Anda di halaman 1dari 5

ARTIKEL ASPERGILUS DAN PENISILIUM

OLEH :

DHANI ACHMAD OKTOVIANTO

P07134018095

4 / 2B

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
2020
ASPERGILUS

1. habitat
- Hidupm sebagai saprolia pada bermacam-macam bahan organik seperti pada roti yg
sudah di olah.

2. Ciri-ciri
- Koloninya berwarna kuning, abu-abu atau coklat.
- berbentuk rantai seperti kuas/bergerombol bulat.
- Organisme multiseluler.
- membentuk konidia.

3. Morfologi
- memiliki konidia sebagai alat perkembang biakan
- Memiliki konidiofor yaitu hifa yang tumbuh tegak pada permukaan substrat.
- Stolon adalah hifa yang membentuk jaringan pada permukaan substrat.

4. Anatomi
- Memiliki dinding sel yang kemudian akan membentuk askus spora.
- memiliki sekat di dalam setiap hifa yang berfungsi untuk menghubungkan hifa yang
satu dengan yang lain.

5. Reproduksi
- Vegetatif dengan cara konidia (spora besar) yang membesar dan membentuk miselia
haploid baru.
- Generatif pada miselia

6. Peranan
- Digunakan dalm pembuatan kecap dan tauco.
- digunakan dalm pembuatan minuman beralkohol.

7. Klsifikasi
Kerajaan:Fungi

Filum :Ascomycota

Kelas :Eurotiomycetes

Ordo :Eurotiales

Famili :Trichocomaceae

Genus :Aspergillus
Spesies :Aspergillus sp (FadliEdward,2011)
Aspergillus sp., yang termasuk kelompok fungus kapang, merupakan parasit yang dapat
menyebabkan penyakit aspergillosis. Spesies yang paling banyak menyebabkan penyakit dan
paling berbahaya adalah Aspergillus fumigatus. Akan tetapi, sebagai pada aspergillosis
kutaneus, Aspergillus flavus merupakan spesies yang terbanyak menyebabkan penyakit tersebut.
Diagnosis aspergillosis dapat juga ditegakkan melalui pemeriksaan molekuler seperti serologi,
antibodia atau antigen, tetapi diagnosis yang hampir pasti dan sangat penting untuk dilakukan
adalah diagnosis mikroskopis melalui sediaan langsung atau kultur. Aspergillus merupakan
kapang saprofit yang sering dijumpai di tanah, air, dan tumbuhan yang membusuk. Lebih dari
200 spesies Aspergillus telah diidentifikasi, dan Aspergillus fumigatus merupakan penyebab
infeksi pada manusia yang terbanyak dimana lebih dari 90% menyebabkan invasive dan non-
invasif aspergillosis. Aspergillus flavus menyebabkan invasive aspergillosis sebanyak 10%
sedangkan Aspergillus niger dan Aspergillus terreus sebanyak 2%. dari hasil pemeriksaan kultur
dilaporkan bahwa Aspergillus flavus dapat menjadi penyebab aspergillosis kutaneus primer
(McClenny, N. 2005).
Aspergillus Flavus dan Aspergillus niger dapat mencapai 100% pada beberapa sampel.
Populasi jamur pada produk kakao segar asal Indonesia berkisar 2,3 x 104 – 7,2 x 106 CFU.g-1.
Perlakuan klorin mempengaruhi diversitas jamur yang diisolasi, juga frekuensi isolasinya pada
produk kakao. Kemunculan spesies Aspergillus dan Penicillium dari jamur pada biji cokelat
dengan disinfeksi permukaan adalah 65,6% dan 36,4% lebih sedikit dibandingkan pada produk
kakao tanpa disinfeksi. Penelitian ini mendemonstrasikan adanya jamur potensial penghasil
mikotoksin pada produk biji cokelat kering asal Indonesia yang berkorelasi terhadap
ditemukannya mikotoksin pada produk kakao, terutama Ochratoxin A. Riset lebih lanjut
dibutuhkan untuk mempelajari pertumbuhan spesies-spesies jamur ini pada biji cokelat, dan
kondisikondisi yang menunjang produksi mikotoksin oleh kapang-kapang tersebut (Annaissie
et.al, 2009).
pada bahan pakan dapat dikurangi dengan melakukan penyortiran antara biji jagung yang
terkontaminasi dengan biji yang sehat. Jagung yang ditumbuhi jamur berwarna hijau
kekuninganmempunyai kadar aflatoksin yang tinggi dibanding biji yang tidak terkontaminasi A.
flavus. Penjemuran biji jagung pada kadar air 13% dan penyim panan pada suhu 15oC dan
kelembaban 61,5% merupakan kondisi ideal untuk menekan cemaran mikotoksin. Hal lain yang
dapat dilakukan adalah mengurangi kerusakan secara fisik pada saat prosesing dan menekan
infestasi serangga, terutama dalam penyimpanan, karena serangga berperanan penting dalam
penyebaran mikotoksin. Sanitasi dengan asam propianik secara reguler pada fasilitas tempat
penyimpanan dengan tujuan membersihkan sisa-sisa cendawan sebagai sumber infeksi awal
dapat menghindari terinfeksinya biji sehat. (Siregar, R.S. 2004).
Ragi Issue Date: 2006 Publisher: IPB (Bogor Agricultural Institute)
Abstract: Kontaminasi aflatoksin di Indonesia tergolong cukup tinggi dan sulit dihindari
mengingat iklim tropis di Indonesia dengan tingkat kelembaban, curah hujan dan suhu yang
tinggi sangat menunjang pertumbuhan kapang penghasil aflatoksin. Berbagai teknik
pengendalian aflatoksin telah banyak dilakukan meliputi pengendalian secara fisik, kimiawi dan
biologis, namun pengendalian secara fisik dan kimiawi dikhawatirkan akan berpengaruh
terhadap komposisi zat gizi bahan pangan dan akan meninggalkan residu yang mungkin
berbahaya bagi kesehatan. Oleh sebab itu, diupayakan teknik pengendalian secara biologis
dengan menggunakan mikroorganisme untuk mengendalikan pertumbuhan Aspergillus
parasiticus dan mencegah biosintesis aflatoksin. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendapatkan
isolat kapang dan khamir dari ragi tape yang berpotensi untuk mereduksi aflatoksin dan (2)
Mengevaluasi kemampuan isolat kapang dan khamir dalam menghambat pertumbuhan A.
parasiticus, menghambat biosintesis aflatoksin dan mendegradasi aflatoksin. Metode penelitian
dibagi menjadi dua tahap yaitu penelitian pendahuluan yang meliputi isolasi dan identifikasi
kapang dan khamir serta uji kemampuan isolat kapang/khamir dalam mereduksi kandungan
aflatoksin. Selanjutnya dipilih satu isolat kapang/khamir yang berpotensi tinggi dalam mereduksi
aflatoksin tertinggi untuk digunaka n dalam penelitian utama yang meliputi uji kemampuan isolat
kapang/khamir terpilih dalam menghambat pertumbuhan A. parasiticus, biosintesis aflatoksin
dan mendegradasi aflatoksin. (Diba et.al, 2007).

PENUTUP
            Berdasarkan pembahasan diatas diketahui bahwa Aspergillus Parasiticus
merupakan bakteri yang dapat mengkontaminasi dalam bahan bahan makanan seperti bumbu
dapur, beras, jagung, kacang kacangan akibat penyimpanan dengan kelembaban dan suhu yang
mendukung ( umumnya pada temperatur diatas 20 derajat celcius dan pada kelembaban udara 90
% ) , diperlukan kehati hatian pemilihan bahan makanan yang tidak berjamur.
            Agar suatu bahan makanan tidak ditumbuhi jamur , saat menyimpan harus
dikeringkan dulu karena kelembabannya harus dibawah 8 %. Biji padi padian selalu membawa
spora jamur yang akan berkembang dengan cepat apabila kondisinya memungkinkan, kacang
tanah saat dipanen kelembabannya 30 % merupakan kondisi yang baik sekali untuk tumbuhnya
jamur , karena itu sangat penting kegiatan pengeringan sebelum penyimpanannya

DAFTAR PUSTAKA

FADLI EDWARD D'SILVA QNOZE EN SABTU, 22 OKTOBER 2011


McClenny, N. 2005. Laboratory detection and identification of Aspergillus species by
microscopic observation and culture: the traditional approach dalam Medical Mycology
Supplement 1 2005, 43, S125_/S128
Diba, K. Kordbacheh P. Mirhendi SH. Rezaie, S. Mahmoudi, M. 2007. Identification of
Aspergillus Species Using Morphological Characteristics dalam Pak J Med Sci 2007 Vol. 23 No.

Annaissie, E.J. McGinnis, M.R. Pfaller, M.A. 2009. Clinical Mycology Second Edition.
Churchill Livingstone Elsevier.
Siregar, R.S. 2004. Penyakit Jamur Kulit Edisi 2. Jakarta: EGC.