Anda di halaman 1dari 26

D.

Unsur Output / Keluaran

1. Efisiensi ruang rawat


a. Kajian Teori
Efisiensi pelayanan meliputi 4 indikator mutu pelayanan kesehatan yang meliputi
(BOR, LOS, TOI, BTO)
 BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka penggunaan tempat tidur) BOR menurut
Huffman (1994) adalah “the ratio of patient service days to inpatient bed count
days in a period under consideration”. Sedangkan menurut Depkes RI (2005),
BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu.
Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan
tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-
85% (Depkes RI, 2005).
BOR = Jumlah hari perawatan x 100%
Jumlah TT x hari perawatan

 AVLOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)


AVLOS menurut Huffman (1994) adalah “The average hospitalization stay of
inpatient discharged during the period under consideration”. AVLOS menurut
Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini
disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan
gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat
dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Secara umum nilai
AVLOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2005).
LOS = Lama hari perawatan x 100%
Jumlah pasien keluar hidup atau mati

 TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)


TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak
ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan
gambaran 85 BOR = Jumlah hari perawatan x 100% Jumlah TT x hari
perawatan LOS = Lama hari perawatan x 100% Jumlah pasien keluar hidup
atau mati tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur
kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.
TOI = (jumlah tempat tidur x periode)– hari rawat
Jumlah pasien keluar

 BTO (Bed Turn Over)


BTO menurut Huffman (1994) adalah “...the net effect of changed in
occupancy rate and length of stay”. BTO menurut Depkes RI (2005) adalah
frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur
dipakai dalam satu satuan waktu tertentu.Idealnya dalam satu tahun, satu
tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.
BTO= Jumlah pasien keluar
Jumlah tempat tidur

Indikator Efisiensi Ruang

No. Indikator Standar

1 BOR 60-80%.
2 LOS 6-9 hari
3 TOI 1 – 3 hari
4 BTO 40-50 kali

Sumber: Data Primer Ruang Tribrata RS Bhayangkara

b. Kajian Data
Hasil Evaluasi Efisiensi Ruang

No Indikator Dahlia V Standar

1 BOR 48.93 60-80%.


2 LOS 4.14 6-9 hari
3 TOI 4.49 1 – 3 hari
4 BTO 3.68 40-50 kali

Sumber : Data Primer Ruang Tribrata RS Bhayangkara

c. Analisis Data
1) BOR (Rasio penggunaan tempat tidur) pada Maret- Mei 2018 di ruang
Tribrata rata-rata 48.93%, data tersebut menunjukkan pemakaian tempat
tidur diruang Tribrata adalah sesuai batas standar untuk RS Bhayangkara
yaitu 60-80 %. Menurut Sudra (2010:44) nilai ideal BOR dikatakan secara
statistik semakin tinggi nilai BOR berarti semakin tinggi pula penggunaan
tempat tidur yang tersedia untuk perawatan pasien.
2) LOS (lama waktu yang dirawat pada setiap pasien ) di ruang yaitu 4.14 hari,
data tersebut menunjukkan lama rata-rata hari perawatan sesuai dengan
standar nasional untuk RS Bhayangkara yaitu 6-9 hari.
3) TOI (waktu rata-rata suatu tempat tidur kosong) pada bulan Maret-Mei
2018 rata-rata di ruang Tribrata 4.49 hari, data tersebut menunjukkan waktu
rata-rata tempat tidur kosong sesuai dengan standar RS Bhayangkara yaitu
1-3 hari, dengan waktu tersebut maka rata-rata suatu tempat tidur kosong
terlalu cepat, hal tersebut dapat meningkatkan angka infeksi dirumah sakit.
4) BTO (Frekuensi pemakaian tempat tidur) pada bulan Maret-Mei 2018 di
ruang Tribrata 3.68 kali, penggunaan lebih sedikit jika dibandingkan
dengan standar RS Bhayangkara yaitu 40-50 kali.

2. Hasil evaluasi penerapan SAK


Asuhan keperawatan profesional merupakan dasar bagi terselenggaranya
pelayanan prima. Asuhan keperawatan tersebut diberikan oleh tenaga keperawatan
yang memiliki kewenangan dan kompetensi yang telah ditetapkan oleh profesi. Ciri
mutu asuhan keperawatan menurut Depkes RI tahun 1998 adalah :

a. Memenuhi standart profesi


b. Sumber daya dimanfaatkan secara wajar, efisien, dan efektif
c. Aman bagi pasien dan tenaga keperawatan
d. Memuaskan pasien dan tenaga keperawatan
e. Aspek sosial, ekonomi, budaya, etika, dan tata nilai masyarakat diperhatikan
dan dihormati.
Oleh karena hal tersebut pemberian asuhan keperawatan yang profesional dan
sesuai standar diharapkan mampu menjawab kompetisi di era global, sehingga
pasien dapat mendapatkan kepuasan dalam pelayanan keperawatan. Mutu asuhan
keperawatan yang prima akan terwujud apabila :
a. Asuhan keperawatan diberikan berdasarkan standar dan
kode etik profesi keperawatan.
b. Dilakukan evaluasi secara periodik dan terus-menerus
c. Ada upaya tindak lanjut untuk perbaikan
d. Komitmen yang tinggi dari seluruh staf keperawatan
Standar penilaian yang digunakan untuk menilai mutu asuhan keperawatan
adalah dengan menggunakan instrumen A, B, dan C. Adapun rentang nilai untuk
instrumen ABC adalah :

a. 0 % - 50 % kurang
b. 51 % - 65% cukup
c. 66 % – 80% baik
d. 81 %– 100% sangat baik
Menurut Permendikbud nomor 104 tahun 2014

Adapun instrumen A, B, C meliputi :


a. Instrumen A
1) Kajian Teori
Instrumen A merupakan evaluasi terhadap pendokumentasian asuhan
keperawatan yang telah baku. Evaluasi dilakukan terhadap dokumentasi
asuhan keperawatan pasien yang dirawat minimal 3 hari.
Dokumentasi keperawatan adalah sistem pencatatan kegiatan asuhan
keperawatan sekaligus pelaporan semua kegiatan asuhan keperawatan
sehingga terwujud data yang lengkap, nyata dan tercatat tingkat kesakitan
pasien maupun jenis, kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan dalam
memenuhi kebutuhan pasien. Dokumentasi keperawatan merupakan sesuatu
yang mutlak harus ada untuk perkembangan keperawatan, khususnya proses
profesionalisasi keperawatan serta upaya untuk membina dan
mempertahankan akuntabilitas perawat dan keperawatan. Dalam membuat
dokumentasi harus memperhatikan aspek-aspek : Keakuratan data, Breavity
(ringkas), Legibility (mudah dibaca).
Komponen dokumentasi keperawatan:

a) Pengkajian
Asuhan keperawatan paripurna memerlukan data yang lengkap dan
dikumpulkan secara terus menerus tentang keadaan pasien untuk
menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. Data harus bermanfaat
bagi semua anggota tim kesehatan. Komponen pengkajian meliputi
pengumpulan data, pengelompokan data dan perumusan masalah.
Pengumpulan data dari hasil wawancara, observasi, pemeriksaan fisik,
dan penunjang.

b) Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan menggambarkan masalah pasien baik
aktual maupun potensial berdasarkan hasil pengkajian data. Diagnosa
dirumuskan berdasarkan data status kesehatan pasien, dianalisa,
dibandingkan dengan fungsi normal kehidupan pasien.
Kriteria diagnosa dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan
pemenuhan kebutuhan pasien, dibuat sesuai dengan wewenang
perawat, dengan komponen terdiri atas masalah, penyebab dan tanda
gejala (PES) atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE) yang bersifat
aktual apabila masalah kesehatan sudah nyata terjadi dan bersifat
potensial apabila masalah kesehatan kemungkinan besar akan terjadi,
dapat ditanggulangi oleh perawat.

c) Rencana keperawatan
Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnosa
keperawatan dengan komponen rencana perawatan meliputi prioritas
masalah, tujuan implementasi dan rencana tindakan.
Prioritas masalah ditentukan dengan memberi prioritas utama
masalah yang mengancam kehidupan dan prioritas selanjutnya masalah
yang mengancam masalah kesehatan pasien. Prioritas ketiga adalah
masalah yang mempengaruhi perilaku.
d) Implementasi
Implementasi adalah pelaksanaan rencana tindakan yang
ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi yang
mencakup aspek peningkatan, pencegahan, pemeliharaan serta
pemulihan kesehatan dengan mengikut sertakan pasien dan keluarga.
tindakan keperawatan, aktivitas keperawatan.
Pelaksanaan tindakan keperawatan harus sesuai dengan rencana
yang ada, menyangkut keadaan bio-psiko-sosio-spiritual pasien,
menjelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilaksanakan kepada
klien, sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dengan menggunakan
sumber-sumber yang ada, menerapkan prinsip aseptik dan antiseptik,
menerapkan prinsip aman, nyaman, ekonomis, menjaga privasi, dan
mengutamakan keselamatan pasien, melaksanakan perbaikan tindakan
berdasarkan respon pasien, merujuk dengan segera bila ada masalah
yang mengancam keselamatan pasien, mencatat semua tindakan yang
telah dilaksanakan, merapikan pasien dan alat setiap selesai tindakan,
melaksanakan tindakan perawatan pada prosedur teknik yang telah
ditentukan
e) Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan secara periodik sistematis, dan berrencana
untuk menilai perkembangan keadaan pasien. Evaluasi dilaksanakan
dengan memeriksa kembali hasil pengkajian awal dan intervensi awal
untuk mengidentifikasi masalah dan rencana keperawatan pasien
termasuk strategi keperawatan yang telah diberikan untuk memecahkan
masalah pasien. Evaluasi melibatkan pasien, keluarga dan tim
kesehatan lain dan dilakukan sesuai dengan standar.
f) Catatan asuhan keperawatan:
Pencatatan merupakan data tertulis tentang kesehatan pasien dan
perkembangan pasien selama dalam pemberian asuhan keperawatan.
Pencatatan dilakukan selama pasien dirawat inap dan rawat jalan.
Pencatatan dapat digunakan sebagai bahan informasi, komunikasi,
dan laporan, dilakukan setelah tindakan dilaksanakan. Penulisan harus
jelas dan ringkas serta menggunakan istilah yang baku sesuai dengan
pelaksanaan proses keperawatan. Setiap pencatatan harus
mencantumkan paraf dan nama perawat yang melaksanakan tindakan
dan waktu pelaksanaan dan menggunakan formulir yang telah ada dan
disimpan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
2) Kajian Data
Evaluasi ini dilakukan dengan menggunakan instrument A yang sudah
dibakukan oleh Depkes (1997). Studi dokumentasi dilakukan pada 10
dokumentasi pasien di ruang Tribrata RS Bhayangkara.

Hasil Evaluasi Penerapan Standar Asuhan Keperawatan Di Ruang


Tribrata RS Bhayangkara (n=10)
Evaluasi Pengkajian Pretest
No Aspek yang Nilai Keterangan
dinilai
1 Pengkajian 96% - Dari data di dapat skore Ruang Tribrata 96 % pengkajian masuk
kriteria sangat baik, perawat melakukan pengkajian langsung
setelah pasien datang sesuai dengan penyakitnya.
- Perawat melengkapi pengkajian dalam waktu 24 jam, data dikaji
sejak pasien masuk sampai pasien pulang namun ada yang belum
lengkap.
2 Diagnosa 90% - Dari data di dapat hasil Ruang Tribrata 90% masuk kriteria sangat
baik, Sebagian besar diagnosa keperawatan sudah mecangkup
etiologi dan problem (PE). Diagnosa sudah sesuai dengan prioritas
masalah dan kondisi pasien.
3 Perencanaan 94% - Dari data di dapat hasil Ruang Tribrata 94% termasuk kategori
sangat baik. diagnosa sudah sesuai dengan prioritas masalah yang
ada. Dan perencanaan sudah sesuai dengan keadaan pasien

4 Implementasi 92% - Dari data di dapat hasil 92% termasuk kriteria sangat baik perawat
sudah melakukan tindakan keperawatan dan sudah melakukan
pendokumentasian dengan benar.

5 Evaluasi 100% - Evaluasi mendapat hasil Ruang Tribrata 100% termasuk katagori
sangat baik, dalam evaluasi sudah ditulis setiap hari secara
keseluruhan dan sesuai dengan SOAP.
6 Dokumentasi 100% - Dari hasil tersebut Ruang Tribrata mendapatkan score 100% masuk
kategori sangat baik, perawat melakukan dokumentasi tindakan
setiap hari dan setiap sift, pendokumentasian dilakukan dengan
jelas, ringkas dan dengan istilah yang benar

Sumber : Data Primer Ruang Tribrata RS Bhayangkara

3) Analisa Data
Berdasarkan hasil analisa data diatas tentang pendokumentasian
keperawatan didapatkan data sebagai berikut :
a) Pengkajian
Setelah dilakukan studi dokumentasi terhadap status pasien mengenai
pengkajian keperawatan didapatkan data bahwa format pengkajian telah
tersedia pada masing-masing status pasien, pengkajian dilakukan dengan
memberikan tanda (√) pada pernyataan yang sesuai dengan kondisi pasien.
Pengisian format pengkajian status pasien sudah lengkap. Dari keseluruhan
pengkajian sebesar 96% dengan katagori sangat baik.
b) Diagnosa keperawatan
Dalam menuliskan diagnosa keperawatan perawat masih ada yang belum
memilahkan dalam perumusan masalah antara diagnosa aktual/ risiko/
potensial, diagnosa keperawatan belum dirumuskan dengan benar. Dari
keseluruhan pengkajian diagnosa keperawatan di Ruang Tribrata
didapatkan nilai 90% dengan kategori sangat baik, sebaiknya perlu untuk
di tingkatkan pada perumusan diagnosa keperawatan dengan benar ada
etiologinya.
c) Perencanaan
Dari hasil observasi pendokumentasian tahap perencanaan di Ruang
Tribrata sudah terlaksana mencapai 94% Hal ini dibuktikan dengan
pendokumentasian perencanaan, sebagian besar sudah sesuai dengan
diagnosa keperawatan. Tetapi dalam perencanaan keperawatan sebagian
belum menyusun rencana berdasarkan prioritas, rencana pendidikan
kesehatan, rencana tindakan yang menggambarkan keterlibatan
klien/keluarga.
d) Implementasi
Dari pengkajian implementasi di Ruang Tribrata sebesar 92% termasuk
dalam katagori sangat baik. Tindakan yang dilakukan perawat yang
melibatkan keluarga belum didokumentasikan.
e) Evaluasi keperawatan
Evaluasi tindakan keperawatan yang dilakukan sebagian besar dalam
katagori sangat baik yakni 100% sudah merujuk pada tiap diagnosa yang
diangkat.
f) Dokumentasi
Catatan asuhan keperawatan sudah dalam katagori sangat baik, dengan
skor sebesar 100% Hal ini dibuktikan dengan catatan ditulis pada format
yang ada.

b. Instrumen B
Instrumen B mengevaluasi tentang persepsi pasien terhadap mutu asuhan
keperawatan dengan cara menyebarkan angket kepada pasien yang memenuhi
kriteria yaitu sudah dirawat inap minimal tiga hari, bersedia mengisi kuesioner.
Pada saat angket dibagikan, pasien telah diberikan penjelasan.
Salah satu indikator mutu asuhan keperawatan adalah dilihat dari persepsi
klien tentang mutu asuhan keperawatan yang diberikan. Untuk mengevaluasi hal
ini perlu suatu instrument yang baku.
1) Kajian Teori
Asuhan keperawatn adalah rangkaian kegiatan pada praktek
keperawatan yang diberikan secara langsung kepada pasien diberbagai
tantanan pelayanan kesehatan (Zaidin Ali, 2001). Mutu asuhan keperawatan
dapat dilihat dari persepsi pasien tentang mutu asuhan keperawatan yang
diberikan. Dan untuk mengevaluasi hal ini juga perlu suatu instrumen yang
baku menggunakan format standar asuhan keperawatan yang telah
ditetapkan oleh rumah sakit.
Mutu pelayanan keperawatan yang merupakan hasil kegiatan asuhan
keperawatan adalah terjaminnya penerapan standar asuhan keperawatn yang
dilakukan oleh perawat berdasarkan pendekatan proses keperawatan yang
meliputi pengkajian data, penyusunan diagnosa, melakukan perencanaan,
tindakan, dan evaluasi.
Menurut Azwar (1996), mutu pelayanan adalah tingkat kesempurnaan
pelayanan yang dapat memberikan kepuasan pasien sesuai tingkat kepuasan
rata-rata serta penyelenggaraan sesuai dengan standar dan kode etik profesi
yang ditetapkan. Menurut Pasuraman (1985), pengukuran mutu dapat
dilakukan dengan membandingkan persepsi antara pelayanan yang
diharapkan (Experted Services) dengan pelayanan yang diterima dan
dirasakan (Perceived Services). Mutu pelayanan menurut American Society
Quality Control merupakan gambaran total gambaran total sifat dari suatu
produk atau jasa pelayanan yang berhubungan dengan kemampuan untuk
memberikan kebutuhan dan kepuasan (Wijono, 2000 : 4)
Mutu adalah tingkat kesempurnaan dari penampilan sesuatu yang
sedang diamati (Winston Dictionary, 1956 dalam Azwar 1996: 48). Mutu
adalah sifat yang dimiliki oleh suatu program (Donabedian, 1980 dalam
Azwar, 1996: 48).
Lima dimensi yang menentukan mutu pelayanan yang dikaitkan
dengan kepuasan pasien adalah Pasuraman (1985) :
a) Tangibles (bukti nyata), meliputi fasilitas fisik, peralatan yang
digunakan dan penampilan karyawan.
b) Reliability (kehandalan) yaitu kemampuan memberikan pelayanan
yang dijanjikan dengan segera dan memuaskan.
c) Responsiviness (daya tanggap), yaitu kesediaan petugas dalam
memberikan pelayanan dengan tanggap.
d) Assurance (jaminan) mencakup kemampuan, kesopanan, sifat yang
dipercaya dari petugas, bebas dari bahaya, resiko dan keragu-raguan.
e) Emphaty (Empati), yaitu penyediaan perhatian dan kepedulian orang
per orang kepada pelanggan.
Aspek mutu pelayanan didalam rumah sakit dapat dilihat dari segi
aspek yang berpengaruh. Aspek berarti termasuk hal-hal yang secara
langsung atau tidak berpengaruh terhadap penilaian. Keempat aspek itu
adalah seperti berikut :
a) Sumber Daya Dimensi Mutu Pelayanan
Dimensi mutu pelayanan untuk mengukur sejauhmana suatu pelayanan
telah mencapai standar program dan standar pelayanan kesehatan.
b) Kompetisi Teknis
Kompetisi teknis terkait dengan ketrampilan, kemampuan dan
penampilan petugas, manajer, dan staff pendukung. Kompetensi teknis
berhubungan dengan bagaimana cara petugas mengikuti standar
pelayanan yang telah ditetapkan dalam hal dapat
dipertanggungjwabkan atau dihandalkan (dependability), ketepatan
(accurancy), ketahanan uji (reliability), dan konsistensi (concitency).
c) Akses terhadap pelayanan
Hal ini berarti bahwa pelayanan kesehatan tidak terhalang oleh keadaan
geografis, sosial, ekonomi, budaya, organisasi, atau hambatan bahasa.
Akses geografis dapat diukur dengan jelas transportasi, jarak, waktu
perja.lanan, dan hambatan fisik lain yang dapat menghalangi seseorang
untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Akses ekonomi berkaitan
dengan sejauh mana pelayanan diatur untuk kenyamanan pasien, jam
kerja klinik, dan waktu tunggu.
d) Efektivitas
Kualitas pelayanan kesehatan tergantung dari efektivitas yang
menyangkut norma pelayanan kesehatan dan petunjuk klinis sesuai
dengan standar yang ada.
e) Hubungan antara manusia
Hubungan antara manusia berkaitan dengan interaksi antara petugas
kesehatan dengan pasien, manajer, petugas, dan antara tim kesehatan
dengan masyarakat. Hubungan antara manusia yang baik akan
menanamkan kepercayaan dan kredibilitas dengan cara menghargai,
menjaga rahasia, menghormati, responsive, memberi perhatian.
f) Efisiensi
Pelayanan yang efisien akan memberikan perhatian yang optimal
daripada memaksimalkan pelayanan kepada pasien dan masyarakat.
Petugas akan memberikan pelayanan yang terbaik dengan yang
dimiliki.
g) Kelangsungan pelayanan
Kelangsungan pelayanan berarti klien akan menerima pelayanan yang
lengkap yang dibutuhkan (termasuk rujukan) tanpa interupsi.
h) Keamanan
i) Kenyamanan
Kenyamanan mempengaruhi kepuasan pasien dan bersedianya kembali
ke fasilitas kesehatan untuk memperoleh pelayanan berikutnya.
2) Kajian Data
Evaluasi Mutu Pelayanan Asuhan Keperawatan di Tribrata RS Bhayangkara
dengan sasaran observasi perawat (n=15)

Evaluasi Pengkajian Pretest

Tribrata
No Kriteria (n:15)

Y % T %

1. Apakah perawat selalu memperkenalkan diri? 10 66.6 5 33.3


2. Apakah perawat selalu menanyakan bagaimana 13 86.6 2 13.3
nafsu makan pasien?
3. Apakah perawat memperhatikan berapa jumlah 7 46.6 8 53.3
diet yang dimakan oleh pasien?
4. Bila pasien tidak mampu makan sendiri, apakah 9 60 6 40
perawat membantu menyuapi?
5. Pada saat pasien dipasang infus, apakah perawat 12 80 3 20
selalu memeriksa cairan atau tetesan dan area
sekitar pemasangan infuse?
6. Pada saat perawat membantu pasien BAK/BAB, 5 33.3 10 66.6
apakah perawat memasang sampiran/selimut,
menutup pintu/jendela, mempersilakan pengunjng
keluar ruangan?
7. Apakah ruangan tidur pasien selalu dijaga 15 100 0 0
kebersihannya?
8. Apakah lantai kamar mandi/WC selalu bersih, 15 100 0 0
tidak licin, tidak berbau, cukup terang?
9. Selama pasien belum mampu mandi, apakah 13 86.6 2 13.3
dimandikan oleh perawat?
10. Apakah pasien dibantu oleh perawat, bila tidak 15 100 0 0
mampu menggosok gigi, membersihkan mulut
atau mengganti pakaian atau menyisir rambut?
11. Apakah alat – alat tenun seperti selimut, sprei dll 15 100 0 0
diganti setiap kotor?
12. Pada saat pasien masuk ruangan, apakah perawat 13 86.6 2 13.3
menjelaskan tentang fasilitas yang tersedia dan
cara penggunaannya, peraturan/tata tertib yang
berlaku di RS?
13. Selama pasien dalam perawatan, apakah perawat 11 73.3 4 26.6
memanggil nama pasien dengan benar?
14. Selama pasien dalam perawatan, apakah perawat 15 100 0 0
mengawasi keadaan pasien secara teratur pada
pagi, sore maupun malam hari?
15. Selama pasien dalam perawatan, apakah perawat 13 86.2 2 13.3
segera memberi bantuan bila diperlukan?
16. Apakah perawat bersikap sopan dan ramah? 14 93.3 1 6.7
17. Apakah pasien/keluarga mengetahui perawat yang 13 86.6 2 13.3
bertanggung jawab setiap kali pergantian dinas?
18. Apakah perawat selalu memberikan penjelasan 14 93.3 1 6.7
sebelum melakukan tindakan
perawatan/pengobatan?
19. Apakah perawat selalu bersedia mendengarkan 15 100 0 0
dan memperhatikan setiap keluhan pasien?
20. Dalam hal memberikan obat, apakah perawat 15 100 0 0
membantu menyiapkan/ meminumkan obat?
21. Selama pasien dirawat, apakah diberikan 13 86.6 2 13.3
penjelasan tentang perawatan/ pengobatan/
pemeriksaan lanjutan setelah pasien diperbolehkan
pulang?

22. Apakah perawat selalu memberikan penjelasan 13 86.6 2 13.3


sebelum melakukan tindakan perawatan atau
pengobatan

23. Apakah perawat selalu bersedia mendengarkan 13 86.6 2 13.3


dan memperhatikan setiap keluhan pasien

24. Dalam hal memberikan obat apakah perawat 13 86.6 2 13.3


membantu menyiapkan/meminumkan obat ?

25. Selama pasien dirawat apakah diberikan 15 100 0 0


penjelasan tentang
perawatan/pengobatan/pemeriksaan lanjutan
setelah pasien diperbolehkan pulang
Sumber : Tribrata RS Bhayangkara

3) Analisa Data
Berdasarkan kajian data pre implementasi diatas yang dinilai dari 15
orang perawat di ruang Tribrata jawaban “Ya” dengan prosentase 85.07%
dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi keluarga pasien terhadap
mutu asuhan keperawatan di ruang Tribrata dikategorikan sangat baik.
c. Instrument C
1) Kajian Teori
Instrumen C yaitu evaluasi tentang pedoman observasi tindakan
pemberian obat. Observasi yang dilakukan selama 3 hari yaitu tanggal 25-
27 Juni 2018. Dalam melakukan tindakan keperawatan yang baik harus
sesuai dan mengacu pada protap-protap atau standar yang telah ditetapkan
dengan hasil tindakan mencapai 100%. Sebagai dasar penilaian tindakan
keperawatan yang mengacu pada instrument evaluasi penerapan standar
asuhan keperawatan di rumah sakit yang telah ditetapkan oleh Master list
Instruksi Kerja yang mengacu pada pedoman dari Departemen Kesehatan.

2) Kajian Data
Observasi dari tindakan pemberian obat yang dilakukan oleh perawat
selama 3 hari adalah sebagai berikut :
Hasil Evaluasi Identifikasi Pemberian Obat di Ruang Tribrata RS Bhayangkara Dengan
Sasaran Observasi Perawat (n:13)

Evaluasi Pengkajian

Observasi
No Kegiatan
Ya Tidak

1 Mengucap salam 13 0
2 Petugas memperkenalkan diri dan unit 10 3
3 Menjelaskan pada pasien prosedur identifikasi 10 3
pasien dengan benar sebelum melakukan prosedur
4 Memastikan identifikasi pasien dengan benar 13 0
sebelum melakukan prosedur
5 Bila memungkinkan meminta pasien untuk 10 3
menyebutkan nama tanggal lahirnya, atau
menayakan pada keluarga dan petugas yang
bertanggung jawab
6 Periksa dan bandingkan jawaban pasien dengan 13 0
data gelang identifikasi dan data RM
7 Jika data yang diperoleh cocok, lakuakn prosedur/ 13 0
berikan obat
8 Jika terdapat lebih dari 2 pasien diruangan rawat 9 4
inap dengan nama yang sama / foto yang mirip
periksa ulang identitas dengan meliat no RM dan
alamat
9 Jika data pasien tidak lengkap informasi lebilanjut 13 0
harus diperoleh sebelum pemberian obat dilakukan
10 Perhatikan waktu pemberian obat dan pemakaian 13 0
obat

Jumlah 117 13

Prosentase 89.9 % 9.9 %

pemberian obat yang dilakukan di ruang Tribrata didapatkan prosentase jawaban “Ya”
sebesar 89.9 % sehingga secara keseluruhan dalam kategori sangat baik.
3. Hasil evaluasi bimbingan PKK
Kajian Teori
Pendidikan dan praktek keperawatan profesional merupakan aspek yang tidak
dapat dipisahkan dalam mengembangkan calon perawat profesional secara
komprehensif dalam hal pengetahuan, sikap dan keterampilan. Pengetahuan yang
telah didapat dari pendidikan, baik di kelas perkuliahan maupun di laboratorium akan
digunakan pada situasi nyata dilapangan/klinik, sehingga keselarasan antara
pendidikan dan praktek klinik keperawatan (PKK) sangatlah penting.
Praktek keperawatan merupakan tindakan mandiri perawat profesional melalui
kerjasama berbentuk kolaborasi dengan pasien dan tenaga kesehatan lain dalam
memberikan asuhan keperawatan atau sesuai dengan lingkungan wewenang dan
tanggung jawabnya (Nursalam, 2002). Praktik klinik keperawatan merupakan proses
transformasi dari mahasiswa yang akan menjadi perawat professional. Pada fase ini
mahasiswa mendapat kesempatan beradaptasi pada perannya sebagai perawat
professional dalam masyarakat keperawatan dan lingkungan pelayanan atau asuhan
keperawatan.
Model bimbingan praktik adalah upaya menumbuhkan kemampuan
profesional (intelektual, teknikal, dan interpersonal) peserta didik melalui upaya
integrasi berbagai konsep, teori dan prinsip keperawatan dalam rangka memenuhi
kebutuhan dasar klien secara komprehensif. Jenis metode pengajaran klinik antara
lain eksperensial, konferensi, bedside teaching, observasi, ronde keperawatan, dan
proses insiden. Dengan metode tersebut memungkinkan identifikasi masalah,
penentuan tindakan yang akan diambil, implementasi pengetahuan ke dalam masalah
klinik, dan diskusi untuk menggali proses berfikir dalam menanggapi situasi.
Pembimbing klinik memiliki peran utama bagi pelakasanaan bimbingan di
ruangan. Tugas pembimbing praktik klinik keperawatan, yaitu:
 Mengorientasi mahasiswa di unit menyangkut karakteristik unit, klien, protap,
alat, dan lain-lain.
 Memonitor pelaksanaan dinas mahasiswa.
 Menyerahkan dan membimbing mahasiswa dalam rangka mencapai
kompetensi yang diharapkan.
 Memotivasi minat dan semangat untuk peningkatan kemampuan mahasiswa.
 Berusaha mengatasi masalah yang ditemukan dan mengadakan hubungan serta
pelaporan kepada pihak terkait.
 Mengevaluasi bimbingan praktik yang meliputi pengetahuan, sikap, dan
keterampilan.
 Menyampaikan masalah yang berhubungan dengan praktik mahasiswa dengan
kesatuan yang terkait.
 Mengikuti rapat yang diikuti satuan kerja yang terkait yang ada di rumah sakit
dan institusi pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan bimbingan
praktik.
 Memeriksa, mengoreksi, dan memberikan umpan balik asuhan keperawatan
yang telah dibuat pada evaluasi keterampilan.
 Membimbing mahasiswa dengan melaksanakan tindakan keperawatan untuk
memenuhi kebutuhan klien.
 Mengevaluasi mahasiswa terkait pencapain kompetensi saat awal dan akhir
meliputi pelaksanaan pre dan post test saat praktik klinik keperawatan di
ruangan.
Evaluasi adalah stimulasi untuk menentukan keberhasilan suatu proses
kegiatan yang dalam hal ini bimbingan PKK oleh clinical instructure (CI)
terhadap mahasiswa yang praktik. Evaluasi merupakan proses yang
berlangsung terus menerus selama kegiatan belajar mengajar. terdiri dari
evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
 Evaluasi Formatif
Evaluasi yang dilakukan sepanjang proses belajar.
 Evaluasi Sumatif
Dilakukan pada akhir unit peserta belajar atau akhir proses belajar.
Terkait dengan mutu bimbingan praktik klinik keperawatan, terdapat
empat hal utama yang dapat digunakan dalam menjamin mutu proses
bimbingan yang diharapkan dapat memberikan kepuasan bagi mahasiswa
maupun pembimbing terhadap bimbingan klinik yang diberikan di ruangan.
Empat hal tersebut meliputi:
 Dokumentasi pelaksanaan bimbingan praktik klinik yang telah dilakukan oleh
pembimbing klinik.
 Persepsi mahasiswa praktik klinik keperawatan terhadap mutu bimbingan
yang diberikan pembimbing klinik melalui angket.
 Kepatuhan pembimbing klinik terhadap prosedur pembelajaran yang diberikan
pada mahasiswa praktik klinik keperawatan yaitu bed side teaching, ronde
keperawatan, pre dan post conference.
 Pencapaian kompetensi mahasiswa praktik klinik keperawatan melalui
pengukuran pre dan post test di ruangan terkait.
RSUP Dr. Sardjito sebagai rumah sakit pendidikan yang digunakan
sebagai lahan praktik dari berbagai institusi pendidikan kesehatan, termasuk
pendidikan keperawatan, memiliki peran yang tidak sedikit terhadap kualitas
lulusan peserta didik keperawatan. Dalam usaha meningkatkan keterampilan
mahasiswa keperawatan yang melaksanakan praktik klinik, mahasiswa
mendapat bimbingan dari pembimbing klinik RS dan pembimbing klinik
akademik. Pembimbing klinik di tetapkan melalui SK pembimbing klinik yang
dikeluarkan oleh RS, yang mempunyai beberapa persyaratan yang harus
dipenuhi antara lain, persyaratan profesional, persyaratan pribadi dan
persyaratan sosial (RSUP Dr. Sardjito, 2007).
Adapun tujuan dari bimbingan klinik RSUP DR. Sardjito terbagi antara
tujuan umun dan tujuan khusus, yaitu:
 Umum
Terselenggaranya program bimbingan PKK yang bermutu tinggi bagi perawat
dan semua peserta didik keperawatan, sesuai peran dan fungsi RSUP Dr.
Sardjito sebagai rumah sakit pendidikan.
 Khusus
 Setiap pembimbing PKK dapat mengetahui dan melaksanakan
tugasnya dengan jelas dan benar sesuai dengan peran dan fungsi
sebagai pembimbing praktik klinik keperawatan.
 Setiap peserta didik dapat mengetahui dan melaksanakan tugasnya
dengan jelas dan benar sesuai dengan peran dan fungsi peserta didik.
 Terselenggaranya program bimbingan PKK yang baik sesuai dengan
kompetensi yang diharapkan.

Kajian Data
 Dokumentasi Pelaksanaan Praktik Klinik
Petunjuk Teknis Pelaksanaan Bimbingan Praktik Klinik Keperawatan RSUP
Dr. Sardjito yang disusun oleh Kelompok Kerja Keperawatan tahun 2004
menyebutkan pada poin tugas pembimbing klinik keperawatan, yaitu pembimbing
klinik memiliki wewenang untuk melaporkan hasil bimbingan ke Divisi Pendidikan
dan SDM.
Ruang Dahlia 5 digunakan sebagai tempat praktik mahasiswa keperawatan,
namun saat dilakukan observasi pada 28-29 Desember 2015 ada mahasiswa
keperawatan yang sedang praktik di ruang Dahlia5. Hasil wawancara dengan CI di
Dahlia 5 menyebutkan bahwa kegiatan bimbingan klinik tidak didokumentasikan
dalam buku khusus bimbingan yang dimiliki oleh bangsal, hanya terdapat buku
absensi dan buku pembagian jadwal dinas mahasiswa. Dokumentasi juga dilakukan
pada buku praktik yang dibawa oleh setiap praktikan.
Walaupun RSUP Dr. Sardjito adalah rumah sakit pendidikan, namun hal
tersebut bukan menjadi pengkajian utama saat akreditasi hospital teaching JCI.
Sehingga hal tersebut tidak ditekankan untuk dijalankan setelah akreditasi berakhir.
 Kepatuhan Pembimbing Klinik terhadap Prosedur Pembelajaran
Pada Petunjuk Teknis Pelaksanaan Bimbingan Praktik Klinik Keperawatan
RSUP Dr. Sardjito yang disusun oleh Kelompok Kerja Keperawatan tahun 2004
menyebutkan bahwa pre conference dan post conference dilakukan paling tidak 2 kali
seminggu. Menurut jadwal pre conference dijadwalkan pada hari Senin dan post
conference pada hari Jumat pada minggu pertama praktik. Dari hasil wawancara
dengan CI, pada 29 Desember 2015 menunjukkan metode kegiatan pembelajaran
yang telah dilakukan yaitu pre conference yang dijadwalkan dilakukan pada hari
pertama atau hari kedua minggu pertama mahasiswa praktikan masuk bangsal. Dari
hasil wawancara, didapatkan bahwa kegiatan ronde keperawatan dan bedside teaching
tidak pernah dilakukan.
 Pencapaian Mahasiswa melalui Pre dan Post Test
Pre dan post test tidak dilaksanakan di Dahlia 5. Hal ini disebabkan karena
memang tidak ada aturan atau panduan teknis yang mengatur kegiatan tersebut.

Analisis Data
Data menunjukkan bahwa berdasarkan pemenuhan komponen mutu dari pembelajaran
keperawatan klinik, pendokumentasian kegiatan bimbingan klinik terdapat pada buku oleh
pembimbing klinik sendiri. Dari hasil observasi tidak ditemukan buku dokumentasi
bimbingan PKK. Dokumentasi hanya menggunakan buku absensi praktik mahasiswa dan
pembagian jadwal dinas serta dokumentasi yang diminta oleh institusi pendidikan dari mana
mahasiswa berasal. Dengan demikian tidak ditemukan data tingkat pencapaian praktikan
yang membandingkan sebelum mahasiswa belajar di Dahlia 5 dan sesudahnya.

4. Kepuasan kerja karyawan


Kajian Teori
Menurut Robbins (2001) kepuasan kerja didefinisikan sebagai suatu sikap
umum seseorang terhadap pekerjaannya. Definisi ini mengandung pengertian yang
luas. Dengan kata lain kepuasan kerja merupakan penjumlahan yang rumit dari
sejumlah unsur pekerjaan yang terbedakan dan terpisahkan satusama lain (discrete job
elements). Jika mengacu pada George dan Jones (2002), kepuasan kerja merupakan
kumpulan feelings dan beliefs yang dimiliki orang tentang pekerjaannya.
Pengungkapan ketidakpuasan pegawai dalam 4 cara:
 Respon Voice (aktif dan konstruktif, memberikan saran)
 Respon Neglect (Pasive: tidak mau tahun / Destructive: membiarkan kondisi
memburuk)
 Respon Exit (Destructive: karyawan keluar / Active: mencari pekerjaan baru)
 Respon Loyalty (Pasive: tidak melakukan apapun / Contructive: harapan
kondisi membaik)

Kepuasan kerja (job satisfication) adalah keadaan emosional yang menyenangkan


atau tidak menyenangkan dimana para karyawan memandang pekerjaan mereka. Pon
Loyalty (Pasive : tidak melakukan apapun / Contructive : harapan kondisi membaik).
Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya dan
nampak dari sikap positif karyawan terhadap pekerjaannya serta segala sesuatu yang
dihadapi di lingkungan kerjanya (Handoko, 1993).

Peningkatan suasana kerja yang kondusif serta pembri dukungan dari perawat
yang mempunyai posisi lebih tinggi, peningkatan hubungan interpersonal dapat
meningkatkan kepuasan kerja dan meningkatkan Turn Over perawat sehingga
diperlukan rentang dukungan yang kontinyu bagi perawat sejak bekerja di unit rawat
atau tatanan pelayanan kesehatan lain.

Kepuasan atau ketidakpuasaan seseorang dengan pekerjaan merupakan keadaan


yang sifatnya subyektif yang merupakan hasil kesimpulan yang didasarkan pada suatu
perbandingan mengenai apa yang secara nyata diterima oleh pegawai dari
pekerjaannya dibandingkan dengan apa yang diharapkan, diinginkan dan
dipikirkannya sebagai hal yang pantas atau berhak baginya. Sementara setiap pegawai
secara subjektif menentukan bagaimana pekerjaan itu memuaskan (Gomes, 1995).

Menurut Deny cit Fatiah, 1995, kepuasan kerja merupakan keadaan yang bersifat
individu. Setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai
dengan situasi nilai-nilai yang berlaku pada dirinya. Semakin banyak aspek-aspek
dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu maka semakin tinggi tingkat
kepuasan yang dirasakan demikian pula sebaliknya. Kepuasan kerja dipengaruhi oleh
karakteristik lingkungan kerja, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik pekerja.
Semakin tua usia karyawan maka lebih cenderung merasa puas karena semakin tinggi
jenjang pekerjaan karyawan.

Kepuasan merupakan suatu konsep yang multifacet (banyak dimensi). Suatu


kesimpulan menyeluruh tentang kepuasan hanya akan menyembunyikan
pertimbangan subjektif dari pegawai mengenai kepuasan sehubungan dengan gaji,
keselamatan kerja, supervise, relasi-relasi antarperorangan dalam kerja,
peluangpeluang di masa yang akan datang, dan pekerjaan itu sendiri (Gomes, 1995).

Kepuasan kerja mempunyai konsekuensi langsung maupun tidak langsung


terhadap efektivitas kerja organisasi. Kepuasan kerja karyawan yang rendah menjadi
penyebab menurunnya kondisi kerja, kinerja dan kualitas produksi dalam
berorganisasi (Gomes, 1995).

Menurut Strauss dan Sayles, kepuasan kerja penting untuk aktualisasi diri.
Karyawan yang tidak memperoleh kepuasan kerja tidak akan pernah mencapai
kematangan psikologis, dan pada gilirannya akan menjadi frustasi. Karyawan
seperti ini akan sering melamun, mempunyai semangat kerja rendah, cepat lelah
dan bosan, emosinya tidak stabil, sering absent dan melakukan kesibukan yang
tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang harus dilakukan. Sedangkan
karyawan yang mempunyai kepuasan kerja biasanya mempunyai catatan
kehadiran dan perputaran yang lebih baik, kurang aktif dalam kegiatan serikat
karyawan, dan (kadang-kadang) berprestasi kerja lebih baik daripada karyawan
yang tidak memperoleh kepuasan kerja (Handoko, 2001).
Gomes (1995) menyatakan kepuasan kerja dari pegawai itu sendiri mungkin
mempengaruhi kehadirannya pada kerja, dan keinginan untuk ganti pekerjaan
juga bisa mempengaruhi kesediaan untuk bekerja. Kesediaan atau motivasi
seorang pegawai untuk bekerja biasanya ditunjukkan oleh aktivitas yang terus
menerus dan yang berorientasikan tujuan.
Faktor-faktor yang terlibat dalam kepuasan kerja adalah kemajuan,
pegakuan, tanggungjawab, perkembangan karir, dan pekerjaan itu sendiri. Hal
ini dikemukakan oleh Herzberg seperti dikutip oleh Frazer (1992). Faktor-faktor
yang disebut pemuas (Satisfier factors) tersebut jika dapat dioptimalkan akan
membantu perbaikan prestasi, menurunkan, mutasi, menunjang sikap toleran
dan kesehatan mental. Sedangkan factor lainya adalah penunjang kepuasan
(hygiene factors) antara lain kondisi kerja, upah/gaji, dan hubungan
antarpribadi. Jika factor ini tidak atau kurang memadai akan menyebabkan
ketidakpuasan diantara para karyawan. Sehingga menurut Hezberg cit Fatiah
(1967), peningkatan kualitas kerja akan memperbaiki kualitas pekerjaan.
Desain struktur dari organisasi formal, kebijakan, dan praktek-praktek sumber
daya manusia dalam organisasi, tingkatan stres di tempat kerja, kultur nasional
dan kultur internal dalam organisasi, semuanya akan berdampak pada kepuasan
kerja. (Mukhlas cit Fatiah, 2002).
Wesley dan Yulk (1997) juga mengatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja dari kondisi sebenarnya adalah :

1) Kompensasi
Sikap pekerja terhadap pembayaran yang diterimanya setelah dia
membandingkan dengan rekan lain baik didalam maupun diluar organisasi
tempat kerja.
2) Supervisi
Tanggapan bawahan terhadap perilaku atasan diwaktu memberikan
bimbingan.
3) Pekerjaan itu sendiri
Signifikasi pekerjaan, umpan balik dari pekerjaan itu sendiri (informasi
langsung dan jelas diperoleh dari pekerja atas efektifitas dan hasil
kerjanya).
4) Rekan kerja
Perilaku rekan kerja terhadap individu pekerja lain.
5) Keamanan kerja
Kepuasan pekerja dalam menduduki pekerjaanya selama kerja, termasuk
imbalan gaji, pinjaman, hari libur, fasilitas kesehatan, pensiunan dihari
depannya.
6) Kesempatan pengembangan diri
Kesempatan untuk maju atau berprestasi dalam jenjang karir.
Menurut Djojodibroto (1997) untuk memperoleh pelayanan asuhan
keperawatan yang baik diperlukan staf yang mempunyai dedikasi tinggi dan
komitmen terhadap tugas-tugas yang diberikan. Disamping komitmen yang ada
pada staf, diperlukan juga kepuasan kerja yang akan mendorong staf
melaksanakan komitmennya itu secara baik. Kepuasan kerja karyawanan dapat
mempengaruhi hasil mutu asuhan keperawatan yang diberikan.
Pekerjaan yang baik tentu harus mendapat imbalan yang baik pula. Sistem
penggajian pegawai RS haruslah :

1) Memenuhi ketentuan upah minimum


2) Sesuai dengan kemampuan anggaran RS
3) Adil, merupakan pengakuan bahwa ada hubungan antara imbalan jasa
dengan pekerjaan yang dilakukan dan juga dengan prestasi kerja untuk itu
harus ada gaji dasar.
4) Mampu mempertahankan tenaga yang baik
5) Mampu menarik tenaga yang baik dari luar
6) Sumber daya manusia/tenaga kerja adalah unsur terpenting dalam institusi
RS. Mutu pengelolaan dan pelayanan RS dapat dipastikan akan rendah
apabila mutu tenaga kerja rendah. Cara meningkatkan mutu tenaga dapat
ditempuh dengan cara :
a) Penempatan tenaga yang sesuai
b) Pemberian penghargaan yang wajar berdasarkan prestasi kerja
c) Hubungan kerja yang manusiawi
d) Adanya usaha untuk peningkatan mutu SDM
e) Kejelasan siapa atasan fungsional dan siapa atasan struktural.
Upah atau gaji yang besar tidak selalu bisa menamin kepuasan kerja
karyawan. Mc. Closey (1974), menemukan bahwa intrinsic rewards, seperti
achievement memiliki hubungan yang lebih kuat dengan kepuasan kerja
daripada factor ekstrinsik seperti gaji.
Smith, Kendall & Hullin (cit Price, 1972) dalam penelitianya tentang
kepuasan kerja menggunakan 5 dimensi kepuasan terhadap pekerjaan, yaitu dari
aspek pekerjaan itu sendiri, pengawasan, penggajian, kesempatan promosi, dan
aspek rekan kerja, sebagai faktor-faktor penentu kepuasan kerja.
b. Kajian Data
Survey mendalam dilakukan terhadap 15 orang perawat yang aktif bertugas jaga
di Ruang Tribrata :
Evaluasi Kepuasan Kinerja Karyawan di Ruang Tribrata dengan sasaran
observasi perawat (n:15)

Evaluasi Pengkajian

NO Variabel Yang Di nilai STP TP CP P SP

1. Jumlah gaji yang diterima sebanding


dengan pekerjaan yang saudara yang 0 1 2 9 3
dilakukan
2. Sistem penggajian yang dilakukan
0 4 1 9 1
institusi tempat saudara bekerja.
3. Jumlah gaji yang diterima dibandingkan
0 1 2 9 3
pendidikan saudara
4. Pemberian insentif tambahan atas suatu
0 4 5 5 1
prestasi atau kerja ekstra
5. Tersedianya peralatan dan kelengkapan
0 1 4 10 0
yang mendukung pekerjaan
6. Tersedianya fasilitas penunjang seperti
0 0 1 14 0
kamar mandi, tempat parkir, kantin.
7. Kondisi ruangan kerja terutama berkaitan
dengan ventilasi udara, kebersihan dan 0 0 1 10 4
kebisingan.
8. Adanya jaminan atas kesehatan atau 0 0 4 9 2
keselamatan kerja.
9. Perhatian institusi rumah sakit terhadap
0 1 9 11 0
saudara
10. Hubungan antar karyawan dalam
0 0 0 8 7
kelompok kerja.
11. Kemampuan dalam bekerjasama antar
0 0 0 12 3
karyawan.
12. Sikap teman-teman sekerja terhadap
0 0 0 8 7
saudara.
13 Kesesusaian antara pekerjaan dan latar
0 0 1 11 3
. belakang pendidikan saudara.
14. Kemampuan dalam menggunakan waktu
0 1 1 11 2
bekerja dan penugasan yang diberikan.
15. Kemampuan supervisi atau pengawas
0 0 5 10 0
dalam membuat keputusan.
16. Perlakuan atasan selama saya bekerja
0 0 4 9 2
disini.
17. Kebebasan melakukan suatu metode
0 0 7 8 0
sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan.
18. Kesempatan untuk meningkatkan
kemampuan kerja melalui pelatihan atau 0 1 4 10 0
pendidikan tambahan.
19. Kesempatan untuk mendapat posisi yang
0 0 5 10 0
lebih tinggi.
20. Kesempatan untuk membuat prestasi dan
0 1 2 12 0
mendapatkan kenaikan pangkat.

Score 0 10 52 195 38

prosentase 4% 21.2% 79.6% 15.5%

Sumber : Data Primer Ruang Tribrata

c. Analisa data
Berdasarkan kajian data yang didapatkan dari pembagian kuesioner pada
15 orang perawat di ruang Dahlia V didapatkan gambaran bahwa sebagian
perawat di ruang Dahlia V menyatakan tidak puas sebesar 4%, Cukup puas
sebesar 21.2%, Puas 79.6% dan sangat puas 15.5% . pada pernyataan yang tidak
puas adalah pada pemberian tambahan atas suatu prestasi atau kerja ekstra.