Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN TEORITIS TENTANG METODE ILHAQ

A. Pengertian Ilhaq

Pengertian ilhaq secara bahasa menyamakan, menyerupakan, analogi.

ُ َ‫اِحْل‬
‫اق الْ َم َسائِ ِل بِنَظَا ئِِر َها‬

Menurut istilah, Ilhaq adalah menyamakan hukum suatu kasus/masalah

yang belum dijawab oleh kitab dengan kasus/masalah serupa yang telah dijawab

oleh kitab (menyamakan dengan pendapat yang sudah “jadi”). (Sahal Mahfudz,

1994: 470)

Ilhaq adalah menyamakan hukum suatu kasus/masalah yang belum dijawab

oleh kitab (belum ada ketetapan hukumnya) dengan kasus/masalah serupa yang

telah dijawab oleh kitab (telah ada ketetapan hukumnya), atau menyamakan

dengan pendapat yang sudah jadi. (Ahmad Zahro, 2004: 121)

ilhaq al-masa’il binadhairiha, yaitu mempersamakan hukum suatu

kasus/masalah yang dijawab oleh ulama (dalam kitab-kitab standar) terhadap

masalah atau kasus serupa yang telah dijawab oleh ulama. Dengan kata lain,

pendapat ulama yang sudah jadi menjadi pokok dan kasus atau masalah yang

belum ada rukunnya disebut cabang. (M. Imdadun Rahmat, 2002: 31)

Menurut hemat penulis, arti ilhaq menurut beberapa pendapat tersebut

memang mempunyai perbedaan dari redaksinya. Namun, definisi-defini tersebut

mempunyai makna yang sama.


Metode ilhaq dalam prakteknya menggunakan prosedur dan persyaratan

mirip qiyas, karenanya dapat juga dinamakan metode qiyasiy nersi NU. Ada

perbedaan antara qiyas dengan ilhaq, yaitu kalau qiyas adalah menyamakan

hukum sesuatu yang belum ada ketetapannya dengan sesuatu yang sudah ada

kepastian hukumnya berdasarkan nas al-Quran dan/atau as-Sunnah, sedangkan

ilhaq adalah menyamakan hukum sesuatu yang belum ada ketetapannya dengan

sesuatu yang sudah ada kepastian hukumnya berdasarkan teks suatu kitab

(mu’tabarah). (Ahmad Zharo, 2004: 122)

B. Syarat-Syarat Ilhaq

Syarat-syarat ilhaq sebagai berikut:

1. Mulhaq Bih

Mulhaq bih adalah sesuatu yang belum ada ketetapan hukumnya.

2. Mulhaq ‘Alaih

Mulhaq ‘alaih adalah sesuatu yang sudah ada kepastian hukumnya.

3. Wajh al-Ilhaq

Wajh al-ilhaq adalah faktor keserupaan antara mulhaq bih dengan mulhaq

‘alaih. (Ahmad Zahro, 2004: 121)

C. Rukun Ilhaq

Rukun-rukun ilhaq sebagai berikut:

1. Ashal (pokok), yaitu suatu peristiwa yang sudah ada hukumnya

dari sumber hukum (al-kutubul mutabaroh).


2. Far'u (cabang), yaitu sesuatu yang tidak ada sumber hukum

yang tegas dalam menentukan hukumnya, dan peristiwa itulah yang

dikehendaki untuk disamakan hukumnya dengan ashalnya.

3. Hukum Ashal, yaitu hukum syara' yang sudah ditetapkan oleh

sumber hukum yang akan diberlakukan kepada far'u.

4. 'Illat (sebab), yaitu suatu alasan hukum yang menjadi motif

dalam menentukan atau menyebabkan hukum.

D. Posisi Ilhaq dalam Sumber Hukum Islam

Para ulama bersepakat bahwa sumber-sumber hukum syara’ (al-Adilatul al-

Ahkam al-Islam) adalah al-Quran, Hadits, Ijma’, dan Qiyas, maka apabila ada

kejadian yang memerlukan penyeleseian hukum, pertama kali harus dicari dalam

al-Quran, apabila di dalam al-Quran tidak ada maka di dalam hadits, apabila

dalam Hadits tidak ditemukan maka harus melihat Ijma’ para ulama. Apabila

mereka telah berijma’ mengenai suatu hukum pada masanya dan dalam Ijma’ itu

ditemukan hukumnya maka harus dilaksanakan. Namun apabila tidak ditemukan

dalam Ijma', maka harus berijtihad untuk mencari hukumnya (Abdul Wahab

Khalaf, 1984: 18).

Dalam kaitannya dengan pengertian dalil, bahwa al-Qur’an dan al-Sunnah

juga disebut sebagai dalil hukum. Artinya, ayat-ayat al-Qur’an dan Hadist Nabi

SAW, di samping sebagai sumber hukum Islam sekaligus sebagai dalil (alasan

dalam penetapan hukum Islam). Namun, dalil lain, seperti ijma’, qiyas, istihsan,

maslahah al-mursalah, dan sebagainya, tidak dapat dikatakan sebagai sumber


hukum Islam karena dalil-dalil tersebut hanya bersifat al-kasyf wa al-izhar li al-

hukm (menyingkap dan memunculkan hukum) yang ada dalam al-Qur’an dan al-

Sunnah. Suatu dalil yang membutuhkan dalil lain untuk dijadikan hujjah tidaklah

dapat dikatakan sumber karena yang dinamakan sumber bersifat berdiri sendiri. Di

samping itu, keberadaan suatu dalil, seperti ijma’, qiyas, istihsan, maslahah al-

mursalah, dan sebagainya tidak boleh bertentangan dengan ketentuan-ketentuan

yang ada dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Oleh sebab itu, para ulama ushul fiqh

juga sering menyebut adillah al-ahkam, seperti ijma’, qiyas, istihsan, maslahah

al-mursalah, dan sebagainya sebagai turuq istinbath al-Ahkam (metode dalam

menetapkan hukum). (Chaerul Uman, dkk. 2000: 31-32)

Syari’at Islam yang datang kepada kita dasarnya ialah al-Qur’an. Kemudian

al-Qur’an itu dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW. baik dengan kata-kata

maupun perbuatannya. Kata-kata dan perbuatan inilah yang disebut as-Sunnah.

Selain itu dalam Islam juga dikenal Ijma’ dan Qiyas yang merupakan hasil ijtihad

para pemikir Islam yang memuat peraturan-peraturan yang bersumber dari al-

Qur’an dan as-Sunnah. (A. Hanafi, 1989: 9).

Pada perinsipnya dalil-dalil syara yang sudah disepakti adalah: Al-Qur’an,

Sunnah, Ijma, dan Qiyas. (Mukhtar Yahya & Fatchurraman, 1986: 28). Hal ini

sesuai dengan firman Allah SWT. Dalam surat An-Nissa ayat 59:

‫لى اْأل َْم ِر ِم ْن ُك ْم فَ ِإ ْن‬


ِ ‫ول َوأ ُْو‬ ِ ‫َطيع وا اهلل وأ‬
َ ‫َط ْيعُ وا اْ َّلر ُس‬ ََ
ِ ِ
ُ ْ ‫يَأ ََّي َها اْلَ ذيْ َن أ ََمنُ وا أ‬
ِ
ِ ‫اهلل وال َّْر ُس‬ َّ ِ‫َتَن َز ْعتُ ْم فى‬
...‫ول‬ َ َ‫ش ٍئ َف ُردُّوهُ إِلى‬
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulnya dan

Ulul Amri diantra kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu

maka kemblikanlah pada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunahnya)”… (Soenarjo,

dkk, 1971: 128).

Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan pada Nabi Muhammad

SAW. Dalam bahasa arab dengan perantaraan malaikat Jibril AS. Sebagai hujah

baginya dalam mendakwahkan kerasulannya dan pedoman hidup bagi manusia

yang dapat dipergunakan untuk mencari kebahagian hidup di dunia dan di akhirat

serta mendia untuk bertaqarub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan

membacanya. (Syarmin Syukur, 1993: 28).

Al-Qur’an adalah hujah bagi manusia dan hukum-hukum yang ada di

dalamnya merupakan undang-undang yang wajib ditaati karena Al-Qur’an

diturunkan dari Allah dengan jalan qath’i (pasti).

Sumber hukum kedua dari Al-Qur’an adalah As-Sunah atau Hadist. Hadist

ini berarti sesuatu yang baru atau juga disebut khabar (warta), sebagaimana

firman Allah dalam surat At-Thuur ayat 34:

‫واص ِدقِ ْي َن‬ ِِ ِ ٍ ِ


َ ُ‫َفلْيَأْتُوا بِ َحديْث م ْشله إِن َكن‬

“Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Qur’an

itu jika mereka orang-orang yang benar”. (Soenarjo, dkk, 1971: 868).

Sedankan menurut istilah yang mutawatir (ahli hadist), adalah: segala

ucapan, segala perbuatan, dan segala keadaan. (Abuy Sodikin & Badruzaman,

2004: 68).
Sunah ataupun hadist merupakan dalil kedua yang dipakai acuan

beristinbath sesudah Al-Qur’an. Karena seluruh kaum muslimin telah bulat

pendapatnya bahwa hadist merupakan undang-undang yang harus ditaati dan

diikuti. Adapun dalil yang menetapakan bahwa sunah menjadi hujah bagi kaum

muslimin diantaranya surat An-Nisa ayat 80:

ُ ‫َم ْن يُ ِط ِع ال َّْر ُس‬


َ َ‫ول َف َق ْد أَط‬
...ُ‫اع اهلل‬

“Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati

Allah. (Soenarjo, dkk, 1971: 132).

Istinbath yang ketiga adalah Ijma. Menurut istilah ijma adalah, kesepakatan

para mujtahid kaum muslimin dalam suatu masa sepeniggal Rasulullah terhadap

suatu hukum syar’i mengenai suatu peristiwa.

Sedankan putusan ijma merupakan dalil syar’i terhadap masalah-masalah

yang terjadi sesudah wafatnya rasulullah. (Mukhtar Yahya & Fatchurrahman,

1997: 58).

Sebagai bukti bahwa ijma itu menjadi hujah bagi kaum muslimin adalah,

Allah SWT. Memerintahkan untuk taat kepada Allah dan Rasulnya juga untuk

mentaati pemimpin mereka yang berkuasa. Oleh sebab itu jika para pemimpin

tersebut sudah sepakat dalam menetapkan hukum suatau peristiwa, maka wajib

ditaati dan diikuti sebagaimana mentaati nash-nash Al-Qur’an, itulah sebabnya

Allah SWT. Berfirman dalam surat An-Nisa ayat 83:


ِ ِ ِ
ُ‫ين يَ ْس َت ْنبِطُونَه‬ ِ
َ ‫ولَ ْو َردُّوهُ إِلَى ال َّْر ُس ول َوإِلَى أُولى اْأل َْم ِر م ْن ُه ْم لَ َعل َم هُ الَ ِّذ‬...
َ
...‫ِم ْن ُه ْم‬
“…Dan mereka kalau menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri

diantara mereka, tentutulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya

(akan dapat) mengetahui dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)…” (Soenarjo, dkk,

1971: 133).

Istinbath yang keempat adalah Qiyas. Yang dinamakan dengan qiyas

adalah, mempersamakan hukum suatu peristiwa yang tidak ada nashnya dengan

hukum suatu peristiwa yang ada nashnya lantaran adanya persamaan ilat dari

kedua peristiwa itu. (Syarmin Syukur, 1993: 131).

Dalam hal ini ada sebuah contoh qiyas, seperti peristiwa seorang ahli waris

membunuh seseorang yang akan mewariskan harta peninggalannya. Peristiwa ini

sudah tetap hukumnya dalam nash. Hukum itu ialah terlarangnya sipembunuh

menerima warisan dari harta pusaka yang dubunuhnya. Nash yang menetapkan

hukum tersebut adalah sabda Nabi Muhammad SAW:

ِ ُ‫لَيس لِْل َقاتِ ِل ِمن الْم ْقت‬


)‫ (رواه النساء‬.ٌ‫ول َش ْيء‬ َ َ ْ َ

“Bagi orang yang membunuh tidak ada hak mempusakai harta

peninggalan orang yang dibunuh sedikitpun” (Mukhtar Yahya & Fatchurrman,

1997: 66).

Dari nash ini muncul peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seorang

yang menerima wasiat terhadap orang yang memberikan wasiat. Dalam hal ini
tidak ada nash yang menetapkan hukumnya. Namun peristiwa itu mempunyai ilat

hukum yang sama dengan ilat hukum pada peristiwa pembunuhan yang dilakukan

oleh seorang ahli waris.

Qiyas dijadikan hujah syari’ah (sumber hukum sayri’at) bagi perbuatan

manusia dan berada pada tingkatan keempat dari dalil-dalil syari’at. Dalil Al-

Qur’an yang dijadikan untuk menetapkan qiyas adalah firman Allah dalam surat

An-Nisa ayat 59:

‫لى اْأل َْم ِر ِم ْن ُك ْم فَ ِإ ْن‬


ِ ‫ول َوأ ُْو‬ ِ ‫َطيع وا اهلل وأ‬
َ ‫َط ْيعُ وا اْ َّلر ُس‬ ََ
ِ ِ
ُ ْ ‫يَأ ََّي َها اْلَ ذيْ َن أ ََمنُ وا أ‬
ِ ‫ااهلل والْي‬
ِ ِ ِ
‫وم‬ َ َ ِ‫ول إِ ْن ُك ْنتُ ْم ُت ْؤمنُ و َن ب‬
ِ ‫اهلل وال َّْر ُس‬
َ َ‫فى َّش ٍئ َف ُردُّوهُ إِلى‬
ِ ‫َتَن َز ْعتُ ْم‬

ً‫س ُن تَأ ِويْال‬ َ ِ‫اْالَ ِح ِر َذل‬


َ ‫ك َخ ْي ٌر َواَ ْح‬
Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan rasulnya dan ulul amri
(orang yang mememegang kekuasaan) diantara kamu. Kemudian jika kamu
berlainan pendapat kembalikanlah pada Allah (Al-Qur’an) dan Rasulnya (As-
Sunah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian yang
demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya. (Soenarjo, dkk, 1971:128).

Menurut Ali Hasaballah, dalil-dalil syara’ itu ada dua macam, yakni: Naqli

(Al-Qur’an dan Al-Hadist) dan Aqli, yakni semua dalil yang berdasarkan ijtihad.

Baik ijtihad jama’i ataupun ijtihad fardi, dengan demikian dalil Ijma, Qiyas,

Mashalihul Mursalah, Istihsan, dan Istishhab adalah mashadirul ahkamil

ijtihadiyah. (Ali Hasaballah, 1971:13).

Ijtihad sebagai dinamisator hukum Islam yang memberikan peluang pada

kreativitas individu yang mempunyai syarat untuk memberikan interpretasi

terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah serta membuktikan Islam adalah adil. Hal ini
memerlukan metode agar bisa meraih kebenaran yang lebih tinggi. Metode

tersebut adalah ilmu Ushul Fiqh.

Ushul Fiqh sebagai metodologi untuk aktualisasi hukum Islam dari al-

Qur’an dan as-Sunnah, adalah sangat penting dalam mengembangkan hukum

Islam sebagai ilmu dan sebagai penuntun berprilaku.

Berkembangnya berbagai aliran madzhab dalam fiqh, adalah karena

perbedaan dalam Ushul Fiqhnya, setidaknya berbeda dalam penekanan

penggunaan salah satu metodenya.

Dalam menghadapi perkembangan kehidupan dan tantangan zaman serta

untuk lebih banyak meraih nilai-nilai syari’at, maka disadari perlunya pendekatan

yang lebih komprehensip antara kadiah-kaidah kebahasaan (al-Qawa’id al-

Lyghawiyah) dan kaidah-kaidah hukum (al-Qawa’id at-Tasyri’iyyah), serta nilai-

nilai universal ajaran Islam. (A. Djazuli dan Nurol Aen, 2000 : 426)

Secara umum, kalangan NU tergolong penganut paham subyektifisme

teistik, layaknya al-Ghazali dan al-Syatibi. Artinya, posisi manusia masih tetap

dipandangan sebagai subyek dari teks hukum, yang karenanya harus taat

kepadanya. Di sinilah, teks al-Qur’an dan al-Sunnah tetap menjadi medium di

mana hukum itu ditetapkan untuk manusia. Hanya saja karena keterbatasan teks,

maka hukum diklasifikasikan manjadi tiga, yaitu hukum nash, hukum qiyas, dan

hukum maslahah.

Hukum nash adalah hukum yang langsung ditetapkan berdasarkan nash

individual tertentu. Sedangkan qiyas adalah hukum hasil perluasan terhadap nash,

dengan cara mamasukan kasus yang tidak ada nash individualnya. Alasan
pembenaran dari perluasan dan pemasukan kasus tanpa nash ke dalam kasus nash

itu adalah kerena adanya kesamaan antara keduanya yang tercermin dalam illat.

Jadi hukum qiyas dasar sesungguhnya adalah nash individu juga.

Lain halnya dengan hukum maslahah. Meskipun ia merupakan perluasan

lebih jauh dari nash, tapi esensinya bukanlah nash individual. Hukum maslahah

merupakan hukum kolektif, berupa kumpulan sejumlah nash yang daripadanya

disimpulkan prinsip-prinsip umum syari’ah. Prinsip umum (al-ashl al-kulli) itulah

yang menjadi dasar hukum maslahah. Legitimasinya sebagai hukum syar’i disini

adalah unsure mu’amalah (munasabah), sesuai dengan dan termasuknya ke dalam

lingkaran prinsip umum syari’ah. (M. Imdadun Rahmat, 2002: 162-163)

Tranformasi paradigma lembaga bahsul masail NU dalam prosedur istibath

hukum yang kedua menggunakan metode ilhaq yaitu menyamakan hukum suatu

kasus yang belum dijawab oleh kitab dengan kasus yang serupa yang telah

dijawab oleh kitab, atau menyamakan dengan pendapat yang sudah jadi. Sama

dnegan mtode qauliy, metode ini secara operasional juga telah diterapkan sejak

lama oleh para ulama NU dalam menjawab permasalahn keagamaan yang

diajukan oleh umat. Namun secara resmi dan eksplisit metode ilhaqiy baru

terungkap dan dirumuskan dalam keputusan Munas Bandar Lampung yang

menyatakan, bahwa untuk menyelesaikan masalah yang tidak ada qaul sama

sekali, maka dilakukan prosedur ilhaqy masa’il bi nazha’iriha. Sedangkan

prosedur ilhaq adalah dengan memperhatikan unsur berikut: mulhaq bih (sesuatu

yang belum ada ketetapan hukumnya), mulhaq ‘alaih (sesuatu yang sudah ada

keputusan hukumnya), dan wajh al-ilhaqiy (faktor kesurapaan antara mulhaq bih
dengan mulhaq ‘alaih). Inilah metode altenatif yang kemudian disebut sebagai

metode ilhaqiy yang dalam prakteknya menggunakan prosedur dan persyaratan

yang mirip dengan qiyas, dan oleh karenanya dapat juga dinamakan metode

qiyasiy versi NU.

Meskipun secara definisi, metode ilhaq sama dengan metode qiyas. Namun,

tetap ilhaq harus dibedakan dengan qiyas. Ilhaq lebih ditekankan pada masalah

yang parsial (juziyat), sedangkan qiyas lebih ditekankan pada masalah yang

makro (kulliyat). Dengan kata lain, ilhaq memboncengkan hukumnya masalah

fiqhiyah yang belum diuraikan oleh satu kitab mu’tabarah. Sedangkan qiyas ialah

menyamakan masalah fiqhiyah yang hukumnya tidak terdapat dalam satu teks (al-

Qur’an atau al-Sunnah) dengan masalah yang hukumnya telah dijelaskan oleh

teks-teks itu, karena kedua masalah tadi memiliki alasan yang dianggap sama.

Kebanyakan ulama sepakat bahwa jangkauan hukum yang ada dalam teks itu

lebih luas dari pada hukum yang telah diproduksi oleh kitab fiqh. Meskipun

terjadi perbedaan seperti itu, tetapi pendirian qiyas maupun ilhaq adalah

tergantung pada ada atau tidak adanya alasan hukum (illat).

Jumhur ulama sepakat bahwa hukum yang dibawakan oleh teks-teks

kewahyuan selalu diasarkan pada illat (alasan) dan sebab. Bahkan dengan illat

dan sebab itulah hukum Islam didirikan. Ulama juga sepakat bahwa illat dan

sebab itu pada dasarnya kembali kepada kemaslahatan umat manusia, baik untuk

menarik kemanfaatan, atau untuk menghilangkan bahaya (mudlarat). Setiap

hukum yang disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya tidak lain kecuali untuk

menarik manfaat, atau menghilangkan bahaya, atau untuk menghapus kesulitan.


Syari’at Islam telah banyak menunjukkan kemaslahatan di balik hukum, dan

syari’at juga banyak membuka jalan yang dapat mengantarkan hukum menuju

kemaslahatan umum, sambil menampilkan alasannya. Dengan demikian, kalau

alasan hukum itu dapat dipelajari, dan alasan itu tepat untuk diterapkan pada

hukum tertentu, maka qiyas bisa dilaksanakan.

Dasar qiyas adalah memperkerjakan akal, bahwa hukum yang dikehendaki

oleh syari’at Islam aterhadap kasus yang tidak disebutkan hukumnya, itu untuk

kemaslahatan manusia atau untuk menghilangkan kesusahan. Jika kita mengetahui

jalur maslahat atau mudharat itu, maka itulah syari’at yang dimaksudkan oleh

Allah dan Rasul-Nya. Tetapi juka persoalan tidak membawa maslahat, maka qiyas

tidak boleh dilaksanakan, meskipun alasannya hamper mirip. Melaksanakan qiyas

yang benar adalah menerapkan hukum syari’at yang didiamkan oleh Allah dan

Rasul-Nya, diasamakan dengan hukum syari’at yang telah ada, yang alasannya

mirip dengan hukum yang didiamkan itu. (M. Imdadun Rahmat, 2002: 179-181)

Penggunaan prosedur ilhaq ini dalam ilmu ushul fiqh mirip dengan

pengunaan metode qiyas. Kemiripannya terletak pada unsur-unsurnya, dimana

qiyas harus terdapat ashal, fur’u, dan ilat. Akan tetapi antara qiyas dan ilhaq itu

berbeda. Perbedaannya terletak pada sandaran hukum ashal. Dalam ilhaq yang

dijadikan sandaran hukum ashal-nya adalah pendapat para ulama yang termaktub

dalam kitab-kitab fiqh. Sedangkan qiyas hukum ashal-nya apa yang tersurat

dalam Al-Qur’an dan Sunah, sehingga qiyas dijadikan metode atau bahkan

sumber hukum Islam.


Jumhur ulama menjadikan qiyas itu adalah menjadi hujjah syar’iyah

(sumber hukum syari’at) bagi hukum perbuatan manusia dan berada pada

tingkatan keempat dari dalil-dalil syari’at. Namun ulama Nizhamiyah, Zhahiriyah

dan sebagian ulama aliran Syi’ah, mereka ini golongan yang mengingkari atau

menafikan qiyas. Alasan jumhur ulama dalam menetapkan qiyas sebagai hujjah

hukum adalah Al-Qur’an surat An-Nisa, ayat 59.

‫لى اْأل َْم ِر ِم ْن ُك ْم فَ ِإ ْن‬


ِ ‫ول َوأ ُْو‬ ِ ‫َطيع وا اهلل وأ‬
َ ‫َط ْيعُ وا اْ َّلر ُس‬ ََ
ِ ِ
ُ ْ ‫يَأ ََّي َها اْلَ ذيْ َن أ ََمنُ وا أ‬
ِ ‫ااهلل والْي‬
ِ ِ ِ ِ‫فى َّش ٍئ َف ردُّوهُ إ‬
‫وم‬ َ َ ِ‫ول إِ ْن ُك ْنتُ ْم ُت ْؤمنُ و َن ب‬
ِ ‫اهلل وال َّْر ُس‬
َ ‫لى‬ َ ُ ِ ‫َتَن َز ْعتُ ْم‬

ً‫س ُن تَأ ِويْال‬ َ ِ‫اْالَ ِح ِر َذل‬


َ ‫ك َخ ْي ٌر َواَ ْح‬
Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan rasulnya dan ulul
amri (orang yang mememegang kekuasaan) diantara kamu. Kemudian jika
kamu berlainan pendapat kembalikanlah pada Allah (Al-Qur’an) dan
Rasulnya (As-Sunah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.
(Soenarjo, dkk, 1971:128).

dan hadist Mu’adz bin Jabal pada waktu Rasulullah SAW. Membai’at

sebagai Wali Kota di Yaman, katanya:

ِ َ َ‫اهلل ق‬
ِ ‫اب‬
ِ َ‫ض ى بِ ِكت‬
ِ ْ‫ال أَق‬ ِ ِ
ْ‫ فَ ا ْن مَل‬:‫ال‬ َ َ‫ ق‬,ٌ‫ض اء‬
َ َ‫ك ق‬
َ َ‫ض ل‬
َ ‫يْف َت ْقض ى اذَا َع َر‬
َ ‫… َك‬
ِ ‫ول‬
‫اهلل‬ ِ ‫ فَاِ ْن مَل جَتِ ْد ىِف س ن َِّة رس‬:‫ال‬ ِ ‫ول‬
َ َ‫اهلل ق‬ ِ ‫ فَبِسن َِّة رس‬:‫ قاَ َل‬,‫اهلل‬
ِ ‫اب‬ ِ َ‫جَتِ ْد ىِف كِت‬
َُ ُ ْ َُ ُ
ِ ِ ُ ‫ فَض رب رس‬,‫ اَجتَ ِه ُد رأْ ِي والَ اَلُ و‬:‫ال‬
ُ‫ص ْد َره‬
َ ‫ص لَى اهللُ َعلَيْه َو َس لَ َم‬
َ ‫ول اهلل‬ ُ َ َ ََ َ َ ْ َ َ‫ق‬
ِ ‫اهلل لِما ير‬
‫ض ى اهللُ َو َر ُس ولَهُ (راوه‬ ِ ‫ول‬ ُ ‫س‬ ‫ر‬ ‫ول‬
َ ‫س‬ ‫ر‬ ‫ق‬ ‫ف‬
َ ‫و‬ ‫ي‬‫ذ‬ِ َ‫ْد لِلَّ ِه اْل‬
ُ ‫ اَحْلَم‬:‫ال‬
َ َ‫َوق‬
ُْ َ َُ َُ َ َ
.)‫امحد‬
Ibn Hajar Asqalani, 883, Juz IV:118
Bagaimanakah kamu memutusi perkara, bila dikemukakan masalah
kepadamu? Jawab Mu’adz: aku memutuskan dengan kitab Allah, maka
masalah itu jika tidak terdapat dalam kitab Allah? Maka dengan sunnah
Rasulullah, maka perkara itu tidak terdapat dalam sunnah Rasulullah? Aku
berijtihad dengan pendapatku dan berusaha dengan segenap tenaga.
Rasulullah SAW. Lalu menepuk dadanya dan seraya bersabda: segala puji
milik Allah yang telah membingbing utusan Rasulullah karena telah
membuat keridhaan Allah dan Rasulnya. (Mukhtar Yahya &
Fatchurrahman, 1997:70).