Anda di halaman 1dari 45

PUSPA PAMESWARI, M.

Farm, Apt
SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA
PERINTIS PADANG
 Virus berasal dari bahasa yunani “Venom” yang
berarti racun.
 Virus adalah jasad biologis bukan hewan dan
bukan tumbuhan.
 Dikarenakan Virus tdk memiliki badan golgi
maka virus memerlukan sel inang untuk
bereplikasi, sehingga virus disebut dengan
parasit intraseluler obligat
 Virus tidak memiliki struktur sel dan hanya
mengandung salah satu asam nukleat yaitu
asam deoksiribonukleat (DNA) atau asam
ribonukleat (RNA).
 Virion merupakan Satu unit lengkap
virus yang mampu menginfeksi
organisme hidup / MH.
 partikel (virion) sendiri tidak 'tumbuh'
dan tidak membelah Karena kurangnya
informasi genetik untuk sintesis protein
(ribosom).
 Virus hanya dapat bereproduksi di dalam
sel inang dengan menginvasi dan
memanfaatkan organ reproduksi sel inang
karena virus tidak memiliki organ
reproduksi sendiri.
 Virus bersifat aseluler (bukan sel dan
bukan MH)
(Dapat mengkristal, merupakan sifat
benda mati yang tidak dapat dilakukan
oleh makhluk hidup lain dan Hanya hidup
pada sel inang / parasit sejati )
 Virus tidak bernafas,
 tidak bergerak
 tidak tumbuh,
 Namun, bereproduksi, dan dapat
beradaptasi dengan sel inang.
 Virus tidak memiliki sitoplasma serta
organel sel lainnya
 Virus memiliki dua fase kehidupan
1. Adolf Mayer (1883)
 Virus pertama kali ditemukan oleh ilmuwan
Jerman, Adolf Mayer (1883) ketika sedang
meneliti penyebab penyakit mosaik pada
tanaman tembakau. Melalui pengamatan di
mikroskop, Mayer tidak dapat melihat bentuk
bakteri penyebab penyakit tersebut. Mayer
menduga bahwa penyakit tersebut disebabkan
oleh bakteri yang lebih kecil dari biasanya, yang
tidak dapat diamati dengan mikroskop biasa.
 Kesimpulan : Penyakit yang disebabkan oleh
bakteri yang sangat kecil (tidak dapat dilihat
mikroskop)
 Seorang ilmuan Rusia, Dmitri Ivanovsky
(1892) melakukan percobaan menyaring
getah tanaman tembakau berpenyakit
dengan saringan khusus untuk menyaring
bakteri. Ivanovsky berkesimpulan juga
bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh
bakteri patogenik yang sangat kecil atau
bakteri penghasil toksin yang dapat
melewati saringan.
 Kesimpulan: Iwanovsky menduga penyebab
mosaik tembakau adalah mikroorganisme
yang ukurannya lebih kecil dari bakteri
 Seorang ahli botani Belanda, Martinus
Beijerinck (1897) melakukan eksperimen yang
membuktikan bahwa agen penginfeksi yang
terdapat di dalam getah tembakau dapat
berkembang biak. Berbeda dengan bakteri, agen
penginfeksi tersebut tidak dapat
dikembangbiakkan dalam medium nutrisi di
dalam cawan petri dan tidak dapat dinonaktifkan
dengan alkohol. Beijerinck memperkirakan agen
penginfeksi tersebut jauh lebih kecil dan lebih
sederhana dari bakteri. Ia menyebutnya virus
lolos saring (filterable virus).
 Seorang ilmuwan Amerika, Wendell Stanley
(1935) berhasil mengkristalkan partikel
penginfeksi tanaman tembakau tersebut, yang
kemudian dikenal dengan nama tobacco mosaic
virus (TMV)
 Ukuran
 Bentuk
 Struktur dan Fungsi
 20 – 300 nm
 Virus paling kecil :
Polivirus ( 25 nm)
 Virus paling besar :
TMV (Tobacco Mosaic
Virus) 300 nm
 Dilihat dengan
mikroskop elektron
BENTUK VIRUS

BULAT
PELURU BATANG (HIV dan
(RHABDOVIRUS) (TMV) INFLUENZA)
BENTUK VIRUS

FILAMEN
(EBOLA)

BERBENTUK POLIHEDRAL
HURUF T (ADENOVIRUS
(BAKTERIOFAG)  DEMAM
 Karenatubuh yang sangat kecil, maka struktur
tubuh virus sangatlah sederhana.
1. Kapsid
Kapsid adalah lapisan pembungkus tubuh virus
yang tersusun atas protein. Kapsid terdiri dari
sejumlah kapsomer yang terikat satu sama lain.
 Fungsi :
a. Memberi bentuk virus
b. Pelindung dari kondisi lingkungan yang
merugikan
c. Mempermudah penempelan pada proses
penetrasi ke dalam sel inang.
2. Sampul
Pada beberapa jenis virus (berbentuk bola), virus
mempunyai selubung luar dari lipid dan
karbohidrat yang disebut dengan sampul.
Karbohidrat Virus dalam glikoprotein.
Lipid Virus terdapat pd envelop.

3. Protein
Fungsi : - Melindungi genom virus thd daya kerja
nukleus
- Berperan thd perlekatan virus pd sel inang
- Menentukan simetri struktur virus
- Menentukan sifat antigenik virus
4. DNA / RNA
 Virus hanya memiliki satu asam nukleat saja
yaitu DNA / RNA saja, tidak kedua-duanya.
 Asam nukleat sering bergabung dengan protein
disebut nukleoprotein.
 Asam Nukleat berfungsi mengatur informasi
genetik yang diperlukan untuk replikasi virus
 Virus tanaman/ hewan berisi RNA/ DNA,virus
phage berisi DNA.
Genom RNA atau DNA dapat beruntai tunggal (single stranded)
maupun beruntai ganda (double stranded).

Unit dasar berupa nukleotida terdiri dari:


1. Basa nitrogen;
Nukleotida RNA : 4 macam N basa
Inti purin → adenin (A)
→ guanin (G)
Inti pirimidin → Urasil (U)
→ cytosin (C)
Nukleotida DNA : 4 macam N basa
Inti purin → adenin (A)
→ guanin (G)
Inti pirimidin → timin (T)
→ cytosin (C)
2. dua gula dari 5 atom karbon (deoksiribose / ribose)
Pentosa pada DNA : deoksiribosa
RNA : ribosa
(3) molekul asam phosphat yang menghubungkan basa dan
gula
 Dapat dibedakan berdasarkan bentuk nya :
1. Virus Selubung 2. Virus Kompleks
 Diatur oleh ICTV (International Committee
on The Taxonomy of Viruses).
 Penamaan dikelompokkan berdasarkan :
 Ordo : Virales
 Famili : Viridae
 Genus : Virus
 Species : Virus
Contoh :
 Ordo : Mononegavirales
 Famili : Filoviridae
 Genus : Filovirus
 Species : Ebola virus zaire
CAPSID
1. Virus Manusia : ex  HIV
2. Virus Hewan : ex :  Rabies
3. Virus Tumbuhan : ex  TMV
4. Virus Bakteri : ex  Virus T / Bakteriophage
1.Virus heliks / Batang
Menyerupai bentuk batang yang panjang, dapat
bersifat kaku ataupun fleksibel
Asam nukleat virus ditemukan didalam lekuk kapsid
silindris.
Ex : virus rabies dan virus ebola hemorrhagic fever
2. Virus polihedral
• Terdiri dari banyak sisi
• Kapsid berbentuk ikosahedron, polihedron
regular dengan 20 permukaan triangular dan 20
sudut
• Kapsomer disetiap permukaan berbentuk
segitiga sama sisi
• Ex : adenovirus, poliovirus
3.Virus bersampul (enveloped)
Berbentuk bulat
Bila virus heliks dan polihedral ditutupi oleh
envelope, maka virus tsb disebut virus heliks
bersampul (enveloped helical virus) atau virus
polihedral bersampul (enveloped polyhedral
virus)
Ex : virus influenza (heliks bersampul), virus
herpes simplek (polihedral bersampul)
4.Virus kompleks (complex virus)
Memiliki struktur yang kompleks (complicated)
Ex : bakteriophage, kapsid berbentuk polihedral
dengan tail sheath berbentuk heliks
Ex : poxvirus, kapsid berbentuk tidak jelas (tidak
jelas terlihat) dengan protein selubung
disekeliling asam nukleat
HELIKS /
BATANG

POLIHEDRAL
 Penelitian awal virus dilakukan pada
bakteriophage
 Bacteriophage digunakan untuk mempelajari
virus, karena lebih sederhana dan mudah
dimengerti.
 Bacteriophage ditemukan oleh Twort (1915)
dari Inggris dan D’Herelle (1917), dari
Perancis.
 Bacteriophage hanya mengandung DNA.
 Bakteriophage yang merupakan virus penginfeksi bakteri
dapat ditumbuhkan pada suspensi bakteri berupa media
cair ataupun media padat.
 Penggunaan media padat memungkinkan deteksi dan
penghitungan virus dengan metode plak (plaque method)
 Bakteriofag dicampurkan pada media padat yang
telah dicairkan dan telah diberi suspensi bakteri.
 Media tersebut kemudian dituang kedalam cawan
petri dan diinkubasi.
 Bakteriofag bermultiplikasi (memperbanyak diri) dan
memusnahkan bakteri sehingga menyebabkan
terbentuknya plak yang dapat dilihat.
 Setiap plak dianggap sebagai satu virus sehingga
konsentrasi suspensi virus yang dihitung dari jumlah
plak yang dihitung (Plaque Forming Unit / PFU)
3 metode untuk menumbuhkan virus :
1. In vivo  metode inokulasi virus pada
hewan hidup (mencit, tikus, kelinci)
2. In ovo  inokulasi virus pada telur
berembrio
3. In vitro  inokulasi virus pada kultur sel
(cell culture) atau kultur jaringan (tissue
culture)
Identifikasi virus dapat dilakukan dengan
menggunakan :
1. Mikroskop elektron
2. Metode analisis Western Blot yang
mereaksikan virus dengan antibodi
3. Polymerase chain reaction (PCR)
4. Restriction fragment length polymorphism
(RFLP)
 Bacteriophages
ditumbuhkan pada lawn
(indikator) sel bakteri.
Noda atau plag (plaques)
jernih menunjukkan
adanya bakteriofag
 Virus hewan dapat
ditumbuhkan pada
hewan hidup atau telur
ayam yang sudah
dibuahi.
 Virus hewan dan
tumbuhan dapat
ditumbuhkan dalam
kultur sel
1. ADSORPSI 2. PENETRASI 3. SINTESIS

4. PERAKITAN 5. LISIS
5. SINTESIS
1. ADSORPSI 2. PENETRASI

6. PERAKITAN
3. PENGGABUNGAN

4. PEMBELAHAN
7. LISIS
• Interaksi spesifik virus dan inang.
• Terdapat reseptor khusus yang
memperantai pengenalan virus oleh sel
inang.
• Ligan pada virus yang akan dikenali oleh
reseptor pada sel inang dan menempel
pada reseptor sel inang dapat berupa pili,
flagela, komponen membran, ataupun
protein pengikat pada bakteriophage.
• Ex : virus influenza, ligan dapat berupa
glikoprotein pada eritrosit
• Tahap lanjutan setelah virus menempel
pada permukaan sel inang.
• Tahap ini berlangsung melalui serabut ekor
phage yang berkontraksi sehingga terjadi
cengkeraman pada bagian paku ekor pada
membran sel bakteri
• Selaput ekor berkontraksi dan DNA virus
masuk melalui pori-pori pada ujung ekor.
sintesis
Bagi virus DNA didahului dengan replikasi
DNA, sedangkan bagi virus RNA didahului
dengan pembentukan complementary DNA
(cDNA).
Perakitan
Pada virus DNA berlangsung di dlm
nukleus, virus RNA di dlm sitoplasma sel
inang.
Lisis
Melalui proses lisis (pecahnya sel) atau
fagositosis dengan mekanisme yang
berlawanan
Fase Replikasi Bakteriophage Virus manusia
Penempelan Serabut ekor Virus menempel pada
menempel pada protein dan glikoprotein yg
dinding sel bakteri terdapat pada membran sel
hospes
Penetrasi DNA virus Kapsid virus masuk melalui
diinjeksikan ke proses endositosis atau fusi
dalam sel hospes sel
Pelepasan selubung Tidak diperlukan Pelepasan kapsid dilakukan
dengan bantuan enzim
Biosintesis Terjadi pada Terjadi pd inti sel (virus DNA)
sitoplasma dan pd sitoplasma (virus
RNA)
Infeksi Lisogeni Infeksi laten, infeksi berjalan
lambat, menyebabkan
kanker
Pembebasan sel virus Melisiskan dinding Pembentukan sel budding
sel hospes dan perusakan plasma sel