Anda di halaman 1dari 5

Nama : Siti Fatimah Anggraeni Bahar

Nim : N011181511

A. Pengertian Replikasi DNA

Replikasi DNA adalah proses penggandaan molekul DNA untai ganda. Pada sel, replikasi DNA
terjadi sebelum pembelahan sel. Prokariota terus-menerus melakukan replikasi DNA. Pada
eukariota, waktu terjadinya replikasi DNA sangatlah diatur, yaitu pada fase S daur sel, sebelum
mitosis atau meiosis I. Penggandaan tersebut memanfaatkan enzim DNA polimerase yang
membantu pembentukan ikatan antara nukleotida-nukleotida penyusun polimer DNA. Proses
replikasi DNA dapat pula dilakukan in vitro dalam proses yang disebut reaksi berantai
polimerase (PCR) Replikasi adalah proses duplikasi DNA secara akurat. Genom manusia pada
satu sel terdiri sekitar 3 milyar dan pada saat replikasi harus diduplikasi secara akurat (persis
tidak boleh ada yang salah).

Replikasi adalah transmisi vertical (dari sel induk ke sel anak supaya informasi genetik yang
diturunkan sama dengan sel induk). Replikasi hanya terjadi pada fase S (pada mamalia),
Replikasi terjadi sebelum sel membelah dan selesai sebelum fase M. Proses replikasi pertama
kali di mulai ketika enzyme Helicase memutus ikatan kimia yang paling lemah diantara dua
rantai polinukleotida.

Untaian DNA diputus tepat di tengah memisahkan pasangan-pasangan basa. Rantai


polinukleotida yang baru dipisahkan menjadi rantai tunggal akan menjadi rantai dasar
(template) untuk membentuk dua untai rantai DNA baru.

Di dalam sel-sel nucleus, terdapat banyak nukleotida-nukleotida bebas. Basa-basanya akan


berikatan dangan basa-basa yang ada di dalam rantai dasar (template), yang berdasarkan
aturan Chargaff, akan berpasangan hanya dengan basa lain yang merupakan pasangannya.
Misalnya, katakanlah di dalam rantai dasar(template) terdapat basa Guanine (G),maka basa
Cytosinlah (C) yang terikat padanya. Proses terbentuknya ikatan basa-basa ini dibantu oleh
enzyme yang disebut enzyme DNA Polymerase III. Enzyme ini hanya bekerja dari ujung 5’ ke
ujung 3’ dari rantai DNA. Hal ini terjadi juga pada rantai dasar (template) yang lainnya. Hanya
saja sedikit berbeda prosesnya dengan rantai dasar yang pertama. Karena proses replikasi oleh
enzyme polymerase III hanya berlangsung dari ujung 5’ ke ujung 3’, maka pada rantai dasar
(template) ke dua dibutuhkan peran RNA primase yang membuat RNA Primer sebagai jembatan
awal bagi enzyme polymerase III bekerja. Selanjutnya dengan bantuan DNA polymerase I dan
DNA ligase akan diperoleh sebuah rantai DNA baru dari rantai dasar (template) ke dua. Proses
ini terjadi berulang ribuan kali untuk menciptakan dua molekul DNA yang persis sama dengan
molekul DNA asal. Sehingga saat mitosis terjadi, sel saudaranya akan menerima molekul DNA
yang betul-betul sama. Jika terjadi sesuatu yang salah dalam replikasi DNA, mutasi-pun terjadi.
Kesalahan mutasi akan menyebabkan protein dalam DNA memiliki urutan asam amino yang
salah, misalnya susunan basa yang berubah atau hilangnya basa tertentu. Perbedaan Replikasi
DNA dan Trankripsi DNA yaitu enzim yang berperan dalam proses transkripsi dan replikasi
berbeda Pada proses transkripsi, enzim yang berperan RNA polymerase.

Transkripsi DNA : terjadi pada saat akan terjadi sintesis protein (ekspresi gen); yang dipakai
cetakan hanya salah satu untai DNA(3’-5’)

Replikasi DNA : sebelum fase mitosis (fase S) dalam siklus sel; kedua untai induk dipakai sebagai
cetakan untuk di replikasi. Ada tiga cara teoretis replikasi DNA yang pernah diusulkan, yaitu
konservatif, semikonservatif, dan dispersif. Pada replikasi konservatif seluruh tangga berpilin
DNA awal tetap dipertahankan dan akan mengarahkan pembentukan tangga berpilin baru.
Pada replikasi semikonservatif tangga berpilin mengalami pembukaan terlebih dahulu sehingga
kedua untai polinukleotida akan saling terpisah. Namun, masing-masing untai ini tetap
dipertahankan dan akan bertindak sebagai cetakan (template) bagi pembentukan untai
polinukleotida baru. Sementara itu, pada replikasi dispersif kedua untai polinukleotida
mengalami fragmentasi di sejumlah tempat. Kemudian, fragmen-fragmen polinukleotida yang
terbentuk akan menjadi cetakan bagi fragmen nukleotida baru sehingga fragmen lama dan baru
akan dijumpai berselang-seling di dalam tangga berpilin yang baru.
Replikasi terjadi dengan proses semikonservatif karena semua DNA double helix. Hasil replikasi
DNA double strand. Kedua DNA parental strand bisa menjadi template yang berfungsi sebagai
cetakan untuk proses replikasi:

Semikonservaative process. Primer strand : Pada 3’ dia akan melepaskan 2P dipakai sebagai
energy untuk menempelkan, tetapi pada 5’ P tidak bisa dilepas

karena ketiga P dibutuhkan sehigga tidak ada energy sehingga tidak pernah terjadi s

intesis dari 3’-5’, tetapi dari 5’- 3’, jadi yang menambah selalu ujung 3’

DNA polymerase

Pada proses replikasi DNA terdapat enzim sentral, yaitu DNA polymerase. Pada proses
replikasi, DNA polymerase hanya bisa menempel pada gugus OH (hidroksil) dimana gugus OH
hanya ada pada ujung 3’ sedangkan ujung 5’ adalah ujung fosfat. (ciri utama DNA polymerase).
Ciri kedua: DNA polymerase tidak bisa mensintesis/ menempelkan DNA ke pasangan-nya kalau
tidak ada primer (lokomotif). Sifat dari DNA polymerase dia hanya bisa mensintesis DNA
dariarah 5’- 3’ sehingga pertumbuhan dari 5’- 3’ karena penambahan pada ujung 3’, dimana
pada ujung 3’ ada ujung hidroksil. Ciri lain DNA polymerase: membutuhkan primer, tidak bisa
mensintesis DNA tanpa adanya primer, primer yang dipakai adalah RNA (sekitar 4-5 basa dan
dilanjutkan DNA). DNA yang dibutuhkan adalah DNA primase untuk meletakkan RNA pada
tempatnya. DNA primase untuk mensintesis RNA sebagai lokomotif (4-5 basa). Bila lokomotif
sudah jadi maka akan di-take over oleh DNA polymerase, dan yang ditambahkan adalah DNA.

B. Mekanisme Replikasi DNA

Setiap molekul DNA yang melakukan replikasi sebagai suatu satuan tunggal dinamakan
replikon. Dimulainya (inisiasi) replikasi DNA terjadi di suatu tempat tertentu di dalam molekul
DNA yang dinamakan titik awal replikasi atau origin of replication (ori). Contoh pada plasmid
(prokariot), terdapat proses replikasi yang dimulai pada replication origin dan mengembang
sampai dihasilkan 2 plasmid yang sama persis. Tetapi pada eukariot (mamalia) lebih kompleks
tetapi tetap membutuhkan replication origin. Proses inisiasi ini ditandai oleh saling memisahnya
kedua untai DNA, yang masing-masing akan berperan sebagai cetakan bagi pembentukan untai
DNA baru sehingga akan diperoleh suatu gambaran yang disebut sebagai garpu replikasi.
Biasanya, inisiasi replikasi DNA baik pada prokariot maupun eukariot, terjadi dua arah
(bidireksional). Dalam hal ini dua garpu replikasi akan bergerak melebar dari ori menuju dua
arah yang berlawanan hingga tercapai suatu ujung (terminus). Pada eukariot, selain terjadi
replikasi dua arah, ori dapat ditemukan di beberapa tempat.

Daftar Pustaka
Susanto, A.H. Bahan Ajar Biologi Molekuler: Fakultas Biologi UNSOED. Purwokerto. 2004.

Susanto, A.H. Bahan Ajar Genetika Dasar, Fakultas Biologi UNSOED. Purwokerto.2002