Anda di halaman 1dari 5

M.

Farras Febrian
30401900381
UTS Ekonomi Islam

1. Menurut pengertian umum, ilmu ekonomi positif mempelajari problema-problema


ekonomik seperti apa adanya. Ilmu ekonomi normatif mempersoalkan bagaimana
seharusnya sesuatu itu. Sering dikemukakan bahwa penelitian ilmiah dalam ilmu
ekonomi barat lebih banyak membatasi diri pada persoalan-persoalan positif daripada
membatasi persoalan-persoalan normatif, yang tergantung pada penilaian tentang apa
yang baik dan apa yang buruk. Setidak-tidaknya pada tingkatan perumusan teoritik.
Dalam pada itu beberapa ahli ekonomi islam juga telah berusaha untuk mempertahankan
perbedaan antara ilmu pengetahuan positif dan normatif, sehingga dengan begitu mereka
menuangkan analisa ilmu ekonomi islam dalam kerangka intelektual dunia barat. Dalam
ilmu ekonomi islam, aspek-aspek yang normatif dan positif itu saling berkaitan erat,
sehingga setiap usaha untuk memisahkannya akan berakibat menyesatkan dan tidak
produktif. Ini berarti bahwa ilmu ekonomi islam tidak berisi komponen-komponen
normatif dan positif yang tidak dapat dibedakan sama sekali. Tetapi berdasarkan ini saja
kita tidak dapat mengatakan bahwa ilmu ekonomi islam adalah ilmu pengetahuan positif
atau normatif. Perbedaan antara ilmu pengetahuan positif dan normatif merupakan hal
yang tidak penting, baik pada tingkatan teori maupun kebijaksanaan. Karena nilai-nilai
dapat dicerminkan baik dalam teori maupun dalam kebijakan. Karena teori memberikan
kerangka bagi pilihan kebijakan, nilai-nilai tidak hanya dicerminkan dalam kebijakan
dengan mengabaikan teori itu. Dipandang dari segi ini, pemisahan yang positif dan yang
normatif tidak toleran dalam ilmu ekonomi islam, karena kedua-duanya terjalin erat
dengan kehidupan islam, filsafat, lembaga kebudayaan serta agama islam.
2.
a) Perdagangan yang diperbolehkan dalam islam adalah jual beli. Persyaratan /
rukun jual beli adalah sebagai berikut :
1) Aqidain (2 orang yang berakad baik pembeli maupun penjual),
2) Objek Jual Beli,
3) Ijab Kabul (shighat),
4) Nilai tukar pengganti barang.

b) Riba ialah bunga uang. Riba juga dapat didefinisikan sebagai tambahan nilai lebih
dari suatu barang yang dipertukarkan. Menurut bahasa, Riba ialah ziyadah atau
tambahan. Hukum riba di dalam Islam adalah haram, dengan alasan atau dalam
bentuk apapun.
Contoh dari riba adalah saat meminjam uang di bank maka akan dikenakan bunga
setiap kali membayar angsuran pinjaman tersebut
c) Macam-macam riba adalah
1. Riba Jahiliyah : riba yang muncul atau terjadi karena terdapat pembayaran
hutang yang melebihi dari hutang pokonya, penyebabnya adalah karena orang
yang meminjam tidak sanggup membayar hutang yang harus dilunasinya setelah
jatuh tempo.
2. Riba Qardh : riba yang muncul atau terjadi karena adanya persayaratan
tambahan atau kelebihan dalam pengembalian pinjaman yang terjadi pada awal
perjanjian atau akad hutang piutang.
3. Riba Nasi’ah : riba yang muncul atau terjadi karena adanya penangguhan atau
penahanan penerimaan atau penyerahan suatu jenis barang ribawi yang mana
barang tersebut dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya.
4. Riba Fadhl : riba yang muncul atau terjadi karena adanya pertukaran barang-
barang yang sejenis namun memiliki takaran, kadar, atau harga yang berbeda,
sementara itu barang yang dipertukarkan tergolong dalam barang ribawi.
3.
 Dalam konsep ekonomi Islam penentuan harga dilakukan oleh kekuatan-kekuatan
pasar, yaitu kekuatan permintaan dan kekuatan penawaran
 Dalam konsep Islam, pertemuan permintaan dengan penawaran tersebut haruslah
terjadi secara rela sama rela (an taraadhin),
 Dalam surat An Nisa ayat 29 Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali
dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.
dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu.”
 Dalam konsep Islam, monopoly, oligopoli dalam artian hanya ada satu penjual,
dua penjual, atau beberapa penjual tidak dilarang keberadaannya, selama mereka
tidak mengambil keuntungan di atas keuntungan normal
Mekanisme Pasar Dalam Islam mengatur agar persaingan di pasar dilakukan dengan adil.
Setiap bentuk yang dapat menimbulkan ketidakadilan dilarang:
1) Talaqqi rukban dilarang
2) Mengurangi timbangan dilarang karena barang dijual dengan harga yang sama
dengan jumlah yang lebih sedikit
3) Menyembunyikan barang cacat (tadlis) dilarang karena penjual mendapatkan
harga yang baik untuk kualitas yang buruk
4) Menukar kurma kering dengan kurma basah dilarang
5) Menukar satu takar kurma kualitas bagus dengan dua takar kurma kualitas sedang
dilarang
6) Transaksi Najasy dilarang karena si penjual menyuruh orang lain memuji
barangnya atau menawar dengan harga tinggi agar orang lain tertarik
7) Ihtikar dilarang, yaitu mengambil keuntungan di atas keuntungan normal dengan
menjual lebih sedikit barang untuk harga yang lebih tinggi
8) Ghaban faa-hisy (besar) dilarang yaitu menjual di atas harga pasar
4.
1) Jujur / Terbuka / Transparan.
Kejujuran harus menjadi sebuah prinsip dagang bagi seorang pengusaha muslim.
Namun seorang pedagang atau pengusaha biasanya merasa kesulitan dalam
melakukan hal ini. Jadilah pengusaha yang menjaga kejujuran pada setiap
customer, ikutilah cara berdagang yang telah dicontohkan oleh Rasul kita.
Menjadi seorang pedagang yang seperti Rasulullah contoh kan bukanlah hal yang
mudah, terutama di zaman yang penuh dengan fitnah ini. Segala macam cara
menjadi halal digunakan semata-mata hanya demi keuntungan satu pihak.
2) Menjual Barang yang Halal.
Allah telah mengingatkan dengan tegas tentang prinsip halal dan haramnya
sesuatu dalam perdagangan. Allah telah menetapkan prinsip halal dan haram
dalam Qur’an. Oleh sebab itu sebagai umat muslim yang melakukan perdagangan
kita wajib mengetahui asal muasal dari apa yang kita perjual belikan. Selain itu
sebagai kehalalan hasil yang kita dapatkan juga harus terhindar dari Macam-
Macam Riba. Oleh sebab itu kita harus tahu apa Pengertian Riba dalam islam dan
apa saja Bahaya Riba bagi pelakunya
3) Menjual Barang Dengan Kualitas Yang Baik
Sebagai seorang pedagang kita harus tetap jujur dan memperhatikan kehalalan
dari barang yang kita jual. Selain itu kita juga memperhatikan bagaimana kualitas
barang yang kita jual, apakah mutunya sudah baik ataukah kurang layak untuk
kita jual kepada customers. Kualitas suatu barang yang kita jual menjadi tanggung
jawab kita sebagai pedagang. Oleh sebab itu kita harus memberikan penjelasan
tentang bagaimana kualitas suatu barang yang kita jual dan berapa kuantitas
barang yang kita jual pada customers.
5.
1) Keuntungan Bank Syariah vs Konvensional
Kedua bank sama-sama memberikan keuntungan bagi nasabahnya. Hanya saja
pemberian keuntungan kedua Bank ini berbeda bentuk. Menurut Undang-undang
Nomor 10 Tahun 1998 Bank Konvensional merupakan bank yang melaksanakan
kegiatan usaha secara konvensional dan memberi keuntungan berupa suku bunga
kepada nasabahnya. Sementara itu, dalam Bank Syariah, pemberian suku bunga
sama sekali dihindarkan.
Bank Syariah : Keuntungan berasal dari pendekatan bagi hasil (al-mudharabah).
Bank Konvensional : Keuntungan berasal dari suku bunga dengan jumlah nominal
tertentu. Selain itu, nasabah memperoleh keuntungan bunga simpanan yang
tinggi, sedang kepentingan pemegang saham di antaranya adalah memperoleh
spread yang optimal antara suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman
(mengoptimalkan interest difference).
2) Pengelolaan Dana
Perbedaan kedua bank ini juga terjadi dalam hal pengelolaan dana. Bank memiliki
caranya masing-masing untuk mengelola dana nasabah agar terus berputar.
Bahkan pemutaran keuangan dapat melalui produk apa saja. Bisa dari tabungan,
deposito hingga giro. Akan tetapi, pada bank syariah, pegelolaan keuangan ini tak
bisa sembarangan.
Bank Syariah : Pengelolaan keuangan dalam bentuk titipan maupun investasi.
Segala pengelolaan yang berasal dan diinvestasikan pada kegiatan bisnis yang
melanggar hukum Islam, seperti perdagangan barang-barang haram, perjudian
(maisir), dan manipulatif (ghahar) sangat diharamkan.
Bank Konvensional : Pengelolaan keuangan bisa berasal dari sumber manapun
tanpa harus mengetahui dari mana atau kemana uang tersebut disalurkan, selama
debitur bisa membayar cicilan dengan rutin.
3) Proses Transaksi Perbankan
Proses transaksi serta perjanjian yang terjadi di kedua bank menujukkan
perbedaan. Dalam Bank Syariah, transkasi dilakukan sesuai prinsip Syariah Islam.
Sementara pada Bank Konvensional semua transaksi dan perjanjian berdasarkan
hukum yang berlaku di Indonesia.
Bank Syariah : Transaksi berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist dan telah difatwakan
oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Jenis transaksinya antara lain akad al-
mudharabah (bagi hasil), al-musyarakah (perkongsian), al-musaqat (kerja sama
tani), al-ba’i (bagi hasil), al-ijarah (sewa-menyewa), dan al-wakalah (keagenan).
Bank Konvensional : Transaksi berdasarkan pada hukum yang berlaku di negara
Indonesia.
4) Promosi dan Cicilan
Dua hal tersebut merupakan daya tarik bank dalam menjaring nasabah. Dan
keduanya memiliki taktik masing-masing dalam memberian promosi dan juga
cicilan. Apabila Bank Konvensional gemar menebar promosi dan cicilan yang
menggiurkan misalnya cicilan 0% diberikan bagi nasabah yang memiliki
tabungan di bank tertentu atau suku bunga tetap saat ingin membeli rumah. Nah,
Bank Syariah juga memiliki caranya sendiri dalam memberikan promosi dan
cicilan.
Bank Syariah : Program cicilan diterapkan dengan jumlah tetap berdasarkan
keuntungan yang sudah disetujui antara pihak bank dan nasabah saat akad kredit.
Sementara untuk pemberian promosi harus tersampaikan dengan jelas, tidak
ambigu, dan transparan.
Bank Konvensional : Hampir setiap bulan memberikan promosi yang berbeda-
beda dan bertujuan menarik nasabah untuk menggelontorkan uangnya di bank
tersebut. Promosinya sangat beragam seperti pemberian suku bunga tetap atau
fixed rate selama periode tertentu, sebelum akhirnya memberikan suku bunga
berfluktuasi atau floating rate kepada nasabah.
5) Sistem Bunga
Terdapat perbedaan dalam hal pemberian sistem bunga. Tentu seperti dijelaksan
di poin sebelumnya bahwa Bank Syariah sangat mengesampingkan pemberian
bunga karena tak sesuai dengan hukum Islam.
Bank Syariah : Eksistensi bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama
termasuk agama Islam. Maka itu, Bank Syariah tidak menganut sistem ini.
Bank Konvensional : Penentuan suku bunga dilakukan pada waktu akad dengan
pedoman harus selalu menguntungkan pihak bank. Besarnya persentase
didasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan. Jumlah pembayaran
bunga tidak mengikat meskipun jumlah keuntungan berlipat ganda saat keadaan
ekonomi sedang baik.