Anda di halaman 1dari 28

ASUHAN KEPERAWATAN

“AMPUTASI ”

Disusun Oleh:
1. Herliza Tamara P (PO.71.20.4.16.012)
2. Lenny Alfiani (PO.71.20.4.16.018)
3. Rahma Ayu Fitria (PO.71.20.4.16.025)
4. Retno Dwi Lestari (PO.71.20.4.16.026)
5. Rheviani Atrisha (PO.71.20.4.16.027)

Dosen Pembimbing:
Lukman Sardi, S.Kep,Ns,MM,M.Kep

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG
D-IV KEPERAWATAN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunianya kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini sebagaimana mestinya makalah ini yang merupakan
salah satu syarat mengikuti mata kuliah Keperawatan Kritis. Dengan segala
kerendahan hati penulis mengharapkan terima kasih yang sebesar– besarnya
kepada tim penulis, semua rekan-rekan yang ikut membantu demi terwujudnya
makalah ini.

Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca dan khususnya bagi penulis sendiri. Saran dan kritik yang membangun
untuk kesempurnaan penulisan ini sangat kami harapkan.

Palembang, Agustus 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................. i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................... 1
A. LATAR BELAKANG........................................................................................1
B. RUMUSAN MASALAH................................................................................... 2
C. TUJUAN.............................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................3
A. PENGERTIAN...................................................................................................3
B. PENYEBAB....................................................................................................... 3
C. KLASIFIKASI AMPUTASI.............................................................................. 4
D. PATHWAY........................................................................................................ 5
E. PROSEDUR AMPUTASI.................................................................................. 5
F. PRINSIP AMPUTASI........................................................................................ 6
G. KOMPLIKASI................................................................................................... 7
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG....................................................................... 9
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN................................................................11
A. PENGKAJIAN................................................................................................. 11
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN......................................................................14
C. INTERVENSI KEPERAWATAN................................................................... 14
BAB IV PENUTUP............................................................................................. 24
A. KESIMPULAN................................................................................................ 24
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 25

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh
sebagian atau seluruh bagian ekstremitas. Tindakan ini merupakan tindakan yang
dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi
pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan
teknik lain, atau manakala kondisi organ dapat membahayakan keselamatan
tubuh klien secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti dapat
menimbulkan komplikasi infeksi. Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang
melibatkan beberapa sistem tubuh seperti sistem integumen, sistem persyarafan,
sistem muskuloskeletal dan sisten cardiovaskuler. Labih lanjut ia dapat
menimbulkan masalah psikologis bagi klien atau keluarga berupa penurunan citra
diri dan penurunan produktifitas. Penyebab / faktor predisposisi terjadinya
amputasi Tindakan amputasi dapat dilakukan pada kondisi Fraktur multiple organ
tubuh yang tidak mungkin dapat diperbaiki, Kehancuran jaringan kulit yang tidak
mungkin diperbaiki, Gangguan vaskuler/sirkulasi pada ekstremitas yang
berat,Infeksi yang berat atau beresiko tinggi menyebar ke anggota tubuh
lainnya,Adanya tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi secara konservatif
Deformitas organ.
Adanya kecenderungan yang terus naik setiap tahunnya atas penderita
kecacatan yang mengalami amputasi di Indonesia Pada akhir tahun 2009
menunjukkan data terjadinya kasus amputasi anggota gerak bawah kaki adalah
sebesar 25% per tahunnya, yang terbagi untuk amputasi kaki diatas lutut atau
prothese jenis above knee amputation (AKA) sebesar 18% dan amputasi dibawah
lutut atau prothese jenis below knee amputation (BAK) sebesar 7%. Sedangkan
kejadian amputasi pada anggota gerak atas (tangan) sebesar 15%, yang terbagi
amputasi dibawah siku tangan atau prothese jenis below elbow amputation (BEA)
sebesar 10% dan amputasi diatas siku tangan atau prothese jenis above elbow
amputation (AEA) sebesar 5%.

3
Berdasarkan data dari rekam medik RS Fatmawati jakarta di ruang Orthopedi
periode Januari 2010 s/d Mei 2010 berjumlah 323 yang mengalami gangguan
muskuloskletel, termasuk yang mengalami amputasi berjumlah 31 orang (5,59%).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa Pengertian dari amputasi?
2. Apa penyebab amputasi ?
3. Apa klasifikasi amputasi?
4. Bagaimana prosedur amputasi ?
5. Apa saja prinsip amputasi ?
6. Apa saja komplikasi amputasi ?
7. Bagaimana pemeriksaan amputasi ?
8. Asuhan keperawatan amputasi ?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui apa pengertian amputasi ?
2. Untuk menegtahui apa penyebab amputasi ?
3. Untuk mengetahui apa saja klasifikasi amputasi?
4. Untuk mengetahui bagaimana prosedur amputasi ?
5. Untuk mengetahui apa saja prinsip amputasi ?
6. Untuk mengetahui apa saja komplikasi amputasi ?
7. Untuk mengetahui asuhan keperawatan amputasi ?

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGERTIAN
Amputasi berasal dari kata latinamputare yang berarti “pancung”. Dalam
ilmu kedokteran diartikan sebagai “membuang” sebagian atau seluruh anggota
gerak, sesuatu yang menonjol atau tonjolan alat (organ tubuh) (Reksoprodjo,
2002). Amputasi pada ektremitas bawah sering diperlukan sebagai akibat
penyakit vaskuler perifer progresif (sering sebagai gejala sisa diabetes mellitus),
gangren, trauma (cedera remuk, luka bakar, luka bakar dingin, luka bakar listrik),
deformitas kongenital, atau tumor ganas (Brunner & Suddarth, 2002).
Amputasi diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh sebagian
seperti kaki, tangan, lutut, atau seluruh bagian ekstremitas (Wright, 2014).
Amputasi dilakukan ketika ekstremitas sudah tidak dapat diperbaiki dengan
menggunakan teknik lain atau terdapatnya kondisi yang dapat membahayakan
keselamatan tubuh atau merusak organ tubuh yang lain sehingga menimbulkan
komplikasi infeksi, perdarahan dan pertumbuhan stump yang abnormal
(McArdle et al, 2015; Payne & Pruent, 2015; Mei et al, 2014; Daryadi, 2012;
Mark et al, 2016).
Amputasi dapat dipertimbangkan sebagai pilihan terakhir untuk
menyelamatkan ekstremitas. Dokter bedah dapat mencoba revaskularisasi,
reseksi, atau terapi oksigen hiperbarik sebagai upaya menyelamtkan anggota
tubuh dari amputasi.

B. PENYEBAB
Amputasi dapat disebabkan berbagai macam penyebab diantaranya:
 Trauma
 Penyakit yang diderita
 Masalah bawaan ( Keturunan/ kongenital).
 Infeksi yang tidak terkendali
 Nyeri hebat
 Adanya gangren yang disebabkan ketidak adekuatan perfusi jaringan
pada bagian tersebut.

5
Dalam menghadapi kondisi yang mengakibatkan pasien mengalami
amputasi baik auto amputasi ataupun indikasi non-medik maka ada beberapa
kondisi yang perlu diperhatikan:
1. Kondisi Pra Bedah
Dalam kondisi pra bedah ada beberapa hal yang harus diperhatikan
antara lain: kondisi umum pasien, dan progresivitasnya dengan
memperhatikan prognose (Qua ad vitam qua ad situasionam, dan qua ad
fungsional) serta tindakan rehabilitasi.
2. Kondisi Pasca Bedah
Evaluasi bagian yang diamputasi agar dapat dilakukan rehabilitasi
dengan atau tanpa prothesis. Dalam situasi ini yang perlu diperhatikan
adalah kondisi psikis dari pasien itu sendiri, dimana mental pasien harus
disiapkan agar rehabilitasi ini sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

C. KLASIFIKASI AMPUTASI
Amputasi memiliki berbagai klasifikasi yaitu:
1. Amputasi Tertutup
Amputasi tertutup merupakan sebuah amputasi yang dilakukan
dengan penutupan bagian yang diamputasi. Bagian yang diamputasi
tersebut ditutup menggunakan lipatan kulit sebagai upaya untuk menutup
sisa anggota tubuh tersebut.
2. Amputasi Terbuka
Amputasi terbuka merupakan sebuah tindakan amputasi yang sisa
anggota tubuhnya tidak ditutup menggunakan lipatan kulit. Pada
amputasi terbuka luka tersebut akan sembuh atau tertutup dengan
membentuk granulasi, akan tetapi luka dengan amputasi terbuka
memerlukan perbaikan dimasa yang akan datang. Amputasi ini biasanya
dilakukan pada pasien yang memiliki indikasi bedah dengan komplikasi
infeksi.
3. Amputasi Traumatik
Amputasi traumatik merupakan kondisi kehilangan bagian tubuh
secara tidak sengaja. Amputasi ini diklasifikasikan menjadi dua yaitu:

6
 Amputasi komplit yaitu amputasi yang merupakan kondisi dimana
ketika seluruh bagian terputus,
 Amputasi parsial yakni amputasi ketika masih ada bagian tubuh
yang terhubung dengan jaringan lunak.

D. PATHWAY

E. PROSEDUR AMPUTASI
Ada beberapa prosedur amputasi yang perlu diketahui antara lain:
1. Amputasi ibu jari kaki : Tingkat transfangeal dapat jika nekrosis
terletak dari distal ke proksimal sendi ineterfalangeal.
2. Amputasi Transmetatarsal : Prosedur ni digunakan jika nekrosis
memanjang dari proksimal ke proksimal sendi interfalangeal, tetapi
distal dari kaput metatarsal pada permukaan plantar. Flap plantar

7
panjang sering digunakan, dan memotong metatarsal dari posisi
tengah.
3. Amputasi Syme : Prosedur ini biasanya digunakan jika kaki telah
hancur oleh trauma. Amputasi ini menyelamatkan panjang
ekstremitas, dengan mengangkat kaki antara talus dengan kalkaneus.
4. Amputasi di bawah lutut (BL) : Prosedur ini umumnya dilakukan
pada penyakit vaskular perifer stadium akhir. Prosedur ini
memberikan dampak rehabilitasi yang sanget baik karena dapat
menyelamatkan sendi lutut. Kontraktur lutut atau panggul
merupakan kontraindikasi dari prosedur ini. Teknik flap posterior
panjang umunya digunakan, dan suatu prostesi kadang-kadang
digunakan segera setelah operasi.
5. Amputasi di atas lutut (AL) : Prosedur ini memegang angka
penyembuhan paling tinggi pada penykit vaskukar perifer. Suatu
amputasi AL yang tidak sembuh merupakan suatu kondisi yang
tidak menyenangkan dengan mortalitas yang sangat tinggi. Flap
kulit posterior dan anterior uumnya memiliki panjang yang sama,
dan biasanya mengunakan metode insisi “mulut ikan”
6. Disartikulasi panggul dan Hemipelvektomi : Prosedur ini biasanya
digunakan untuk tumor ganas pada tungkai, kadang juga digunakan
pada pasien vaskular perifer, tetapi biasanya memiliki hasil yang
buruk.
7. Amputasi ekstremtas atas : Kebanyakan amputasi ini dilakukan pada
kasus-kasus trauma. Keganasan merupakan diagnosa selanjutnya
yang paling umum terjadi. Penyakut penyumbatan arteri jarang yang
membutuhkan amputasi ekstremitas atas. Tetapi amputasi jari-jari
sering digunakan pada operasi penyakit vaskularkolagen dan
penyakit buerger.

F. PRINSIP AMPUTASI
1. Amputasi transmetatarsal biasanya tidak berhasil bila denyut nadi
tidak teraba

8
2. Amputasi BL paling baik dilakukan pada betis atas dan sepertiga
tengah. Amputasi pada tingkat ini paling mudah dicocokkan dengan
prostesis dan pasien dapat berjalan lebih baik daripada dengan
amputasi tungkai distal
3. Pasien yang tidak dapat berjalan paling baik dilakukan amputasi AL
dibanding BL
4. Amputasi AL yang tidak sembuh merupakan kondisi yang pramorbid
5. Ekstremitas dengan infeksi luas, paling baik ditangani dengan
guillotine dini terbuka diikuti oleh penutupan kemudian kemudian
setelah infeksi menghilang
6. Jika ibu jari harus dikorbankan proksimal dari kpaut metatarsal,
pasien harus cepat direhabilitasi jika amputasi transmetatarsal
standar lima jari telah selesai dilakukan

G. KOMPLIKASI
Menurut Nielsen, 2007 Komplikasi-komplikasi yang terjadi setelah

dilakukan operasi amputasi antara lain :

1. Hematoma

Hematoma yaitu timbunan darah lama di dalam puntung (stump),

ini terus dicegah dengan penghentian darah secara baik dan teliti

(waktu operasi), dan sesudah operasi disarankan dipasang alat sedot

darah hematom (Nielsen, 2007).

2. Infeksi

Invasi dan pembiakan mikroorganisme pada jaringan tubuh dan

secara klinis mungkin tampak atau timbul cedera selular lokal akibat

kompetisi metabolisme, toksin, replikasi, intrasel atau respon

antigen/antibody. Pada kasus amputasi ini merupakan komplikasi yang

berat, hal ini dapat terjadi karena masih adanya serpihan – serpihan

9
tulang atau barang lain yang tidak steril didalam puntung (stump) yang

kemudian dapat menyebabkan terjadinya infeksi (Nielsen, 2007).

3. Nekrosis

Nekrosis yaitu kematian sebagian kulit atau jaringan pada puntung

(stump). Nekrosis yang sedikit dapat diobati secara konservatif

sedangkan pada nekrosis yang berat atau luas dipertimbangkan

kemungkinan perlunya tindakan reamputasi (Nielsen, 2004).

4. Kontraktur

Kontraktur yaitu terjadinya kekakuan sendi tidak dapat bergerak

melalui seluruh ruang gerak yang bersangkutan. Ini merupakan

kesalahan perawatan dan fisioterapi tidak memadai sesudah operasi

(Nielsen, 2007).

5. Neuroma Traumatik

Neuroma Traumatik yaitu suatu tumor atau neoplasma yang

sebagian besar terdiri dari sel dan serabut syaraf serta merupakan suatu

tumor yang tumbuh dari suatu syaraf. Biasanya timbul setelah

dilakukan amputasi dari suatu ekstremitas (Nielsen, 2007).

6. Phantom Sensation

Phantom Sensation yaitu perasaan dari penderita dimana masih

merasa mempunyai bagian tungkai yang telah dipotong dan sakit

pada bagian tersebut atau sebuah citra atau kesan yangn tidak

dicetuskan oleh rangsangan sesungguhnya(Nielsen, 2007).

7. Gangrene

Gangrene terbagi menjadi dua tipe yaitu:

10
 Gangrene kering: gangrene kering merupakan kematian dari

suatu bagian, biasanya anggota gerak, disebabkan oleh

ischemia tanpa adanya udema atau infeksi mikroskopik

 Gangrene basah, gangrene basah disebabkan oleh bagian busuk

yang membengkak, organ atau anggota gerak yang terjadi

setelah sumbatan arterial atau kadang – kadang sumbatan vena

yang sering kali disertai infeksi.

Gangrene disebabkan oleh beberapa hal yaitu:

 Vaskuler, meliputi pembuluh darah, spasme vaskuler, tekanan

luar, embolisme

 Traumatik, contohnya cedera akibat benturan / tekanan yang

diikuti dengan kekurangan pasokan darah

 Fisiko- kimia, contohnya panas, dingin, asam, alkali, sinar-X

 Infeksi contohnya gas gangrene

 Penyakit syaraf (Nielsen, 2007).

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorim : Kultur dan sensitivitas luka dapat dilakukan untuk
mengidentifikasi organisme infeksi dan agen antimikroba optimal yang
diperlukan untuk memberantas infeksi; laju sedimentasi biasanya
meningkat karena respons inflamasi; CBC dengan diferensial digunakan
untuk mengidentifikasi peningkatan jumlah sel darah putih dan adanya
pergeseran ke kiri yang mewakili proses infeksi
2. Angiografi, arteriografi : Digunakan untuk menilai aliran darah dan
untuk mengidentifikasi tingkat amputasi optimal.
3. CT scan : Digunakan untuk mengidentifikasi neoplasma, osteomielitis,
atau pembentukan hematoma

11
4. Ultrasonografi atau flowmetri Doppler : Digunakan untuk menilai
aliran darah ke area jaringan

12
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Pengumpulan data
 Identitas Klien
Meliputi : Nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan,
diagnosa medis, no register dan tanggal MRS.
 Keluhan Utama
Biasanya px mengeluh sakit (nyeri) pada daerah luka post op apabila
digerakkan.
 Riwayat Penyakit Dahulu.
Pada klien fraktur pernah mengalami kejadian patah tulang apa pernah
mengalami tindakan operasi apa tidak.
 Riwayat Penyakit Sekarang.
Pada umumnya penderita mengeluh nyeri pada daerah luka operasi.
 Riwayat Penyakit Keluarga.
Didalam anggota keluara tidak / ada yang pernah mengalami penyakit
fraktur / penyakit menular.
2. Pola – Pola Fungsi
 Aktivitas/Istirahat
Gejala : keterbatasan actual atau antisipasi yang dimungkinkan oleh
kondisi/amputasi
 Integritas ego
Tanda : ansietas, ketakutan, peka, marah, ketakutan, menarik diri,
keceriaan berdaya
Gejala : masalah tentang antisipasi perubahan pola hidup, situasi
financial, reaksi orang lain perasaan putus asa, tidak berdaya.
 Seksualitas
Gejala : masalah tentang keintiman hubungan
 Interaksi social
Gejala : masalah hubungan dengan penyakit atau kondisi.

13
3. Pengkajian Riwayat Kesehatan.
Perawat memfokuskan pada riwayat penyakit terdahulu yang mungkin
dapat mempengaruhi resiko pembedahan seperti adanya penyakit diabetes
mellitus, penyakit jantung, penyakit ginjal dan penyakit paru. Perawat
juga mengkaji riwayat penggunaan rokok dan obat-obatan.
4. Pengkajian Fisik
Pengkajian fisik dilaksanakan untuk meninjau secara umum kondisi
tubuh klien secara utuh untuk kesiapan dilaksanakannya tindakan operasi
manakala tindakan amputasi merupakan tindakan terencana/selektif, dan
untuk mempersiapkan kondisi tubuh sebaik mungkin manakala
merupakan trauma/ tindakan darurat.
Kondisi fisik yang harus dikaji meliputi :
SISTEM TUBUH KEGIATAN
Integumen : Mengkaji kondisi umum kulit untuk meninjau tingkat
Kulit secara umum. hidrasi.
Lokasi amputasi Lokasi amputasi mungkin mengalami keradangan akut
atau kondisi semakin buruk, perdarahan atau kerusakan
progesif. Kaji kondisi jaringan diatas lokasi amputasi
terhadap terjadinya stasis vena atau gangguan venus
return.
Sistem Cardiovaskuler : Mengkaji tingkat aktivitas harian yang dapat dilakukan
Cardiac reserve pada klien sebelum operasi sebagai salah satu indikator
Pembuluh darah fungsi jantung.
Mengkaji kemungkinan atherosklerosis melalui penilaian
terhadap elastisitas pembuluh darah.
Sistem Respirasi Mengkaji kemampuan suplai oksigen dengan menilai
adanya sianosis, riwayat gangguan nafas.
Sistem Urinari Mengkaji jumlah urine 24 jam.
Menkaji adanya perubahan warna, BJ urine.
Cairan dan elektrolit Mengkaji tingkat hidrasi.
Memonitor intake dan output cairan.

14
Sistem Neurologis Mengkaji tingkat kesadaran klien.
Mengkaji sistem persyarafan, khususnya sistem motorik
dan sensorik daerah yang akan diamputasi.
Sistem Mukuloskeletal Mengkaji kemampuan otot kontralateral.

5. Pengkajian Psikologis, Sosial, Spiritual


Disamping pengkajian secara fisik perawat melakukan pengkajian pada
kondisi psikologis ( respon emosi ) klien yaitu adanya kemungkinan
terjadi kecemasan pada klien melalui penilaian klien terhadap amputasi
yang akan dilakukan, penerimaan klien pada amputasi dan dampak
amputasi terhadap gaya hidup. Kaji juga tingkat kecemasan akibat operasi
itu sendiri. Disamping itu juga dilakukan pengkajian yang mengarah pada
antisipasi terhadap nyeri yang mungkin timbul.
Perawat melakukan pengkajian pada gambaran diri klien dengan
memperhatikan tingkat persepsi klien terhadap dirinya, menilai gambaran
ideal diri klien dengan meninjau persepsi klien terhadap perilaku yang
telah dilaksanakan dan dibandingkan dengan standar yang dibuat oleh
klien sendiri, pandangan klien terhadap rendah diri antisipasif, gangguan
penampilan peran dan gangguan identitas.
Adanya gangguan konsep diri antisipasif harus diperhatikan secara
seksama dan bersama-sama dengan klien melakukan pemilihan tujuan
tindakan dan pemilihan koping konstruktif.
Adanya masalah kesehatan yang timbul secara umum seperti terjadinya
gangguan fungsi jantung dan sebagainya perlu didiskusikan dengan klien
setelah klien benar-benar siap untuk menjalani operasi amputasi itu
sendiri. Kesadaran yang penuh pada diri klien untuk berusaha berbuat
yang terbaik bagi kesehatan dirinya, sehingga memungkinkan bagi
perawat untuk melakukan tindakan intervensi dalam mengatasi masalah
umum pada saat pre operatif.

15
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan rasa aman nyaman berhubungan dengan: cedera, trauma dan


luka operasi
2. Gangguan perfusi jaringan: Perifer berhubungan dengan : Penyakit,
tindakan pembedahan, penurunan tekanan darah, edema dan hipovolemi.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan : truma, luka pembedahan, kulit
yang terbuka, prosedur invasive, penyakit dan nutrisi kurang dai kebutuhan
4. Gangguan integritas kulit Terkait dengan: amputasi, prosedur bedah,
prosedur invasif, kulit yang rusak
5. Resiko ketidak seimbangan volume cairan berhubungan dengan
mual/muntah, demam, pembatasan cairan oral
6. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kehilangan anggota
tubuhnya
7. Berduka antisipatif berhubungan dengan: hilangnya kesehatan fisik yang
sebenarnya

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Gangguan perfusi jaringan: Perifer


Berhubungan dengan : Penyakit, tindakan pembedahan, penurunan
tekanan darah, edema dan hipovolemi.
Batasan Karakteristik :
 Nadi teraba lemah atau tidak ada
 Perubahan warna kulit
 Sianosis
 Nekrosis
 Luka
 Perubahan suhu tubuh
 Rasa terbakar
Kriteria hasil :
 Nadi dalam batas normal
 Akral teraba hangat

16
 Warna kulit tidak pucat (pink)
 Penyembuhan luka yang optimal
Intervensi :
1) Kaji sirkulasi pernafasan tiap 1-4 jam dengan melakukan
pengecekan dengan tidak ada perubahan warna, suhu, pergerakan
atau sensasi.
R : Sirkulasi dapat terganggu karena pembedahan nisa menyebabkan
edema dan dapat menjadikan jaringan nekrosis. Deteksi yang cepat
akan memungkinkan untuk memberikan intervensi yang dibutuhkan.
2) Evaluasi lutut yang tidak dilakukan amputasi/pembedahan untuk
edema, inflamasi, edema atau ada tidaknya tanda homan atau parret.
R : Penyakit vascuker perifer dapat meningkatkan insidensi post
pembentukan trombus operatif
3) Insruksikan pasien untuk segera memberi tahukan petugas apabila
ada perubahan sensori pada area yang dilakukan pembedahan
ataupun rpembengkakakan.
R : parathesias dapat terjadi kerusakan saraf kembali atau dengan
sirkulasi terganggu

2. Resiko infeksi
Berhubungan dengan : truma, luka pembedahan, kulit yang terbuka,
prosedur invasive, penyakit dan nutrisi kurang dai kebutuhan
Batasan Karakteristik :
 Peningkatan suhu tubuh
 Peningkatan sel darah putih
 Sepsis
 Adanya bengkak
 Luka yang semakin membesar
Kriteria Hasil:
 Tidak terjadi infeksi
 Kondisi luka tidak memburuk

17
Intervensi :
1. Monitor tanda-tanda vital dan MD apabila terjadi peningkatan secara
signifikan
R : Salah satu tanda yang menunjukkan terjadinya sepsis adalah
peningkatan suhu tubuh, takikardi, dan takipnea.
2. Observasi tanda-tanda infeksi : Kemerahan, panas, pembengkakan,
nyeri dan perubahan fungsi tubuh.
R : Deteksi dini terhadap adanya infeksi dapat mengakibatkan pemberian
intervensi secara cepat dapat mengurangi dampak terjadinya komplikasi
lebih lanjut
3. Pememriksaan kultur jaringan yang disesuaikan dengan protokol
rumah sakit
R : Identifikasi organisme penyebabb infeksi memungkinkan untuk
pemelihan antimikroba yang tepat dalam meminimalisir terjadinya
infeksi
4. Ganti balutan menggunakan teknik aseptik atau steril sesui kebutuhan
R : Mengurangi penyebaran atau masuknya bakteri kedalam tubuh
5. Pastikan bahwa sistem drainase berfungsi dengan benar dan
menyatakan bahwa pengososngan drainase sedang dilakukan
R : Sistem drainase memfasilitasi pembuangan drainase dari luka yang
dapat mengurangi kemungkinan infeksi dari cairan tubuh yang stagnan.
Pengukuran drainase memberikan kecenderungan untuk
mengidentifikasi kehilangan cairan serta potensi penyembuhan atau
kerusakan luka
6. Instruksikan pasien untuk melaporkan tanda / gejala infeksi
R: Memungkinkan pengenalan masalah dengan segera untuk
memfasilitasi intervensi segera
7. Instruksikan efek antimikroba, efek samping, dan kontraindikasi
R: memberikan pengetahuan dan memfasilitasi kerja sama dalam
regimen medis
8. Instruksikan pasien / keluarga tentang prosedur pengendalian infeksi,
persyaratan isolasi

18
R: Memberikan pengetahuan dan memfasilitasi kepatuhan dengan
pengobatan; melibatkan keluarga dalam perawatan pasien dan
mengurangi potensi penyebaran infeksi

3. Gangguan integritas kulit


Berhubungan dengan: amputasi, prosedur bedah, prosedur invasif, kulit
yang rusak
Batasan karakteristik:
 Luka bedah
 Tempat tusukan
 Kulit yang terkelupas
 Kulit atau jaringan yang terganggu
Kriteria Hasil:
 Pasien akan sembuh dari luka tanpa kulit atau gangguan
jaringan.
Intervensi:
1) Periksa luka setiap hari untuk menilai penyembuhan, kerusakan,
warna, karakter dan jumlah drainase, tanda-tanda gejala infeksi.
R : Deteksi perubahan yang cepat dapat memfasilitasi intervensi
yang cepat untuk komplikasi. Penurunan jumlah drainase dapat
mengindikasikan penyembuhan yang tepat, sedangkan peningkatan
jumlah drainase, atau drainase purulentlodiferous dapat
menunjukkan adanya fistula, perdarahan, atau proses infeksi.
2) Jika jumlah drainase besar, terapkan perangkat pengumpulan

lebih dari situs, catat jumlah setiap 8 jam.

R : Membantu mengurangi trauma kulit dengan mengurangi area


permukaan yang kontak dengan drainase, dan memfasilitasi
pengukuran drainase yang lebih akurat.
3) Bersihkan luka aeauai protokolmenggunakan teknik steril atau
aseptik

19
R : Membantu mengurangi potensi infeksi: menghilangkan puing
dan drainase kaustik dari permukaan kulit untuk menjaga integritas
kulit dan meningkatkan penyembuhan.

4) Memanfaatkan benzoin atau produk slun barrier lainnya sebelum


pengaplikasian selama ganti pakaian, atau menggunakan tali
Montgomery atau peregangan jaring untuk pembalut yang mungkin
membutuhkan perubahan yang lebih sering
R : Melindungi kulit dari abrasi dengan menghilangkan plester.
Penggunaan kelambu atau tali pengikat mencegah pengangkatan
berulang dari pita yang selanjutnya dapat mengganggu integritas
kulit.
5) Biarkan luka terbuka ke udara, atau tutupi dengan kain kasa
ringan sesegera mungkin
R : Membantu memfasilitasi penyembuhan dan pembalut ringan
mungkin diperlukan untuk mencegah jahitan atau luka agar tidak
terganggu oleh linen, pakaian, dll.

4. Resiko ketidak seimbangan volume cairan


Berhubungan dengan mual/muntah, demam, pembatasan cairan oral,
keluaran urin yang berlebih, dan perubahan integritas pembuluh darah
Batasan Karakteristik:
 Ketidakseimbangan cairan input dan output
 Dehidrasi
 Perubahan turgor kulit
Kriteria Hasil:
 Tanda-tanda vital yang stabil
 Denyut nadi teraba
Intervensi:
1) Pantau tanda-tanda vital setiap 1-2 jam.
R : Gejala defisit cairan dapat dimanifestasikan dalam tekanan darah
rendah, dan peningkatan frekuensi pernapasan dan jantung.
Perubahan kualitas nadi atau kulit yang dingin dan lembab dapat

20
mengindikasikan penurunan perfusi dan sirkulasi perifer dan
kebutuhan akan cairan pengganti.
2) Pantau asupan dan keluaran selama 1-2 jam, dan beri tahu tentang
ketidakseimbangan cairan yang signifikan atau keluaran urin kurang
dari 30 cc jam selama 2 jam.
R: Pengenalan yang cepat atas ketidakseimbangan dan kehilangan
cairan menyediakan intervensi segera dan pemberian cairan yang
diperlukan.
3) Evaluasi adanya mual muntah
R: Mual pasca operasi segera dapat terjadi karena lamanya anestesi
dan kecenderungan untuk mual.
4) Amati luka untuk peningkatan pengeluaran cairan pada drainase
serta pembengkakan disekitar luka
R : Penghentian tiba-tiba dari drainase luka yang tercatat
sebelumnya dapat mengindikasikan adanya obstruksi pada sistem
drainase. Edema di daerah luka dapat mengindikasikan
pembentukan hematoma atau perdarahan dari luka. Kurangnya
pembengkakan tidak berarti bahwa pendarahan tidak terjadi.
Perdarahan cincin-retroperitoneal mungkin tidak dicatat secara
visual sampai lama setelah pasien menunjukkan perubahan tanda
vital.
5) Berikan cairan IV, darah, dan produk darah sesuai kebutuhan.
R: Mengganti cairan yang diperlukan dan meningkatkan volume
sirkulasi.
6) Berikan obat-obatan antiemetik
R : Meredakan mual dan muntah yang dapat menyebabkan
kemampuan untuk menelan jumlah cairan yang cukup.
7) Pantau nilai lab untuk hemoglobin dan hematokrit
R : Hematokrit memberikan indikator status volume cairan dan
hidrasi. Kehilangan darah yang tidak tergantikan dapat
menyebabkan defisit cairan lebih lanjut.

21
8) Instruksikan pasien untuk mencatat peningkatan drainase luka,
kebocoran, atau sensasi tekanan pada area luka.
R : Sensasi tekanan dapat terjadi akibat perdarahan retroperitoneal
dan harus dievaluasi segera.

5. Gangguan citra tubuh


Berhubungan dengan: Kehilangan anggots tubuh, proses penyakit,
kehilangan publik figur, dan kehilangan fungsi
Batasan karakteristik:
 Perasaan negatif tentang tubuh
 Penghindaran melihat bagian yang hilang
 Persepsi perubahan dalam gaya hidup
 erasaan tidak berdaya
Kriteria Hasil:
 Pasien akan dapat beradaptasi dan mengatasinya perubahan
citra tubuh
 Menunjukkan kemampuan menerima keadaan dirinya.
Intervensi :
1) Evaluasi kemampuan pasien untuk menangani amputasi dan
persepsi kebutuhannya akan amputasi.
R: Memberikan input sesuai level pemahaman pasien. Pasien yang
mengalami amputasi traumatis paling sering mengalami kesulitan
dalam berurusan dengan masalah citra tubuh, seperti menentang
menerima kenyataan bahawa dirinya di amputasi. Mungkin
diamputasi menjadi prosedur yang menyelamatkan jiwa.
2) Amati penarikan, penolakan, atau negatif tentang diri.
R: Pasien mungkin tidak bisa berurusan dengan trauma awalnya dan
mungkin memerlukan waktu untuk menerima kondisi mereka yaang
baru. Pengakuan tahap-tahap kesedihan memberikan peluang untuk
intervensi.

22
3) Berikan waktu untuk pasien mendiskusikan keprihatinan atas
perubahan struktur tubuh dan persepsinya tentang kebutuhan untuk
yang baru / berbeda gaya hidup.
R : Memberikan kesempatan untuk menghilangkan kekhawatiran dan
memungkinkan waktu untuk pemecahan masalah dengan tujuan yang
realistis.
4) Dorong pasien untuk ikut berpartisipasi dalam perawatan dan
pemberiannya peluang bagi pasien untuk amati tunggul.
R : Mempromosikan perasaan kebebasan dan memberi waktu bagi
pasien untuk menerima citra tubuhnya. Penguatan positif tentang
kemajuan menuju penyembuhan mungkin akan membantu harga
dirinya.
5) Diskusikan ketersediaan kunjungan oleh orang yang diamputasi
R : Orang lain yang telah melalui pengalaman yang sama mungkin
memfasilitasi pemulihan dan membantu sabar untuk mengenali
bagaimana dia bisa mencapai gaya hidup normal.
6) Dorong anggota keluarga untuk membantu dengan peduli dan
menilai kemampuan keluarga untuk mendukung pasien.
R : Memberikan kesempatan bagi anggota keluarga untuk menangani
kerugian dan untuk membantu rehabilitasi tahap.
7) Instruksikan kepada keluarga pasien untuk memulai perawatan
pasca operasi, rehabilitasi, dan penggunaan prosthetics.
R : Mempromosikan pengetahuan dan menyediakan peluang bagi
pasien untuk mengungkapkan kekhawatiran dan pertanyaan, Dapat
meningkatkan pemulihan pasca operasi dan memfasilitasi kepatuhan
dengan perawatan medis.
8) Diskusikan keprihatinan tentang seksualitas.
R : Memberikan pengetahuan dan bantuan dengan penyesuaian ke
gambar tubuh, sekaligus memberikan peluang untuk menghilangkan
kesalahpahaman.

23
6. Berduka antisipatif
Berhubungan dengan: hilangnya kesehatan fisik yang sebenarnya
Batasan karakteristik:
 Ekspresi kemarahan atau kesusahan karena kehilangan
 Menangis
 Kesedihan
 Rasa bersalah
 Perubahan dalam pola tidur, ktivitas, makan atau libido
Kriteria Hasil:
 Pasien akan dapat mengekspresikan perasaannya dengan tepat
dan bekerja melalui tahap kesedihan dan berduka.
Intervensi:
1) Mengevaluasi status emosional.
R : Kecemasan, depresi, dan kemarahan adalah reaksi normal
terhadap kehilangan bagian tubuh. Pasien mungkin kemajuan melalui
berbagai hal tahap kesedihan pada tingkat mereka sendiri dan
perubahan mungkin terkait dengan kondisi fisik mereka juga.
2) Identifikasi stadium pasien dalam proses berduka.
R : Shock mungkin merupakan respons awal terkait dengan amputasi,
terutama jika itu traumatis. Pasien mungkin sangat sakit, dia tidak
bisa mengekspresikan perasaannya dan kekhawatiran. Penyangkalan
mungkin awalnya bermanfaat untuk kemampuan pasien mengatasi
cedera, tetapi penolakan yang terus menerus dapat merusak
kemampuan pasien untuk secara efektif berurusan dengan masalah.
Marah dapat diekspresikan baik secara lisan, non-verbal, atau fisik,
dan pasien dapat menggantikannya kemarahan dengan menyalahkan.
Depresi dapat berlangsung beberapa minggu selama bertahun-tahun.
Dengan penerimaan dan dukungan karena perasaan ini akan
memfasilitasi pemulihan.
3) Berikan informasi faktual kepada pasien dalam hal diagnosis /
prognosis. Jangan berikan kepastian palsu.

24
R : Keluarga bisa jadi tempat awal instruksi diarahkan jika kesadaran
pasien berkurang karena cederanya. Hasil akhir dari cedera pasien
mungkin awalnya tidak diketahui dan sebagainya informasi harus
disimpan sederhana.
4) Bantu pasien untuk fokus pada kebutuhan dia sekarang sebelum
berubah fokus ke tujuan jangka panjang. Dorong pasien untuk
mengambil kendali dalam keputusan tentang miliknya peduli kapan
pun memungkinkan.
R : Mengurangi rasa frustrasi menghadapi masa depan yang tidak
pasti, dan memungkinkan pasien kontrol dalam berurusan dengan
masalah saat ini.
5) Berikan penerimaan kemarahan, keputusasaan, dan depresi, tetapi
menetapkan batasan pada perilaku yang tidak dapat diterima saat
diperlukan.
R : Berikan penerimaan kemarahan, keputusasaan, dan depresi, tetapi
menetapkan batasan pada perilaku yang tidak dapat diterima saat
diperlukan.
6) Memberikan konsultasi dengan terapis, pekerja sosial, atau
menteri seperti yang dijamin.
R : Kesulitan fisik dan spiritual akan harus dihadapi oleh pasien dan
keluarga akan membutuhkan jangka panjang bantuan dan konseling
untuk mengatasi perubahan dibutuhkan oleh cedera ini.

25
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Amputasi dapat disebabkan oleh trauma, penyakit ataupun masalah bawaan
( Keturunan/ kongenital). Amputasi juga bisa dilakukan karena infeksi yang tidak
terkendali, Nyeri hebat, atau adanya gangren yang disebabkan ketidak adekuatan
perfusi jaringan pada bagian tersebut dan biasanya mputasi dilakukan pada
jaringan atau struktur tulang terjauh dengan tujuan agar nantinya tetap dapat
dgunakan dengan prostetik.
Amputasi dapat dipertimbangkan sebagai pilihan terakhir untuk
menyelamatkan ekstremitas. Dokter bedah dapat mencoba revaskularisasi, reseksi,
atau terapi oksigen hiperbarik sebagai upaya menyelamtkan anggota tubuh dari
amputasi

26
DAFTAR PUSTAKA
Ariyansah, alfitri. 2017. ASKEP AMPUTASI.
https://www.academia.edu/30004008/ASKEP_AMPUTASI.docx. (30
Agustus 2019).
Brunner and Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 volume 3.
Jakarta : EGC
Comer, Sheree. 1998. Critical Care Nursing Care Plans. Amerika: DELMAR
Doenges, E.Mariliyn. 2000. Rencana asuhan keperawatan edisi 3. Jakarta: EGC
Johnson, M. 2000. Nursing Outcomes Classification(NOC), second edition,
Moesby, Vhiladelphia.
Nanda. 2015. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda Definisi dan Klasifikasi
2015-2017. Editor: Budi Sentosa. Jakarta: Prima Medika
Schwartz, seymour I. Intisari prinsip-prinsip bedah. Editor, G. TOM Shires
dkk ;alih bahasa, Linda Chandranata dkk. 2000. Jakarta : EGC (30
Agustus 2019).
Wikinson. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. Jakarta: EGC

27