Anda di halaman 1dari 4

RINGKASAN

HUBUNGAN KADAR IgE TOTAL, JUMLAH EOSINOFIL DAN BASOFIL DENGAN


INTENSITAS INFEKSI Ascaris lumbricoides, Trichuris Trichiura DAN Hookworm PADA
PETANI DI KABUPATEN KLUNGKUNG PROVINSI BALI

Indah Budi Apsari

Infeksi Soil Transmitted Helminth (STH) merupakan masalah di berbagai belahan dunia,
terutama di negara yang sedang berkembang dengan sanitasi lingkungan dan kebersihan diri
yang sangat kurang. Menurut WHO pada tahun 2017, lebih dari 1,5 miliar manusia atau 24%
dari total populasi seluruh dunia terinfestasi STH. Infeksi tersebar di daerah tropis dan subtropis
dengan jumlah terbanyak pada daerah sub-Sahara, Afrika, Amerika, China dan Asia termasuk
Indonesia. Spesies STH yang paling sering menginfeksi manusia adalah Ascaris lumbricoides
(cacing gelang), Trichuris trichiura (cacing cambuk) dan hookworm atau cacing tambang
(Ancylostoma duodenale dan Necator americanus). Prevalensi STH pada penduduk pedesaan di
Bali relatif tinggi, yaitu 74% positif A. lumbricoides, 63% positif T. trichiura, dan 35% positif
Hookworm.
Infeksi STH menimbulkan respon imunitas tubuh antara lain peningkatan Imunoglobulin E
(IgE), sel mast, eosinofil dan basofil untuk melawan infeksi cacing. IgE dianggap memainkan
peran penting dalam imunitas protektif melawan infeksi cacing. Ikatan antara antigen permukaan
cacing dengan IgE spesifik mengaktivasi sel-sel efektor melalui ikatan dengan reseptor FcεRI
sehingga terjadi mekanisme ADCC (antibody dependent cellular cytotoxicity). Sel efektor yang
teraktivasi antara lain eosinofil, sel mast, dan basofil, kemudian mengalami degranulasi
mengeluarkan mediator-mediator yang fungsinya antara lain membunuh parasit, menginduksi
diferensiasi sel T helper naive (CD4+) menjadi T helper 2, mempengaruhi fisiologi usus yang
mengarah ke dalam mekanisme ekspulsi cacing. Sel Th2 akan mengeluarkan sitokin antara lain
interleukin 3 (IL-3), IL-4, IL-5, IL-9, IL-13, IL-22, IL-25. Interleukin 5 akan menstimulasi
sumsum tulang untuk memproduksi eosinofil dalam jumlah besar dan bermigrasi ke lokasi
infeksi, menempel pada antigen permukaan cacing dan mengeluarkan granula toksik (eosinophil
secondary granule proteins/ESPGs) yang secara langsung membunuh cacing. Eosinofil juga
mempunyai aktivitas remodeling sel dan pembersihan debris sel, sehingga terjadi penyembuhan
luka setelah invasi cacing. Interleukin 3 akan menstimulasi sumsum tulang untuk meningkatkan
hematopoetik sel basofil dan meningkatkan proliferasi basofil pada darah tepi. Basofil berperan
dalam sekresi sitokin-sitokin T helper 2 seperti IL-4 dan IL-13 yang mempengaruhi fisiologi
usus meyebabkan cacing berada dalam kondisi stres dan diekspulsi keluar tubuh. Jumlah
eosinofil, basofil dan IgE total pada infeksi STH telah ditemukan tinggi pada beberapa
penelitian, akan tetapi masih belum mampu mengeradikasi infeksi, sehingga prevalensi masih
tinggi di beberapa daerah, oleh karena itu penelitian mengenai sejauh mana kadar IgE total,
eosinofil dan basofil dapat mengeradikasi infeksi dan menurunkan intensitas infeksi STH pada
petani penting dilakukan karena petani merupakan populasi yang berisiko.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kadar IgE total, jumlah eosinofil dan
basofil dengan intensitas infeksi STH pada petani di Kabupaten Klungkung. Sampel penelitian
ini adalah 162 sampel feses dari petani yang terpilih secara simple random sampling, 20 sampel
darah dari petani yang positif terinfeksi STH, 20 sampel darah dari petani yang tidak terinfeksi
STH sebagai kontrol pembanding. Metode Kato-Katz digunakan untuk mendiagnosis infeksi
STH dan menentukan intensitas infeksi yang ditetapkan berdasarkan jumlah telur per gram feses
(EPG). Serum penderita dipisahkan dengan menggunakan alat sentrifuse (Hetich, Universal 320,
USA) kecepatan 30.000 rpm selama 15 menit. Pemeriksaan IgE total menggunakan metode
enzyme linked fluorescent assay (ELFA) (Vidas, Biomerieux, USA) dengan insert kit VIDAS®
total IgE. Perhitungan jumlah eosinofil dan basofil menggunakan metode flowcytometry (Cell
Dyn Rubi, Abbott, USA).
Hasil pemeriksaan Kato-Katz menunjukkan infeksi tunggal A. lumbricoides 1,85% (3/162),
infeksi tunggal T. trichiura 9,26% (15/162), sedangkan infeksi tunggal Hookworm 0,61%
(1/162), infeksi campuran A.lumbricoides dengan T. trichiura 1,23% (2/162), infeksi campuran
A.lumbricoides dengan Hookworm 0,61% (1/162). Berdasarkan hasil uji t tidak berpasangan,
jumlah eosinofil, basofil dan kadar IgE total berbeda signifikan pada kelompok terinfeksi STH
dibandingkan dengan kelompok tidak terinfeksi (p<0,05). Hasil uji korelasi Spearman
menunjukkan bahwa jumlah eosinofil signifikan berhubungan dengan EPG (p=0,00), jumlah
basofil signifikan berhubungan dengan EPG (p=0,001), dan kadar IgE total signifikan
berhubungan dengan EPG (p=0,001). Kadar IgE total pada infeksi A. lumbricoides berbeda
bermakna dibandingkan dengan T.trichiura (p=0,000), Hookworm (p=0,001), serta infeksi
campuran A. lumbricoides dengan Hookworm (p=0,002). Kadar IgE total pada infeksi T.
trichiura berbeda bermakna dibandingkan dengan infeksi campuran A. lumbricoides dengan T.
trichiura (p=0,001).
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan pada kadar IgE total, jumlah eosinofil dan basofil pada petani yang terinfeksi STH
dibandingkan dengan petani yang tidak terinfeksi STH namun tidak terdapat perbedaan intensitas
infeksi antar spesies STH. Kadar IgE total antar spesies STH juga berbeda bermakna secara
statistik, namun kadar IgE total tidak berhubungan dengan jumlah eosinofil dan basofil. Korelasi
yang positif didapatkan pada jumlah eosinofil dan basofil dengan intensitas infeksi STH, serta
pada kadar IgE total dengan intensitas infeksi STH. Peningkatan kadar IgE total, jumlah
eosinofil dan basofil tidak cukup mampu mengeradikasi infeksi STH, oleh karena itu pengobatan
antihelminth masih tetap diperlukan. Penelitian selanjutnya perlu dilakukan untuk mengetahui
hubungan IgE spesifik dengan intensitas infeksi dan kemampuannya mengeleminasi cacing, serta
protein yang berperan dalam mekanisme pertahanan cacing terhadap imunitas hospes.
SUMMARY

CORRELATION OF TOTAL IgE LEVEL, EOSINOFIL AND BASOPHIL COUNT


WITH INTENSITY INFECTION OF Ascaris lumbricoides, Trichuris Trichiura AND
Hookworm AMONG FARMERS IN KLUNGKUNG REGENCY, BALI

Indah Budi Apsari

Soil Transmitted Helminth (STH) infections was still a problem in many parts of the world,
especially in developing countries with poor sanitation and environmental hygiene. According to
WHO in 2017, more than 1.5 billion people or 24% of the total population worldwide were
infected with STH. Infection was spread in tropical and subtropical areas including Indonesia
with the largest number of sub-Saharan, African, American, Chinese and Asian regions. The
most common STH infection in humans are Ascaris lumbricoides (roundworm), Trichuris
trichiura (whipworm) and Hookworm (Ancylostoma duodenale and Necator americanus). The
prevalence of STH in rural population in Bali was relatively high, 74% positive for A.
lumbricoides, 35% positive for horkworm, 63% for T. trichiura.
STH infection induced host immune responses such as increased of immunoglobulin E
(IgE), mast cells, eosinophils and basophils to attack the worm. IgE was thought to play an
important role in protective immunity against worm infections. The bond between the worm
surface antigen and the specific IgE activates effector cells through binding with FcεRI receptors
resulting in Antibody Dependent Cellular Cytotoxicity (ADCC) mechanism. Activated effector
cells include eosinophils, mast cells, and basophils could be degranulated and secrete mediators
whose functions killing parasites, induced differentiation of naive T helper cells (CD4 +) into T
helper 2, affected intestinal physiology leading to a mechanism worm expulsion. Th2 cells
released cytokines such as interleukin 3 (IL-3), IL-4, IL-5, IL-9, IL-13, IL-22, IL-25. Interleukin
5 would stimulated the bone marrow to produce large amounts of eosinophils and migrated to the
site of infection, attached to the surface antigens of the worms and release toxic granules
(eosinophil secondary granule proteins/ ESPGs) that directly killed the worms. In addition, it
also had the activity of cell remodeling and cell debris cleansing, resulted in wound healing after
the invasion of the worm. Interleukin 3 would stimulated the bone marrow to increase basophil
cell hematopoetic and increased basophil proliferation in peripheral. Basophils played a role in
the secretion of T helper 2 cytokines such as IL-4 and IL-13 that affected the intestinal
physiology of causing the worms to be in a stress condition and expulled out of the body. The
high amount of IgE, eosinophil and basophil in STH infection were poorly eradicated the
infection, so the prevalence was still high in some areas, so investigated to which the level of
total IgE, eosinophils and basophils in correlation either to eradicate or decrease the intensity of
STH infection in farmers Is important because they are risk person.
The purpose of this research was to analyze the correlation between total IgE level
eosinophil and basophil count with intensity of STH infection among farmers in Klungkung
Regency. The sample of this research was 162 feces samples from farmers that selected by
simple random sampling. Twenty blood samples from STH infected farmers, and 20 blood
samples from uninfected farmers were collected. The diagnosis of STH infection was made by
Kato-Katz thick smear method. The intensity of infection was determined by the number of eggs
per gram of feces (EPG). The patient's serum was separated by centrifuge (Hetich, Universal
320, USA) at 30.000 rpm for 15 minutes. Total IgE level was detected by using enzyme linked
fluorescent assay (ELFA) method (Vidas, Biomerieux, USA) with VIDAS® total IgE insert kit.
Total number of eosinophils and basophils was counted by flowcytometry method (Cell Dyn
Rubi, Abbott, USA).
Kato-Katz examination showed that single infection of A. lumbricoides was 1.85% (3/162),
9.26% (15/162) of T. trichiura single infection, and 0.61% (1/162) of Hookworm single
infection. The mixed infection detected that were 1.23% (2/162) of A. lumbricoides with T.
trichiura, and 0.61% (1/162) of A. lumbricoides with Hookworm. Independent t-test showed
that the levels of total IgE and number of eosinophils and basophils were significantly different
between STH-infected group and uninfected group (p< 0.05,). Spearman correlation test showed
that the number of eosinophils was significantly correlated with EPG (p = 0.00), the number of
basophil was significantly correlated with EPG (p = 0.001) and total IgE level was significantly
correlated with EPG (r = 0.667 p = 0.001). Total IgE levels of A. lumbricoides was significantly
different than T.trichiura (p=0.00), Hookworm (p =0.001), and mixed infection of A.
lumbricoides with Hookworm (p= 0.002). Total IgE level of T.trichiura also significantly
different than mixed infection of A. lumbricoides with T. trichiura (p = 0.001).
The results of this study, it could be concluded that there were difference of mean of total
IgE levels, eosinophils and basofil between infected farmers compared with uninfected farmers.
There was no difference of mean of infection intensity among STH species, but there was a
significant difference of mean of total IgE levels between STH species. The number of
eosinophils and basophils between STH species were not differences significantly. There was no
correlation between total IgE levels and eosinophils or basophil count. Positive correlation was
found between eosinophils and basophils count with the intensity of infection and between total
IgE levels with the intensity of infection. Future research must be conducted to find correlation
of specific IgE level with infection intensity, and their role in worm eradication, also the protein
of worm that contributed to escape mechanism from host immunity.