The prevailing dissatisfaction present in the….= ketidakpuasan yang ada di benak
Testing and monitoring = pengujian dan pemantauan
The key approach = pendekatan utama
Rock Engineering Project = Proyek Rekayasa Batuan
All practical knowledge has been gained from interpretations of field observation
s = Semua pengetahuan praktis telah diperoleh dari interpretasi pengamatan lapan
gan.

1
Himalaya = the best field laboratory untuk belajar Mekanika Batuan dan Teknik G
eologi karena masalah geologisnya yang kompleks.
Further, the hypnotic charm of upper Himalaya is very healing especially to conce
rned engineers and geologists = Selanjutnya, pesona hipnotis Himalaya bagian ata
s sangat mujarab (manjur) terutama untuk insinyur dan ahli geologi yang bersangk
utan.
Hill track = jalur bukit
Marvellous feeling of energy and inner healing = perasaan energi dan penyembuh
an batin yang luar biasa.
Majestic Himalaya is a twin boon = keagungan Himalaya adalah anugerah kemba
r.

Chapter 1 – Filosofi Klasifikasi Kuantitatif


"Ketika Anda bisa mengukur apa yang Anda bicarakan, dan mengungkapkannya d
alam angka, Anda tahu sesuatu tentang itu, tetapi ketika Anda tidak bisa menguku
rnya, ketika Anda tidak bisa mengungkapkannya dalam angka, pengetahuan Anda
adalah jenis yang sedikit dan tidak memuaskan, "itu mungkin merupakan awal dar
i pengetahuan, tetapi Anda hampir tidak memiliki dalam pikiran Anda, maju ke ta
hap sains"
Lord Kelvin
1. Klasifikasi
Ilmu pengetahuan tentang klasifikasi disebut taksonomi, yang berkaitan d
engan aspek teoritis klasifikasi, termasuk dasarnya, prinsip, prosedur dan atur
an.
Klasifikasi massa batuan membentuk tulang punggung pendekatan peren
canaan empiris dan banyak digunakan dalam rekayasa batuan. Klasifikasi ma
ssa batuan baru-baru ini cukup populer dan digunakan dalam perencanaan kel
ayakan. Sudah berulang kali diujicoba bahwa ketika digunakan dengan benar,
klasifikasi massa batuan dapat menjadi alat yang kuat dalam perencanaan. Ba
hkan, pada banyak proyek, pendekatan klasifikasi berfungsi sebagai satu-satu
nya dasar praktis untuk perencanaan struktur bawah tanah yang kompleks. Sta

2
dion Bawah Tanah Hoki Es Gjovik selebar 60m di Norwegia juga dirancang
dengan pendekatan klasifikasi.
Sistem klasifikasi massa batuan kuantitatif telah digunakan dengan manf
aat besar di Austria, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Eropa dan India karena
alasan berikut:
i. Ini menyediakan komunikasi yang lebih baik antara ahli geologi, perenca
naan, kontraktor dan insinyur;
ii. Pengamatan, pengalaman dan penilaian insinyur dikorelasikan dan dikon
solidasikan secara lebih efektif oleh sistem klasifikasi kuantitatif;
iii. Insinyur lebih suka angka menggantikan deskripsi, oleh karena itu, siste
m klasifikasi kuantitatif memiliki penerapan yang cukup besar dalam pen
ilaian keseluruhan kualitas batuan; dan
iv. Pendekatan klasifikasi membantu dalam pengorganisasian pengetahuan.

Sistem klasifikasi dalam 50 tahun terakhir pengembangannya telah meny


adari kemajuan baru dalam teknologi penyangga batuan mulai dari p
enyangga tulang rusuk baja hingga teknik penyangga terbaru seperti baut batu
(rockbolt) dan shotcrete yang diperkuat serat baja (SFRS).

2. Filosofi Sistem Klasifikasi


Dalam sistem klasifikasi kuantitatif apa pun, peringkat minimum diberik
an kepada massa batuan paling buruk dan peringkat maksimum untuk massa
batuan paling bagus. Dengan demikian, setiap parameter klasifikasi memaink
an peran yang lebih dominan karena peringkat keseluruhan menurun. Jelas, b
anyak klasifikasi adalah akurat baik pada kondisi batuan yang bagus maupun
yang buruk. Keandalan dapat menurun untuk kondisi batuan sedang. Harus di
akui bahwa tidak ada klasifikasi tunggal yang valid untuk penilaian semua par
ameter batuan. Keandalan dapat menurun untuk kondisi batuan sedang. Harus
diakui bahwa tidak ada klasifikasi tunggal yang valid untuk penilaian semua p
arameter batuan. Pengalaman, oleh karena itu, membentuk dasar untuk memil
ih klasifikasi untuk memperkirakan parameter batuan. Tujuannya adalah untu

3
k mengklasifikasikan massa batuan yang tidak terganggu di luar permukaan y
ang digali. Kehati-hatian harus diambil untuk menghindari penghitungan gan
da parameter kekar dalam klasifikasi dan analisis. Kekar tidak boleh dipertim
bangkan dalam klasifikasi jika kekar diperhitungkan dalam analisis.
Diperlukan variasi kabur (tidak jelas) dari rata-rata parameter batuan sete
lah memberikan penyisihan untuk ketidakpastian. Dengan demikian, lebih bai
k untuk menetapkan rentang peringkat untuk setiap parameter. Pengalaman m
enunjukkan bahwa ada variasi luas dalam klasifikasi kuantitatif di suatu lokas
i. Pengalaman perencanaan menunjukkan bahwa rata-rata peringkat massa bat
uan (RMR, GSI, RMi, dll.) dipertimbangkan dalam perencanaan sistem pend
ukung (penyangga). Dalam hal kualitas massa batuan (Q), rata-rata geometrik
dari nilai minimum dan maksimum dipertimbangkan dalam perencanaan.
Sistem klasifikasi yang ketat dapat menjadi lebih andal jika parameter tid
ak pasti dibuang dan dipertimbangkan secara tidak langsung. Pendekatan siste
m yang mudah (Hudson, 1992) sangat menarik dan mencoba untuk memberik
an urutan parameter yang dominan di suatu lokasi (lihat Bab 26).
Hoek dan Brown (1997) telah menyadari bahwa sistem klasifikasi harus
non-linear untuk mengklasifikasikan massa batuan yang buruk secara realistis.
Dengan kata lain, pengurangan parameter kekuatan dengan klasifikasi harus
non-linear, tidak seperti RMR di mana parameter kekuatan menurun secara li
near dengan penurunan RMR. (Infact, Mehrotra, 1992 telah menemukan bah
wa parameter kekuatan berkurang secara non-linear dengan RMR untu
k massa batuan kering). Diperlukan lebih banyak penelitian tentang korelasi
non-linear untuk parameter batuan.
Mungkin yang disoroti di sini bahwa penilaian rekayasa berkembang dari
kerja keras untuk waktu yang lama di lapangan.

3. Manajemen Ketidakpastian

4
Pendekatan empiris, numerik atau analitik dan observasi adalah berbagai
alat untuk perencanaan teknik. Pendekatan empiris, berdasarkan klasifikasi m
assa batuan, adalah yang paling populer karena tujuan dasarnya yaitu keseder
hanaan dan kemampuan untuk mengelola ketidakpastian. Ketidakpastian geol
ogis dan geoteknis dapat diatasi secara efektif menggunakan klasifikasi yang t
epat. Selain itu, para perancang dapat mengambil keputusan di tempat pada la
ngkah-langkah pendukung dll, jika ada perubahan mendadak dalam geologi.
Pendekatan analitik, di sisi lain, didasarkan pada asumsi yang tidak pasti dan t
erlebih lagi mendapatkan nilai yang benar dari parameter masukan, memakan
waktu dan luas. Pendekatan pengamatan, seperti namanya, didasarkan pada p
emantauan efisiensi sistem pendukung.
Klasifikasi cenderung tidak valid jika kerusakan akibat peledakan dan pel
apukan bersifat serius, contoh: di daerah dingin dan di bawah samudera, dll. L
ebih lanjut, batuan memiliki masalah EGO (Extraordinary Geological Occur
rence) yang harus diselesaikan di bawah bimbingan pakar nasional dan intern
asional.
Menurut Fairhurst (1993), perancang harus mengembangkan solusi desai
n dan strategi desain yang kuat, yaitu mampu bekerja dengan baik dan memad
ai bahkan dalam kondisi geologis yang tidak diketahui. Sebagai contoh, shotc
reted dan lengkungan batu yang diperkuat adalah strategi desain yang kuat. S
ecara historis, Metode Tunneling Norwegia (NMT) telah mengembangkan str
ategi yang sukses dari 25 tahun pengalaman yang dapat diadopsi dalam terow
ongan penyangga dalam kondisi batuan yang sangat berbeda.

4. Praktik Hari Ini


Praktek saat ini adalah kombinasi dari semua pendekatan ini. Ini pada das
arnya adalah pendekatan "Design as You Go". Pengalaman mengarah pada str
ategi penyempurnaan dalam desain sistem penyangga.
i. Dalam studi kelayakan, korelasi empiris dapat digunakan untuk memperk
irakan parameter batuan.

5
ii. Pada tahap desain, uji insitu harus dilakukan untuk proyek-proyek besa
r untuk menentukan parameter batuan sebenarnya. Disarankan bahwa uji
triaksial insitu (dengan σ 1, σ 2 dan σ 3 diterapkan pada sisi kubus massa bat
uan) harus dilakukan secara luas, karena σ 2 ditemukan mempengaruhi ke
kuatan dan modulus deformasi massa batuan. Ini adalah motivasi untuk p
enelitian dan presentasi di sini cenderung membuktikan kebutuhan mend
esak untuk tes triaksial insitu.
iii. Pada tahap konstruksi awal, instrumentasi harus dilakukan di aliran, gu
a, pemotongan dan lokasi penting lainnya dengan objek mendapatkan dat
a lapangan tentang perpindahan baik pada permukaan yang digali dan dal
am massa batuan. Instrumentasi juga penting untuk memantau kualitas k
onstruksi. Pengalaman telah mengkonfirmasi bahwa instrumentasi dalam
lingkungan geologi yang kompleks adalah kunci keberhasilan untuk ting
kat pembuatan terowongan yang aman dan stabil. Data ini harus digunak
an dalam pemodelan komputer untuk analisis mundur baik model dan par
ameternya (Sakurai, 1993).
iv. Pada tahap konstruksi, analisis maju dari struktur batuan harus dilakukan
dengan menggunakan model analisis mundur di atas dan parameter mass
a batuan. Siklus berulang analisis mundur dan analisis maju (BAFA)
dapat menghilangkan banyak ketidakpastian yang melekat dalam pemeta
an geologi dan pengetahuan tentang perilaku rekayasa massa batuan. Di
mana zona hancuran / plastis diprediksi, ekstensometer lubang bor harus
menunjukkan tingkat perpindahan yang lebih tinggi di zona yang rusak d
aripada di zona elastis. Perkiraan perpindahan sangat sensitif terhadap m
odel yang diasumsikan, parameter massa batuan dan diskontinuitas; dan t
egangan insitu, dll.
v. Namun, tujuan pemodelan komputer harus untuk merancang sistem
pendukung spesifik lokasi dan tidak hanya menganalisis regangan dan t
egangan dalam lingkungan geologis yang ideal. Dalam kasus lingkungan
geologi yang tidak homogen dan kompleks, yang sulit diprediksi, nilai-ni
lai parameter batuan yang sedikit konservatif dapat diasumsikan untuk tuj

6
uan merancang langkah-langkah perbaikan khusus (garis pertahanan) dan
untuk memperhitungkan ketidakpastian yang melekat dalam investigasi g
eologi dan geoteknik.
vi. Bersiaplah untuk yang terburuk dan berharap yang terbaik.

5. Lingkup Buku
Lingkup buku ini adalah untuk menyajikan sistem klasifikasi yang terinte
grasi dan aplikasinya untuk lereng, fondasi dan terowongan mengingat penelit
ian lapangan yang dilakukan di India dan Eropa dalam dua setengah dekade
terakhir.
Ini adalah buku khusus tentang klasifikasi massa batuan dan ditulis untuk
insinyur sipil dan ahli geologi yang memiliki pengetahuan dasar tentang klasi
fikasi. Untuk analisis dan desain lereng batu, pembaca dapat membaca bebera
pa buku lainnya. Buku ini tidak membahas analisis dan desain lereng.
Buku ini ditulis untuk membantu insinyur sipil dan ahli geologi yang bek
erja di proyek-proyek teknik sipil seperti proyek pembangkit listrik tenaga air,
pondasi, terowongan, gua dan zonasi bahaya tanah longsor yang cepat.
Beberapa insinyur terbiasa dengan asumsi bahwa massa batuan adalah ho
mogen dan isotropik. Ini mungkin tidak selalu benar. Pada kenyataannya, zon
a pergeseran sering ditemui. Oleh karena itu, perhatian telah diberikan pada p
erlakuan yang tepat seperti yang dibahas pada bab berikutnya.

Chapter 2 – Perlakuan Zona Pergeseran pada Terowongan dan Pondasi


"Alam berbeda di mana-mana, dan dia tidak mengikuti buku teks"
Stini

2.1 Zona Pergeseran


Zona pergeseran adalah zona di mana pergeseran telah terjadi sehingga m
assa batuan terhancurkan dan terbreksiasi. Zona pergeseran adalah hasil dari p
atahan di mana perpindahan tidak terbatas pada rekahan tunggal, tetapi didistr
ibusikan melalui zona patahan. Ketebalan zona pergeseran bervariasi dari sep

7
ersekian meter hingga ratusan meter. Tergantung pada ketebalannya, zona ges
er memiliki pengaruh variabel terhadap stabilitas bukaan dan fondasi bawah t
anah. Semakin tinggi ketebalan zona geser, semakin besar kemungkinan ketid
akstabilannya. Gouge Clayey di zona pergeseran umumnya sangat terkonsoli
dasi dan menunjukkan kohesi yang tinggi. Demikian pula, zona lemah juga m
enyebabkan ketidakstabilan.

2.2 Perlakuan untuk Terowongan


Klasifikasi massa batuan hanya mempertimbangkan satuan homogen dan
dengan demikian penurunan kualitas batuan yang berdekatan dengan zona ges
er mungkin sulit. Diperkirakan bahwa massa batuan yang dipengaruhi oleh zo
na geser jauh lebih besar daripada zona geser itu sendiri. Oleh karena itu, mas
sa batuan ini harus diturunkan ke kualitas zona geser sehingga sistem penyan
gga lebih berat daripada yang biasa dipasang. Suatu metode telah dikembangk
an di NGI (Norwegian Geotechnical Institute) untuk menilai persyaratan
penyanggaan menggunakan sistem-Q (Bab 8) untuk massa batuan yang dipen
garuhi oleh zona geser (Grimstad dan Barton, 1993). Dalam metode ini, zona
lemah dan massa batuan di sekitarnya dialokasikan masing-masing nilai-Q ny
a dimana nilai-rata Q dapat ditentukan, dengan mempertimbangkan lebar zon
a lemah. Rumus berikut (Persamaan 2.1) dapat digunakan dalam menghitung
nilai rata-rata tertimbang Q dari dua nilai Q (Bhasin et al., 1995).

Dimana,
Qm = nilai rata-rata kualitas massa batuan Q untuk memutuskan
penyanggaan
Qwz = nilai Q pada zona lemah
Qsr = nilai Q pada batuan sekitar
b = lebar zona lemah (m)

8
Arah jurus (θ) dan ketebalan zona lemah (b) dalam kaitannya dengan su
mbu terowongan penting untuk stabilitas terowongan dan oleh karena itu fakt
or koreksi berikut telah disarankan untuk nilai b pada Persamaan di atas. 2.1.

Persamaan 2.1 juga dapat digunakan untuk memperkirakan nilai rata-rata


tertimbang jumlah kekasaran kekar Jrm setelah mengganti log Q dengan Jr sec
ara tepat. Demikian pula, rata-rata tertimbang jumlah alterasi kekar Jam juga d
apat ditemukan.
Selanjutnya, mengalikan Persamaan 2.1 dengan 25 dalam pembilang dan
mengganti 25 log Q dengan E (lihat Persamaan 8.13), seseorang mendapatkan
nilai rata-rata modulus deformasi Em sebagai berikut:

Dimana,
Ewz = modulus deformasi pada zona lemah atau zona pergeseran
Esr = modulus deformasi pada massa batuan sekitar
Analisis elemen hingga 3D dari pembangkit tenaga listrik bawah tanah p
ada Proyek Hidroelektrik Sardar Sarovar menunjukkan bahwa defleksi maksi
mum dinding meningkat di dekat zona geser (b = 2 m) oleh faktor Esr / Em. Sel
anjutnya, tekanan dukung yang diprediksi pada shotcrete dekat zona geser din
−1
aikkan menjadi sekitar 2. Q 3 / Jrm, sedangkan tekanan dukungan di batuan s
m

−1
ekitarnya yang jauh dari zona geser adalah sekitar 2. Q 3 / Jrsr di mana Jrsr ad
sr

alah jumlah kekasaran kekar dari massa batuan di sekitarnya (Samadhiya, 199
8). Perhitungan ini cukup menggembirakan.
Dengan demikian, Era, Qm dan Jrm juga dapat digunakan untuk merancang
sistem penyanggaan untuk zona geser atau zona lemah dengan metode semi-e
mpiris yang dibahas pada Bab 12.

9
Oleh karena itu, jika massa batuan di sekitarnya dekat zona geser dit
urunkan dengan menggunakan persamaan di atas, penyanggaam yang le
bih berat harus dipilih untuk seluruh area daripada zona lemah saja.
Gambar 2.1 menunjukkan metode perlakuan khusus untuk zona geser (La
ng, 1971). Pertama zona geser digali hingga kedalaman tertentu. Itu kemudian
diperkuat dengan rockbolt miring dan akhirnya shotcrete (lebih disukai shotc
rete diperkuat serat baja) harus memastikan ketebalan yang tepat di zona lema
h. Metodologi ini sangat dibutuhkan jika NATM atau NTM (Norwegian Tunn
eling Method) akan digunakan dalam terowongan di wilayah Himalaya, sebag
ai lapisan / zona geser / patahan / thrust / zona tipis intra-thrust sering ditemu
kan di sepanjang terowongan dan gua di Himalaya.
Dalam kasus zona geser tebal (b >> 2m) dengan gouge berpasir, grouti
ng payung atau rock bolting digunakan untuk meningkatkan kekuatan atap da
n dinding sebelum melakukan pembuatan terowongan. Penggalian dilakuka
n secara manual. Rusuk baja dipasang saling berdekatan dan di-shotcre
te sampai zona geser terpotong. Setiap kemajuan lingkaran terowongan har
us dibatasi hingga 0,5 m atau lebih kecil tergantung pada waktu berdiri materi
al (stand up time) dan didukung (disangga) sepenuhnya sebelum lingkaran sel
anjutnya.

2.3 Perlakuan untuk Pondasi Bendungan


Perlakuan zona geser pada pondasi bendungan beton terdiri dari perlakua
n “gigi” seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.2. Kedalaman vertikal 'd' da

10
ri penggalian zona lemah dan penimbunan dengan pembetonan direkomendas
ikan oleh A.S.B.R. sebagai berikut,

Dimana,
H = ketinggian bendungan di atas ketinggian pondasi rata-rata dalam meter.
b = lebar zona lemah dalam meter.
d = kedalaman penggalian pada zona lemah di bawah permukaan batuan
sekitar yang bersebelahan.

Batuan yang hancur terlapukkan dan pengisian adalah hancur dengan tek
anan sangat tinggi dan kemudian ditimbun oleh banyak beton. Tidak ada pele
dakan yang digunakan untuk menghindari kerusakan pada massa batuan.
Perlakuan zona geser, kekar, rongga pelarutan dalam batugamping, dll sa
ngat penting untuk umur panjang pada pondasi bangunan. Strategi perlakuann

11
ya harus sama dengan yang diadopsi untuk pondasi bendungan dan ditunjukk
an pada Gambar 2.3 hingga 2.5 sesuai dengan Standar India IS: 13063.

Profil batuan bergelombang memberikan masalah besar dalam pondasi k


aki, pondasi sumur dan pondasi tiang pancang. Namun, batuan masif tidak me
nimbulkan masalah ketidakstabilan. Perilaku mereka mirip dengan material b
atuan (intact rock).
Chapter 3 – Material Batuan

3.1 Material Batuan

12
Istilah "Material Batuan" mengacu pada batuan utuh (intact rock) dalam
kerangka diskontinuitas. Dengan kata lain, ini adalah elemen terkecil dari bl
ok batuan yang tidak dipotong oleh rekahan apa pun. Selalu ada beberapa
rekahan mikro dalam material batuan, tetapi ini tidak boleh diperlakuka
n sebagai rekahan. 'Material Batuan' berbeda dari 'massa batuan' yang meng
acu pada batuan insitu bersamaan dengan diskontinuitas dan profil pelapukan
nya. Material Batuan memiliki karakteristik sebagai berikut:

3.2 Kehomogenan & Ketidakhomogenan


Bray (1967) menunjukkan bahwa jika batuan mengandung 10 pasang ata
u lebih diskontinuitas (kekar), maka perilakunya dapat diperkirakan dengan p
erilaku massa homogen dan isotropik dengan kesalahan hanya 5% karena dias
umsikan homogenitas dan kondisi isotropik. Juga, jika sebuah batuan adalah
masif dan mengandung diskontinuitas yang sangat sedikit, itu dapat diidealka
n untuk berperilaku sebagai media yang homogen. Hoek dan Brown (1980) m
enunjukkan bahwa homogenitas adalah karakteristik yang tergantung pada uk
uran sampel. Jika ukuran sampel berkurang, batuan yang paling heterogen ak
an menjadi batuan yang homogen (Gambar 3.1). Pada Gambar 3.1 "s" adalah

13
konstanta yang tergantung pada karakteristik massa batuan seperti yang dibah
as dalam Bab 25. Deere et al. (1969) mengemukakan bahwa jika rasio antar
a jarak rekahan dan ukuran bukaan ≤ 1/100, nilai batu harus dianggap d
iskontinuitas (tidak menerus) dan di luar kisaran ini harus dianggap kon
tinum dan mungkin anisotropik.
Batuan yang tidak homogen lebih dapat diprediksi daripada batu yang ho
mogen karena batuan yang paling lemah akan mulai memberikan sinyal mara
bahaya jauh sebelum keruntuhan akhir dari struktur batuan.

3.3 Klasifikasi Material Batuan


Shilpsastra kuno di India mengklasifikasikan batuan berdasarkan warna,
suara, dan bobot. Stapledon (dalam John, 1971) dan ISRM mengusulkan klasi
fikasi material batuan berdasarkan kekuatan tekan uniaksial (UCS) seperti ya

14
ng ditunjukkan pada Tabel 3.1. Jelaslah bahwa material batu dapat menunjuk
kan kekuatan hamburan besar, katakanlah urutan 10 kali. Oleh karena itu, perl
unya sistem klasifikasi yang didasarkan pada kekuatan dan bukan kandungan
mineral.

Tabel 3.1 Klasifikasi Batuan Berdasarkan Unconfined Compressive Strength (Stappledon &
ISRM).
Istilah u Simbo Kekuata Rentang Umum untuk Beberapa Material Batuan
ntuk Un l n Granit, Schist, B Batugampin Batusaba Beto
iaxial C (MPa) Basalt, atupasir g, Batulanau k n
S Gneiss,
Kuarsi
t, Mar
mer
Paling EW 0.25–1 ** **
Lemah
Sangat VW 1-5 ** ** ** **
Lemah
Lemah W 5-25 ** ** ** **
Kuat Se MS 25-50 ** ** **
dang
Kuat S 50-100 **
Sangat VS 100-250 **
kuat
Paling k ES > 250 **
uat

Kekuatan tekan uniaksial (UCS) dapat dengan mudah diprediksi dari uji i
ndeks kekuatan beban pusat pada inti batuan dan gumpalan batuan tepat di lo
kasi pengeboran karena ujung conto batuan tidak perlu dipotong dan dilipat.
UCS juga ditemukan dari pantulan palu Schmidt (Gambar 14.4).
Sering terjadi perselisihan hukum tentang batas tanah-batu. Organisasi S
tandar Internasional (ISO) mengklasifikasikan material geologis yang m
emiliki UCS kurang dari 0,6 MPa sebagai tanah.
Deere dan Miller (John, 1971) telah menyarankan sistem klasifikasi lain
yang berguna berdasarkan rasio modulus, yang didefinisikan sebagai rasio ant
ara modulus elastis dan UCS. Secara fisik, rasio modulus menunjukkan kebali
kan dari regangan aksial saat kegagalan. Dengan demikian, bahan brittle me
miliki rasio modulus tinggi dan bahan plastis menunjukkan rasio modul
us rendah.

15
3.4 Batuan Kelas I dan Kelas II
Bahan batuan telah dibagi menjadi dua kelas menurut kurva tegangan-reg
angan puncaknya (Wawersik, 1968).
Kelas I: Perambatan kegagalan adalah stabil dalam arti bahwa setiap penamba
han deformasi di luar titik daya dukung beban maksimum membutuhkan peni
ngkatan pekerjaan yang harus dilakukan pada batu, sedangkan
Kelas II: Batuan tidak stabil atau kestabilan sendiri; energi elastis harus diekst
raksi dari bahan untuk mengontrol rekahan.
Pengenalan penekanan parsial, seperti dalam kasus sampel pendek ketika
tegangan akhir menjadi dominan, kemungkinan memiliki efek yang memuask
an. Jika pengekangan akhir menjadi parah, mungkin saja batuan Kelas II pada
dasarnya berperilaku seperti bahan Kelas I.
Wawersik (1968) melakukan percobaan pada enam jenis batuan untuk m
enunjukkan jenis batuan Kelas I dan II seperti yang ditunjukkan pada Gambar
3.2. Kurva khusus tegangan-regangan bentuk S dapat diperoleh untuk batuan
karena adanya rekahan mikro. Selanjutnya, kurva setelah-puncak untuk batua
n kelas II menunjukkan pengurangan regangan setelah kegagalan. Harus dise
butkan bahwa regangan lateral meningkat dengan cepat setelah tegangan punc
ak pada batuan kelas II. Oleh karena itu, batuan brittle dapat disimpan dalam
kategori kelas II.
Dengan demikian, sebuah terowongan di dalam batuan keras yang massif
& kering, batuan Kelas II dan batuan berlaminasi mungkin gagal oleh ledakan
batuan karena rekahan yang tidak terkendali di mana tegangan tangensial mel
ebihi kekuatan material batuan. Oleh karena itu perlunya pengujian material b
atuan dalam Servo yang dikontrol tertutup Mesin Uji Loop (Loop Testing M
achines) untuk mendapatkan kurva setelah puncak.

16
3.5 Tekanan Uniaxial
Kegagalan batuan dalam tekanan uniaksial terjadi dalam dua mode:
(i) Kegagalan pemisahan atau pembelahan lokal (aksial) atau yang sejajar den
gan tegangan yang diterapkan, dan
(ii) Kegagalan geser.
Rekahan belahan lokal mencirikan inisiasi kegagalan pada 50-95 % dari
kuat tekan dan menerus sepanjang seluruh sejarah pembebanan. Rekahan bela
han aksial adalah fenomena penghilang tekanan lokal yang tergantung pada k
ekuatan anisotropi dan kerapuhan agregat kristal serta pada ukuran butiran bat

17
uan. Pemisahan aksial lokal hampir tidak ada dalam bahan berbutir halus pad
a tingkat tegangan di bawah kuat tekannya.
Kegagalan geser memanifestasikan dirinya dalam pengembangan batas s
esar (patahan) diikuti oleh interior rekahan yang berorientasi pada 120 dan 180
dan sekitar 300 mengenai sumbu sampel. Dalam material berbutir halus di ma
na ketidakhomogenan pada distribusi tegangan hanya bergantung pada penco
cokan awal dari sifat material pada antarmuka pelat pembebanan, batas dan in
terior sesar (patahan) cenderung berkembang secara bersamaan dan tampakny
a memiliki orientasi yang sama untuk setiap jenis batuan dalam keakuratan pe
ngukuran pada sisa potongan spesimen yang runtuh (basal, dll.).
Rekahan lokal aksial mengatur kemampuan membawa beban maksimal d
ari jenis batuan Kelas I dan II yang berbutir kasar dan tidak homogen. Denga
n demikian, dalam kasus batuan berbutir kasar, mode kegagalan makroskopik
maksimum dari sampel yang benar-benar runtuh dalam kompresi uniaksial ya
ng seragam tidak dapat dikaitkan dengan tegangan puncak. Dalam kasus jenis
batuan berbutir halus, homogenitas secara lokal, yang kemungkinan besar ada
lah Kelas II, tegangan puncak mungkin ditandai oleh pengembangan rekahan
geser, yaitu, bidang keruntuhan menerus. Oleh karena itu, dalam percobaan re
kahan yang terkontrol pada batuan berbutir sangat halus, penampilan akhir sp
esimen batuan yang runtuh mungkin dapat dikorelasikan dengan kuat tekanny
a. Namun, jika rekahan batuan tidak terkendali, maka efek gelombang tegang
an yang dihasilkan oleh pelepasan energi yang dinamis dapat melampaui feno
mena kegagalan kuasi-elastis sedemikian rupa sehingga yang terakhir mungki
n tidak lagi dapat dikenali.
Tingkat pengembangan dari dua mode kegagalan dasar, pemisahan aksial
lokal dan kegagalan slip atau geser, menentukan bentuk kurva tegangan - rega
ngan untuk semua batuan yang mengalami pembebanan searah atau triaksial.
Batuan yang gagal sebagian masih menunjukkan sifat elastis. Namun, kekaku
an sampel menurun dengan mantap dengan meningkatnya deformasi dan kehi
langan kekuatan.

18
Kegagalan pembelahan makroskopis, dalam arti bahwa sampel laboratori
um akan membelah secara aksial menjadi dua atau lebih segmen, tidak pernah
diamati dalam percobaan pada batuan Kelas I dan II. Selain itu, perkiraan ana
lisis teoritis dari model "permukaan gelincir" yang diusulkan oleh Fairhurst d
an Cook (1966) telah mengungkapkan secara kualitatif bahwa rekahan pembe
lahan aksial yang tidak stabil adalah mode kegagalan batuan yang tidak mung
kin dalam tekanan uniaksial.

3.6 Kestabilan di dalam Air


Dalam proyek pembangkit listrik tenaga air, batu diberi muatan air. Poten
si disintegrasi bahan batuan dalam air dapat ditentukan dengan merendam pot
ongan batu dalam air hingga satu minggu. Perilakunya harus dijelaskan meng
gunakan ketentuan Tabel 3.2 (ISO - 1997).

Tabel 3.2 Kestabilan Material Batuan di dalam Air (ISO-1997).


S. No Kondisi Kestabilan Perilaku Batu dalam Air
1 Stabil Tidak Terpengaruh
2 Cukup Stabil Sebagian rusak
3 Tidak Stabil Seluruhnya rusak

Sangat menarik untuk mengamati bahwa kecepatan getaran ultrasonik dal


am batuan jenuh lebih tinggi daripada di batuan kering karena lebih mudah ba
gi getaran untuk melakukan perjalanan melalui air daripada melalui rongga u
dara. Namun, kuat tekan uniaksial dan modulus elastisitas berkurang secara si
gnifikan setelah jenuh, terutama pada batuan dengan mineral yang peka terha
dap air. Di sisi lain, kurva tegangan-regangan paska puncak menjadi lebih rat
a dalam kasus uji UCS yang tidak terdrainase pada sampel jenuh karena meni
ngkatkan porositas fraktur setelah kegagalan menciptakan tekanan air pori ne
gatif.

3.7 Kestabilan Atas Dasar Indeks Daya Tahan Slake

19
Berdasarkan pengujiannya pada serpih dan batu lempung yang representa
tif selama dua angka siklus 10 menit setelah pengeringan, Gamble (1971) me
nemukan indeks ketahanan slake bervariasi pada seluruh rentang dari 0 – 100
%. Tidak ada hubungan yang terlihat antara daya tahan dan umur geologi, teta
pi daya tahan meningkat secara linear dengan kepadatan dan berbanding terba
lik dengan kadar air alami. Berdasarkan hasil-hasilnya, oleh karena itu, Gamb
le mengusulkan klasifikasi ketahanan slake seperti yang diberikan pada Tabel
3.3. Klasifikasi slake berguna dalam pemilihan agregat batuan untuk jalan, jal
ur rel, beton dan shotcrete.

Tabel 3.3 Klasifikasi Ketahanan Slake (Gambel, 1971).


Nama Kelompok % dipertahankan setelah 1 % dipertahankan setelah 2
siklus 10 menit (berdasarka siklus 10 menit (berdasarka
n berat kering) n berat kering)
VH ketahanan > 99 >98
H ketahanan 98-99 95-98
MH ketahanan 95-98 85-95
M ketahanan 85-95 60-85
L ketahanan 60-85 30-60
VL ketahanan <60 <30

Batuan di lapangan umumnya terkekarkan. Itu diklasifikasikan oleh perol


ehan inti di masa lalu dan terakhir di tahun enam puluhan oleh modifikasi per
olehan inti (RQD).

Chapter 4 – Rock Quality Designation (RQD)

4.1 Rock Quality Designation


RQD diperkenalkan oleh D. U. Deere pada tahun 1964 sebagai indeks pe
nilaian kualitas batuan secara kuantitatif. Ini adalah indeks kualitas inti yang l
ebih sensitif daripada perolehan inti (core recovery).
RQD adalah persen perolehan inti yang dimodifikasi yang hanya mencak
up potongan inti yang panjangnya 100 mm (4 inci) atau yang panjangnya lebi
h besar di sepanjang sumbu inti (core),

20
Berikut metode perolehan RQD

4.2 Direct Method (Metode Langsung)


Untuk penentuan RQD, International Society for Rock Mechanics (ISR
M) merekomendasikan ukuran inti setidaknya NX (ukuran 54,7 mm) yang di
bor dengan tabung inti tabung ganda menggunakan mata bor intan. Rekahan b
uatan dapat diidentifikasi dengan inti yang pas dan permukaan yang tidak kot
or. Semua rekahan buatan harus diabaikan sambil menghitung panjang inti un
tuk RQD. Tingkat pengeboran yang lambat juga akan memberikan RQD
yang lebih baik. Hubungan antara RQD dan kualitas teknik dari massa batua
n seperti yang diusulkan oleh Deere (1968) diberikan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Korelasi antara RQD dan Kualitas Massa Batuan.


S. No. RQD (%) Kualitas Batuan
1 <25 Sangat buruk
2 25-50 Buruk
3 50-75 Cukup
4 75-90 Baik
5 90-100 Sangat baik

Prosedur yang benar untuk mengukur RQD ditunjukkan pada Gambar 4.


1. RQD mungkin merupakan metode yang paling umum digunakan untuk me
ngkarakterisasi derajat kekar pada inti lubang bor, meskipun parameter ini jug
a secara implisit mencakup kenampakan (ciri) massa batuan lainnya seperti p
elapukan dan 'kehilangan inti' (core loss) (Bieniawski, 1989).

21
4.3 Indirect Method (Metode Tidak Langsung)
4.3.1 Seismic Method (Metode Seismik)
Metode survei seismik memanfaatkan variasi sifat elastis dari strata
yang memengaruhi kecepatan gelombang seismik yang melaluinya, sehi
ngga memberikan informasi berguna tentang strata bawah permukaan.
Metode ini memiliki keuntungan karena relatif murah dan cepat untuk d
iterapkan dan membantu mempelajari massa batuan dalam jumlah besar
Informasi berikut sehubungan dengan massa batuan yang diperoleh dar
i tes ini.
a. Lokasi dan konfigurasi batuan dasar dan struktur geologi di bawah p
ermukaan.
b. Efek diskontinuitas (ketidakmenerusan) dalam massa batuan dapat di
perkirakan dengan membandingkan kecepatan gelombang tekan insit

22
u dengan kecepatan sonik laboratorium dari inti bor utuh yang dipero
leh dari massa batuan yang sama.

Dimana:
VF = Kecepatan gelombang tekan insitu
VL = Kecepatan gelombang tekan pada inti batuan yang utuh
Untuk perincian metode seismik, buku teks apa pun yang membaha
s topik ini dapat dirujuk.
4.3.2 Volumetric Joint Count (Jumlah Volum Kekar)
Ketika core tidak tersedia, RQD dapat diperkirakan dari jumlah ke
kar (diskontinuitas) per unit volume Jv. Hubungan sederhana yang dapat
digunakan untuk mengubah Jv, menjadi RQD untuk massa batuan yang
tidak ada lempung adalah (Palmstrom, 1982),

di mana Jv mewakili jumlah total kekar per meter kubik atau jumlah kek
ar volumetrik.
Hitungan kekar volumetrik Jv, telah dijelaskan oleh Palmstrom (198
2, 1985, 1986) dan Sen dan Eissa (1992). Ini adalah ukuran untuk jumla
h kekar dalam satuan volume massa batuan yang ditentukan oleh

di mana Si adalah jarak kekar rata-rata dalam meter untuk rangkaia


n kekar dan J adalah jumlah total rangkaian kekar kecuali rangkaia
n kekar yang acak.
Kekar yang acak juga dapat dipertimbangkan dengan mengasumsik
an 'jarak yang acak'. Pengalaman menunjukkan bahwa kekar yang aca
k harus diatur ke Sr = 5m (Palmstrom, 1996). Dengan demikian, juml
ah kekar volumetrik dapat secara umum dinyatakan sebagai

23
di mana Nr dapat dengan mudah diestimasi dari pengamatan kekar, kare
na didasarkan pada pengukuran umum pada jarak atau jumlah kekar. Da
lam kasus-kasus di mana kekar acak atau tidak teratur terjadi, J v dapat d
itemukan dengan menghitung semua kekar yang diamati di area dengan
ukuran yang diketahui. Tabel 4.2 menunjukkan klasifikasi Jv.

Tabel 4.2 Klasifikasi Jumlah Kekar Volumetrik Jv (Palmstrom, 1982 & 1996).
S. No. Istilah untuk Kekar Istilah untuk Jv Jv
1 Massif Paling rendah < 0.3
2 Terkekarkan sangat lemah Sangat rendah 0.3 – 1.0
3 Terkekarkan lemah Rendah 1–3
4 Terkekarkan menengah Cukup tinggi 3 – 10
5 Terkekarkan kuat Tinggi 10 – 30
6 Terkekarkan sangat kuat Sangat tinggi 30 -100
7 Hancur Paling tinggi > 100

Meskipun RQD adalah indeks yang sederhana dan murah, ketika di


pertimbangkan sendiri, itu tidak cukup untuk memberikan deskripsi yan
g memadai tentang massa batuan karena mengabaikan orientasi kekar, k
ondisi kekar, jenis pengisian kekar dan kondisi tegangan.

4.4 Weighted Joint Density (Densitas Kekar Terbebani)


Metode pengukuran kekar berbobot, yang diusulkan oleh Palmstrom (199
6), dikembangkan untuk mencapai informasi yang lebih baik dari pengamatan
lubang bor dan permukaan. Pada prinsipnya, ini didasarkan pada pengukuran
sudut antara setiap kekar dan permukaan atau lubang bor. Densitas kekar berb
obot (wJd) didefinisikan sebagai

untuk pengukuran di permukaan batuan:

untuk pengukuran di sepanjang inti bor atau scanline (garis pemindaian):

24
di mana δ adalah sudut perpotongan, yaitu, sudut antara bidang pengamat
an atau lubang bor dan individu kekar; A adalah ukuran area yang diamati dal
am m2; L adalah panjang dari bagian yang diukur di sepanjang inti atau garis
pemindaian (Gambar 4.2) dan fi adalah faktor peringkat.

Untuk memecahkan masalah sudut perpotongan yang kecil dan untuk me


nyederhanakan pengamatan, sudut-sudut tersebut telah dibagi menjadi interva
l-interval di mana peringkat fi, telah dipilih seperti yang diperlihatkan pada Ta
bel 4.3. Pemilihan interval dan peringkat fi telah ditentukan dari simulasi.

Tabel 4.3 Interval Sudut dan Pemeringkatan Faktor fi (Palmstrom, 1996).


Sudut (δ ) Antara Kekar dan Per Pemeringkatan Faktor fi
mukaan atau Lubangbor
> 600 1
31 - 600 1.5
16 - 300 3.5
< 160 6
Untuk memperjelas pendekatan, contoh diberikan di bawah ini untuk pen
gukuran permukaan dan lubang bor.
4.4.1 Surfacce Measurement (Pengukuran Permukaan)
Dua contoh kekar yang terlihat pada permukaan ditunjukkan pada
Gambar 4.3. Daerah pengamatan di kedua contoh adalah 25 m 2, dan has

25
il dari pengamatan diberikan pada Tabel 4.4. Dalam contoh kedua, sem
ua kekar milik set bersama dan tidak ada kekar acak. Dengan demikian,
memungkinkan untuk menghitung jumlah kekar volumetrik (Jv = 3,05)
dari jarak kekar 0,85 m, 1,0 m dan 1,1 m. Seperti yang terlihat, penguku
ran densitas kekar berbobot memberikan nilai yang agak lebih tinggi da
ri nilai yang diketahui untuk penghitungan kekar volumetrik (Palmstro
m, 1996).

Tabel 4.4 Perhitungan Densitas Kekar Berbobot dari Analisis Kekar untuk Permukaan
pada Gambar 4.3.
Jumlah G
Are Jumlah K
Jumlah Kekar (n) masi abungan
a ekar Berb wJd Jv
ng-masing interval Kekar (gb
Location A obot
r 4.3)

m2 >600
31- 16 - <16 Nw =∑ n (1√ A )
600 300 0
fi Nw
Contoh 1 25 12 4 3 1 20 34.5 6.9
Contoh 2 25 6 4 2 0 12 19 3.8 3.05
Peringkat fi = 1 1.5 3.5 6

4.4.2 Drillhole Measurement (Pengukuran Lubangbor)


Contoh dari logging inti ditunjukkan pada Gambar 4.4. Bagian inti
5m yang panjangnya telah dibagi menjadi 3 bagian dengan densitas kek
ar yang sama 50.0 - 52.17m, 52.17 - 53.15m dan 53.15 - 55.0m. Untuk

26
setiap bagian jumlah kekar dalam setiap interval sudut telah dihitung da
n hasilnya ditunjukkan pada Tabel 4.5.

Evaluasi densitas kekar berbobot membutuhkan sedikit usaha tamb


ahan atas praktik logging yang diadopsi saat ini. Satu-satunya pekerjaan
tambahan adalah menentukan interval sudut perpotongan antara bidang
pengamatan (atau lubang bor) dan masing-masing kekar. Sudut yang di
pilih untuk interval antara kekar dan lubang bor harus mudah diketahui
bagi kebanyakan orang dan ini harus membuat pengamatan untuk wJd
menjadi cepat. Penggunaan yang hanya empat interval membuat pencat
atan sederhana dan mudah. Di masa yang akan datang, wJd dapat memb
uktikan parameter yang berguna untuk mengukur kepadatan kekar secar
a akurat.
Cording dan Deere (1972) berusaha menghubungkan indeks RQD
dengan faktor-faktor pembebanan batuan Terzaghi. Mereka menemuka
n bahwa teori pembebanan batuan Terzaghi harus dibatasi pada terowon
gan yang didukung oleh rangkaian baja, karena tidak berlaku untuk buk
aan yang didukung oleh rock bolt. Bab selanjutnya membahas teori pem
bebanan batuan Terzaghi.

Tabel 4.4 Perhitungan Densitas Kekar Berbobot dari Pencatatan Kekar untuk Lubang
bor pada Gambar 4.4.

27
Panj Jumlah K
Kedala Jumlah Kekar (n) masing- Jumlah G
ang ekar Berb wJd
man masing interval abungan
L obot
Kekar (gb
m m2 >600
31-6 16 -
<160 r 4.4)
Nw = ∑n (1√ A )
00 300 fi Nw
50.0 - 5 2.17 11 6 2 1 20 33 15
2.17
52.17 - 5 0.98 9 3 2 0 14 20.5 20.9
3.15
53.15 - 5 1.85 5 0 1 0 6 8.5 4.6
5.00
Peringkat fi = 1 1.5 3.5 6

Chapter 5 – Teori Pembebanan Batuan Terzaghi


"Insinyur geoteknik harus menerapkan teori dan eksperimen tetapi mengekang me
reka dengan menempatkan mereka dalam konteks ketidakpastian alam. Keputusan
masuk melalui rekayasa geologi"
Karl Terzaghi

5.1 Pengenalan
Ini mungkin merupakan upaya pertama yang berhasil mengklasifikasika
n massa batuan untuk tujuan rekayasa. Terzaghi (1946) mengusulkan bahwa f
aktor pembebanan batuan Hp adalah ketinggian zona lepasnya di atas terowon
gan yang kemungkinan akan memuat lengkungan baja. Faktor-faktor beban b
atuan ini diperkirakan oleh Terzaghi dari lengkung baja selebar 5,5 m yang m
enyangga terowongan jalan rel di Pegunungan Alpen selama akhir dua puluha
n. Dalam penyelidikan ini, balok kayu dengan kekuatan yang diketahui digun
akan untuk memblokir lengkungan baja dengan massa batuan di sekitarnya. P
embeban batuan diperkirakan dari kekuatan balok kayu yang diketahui runtuh.
Terzaghi menggunakan pengamatan ini untuk kembali menganalisis beban b
atuan yang bekerja pada penyangga. Selanjutnya, ia melakukan percobaan 'Tr
ap-door' di pasir dan menemukan bahwa ketinggian lengkungan yang lepas di
atas atap meningkat secara langsung dengan lebar bukaan di pasir.
5.2 Kelas Batuan

28
Terzaghi (1946) mempertimbangkan diskontinuitas struktural dari mass
a batuan dan mengklasifikasikannya secara kualitatif ke dalam sembilan kateg
ori, yaitu, (i) keras dan utuh, (ii) keras, bertingkat dan schistose, (iii) kekar ma
ssif - menengah, (iv) cukup gumpalan (blocky) dan berlapis (seamy), (v) gum
palan dan berlapis, (vi) benar-benar hancur tetapi secara kimia utuh, (vii) mer
emas batuan pada kedalaman sedang, (viii) meremas batuan pada kedalaman
besar dan (ix) batuan yang mengembang, seperti dijelaskan dalam Tabel 5.1.

Tabel 5.1 Definisi Kelas Batuan dari Teori Pembebanan Terzaghi (Sinha, 1989).
Kelas
Batua Jenis Batuan Definisi
n
II Hard & intact Batuan tidak terlapukkan. Ini tidak mengandung kekar atau
retakan-retakan halus. Jika terekahkan, menghancurkan di selur
uh batuan yg utuh. Setelah penggalian, batuan mungkin mengal
ami beberapa kegagalan ledakan dan keruntuhan dari atap. Pad
a tekanan tinggi, keruntuhan pada lempengan batu yang sponta
n dan hebat dapat terjadi dari sisi samping atau atap. Kuat tekan
bebas (UCS) adalah ≥ 100 MPa
II Hard stratifie Batuan keras dan berlapis. Lapisan-lapisan biasanya dipisahk
d and schistos an secara luas. Batuan itu mungkin atau tidak mungkin memilik
e i bidang lemah. Dalam batuan seperti itu, keruntuhan adalah h
al yang cukup umum.
III Massive mod Batuan dengan kekar. Kekar memiliki penyebaran secara luas.
erately jointe Kekar bisa tersementasi atau tidak. Ini mungkin juga mengan
d dung retakan halus, tetapi blok besar di antara kekar saling te
rikat (terkunci), sehingga dinding vertikal tidak memerlukan
dukungan lateral. Keruntuhan dapat terjadi.
IV Moderately b Kekar lebih dekat jaraknya. Ukuran blok sekitar 1m. Batuan
locky and sea mungkin keras atau tidak. Kekar mungkin atau tidak mungki
my n baik, tetapi hubungan saling mengunci sangat rapat, sehin
gga tidak ada tekanan samping yang diberikan atau yang dih
arapkan.
V Very blocky Kekar berjarak dekat. Ukuran blok kurang dari l m. Terdiri
and seamy dari fragmen batuan secara kimia hampir utuh, yang sepenuhny
a terpisah satu sama lain dan tidak saling terikat. Beberapa t
ekanan samping dengan magnitudo rendah diharapkan. Dindin
g vertikal mungkin memerlukan penyangga.
VI Completely c Terdiri dari batuan yang utuh secara kimia, bersifat penghanc
rushed but ch ur yang menjalankan agregat. Tidak saling terikat. Tekanan s
emically inta amping yang cukup besar diperkirakan terjadi pada penyangg
ct a terowongan. Ukuran blok bisa beberapa sentimeter hingga
30 cm.
VII Squeezing ro Peremasan adalah proses mekanis di mana batu bergerak maj
ck - moderate u ke lubang terowongan tanpa peningkatan volume yang jel
depth as. Kedalaman yang sedang adalah istilah relatif dan dapat men
capai 150 m hingga 1000 m.
VIII Squeezing ro Kedalamannya mungkin lebih dari 150m. Rekomendasi kedal

29
ck - great dep aman maksimum terowongan adalah 1000m (2000m di bat
th uan yang sangat bagus).
IX Swelling rock Pengembangan dikaitkan dengan perubahan volum dan diseba
bkan oleh perubahan kimiawi pada batuan yang biasanya den
gan adanya uap air atau air. Beberapa shale menyerap kelemb
aban dari udara dan mengembang. Batuan yang mengandun
g mineral yang mudah mengembang seperti montmorillonit, il
it, kaolinit, dan lainnya dapat mengembang dan memberik
an tekanan besar pada penyangga batuan.

Pengalaman luas dari terowongan di Himalaya bagian rendah telah men


unjukkan bahwa istilah meremas (squeezing) batuan benar-benar meremas k
ondisi tanah. Karena massa batuan yang lemah dengan kekar, runtuh pada tek
anan tinggi dan masuk ke terowongan.

5.3 Faktor Pembebanan Batuan


Terzaghi (1946) menggabungkan hasil percobaan pintu perangkapnya (door
trap) dan perkiraan pembebanan batuan dari terowongan Alpine untuk mengh
itung faktor pembebanan batuan Hp dalam hal lebar terowongan B dan tinggi
terowongan Ht dari massa batuan yang terlepas di atas puncak terowongan (G
ambar 5.1) yang membebani lengkungan baja. Faktor pembebanan batuan sep
erti itu untuk semua sembilan kelas batuan tercantum pada Tabel 5.2.

Tabel 5.2 Pembebanan Batuan di dalam Terowongan pada Berbagai Jenis Batuan
(Terzaghi, 1946).
Kelas Faktor Pem
Batua Kondisi Batuan bebanan Bat Keterangan
n uan (Hp)

30
Pelapis ringan diperlukan hanya jika ter
I Hard & intact 0
jadi keruntuhan atau ledakan.
Penyanggaan ringan terutama untuk pe
Hard stratified or sc rlindungan terhadap keruntuhan. Pembe
II 0-0.5B
histose banan dapat berubah tidak menentu
dari titik ke titik.
Massive moderately
III 0-0.25B Tidak ada tekanan samping.
jointed
Moderately blocky 0.25-0.35 (B
IV Tidak ada tekanan samping.
and seamy +Ht)
Very blocky and se (0.35-1.10)
V Sedikit atau tidak ada tekanan samping.
amy (B+Ht)
Tekanan samping yang cukup besar.
Efek perlahan rembesan yang menuju b
agian bawah terowongan membutuhkan
VI Completely crushed 1.10 (B+Ht)
penyanggaan terus menerus untuk uju
ng bawah tulangan atau tulangan yan
g melingkar.
Tekanan samping yang besar, topangan
Squeezing rock - m (1.10-2.10)
VII pembalik diperlukan. Direkomendasik
oderate depth (B+Ht)
an tulangan yang melingkar.
Tekanan samping yang besar, topangan
Squeezing rock - gr (2.10-4.50) pembalik (inverted struts) diperlukan.
VIII
eat depth (B+Ht) Direkomendasikan tulangan yang meli
ngkar.
s.d. 250 ft (8 Diperlukan tulangan yang melingkar
0m), terlepas Dalam kasus-kasus yang parah, direkom
IX Swelling rock
dari nilai (B+ endasikan menggunakan penyanggaan
Ht) yang melingkar (lentur).
Notasi "B = jangkauan terowongan(m); Ht = Tinggi bukaan (m) dan Hp = tinggi massa batuan
yang terlepas di atas pengembangan pembebanan puncak terowongan (Gambar 5.1).
Untuk mendapatkan tekanan penyangga dari faktor beban batuan Hp, Ter
zaghi menyarankan persamaan berikut.

di mana p adalah tekanan penyangga, γ adalah berat satuan massa batuan dan
H adalah kedalaman terowongan atau ketebalan lapisan penutup (overburden).
Keterbatasan teori Terzaghi adalah bahwa itu tidak berlaku untuk tero
wongan yang lebarnya > 9m.
Atap terowongan diasumsikan berada di bawah muka air. Jika terletak
secara permanen di atas muka air, nilai yang diberikan untuk kelas IV s
ampai VI pada Tabel 5.2 dapat dikurangi hingga 50 % (Rose, 1982).
Deere et al. (1970) memodifikasi sistem klasifikasi Terzaghi dengan me
mperkenalkan RQD sebagai satu-satunya ukuran kualitas batuan (Tabel 5.3).
Mereka telah membedakan antara terowongan yang diledakkan dan digali den

31
gan mesin dan panduan yang diusulkan untuk pemilihan rangkaian baja, rock
bolt dan penyangga shotcrete untuk terowongan berdiameter 6m - 12m di dal
am batuan. Panduan ini disajikan pada Tabel 5.4.

Tabel 5.3 Konsep Pembebanan Batuan Terzaghi Sebagaimana yang Dimodifikasi oleh
Deer, dkk (1970).
Kelas
RQD Pembebanan
Batua Kondisi Batuan Keterangan
(%) Batuan (Hp)
n
Pelapis ringan diperlukan hany
I Hard & intact 95-100 0 a jika terjadi keruntuhan atau le
dakan.
Penyanggaan ringan terutama
untuk perlindungan terhadap ker
Hard stratified o
II 90-99 0-0.5B untuhan. Pembebanan dapat b
r schistose
erubah tidak menentu dari titi
k ke titik.
Massive modera
III 85-95 0-0.25B Tidak ada tekanan samping.
tely jointed
Tipe IV, V, dan VI berkurang se
kitar 50% dari nilai Terzaghi ka
Moderately bloc 0.25-0.35 (B rena muka air memiliki penga
IV 75-85
ky and seamy +Ht) ruh yang sedikit terhadap pe
mbebanan batuan (Terzaghi, 1
946; Brekke, 1968)
Tipe IV, V, dan VI berkurang se
kitar 50% dari nilai Terzaghi ka
Very blocky and (0.2-0.6) (B+ rena muka air memiliki penga
V 30-75
seamy Ht) ruh yang sedikit terhadap pe
mbebanan batuan (Terzaghi, 1
946; Brekke, 1968)
Tipe IV, V, dan VI berkurang se
kitar 50% dari nilai Terzaghi ka
Completely crus (0.6-1.1) (B+ rena muka air memiliki penga
VI 3-30
hed Ht) ruh yang sedikit terhadap pe
mbebanan batuan (Terzaghi, 1
946; Brekke, 1968)
Tipe IV, V, dan VI berkurang se
kitar 50% dari nilai Terzaghi ka
(1.1-1.4) (B+ rena muka air memiliki penga
VIa Sand and Gravel 0-3
Ht) ruh yang sedikit terhadap pe
mbebanan batuan (Terzaghi, 1
946; Brekke, 1968)
Tekanan samping yang besar, to
pangan pembalik (inverted
Squeezing rock - (1.10-2.10)
VII NA struts) diperlukan. Direkomend
moderate depth (B+Ht)
asikan tulangan yang melingka
r.
VIII Squeezing rock - NA (2.10-4.50) Tekanan samping yang besar, to
great depth (B+Ht) pangan pembalik (inverted
struts) diperlukan. Direkomend
asikan tulangan yang melingka

32
r.
Diperlukan tulangan yang meli
s.d. 80m, terl ngkar Dalam kasus-kasus yang
IX Swelling rock NA epas dari nila parah, direkomendasikan mengg
i (B+Ht) unakan penyanggaan yang mel
ingkar (lentur).
Notasi "B = jangkauan terowongan(m); Ht = Tinggi bukaan (m) dan Hp = tinggi massa batuan
yang terlepas di atas beban pengembangan puncak terowongan (Gambar 5.1).

Deere et al. (1970) juga menganggap massa batuan sebagai bagian integr
al dari sistem penyanggaan, yang berarti bahwa Tabel 5.4 hanya berlaku jika
massa batuan tidak diperbolehkan untuk lepas dan hancur secara luas. Deere e
t al. (1970) mengasumsikan bahwa penggalian mesin memiliki efek mengu
ntungkan untuk mengurangi pembebanan batuan sekitar 20 - 25 %.

Tabel 5.4 Panduan untuk Pemilihan Rangkaian Baja untuk Diameter Terowonngan 6 – 12 m di
Dalam Batuan (Deer, dkk; 1970).
Rangkaian Baja
Rock Bolt Shotcrete
(Steel)
Kualitas Metode Ko Penyangga
Berat Ran Jarak Persyarata Total Ketebalan (c
Batuan nstruksi Tambahan
gkaian Baj Jarak Pola B n Tambaha m)
a olt n Puncak Samping
Pengeboran Ringan 0 - Tak 0 - Tak Jarang 0 - Tak B
Mesin Berkala Berkal erkala - -
Sangat Ba
a
ik
Pengeboran Ringan 0 – Tak 0 – Tak Jarang 0 - Tak B
RQD>90
& Peledakan Berkala Berkal erkala - -
a
Pengeboran Ringan Tak Be Tak Be Kisi (mesh) Penerapa
Mesin rkala – rkala – dan Tali n setempa
- -
Baik 1.5-1.8 1.5-1.8 (strap) Tak t 5-7.5cm
RQD 75-9 m m berkala
0 Pengeboran Ringan 1.5-1.8 1.5-1.8 Kisi dan Tal Penerapa
& Peledakan m m i Tak berkal n setempa - -
a t 5-7.5cm
Cukup Ba Pengeboran Ringan - M 1.5-1.8 1.2-1.8 Kisi dan Tal 5-10cm Rock Bolts
-
ik Mesin enengah m m i Diperlukan
RQD 50-7 Pengeboran Ringan - M 1.2-1.5 0.9-1.5 Kisi dan Tal ≥ 10cm ≥10cm Rock Bolts
5 & Peledakan enengah m m i Diperlukan
Buruk Pengeboran Melingkar 0.6-1.2 0.9-1.5 Angkur mun 10-15cm 10-15cm Rock Bolts

33
Mesin Menengah m m gkin sulit di sesuai kebu
dapat. Diper tuhan (1.2-
lukan kisi da 1.8m pusat
n tali yang c ke pusat)
ukup besar
RQD 25-5
0
Pengeboran Melingkar 0.2-1.2 0.6-1.2 Angkur mun ≥15cm ≥15cm Rock Bolts
& Peledakan Menengah m m gkin sulit di sesuai kebu
- Berat dapat. Diper tuhan (1.2-
lukan kisi da 1.8m pusat
n tali yang c ke pusat)
ukup besar
Pengeboran Melingkar 0.6m 0.6-1.2 Angkur tida ≥15cm di Rangkaian
Mesin Menengah m k mungkin. seluruh ba menengah
- Berat Diperlukan gian sesuai kebu
100% kisi d tuhan
Sangat Bu
an tali
ruk
RQD <25
Pengeboran Menengah- 0.6m 0.9m Angkur tida ≥15cm di Rangkaian
& Peledakan Berat k mungkin. seluruh ba menengah
Diperlukan gian - berat ses
100% kisi d uai kebutu
an tali han
Sangat Bu Kedua buah Menengah- 0.6m 0.6-0.9 Angkur tida ≥15cm di Rangkaian
ruk metode Sangat Ber m k mungkin. seluruh ba berat sesua
Tanah Sq at Diperlukan gian i kebutuha
ueezing & 100% kisi d n
Swelling an tali

Pendekatan Terzaghi berhasil digunakan sebelumnya ketika metode peng


eboran dan peledakan pada penggalian dan penyangga lengkungan baja digun
akan dalam terowongan dengan ukuran yang sebanding. Praktek ini menurun
kan kekuatan massa batuan dan memungkinkan konvergensi atap yang signifi
kan yang memobilisasi zona massa batuan yang terlepas dari atap terowongan.
Ketinggian massa batuan yang lepas ini disebut 'penutup peti mati' atau
coffin cover, bertindak sebagai beban mati pada penyangga. Cecil (1970) me
nyimpulkan bahwa klasifikasi Terzaghi tidak memberikan informasi kuan
titatif mengenai sifat massa batuan.
Terlepas dari semua keterbatasan ini, nilai-nilai praktis yang sangat besar
dari pendekatan Terzaghi tidak dapat disangkal dan metode ini masih menem
ukan penerapan dalam kondisi yang mirip dengan yang dikembangkannya.
Dengan munculnya New Austrian Tunneling Method (NATM) dan No
rwegian Method of Tunneling (NMT), semakin banyak menggunakan teknik
peledakan terkontrol dan mesin penggalian serta sistem pendukung yang men
ggunakan shotcrete dan rock bolt yang diperkuat. Bahkan dalam terowongan

34
penyangga lengkungan baja, topangan kayu telah digantikan oleh beton rampi
ng yang diisi secara pneumatik. Peningkatan teknologi dalam pembuatan tero
wongan ini, mempertahankan kekuatan massa batuan pra-penggalian dan men
ggunakannya sebagai struktur pembawa beban untuk meminimalkan konverg
ensi atap dan membatasi ketinggian zona lepasan di atas mahkota (crown) ter
owongan.
Akibatnya, tekanan penyangga tidak meningkat secara langsung dengan l
ebar bukaan. Berdasarkan argumen ini, Barton et al. (1974) menganjurkan ba
hwa tekanan penyangga tidak tergantung pada lebar bukaan di dalam te
rowongan batuan. Analisis interaksi penyangga terowongan - massa batuan
dari Verman (1993) juga menunjukkan bahwa tekanan penyangga secara pr
aktis tidak tergantung dari lebar terowongan, asalkan kekakuan penyan
gga tidak diturunkan. Goel et al. (1996) juga mempelajari aspek ini dari efe
k ukuran terowongan pada tekanan penyangga dan menemukan bahwa ada ef
ek dari ukuran terowongan yang diabaikan pada tekanan penyangga dal
am kondisi tanah yang non-squeezing, tetapi ukuran terowongan bisa me
miliki pengaruh yang cukup besar pada tekanan dukungan dalam kondi
si tanah squeezing. Aspek ini telah dibahas secara rinci dalam Bab 9.
Perkiraan tekanan penyangga dari Tabel 5.2 telah dibandingkan dengan n
ilai yang diukur dan kesimpulan berikut muncul:
1. Metode Terzaghi memberikan nilai tekanan penyangga yang masuk akal u
ntuk terowongan kecil (diameter hingga 6m),
2. Ini memberikan perkiraan yang terlalu aman untuk terowongan dan goa ya
ng besar (diameter 6-14m), dan
3. Perkiraan nilai tekanan penyangga jatuh dalam kisaran besar untuk kondisi
tanah pemerasan (squeezing) dan pembengkakan (swelling) pada penerapa
n yang berarti.

5.4 Modifikasi Teori Terzaghi untuk Terowongan dan Lubang Besar


Singh et al. (1995) telah membandingkan tekanan penyangga yang diuk
ur dari terowongan dan goa dengan perkiraan dari teori pembebanan batuan T

35
erzaghi dan menemukan bahwa tekanan penyangga di terowongan batuan
dan goa tidak meningkat secara langsung dengan ukuran penggalian sep
erti yang diasumsikan oleh Terzaghi (1946) dan yang lainnya, terutama dis
ebabkan oleh dilatant perilaku massa batuan, kekasaran kekar dan pencegaha
n lepasnya massa batuan dengan peningkatan teknologi pembuatan terowonga
n. Mereka kemudian merekomendasikan rentang tekanan penyangga seperti y
ang diberikan pada Tabel 5.5 untuk terowongan dan goa demi kepentingan m
ereka yang masih ingin menggunakan pendekatan pembebanan batuan Terzag
hi.
Sangat menarik untuk dicatat bahwa tekanan penyangga atap yang di
sarankan ternyata sama dengan yang diperoleh dari faktor pembebanan
batuan Terzaghi ketika B dan Ht diganti dengan 5,5 m. Perkiraan tekanan
penyangga atap dari Tabel 5.5 ditemukan sebanding dengan nilai yang diukur
terlepas dari ukuran bukaan dan kondisi batuan (Singh et al., 1995). Mereka l
ebih lanjut memperingatkan bahwa tekanan penyangga kemungkinan akan m
eningkat secara langsung dengan lebar penggalian untuk potongan terowonga
n yang melalui zona geser (shear zone) slickensided, gouge sesar yang diisi
lempung tebal, lempung-shale yang lemah dan kondisi tanah yang bergerak
atau mengalir di mana blok yang saling mengunci kemungkinan akan hilang a
tau ketika kekuatan kekar hilang dan irisan (wedge) batuan dibiarkan jatuh ka
rena konvergensi atap yang berlebihan karena penyangga tertunda melebihi w
aktu stand-up. Dapat dicatat bahwa terowongan yang lebih lebar harus me
mbutuhkan jarak tanam bolt atau lengkung baja yang lebih rendah dan l
apisan (lining) yang lebih tebal karena pembebanan batuan meningkat se
cara langsung dengan lebar penggalian bahkan jika tekanan penyangga tid
ak meningkat dengan ukuran terowongan.

Tabel 5.5 Rekomendasi Singh, dkk (1995) pada Tekanan Penyangga untuk Terowongan dan
Goa Batuan.
Klasifikasi Terzaghi Klasifikasi Singh, dkk (1995) Keterangan
Tekanan Penyangg
Faktor Pem
Kategor Kondisi B Kategor Kondisi Bat a yang Direkomend
bebanan Bat
i atuan i uan asikan MPa
uan Hp
pv ph

36
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Hard & int Hard & inta
I 0 I 0 0
act ct
Hard stratif Hard stratifi
0.0-
II ied or schis 0-0.25B II ed or schisto 0
0.04
tose se
Massive m Massive mo 0.0
III oderately j 0-0.5B III derately join 4-0. 0
ointed ted 07
Moderatel Moderately Diperlukan pe
0.0
y blocky se 0.25-0.35 (B blocky seam mbalikan
IV IV 7-0. 0-0.2 pv
amy & join +Ht) y very jointe (invert)
1
ted d
Very blocky Diperlukan pe
Very block & seamy, sh mbalikan
y & seamy, 0.35-1.10 (B attered highl 0.1- (invert). Diper
V V 0-0.5 pv
shattered a +Ht) y jointed, thi 0.2 lukan atap yan
rched n shear zone g dilengkungk
or fault an
Completely Sangat diperlu
Completel crushed but kan pembalika
y crushed chemically u 0.2- n (invert). San
VI 1.10 (B+Ht) VI 0.3-1.0 pv
but chemic naltered, thi 0.3 gat diperlukan
ally intact ck shear zon atap yang dile
e or fault ngkungkan
Squeezing
rock at mo 1.10-2.10 (B
VII VII Squeezing rock condition
derate dept +Ht)
h
A. Mild Squ Perlu sekali p
eezing embalikkan
(ua a s.d. 3%) (invert). Dala
m penggalian,
Tergantung p
diperlukan pe
0.3- ada nilai teka
nyangga yang
0.4 nan utama
Squeezing fleksibel. Dip
ph bisa > pv
VII cont rock at mo 1.10-2.10 (B erlukan bagia
VII n (Penampan
d derate dept +Ht)
h g) melengkun
g.
B. Moderate
Squeezin
g 0.4-
-do- -do-
0.6
(ua a = 3-
5%)
Squeezing C. High Squ
2.10-4.50 (B eezing 6.0-
VIII rock at gre VII -do- -do-
+Ht) 1.4
at depth u
( a a > 5%)
IX Swelling r s.d. 80m, terl VIII Swelling rock
ock epas dari nila A. Mild Swe 0.3- Tergantung p Perlu sekali p
i (B+Ht) lling 0.8 ada tipe dan embalikkan
komposisi da (invert) dalam
ri lempung ya penggalian, pe
ng mengemb rlu sekali atap

37
ang. yang dilengku
ph bisa > pv ngkan
B. Moderate
0.8-
Swelling -do- -do-
1.4
C. High Swe
1.4-
lling -do- -do-
2.0
Notasi: pv = tekanan penyangga vertical; ph = tekanan penyangga horizontal; B = lebar atau rent
ang bukaan; Ht= tinggi bukaan; ua = penutupan terowongan radial; a = B/2; zona geser tipis
(thin shear zone) = tebal hingga 2 m.

Chapter 6 – Pemeringkatan Massa Batuan atau Rock Mass Rating (RMR)


“Kefektivan ilmu pengetahuan melalui penelitian (E) E = mc2, dimana m = massa
ilmu pengetahuan dan c = komunikasi ilmu pengetahuan dengan publikasi”
Z. T. Bienawsky

6.1 Pengenalan
Klasifikasi geomekanik atau sistem RMR pada awalnya dikembangkan
di Dewan Penelitian Ilmiah dan Industri Afrika Selatan oleh Bieniawski (197
3) dengan dasar pengalamannya pada terowongan dangkal pada batuan sedim
en (Kaiser dkk, 1986). Sejak saat itu, klasifikasi telah mengalami perubahan y
ang signifikan: pada 1974 pengurangan parameter klasifikasi dari 8 ke 6, pada
1975 penyesuaian pemeringkatan dan pengurangan persyaratan penyanggaan
yang direkomendasikan, pada 1976 modifikasi batas kelas sampai bahkan ban
yak pada 20, pada 1979 mengadopsi dari deskripsi massa batuan, dll ISRM (1
978). Oleh karena itu, penting untuk menyatakan versi mana yang digunakan
ketika nilai RMR dikutip. Klasifikasi yang dilaporkan (dibuat) oleh Bieniaws
ki disebutkan dalam buku ini.
Untuk menerapkan sistem klasifikasi geomekanik, suatu lokasi tertentu
harus dibagi ke dalam sejumlah unit struktur geologi sedemikian rupa, sehing
ga setiap jenis massa batuan digambarkan oleh unit struktur geologi yang terp
isah. 6 parameter berikut ditentukan untuk masing-masing unit struktural:

38
 UCS pada material batuan utuh.
 RQD
 Jarak kekar atau ketidakmenerusan
 Kondisi kekar
 Kondisi air tanah
 Arah (orientasi) kekar

6.2 Pengumpulan Data Lapangan


Pemeringkatan dari 6 parameter pada sistem RMR diberikan pada tabel
6.1 dan 6.6. Untuk menghilangkan keraguan karena penilaian subjektif, peme
ringkatan untuk parameter yang berbeda harus diberikan suatu kisaran prefere
nsi terhadap suatu nilai tunggal. Berikut 6 parameter yang didiskusikan pada
paragraph berikut.
6.2.1 UCS pada Material Batuan Utuh (qc)
Kekuatan material batuan utuh harus diperoleh dari inti batuan sesuai de
ngan kondisi lokasi. Pemeringkatan berdasarkan atas UCS (lebih disukai) dan
kekuatan beban pusat (point load strength) yang keduanya diberikan pada Ta
bel 6.1.

Tabel 6.1 Kekuatan Material Batuan Utuh (Bieniawski, 1979).


Deskripsi Kualitatif Kuat Tekan (MPa) Kuat Beban Pusat (MPa) Peringkat
Luar biasa kuat > 250 8 15
Sangat kuat 100-250 4-8 12
Kuat 50-100 2-4 7
Rata-rata 25-50 1-2 4
Lemah 10-25 Penggunaan UCS lebih dia 2
njurkan
Sangat lemah 2-10 Penggunaan UCS lebih dia 1
njurkan
Luar biasa lemah 1-2 Penggunaan UCS lebih dia 0
njurkan
NB: Pada UCS < 0.6 MPa, banyak material batuan yang akan dianggap sebagai tanah

6.2.2 RQD

39
RQD harus ditentukan seperti yang didiskusikan pada Chapter 4. Rin
cian peringkat ditampilkan pada tabel 6.2.

Tabel 6.2 Rock Quality Designation (Bieniawski, 1979).


Deskripsi Kualitatif RQD Peringkat
Sangat bagus 90-100 20
Bagus 75-90 17
Sedang 50-75 13
Buruk 25-50 8
Sangat buruk < 25 3

6.2.3 Jarak Diskontinuitas (Ketidakmenerusan)


Istilah ketidakmenerusan mencakup kekar, perlapisan, foliasi, zona p
ergeseran, sesar minor, atau permukaan lemah lainnya. Jarak linear antara
dua ketidakmenerusan yang berdekatan harus diukur untuk semua
rangkaian ketidakmenerusan dan pemeringkatan harus diperoleh dari Tabe
l 6.3 untuk ketidakmenerusan yang paling kritis.

Tabel 6.3 Jarak Diskontinuitas (Bieniawski, 1979).


Deskripsi Jarak (m) Peringkat
Sangat Lebar >2 30
Lebar 0.6-2.0 25
Menengah 0.2-0.6 20
Dekat 0.06-0.2 10
Sangat Dekat <0.06 0
Note: Jika ada lebih dari satu rangkaian ketidakmenerusan
dan jarak ketidakmenerusan dari masing-masing
rangkaian bervariasi, pertimbangkan rangkaian
dengan peringkat terendah.

6.2.4 Kondisi Ketidakmenerusan


Parameter ini mencakup kekasaran permukaan diskontinuitas, pemis
ahan, panjang atau kontinuitas, pelapukan batuan dinding atau bidang lema
h, dan material pengisi (gouge). Rincian peringkat ditampilkan pada Tabel
6.4.

Tabel 6.4 Kondisi Diskontinuitas (Bieniawski, 1979).


Deskripsi Peringkat
Sangat kasar & tidak lapuk, dinding batu
an padat & tidak menerus, tidak ada pem 30
isahan

40
Kasar & agak lapuk, pemisahan permuka
25
an dinding batuan < 1mm
Agak kasar & lapuk sedang-tinggi, pemis
20
ahan dinding batuan < 1mm.
Permukaan dinding batuan tergores garis
kan atau tebal gouge 1-5 mm atau lebar k 10
etidakmenerusan yang menerus 1-5 mm.
Tebal gouge lunak 5 mm, lebar ketidakm
0
enerusan yang menerus 5 mm.

6.2.5 Kondisi Airtanah


Dalam kasus terowongan, laju aliran air tanah dalam liter per menit p
er 10 m panjang terowongan harus ditentukan, atau kondisi umum dapat di
gambarkan sebagai benar-benar kering, basah, lembab, menetes, dan meng
alir. Jika data tekanan air sebenarnya tersedia, ini harus dinyatakan dalam
bentuk rasio tekanan air rembesan terhadap tegangan mayor utama. Pering
kat setiap kondisi air ditunjukkan pada Tabel 6.5.

Tabel 6.5 Kondisi Airtanah (Bieniawski, 1979).


Laju aliran per 10m pa - < 10 10 - 25 25 – 125 > 125
njang terowongan
(ltr/mnt)
Tekanan air gabungan / 0 0 – 0.1 0.1 - 0.2 0.2 - 0.5 > 0.5
tegangan mayor utama
Deskripsi umum Benar-benar Basah Lembab Menetes Mengalir
kering
Peringkat 15 10 7 4 0

6.2.6 Arah Ketidakmenerusan


Arah ketidakmenerusan yaitu strike dan dip ketidakmenerusan. Strik
e direkam dengan mengacu kepada utara magnetik. Sudut dip adalah sudut
antara bidang horizontal dan bidang diskontinuitas yang diambil ke arah bi
dang dip. Nilai dip dan strike harus dicatat seperti yang ditunjukkan pada
Tabel 6.6. Selain itu, orientasi sumbu terowongan atau kemiringan muka at
au perataan fondasi juga harus dicatat.

Tabel 6.6 Arah Diskontinuitas.


A. Arah Sumbu Tero B. Arah Diskontinuitas

41
wongan / Slope / Pond
asi
Set 1 Set 2
Rata-Rata Jurus Dip Rata-Rata Jurus Dip
…………to……... ………...to………..

Pengaruh strike dan dip diskontinuitas dipertimbangkan sehubungan


dengan arah drivage terowongan atau orientasi permukaan lereng atau pen
yelarasan (pemerataan) pondasi. Untuk memfasilitasi keputusan apakah str
ike dan dip menguntungkan atau tidak, referensi harus dibuat untuk Tabel
6.7 dan 6.8 yang memberikan penilaian kuantitatif pengaruh arah gabunga
n kekar kritis sehubungan dengan masing-masing pondasi terowongan dan
bendungan. Setelah peringkat untuk pengaruh diskontinuitas kritis diketah
ui, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 6.9, jumlah aritmatika dari peringk
at penyesuaian kekar dan RMRbasic diperoleh. Jumlah ini disebut peringkat
massa batuan akhir RMR.

Tabel 6.7 Penilaian Pengaruh Arah Kekar pada Terowongan (Dip adalah Dip Semu
Sepanjang Sumbu Terowongan (Bieniawski, 1989).
Strike Tegak Lurus thd Sumbu Terowongan Terlepas
Strike Sejajar thd Sum
dari Stri
Searah Dip Berlawanan Dip bu Terowongan
ke
Dip 450 - 9 Dip 200 - Dip 450 - Dip 200 - Dip 200 - Dip 450 - Dip 00 -
00 450 900 450 450 900 200
Sangat bai Sangat B
Baik Sedang Buruk Sedang Sedang
k uruk

Tabel 6.8 Penilaian Pengaruh Arah Kekar terhadap Kestabilan Pondasi Bendungan.
Dip 100 - 300
Dip 00 - 100 Arah Dip Dip 300 - 600 Dip 600 - 900
Hulu Hilir
Sangat Baik Buruk Sedang Baik Sangat Buruk

Tabel 6.9 Penyesuaian untuk Arah Kekar (Bieniawski, 1979).


Penilaian A
Sangat Bai Sangat Bur
rah Kekar u Baik Sedang Buruk
k uk
ntuk
Terowongan 0 -2 -5 -10 -12
Pondasi Raki
0 -2 -7 -15 -25
t
Slope* 0 -5 -25 -50 -60
* Direkomendasikan untuk melihat Pemeringkata Massa Slope atau Slope Mass Rating (S
MR)

6.3 Perkiraan RMR

42
Peringkat massa batuan harus ditentukan sebagai aljabar jumlah peringk
at untuk semua parameter yang diberikan dalam Tabel 6.1 hingga 6.5 dan Tab
el 6.9 setelah penyesuaian untuk arah ketidakmenerusan yang diberikan pada
Tabel 6.7 dan 6.8. Jumlah peringkat untuk empat parameter (Tabel 6.2 hingga
6.5) disebut Pemeringkatan Kondisi Batuan atau Rock Condition Rating
(RCR) yang mengurangi pengaruh kuat tekan bahan batuan utuh dan arah ke
kar (Goel et al., 1996). Peledakan hebat menciptakan rekahan baru. Pengalam
an menunjukkan bahwa 10 titik harus ditambahkan untuk mendapatkan RMR
untuk massa batuan yang tidak terganggu dalam situasi di mana TBM atau he
ader jalan yang digunakan untuk penggalian terowongan, 3 hingga 5 titik dap
at ditambahkan tergantung pada kualitas peledakan yang dikendalikan.
Atas dasar nilai RMR untuk struktur teknik yang diberikan, massa batua
n diklasifikasikan dalam lima kelas yang disebut sangat baik (RMR 100-81),
baik (80-61), sedang (60-41), buruk (40-21) ) dan sangat buruk (<20) seperti
yang ditunjukkan pada Tabel 6.10.

Tabel 6.10 Parameter Desain & Sifat Teknik dari Massa Batuan (Bieniawski, 1979 & Kode
BIS.
S. Peringkat Massa Batuan (Kelas Batuan)
Parameter/Sifat
N
Massa Batuan 100-81 (I) 80-61 (II) 60-41 (III) 40-21 (IV) < 20 (V)
o
Klasifikasi Mass Sangat Bai Baik Sedang Buruk Sangat Bur
1
a Batuan k uk
15 tahun u 6 bulan unt 1 minggu u 10 jam unt 30 min unt
Rata-rata Waktu
2 ntuk 15m p uk 8m panj ntuk 5m pa uk 2.5m pa uk 1m panj
Stand Up
anjangnya angnya njangnya njangnya angnya
Kohesi Massa Ba > 0.4 0.3-0.4 0.2-0.3 0.1-0.2 < 0.1
3
tuan (MPa)*
Sudut Geser Dala > 450 35 - 450 25 - 350 15 - 250 150
4
m Massa Batuan
*Nilai-nilai ini hanya berlaku untuk lereng pada massa batuan yang terlapukkan dan terjenuh
kan.

Dalam hal terowongan dan gua yang lebih luas, RMR mungkin agak ku
rang dari yang diperoleh dari kecenderungan. Karena dalam drift, orang mung
kin kehilangan intrusi dari batuan yang lebih lemah dan rangkaian kekar mem
iliki pemeringkatan kondisi kekar yang lebih rendah.

43
RMR terpisah harus diperoleh untuk terowongan dengan arah yang berb
eda setelah memperhitungkan arah sumbu terowongan sehubungan dengan ra
ngkaian kekar kritis (Tabel 6.6).
Klasifikasi dapat digunakan untuk memperkirakan banyak parameter be
rguna seperti jangka waktu tanpa penyangga, waktu stand-up atau periode aks
i jembatan dan tekanan penyangga untuk bukaan bawah tanah seperti yang dit
unjukkan pada paragraf berikut di bawah Gambar. 6.4. Ini juga dapat digunak
an untuk memilih metode penggalian dan sistem penyanggaan permanen. Sel
anjutnya, kohesi, sudut gesekan dalam, modulus deformasi massa batuan dan
tekanan dukung yang diijinkan juga dapat diperkirakan. Ditekankan bahwa ko
relasi yang disarankan dalam Gambar. 6.4 harus digunakan untuk studi kelaya
kan dan desain pendahuluan saja. Tes in-situ, didukung dengan pemodelan nu
merik bisa menjadi penting, terutama untuk bukaan besar seperti gua.

6.4 Penerapan RMR


Sifat teknik massa batuan berikut dapat diperoleh dengan menggunakan
RMR. Jika peringkat massa batuan berada dalam kisaran yang diberikan, nilai
sifat teknik dapat diinterpolasi di antara kisaran sifat yang direkomendasikan.
6.4.1 Waktu Stand Up untuk Atap yang Dilengkungkan
Waktu stand-up tergantung pada jangka waktu efektif bukaan yang d
idefinisikan sebagai lebar bukaan atau jarak antara muka terowongan dan p
enyangga terakhir, mana yang lebih kecil. Untuk bukaan melengkung wakt
u stand-up akan jauh lebih tinggi daripada atap yang datar. Peledakan terk
ontrol akan semakin meningkatkan waktu stand-up karena kerusakan pada
massa batuan berkurang. Untuk terowongan dengan atap melengkung, wak
tu stand-up terkait dengan kelas massa batuan pada Tabel 6.10 (Gambar 6.
1). Penting bahwa seseorang tidak perlu menunda untuk menyangga at
ap dalam hal massa batuan dengan waktu stand-up yang tinggi karena
hal ini dapat menyebabkan penurunan massa batuan yang pada akhir
nya mengurangi waktu siaga.

44
Lauffer (1988) mengamati bahwa waktu stand-up meningkat dengan
satu kelas nilai RMR dalam kasus penggalian oleh TBM.

6.4.2 Kohesi dan Sudut Geser Dalam


Dengan asumsi bahwa massa batuan berperilaku sebagai material Co
ulomb, kekuatan gesernya akan tergantung pada kohesi dan sudut geser dal
am. RMR digunakan untuk memperkirakan kohesi dan sudut geser dalam
(Tabel 6.10). Biasanya parameter kekuatan berbeda untuk puncak keruntuh
an dan kondisi keruntuhan residual. Pada Tabel 6.10, hanya nilai keruntuh
an puncak yang diberikan. Telah berpengalaman bahwa nilai-nilai ini berl
aku untuk lereng dalam massa batuan yang jenuh dan lapuk saja. Ko
hesi adalah satu urutan besar yang lebih tinggi dalam kasus terowongan ka
rena kekar relatif rapat dan luas.
6.4.3 Modulus Deformasi
Korelasi berikut disarankan untuk menentukan modulus deformasi m
assa batuan.

45
Modulus faktor reduksi- Gambar 6.2 memberikan korelasi antara pe
meringkatan massa batuan RMR dan faktor reduksi modulus MRF, yang
didefinisikan sebagai rasio modulus deformasi massa batuan terhadap m
odulus elastisitas material batuan yang diperoleh dari inti. Dengan demi
kian, modulus deformasi massa batuan dapat ditentukan sebagai produk da
ri faktor reduksi modulus yang sesuai dengan pemeringkatan massa batuan
yang diberikan (Gambar 6.2) dan modulus elastisitas material batuan (E r) d
ari persamaan berikut (Singh, 1979).

Nicholson dan Bieniawski (1990) telah mengembangkan persamaan em


piris untuk faktor reduksi modulus (MRF), Pers. 6.lb. Faktor ini dihitung u
ntuk mendapatkan modulus deformasi untuk massa batuan menggunakan
RMR dan modulus Young atau modulus elastisitas,

46
Mitri dkk, (1994) menggunakan persamaan berikut untuk menurunkan mo
dulus deformasi pada massa batuan:

Ada suatu perkiraan korelasi antara modulus deformasi dengan pemeringk


atan massa batuan yang diusulkan oleh Bieniawski (1978) untuk massa ba
tuan keras (qc > 100 MPa).

Serafim dan Pereira mengusulkan korelasi berikut

Korelasi-korelasi ini seperti yang ditunjukkan pada gambar 6.3. Di sini q c


berarti uniaxial crushing strength pada material batuan utuh dalam MPa.

Hoek dan Brown (1997) menyarankan perbaikan pada Pers.6.3a (lihat juga
Chapter 25).

Modulus deformasi pada massa batuan yang kering dan lemah (qc <
100 MPa) di sekitar bukaan bawah tanah yang terletak di kedalaman > 50

47
m, tergantung pada tekanan pengekang overburden dan dapat ditentukan d
engan persamaan berikut (Verman, 1993)

Dimana
α = 0.16 – 0.30 (lebih tinggi untuk batuan yang buruk), dan
H = kedalaman lokasi yang dipertimbangkan di bawah permukaan tanah
dalam meter.
≥ 50 m.
Modulus deformasi pada masssa batuan yang buruk dengan mineral
yang sensitif terhadap air menurun secara signifikan setelah jenuh dan den
gan berlalunya waktu setelah penggalian. Untuk desain pada pondasi bend
ungan, direkomendasikan bahwa uniaxial jacking test, harus dilakukan den
gan sangat hati-hati setelah penggalian drift, khususnya untuk massa batua
n yang buruk dalam kondisi jenuh.
6.4.4 Tekanan Dukung yang Diizinkan
Tekanan dukung yang diizinkan juga dihubungkan terhadap RMR da
n dapat diperkirakan dari Tabel 19.2 di Chapter 19.
6.4.5 Kuat Geser pada Massa Batuan
Tabel 15.1 meringkas persamaan kuat geser non-linier untuk berbaga
i macam pemeringkatan massa batuan, derajat kejenuhan, dan jenis batuan.
Kriteria yang direkomendasikan didasarkan pada 43 uji geser blok oleh Me
hrotra (1992). Telah disadari bahwa untuk massa batuan yang terkekarkan
sangat tinggi, kuat geser (τ ) tidak akan dipengaruhi oleh kekuatan material
batuan seperti yang diusulkan oleh Hoek dan Brown (1980). Hasil menunj
ukkan bahwa kejenuhan tidak mempengaruhi kuat geser pada massa batua
n secara signifikan.
Untuk massa batuan yang massif dan keras (RMR > 60), Kuat geser
mereka dipengaruhi oleh baris pertama pada Tabel 15.1 dan sebanding den
gan UCS mereka. Itu mengikuti bahwa uji geser blok pada blok batuan yan

48
g jenuh harus dilakukan untuk desain bendungan beton dan kestabilan abut
men.

6.4.6 Perkiraan Tekanan Penyanggaan


Pada 1983, Unal, berdasarkan pada studinya pada pertambangan bat
ubara, mengusulkan korelasi berikut untuk memperkirakan tekanan penyan
gga menggunakan RMR untuk bukaan dengan atap yang datar.

Dimana,
pv = tekanan penyangga

49
γ = densitas batuan
B = lebar terowongan
Goel dan Jethwa (1991) telah mengevaluasi Pers. 6.5 untuk penerapa
n ke terowongan batuan dengan atap lengkungan dengan membandingkan
tekanan penyangga terukur dengan perkiraan dari Pers. 6.5. Perbandingan
menunjukkan bahwa Pers. 6.5 tidak berlaku untuk terowongan batuan.
Mereka menemukan bahwa tekanan penyangga yang diperkirakan tida
k aman untuk semua ukuran terowongan dibawah kondisi tanah yang
mengembang. Lebih jauh lagi, perkiraan untuk kondisi tanah tidak meng
embang tidak aman untuk terowongan kecil (D ≤ 6m) dan terlalu ama
n untuk terowongan besar (D > 9m) yang menyiratkan bahwa pengaruh
ukuran terlalu ditekankan untuk bukaan lengkungan. Pengamatan ini
adalah logis ketika momen lentur dalam atap yang datar meningkat secara
geometris dengan bukaan, tidak seperti atap lengkungan.
Kemudian, penggunaan nilai tekanan penyangga terukur dari 30 instr
umen Terowongan India, Goel dan Jethwa (1991) telah mengusulkan Pers.
6.6 untuk perkiraan tekanan penyangga jangka pendek untuk bukaan bawa
h tanah baik pada kondisi tanah yang mengembang dan tidak mengembang
pada kasus pembuatan terowongan dengan metode peledakan konvesional
menggunakan penyangga steel rib.

Dimana,
B = jangka waktu bukaan dalam meter,
H = pembebanan berlebihan (overburden) atau kedalaman terowongan
dalam meter (> 50m), dan
pv = tekanan penyangga jangka pendek dalam MPa.
Bieniawski (1989) memberikan pedoman untuk pemilihan penyangg
a terowongan (Tabel 6.11). Ini berlaku untuk terowongan yang digali deng
an metode drillblast konvensional. Pedoman ini bergantung pada faktor s
eperti kedalaman di bawah permukaan (untuk memperhatikan tekanan b

50
erlebih dan tegangan in-situ), bentuk & ukuran terowongan, dan metode
penggalian. Langkah-langkah penyangga pada Tabel 6.11 adalah permane
n dan tidak sementara atau penyangga primer.

6.5 Hubungan Timbal Balik (Keterkaitan) antara RMR dan Q


Hubungan keterkaitan yang diusulkan antara RMR dan Q (Bieniawski,
1976), berdasarkan 111 sejarah kasus. Hubungannya adalah:

Korelasi pada Pers 6.7 cukup popular meskipun keandalannya rendah. S


uatu pendekatan yang lebih realistic untuk hubungan keterkaitan antara RMR
dan Q diusulkan oleh Goel dkk, 1996 seperti yang dijelaskan pada Chapter 9.

51
6.6 Tindakan Pencegahan
Harus dipastikan bahwa penghitungan ganda untuk suatu parameter tida
k boleh dilakukan dalam analisis struktur batuan dan perkiraan peringkat mas
sa batuan. Sebagai contoh, jika tekanan air pori dipertimbangkan dalam analis
is struktur batuan, tidak boleh diperhitungkan dalam RMR. Demikian pula, ji
ka orientasi rangkaian kekar dipertimbangkan dalam analisis stabilitas lereng
batuan, hal yang sama tidak boleh diperhitungkan dalam RMR.
Diperingatkan bahwa sistem RMR yang ditemukan tidak dapat dian
dalkan pada massa batuan yang sangat buruk. Karena itu harus berhati-h
ati untuk menerapkan sistem RMR dalam massa batuan tersebut.
Pendekatan desain yang ketat berdasarkan berbagai parameter dapat me
nyebabkan hasil yang tidak pasti karena ketidakpastian dalam memperoleh nil
ai-nilai parameter masukan yang benar di lokasi tunneling tertentu. Klasifikas
i massa batuan yang tidak melibatkan parameter tidak pasti mengikuti filosofi
pada pengurangan ketidakpastian.
Dalam tunneling, juga penting untuk menilai kondisi tunneling dimana
metode penggalian, tekanan dukungan dan jenis dukungan akan sangat tergan
tung. Bab selanjutnya membahas prediksi kondisi tunneling.

Chapter 7 – Prediksi Kondisi Tanah untuk Penerowongan


“Fakta yang paling tidak bisa dipahami tentang alam adalah bahwa ia dapat
dipahami”
Albert Einstein

7.1 Pengenalan
Pengetahuan tentang kondisi tanah memainkan peran penting dalam
pemilihan metode penggalian dan merancang sistem penyanggaan untuk
bukaan bawah tanah. Kondisi tanah bisa stabil / elastis (dan atau tidak
squeezing) atau falling / squeezing tergantung pada tegangan insitu dan
kekuatan massa batuan. Massa batuan lemah yang terlalu tertekan akan

52
mengalami kondisi tanah squeezing, sedangkan massa batuan massif dan
keras yang terlalu tertekan dapat mengalami kondisi ledakan batuan (rock
burst). Di sisi lain, ketika massa batuan tidak terlalu tertekan, kondisi tanah
disebut stabil atau elastis.
Tunneling dalam kondisi tanah yang elastis dan kompeten dapat lagi
menghadapi dua situasi – pertama, di mana tidak ada penyangga yang
diperlukan, yaitu, kondisi penyangga pada batuan itu sendiri dan yang kedua
dimana penyangga diperlukan untuk stabilitas; mari kita sebut kondisi non-
squeezing. Kondisi tanah squeezing telah dibagi menjadi tiga kelas
berdasarkan penutupan terowongan oleh Singh et al. (1995) sebagai kondisi
tanah squeezing ringan, sedang dan tinggi (Tabel 5.5).
Pengalaman di seluruh dunia adalah bahwa melalukan tunneling yang
melalui kondisi tanah squeezing memerlukan proses yang sangat lambat dan
bermasalah karena massa batuan di sekitar bukaan kehilangan kekuatan
bawaannya di bawah pengaruh tekanan insitu. Ini dapat mengakibatkan
mobilisasi tekanan penyangga yang tinggi dan penutupan terowongan.
Terowongan di bawah kondisi tanah yang non-squeezing, di sisi lain, relatif
aman dan mudah karena kekuatan yang melekat dari massa batuan
dipertahankan. Oleh karena itu, langkah penting pertama adalah menilai
apakah sebuah terowongan akan mengalami kondisi tanah squeezing atau
kondisi tanah non-squeezing. Keputusan ini mengontrol pemilihan metode
penggalian dan sistem penyangga. Sebagai contoh, sebuah terowongan besar
yang mungkin dapat digali full face dengan penyangga ringan di bawah
kondisi tanah yang non-squeezing; mungkin harus digali dengan metode
heading dan bench dengan sistem penyangga yang fleksibel di bawah kondisi
tanah yang squeezing.
Kondisi tanah yang non-squeezing umum terjadi di sebagian besar
proyek. Kondisi squeezing biasa terjadi di Himalaya bagian Bawah di India,
Pegunungan Alpen dan bagian dunia lainnya, di mana massa batuan lemah,
terkekarkan sangat tinggi, sesar (patahan), perlipatan, dan secara tektonik
terganggu dan lapisan penutup (overburden) yang tinggi.

53
7.2 Kondisi Penerowongan
Berbagai kondisi tanah yang dihadapi selama tunneling telah
dirangkum dalam Tabel 7.1. Tabel 7.2 menunjukkan metode penggalian, jenis
penyangga dan pencegahan untuk berbagai kondisi tanah.
Komisi International Society for Rock Mechanics (ISRM) tentang
Squeezing Batuan di Tunnels telah menerbitkan Definisi Squeezing yang
dikutip di sini (Barla, 1995).
" Squeezing pada batuan adalah deformasi besar yang tergantung waktu, yang
terjadi di sekitar terowongan dan bukaan bawah tanah lainnya, dan pada
dasarnya terkait dengan creep yang disebabkan oleh kekuatan geser yang
berlebih. Deformasi dapat berakhir selama konstruksi atau berlanjut selama
periode waktu yang lama".

54
Definisi ini dilengkapi dengan pernyataan tambahan berikut:
 Squeezing dapat terjadi pada batuan dan tanah selama kombinasi tertentu
dari tegangan yang diinduksi dan sifat material, mendorong beberapa zona

55
di sekitar terowongan di luar pembatasan tegangan geser tempat mulainya
creep.
 Besarnya konvergensi terowongan yang terkait dengan squeezing, laju
deformasi, dan sejauh mana zona yielding di sekitar terowongan
bergantung pada kondisi geologis, tekanan relatif insitu terhadap kekuatan
massa batuan, aliran air tanah dan tekanan pori, dan sifat massa batuan.
 Squeezing massa batuan dapat terjadi sebagai squeezing batuan utuh,
seperti squeezing diskontinuitas batuan yang terisi dan / atau sepanjang
permukaan perlapisan dan foliasi, kekar dan patahan.
 Squeezing identik dengan tekanan berlebih dan tidak terdiri dari deformasi
yang disebabkan oleh pelonggaran seperti yang mungkin terjadi di atap
atau di dinding terowongan dalam massa batuan terkekarkan. Fenomena
rock bursting bukan milik squeezing.
 Perpindahan tergantung waktu di sekitar terowongan dengan magnitudo
yang sama seperti dalam kondisi tanah squeezing, juga dapat terjadi pada
batuan yang rentan terhadap swelling. Walaupun swelling selalu
menyiratkan peningkatan volume, swelling tidak, kecuali batu yang
menunjukkan perilaku dilatansi. Namun, diakui bahwa dalam beberapa
kasus squeezing dapat dikaitkan dengan swelling.
 Squeezing terkait erat dengan teknik penggalian dan penyanggaan serta
urutan yang diadopsi dalam pembuatan terowongan. Jika pemasangan
penyangga tertunda, massa batuan bergerak ke dalam terowongan dan
distribusi ulang tegangan terjadi di sekitarnya. Sebaliknya, jika deformasi
batuan terkendala, squeezing akan menyebabkan penumpukan beban
penyangga batuan jangka panjang.
Perbandingan antara fenomena squeezing dan swelling oleh Jethwa dan
Dhar (1996) diberikan pada Tabel 7.3. Gambar 7.1 menunjukkan bagaimana
perpindahan radial bervariasi terhadap waktu yang signifikan dalam zona yang
rusak. Perpindahan radial, bagaimanapun, cenderung menyatu pada batas
antarmuka pada zona elastis dan zona yang rusak. Gambar 7.2 menunjukkan

56
bahwa zona pemadatan terbentuk di dalam zona rusak ini sehingga laju
penutupan dinding terowongan tertahan.

57
Berbagai pendekatan untuk memperkirakan kondisi tanah untuk
penerowongan berdasarkan Q dan modifikasi Q, yaitu jumlah massa batuan N
dibahas dalam paragraf berikut (Bab 8 dan 9 masing-masing menjelaskan Q
dan N secara terperinci).

58
7.3 Pendekatan Empiris
7.3.1 Kriteria Singh, dkk (1992)
Singh, dkk (1992) telah menyarankan pendekatan empiris
berdasarkan 39 kasus sejarah dengan mengumpulkan data kualitas
massa batuan Q dan lapisan penutup H dari Barton, dkk (1974). Kasus-
kasus ini telah diplot dan garis demarkasi potongan yang jelas AB telah
diperoleh untuk membedakan kasus squeezing dari kasus non-
squeezing seperti yang ditunjukkan pada Gambar 7.3.

59
Persamaan garis AB adalah

Ini menyiratkan bahwa kondisi tanah squeezing akan ditemui jika

dan kondisi tanah yang non-squeezing akan ditemui jika

Disarankan bahwa upaya harus dilakukan, di masa depan, untuk


memperhitungkan rasio tekanan insitu horizontal terhadap vertical.

7.3.2 Kriteria Goel, dkk (1995) Menggunakan Rock Mass Number N


Prediksi kondisi tanah squeezing dan non-squeezing
Untuk menghindari ketidakpastian dalam memperoleh peringkat
SRF yang tepat dalam kualit as massa batuan (rock mass quality) Q
dari Barton, dkk(1974), Goel, dkk (1995) telah menyarankan jumlah
massa batuan (rock mass number) N, yang didefinisikan sebagai
berikut, untuk mengusulkan kriteria untuk perkiraan kondisi tanah
untuk penerowongan.

Parameter lain yang dipertimbangkan adalah kedalaman


terowongan H dalam meter untuk memperhitungkan kondisi tegangan
SRF secara tidak langsung, dan lebar terowongan B untuk menjaga
pengurangan kekuatan massa batuan. Nilai tiga parameter - jumlah
massa batuan N, kedalaman terowongan H, dan diameter terowongan
atau lebar B telah dikumpulkan dari 99 bagian terowongan yang
mencakup berbagai macam kondisi tanah yang bervariasi dari massa
batuan yang sangat terkekarkan dan massa batuan yang retak hingga
massa batuan yang masif. Sumber dari kasus-kasus ini dan jumlah
bagian uji dalam kondisi tanah yang berbeda diberikan pada Tabel 7.4.

60
Semua 99 titik data diplotkan pada grafik log-log (Gambar 7.4) antara
jumlah massa batuan N dan H.B0.1. Pada Gambar 7.4, garis yang jelas
AB yang membatasi kasus-kasus squeezing dan non-squeezing
diperoleh. Persamaan garis ini adalah

Dimana,
H = kedalaman terowongan atau overburden dalam meter.
B = rentang atau diameter terowongan dalam meter.

61
Titik-titik yang terletak di atas garis AB (Persamaan 7.5) mewakili
kondisi tanah squeezing, sedangkan titik-titik di bawah garis ini
mewakili kondisi tanah yang non-squeezing. Ini bisa dijelaskan sebagai
berikut.
untuk kondisi tanah squeezing

dan
untuk kondisi tanah non-squeezing

Penggunaan Eqn. 7.5 telah dijelaskan dengan bantuan contoh berikut:


Contoh yang berhasil:
Dalam proyek PLTA di India, sebuah terowongan didorong melalui
metabasics yang memiliki jumlah massa batuan N = 20, kedalaman
terowongan H = 635m dan diameter terowongan B = 5,8m.
Menggunakan Persamaan. 7.5, nilai H yang dihitung keluar menjadi
620m. Namun, kedalaman sebenarnya adalah 635m. Ini memuaskan
kondisi tanah squeezing yang direpresentasikan oleh ekspresi
ketidaksetaraan 7.6. Untuk menghindari kondisi tanah squeezing,
perancang (designer) dapat menyelaraskan (meluruskan) kembali
terowongan untuk mengurangi penutup atau membuatnya melewati
massa batuan yang memiliki nilai N lebih tinggi.
Ini (Persamaan.7.5) juga menjelaskan mengapa pengamatan dalam
suatu drift tidak dapat mewakili kondisi tanah di dalam terowongan
utama karena suatu drift biasanya tidak akan mengalami kedalaman
yang sama besarnya dengan terowongan utama.

Prediksi pada kondisi penyanggaan sendiri dan tanah non


squeezing
Seperti yang disajikan dalam Bab 6, Bieniawski (1973) telah
mengabaikan efek tegangan insitu / kedalaman terowongan H ketika

62
memperoleh rentang terowongan tanpa penyangga atau penyanggaan
dengan massa batuan itu sendiri menggunakan RMR. Barton, dkk
(1974) telah mengusulkan Persamaan.8.11 untuk rentang tanpa
penyangga, tetapi mereka belum memberikan bobot yang memadai
untuk kedalaman terowongan di SRF (Bab 8), karena kurangnya sejarah
kasus squeezing di bank data mereka.
Goel, dkk (1995b) telah mengembangkan kriteria tambahan untuk
memperkirakan kondisi tunneling penyanggaan massa batuan itu
sendiri. Pada Gambar 7.4, garis demarkasi CA telah diperoleh untuk
memisahkan kasus-kasus yang mewakili kondisi self-supporting dari
kondisi non-squeezing. Persamaan garis ini diperoleh sebagai berikut

Dimana,
Bs = rentang tanpa penyangga atau terowongan dengan rentang self
supporting dalam meter.
Persamaan 7.8 menunjukkan bahwa untuk kondisi terowongan self-
supporting

Persamaan 7.8 menunjukkan bahwa untuk kondisi terowongan self-


supporting

Prediksi (Perkiraan) Derajat Squeezing


Derajat Squeezing dan Pengaruhnya pada Penerowongan
Telah disadari bahwa squeezing dapat diwakili dengan sangat baik oleh
penutupan terowongan pada semua garis Singh, dkk sebagai berikut:
 Squeezing ringan : penutupan 1-3% dari diameter terowongan.
 Squeezing menengah : penutupan 3-5% dari diameter terowongan.

63
 Squeezing tinggi : penutupan >5% dari diameter terowongan.
Atas dasar batas penutupan di atas, telah dicatat bahwa dari 29
kasus squeezing, 14 kasus menunjukkan squeezing ringan, 6 kasus
mewakili squeezing sedang dan 9 kasus berkaitan dengan kondisi
tanah squeezing tinggi (Tabel 7.4).
Dapat ditambahkan di sini bahwa, regangan tangensial ε 0 = rasio
penutupan dan diameter terowongan. Jika penutupan > regangan
kegagalan ε f pada massa batuan, squeezing akan terjadi. Selain itu,
squeezing ringan mungkin tidak dimulai bahkan jika penutupannya 1%
dan < ε f dalam kebanyakan kasus.
Mempertimbangkan batas penutupan di atas, dimungkinkan
untuk menarik dua garis demarkasi DE dan FG lagi di zona squeezing
pada Gambar 7.4. Persamaan garis DE yang memisahkan kasus-kasus
kondisi tanah squeezing yang ringan dan sedang, diperoleh sbb:
a. Squeezing ringan dan menengah

Demikian pula, persamaan garis FG yang memisahkan kondisi


squeezing sedang dan tinggi diperoleh sbb:
b. Squeezing menengah dan tinggi

Semua persamaan untuk memprediksi kondisi tanah ini, telah


dirangkum dalam Tabel 7.5. Bahkan, dapat ditambahkan di sini bahwa
kondisi tanah squeezing belum ditemukan di terowongan di mana J r /
Ja ditemukan > 0,5.

64
7.3.3 Kriteria Bhasin dan Grimstad (1996)
Menggunakan hasil Persamaan. 7.1, Bhasin dan Grimstad (1996)
mengembangkan monogram (Gambar 7.5) antara kekuatan massa
batuan, tegangan insitu dan perilaku batuan dalam terowongan dengan
kualitas massa batuan Q untuk memperkirakan kondisi tanah.

65
7.4 Pendekatan Teoritis / Analisis
Secara teoritis, kondisi terjepit di sekitar pembukaan terowongan
ditemui jika,

di mana σ θ adalah tegangan tangensial dan qcmass adalah kuat tekan uniaksial
dari massa batuan, Po adalah tegangan insitu sepanjang sumbu terowongan
dan A adalah parameter batuan sebanding dengan sudut gesek (Bab 13).
Secara praktis, Persamaan. 7.13 dapat ditulis sebagai berikut untuk
terowongan melingkar di bawah lingkungan tegangan hidrostatik.

66
di mana P adalah besarnya tekanan overburden. Dapat dicatat bahwa
squeezing tidak dapat terjadi pada batuan keras dengan nilai parameter 'A'
yang tinggi.
Penggunaan Eqn. 7.14 untuk memprediksi kondisi tanah squeezing
menimbulkan kesulitan praktis karena pengukuran tegangan insitu dan
penentuan kuat tekan insitu dari massa batuan yang memakan waktu dan
mahal.

ISRM mengklasifikasikan kondisi batu / tanah squeezing sebagai berikut:

Pendekatan yang disarankan di atas dapat digunakan secara andal tergantung


pada nilai σ θ dan qcmass.

7.5 Pengaruh Ikatan yang Lemah pada Kondisi Tanah yang Squeezing
Pengalaman terbatas sepanjang 29 km terowongan panjang pada proyek
Nathpa-Jhakri, H. P., India, menunjukkan bahwa tekanan tidak terjadi jika
ketebalan ikatan dari massa batuan lemah yang kira-kira < 2.Q 0.4 meter.
Namun, lebih banyak data proyek diperlukan untuk korelasi yang lebih baik.

Pada Chapter 9 – akan ditampilkan sistem Q

Chapter 8 – Sistem Kualitas Massa Batuan “Q” (Sistem Q)


"Genius adalah 99 % keringat dan 1 % inspirasi"
Bernard Shaw

67
8.1 Sistem Q
Barton, Lien, dan Lunde pada Institut Geoteknik Norwegia (NGI atau
Norwegian Geotechnical Institute) pada awalnya mengusulkan system-Q
pada klasifikasi massa batuanatas dasar pada sekitar 200 sejarah kasus pada
terowongan dan lubang bukaan besar. Mereka telah mendefinisikan kualitas
massa batuan-Q sebagai berikut:

Dimana:
RQD = RQD Deere > 10.
Jn = Angka pasangan kekar.
Jr = Angka kekasaran kekar untuk pasangan kekar yang berorientasi.
Ja = Angka alterasi kekar untuk pasangan kekar yang berorientasi.
Jw = Faktor reduksi air kekar
SRF = Faktor Reduksi Tegangan (Stress Reduction Factor)
Untuk berbagai kondisi batuan, pemeringkatan (nilai numerik) untuk 6
parameter ditetapkan. 6 parameter ini diberikan pada Pers.8.1 yang
didefinisikan sbb:
8.1.1 Rock Quality Designation (RQD)
RQD dibahas pada Chapter 4. Nilai RQD dalam % adalah
pemeringkatan RQD untuk system-Q. Pada kasus massa batuan yang
buruk dimana RQD < 10%, nilai minimum 10 harus digunakan untuk
mengevaluasi Q (lihat Tabel 8.1).

8.1.2 Angka Pasangan Kekar (Jn)

68
Parameter Jn, mewakili angka pasangan kekar, sering dipengaruhi
oleh foliasi, schistositi, belahan batusabak atau perlapisan, dll. Jika
berkembang kuat, ketidakmenerusan parallel ini harus dihitung sebagai
suatu pasangan kekar sempurna. Jika ada sedikit kekar yang terlihat atau
hanya rusak tak berkala pada inti batuan karena kenampakan ini, maka
harus menghitung mereka sebagai “suatu pasangan kekar acak” ketika
mengevaluasi Jn dari Tabel 8.2. Pemeringkatan Jn secara rata-rata = kuadrat
dari jumlah pasangan kekar.

8.1.3 Angka Kekasaran Kekar dan Angka Alterasi Kekar (Jr dan Ja)
Parameter Jr dan Ja, diberikan dalam tabel 8.3 dan 8.4, masing-
masing mewakili kekasaran dan derajat alterasi pada dinding kekar atau
material isian. Parameter Jr dan Ja harus diperoleh untuk pasangan kekar
kritis yang paling lemah atau ketidakmenerusan yang terisi oleh lempung
pada suatu zona yang telah diberikan. Jika pasangan kekar atau
ketidakmenerusan dengan nilai minimum (Jr / Ja) lebih disukai yang
berarah untuk stabilitas, maka pasangan kekar atau ketidakmenerusan
berarah kedua yang kurang menguntungkan mungkin lebih penting, dan

69
nilai (Jr / Ja) harus digunakan ketika mengevaluasi Q dari Pers. 8.1. Untuk
pengaruh pasangan kekar, Tabel 6.7 dapat dirujuk.

70
8.1.4 Faktor Reduksi Air Kekar (Jw)
Parameter Jw (Tabel 8.5) adalah suatu pengukuran pada tekanan air
yang memiliki efek buruk pada kekuatan geser kekar. Hal ini disebabkan
oleh pengurangan tegangan normal efektif pada kekar. Air dapat
menyebabkan pelunakan dan kemungkinan pencucian dalam kasus kekar
yang terisi tanah liat.

71
8.1.5 Faktor Reduksi Tegangan (SRF atau Stress Reduction Factor)
Parameter SRF (Tabel 8.6) adalah ukuran - (i) tekanan yang hilang
dalam kasus penggalian yang melalui zona geser dan massa batuan
dukungan lempung, (ii) tegangan batuan qc / σ 1 dalam massa batuan yang
kompeten di mana qc adalah kuat tekan uniaksial material batuan dan σ 1
adalah tekanan mayor utama sebelum penggalian, dan (iii) tekanan
squeezing atau swelling dalam massa batuan yang tidak kompeten. SRF
juga dapat dianggap sebagai parameter tegangan total.

72
Pemeringkatan keenam parameter diberikan dalam Tabel 8.1 - 8.6.
Pemeringkatan parameter-parameter ini diperoleh untuk massa batuan
tertentu yang disubstitusikan ke dalam Pers. 8.1 untuk mendapatkan kualitas
massa batuan Q.

73
Seperti yang terlihat pada Pers. 8.1, kualitas massa batuan (Q) dapat
dianggap sebagai fungsi dari hanya tiga parameter yang merupakan perkiraan
ukuran dari:
a. Ukuran blok (RQD / Jn) : mewakili keseluruhan struktur massa ba-
tuan.
b. Kuat geser antar blok (Jr / Ja) : telah ditemukan bahwa tan-1(Jr / Ja) adalah
perkiraan yang cukup terhadap sudut geser
puncak longsor sebenarnya di sepanjang
kekar yang terlapisi tanah liat (Tabel 8.7).
c. Tegangan aktif (Jw / SRF) : faktor empiris yang menggambarkan tega-
ngan aktif.

74
Hasil bagi pertama (RQD / Jn) mewakili struktur massa batuan dan
merupakan ukuran dari blok atau ukuran dari irisan (wedge) yang dibentuk
oleh adanya pasangan kekar yang berbeda. Dalam massa batuan yang
diberikan, pemeringkatan parameter Jn dapat meningkat dengan ukuran
terowongan dalam situasi tertentu di mana pasangan kekar tambahan ditemui.
Oleh karena itu, tidak disarankan untuk menggunakan nilai-Q yang diperoleh
dari penyimpangan kecil untuk memperkirakan tekanan penyangga untuk
terowongan besar atau goa. Akan lebih tepat untuk mendapatkan J n dari
pengamatan inti bor atau kamera lubang bor.
Hasil bagi kedua (Jr / Ja) mewakili karakteristik kekasaran dan gesekan
dari dinding kekar atau material isian. Perlu dicatat bahwa nilai J r / Ja
dikumpulkan untuk pasangan kekar kritis, yaitu pasangan kekar yang paling
tidak menguntungkan untuk stabilitas blok batuan utama.
Hasil bagi ketiga (Jw / SRF) adalah faktor empiris yang menggambarkan
"kondisi tegangan aktif". SRF, faktor reduksi tegangan, adalah ukuran: (i)
hilangnyanya tekanan dalam kasus penggalian melalui zona geser dan
lempung dukungan batuan, (ii) tegangan batuan pada batuan yang kompeten
dan (iii) tekanan squeezing pada batuan plastis yang tidak kompeten; dan
dapat dianggap sebagai parameter tegangan total. Faktor reduksi air J w adalah
ukuran tekanan air, yang memiliki efek buruk pada kuat geser kekar karena
berkurangnya tegangan normal efektif. Selain itu, air menyebabkan
pelunakan dan kemungkinan pencucian dalam kasus kekar yang terisi
lempung. Dalam proyek pembangkit listrik tenaga air dimana massa batuan
dapat diisi dengan air setelah pelaksanaan proyek, J w harus dikurangi sesuai
dasar penilaian, sambil menggunakan Q untuk memperkirakan persyaratan
penyanggaan akhir.

8.2 Arah Kekar dan Sistem Q


Mengomentari arah kekar, Barton, dkk (1974) menyatakan bahwa itu
tidak ditemukan menjadi parameter penting seperti yang diharapkan.
Sebagian alasannya adalah bahwa arah berbagai jenis penggalian dapat, dan

75
biasanya, disesuaikan untuk menghindari pengaruh maksimum dari kekar
utama yang tidak berorientasi. Barton, dkk (1974) juga menyatakan bahwa
parameter Jn, Jr dan Ja tampaknya memainkan peran yang lebih penting
daripada orientasi kekar, karena jumlah pasangan kekar menentukan tingkat
kebebasan untuk pergerakan blok (jika ada), dan karakteristik gesekan dan
dilatasional (Jr) dapat bervariasi lebih dari komponen gravitasi yang searah
dengan down dip dari arah kekar yang tidak menguntungkan. Jika arah kekar
telah dimasukkan, sistem klasifikasi akan menjadi kurang umum, dan
kesederhanaan esensialnya hilang. Tabel 6.9 juga menunjukkan bahwa arah
kekar kurang penting dalam terowongan daripada di fondasi dan lereng.

8.3 Pembaruan Sistem Q


Pembaruan sistem Q-1974 telah terjadi pada beberapa kesempatan
selama beberapa tahun terakhir, dan sekarang didasarkan pada 1.050 catatan
kasus dimana penyangga batuan yang dipasang telah dikorelasikan dengan
nilai Q yang diamati. Parameter asli dari sistem-Q belum diubah, tetapi
beberapa pemeringkatan untuk faktor pengurangan tegangan SRF telah
diubah oleh Grimstad dan Barton (1993). Peringkat SRF baru untuk batuan
yang kompeten juga ditunjukkan pada Tabel 8.6. Ini dilakukan karena batuan
masif yang keras di bawah tekanan tinggi memerlukan penyanggan yang jauh
lebih banyak daripada yang direkomendasikan oleh nilai-Q dengan
pemeringkatan SRF (lama). Dalam sistem Q-1974 asli, masalah ini dibahas
dalam catatan tambahan yang menginstruksikan bagaimana untuk mendukung
zona pecahan (runtuhan atau spalling) atau ledakan batuan (rock burst)
dengan baut batu (rock bolt) ujung angkur yang berjarak dekat dan pelat baja
segitiga. Pengalaman baru-baru ini dari terowongan di bawah tekanan tinggi
pada batuan keras menunjukkan lebih sedikit rock bolt, tetapi menggunakan
serat baja yang diperkuat shotcrete (SFRS atau Steel Fibre Reinforced
Shotcrete), suatu produk yang tidak diketahui ketika system-Q pertama kali
dikembangkan pada tahun 1974. Pembaruan dari sistem-Q telah menunjukkan
bahwa dalam kasus yang paling ekstrem dari tegangan tinggi dan batuan

76
massif yang keras (tidak terkekarkan), nilai SRF maksimum harus
ditingkatkan dari 20 menjadi 400 untuk memberikan nilai-Q yang berkorelasi
dengan penyanggaan modern batuan yang ditu njukkan pada Gambar 8.4.
Pengalaman penulis menunjukkan bahwa ketinggian lapisan penutup
(overburden) H harus dipertimbangkan selain SRF (lama) pada Tabel 8.6
untuk mendapatkan pemeringkatan kondisi tanah squeezing.

8.4 Pengumpulan Data Lapangan


Panjang inti atau singkapan batuan yang akan digunakan untuk
mengevaluasi empat parameter pertama (RQD, Jn, Jr, dan Ja) akan tergantung
pada keseragaman massa batuan. Jika ada sedikit variasi, panjang inti atau
dinding 5-10 m harus memadai. Namun, dalam zona geser terkekarkan yang
dekat beberapa meter dengan pengganti batuan yang kuat (alternate sound
rock), akan perlu untuk mengevaluasi parameter ini secara terpisah jika
dianggap bahwa zona geser terkekarkan, cukup lebar untuk membenarkan
perlakuan khusus (yaitu shotcrete tambahan) dibandingkan dengan hanya
perbautan sistematis dalam sisa penggalian. Jika, di sisi lain, zona geser yang
< 1/2 meter dan sering dijumpai, maka nilai keseluruhan Q yang direduksi
untuk seluruh jangkauan terowongan mungkin paling tepat karena
peningkatan penyanggaan kemungkinan diterapkan secara seragam sepanjang
seluruh panjang zona variabel tersebut. Dalam kasus seperti itu, panjang inti
atau dinding 10-50 m mungkin diperlukan untuk mendapatkan gambaran
keseluruhan dari kualitas massa batuan yang direduksi (Bab 2).
Catatan:
a. Nilai kualitas massa batuan Q diperoleh secara terpisah untuk atap, lantai
dan dua dinding (kanan dan kiri terowongan), terutama ketika deskripsi
geologis dari massa batuan tidak seragam di sekitar pinggiran bukaan
bawah tanah.
b. Dalam hal terowongan listrik, disarankan bahwa nilai J w untuk perhitungan
tekanan akhir penyangga harus dikurangi dengan asumsi bahwa tekanan

77
air rembesan pada Tabel 8.5 = tekanan air internal setelah pelaksanaan
proyek PLTA.
8.4.1 Saran untuk Pemula
Pemula mungkin mengalami kesulitan dalam memilih
pemeringkatan tunggal untuk parameter tertentu. Mereka dapat memilih
suatu kisaran pemeringkatan atau dua pemeringkatan atau nilai untuk
penilaian bebas tegangan. Selanjutnya, rata-rata geometrik harus diperoleh
dari nilai minimum dan maksimum untuk mendapatkan nilai parameter
yang representatif. Ini tidak hanya akan mengurangi bias, tetapi juga akan
menghasilkan kepercayaan di antara para pengguna.
Diusulkan bahwa untuk tujuan menghilangkan bias dari pikiran
seseorang, pemeringkatan untuk parameter yang berbeda harus diberikan
kisaran pilihan terhadap nilai tunggal.
Untuk mengatasi masalah pemilihan pemeringkatan yang
representatif dari berbagai parameter, NGI telah mengusulkan grafik
geoteknik (Gambar 8.1). Bagian utama dari bagan geoteknik, terdiri dari
area-area bersegi empat untuk membuat banyak pengamatan individu pada
kekar dan karakteristik kekar, dalam bentuk histogram. Mereka
mengusulkan bahwa upaya harus dilakukan untuk memperkirakan
perkiraan persentase dari berbagai kualitas dari setiap parameter yang
diamati, yaitu, 10% terburuk, 60% paling khusus, 30% nilai terbaik atau
maksimum, karena rata-rata tertimbang dari semua histogram menutupi
nilai ekstrim. Sebagai contoh: nilai-nilai parameter Q yang dikumpulkan di
lokasi ditunjukkan pada Tabel 8.8 berikut ini.

78
Dengan menggunakan nilai rata-rata tertimbang dari setiap
parameter, seseorang dapat memperoleh Q yang lebih realistis dari Pers.
8.1. Nilai rata-rata tertimbang telah diperoleh dengan menggunakan
persentase bobot yang disebutkan di atas dan seperti yang ditunjukkan
untuk RQD di bawah ini.
Suatu rata-rata tertimbang untuk RQD pada Tabel 8.8 di atas diperoleh
sebagai
(1X25 + 6X65 + 3X85) / 10 = 67

79
Demikian pula, rata-rata tertimbang dapat diperoleh untuk parameter lain
seperti Joint wall Compressive Strength (JCS), Koefisien Kekasaran
dinding Kekar (JCS atau Joint Wall Rougness Joint), dll seperti yang
diusulkan oleh NGI.

8.5 Klasifikasi Massa Batuan


Kualitas massa batuan Q adalah indeks yang sangat sensitif dan nilainya
bervariasi dari 0,001-1000. Penggunaan sistem-Q secara khusus
direkomendasikan untuk terowongan dan gua dengan atap melengkung.
Berdasarkan nilai-Q, massa batuan telah diklasifikasikan ke dalam sembilan
kategori (Tabel 8.9).

8.6 Perkiraan Tekanan Penyangga


8.6.1 Menggunakan Pendekatan Baron, dkk (1974)
Barton, dkk (1974, 1975) merencanakan kapasitas penyangga dari
200 lubang bawah tanah terhadap kualitas massa batuan (Q) seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 8.2. Mereka menemukan korelasi empiris
berikut untuk tekanan akhir penyangga:

80
Dimana,
pv = tekanan akhir penyangga atap (MPa)
ph = tekanan akhir penyangga dinding (MPa)
Qw = faktor dinding
Dapat dicatat bahwa kekar dilatansi atau nilai Jr memainkan peran
dominan dalam stabilitas bukaan bawah tanah. Akibatnya, dukungan
penyangga mungkin tidak tergantung pada ukuran bukaan seperti yang
diyakini oleh Yerzaghi (1946).
Faktor dinding (Qw) diperoleh setelah mengalikan Q dengan suatu
faktor yang tergantung pada besarnya Q seperti yang diberikan di bawah
ini:

81
Barton, dkk (1974) lebih lanjut menyarankan bahwa jika jumlah
pasangan kekar kurang dari tiga, Pers. 8.2 dan 8.3 diekspresikan sebagai
Pers. 8.4a dan 8.4b, masing-masing.

Mereka merasa bahwa tekanan penyangga jangka pendek dapat


diperoleh setelah mengganti 5Q di tempat Q pada Pers. 8.2. Dengan
demikian, tekanan akhir penyangga diperoleh 1,7 kali lipat dari tekanan
penyangga jangka pendek.
Bhasin dan Grimstad (1996) menyarankan korelasi berikut untuk
memprediksi tekanan penyangga di terowongan yang melalui massa
batuan yang buruk (katakan Q <4).

di mana B adalah diameter atau rentang terowongan dalam meter.


Persamaan 8.5 menunjukkan bahwa tekanan penyangga meningkat dengan
ukuran terowongan B pada massa batuan yang buruk.
8.6.2 Korelasi oleh Singh, dkk (1992)
Dapat disebutkan bahwa Q yang dimaksud dalam korelasi di atas
adalah kualitas paska penggalian suatu massa batuan sebenarnya, karena,
di dalam terowongan, geologi massa batuan biasanya dipelajari setelah
peledakan dan keputusan di tempat diambil dengan densitas penyangga.
a. Tekanan Penyangga Jangka Pendek
Tekanan Penyangga Vertikal atau Atap
Tekanan penyangga atap yang diamati terkait dengan kualitas
massa batuan jangka pendek (Qi) untuk 30 terowongan terinstrumentasi
dengan korelasi empiris berikut

82
Dimana:
Qi = 5Q = kualitas massa batuan jangka pendek
pv = tekanan penyangga atap jangka pendek (MPa)
f = faktor koreksi untuk lapisan tanah penutup (Gambar 8.3)
f’ = faktor koreksi untuk penutupan terowongan (Tabel 8.10)
diperoleh dari Gambar 8.4, 1 dalam non-squeezing.
f’’ = faktor koreksi untuk waktu setelah penggalian (Pers.8.9)
H = lapisan penutup di atas atap atau kedalaman terowongan
di bawah permukaan tanah (m)
Saat mengembangkan Pers. 8.6, faktor koreksi telah diterapkan
dalam langkah-langkah. Pertama, faktor koreksi untuk kedalaman
terowongan telah diterapkan, kemudian koreksi untuk penutupan
terowongan dan akhirnya koreksi untuk waktu setelah pemasangan
penyangga (Singh dkk, 1992).

Nilai faktor koreksi untuk penutupan terowongan (f ') dapat diperoleh


dari Tabel 8.10 berdasarkan nilai desain penutupan terowongan. Tabel
8.10 diturunkan dari Gambar 8.4a dan 8.4b antara penutupan

83
terowongan yang dinormalisasi (ua / a) dan faktor koreksi untuk
penutupan terowongan f ' yang didefinisikan dalam Pers. 8.6. Dapat
dicatat bahwa Gambar 8.4a dan 8.4b mewakili kurva respons tanah
(reaksi) teramati yang dinormalisasi masing-masing untuk atap dan
dinding terowongan pada tanah squeezing.

Catatan:
 Penutupan terowongan sangat tergantung pada metode penggalian. Dalam
kondisi tanah yang sangat squeezing, metode heading dan benching dapat
menyebabkan penutupan terowongan > 8%.
 Penutupan terowongan > 4% dari rentang terowongan tidak boleh diizinkan,
jika tidak tekanan penyangga cenderung menumpuk dengan cepat karena
kegagalan lengkungan batu. Dalam kasus seperti itu, angkur batu tambahan
harus dipasang segera untuk menangkap penutupan terowongan dalam suatu
batasan nilai.
 Tulangan Baja (Steel Rib) dengan penyangga (strut) mungkin tidak menyerap
lebih dari 2% penutupan terowongan. Dengan demikian, SFRS slotted
disarankan sebagai penyangga langsung pada permukaan untuk dilengkapi
dengan lengkungan baja di belakang face (muka) dalam situasi di mana
penutupan berlebihan dijumpai.

84
Faktor koreksi f "untuk waktu ditemukan sebagai

di mana t adalah waktu dalam bulan setelah pemasangan penyangga.


Menggabungkan ketiga faktor koreksi di atas, Singh dkk (1992)
mengusulkan korelasi berikut untuk tekanan akhir penyangga
terowongan Pult:

Singh, dkk (1992) juga telah mempelajari pengaruh ukuran terowongan


(2m - 22m) pada tekanan penyangga. Mereka menyimpulkan tidak ada
pengaruh ukuran yang signifikan terhadap tekanan penyangga yang
diamati.
Tekanan Penyangga Horizontal atau Dinding
Untuk memperkirakan tekanan penyangga dinding, Pers. 8.10
dapat digunakan dengan kualitas dinding batu jangka pendek Qwi
sebagai pengganti Qi.
Kualitas dinding batuan jangka pendek Qwi untuk tekanan
penyangga dinding jangka pendek diperoleh setelah mengalikan Qi

85
dengan faktor yang tergantung pada besarnya Q seperti yang diberikan
di bawah ini:

Tekanan penyangga dinding jangka pendek yang diamati, secara umum


tidak signifikan dalam kondisi batuan yang non-squeenzing. Oleh
karena itu, direkomendasikan bahwa ini dapat diabaikan dalam kasus
terowongan dalam massa batuan berkualitas baik dari kelompok 1 pada
Tabel 8.9 (Q> 10).
Catatan:
Meskipun tekanan penyangga dinding akan diabaikan dalam kondisi
tanah yang non-squeenzing, penyangga dinding yang tinggi sering
terjadi pada ltanah yang buruk atau kondisi tanah yang squeenzing.
Oleh karena itu, penyangga (strut) terbalik (invert) dengan tulangan
baja (steel rib) digunakan ketika perkiraan tekanan penyangga dinding
memerlukan penggunaan penyangga dinding dalam kondisi batuan
yang sangat buruk dan kondisi tanah yang sangat squeenzing. NATM
atau NTM adalah pilihan yang lebih baik.
b. Tekanan Penyangga Akhir
Pemantauan jangka panjang di gua Chhibro dari PLTA Yamuna di
India telah memungkinkan para peneliti untuk mempelajari tren tekanan
penyangga dengan waktu dan kejenuhan (saturation). Studi
berdasarkan pemantauan 10 tahun telah menunjukkan bahwa tekanan
akhir penyangga untuk massa batuan bermuatan air dengan isian kekar
yang dapat tererosi dapat meningkat hingga 6 x lipat tekanan penyangga
jangka pendek (Mitra, 1990). Pemantauan juga menyarankan bahwa
untuk terowongan yang terletak dekat dengan sesar atau patahan
(dengan gouge yang plastis) di daerah seismik, tekanan akhir
penyangga mungkin sekitar 25 % lebih karena akumulasi regangan
dalam massa batuan sepanjang patahan.

86
Pada ekstrapolasi nilai tekanan penyangga selama 100 tahun,
sebuah studi dari Singh, dkk (1992) telah menunjukkan bahwa tekanan
akhir penyangga akan menjadi sekitar 1,75 x tekanan penyangga jangka
pendek di bawah kondisi tanah yang non-squeenzing, sedangkan pada
kondisi tanah yang squeenzing, Jethwa (1981) memperkirakan bahwa
tekanan akhir penyangga akan menjadi 2 sampai 3 x tekanan penyangga
jangka pendek.
8.6.3 Evaluasi pada Pendekatan Baron, dkk & Singh, dkk
Tekanan penyangga diperkirakan dari Pers. 8.4a dan 8.4b untuk
berbagai potongan uji yang telah dibandingkan dengan nilai terukur.
Perkiraan ini masuk akal (koefisien korelasi r=0,81) untuk bagian
terowongan yang melalui kondisi tanah yang non-squeenzing. Dalam
kondisi tanah squeenzing, tekanan penyangga yang diperkirakan tidak
pernah melebihi 0,7 MPa, sedangkan nilai terukur setinggi 1,2 MPa untuk
terowongan yang lebih besar. Oleh karena itu, diperkirakan bahwa sistem-
Q mungkin tidak aman untuk terowongan yang lebih besar (diameter >
9m) di bawah kondisi tanah yang sangat squeenzing (Goel dkk, 1995).
Perkiraan tekanan penyangga dari Persamaan. 8.10 juga
dibandingkan dengan nilai terukur untuk kondisi tanah yang non-
squeenzing dan squeenzing. Telah ditemukan bahwa korelasi Singh, dkk
(1992) memberikan estimasi tekanan penyangga yang masuk akal.
Pembatasan pada Sistem-Q
Kaiser, dkk (1986) berpendapat bahwa SRF mungkin merupakan
parameter yang paling kontroversial. Dia menyimpulkan bahwa mungkin
tepat untuk mengabaikan SRF selama klasifikasi massa batuan dan untuk
menilai pengaruh yang merugikan dari tekanan tinggi secara terpisah.
Namun, dia belum memberikan pendekatan alternatif untuk menilai
pengaruh tegangan yang tinggi. Dengan mengingat masalah ini, Goel, dkk
(1995) telah mengusulkan angka massa batuan N, yaitu, tegangan bebas-Q
dan memasukkan pengaruh tegangan dalam bentuk kedalaman terowongan

87
H untuk menyarankan suatu pasangan baru pada korelasi empiris untuk
memperkirakan tekanan penyangga. Aspek ini telah dibahas pada Bab 9.

8.7 Span Tanpa Penyangga


Barton, dkk (1974) mengusulkan persamaan berikut untuk
memperkirakan dimensi yang ekuivalen (De ') dari terowongan penyangga
sendiri atau tanpa penyangga.

Jika H < 350 Qt/3 meter


Dimana
De’ = dimensi yang ekuivalen
span , diameter atau tinggi dalam meter
=
ESR
Q = kualitas massa batuan
ESR = Excavation Support Ratio
Pada dimensi yang ekuivalen, span atau diameter yang digunakan untuk
analisis penyangga atap, dan tinggi dinding dalam hal penyangga dinding.
Rasio penyangga penggalian (ESR) yang sesuai untuk berbagai penggalian
bawah tanah tercantum di bawah ini (Tabel 8.11).

88
Persyaratan umum untuk bukaan yang tidak didukung secara permanen
adalah,

Selanjutnya, persyaratan kondisional untuk pembukaan yang tidak didukung


secara permanen diberikan di bawah ini.

8.8 Desain Penyangga


Nilai Q dihubungkan terhadap persyaratan penyangga terowongan
dengan dimensi ekuivalen penggalian. Hubungan antara Q dan dimensi
ekuivalen penggalian menentukan langkah-langkah ukuran penyangga yang
sesuai seperti yang digambarkan pada Gambar 8.5. Barton, dkk (1974) telah
mengidentifikasi 38 kategori penyangga (Gambar 8.5) dan penyangga
permanen khusus untuk kategori-kategori ini. Panjang baut (bolt) 1, yang
tidak ditentukan dalam detail penyangga, dapat ditentukan dalam hal lebar
galian B dalam meter menggunakan Pers. 8.12 yang diusulkan oleh Barton,
dkk (1974).

89
Sejak awal 1980-an, wet mix Steel Fiber Reinforced Shotcrete (SFRS)
bersama dengan rock bolt telah menjadi komponen utama penyangga
permanen batuan di lubang (bukaan) bawah tanah di Norwegia. Berdasarkan
pengalaman, Grimstad dan Barton (1993) menyarankan grafik desain
penyangga yang berbeda menggunakan shotcrete diperkuat serat baja (SFRS)
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8.6. Bagan ini direkomendasikan
untuk penerowongan dalam kondisi batuan yang buruk.

8.9 New Australian Tunneling Method (NATM)


Nama New Austrian Tunneling Method (NATM) adalah nama yang
keliru karena bukan metode tunneling tetapi strategi untuk tunneling yang
memang memiliki keseragaman dan urutan yang cukup besar.
NATM didasarkan pada filosofi pendekatan "Build as you go" dengan
kehati-hatian sebagai berikut.
"Tidak terlalu kaku, atau terlalu fleksibel
Tidak terlalu awal, atau terlalu terlambat"
NATM mencapai stabilisasi terowongan dengan pelepasan tegangan
yang terkontrol. Karenanya batuan sekitarnya ditransformasikan dari sistem
beban yang kompleks ke struktur penyanggaan sendiri bersama-sama dengan

90
elemen penyangga yang dipasang, dengan ketentuan bahwa pelonggaran yang
merugikan, yang mengakibatkan hilangnya kekuatan secara substansial,
dihindari. Stabilisasi diri dengan pelepasan tegangan yang terkontrol dicapai
dengan memperkenalkan apa yang disebut "Lapisan Beton Semi-Rigid",
yaitu, rock bolting sistematis dengan penerapan lapisan beton shotcrete. Di
satu sisi, ini menawarkan tingkat penyangga langsung tertentu, dan
fleksibilitas untuk memungkinkan pelepasan tegangan melalui deformasi
radial di sisi lain. Perkembangan tegangan geser pada lapisan shotcrete di
atap lengkungan (arched roof) dengan demikian dikurangi seminimal
mungkin.
a. NATM didasarkan pada prinsip bahwa keuntungan maksimal dari
kapasitas massa batuan harus diambil untuk menyangga dirinya sendiri
dengan pengontrolan tegangan secara hati-hati dalam proses redistribusi
yang terjadi pada massa batuan di sekitarnya ketika sebuah rongga dibuat.
Ini juga disebut "penorowongan dengan penyangga batuan". Ciri utama
adalah bahwa massa batuan di sekitar penggalian terowongan dibuat untuk
bertindak sebagai suatu anggota dukungan beban, bersama dengan sistem
pennyanggaan. Lingkaran massa batuan terluar diaktifkan dengan cara
rockbolting bersama dengan shotcrete. Anggota pembawa utama NATM
tidak hanya shotcrete, tetapi juga lengkungan angkur batu secara
sistematis.
b. Pemasangan rockbolting sistematis dengan lapisan shotcrete
memungkinkan deformasi terbatas, tetapi mencegah melonggarnya massa
batuan. Pada tahap awal dibutuhkan gaya yang sangat kecil untuk
mencegah massa batuan bergerak, tetapi begitu pergerakan telah dimulai,
diperlukan gaya yang besar. Oleh karena itu, NATM menganjurkan
pemasangan penyangga dalam waktu stand-up untuk mencegah gerakan.
Ketika tingkat deformasi yang besar, slotted shotcrete lining, misalnya,
Shotcrete yang disemprotkan dalam bagian memanjang yang dipisahkan
oleh sambungan ekspansi membantu masalah. Itu juga ditambahkan bahwa
dalam kondisi tanah yang non-squeezing, tekanan pada shotcrete dapat

91
dikurangi secara signifikan jika semprotan shotcrete sedikit tertunda.
Penundaan, bagaimanapun, harus dalam waktu stand-up. Tetapi praktik
yang aman adalah menyemprotkan lapisan shotcrete penutup.
c. Dalam pertimbangan statis, terowongan harus diperlakukan sebagai
dinding tabung yang tebal, yang terdiri dari cincin dukungan pada
lengkungan batu dan lapisan penyangga. Karena tabung dapat bertindak
sebagai tabung hanya jika tertutup, penutupan cincin menjadi sangat
penting, khususnya di mana pondasi batuan tidak mampu menahan
tekanan penyangga yang tinggi dalam kondisi tanah squeezing (lihat Tabel
7.2 nomor seri 6).
d. Karena redistribusi tegangan ketika rongga sedang digali, heading full face
dianggap paling menguntungkan. Drivage dalam berbagai tahap
mempersulit fenomena redistribusi tegangan dan menghancurkan massa
batuan. Dalam kasus di mana penerowongan full face tidak
memungkinkan, seperti di Terowongan Chhibro-Khodri dan banyak lagi
terowongan di India karena waktu stand-up yang sangat pendek dan
kemungkinan terkait rongga dan jatuhan batuan, insinyur harus mengubah
ke metode heading and benching dan berjuang untuk mencapai tingkat
drivage yang ditargetkan tanpa adanya dampak menguntungkan dari
penyangga shotcrete.
e. Muncul pertanyaan bagaimana menggunakan dukungan batuan untuk
menyangga dirinya sendiri. Ini dilakukan dengan memberikan lapisan
shotcrete awal diikuti dengan rockbolting sistematis, menyemprotkan
shotcrete tambahan dan menggunakan steel rib, jika diperlukan. Seperti
dalam kasus Terowongan Loktak, NATM tanpa lengkungan baja di tempat
squeezing yang tinggi akan membutuhkan beberapa lapis shotcrete yang
tidak dapat ditampung tanpa mengorbankan lubang bor yang tersedia.
Jarak lengkungan baja disesuaikan dengan kondisi tanah yang squeezing.
Perilaku pelindung penyangga dan batuan di sekitarnya selama proses
redistribusi tegangan harus dipantau dan dikendalikan, jika perlu, dengan
pengukuran yang berbeda.

92
f. Shotcrete dalam massa batuan berisi air harus diterapkan di bidang kecil
yang meninggalkan celah untuk drainase yang efektif.

Dengan demikian, prinsip-prinsip dasar NATM dirangkum sebagai:


 Mobilisasi kekuatan massa batuan,
 Perlindungan shotcrete untuk menjaga kapasitas pengangkutan beban
batuan,
 Memantau deformasi massa batuan yang digali,
 Memberikan dukungan yang fleksibel namun aktif, dan
 Penutup invert untuk membentuk cincin penyangga penahan beban untuk
mengendalikan deformasi massa batuan.
The New Austrian Tunneling Method (NATM) nampaknya paling
cocok untuk tanah lunak yang dapat digali secara manual atau mesin, di mana
sambungan (pengkekaran) dan overbreak tidak dominan, di mana profil yang
halus sering dapat dibentuk dengan peledakan yang halus dan di mana cincin
dukungan beban yang lengkap dapat (dan seringkali harus) didirikan.
Pemantauan memainkan peran penting dalam menentukan waktu dan tingkat
penyangga sekunder.
Terlepas dari komentar oleh pelopor NATM yang berpengalaman
bahwa "biasanya tidak diperlukan untuk memberikan penyangga pada batuan
keras", terowongan Norwegia membutuhkan lebih dari 50.000 m3 shotcrete
yang diperkuat serat dan lebih dari 100.000 rockbolt setiap tahun (Artikel di
World Tunneling, Juni 1992). Dua negara utama penerowongan, Norwegia
dan Austria, sebenarnya memiliki tradisi panjang dalam menggunakan
shotcrete dan rockbolt untuk menyangga terowongan, namun ada perbedaan
yang signifikan dalam filosofi dan lingkup penerapan untuk NATM dan NMT
(Norwegian Method of Tunneling).

8.10Norwegian Method of Tunneling (NMT)


NMT tampaknya paling cocok untuk massa batuan yang baik bahkan di
mana pengkekaran dan overbreak dominan, dan dimana metode drill and

93
blasting atau hard rock TBM adalah metode penggalian yang paling umum.
Bolting adalah bentuk penyangga batuan yang dominan karena mengerahkan
kekuatan massa batuan di sekitarnya dengan cara terbaik. Massa batuan yang
berpotensi tidak stabil dengan kekar dan diskontinuitas yang terisi tanah liat
(lempung) akan semakin membutuhkan shotcrete dan shotcrete yang
diperkuat serat baja SFRS [S (fr)] untuk melengkapi bolting sistematis (B).
Dipahami dalam NMT bahwa [B + S (fr)] adalah dua metode penyangga
terowongan yang paling serbaguna, namun dirancang dan digunakan secara
luas, karena mereka dapat diterapkan pada profil apa pun sebagai penyangga
sementara atau permanen, hanya dengan mengubah ketebalan dan jarak
bolting. Cincin dukungan beban yang tebal (rib yang diperkuat dalam
shotcrete = RRS) dapat dibentuk sesuai kebutuhan, dan cocok dengan profil
yang tidak rata lebih baik daripada balok kisi atau rangkaian baja. Persyaratan
poenyangga ini berdasarkan pada sistem Q yang ditunjukkan pada Gambar
8.6. Sifat (ciri) penting dari NMT dirangkum dalam Tabel 8.12 (World
Tunneling, 1992).

94
8.11Penerapan Lain pada Sistem-Q
8.11.1 Modulus Deformasi pada Massa Batuan
Hoek dan Brown (1980) menyarankan penggunaan sistem-Q dan sistem
RMR dalam penilaian kekar bersama modulus deformasi, menggunakan Pers. 6.2
dan Pers. 6.7. Prosedur ini telah diikuti oleh Barton (1993) pada Gambar 8.7
dengan satu tambahan penting. Lingkaran yang diisi adalah nilai RMR yang
terkait dengan nilai rata-rata modulus deformasi, sedangkan kotak terbuka adalah
nilai Q yang terkait dengan rentang nilai modulus.

95
Modulus deformasi sangat bervariasi dan kisaran dari 10 log Q hingga 40
log Q harus diharapkan. Ini lebih ke arah horisontal daripada ke arah vertikal.
Namun, nilai rata-rata modulus deformasi dapat diperoleh dengan menggunakan
hubungan berikut untuk Q > 1 (Barton dkk, 1980).

Hubungan ini memberikan persetujuan yang baik dengan deformasi terukur


ketika digunakan dalam analisis numerik (Barton dkk, 1992).
Analisis data yang dikumpulkan dari 35 instrumen terowongan CMRI, telah
memberikan korelasi berikut untuk modulus deformasi (E d) massa batuan yang
lemah dan hampir kering dengan koefisien korelasi sebesar 0,85 (Singh, 1997).

Dimana H adalah overburden di atas terowongan dalam meter > 50m.


Dengan demikian terlihat bahwa modulus deformasi massa batuan yang
lemah bergantung pada tekanan. Korelasi ini disarankan untuk analisis statis

96
bukaan bawah tanah dan bendungan beton. Selanjutnya, data uji dari 30 uji
jacking uniaksial menunjukkan korelasi berikut untuk modulus elastis E e selama
siklus tanpa pembebanan (Singh, 1997).

Dimana,
Er = modulus elastisitas batuan dalam Gpa
Persamaan 8.15 berlaku untuk massa batuan kering dan jenuh. Disarankan
untuk analisis dinamis bendungan beton yang mengalami beban seismik impulsif
karena gempa intensitas tinggi di pusat gempa terdekat (patahan aktif).
8.11.2 Anisotropi pada Batuan
Massa batuan terkekarkan memiliki modulus geser yang sangat rendah
karena kekakuan geser kekar yang sangat rendah. Modulus geser dari massa
batuan terkekarkan telah dianalisis kembali oleh Singh (1973) sebagai berikut.

Sumbu anisotropi secara alami di sepanjang kekar terlemah atau bidang


perlapisan. Modulus geser rendah mengubah distribusi tegangan secara drastis
dalam fondasi seperti yang ditunjukkan pada Gambar 19.1. Kumar (1988)
mempelajari pengaruhnya terhadap terowongan berjejer dan menemukan itu
penting.

8.11.3 Q vs Kecepatan Gelombang-P


Sebuah korelasi antara kecepatan gelombang seismik - P dan kualitas massa
batuan Q telah diusulkan oleh Barton, 1991 berdasarkan sekitar 2.000 pengukuran
untuk estimasi kasar Q di depan permukaan terowongan menggunakan kecepatan
gelombang seismik -P,

Dimana Vp adalah kecepatan gelombang P dalam m/s.

97
Untuk granit dan gneiss kualitas sedang dan baik, kecocokan yang lebih baik
diperoleh dengan menggunakan hubungan Q = (Vp - 3600)/50 (Barton, 1991).
Tabel 8.13 memberikan nilai perkiraan parameter ini.

Keuntungan dari korelasi ini adalah bahwa tomografi penampang lubang seismik
dapat digunakan dengan cara lebih akurat dan langsung untuk menentukan
kualitas batuan yang diharapkan dan kebutuhan penyangga batuan potensial dalam
dokumen tender.

Chapter 9 – Rock Mass Number


“Perhatian saya sekarang sepenuhnya terkonsentrasi pada Mekanika Batuan, di
mana pengalaman saya dalam mekanika tanah terapan dapat memberikan layanan
yang bermanfaat. Saya semakin kagum dengan optimisme buta yang digunakan
generasi muda untuk menginvasi bidang ini, tanpa memusatkan perhatian pada
ketidakpastian yang tak terhindarkan dalam data yang menjadi dasar pemikiran
teoretis mereka dan tanpa melakukan upaya serius untuk mengevaluasi kesalahan
yang dihasilkan.”
Ringkasan Tahuanan dalam Buku Harian Terzaghi

9.1 Pengenalan
Salah satu alasan mengapa klasifikasi massa batuan telah menjadi
populer selama bertahun-tahun, adalah bahwa ini mudah digunakan dan pada
saat yang sama memberikan informasi penting tentang stabilitas dll. Terlepas
dari kegunaannya, orang tidak dapat menyangkal ketidakpastian dalam
mendapatkan peringkat yang benar dari suatu beberapa parameter. Bagaimana
mengelola ketidakpastian ini? Dengan tujuan ini, dua indeks massa batuan -
jumlah massa batuan (Rock Mass Number) N dan pemeringkatan kondisi

98
batuan (Rock Condition Rating) RCR telah diadopsi. Indeks-indeks ini adalah
versi modifikasi dari dua sistem klasifikasi paling populer, N dari sistem Q-
Barton, dkk (1974) dan RCR dari sistem RMR-Bieniawski (1973).
Jumlah Massa Batuan, dilambangkan dengan N, adalah kualitas massa
batuan Q yang bebas tegangan. Pengaruh tegangan telah dipertimbangkan
secara tidak langsung dalam bentuk ketinggian lapisan penutup (overburden)
H. Dengan demikian, N dapat didefinisikan dengan persamaan berikut.

Ini diperlukan karena masalah dan ketidakpastian dalam memperoleh


peringkat yang benar dari parameter SRF Barton (Kaiser dkk, 1986 & Goel
dkk, 1995a).
Pemeringkatan kondisi batuan (RCR) didefinisikan sebagai RMR tanpa
pemeringkatan untuk kekuatan penghancuran dari material batuan utuh dan
penyesuaian orientasi (arah) kekar. Ini dijelaskan di bawah,

RCR, oleh karena itu, bebas dari kekuatan penghancuran yang


merupakan parameter yang terkadang sulit diperoleh di lokasi. Selain itu,
parameter bijaksana, N dan RCR telah menjadi setara dan dapat digunakan
untuk tujuan antar-hubungan.

9.2 Hubungan Dalam Antara Q dan RMR


Hubungan antara dua indeks klasifikasi yang paling banyak digunakan,
pemeringkatan massa batuan RMR dari Bieniawski (1973) dan kualitas massa
batuan Q dari Barton, dkk (1974), telah diusulkan oleh banyak peneliti.
Bieniawski (1989) menggunakan 117 riwayat kasus yang meliputi 68
Skandinavia, 28 Afrika Selatan dan 21 riwayat kasus lain yang
didokumentasikan dari Amerika Serikat yang mencakup seluruh rentang Q
dan RMR untuk mengusulkan korelasi berikut (juga disajikan dalam Bab 6).

99
Berdasarkan sejarah kasus dari Selandia Baru, Rutledge dan Preston
(1978) mengusulkan korelasi yang berbeda sebagai

Moreno (1980), Cameron - Clarke dan Budavari (1981) dan Abad, dkk
(1984) juga telah mengusulkan korelasi yang berbeda antara Q dan RMR
seperti yang disajikan dalam Persamaan. 9.5, 9.6 dan 9.7.

Evaluasi semua korelasi, diberikan dalam Pers. 9.3 hingga 9.7,


berdasarkan 115 riwayat kasus termasuk 77 yang dilaporkan oleh Bieniawski
(1984), 4 dari Kielder Experimental tunnel yang dilaporkan oleh Hoek dan
Brown (1980) dan 34 yang dikumpulkan dari India, telah menunjukkan bahwa
koefisien korelasi dari pendekatan ini tidak dapat diandalkan dengan korelasi
Rutledge dan Preston (1978) yang memberikan koefisien korelasi tertinggi
0,81 diikuti oleh Bieniawski (1984), Abad dkk (1984), Moreno (1980) dan
Cameron-Clarke dan Budavari (1981) dalam urutan menurun seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 9.1 dan Tabel 9.1. Korelasi ini, oleh karena itu,
tidak memiliki keandalan yang tinggi untuk hubungan antara Q dan RMR.

100
9.2.1 Pendekatan Baru
Mencoba untuk mengkorelasikan Q dan RMR dalam Pers. 9.3 hingga
9.7 mengabaikan fakta bahwa kedua sistem tidak benar-benar setara. Karena
itu, tampaknya korelasi yang baik dapat dikembangkan jika N dan RCR
dipertimbangkan.
Pemeringkatan kondisi batuan RCR dan jumlah massa batuan N dari 63
kasus digunakan untuk mendapatkan hubungan baru. 63 kasus terdiri dari 36
dari India, 4 dari terowongan eksperimental Kielder (dilaporkan oleh Hoek &
Brown, 1980) dan 23 kasus NGI dari Bieniawski (1984). Rincian tentang
enam parameter untuk Q dan informasi tentang orientasi kekar sumbu
terowongan vis-a-vis sehubungan dengan 23 kasus NGI ini, diambil langsung
dari Barton dkk (1974). Perkiraan kekuatan hancuran uniaksial dari material
batuan dibuat dari deskripsi batuan yang diberikan oleh Barton, dkk (1974)
menggunakan data kekuatan untuk jenis batuan yang sebanding dari Lama
dan Vutukuri (1978). Menggunakan peringkat untuk orientasi kekar dan q c,
dan RMR dari Bieniawski (1984), dimungkinkan untuk memperkirakan nilai
RCR. Dengan demikian, nilai-nilai N dan RCR untuk 63 sejarah kasus diplot
pada Gambar 9.2 dan korelasi berikut diperoleh:

Persamaan 9.8 memiliki suatu koefisien korelasi pada 0.92.

101
Contoh berikut menjelaskan bagaimana Pers. 9.8 dapat digunakan
untuk mendapatkan RMR dari Q dan sebaliknya.
Contoh: Pada Tabel 9.2 nilai parameter RMR dan Q yang dikumpulkan di
lapangan diberikan

(a) RMR dari Q


N = (RQD Jr Jw) / (Jn Ja) = 26.66 seperti yang ditunjukkan pada Tabel
9.2
Sesuai dengan N = 26.66, RCR = 56,26 (Pers 9.8)
RMR = RCR + (peringkat untuk orientasi (arah) qc dan kekar) - sesuai
Pers. 9.2
RMR = 56.26 + [4 + (-) 12]

102
RMR = 48.26 (Ini sebanding dengan RMR 49 yang diperoleh dari
estimasi langsung seperti yang ditunjukkan pada Tabel 9.2)
(b) Q dari RMR
RCR = RMR - (peringkat untuk orientasi qc dan kekar) sesuai Pers. 9.2
RCR = 49- (4 -12)
RCR = 57
Sesuai dengan RCR = 57, N = 29.22 (Pers. 9.8)
Q = (N / SRF) = 29.22 / 2.5
Q = 11.68 (hampir sama dengan nilai estimasi lapangan, Tabel 9.2)
Perbedaan kecil dalam nilai estimasi langsung dari Q dan RMR dan yang
diperoleh oleh hubungan antar yang diusulkan adalah karena sebaran yang
melekat di Pers. 9.8.

9.3 Perkiraan Kondisi Tanah


Semua korelasi untuk memprediksi kondisi tanah telah dibahas dalam Bab 7.

9.4 Perkiraan Tekanan Penyangga


Korelasi ini didasarkan pada tekanan penyangga yang diukur dan
parameter terkait lainnya dari beberapa terowongan India yang memiliki
penyangga steel rib. Studi lapangan terperinci telah dilakukan untuk delapan
proyek pembangunan terowongan yang berlokasi di Himalaya dan
semenanjung India.
Dua rangkaian korelasi empiris untuk memperkirakan tekanan
penyangga untuk bagian terowongan di bawah kondisi tanah non-squeezing
dan squeezing telah dikembangkan menggunakan N dan nilai-nilai yang
diukur dari tekanan penyangga, kedalaman terowongan H, radius terowongan
a dan tutupan terowongan yang diharapkan ua dari 25 bagian terowongan
(Goel dkk, 1995a). Korelasi adalah sebagai berikut:
Kondisi tanah Non-Squeezing

103
Kondisi tanah Squeezing

dimana,
pv (el) = tekanan penyangga atap jangka pendek dalam kondisi tanah yang
non-squeezing dalam MPa,
pv (sq) = tekanan dukungan atap jangka pendek dalam kondisi tanah squeezing
dalam MPa,
f (N) = faktor koreksi untuk penutupan terowongan yang diperoleh dari Tabel
9.3, dan
H&B = kedalaman & lebar terowongan masing-masing dalam meter.

Korelasi di atas telah dievaluasi menggunakan tekanan penyangga


terukur dan koefisien korelasi 0.96 dan 0.95 yang diperoleh masing-masing
untuk Pers. 9.9 dan 9.10 (Goel dkk, 1995a). Juga ditemukan bahwa bahkan
untuk terowongan yang lebih besar dalam kondisi tanah squeezing, perkiraan
tekanan penyangga (Pers. 9.10) sesuai dengan nilai yang diukur.

104
Persamaan 9.9 dan 9.10 telah digunakan untuk mengembangkan
nornogram yang ditunjukkan pada Gambar 9.3 dan 9.4, masing-masing untuk
memperkirakan tekanan penyangga di terowongan. Gambar 9.4 ada di dua
bagian; bagian (a) digunakan untuk mendapatkan p’ dan menggunakan nilai p’
ini, kemudian, pada bagian (b) Pv tekanan penyangga dalam kondisi tanah
squeezing diperoleh setelah menerapkan koreksi untuk tutupan terowongan.
Nomogram ini dapat digunakan sebagai berikut untuk mendapatkan tekanan
penyangga.
(i) Tandai titik pada garis kedalaman terowongan H dan jari-jari terowongan
a untuk nilai H dan a yang diberikan (Gambar 9.3 dan 9.4a),
(ii) Gabungkan kedua poin ini dengan garis lurus. Garis ini akan memotong
garis referensi R dari nomogram pada titik katakanlah titik 'X' (lihat
Gambar 9.3 dan 9.4a),
(iii) Tandai titik pada garis jumlah massa batuan N untuk nilai yang
diberikan. Gabungkan titik ini dengan titik X dengan garis lurus dan
perpanjang garis ini untuk memotong garis pv dan p’ dalam Gambar 9.3
dan 9.4a. Nilai pv yang diperoleh dari Gambar 9.3, akan menjadi tekanan
penyangga yang diperkirakan dalam kondisi tanah yang non-squeezing.
(iv) Untuk mendapatkan tekanan penopang dalam kondisi tanah squeezing,
seperti disebutkan di atas, nilai p’ yang diperoleh dari Gambar 9.4a
digunakan dengan nilai faktor koreksi yang diketahui untuk tutupan
terowongan f (N) pada Gambar 9.4b. Tandai nilai p’ dan f (N) pada
masing-masing baris pada Gambar 9.4b. Gabungkan kedua titik ini
dengan garis lurus dan perpanjang garis ini untuk memotong garis p v. Ini
akan menjadi tekanan penyangga yang diperkirakan dalam kondisi tanah
yang squeezing.

105
106
9.5 Pengaruh Ukuran Terowongan pada Tekanan Penyangga
Prediksi tekanan penyangga di terowongan dan pengaruh ukuran
terowongan pada tekanan penyangga adalah dua masalah penting dari
mekanika terowongan yang menarik perhatian banyak peneliti. Materi yang
disajikan di sini tentang pengaruh ukuran terowongan pada tekanan
penyangga telah diambil dari Goel, dkk (1996).
Berbagai pendekatan empiris untuk memperkirakan tekanan penyangga
telah dikembangkan di masa lalu. Beberapa peneliti menunjukkan bahwa
tekanan penyangga tidak tergantung pada ukuran terowongan (Daemen, 1975;
Jethwa, 1981; Barton dkk, 1974; Singh dkk, 1992), sedangkan yang lain
menganjurkan bahwa tekanan penyangga secara langsung tergantung pada
ukuran terowongan ( Terzaghi, 1946; Deere dkk, 1969; Wickham dkk, 1972;
Unal, 1983). Tinjauan tentang pengaruh ukuran terowongan pada tekanan
penyangga dengan konsep yang diusulkan oleh Goel (1994) disajikan untuk
menyoroti pengaruh ukuran terowongan pada tekanan.
9.5.1 Tinjauan Pendekatan yang Ada
Pendekatan empiris memperkirakan tekanan penyangga telah disajikan pada
Tabel 9.4 untuk mempelajari pengaruh ukuran terowongan pada tekanan
penyangga. Diskusi disajikan di bawah ini.

107
a. Pengaruh Bentuk Bukaan
Beberapa pendekatan empiris yang tercantum dalam Tabel 9.4 telah
dikembangkan untuk atap datar dan beberapa untuk atap yang melengkung.
Dalam hal pembukaan bawah tanah dengan atap yang datar, tekanan
pennyangga umumnya ditemukan bervariasi dengan lebar atau ukuran bukaan,
sedangkan di atap yang melengkung, tekanan penyangga ditemukan tidak
tergantung pada ukuran terowongan (Tabel 9.4). Sistem RSR dari Wickham,
dkk (1972) adalah pengecualian dalam hal ini, mungkin karena sistem, menjadi
konservatif, tidak didukung oleh pengukuran lapangan yang sebenarnya untuk
goa (lubang bukaan besar). Mekanika menunjukkan bahwa gaya normal akan
lebih, dalam kasus bukaan persegi panjang dengan atap datar berdasarkan blok
batu lepas di zona tarikan yang bebas jatuh.
b. Pengaruh Jenis Massa Batuan
Tekanan penyangga berbanding lurus dengan ukuran bukaan terowongan
dalam hal massa batuan yang lemah atau buruk, sedangkan pada massa batuan
yang baik situasinya terbalik (Tabel 9.4). Oleh karena itu, dapat disimpulkan
bahwa penerapan suatu pendekatan yang dikembangkan untuk massa batuan
yang lemah atau buruk memiliki penerapan yang diragukan dalam massa
batuan yang baik.
Goel,dkk (1995a) telah mengevaluasi pendekatan Barton, dkk (1974) dan
Singh, dkk (1992) menggunakan tekanan penyangga terowongan yang diukur
dari 25 bagian terowongan. Mereka menemukan bahwa pendekatan Barton,
dkk tidak aman dalam kondisi tanah squeezing dan keandalan pendekatan
Singh, dkk (1992) dan Barton, dkk tergantung pada pemeringkatan Faktor
Pengurangan Tegangan (SRF) Barton. Juga telah ditemukan bahwa pendekatan
Singh, dkk tidak aman untuk terowongan yang lebih besar dalam kondisi tanah
squeezing.
9.5.2 Konsep Baru Terkait Pengaruh Ukuran Terowongan dalam Tekanan
Penyangga
Persamaan 9.9 dan 9.10 telah digunakan untuk mempelajari pengaruh
ukuran terowongan terhadap tekanan penyangga yang diringkas dalam Tabel 9.5.

108
Diperingatkan bahwa tekanan penyangga cenderung meningkat secara
signifikan dengan ukuran terowongan untuk bagian terowongan yang digali
melalui situasi berikut:
(i) zona gores garis,
(ii) gouge sesar tebal,
(iii) tanah liat dan serpih yang lemah,
(iv) lempung plastik lunak,
(v) massa batuan yang terhancurkan secara breksiasi dan tergeserkan,
(vi) kekar yang terisi tanah liat, dan
(vii) penyangga yang sangat tertunda dalam massa batuan yang buruk.

9.6 Korelasi untuk Estimasi Tutupan Terowongan


Perilaku beton, kerikil dan urukan terowongan, yang biasa digunakan
dengan penyangga lengkungan baja, telah dipelajari. Kekakuan dari timbunan ini
diperkirakan menggunakan massa batuan yang terhancurkan secara breksiasi dan
tergeserkan, kekar yang terisi tanah liat, dan penyangga yang sangat tertunda
dalam massa batuan yang buruk.
Atas dasar tutupan terowongan yang diukur dari 60 bagian terowongan,
korelasi telah dikembangkan untuk memprediksi tutupan terowongan dalam
kondisi tanah yang non-squeezing dan squeezing (Goel, 1994). Korelasi diberikan
di bawah ini

109
Kondisi tanah non squeezing

Kondisi tanah squeezing

Dimana,
Ua/a = tutupan terowongan ternormalisasi dalam %
K = kekakuan efektif penyangga dalam MPa, dan
H&a = kedalaman dan radius terowongan (1/2 lebar terowongan), dalam meter.
Korelasi ini juga dapat digunakan untuk mendapatkan kekakuan penyangga
efektif yang diinginkan sehingga tutupan terowongan yang ternormalisasi,
terkandung dalam 4 hingga 5 %.

9.7 Pengaruh Kedalaman Terowongan pada Tekanan Penyangga dan


Tutupan di Terowongan
Diketahui bahwa tegangan insitu dipengaruhi oleh kedalaman di bawah
permukaan tanah. Juga dipelajari dari teori bahwa tekanan penyangga dan tutupan
terowongan dipengaruhi oleh tekanan insitu. Oleh karena itu, diakui bahwa
kedalaman terowongan atau lapisan penutup (overburden) adalah parameter
penting saat merencanakan dan mendesain terowongan. Kedalaman terowongan
atau pengaruh overburden pada tekanan penyangga dan tutupan di terowongan
telah dipelajari menggunakan Persamaan. 9.9 hingga 9.12 di bawah kondisi tanah
non-squeezing dan squeezing yang dirangkum di bawah ini.
(i) Kedalaman terowongan memiliki pengaruh signifikan pada tekanan
penyangga dan tutupan terowongan dalam kondisi tanah yang squeezing.
Namun, praktis tidak ada efek di bawah kondisi tanah yang non-squeezing.
(ii) Pengaruh kedalaman terowongan lebih tinggi pada tekanan penyangga
daripada tutupan terowongan.

110
(iii) Pengaruh kedalaman pada tekanan penyangga meningkat dengan penurunan
kualitas massa batuan yang mungkin karena pengekangan menurun dan
tingkat kebebasan untuk pergerakan balok batuan meningkat.
(iv) Studi ini akan membantu perencana dan perancang untuk mengambil
keputusan untuk menyelaraskan kembali terowongan melalui media
penerowongan yang lebih baik atau kedalaman yang lebih rendah atau
keduanya untuk mengurangi tekanan penyangga dan tutupan di terowongan
yang diantisipasi.

9.8 Pendekatan untuk Perolehan Ground Reaction Curve (GRC)


Menurut Daemen (1975), kurva reaksi tanah sangat berguna untuk
merancang penyangga, khususnya untuk terowongan yang melalui kondisi tanah
yang squeezing. Pendekatan empiris yang mudah digunakan untuk mendapatkan
kurva reaksi tanah telah dikembangkan menggunakan Pers. 9.10 dan 9.12 untuk
terowongan dalam kondisi tanah squeezing. Pendekatan telah dijelaskan dengan
bantuan contoh.
Contoh:
Sebagai contoh, kedalaman terowongan H dan jumlah massa batuan N telah
diasumsikan masing-masing 500m dan 1 dan jari-jari terowongan 'a' sebagai 5m.
Perpindahan radial terowongan ua adalah untuk tekanan penyangga pv (sq) yang
diberikan.
GRC menggunakan Pers. 9.10
Dalam Persamaan 9.10, seperti yang dijelaskan sebelumnya, f(N) adalah
faktor koreksi untuk tutupan terowongan. Untuk nilai yang berbeda dari tutupan
terowongan ternormalisasi yang diizinkan (ua/a), nilai yang berbeda dari f(N)
ditunjukkan pada Tabel 9.3. Menggunakan Tabel 9.3 dan Pers. 9.10, tekanan
penyangga [pv (sq)] telah diperkirakan untuk kondisi batas yang diasumsikan dan
untuk berbagai nilai ua/a (kolom 1) seperti yang ditunjukkan pada Tabel 9.6.
Selanjutnya, dengan menggunakan nilai pv (kolom 3) dan ua/a (kolom 1) dari
Tabel 9.6, GRC telah diplot untuk ua/a hingga 5 % (Gambar 9.5).

111
GRC menggunakan Pers. 9.12
Untuk mendapatkan GRC dari Persamaan. 9.12, persamaan kekakuan penyangga
berikut juga akan digunakan.

Penting untuk menyebutkan bahwa nilai ua/a untuk memperkirakan K dari Pers.
9.13 harus menjadi kuantitas tanpa dimensi dan tidak dalam persentase. Ini berarti
bahwa daripada 1 %, nilai ua/a akan menjadi 0,01 dalam Pers. 9.13.
Menggunakan nilai-nilai ua/a (tidak berdimensi sesuai dengan nilai persentase)
dan pv(sq) masing-masing dari kolom 1 dan 3 pada Tabel 9.6 di Pers. 9.13, nilai K
(kolom. 4, Tabel 9.6) telah diperoleh.

112
Menggunakan nilai K ini dalam Pers. 9.14, tutupan terowongan yang
ternormalisasi (ua/a) dihitung untuk kondisi batas tertentu (H = 500m dan N = 1)
dan ditabulasikan dalam kolom 5, Tabel 9.6. Nilai penutupan terowongan yang
ternormalisasi ini, selanjutnya, digunakan untuk mendapatkan tekanan penyangga
dari Pers. 9.10 (Kolom 7, Tabel 9.6) atau dari Pers. 9.13 (Kolom 8, Tabel 9.6).
Tiga rangkaian nilai tekanan penyangga dan tutupan ternormalisasi, tersedia untuk
merencanakan tiga kurva reaksi tanah. Rangkaian data pertama diberikan dalam
Kolom 1 dan 3 (Gambar 9.5), rangkaian kedua dari kolom 5 dan 7, sedangkan
rangkaian ketiga diwakili oleh kolom 5 dan 8.
Sangat menarik untuk melihat bahwa meskipun dua persamaan (Pers. 9.10
dan 9.12) telah dikembangkan menggunakan data dan sejarah kasus yang berbeda,
kurva reaksi tanah yang diperoleh dari dua persamaan ini (Kolom 1 & 3 dan
Kolom 5 & 7) praktis identik.
Mungkin yang disoroti di sini bahwa pendekatannya sederhana, andal dan
ramah pengguna, karena nilai-nilai parameter masukan dapat dengan mudah
diperoleh di lapangan.

9.9 Koefisien Volume Pengembangan (Ekspansi) pada Massa Batuan Runtuh


Kurva respons (reaksi) tanah tergantung pada parameter kekuatan massa
batuan dan juga koefisien ekspansi volumetrik massa batuan (k) di zona hancuran.
Jethwa (1981) memperkirakan nilai k seperti yang tercantum dalam Tabel 9.7.
Dapat dicatat bahwa tingkat squeezing yang lebih tinggi dikaitkan dengan nilai k
yang lebih tinggi.

113