Anda di halaman 1dari 10

MEMAHAMI BAHASA INDONESIA SEBAGAI

DASAR JIWA NASIONALISME


BANGSA

Disusun Guna Memenuhi Tugas


Bahasa Indonesia Semeter V
Pengampu: Najma Thalia, S.S. M.Hum.

Oleh:

ROYAN IMADUDDIN
B 100160196

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa dengan catatan sejarah yang cukup
panjang dalam setiap perkembangan serta pembentukannya. Hal ini berlaku baik
secara lisan maupun dalam tulisannya. Bahasa Indonesia merupakan perkembangan
dari Bahasa Melayu sejak zaman kerajaan di Nusantara. Pernyataan tersebut didukung
dengan bukti-butki yang dipaparkan oleh Arifin (2009:5) bahwa telah ditemukannya
prasasti kedukan di Palembang, prasasti talang tuo di Palembang, prasasti kota kapur
di Banka Barat dan lain-lain.

Pada zaman kerajaan tersebut, bahasa Melayu yang akan menjadi bahasa
Indonesia digunakan dalam percakapan sehari-hari serta dalam pemerintahan
kerajaan. Hal ini dikarenakan banyaknya orang-orang dari luar Nusantara yang datang
dan singgah sehingga digunakan bahasa Melayu sebagai bahasa penghubung.
Pemilihan bahasa Melayu sebagai bahasa penghubung dikarenakan bahasa tersebut
tidak menggunakan tingkatan seperti bahasa-bahasa yang lainnya, sehingga
mempermudah individu dalam penggunaannya. Oleh karena itu, dapat disimpulkan
bahwa bahasa Melayu yang pada saat itu akan menjadi cikal bakal bahasa Indonesia
yang sekarang telah memiliki fungsi dan kedudukan yang sangat penting di
masyarakat.

Mulai dari zaman penjajahan sampai zaman globalisasi saat ini, bahasa Indonesia
telah melewati banyak perkembangan yang sangat pesat baik dalam bentuk lisan serta
tulisan. Menurut Pusat Bahasa (2003) dalam perkembangan kehidupan masyarakat
Indonesia, bahasa Indonesia mengalami berbagai macam perubahan, baik sebagai
akibat tatanan kehidupan dunia yang baru, globalisasi, perkembangan teknologi
informasi, maupun sebagai akibat tatanan ekonomi dunia baru. Perkembangan ini
mulai dari ejaan Van Ophujisen, Soewandi, Melindo sampai Ejaan Yang
Disempurnakan yang dipakai saat ini. Selain itu, bahasa Indonesia terus ditingkatkan
melalui kegiatan-kegiatan seperti seminar bahasa, penelitian bahasa Indonesia serta
kongres bahasa Indonesia yang dilaksanakana setahun sekali. Hal tersebut
memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia memiliki kedudukan serta fungsi yang
penting bagi pemerintahan dan masyarakat Indonesia.

Berdasarkan penjelasan diatas, masyarakat Indonesia seharusnya merasa bangga


serta menjaga bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan nasional. Tetapi pada
kenyataannya, banyak remaja yang lebih bangga menggunakan bahasa asing agar
dianggap lebih gaul dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Banyak pula remaja yang
dalam percakapannya mencampurkan bahasa slank pada bahasa Indonesia dan
berdampak dalam merusak tatanan aturan serta ejaan bahasa Indonesia yang baik dan
benar. Hal ini mengakibatkan remaja menjadi terbiasa dengan percakapan seperti itu
dan tidak memahami penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Menurut pemaparan diatas, maka makalah ini diharapkan dapat memberi


dorongan serta motivasi baru untuk meningkatkan jiwa nasionalisme akan bahasa
Indonesia sehingga dalam penggunaan sehari-hari dapat menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan terstruktur dengan benar.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka rumusan masalah
dari makalah ini sebagai berikut:

a. Bagaimana sejarah bahasa Indonesia?


b. Apakah kedudukan bahasa Indonesia sebagai dasar jiwa nasionalisme bangsa?
c. Apa saja fungsi bahasa Indonesia sebagai dasar jiwa nasionalisme bangsa?
d. Bagaimana upaya mempertahankan bahasa Indonesia sebagai dasar jiwa
nasionalisme bangsa?

C. Tujuan

Dari paparan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari makalah ini ialah sebagai
berikut:

a. Memahami bahasa Indonesia.


b. Memahami kedudukan bahasa Indonesia sebagai dasar jiwa nasionalisme
bangsa.
c. Memahami fungsi bahasa Indonesia sebagai dasar jiwa nasionalisme
bangsa.
d. Mengetahui upaya mempertahankan bahasa Indonesia sebagai dasar jiwa
nasionalisme bangsa.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Singkat Bahasa Indonesia

Menurut Alek (2011:8) bahasa Indonesia merupakan bahasa yang berasal dari
bahasa Melayu yang termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia dan digunakan
sebagai lingua franca (satuan lingua) di Nusantara sejak abad awal penanggalan
modern, bahasa tersebut digunakan dalam percakapan sehari-hari yang bersifat
informal. Bentuk bahasa sehari-hari ini dinamai dengan istilah melayu pasar. Bahasa
melayu pasar merupakan bahasa yang bersifat lentur dikarenakan mudah dimengerti
dan efektif. Tetapi bahasa ini cenderung memiliki toleransi kesalahan yang sangat
besar dan menyerap istilah dari bahasa lain yang digunakan oleh penggunanya.

Terdapat pula istilah Melayu Tinggi yang merupakan bahasa lain dari melayu
pasar. Melayu tinggi biasa digunakan oleh kalangan atas seperti keluarga kerajaan di
daerah Sumatera, Malaya dan Jawa. Bahasa melayu tinggi lebih sulit dalam
pengaplikasiannya dikarenkan penggunaannya halus, penuh sindiran dan kurang
ekspresif bila dibandingkan dengan melayu pasar. Pada zaman pemerintah kolonial
Belanda, fleksibilitas bahasa melayu pasar dianggap dapat mengancam keberadaan
bahasa dan budaya sehingga Belanda mempromosikan bahasa melayu tinggi. Belanda
menerbitkan beberapa buku sastra menggunakan bahasa melayu tinggi oleh Balai
Pustaka. Tetapi pada saat itu, bahasa melayu pasar lebih diminati sehingga digunakan
oleh pedagang yang datang dan singgah di Indonesia.

Bahasa Indonesia terus berkembang secara perlahan dan pasti seiring berjalannya
waktu. Akhir-akhir ini perkembangan tersebut semakin pesat sehingga bahasa
Indonesia lama kelamaan digunakan sebagai bahasa modern dengan kosa kata yang
banyak dan semakin terstruktur.

Pada tanggal 28 Oktober 1928, ikrar Sumpah Pemuda di kemukakan oleh pemuda
dan pelajar Indonesia. Naskah Putusan Kongres Pemuda tahun 1928 berisi sebagai
berikut:

Pertama: Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu,
tanah Indonesia.
Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bahasa
Indonesia.

Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjujung bahasa persatuan, bahasa
Indonesia

Dari putusan kongres pemuda terlihat jelas bahwa kaum pemuda dan pelajar pada
saat itu sangat menjunjung tinggi Nasionalisme dan derajat serta martabat bahasa
Indonesia. Putusan kongres pemuda ini dibuat oleh kaum pemuda dan pelajar tanpa
adanya paksaan serta tekanan dari pihak mamapun. Tergambar dengan jelas begitu
tinggi nya semangat mereka dalam memperjuangkan pengakuan bahasa Indonesia
sebagai bahasa Nasional di mata dunia.

Berdasarkan penjelasan tersebut, kaum muda serta pelajar saat ini tinggal
melanjutkan perjuangan bahasa Indonesia untuk kedepannya. Kaum muda dan pelajar
masa kini harus mampu menanam dan membangkitna bahasa Indonesia sebagai dasar
jiwa nasionalisme bangsa, memiliki semangat dan motivasi yang tinggi untuk
mengembangkan serta melestarikan bahasa Indonesia agar semakin harum dan tidak
hilang seiring berjalannya zaman dan masa.

B. Kedudukan Bahasa Indonesia Sebagai Dasar Jiwa Nasionalisme Bangsa

Kedudukan bahasa Indonesia sangatlah penting, seperti yang telah dijelaskan di


ikrar ketiga Sumpah Pemuda tahun 1928 yaitu “Kami putra dan putri Indonesia
menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Hal ini menunjukkan bahwa
bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandgkan bahasa daerah
lain dikarenakan bahasa Indonesia sudah berkedudukan sebagai bahasa Indonesia.

Arifin (2009:12) mengungkapkan bahwa bahasa Indonesia berkedudukan sebagai


bahasa negara, hal ini sesuai isi dari Undang-Undang Dasar 1945 pada pasal khusus
(Bab XV, pasal 36). Maka dari itu, bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan
bahasa negara. Selama ini, kaum muda dan pelajar tidak mengetahui esensi dari
kedudukan bahasa Indonesia di NKRI. Bahasa Indonesia telah menjadi dasar dan
jantung bagi bangsa dan sudah keharusan bagi seluruh masyarakat dari berbagai
generasi untuk menjaga dan mengembangkannya.

Berdasarkan kedudukannya, semua kalangan masyarakat Indonesia harus dapat


memahami esensi dari bahasa Indonesia agar jiwa nasionalisme bangsa tetap terus
terjaga, ini berkenaan dengan zaman modern ini dimana jiwa nasionalisme bangsa
semakin hari semakin krisis. Masyarakat zaman srkatang lebih bangga akan
penggunaan bahasa asing seperti Inggris, Mandarin, Arab dan lainnya yang akan
mengenyampingkan struktur dan tatanan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional
dan bahasa negara. Banyak kaum muda dan pelajar yang menganggap bahasa
Indonesia secara sebelah mata karena menganggap bahwa bahasa Indonesia
merupakan bahasa yang mudah dipahami dan tidak memerlukan pembelajaran
khusus. Padahal, banyak kaum muda dan pelajar yang tidak tau esensi dari bahasa
Indonesia itu sendiri. Selain itu, hampir seluruh guru di Indonesia tidak menggunakan
bahasa Indonesia secara efektif dalam pembelajaran, ini akan berpengaruh pada pola
pikir pelajar sehingga pelajar pun merasa tidak terbiasa dalam menggunakan bahaa
Indonesia dengan baik dan benar. Hal tersebut akan mengarah pada tidak terjaganya
kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia dengan baik di mata kaum muda dan pelajar.

C. Fungsi Bahasa Indonesia Sebagai Dasar Jiwa Nasionalisme Bangsa

Arifin (2009:12) mengungkapkan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa


nasional memiliki fungsi antara lain:

a. Lambang Kebanggaan Kebangsaan.


b. Lambang Identitas Nasional.
c. Alat Perhubungan Antarwarga, Antardaerah, Antarbudaya.
d. Alat Pemersatu Suku Budaya dan Bahasanya.

Arifin (2009:15) juga mengungkapkan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa


negara memiliki fungsi yaitu:

a. Bahasa Resmi Kenegaraan.


b. Bahasa Pengantar dalam Pendidikan.
c. Alat Perhubungan pada Tingkat Nasional.
d. Alat Pengembangan Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

D. Upaya Mempertahankan Bahasa Indonesia Sebagai Jiwa Nasionalisme Bangsa

Untuk mempertahankan bahas Indonesia sebagai jiwa nasionalisme bangsa, tidak


dapat dilepaskan dari persoalan mengenai perencanaan bahasa. Moeliono (1985:25)
mengungkapkan bahwa perencanaan bahasa merupakan segala usaha serta tindakan
yang dilakukan oleh individu sehingga komunikasi di dalam suatu negara dapat
berlangsung secara lancar dengan bahasa Indonesia sebagai alat utamanya. Suhendar
(1997:58) juga mengungkapkan bahwa setiap negara diwajibkan memiliki satu bahasa
yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi bagi seluruh warganya, baik dalam
rangka pembinaan kebangsaannya, administrasi pemerintahan maupun bidang
pendidikan. Bilamana ada satu bahasa untuk sseluruh negara maka hubungan antara
pemerintah dan diperintah, antar instasi yang ada di dalam negara, serta antar murid
dan pengajar akan berlangsung lancar dan meminimalisir kesulitan yang ada.

Upaya dalam mempertahankan bahasa Indonesia sebagai dasar jiwa nasionalisme


bangsa ialah dengan jalur lembaga pendidikan. Seperti pada setiap jenjang pendidikan
di NKRI siswa diwajibkan mempelajari bahasa Indonesia. Bahkan untuk jam
pelajarannya sendiri di setiap jenjang memiliki jumlah paling banyak tiap minggunya.
Bila dihitung berdasarkan jenjang waktu, pelajaran bahasa Indonesia sudah ada sejak
kelas 1 SD sampai 3 SMA dengan total 12 tahun pembelajaran. Selain itu, sejak
diadakannya Ujian Nasional (UN) mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan mata
pelajaran yang sejak jenjang SD sampai SMA di UN-kan.

Suparno (1998:74) menjelaskan bahwa dalam pendidikan serta pembangunan


bangsa, mata pelajaran bahasa Indonesia memiliki fungsi yang krusial. Fungsi
tersebut antara lain:

a. Sarana dalam pemberian binaan kesatuan serta persatuan bangsa Indonesia.


b. Sebagai sarana dalam meningkatkan pengetahuna serta keterampilan dalam
berbahasa Indonesia pada tiap rangka pelestarian dan pengembangan budaya
nasional.
c. Sebagai sarana untuk meningkatkan serta keterampilan dalam berbahasa
Indonesia untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, seni dan
teknologi.
d. Sebagai sarana dalam mengembangkan penalarn bangsa.

Dengan diadakannya pengajaran mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah


merupakan salah satu jalur formal dan upaya dalam mempertahankan dasar jiwa
nasionalisme bangsa sejak dini bagi kaum muda dan pelajar. Memanfaatkan adanya
jalur ini, maka pembinaan bahasa Indonesia dapat dilakukan secara prgramatis. Selain
itu, bahasa Indonesia juga digunakan sebagai alat berpikir dan bernalar. Kualitas
dalam penggunaan bahasa Indonesia merupakan salah satu faktor penentu kualitas
bangsa Indonesia. Kualitas penguasaan bahasa Indonesia juga memiliki dampak yang
sangat luas dalam pembangunan bangsa dikarenakan bagasa Indonesia juga memiliki
fungsi sebagai alat komunikasi pembangunan.
DAFTAR PUSTAKA

Alek, dkk. 2011. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Kencana.
Arifin, dkk. 2009. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo.
Moeliono, Anton.1985. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Ancangan Alternatif
di dalam Perencanaan Bahasa. Jakarta: Djambatan.
Suhendar, dkk. 1997. Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Suparno. 1998. Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah. Makalah Kongres Bahasa
Indonesia VII. Jakarta.