Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN MENSTRUASI PADA REMAJA


Oleh :
Siti Raudatul Jannah, S.Kep
NIM 192311101233

1. Kasus
Gangguan menstruasi
2. Proses terjadinya masalah :
a. Pengertian
Gangguan menstruasi adalah berbagai permasalahan yang dialami oleh
wanita pada fase menstruasi. Adapun beberapa jenis dari gangguan
menstruasi diantaranya amenore (tidak menstruasi dalam kurun 3x
siklus), dismenore (nyeri menstruasi), sindrom premenstrual
(ketegangan pra menstruasi), menoragia (lama menstruasi lebih dari 10
hari dan darah yang keluar banyak >75cc), atau metoragia (perdarahan
yang terjadi diluar siklus menstruasi) (Bobak dkk., 2013).
b. Penyebab
Adapun penyebab terjadinya gangguan pada menstruasi menurut Harzif,
dkk (2018) diantaranya :
1) Faktor hormonal, yaitu tidak seimbangnya hormon estrogen dan
progesteron atau adanya kelainan hormon.
2) Faktor fisik, bisa disebabkan oleh aktivitas yang berlebihan seperti
olahraga berlebihan dan juga kelelahan
3) Faktor stress, seperti tugas kuliah yang terlalu banyak, akan
berlangsungnya ujian, ataupun konflik sosial
4) Diet yang berlebihan
c. Patofisiologi
1) amenore
Amenore primer dapat diakibatkan oleh tidak adanya uterus dan
kelainan pada akses hipotalamus-hipofisis-ovarium. Hypogonadotropic
amenorrhoea menunjukkan keadaan dimana terdapat sedikit sekali
kadar FSH dan LH dalam serum. Akibatnya, ketidakadekuatan hormon
ini menyebabkan kegagalan stimulus terhadap ovarium untuk
melepaskan estrogen dan progesteron. Kegagalan pembentukan
estrogen dan progesteron akan menyebabkan tidak menebalnya
endometrium karena tidak ada yang merasang. Terjadilah amenore. Hal
ini adalah tipe keterlambatan pubertas karena disfungsi hipotalamus
atau hipofosis anterior, seperti adenoma pitiutari.
Hypergonadotropic amenorrhoea merupakan salah satu penyebab
amenore primer. Hypergonadotropic amenorrhoea adalah kondisi
dimnana terdapat kadar FSH dan LH yang cukup untuk menstimulasi
ovarium tetapi ovarium tidak mampu menghasilkan estrogen dan
progesteron. Hal ini menandakan bahwa ovarium atau gonad tidak
berespon terhadap rangsangan FSH dan LH dari hipofisis anterior.
Disgenesis gonad atau prematur menopause adalah penyebab yang
mungkin. Pada tes kromosom seorang individu yang masih muda dapat
menunjukkan adanya hypergonadotropic amenorrhoea. Disgenesis
gonad menyebabkan seorang wanita tidak pernah mengalami
menstruasi. Amenore sekunder disebabkan oleh faktor lain di luar
fungsi hipotalamus-hipofosis-ovarium. Hal ini berarti bahwa aksis
hipotalamus-hipofosis-ovarium dapat bekerja secara fungsional.
Amenore yang terjadi mungkin saja disebabkan oleh adanya obstruksi
terhadap aliran darah yang akan keluar uterus, atau bisa juga karena
adanya abnormalitas regulasi ovarium sperti kelebihan androgen yang
menyebabkan polycystic ovary syndrome.
2) Dismenore
Selama fase luteal dan menstruasi, prostaglandin disekresi.
Pelepasan prostaglandin yang berlebihan meningkatkan frekuensi
kontraksi uterus dan menyebabkan vasospasme arteriol uterus, sehingga
mengakibatkan iskemia dan kram abdomen bawah yang bersifat siklik.
Respon sistemik terhadap prostaglandin meliputi nyeri punggung,
kelemahan, pengeluaran keringat, gejala saluran cerna (anoreksia, mual,
muntah, dan diare) dan gejala system syaraf pusat meliputi: pusing,
sinkop, nyeri kepala dan konsentrasi buruk (Bobak dkk., 2013).
3) Sindrom premenstrual
Meningkatnya kadar esterogen dan menurunnya kadar progesteron di
dalam darah, yang akan menyebabkan gejala depresi. Kadar esterogen
akan mengganggu proses kimia tubuh termasuk vitamin B6 (piridoksin)
yang dikenal sebagai vitamin anti depresi.
4) menoragia
Pada siklus ovulasi normal, hipotalamus mensekresi Gonadotropin
releasing hormon (GnRH), yang menstimulasi pituitary agar
melepaskan Folicle-stimulating hormone (FSH). Hal ini menyebabkan
folikel di ovarium tumbuh dan matur pada pertengahan siklus,
pelepasan hormon LH dan FSH menyebabkan terjadinya ovulasi.
Perkembangan folikel menghasilkan estrogen yang berfungsi
menstimulasi endometrium agar berproliferasi. Setelah ovum
dilepaskan kadar FSH dan LH rendah. Folikel yang telah kehilangan
ovum akan berkembang menjadi korpus luteum, dan korpus luteum
akan mensekresi progesteron. Progesteron menyebabkan poliferasi
endometrium untuk berdeferensiasi dan stabilisasi. 14 hari setelah
ovulasi terjadilah menstruasi. Menstruasi berasal dari peluruhan
endometrium sebagai akibat dari penurunan kadar esterogen dan
progesteron akibat involusi korpus luteum.
Pada siklus anovulasi, perkembangan folikel terjadi dengan adanya
stimulasi dari FSH, tetapi dengan berkurangnya LH, maka ovulasi tidak
terjadi. Akibatnya tidak ada korpus luteum yang terbentuk dan tidak ada
progesteron yang disekresi. Endometrium berplroliferasi dengan cepat,
ketika folikel tidak terbentuk produksi esterogen menurun dan
mengakibatkan perdarahan. Kebanyakan siklus anovulasi berlangsung
dengan pendarahan yang normal, namun ketidakstabilan poliferasi
endometrium yang berlangsung tidak mengakibatkan pendarahan hebat.
5) Metoragia
Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan
dengan siklus menstruasi. Perdarahan ovulatori terjadi pada pertengahan
siklus sebagai suatu spotting dan dapat lebih diyakinkan dengan
pengukuran suhu basal tubuh. Penyebabnya adalah kelainan organic
(polip endometrium, karsinoma endometrium, karsinoma serviks),
kelainan fungsional dan penggunaan estrogen eksogen (Irianto, 2015).
d. Tanda dan gejala
Adapun tanda dan gejala dari gangguan menstruasi, diantaranya :
a) Amenore
Tidak terdapat gejala khusus dari amenore namun gangguan
menstruasi amenore biasanya ditandai dengan tidak mengalami
menstruasi dalam beberapa siklus (Santi dan Pribadi, 2018).
b) Dismenore
Tanda dan gejalanya diantaranya nyeri pada perut bagian bawah,
mual, muntah, diare, cemas, depresi, pusing, nyeri kepala, letih, lesu
hingga pingsan (Santi dan Pribadi, 2018).
c) Sindrom premenstruasi (PMS)
Tanda dan gejala PMS diantaranya pembengkakan atau rasa nyeri
pada payudara, perut terasa mulas, kram perut, konstipasi, nyeri
punggung, mudah cemas dan tersinggung, gangguan tidur (Ernawati,
dkk., 2017).
d) Menoragia
Menoragia biasanya ditandai dengan siklus menstruasi yang lebih
dari 7 hari atau terlalu deras (melebihi 80 ml), serta adanya
gumpalan besar saat menstruasi (Ernawati, dkk., 2017).
e) Metoragia
Ganguan ini biasanya ditandai dengan adanya perdarahan yang
terjadi di luar siklus menstruasi (Santi dan Pribadi, 2018).
e. Penanganan
Upaya untuk mengurangi rasa nyeri dapat diberikan obat anti
peradangan Non-steroid (misalnya ibuprofen, naproxen, dan asam
mefenamat). Obat tersebut sangat efektif jika mulai diminum 2 hari
sebelum menstruasi dan dilanjutkan sampai hari 1-2 menstruasi
(Nugroho, 2012).
Menurut Nugroho (2012) selain dengan obat-obatan mengurangi
nyeri saat mengalami menstruasi juga dapat dilakukan dengan :
a. Istirahat yang cukup
b. Olah raga yang teratur
c. Pemijatan ringan
d. Yoga atau senam
e. Kompres hangat di daerah perut
Upaya untuk mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti
mual, tetapi mual dan muntah biasanya menghilang jika kramnya teratasi
(Nugroho, 2012).
3. a. Pohon masalah

Defisit
Pengetahuan

b. Masalah Keperawatan dan data yang perlu dikaji


Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji yaitu adanya keluhan
sepertti nyeri, mual muntah, serta manifestasi klinik lainnya.
4. Diagnosis keperawatan
1) Nyeri akut b.d cedera agen biologis
2) Intoleransi aktivitas b.d tirah baring dan kelemahan
3) Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d ketidakmampuan untuk memasukkan
atau mencerna nutrisi oleh faktor biologis atau psikologis
4) Ansietas b.d krisis situasional
5) Defisit pengetahuan kurangnya sumber-sumber informasi
5. Rencana tindakan
DIAGNOSA
NO NOC NIC
KEPERAWATAN
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama Manajemen Nyeri (1400)
2x24 jam diharapkan klien: 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
Tingkat Nyeri ( 2102 ) termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
Awa Tujuan kualitas dan faktor presipitasi
No Indikator
l 5 2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Nyeri yangakut
Nyeri 3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk
1.1. 2 
dilaporkan mengetahui pengalaman nyeri klien
Panjangny
4. Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
2. a episode 2 
5. Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
nyeri
Menggoso 6. Evaluasi bersama klien dan tim kesehatan lain

k area yang tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau


3. 2 
terkena 7. Ajarkan tentang teknik non farmakologi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1. Terapi Aktivitas (4310)
dampak
Intoleransi
Ekspresi 3x24 jam diharapkan pasien dapat 1. Kaji kemampuan ADL pasien.
2. 4. nyeriAktivitas 2 meningkatkan
 aktivitas yang dapat diltoleransi 2. Kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan,

wajah Toleransi terhadap aktivitas (0005) gaya jalan dan kelemahan otot. 
Kehilangan 3. Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah
6. nafsu 2 
makan
7. Mual 2 
Awa Tujuan aktivitas. 
No Indikator
l 5 4. Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung, dan
Frekuensi nadi 
kurangi suara bising, pertahankan tirah baring bila
1.
ketika beraktivitas di indikasikan.
TD sistolik ketika 
4. 5. Gunakan teknik menghemat energi, anjurkan
beraktivitas
TD diastolik  pasien istirahat bila terjadi kelelahan dan
5.
ketika beraktivitas kelemahan, anjurkan pasien melakukan aktivitas
7. Warna kulit  semampunya (tanpa memaksakan diri).
Kecepatan 
8. 6. Ajarkan pada klien dan keluarga tentang teknik
berjalan
9. Jarak berjalan  penghematan energi ketika beraktivitas
10 Toleransi dalam  Peningkatan latihan : latihan kekuatan (0201)
. menaiki tangga 1. Berikan informasi mengenai jenis latihan yang bisa
dilakukan
2. Modifikasi gerakan dan metode dalam
mengaplikasikan resistensi untuk pasien yang harus
berada di kursi roda atau tempat tidur
3. Bantu mengembangkan program latihan kekuatan
yang sesuai dengan tingkat kebugaran otot,
hambatan muskuloskeletal seperti ROM, miring
kanan dan kiri;
4. Spesifikkan tingkat resistensi, jumlah pengulangan,
jumlah latihan, dan frekuensi dari sesi latihan
menurut level kebugaran dan ada atau tidaknya
faktor risiko;
5. Instruksikan untuk beristirahat sejenak setiap selesai
latihan, jika diperlukan.
3. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 NIC: Manajemen gangguan makan (1030)
nutrisi: kurang dari x 24 jam pasien menunjukkan hasil: 1. Monitor asupan kalori
kebutuhan tubuh 2. Observasi klien selama dan setelah pemberian makan
(00002) Status nutrisi(1004) untuk meyakinkan bahwa asupan makanan cukup
tercapai dan dipertahankan.
No. Indikator Awal Tujuan
3. Ajarkan dan dukung konsep nutrisi yang baik dengan
Asupan 5 klien
1.
makanan NIC: Manajemen Nutrisi (1100)
2. Asupan cairan 5 1. Identifikasi adanya alergi atau intolernasi makanan
yang dimiliki pasien
2. Monitor kalori dan asupan makanan
3. Ciptakan lingkungan yang optimal pada saat
mengkonsumsi makanan
4. Atur diet yang diperlukan
5. Berikan obat-obatan sebelum makan (penghilang rasa
sakit, antiemetik) jika diperlukan
6. Anjurkan keluarga untuk membawa makanan favorite
pasien sementara berada dirumah sakit.

4. Ansietas NOC: Anxiety Reduction


1. Anxiety self-control 1. Gunakan pendekatan yang menenangkan
2. Anxiety level 2. Jelaskan semua prosedur dan apa yang diharapkan
3. Coping selama prosedur
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3. Temani pasien untuk memberikan keamanan dan
diharapkan kecemasan klien berkurang dengan mengurangi takut
kriteria hasil: 4. Dengarkan dengan penuh perhatian
1. Klien mampu mengidentifikasi dan 5. Instruksikan pasien untuk menggunakan tingkat
mengungkapkan gejala cemas; relaksasi
2. Vital sign dalam batas normal;
3. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh
dan tingkat aktivitas menunjukkan
berkurangnya kecemasan.
NOC 1. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga
Knowledge : Disease Process (1803) 2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 x 24 hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi,
jam pasien dapat mengetahui tentang menstruasi, dengan cara yang tepat
dengan kriteria hasil : 3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada
a. Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman penyakit dengan cara yang tepat
5. Defisit Pengetahuan
tentang menstruasi 4. Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan
b. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan pasien dengan cara yang tepat
prosedur yang dijelaskan secara benar 5. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
c. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan 6. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau
kembali apa yang telah dijelaskan mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat
atau yang diindikasikan
6. Daftar Pustaka
Bobak, Lowdermilk, Jense. 2012. Buku Ajar Keperawatan Maternitas.
Jakarta : EGC.

Sinaga, E., Saribanon, N., Nailus, S., Salamah, U., Andani, Y., Trisnamiati, A.,
Lorita, S. 2017. Manajemen Kesehatan Menstruasi. Jakarta : IWWASH
Global One

Harzif, A., Silvia, M., Wiweko, B. 2018. Fakta-fakta Menstruasi Pada Remaja.
Jakarta : Medical Research Unit, FKUI.

Herdman, T. Heather. 2020. NANDA Internasional Inc. Diagnosa keperawatan


: definisi & klasifikasi 2018-2020. Jakarta : EGC.

Nugroho taufan. 2012. Obstetri dan Ginekologi. Yogyakarta : Nuha Medika.

Santi,Pribadi.2018. Gangguan Menstruasi pada Pasien yang Berkunjung di


Klinik Pratama UIN Sunan Ampel. Journal of Health Science and
Prevention, Vol. 2(1).