Anda di halaman 1dari 1

Sabina Katya V.

D – 1606822913 – Filsafat Hukum A – Reguler

REVIEW “HISTORICAL AND ANTHROPOLOGICAL JURISPRUDENCE”

Pemikiran filsafat hukum historis adalah mengenai sistem hukum yang ada memerlukan
pemahaman mengenai akar sejarah dan pemahaman tentang pola-pola evolusi dari sistem hukum
tersebut. Aliran pemikiran ini berkembag di Eropa, khususnya di Jerman dan Inggris.
Friederich Karl von Savigny merupakan tokoh dari aliran mazhab hukum sejarah yang
berasal dari Jerman. Menurutnya, hukum bukanlah sesuatu yang dapat diciptakan secara
sewenang-wenang dan terencana oleh pembuat hukum. Hukum adalah hasil dari proses yang
bersifat internal dan otonom serta diam-diam (silently operating) dalam diri masyarakat (rakyat).
Menurut saya, apa yang disampaikan oleh beliau benar, dalam hal ini saya berpendapat bahwa
hukum yang dimaksud merupakan hukum adat yang merupakan sumber hukum apabila diterima
dalam masyarakat. Hukum adat tersebut akan diadopsi menjadi hukum positif apabila
masyarakat menghendakinya melalui kewenangan pembuat hukum.
Romantisisme adalah gerakan reaktif yang menentang Zaman Pencerahan yang terlalu
mengagung-agungkan akal (rasio) dan konsep universal sehingga menyebabkan pandangan yang
dihasilkan bersifat dingin dan kaku. Berlainan dengan Pencerahan yang melihat Zaman
Pertengahan sebagai abad kegelapan, Romantisme justru melihat zaman tersebut secara positif.
Berkaitan dengan keberadaan masyarakat, Romantisme melihat kekuatan-kekuatan kreatif dalam
kesatuan komunitas manusia, sumber kejiwaan kolektif ditemukan dalam sejarah masa lampau.
Aliran Romantisme dalam bidang politik cenderung konservatif. Ia menemukan cita-cita
kenegaraan di Abad Pertengahan. Mereka mendukung monarki dan menolak republik. Savigny
yang romantis dalam melihat hukum dapat dilihat dengan mencermati beberapa istilah yang
digunakan Savigny dalam memaparkan pemikirannya. Istilah-istilah itu adalah: i) Rakyat; ii)
Hukum Positif; iii) Hukum Kebiasaan; iv) Legislasi; v) Hukum yang Dihasilakan Yuris; vi)
Peran Legislasi dan Ilmu Hukum. Mengenai istilah-istilah tersebut mendapat kritikan dari Edgar
Bodenheimer. Yang pertama, berkaitan dengan istilah bangsa, rakyat atau volk. Savigny tidak
begitu jelas dalam mendefinisikan istilah ini. Terutama ketika berbicara mengenai bangsa yang
telah mengalami hubungan dengan bangsa lain atau pengalaman imperialisme. Yang kedua,
berkaitdan dengan peran legislasi dan institusi hukum lainnya. Savingy tidak begitu
memperhatikan institusi modern hukum yang mulai berkembang, walaupun ia tidak menafikan
peran legislatif. Yang ketiga, berkaitan dengan kedudukan von Savigny sebagai bangsawan.
Kritik Savigny atas kodifikasi hukum Jerman yang diusulkan Thibaut, bisa dimungkinkan,
pertama-tama tidak dilandasi oleh motif murni akademis tetapi motif untuk melindungi posisinya
sebagai bangsawan.
Tokoh pemikir mazhab sejarah lain adalah James Coolidge Carter yang berasal dari
Amerika. Gagasannya mirip dengan Savigny, yang sama-sama menolak gagasan kodifikasi.
Baginya, kodifikasi akan menghambat perkembangan hukum karena keterpakuan pada kodifikasi
yang ada, apalagi bila mempertimbangkan mekanisme amandemen yang dapat terjadi bila ada
kesalahan atau kecurangan pada norma yang bersangkutan.