Anda di halaman 1dari 11

NAMA : INDIRA NINGRUM

NIM : 030194984
1. Jelaskan yang dimaksud dengan pegawai daerah dan berikan contohnya!

Jawab : PNS daerah merupakan PNS yang dalam kesehariannya dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD), baik itu APBD provinsi maupun APBD Kabupaten/Kota.PNS daerah ini dipimpin langsung oleh
Bupati/Walikota/Gubernur setempat sehingga segala proses birokrasi yang terjadi di dalamnya menjadi tanggung jawab
pimpinan tersebut.
Contoh : sekretariat daerah ,bupati

2. Jelaskan bagaimanakah cara mengisi formasi pegawai daerah, pemberhentiannya dan pembinaannya?

Jawab : Agar satuan-satuan organisasi mempunyai jumlah, susunan pangkat dan mutu Pegawai Negeri Sipil yang cukup sesuai
dengan jenis, sifat dan besarnya beban tugas, maka ditetapkan formasi Pegawai Negeri Sipil.

DASAR HUKUM
a. Undang Undang Nomor 8 tahun 1974 Tentang Pokok Pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan Undang
Undang Nomor 43 Tahun 1999
b. Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000 Tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil Juncto Peraturan Pemerintah Nomor 54
Tahun 2003 .
c. Keputusan Kepala BKN Nomor 09 Tahun 2001 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000
Tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil

Formasi masing-masing satuan organisasi negara disusun berdasarkan analisis kebutuhan dan penyediaan pegawai sesuai
dengan jabatan yang tersedia dengan memperhatikan informasi jabatan.

Pemberhentian terdiri atas :

1. Pemberhentian sebagai Pegawai Negeri Sipil dan


2. pemberhentian dari jabatan negeri.

Pemberhentian sebagai Pegawai Negeri Sipil adalah pemberhentian yang menyebabkan yang bersangkutan tidak lagi
berkedudukan sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Pemberhentian dari jabatan negeri adalah pemberhentian yang menyebabkan yang bersangkutan tidak lagi bekerja pada suatu
satuan organisasi Negara, tetapi masih berkedudukan sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Jenis-Jenis Pemberhentian Sebagai Pegawai Negeri Sipil. Pemberhentian sebagai Pegawai Negeri Sipil terdiri atas
pemberhentian dengan hormat sebagai Pegawai Pegawai Negeri Sipil dan pemberhentian tidak dengan hormat sebagai
Pegawai Negeri Sipil.

Pegawai Negeri Sipil yang diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil menerima hak-hak kepegawaiannya
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku antara lain hak atas pensiun. Pegawai Negeri Sipil yang
diberhentikan tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil, kehilangan hak-hak kepegawaiannya antara lain pensiun.

Pemberhentian Dengan Hormat Sebagai Pegawai Negeri Sipil Pemberhentian dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil
meliputi :

1. Meninggal Dunia
NAMA : INDIRA NINGRUM
NIM : 030194984
2. Atas Permintaan sendiri.

Pada prinsipnya Pegawai Negeri Sipil yang mengajukan permintaan berhenti, dapat diberhentikan dengan hormat sebagai
Pegawai Negeri Sipil. Permintaan berhenti tersebut dapat ditunda untuk paling lama 1 tahun, apabila kepentingan dinas yang
mendesak. Permintaan berhenti dapat ditolak apabila Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan masih terikat dalam keharusan
bekerja pada Pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, atau masih ada sesuatu hal yang harus
dipertanggungjawabkan.

1. Mencapai Batas Usia Pensiun

Batas Usia Pensiun (BUP) Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada dasarnya telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 32
Tahun 1979 tentang Pemberhentian PNS, yaitu 56 (lima puluh enam) tahun. Dan PP Nomor 32 Tahun 1979 ini telah dua kali
mengalami perubahan yaitu dengan PP Nomor 1 Tahun 1994 dan PP Nomor 65 Tahun 2008. Perpanjangan usia pensiunan
sendiri terbagi menjadi tiga bagian yakni:

1. Perpanjangan batas usia pensiun sampai 65 tahun untuk PNS yang memangku jabatan peneliti madya dan peneliti
utama dengan tugasnya secara penuh di bidang penelitian atau jabatan lain yang ditentukan oleh Presiden. Kemudian
perpanjangan batas usia pensiun bagi PNS yang memangku jahatan struktural Eselon I tertentu pada saat sampai dengan 62
(enam puluh dua) tahun, memperhatikan dengan tegas persyaratan sebagai berikut :
 Memiliki keahlian dan pengalaman yang sangat dibutuhkan organisasi;
 Memiliki kinerja yang baik;
 Memiliki moral dan integritas yang baik dan;
 Sehat jasmanl dan rohani yang dibuktikan oleh keterangan dokter.
 Ditetapkan dengan Keputusan Presiden atas usul Pimpinan Instansi/lembaga setelah mendapat
pertimbangan dari Tim Penilai Akhir Pengangkatan, Pemindahan dan Pemberhentian Jabatan Struktural Eselon 1.
2. Usia pensiun sampai 60 tahun untuk PNS yang memangku golongan struktural eselon I dan II serta jabatan dokter
yang ditugaskan secara penuh pada unit pelayanan kesehatan negeri dan jabatan pengawas sekolah menengah atas atau
jabatan lain yang ditentukan oleh Presiden.
3. Usia pensiun 58 tahun untuk PNS yang menjadi hakim pada Mahkamah Pelayaran dan jabatan lain yang ditentukan
Presiden.

Sesuai dengan PP Nomor 32 Tahun 1979, BUP dapat diperpanjang bagi PNS yang memangku jabatan tertentu. Jabatan-
jabatan tertentu yang diduduki PNS yang dapat diperpanjang BUP-nya ada yang diatur dalam PP Nomor 32 Tahun 1979 dan
ada diatur dalam Keputusan Presiden / Peraturan Presiden.

Perpanjangan BUP bagi PNS yang telah diatur dalam PP Nomor 32 Tahun 1979, antara:

1. 65 (enam puluh lima) tahun bagi PNS yang memangku jabatan Ahli Peneliti dan Peneliti;
2. 60 (enam puluh) tahun bagi PNS yang memangku jabatan : Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen, Pejabat
Struktural Eselon I, Pejabat Struktural Eselon II, Dokter yang ditugaskan secara penuh pada Lembaga Kedokteran Negeri sesuai
profesinya.

Perpanjangan BUP bagi PNS yang telah diatur dalam Keputusan Presiden / Peraturan Presiden, antara lain :

1. 65 (enam puluh lima) tahun bagi PNS yang menduduki jabatan fungsional Pustakawan Utama; Widyaiswara Utama;
Pranata Nuklir Utama; Pengawas Radiasi Utama;
2. 60 (enam puluh) tahun bagi PNS yang menduduki jabatan Fungsional Pemeriksa Pajak (jenjang tertentu); Penilai
Pajak Bumi dan Bangunan (jenjang tertentu);Penyuluh Pertanian (jenjang tertentu); Sandiman (jenjang tertentu); Penyelidik
Bumi Utama dan Madya.

Selain diatur dalam PP dan Keputusan Presiden / Peraturan Presiden, juga terdapat pengaturan BUP PNS yang diatur dalam
Undang-Undang, antara lain :
NAMA : INDIRA NINGRUM
NIM : 030194984
1. 65 (enam puluh lima) tahun bagi PNS yang menduduki jabatan :
1. Dosen, sedangkan bagi Profesor yang berprestasi dapat diperpanjang sampai dengan 70 (tujuh puluh) tahun
(UU Nomor 14 Tahun 2005);
2. Ketua, Wakil Ketua, dan Hakim Tingkat Banding di lingkungan Peradilan Umum,PTUN, dan Agama (UU
Nomor 8 Tahun 2004, UU Nomor 9 Tahun 2004, dan UU Nomor 3 Tahun 2006).
2. 62 (enam puluhdua) tahun bagi PNS yang menduduki jabatan :
1. Ketua, Wakil Ketua, dan Hakim Tingkat Pertama di lingkungan Peradilan Umum,PTUN, dan Agama (UU
Nomor 8 Tahun 2004, UU Nomor 9 Tahun 2004, dan UU Nomor 3Tahun2006);
2. Jaksa(UU Nomor 16 Tahun 2004).
3. 60 (enam puluh) tahun bagi PNS yang menduduki jabatan Guru (UU Nomor 14 Tahun 2005)

Dengan PP Nomor 65 Tahun 2008, maka bagi PNS yang menduduki jabatan struktural eselon I tertentu, BUP dapat
diperpanjang sampai dengan 62 (enam puluh dua) tahun. Adapun perpanjangan sebagaimana dimaksud dilaksanakan dengan
persyaratan sebagaimana yang telah di sebutkan di atas. Dan Perpanjangan BUP sampai dengan 62 (enam puluh dua) tahun
ditetapkan dengan Keputusan Presiden atas usul Pimpinan Instansi/Lembaga setelah mendapat pertimbangan dari Tim Penilai
Akhir Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian dalam dan dari Jabatan Struktural Eselon I.

Perpanjangan BUP sampai dengan 62 (enam puluh dua) tahun dilakukan secara selektif bagi PNS yang menduduki jabatan
struktural eselon I yang sangat strategis. Dengan demikian, tidak semua PNS yang menduduki jabatan struktural eselon I dapat
diperpanjang BUP-nya sampai dengan 62 (enam puluh dua) tahun.

4. Adanya Penyederhanaan Organisasi

Perubahan satuan organisasi negara adakalanya mengakibatkan kelebihan pegawai. Apabila terjadi hal yang sedemikian maka
Pegawai Negeri Sipil yang kelebihan itu disalurkan pada satuan organisasi negara lainnya. Kalau penyaluran dimaksud tidak
mungkin dilaksanakan, maka Pegawai Negeri Sipil yang kelebihan itu diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri
Sipil atau dari jabatan negeri dengan mendapat hak-hak kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

5. Pemberhentian Karena Tidak Cakap Jasmani Dan Rohani Berdasarkan peraturan undang-undangan yang
berlakuyang dinyatakan dengan surat Keterangan Tim Penguji Kesehatan dinyatakan:
1. Tidak dapat berkerja lagi dalam semua Jabatan Negeri karena kesehatannya.
2. Menderita penyakit atau kelainan yan berbahaya bagi diri sendiri atau lingkungan kerjanya.

Pegawai Negeri Sipil Dapat Diberhentikan Dengan Hormat Atau Tidak Hormat karena :

1. Melanggar Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil dan Sumpah/Janji Jabatan Selain Pelanggaran sumpah/janji Pegawai
Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan karena tidak setia kepada Pancasila, UUD 1945, Negara dan Pemerintah; atau
2. Dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap
karena melakukan tindak pidana kejahatan yang ancaman hukumannya kurang dari 4 (empat) tahun.

Pegawai Negeri Sipil Dapat Diberhentikan Dengan Hormat Tidak Atas Permintaan Sendiri Atau Tidak Dengan Hormat karena :

1. Dihukum penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap karena
melakukan tindak pidana kejahatan yang ancaman hukumannya 4 tahun atau lebih; atau
2. Melakukan pelanggaran disiplin tingkat berat

Pegawai Negeri Sipil Diberhentikan Tidak Dengan Hormat karena :

1. Melanggar sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan karena tidak setia kepada Pancasila, Undang-
Undang Dasar 1945, Negara, dan Pemerintah;
NAMA : INDIRA NINGRUM
NIM : 030194984
2. Melakukan penyelewengan terhadap Ideologi Negara, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 atau terlibat dalam
kegiatan yang menentang Negara dan Pemerintah; atau
3. Dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap
karena melakukan tindak pidana kejahatan jabatan atau tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan.

 Pemberhentian Karena Meninggalkan Tugas

Pegawai Negeri Sipil yang meninggalkan tugasnya secara tidak sah dalam waktu 2 bulan terus menerus dihentikan pembayaran
gajinya mulai bulan ketiga. Apabila dalam waktu kurang dari 6 bulan melaporkan diri kepada pimpinan instansinya, maka ia
dapat ditugaskan kembali jika ada alasan-alasan yang dapat diterima atau diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai
Negeri Sipil apabila ketidakhadirannya itu adalah karena kelalaian sendiri, dan menurut pendapat pejabat yang berwenang akan
mengganggu suasana kerja jika ia ditugaskan kembali.

Pegawai Negeri Sipil yang meninggalkan tugas secara tidak sah terus menerus selama 6 bulan diberhentikan tidak dengan
hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.  Pemberhentian tersebut ditetapkan berlaku mulai tanggal penghentian pembayaran
gajinya dan gaji selama 2 bulan sejak ia tidak masuk bekerja diberikan kepadanya Pemberhentian Karena Meninggal Dunia Atau
Hilang.

Pegawai Negeri Sipil yang meninggal dunia dengan sendirinya dianggap diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri
Sipil. Untuk kelengkapan tata usaha kepegawaian maka pimpinan instansi yang bersangkutan serendah-rendahnya Kepala Sub
Bagian atau pejabat lain yang setingkat dengan itu membuat surat keterangan meninggal dunia. Pegawai Negeri Sipil yang
hilang dianggap telah meninggal dunia pada akhir bulan ke-12 sejak ia dinyatakan hilang. Berdasarkan berita acara atau surat
keterangan dari pejabat yang berwajib, maka pejabat yang berwenang membuat surat pernyataan hilang. Surat pernyataan
hilang dibuat selambat-lambatnya pada akhir bulan kedua sejak yang bersangkutan hilang. Pejabat yang membuat adalah
Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, Pimpinan Lembaga Pemerintah Non
Departemen, Gubernur, Bupati/Walikota atau pejabat lain yang ditunjuk.

Pegawai Negeri Sipil yang telah dinyatakan hilang, yang sebelum melewati masa 12 bulan diketemukan kembali dan masih
hidup dan sehat, dipekerjakan kembali sebagai Pegawai Negeri Sipil. Pegawai Negeri Sipil yang telah dinyatakan hilang yang
belum melewati masa 12 bulan diketemukan kembali, tetapi cacat diperlakukan sebagai berikut:

1. Diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan hak pensiun apabila ia telah memiliki masa kerja
sekurang-kurangnya 4 tahun, tetapi apabila ia belum memiliki masa kerja sekurang-kurangnya 4 tahun maka ia diberhentikan
dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil tanpa hak pensiun.
2. Apabila hilangnya dan cacatnya itu disebabkan dalam dan oleh karena ia menjalankan kewajiban jabatannya, maka ia
diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan hak pensiun tanpa memandang masa kerja.

Pegawai Negeri Sipil yang telah dinyatakan hilang diketemukan kembali setelah melewati masa 12 bulan diperlakukan sebagai
berikut:

1. Apabila ia masih sehat, dipekerjakan kembali;


2. Apabila tidak dapat bekerja lagi, dalam semua jabatan Negeri berdasarkan surat keterangan Tim Penguji Kesehatan,
diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan mendapat hak-hak kepegawaian sesuai dengan peraturaan
perundang-undangan yang berlaku.

 Catatan: Hilang adalah suatu keadaan bahwa seseorang di luar kemauan dan kemampuannya tidak diketahui tempatnya
berada dan tidak diketahui apakah ia masih hidup atau telah meninggal dunia.

 Pemberhentian Karena Sebab-Sebab Lain:


NAMA : INDIRA NINGRUM
NIM : 030194984
1. Pegawai Negeri Sipil yang tidak melaporkan diri kepada pimpinan instansi induknya 6 bulan setelah habis
menjalankan cuti di luar tanggungan negara, diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.
2. Pegawai Negeri Sipil yang terlambat melaporkan diri kembali kepada instansi induknya setelah habis menjalankan cuti
di luar tanggungan negara diperlakukan sebagai berikut:
1. Apabila keterlambatan melaporkan diri itu kurang dari 6 bulan maka Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan
dapat dipekerjakan kembali apabila alasan-alasan tentang keterlambatan melaporkan diri itu dapat diterima oleh pejabat
yang berwenang dan ada lowongan dan setelah ada persetujuan Kepala BKN.
2. Apabila keterlambatan melaporkan diri itu kurang dari 6 bulan tetapi alasan-alasan tentang keterlambatan
melaporkan diri itu tidak dapat diterima oleh pejabat yang berwenang maka Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan
diberhentikan sebagai Pegawai Negeri Sipil.
3. Apabila keterlambatan melaporkan diri itu lebih dari 6 bulan maka Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan
harus diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Pemberhentian Karena Pegawai Negeri Sipil Menjadi Anggota/Pengurus Partai Politik Dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun
1999 dinyatakan bahwa Pegawai Negeri dilarang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik. Pegawai Negeri Sipil yang
akan menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik wajib mengundurkan diri sebagai Pegawai Negeri Sipil, yang diajukan
secara tertulis kepada Pejabat Pembina Kepegawaian dan tembusannya disampaikan kepada:

1. Atasan langsung Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan, serendah-rendahnya pejabat struktural eselon IV;
2. Pejabat yang bertanggung jawab di bidang kepegawaian instansi yang bersangkutan;
3. Pejabat yang bertanggung jawab di bidang keuangan yang bersangkutan.

Pegawai Negeri Sipil yang mengundurkan diri tersebut diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.
Pemberhentiannya terhitung mulai akhir bulan yang bersangkutan mengajukan pengunduran diri.

Pegawai Negeri Sipil yang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik tanpa mengundurkan diri sebagai Pegawai Negeri
Sipil diberhentikan tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Pegawai Negeri Sipil yang mengundurkan diri yang ditangguhkan pemberhentiannya, tetapi tetap menjadi anggota dan/atau
pengurus partai politik diberhentikan tidak dengan hormat. Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil sebagaimana tersebut di atas
berlaku terhitung mulai akhir bulan yang bersangkutan menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik.

 Pemberhentian Sementara

Untuk kepentingan peradilan seorang Pegawai Negeri yang didakwa telah melakukan suatu kejahatan/pelanggaran jabatan dan
berhubung dengan itu oleh pihak yang berwajib dikenakan tahanan sementara, mulai saat penahanannya harus dikenakan
pemberhentian sementara. Seorang Pegawai Negeri yang oleh pihak berwajib dikenakan tahanan sementara karena didakwa
telah melakukan suatu pelanggaran hukum pidana yang tidak menyangkut pada jabatannya dalam hal pelanggaran yang
dilakukan itu berakibat hilangnya penghargaan dan kepercayaan atas diri pegawai yang bersangkutan atau hilangnya martabat
serta wibawa pegawai itu.

Tujuan pemberhentian sementara terutama untuk mengamankan kepentingan peradilan dan juga untuk kepentingan jawatan
(instansi).

Selama pemberhentian sementara kepada Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan diberikan penghasilan sebagai berikut:

1. Jika ada petunjuk-petunjuk yang cukup meyakinkan bahwa yang bersangkutan telah melakukan pelanggaran yang
didakwakan atas dirinya, mulai bulan berikutnya ia diberhentikan diberikan bagian gaji sebesar 50% dari gaji pokok yang
diterimanya terakhir;
2. Jika belum terdapat petunjuk-petunjuk yang jelas tentang telah dilakukannya pelanggaran yang didakwakan atas
dirinya mulai bulan berikutnya ia diberhentikan diberikan bagian gaji sebesar 75 % dari gaji pokok yang diterimanya terakhir.
NAMA : INDIRA NINGRUM
NIM : 030194984
Jika sesudah pemeriksaan oleh pihak yang berwajib pemberhentian sementara ternyata tidak bersalah maka pegawai itu harus
segera diangkat dan dipekerjakan kembali pada jabatannya semula, dalam hal yang demikian selama masa diberhentikan untuk
sementara ia berhak mendapat gaji penuh serta penghasilan-penghasilan lain yang berhubungan dengan t unjangan istri dan
jabatannya. Jika sesudah pemeriksaan pegawai yang nrdifipdih bersangkutan ternyata bersalah maka:

1. Terhadap pegawai yang dikenakan pemberhentian sementara tersebut harus diambil tindakan pemberhentian
sedangkan bagian gaji berikut tunjangan-tunjangan yang telah dibayarkan kepadanya tidak dipungut kembali.
2. Terhadap pegawai yang dikenakan pemberhentian sementara tersebut jika perlu diambil tindakan harus diambil
tindakan sesuai dengan pertimbangan/keputusan Hakim .

Jika berdasarkan keputusan pengadilan telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap dinyatakan tidak bersalah maka Pegawai
Negeri Sipil yang bersangkutan harus direhabilitasikan terhitung mulai saat diberhentikan sementara dan gaji dibayarkan penuh.
Jika ternyata yang bersangkutan dinyatakan bersalah, diberhentikan sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan tidak hormat.
Pegawai Negeri Sipil yang dikenakan pemberhentian sementara:

1. Pada saat ia mencapai batas usia pensiun diberhentikan pembayaran bagian gajinya;
2. Apabila kemudian ia tidak bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang
tetap, diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan mendapat hak-hak kepegawaian berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku terhitung sejak akhir bulan dicapainya batas usia pensiun.
3. Jika ternyata tindak pidana yang dilakukan tersebut diancam hukuman penjara kurang dari 4 tahun dan ada hal-hal
yang meringankan maka yang bersangkutan dapat diaktifkan kembali sebagai Pegawai Negeri Sipil, namun tidak tertutup
kemungkinan yang bersangkutan dijatuhi hukuman disiplin atau tindakan administratif lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Untuk pembinaan Pegawai Negeri Sipil secara nasional dibangun dan dikembangkan tata laksana jaringan informasi
kepegawaian antara BKD Propinsi/Kabupaten/Kota dan BKN.

3. Bagaimanakah proses perencanaan kebijakan pemerintah daerah?

Kebijakan Publik, Robert Eyestone yang dikutip dalam (Budi Winarno, 2002) mengatakan bahwa secara luas kebijakan dapat
didefinisikan sebagai hubungan suatu unit pemerintah dengan lingkungannya. Pengertian ini masih sangat luas dan kurang pasti
karena apa yang dimaksud kebijakan dapat mencakup banyak hal.William Dunn seperti dikutip Inu Kencana Syafei (2006)
mengatakan kebijakan adalah suatu rangkaian pilihan-pilihan yang saling berhubungan yang dibuat oleh lembaga atau para
pejabat pemerintah pada bidang-bidang yang menyangkut tugas pemerintah. Pengertian kebijakan publik menurut Chandler dan
Plano (1988) dapat diklasifikasikan sebagai intervensi pemerintah. Dalam hal ini pemerintah mendayagunakan berbagai
instrumen yang dimiliki untuk mengatasi persoalan publik.
Secara mudah dapat dikatakan kebijakan publik adalah usaha pemerintah untuk mengatasi permasalahan-permasalahan publik.
Penyelesaian permasalahan-permasalahan publik oleh negara yang dalam hal ini diwakili pemerintah diwujudkan dalam bentuk
fungsi pelayanan. Fungsi pelayanan kepada masyarakat oleh pemerintah dilakukan melalui alokasi kebijakan publik di mana
alokasi kebijakan publik dirumuskan bersama antar pelaku yang terlibat di dalam sistem pemerintahan.
Pada pelaksanaannya proses kebijakan publik dalam setiap tahapnya merupakan kegiatan yang begitu kompleks didalamnya
yang melibatkan pihak-pihak dengan berbagai kepentingan mereka masing-masing dan kerumitan bisa bertambah ketika
kebijakan tidak dirumuskan secara jelas sebagai akibat kompromi-kompromi politik yang mewarnai proses perumusan kebijakan
tersebut. Kondisi yang demikian akan melahirkan konsekuensi terjadinya deviasi atas tujuan kebijakan atau program yang telah
ditetapkan seperti dikatakan Hogwood dalam (Purwanto, 2012) kebijakan publik lebih banyak gagal atau paling tidak kebijakan
publik tidak terwujud secara sempurna ketika diimplementasikan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses kebijakan publik, berbagai indikator yang dapat digunakan untuk menurut Hogwood
sebagaimana dikutip Purwanto (2012) kenyataan proses kebijakan publik yang sempurna tidak pernah terwujud dikarenakan
beberapa hal, yaitu :
NAMA : INDIRA NINGRUM
NIM : 030194984
1. Ada hambatan eksternal. Kegagalan implementasi bukan karena lemahnya kebijakan, namun bisa jadi karena faktor-
faktor diluar organisasi;
2. Waktu dan sumber daya yang tidak tersedia secara memadai;
3. Kebijakan yang tidak didasarkan pada landasan pemikiran (teoritis) yang kuat tentang hubungan sebab akibat antara
kebijakan dan hasil yang akan dicapai;
4. Hubungan sebab akibat antara kebijakan dengan hasil jarang bersifat langsung. Sering kali terjadi satu kebijakan akan
menimbulkan dampak dalam waktu yang lama;
5. Lembaga pelaksana jarang yang mandiri, mereka sangat tergantung pada aktor yang lain;
6. Jarang ada kesepakatan yang umum di antara para aktor tentang tujuan kebijakan dan cara mencapainya;
7. Jarang ada satu kondisi terjadinya komunikasi dan koordinasi yang sempurna.

 
1.      Perencanaan Pembangunan Daerah

Perencanaan Pembangunan Daerah menurut Deddy Supriyadi (2004) didefinisikan sebagai suatu proses penyusunan tahapan-
tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur di dalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber-sumber daya
yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah daerah dalam waktu tertentu.
Pendekatan yang digunakan dalam perencanaan pembangunan daerah adalah dalam penyusunan perencanaan pembangunan
daerah dikehendaki memadukan pendekatan teknokratis, demokratis, partisipatif, politis, bottom up dan top down process.
Penyusunan ini bermakna bahwa perencanaan daerah selain memenuhi kaidah penyusunan rencana yang sistematis, terpadu,
transparan dan akuntabel  dan konsisten dengan rencana lain yang relevan, kepemilikan rencana ( sense of ownership) juga
menjadi aspek yang perlu diperhatikan. Keterlibatan stakeholder  dan legislatif dalam proses pengambilan keputusan
perencanaan menjadi sangat penting untuk memastikan rencana yang disusun mendapatkan dukungan optimal bagi
implementasinya.
 
Pembahasan

Didalam Sub bab ini disajikan uraian pembahasan bagaimana kendala dan permasalah penyebab distorsi kebijakan publik yang
dirumuskan oleh Hogwood dalam proses pembangunan daerah.
1.  Hambatan Eksternal

Kegagalan implementasi belum tentu dikarenakan karena lemahnya kebijakan, namun bisa jadi karena faktor-faktor diluar
organisasi. Seringkali antara lembaga perencana kebijakan dan lembaga teknis pelaksana kebijakan memiliki gap karena
ketergantungan dengan pihak lain. Sebagai contoh pada beberapa program pengentasan kemiskinan untuk menentukan
sasaran program diperlukan data dan informasi dari instansi diluar pemerintah daerah.
Ketersediaan data informasi yang dikeluarkan oleh lembaga diluar pemerintah daerah dalam hal waktu seringkali momennya
tidak bertepatan dengan kapan data itu dibutuhkan. Ketika proses perecanaan program/kegiatan membutuhkan data sering data
tidak setrta merta tersedia. Dari sisi kelengkapan data juga sering mengalami kendala, kebutuhan suatu datauntuk proses
analisis sangat tergantung dengan pihak lain. Sebagai contoh BPS adalah lembaga di luar pemerintah daerah yang berwenang
menyediakan data statistik dasar. Kebutuhan data-data yang dihasilkan BPS sangat tinggi sedangkan ketersediaannya tentunya
menunggu release dari BPS.
2. Waktu Dan Sumber Daya

Proses perumusan perencanaan kebijakan yang dilakukan harus mensinergikan tatakelola waktu dari masing-masing aktor.
Idealnya pelaksanaan perumusan rencana pembangunan dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkatan desa sampai dengan
provinsi, akan tetapi masalah-masalah yang terjadi di lapangan menyebabkan tidak semua pedoman pelaksanaan dapat dilalui
dengan baik. Hal tersebut masih ditambah dengan perumusan kebijakan di tingkat provinsi harus disinergikan dengan kebijakan
dari pusat sedangkan tatakala waktunya kadang tidak bertepatan. Kendala waktu seperti dicontohkan di atas tentunya akan
membawa dampak seperti terjadinya distorsi atas berbagai hal yang dibutuhkan dalam perumusan kebijakan.
NAMA : INDIRA NINGRUM
NIM : 030194984
Tidak semua aktor yang terlibat dalam proses kebijakan memiliki sumber daya yang sama baik itu SDM maupun sumber daya
yang lain. Keterbatasan SDM maupun sumber daya lainnya akan mempengaruhi perumusan kebijakan mana saja yang perlu
diprioritaskan atau didahulukan. Jika kapasitas SDM tidak mendukung seringkali para aktor tidak bisa secara ideal merumuskan
kebijakan.
 
3. Kebijakan yang tidak didasarkan pada landasan pemikiran (teoritis) yang kuat tentang hubungan sebab akibat antara
kebijakan dan hasil yang akan dicapai

Keterbatasan waktu pada akhirnya akan menimbulkan konsekuensi pada kualitas rumusan kebijakan yang dibuat. Proses
kebijakan memerlukan waktu yang ideal dalam perumusannya sehingga analisa-analisa yang diperlukan dalam proses kebijakan
mempunyai kualitas yang baik. Seringkali keterbatasan waktu dan kelengkapan data informasi menyebabkan rumusan kebijakan
yang dibuat tidak didasarkan pada landasan pemikiran teoritis yang kuat dikarenakan analisa-analisa yang dilakukan tidak dapat
dilakukan secara ideal.
Hal tersebut dapat dilihat dalam penyusunan APBD, pada saat perencanaan, besaran anggaran masih sangat indikatif maka
sering disebut sebagai pagu indikatif.  Pada posisi pagu indikatif itulah jumlah yang akan disasar sangatlah terbatas dan selektif
karena proses teknokratis menuntut seperti itu. Namun pada proses berikutnya yaitu penganggaran (KUA PPAS dan APBD)
selalu terjadi perubahan kemampuan keuangan daerah (kepastian DAU, DAK dan Dana Perimbangan lainnya), sehingga
menimbulkan perubahan pagu indikatif menjadi plafon anggaran dan selanjutnya menjadi definitif anggaran (DPA). Perubahan
rupiah tentunya memicu perubahan tolok ukur kinerja yang telah ditetapkan sebelumnya.
Perubahan-perubahan yang terjadi seharusnya juga ditindaklajuti dengan penyesuaian-penyesuaian pada beberapa hal.
Keterbatasan waktu sumber daya tentunya akan mempengaruhi kualitas analisa, dampak selanjutnya pemikiran teoritis  yang
kuat tentang hubungan sebab akibat antara kebijakan dan hasil yang akan dicapai tidak mendasari kebijakan yang dirumuskan.
4. Lembaga Pelaksana Jarang yang Mandiri

Lembaga pelaksana teknis kebijakan jelas terlihat tidak bisa mandiri. Intervensi dari pihak ekternal pelaksana teknis,
keterbatasan waktu, keterbatasan data dan informasi membuat pelaksana akhirnya justru melaksanakan kepentingan pihak
yang lebih dominan. Pelaksana teknis kebijakan tidak bisa secara kuat kemandiriannya dalam  melaksanakan kebijakan.
Padahal seharusnya jika menyangkut sasaran dari kebijakan  tentunya lembaga pelaksana teknis yang memiliki dasar
pengetahuan yang paling dominan.
Ketergantungan pelaksana teknis  kebijakan terhadap pihak lain dapat dilihat dalam penentuan sasaran suatu program/kegiatan.
Contoh yang jelas dapat dilihat dalam beberapa program kegiatan pengentasan kemiskinan. Sasaran program/kegiatan
ditentukan oleh satu lembaga yang ditunjuk Pemerintah (BPS), kebutuhan data/informasi penerima program tidak serta merta
dapat disediakan oleh BPS, kenyataannya prosedur untuk mendapatkan data tidak selalu mudah.
5. Jarang ada kesepakatan yang umum di antara  para aktor tentang tujuan kebijakan dan cara mencapainya

Salah satu tahapan penting dalam proses perencanaan tahunan pemerintah daerah adalah penyusunan dokumen RKPD
(Rencana Kerja Pemerintah Daerah). Dokumen RKPD yang merupakan penjabaran dari RPJMD (Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah) dan mengacu pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Pemerintah Pusat yang memuat rancangan
kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah, rencana kerja dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung
oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Penjabaran RPJMD dimaksud bertujuan
untuk mewujudkan pencapaian visi, misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah.
NAMA : INDIRA NINGRUM
NIM : 030194984

Dokumen RKPD mempunyai nilai sangat strategis dan penting, karena dokumen ini merupakan instrumen pelaksanaan RPJMD
hasil proses teknokratis. Selain itu, dokumen RKPD merupakan acuan penyusunan Rencana Kerja Satuan Kerja Pereangkat
Daerah (Renja SKPD), berupa program/kegiatan SKPD dan/atau lintas SKPD. Dokumen RKPD ini juga dapat digunakan untuk
menjaga konsistensi program dan sinkronisasi pencapaian sasaran RPJMD. RKPD merupakan landasan penyusunan KUA dan
PPAS (Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas & Plafon Anggaran Sementara) untuk menyusun RAPBD, dan merupakan
pedoman dalam mengevaluasi rancangan peraturan daerah tentang APBD.
RKPD menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan RAPBD yang dibuat oleh Kepala Daerah, DPRD dan SKPD sendiri
dalam pembuatan kebijakan umum terkait rancangan anggaran di daerah. RKPD menjadi literatur utama dalam pembuatan
anggaran dikarenakan di dalam dokumennya sudah memuat rencana kinerja selama satu tahun dari seluruh SKPD di level
pemerintah daerah. RKPD membantu memberikan sumber informasi mengenai perkembangan capaian program yang sudah
dilakukan oleh SKPD, mengetahui SKPD mana yang indikatornya belum terpenuhi,
mengetahui besaran serapan dana yang dikeluarkan oleh SKPD, mengetahui kapasitas anggaran yang dimiliki pemerintah
dalam pembuatan skala prioritas kerja SKPD dan mengetahui setiap persoalan-persoalan yang sifatnya publiknes dan segera
membutuhkan respon langsung dari pemerintah daerah.
NAMA : INDIRA NINGRUM
NIM : 030194984

Secara umum perencanaan dan pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan daerah sangat dipengaruhi oleh dua faktor
utama, yang pertama adalah para pihak yang terlibat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program dan kegiatan, dan
yang kedua adalah bagaimana proses perencanaan dan pelaksanaan program dan kegiatan itu berjalan.
Pihak yang paling berpengaruh terlibat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan
daerah saat ini mencakup pemerintah dan masyarakat (termasuk di dalamnya wakil rakyat). Sedangkan dinamika yang paling
berpengaruh terhadap perencanaan dan pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan daerah adalah proses politisnya
(dibanding teknokratisnya). Oleh karena itu faktor politis sesungguhnya sangat dominan dalam proses perencanaan maupun
pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan daerah.

Dengan melihat gambar di atas, sesungguhnya proses politis terlihat sangat mewarnai di setiap tahapan perencanaan dan
penganggaran program pembangunan daerah. Produk-produk perencanaan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah menjadi
produk politis hasil kerja panitia khusus Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). DPRD dengan hak budget-nya akan sangat
mewarnai proses politis dalam penyusunan KUA PPAS sampai dengan penyusunan APBD.
Konsistensi menjadi kata kunci dari setiap proses pembangunan daerah agar sasaran pembangunan dapat tercapai. Namun
demikian dalam perjalanan proses penyusunan kebijakan perencanaan dan penganggaran sering terdapat ketidak konsistenan.
Konsistensi terendah biasanya pada keterkaitan dokumen RKPD dan APBD, karena tidak selamanya proses teknokratis sejalan
dengan proses politisnya.
6. Jarang Ada Satu Kondisi Terjadinya Komunikasi Dan Koordinasi Yang Sempurna
NAMA : INDIRA NINGRUM
NIM : 030194984
Proses perencanaan Program/kegiatan terpisah dari penganggaran, hal tersebut menimbulkan ketidakjelasan informasi besaran
anggaran. Implikasi dari hal tersebut adalah para aktor yang terlibat didalam proses perencanaan seringkali membuat usulan
sebanyak-banyaknya agar kemungkinan usulan yang disetujui juga semakin banyak. Terpisahnya proses perencanaan dan
anggaran ini juga berlanjut pada saat memerankan perannya sesuai dengan kapasitasnya masing-masing, pembagian kerja,
hubungan kerja, delegasi wewenang, integrasi, dan koordinasi. Prinsip alokasi kebijakan yaitu efektif dan efisien tentunya tidak
akan mudah diwujudkan.

4.  Jelaskan cara mengevaluasi kebijakan menurut Finance (1994:4 dalam Badjuri dan Yuwono, 2002: 135)
Menurut Finance (1994:4) ada empat dasar tipe evaluasi sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai. Keempat tipe ini adalah
evaluasi kecocokan (appropriateness evaluation), evaluasi efektivitas (effectiveness evaluation), evaluasi efisiensi (efficiency
evaluation) dan evaluasi meta (meta-evaluations). Evaluasi kecocokan (appropriateness) menguji dan mengevaluasi tentang
apakah kebijakan yang sedang berlangsung cocok untuk dipertahankan ? juga, apakah kebijakan baru dibutuhkan untuk
mengganti kebijakan ini ? pertanyaan pokok dalam evaluasi kecocokan ini adalah siapakah semestinya yang menjalankan
kebijakan publik tersebut pemerintah atau sektor swasta ? Jawaban atas pertanyaan ini memungkinkan penentuan tingkat
kecocokan implementasi kebijakan. Evaluasi efektivitas menguji dan menilai apakah program kebijakan tersebut menghasilkan
dampak hasil kebijakan yang diharapkan ? Apakah tujuan yang dicapai dapat terwujud ? Apakah dampak yang diharapkan
sebanding dengan usaha yang telah dilakukan ? Tipe evaluasi ini memfokuskan diri pada mekanisme pengujian berdasar tujuan
yang ingin dicapai yang biasanya secara tertulis tersedia dalam setiap kebijakan publik. Evaluasi efisiensi, merupakan pengujian
dan penilaian berdasarkan tolok ukur ekonomis yaitu apakah input yang digunakan telah digunakan dan hasilnya sebanding
dengan output kebijakannya ? Apakah cukup efisien dalam penggunaan keuangan publik untuk mencapai dampak kebijakan ?
Meta evaluasi, menguji dan menilai terhadap proses evaluasi itu sendiri. Apakah evaluasi yang dilakukan lembaga berwenang
sudah profesional ? apakah evaluasi tersebut sensitif terhadap kondisi sosial,