Anda di halaman 1dari 5

PREFERENSI PAKAN EPILACHNA SP.

Tasyia Puti Brigita1)*, Arin Saparima Simatupang2), Zumdia Lara Sari3), Sheren Shaden4), Tiara Chelia5)

1)
1810422032, Kelompok IV KBI, Laboratorium Ekologi Hewan, Jurusan Biologi, UNAND
2)
1810421034, Kelompok IV KBI, Laboratorium Ekologi Hewan, Jurusan Biologi, UNAND
3)
1810422036, Kelompok IV KBI, Laboratorium Ekologi Hewan, Jurusan Biologi, UNAND
4)
1810423001, Kelompok IV KBI, Laboratorium Ekologi Hewan, Jurusan Biologi, UNAND
5)
1810423004, Kelompok IV KBI, Laboratorium Ekologi Hewan, Jurusan Biologi, UNAND
*Koresponden: tasyiabrigita@icloud.com

Abstrak

Praktikum Preferensi Pakan Epilachna sp. dilaksanakan pada hari Selasa, 25 Februari 2020 di Laboratorium Pendidikan
I, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas. Adapun tujuan dari
praktikum ini adalah untuk mengetahui kemampuan pemilihan pakan oleh Epilachna sp. pada beberapa jenis pakan.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kertas saring, petridish, gunting, penggaris, alat tulis, dan stopwatch.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Epilachna sp. dan 3 macam daun tanaman Solanaceae (Capsicum
anuum, Solanum melongena, dan Solanum nigrum). Metode praktikum ini adalah mengamati pereferensi pakan
Epilachna sp. terhadap 3 daun Solanaceae yang berbeda. Hasil yang didapat yaitu, Epilachna sp. membutuhkan waktu
155 detik untuk mencari makan dan waktu makan 30 menit lebih, terjadi switching dari Capsicum anuum ke Solanum
nigrum dan jumlah individu terbanyak ada pada Solanum nigrum. Kesimpulan dari praktikum ini yaitu, Epilachna sp.
lebih menyukai daun Solanum nigrum dikarenakan jumlah individu terbanyak ada di daun tersebut.

Kata Kunci: Epilachna, preferensi, pakan, Solanum nigrum,switching.

PENDAHULUAN

Hewan merupakan mahkluk hidup heterotrof yang habitat tertentu dipengaruhi oleh faktor
sumber makanannya sangat tergantung dengan lingkungan abiotik maupun biotik. Faktor
organisme lain sebagai sumber pakannya. Pakan lingkungan tersebut merupakan factor yang
hewan dapat berupa tumbuhan atau disebut hewan berpengaruh terhadap organisme dalam proses
herbivora, atau dapat berupa hewan atau yang perkembangannya. Apabila terjadi gangguan
disebut karnivora, serta dapat pula memakan terhadap lingkungan maka secara langsung akan
tumbuhan juga hewan atau yang dikenal dengan berdampak pada populasi dari organisme tersebut
omivora (pemakan segala). Sumber pakan bagi (Campbell, 2004).
hewan tidaklah selalu tersedia dalam jumlah yang Serangga adalah makhluk yang memiliki daya
melimpah, terkadang karena beberapa faktor adaptasi dan plastisitas genetik yang tinggi
seperti cuaca, dapat menyebabkan sumber pakan sehingga serangga dapat hidup dan bertahan di
jenis hewan tertentu berkurang ketersediaanya berbagai jenis ekosistem. Beberapa penelitian
atau keberadaannya di alam. Jika hal ini terjadi, menyatakan bahwa serangga merupakan hewan
hewan tersebut cenderung untuk mencari pakan yang jumlahnya paling banyak. Keberadaan
baru untuk mengganti pakan aslinya. Biasanya, serangga di alam memiliki peran menguntungkan
peralihan preferensi pakan ini digantikan oleh diantaranya sebagai penghasil madu, sutera serta
jenis pakan yang hampir sama, baik rasa maupun membantu penyerbukan atau sebagai polinator
aromanya walau berasal dari spesies yang serta peran merugikan sebagai hama tanaman.
berbeda. Kesukaan hewan terhadap pakannya Kehidupan dan perkembangan serangga
sangat tergantung kepada jenis dan jumlah pakan dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik.
yang tersedia. Bila jumlah pakan yang tersedia Kedua gaktor ini bekerja sinergis dan membentuk
tidak sebanding dengan jumlah pakan yang corak lingkungan hidup yang bervariasi di alam.
dibutuhkan, perpindahan kesukaan terhadap jenis Faktor intrinsik berupa fisiologi dan struktur
pakan dapat terjadi (Campbell, 2002). organ tubuhnya, sedangkan faktor ekstrinsik atau
Ekologi merupakan suatu ilmu yang lingkungan berupa faktor di lar tubuh serangga
mempelajari interaksi antara organisme dengan yang daapt tidak atau secara langsung
lingkungannya (hubungan timbal balik). mempengaruhi kehidupan serangga (Hasyim dan
Kehidupan organisme yang ada pada wilayah atau Azwana, 2004).
Populasi serangga hama dipengaruhi oleh terkontrol seperti di laboratorium, faktor biotik
ketersediaan makanan. Kepik (Epilachna sp.) dan abiotik dilingkungan alam tersebut dapat
adalah serangga perusak daun dan kuncup daun. mengubah aspek kualitatif dan kuantitatif
Kepik aktif di waktu pagi dan sore hari, makanan yang dikonsumsi hewan (Jumar, 2000).
sedangkan saat siang hari bersembunyi di bagian Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui
dalam dari tajuk tanaman. Kepik lebih menyukai kemampuan pemilihan pakan oleh Epilachna sp. pada
tempat yang rimbun dan agak gelap untuk beberapa jenis pakan.
meletakkan telurnya. Tubuhnya berbentuk bulat
telur dengan sepasang sayap, panjang tubuh lebih PELAKSANAAN PRAKTIKUM
kurang 6-8 mm. Pada elytra terdapat 12 spot Waktu dan Tempat
berwarna merah sampai kuning kecoklatan atau Praktikum ini dilaksanakan pada Selasa, 25
bintik yang tertutup oleh bulu halus. Serangga ini
Februari 2020 di Laboratorium Pendidikan I,
menghisap cairan dalam daun. Tanaman yang
biasa dimakan adalah dari golongan Solanaceae. Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Epilachna sp. diketahui memakan makanan Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.
tanaman budidaya misalnya daun terong sehingga
Alat dan Bahan
merusak tanaman. Sumber pakan bagi hewan
tidak selalu tersedia dalam jumlah yang Alat yang digunakan pada praktikum Ekologi
melimpah. Beberapa faktor seperti cuaca yang Hewan percobaan Preferensi pakan Epilachna sp.
berubah dan bersifat fluktuatif di alam dapat Ini adalah stoples, petridisc, kain kasa, guntinga,
menyebabkan sumber pakan jenis hean-hewan alat rulis dan stopwatch.
tertentu berkurang ketersediaaanya atau Bahan - bahan yang digunakan pada
keberadaannya di alam. Jika hal ini terjadi, hewan praktikum Ekologi Hewan percobaan Preferensi
tersebut cenderung untuk mencari pakan baru
pakan Epilachna sp. Ini adalah 10 ekor Epilachna
untuk mengganti pakan aslinya. Biasanya
peralihan preferensi pakan ini digantikan oleh sp. dan 3 macam daun dari famili Solanaceae.
jenis pakan yang hampir sama, baik rasa maupun Cara Kerja
aromanya walau berasal dari spesies yang berbeda Adapun cara kerja praktikum Ekologi Hewan
(Pracaya, 2008).
tentang preferensi pakan Epilachna sp., yang
Ketersediaan suatu jenis pakan di suatu
lingkungan rendah, maka jenis makanan itu diambil dari habitatnya dipuasakan selama 24
kurang dimanfaatkan sebagai makanannya, namun jam. Setelah dipuasakan, Epilachna sp.,
jika ketersediannya tinggi atau berlimpah dari ditempatkan kedalam petridish yang berisi pakan
biasanya maka akan dikonsumsi lebih tinggi 10 ekor Epilachna sp., untuk 1 petridish dan
(sering). Switching atau perpindahan suatu jenis diberi alas dengan kertas saring yang telah
pakan ke jenis pakan lain berdasarkan lembab. Pada petridish telah diisi dengan 3 jenis
pengalaman sebelumnya dapat terjadi apabila
pakan yang berbeda dengan ukuran 3 x 3 cm.
ketersediaan makanan di lingkungannya sudah
terbatas. Preferensi hewan terhadap suatu jenis Setelah Epilachna sp., ditempakan kedalam
makanan atau mangsa tertentu sifatnya tetap dan petridish, kemudian ditutup menggunakan kertas
pasti, tidak dipengaruhi oleh ketersediannya di saring dan diamati waktu Epilachna sp., untuk
lingkungan. Preferensi makanan dapat diamati menemukan pakannya dan jenis pakan apa yang
melalui percobaan – percobaan dengan kondisi paling banyak dimakan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil sebagai berikut :
A. Preferensi Pakan Epilachna sp.
Berdasarkan praktikum preferensi pakan Epilachna sp. yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil sebagai
berikut.

Waktu untuk mencari Jumlah Waktu makan Switching


No. Jenis Daun
makan (menit) individu (menit ke berapa) (menit)
Capsicum anuum 02.35 18.10
1. 2
18.00 03.30
2. Solanum melongena 10.09 2
11.57
Solanum nigrum 13.24 20.45
3. 3
33.30
Tabel 1. preferensi pakan Epilachna sp.

Berdasarkan hasil praktikum yang didapatkan, juga penting untuk diketahui, sebab perilaku
dapat diketahui bahwa, waktu yang dibutuhkan makan sangat erat kaitannya dengan jenis pakan
Epilachna sp. untuk menemukan pakan yaitu pada yang dimakan oleh satwa tersebut.
daun Capsicum anum pada menit ke 2 dan 35 Kualitas makanan sangat berpengaruh
detik. Waktu terlama yang dibutuhkan Epilachna terhadap perkembangbiakan serangga hama. Pada
sp. untuk menemukan pakan yaitu pada daun kondisi makanan yang berkondisi baik dengan
Capsicum anum pada menit ke 33 menit dan 30 jumlah yang cukup dan cocok bagi sistem
detik. Waktu switching dari Capsicum anum pencernaan serangga hama akan menunjang
menuju daun Solanum nigrum adalah menit ke 20 perkembangan populasi, sebaliknya makanan
menit dan 40 detik. yang berlimpah dengan gizi jelek dan tidak cocok
Menurut Sita, Vina dan Aunurohim (2013), akan menekan perkembangan populasi serangga).
Pakan merupakan faktor pembatas, kebutuhan Ketidakcocokan faktor makanan dapat
pokok dan sumber energi utama bagi suatu ditimbulkan oleh kurangnya kandungan unsur
organisme. Komponen habitat tersebut harus yang diperlukan serangga, rendahnya kadar air
diperhatikan supaya kebutuhan hewan terpenuhi bahan, permukaan terlalu keras, bentuk material
sehingga dapat hidup secara layak. Selain aspek bahan yang kurang disenangi, misalnya beras
pakan, pemahaman tentang perilaku makan hewan lebih disenangi dari pada gabah (Yasin, 2009).

B. Perubahan Berat Daun


Berdasarkan penghitungan berat daun yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil sebagai berikut.

Jenis Daun
No. Berat Daun (gram)
Capsicum anuum Solanum melongena Solanum nigrum
1. Berat Awal 0,090 0,173 0,134
2. Berat Akhir 0,120 0,208 0,115
3. Deviation -0,030 -0,035 0,019
Tabel 2. Perubahan berat daun

Pada tabel diatas, berat daun dari masing - masing disebut isoosmotik. Dalam kondisi ini molekul air
famili Solanaceae yang paling kecil daun terus menerus melintasi membran, namun dengan
Solanum nigrum dengan sisa berat 0,115 gram laju yang samakedua arah. Tidak ada pergerakan
dan merupakan daun yang paling banyak dimakan neto air melalui osmosis diantara larutan-
oleh Epilachna. Akan tetapi untuk daun cabe larutanosmotik. Dua larutan memiliki perbedaan
tidak di makan oleh Epilachna sp. Epilachna sp. molaritas, larutan dengan konsentrasi zat-zat
Merupakan serangga perusak daun dan kuncup terlarut yang lebih besar disebut hiperosmotik. Air
daun. Serangga ini menghisap cairan dalam daun. mengalir melalui osmosisdari larutan hipoosmotik
Tanaman yang biasa dimakan serangga ini adalah ke larutan hiperosmotik (Campbell, 2010).
dari golongan solanaceae. Jika ketersediaan suatu jenis pakan disuatu
Pada daun Capsicum anum dan Solanum lingkungan rendah, maka jenis makanan itu
melongena mengalami kenaikan berat akhir. Hal kurang dimanfaatkan sebagai makanannya, namun
ini dapat disebabkan oleh kertas saring yang jika ketersediaannya tinggi atau berlimpah dari
terlalu basah maka menyebabkan sel pada daun biasanya maka akan dikonsumsi lebih tinggi
mengalami osmosis. Osmosis terjadi ketika dua (sering). Persaingan dapat terjadi apabila sejumlah
larutan yang dipisahkan oleh membran memiliki organisme dari spesies yang sama atau yang
perbedaan tekanan osmotik atau osmolaritas berbeda menggunakan sumber pakan yang sama
(konsentrasi zat terlarut total yang diekspresikan yang ketersediaannya kurang, atau walaupun
sebagai molaritas, atau mol zat terlarut per liter ketersediaannyya cukup. Namun persaingan juga
larutan). Dua larutan yang dipisahkan oleh sebuah dapat terjadi apabila organisme-organisme itu
membran permiabel selektif yang memiliki ketika memanfaatkan sumber pakan tersebut
osmolaritas yang sama, kedua larutan tersebut saling menyerang antara konsumen satu dengan
konsumen lainnya (Kimball, 2000).
Keberhasilan suatu organisme untuk bertahan DAFTAR PUSTAKA
hidup dan bereproduksi mencerminkan Campbell. 2002. Biologi Edisi 5 Jilid 3. Jakarta:
keseluruhan toleransinya terhadap seluruh
Erlangga.
kumpulan variabel lingkungan yang dihadapi
organisme tersebut (Campbell. 2004). Selain itu Campbell dkk. 2004. Biologi. Edisi ke -5. Jilid 3.
satu faktor lingkungan yang dominan Jakarta: Erlangga.
mempengaruhi kehidupan hewan adalah suhu. Campbell, Neil. A and Reece, Jane. B. 2010.
Suhu lingkungan memberikan pengaruh yang Biologi Edisi Kedelapan jilid 3. Jakarta:
berbeda-beda pada individu hewan. Variasi suhu Erlangga
lingkungan alami dan dampak yang ditimbulkan Hasyim, A., dan Azwana. 2004. Studi Biologi
mempunyai peranan potensial dalam menentukan
Epilachna septima Pada Tanaman Paria
akan proses dari kehidupannya (Sukarsono,2012).
(Momordica charantia L.) Jurnal
KESIMPULAN DAN SARAN Penelitan Bidang Ilmu Pertanian 2(2).
Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Rineka Cipta
Kesimpulan
: Jakarta.
Adapun kesimpulan pada praktikum ini yaitu
Kimball. 2000. Biologi Umum. Jakarta: Erlangga.
kesukaan hewan terhadap pakannya sangat
Pracaya, 2008. Pengendalian Hama dan Penyakit
tergantung kepada jenis dan jumlah pakan yang
Tanaman. Yogyakarta: Kanisius.
tersedia. Epilachna sp. lebih menyukai makanan
Sita, Vina dan Aunurohim. 2013. Tingkah Laku
daun Solanum nigrum dan tidak menyukai daun
Makan Rusa Sambar (Cervus Unicolor)
Capsicum anum, hewan ini melakukan switching
Dalam Konservasi Ex-Situ Di Kebun
dengan memakan daun yang lainnya yang masih
Binatang Surabaya. Jurnal Sains Dan
satu famili.
Seni Pomits. Vol 2 (1): 171-176.
Saran Sukarsono. 2012. Pedoman Praktikum Biologi
Adapun saran untuk praktikum ini adalah Umum 2. Bengkulu : Universitas
sebaiknya praktikan belajar dahulu tentang cara Bengkulu.
menggunakan alat agar lebih mengerti saat Yasin, M. 2009. Kemampuan Akses Serangga
praktikum berlangsung, Hama Kumbang Bubuk dan Faktor
Fisiokimia yang Mempengaruhinya.
Prosiding seminar nasional serealia.
LAMPIRAN

(a) (b) (c) (d)

(e) (f) (g)


Keterangan: (a). percobaan preferensi makanan, (b). berat awal daun Capsicum anuum, (c). berat akhir daun
Capsicum anuum, (d). berat awal daun Solanum melongena, (e). berat akhir Solanum melongena, (f). berat
awal daun Solanum nigrum, (g). berat akhir Solanum nigrum.

Anda mungkin juga menyukai