Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perubahan yang terjadi di dunia terasa begitu cepat, sehingga menyebabkan
seluruh tatanan yang ada di dunia ini ikut berubah, sementara tatanan yang baru
belum terbentuk. Hal ini menyebabkan sendi-sendi kehidupan yang selama ini
diyakini kebenarannya menjadi usang. Nilai-nilai yang menjadi panutan hidup telah
kehilangan otoritasnya, sehingga manusia menjadi bingung. Kebingungan itu
menimbulkan berbagai krisis, terutuama ketika terjadi krisis moneter yang
dampaknya terasa sekali di bidang politik, sekaligus juga berpengaruh di bidang
moral serta sikap perilaku manusia di berbagai belahan dunia, khususnya di negara
yang berkembang seperti Indonesia. Guna merespon kondisi tersebut, pemerintah
perlu mengantisipasi agar tidak menuju ke arah keadaan yang lebih memprihatinkan.
Salah satu solusi yang dilakukan pemerintah, dalam menjaga nilai-nilai panutan hidup
dalam berbangsa dan bernegara secara lebih efektif yaitu melalui bidang pendidikan.
Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di era reformasi,
belum terilat jelas upaya mewujudkan nilai-nilai Pancasila secara sungguh-sungguh.
Segala kegagalan dalam rangka meujudkan Indonesia yang sejahtera dan berkeadilan,
disebabkan tidak adanya kesungguhan mewujudkan pembangunan yang mengacu
pada nilai-nilai visioner Pancasila. Sadar, atau tidak sadar Pancasila memiliki fungsi
integratif yang menjamin kesatuan bangsa Indonesia yang pluralistik. Tidaklah
berlebihan jika Pancasila menjadi salah satu kekaguman dunia luar terhadap
Indonesia, karena memiliki fungsi menyatukan masyarakat, wilayah nusantara yang
begitu luas, dengan berbagai latar belakang suku, budaya, bahasa, dan agama.
Reformasi telah jalan semenjak tahun 2000, semula harapan Indonesia maju
secara positif, namun kenyataannya malah sebaliknya, banyak ditemukan
kecenderungan perubahan yang negatif dalam berbagai bidang, seperti: politik,
ekonomi dan hukum. Di dalam bidang ekonomi, Indonesia lebih mengarah pada
sistem liberal, pasar modern bermodal besar bermunculan menggusur ekonomi
rakyat. Dalam bidang hukum, penegakan hukum belum maksimal. Semua
individualis, liberal, materialis, dan hedonis. Oleh karena itu, perubahan yang kita
inginkan adalah berdasarkan kepada karakter bangsa yang telah teruji kebenarannya
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
Pancasila merupakan warisan luar biasa dari pendiri bangsa yang mengacu
kepada nilai-nilai luhur. Hampir tidak ada keraguan lagi, mayoritas bangsa Indonesia
ini berpendapat bahwa Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pandangan hidup
masyarakat Indonesia yang plural tidak tergantikan. Pancasila yang akomodatif
terhadap agama tidak dapat tergantikan oleh ideologi sekulerisme yang tidak selalu
bersahabat dengan agama. Oleh karena itu, pemulihan kembali kesadaran kolektif
bangsa tentang posisi vital dan urgensi Pancasila dalam kehidupan negara bangsa
Indonesia. Pancasila kembali menjadi rujukan dan panduan pengembalian berbagai
kebijakan dan langkah, mulai dalam kehidupan keagamaan, kemanusiaan,
kebangsaan, demokrasi dan keadilan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari Pancasila
2. Apa makna Pancasila?
3. Bagaimana peran Pancasila sebagai Ideologi Negara?
4. Bagaimana pengamalan butir-butir pancasila sila ke lima dalam bidang
kesehatan?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami definisi Pancasila
2. Untuk mengetahui dan memahami makna Pancasila
3. Untuk mengetahui peran Pancasila sebagai Ideologi Negara
4. Untuk mengetahui pengamalan butir-butir pancasila sila ke lima dalam bidang
kesehatan

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pancasila
Pancasila berasal dari kata panca yang berarti lima dan sila yang berarti sendi,
atas, dasar, atau peraturan tingkah laku yang penting dan baik. Oleh karena itu,
pancasila merupakan lima dasar yang berisi pedoman atau aturan tentang tingkah laku
yang penting dan baik. Pancasila merupakan lima dasar dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Bunyi kelima sila-sila dalam Pancasila sebagai berikut:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat/ kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

B. Makna Pancasila
Dalam pancasila terkandung berbagai makna yang perlu dipahami setiap
manusia Indonesia, adapun makna yang dimaksud antara lain:
1. Sila ketuhanan Yang Maha Esa
Bangsa Indonesia percaya dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
karena Tuhan adalah pencipta alam semesta beserta segala isinya baik benda
mati maupun benda hidup.
2. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab
Bangsa Indonesia adalah manusia yang memilikki martabat yang tinggi,
sehingga keputusan yang diambil harus berdasarkan norma yang objektif.
3. Sila persatuan Indonesia
Bersatunya bangsa yang mendiami wilayah Indonesia. Persatuan merupakan
wujud paham kebangsaan.
4. Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan
Kerakyatan berarti sekelompok orang mendiami wilayah Indonesia.
Kerakyatan berarti kekuasaan tertinggi yang ada ditangan rakyat. Hikmat
kebijaksanaan berarti sikap yang dilandasi dengan penggunaan akal pikiran
yang sehat selalu mempertimbangkan persatuan dan kesatuan.
Permusyawaratan berarti tata cara yang khas Indonesia untuk merumuskan dan
memutuskan suatu hal berdasarkan kehendak rakyat sehingga tercapai
keputusan berdasarkan mufakat. Perwakilan berarti suatu tata cara untuk
mengusahakan ikut sertanya rakyat mengambil bagian urusan bernegara melalui
badan-badan perwakilan seperti MPR, DPR, DPD dan DPRD
5. Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Keadilan sosial berarti keadilan yang berlaku dalam masyarakat disegala
bidang kehidupan dan lapisan masyarakat seperti halnya dalam politik, hukum,
ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sosila budaya. Seluruh rakyat Indonesia
berarti setiap orang yang menjadi rakyat Indonesia baik yang berdiam di
wilayah Indonesia maupun yang berdiam di luar wilayah Indonesia. Cita-cita
Bangsa Indonesia adalah pencapaian masyarakat adil dan makmur.

C. Pancasila Sebagai Ideologi Negara


Ideologi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai kumpulan
konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat yang memberikan arah dan tujuan
untuk kelangsungan hidup. Ideologi juga diartikan sebagai cara berpikir seseorang
atau suatu golongan. Ideologi dapat diartikan paham, teori, dan tujuan yang
merupakan satu program sosial politik (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008: 517).
Menurut beberapa definisi ideology, antara lain:
1. Sastrapratedja (2001:43): Ideologi adalah seperangkat gagasan atau pemikiran
yang berorientasi pada tindakan dan diorganisir menjadi suatu sistem yang
teratur.
2. Soerjanto (1991:47): Ideologi adalah hasil refleksi manusia berkat
kemampuannya menjaga jarak dengan dunia kehidupannya.
3. Mubyarto (1991:239): Ideologi adalah sejumlah doktrin, kepercayaan, dan
simbol-simbol sekelompok masyarakat atau suatu bangsa yang menjadi
pegangan dan pedoman kerja (atau perjuangan) untuk mencapai tujuan
masyarakat atau bangsa itu.
Sebagai warga negara, Anda perlu memahami kedudukan Pancasila sebagai
ideologi negara karena ideologi Pancasila menghadapi tantangan dari berbagai
ideologi dunia dalam kebudayaan global. Pada bagian ini, perlu diidentifikasikan
unsur-unsur yang memengaruhi ideologi Pancasila sebagai berikut:
1. Unsur ateisme yang terdapat dalam ideologi Marxisme atau komunisme
bertentangan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Unsur individualisme dalam liberalisme tidak sesuai dengan prinsip nilai gotong
royong dalam sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
3. Kapitalisme yang memberikan kebebasan individu untuk menguasai sistem
perekonomian negara tidak sesuai dengan prinsip ekonomi kerakyatan. Salah
satu dampak yang dirasakan dari kapitalisme ialah munculnya gaya hidup
konsumtif.
Negara bukan hanya terletak pada aspek legal formal, melainkan juga harus
hadir dalam kehidupan konkret masyarakat itu sendiri. Beberapa peran konkret
Pancasila sebagai ideologi meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Ideologi negara sebagai penuntun warga negara, artinya setiap perilaku warga
negara harus didasarkan pada preskripsi moral. Contohnya, kasus narkoba yang
merebak di kalangan generasi muda menunjukkan bahwa preskripsi moral
ideologis belum disadari kehadirannya. Oleh karena itu, diperlukan norma-norma
penuntun yang lebih jelas, baik dalam bentuk persuasif, imbauan maupun
penjabaran nilai-nilai Pancasila ke dalam produk hukum yang memberikan
rambu yang jelas dan hukuman yang setimpal bagi pelanggarnya.
2. Ideologi negara sebagai penolakan terhadap nilai-nilai yang tidak sesuai dengan
sila-sila Pancasila. Contohnya, kasus terorisme yang terjadi dalam bentuk
pemaksaan kehendak melalui kekerasan. Hal ini bertentangan nilai toleransi
berkeyakinan, hak-hak asasi manusia, dan semangat persatuan.

D. Butir-Butir Sila Ke-5 Pancasila


1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana
kekeluargaan dan  kegotongroyongan.
2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.

3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

4. Menghormati hak orang lain.

5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.

6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan


terhadap orang lain

7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan
gaya hidup mewah.

8. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan


kepentingan umum.

9. Suka bekerja keras.

10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan
kesejahteraan bersama.

11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata
dan berkeadilan sosial.

E. Aplikasi Butir-Butir Pancasila Sila Ke-5 dalam Bidang Kesehatan


1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana
kekeluargaan dan kegotongroyongan.
Contoh:
a. Wajib hukumnya saling menghormati terhadap sesama manusia untuk
tercapainya sikap kekeluargaan.
b. Bekerjasama dengan 1 tim baik sesama teman sejawat dan antar profesi lain.
c. Setiap sebelum dan sesudah praktik mahasiswa selalu membersihkan klinik
bersama-sama
2. Mengembangkan sikap adil terhadap manusia.
Contoh:
a. Tidak membeda-bedakan pasien berdasarkan golongan, ras, suku, agama,
dll.
b. Memanggil pasien sesuai dengan nomor antrian.
3. Menjaga keseimbangan antara Hak dan Kewajiban.
Contoh:
a. Seorang pasien datang ke klinik gigi untuk menumpat giginy. Hak seorang
pasien adalah mendapatkan perawatan dan kewajiban seorang petugas
adalah memberikan pelayanan sesuai SOAP.
b. Seorang mahasiswa yang mengerjakan tugas dan mengumpulkannya,
sedangkan dosen memberikan nilai yang sesuai.
c. Sebagai tenaga kesehatan petugas berkewajiban untuk menjaga privasi
pasien.
d. Setiap akan melakukan tindakan, petugas berkewajiban memberikan
informasi dan meminta persetujuan kepada pasien.
4. Menghormati hak orang lain
Contoh :
a. Sebagai pelayanan kesehatan kita dituntut untuk tetap menjaga privasi
pasien, seperti tidak mengumbar identitas atau penyakit yang diderita pasien
kepada orang lain kecuali jika diminta oleh pengadilan sebagai kesaksian;
b. Menjaga kenyamanan dan keamanan kepada pasien, seperti saat melakukan
pemeriksaan ataupun tindakan pengobatan kepada pasien, sebelum tindakan
kita harus meminta izin terlebih dahulu kepada pasien, memberitahukan hal-
hal apa saja yang akan kita lakukan terhadap pasien dan tidak melalukan hal-
hal lain yang menyimpang dari norma.
5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri
Contoh :
a. Menolong pasien yang sangat membutuhkan pertolongan, seperti
mengutamakan pasien yang mengalami gawat darurat untuk terlebih dahulu
ditangani.
b. Bersedia sewaktu-waktu menjadi konselor pribadi pasien terhadap penyakit
yang sedang diderita pasien, agar pasien minimal dalam menjaga diri sendiri
dan mencegah penyakit yang diderita semakin parah.
6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan
terhadap orang lain, bersifat sewajarnya terhadap sesama, misalnya tidak
memberatkan orang lain apalagi sampai jatuhnya pemerasan.
Contoh :
a. Memberikan pelayanan maksimal kepada pasien, namun apabila pasien tidak
sanggup dalam hal administrasi, memberikan keringanan kepada pasien dan
tidak meminta bayaran yang tidak sesuai dengan aturan yang seharusnya.
b. Memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien tidak sesuai antara
diagnosis yang didapatkan dengan tindakan yang diberikan, atau melebihkan
tindakan pelayanan pasien, sehingga pasien harus membayar lebih mahal
untuk pelayanan yang didapatkan.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

1. Ristekdikti. Pendidikan Pancasila. Jakarta. 2016


2. Kaelan. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma. 2010
3. Soegiti, Ari Tri, dkk. Pendidikan Pancasila. Semarang: Unnes Press. 2016