Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH

Telaah Jurnal

Progressive Muscle Relaxation (PMR) Effectiveness of

the Blood Sugar Patients with Type 2 Diabetes

Disusun Oleh

Kelompok B’18

PROGRAM STUDI PROFESI NERS KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Luka bakar merupakan luka yang terjadi akibat sentuhan
permukaan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan panas (api
secara langsung maupun tidak langsung, pajanan suhu tinggi dari
matahari, listrik, maupun bahan kimia, air, dll) atau zat-zat yang bersifat
membakar (asam kuat, basa kuat) (Krisanty, dkk. 2014). Menurut
Hasdianah & Suprapto (2014), luka bakar adalah kerusakan jaringan
permukaan tubuh disebabkan oleh panas pada suhu tinggi yang
menimbulkan reaksi pada seluruh sistem metabolisme. Jadi, luka bakar
merupakan jenis trauma dengan angka morbiditas dan mortalitas tinggi
yang memerlukan suatu penatalaksanaan sebaik-baiknya sejak fase awal
hingga fase lanjut.
Menurut Ardabili,dkk (2016) luka bakar menjadi penyebab utama
keempat trauma dan penyebab paling umum kecacatan dan kematian di
seluruh duni dan merupakan penyebab kematian ketiga akibat kecelakaan
pada semua kelompk umur. Ardabili, dkk.(2016) juga melaporkan bahwa
insiden total luka bakar telah terjadi diperkirakan sekitar 2,4 juta kasus di
berbagai negara yang berbeda, 650.000 dan 75.000 diantaraya memerlukan
perawatan segera dan rawat inap.
2
Menurut Hasdianah & Suprapto (2014) menjelaskan bahwa hingga
tahun 2004, 11 juta kasus luka bakar memerlukan perawatan medis di
seluruh dunia dan menyebabkan 300.000 kematian. Di Amerika Serikat,
diperkirakan 500.000 cidera luka bakar yang mendapatkan perawatan
medis setiap tahunnya. Sedangkan luka bakar karena listrik menyebabkan
sekitar 1000 kematian satu per satu. Sekitar 90% luka bakar terjadi di
negara berkembang, secara keseluruhan hampir 60% dari luka bakar yang
bersifat fatal terjadi di Asia Tenggara dengan tingkat kejadian 11,6 per
100.000 penduduk.
Di indonesia, belum ada angka pasti mengenai kejadian luka bakar,
ini disebabkan karena tidak semua rumah sakit Indonesia memiliki unit
pelayanan luka bakar. Ketua Penghimpunan Luka Bakar dan
Penyembuhan Luka Bakar Indonesia 2015 menyatakan bahwa sepanjang
2012-2014 terdapat 3.518 kasus luka bakar di 14 rumah sakit besar di
Indonesia (www.republika.co.id). Sedangkan di Sumatera Barat,
berdasarkan data yang didapatkan dari ruangan rawat inap Luka Bakar
RSUP DR.M.Djamil Padang, didapatkan pada tahun 2014 kasus luka
bakar mencapai 89 orang, pada tahun 2015 mencapai 106 kasus, pada
tahun 2016 mencapai 86 kasus dan kasus luka bakar dari awal Januari
sampai Agustus 2017 mencapai 60 orang 21 orang di antaranya adalah
kasus luka bakar listrik.
Luka bakar merupakan kejadian trauma yang menyakitkan dan
sering melemahkan, serta tidak nyaman untuk pasien. Untuk mengatasi
3
luka bakar yang terjadi kita perlu mengkolaborasikan obat-obatan
alternatif disamping pengobatan farmakologi.
Menurut penelitian yang dilakukan Jurjus.A, et al (2007)
menyatakan bahwa daun pisang melindungi luka dari trauma dan membuat
luka cepat kering, daun pisang 11 kali lebih murah dibandingkan dengan
perawatan menggunakan BPPB, 150 kali lebih murah dibandingkan
dengan sofratulle (Softramycin Impregnated Gauze), 1750 kali lebih
murah dari kollagendan 5200 kali lebih mudah dengan cangkok kulit
(Balutan Biosintesis). Menurut penelitian Randuxz (2011) mengatakan
bahwa daun pisang mengurangi penguapan cairan karena disana terdapat
lapisan dinding. Daun pisang juga menciptakan sensasi dingin pada kulit
tubuh, tidak melekat pada luka, dan mempunyai permukaan yang lebar
sehingga itu bisa menutupi semua bagian tubuh. Penelitian ini didukung
oleh penelitian yang dilakukan oleh Ali & Bayumi (2015) mengatakan
bahwa balutan luka menggunakan daun pisang memiliki hasil yang
signifikan dalam penyembuhan luka, penggantian balutan pada pasien luka
bakar dengan daun pisang lebih mudah dibandingkan dengan pasien luka
bakar dengan balutan biasa dan waktu penyembuhan luka bakar pada
pasien dengan balutan luka bakar lebih cepat dibandingkan dengan pasien
luka bakar dengan balutan biasa.
Salah satunya alternatif yang dilakukan dengan menggunakan
daun pisang saat ini belum diterapkan di rumah sakit sebagai pengobatan
pendukung. Daun pisang (Musa paradisiaca) telah dikenal sejak lama
sebagai salah satu tanaman yang dapat digunakan dalam perawatan luka
4
bakar karena daun pisang memiliki lapisan lilin, memberikan sensasi
dingin, sangat mudah ditemukan dan dikembangbiakan, dan murah (Evi,
2012). Daun pisang juga mengandung senyawa yang berperan dalam
menstimulasi proses penyembuhan luka bakar seperti flavonoid, tannin,
dan alkaloid (Alisi, 2008).
Berdasarkan jumlah pasien luka bakar rawat inap RSUP.Dr.M
Djamil Padang yang diwawancarai berjumlah 5 orang di ruangan HCU
Luka Bakar. Kebanyakan pasien datang dengan kondisi yang parah,
berdasarkan pengakuan dari pasien mereka sudah dirawat selama lebih
dari sebulan. Mereka berharap ada obat-obatan yang dapat mempercepat
penyembuhan, selain obat dari farmakologi. Oleh sebab itu, penulis akan
menelaah jurnal terkait perawatan alternatif penggunaan daun pisang
terhadap perawatan luka bakar partial.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penulisan jurnal “The Effectivees of Using Banana leaf
Dressing in Management of partial thickness Burn’s Wound”?
2. Bagaimana isi dari jurnal “The Effectivees of Using Banana leaf Dressing
in Management of partial thickness Burn’s Wound”?
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengembangan praktik dan pengetahuan baru terkait
tindakan dalam keefektivitas penggunaan daun pisang terhadap
managemen luka bakar parsial yang harus diketahui dan dipertimbangkan
5
dalam praktik klinis dunia keperawatan agar meningkatnya profesionalitas
keperawatan.
2. Tujuan khusus
a. Diketahui penulisan jurnal “The Effectivees of Using Banana leaf
Dressing in Management of partial thickness Burn’s Wound.
b. Diketahui isi atau konten dari jurnal “The Effectivees of Using
Banana leaf Dressing in Management of partial thickness Burn’s
Wound.
D. Manfaat Penulisan
Penulisaan telaah jurnal ““The Effectivees of Using Banana leaf
Dressing in Management of partial thickness Burn’s Wound” diharapkan
dapat bermanfaat:
1. Bagi Mahasiswa
Sebagai bahan pembelajaran dalam perawatan luka bakar terutama
saat pendidikan di klinik sehingga dapat mengaplikasikan perawatan luka
sesuai dengan prosedur terbaru yang direkomendasikan.
2. Bagi Perawat
Sebagai pengetahuan terbaru dalam praktik klinik yang dapat
mengupgarde profesionalitas dari perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan terutama dalam perawatan luka bakar yang berdasarkan
prosedur yang terbaru dan yang direkomendasikan.
3. Bagi Ruangan
Sebagai bahan pertimbangan dalam memperbarui SPO baru tentang
perawatan luka bakar yang sesuai dengan jurnal penelitian terbaru yang
6
direkomendasikan sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan di
rumah sakit.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Luka Bakar
1. Definisi
Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan
permukaan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan panas (api
secara langsung maupun tidak langsung, pajanan suhu tinggi dari
matahari, listrik, maupun bahan kimia, air, dll) atau zat-zat yang
bersifat membakar (asam kuat, basa kuat) (Krisanty, dkk. 2014). Luka
bakar adalah injury pada jaringan yang disebabkan oleh suhu panas
(thermal), bahan kimia, elektrik dan radiasi (Suryadi, 2004).
Menurut Hasdianah & Suprapto (2014), luka bakar adalah
kerusakan jaringan permukaan tubuh disebabkan oleh panas pada suhu
tinggi yang menimbulkan reaksi pada seluruh sistem metabolisme.
Luka bakar merupakan jenis trauma dengan angka morbiditas dan
mortalitas tinggi yang memerlukan suatu penatalaksanaan sebaik-
baiknya sejak fase awal hingga fase lanjut.
Luka bakar dapat terjadi pada setiap orang muda maupun
orang tua, baik laki-laki maupun perempuan. Luka bakar dapat
bervariasi dari cedera ringan yang dapat dengan mudah dikelola di
klinik rawat jalan, dan untuk luka yang luas dapat mengakibatkan
8
kegagalan sistem organ dan perawatan yang berkepanjangan di rumah
sakit.
2. Etiologi
Menurut Wijaya & Putri (2013), penyebab luka bakar meliputi :
a. Luka Bakar Termal
Agen pencedera dapat berupa api, air panas, atau kontak
dengan objek panas. Luka bakar api berhubungan dengan
asap/cedera inhalasi (cedera terbakar, kontak dan kobaran api).
Adapun luka akibat kontak dengan air panas, semakin kental cairan
dan semakin lama waktu kontaknya, maka semakin besar
kerusakan yang akan ditimbulkan.
b. Luka Bakar Listrik
Luka bakar listrik disebabkan oleh panas yang digerakan
dari energi listrik, baik bolak baliak atau Alternatif Current (AC)
maupun searah atau Direct Current (DC) yang dihantarkan melalui
tubuh. Berat ringannya luka dipengaruhi oleh lamanya kontak,
tingginya voltage dan cara gelombang elektrik itu sampai
mengenai tubuh. Sabiston (1995) menjealskan bahwa kontak
dengan arus listrik sering menyebabkan gangguan jantung atau
pernafasan. Lamanya waktu seseorang kontak dengan benda yang
beraliran litrik menentukan kecepatan datangnya kematian.
Semakin lama terkena listrik, semakin banyak jaringan yang
9
mengalami kerusakan. Semakin pendek waktu paparan, semakin
besar arus yang dibutuhkan untuk menimbulkan gangguan pada
jantung (Relawati, 2011).
c. Luka Bakar Kimia
Luka bakar ini biasanya terjadi akibat trauma asam atau
basa. Konsentrasi zat kimia, lamanya kontak dan banyaknya
jaringan yang terpapar menentukan luasnya injuri karena zat kimia
ini. Luka bakar 12 kimia dapat terjadi misalnya karena kontak
dengan zat-zat pembersih yang sering dipergunakan untuk
keperluan rumah tangga dan berbagai zat kimia yang digunakan
dalam bidang industri, pertanian dan militer. d. Luka Bakar Radiasi
Luka bakar ini terjadi bila terpapar pada bahan radioaktif dosis
tinggi. Awalnya dengan kedalaman sebagian, tetapi dapat berlanjut
ke trauma yang lebih dalam.
3. Klasifikasi
Luka bakar dibagi berdasarkan kedalaman/derajat luka bakar, luas luka
bakar, dan keparahan luka bakar.
a. Kedalaman Luka Bakar
a) Luka Bakar Derajat I (Superfisial)
Kulit yang mengalami kerusakan atau cidera adalah bagian
epidermis saja. Luka tersebut bisa terasa nyeri ±48-72 jam, eritema,
dan kering seperti luka bakar oleh sinar matahari atau mengalami
10
lepuh/bullae, minimal atau tanpa edema. Biasanya luka akan sembuh
dalam 5 – 10 hari dan kulit akan kembali normal.
b) Luka Bakar Derajat II (Ketebalan parsial/Partial-Thickness)
Kulit yang mengalami kerusakan atau cidera adalah bagian
epidermis serta lapisan atas dermis dan cedera pada bagian dermis
yang lebih dalam. Kerusakan yang terjadi berupa reaksi inflamasi
akut disertai dengan proses eksudasi, melepuh, dasar luka 13
berwarna merah atau pucat, permukaan luka basah, edema dan terasa
nyeri. Luka bakar derajat II terbagi dua, yaitu :
- Derajat II dangkal (superficial)
Kerusakan yg mengenai pada bagian superficial dari lapisan
dermis. Folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea tetap
utuh. Luka sembuh dalam waktu 10-14 hari.
- Derajat II dalam (deep)
Kerusakan hampir semua bagian dermis. Folikel pada rambut,
kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian tetap utuh.
Penyembuhan berlangsung dalam kondisi lebih lama, tergantung
apendises kulit yg tersisa. umumnya penyembuhan berlangsung
dalam jangka waktu lebih dari satu bulan.
11
c) Luka Bakar Derajat III (Ketebalan penuh/Full-Thickness)
Kulit yang mengalami kerusakan atau cidera adalah bagian
epidermis, dermis, dan terkadang jaringan subkutan. Warna luka
bakar bervariasi mulai dari warna putih hingga merah, cokelat atau
hitam. Misalnya luka karena ledakan dan sengatan listrik. Luka
biasanya tidak terasa nyeri karena serabut-serabut sarafnya hancur,
folikel rambut dan kelenjar keringat juga hancur. Penyembuhan lama
lantaran tidak ada proses epitelisasi spontan (Baughman & Hackley,
2000 ; Smeltzer & Bare, 2002 ; Wijaya & Putri, 2013)
b. Luas Luka Bakar
Menurut Smeltzer & Bare (2002), metode Lund dan Browder adalah
metode tepat untuk memperkirakan luas permukaan tubuh yang
terbakar, yaitu dengan membagi tubuh menjadi daerah-daerah yang
sangat kecil dan memberikan proporsi luas permukaan tubuh untuk
bagian-bagian tubuh tersebut, maka diperoleh estimasi luas permukaan
tubuh yang terbakar.
c. Keparahan Luka Bakar
a) Luka Bakar Minor (Ringan)
Cedera ketebalan parsial dengan luas lebih kecil dari 15% pada
orang dewasa atau luas lebih kecil dari 10% pada anak-anak, dan
cedera ketebalan penuh dengan luas kurang dari 2% disertai
komplikasi.
12
b) Luka Bakar Moderat (Sedang)
16 Cedera ketebalan parsial dengan luas dari 15% sampai 25 % pada
orang dewasa atau luas dari 10% sampai 20% pada anak- anak, dan
cedera ketebalan penuh dengan luas kurang dari 10% tanpa disertai
komplikasi dan riwayat penyakit sebelumnya.
c) Luka Bakar Mayor (Berat)
Cedera ketebalan parsial dengan luas lebih dari 25% pada orang
dewasa atau lebih dari 20% pada anak-anak, dan cedera ketebalan
penuh dengan luas lebih dari 10%. Termasuk cedera inhalasi dan
sengatan listrik,dan memiliki riwaya penyakit (Diabetes Mellitus,
gagal jantung kongestif, gagal ginjal kronik) (Wijaya & Putri, 2013).
Dalam studi kasus yang penulis lakukan, kasus pasien termasuk
dalam kategori luka bakar mayor (berat) karena luka bakar pasien
disebabkan oleh sengatan listrik.
4. Manifestasi Klinis
Smeltzer & Bare (2002) menjelaskan bahwa manifestsi klinis dan
karakteristik luka bakar dapat dikaji dari kedalamannya, diantaranya :
a. Derajat I : kerusakan pada epidermis, luka terasa kesemutan,
hiperestesia (supersensitivitas), rasa nyeri mereda jika didinginkan,
luka tampak memerah (eritema) dan menjadi putih ketika ditekan,
minimal atau tanpa edema, dan sembuh dalam waktu ± 1 minggu
diiringi pengelupasan kulit.
13
b. Derajat II : kerusakan pada epidermis dan bagian dermis, luka
terasa nyeri, hiperestesia, sensitive terhadap udara yang dingin,
luka tampak 17 melepuh, dasar luka berbintik-bintik merah,
epidermis retak, permukaan luka basah, edema, kesembuhan dalam
waktu 2 hingga 3 minggu, terbentuk parut dan depigmentasi dan
infesi dapat mengubah luka menjadi derajat III.
c. Derajat III : kerusakan pada epidermis, seluruh dermis, dan lapisan
kulit yang lebih dalam hingga mengenai tulang. Luka tidak terasa
nyeri karena ujung saraf sensorik mengalami kematian, bisa terjadi
syok, hematuria, dan hemolisis (destruksi sel darah merah), luka
tampak kering berwarna putih seperti bahan kulit atau gosong, kulit
retak dengan bagian lemak yang tampak, terjadi edema. Terbentuk
eskar pada luka yang diperlukan pencangkokan, terbentuk parut
dan hilangnya fungsi kulit, hilangnya jari tangan/kaki atau
ekstremitas dapat tejadi.
5. Patofisiologi
Menurut Smelzer & Bare (2002), luka bakar disebabkan oleh
perpindahan energi dari sumber panas ke tubuh. Panas tersebut
dipindahkan melalui konduksi atau radiasi elektromagnetik.Kulit akan
mengalami kerusakan pada epidermis, dermis, maupun jaringan subkutan
tergantung faktor penyebab dan lama kontak dengan penyebabnya.
Dalamnya luka bakar akan mempengaruhi kerusakan kulit dan kematian
sel-sel. Cidera panas menghasilkan efek lokal dan sistemik tergantung
14
luasnya destruksi jaringan. Luka bakar yang tidak lebih dari 20% akan
memperlihatkan respon sistemik lokal. Kejadian sitemik awal pada luka
bakar berat adalah ketidakstabilan hemodinamik akibat hilangnya 18
integritas kapiler dan terjadi perpindahan cairan, natrium, serta protein dari
ruang intravaskuler, ke dalam ruang interstisial. Eritrosit dan leukosit tetap
dalam sirkulasi dan menyebabkan peningkatan hematokrit dan leukosit.
Respon sistemik lainnya adalah anemia, disebabkan oleh
penghancuran sel darah merah secara langsung oleh panas dan hemolisis
sel darah merah yang cidera. Penurunan jumlah sel darah merah dalam
jangka panjang dapat mengakibatkan pengurangan masa hidup sel darah
merah. Awalnya terjadi peningkatan aliran darah ke jantung, otak dan
ginjal dengan penurunan aliran darah ke saluran gastrointestinal. Terjadi
peningkatan metabolisme untuk mempertahankan panas tubuh dan
memenuhi peningkatan kebutuhan energi tubuh. Abnormalitas koagulasi,
mencakup penurunan jumlah trombosit (trombositopenia) dan masa
pembekuan serta waktu protrombin yang memanjang juga ditemukan.
Curah jantung akan menurun sebelum perubahan signifikan pada
volume darah. Berlanjutnya kehilangan cairan dan berkurangnya volume
vaskuler, maka curah jantung akan terus turun dan terjadi penurunan
tekanan darah. Sebagai respon, sistem saraf simpatik akan melepaskan
katekolamin yang melepaskan resistensi perifer (vasokonstriksi), frekuensi
denyut nadi meningkat, peningkatan temperatur dan metabolisme,
hiperglikemia karena peningkatan metabolisme. Resusitasi cairan
dilakukan segera memungkinkan dipertahankannya tekanan darah dalam
15
kisaran normal yang rendah sehingga curah jantung membaik. Jika
resusitasi tidak adekuat, akan terjadi syok distributif.
Kehilangan cairan akibat evaporasi lewat luka bakar dapat
mencapai 3 hingga 5 L atau lebih selama periode 24 jam sebelum
permukaan kulit yang terbakar ditutup. Segera setelah terjadi luka bakar,
hiperkalemia dapat terjadi akibat destruksi sel yang masif. Selanjutnya
dapat terjadi hipokalemia karena berpindahnya cairan dan asupan cairan
tidak memadai. Selama syok luka bakar, respon natrium terhadap
resusitasi cairan bervariasi, biasanya hiponatremia terjadi akibat
perpindahan cairan dari ruang interstisial ke dalam ruang vaskuler. Dengan
terjadinya pemulihan integritas kapiler, syok luka bakar akan menghilang
dan cairan mengalir kembali ke dalam kompartemen vaskuler volume
darah akan meningkat.
Fungsi renal dapat berubah akibat berkurangnya volume darah.
Destruksi sel darah merah pada lokasi cidera akan menghasilkan
hemoglobin bebas dalam urin. Jika terjadi kerusakan otot (misalnya akibat
luka bakar listrik), mioglobin akan dilepaskan dari sel-sel otot dan
diekskresikan oleh ginjal. Penggantian volume cairan yang memadai akan
memulihkan aliran darah renal, meningkatkan laju filtrasi glomerulus dan
menaikkan volume urin. Bila aliran darah melalui tubulus renal tidak
memadai, hemoglobin dan mioglobin menyumbat tubulus renal sehingga
timbul komplikasi nekrosis akut tubuler dan gagal ginjal.
16
6. Komplikasi
Menurut Smeltzer & Bare (2002), komplikasi yang bisa muncul
akibat luka bakar listrik antara lain:
a. Syok Sirkulasi
Kekurangan cairan dapat berkembang menjadi syok sirkulasi
(syok distribusi). Tanda-tanda syok sirkulasi diantaranya status
mental berubah, perubahan pada status respirasi, penurunan haluaran
urin, perubahan tekanan darah, tekanan vena sentral dan curah
jantung, dna peningkatan frekuensi denyut nadi. Syok sirkulasi
ditangani dengan meningkatkan jumlah cairan infus dan pemantauan
status cairan yang ketat.
b. Sindrom Kompartemen
Pasien luka bakar listrik yang parah akan mengalami edema
sistemik yang masif. Edema akan bertambah parah pada luka bakar
yang melingkar (sirkumferensial), tekanan terhadap pembuluh darah
kecil dan saraf pada ekstremitas distal menyebabkan obstruksi aliran
darah sehingga terjadi iskemia. Komplikasi ini dinamakan sindrom
kompartemen. Tindakan eskarotomi harus segera dilakukan untuk
mengurangi efek konstriksi dari jaringan yang terbakar.
c. Gagal Jantung Kongestif dan Edema Paru
Kondisi pasien harus dinilai untuk mendektesi kemungkinan
overloading cairan yang bisa terjadi ketika cairan berpindah kembali
17
dari kompartemen interstisial ke dalam kompartemen intravaskuler.
Jika sistem kardiak dan renal tidak dapat mengimbangi volume
intravaskuler yang berlebihan, gagal jantung kongestif dan edema
paru dapat terjadi.
Tanda gagal jantung kongestif yaitu oliguria, distensi vena
jugularis, edema, terdengan suara jantung S3 dan S4. Sedangkan
adanya bunyi ronki pada paru dan kesulitan bernapas yang
bertambah nyata menunjukkan penumpukan cairan dalam paru-paru.
d. Kerusakan Organ Viseral
Perawat harus waspada terhadap tanda-tanda nekrosis organ
visceral yang mengalami cidera elektrik. Semua pasien dengan luka
bakar listrik harus menjalani pemantauan EKG. Fasiotomi dilakukan
untuk mengurangi pembengkakan dan iskemia pada otot serta fasia
dan untuk mempermudah oksigenasi pada jaringan yang cidera.
e. Gagal Ginjal Akut
Haluaran urin yang tidak memadai dapat menunjukkan
resusitasi cairan yang tidak adekuat atau awal terjadinya gagal ginjal
akut, khususnya bila hemoglobin dan mioglobin terdeteksi dalam
urin. Sehingga diperlukan jumlah cairan yang lebih besar untuk
meningkatkan haluaran urin untuk membilas tubulus renis dan
mencegah nekrosis tubuler yang akut yang menyebabkan gagal
ginjal. Haluaran urin, kualitas urin, kadar BUN, dan kreatinin harus
dipantau.
18
f. Sepsis
Syok septik merupakan komplikasi dengan angka mortalitas
tinggi. Imunosupresi membuat pasien luka bakar berisiko tinggi
mengalami sepsis. Tanda-tanda dini sepsis yaitu hipertemi, takikardi,
pelebaran tekanan nadi, kulit kering dan mengalami flushing di
bagian tubuh yang tidak terbakar.
g. Ileus Paralitik
Dilatasi lambung dan ileus paralitik sering terjadi pada periode
awal paska luka bakar. Mual dan distensi abdomen (kembung)
merupakan gejala yang ditemukan. Daerah abdomen diperiksa secara
teratur untuk menilai distensi dan bising usus. Setelah syok luka
bakar dan aktivitas usus pulih, pelaksanaan nutrisi oral dimulai
sesegera mungkin.
h. Mengganggu sistem kelistrikan jantung dan merusak otot jantung
Efek pada jantung karena sengatan listrik dibagi menjadi :
1) Aritmia
Henti jantung mendadak karena fibrilasi ventrikel lebih sering
terjadi karena arus AC dengan voltase rendah (30-200 mA),
sedangkan asistol lebih sering terjadi karena kejutan listrik dari
arus DC atau AC dengan tegangan tinggi (lebih dari 5 A). Aritmia
yang berpotensi fatal sering disebabkan oleh arus yang bergerak
horizontal dari tangan ke tangan, arus yang bergerak secara vertikal
19
(dari kepala ke kaki) biasanya menyebabkan kerusakan
myocardium. Aritmia yang sering terjadi adalah sinus takikardi dan
kontraksi ventricular, tapi ventricular takikardi dan fibrilasi atrium
juga dapat terjadi. Kebanyakan aritmia terjadi langsung setelah
kejutan listrik, tetapi yang tertunda dapat terjadi (sampai 12 jam
setelah kejadian).
2) Kerusakan miokardium
Kerusakan diebabkan secara langsung oleh perubahan energi listrik
mrenjadi energy panas atau karena diinduksi oleh keadaan iskemik
(Relawati, 2011).
i. Katarak
Katarak adalah komplikasi lanjut luka bakar listrik. Katarak
dapat terlihat beberapa hari atau bulan paska luka bakar, dapat terjadi
unilateral atau bilateral tergantung kondisi luka yang mengenai area
kepala (Sabiston, 1995).
7. Prinsip Penatalaksanaan Luka Bakar
Prinsip penatalaksanaan pasien luka bakar menurut Smeltzer & Bare
(2002) adalah :
a. Penggantian Cairan
Penggantian cairan dilakukan untuk menghentikan pengaliran cairan
ke dalam ruang-ruang interstisial. Beberapa kombinasi kategori cairan
20
dapat digunakan, yaitu koloid (whole blood, plasma serta plama
expander, dan kristaloid/elektrolit (larutan NaCl fisiologik atau larutan
Ringer Laktat. Adapun pedoman rumus untk penggantian cairan pada
pasien luka bakar antara lain :
1) Rumus Konsensus Larutan Ringer Laktat (atau larutan salin
seimbang lainnya) : 2 – 4 ml x kg berat badan x % luas luka bakar
Separuh diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16
jam berikutnya.
2) Rumus Evans
a) Koloid : 1ml x kg berat badan x % luas luka bakar
b) Elektrolit (salin) : 1ml x kg berat badan x % luas luka bakar
c) Glukosa (5% dalam air) : 2000 ml untuk kehilangan insensible.
Hari 1 : separuh diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya
diberikan dalam 16 jam berikutnya.
Hari 2 : separuh dari cairan elektrolit dan koloid yang diberikan
pada hari sebelumnya, seluruh penggantian cairan insensible.
Maksimum 10.000 ml selama 24 jam.
3) Rumus Brooke Army
a) Koloid : 0,5 ml x kg berat badan x % luas luka bakar
b) Elektrolit (larutan RL) : 1,5 ml x kg berat badan x % luas LB
c) Glukosa (5% dalam air) : 2000 ml untuk kehilangan insensibel
21
Hari 1 : separuh diberikan dalam 8 jam pertama, separuh sisanya
diberikan 16 jam berikutnya
Hari 2 : separuh dari cairan koloid, separuh elektrolit, seluruh
penggantian cairan insensible.
4) Rumus Parkland/Baxter Larutan Ringer Laktat : 4 ml x kg berat
badan x % luas luka bakar
Hari 1 : separuh diberikan dalam 8 jam pertama, separuh dalam 16
jam berikutnya
Hari 2 : bervariasi. Ditambahkan koloid.
B. Perawatan Luka
1) Pembersihan Luka
Beberapa cara pembersihan luka diantaranya yaitu Hidroterapi dengan
perendaman total, bedside bath (terapi rendaman di samping tempat tidur),
dan dengan cara pasien digantung dengan sebuah ayunan vinil di atas bak
dan kemudian disiram. Bak madi rendam atau whirlpool juga dapat
digunakan. Perendaman menggunakan air ledeng steril, larutan salin atau
antiseptic, seperti larutan yodium atau betadin yang encer. Suhu air
rendaman dipertahankan pada 37,8 oC. Hidroterapi dibatasi antara 20
hingga 30 menit untuk mencegah hipotermia dan stress metabolic
tambahan.
22
2) Terapi Antibiotik Topikal
Ada 3 preparat topical yang sering digunakan, yaitu silver sulfadiazine,
silver nitrat dan mefenide asetat (Sulfamylon). 26 Preparat lainnya seperti
salep povidon-iodin (10%), gentamisin sulfat, nitrofurazon (Furacin),
larutan Dakin, asam asetat, mikonazol dan klortrimazol.
3) Penggantian Balutan
Balutan atau kasa lama yang menempel pada luka dilepas setelah dibasahi
dengan larutan salin atau perendaman di bak rendam. Kemudian luka
dibersihkan dan didebridemen untuk menghilangkan debris, preparat
topical lama yang masih tersisa, eksudat dan kulit yang mati. Jika luka
sudah bersih, luka ditutul sampai kering dan preparat topical dioleskan,
lalu ditutup dengan beberapa lapis kasa pembalut. Kasa tipis digunakan
pada daerah persendian untuk memungkinkan gerakan sendi (kecuali jika
pada daerah luka tersebut terdapat cangkokan sehingga gerakan adalah
kontraindikasi).
4) Debridemen
Tindakan debridement memiliki dua tujuan : - Menghilangkan jaringan
yang terkontaminasi oleh bakteri dan benda asing - Menghilangkan
jaringan yang sudah mati atau eskar dalam persiapan graft dan
kesembuhan luka
5) Graft pada Luka Bakar
23
Graft (pencakokan) kulit diperlukan pada luka yang dalam (full thickness)
atau sangat luas. Graft memungkinkan pencapaian kemampuan fungsional
yang lebih dini dan akan mengurangi kontraktur. Balutan oklusif
digunakan pada luka dengan cangkokan kulit yang baru, Balutan dipasang
dalam kondisi streril di ruang operasi. Balutan oklusif dibiarkan selama 3
hingga 5 hari, dan dilepas oleh dokter yang memeriksa keadaan graft.
C. Daun Pisang
Daun pisang (Musa paradisiaca) telah dikenal sejak lama sebagai salah
satu tanaman yang dapat digunakan dalam perawatan luka bakar karena daun
pisang memiliki lapisan lilin, memberikan sensasi dingin, sangat mudah
ditemukan dan dikembangbiakan, dan murah (Evi, 2008). Daun pisang juga
mengandung senyawa yang berperan dalam menstimulasi proses penyembuhan
luka bakar seperti flavonoid, tannin, dan alkaloid (Alisi, 2008).
Namun daun pisang memiliki beberapa kelemahan yang perlu ditemukan
solusinya terkait dengan aplikasi daun pisang sebagai balutan yaitu daun pisang
tidak dapat disimpan lebih dari 7 hari karena memungkinkan berkembangnya
jamur pada lapisan daun (Gore, 2003). Selain itu, karakteristik daun yang mudah
robek membuat aplikasi daun pisang sulit dilakukan karena daun harus menutupi
seluruh area luka terutama pada luka bakar yang luas (Gore, 2003).
Hydrogel merupakan salah satu balutan yang sering digunakan di klinik
karena memberikan beberapa keuntungan yaitu mampu menyerap eksudat,
menciptakan suasana lembab yang memfasilitasi proses penyembuhan luka,
mengurangi nyeri karena memberikan sensasi dingin (Carville, 2005). Sediaan gel
24
dipilih karena dapat bertahan lebih lama, tidak berbau, tidak mengiritasi kulit, dan
praktis (Prasetyo, 2008).
Berdasarkan hal tersebut peneliti ingin mengetahui pengaruh pemberian
gel ekstrak daun pisang (Musa paradisiaca) terhadap waktu penyembuhan luka
bakar derajat II pada mencit.
Prosedur dan intervensi:
Setelah persetujuan standar aturan studi oleh komite peninjau etik dari Fakultas
Keperawatan, Mansoura Universitas dan memperoleh izin untuk melakukan studi
dari Rumah Sakit Shamlla (Rumah Sakit Umum Assuit) otoritas, penelitian ini
dimulai pada bulan Juli, 2011 dan selesai pada Mei, 2012. Pada studi ini di rekrut
sebanyak 38 pasien.
Pisang persiapan daun ganti:
a. Pada penelitian ini menggunakan daun pisang yang berasal dari perkebunan
pisang di EL Asararegionat El Fateh Center di Assiut Governorate. Daun
pisang disiapkan dengan memotong pelepah daun, daun pisang dicuci dan
dikeringkan, dan kemudian dipotong-potong dengan ukuran rata-rata 40 cm x
60 cm. Setiap bagian digulung dan 4-6 dari gulungan tersebut ditempatkan
dalam kantong kertas cokelat dan dipanaskan pada suhu 135 C selama 20
menit.
b. Di bawah pengawasan kepala unit luka bakar yang merupakan ahli bedah
plastik dan kepala staf perawat, perawat dan para peneliti menerapkan
penggantian balutan menggunakan balutan biasa (salep antimikroba
25
kemudian lapisan kain kasa yang sesuai) pada satu bagian dan menggunakan
daun pisang salep (antimikroba kemudian daun pisang yang sesuai) pada
bagian yang lain untuk pasien yang sama. Setelah balutan terpasang
kemudian gunakan kasa pada balutan dan perban kedua balutan.
c. Pengumpulan data dilakukan sebanyak tiga kali selama pasien dirawat
menggunakan skor kenyamanan, skor nyeri, skor ganti penghapusan rasa
sakit, dan skor kemudahan dalam penggantian balutan.
Studi percontohan:
Sebuah uji coba percontohan dilakukan pada lima pasien untuk menguji kejelasan
dan kepraktisan alat. Subyek percontohan kemudian dimasukkan dalam penelitian
ini karena tidak ada modifikasi radikal dalam alat penelitian.
Analisis statistik:
Analisis data: entri data dan analisis statistik dilakukan dengan menggunakan
SPSS versi 15. Data disajikan dengan menggunakan angka, persentase, dan
standar deviasi. Perbedaan antara kedua jenis dressing diperiksa dengan
menggunakan uji t untuk data kuantitatif dan uji chi square untuk data kualitatif.
Tingkat signifikansi adalah ambang batas di 0,05.
26
BAB III
TELAAH JURNAL
A. Judul Jurnal

Setiap jurnal harus memiliki judul yang jelas. Dengan membaca judul akan memudahkan
membaca mengetahui inti jurnal tanpa harus membaca keseluruhan dari jurnal tersebut. Judul
tidak boleh memiliki makna ganda.
Kelebihan jurnal
a. Pada jurnal ini judul menjelaskan tentang rekomendasi terbaru tentang keefektivitasan
Proggresive Muscle Relaxation terhadap kadar glukosa darah pada pasien diabetes
mellitus tipe II . Dari membaca judul pada jurnal ini, kita dapat mengetahui bahwa jurnal
ini membahas tentang apa saja hal terbaru tentang manfaat relaksasi otot terhadap
penurunan kadar glukosa darah untuk pasien diabetes mellitus tipe II . Judul jurnal sudah
baik dan terdiri dari 13 kata, dimana syarat judul jurnal adalah tidak boleh lebih dari 20
kata, singkat dan jelas.
b. Pada jurnal ini nama penulis juga sudah ditulis dengan singkat dan tanpa gelar.
c. Pada judul jurnal juga di paparkan alamat jurnal dan tahun publis dari jurnal sehingga
kita tahu apakah jurnal ini merupakan penelitian terbaru yang dapat diterapkan.
B. Abstrak

Abstrak sebuah jurnal berfungsi untuk menjelaskan secara singkat tentang keseluruhan isi jurnal.
Penulisan sebuah abstrak terdiri dari sekitar 250 kata yang berisi tentang latar belakang, tujuan,
bahan dan metode, hasil, dan kesimpulan isi jurnal.
Kelebihan jurnal
a. Jurnal ini memiliki abstrak dengan jumlah kata sebanyak 235 kata,
menjelaskan secara singkat isi dari jurnal.
b. Jurnal ini juga menjelaskan langkah-langkah melakukan penelitian.
c. Abstrak pada jurnal ini sudah baik dan berurutan yang terdiri dari tentang latar belakang,
tujuan, bahan dan metode, hasil, dan kesimpulan dan kata kunci.

Kelemahan jurnal
a. Sebaiknya di abstrak tidak menggabungkan bahan dan metode, jika tidak di gabungkan
akan jelas bahan ataupun alat apa saja yang digunakan untuk kegiatan penurunan kadar
gula darah dengan relaksasi otot ini, bukan hanya menjelaskan metode saja seperti yang
terlampir di abstrak.
C. Pendahuluan

Pendahuluan jurnal terdiri dari latar belakang penelitian, tujuan penelitian, penelitian sejenis
yang mendukung penelitian dan manfaat penelitian. Pendahuluan terdiri dari 4-5 paragraf,
dimana dalam setiap paragraf terdiri dari 4-5 kalimat.
Kelebihan jurnal
a. Pada jurnal ini fenomena yang dibahas adalah tentang kreativitas dan inovasi yang
menyebabkan banyak alternatif yang sangat baik dan dapat dikembangkan. Pelatihan
relaksasi diperlukan untuk menurunkan kadar gula darah, atau menekan sekresi kortisol,
mengendalikan emosi negatif dan mengendalikan diet . Hal ini terjadi karena pada saat
ini Diabetes Mellitus menjadi salah satu penyakit kronis yang menyebabkan kematian,
kecacatan dan prevalensi penyakit terus meningkat. Menurut Federasi Diabetes
Internasional prevalensi kejadian diabetes mellitus di 2012 sebesar 371 juta penduduk
DM di dunia, di mana proporsi kejadian diabetes mellitus tipe 2 adalah 95% dari populasi
DM di Dunia.
b. Jurnal ini juga sudah membahas isi dari jurnal secara rinci tidak hanya dari latar belakang
penelitian, tujuan penelitian, penelitian sejenis yang mendukung penelitian dan manfaat
penelitian. Dijurnal ini juga telah menampilkan cara prosedur dari penelitian (waktu
dilakukannya, durasi melakukan relaksasi otot dalam seminggu, dan menjelaskan secara
singkat tentang relaksasi otot)

Kelemahan jurnal
a. Pendahuluan pada jurnal ini hanya memiliki 1 paragraf dengan jumlah kalimat berkisar
dari 27 kalimat, dimana seharusnya dalam pendahuluan tidak hanya terdiri dari satu
paragraf dan dengan kalimat yang banyak.
b. Didalam penduhuluan jurnal juga harus memuat fenomena jurnal, tetapi pada
pendahuluan jurnal ini tidak dibahas fenomena dari jurnal ini.

D. Pernyataan masalah penelitian


Dalam jurnal ini terdapat pernyataan masalah yang jelas, tetapi dimuat pernyataan bahwa
dengan alternatif ini bisa digunakan sebagai penurunan kadar gula darah yang efektif dan lebih
murah.
E. Tinjauan pustaka
Jurnal ini juga sudah mencantumkan tinjauan kepustakaan sebagai acuan konsep.
F. Kerangka konsep dan hipotesis.
Dalam penulisan ini, sudah mencantumkan kerangka konsep dan hipotesisi. Tetapi penulis
mengabungkan pada pendahuluan
G. Metodologi
Penelitian ini menggunakan desain penelitian yaitu Quasi Eksperimen, merupakan metode
penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap perlakuan yang
lain. Jurnal ini menggunakan penelitian kepada pasien diabetes mellitus tipe II. Penelitian ini
dilakukan sesuai dengan memperhatikan hak-hak responden, yaitu semua pasien diberitahu
tentang prosedur serta hak-hak mereka untuk setuju atau tidak setuju berapartisipasi dalam
penelitian ini. Pasien diberitahu bahwa mereka berhak untuk menarik diri dari penelitian tanpa
berpengaruh terhadap perawatan mereka.
Selanjutnya adalah menjadi 2 kelompok dalam rangka akuisisi dimana subjek pertama
ditemukan (menurut kriteria) ke dalam kelompok perlakuan, dan subjek kedua untuk kelompok
kontrol, dan sebagainya. Setelah pengukuran glukosa darah 1 dengan cek accu (pre test),
kelompok perlakuan diberikan intervensi latihan otot progresif relaksasi terapi dengan durasi 25 -
30 menit dalam satu latihan, menggunakan 14 gerakan tubuh . Pada saat PMR latihan, subjek
diajari oleh para peneliti. Untuk akurasi durasi latihan, para peneliti menggunakan timer. Latihan
PMR dilakukan selama tiga hari berturut-turut selama 6 kali setiap pagi dan sore hari, setelah
program pelatihan selesai, lakukan pengukuran glukosa darah 4 dengan cek accu (post-test).
H. Sampel dan Instrumen
Ukuran sampel dari 48 ditentukan pada tingkat kepercayaan 0,05, 24 sampel dibagi Ke
kelompok kontrol eksperimental 24 sampel. Kriteria untuk sampel inklusi pasien DM Tipe2
adalah pasien yang diobati untuk pertama kalinya, pasien dengan depresi dalam rentang skor
8 – 21, pasien dengan kadar glukosa darah > 160 mg / dl, pasien saat ini tidak diobati dengan
anti depressants, pasien tanpa pernapasan dan masalah muskuloskeletal, pasien yang mampu
membaca dan menulis, pasien yang tidak memiliki gangguan pendengaran, dan pasien yang
tidak pernah diobati dengan relaksasi progresif serta mereka yang bersedia untuk bergabung
dengan pelatihan.
I. Hasil
Hasil pada jurnal ini membahas :
Tabel 1 :

Dari Tabel 1, dapat disimpulkan bahwa usia rata-rata kelompok perlakuan responden 59,1 tahun
dari rentang umur 38 – 70 tahun dan usia rata-rata responden pada kelompok kontrol adalah 61,1
tahun dari rentang umur 41 – 70 tahun.

Tabel 2:

Dari Tabel 2 dapat disimpulkan bahwa kelompok perlakuan dan kelompok kontrol sebagian
besar dari 20 responden (83,3%) adalah perempuan dan 4 responden sisanya (16,7%) adalah
laki-laki.

Tabel 3:
Dari Tabel 3 dapat disimpulkan bahwa kelompok perlakuan sebagian besar dari 54,2% (13
responden) berpendidikan tamatan sekolah dasar (SD) dan kelompok kontrol sebanyak 33,3% ( 8
responden) berpendidikan tamatan sekolah menengah pertama (SMP)

Tabel 4 :

Dari Tabel 4 dapat disimpulkan bahwa kelompok perlakuan dan kelompok kontrol sebagian
besar pekerjaan responden adalah tidak bekerja (pengangguran), dari kelompok perlakuan 15
responden (62,5%) dan 18 responden sisanya (75%).

Tabel 5 :
Kadar gula darah rata-rata pasien dengan diabetes tipe 2 sebelum dan sesudah relaksasi otot
progresif pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

Berdasarkan Tabel 5 di atas dapat disimpulkan bahwa kelompok perlakuan, kadar gula darah
rata-rata sebelum relaksasi otot progresif adalah 262,00 mg / dl dan kadar gula darah rata-rata
setelah relaksasi otot progresif adalah 183,87 mg / dl. Sedangkan pada kelompok kontrol kadar
gula darah rata-rata sebelum intervensi adalah 151.41mg / dl , dan kadar gula darah rata-rata
setelah intervensi adalah 180 mg / dl.

Tabel 6 :
Hasil analisis dari pasien gula darah rata-rata dengan diabetes tipe 2 sebelum dan sesudah
relaksasi otot progresif antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol

Berdasarkan Tabel 6 menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan setelah Wilcoxon signed
rank nilai uji p = 0,000 (p <0,05), maka ada perbedaan yang signifikan antara kadar gula darah
rata-rata sebelum setelah relaksasi otot progresif. Pada kelompok kontrol setelah Wilcoxon
signed rank nilai uji p = 0,000 (p <0,05), yang berarti bahwa ada perbedaan yang signifikan
antara kadar gula darah rata-rata sebelum setelah intervensi.

Tabel 7 :
Perbedaan gula darah rata-rata setelah intervensi pada pasien dengan kelompok perlakuan
diabetes tipe 2 dan kelompok kontrol.

Berdasarkan Tabel 7 menunjukkan bahwa setelah tes Mann-Whitney, nilai p = 0,000 (p <0,05),
yang berarti bahwa ada perbedaan signifikan kesenjangan kadar gula darah rata-rata antara
pasien diabetes tipe 2 pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

J. Kesimpulan
Kelebihan jurnal
Kesimpulan pada penelitian ini telah menggambarkan secara umum keefektifitasan dari
Proggresive Muscle Relaxation terhadap kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitus
tipe 2.

K. Implikasi Penggunaan Hasil Penelitian


Kelebihan Jurnal
Implikasi penggunaan pada penelitian ini dapat digunakan oleh institusi keperawatan di
semua rumah sakit untuk penurunan.glukosa darah pasien diabetes mellitus tipe 2.

L. Daftar Pustaka
Penulisan daftar pustaka dalam jurnal ini menggunakan metode Vancouver.
Kelebihan Jurnal
Daftar pustaka yang dijadikan referensi pada penelitian ini telah menggunakan referensi
tahun terbaru yaitu lima tahun terakhir.
Kekurangan Jurnal
Ada beberapa referensi yang menggunakan referensi lebih dari lima tahun terakhir.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Pada jurnal “The Effectivees of Using Banana leaf Dressing in
Management of partial thickness Burn’s Wound” ini menjelaskan
bagaimana keunggulan perawatan luka bakar dengan menggunakan daun
pisang, diantaranya:
1. Banana Leaf Dressing memiliki hasil yang signifikan dalam penyembuhan
luka
2. Penggantian balutan pada pasien luka bakar menggunakan Banana Leaf
Dressing lebih mudah dibandingkan dengan pasien luka bakar dengan
balutan biasa.
3. Waktu penyembuhan luka bakar pada pasien dengan Banana Leaf
Dressing lebih cepat dibandingkan dengan pasien luka bakar dengan
balutan biasa.
B. Saran
1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran dalam perawatan
luka bakar dengan menggunana daun pisang sebagai terapi
komplementer untuk perawatan luka di rumah sakit.
2. Bagi Perawat
Diharapkan dan sebagai pengetahuan terbaru dalam praktik
klinik yang dapat mengupgrade profesionalitas dari perawat dalam
36
memberikan asuhan keperawatan terutama dalam perawatan pasien
dengan luka bakar untuk mempercepat penyembuhan luka.
3. Bagi Ruangan
Diharapkan dapat sebagai bahan pertimbangan dalam pemberian
asuhan keperawatan pada pasien luka bakar sesuai dengan jurnal
penelitian terbaru yang direkomendasikan sehingga dapat
meningkatkan kualitas pelayanan di rumah sakit.
37
DAFTAR PUSTAKA
Ali,W.G & Bayumi,H.A.E. 2015. The Effectiveness of Using Banana Leaf
Dressing in Management of Partial Thickness Burns’ Wound.International
of journal Nursing. 2231-5454.
Alisi, C.S. 2008. Inhibition of dehydrogenase activity in pathogenic bacteria
isolates by aqueous extracts of Musa paradisiaca (Var Sapientum).
African Journal of Biotechnology Vol. 7 (12):1821-1825
Ardabili, dkk. (2016). Evaluation of the Effects of Patient-Selected Music.
Therapy on the Sleep Quality and Pain Intensity of Burn Patients.
Medical-Surgical Nursing Journal, 5(2):27-34, 2016.
Evi Soviani, 2012. Identifikasi Parasitoid pada Erionota Thrax yang terdapat
dalam daun pisang (Musa. Paradiciaca). Universitas Pendidikan
Indonesia
Gameel, W., Bayuni, H.A.E. 2015. The Effectivees of Using Banana leaf
Dressing in Management of partial thickness Burn’s Wound. International
Journal of Nursing. 5 (4) : 22-27.
Gore, A.M., Alokekar.D. 2003. Banana leaf dressing for skin graft donor areas.
Burns. 29:483-486.
Hasdianah & Suprapto, S.I. (2014). Patologi & Patofisiologi Penyakit.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Jurjus A., Atiyeh S., Inaya A., Husein H., Jurjus A., Hayek N., AbouJoude M.,
Gerges A., Tomeh R. Pharmacological modulation of wound healing in
expremental burn : Burns, 2007. 33: 892-907.
38
Krisanti, P., dkk. (2014). Asuhan KEperawatan Gawat Darurat. Jakarta: Trans
Info Media. Krisanti, P., dkk. (2014). Asuhan KEperawatan Gawat
Darurat. Jakarta: Trans Info Media.
Latifa,K. 2017. ASUHAN KEPERAWATAN LUKA BAKAR LISTRIK
PADA TN. A DENGAN APLIKASI AROMATERAPI MAWAR DI
RUANG LUKA BAKAR RSUP DR. M. DJAMIL PADANG. Diakses
pada tanggal 10 Desember 2017 dari
http://scholar.unand.ac.id/30300/5/5.%20FULL%20TEXT%20WATERM
ARK.pdf
Maryunani A. 2015. Perawatan Luka Modern (Modern Woundcare) Terkini
dan Lengkap Sebagai Bentuk Tindakan Keperawatan Mandiri : In Media.
Relawati, R. (2011). Luka Bakar Listrik. Diakses pada tanggal 28 September
2017 dari http://eprintis.undip.ac.id Relawati, R. (2011). Luka Bakar
Listrik. Diakses pada tanggal 15 Desember 2017 dari
http://eprintis.undip.ac.id
Smeltzer, S.C & Bare, B.G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
EGC : Jakarta.
Wijaya, A.S & Putri, Y.M. (2013). KMB 2; Keperawatan Medikal Bedah
(Keperawatan Dewasa). Yogyakarta: Nuha Medika.
39