Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH TENTANG TREND DAN ISSUE DALAM

KEPERAWATAN PALIATIF

DISUSUN OLEH :
1. AULIA PRATAMA WIJAYA (20170303040)
2. DEVIA RIYANA MAHARINI (20170303003)
3. DIAH RAMDAN SAPUTRI (20170303012)
4. KANIA SEPHIA PUTRI (20170303002)
5. KEZIA IRENE JOSEPH (2017030328)

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN


JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perawatan paliatif adalah perawatan yang dilakukan secara aktif pada penderita
yang sedang sekarat atau dalam fase terminal akibat penyakit yang dideritanya. Pasien
sudah tidak memiliki respon terhadap terapi kuratif yang disebabkan oleh keganasan
ginekologis. Perawatan ini mencakup penderita serta melibatkan keluarganya (Aziz,
Witjaksono, & Rasjidi, 2008). Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan
meningkatkan kualitas hidup pasien (dewasa dan anak-anak) dan keluarga dalam
menghadapi penyakit yangmengancam jiwa, dengan cara meringankan penderitaan
rasa sakit melalui identifikasi dini, pengkajian yang sempurna, dan penatalaksanaan
nyeri serta masalah lainnya baik fisik, psikologis, sosial atau spiritual. (World Health
Organization (WHO) 2016). Perawatan paliatif adalah perawatan yang dilakukan pada
pasien dengan penyakit yang dapat membatasi hidup mereka atau penyakit terminal
dimana penyakit ini sudah tidak lagi merespon terhadap pengobatan yang dapat
memperpanjang hidup (Robert, 2003).
Perawatan paliatif merupakan perawatan yang berfokus pada pasien dan
keluarga dalam mengoptimalkan kualitas hidup dengan mengantisipasi, mencegah, dan
menghilangkan penderitaan.Perawatan paliatif mencangkup seluruh rangkaian
penyakit termasuk fisik, intelektual, emosional, sosial, dan kebutuhan spiritual serta
untuk memfasilitasi otonomi pasien, mengakses informasi, dan pilihan (National
Consensus Project for Quality Palliative Care, 2013). Pada perawatan paliatif ini,
kematian tidak dianggap sebagai sesuatu yang harus di hindari tetapi kematian
merupakan suatu hal yang harus dihadapi sebagai bagian dari siklus kehidupan normal
setiap yang bernyawa (Nurwijaya dkk, 2010). Permasalahan yang sering muncul
ataupun terjadi pada pasien dengan perawatan paliatif meliputi masalah psikologi,
masalah hubungan sosial, konsep diri, masalah dukungan keluarga serta masalah pada
aspek spiritual (Campbell, 2013). Perawatan paliatif ini bertujuan untuk membantu
pasien yang sudah mendekati ajalnya, agar pasien aktif dan dapat bertahan hidup
selama mungkin.
B. Tujuan Umum
Mengidentifikasi dan mengetahui trend dan issue dalam keperawatn paliatif di
Indonesia.

C. Tujuan Khusus
- Mengetahui trend keperawatan paliatif di Indonesia
- Mengetahui issue keperawatan paliatif di Indonesia

D. Manfaat
Sebagai seorang perawat, pembahasan mengenai trens dan issue keperawatan
paliatif di Indonesia menjadi bermanfaat karena perawat dapat mengetahui sampai
dimana kiprah perkembangan perawatan paliatif dan kemudian melakukan
pengembanga-pengembangan konsep terhadap keperawatan paliatif ini
Diharapkan pembahasan ini juga dapat bermanfaat bagi semua pembaca untuk
dapat menambah ilmu dan informasi mengenai trend dan issue dalam keperawatan
paliatif di Indonesia
BAB II
LANDASAN TEORI

Trend Dalam Keperawatan Paliatif Di Indonesia


A. Perkembangan Perawatan Paliatif di Indonesia
Tanggal 6 Oktober seluruh masyarakat dunia memperingati World Hospice
Palliative Care Day, Hari Perawatan Hospis dan Paliatif Sedunia. Mungkin
peringatan ini tidak banyak yang tahu karena memang peringatannya tidak seheboh
peringatan Hari AIDS Sedunia atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Walaupun
demikian, tidak mengecilkan arti dari perjuangan mereka yang bergelut dalam
bidang perawatan paliatif. Dulu perawatan ini hanya diberikan kepada pasien
kanker yang secara medis sudah tidak dapat disembuhkan lagi, tetapi kini diberikan
pada semua stadium kanker, bahkan juga pada penderita penyakit-penyakit lain
yang mengancam kehidupan seperti HIV/AIDS dan berbagai kelainan yang bersifat
kronis.
Di Indonesia perawatan paliatif baru dimulai pada tanggal 19 Februari 1992 di
RS Dr. Soetomo (Surabaya), disusul RS Cipto Mangunkusumo (Jakarta), RS
Kanker Dharmais (Jakarta), RS Wahidin Sudirohusodo (Makassar), RS Dr. Sardjito
(Yogyakarta), dan RS Sanglah (Denpasar). Di RS Dr. Soetomo perawatan paliatif
dilakukan oleh Pusat Pengembangan Paliatif dan Bebas Nyeri. Pelayanan yang
diberikan meliputi rawat jalan, rawat inap (konsultatif), rawat rumah, day care, dan
respite care.
Dari tahun 1992-2010 pelayanan perawatan paliatif baru ada di 6 ibukota besar
yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali dan Sulawesi
Selatan. Perawatan paliatif kebanyakan terdapat di rumah sakit pemerintah seperti
RS Hasan Sadikin Bandung, RSCM, RSK Dharmais, RSU Dr Soetomo Surabaya,
RS Sanglah Bali, RS Dr Wahidin Sudirohusodo Makasardan RSUP Dr Sardjito
Yogyakarta. Betapa pentingnya perawatan paliatif untuk pasien pasien yang telah
memasuki fase terminal dari penyakit yang diderita. Menteri kesehatan sampai
perlu menerbitkan sebuah Kepmenker No. 812/Menkes/SK/VII/2007 yang isinya
agar setiap rumah sakit menyediakan perawatan paliatif di masing masing rumah
sakit untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Pelayanan kesehatan yang paripurna tidak hanya yang dilakukan di rumah
sakit, tetapi juga meliputi perawatan pra-rumah sakit, selama di rumah sakit, dan
purna rumah sakit. Tujuannya mencakup aspek promotif, preventif, kuratif,
rehabilitatif, yang tujuan utamanya mempertahankan kemampuan individu untuk
mandiri secara optimal selama mungkin. Pada kasus yang oleh tim dokter
dinyatakan sulit sembuh atau tidak ada harapan lagi, bahkan mungkin hampir
meninggal dunia atau yang dikenal pasien stadium terminal (PST), tentunya
dibutuhkan pelayanan yang spesial. Di sinilah perawatan paliatif menjadi aspek
penting pada pengobatan, khususnya bidang geriatri (masalah kesehatan pada
lansia).
Lebih lanjut perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas kehidupan pasien dan keluarganya menghadapi masalah-
masalah yang berhubungan dengan penyakit yang mengancam jiwa, dengan
mencegah dan meringankan penderitaan melalui identifikasi awal dan penilaian
serta terapi dan masalah lain-fisik, psikososial, dan spiritual. “Dalam perawatan
paliatif ini membutuhkan tim multidisiplin,” kata dokter dari Subbagian Geriatri,
Bagian Ilmu Penyakit Dalam, FK UGM/SMF Geriatri RSUP Dr. Sardjito tersebut.
Melihat pentingnya peran perawatan paliatif ini, Probosuseno berharap agar
setiap rumah sakit (misalnya tipe B) memiliki semacam instalasi perawatan paliatif
dan dipakai sebagai salah satu syarat penilaian akreditasi rumah sakit. Sementara
itu, di lingkungan fakultas kedokteran, akper, sekolah tinggi keperawatan, SMK
kesehatan, psikologi, gizi, dan farmasi juga diberikan materi terkait dengan
perawatan paliatif. Dengan demikian, para calon civitas hospitalia mendapatkan
paparan dini tentang perawatan paliatif tersebut. Senada dengan itu, dr. Ali Agus
Fauzi, PGD Pall Med dari Pusat Pengembangan Paliatif dan Bebas Nyeri RSU Dr.
Soetomo-FK Unair Surabaya menjelaskan perawatan paliatif tidak saja untuk
menyembuhkan penyakit. Selain penderita, yang ditangani juga pihak keluarga.
Beberapa tempat yang memungkinkan untuk dilakukan perawatan paliatif adalah
rumah sakit, puskesmas, rumah singgah (panti/hospis), dan rumah pasien.
Aplikasi perawatan paliatif di RSU Dr Soetomo meliputi perawatan paliatif
rawat jalan (poliklinik), rawat inap, rawat rumah (home care), day care, dan respite
care. Tata kerja organisasi perawatan paliatif ini bersifat koodinatif dan melibatkan
semua unsur terkait dengan mengedepankan tim kerja yang kuat, membentuk
jaringan yang luas, berinovasi tinggi, dan layanan sepenuh hati.
Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan FK UGM, Christantie Effendy,
S.Kp., M.Kes.pada kesempatan tersebut mengangkat persoalan dan kebutuhan
pasien kanker di Indonesia dan Belanda. Menurut Christantie, meskipun Indonesia
dan Belanda sangat berbeda, pasien kanker pada kedua kelompok ini memiliki
masalah fisik yang nyaris sama, dengan kelelahan dan nyeri di urutan atas. Dari
semua masalah yang dialami pasien, unmeet needs (kebutuhan yang tidak
terpenuhi) di Indonesia lebih tinggi daripada di Belanda. Untuk prevalensi masalah
pskikososial dan sosial di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan kelompok
penelitian di Belanda. Perbedaan dalam budaya dan juga sistem kesehatan mungkin
telah berkontribusi terhadap kondisi ini.

B. Trend Penerapan Hospice care pada Penyakit Kanker

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam bidang


kesehatan telah menjadikan penyakit kanker tidak lagi merupakan penyakit fatal
dan terlambat diobati namun telah menjadi penyakit kronis yang memiliki potensi
untuk mengubah pola kehidupan para pengidapnya. Dengan perkembangan ini
terjadi penurunan angka kematian yang merupakan hasil dari keberhasilan terapi
kanker sehingga dapat memperpanjang hidup klien. Namun demikian, keefektifan
terapi ini hanya diukur dari hasil keluaran secara fisik seperti sembuh dari penyakit,
kematian, angka kesakitan, dan angka kekambuhan. Oleh karena itu, pada dua
dekade terakhir, tim kesehatan telah menyadari bahwa keberhasilan terapi harus
dinilai juga dari pengalaman klien baik secara kualitatif maupun kuantitatif (King,
et al, 1997).
Penurunan angka kematian akibat penyakit kanker dan sifat kronik dari
penyakit ini telah menimbulkan kecenderungan banyak klien tidak dirawat di
rumahsakit melainkan pada pelayanan hospis atau home care. Perawatan hospis
dan home care diberikan oleh tim multi disiplin kesehatan dimana seorang perawat
menjadi koordinatornya.
Para klien pengidap kanker yang dirawat di hospis atau home care masih
tetap menjadi populasi berresiko dimana kebutuhan akan kesehatannya
memerlukan perhatian jangka panjang (Ferrel & Dow, 1997). Ironisnya, tidak
banyak yang perduli dengan tingkat kualitas hidup mereka yang menghabiskan sisa
hidupnya di hospis atau home care ini (Stetz, 1998). Pada penderita kanker yang
tidak mungkin tersembuhkan lagi, perawatan paliatif pada dasarnya adalah upaya
untuk mempersiapkan awal kehidupan baru (akhirat) yang berkualitas. Tidak ada
bedanya dengan perawatan kandungan yang dilakukan seorang calon ibu, yang
sejak awal kehamilannya rutin memeriksakan diri untuk memastikan kesehatannya
dan tumbuh kembang calon bayinya, agar dapat melewati proses kelahiran dengan
sehat dan selamat, selanjutnya dalam kehidupan barunya sebagai manusia sibayi
dapat tumbuh menjadi manusia yang sehat dan berkualitas.
Sedang bagi penderita kanker stadium dini, perawatan paliatif merupakan
pendamping pengobatan medis. Meningkatnya kualitas kehidupan pasien karena
perawatan paliatif diharapkan akan membantu proses penyembuhan kanker secara
keseluruhan. Kualitas hidup merupakan masalah yang penting dalam pengalaman
para pengidap penyakit kanker yang telah berhasil mengendalikan penyakitnya dan
memperpanjang masa hidup yang harus dilaluinya (Ersek, Ferrel, Dow,
&Melancon, 1997).
Masalah kualitas hidup bagi klien dengan penyakit kanker meliputi efek
fisiologis, masalah keluarga dan sosial, pekerjaan atau aktifitas harian serta distres
spiritual (Dow, Ferrel, Haberman, & Eaton, 1999). Kualitas hidup juga dilihat dari
berbagai aspek dalam tujuh kategoriya itu gejala fisik seperti gejala, dan nyeri;
kemampuan fungsional seperti aktifitas; kesejahteraan keluarga; kesejahteraan
emosi; kepuasan akan terapi meliputi masalah finansial; seksualitas dan keintiman
termasuk citra tubuh; dan fungsisosial (Cella, 1998).
Di Indonesia, perawatan di hospis atau home care merupakan hal yang baru
bagi klien pengidap kanker. Di Jakarta khususnya, pelayanan hospis telah diberikan
pada klien pengidap kanker yang sedang menghadapi fase terminal namun masih
menjadi suatu pengalaman yang jauh dari harapan klien itu sendiri. Hal ini terlihat
pada kenyataan dimana klien mengeluh minimnya upaya untuk memenuhi harapan
mereka. Klien pengidap kanker pada umumnya menaruh harapan yang tinggi
terhadap pelayanan kesehatan yang diterimanya dan akan memberikan dampak
positif terhadap penyakitnya. Namun, ditemukan jumlah klien yang menaruh
harapan tinggi sama besarnya dengan jumlah klien yang menyatakan memiliki
harapan yang rendah terhadap pelayanan yang diterimanya. Hal ini menunjukan
bahwa kondisi penyakit yang diidap klien tidak memiliki kepastian akan hasil
pelayanan yang diterimanya.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil riset temuan John (2001) yang
menjelaskan klien penerima terapi radiologik yang bersifat kuratif memiliki
harapan tinggi terhadap dampak pelayanan yang diterimanya.
Ini menunjukan klien yang mengatakan keberadaan keluarga sangat
berpengaruh terhadap kualitas hidupnya memiliki harapan terhadap pelayanan
yang tinggi, sedikit lebih rendah dari pada klien yang memiliki harapan pelayanan
yang rendah (49%:51%). Hasil ini menunjukan harapan pelayanan tidak dapat
mempertimbangkan keberadaan keluarga sebagai aspek yang mempengaruhi
harapan terhadap pelayanan. Ada sebuah data yang menyampaikan kesimpulan dari
penelitianya mengenai kualiatas hidup pasien kanker dengan perawatan hospice
care menunjukan bahwa persentase kapasitas fungsional responden baik secara
fisiologis, psikologis, sosial, maupun spiritual masih rendah yaitu dibawah 50%.
Dukungan dan keberadaan keluarga memegang peranan penting dan sangat
diperlukan oleh seseorang pengidap kanker dalam menjalani sisa-sisa hidupnya.
Klien pengidap kanker menyatakan harapan yang tinggi terhadap pelayanan
kesehatan sama besarnya dengan yang menyatakan harapan yang rendah. Harapan
klien terhadap model asuhan dan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada klien
pengidap kanker adalah hospis home care.

Issue Dalam Keperawatan Paliatif Di Indonesia


Sifat perawatan paliatif berfokus pada perdebatan tentang masalah etika pada
kematian.Keadaan pada akhir hidup dapat mengakibatkan dilema etika yang lebih
rumitoleh isu-isu tentang kompetensi orang yang akan meninggal, hak mereka
untuk menolak ataumenerima perawatan dalam mempertahankan integritas pribadi
mereka atas kematian merekasendiri. Dilema etika mungkin timbul dari perbedaan
nilai-nilai, ditempatkan pada nilaikehidupan dan wali mereka.
Setiap orang memiliki hak untuk mengakses setiap kemungkina pengobatan,
berapapun harga dalam hal keuangan, waktu dan sumber daya yang tersedia. Dalam
membawa kenyamanan dan harapan bagi pasien dan keluarga mereka yang
membutuhkan kualitas perawatan paliatif, tim kesehatan multi-profesional
perawatan seringditantang oleh keputusan yang perlu dibuat tergantung pada
keadaan pada waktu tertentu.
Pengaruh hukum masing-masing negara pada keputusan etis menentukan
kebenaran hukum atau kesalahan tindakan. Situasi ini jelas digambarkan oleh
masalah bunuh diri, yang di mana hukum menentukan tindakan tersebut (apakah
tindakan atau kelalaian yang secaraetis diperkenankan atau tidak). Hal ini
digambarkan dengan bunuh diri, saat ini ilegal diInggris, sebuah wilayah di Belanda
(yang non-melegalkan, tapi tidak muncul secara hukumdihukum oleh masyarakat);
yang dilegalisir dan kemudian terbalik di Wilayah Utara diAustralia selama akhir
1990-an, dan menjadi hukum (diberikan keadaan tertentu) di negarabagian Oregon
di Amerika Serikat di mana seseorang dapat mengajukan permohonan agarresep
obat untuk mengakhiri hidup seseorang (pengamanan ini dikendalikan melalui
kriteriayang ketat).
Mereka yang bekerja dalam perawatan paliatif dapat memahami keinginan
pasienyang ingin mati dengan damai dan dengan kualitas hidup yang diterima
hanya dapat ditentukan oleh pasien sendiri. Dalam beberapa situasi, mungkin
pasien menghargai untuk mengakhiri kehidupan mereka. Pertimbangan etika tidak
dapat memberikan jawaban untuk semua pertanyaan sulit yang dapat timbul dalam
perawatan paliatif. Seringkali, tidak ada benar atau salah yang jelas.Dalam etika
penekanannya harus dianggap dan memikirkan dalam hal kebolehan etis
daritindakan. Kesadaran akan masalah etika dan argumen memungkinkan praktisi
untuk mendapatkan keputusan tentang tindakan mereka dan untuk membantu
memperjelas situasibagi pasien dan keluarga mereka
Tantangan yang dihadapi oleh para perawat profesional kesehatan dalam
perawatan paliatif sering berfokus pada isu-isu etika tertentu pada akhir kehidupan,
seperti keputusan berkaitan dengan kelanjutan pemberian hidrasi buatan, obat-
obatan tertentu dan pemberianmakanan buatan. Etika dapat memberikan dasar
untuk menentukan apakah keputusan yangdibuat tentang perawatan, pengobatan
dapat diperbolehkan secara etis.Keputusan rumit akan terjadi ketika otonomi
pribadi pasien berkurang.
Hal ini dapat terjadi ketika pasien mungkin tidak lagi mampu menunjukkan
pilihan pribadi mereka sebagaiakibat dari obat-obatan, kemunduran progresif dari
kesadaran mereka atau melalui prosespenyakit yang membatasi kemampuan
mereka untuk memahami, untuk membicarakan atauuntuk berkomunikasi
keinginan mereka (atau kombinasi) ini. Dalam keadaan seperti itu,pertimbangan
tindakan yang akan menjadi kepentingan terbaik pasien perlu ditentukan. Halini
dapat difasilitasi melalui diskusi dengan anggota keluarga dekat. Kesulitan dapat
muncul melalui konflik di antara anggota keluarga atau tim langsung ketika, sebagai
orang individu,mereka memiliki perbedaan nilai-nilai tentang isu-isu pada akhir
hidup.
Melalui proses komunikasi terapeutik merupakan inti dari pendekatan
psikososial dalam perawatan paliatif :
- Keterampilan bekerja tim
Bekerja bersama dalam tim sebagai bagian dari tim interprofesional
merupakan hal yang sangat vital untuk dapat melakukan praktik atau
intervensi yang baik terhadap pasien. Mengingat layanan perawatan paliatif
saat ini tidak hanya tersedia di fasilitas rumah sakit, namun juga tersedia di
rumah hospis, rumah perawatan maupun di rumah pasien. Seiring dengan
meningkat peran perawata di area paliatif sehingga keterampilan untuk dapat
bekerja dalam tim menjadi suatu keharusan dan keniscayaan.
- Keterampilan dalam perawatan fisik
Untuk area ini, perawat di tuntut memiliki pengetahuan dan keterampilan yang
baik untuk dapat melakukan asuhan keperawatan secara langsung pasien
dalam kondisi apapun dan kapanpun, sehingga perawat dapat bertindak dan
mengambil keputusan yang tepat sesuai kondisi pasien. Pengkajian nyeri
secara akurat dan holistic dengan menggunakan berbagai macam bentuk
metode menjadi hal yang dasar. Pemilihan metode yang tepat untuk mengkaji
pasien seperti nyeri, menjadi hal yang penting, mengingat kondisi pasien yang
kadang berubah dan tidak memungkin merespon beberapa pertanyaan yang di
ajukan. Sehingga keterampilan observasi dan kemampuan intuisi perawat yang
dapat digunakan untuk mengenali tanda atau gejala yang mana boleh jadi
pasien tidak dapat atau mampu untuk melaporkannya. Dengan pengetahuan
dan keterampilan yang dimiliki perawat maka perawat dapat memberikan
masukan kepada anggota tim untuk tidak. lebih fokus pada pemberian obat-
obatan berdasarkan perkembangan kondisi pasien.

- Keterampilan intrapersonal
Salah satu area yang menjadi komponen kunci untuk dapat bekerja dengan
baik dan sukses dalam area perawatan paliatif adalah keterampila
intrapersonal. karena kematangan secara pribadi dan professional akan dapat
membantu perawat dalam mengatasi masalah yang terkait dengan isu
intrapersonal yang bersifat intrinsic terutama saat melayani atau melakukan
asuhan keperawatan pasien yang menjelang ajal dan keluarganya. Perawat
harus dapat mengenali dan memahami reaksi dan perasaan pasien yang
merupakan konsekuensi alamiah dari bekerja dengan pasien sekarat atau
keluarga yang mengalami kedukaan, sehingga perawat mampu menentukan
sikap dan menyesuaikan diri dengan kondisi atau situasi yang sarat dengan
emosi dan perasaan sensitive. Jika dibandingkan dengan keterampilan
kompetensi lainnya, maka keterampilan intrapersonal merupakan hal yang
sangat menantang. Dan hal ini juga memiliki andil yang besar untuk membantu
membangun keribadian yang lebih baik. Akan tetapi, kondisi tersebut juga
mambawa perawat dalam posisi dilematis, karena terkadang perawat terlalu
terbawa emosi dengan perasaan yang di alami pasien
BAB III

PEMBAHASAN

1. Perawatan Paliatif
Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup
pasien (dewasa dan anak-anak) dan keluarga dalam menghadapi penyakit yang
mengancam jiwa, dengan cara meringankan penderitaan rasa sakit melalui identifikasi
dini, pengkajian yang sempurna, dan penatalaksanaan nyeri serta masalah lainnya baik
fisik, psikologis, sosial atau spiritual. (World Health Organization (WHO) 2016).
2. Trend Penerapan Hospice care pada Penyakit Kanker
Ada salah satu trend perawatan paliatif yaitu pada pasien kanker dengan
penerapan hospice homecare, hospice sendiri adalah persamaan dengan paliatif hanya
saja berbeda ruang lingkupnya.
Para klien pengidap kanker yang dirawat di hospis atau home care masih tetap
menjadi populasi berresiko dimana kebutuhan akan kesehatannya memerlukan
perhatian jangka panjang (Ferrel & Dow, 1997). Ironisnya, tidak banyak yang perduli
dengan tingkat kualitas hidup mereka yang menghabiskan sisa hidupnya di hospis atau
home care ini (Stetz, 1998). Pada penderita kanker yang tidak mungkin tersembuhkan
lagi, perawatan paliatif pada dasarnya adalah upaya untuk mempersiapkan awal
kehidupan baru (akhirat) yang berkualitas. Tidak ada bedanya dengan perawatan
kandungan yang dilakukan seorang calon ibu, yang sejak awal kehamilannya rutin
memeriksakan diri untuk memastikan kesehatannya dan tumbuh kembang calon
bayinya, agar dapat melewati proses kelahiran dengan sehat dan selamat, selanjutnya
dalam kehidupan barunya sebagai manusia si bayi dapat tumbuh menjadi manusia yang
sehat dan berkualitas.

3. Issue Dalam Keperawatan Paliatif Di Indonesia


Sifat perawatan paliatif berfokus pada perdebatan tentang masalah etika pada
kematian.Keadaan pada akhir hidup dapat mengakibatkan dilema etika yang lebih
rumitoleh isu-isu tentang kompetensi orang yang akan meninggal, hak mereka untuk
menolak atau menerima perawatan dalam mempertahankan integritas pribadi mereka
atas kematian merekasendiri. Dilema etika mungkin timbul dari perbedaan nilai-nilai,
ditempatkan pada nilaikehidupan dan wali mereka. Setiap orang memiliki hak untuk
mengakses setiap kemungkinanpengobatan, berapapun harga dalam hal keuangan,
waktu dan sumber daya yang tersedia. Dalam membawa kenyamanan dan harapan bagi
pasien dan keluarga mereka yang membutuhkan kualitas perawatan paliatif, tim
kesehatan multi-profesional perawatan seringditantang oleh keputusan yang perlu
dibuat tergantung pada keadaan pada waktu tertentu.Pengaruh hukum masing-masing
negara pada keputusan etis menentukan kebenaranhukum atau kesalahan tindakan.
Situasi ini jelas digambarkan oleh masalah bunuh diri, yang di mana hukum
menentukan tindakan tersebut (apakah tindakan atau kelalaian yang secaraetis
diperkenankan atau tidak). Hal ini digambarkan dengan bunuh diri, saat ini ilegal
diInggris, sebuah wilayah di Belanda (yang non-melegalkan, tapi tidak muncul secara
hukumdihukum oleh masyarakat); yang dilegalisir dan kemudian terbalik di Wilayah
Utara di Australia selama akhir 1990-an, dan menjadi hukum (diberikan keadaan
tertentu) di negarabagian Oregon di Amerika Serikat di mana seseorang dapat
mengajukan permohonan agarresep obat untuk mengakhiri hidup seseorang
(pengamanan ini dikendalikan melalui kriteriayang ketat).
Mereka yang bekerja dalam perawatan paliatif dapat memahami keinginan
pasienyang ingin mati dengan damai dan dengan kualitas hidup yang diterima hanya
dapat ditentukan oleh pasien sendiri. Dalam beberapa situasi, mungkin pasien
menghargai untuk mengakhiri kehidupan mereka. Pertimbangan etika tidak dapat
memberikan jawaban untuk semua pertanyaan sulit yang dapat timbul dalam perawatan
paliatif. Seringkali, tidak ada benar atau salah yang jelas.Dalam etika penekanannya
harus dianggap dan memikirkan dalam hal kebolehan etis daritindakan. Kesadaran akan
masalah etika dan argumen memungkinkan praktisi untuk mendapatkan keputusan
tentang tindakan mereka dan untuk membantu memperjelas situasibagi pasien dan
keluarga merekaTantangan yang dihadapi oleh para perawat profesional kesehatan
dalam perawatanpaliatif sering berfokus pada isu-isu etika tertentu pada akhir
kehidupan, seperti keputusanberkaitan dengan kelanjutan pemberian hidrasi buatan,
obat-obatan tertentu dan pemberianmakanan buatan. Etika dapat memberikan dasar
untuk menentukan apakah keputusan yangdibuat tentang perawatan, pengobatan dapat
diperbolehkan secara etis.Keputusan rumit akan terjadi ketika otonomi pribadi pasien
berkurang.
4. Melalui proses komunikasi terapeutik merupakan inti dari pendekatan
psikososial dalam perawatan paliatif :
Bekerja bersama dalam tim sebagai bagian dari tim interprofesional merupakan hal
yang sangat vital untuk dapat melakukan praktik atau intervensi yang baik terhadap
pasien. Perawat di tuntut memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik untuk
dapat melakukan asuhan keperawatan secara langsung pasien dalam kondisi apapun
dan kapanpun, sehingga perawat dapat bertindak dan mengambil keputusan yang tepat
sesuai kondisi pasien. Perawat harus dapat bekerja dengan baik dan sukses dalam area
perawatan paliatif , dan metode baik yang harus dijaga adalah keterampilan
intrapersonal.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:


812/Menkes/SK/VII/2007tentang Kebijakan Perawatan Paliatif.

Becker, R. (2015). Fundamental Aspects of Palliative Care Nursing: An Evidence-Based


Handbook for Student Nurses2nd Edition.Andrews UKLimited.

Breaden, K. (2011). Teaching palliative care across cultures: The singapore experience. Indian
Journal of Palliative Care,17 (4), 23

Anda mungkin juga menyukai