Anda di halaman 1dari 2

Bahasa Inggris, bahasa Indonesia, atau….

Leo Sutrisno

Dalam bukunya ‘Filsafat Bahasa’ Soepomo Poedjosoedarmo [2001] menyatakan


ada delapan fungsi bahasa. Pertama, bahasa berfungsi sebagai alat berkomunikasi. Kedua,
bahasa sebagai alat penyampai rasa santun. Ketiga, bahasa sebagai alat penyampai rasa
keakraban dan hormat. Keempat, bahasa berdungsi sebagai alat pengenalan diri. Kelima,
bahasa sebagai alat penyalur uneg-uneg. Keenam, bahasa berfungsi sebagai alat
penopang kemandirian bangsa. Ketujuh, bahasa sebagai alat penyampai rasa solidaritas.
Dan, kedelapan, bahasa berfungsi sebagai alat cermin peradaban bangsa.

Fungsi pertama hingga kelima mungkin berlaku untuk semua bahasa. Walaupun,
mungkin masih dapat diperdebatkan tentang penyampaian rasa santun, rasa hormat, dan
alat pengenalan diri. Tiap bahasa memiliki kaidah tertentu.

Misalnya, dalam bahasa Jawa dikembangkan tata tutur yang berlapis-lapis. Penutur
bahasa jawa harus mempertimbangkan lawan bicara dan siapa yang dibicarakan.
Pertimbangan itu biasanya didasarkan pada tingkat hubungan darah dan atau tingkat
social-ekonominya. Sehingga, penutur bahsa Jawa yang ‘mumpuni’ akan mampu melapis
tata tuturnya menjadi sekitar 13 tingkat.

Sedangkan fungsi keenam, ketujuh dan kedelapan tentu menjadi khas setiap bahasa
karena terkait dengan negara dan bangsa. Sehingga, dikenal sebagai bahasa nasional.
Bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional negara Indonesia. Sebagai bahasa nasional
bahasa Indonesia menjadi salah satu identitas bangsa dan negara Indonesia.

Masalah muncul ketika banyak sekolah di Indonesia yang menempatkan diri sebagai
RSBI [Rintisan Sekolah Berstandar Internasional] dan SBI [Sekolah Berstandar
Internasional]. Menurut undang undang, setiap kabupaten dan kota ‘harus’ memiliki
sekurangt-kurangnya satu RSBI /SBI di setiap jenjang pendidikan. Itu berarti, di setiap
kabupaten dan kota, sekurang-kurangnya memiliki satu TK, satu SD, satu SMP, satu
SMA dan satu SMK yang RSBI /SBI. Para pengelola sekolah-sekolah RSBI/SBI
menetapkan bahasa Inggris menjadi bahasa resmi pembelajaran.

Para guru yang mengajar di kelas-kelas RSBI/SBI harus menggunakan bahasa Inggris
sebagai bahasa pengantarnya. Tentu, dengan sendirinya semua siswa juga wajib
menggunakan bahasa Inggris. Buku-buku literature dan penunjang sudah barang tentu
disajikan dalam bahasa Inggris.

Pertanyaannya adalah apakah fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional Indonesia
ada berkembang di kalangan para siswa RSBI/SBI ini? Jawabannya adalah ‘ya’ dan
‘tidak’.
Jawaban ‘ya’ terjadi jika di sekolah itu menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa
Inggris bersama-sama secara seimbang. Artinya, bahasa Indonesia ditegakkan sehingga
semua siswa mahir menggunakannya. Demikian pula bahasa Inggris.

Jawaban ‘tidak’ terjadi jika di sekolah ‘mengganti’ semua fungsi bahasa yang dimiliki
oleh bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Sehingga, di kelas-kelas RSBI/SBI bahasa
Indonesia menjadi ‘bahasa asing’. Sebaliknya, bahasa Inggris menjadi bahasa ibu.
Tinjauan di lapangan, ini yang terjadi.

Para pimpinan sekolah, para guru, para pejabat pendidikan, para orang tua siswa, dan
para murid akan amat sangat bangga jika semua murid di kelas-kelas RSBI/SBI mampu
menggunakan bahasa Inggris seperti orang-orang ‘bule’. Sebaliknya, mereka tidak
merasa sedih jika para murid di kelas ini memiliki kemampuan berbahasa Indonesia
seperti orang bule yang sedang belajar bahasa Indonesia.

Apa yang mesti diperbuat? Keberhasilan RSBI/SBI ditandai bukan dengan kemampuan
bahasa Inggrisnya tetapi berapa banyak alumninya yang dapat melanjutkan
pendidikannya di luar negeri. Ambil sebuah contoh. Di kota Yogyakarta, ada sebuah
sekolah swasta yang bukan RSBI/SBI, berarti menggunakan bahasa Indonesia sebagai
bahasa pengantar dalam pembalajaran, tetapi sekitar 20% lulusannya melanjutkan
pendidikannya di luar negeri.

Kiranya, untuk membuat sekolah Indonesia setara dengan sekolah-sekolah di negara


maju, bahasa bukan satu-satunya pilihan. Ketrampilan belajar, kemandirian, keterbukaan,
ketekunan, kerja keras lebih kuat sebagai dasar untuk belajar di negara maju. Semoga!

Anda mungkin juga menyukai